Anda di halaman 1dari 4

Sasaran Belajar Hasil Belajar

: Perdarahan uterus abnormal : Penyebab perdarahan uterus abnormal.

Komplikasi-komplikasi kehamilan adalah penyebab yang umum dari perdarahan abnormal. Abortus inkompletus atau abortus yang mengancam dan kehamilan ektopik menyebabkan perdarahan abnormal. Pertumbuhan jinak dalam rongga rahim (seperti polip atau mioma), keganasan pada saluran reproduksi, servisitis, endometritis, salpingitis, endometriosis, adenomiosis, kista-kista fungsional, dan alat kontrasepsi dalam rahim, keganasan pada servik atau uterus bisa menimbulkan perdarahan abnormal. Penyakit-penyakit sistemik yang bisa menyebabkan perdarahan abnormal termasuk penyakit darah (blood dyscrasias) seperti trombositopenia. idiopatik disebabkan Pada (PTI) oleh kelompok adalah usia penyebab akut. reproduktif, yang purpura dari atau trombositopenia trombositopenia umum

trombositopenia. Pada remaja, perdarahan abnormal yang disertai oleh leukimia Hipotiroidisme hipertiroidisme bisa menyebabkan perdarahan uterus abnormal (PUA). Penyakit hati bisa menyebabkan perdarahan uterus abnormal dengan mengganggu metabolisme estrogen yang beredar dalam sirkulasi. Diabetes, hipertensi, dan gangguan-gangguan fungsi adrenal bisa disertai oleh perdarahan uterus abnormal. Pengobatan perdarahan abnormal Dapat dipakai kontrasepsi oral, akan tetapi bisa memperberat penekanan terhadap sumbu hipotalamus-ovarium yang telah ada. Pemberian kontrasepsi oral bersiklus, suntikan progesteron bersiklus ( 50-100 mg tiap 4 minggu), atau progestin oral (medroksiprogesteron asetat 5-10 mg/hari selama 10-14 hari) adalah terapi yang tepat, estrogen dosis tinggi diikuti oleh progesteron berguna untuk mengatasi perdarahan banyak akut. Estrogen bisa diberikan tersendiri atau dalam kombinasi dengan progestin dalam bentuk kontrasepsi oral. (Obstetri dan Ginekologi : William F. Rayburn & J. Christopher Carey)

Yang dapat menjadi penyebab perdarahan uterus abnormal adalah manifetasi suatu diastesis perdarahan generalisata. Penyebab perdarahan uterus lainya dapat dibedakan menjadi penyenbab denagan siklus ovulasi dan penyebab yang terhubu ng dengan siklus anovulasi. a. Siklus ovulasi Bersifat spontan, teratur, disertai rasa tidak nyaman. Terjadi akibat putus progesterone (withdrawal) pada akhir fase luteal (pasca ovulasi)dan sebelumnya memerlukan siraman estrogen pada endometrium yaitu pada fase folikuler dari siklus (pra ovulasi). b. Siklus anovulasi Terjadi tidak teratur, tidak dapat diramalkan jumlah maupun lamanya, dan biasanya tidak nyeri disebut perdarahan uterus disfungsional. Terjadi akibat kegagalan pematangan folikel normal dengan akibat tidak terjadi ovulasi dan dapat bersifat sementara ataupun kronik. (Prinsip-prinsip ilmu penyakit dalam : Harrison) II. Sasaran belajar : Pengaruh stress terhadap menstruasi Hasil belajar : Stress berpengaruh terhadap hipotalamus. Dalam hal ini stress meningkatkan hormon norephineprin. Norepineprin berpengaruh terhadap hipotalamus, yaitu dengan menekan kerja hipotalamus. Hipotalamus menghasilkan hormon GnRH. Hormon GnRH mempengaruhi hipofisis untuk mengahasilkan hormon FSH dan LH, jika hipotalamus terganggu maka hipotalamus sebagai pusat hormon tidak akan mensekresikan hormon GnRH yang berakibat pada tidak terjadinya/terganggunya siklus menstruasi. (Kuliah Dr. H. Sjafriel Sanoesi Sp.OG) III. Sasaran belajar : Obat-obat yang menghambat menstruasi Hasil belajar : Obat-obat yang dapat menghambat terjadinya menstruasi diantaranya: a) Busulfan

Efek-efek toksik utama busulfan dihubungkan dengan sifat-sifat mielospresifnya, dan trombositopenia yang lama mungkin berbahaya. Mual, muntah, diare, impotensi, sterilitas, amenorea, dan kelainan bentuk fetus. b) Chlorambucil c) Cyclophosphamide d) Phenothiazines e) Oral contraceptives Setelah penghentian pemberian kontrasepsi oral, 95% dari penderita normal dengan riwayat haid normal akan mendapat siklus yang normal dan seluruhnya kecuali beberapa penderita mendapat siklus normal selamabeberapa bulan kemudian. Walaupun begitu beberapa penderita tetap amenore selama beberapa tahun. Kebanyakan penderita ini juga menderita galaktore. Penderita dengan haid yang tidak teratur seblum mendapat kontrasepi oral sanagat rentan mendapat amenore yang lama setelah preparat ini dihentikan. f) Non oral contraceptives seperti Depo-Provera (www.nlm.nih.gov) (Dasar Farmakologi Terapi : Googman & Gilman) IV. Sasaran belajar : Perbedaan faktor yang mempengaruhi PUD dan dismenore Hasil belajar : Perdarahan uterus disfungsional Perdarahan dari uterus yang tidak ada hubungannya dengan sebab organik dinamakan perdarahan disfungsional. Perdarahan disfungsional dapat terjadi pada setiap umur antara menarche dan menopause. Perdarahan disfungsional ditemukan bersamaan berbagai jenis endometrium, yakni endometrium atrofik, hiperplastik, proliferatif, dan sekretoris, dengan endometrium jenis nonsekresimerupakan bagian terbesar. Dismenore a. Dismenore primer (esensial, intrinsik, idiopatik) tidak terdapat hubungan dengan kelainan ginekologik

b. Dismenore sekunder (ekstrinsik, diperoleh), disebabkan oleh kelaina ginekologik (salpingitis kronika, endometriosis, adenomiosis uteri, stenosis servisis uteri) Beberapa faktor memegang peranan penting penyebab dismenore primer: Faktor kejiwaaan Faktor konstitusi Faktor obstruksi kanalis servikalis Faktor endokrin Faktor alergi (Ilmu Kandungan : Sarwono Prawirohardjo)

Anda mungkin juga menyukai