Anda di halaman 1dari 17

Analisa Liquor Crebospinalis (LCS) Liquor Cerebrospinalis adalah cairan yang menyelimuti susunan syaraf pusat.

Fungsinya dalah sebagai pelindung terhadap otak maupun tulang belakang. Selain itu juga berfungsi sebagai pengatur eksitabilitas dengan mengatur komposisi ion, membawa keluar metabolit-metabolit (karena otak tidak mempunyai pembuluh limpe) dan memberikan perlindungan terhadap tekanan. Pemeriksaan LCS ditujuakan untuk mengetahui adanya kelainan pada otak maupun sumsum tulang, meningitis, tumor, abses, enchefilitis maupun infeksi virus pada daerah tersebut. Analisa LCS sendiri dibagi menjadi menjadi 3 bagian yaitu makroskopis, mikroskopis dan kimia.

Makroskopis Metode :visual Prinsip : LCS diamati warna, kekeruhan, bau, bekuan dengan menggunakn indra manusia dan pH dibaca dengan skala pH Prosedur pemeriksaan : 1. LCS dimasukan kedalam tabung reaksi kemudian dilihat warna kekeruhan dan bekuan dengan latar belakang yang gelap 2. Kemudian dibaui 3. pH diukur dengan stik pH kemudian dibaca dengan skala pH Pelaporan hasil : 1. Warna - Normal Tidak berwarna - Abnormal Merah, coklat dll 2. Kekeruhan - Normal Jernih - Abnormal Keruh 3. Bekuan - Normal Tidak terdapat bekuan - Abnormal Terdapat bekuan 4. Bau - Normal Tidak berbau - Abnormal Bau busuk dll 5. pH - Normal > 7,0 Mikroskopis hitung Jumlah Sel Leukosit Metode : Turk Pekat Prinsip : LCS dengan larutan tertentu (turk pekat) maka akan tampak sel-sel leukosit, dihitung dalam 4 kotak besar dan dinyatakan dalan ul Prosedur Pemeriksaan 1. homogenisasi LCS 2. Diisap larutan turk pekat sampai tanda 1.o 3. Isap LCS sampai tanda 11 kocok 4. buang 2-4 tetes, isi bilik hitung 5. hitung dengan menkroskop perbesaran 10x10 dalam 4 kotak besar Perhitungan dan pelaporan (11/4) x 10 x (10/9) Normal : 0-5/ul Batas abnormal : 6-10/ ul Abnormal : >10/ul Hitung Jenis Leukosit

Metode : Giemsa Prinsip :Setetes LCS dibuat hapusan kemudian diwarnai dengan giemsa 1:3 dan diperiksa dengan pembesaran 1000x Prosedur Pemeriksaan 1. LCS dicentrifuge, ambil endapanya 2. buat hapusan dan keringkan 3. fiksasi dengan metanol 2 menit 4. diwarnai dengan giemsa (1:3), biarkan 7 menit. Cuci dan keringkan 5. periksa dibawah mikroskop pembesaran 1000x Pelaporan Normal : Hanya terdapat limphosit saja Kimia Test Busa Metode : Visual Prinsip : LCS bila dikocok akan menimbulkan busa dan kecepat hilangnya busa dapat menunjukan ada tidaknya protein dalam LCS Prosedur Pemeriksaan 1. LCS dimasukan dalam tabung reaksi 2. Kocok sampai timbul buih 3. dihitung waktu menghilangnya buih 4. catat Pelaporan Normal : hilang dala 1-2 menit Abnormal: hilang > 5 menit Test Nonne Metode : Nonne Prinsip : Protein dalam suasana asam akan membentuk endapan atau gumpalan Prosedur Pemeriksaan 1. 10 tetes LCS dalam tabung reaksi, ditambah 10 tetes larutan ammonium sulfat (1:1) hingga terbentuk 2 lapisan 2. biarkan 3 menit dan baca hasilnya diantara 2 lapisan Pelaporan Negatif : tidak terbentuk cincin diantara 2 lapisan Positif : Terbentuk cincin diantara 2 lapisan Test Pandy Metode : Pandy Prinsip : Adanya protein dalam LCS akan bereaksi dengan phenol jenuh dalam air akan membentuk kekeruhab yang dapat dinilai secara semi kuantitatif Prosedur Pemeriksaan 1. Satu ml larutan pandy dalam tabun reaksi 2. ditambah 1 tetes LCS dan langsung dibaca Pelaporan Negatif : Tidak ada kekeruhan (15-45mg%) [+] 1 : Terjadi opalescent (50-100mg%) [+] 2 : Cairan keruh (100-300mg%) [+] 3 : Keruh (300-500mg%) [+] 4 : Keruh seperti susu (>500mg%) Test Mikrobiologi Metode : Gram Prinsip : Kuman Gram positif akan mempertahankan warna ungu dari gentian violet sedangkan kuman Gram negatif menyerap warna merah dari larutan fuchsin

Posedur Pemeriksaan 1. buat preparat dengan ukuran 2-3 cm, keringkan dan fiksasi. 2. teteskan larutan gentian violet tunggu 3 menit. Cuci 3. teteskan lugol tunggu 1 menit.cuci 4. teteskan alkohol tunggu 30 detik. Cuci 5. teteskan larutan fuchsin tunggu 2 menit. Cuci. Keringkan 6. periksa dengan mikroskop pembesaran 1.000 kali Pelaporan Normal : tidak ditemukan kuman Gram Abnormal: ditemukan kuma Gram Diposkan oleh Raihannuri di 20:31 CAIRAN OTAK (LIQUOR CEREBRO SPINALIS) / LCS BAB IX CAIRAN OTAK (LIQUOR CEREBRO SPINALIS)

IX.1 PENDAHULUAN IX.1.1 Pengertian Liquour Cerebrospinalis adalah cairan otak yang diambil melalui lumbal punksi. Kelainan hasil pemeriksaan dapat memberikan petunjuk ke arah suatu penyakit susunan saraf pusat, baik kasus akut maupun kronis yang akan diberikan tindakan lebih lanjut oleh klinisi berupa pemberikan terapi adekuat. Cairan otak biasanya diperoleh dengan melakukan punksi lumbal pada lumbal III dan IV dai cavum subarachnoidale, namun dapat pula pada suboccipital ke dalam cisterna magma atau punksi ventrikel, yang dapat disesuaikan dengan indikasi klinik. Seorang klinik yang ahli dapat memperkirakan pengambilan tersebut. Hasil punksi lumbal dimasukkan dalam 3 tabung atau 3 syringe yang berbeda, antara lain : 1. Tabung I berisi 1 mL Dibuang karena tidak dapat digunakan sebagai bahan pemeriksaan karena mungkin mengandung darah pada saat penyedotan. 2. Tabung II berisi 7 mL Digunakan untuk pemeriksaan serologi, bakteriologi dan kimia klinik. 3. Tabung III berisi 2 mL Digunakan untuk pemeriksaan jumlah sel, Diff.count dan protein kualitatif/kuantitatif.

IX.1.2 Parameter Pemeriksaan Parameter yang umum diperiksa pada cairan otak adalah sebagai berikut : a. Makroskopik Warna

b. -

Kekeruhan (Kejernihan) Bekuan BJ pH Mikroskopik Hitung Jumlah Sel Hitung Jenis Sel (Diff.Count)

c. Kimiawi d. Pandy Nonne Protein Glukosa Chlorida Bakteriologi (Pembiakan)

IX.2 METODE PEMERIKSAAN IX.2.1 Makroskopik Metode Tujuan dan BJ. : Visual (Manual) : Untuk mengetahui cairan LCS secara makroskopik meliputi : warna, kejernihan, bekuan, pH

Alat dan Bahan : Tabung reaksi Beaker gelas Kertas indikator pH universal Refraktometer abbe : Cairan LCS :

Spesimen Cara Kerja -

Cairan LCS dimasukkan dalam tabung bersih dan kering. Diamati warna, kejernihan, adanya bekuan pada cahaya terang. Dicelupkan indikator pH universal pada LCS dan diukur pH dengan membandingkan deret standar pH. Cairan LCS diteteskan 1-2 tetes pada refraktometer dan diperiksa pada eye piece BJ.

Hasil dan Interpretasi

No 1.

Parameter Warna

Penilaian Tidak berwarna, Kuning muda, Kuning, Kuning tua, Kuning coklat, merah, hitam coklat Jernih, agak keruh, keruh, sangat keruh, keruh kemerahan Tidak ada bekuan, ada bekuan 7,3 atau setara dengan pH plasma/serum 1.000 1.010

Interpretasi Normal Tidak berwarna

2.

Kejernihan

Jernih

3. 4. 5.

Bekuan pH BJ

Tidak ada bekuan

1.003 1.008

Hal yang perlu diperhatikan : LCS yang bercampur darah dalam jumlah banyak pada kedua tabung, tidak dapat diperiksa karena karena akan sama hasilnya dengan pemeriksaan dalam darah, terutama bila ada bekuan merah sebagaimana darah membeku. Adanya bekuan terlihat berupa kabut putih yang menggumpal karena bekuan terdiri atas benang fibrin.

IX.2.2 Hitung Jumlah Sel Metode : Bilik Hitung

Prinsip : LCS diencerkan dengan larutan Turk pekat akan ada sel leukosit dan sel lainnya akan lisis dan dihitung selnya dalam kamar hitung di bawah mikroskop. Tujuan : Untuk mengetahui jumlah sel dalam cairan LCS.

Alat dan Reagensia : Mikroskop Hemaocytometer : Bilik hitung Improved neubauer, kaca penutup, pipet thoma leukosit Tissue Larutan Turk Pekat : Kristal violet 0,1 gram, asam asetat glacial 10 mL dan aquadest 90 mL. : LCS :

Spesimen Cara Kerja -

Larutan Turk pekat diisap sampai tanda 1 tepat Larutan LCS diisap sampai tanda 11 tepat. Dikocok perlahan dan dibuang cairan beberapa tetes.

Diteteskan pada bilik hitung dan dihitung sel dalam kamar hitung pada semua kotak leukosit di mikroskop lensa objektif 10x/40x. Perhitungan PDP : 1/10 = 0,1x TKP : 1/0,1 = 10x :

KBH : 4 kotak leukosit Sel : Jumlah sel ditemukan (berwarna keunguan dengan inti dan sitoplasma)

Sel

= PDP x TKP x Jumlah sel ditemukan KBH = 0,1 x 10 x 4 = 2,5 x = ..sel/mm3 LCS

Interpretasi

: Jumlah sel normal = 0 5 sel/mm3 LCS

IX.2.3 Hitung Jenis Sel Metode Tujuan : Giemsa Stain : Untuk membedakan jenis sel mononuklear dan polinuklear dalam cairan LCS

Alat dan Reagensia : Objek Gelas Kaca Penghapus Sentrifuge Tabung reaksi Metanol absolut Giemsa Timer : LCS :

Spesimen Cara Kerja -

Cairan LCS di masukkan dalam tabung secukupnya. Disentrifugasi selama 5 menit 2000 rpm Supernatant dibuang dan endapan diambil. Diteteskan pada objek gelas dan dibuat preparat hapusan tebal Di keringkan dan difiksasi selama 2 menit dengan metanol absolut. Diwarnai dengan Giemsa selama 15-20 menit. Dicuci dan diperiksa dimikroskop lensa objektif 100x denga imersi.

Perhitungan Jenis sel MN PMN Jumlah 1

: 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Jumlah %

Interpretasi : Normal MN 100% dan PMN 0%

IX.2.4 Uji Pandy Metode Prinsip endapan putih. Tujuan : Pandy : Protein dalam larutan jenuh phenol akan mengalami denaturasi berupa kekeruhan hingga terjadi

: Untuk mengetahui adanya protein dalam LCS

Alat dan Reagensia : Tabung reaksi Pipet tetes

Larutan Pandy : phenol 10 mL dan aquadest 90 mL. (larutan bila keruh disaring atau dibiarkan mengendap sisa jenuhnya) Spesimen Cara Kerja : : LCS

Dimasukkan 1 mL cairan otak ke dalam tabung reaksi. Ditambah beberapa tetes larutan Pandy. Amati adanya kekeruhan pada larutan tersebut. :

Interpretasi -

Negatif : tidak terbentuk kekeruhan putih Positif : terbentuk kekeruhan putih.

IX.2.5 Uji Nonne Metode : Nonne

Prinsip : Protein dalam larutan jenuh garam ammonium sulfat akan mengalami denaturasi berupa kekeruhan hingga terbentuka endapan. Tujuan : Untuk mengetahui adanya protein jenis globulin dalam LCS

Alat dan Reagensia : Tabung reaksi Pipet tetes Larutan Nonne : Ammonium sulfat jenuh 80 gram dalam 100 mL aquadest. (disaring bila keruh) : LCS :

Spesimen Cara Kerja -

Dimasukkan 1 mL cairan otak ke dalam tabung reaksi. Ditambah beberapa tetes larutan Nonne melalui dinding tabung dengan kemiringan 45. Amati adanya cincin putih keruh pada kedua lapis larutan tersebut pada posisi tegak. :

Interpretasi -

Negatif : tidak terbentuk cincin putih Positif : terbentuk cincin putih.

IX.2.6 Protein Metode : Biuret

Prinsip : Protein dalam sampel bereaksi dengan ion cupri (II) dalam medium alkali membentuk komplek warna yang dapat diukur dengan spektrofotometer Tujuan Alat Tabung reaksi Mikropipet 20 Ldan 1000 L. Tip kuning dan biru. Fotometer : : Untuk menetapkan kadar protein dalam LCS. :

Reagensia -

Reagen Kerja: Cupri (II) asetat 6 mmol/L, Kalium Iodida 12 mmol/L, NaOH 1,15 mol/L, deterjen. Reagen standard : 8,0 g/dL Stabilitas : Reagensia stabil setelah dibuka sampai kadaluarsa bila disimpan pada suhu ruang. : LCS

Spesimen Cara Kerja :

Masukkan ke dalam tabung berlabel : Blanko Standar Serum Reagen kerja 1000 l Standar 20 l 1000 l Sampel 20 l 1000 l

Campur dan inkubasi selama 10 menit pada suhu ruang.

Diukur absorben standar dan sampel pada Photometer dengan panjang gelombang 578 nm terhadap blanko reagent. Perhitungan : Total Protein = Absorben sampel Absorben standard = ..............g/dL x 1000 = ......mg/dL Nilai Normal : 15 45 mg/dL IX.2.7 Glukosa Metode : GOD-PAP x konsentrasi standar (8,0 g/dL)

Prinsip : Glukosa dioksidasi oleh glukosa oksidase menghasilkan hidrogen peroksida yang bereaksi dengn 4-aminoantipirin dan fenol dengan pengaruh katalis peroksidase menghasilkan quinoneimine yang berwarna merah. Tujuan : Untuk menentukan kadar glukosa dalam LCS Reaksi : Glukosa + O2 + 2 H2O
POD glukosa oxidase

Glukonate + H2O2.

2 H2O2 + 4-Aminoantipyrine + Phenol Alat : - Timer - Tissue

Quinoneimine + 4 H2O

Tabung reaksi kecil Mikropipet 10 dan 1000 l Tip kuning dan biru Fotometer

- Rak Tabung

Reagensia : Reagen kerja Glukosa Reagen standar Glukosa 100 mg/dl Stabilitas : Reagensia stabil setelah dibuka sampai kadaluarsa bila disimpan pada suhu 2-8oC. : LCS

Spesimen Cara kerja:

Dipipet ke dalam tabung: Blanko Standar Serum Reagen kerja 1000 l Standar 10 l 1000 l Sampel 10 l 1000 l

Dicampur dan diinkubasi pada suhu ruang selama 10 menit. Diukur absorben standar dan sampel pada Photometer terhadap blanko dengan panjang gelombang 546 nm.

Pengamatan dan Pembacaan : Absorben blanko aquabidest : 0,000 Dicatat Absorben pengukuran reagent blanko, standar dan sampel Absorben :

Perhitungan : Glukosa = Absorben sampel x konsentrasi standard (100 mg/dL)

Absorben standard = ..............mg/dL Nilai Normal : 45 70 mg/dL

IX.2.8 Chlorida Metode : TPTZ

Prinsip : Ion Chlorida bereaksi dengan Mercury (II), 2,4,4-tri-(2-pyridil)-S-triazide kompleks (TPTZ) membentuk merkuri (II) chlorida. TPTZ bebas bereaksi dengan ion besi (II) menghasilkan warna biru kompleks. Perubahan absorben pada 578 nm sebanding dengan kadar chlorida. Tujuan Alat : Untuk menentukan kadar Chlorida dalam LCS : - Timer - Tissue - Rak Tabung

Tabung reaksi kecil Mikropipet 10 dan 1000 l Tip kuning dan biru Fotometer :

Reagensia

Reagen warna : 2,4,6-tri-(2-pyridil)-S-triazide (TPTZ) dan merkuri (II) kompleks 0,96 mmol/L dan besi (II) sulfat 0,5 mmol/L Standard Chlorida : Natrium chlorida 100 mmol/L atau 355 mg/dL

Spesimen Cara Kerja -

: LCS :

Dipipet ke dalam tabung: Blanko Standar Serum Reagen kerja 1000 l Standar 10 l 1000 l Sampel 10 l 1000 l

Dicampur dan diinkubasi pada suhu ruang selama 10 menit. Diukur absorben standar dan sampel pada Photometer terhadap blanko dengan panjang gelombang 546 nm.

Perhitungan : Chlorida = Absorben sampel Absorben standard = ..............mmol/L Nilai Normal : 98 - 106 mmol/L x konsentrasi standard (100 mmol/L)

LCS ( liquor cerebro spinalis ) LIQUOR CEREBRO SPINALIS (LCS) Produksi LCS: 70% pleksus khoroid ventrikel (proses sekresi aktif dan ultrafiltrasi dari plasma) 30% cairan interstitial (ruang interseluler otak dan sumsum tulang belakang) Fungsi LCS : Menerima hasil metabolisme otak dan SSP (Susunan saraf pusat) Memberikan nutrisi pada SSP Sebagai bantalan Sebagai regulator TIK (Tekanan Intra Kranial)

Blood Brain Barier : Kemampuan otak untuk mempertahankan masuknya zat-zat yang mempunyai BM besar Komposisi LCS : NA, K, urea, as. Laktat, sulfonamid LCS tidak mengandung : bilirubin, fibrinogen, Ig (imunoglobulin) BM besar Internal Mekanisme Aliran LCS

o Internal sistem :

Ventrikel lateralis (I & II) dihub oleh Foramen Interventrikel (For. Monroe) Ventrikel tertius (III) dihub oleh Aquaduktus Sylvii Ventrikel quartus (IV) o External sistem : Ruang subarachnoid Cisterna Cerebrum Medula spinalis Internal sistem dengan External sistem dihub oleh For. Luschka & Magendi l Volume total LCS : 90 150 ml (org dws) ventrikel : 20 ml sisterna subarakhnoid : 60 ml kanalis spinalis : 70 ml

l Kecepatan formasinya : 500 ml/hari atau 20 ml/jam l Produksi LCS : hydrosephalus l Cara pengambilan : Pungsi lumbal L2-L3 atau L3-L4 (Hanya terdapat filum terminale sehingga kemungkinan melukai system saraf adalah kecil) l Volume LCS untuk pemeriksaan antara 15 sampai 20 ml, dibagi dalam 3 buah tabung steril: Tabung I untuk analisa kimia, serologi, dan pemeriksaan khusus misalnya imunologi. Tabung II untuk analisa bakteriologi. Tabung III untuk analisa mikroskopis sel

l Syarat pemeriksaan : Dilakukan dlm wkt < 30, karena bila > 30 jml sel akan berkurang yang disebabkan: Sel mengalami sitolisis Sel akan mengendap, shg sulit mendapat sampel yang homogen Sel terperangkap dalam bekuan Sel cepat mengalami perubahan morfologi

Macam pemeriksaan : a. Pemeriksaan Rutin

- makroskopis - mikroskopis - kimia - bakteriologi b. Pemeriksaan Fisik - tekanan c. Pemeriksaan Khusus - elektroforesa protein - imunoelektroforesa - serologi - imunoglobulin l Pemeriksaan makroskopis meliputi Warna Kekeruhan pH Konsistensi (bekuan) Berat jenis

l Warna Normal warna LCS tampak jernih, ujud dan viskositasnya sebanding air. Merah muda perdarahan trauma akibat pungsi

Merah tua atau coklat perdarahan subarakhnoid akibat hemolisis dan akan terlihat jelas sesudah disentrifuge Hijau atau keabu-abuan pus Coklat terbentuknya methemalbumin pada hematoma subdural kronik

Xanthokromia (kekuning-kuningan) pelepasan hemoglobin dari eritrosit yang lisis (perdarahan intraserebral/subarachnoid); juga disebabkan oleh kadar protein tinggi (> 200 mg/dl) Kekeruhan

Normal tidak ada kekeruhan atau jernih. Walaupun demikian LCS yang jernih terdapat juga pada meningitis luetika, tabes dorsalis, poliomyelitis, dan meningitis tuberkulosa. Keruh ringan seperti kabut mulai tampak jika lekosit 200-500/ul3 eritrosit > 400/ml mikroorganisme (bakteri, fungi, amoeba)

aspirasi lemak epidural sewaktu dilakukan pungsi media kontras radiografi. Konsistensi bekuan Bekuan banyak darah masuk Normal tidak terlihat bekuan Bekuan banyaknya fibrinogen yang berubah menjadi fibrin. Disebabkan: trauma pungsi, meningitis supurativa, atau meningitis tuberkulosa. Jendalan sangat halus LCS didiamkan di dalam almari es selama 12-24 jam.

Analisa Laboratorium l Metode : perbandingan dengan aquadest secara visual l Prinsip : pada keadaan normal wujud LCS seperti air, dengan membandingkannya dapat dinilai adanya perubahan ujud LCS. l Peralatan yang dipergunakan : Tabung reaksi Kertas putih

l Tata cara pemeriksaan : Tabung reaksi diisi aquadest secukupnya sebagai pembanding. Contoh bahan diisikan pada tabung reaksi yang sama ukurannya dengan pembanding. Kedua tabung diletakkan berdekatan dengan latar belakang kertas putih. Bandingkan contoh bahan dengan aquadest.

l Tata cara pembacaan hasil : Warna Kejernihan / kekeruhan 0 = jernih + 1 = berkabut + 2 = kekeruhan ringan + 3 = kekeruhan nyata + 4 = sangat keruh Bekuan, tidak ada (negatif) atau ada bekuan (positif)

PEMERIKSAAN MIKROSOKOPIS l Eritrosit dan leukosit masuk ke dalam LCS ada kerusakan pada pembuluh darah atau sebagai akibat reaksi terhadap iritasi.

l Perhitungan sel lekosit dan eritrosit segera dilakukan ( 40% dari lekosit lisis setelah 2 jam, Eritrosit lisis setelah 1 jam pada suhu ruangan) DD: trama pungsi vs hemorhagi subarakhnoid l Nilai rujukan normal jumlah lekosit (monosit dan limposit) adalah Anak & dewasa : 0 5 sel/ul neonatus 0 30 sel/ul ---------- Tidak Dilakukan Analisa Laboratorium Jumlah Leukosit l Metode : bilik hitung Improved Neubauer l Prinsip : LCS diencerkan dalam perbandingan tertentu dan lekosit dihitung dalam volume tertentu. l Alat yang dipakai : Pipet lekosit Bilik hitung Improved Neubauer Tabung reaksi kecil Mikroskop

l Reagen yang dipakai : larutan Turk l Tata cara pemeriksaan Kocoklah dengan perlahan-lahan LCS yang akan diperiksa. Isaplah larutan Turk dengan pipet lekosit sampai tanda 1 (satu). Kemudian LCS dihisap sampai tanda 11 dan seterusnya dikocok. Letakkan kaca penutup di atas bilik hitung.

Larutan LCS yang ada dalam pipet lekosit dibuang antara 2-3 tetes, kemudian diteteskan pada bilik hitng hingga bidang-bidang pada bilik hitung terisi. Diamkan lebih kurang 5 menit dalam posisi datar. Kemudian diperiksa dalam mikroskop cahaya dengan pembesaran lensa obyektif 10 X Hitung semua lekosit yang terdapat pada 9 (sembilan) bidang besar.

PEMERIKSAAN KIMIA l Analisa kimia LCS membantu diagnosis / menilai prognosis. Pemeriksaan rutin : penetapan protein secara kualitatif kadar protein kadar glukosa

ANALISA LABORATORIUM PROTEIN KUALITATIF l Keadaan normal cairan otak mengandung sedikit sekali protein (BM besar).

l Perbandingan antara albumin dan globulin > LCS daripada dalam plasma (molekul albumin >kecil) l Konsentrasi protein : Permeabilitas sawar darah-otak oleh radang Meningitis yang berat

A. TEST PANDY l Prinsip : reagen pandy memberikan reaksi terhadap protein (albumin dan globulin) dalam bentuk kekeruhan. Pada keadaan normal tidak terjadi kekeruhan atau kekeruhan yang ringan seperti kabut. l Alat dan reagen yang dipakai Tabung serologi (garis tengah 7 mm) Kertas putih Reagen Pandy (larutan phenol jenuh dalam air)

l Tata cara pemeriksaan : Ke dalam tabung serologi dimasukkan 1 ml reagen Pandy Tambahkan 1 tetes LCS Kemudian dilihat segera ada tidaknya kekeruhan.

l Tata cara pembacaan hasil Negatif : tidak ada kekeruhan Positif : terlihat kekeruhan yang jelas +1 +2 +3 +4 : opalescent (kekeruhan ringan seperti kabut) : keruh : sangat keruh : Kekeruhan seperti susu : (-) / (+1)

Nilai normal

TEST NONNE APELT l Prinsip : reagen Nonne memberikan reaksi terhadap protein globulindalam bentuk kekeruhan yang berupa cincin. Ketebalan cincin berhubungan dengan kadar globulin, makin tinggi kadarnya maka cincin yang terbentuk makin tebal. Alat dan reagen yang dipakai : Tabung serologi (garis tengah 7 mm) Reagen Nonne (larutan ammonium sulfat jenuh dalam air)

l Tata cara pemeriksaan : Ke dalam tabung serologi dimasukkan 1 ml reagen Nonne

Tambahkan 1 ml LCS dengan cara pelan-pelan sehingga terbentuk 2 lapisan, di mana lapisan atas adalah LCS. Diamkan selama 3 menit. Kemudian dilihat pada perbatasan kedua lapisan dengan latar belakang gelap.

l Tata cara pembacaan hasil : Negatif : tidak terbentuk cincin antara kedua lapisan +1 : cincin yang terbentuk menghilang setelah dikocok (tidak ada bekasnya). +2 : setelah dikocok terjadi opalesensi +3 : mengawan setelah dikocok

l Normal : (-) GLUKOSA l Menyusutnya kadar glukosa dalam LCS meningitis purulenta (metabolisme leukosit & bakteri kadar glukosa 0). l Semua mikroorganisme menggunakan glukosa pe kadar glukosa dapat disebabkan oleh : fungi, protozoa, bakteri tuberculosis, dan bakteri piogen. l Meningitis oleh virus sedikit me kadar glukosa dalam LCS. ASAM LAKTAT l Konsentrasi asam laktat aktifitas glikolisis setempat. l Kadar asam laktat > 35 mg/dl jarang terjadi kecuali pada meningitis oleh bakteri atau fungi.