Anda di halaman 1dari 87
No. 201.000 / 2008 Badan Pemeriksa Keuangan Republik Indonesia Keputusan Badan Pemeriksa Keuangan Republik Indonesia
No. 201.000 / 2008
Badan Pemeriksa Keuangan
Republik Indonesia
Keputusan Badan Pemeriksa Keuangan Republik Indonesia
Nomor 06/K/I-XIII.2/6/2008
Badan Pemeriksa Keuangan
Republik Indonesia
2008

DAFTAR ISI

DAFTAR ISI

i

DAFTAR LAMPIRAN

iv

BAGIAN I PENDAHULUAN

1

BAB I 1 PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

B. Tujuan 1

C. Dasar hukum

D. Lingkup Bahasan 2

1

1

1

E. Sistematika Penulisan

2

BAB II

4

GAMBARAN UMUM PEMERIKSAAN KINERJA

4

A.

Pengertian dan Tujuan Pemeriksaan Kinerja

4

B.

Konsep Ekonomi, Efisiensi, dan Efektivitas

4

C.

Standar Pelaksanaan Pemeriksaan Kinerja

7

D.

Persyaratan Dasar Pemeriksa

7

E.

Metodologi Petunjuk Pelaksanaan Pemeriksaan Kinerja

8

E.

Kegiatan dalam Pemeriksaan Kinerja

9

F.

Asumsi Pelaksanaan Petunjuk Pelaksanaan

11

BAGIAN II PERENCANAAN PEMERIKSAAN

12

A. Tujuan

12

B. Kegiatan dalam Perencanaan Pemeriksaan

12

BAB III

14

PENGIDENTIFIKASIAN MASALAH

14

A.

Dasar

14

B. Tujuan

14

C. Input yang Diperlukan

15

D. Petunjuk Pelaksanaan

15

 

E. Output

18

F. Pendokumentasian

18

BAB IV

19

PENENTUAN AREA KUNCI

19

A. Dasar

19

 

B. Tujuan

19

C. Input yang Diperlukan

20

D. Petunjuk Pelaksanaan

20

 

E. Output

23

F. Pendokumentasian

23

BAB V

24

PENENTUAN OBYEK, TUJUAN DAN LINGKUP PEMERIKSAAN

24

A.

Dasar

24

B. Tujuan

24

C. Input yang diperlukan

24

D. Petunjuk Pelaksanaan

25

 

E. Output

27

F. Pendokumentasian

27

 

BAB VI

28

PENETAPAN KRITERIA PEMERIKSAAN

28

A.

Dasar

28

B. Tujuan

28

C. Input yang Diperlukan

28

D. Petunjuk Pelaksanaan

29

 

E. Output

31

F. Pendokumentasian

31

 

BAB VII

32

PENYUSUNAN PROGRAM PEMERIKSAAN DAN PROGRAM KERJA PERORANGAN

32

 

A. Dasar

32

B. Tujuan

32

C. Input yang Diperlukan

32

D. Petunjuk Pelaksanaan

33

 

E. Output

34

F. Pendokumentasian

35

 

BAGIAN III

PELAKSANAAN PEMERIKSAAN

36

A. Tujuan

36

B. Kegiatan Pemeriksaan

36

BAB VIII

37

PENGUJIAN DATA

37

 

A. Dasar

37

B. Tujuan

37

C. Input yang Diperlukan

37

D. Petunjuk Pelaksanaan

37

 

E. Output

40

F. Pendokumentasian

40

BAB IX

41

PENYUSUNAN TEMUAN PEMERIKSAAN

41

 

A. Dasar

41

B. Tujuan

41

C. Input yang Diperlukan

41

D. Petunjuk Pelaksanaan

41

 

E. Output

43

F. Pendokumentasian

43

BAGIAN IV PELAPORAN PEMERIKSAAN

44

A. Tujuan

44

B. Kegiatan dalam Pelaporan Pemeriksaan

44

BAB X

45

PENYUSUNAN KONSEP LAPORAN HASIL PEMERIKSAAN

45

A. Dasar

45

B. Tujuan

45

C. Input yang Diperlukan

45

D. Petunjuk Pelaksanaan

45

E. Output

49

F. Pendokumentasian

49

BAGIAN V

PENUTUP

50

BAB XI 50

PENUTUP 50

A. Pemberlakuan Pedoman

50

B. Pemutakhiran Dokumen

50

C. Pemantauan Pedoman

50

REFERENSI

51

PENYUSUN JUKLAK PEMERIKSAAN KINERJA

52

DAFTAR LAMPIRAN

iv

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 3.1

Kertas Kerja Pengidentifikasian Masalah

 

Lampiran 4.1

Kertas

Kerja

Pemahaman

SPI

dengan

Menggunakan

Pendekatan

COSO

Lampiran 4.2 Kertas Kerja Penilaian atas Pengaruh Peraturan Perundang-undangan yang Signifikan

Lampiran 4.3

Kertas Kerja Penentuan Area Kunci

Lampiran 4.4

Kertas Kerja Pemilihan Area Kunci

Lampiran 5.1

Kertas Kerja Penetapan Obyek, Tujuan dan Lingkup Pemeriksaan

Lampiran 6.1

Kertas Kerja Penetapan Kriteria Pemeriksaan

Lampiran 6.2

Daftar Kriteria

Lampiran 8.1

Kertas Kerja Pengujian Data Pemeriksaan

Petunjuk Pelaksanaan Pemeriksaan Kinerja

Pendahuluan

PENDAHULUAN BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

01 Sesuai dengan UU No. 15 Tahun 2004 tentang Pemeriksaan Pengelolaan dan Tanggung Jawab Keuangan Negara, BPK mempunyai kewenangan untuk melakukan pemeriksaan keuangan, pemeriksaan kinerja, dan pemeriksaan dengan tujuan tertentu. Pada saat ini porsi kegiatan pemeriksaan BPK masih lebih banyak untuk melakukan pemeriksaan keuangan seiring dengan dimulainya era pelaporan keuangan yang lebih transparan dari Pemerintah, baik Pemerintah Pusat maupun pemerintah daerah. Namun demikian, perhatian publik secara luas mulai bergeser ke arah nyata dari peristiwa terkini baik tentang pencapaian kinerja pemerintah, usaha pemberantasan korupsi, perusakan alam, dan sebagainya. BPK sebagai sebuah lembaga pemeriksa yang independen menjadi tumpuan masyarakat luas sebagai sebuah lembaga yang dapat memberikan kontribusinya untuk menuju Indonesia ke arah yang lebih baik.

02 Dengan latar belakang tersebut, BPK akan meningkatkan porsi pemeriksaannya pada pemeriksaan kinerja. Hal ini sesuai dengan Rencana Strategis BPK tahun 2006 sampai dengan tahun 2010.

B. Tujuan

03 Dalam rangka peningkatan porsi pemeriksaan kinerja ke depan, BPK memerlukan suatu pedoman pemeriksaan kinerja agar terdapat kesamaan persepsi dan keseragaman metodologi dalam rangka pemeriksaan yang efisien dan efektif. Penyusunan petunjuk pelaksanaan pemeriksaan kinerja ini dimaksudkan untuk membantu pemeriksa dalam melaksanakan pemeriksaan kinerja secara lebih efektif, efisien, dan dengan cara yang lebih sistematik.

C. Dasar Hukum

Perhatian publik bergeser ke arah pencapaian kinerja pemerintah

Porsi pemeriksaan

kinerja akan

ditingkatkan

Tujuan pelaksanaan

juklak

04 Dasar hukum penyusunan Petunjuk Pelaksanaan Pemeriksaan Kinerja ini, antara lain:

UU No. 15 tahun 2004, tentang Pemeriksaan Pengelolaan dan Tanggung Jawab Keuangan Negara,

UU No. 15 tahun 2006, tentang Badan Pemeriksa Keuangan Republik Indonesia,

Peraturan BPK RI No. 1 tahun 2007, tentang Standar Pemeriksaan Keuangan Negara,

Keputusan BPK RI No. 1/K/I-XIII.2/2/2008, tentang Panduan Manajemen Pemeriksaan,

Keputusan Ketua BPK RI No.34/K/I-VIII.3/6/2007, tentang Struktur Organisasi BPK RI,

Keputusan BPK RI No.39/K/I-VIII.3/7/2007, tentang

Petunjuk Pelaksanaan Pemeriksaan Kinerja

Pendahuluan

Organisasi dan Tata Kerja Pelaksana BPK RI.

D. Lingkup Bahasan

05 Juklak ini mengatur tentang tata cara pelaksanaan pemeriksaan kinerja mulai dari tahap perencanaan hingga tahap pelaporan. Tahap tindak lanjut atas rekomendasi BPK tidak dibahas dalam juklak ini, karena akan dibahas dalam petunjuk teknis tentang pemantauan tindak lanjut. Juklak ini juga tidak mengatur hal-hal yang bersifat rinci yang mungkin membutuhkan referensi petunjuk teknis lainnya untuk diperhatikan.

E. Sistematika Penulisan

06 Untuk itu, Petunjuk Pelaksanaan (juklak) ini akan menjelaskan tentang: (1) latar belakang; (2) tujuan penyusunan juklak; (3) sistematika penulisan juklak (4) pengertian dan tujuan pemeriksaan kinerja; (5) konsep ekonomi, efisiensi dan efektivitas; (6) standar pelaksanaan pemeriksaan kinerja; (7) persyaratan dasar pemeriksa; (8) kegiatan dalam pemeriksaan kinerja; (9) asumsi pelaksanaan petunjuk pelaksanaan.

Lingkup bahasan

juklak

Sistematika

Penulisan

07 Petunjuk Pelaksanaan Pemeriksaan Kinerja ini disusun dengan sistematika sebagai berikut.

BAGIAN I

PENDAHULUAN

 

BAB I

Pendahuluan

 

BAB II

Gambaran

Umum

Pemeriksaan

 

Kinerja

BAGIAN II

PERENCANAAN PEMERIKSAAN

 

BAB III

Pengidentifikasian Masalah

BAB IV

Penentuan Area Kunci

 

BAB V

Penentuan Obyek, Tujuan, dan Lingkup Pemeriksaan

BAB VI

Penetapan Kriteria Pemeriksaan

BAB VII

Penyusunan Program Pemeriksaan dan Program Kerja Perorangan

BAGIAN III

PELAKSANAAN PEMERIKSAAN

 

BAB VIII

Pengujian Data

BAB IX

Penyusunan Temuan Pemeriksaan

BAGIAN IV

PELAPORAN PEMERIKSAAN

 

Petunjuk Pelaksanaan Pemeriksaan Kinerja

Pendahuluan

BAGIAN V

BAB X

PENUTUP

BAB XI

Penyusunan Konsep Laporan Hasil Pemeriksaan

Penutup

Petunjuk Pelaksanaan Pemeriksaan Kinerja

Pendahuluan

BAB II GAMBARAN UMUM PEMERIKSAAN KINERJA

A. Pengertian dan Tujuan Pemeriksaan Kinerja

01 Menurut UU No. 15 tahun 2004 pasal 4 ayat 3, Pemeriksaan Kinerja adalah pemeriksaan atas pengelolaan dan tanggung jawab keuangan negara yang terdiri atas pemeriksaan aspek ekonomi, aspek efisiensi serta aspek efektivitas. Pengujian terhadap ketentuan perundang-undangan dan pengendalian intern juga perlu dilaksanakan oleh para pemeriksa dalam pelaksanaan pemeriksaan kinerja.

02 Terminologi baku yang digunakan oleh para anggota INTOSAI adalah performance audit (audit kinerja). INTOSAI mendefinisikan audit kinerja sebagai suatu pemeriksaan yang independen atas efisiensi dan efektivitas kegiatan, program, dan organisasi pemerintah, dengan memperhatikan aspek ekonomi, dengan tujuan untuk mendorong ke arah perbaikan.

03 Terminologi lain yang dikenal dari audit kinerja adalah value for money audit, yang digunakan di Inggris, Kanada, dan beberapa negara persemakmuran, dan diartikan sebagai suatu proses penilaian atas bukti-bukti yang tersedia untuk menghasilkan suatu pendapat secara luas mengenai bagaimana entitas menggunakan sumber daya secara ekonomis, efektif, dan efisien.

B. Konsep Ekonomi, Efisiensi, dan Efektivitas

04 Pada prinsipnya, konsep ekonomi, efisiensi dan efektivitas berhubungan erat dengan pengertian input, output dan outcome. Input adalah sumber daya dalam bentuk dana, SDM, peralatan, dan material yang digunakan untuk menghasilkan ouput. Output adalah barang-barang yang diproduksi, jasa yang diserahkan/diberikan, atau hasil-hasil lain dari proses atas input. Proses adalah kegiatan- kegiatan operasional yang menggunakan input untuk menghasilkan output, sedangkan outcome adalah tujuan atau sasaran yang akan dicapai melalui output. Gambar 1 berikut ini menjelaskan hubungan antara input, proses, output, dan outcome.

hubungan antara input, proses, output, dan outcome. SUMBER INPUT PROSES OUTPUT OUTCOME DAYA EKONOMI
SUMBER INPUT PROSES OUTPUT OUTCOME DAYA EKONOMI EFISIENSI EFEKTIFITAS GAMBAR 1:
SUMBER
INPUT
PROSES
OUTPUT
OUTCOME
DAYA
EKONOMI
EFISIENSI
EFEKTIFITAS
GAMBAR 1:

Hubungan input, proses, output dan outcome.

Audit kinerja menurut UU

Audit kinerja menurut INTOSAI

Value for money audit

Hubungan konsep 3E dengan input, output dan outcome

Petunjuk Pelaksanaan Pemeriksaan Kinerja

Pendahuluan

05 Ekonomi berkaitan dengan perolehan sumber daya yang akan digunakan dalam proses dengan biaya, waktu, tempat, kualitas, dan kuantitas yang benar.

Pengertian ekonomi

06 Ekonomi berarti meminimalkan biaya perolehan input untuk digunakan dalam proses, dengan tetap menjaga kualitas sejalan dengan prinsip dan praktik administrasi yang sehat dan kebijakan manajemen. Organisasi yang ekonomis memperoleh input pada kualitas dan kuantitas yang tepat, dengan harga termurah. Penekanan untuk aspek ekonomi berhubungan dengan perolehan barang atau jasa sebelum digunakan untuk proses.

07 Contoh: Barang A dapat dibeli di toko B seharga Rp100.000.000,00, dengan cara pembayaran, kualitas, dan layanan purnajual yang sama, Barang A dapat dibeli di toko C seharga Rp90.000.000,00. Jika entitas membeli di toko B, maka dikatakan entitas tersebut telah melakukan pemborosan atau ketidakekonomisan sebesar Rp10.000.000,00

08 Langkah-langkah dalam pengukuran ekonomi adalah sebagai berikut:

(1) Identifikasi input yang diperoleh; (2) Identifikasi biaya dan waktu/pengorbanan untuk mendapatkan input; (3) Penentuan kriteria; (4) Pembandingan data yang diperoleh pada langkah (2) dengan kriteria yang telah dibuat pada langkah (3); dan (5) Interpretasi hasilnya.

09 Pemeriksaan atas aspek ekonomi meliputi faktor-faktor, apakah:

(1) barang dan jasa untuk kepentingan program, aktivitas, fungsi, dan kegiatan telah diperoleh dengan harga lebih murah dibandingkan dengan barang jasa yang sama. (2) barang dan jasa telah diperoleh dengan kualitas yang lebih bagus dibandingkan dengan jenis barang/jasa serupa dengan harga yang sama.

10 Efisiensi merupakan hubungan yang optimal antara input dan output. Suatu entitas dikatakan efisien apabila mampu menghasilkan output maksimal dengan jumlah input tertentu atau mampu menghasilkan output tertentu dengan memanfaatkan input minimal.

11 Untuk menilai efisiensi, pertanyaan-pertanyaan berikut perlu dipertimbangkan dalam melakukan pemeriksaan:

(1) Apakah input yang tersedia telah dipakai secara optimal? (2) Apakah output yang sama dapat diperoleh dengan lebih sedikit input? (3) Apakah output yang terbaik dalam ukuran kuantitas dan kualitas dapat diperoleh dari input yang digunakan?

12 Temuan atas efisiensi dapat dirumuskan dengan menggunakan perbandingan antara aktivitas/industri/organisasi yang sejenis, periode lain, standar, dan best practices yang secara tegas telah

Langkah-langkah

pengukuran ekonomi

Pegertian efisiensi

Pertanyaan untuk

menilai efisiensi

Cara perumusan

temuan efisiensi

Petunjuk Pelaksanaan Pemeriksaan Kinerja

Pendahuluan

diadopsi oleh entitas.

13 Contoh: Untuk memproduksi suatu jenis output tertentu dengan jumlah tertentu yang sama terdapat tiga cara:

(1) cara 1 membutuhkan lima unit material A dan dua jam kerja sebagai input. (2) cara 2 membutuhkan enam unit material A dan tiga jam kerja sebagai input. (3) cara 3 membutuhkan tujuh unit material A dan empat jam kerja sebagai input.

Berdasarkan data tersebut, cara 1 lebih efisien daripada cara 2 dan 3 karena rasio input dan output (i/o) pada cara 1, lebih kecil dibandingkan dengan rasio input dan output (i/o) pada cara 2 dan cara 3.

14 Untuk mengetahui tingkat efisiensi suatu entitas, pemeriksa juga dapat menggunakan konsep cost-effectiveness sebagai alat analisis dalam melakukan pemeriksaan. Konsep cost-effectiveness berhubungan dengan kemampuan atau potensi entitas yang diperiksa, untuk mencapai tujuan tertentu dengan biaya yang rasional.

Analisis cost-effectiveness adalah suatu studi tentang hubungan antara biaya yang telah dikeluarkan oleh entitas dan outcome-nya, yang dinyatakan sebagai biaya per unit atas outcome.

Pemeriksaan atas efisiensi meliputi aspek, apakah:

program, aktivitas, fungsi, dan kegiatan telah dikelola, diatur, diorganisasikan, dan dilaksanakan secara efisien; dan

jasa pelayanan oleh pemerintah telah diberikan dengan kualitas terbaik, berorientasi pada kebutuhan masyarakat, dan diberikan tepat waktu.

15 Langkah-langkah pengukuran efisiensi adalah sebagai berikut:

(1) Identifikasi dan pilih input yang relevan; (2) Identifikasi dan pilih output yang relevan; (3) Penentuan unit pengukuran input dan output; (4) Penentuan rasio pengukuran antara input dan output.; (5) Penentuan kriteria; (6) Pembandingan data yang diperoleh pada langkah (4) dengan kriteria yang telah dibuat pada langkah (5); dan (7) Interpretasi hasil.

16 Efektivitas pada dasarnya adalah pencapaian tujuan. Efektivitas berkaitan dengan hubungan antara output yang dihasilkan dengan tujuan yang dicapai (outcome). Efektif berarti output yang dihasilkan telah memenuhi tujuan yang telah ditetapkan.

17 Contoh: Pemerintah Daerah X mempunyai program pelayanan bus yang bertujuan untuk mengurangi tingkat penggunaan kendaraan pribadi di dalam kota. Outputnya berupa pelayanan bus yang diukur dengan jumlah kilometer pelayanan bus. Dalam rangka pelaksanaan program tersebut, Pemerintah Daerah X melakukan pembelian bus baru.

18 Misalnya, biaya pengoperasian setahun bus merek A

Konsep Cost-

effectiveness

Langkah-langkah

pengukuran efisiensi

Pengertian efektivitas

Petunjuk Pelaksanaan Pemeriksaan Kinerja

Pendahuluan

Rp1.000.000.000,00, sedangkan biaya pengoperasian bus merek B juga Rp1.000.000.000,00. Kilometer yang dilayani bus A 250.000 km setahun, sedangkan bus B 225.000 km setahun. Akan tetapi, dengan bus A penggunaan kendaraan pribadi turun sebesar 10%, sedangkan dengan bus B, penggunaan kendaraan pribadi turun sebesar 30 %.

19 Kesimpulan dari sisi efektivitas (hubungan antara output dan outcome) penggunaan bus B lebih efektif, sedangkan dari sisi

efisiensi (hubungan antara input dan ouput), bus A lebih efisien daripada Bus B.

20 Perbedaan ini disebabkan Bus A memang mempunyai jarak tempuh yang lebih jauh, tetapi tingkat kenyamanan yang kurang memadai, maka masyarakat tidak serta-merta menggunakan Bus A sebagai kendaraan pengganti mobil pribadi.

21 Untuk melakukan pemeriksaan atas efektivitas suatu entitas, maka pertanyaan-pertanyaan berikut perlu dipertimbangkan:

(1) apakah output yang dihasilkan telah dimanfaatkan sebagaimana diharapkan? (2) apakah output yang dihasilkan konsisten dengan tujuan? (3) apakah dampak yang dinyatakan berasal dari output yang dihasilkan dan bukan dari pengaruh lingkungan luar?

22 Langkah-langkah pengukuran efektivitas adalah sebagai berikut:

(1) Identifikasi tujuan (outcome) yang telah ditetapkan sebelumnya; (2) Identifikasi output aktual.; (3) Penentuan unit pengukuran output dan outcome; (4) Pembandingan antara output dan outcome; dan (5) Interpretasi hasil.

C. Standar Pelaksanaan Pemeriksaan Kinerja

23 Pemeriksaan dilaksanakan berdasarkan SPKN yang disusun dan ditetapkan BPK melalui Peraturan BPK RI No. 01 tahun 2007. Seperti yang telah diatur dalam SPKN PSP 04, standar pelaksanaan pemeriksaan kinerja meliputi:

(1) perencanaan; (2) supervisi; (3) bukti pemeriksaan; dan (4) dokumentasi pemeriksaan.

D. Persyaratan Dasar Pemeriksa

24 Pemeriksaan kinerja merupakan kegiatan yang berdasar pada informasi yang menuntut nilai-nilai profesional untuk mengelola informasi tersebut menjadi titik sentral. Salah satu bentuk nilai profesional tersebut adalah pentingnya seorang pemeriksa mempunyai kesempatan untuk mengembangkan keahliannya dan mempertahankan hasil yang baik dalam pelaksanaan tugas.

25 Agar dapat mencapai tujuan pemeriksaan kinerja yang telah ditetapkan, pemilihan personil pemeriksa yang akan ditugasi menjadi salah satu faktor yang cukup menentukan. Beberapa literatur dalam pemeriksaan kinerja mensyaratkan bahwa seorang

Pertanyaan untuk

menilai efektivitas

Langkah-langkah

pengukuran

efektivitas

Pemeriksa profesional

harus

mengembangkan

keahliannya

Petunjuk Pelaksanaan Pemeriksaan Kinerja

Pendahuluan

pemeriksa dalam pemeriksaan kinerja harus mempunyai latar belakang pendidikan formal yang cukup dan mempunyai keahlian lainnya seperti kemampuan menganalisis, kemampuan berkreativitas, dan kemampuan berkomunikasi, baik dalam bentuk lisan maupun tertulis. Selain itu, pemeriksa kinerja juga dituntut untuk selalu memperoleh pendidikan profesional dari berbagai disiplin ilmu secara berkelanjutan, seperti telah diatur dalam SPKN PSP 01 paragraf 08, untuk memperoleh informasi/ ilmu yang mutakhir sehingga dapat mendukung pelaksanaan pemeriksaan.

26 Dalam pelaksanaan suatu pemeriksaan kinerja, BPK dapat menggunakan tenaga ahli yang berasal dari dalam atau luar BPK. Atas penggunaan tenaga ahli intern ataupun ekstern tersebut, pemeriksa perlu mempertimbangkan kualifikasi mereka seperti yang telah diatur dalam Pasal 6 Peraturan BPK RI Nomor 1 tahun 2008 tentang Penggunaan Pemeriksa dan/atau Tenaga Ahli dari Luar BPK, dan diatur juga dalam SPKN PSP 01 paragraf 09.

27 SPKN PSP 04 tentang Standar Pelaksanaan Pemeriksaan Kinerja paragraf 7 juga telah menetapkan jenis pekerjaan yang harus dilakukan pemeriksa dalam pelaksanaan pemeriksaan kinerja yang juga mengisyaratkan bahwa pemeriksa harus kompeten dan mempunyai keahlian yang cukup dalam menjalankan tugasnya.

28 Lebih lanjut, SPKN PSP 01 Standar Umum Paragraf 10 secara jelas juga mengatur persyaratan dasar kemampuan/keahlian para pemeriksa yang harus dipenuhi dalam melakukan tugas pemeriksaan.

Hal Penggunaan tenaga ahli dari luar BPK

E. Metodologi Petunjuk Pelaksanaan Pemeriksaan Kinerja

29 Metodologi pemeriksaan kinerja dapat terlihat pada bagan berikut.

Metodologi juklak

pada bagan berikut. M e t o d o l o g i j u k

Petunjuk Pelaksanaan Pemeriksaan Kinerja

Pendahuluan

30 Secara garis besar metodologi ini terbagi dalam tiga siklus, yaitu pada tahap perencanaan pemeriksaan, pelaksanaan pemeriksaan, dan pelaporan pemeriksaan. Masing-masing tahap mempunyai uraian detail seperti tertera dalam sistematika di bawah ini:

1. Perencanaan Pemeriksaan

a. Pengidentifikasian Masalah

b. Penentuan Area Kunci

c. Penentuan Obyek, Tujuan dan Lingkup Pemeriksaan

d. Penetapan Kriteria Pemeriksaan

e. Penyusunan Program Pemeriksaan (P2) dan Program Kerja Perorangan (PKP)

2. Pelaksanaan Pemeriksaan

a. Pengujian terhadap tujuan pemeriksaan

b. Penyusunan dan penyampaian konsep Temuan Pemeriksaan (TP)

c. Perolehan tanggapan resmi dan tertulis atas konsep TP

d. Penyampaian TP

3. Pelaporan Pemeriksaan

a. Penyusunan Konsep Laporan Hasil Pemeriksaan

b. Perolehan Tanggapan atas Rekomendasi

c. Penyusunan dan Penyampaian LHP

F. Kegiatan Dalam Pemeriksaan Kinerja

1. Perencanaan Pemeriksaan

a. Pengidentifikasian Masalah

31 Bab ini menjelaskan bagaimana pemeriksa dapat mengidentifikasi suatu permasalahan pada sebuah entitas. Hal ini dapat dilakukan dengan memahami rencana strategis Badan dan kebijakan tentang pemeriksaan kinerja serta dengan melakukan pemahaman atas karakteristik entitas. Berdasarkan pemahaman ini, pemeriksa dapat memperoleh pengetahuan mengenai kegiatan pokok, identitas, dan data umum entitas, yang memungkinkan untuk merencanakan dan melaksanakan pemeriksaan sesuai standar pemeriksaan yang ditetapkan. Ke dalam informasi ini juga termasuk adanya isu-isu tentang permasalahan yang sedang dihadapi oleh entitas tersebut.

32 Pengetahuan ini akan membantu pemeriksa dalam hal:

1)

Penaksiran risiko dan pengidentifikasian masalah.

2)

Penilaian Sistem Pengendalian Intern.

3)

Penentuan tujuan pemeriksaan kinerja yang selaras dengan renstra Badan.

4) Perencananaan dan pelaksanaan pemeriksaan secara efisien dan efektif.

5)

6) Pengidentifikasian masalah-masalah pemeriksaan yang signifikan.

Pengevaluasian bukti pemeriksaan.

b. Penentuan Area Kunci

33 Bab ini menjelaskan bagaimana pemeriksa bisa menentukan

Manfaat pemahaman atas Resntra Badan dan entitas yang akan diperiksa

Penentuan area kunci dan pemahaman SPI

Petunjuk Pelaksanaan Pemeriksaan Kinerja

Pendahuluan

area kunci dalam entitas yang diperiksa. Area kunci adalah area, bidang, atau kegiatan yang merupakan fokus audit dalam entitas. Penentuan area kunci sangat penting agar pelaksanaan audit dapat lebih fokus pada tujuan pemeriksaan dan memungkinkan penggunaan sumber daya audit yang lebih efisien dan efektif. Pemilihan area kunci dapat dilakukan berdasarkan faktor-faktor pemilihan (selection factors), yang berkaitan dengan elemen-elemen; (1) risiko terhadap manajemen, (2) signifikansi suatu program, (3) dampak pemeriksaan, dan (4) auditabilitas. Selain itu, penentuan area kunci juga bisa dilakukan melalui pendekatan terhadap lima komponen SPI yang dikemukakan oleh COSO, yang meliputi:

(1) lingkungan pengendalian, (2) penilaian risiko, (3) aktivitas pengendalian, (4) komunikasi dan informasi, dan (5) monitoring.

c. Penentuan obyek, tujuan, dan lingkup pemeriksaan.

34 Bab ini menjelaskan bagaimana pemeriksa menetapkan obyek, tujuan, dan lingkup pemeriksaan yang berguna dalam merencanakan suatu pemeriksaan dan menentukan metodologi yang akan dipergunakan. Selain itu, juga dijelaskan bagaimana pemeriksa mengidentifikasi jenis-jenis dan sumber bukti pemeriksaan serta cara-cara mendapatkannya. Ketiga tahapan ini merupakan kegiatan survei/pemeriksaan pendahuluan yang menjadi dasar bagi satuan kerja (satker) untuk menyusun Program Pemeriksaan (P2) dan Program Kerja Perorangan (PKP).

d. Penetapan Kriteria Pemeriksaan.

35 Bab ini menjelaskan bagaimana pemeriksa menetapkan kriteria yang digunakan untuk menentukan apakah suatu entitas mencapai kinerja yang diharapkan.

Kegiatan survey/

pemeriksaan

pendahuluan

Penetapan kirteria

pemeriksaan

e. Penyusunan Program Pemeriksaan (P2) dan Program Kerja Perorangan (PKP)

36 Bab ini menjelaskan bagaimana pemeriksa menyusun Program Pemeriksaan (P2) dan Program Kerja Perorangan (PKP) yang digunakan sebagai rencana kegiatan pemeriksaan.

2. Pelaksanaan Pemeriksaan

37 Pengujian terhadap Tujuan Pemeriksaan

a.

Bab ini menjelaskan bagaimana cara pemeriksa mendapatkan dan menganalisis bukti pemeriksaan dari entitas yang diperiksa dalam rangka memperoleh keyakinan yang cukup, relevan, dan kompeten yang akan menjadi dasar dalam menjawab tujuan pemeriksaan.

38 Penyusunan Temuan Pemeriksaan.

b.

Kegiatan dalam tahap pelaksanaan pemeriksaan

Bab ini menjelaskan bagaimana pemeriksa menyajikan temuan pemeriksaan yang dikumpulkan dan diolah selama melakukan pemeriksaan tentang ekonomi, efisiensi, dan atau efektivitas secara analitis dan sistematis yang meliputi unsur-

Petunjuk Pelaksanaan Pemeriksaan Kinerja

Pendahuluan

unsur kondisi, kriteria, akibat, sebab, dan komentar dari entitas yang diperiksa; serta cara penyampaian temuan pemeriksaan kepada entitas yang diperiksa.

3. Pelaporan Pemeriksaan

39 Penyusunan Konsep Laporan Hasil Pemeriksaan.

Bab ini menjelaskan proses penyusunan konsep LHP yang memuat unsur-unsur seperti: pernyataan bahwa pemeriksaan dilaksanakan sesuai dengan standar; tujuan, lingkup dan metodologi pemeriksaan; hasil pemeriksaan (temuan, simpulan dan rekomendasi); tanggapan pejabat terperiksa atas HP; dan pelaporan informasi rahasia bila ada. Bab ini juga menjelaskan proses-proses perolehan atas rekomendasi yang diberikan sehubungan dengan pelaksanaan pemeriksaan kinerja serta proses penyusunan LHP dan pendistribusiannya kepada pihak-pihak yang telah diatur sesuai dengan ketentuan.

G. Asumsi pelaksanaan petunjuk pelaksanaan

40 Tahap perencanaan di dalam metodologi pemeriksaan kinerja pada langkah ke-1 (pengidentifikasian masalah) sampai dengan langkah ke-4 (penetapan kriteria) dapat dituangkan dalam suatu kegiatan Pemeriksaan Pendahuluan.

41 Jika tahap perencanaan dilaksanakan dengan pelaksanaan pemeriksaan pendahuluan, maka akan dihasilkan suatu laporan hasil pemeriksaan pendahuluan. Laporan hasil pemeriksaan pendahuluan tersebut berisi resume hasil penelaahan setiap langkah yang tertuang di dalam tahap perencanaan pemeriksaan kinerja. Secara umum, hasil dari pelaksanaan pemeriksaan pendahuluan digunakan untuk menentukan apakah suatu pemeriksaan kinerja terhadap suatu entitas/program dapat dilakukan atau tidak; dan juga sebagai dasar dalam penyusunan P2 dan PKP.

Pemeriksaan

Pendahuluan

Laporan Hasil

Pemeriksaan

Pendahulan

Petunjuk Pelaksanaan Pemeriksaan Kinerja

Bagian II

BAGIAN II PERENCANAAN PEMERIKSAAN

A.

Tujuan

01

Tujuan perencanaan pemeriksaan adalah mempersiapkan suatu program pemeriksaan yang akan digunakan sebagai dasar bagi pelaksanaan pemeriksaan sehingga pemeriksaan dapat berjalan secara efisien dan efektif.

02

Tahap perencanaan pemeriksaan yang ada dalam petunjuk pelaksanaan pemeriksaan kinerja ini tidak dapat dipisahkan dan merupakan bagian dari siklus perencanaan pemeriksaan yang telah disusun dalam Rencana Kerja Pemeriksaan (RKP) BPK. Di dalam penyusunan RKP, sebelum ditentukan obyek pemeriksaan dan jenis pemeriksaan, maka pelaksana pemeriksa BPK mencoba memahami entitas, program atau kegiatan yang akan diperiksa melalui berbagai data dan informasi baik yang didapat dari database entitas yang dikelola BPK maupun dari sumber-sumber lainnya. Berbekal olahan data dan informasi tersebut, pelaksana pemeriksa BPK kemudian menyusun RKP yang memuat rencana kerja BPK di bidang pemeriksaan yang meliputi, objek pemeriksaan, jenis pemeriksaan, kebutuhan SDM, dan anggaran pemeriksaan.

03

Di dalam pelaksanaan RKP tersebut, suatu jenis pemeriksaan kinerja membutuhkan kembali tahap perencanaan secara mendetail mengenai bagaimana menentukan tujuan dan lingkup pemeriksaan yang akan dilakukan. Tujuan dan lingkup pemeriksaan itu dapat ditetapkan setelah pemeriksa dapat memahami dengan baik entitas, program atau kegiatan yang akan diperiksa serta menentukan beberapa area kunci yang mempunyai risiko tinggi dalam pelaksanaan pemeriksaan. Selanjutnya dengan penentuan tujuan pemeriksaan, diharapkan pemeriksa dapat menentukan kriteria pemeriksaan dan jenis serta sumber bukti yang kemudian akan dituangkan dalam suatu Program Pemeriksaan (P2) dan Program Kerja Perorangan (PKP) .

04

Dalam perencanaan pemeriksaan, pemeriksa mengumpulkan informasi untuk menentukan kebijakan awal mengenai lingkup pemeriksaan, biaya, waktu, dan keahlian yang diperlukan. Selain itu, juga untuk mengusulkan tujuan pemeriksaan, area pemeriksaan yang perlu untuk direviu secara mendalam, penentuan kriteria pemeriksaan, dan cara-cara pengujian yang akan dilakukan. Pada saat menyusun RKP, satker diharapkan telah dapat menyiapkan alasan dan tujuan pemeriksaan yang diwujudkan dalam P2 yang disiapkan, dengan memperhatikan renstra dan kebijakan Badan tentang pemeriksaan kinerja.

B.

Kegiatan dalam Perencanaan Pemeriksaan

05

Kegiatan dalam perencanaan pemeriksaan, terutama pada langkah ke-1 hingga langkah ke-4 dapat dituangkan dalam suatu

Tujuan

perencanaan

pemeriksaan

Pemeriksa

melakukan

prosedur

perencanaan

sebalum

menyusun RKP

Penentuan tujuan

pemeriksaan

Pengumpulan

informasi

Petunjuk Pelaksanaan Pemeriksaan Kinerja

Bagian II

pemeriksaan pendahuluan. Hasil pemeriksaan pendahuluan digunakan sebagai bahan keputusan untuk meneruskan pemeriksaan kinerja ini ke tahap berikutnya, yaitu pelaksanaan dan pelaporan pemeriksaan kinerja. Jika diputuskan untuk diteruskan ke tahap berikutnya, maka hasil pemeriksaan pendahuluan ini juga sekaligus digunakan sebagai dasar dalam penyusunan P2 dan PKP.

06 Kegiatan dalam perencanaan pemeriksaan meliputi: pemahaman atas renstra dan kebijakan Badan tentang pemeriksaan kinerja, pemahaman atas entitas, penentuan area kunci, penentuan obyek, tujuan, dan lingkup pemeriksaan, penetapan kriteria pemeriksaan, dan penyusunan program pemeriksaan.

07 Petunjuk pelaksanaan pada tahap perencanaan pemeriksaan ini terdiri dari enam tahap, yaitu:

(1) Tahap Pengidentifikasian Masalah (2) Tahap penentuan area kunci. (3) Tahap penentuan obyek, tujuan, dan lingkup pemeriksaan. (4) Tahap penetapan kriteria pemeriksaan. (5) Tahap penyusunan program pemeriksaan.

PERENCANAAN

1 Pengidentifikasian

Masalah

2. Penentuan Area Kunci

3.

Tujuan, dan Lingkup

Penentuan Obyek,

Pemeriksaan Kinerja

4.

Penetapan Kriteria

5. Penyusunan P2 dan PKP

Petunjuk Pelaksanaan Pemeriksaan Kinerja

Bagian II

BAB III PENGIDENTIFIKASIAN MASALAH

01 Bab ini menguraikan bagaimana pemeriksa dapat mengidentifikasi permasalahan yang ada pada obyek yang akan diperiksa. Tahap ini terdiri dari dua kegiatan utama, yaitu pemahaman atas rencana strategis dan kebijakan Badan tentang pemeriksaan kinerja dan pemahaman atas entitas yang akan diperiksa.

02 Pemahaman atas rencana strategis dan kebijakan Badan tentang pemeriksaan kinerja akan digunakan oleh pemeriksa untuk menentukan arah dari pelaksanaan pemeriksaan kinerja. Selanjutnya, dengan memahami karakteristik entitas, pemeriksa dapat memahami kegiatan pokok, identitas, dan data umum entitas, yang dapat digunakan untuk merencanakan dan melaksanakan pemeriksaan sesuai standar pemeriksaan yang ditetapkan (SPKN).

PERENCANAAN

1 Pengidentifikasian

Masalah

2. Penentuan Area Kunci

3. Penentuan Obyek, Tujuan dan Lingkup Pemeriksaan Kinerja

4. Penetapan Kriteria

5. Penyusunan P2 dan PKP

03 Pengetahuan akan renstra dan kebijakan Badan tentang

Manfaat

pemahaman

pemeriksaan kinerja serta pemahaman akan kondisi entitas ini dapat membantu pemeriksa dalam hal:

entitas

 

penentuan arah pemeriksaan kinerja sesuai rencana strategis Badan.

penaksiran risiko dan identifikasi masalah pemeriksaan yang signifikan.

penentuan tujuan pemeriksaan.

perencananaan dan pelaksanaan pemeriksaan secara efisien dan efektif.

pengevaluasian bukti pemeriksaan.

A.

Dasar

04

Dasar kegiatan pengidentifikasian masalah ini adalah SPKN PSP 04 paragraf 10.

 

B.

Tujuan

 

05

Adapun tujuan dari kegiatan ini adalah:

Tujuan

pelaksanaan

(a)

memahami rencana strategis dan kebijakan Badan tentang

kegiatan

pemahaman

 

pelaksanaan pemeriksaan kinerja;

entitas

(b) memperoleh data, informasi, serta latar belakang organisasi, program dan fungsi pelayanan publik yang diperiksa mengenai hal-hal yang berhubungan dengan input, proses, output, dan outcome;

(c)

mengetahui landasan hukum atas kegiatan atau program dari organisasi, program dan fungsi pelayanan publik yang diperiksa;

(d)

mengidentifikasi masalah-masalah yang ada dalam organisasi, program, dan fungsi pelayanan publik yang diperiksa

Petunjuk Pelaksanaan Pemeriksaan Kinerja

Bagian II

(e) memahami tugas-tugas dan kewajiban-kewajiban yang diemban oleh entitas yang diperiksa, tujuan, dan program kerja entitas, hubungan antarunit kerja, organisasi dan akuntabilitas di dalam entitas, lingkungan internal dan eksternal entitas serta pihak terkait (stakeholders), hambatan-hambatan yang berasal dari luar entitas yang mempengaruhi, proses manajemen dan operasional entitas yang diperiksa, serta sumber daya entitas.

C. Input yang Diperlukan

06 Input yang diperlukan dalam kegiatan ini dapat berupa antara

Input yang

diperlukan dalam

lain:

pemahaman

 

(a)

Peraturan perundang-undangan yang seperti: Undang- Undang (UU), Keputusan Presiden (Keppres), Instruksi Presiden (Inpres), Peraturan Presiden (Perpres), Peraturan Pemerintah (PP), Keputusan Menteri (Kepmen), Keputusan Dirjen, Surat Edaran Direktur, Keputusan Kepala Dinas, Surat Edaran Kepala Dinas, Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga (AD/ART) BUMN/BUMD, Keputusan Direksi, dan Company Profile BUMN/BUMD.

entitas

(b)

Rencana

Strategis

BPK

dan kebijakan Badan tentang

 

pemeriksaan kinerja.

 
 

(c)

Laporan pemeriksaan dari pemeriksa sebelumnya, hasil reviu dari instansi lain, dan hasil studi dari lembaga penelitian dan lembaga swadaya masyarakat (LSM) mengenai entitas yang diperiksa.

 

(d)

Rencana Jangka Panjang (RJP), Rencana Kerja dan Anggaran (RKA), dan laporan tahunan entitas.

(e)

Kebijakan entitas dan risalah-risalah yang berkaitan dengan entitas.

(f)

Struktur organisasi, pedoman sistem dan prosedur organisasi (SOP), dan petunjuk operasional.

(g)

Hasil evaluasi terhadap program entitas dan rencana kerja pemeriksa intern dan laporan hasil pemeriksaannya.

(h)

Hasil-hasil diskusi dengan manajemen dan stakeholder.

 

(i)

Hasil liputan media masa.

 

(j)

Hasil penelaahan informasi dari internet.

 

(k)

Hasil database entitas yang dikelola oleh BPK

 

(l)

Sumbangan bahan dari Satker nonpemeriksaan, seperti Binbangkum, Biro Humas, EPP, dan Litbang.

 

07 Tidak semua input yang terdaftar ini harus diperoleh pemeriksa, tergantung dari lingkup entitas yang diperiksa dan pertimbangan pemeriksa.

D.

Petunjuk Pelaksanaan

 

08

Langkah-langkah yang

perlu

dilakukan

dalam

Langkah-langkah

pengidentifikasian masalah dapat dirinci sebagai berikut.

dalam

pengidentifikasian

a.

Dapatkan dan pelajari rencana strategis BPK serta kebijakan

masalah

Petunjuk Pelaksanaan Pemeriksaan Kinerja

Bagian II

Badan tentang pemeriksaan kinerja.

b. Pelajari sejarah dan latar belakang entitas yang diperiksa, antara lain mengenai:

Sejarah dan latar belakang berdirinya entitas;

Tujuan yang hendak dicapai;

Kewenangan entitas dalam mencapai tujuan dan dalam melaksanakan program yang telah ditetapkan;

Tanggung jawab pimpinan entitas;

Batasan-batasan yang berlaku terhadap entitas; dan

Ketentuan-ketentuan yang berlaku terhadap entitas.

c. Reviu struktur organisasi dan uraian tugas atas entitas yang diperiksa.

d. Reviu hasil pemeriksaan sebelumnya terhadap entitas untuk memperoleh gambaran umum entitas dan mengidentifikasi permasalahan yang ada berdasarkan pemeriksaan sebelumnya.

e. Analisis dokumen anggaran dari entitas yang diperiksa.

f. Analisis SOP dari entitas yang diperiksa yang relevan dengan tujuan pemeriksaan.

Analisis

g. AD/ART,

RJP,

dan

RKA

dari

entitas

yang

diperiksa.

h. Jika diperlukan, lakukan observasi singkat di lokasi kegiatan utama entitas, misalnya, pabrik atau gudang untuk BUMN/BUMD, atau kantor untuk instansi pemerintah.

i. Jika diperlukan, lakukan interviu/wawancara dengan manajemen. Wawancara ini dilakukan dalam rangka untuk memperoleh informasi yang bersifat umum, seperti misi entitas yang diperiksa, target kegiatan pada tahun berjalan yang diperiksa, anggaran yang tersedia, realisasi kegiatan, dan sebagainya.

j. Reviu peraturan-peraturan yang mendasari program yang diperiksa, laporan kemajuan pelaksanaan program, serta hambatan-hambatan dalam pencapaian program.

k. Identifikasi dan reviu tujuan dan sasaran dari program yang diperiksa, kemudian teliti apakah dalam mencapai tujuan tersebut terdapat tolok ukur, standar, atau key performance indicator (KPI) untuk menentukan kelemahan dan keberhasilan program tersebut.

l. Lakukan inventarisasi tolok ukur, standar, atau KPI yang telah diterapkan oleh entitas dalam melaksanakan program/kegiatan. Misalnya, dalam pelaksanaan Program Peningkatan Kualitas Pelajar SMU terdapat tolok ukur sebagai berikut:

1) Standar rata-rata Nilai Ebtanas Murni (NEM) adalah

6,5.

2) Standar nilai rata-rata mata pelajaran ilmu pasti (Matematika, Fisika, dan Kimia) adalah 7.

3)

Standar nilai rata-rata mata pelajaran PMP adalah 8.

Petunjuk Pelaksanaan Pemeriksaan Kinerja

Bagian II

m. Teliti kemungkinan adanya hambatan yang dialami entitas dalam melaksanakan kewenangannya, yang mungkin disebabkan oleh adanya kewenangan serupa yang dimiliki oleh entitas lain.

Contoh: Dinas Kehutanan telah mengalokasikan 25 hektar lahan untuk Hutan Tanaman Industri (HTI). Namun, berdasarkan laporan pemeriksaan sebelumnya, ternyata terdapat seluas delapan hektar lahan yang tumpang tindih dengan lahan untuk lokasi transmigrasi. Berdasarkan kondisi ini, maka Dinas Kehutanan merevisi alokasi lahan untuk HTI menjadi seluas 17 hektar.

n. Teliti kemungkinan adanya penyalahgunaan wewenang yang dilakukan oleh entitas tersebut.

Contoh: Dinas Kehutanan telah memberi izin alokasi lahan seluas 500 Ha untuk pembangunan perumahan, tetapi di lokasi Hutan Lindung. Hal ini jelas menyalahi undang- undang tentang kehutanan.

o. Teliti kemungkinan adanya peraturan atau kebijakan pemerintah yang menghambat pencapaian tujuan dari program yang telah ditetapkan.

Contoh 1: Dinas Koperasi dan Pengusaha Kecil menggulirkan Program Pembinaan bagi petani dan pengusaha kecil untuk meningkatkan taraf hidup mereka. Namun, berdasarkan laporan pemeriksaan sebelumnya, ternyata banyak petani mengeluhkan harga hasil panen mereka yang sangat rendah. Penyebabnya adalah adanya Surat Izin Menteri Perindustrian dan Perdagangan yang mengizinkan impor beras yang harganya lebih murah daripada harga beras dari petani.

Contoh 2: Peraturan Daerah Provinsi A telah menetapkan bahwa lahan hijau untuk Provinsi A minimal seluas 20% dari luas wilayah provinsi tersebut. Namun, laporan pemeriksaan sebelumnya menunjukkan bahwa penentuan lokasi tersebut harus ditetapkan melalui rapat koordinasi dinas-dinas terkait, tidak semata-mata berdasarkan Rencana Umum Tata Ruang (RUTR) Provinsi A. Hal ini mengakibatkan penentuan lokasi lahan hijau sangat lambat sehingga target Program Pembangunan Lahan Hijau Provinsi A tidak tercapai

p. Pelajari kemungkinan adanya batasan-batasan berdasarkan peraturan atau kebijakan institusi di atasnya yang diberlakukan terhadap entitas yang diperiksa.

Contoh: Berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku, Pemerintah Pusat telah menyerahkan urusan pendidikan kepada pemerintah daerah. Namun, di lain pihak, bidang kurikulum masih ditangani oleh Pemerintah Pusat.

q. Reviu atas hasil-hasil studi yang telah dilakukan kelompok industri, kelompok profesional, dan kelompok-kelompok lain yang mempunyai kepentingan terhadap entitas tersebut.

Petunjuk Pelaksanaan Pemeriksaan Kinerja

Bagian II

 

r.

Dapatkan dan inventarisasi isu-isu mutakhir tentang permasalahan yang sedang dihadapi oleh entitas, yang dapat diperoleh dari media masa atau sumber-sumber lain.

s.

Buatlah kesimpulan mengenai permasalahan yang berhasil diidentifikasi dalam tahap ini. Permasalahan ini merupakan identifikasi awal bagi pengembangan arah dan tujuan pemeriksaan pada tahap perencanan selanjutnya.

E.

Output

09

Output dari kegiatan “Pengidentifikasian Masalah” adalah:

(a)

Gambaran umum dari kegiatan/program dari entitas yang diperiksa yang antara lain meliputi input, proses, output, dan outcome.

(b)

Hasil reviu peraturan perundang-undangan yang meliputi kewenangan, maksud dan tujuan, dan struktur organisasi.

(c)

Informasi mengenai faktor-faktor yang mempengaruhi kinerja entitas.

(d)

Kesimpulan umum tentang identifikasi masalah.

F. Pendokumentasian

10 Seluruh pengkajian pemeriksa mengenai tahap ”Pengidentifikasian Masalah” harus didokumentasikan. Tim dapat mengembangkan suatu template yang membantu pendefinisian pengendalian internal dan risiko kecurangan. Secara keseluruhan pendokumentasian dapat dijadikan sebagai KKP. Contoh KKP kegiatan pengidentifikasian masalah dapat dilihat pada Lampiran 3.1.

Output kegiatan

pengidentifikasian

masalah

Pengkajian pemeriksa dalam tahap ini harus didokumentasikan

Petunjuk Pelaksanaan Pemeriksaan Kinerja

Bagian II

BAB IV PENENTUAN AREA KUNCI

01 Bab ini menguraikan tentang bagaimana pemeriksa dapat menentukan area kunci dalam entitas yang diperiksa. Selain itu, akan diuraikan tentang bagaimana pemeriksa dapat menentukan urutan prioritas area kunci yang akan dipilih sebagai obyek pemeriksaan kinerja, yang akan menjadi fokus pemeriksaan, dengan menggunakan faktor-faktor pemilihan, yang berkaitan dengan elemen-elemen:

(a)

risiko terhadap manajemen, yaitu risiko yang dihadapi oleh manajemen atas tidak tercapainya aspek 3E (ekonomi, efisiensi dan efektivitas);

(b)

signifikansi suatu program, yaitu penilaian apakah suatu kegiatan dalam suatu area audit secara komparatif mempunyai pengaruh yang besar terhadap kegiatan lainnya dalam obyek audit secara keseluruhan;

(c)

dampak pemeriksaan, yaitu pengaruh hasil audit terhadap perbaikan atas area yang diperiksa; dan

(d)

auditabilitas, berhubungan dengan kemampuan tim pemeriksa untuk melaksanakan pemeriksaan sesuai standar.

PERENCANAAN

1 Pengidentifikasian

Masalah

2. Penentuan Area Kunci

3. Penentuan Obyek,

Tujuan, dan Lingkup Pemeriksaan Kinerja

4. Penetapan Kriteria

5. Penyusunan P2 dan PKP

02 Dalam rangka menentukan area kunci pemeriksa dapat melakukan tiga kegiatan utama, yaitu (1) mempertimbangkan kualitas pengendalian intern atas entitas/kegiatan/program yang akan diperiksa dengan menggunakan lima komponen SPI yang dikemukakan oleh COSO, yaitu: lingkungan pengendalian, penilaian risiko, aktivitas pengendalian, komunikasi dan informasi, serta monitoring; (2) melakukan penilaian atas pengaruh peraturan perundang-undangan yang signifikan terhadap entitas/kegiatan/program yang akan diperiksa, serta (3) mengidentifikasi potensi terjadinya kecurangan.

Penentuan area kunci dengan pendekatan pertimbangan SPI entitas, menilai pengaruh peraturan perundang-undangan, dan mengidentifikasi potensi kecurangan.

03 Berdasarkan hasil dari ketiga kegiatan di atas dan input dari kegiatan sebelumnya (pengidentifikasian masalah), pemeriksa dapat menentukan area kunci. Area kunci yang sudah dipilih, selanjutnya diurutkan menurut prioritasnya dengan menggunakan faktor pemilihan. Sesuai dengan sumber daya pemeriksaan yang ada, pemeriksa memilih area kunci dengan prioritas tertinggi, yang akan menjadi fokus pelaksanaan pemeriksaan kinerja.

A.

Dasar

 

04

Dasar kegiatan penentuan area kunci ini antara lain adalah:

 

1)

SPKN PSP 04 paragraf 07 s.d. paragraf 09;

2)

SPKN PSP 04 paragraf 11 s.d. paragraf 15;

3)

SPKN PSP 04 paragraf 16 s.d. paragraf 26.

B.

Tujuan

05

Tujuan penentuan area kunci dalam perencanaan adalah:

Tujuan penentuan

area kunci

(a) menilai apakah entitas telah memiliki sistem pengendalian yang memadai untuk mengidentifikasi risiko-risiko

Petunjuk Pelaksanaan Pemeriksaan Kinerja

Bagian II

kelemahan pengendalian yang akan dijadikan pertimbangan dalam menentukan area kunci;

(b)

mempertimbangkan pengaruh peraturan perundangan- undangan yang signifikan dan risiko kecurangan yang mungkin terjadi dan merancang prosedur untuk bisa memberikan keyakinan yang memadai bahwa kecurangan tersebut dapat dideteksi; dan

(c)

menentukan area-area kunci yang memiliki risiko tinggi untuk dilakukan pemeriksaan setelah mengidentifikasi permasalahan, mempertimbangkan pengendalian intern, risiko kecurangan yang mungkin terjadi, dan pengaruh peraturan yang berpengaruh terhadap kegiatan organisasi, program dan/atau fungsi pelayanan publik yang akan diperiksa.

C. Input yang Diperlukan

06 Input yang diperlukan untuk kegiatan ini dapat berupa antara lain:

Input yang

dibutuhkan dalam

kegiatan ini

(1)

hasil kegiatan pengidentifikasian masalah;

(2)

hasil telaahan pemeriksa tentang kualitas SPI entitas;

(3)

hasil diskusi dengan pimpinan/manajemen entitas atau komite audit entitas;

(4)

hasil diskusi dengan personil satuan kerja pengawas intern dan meninjau ulang laporan hasil pemeriksaan intern;

(5)

peraturan dan perundang-undangan yang secara signifikan berpengaruh terhadap entitas;

(6)

hasil olahan database entitas yang dikelola oleh BPK;

(7)

hasil kajian atau kumpulan informasi yang disediakan oleh unit nonpemeriksa BPK seperti pada dokumen kajian hukum terhadap suatu organisasi/program/fungsi pelayanan publik (Direktorat Binbangkum); hasil kumpulan pengaduan masyarakat (Biro Humas dan LN) dan/atau hasil kajian atau studi atau kajian pemeriksaan yang dibuat oleh Litbang BPK; dan

(8)

hasil kuesioner, wawancara, observasi, dan metodologi pengumpulan data lainnya yang digunakan oleh pemeriksa dalam mengumpulkan data dan informasi dalam tahap perencanaan pemeriksaan ini.

D. Petunjuk Pelaksanaan

07 Setelah kegiatan pengidentifikasian masalah, tahap selanjutnya dalam menentukan area kunci meliputi hal-hal sebagai berikut.

1. Mempertimbangkan Sistem Pengendalian Intern

08 Pemahaman atas sistem pengendalian intern berguna bagi pemeriksa untuk merencanakan pemeriksaan, menaksir risiko pemeriksaan, mengidentifikasi bukti pemeriksaan

Mempertimbangkan

SPI

Manfaat pemahaman

atas SPI

Petunjuk Pelaksanaan Pemeriksaan Kinerja

Bagian II

yang relevan, dan menilai kualitas sistem pengendalian yang ada pada entitas yang diperiksa untuk mendukung saran yang akan diberikan.

09 Sesuai dengan COSO, SPI terdiri atas lima komponen yang saling terkait, antara lain sebagai berikut:

(a)

Lingkungan pengendalian Lingkungan pengendalian adalah kondisi lingkungan organisasi yang menetapkan corak suatu organisasi dan mempengaruhi kesadaran akan pengendalian. Lingkungan pengendalian merupakan dasar untuk semua komponen pengendalian intern, meliputi integritas dan nilai etika, komitmen terhadap kompetensi, partisipasi dewan komisaris atau komite pemeriksaan, filosofi dan gaya operasi manajemen, struktur organisasi, pemberian wewenang dan tanggung jawab, serta kebijakan dan praktik sumber daya manusia.

(b)

Penaksiran risiko Proses penaksiran risiko meliputi identifikasi, analisis, dan pengelolaan risiko yang dihadapi oleh manajemen, yang dapat menghambat pencapaian tujuan organisasi. Dalam penentuan faktor pemilihan, penaksiran risiko termasuk ke dalam aktivitas identifikasi risiko manajemen.

(c)

Aktivitas pengendalian Aktivitas pengendalian adalah kebijakan dan prosedur yang membantu menjamin bahwa arahan manajemen dilaksanakan. Aktivitas pengendalian dapat meliputi reviu kinerja, pengolahan informasi, pengendalian fisik, serta pemisahan tugas.

(d)

Informasi dan komunikasi Informasi dan komunikasi adalah pengidentifikasian, penangkapan, dan pertukaran informasi yang memungkinkan setiap orang dapat melaksanakan tanggung jawab mereka. Sistem informasi menghasilkan laporan atas hal-hal yang terkait dengan operasional, keuangan, dan kepatuhan terhadap peraturan.

(e)

Pemantauan Seluruh sistem pengendalian organisasi harus dipantau untuk menilai kualitas sistem pengendalian tersebut. Kelemahan dalam sistem pengendalian harus dilaporkan kepada manajemen tingkat atas. Selain itu, harus dilakukan evaluasi yang independen atas SPI. Frekuensi dan lingkup evaluasi tergantung pada penaksiran risiko dan efektivitas prosedur pengawasan.

Lingkungan

pengendalian

Penaksiran risiko

Aktivitas pengendalian

Informasi dan

komunikasi

Pemantauan

Daftar pertanyaan yang dapat membantu pemeriksa untuk memahami SPI entitas berdasarkan pendekatan COSO ini dapat dilihat pada Lampiran 4.1.

Petunjuk Pelaksanaan Pemeriksaan Kinerja

Bagian II

10 Hasil revieu atas pelaksanaan pengendalian intern ini dapat membantu pemeriksa menentukan area kunci yang akan didalami pemeriksaannya dan membantu pemeriksa menetapkan tujuan pemeriksaan kinerja yang hendak dicapai.

Pembahasan mengenai risiko sehubungan dengan pengendalian intern ini dapat dilihat secara detail dalam petunjuk teknis tentang pemahaman dan penilaian atas sistem pengendalian intern.

2.

Mempertimbangkan Pengaruh undangan yang Signifikan

Peraturan

Perundang-

11 Pengaruh peraturan perundang-undangan yang relevan terhadap apa yang hendak diperiksa dalam pemeriksaan kinerja perlu diidentifikasi oleh pemeriksa dalam tahap perencanaan pemeriksaan. Hasil identifikasi tersebut akan berguna dalam penentuan kriteria pemeriksaan sehingga dapat dideteksi penyimpangan dari ketentuan perundang- undangan. Template kertas kerja untuk kegiatan ini dapat dilihat pada Lampiran 4.2.

3. Identifikasi Potensi Terjadinya Kecurangan

12 Berdasarkan data dan informasi yang diperoleh dari dua kegiatan di atas dan input dari tahap identifikasi masalah, pemeriksa berupaya untuk mengidentifikasi risiko terjadinya kecurangan yang mungkin mempengaruhi hasil pemeriksaan. Informasi yang diperoleh oleh pemeriksa kemudian diidentifikasi sehingga dapat dihasilkan suatu prosedur untuk meyakinkan bahwa kecurangan tersebut akan dapat dideteksi. Kertas kerja untuk kegiatan ini dapat dilihat pada Lampiran 4.3. Pada lampiran tersebut akan tampak bahwa identifikasi kecurangan dapat dilakukan berdasarkan hasil dari kegiatan- kegiatan sebelumnya.

13 Pelaksanaan mendetail dari pengaruh perundang-undangan yang signifikan dan penilaian risiko kecurangan ini tidak terlepas dari penilaian terhadap keseluruhan risiko pemeriksaan sehingga sangat disarankan untuk juga dilihat petunjuk teknis tentang penilaian dan analisis risiko.

4. Menetapkan Area Kunci

14 Setelah mengidentifikasi masalah, mempertimbangkan SPI, pengaruh peraturan perundang-undangan yang signifikan, dan potensi terjadinya kecurangan, kemudian pemeriksa dapat menentukan beberapa area kunci sebagai bahan usul pemeriksaan yang akan diajukan dalam Rencana Kerja Pemeriksaan (RKP).

15 Salah satu atau secara keseluruhan area-area kunci tersebut dapat dipilih untuk dapat menjadi obyek pemeriksaan, tergantung kesiapan tenaga, waktu, dan anggaran pemeriksaan. Untuk membantu pemeriksa dalam menentukan area kunci yang akan dipilih menjadi obyek pemeriksaan, pemeriksa dapat menggunakan faktor pemilihan dengan elemen sebagai berikut:

Petunjuk Pelaksanaan Pemeriksaan Kinerja

Bagian II

(1) risiko terhadap manajemen; (2) signifikansi suatu program; (3) dampak pemeriksaan; dan (4) auditabilitas. Area-area kunci yang telah ditentukan, kemudian diberi urutan prioritas (untuk dipilih atau tidak) berdasarkan hasil analisis dengan menggunakan faktor pemilihan. Selanjutnya, dengan mempertimbangkan sumber daya pemeriksaan yang ada, area kunci dipilih berdasarkan urutan prioritas yang telah ditetapkan.

E. Output

16 Output dari kegiatan penilaian terhadap area kunci ini adalah teridentifikasikannya area-area kunci yang menjadi fokus pemeriksaan. Berdasarkan data dan area kunci yang telah dipilih dan sumber daya pemeriksaan yang ada, satuan kerja (satker) pemeriksa dapat menyusun RKP.

F. Pendokumentasian

17 Seluruh pengkajian pemeriksa mengenai tahap penentuan area kunci di tingkat entitas harus didokumentasikan. Tim dapat mengembangkan suatu template yang membantu pendefinisian pengendalian internal dan risiko kecurangan di dalam suatu entitas dalam rangka penentuan area kunci yang terdokumentasi sebagai KKP. Contoh KKP kegiatan penentuan area kunci dapat dibaca pada Lampiran 4.1, 4.2, 4.3 dan 4.4.

Out put penentuan area kunci

Pengkajian pemeriksa dalam tahap ini harus didokumentasikan

Petunjuk Pelaksanaan Pemeriksaan Kinerja

Bagian II

BAB V PENENTUAN OBYEK, TUJUAN DAN LINGKUP PEMERIKSAAN

01 Bab ini menjelaskan tentang teknik atau tata cara pemeriksa dalam menetapkan obyek, tujuan, dan lingkup pemeriksaan yang berguna dalam merencanakan suatu pemeriksaan dan menentukan metodologi yang akan dipergunakan.

A. Dasar

PERENCANAAN

1 Pengidentifikasian Masalah

1 Pengidentifikasian Masalah

A. Dasar PERENCANAAN 1 Pengidentifikasian Masalah 2. Penentuan Area Kunci 3. Penentuan Obyek, Tujuan, dan

2. Penentuan Area Kunci

1 Pengidentifikasian Masalah 2. Penentuan Area Kunci 3. Penentuan Obyek, Tujuan, dan Lingkup Pemeriksaan Kinerja

3. Penentuan Obyek, Tujuan, dan Lingkup Pemeriksaan Kinerja

3. Penentuan Obyek, Tujuan, dan Lingkup Pemeriksaan Kinerja 4. Penetapan Kriteria 5. Penyusunan P2 dan PKP

4. Penetapan Kriteria

dan Lingkup Pemeriksaan Kinerja 4. Penetapan Kriteria 5. Penyusunan P2 dan PKP 02 Dasar kegiatan penentuan

5. Penyusunan P2 dan PKP

02

Dasar kegiatan penentuan obyek, tujuan, dan lingkup

Landasan kegiatan

penentuan tujuan

pemeriksaan ini antara lain adalah:

dan lingkup

1)

SPKN PSP 04 Paragraf 03;

pemeriksaan

2)

SPKN PSP 04 Paragraf 04;

3)

SPKN PSP 04 Paragraf 05.

B.

Tujuan

03

Tujuan pemeriksaan kinerja harus benar-benar dipertimbangkan dan dinyatakan secara jelas. Tujuan tersebut harus didefinisikan dengan jelas agar dapat mempermudah tim pemeriksa dalam mengambil kesimpulan pada akhir pemeriksaan. Apabila tujuan pemeriksaan telah ditetapkan secara tepat dan jelas, maka pekerjaan-pekerjaan pemeriksaan akan lebih terarah kepada kegiatan-kegiatan untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan yang muncul dalam tujuan pemeriksaan. Oleh karena itu, tujuan pemeriksaan kinerja harus bisa didefinisikan secara tepat, sehingga dapat dihindari pelaksanaan prosedur pemeriksaan yang tidak perlu. Tujuan penentuan tujuan dan lingkup pemeriksaan adalah:

Tujuan penentuan tujuan dan lingkup pemeriksaan

(1) membantu dalam mengidentifikasikan masalah-masalah yang akan diperiksa dan akan dilaporkan; (2) membantu dalam menyiapkan parameter atau ukuran pembatasan pemeriksaaan seperti periode yang akan diperiksa atau lokasi pemeriksaan lapangan yang akan dipilih; dan (3) mempermudah tim pemeriksa dalam mengambil kesimpulan pada akhir pemeriksaan.

C.

Input yang diperlukan.

04

Input yang diperlukan dalam kegiatan “Penentuan Obyek,

Input yang

Tujuan dan Lingkup Pemeriksaan” adalah sebagai berikut. (1) Output dari Kegiatan Pengidentifikasian Masalah. (2) Output dari Kegiatan Penentuan Area Kunci.

dibutuhkan

Petunjuk Pelaksanaan Pemeriksaan Kinerja

Bagian II

D. Petunjuk Pelaksanaan

05 Langkah-langkah yang diperlukan dalam menentukan obyek, tujuan dan lingkup pemeriksaan adalah sebagai berikut.

1. Menentukan Obyek Pemeriksaan

Langkah- langkah dalam menentukan tujuan dan lingkup pemeriksaan

06 Berdasarkan area kunci yang telah ditetapkan dan seluruh data relevan yang telah berhasil diperoleh pada tahap sebelumnya, pemeriksa menentukan program/kegiatan yang akan diperiksa (obyek pemeriksaan) atas area-area berisiko tinggi yang akan menjadi fokus audit.

2. Menentukan tujuan pemeriksaan.

07 Tujuan pemeriksaan terkait erat dengan alasan dilakukannya suatu pemeriksaan. Isi dari tujuan pemeriksaan harus bisa mengungkapkan apa yang ingin dicapai dari pemeriksaan tersebut. Tujuan pemeriksaan dapat dibagi menjadi tujuan umum dan tujuan khusus pemeriksaan. Tujuan umum merupakan tujuan pemeriksaan umum atas organisasi/program dan/atau fungsi pelayanan publik yang hendak diperiksa. Sedangkan tujuan khusus lebih mengarah kepada tujuan pemeriksaan pada masing-masing area kunci pemeriksaan. Sebagai ilustrasi bahwa dalam pemeriksaan kinerja terhadap fungsi pelayanan pembuatan KTP di provinsi DKI Jakarta, bisa saja tujuan pemeriksaan umumnya adalah ”Apakah setiap orang dewasa yang tinggal di DKI telah memiliki KTP?” Sedangkan tujuan pemeriksaan khususnya dapat berupa antara lain:

berapa lama waktu yang dibutuhkan dalam pembuatan KTP hingga dapat diterima oleh warga yang mengajukan aplikasi?

apakah ada pungutan yang harus dibayar warga dalam pembuatan KTP?

berapa persentase warga dewasa penduduk DKI yang memiliki KTP?

08 Dalam memformulasikan tujuan pemeriksaan tersebut, pemeriksa dapat membuat berbagai macam pertanyaan pemeriksaan terhadap organisasi/program/fungsi pelayanan publik yang hendak diperiksa. Pemeriksa hendaknya bersandar pada informasi yang telah diperolehnya dan juga pada keahlian dan pengalaman yang dimilikinya untuk menentukan tujuan pemeriksaan tersebut.

3. Menentukan lingkup pemeriksaan.

09 Yang dimaksudkan dengan lingkup di sini adalah:

(a) luas sasaran pemeriksaan yang akan dilakukan, dalam hal ini pemeriksa harus mempertimbangkan hal-hal penting yang diinginkan pemberi tugas dan harus mengacu kepada tujuan pemeriksaan. (b) permasalahan yang akan diperiksa, yaitu masalah kehematan, efisiensi, dan efektivitas; pemeriksa dapat menggunakan satu kriteria permasalahan, atau dua kriteria, atau ketiga-tiganya sesuai dengan

Petunjuk Pelaksanaan Pemeriksaan Kinerja

Bagian II

permasalahan yang ada di lapangan.

(c) waktu yang diperlukan dalam pemeriksaan dan besarnya sampel yang akan diambil.

10. Penentuan lingkup pemeriksaan harus terkait dengan tujuan pemeriksaan yang telah ditetapkan dan merupakan hal yang penting dalam proses perencanaan. Hal tersebut sangat mempengaruhi prosedur yang diperlukan selama pelaksanaan pemeriksaan, sumber daya yang dibutuhkan, dan masalah-masalah penting yang akan dilaporkan.

11. Peranan pertimbangan pemeriksa sangat penting dalam menyeleksi dan menentukan kegiatan/program yang akan diperiksa karena terdapat berbagai kegiatan atau program yang harus diperiksa. Langkah-langkah dalam penentuan lingkup audit adalah sebagai berikut:

(a)

Tentukan lingkup pemeriksaan atas dasar informasi yang didapat pada pemeriksaan sebelumnya dari proses perencanaan pemeriksaan. Keputusan mengenai penentuan lingkup pemeriksaan dapat berubah sesuai dengan perubahan informasi yang didapat. Oleh karena itu, lingkup pemeriksaan harus ditentukan secara jelas pada tahap awal perencanaan pemeriksaan sehingga kebutuhan terhadap sumber daya dan prosedur pemeriksaan yang tepat dapat ditentukan. Contoh: Dalam pemeriksaan tahun sebelumnya terhadap Dinas Kesehatan Kabupaten A, dilaporkan bahwa terdapat empat lokasi pembangunan Puskesmas yang tidak dimanfaatkan. Berdasarkan laporan tersebut, maka direncanakan pemeriksaan pada tahun berjalan untuk memperluas lokasi pemeriksaan fisik pembangunan Puskesmas tersebut.

(b)

Lakukan perubahan dalam lingkup pemeriksaan apabila informasi yang didapat dalam pelaksanaan pemeriksaan mengharuskan demikian. Hal ini terjadi jika informasi awal yang digunakan dalam menentukan lingkup pemeriksaan selama perencanaan awal kurang akurat dan kurang lengkap. Dalam kondisi demikian, pemeriksa harus membicarakannya dengan manajemen mengenai perubahan yang cukup signifikan dalam lingkup pemeriksaan yang terjadi setelah tahap perencanaan awal.

(c)

Apabila perintah (mandat) pemeriksaan kinerja menentukan lingkup pemeriksaan secara luas, lakukan pertimbangan profesional untuk merincinya secara lebih khusus (spesifik). Hal tersebut diperlukan untuk memudahkan pemeriksa dalam merancang prosedur pemeriksaan dalam rangka mencapai tujuan pemeriksaan. Sedangkan bila perintah pemeriksaan menentukan lingkup pemeriksaan secara spesifik, lakukan pertimbangan

Petunjuk Pelaksanaan Pemeriksaan Kinerja

Bagian II

profesional apakah lingkup tersebut tepat.

E. Output

12

Output dari kegiatan “Penentuan Tujuan dan Lingkup Pemeriksaan” adalah sebagai berikut.

Output penentuan tujuan dan lingkup pemeriksaan

1) Tujuan pemeriksaan yang meliputi tujuan umum (entitas) dan tujuan khusus (yang berkaitan dengan area kunci).

2)

Lingkup pemeriksaan meliputi:

 
 

(a)

Area kunci (Fungsi, kegiatan, unit organisasi, dll).

(b)

Periode waktu yang akan diperiksa.

(c)

Aspek kinerja yang diperiksa (3E, 2E, atau 1E).

F.

Pendokumentasian

 

13

Seluruh pengkajian pemeriksa mengenai tahap penentuan tujuan dan lingkup pemeriksaan di tingkat entitas harus didokumentasikan. Tim dapat mengembangkan suatu template yang membantu pendefinisian tujuan dan lingkup pemeriksaan. Secara keseluruhan pendokumentasian dapat dijadikan sebagai KKP. Contoh KKP kegiatan menentukan

Pengkajian pemeriksa dalam tahap ini harus didokumentasikan

tujuan dan lingkup pemeriksaan dapat dibaca pada Lampiran

5.1.

Petunjuk Pelaksanaan Pemeriksaan Kinerja

Bagian II

BAB VI PENETAPAN KRITERIA PEMERIKSAAN

01 Bab ini menjelaskan tentang teknik atau tata cara menetapkan kriteria pemeriksaan yang digunakan untuk menentukan apakah suatu entitas mencapai kinerja yang diharapkan

A. Dasar

PERENCANAAN

1 Pengidentifikasian Masalah

1 Pengidentifikasian Masalah

diharapkan A. Dasar PERENCANAAN 1 Pengidentifikasian Masalah 2. Penentuan Area Kunci 3. Penentuan Obyek, Tujuan dan

2. Penentuan Area Kunci

1 Pengidentifikasian Masalah 2. Penentuan Area Kunci 3. Penentuan Obyek, Tujuan dan Lingkup Pemeriksaan Kinerja

3. Penentuan Obyek, Tujuan dan Lingkup Pemeriksaan Kinerja

3. Penentuan Obyek, Tujuan dan Lingkup Pemeriksaan Kinerja 4. Penetapan Kriteria 5. Penyusunan P2 dan PKP

4. Penetapan Kriteria

Tujuan dan Lingkup Pemeriksaan Kinerja 4. Penetapan Kriteria 5. Penyusunan P2 dan PKP 02 Dasar kegiatan

5. Penyusunan P2 dan PKP

02 Dasar kegiatan penetapan kriteria pemeriksaan ini adalah SPKN PSP 04 Paragraf 27.

03 Kriteria adalah standar-standar kinerja yang masuk akal dan bisa dicapai untuk menilai keekonomisan, efisiensi dan efektivitas dari kegiatan yang dilaksanakan oleh entitas yang diperiksa. Kriteria merefleksikan suatu model pengendalian yang bersifat normatif mengenai hal-hal yang sedang direviu. Kriteria merepresentasikan praktek-praktek yang baik, yaitu suatu harapan yang masuk akal mengenai "apa yang seharusnya".

04 Apabila kriteria dibandingkan dengan kejadian yang sebenarnya, maka akan timbul temuan pemeriksaan. Dalam hal kejadian yang sebenarnya ternyata sama atau melebihi kriteria, maka hal ini mengidentifikasikan adanya "best practice". Sebaliknya, apabila kejadian yang sebenarnya ternyata tidak bisa memenuhi kriteria, maka hal ini mengidentifikasikan bahwa suatu tindakan perbaikan harus dilakukan.

B.

Tujuan

05

Kriteria diperlukan sebagai dasar pembanding apakah praktek- praktek yang dilaksanakan telah mencapai standar kinerja yang seharusnya.

Tujuan Penetapan Kriteria Pemeriksaan adalah untuk:

(1) memberikan dasar yang baik sebagai alat komunikasi dalam tim pemeriksaan dan dengan manajemen pemeriksa mengenai sifat pemeriksaan; (2) memberikan dasar yang baik sebagai alat komunikasi dengan entitas yang diperiksa; (3) menghubungkan tujuan pemeriksaan dengan program pemeriksaan yang dilaksanakan selama tahap pelaksanaan pemeriksaan; (4) memberikan dasar pada tahap pengumpulan data dan penyusunan prosedur pemeriksaan; dan (5) memberikan dasar dalam menyusun temuan pemeriksaan.

C.

Input yang Diperlukan

06 Input yang dapat digunakan untuk menentukan kriteria antara

Pengertian kriteria

Timbulnya temuan

pemeriksaan

Tujuan penentuan

kriteria

Input yang

Petunjuk Pelaksanaan Pemeriksaan Kinerja

Bagian II

 

lain adalah sebagai berikut.

dibutuhkan dalam

kegiatan ini

1) Output dari Kegiatan Menentukan Tujuan dan Lingkup Pemeriksaan, antara lain:

 

(a)

gambaran umum dari kegiatan/program dari entitas yang diperiksa yang antara lain meliputi input, proses,

 

output, dan outcome;

 

(b)

hasil reviu peraturan perundang-undangan yang meliputi kewenangan, maksud dan tujuan, dan struktur organisasi; dan

(c)

informasi mengenai faktor-faktor yang mempengaruhi

 

kinerja entitas. 2) Standar atau norma yang dikembangkan sendiri secara teknis oleh entitas. 3) Pendapat ahli dan organisasi profesional dan institusi penentu standar (lembaga pembuat standar). 4) Kriteria yang telah digunakan pada pemeriksaan sejenis sebelumnya.

 

5)

Kriteria yang digunakan oleh institusi pemeriksa lain.

6)

Kinerja tahun-tahun sebelumnya.

7) Dokumen perencanaan awal seperti studi kelayakan dan

8)

rencana yang telah disetujui. Anggaran entitas yang diperiksa.

9)

Kinerja entitas lain yang sejenis.

07

Informasi tentang kriteria tersebut di atas dapat diperoleh

1)

Sumber perolehan

informasi kriteria

melalui:

2)

tenaga ahli; laporan pemeriksaan periode sebelumnya;

3)

laporan kinerja entitas periode sebelumnya.;

4)

dokumen anggaran, seperti RKAP;

5)

laporan kinerja dari entitas lain yang sejenis.;

6) laporan hasil studi kelayakan dan rencana yang telah disetujui;

7)

jurnal ilmiah, internet, buku teks; dan

8) hasil kuesioner, wawancara, observasi, dan metodologi pengumpulan data lainnya dengan entitas yang akan diperiksa.

D. Petunjuk Pelaksanaan

08

Langkah-langkah yang harus ditempuh dalam menentukan

Langkah-langkah

kriteria dapat dirinci sebagai berikut.

penentuan kriteria

1)

Teliti apakah entitas telah memiliki kriteria sesuai dengan tujuan pemeriksaan kinerja.

2)

Bila ada, tentukan apakah kriteria tersebut telah memenuhi karakteristik yang baik sebagai berikut.

(a)

Dapat dipercaya (reliable); artinya bahwa apabila kriteria tersebut digunakan oleh pemeriksa lain untuk masalah yang sama, maka kriteria tersebut harus bisa memberikan kesimpulan yang sama.

(b)

Obyektif (objective); artinya kriteria bebas dari bias baik oleh pemeriksa maupun entitas.

(c)

Bermanfaat (usefulness); artinya kriteria yang dapat

Petunjuk Pelaksanaan Pemeriksaan Kinerja

Bagian II

menimbulkan temuan dan kesimpulan pemeriksaan yang memenuhi keinginan para pengguna informasi.

 

(d)

Bisa dimengerti (understandability); artinya kriteria yang ditetapkan secara jelas dan bebas dari perbedaan interpretasi.

(e)

Bisa diperbandingkan (comparability); artinya bahwa kriteria tersebut bersifat konsisten apabila digunakan dalam pemeriksaan kinerja atas entitas-entitas atau aktivitas-aktivitas yang serupa atau apabila digunakan dalam pemeriksaan kinerja sebelumnya atas entitas yang sama.

(f)

Lengkap (completeness); kriteria yang lengkap mengacu kepada penggunaan seluruh kriteria yang signifikan dalam menilai kinerja.

(g)

Bisa diterima (acceptability); kriteria yang bisa diterima adalah kriteria yang bisa diterima oleh entitas yang diperiksa, DPR-RI/DPRD, media, dan masyarakat umum. Semakin tinggi tingkat keberterimaan tersebut, semakin efektif pemeriksaan kinerja yang dilaksanakan.

3)

Bila tidak ada atau bila ada, tetapi tidak memenuhi karakteristik kriteria yang baik, maka pemeriksa harus mengembangkan kriteria sendiri dengan langkah-langkah sebagai berikut.

(a)

Dapatkan dan pelajari sumber-sumber kriteria dalam rangka pengidentifikasian kriteria yang relevan dan memadai.

(b)

Lakukan studi atau observasi atas operasional entitas. Misalnya, dengan melakukan analisis tren kinerja tahun-tahun sebelumnya dan melakukan perbandingan kinerja entitas yang diperiksa dengan organisasi lain yang mirip (jenis organisasi maupun ukurannya) atau disebut benchmarking.

(c)

Bicarakan hasil pengembangan kriteria tersebut dengan pihak berwenang dari entitas yang diperiksa untuk memperoleh kesepakatan.

(d)

Jika tidak tercapai kesepakatan antara pemeriksa dan entitas yang diperiksa mengenai kriteria yang telah dikembangkan, maka pemeriksa tetap menggunakan kriteria yang dikembangkan dan ketidaksepakatan dari entitas yang diperiksa dituangkan dalam kertas kerja kegiatan ini.

4)

Dalam rangka mengembangkan kriteria sendiri, pemeriksa juga dapat melakukan beberapa pendekatan berikut:

(a)

pemeriksa memvisualisasikan beberapa segmen kegiatan menjadi suatu tugas; setiap penugasan umumnya melalui beberapa tahap, seperti studi kelayakan, perencanaan, pembiayaan, pelaksanaan, operasi, dan evaluasi;

(b)

pemeriksa mencari kriteria dengan mempelajari

Langkah-langkah bila kriteria yang baik tidak tersedia

Petunjuk Pelaksanaan Pemeriksaan Kinerja

Bagian II

kebijakan dan prosedur organisasi; contoh: dalam mengaudit rumah sakit, waktu tunggu pasien dalam memperoleh tempat tidur sebelum operasi besar dapat dijadikan kriteria untuk mengukur efisiensi.

(c)

jika prosedur tidak dapat dijadikan dasar, pemeriksa harus mencari dan mengadaptasikan prosedur organisasi sejenis untuk dijadikan kriteria;

(d)

pemeriksa dapat menggunakan kriteria atas ekspektasi pengguna layanan. Hal ini dapat dilakukan dengan menggunakan kuesioner. Kuesioner ini menanyakan responden mengenai tingkat ekspektasi kinerja entitas yang diperiksa. Contoh: Pada pemeriksaan rumah sakit, pemeriksa menemukan waktu tunggu pasien sebelum dirawat. Pemeriksa dapat mewawancarai pasien dan menemukan batas waktu tunggu yang layak menurut ekspektasi pasien, pemeriksa kemudian mendiskusikan ekspektasi ini dengan manajemen rumah sakit dan kemudian manajemen setuju atas waktu tunggu yang disepakati.

(e)

jika dipandang perlu, pemeriksa dapat menggunakan jasa tenaga ahli dalam penentuan kriteria dalam suatu pemeriksaan kinerja.

5) Komunikasikan kriteria yang akan dipakai kepada entitas sebelum pemeriksaan dilaksanakan untuk mendapatkan kesepakatan bersama (auditor dan manajemen entitas) mengenai dasar pengukuran kinerja yang digunakan dalam pemeriksaan atas obyek yang diperiksa.

E.

Output

09

Output yang dihasilkan dari kegiatan ”Menentukan Kriteria Pemeriksaan” adalah kesimpulan mengenai standar yang akan digunakan sebagai pembanding terhadap praktek-praktek yang berjalan meliputi:

1)

kelompok kriteria (ekonomi, efisiensi, efektivitas).

2)

jenis kriteria (rincian kriteria yang terdapat dalam masing

3)

masing kelompok). penjelasan (deskripsi ringkas setiap jenis kriteria)

4)

satuan pengukuran (misalkan kilometer/jam, orang/hari)

5)

sumber data (deskripsi tentang dari mana data diperoleh)

6)

standar

ukuran kinerja (menjelaskan standar yang

7)

digunakan dan artinya). tanggapan entitas (sepakat atau tidak sepakat).

F.

Pendokumentasian

 

10 Seluruh pengkajian pemeriksa mengenai tahap penetapan kriteria pemeriksaan di tingkat entitas harus didokumentasikan. Tim dapat mengembangkan suatu template yang membantu pendefinisian penetapan kriteria pemeriksaan. Secara keseluruhan pendokumentasian dapat dijadikan sebagai KKP. Contoh KKP kegiatan menetapkan kriteria pemeriksaan dapat dilihat pada Lampiran 6.1. dan Lampiran 6.2.

Output penentuan

kriteria

Pengkajian pemeriksa dalam tahap ini harus didokumentasikan

Petunjuk Pelaksanaan Pemeriksaan Kinerja

Bagian II

BAB VII PENYUSUNAN PROGRAM PEMERIKSAAN DAN PROGRAM KERJA PERORANGAN

01

Bab ini menjelaskan tentang cara penyusunan program pemeriksaan secara baik, serta menjelaskan bentuk dan isi Program Pemeriksaan (P2) serta penyusunan Program Kerja Perorangan (PKP).

PERENCANAAN

1 Pengidentifikasian Masalah

1 Pengidentifikasian Masalah

Perorangan (PKP). PERENCANAAN 1 Pengidentifikasian Masalah 2. Penentuan Area Kunci 3. Penentuan Obyek, Tujuan dan

2. Penentuan Area Kunci

1 Pengidentifikasian Masalah 2. Penentuan Area Kunci 3. Penentuan Obyek, Tujuan dan Lingkup Pemeriksaan Kinerja

3. Penentuan Obyek, Tujuan dan Lingkup Pemeriksaan Kinerja

3. Penentuan Obyek, Tujuan dan Lingkup Pemeriksaan Kinerja 4. Penetapan Kriteria 5. Penyusunan P2 dan PKP

4. Penetapan Kriteria

dan Lingkup Pemeriksaan Kinerja 4. Penetapan Kriteria 5. Penyusunan P2 dan PKP A. Dasar 02 Dasar

5. Penyusunan P2 dan PKP

A. Dasar

02

Dasar kegiatan penyusunan P2 dan PKP ini adalah SPKN PSP

04 Paragraf 41 s.d. Paragraf 43

B. Tujuan

03

Tujuan

utama

penyusunan

Program

Pemeriksaan 1

(P2)

adalah:

Landasan

pelaksanaan

persiapan P2

Tujuan

penyusunan P2

1) menetapkan hubungan yang jelas antara tujuan pemeriksaan, metodologi pemeriksaan, dan kemungkinan-

kemungkinan pekerjaan lapangan yang harus dikerjakan; 2) mengidentifikasikan dan mendokumentasikan prosedur- prosedur pemeriksaan yang harus dilaksanakan; dan

3)

Suatu program pemeriksaan dapat disebut memadai jika mampu mengidentifikasi aspek-aspek penting pemeriksaan; disusun berdasarkan informasi pendukung yang jelas dan cermat; memberikan panduan dalam melaksanakan pengujian secara efektif; membantu dalam pengumpulan bukti yang cukup, dapat diandalkan, dan relevan untuk mendukung opini/pernyataan pendapat atau kesimpulan pemeriksaan; dan mencapai tujuan pemeriksaan. Kualitas bukti pemeriksaan juga sangat tergantung kepada program pemeriksaannya. Program pemeriksaan yang efektif akan sangat membantu dalam mendapatkan bukti pemeriksaan yang memadai untuk mendukung temuan pemeriksaan. Bukti pemeriksaan mempunyai peran yang sangat penting terhadap keberhasilan pelaksanaan pemeriksaan dan oleh karenanya harus mendapat perhatian pemeriksa sejak tahap perencanaan pemeriksaan sampai dengan akhir proses pemeriksaan.

memudahkan supervisi dan reviu.

Syarat P2 yang memadai

C.

Input yang Diperlukan

04 Input yang diperlukan dalam kegiatan “Penyusunan Program Pemeriksaan dan Program Kerja Perorangan” adalah:

Input dari kegiatan penyusunan P2

1) output dari masing-masing tahap perencanaan pemeriksaan;

1 Program Pemeriksaan berisi tujuan pemeriksaan dan prosedur pemeriksaan untuk mencapai tujuan pemeriksaan.

Petunjuk Pelaksanaan Pemeriksaan Kinerja

Bagian II

2)

Rencana Kerja Pemeriksaan (RKP);

3)

Standar Pemeriksaan Keuangan Negara (SPKN);

4)

Panduan Manajemen Pemeriksaan (PMP); dan

5)

pengarahan khusus pimpinan.

D. Petunjuk Pelaksanaan

05 Setelah seluruh prosedur/langkah dalam perencanaan pemeriksaan diikuti, maka hasil/output dari masing-masing langkah dituangkan ke dalam suatu program pemeriksaan. Program pemeriksaan tersebut kemudian akan menjadi pedoman pemeriksa dalam menjalankan penugasan pemeriksaan kinerja.

Langkah-langkah

penyusunan P2

Di dalam program pemeriksaan tersebut dituangkan hal-hal sebagai berikut.

1)

Dasar pemeriksaan. Pemeriksa memasukkan ketentuan perundang-undangan yang menjadi mandat bagi BPK dalam melaksanakan pemeriksaan.

2)

Standar pemeriksaan. Diisi dengan standar pemeriksaan yang akan digunakan dalam melaksanakan pemeriksaan. BPK telah menetapkan Standar Pemeriksaan Keuangan (SPKN) sebagai pedoman dalam melaksanakan pemeriksaan atas keuangan negara.

3) Organisasi/Program/Fungsi Pelayanan Publik yang diperiksa. Diisi dengan entitas yang akan diperiksa, pengertian entitas di sini dapat berupa organisasi/program/fungsi pelayanan publik yang kinerjanya akan diperiksa.

4)

Tahun anggaran yang diperiksa. Bagian dari penjabaran lingkup pemeriksaan yang akan memasukkan periode/tahun anggaran yang akan diperiksa. Secara umum, periode yang dipilih adalah hanya untuk satu periode tahun anggaran. Namun demikian, dimungkinkan juga untuk pelaksanaan pemeriksaan atas periode yang lebih dari satu tahun jika pada pemeriksaan atas keseluruhan pelaksanaan program yang memakan waktu lebih dari satu tahun.

5)

Identitas dan data umum yang diperiksa. Data umum dari organisasi/program/fungsi pelayanan publik yang akan diperiksa yang didapat selama proses pemahaman atas entitas.

6)

Alasan pemeriksaan. Diisi dengan alasan pemeriksaan yang bisa berasal dari hasil analisis perolehan data dan informasi awal maupun yang berasal output penentuan area kunci yang akan diperiksa.

Petunjuk Pelaksanaan Pemeriksaan Kinerja

Bagian II

7)

Jenis pemeriksaan. Diisi dengan Pemeriksaan Kinerja.

8)

Tujuan Pemeriksaan. Tujuan pemeriksaan umum yang didapat atau ditentukan selama pelaksanaan proses Penentuan Tujuan dan Lingkup Pemeriksaan.

9)

Sasaran Pemeriksaan. Tujuan pemeriksaan secara rinci (area kunci) yang menjabarkan apa yang telah ditentukan dalam tujuan pemeriksaan umum.

10) Metodologi pemeriksaan. Diisi dengan metodologi atau cara serta pendekatan pemeriksaan yang akan ditempuh dalam menjalankan penugasan pemeriksaan kinerja.

11) Kriteria pemeriksaan

dengan

dalam pemeriksaan.

Diisi

kriteria

pemeriksaan

yang

akan

dipakai

12) Langkah atau prosedur pemeriksaan. Langkah atau prosedur pemeriksaan yang dibuat dengan tujuan memberikan petunjuk kepada para pemeriksa agar dapat mencapai tujuan pemeriksaan yang telah ditetapkan. Langkah atau prosedur pemeriksaan sebaiknya dibuat menurut sasaran pemeriksaan (area kunci) yang telah ditetapkan agar nantinya secara keseluruhan hasil pemeriksaan dapat menjawab atau mencapai tujuan pemeriksaan.

Berdasarkan program pemeriksaan yang ditetapkan oleh Tortama/Kalan, ketua tim pemeriksa membuat pembagian tugas dan anggota tim menyusun program kerja perorangan dan disampaikan kepada ketua tim untuk mendapatkan persetujuan.

E. Output

06 Output atas hasil kegiatan “Penyusunan P2 dan PKP” adalah berupa program pemeriksaan yang memuat:

1)

dasar pemeriksaan;

2)

standar pemeriksaan;

Output kegiatan

penyusunan P2

3) organisasi/program/fungsi pelayanan publik yang

4)

diperiksa; tahun anggaran yang diperiksa;

5)

identitas dan data umum yang diperiksa;

6)

alasan pemeriksaan;

7)

jenis pemeriksaan;

8)

tujuan pemeriksaan;

9)

sasaran pemeriksaan;

10) metodologi pemeriksaan; 11) kriteria pemeriksaan;

Petunjuk Pelaksanaan Pemeriksaan Kinerja

Bagian II

12) langkah atau prosedur pemeriksaan; dan 13) Program Kerja Perorangan

F. Pendokumentasian

07 Seluruh kajian pemeriksa mengenai tahap penyusunan program pemeriksaan di tingkat entitas harus didokumentasikan. Pendokumentasian program pemeriksaan berupa P2 dan PKP, dan disimpan sebagai KKP indeks A.

Pengkajian pemeriksa dalam tahap ini harus didokumentasikan

Petunjuk Pelaksanaan Pemeriksaan Kinerja

Bagian III

BAGIAN III PELAKSANAAN PEMERIKSAAN

01 Bagian ini mencoba memberikan pedoman kepada pemeriksa dalam melaksanakan tahapan pelaksanaan pemeriksaan. Penyajian bagian ini adalah sebagai berikut.

Bab VIII membahas tentang pengujian data pemeriksaan.

Bab IX membahas tentang penyusunan konsep temuan pemeriksaan yang meliputi pembahasan tentang isi dari temuan pemeriksaan, penyampaian, dan perolehan tanggapan hingga penyampaian temuan pemeriksaan.

A. Tujuan

02 Tahap pelaksanaan pemeriksaan adalah tahap kegiatan pemeriksaan yang dilakukan di tempat kedudukan entitas yang diperiksa, yang merupakan kegiatan lanjutan dari kegiatan pemeriksaan pendahuluan dan meliputi pengumpulan bukti-bukti pemeriksaan. Pada tahap ini akan diuji apakah bukti-bukti tersebut telah lengkap dan tepat, selanjutnya ditentukan apakah bukti telah cukup untuk menilai kinerja suatu entitas dengan membandingkannya dengan kriteria.

03 Pemeriksaan merupakan kegiatan yang dilakukan di tempat kedudukan entitas yang diperiksa yang bertujuan untuk mendapatkan bukti yang cukup, kompeten, dan relevan yang memungkinkan pemeriksa untuk:

(1) menilai apakah kinerja entitas yang diperiksa sesuai dengan kriteria atau tidak; (2) menyimpulkan apakah tujuan-tujuan pemeriksaan tercapai atau tidak;

untuk

(3) mengidentifikasikan kemungkinan-kemungkinan memperbaiki kinerja entitas yang diperiksa; dan (4) mendukung rekomendasi-rekomendasi pemeriksaan.

B. Kegiatan Pemeriksaan

04 Kegiatan dalam pemeriksaan meliputi: pengumpulan bukti, pengujian bukti, pengujian atas kepatuhan terhadap perundang- undangan dan kualitas pelaksaaan pengendalian intern, penyusunan dan penyampaian konsep temuan pemeriksaan, perolehan tanggapan resmi dan tertulis atas konsep temuan pemeriksaan, dan penyampaian temuan pemeriksaan.

Tujuan kegiatan

pelaksanaan

pemeriksaan

Kegiatan dalam

pemeriksaan

terinci

05 Petunjuk Pelaksanaan Pemeriksaan Kinerja pada tahap pelaksnaan terdiri atas 4 (empat) tahap, yaitu:

(1) Perolehan dan pengujian data untuk mencapai tujuan pemeriksaan; (2) Penyusunan dan penyampaian konsep temuan pemeriksaan; (3) Perolehan tanggapan resmi dan tertulis atas konsep temuan pemeriksaan; dan (4) Penyampaian temuan pemeriksaan.

Petunjuk Pelaksanaan Pemeriksaan Kinerja

Bagian III

BAB VIII PENGUJIAN DATA

01 Bab ini akan menjelaskan tentang metode dan teknik dalam mengumpulkan dan menganalisis bukti pemeriksaan, kemudian melakukan pengujian atas bukti tersebut, sehingga dapat dipergunakan sebagai data pendukung hasil pemeriksaan yang andal dan akurat.

A. Dasar

02 Dasar kegiatan pengumpulan dan pengujian data adalah:

1)

Pasal 10 UU Nomor 15 Tahun 2004, tentang Pemeriksaan

2)

Pengelolaan dan Tanggung Jawab Keuangan Negara. SPKN PSP 04 paragraf 48 s.d. paragraf 63.

B. Tujuan

03 Tujuan dari tahap ini adalah memperoleh bukti pemeriksaan sebagai pendukung temuan pemeriksaan. Tujuan pengujian data dimaksudkan untuk menentukan atau memilih bukti-bukti pemeriksaan yang penting dan perlu (dari bukti-bukti pemeriksaan yang ada) sebagai bahan penyusunan suatu temuan dan kesimpulan pemeriksaan. Selain itu, berdasarkan bukti-bukti yang sudah diuji, pemeriksa dapat:

(1) mengembangkan hasil pengujian untuk menilai apakah kinerja entitas yang diperiksa telah sesuai dengan kriteria atau tidak; (2) mengumpulkan hasil pengujian dan membandingkannya dengan tujuan pemeriksaan tersebut; (3) mengidentifikasikan kemungkinan-kemungkinan untuk memperbaiki kinerja entitas tersebut; dan (4) memanfaatkan hasil pengujian untuk mendukung rekomendasi dan kesimpulan pemeriksaan.

C. Input yang Diperlukan

04 Input yang diperlukan dalam kegiatan “Pengumpulan dan Pengujian Data” adalah sebagai berikut. (1) Program Kerja; (2) Data Pemeriksaan; dan (3) Kriteria Pemeriksaan.

D. Petunjuk Pelaksanaan

05 Petunjuk pelaksanaan dalam bab ini terdiri dari kegiatan-kegiatan di bawah ini:

1. Pengumpulan Data Pemeriksaan Berdasarkan jenis dan sumber bukti yang telah diidentifikasi serta program pemeriksaan yang telah ditetapkan, maka pemeriksa melakukan pengumpulan data. Setelah itu, data diuji untuk memastikan tercapainya tujuan pemeriksaan. Data pemeriksaan inilah yang nantinya akan menjadi bukti

PELAKSANAAN

6. Pengujian

Data

nantinya akan menjadi bukti PELAKSANAAN 6. Pengujian Data 7. Penyusunan Temuan Pemeriksaan 8. Perolehan Tanggapan

7. Penyusunan Temuan

Pemeriksaan

6. Pengujian Data 7. Penyusunan Temuan Pemeriksaan 8. Perolehan Tanggapan Resmi dari Entitas 9. Penyampaian

8. Perolehan Tanggapan Resmi dari Entitas

Pemeriksaan 8. Perolehan Tanggapan Resmi dari Entitas 9. Penyampaian Temuan Pemeriksaan Kepada Entitas Tujuan

9. Penyampaian Temuan Pemeriksaan Kepada Entitas

Tujuan pengujian

data untuk

mendukung

temuan

pemeriksaan.

Input yang

dibutuhkan dalam

kegiatan ini

Langkah-langkah

dalam

pengumpulan dan

pengujian data

Petunjuk Pelaksanaan Pemeriksaan Kinerja

Bagian III

pemeriksaan yang akan mendukung temuan pemeriksaan. Agar dapat menjadi bukti pemeriksaan yang andal terdapat beberapa hal yang perlu diperhatikan oleh pemeriksa.

a) Sumber data Pemeriksa perlu mendapatkan data pemeriksaan berdasarkan identifikasi jenis dan sumber bukti pemeriksaan yang telah ditetapkan. Namun demikian, berdasarkan kondisi yang terjadi di lapangan, pemeriksa juga dapat memperoleh data di luar yang telah direncanakan sepanjang pada akhirnya data tersebut valid dan andal dalam mendukung hasil pemeriksaan.

b) Cara perolehan data Dalam mengumpulkan data pemeriksaan, pemeriksa dapat menggunakan teknik-teknik seperti (1) reviu dokumen, (2) wawancara/permintaan keterangan, (3) kuesioner, dan (4) observasi fisik.

c) Validitas dan reliabilitas data Data-data pemeriksaan yang diperoleh pemeriksa harus dapat diyakini validitas dan keandalan datanya agar bisa disebut sebagai bukti yang kompeten. PSP 04 paragraf 54 memberikan beberapa contoh acuan untuk menilai kompetensi dari suatu data. Validitas dan keandalan data juga dapat ditentukan dengan pengujian langsung terhadap data.

2. Pengujian Data

Langkah-langkah yang diperlukan dalam kegiatan pengujian bukti pemeriksaan adalah sebagai berikut.

a) Dalam menguji bukti pemeriksaan, pemeriksa dapat menggunakan teknik-teknik pengujian, antara lain wawancara 2 ; inspeksi; konfirmasi; reviu analitis (rasio, tren, pola); sampling; bagan arus, dan analisis (analisis regresi, simulasi dan modelling, analisis muatan data kualitatif).

b) Dalam menentukan penggunaan suatu teknik pengujian bukti, maka pemeriksa perlu mempertimbangkan faktor- faktor sebagai berikut:

(1) jenis dan sumber bukti yang diuji; dan (2) waktu dan biaya yang diperlukan untuk menguji bukti.

c) Pemeriksa membandingkan hasil pengujian bukti-bukti pemeriksaan dengan kriteria pemeriksaan.

d) Jika terdapat perbedaan yang signifikan antara kondisi dan kriteria, maka pemeriksa perlu mengidentifikasi sebab dan akibat dari perbedaan tersebut.

e) Dalam mengidentifikasi sebab akibat, maka pemeriksa bisa menggunakan model analisis sebab-akibat sebagai alat analisis.

2 Wawancara dalam hal ini lebih ditekankan untuk menguji konsistensi informasi yang diperoleh sebelumnya.

Petunjuk Pelaksanaan Pemeriksaan Kinerja

Bagian III

Kemudian data-data pemeriksaan keuangan kinerja yang diperoleh selama pemeriksaan kinerja diuji untuk bisa meyakinkan apakah suatu organisasi/program/ fungsi pelayanan publik mempunyai pengendalian yang baik atau tidak; apakah suatu entitas mematuhi ketentuan perundang- undangan; atau apakah terdapat dugaan kecurangan di dalam entitas yang diperiksa.

E. Output

06 Output yang dihasilkan dari kegiatan “Pengujian Data” adalah:

1)

Kesimpulan hasil pengujian bukti; dan

2)

Unsur-unsur temuan dan usul rekomendasi.

F. Pendokumentasian.

07 Kegiatan pada tahap “Pengujian terhadap Tujuan Pemeriksaan” ini didokumentasikan dalam Kertas Kerja Pemeriksaan (KKP). Contoh KKP kegiatan pengujian data dapat dilihat dalam Lampiran 8.1.

Output dari

kegiatan

pengumpulan dan

pengujian data

Pengkajian pemeriksa dalam tahap ini harus didokumentasikan

Petunjuk Pelaksanaan Pemeriksaan Kinerja

Bagian III

BAB IX PENYUSUNAN TEMUAN PEMERIKSAAN

01 Bab ini menjelaskan tentang penyusunan konsep temuan pemeriksaan (TP) sebagai hasil dari pelaksanaan pemeriksaan kinerja jika ditemukan hal-hal yang tidak sesuai dengan kriteria. Penjelasan dalam bab ini meliputi proses penyusunan konsep TP, penerimaan tanggapan resmi dan tertulis dari entitas yang diperiksa, dan penyampaian TP.

A. Dasar

02 Dasar kegiatan openyusunan temuan pemeriksaan adalah:

1) Pasal 16 UU No.15 Tahun 2004 tentang Pemeriksaan Pengelolaan dan Tanggung Jawab Keuangan Negara;

2)

SPKN PSP 04 paragraf 64 – 67; dan

3)

SPKN PSP 05 paragraf 13-16.

B. Tujuan

03 Tujuan dari kegiatan Penyusunan Temuan Pemeriksaan adalah:

PELAKSANAAN

6. Pengujian Data

7. Penyusunan

B.

C.

Temuan

Pemeriksaan

8. Perolehan

Tanggapan Resmi

dari Entitas

9. Penyampaian

 

Temuan

Pemeriksaan

1)

memberikan informasi kepada entitas yang diperiksa dan atau

2)

pihak lain yang berkepentingan, tentang fakta dan informasi yang akurat dan berhubungan dengan permasalahan yang diperoleh dari kegiatan pemeriksaan; TP tersebut belum dilengkapi dengan saran. menjawab tujuan pemeriksaan dengan cara memaparkan hasil

studi/pemeriksaan yang dilakukan pemeriksa dalam mencapai tujuan pemeriksaan kinerja. 3) menyajikan kelemahan pengendalian intern yang signifikan, kecurangan, dan penyimpangan dari ketentuan perundang- undangan yang terjadi pada entitas yang diperiksa.

C. Input yang Diperlukan

04 Input yang digunakan dalam kegiatan “Penyusunan Temuan Pemeriksaan” adalah:

1)

tujuan pemeriksaan;

2)

kriteria yang telah ditetapkan;

3)

bukti pemeriksaan; dan

4)

kesimpulan hasil pengujian bukti.

D. Petunjuk Pelaksanaan

05 Dalam menyusun suatu temuan pemeriksaan kinerja, hal yang sangat utama untuk diperhatikan adalah apakah temuan pemeriksaan yang dibuat oleh pemeriksa merupakan jawaban atas pertanyaan/dugaan/hipotesis yang telah dituangkan dalam suatu tujuan pemeriksaan yang telah ditetapkan. Suatu temuan pemeriksaan seharusnya merupakan kesimpulan hasil pengujian atas bukti pemeriksaan yang diperoleh pemeriksa dalam usahanya untuk mencapai tujuan pemeriksaan yang telah ditetapkan sebelumnya. Bila suatu tujuan pemeriksaan tidak terpenuhi,

Perlu diperhatikan

apakah TP

merupakan

jawaban atas

hipotesa

Petunjuk Pelaksanaan Pemeriksaan Kinerja

Bagian III

disebabkan unsur-unsurnya (temuan pemeriksaan) tidak menggambarkan apa yang seharusnya hendak dicapai dalam suatu pelaksanaan pemeriksaan kinerja maka dapat dikatakan pelaksanaan pemeriksaan tersebut gagal untuk dilaksanakan dengan baik.

06 Ada beberapa butir yang perlu diperhatikan oleh pemeriksa dalam menyusun suatu temuan pemeriksaan kinerja, 1) Temuan pemeriksaan kinerja harus dapat menjawab tujuan pemeriksaan yang telah ditetapkan; 2) Secara umum, unsur temuan pemeriksaan terbagi atas, kondisi, kriteria, akibat, dan sebab. Namun demikian, di dalam penyusunan temuan pemeriksaan kinerja, unsur yang dibutuhkan tergantung tujuan yang ingin dicapai sehingga dapat saja unsur ‘sebab’ dapat menjadi suatu unsur yang optional. Contoh: jika tujuan pemeriksaan yang ditetapkan adalah menentukan kepatuhan terhadap peraturan perundang- undangan atau memperkirakan pengaruh suatu program terhadap perubahan fisik, sosial, atau ekonomi suatu masyarakat, maka unsur sebab akan menjadi kurang/tidak relevan untuk disajikan; 3) Suatu temuan pemeriksaan harus didukung oleh bukti pemeriksaan yang cukup, kompeten, dan relevan; 4) Temuan pemeriksaan sedapat mungkin disajikan dalam suatu urutan yang logis, akurat, dan lengkap, dan 5) Suatu temuan pemeriksaan merupakan hasil proses analisis pemeriksaan tim pemeriksa di lapangan. Pembahasan atas temuan pemeriksaan ini dilakukan kemudian pada akhir tahap pelaksanaan pemeriksaan. Sangat dimungkinkan pada saat pembahasan ini, entitas yang diperiksa berjanji memberikan bukti-bukti baru yang belum dapat diberikan pada saat pembahasan TP dan mungkin bukti baru tersebut dapat mengubah esensi dari temuan pemeriksaan. Atas hal itu, maka dimungkinkan juga pada akhir Laporan Hasil Pemeriksaan, suatu TP tidak dijadikan Hasil Pemeriksaan karena berdasarkan bukti baru yang diberikan oleh entitas dan diyakini oleh pemeriksa ternyata TP itu sudah tidak layak lagi untuk disajikan.

07 Langkah-langkah yang diperlukan dalam kegiatan menyusun temuan pemeriksaan adalah sebagai berikut.

Poin yang perlu diperhatikan dalam menyusun TP

Langkah-langkah

penyusunan TP

1. Berdasarkan kesimpulan hasil pengujian bukti, apabila terdapat perbedaan ( gap) yang signifikan antara kondisi dan kriteria, tentukan apakah perbedaan tersebut positif atau negatif. Perbedaan positif terjadi apabila kondisi yang ditemukan lebih baik daripada kriteria. Perbedaan negatif terjadi apabila kondisi yang ditemukan tidak mencapai kriteria.

Petunjuk Pelaksanaan Pemeriksaan Kinerja

Bagian III

2. Sangat dimungkinkan, pemeriksa menemukan atau mengungkapkan suatu temuan positif, tetapi sekali lagi perlu diingatkan apakah temuan pemeriksaan tersebut relevan terhadap tujuan pemeriksaan yang telah ditetapkan. Jika memang relevan terhadap tujuan pemeriksaan, maka pemeriksa dapat melaporkan temuan pemeriksaan yang positif ini.

3. Dalam hal perbedaan negatif, pemeriksa perlu mengidentifikasi dampak yang ditimbulkan dari perbedaan negatif untuk mengetahui akibat dan sebab-sebab dari perbedaan negatif tersebut. Pemeriksa perlu menyusun unsur- unsur temuan pemeriksaan dari temuan negatif tersebut hingga menjadi suatu temuan pemeriksaan.

4. Kemudian konsep temuan pemeriksaan disampaikan kepada manajemen dari entitas yang diperiksa untuk memperoleh tanggapan. Penyampaian konsep temuan pemeriksaan ini hendaknya diberi ‘ watermark’ dengan kata DRAFT untuk dibedakan dengan hasil temuan pemeriksaan akhir. Penyampaian kepada manajemen entitas pemeriksaan dapat dilakukan secara bertahap ataupun sekaligus tergantung dari kebijakan dan pertimbangan tim pemeriksa.

5. Pemeriksa mendiskusikan konsep temuan pemeriksaan dengan manajemen entitas yang diperiksa untuk mendapatkan klarifikasi. Tujuan dari diskusi adalah melengkapi bukti pemeriksaan dan mendapatkan klarifikasi dari manajemen entitas pemeriksaan. Tanggapan yang diberikan oleh manjemen entitas yang diperiksa harus dalam bentuk resmi dan tertulis.

6. Pemeriksa menyampaikan Temuan Pemeriksaan kepada manajemen entitas yang diperiksa.

E. Output

08

</