Anda di halaman 1dari 6

FISIOLOGI SISTEM SARAF PADA KATAK

Lela Juwita Sari (3415080205), Riski Sulistyani (3415080207), Eka Puspita Sari (3415080209) dan Lia Indrianita (3415083256)1 ABSTRAK Sistem saraf adalah suatu sistem tubuh yang merupakan adaptasi tubuh terhadap rangsangan yang diterima dari luar tubuh. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui fisiologi sistem saraf pada katak. Penelitian ini dilaksanakan pada hari Senin, 6 Desember 2010 yang bertempat di Laboratorium Fisiologi FMIPA UNJ. Pada pengamatan gerak refleks pada katak diperoleh hasil yakni medulla spinalis merupakan pusat gerak refleks katak, karena saat medulla spinalis dirusak maka katak tidak dapat memberikan respon terhadap rangsangan yang diberikan. Sedangkan pada pengamatan biolistrik pada katak diperoleh hasil berupa arus listrik yang dapat menghasilkan potensial aksi yang kemudian berakibat pada respon terhadap impuls. Ketika saraf diblokir dengan menggunakan alkohol 70% maka alkohol berdifusi kedalam akson saraf dan bercampur dengan cairan intraseluler didalam sel saraf yang mengandung ion ion negatif- positif dan mengganggu proses perambatan sehingga impuls yang merambat dalam akson harus bekerja keras untuk melewatinya. Kata Kunci : Biolistrik, Gerak Refleks, Katak, Medula Spinalis, Saraf
1

Mahasiswa Pendidikan Biologi Reguler 2008

A.

PENDAHULUAN Pemberian nama otot rangka disebabkan karena otot ini menempel pada system rangka (Seeley, 2002). Berdasarkan Tobin (2005), otot terdiri atas bundel-bundel sel otot. Setiap bundel berada di dalam lembaran jaringan ikat yang membawa pembuluh darah dan saraf yang mensuplai kebutuhan otot tersebut. Di setiap ujung otot, lapisan luar dan dalam dari jaringan ikat bersatu menjadi tendon yang biasanya menempel pada tulang. Otot rangka memiliki empat karakteristik fungsional sebagai berikut: 1. kontraktilitas; kemampuan untuk memendek karena adanya gaya 2. eksitabilitas; kapasitas otot untuk merespon sebuah rangsang 3. ekstensibilitas; kemampuan otot untuk memanjang 4. elastisitas; kemampuan otot untuk kembali ke panjang normal setelah mengalami pemanjangan. (Seeley, 2002). Reflek gerak pada ektremitas (tungkai) berpusat di sumsum tulang belakang. Jalannya impuls pada gerak reflek menurut Bell dan Magendie adalah : reseptorsaraf sensoris (melalui lengkung dorsal) medulla spinalissaraf motoris (melalui lengkung ventral)efektor. Potensial aksi merupakan depolarisasi dan repolarisasi membran sel yang terjadi secara cepat (Seeley, 2002). Pada sel otot (serabutserabut otot), potensial aksi menyebabkan otot berkontraksi (Seeley, 2002). Berdasarkan Campbell (2004), sebuah potensial aksi tunggal akan menghasilkan peningkatan tegangan otot yang berlangsung sekitar 100 milidetik atau kurang yang disebut sebuah kontraksi tunggal. Jika potensial aksi kedua tiba sebelum respon terhadap potensial aksi pertama selesai, tegangan tersebut akan menjumlahkan dan menghasilkan respon yang lebih besar. Jika otot menerima suatu rentetan potensial aksi yang saling tumpang tindih, maka akan terjadi sumasi yang lebih besar lagi dengan tingkat tegangan yang bergantung pada laju perangsangan. Jika laju

perangsangan cukup cepat, sentakan tersebut akan lepas menjadi kontraksi yang halus dan bertahan lama yang disebut tetanus. Pada saat sel saraf dalam keadaan istirahat (reseptor tidak dirangsang), membran sel dalam keadaan impermeable terhadap ion. Jika sel saraf dirangsang, maka saluran ion akan terbuka. Ion natrium akan masuk ke dalam sel dan ion kalium bersama ion Cl akan keluar dari dalam sel. Muatan ion di dalam sel menjadi lebih positif dan muatan ion di dalam sel menjadi lebih negatif. Keadaan ini disebut depolarisasi. Membran sel dalam keadaan permeable terhadap ion. Perjalanan impuls saraf dapat diblokir oleh rangsang dingin, panas, atau tekanan pada serabut saraf. Pemblokiran yang sempurna dicapai dengan memberikan zat anastetik. B. METODOLOGI PENELITIAN Penelitian ini dilaksanakan pada hari senin, tanggal 6 Desember 2010 di laboratorium fisiologi FMIPA UNJ. Alat-alat yang digunakan antara lain : papan bedah, pinset, jarum, tali, batre (kotak), kabel dengan ukuran kecil, 2 buah gelas kimia. Bahan-bahan yang digunakan antara lain : cuka, air ledeng, alkohol 70 %, dan katak. Pengamatan Gerak Refleks Pada katak (Rana cancivora) Katak diikat dengan tali pada bagian salah satu tungkai belakang Melihat sikap katak ketika katak dalam keadaan tiarap, terlentang, dicubit dengan pinset, dijepit dengan pinset, mencelup kaki kanan di air cuka, dan mencelup kaki kiri di air ledeng. Menusuk otak katak bagian depan dengan jarum pentul Melihat sikap katak ketika katak dalam

keadaan tiarap, terlentang, dicubit dengan pinset, dijepit dengan pinset, mencelup kaki kanan di air cuka, dan mencelup kaki kiri di air ledeng. Menusuk otak katak bagian belakang (sudah dalam keadaan tanpa spinal) Melihat sikap katak ketika katak dalam keadaan tiarap, terlentang, dicubit dengan pinset, dijepit dengan pinset, mencelup kaki kanan di air cuka, dan mencelup kaki kiri di air ledeng. Membandingkan perbedaan sikap katak dari ketiga perlakuan yaitu ketika katak dalam keadaan normal, masih dengan spinal, dan tanpa spinal. Pengamatan Biolistrik pada Katak (Rana cancivora) - Bedah katak dan keluarkan seluruh organ katak sehingga terlihat tulang belakang katak dan sumsum tulangnya - Memberi perangsangan listrik dengan menghubungkan pada kutub positif dan negatif baterai pada dua saraf yang berbeda, yaitu saraf tungkai depan dan tungkai belakang. Mengamati apa yang teradi dan catat hasilnya Kemudian melakukan pemblokiran pada serabut saraf dengan memberikan alkohol 70%. Amati apa ang terjadi dan catat hasilnya.

kepala tegak, melompatlompat

bawah, badan berputar-putar

papan bedah, kepala menunduk ke bawah

Terlentang

Membalikkan tubuh secara cepat

Berusaha membalikkan badan, tetapi gerakan sangat lambat

Tidak ada respon (mati)

Cubit kaki dengan pinset

Terkejut, menggerakkan kaki, segera melompat

Kaki bergerak terkejut secara lambat

Tidak ada respon (mati)

Jepit kaki dengan pinset

Kaki gemetar secara cepat, refleks lompat lambat

Kaki gemetar secara lambat

Tidak ada respon (mati)

Celup kaki kanan di air asam / cuka

Menolak, kaki naik secara cepat

Kaki naik ke atas / menolak secara lambat

Tidak ada respon (mati)

Celup kaki kiri di air ledeng

Kaki menyelam di dalam air

Kaki ikut menyelam ke dalam air

Tidak ada respon (mati)

1.

C.

HASIL DAN PEMBAHASAN Gerak Reflek


Normal Spinal Tanpa Spinal

Sikap Tubuh Katak

Tiarap

Tubuh posisi sempurna,

Kepala, menunduk ke

Badan / perut menempel di

Refleks Tungkai Belakang dan Depan pada Katak Pada percobaan ini untuk membuktikan gerak refleks diberikan perlakuan yaitu dengan merusak otak katak dan merusak sumsum tulang belakang. a. Posisi tubuh Dalam keadaan normal, sebelum otak katak dan sumsum tulang belakang dirusak posisi katak yang tertelungkup, menunjukkan posisi tubuh katak dengan kepala yang tegak, posisi tubuh sempurna dan terkadang melompat-lompat. Pada saat tubuh di balikkan atau dalam posisi terlentang, katak segera membalikkan tubuhnya dengan cepat. Hal ini terjadi karena, katak mash dalam keadaan normal yaitu masih memiliki alat keseimbangan dan sumsum tulang belakang. Pada perlakuan kedua setelah otak katak dirusak dengan cara ditusuk, posisi tubuh katak menelungkup dengan posisi kepala menunduk ke bawah dan badan berputar-putar dengan posisi perut yang menempel ke bawah. Ketika tubuh katak dibalikkan atau dalam posisi terlentang, katak berusaha membalikkan tubuhnya, namun gerakannya lambat. Hal ini

terjadi, karena telah terputusnya hubungan antara labirin (sebagai alat keseimbangan) dan sunsum tulang belakang, sehingga reflek koreksi sikap sudah hilang (Central Nervous System) hanya tinggal medulla spinalisnya saja. Pada perlakuan ketiga, medulla spinalis katak dirusak, menunjukkan posisi tubuh katak menjadi menelungkup dengan berbaring lemah diatas papan bedah, dengan posisi kepala menunduk ke bawah, dan badan/ perut menempel di atas papan bedah. Saat dibalikkan atau dalam posisi terlentang, katak tidak melakukan reaksi apapun. Hal ini terjadi karena, katak sudah benarbenar tidak memiliki sistem saraf pusat, sehingga katak sudah tidak dapat mengkoordinasikan tubuhnya lagi (Sherwood, 2001).

c.

Posisi tubuh saat medulla spinalis dirusak

posisi tubuh saat otak dirusak

b.

Refleks saat dicubit dengan pinset secara pelan Dalam keadaan normal, sebelum otak dan sumsum tulang belakang dirusak, reaksi katak saat tungkai belakangnya dicubit perlahan dengan pinset, terjadi gerak refleks sangat cepat atau terkejut, dan melompat untuk menghindari cubitan. Hal ini terjadi karena katak masih memiliki alat keseimbangan dan sumsum tulang belakang, sehingga katak masih dapat melakukan gerak refleks. Pada perlakuan kedua setelah otak katak dirusak dengan cara ditusuk, reaksi katak saat dicubit tungkai belakangnya secara perlahan dengan menggunakan pinset yaitu terjadi gerak refleks secara lambat. Hal ini dikarenakan pusat gerak refleks adalah medulla spinalis bukan otak, jadi katak masih bisa melakukan gerak refleks. Pada perlakuan ketiga, medulla spinalis katak juga dirusak. Saat dicubit perlahan katak tidak menimbulkan refleks apapun. Medulla spinalis yang telah mati membuat katak tidak dapat memberikan gerak respon karena koordinasinya sudah terputus. Refleks merupakan respon bawah sadar terhadap adanya suatu stimulus internal ataupun eksternal untuk mempertahankan keadaan seimbang dari tubuh. Jalannya impuls pada gerak refleks menurut Bell dan Magendie adalah: reseptor saraf sensoris (melalui lengkung dorsal) medulla spinalis saraf motoris (melalui lengkung ventral) efektor (Sherwood, 2001).

Refleks saat dijepit dengan pinset secara keras Dalam keadaan normal, sebelum otak dan sumsum tulang belakang dirusak, reaksi katak saat tungkai belakangnya dijepit dengan menggunakan pinset secara keras menimbulkan reaksi kaki katak gemetar secara cepat, kaki bergerak dan segera melompat untuk menghindari jepitan pada tungkai belakang. Hal ini terjadi karena, katak masih memiliki alat keseimbangan dan sumsum tulang belakang, sehingga terjadi refleks pergerakan kaki secara cepat. Pada percobaan kedua setelah bagian otak katak dirusak sehingga hanya mempunyai sumsum tulang belakang sebagai pusat saraf, Kemudian tungkai belakang dijepit keras maka terjadi reflek pada kaki katak dengan menimbulkan tanggapan berupa kaki gemetar dan pergerakan kaki secara lambat. Hal ini menunjukkan bahwa katak tersebut masih mengalami gerak reflek. Reflek gerak pada tungkai katak berpusat di sumsum tulang belakang, sehingga walaupun otak katak telah dirusak, tetap saja katak tersebut masih dapat melakukan gerak reflek. Jalannya impuls pada gerak reflek menurut Bell dan Magendie adalah: reseptor - saraf sensoris (melalui lengkung dorsal) medulla spinalis (sumsum tulang belakang) saraf motoris (melalui lengkung ventral) efektor. Saraf-saraf spinalis berkaitan dengan tiap-tiap sisi korda spinalis melalui akar dorsal dan akar ventral . Serat-serat aferen membawa sinyal datang masuk ke korda spinalis melalui akar dorsal sedangkan serat-serat eferen membawa sinyal meninggalkan korda melalui akar ventral. Akar ventral dan dorsal di setiap tingkat menyatu membentuk sebuah saraf spinalis yang keluar dari kolumna vertebralis. Pada percobaan ketiga dimana medulla spinalisnya dirusak dan diberi perlakuan dengan dijepit keras, katak tidak merespon. Hal ini terjadi karena medulla spinalis yang merupakan pusat saraf juga telah dirusak maka secara langsung tidak akan terjadi gerakan reflek. Dan menyebabkan impuls terhambat karena seluruh sarafnya yang seharusnya dapat menghantarkan impuls telah rusak (Sherwood, 2001). Refleks saat diberi larutan asam cuka Dalam keadaan normal, sebelum otak dan sumsum tulang belakang dirusak, saat kaki kanan katak dicelupkan ke dalam air asam/ cuka, terjadi refleks kaki katak menolak ketika tersentuh air tersebut, dan pergerakan kaki katak naik ke atas sangat cepat. Hal ini disebabkan karena, katak masih memiliki alat keseimbangan dan sumsum tulang belakang sebagai pusat saraf, sehingga terjadi refleks yang sangat cepat. Pada percobaan kedua, setelah

d.

bagian otak katak dirusak sehingga hanya mempunyai sumsum tulang belakang sebagai pusat saraf. Kemudian kaki kanan katak dicelupkan ke dalam larutan asam cuka, maka terjadi reflek pada katak dengan menimbulkan tanggapan berupa gerakan kaki secara lambat. Hal ini menunjukkan bahwa katak tersebut mengalami gerak reflek yang berpusat di sumsum tulang belakang, sehingga walaupun otak katak telah dirusak, tetapi, katak tersebut masih dapat melakukan gerak reflek. Jalannya impuls pada gerak reflek menurut Bell dan Magendie adalah: reseptor - saraf sensoris (melalui lengkung dorsal) medulla spinalis (sumsum tulang belakang) saraf motoris (melalui lengkung ventral) efektor. Saraf-saraf spinalis berkaitan dengan tiap-tiap sisi korda spinalis melalui akar dorsal dan akar ventral . Serat-serat aferen membawa sinyal datang masuk ke korda spinalis melalui akar dorsal sedangkan serat-serat eferen membawa sinyal meninggalkan korda melalui akar ventral. Akar ventral dan dorsal di setiap tingkat menyatu membentuk sebuah saraf spinalis yang keluar dari kolumna vertebralis . Refleks pada katak yang dicelupkan ke dalam larutan asam cuka lebih cepat dari rangsangan yang lain karena pada rangsangan cubit dan jepit keras bersifat rangsangan lokal sehingga hanya sel saraf perifer saja yang dirangsang. Sedangkan rangsangan pada larutan cuka bersifat difusi dan mengenai seluruh bagian tubuh katak tersebut sehingga menimbulkan kontraksi dari otot rangka. Larutan asam cuka dalam air merupakan sebuah asam lemah, artinya hanya terdisosiasi sebagian menjadi ion H+ dan CH3COO-. Asam cuka encer (CH3COOH) menginduksi mitokondria yang terdapat di otot rangka untuk menghasilkan Ca2+. Peningkatan konsentrasi Ca2+ di otot rangka digunakan untuk kontraksi otot polos. Pada percobaan ketiga dimana medulla spinalisnya dirusak dan kemudian diberi perlakuan dengan mencelupkan kaki kanan katak ke dalam larutan asam cuka, maka katak tersebut tidak merespon. Hal ini terjadi karena medulla spinalis yang merupakan pusat saraf juga telah dirusak maka secara langsung tidak akan terjadi gerakan reflek. Rusaknya medulla spinalis menyebabkan impuls terhambat karena seluruh sarafnya yang seharusnya dapat menghantarkan impuls telah rusak (Sherwood, 2001). e. Refleks saat diberi air ledeng Dalam kedaan normal, sebelum otak dan sumsum tulang belakang katak dirusak, dan kaki kiri katak dicelupkan ke dalam air ledeng, kaki katak tidak melakukan gerak refleks untuk menghindari air atau kaki ikut menyelam di

dalam air ledeng. Sedangkan pada percobaan kedua, setelah otak katak dirusak, sehingga hanya memiliki sumsum tulang belakang sebagai pusat saraf, tidak terjadi gerak refleks pada kaki katak seperti di air cuka atau kaki katak ikut menyelam di dalam air ledeng. Dan pada percobaan ketiga, setelah medulla spinalis katak juga dirusak dan kaki kiri katak dicelupkan kedalam air ledeng, katak tersebut tidak memberi respon atau katak sudah mati. Hal ini terjadi, karena medulla spinalis yang merupakan pusat saraf juga telah rusak maka secara langsung tidak akan terjadi gerakan reflek yang menyebabkan impuls terhambat karena, seluruh sarafnya yang seharusnya dapat menghantarkan impuls telah rusak dan koordinasinya telah terputus (Sherwood, 2001).
Awal

Biolistrik
Nerve Sciatic / Brachialis Ekstremitas atas dan bawah bergerak Ekstremitas atas dan bawah bergerak lebih lambat Nerve Gastrocnemius Hanya ekstremitas bawah yang bergerak Hanya ekstremitas bagian bawah yang bergerak namun lebih lambat

Blokir dengan alkohol 70%

Berdasarkan hasil percobaan diperoleh data bahwa saat bagian positif (+) dan negatif (-) baterai disentuhkan pada Nerve Sciatic / Brachialis tungkai atas dan bawah katak respon yang ditunjukkan adalah bergerak dengan cepat ke arah dalam dan pada Nerve gastrocnemius tungkai bawah bergerak ke arah luar. Pergerakan tersebut disebut sebagai biolistrik, listrik yang dihasilkan adalah bentuk dari reaksi ion positif (kation) dan ion negatif (anion) dari baterai dan membran di dalam tubuh katak. Menurut Budi Jatmiko (2004), dua jenis muatan yang menyebabkan adanya arus listrik adalah muatan positif dan muatan negatif, sedangkan menurut Campbell, (2004), membran plasma mengandung cairan intraseluler dan ekstraseluler yang mengandung berbagai zat terlarut yang meliputi beragam zat yang bermuatan listrik (ion), di dalam sel kation (ion positif) adalah K+ meskipun terdapat Na+ dan juga terdapat anion utama yakni protein, asam amino, sulfat, fosfat , contohnya adalah Cl. Pada saat sel saraf (Nerve Sciatic / Brachialis) dirangsang dengan aliran energi dari baterai saluran ion akan terbuka dan terjadi depolarisasi dengan melibatkan Na+ , K+ dan Cl- , ion Natrium akan masuk kedalam sel sedangkan kalium dan klorida akan keluar dari sel, sehingga muatan ion didalam sel menjadi lebih negatif dan di luar sel menjadi lebih

positif, perbedaan muatan ini akan membentuk potensial aksi dan potensial aksi yang merambat ini disebut sebagai impuls. Impuls merambat sepanjang akson nerve sciatic dan brachialis dan impuls tersebut akhirnya tiba pada neurit yang berhubungan dengan otot, sehingga tungkai atas dan bawah katak bergerak, gerakan ke arah dalam disebabkan karena adaptasi katak yang bergerak menggunakan tungkai atas dengan posisi agak kedalam, sehingga respon yang dihasilkanpun demikian. Demikian pada nerve gastrocnemius, perambatan impuls menuju hanya pada saraf yang mempersarafi bagian nerve gastrocnemius, sehingga hanya bagian tungkai bawah yang bergerak sedangkan tungkai atas tidak, arah keluar menunjukkan adaptasi katak yang menggunakan tungkai bawah untuk meloncat, sehingga saat dirangsang arah pergerakannya ke arah luar (pergerakan meloncat adalah pergerakan ke arah luar). Perlakuan selanjutnya adalah pemblokiran dengan alkohol 70%, seluruh pergerakan pada nerve sciatic, brachialis dan gastrocnemius menjadi lebih lambat (meskipun kami tidak mengukur tepat berapa waktunya). Saat listrik merangsang potensial membran kemudian terjadi depolarisasi lalu terjadi potensial aksi, impuls merambat sepanjang akson nerve tersebut dan berusaha menyampaikan sinyal menuju otot atau indera yang akan berubah menjadi respon, tetapi karena adanya alkohol, impuls bergerak menjadi lebih lambat, sehingga penyampaian sinyal menuju efektor menjadi lebih lambat dan respon yang dihasilkanpun demikian, itu sebabnya pergerakan tungkai atas dan bawah menjadi lebih lambat dari sebelum diberi alkohol 70%. Alkohol adalah senyawa kimia yang kurang bersifat polar. Alkohol yang berdifusi kedalam akson saraf akan bercampur dengan cairan intraseluler didalam sel saraf yang mengandung ion ion negatif- positif dan mengganggu proses perambatan sehingga impuls yang merambat dalam akson harus bekerja keras untuk melewatinya. D. 1. KESIMPULAN Pusat gerak refleks pada katak adalah medulla spinalis. Saat medulla spinalis dirusak, katak tidak dapat lagi merespon rangsangan yang diberikan karena tidak ada lagi pusat gerak refleks. Arus listrik dapat menghasilkan potensial aksi pada saraf sehingga terjadi depolarisasi ion-ion dan menyebabkan katak merespon impuls dari arus listrik tersebut.

4. Blokir alkohol 70% terhadap saraf katak


dapat memperlambat penghantaran impuls akibat sifat alkohol yang kurang polar yang kemudian berdifusi ke dalam akson saraf dan bercampur dengan cairan intraseluler di dalam sel saraf. E. JAWABAN PERTANYAAN 1. Rangsangan mana yang ditanggapi lebih cepat? (Rangsangan kimiawi atau rangsangan dari larutan asam cuka). Mengapa? Jawab : Refleks pada katak yang dicelupkan ke dalam larutan asam cuka lebih cepat dari rangsangan yang lain karena pada rangsangan cubit dan jepit keras bersifat rangsangan lokal sehingga hanya sel saraf perifer saja yang dirangsang. Sedangkan rangsangan pada larutan cuka bersifat difusi dan mengenai seluruh bagian tubuh katak tersebut sehingga menimbulkan kontraksi dari otot rangka. Larutan asam cuka dalam air merupakan sebuah asam lemah, artinya hanya terdisosiasi sebagian menjadi ion H+ dan CH3COO-. Asam cuka encer (CH3COOH) menginduksi mitokondria yang terdapat di otot rangka untuk menghasilkan Ca2+. Peningkatan konsentrasi Ca2+ di otot rangka digunakan untuk kontraksi otot polos. 2. Apa beda sinapsis yang EPSP (excitatory post sinaps potential) dan IPSP (inhibitory post sinaps potential) dilihat dari biolistrik di neuron post sinaps? Jawab : berdasarkan perubahan permeabiltas membran sel saraf pascasinaps akibat interaksi neurotransmiter dengan reseptor pada membran pascasinaps, dikenal dua tipe sinaps. Kedua tipe sinaps tersebut adalah sinaps pembangkit (sinaps eksitatori) dan sinaps penghambat (sinaps inhibitori). Pada sinaps pembangkit, respon terhadap interaksi reseptor-neurotransmiter adalah terbukanya saluran Na+ dan K+ pada membran subsinaps, sehingga meningkatkan permeabilitas terhadap dua ion tersebut. Baik gradien konsentrasi maupun gradien kelistrikan untuk Na+ menyebabkan perpindahan ion ini ke dalam sel saraf pascasinaps pada potensial istirahat, sedangkan perpindahan K+ ke luar hanya disebabkan oleh gradien konsentrasinya saja. Sehingga perubahan permeabilitas mengakibatkan suatu perpindahan simultan:sedikit K+ ke luar sel saraf pascasinaps dan lebih banyak Na+ masuk. Kejadian ini menghasilkan suatu kelebihan perpindahan ion positif masuk sel saraf, membuat bagian sebelah dalam membran kurang negatif daripada saat istirahat, membran sel saraf pascasinaps mengalami depolarisasi kecil (membran dibangkitkan). Depolarisasi kecil ini bagaimanapun juga dapat membawa neuron pascasinaps lebih dekat ke potensial ambang. Apabila potensial ambang tercapai maka potensial aksi akan terjadi. Perubahan suatu potensial pascasinaps yang terjadi pada sinaps pembangkit disebut potensial

2.

3.

pascasinaps pembangkit (excitatory postsynaptic potential=EPSP). Pada sinaps penghambat (sinaps inhibitori), interaksi antara neurotransmitter dengan reseptor subsinaps akan meningkatkan permeabilitas membrane subsinaps terhadap K+ dan Cl- dengan mengubah konformasi dari masing-masing saluran tersebut. Dalam kasus ini hasil gerakan ion menyebabkan suatu hiperpolarisasi kecil dari sel saraf pascasinaps (bagian dalam sel lebih negatif dari saat istirahat). Hiperpolarisasi kecil ini menggerakkan potensial membran menjauhi potensial ambang, merupakan pengurangan kemampuan sel saraf pascasinaps itu disebut dihambat, dan hiperpolarisasi kecil dari sel pascasinaps disebut suatu potensial penghambat pascasinaps (inhibitory postsynaptic potential=IPSP).

DAFTAR PUSTAKA Campbell, Neil A., Jane B. Reece dan Lawrence G. Mitchell. 2004. Biologi Edisi Kelima Jilid 3. Jakarta:Penerbit Erlangga. Ganong, W. F. 2008. Fisiologi Kedokteran. Jakarta: EGC. Guyton and Hall. 2002. Fisiologi Kedokteran. Jakarta : EGC Penerbit Buku Kedokteran Jatmiko, Budi. 2004. Listrik Statis. Modul Pembelajaran Fisika. Jakarta: Depdiknas Sherwood, Lauralee. 2001. Fisiologi Manusia: dari Sel ke Sistem. Jakarta: EGC. Seeley, R.R., T.D. Stephens, P. Tate. 2003. Essentials of Anatomy and Physiology fourth edition. McGraw-Hill Companies. Soewolo, dkk. 2005. Fisiologi Manusia. Malang:Universitas Malang Press.