Anda di halaman 1dari 24

Kata pengantar

Puji syukur kita panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena limpahan rahmat dan karunia-Nya penulis dapat menyelesaikan tugas makalah Keselamatan dan Kesehatan Kerja dan Lingkungan yang berjudul Penerapan Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja di Pabrik Kelapa Sawit Tanjung Medan Provinsi Riau. Kami menyadari bahwa makalah ini belum sempurna dan masih banyak kekurangan dalam penyusunannya.Oleh karena itu, kami mengharapkan masukkan demi kesempurnaan makalah ini.Semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi pembaca sekalian. Akhirnya kami mengucapkan terima kasih kepada pihak yang telah terlibat dalam penyusunan makalah ini.

Indralaya, November 2012

Penulis

Daftar Isi
KATA PENGANTAR BAB I : PENDAHULUAN . 1.1 Latar belakang 1.2 Rumusan Masalah .. 1.3 Tujuan . 1.4 Metode Penulisan BAB II : PEMBAHASAN 2.1 Sistem manajemen keselamatan dan kecelakaan kerja (SMK3) . 2.2 Penerapan Sistem Keselamatan dan Kesehatan Kerja . 2.3 Alat Pelindung Diri .. 2.4 Kecelakaan Kerja . 2.5 Penanganan Terhadap Kecelakaan ... 2.6 Kebijakan Perusahaan di Bidang K3 ... 2.7 Pengawasan Kebijakan di Bidang K3 .. BAB III : PENUTUP . 3.1 Kesimpulan ... 3.2 Saran . 1 3 3 3 4 4 5 5 7 12 13 16 23 23

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar belakang Pembangunan nasional sedang memasuki era industrialisasi dan globalisasi yang ditandai dengan semakin berkembangnya perindustrian dengan mendayagunakan tekhnologi tinggi, sehingga diperlukan peningkatan kualitas sumberdaya manusia serta pelaksanaan yang konsisten dari Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja (SMK3). Upaya keselamatan dan kesehatan kerja dimaksudkan untuk memberikan jaminan keselamatan dan meningkatkan derajat kesehatan para pekerja/buruh dengan cara pencegahan kecelakaan dan penyakit akibat kerja, pengendalian bahaya di tempat kerja, promosi kesehatan, pengobatan, dan rehabilitasi. Penerapan keselamatan dan kesehatan kerja di sektor industri masih belum menunjukkan hasil yang diharapkan, hal ini terindikasi dari tingkat kecelakaan kerja yang relatif masih tinggi. Tingginya angka kecelakaan ini umumnya terjadi pada industri skala menengah dan kecil, sedangkan pada industri besar dan strategis lainnya pelaksanaan manajemen keselamatan dan kesehatan kerja umumnya cukup baik dan angka kecelakaan relatif kecil karena didukung oleh kemampuan sumberdaya manusia dan dana yang tersedia.

1.2 Rumusan Masalah Berdasarkan latar belakang di atas maka terdapat beberapa hal yang menjadi rumusan masalah yaitu sebagai berikut. 1. Bagaimana Sistem Keselamatan dan Kesehatan Kerja pada Pabrik Kelapa Sawit, 2. Bagaimna penerapan Sistem Keselamatan dan Kesehatan Kerja pada Pabrik Kelapa Sawit, 3. Perlengkapan kerja apa saja yang dipakai untuk menciptakan tempat kerja yang aman dan sehat, 4. Bagaimana suatu kecelakaan kerja dapat terjadi, 5. Bagaimana upaya penanganan terhadap kecelakaan yang terjadi di tempat

.
3

kerja,dan 6. bagaimana kebijakan perusahaan serta pengawasan di bidang K3.

1.3 Tujuan Tujuan penyusunan dari makalah ini adalah : 1.Untuk mengetahui bagaimana penerapan Sistem Keselamatan dan Kesehatan Kerja pada Pabrik Kelapa Sawit. 2. Untuk mengetahui perlengkapan kerja apa saja yang digunakan agar tercipta tempat kerja yang aman dan sehat. 3. Untuk mengidentifikasi bagaimana kecelakaan kerja dapat terjadi serta upaya penanganannya. 4.Untuk mengetahui bagaimana kebijakan perusahaan di bidang K3 dan pengawasannya.

1.4 Metode Penulisan Metode yang digunakan dalam penyusunan makalah ini adalah studi pustaka pustaka dan informasi yang terdapat dalam makalah ini diperoleh dari berbagai literatur serta media elektronik.

BAB II PEMBAHASAN

2.1 Sistem manajemen keselamatan dan kecelakaan kerja (SMK3) Masalah keselamatan dan kecelakaan kerja kerja pada umumnya sama tua dengan kehidupan manusia. Demikian juga keselamatan kerja dimulai sejak manusia bekerja. Manusia purba mengalami kecelakaan-kecelakaan kerja, dan dari padanya berkembang pengetahuan tentang bagaimana agar kecelakaan tidak berulang keselamatan dan kesehatan kerja yang disebut SMK3 Sistem manajemen

adalah bagian dari sistem

manajemen secara keseluruhan yang meliputi: struktur organisasi, perencanaan, tanggung jawab, pelaksanaan, prosedur, proses dan sumber pengembangan, penerapan, pencapaian, pengkajian, dan daya yang dibutuhkan bagi pemeliharaan kebijakan K3

dalam rangka pengendalian resiko yang berkaitan dengan kerja guna terciptanya tempat kerja yang aman, efisien, dan produktif. Secara filosofi keselamatan dan kesehatan kerja (K3) merupakan suatu pemikiran dan upaya untuk menjamin keutuhan dan kesempurnaan baik jasmaniah maupun rohaniah tenaga kerja pada khususnya dan manusia pada umumnya, hasil Keselamatan kerja adalah keselamatan yang berhubungan dengan mesin karya dan budayanya menuju masyarakat adil dan makmur. pesawat, alat kerja, bahan dan proses pengolahannya, landasan tempat kerja dan lingkungannya serta cara-cara melakukan pekerjaan. Di mana sasaran

keselamatan kerja adalah segala tempat kerja, baik di darat, di dalam tanah, di permukaan air, di dalam air, maupun di udara Kecelakaan kerja adalah kecelakaan yang berhubungan dengan hubungan kerja,

termasuk penyakit yang timbul karena hubungan kerja, demikian pula kecelakaan yang terjadi dalam perjalanan berangkat dari rumah menuju tempat kerja dan pulang ke rumah melalui jalan yang biasa atau wajar dilalui. kerja secara optimal, meliputi pelayanan kesehatan pencegahan penyakit akibat kerja. disebutkan bahwa kesehatan kerja Pelaksanaan produktivitas kerja

diselenggarakan untuk mewujudkan produktivitas

maksimum dibutuhkan faktor pendukung antara lain kesehatan pekerja. Adapun tujuan dari diselenggarakannya upaya kesehatan kerja dalam suatu industri antara lain untuk kesejahteraan hidup dan meningkatkan produksi dan produktivitas dengan tujuan utamanya adalah:
5

Melindungi tenaga kerja atas hak keselamatannya dalam melakukan pekerjaan Menjamin keselamatan setiap orang lain yang berada di tempat kerja Memelihara dan mempergunakan sumber produksi secara aman dan efisien

Secara aspek juridis keselamatan dan kesehatan kerja merupakan upaya kerja dan melindungi keselamatan setiap orang yang memasuki tempat kerja, serta perlindungan bagi keselamatan tenaga kerja dalam melakukan pekerjaan di tempat Ditinjau dari aspek yuridis K3 adalah upaya perlindungan bagi keselamatan Secara aspek teknis keselamatan dan kesehatan kerja (K3) adalah ilmu pengetahuan dan penerapan mencegah kecelakaan kerja dan penyakit akibat kerja. Penerapan K3 dijabarkan ke dalam sistem manajemen keselamatan dan kesehatan kerja yang disebut SMK3 dalam hubungan kondisi-kondisi dan situasi di Indonesia,

keselamatan kerja adalah sarana utama dalam pencegahan penyakit, cacat dan kematian yang disebabkan oleh penyakit akibat hubungan kerja. Keselamatan kerja yang baik

adalah pintu gerbang bagi keamanan tenaga kerja. Kebijakan keselamatan dan kesehatan kerja merupakan komponen dasar kebijakan manajemen yang akan memberi arah bagi setiap pertimbangan yang menyangkut aspek operasional dari kualitas, volume dan

hubungan kerja tenaga kerja dalam melakukan pekerjaan di tempat kerja dan melindungi keselamatan dipergunakan secara aman dan efisien, jika ditinjau dari efek teknis K3 adalah ilmu setiap orang yang memasuki tempat kerja, serta agar sumber produksi dapat pengetahuan dan penerapan mencegah kecelakaan kerja dan penyakit akibat kerja Penerapan K3 dijabarkan ke dalam sistem manajemen yang disebut SMK3 Menurut Tunggal S.W (1996), Tahapan Kebijakan Keselamatan dan Kesehatan Kerja memiliki beberapa tahapan antara lain:

1. Perencanaan Identifikasi Bahaya, Penilaian, dan Pengendalian Resiko. Identifikasi bahaya, penilaian dan pengendalian resiko dari kegiatan produk arang dan atau jasa harus dipertimbangkan pada saat merumuskan rencana untuk memenuhi kebijakan keselamatan dan kesehatan kerja, karenanya harus dipelihara dan ditetapkan prosedurnya

2. Peraturan Perundangan dan Peraturan Lainnya Organisasi harus menetapkan dan memelihara prosedur untuk inventarisasi dan pemahaman keselamatan dan kesehatan kerja sesuai dengan kegiatan organisasi yang bersangkutan. Manajemen organisasi juga harus
6

menjelaskan peraturan perundangan dan persyaratan lainnya kepada setiap tenaga kerja.

3. Tujuan dan Sasaran Manajemen Tujuan dan sasaran kebijakan keselamatan dan kesehatan kerja ditetapkan oleh organisasi sekurang-kurangnya harus memenuhi kualifikasi sebagai berikut Dapat diukur Satuan/indikator pengukuran Sasaran pencapaian.

4. Indikator Kerja Dalam menetapkan tujuan dan sasaran kebijakan keselamatan dan kesehatan kerja organisasi harus menggunakan indikator yang dapat diukur sebagai penilaian kinerja keselamatan dan kesehatan kerja yang sekaligus merupakan informasi mengenai keberhasilan pencapaian Sistem Manajemen K3. Kecelakaan yang didefinisikan sebagai kejadian yang tidak diinginkan yang mengakibatkan kerugian fisik (Physical harm) atas orang atau kerusakan atas milik atau harta benda (property). Kecelakaan terjadi adalah sebagai akibat dari kontak dengan sumber energi (kinetik, kimia, dan panas) yang melebihi nilai ambang batas. Sedangkan kecelakaan kerja adalah kejadian yang tidak terduga dan tidak diharapkan akibat dari kerja Sesuai dengan Peraturan Menteri Tenaga Kerja Nomor PER.05/MEN/1996 disebutkan

bahwa: kebijakan keselamatan dan kesehatan kerja (K3) adalah suatu pernyataan tertulis yang dibuat melalui proses konsultasi antara pengurus dan wakil tenaga kerja yang memuat keseluruhan tujuan perusahaan, komitmen dan tekad melaksanakan K3, kerangka dan program kerja perusahaan yang bersifat umum dan operasional. Kebijakan ini ditanda tangani oleh pengusaha dan atau pengurus.

2.2 Penerapan Sistem Keselamatan dan Kesehatan Kerja Penerapan SMK3 ditandai dengan dibangunnya komitmen dari perusahaan terhadap kesehatan kerja karyawan. Perusahaan akan memberikan prioritas yang sama antara keselamatan dan kesehatan kerja dengan disiplin lainnya, produksi, mutu moril dan biaya. Perusahaan berusaha menerapkan SMK3 dengan tujuan untuk mengeliminir

bahaya-bahaya yang dapat menyebabkan kecederaan, penyakit, kerusakan barang dan ledakan, serta gangguan proses yang menghambat produksi dan hal-hal lain yang merusak lingkungan.

Health (Kesehatan) Penyediaan Air Air yang dikonsumsi ataupun yang dibuang ke hutan parameternya selalu dikontrol secara kontinyu agar tidak mencemari lingkungan dan aman untuk dikonsumsi. Diantara parameter-parameter tersebut antara lain : pH, Total dissolved solid, kesadahan, biocide, temperatur.

Pengolahan Sampah Sampah yang berasal dari pekerjaan bangunan akan dibakar. Sampah dari laboratorium akan diproses diluting sehingga tidak membahayakt. Limbah yang berasal dari kotoran manusia akan dimasukkan ke-septic tank yang terdapat di perumahan.

Pengawasan Terhadap Makanan dan Minuman Makanan yang terdapat di Mess Hall, Commisary, dan sanggar karyawan diperiksa secara berkala. Pengawasan juga meliputi masakan kadaluarsa suatu produk.

Pest Control Pest control adalah pengendalian terhadap hewan penyebar penyakit dan hewan pengganggu. HES menyediakan pekerja untuk membasmi hewan-hewan tesebut bila diminta oleh penghuni camp. HES juga akan melakukan pembasmian berkala terhadap penyakit malaria dan demam berdarah yang cukup tinggi di Riau.

Keselamatan Bidang ini menangani masalah keselamatan kerja. Hasil inspeksi dan audit yang dilakukan oleh perusahaan, IBU manajemen dan tim Health, Environment, dan Safety (HES) beberapa tahun terakhir menunjukkan bahwa dalam beberapa hal
8

di bidang keselamatan perusahaan bisa lebih baik. Kegiatan yang menjadi tanggung jawab bagian Safety (Keselamatan) adalah: a. Melakukan pembelian barang-barang penunjang keselamatan kerja dan kesehatan, serta lingkungan. b. c. d. e. f. Melakukan perawatan terhadap alat-alat keselamatan. Melakukan pencegahan kecelakaan melalui perencanaan yang baik. Melacak sebab-sebab terjadinya kecelakaan dan melaporkannya. Melakukan inspeksi. Melakukan pelatihan terhadap HES secara berkesinambungan. Access Control Tujuan dari access control untuk memastikan hanya orang yang berhak saja yang dapat masuk/bekerja dari fasilitas dan menjaga keselamatan dan keamanan orang-orang serta fasilitas yang ada didalamnya. Yang dikatakan berhak disini antara lain adalah: 1. 2. 3. 4. Berwenang Punya alasan absah. Terkait dengan operasi dan punya kepentingan bisnis. Memahami dan memenuhi persyaratan memasuki dan bekerja di dalam fasilitas

Izin Kerja Umum Tujuan dari General Work Permit adalah membentuk komunikasi dan mengingatkan akan bahaya yang timbul diantara kelompok kerja lintas fungsi disuatu tempat kerja dalam melakukan pekerjaan tidak rutin. Diantaranya yang terbentuk kedalam izin kerja umum ini adalah : hot work, confined space, hot line dan sebagainya. Hubungan fungsional pelaku proses General Work Permit dapat dilihat urutan berikut : 1. 2. 3. 4. 5. Penanggung jawab fasilitas (facility owner) Petugas fasilitas yang ditunjuk (facility owner designate) Penanggung jawab pelaksana (person in change) Penanggung jawab kerja lapangan (work responsible person) Petugas yang berwenang (authorized worker)

Sebagaimana yang terlihat pada prosedur di atas, pertamakali periksa apakah pekerjaan dilaksanakan oleh pegawai yang tidak biasa mengoperasikan fasilita tersebut. Jika ya maka diperlukan, namun jika tidak periksa kembali apakah pekerjaan

jarang dilakukan dan mempunyai resiko tinggi. Jika ya maka diperlukan namun jika tidak periksa kembali apakah pekerjaan tersebut termasuk kerja panas, masuk ruang tertutup, kerja di ketinggian atau kerja beresiko. Jika ya maka perlu, namun jika tidak periksa kembali. Apabila pekerjaan tersebut tercantum dalam hal 46 GWP guidelines, atau termasuk pekerjaan baru (bulir 3.3 dn 4.7 pada GWP guidelines). Jika ya maka perlu GWP, jika tidak diperiksa sekali lagi apakah pekerjaan melibatkan resiko yang tidak rutin/tidak biasa?Jika ya maka perlu namun jika tidak lakukan sebagaimana kerja rutin. Standart Operating Procedures Tujuan ini adalah untuk memastikan bahwa setiap pekerja mempunyai dan melakukan perkejaan dengan mengacu kepada dan yang diperlukan. SOP adalah langkah langkah kerja tertulis yang terfokus pada pelaksanaan pekerjaan untuk mengurangi resiko kerugian dan mempertahankan kehandalan. Dalam SOP biasanya terdapat batasan operasi peralatan dan keselamatan, prosedur menghidupkan, mengoperasikan, dan mematikan peralatan. JSA adalah suatu pendekatan struktural untuk mengidentifikasi potensi bahaya dalam suatu pekerjaan dan memberikan langkah langkah pekerjaan. Selanjutnya menganalisa bahaya yang ada pada tiap langkah kerja tersebut, memberikan langkah langkah perbaikan hingga akhirnya didapati suatu urutan pekerjaan yang selamat. Lock Out Tag Out Bertujuan untuk mencegah timbulnya energi yang tiba-tiba dan tidak diharapkan (karena salah mengoperasikan atau menghidupkan sebelum waktunya) dari mesin, peralatan listrik dan fasilitas proses produksi yang sedang diperbaiki, dioperasikan atau dilakukan kegiatan-kegiatan lain yang berhubungan peralatan atau proses tersebut, yang dapat mencederai seseorang atau merusak peralatan.

Material Safety Data Sheet Tujuan MSDS adalah untuk menjamin bahaya kimia yang ada ditempat kerja dan penangannya dikomunikasikan secara baik sehingga pegawai dan mitra kerja dapat bekerja dengan selamat dalam menggunakan bahan tersebut. MSDS ini diterapkan untuk pegawai dan mitra kerja dapat bekerja dengan selamat dalam menggunakan bahan tersebut. MSDS ini terapkan untuk pegawai di dan mitra kerja yang melakukan

10

kerja berhubungan dengan bahan kimia berbahaya yang memberikan informasi mengenai bahaya potensial dan cara penanganan yang selamat atas bahan yang digunakan, informasi yang terdapat didalamnya antara lain : 1. 2. 3. 4. 5. 6. Identifikasi. Unsur bahaya. Data bahan api dan ledakan. Data fisik. Data bahaya untuk kesehatan.informasi pelindung khusus. Prosedur penanganan tumpahan atau kebocoran dan tindakan pencegahan khusus. Facillity owner perlu memberi label pada setiap wadah bahan kimia / material. Semua drum dan wadah bahan berbahaya harus mempunyai label yang diperlihatkan secara mencolok, label ini biasanya ditempel pada tangki besar, drum/kaleng, botol sample, wadah sementara, botol laboratorium, dan lain-lain.

House Keeping House keeping bertujuan untuk memastikan fasilitas operasi berada dalam keadaan bersih dan teratur. Dimana keadaan tersebut memberikan manfaat sebagi berikut: 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. Menghilangkan kemungkinan cidera dan kebakaran. Mencegah pemborosan energi. Mengoptimalkan pemanfaatan ruang. Membantu pengendalian limbah dan kerusakan aset. Menjamin kerapian tempat kerja. Mendorong kebiasaan kerja yang lebih baik. Mencermin tempat kerja yang dikelola baik.

Lingkungan

Bagian environment mengatasi masalah yang menyangkut pencemaran terhadap lingkungan seperti pencemaran tanah oleh tumpahan minyak atau buangan minyak ke hutan, pencemaran air produksi yang diijinkan untuk diinjeksikkan ke dalam tanah.
11

Saat ini mempunyai komitmen selalu berusaha untuk membuat produksinya zero waste. Bentuk komitmen yang dicanangkan oleh bagian Environment ini yaitu memberikan data dan analisis yang akurat, peralatan dan proses yang efektif, sumber yang kompeten, kepemimpinan dan performa aktif untuk mencapai kualitas lingkungan terbaik. Program kerja yang dijalnkan oleh bagian environment antara lain yaitu Manajemen Limbah, Penanganan kualitas udara, Penanganan Air Limbah, dan kegiatan pendukung lainnya seperti studi AMDAL dan studi lingkungan, presentasi tentang lingkungan, pelatihan tentang pengelolaan lingkungan dan lainnya. Beberapa program lain yaitu pemilahan sampah, penyelamatan spesies harimau, pig and monkey mitigation, pengenalan tentang lingkungan, uji kelayakan lingkungan dan pendaur ulangan kertas.

2.3 Alat Pelindung Diri Secara umum alat pelindung diri dimaksud sebagai alat yang digunakan untuk menghindari kecelakaan bagi pemakainya. Menurut Sumamur (1992) alat pelindung diri merupakan cara terakhir yang harus dilakukan untuk mencegah kecelakaan apabila program pengendalian lain tidak mungkin dilaksanakan.Beberapa alat pelindung diri yang sering digunakan adalah: 1. Helmet, melindungi kepala terhadap kemungkinan tertimpa benda jatuh menghindari cedera kepala akibat benturan benda berat. 2. Earplug/earmuff, sebagai alat pelindung telinga karena bekerja di daerah kebisingan akibat penggerindaan dan pemukulan, .3. Sarung tangan, melindungi jari dan tangan pekerja dari goresan, benturan dan pengaruh sinar las. Sarung tangan terbuat dari kain yang nyaman serta memungkinkan jari dan tangan bergerak bebas. Untuk melindungi dari pengaruh sinar las maka sarung tangan terbuat dari kulit, 4. Masker, untuk melindungi wajah dari pengaruh sinar pada waktu bekerja, 5. Apron, baju panjang dari bahan karet timbal dengan daya serap radiasi. atau

Syarat-syarat alat pelindung diri yang dipergunakan harus memenuhi ketentuan sebagai berikut: (Samamur, 1986) - Enak dipakai pada kondisi pekerja yang sesuai dengan disain alat, - Tidak mengganggu kerja, dalam arti alat pelindung diri ini harus sesuai dengan tubuh
12

pemakainya dan tidak menyulitkan gerak pengguna, - Memberikan perlindungan efektif terhadap bahaya yang khusus sebagaimana alat pelindung tersebut didesain. - Harus tahan lama, - Mudah dibersihkan dan dirawat pekerja, - Harus ada disain, konstruksi, pengujian dan penggunaan APD yang sesuai standar.

2.4 Kecelakaan Kerja Penyebab kecelakaan kerja secara umum diartikan sebagai faktor-faktor yang dapat, menyebabkan terjadinya kecelakaan. Menurut Notoatmodjo (2003), penyebab kecelakaan kerja pada umumnya digolongkan menjadi dua, yakni: (a) Perilaku pekerja itu sendiri (faktor manusia), yang tidak memenuhi keselamatan, misalnya: karena kelengahan, kecerobohan, ngantuk, kelelahan, dan sebagainya. (b) Kondisi-kondisi lingkungan pekerjaan yang tidak aman atau unsafety terjadi disebabkan karena faktor manusia.

Penyebab terjadinya kecelakaan kerja dapat disebabkan faktor karakteristik tidak benar, kelelahan akibat jam kerja yang berlebih, serta minimnya pengawasan pekerja, demikian alnya kurangnya kemampuan/pelatihan, rekruitmen pekerja yang terhadap pekerja (Notoadmojo S, 1996). Terjadinya kecelakaan kerja merupakan rangkaian yang berkaitan satu dengan yang lainnya, faktor penyebab kecelakaan kerja antara lain (H.W. Heinrich, 1980): Ancestry and Social Environment, yaitu faktor keturunan, keras kepala, gugup, penakut, iri hati, sembrono, tidak sabar, pemarah, tidak mau bekerja sama, tidak mau menerima pendapat orang lain, dan lain-lain. Fault of person, yaitu merupakan rangkaian dari faktor keturunan dan lingkungan yang menjurus pada tindakan yang salah dalam melakukan pekerjaan.

Accident, yaitu peristiwa kecelakaan (tertimpa benda, jatuh terpeleset, rambut tergulung mesin, dan lain-lain) yang menimpa pekerja dan umumnya disertai oleh berbagai kerugian.

Injury, yaitu kecelakaan yang mengakibatkan cedera (luka ringan, luka berat parah), cacat dan bahkan kematian (Allen and Friends, 1976).

13

Lokasi Kerja yang Rawan Kecelakaan Kerja Dalam suatu industri pengolahan kelapa sawit menjadi crude palm oil (CPO ) banyak peralatan/areal kerja dan sistem yang dapat menjadi penyebab kecelakaan. Beberapa areal tempat terjadinya kecelakaan kerja pada pabrik kelapa sawit antara lain: a. Aktivitas di ruang komputer, resiko tersengat listrik, dan iritasi mata. b. Menarik lori dengan capstand/mengisi TBS/memasukkan TBS ke rebusan, beresiko jari/tangan terjepit, terlibas tali, tertimpa TBS, tersodok galah tertimpa jembatan rebusan, tertimpa lori,. c. Merebus TBS/membuka steam/membuka pintu rebusan, beresiko rebusan meledak, tersengat anggota badan, terpapar pendengaran, tertimpa jembatan rebusan, terkena steam panas. d. Pengoperasian theresing/pengoperasian presan, beresiko terlilit anggota badan, tersambar, terjatuh, terhirup, terpapar pendengaran. e. Membersihkan bodi elevator, beresiko terjatuh, kepala terbentur, tangan terkena duri, f. Aktivitas di kamar mesin, beresiko terkena serpihan ledakan, terbakar/tersengat aliran listrik, terpapar pendengaran, terhirup. g. Aktivitas di ruangan work shop, beresiko tertimpa/terjepit, meledak/terhirup, tersengat/terbakar arus listrik, pijar mata, kebutaan. h. Aktivitas di pabrik biji, beresiko terjatuh, terpapar pendengaran, sesak i. Aktivitas di boiler, beresiko terkena serpihan uap dan air panas, melepuh penapasan, terlibas, tergilas anggota tubuh, terkena panas, sesak napas, tersengat anggota tubuh, jatuh, terbakar anggota badan. k. Mendorong lori dengan loader, beresiko tertabrak loader, terbentur benda keras, tertimpa TBS, terkena gancu/tojok, l. Mencampur bahan kimia/menganalisa sampel, beresiko merusak kesehatan paruparu, iritasi kulit, korosif, merusak kesehatan paru-paru, terkena anggota badan. l. Penempatan barang/material/penyusunan bahan kimia, beresiko tersandung, tertimpa material, terjatuh, korosif, tertimpa material, terjatuh, korosif. m. Aktivitas klarifikasi, beresiko tersambar, terjatuh, anggota tubuh terkena, minyak panas, tersengat. n. Membersihkan tangki timbun, beresiko terjatuh, gangguan pernapasan.
14

o. Aktivitas

incenerator, beresiko terhirup mengakibatkan gangguan paru-paru

tertimpa, tertonjok. p. Aktivitas recovery, beresiko terjatuh, terhirup, terkena anggota badan. q. Aktivitas tower air, beresiko terjatuh dari menara, tenggelam ke dalam air. r. Pembersihan dinding/atap pabrik, beresiko terjatuh/terpelesat, dari atap, gangguan pernapasan. s. Pengelasan ditempat ketinggian, beresiko tersengat listrik, kebakaran, terjatuh dari ketinggian. t. Banjir/angin/gempa dan huru hara, beresiko kebakaran, terendam air, tertimpa bangunan, tertimbun tanah, tersengat listrik. Bagian Compliance Assurance merupakan divisi dari OE-HES yang menangani tentang ketaatan pekerja terhadap peraturan dan undang-undang yang berlaku, agar dapt mengkontrol, mengkoordinir dan mencegah serta mengurangi resiko kesalahan atau kecelakaan kerja. Tujuan dari divisi Complaince Assurance yaitu : Meningkatkan kinerja perusahaan dan mengurangi kecelakaan kerja. Memelihara dan menjaga reputasi serta izin dari perusahaan. Memantau konsistensi dan implementasi ketaatan pekerja.

Program kerja yang dilakukan Compliace Assurance antara lain : Requirment and Register Pendataan semua Peraturan Negara , Undang-Undang Negara dan persyaratan yang harus ditaati dan diikuti oleh perusahaan Program Of Control Merancang program-program yang memenuhi dan mendukung aturan yang berlaku dalam proses produksi dan manajemen perusahaan Audit Program Pemeriksaan dan pengontrolan dari program-program yang telah ditetapkan dalam perusahaan Management of Non Compliance Pengaturan manajemen sanksi ketidaktaatan terhadap peraturan di dalam perusahaan.

15

2.5 Penanganan Terhadap Kecelakaan Apabila terjadi suatu insiden, mengacu pada prosedur investigasi yaitu dengan melihat apa kategori dari insiden yang terjadi, apa level insiden yang terjadi, apa saja persyaratan untuk investigasi (persyaratan tim, keanggotaan tim, sponsor, piagam, metodologi yang digunakan, dan keterlibatan kontraktor). Kemudian untuk tahap identifikasi ini data yang dikumpulkan dilihat dari data people, position, paper, parts. Data dikumpulkan sesegera mungkin dan dalam urutan waktu terjadinya insiden. Awal pengumpulan data dilakukan dengan mengamankan daerah tempat terjadi insiden dan tidak memulai melakukan investigasi insiden sampai perawatan medis telah diberikan kepada siapa saja yang terluka dan/atau situasi atau keadaan yang abnormal sudah terkendali. Hal ini karena keselamatan jiwa, kesehatan dan lingkungan lebih penting daripada penyelidikan insiden. Dalam kebanyakan kasus, pengawas pada baris pertama yang ada di tempat kejadian bertugas untuk mengumpulkan data pada tahap awal. Jika sebuah tim diperlukan untuk penyelidikan, pemimpin tim atau fasilitator akan mengambil alih tangggungjawab untuk pengumpulan data lanjutan. Setelah memastikan korban sudah diberi pertolongan medis dan situasi sudah terkendali, kemudian menentukan apakah peristiwa tersebut dapat terjadi di tempat lain, jika demikian, kemudian segera lakukan respon untuk mengatasi bahaya. Setelah semua terkendali dan semua masalah keamanan teratasi sesegera mungkin lakukan langkah langkah sebagai berikut : a. Sebagai alternatif lakukan wawancara kepada saksi sesegara mungkin. Saat awal ditemukan saksi dan orang yang terlibat dalam insiden tersebut, kemudian menyiapkan laporan tertulis dari pengamatan dan tindakan mereka sebelum dan termasuk saat insiden tersebut. b. Melindungi data fisik di daerah kejadian. Letakkan tali atau pita pada daerah tersebut untuk membuat orang-orang keluar darai daerah itu. Terkadang data fisik hancur hanya karena orang melacak dan melewati daerah tersebut atau mencoba untuk membersihkan daerah itu. c. Merekam tempat kejadian setelah terjadi insiden dengan cara mengambil data tempat kejadian dan menggambar sketsa tempat kejadian d. mengumpulkan dan menyimpan data fisik data fisik seperti bagian, potongan dan benda benda kecil lainnya, merekam lokasi dimana data ditemukan, terutama
16

mengumpulkan hal-hal yang mungkin dipindahkan, debrsihkan atau rusak jika ditinggalkan di tempat kejadian. Jika data fisik terlalu besar untuk dipindahkan atau membutuhkan pembongkaran, maka dibuat catatan untuk penyelidikan lanjutan setelah tim dibentuk. e. Mengambil sampel yang diperlukan dan mengambil data yang mungkin akan hilang.

Pelaporan Untuk prosedur pelaporan insiden dilakukan pada 2 bagian, yaitu pelaporan internal dan pelaporan eksternal. Tujuan prosedur ini adalah untuk menentukan tindakan yang diperlukan untuk pemberitahuan internal dalam insiden dan entitas juga tindakan yang diperlukan untuk pemberitahuan eksternal insiden kepada lembaga migas pemerintah Indonesia. Prosedur ini berlaku untuk semua karyawan dan kontraktor dalam pengendalian operasional .

a.

Internal Reporting Ketika terjadi insiden, pengamat kejadian segera memberitahukan kepada pemimpin group leader atau pemimpin tim mereka. Pemimpin / ketua tim kemudian akan memberitahu manajer tim mereka Setelah mengevaluasi insiden itu, TM akan melaporkan kepada manajer langsung mereka. Untuk memiliki standar pelaporan ke tingkat berikutnya, dapat menggunakan formulir pemberitahuan insiden seperti yang ditunjukkan pada lampiran A. Setelah memberitahukan insiden kepada manajer langsung mereka, TM melengkapi formulir pelaporan insiden dan meneruskan formulir yang telah diisi kepada manajer mereka. Manajer memeriksa kualitas formulir pelaporan insiden dan menyetujui penyerahan melalui email kepada bagian pengolahan data. Setelah menerima pemberitahuan dari TM, manajer kemudian akan memberitahu kepada general managernya langsung atau wakil presiden Pengelola juga akan memberitahu manajer OE / HES jika tingkat insiden dikategorikan sebagai tingkat 2 atau tingkat 3 (Serious or major). Setelah menerima pemberitahuan dari manajer, akan memberitahukan insiden tersebut kepada, direktur eksekutif harus mengevaluasi kejadian untuk pemberitahuan lebih lanjut. jika insiden itu termasuk dalam kategori insiden yang membutuhkan pemberitahuan luar IBU, direktur eksekutif akan memberitahukan presiden direktur dan IBU
17

managing director tentang insiden tersebut.

b.

External Notification Direktur juga mensyaratkan bahwa kejadian menyebabkan kerusakan

properti (instalasi atau peralatan) dengan biaya langsung lebih besar harus dilaporkan dalam waktu 2 x 24 jam. Penyelesaian pelaporan yang dibutuhkan adalah tanggung jawab GM / VP dari organisasi yang bekerja sama dengan para pengelola SMO OE /. Pelaporan awal dapat dilakukan melalui telepon, faks, atau email dan minimum harus mencakup informasi sebagai berikut: a. b. c. waktu kejadian (jam, hari, tanggal, bulan dan tahun) lokasi kejadian orang yang menjadi korban (nama, jenis kelamin, usia, status, posisi, nama perusahaan) d. e. f. kerusakan properti atau instalasi, termasuk biaya yang dikeluarkan klasifikasi insiden penjelasan singkat kejadian, serta penyebab langsung dan penyebab awal hydrocarbon spill reporting Insiden tumpahan hidrokarbon lebih besar dari 15 barel harus dilaporkan dalam waktu 2 x 24 jam ke divisi perlindungan lingkungan. Laporan tersebut harus disampaikan menggunakan formulir laporan tumpahan hidrokarbon sebagaimana dalam Lampiran C. Penyelesaian laporan tertulis yang diperlukan merupakan tanggungjawab organisasinya berkoordinasi dengan manajer / VP dari organisasi yang terkena dampak harus menyetujui isi dari pemberitahuan tumpahan yang telah dipersiapkan oleh pengelola. Manajer akan menyampaikan pemberitahuan tumpahan kepada untuk disetujui. akan mengajukan pemberitahuan untuk. Insiden tumpahan hidrokarbon lebih besar dari 15 barel juga harus dilaporkan kepada kepala bidang perlindungan lingkungan. Untuk memenuhi kewajiban ini

effluent water concentration in abnormal and emergency conditions notification Penyelesaian laporan yang diperlukan untuk debit tidak normal / darurat adalah tanggung jawab dari GM / VP dari organisasi yang terkena dampak berkoordinasi dengan manajer. Pelaporan awal dapat dilakukan dengan telepon, fax

18

atau email dan minimum harus mencakup informasi sebagai berikut: 1. waktu dan durasi sebenarnya atau dugaan lokasi abnormal dan atau keadaan debit darurat 2. 3. 4. penjelasan singkat tentang kondisi abnormal dan atau keadaan darurat konsentrasi air limbah pada saat debit tindakan yang dilakukan atau direncanakan untuk mengurangi kondisi debit abnormal dan atau keadaan darurat Abnormal dalam peraturan ini didefinisikan sebagai kondisi operasi di luar parameter operasi normal, tetapi masih dapat dikendalikan. Contohnya start-up, shut-down dan up-set yang dapat menyebabkan melebihi batas ambang air yang diproduksi. Namun tidak terbatas pada hal itu, dapat juga berupa : 1. 2. 3. 4. 5. 6. kondisi operasi melebihi kapasitas desain fasilitas pengolahan air terproduksi kegagalan fasilitas pengolahan air terproduksi kegagalan unit udara terlarut pengapungan kegagalan fasilitas pemisah API kegagalan suntikan dosis kimia kegagalan pompa bah caisson Kondisi darurat dalam Keputusan ini didefinisikan sebagai kondisi operasi di luar parameter operasi normal dan tidak dapat lagi dikendalikan (tidak terkontrol). misalnya: darurat karena bencana alam, force majeure, dan lain-lain.

Membuat prioritas Dalam membuat prioritas, melakukan kategorisasi pada dua tingkat, yaitu di tingkat akar penyebab dan di tingkat insiden. Di tingkat akar penyebab, masing-masing akar penyebab yang dikategorisasikan untuk tren dan analisis. Sedangkan di tingkat insiden, prinsip yang dilanggar dicatat untuk tren

Distribution Untuk menyebarka informasi terkait insiden, menggunakan web resmi yang hanya dapat diakses oleh karyawan dan yang bekerja di. Informasi terkait insiden tersebut disebarkan dalam bentuk preliminary report yag berisi deskripsi kejadian, hal apa yang salah dan apa yang harus dilakukan untuk mencegah insiden tersebut terjadi
19

kembali.

Identifikasi Penyebab Dalam metodologi untuk analisis dan verifikasi penyebab, CPI menggunakan dua metode, yaitu five why dan why tree. Kedua-duanya adalah pendekatan sistematis untuk mengidentifikasi factor-faktor penyebab (kausal) yang mengakibatkan insiden. digunakan untuk menginvestigasi kecelakaan yang sederhana. Tool ini sangat cepat dan efisien untuk menemukan akar penyebab utama. Namun tidak dapat menemukan penyebab keseluruhannya karena tool ini menyelidiki kegagalan hanya dengan bertanya dan menjawab pertanyaan mengapa. Sedangkan dapat menemukan semua penyebabnya karena dengan tool ini dapat melihat urutan penyebab dari yang langsung, tidak langsung sampai yang paling mendasar. Identifikasi solusi Memberikan prioritas tinggi untuk memperbaiki bahaya secara langsung dimanapun bahaya tersebut berada. Rekomendasi itu harus mampu menghilangkan insiden agar tidak terjadi lagi atau mengurangi konsekuensi jika terulang lagi dan/atau mengurangi frekuensi terulang kembali. Prioritas harus diberikan untuk sebuah rekomendasi. Mengembangkan rekomendasi yaitu daftar akar penyebab, jika mungkin mengelompokkan akar penyebab yang mirip bersama-sama, mengembangkan rekomendasi yang membahas akar penyebab masalah dan mencegah insiden terulang kembali, menilai rekomendasi tersebut serta memprioritaskan rekomendasi untuk pelaksanaannya. Untuk mengatasi akar ganda, maka penting untuk melihat akar permasalahan secara total. Untuk menyatakan rekomendasi secara jelas maka harus, yaitu a. Spesifik : apa yang perlu dilakukan

b. Measurable (terukur) : bagaimana mengetahui hal yang ingin dilakukan c. Accountable : diberikan kepada seseorang

d. Relevant : dapat mencegah terulang kembali, biaya yang efektif, tidak akan menambah masalah lain e. Time limits (batas waktu) : memiliki batasan waktu
20

Untuk tindak lanjut dan penanganan rekomendasi, proses harus termasuk mekanisme pelacakan untuk mengelola dan mendokumentasikan pelaksanaan, mengkomunikasikan rekomendasi kepada orang lain yang dipengaruhi oleh rencana serta dilakukan sampai selesai.

Penyebaran Laporan merupakan alat utama untuk mengkomunikasikan hasil penyelidikan. Laporan merupakan alat utama untuk mengkomunikasikan hasil penyelidikan. Laporan harus dalam bentuk yang sederhana tetapi berisi fakta, hanya berisi rincian temuan yang sudah diverifikasi. Laporan ditulis menggunakan teknik keterampilan menulis. Laporan termasuk dokumen pendukung dan data yang dilampirkan untuk laporan. Dalam investigasi dokumen konten yang harus dilaporkan yaitu deskripsi dari proses investigasi yang dilakukan, anggota tim, hasil dari investigasi (ringkasan kejadian, urutan kejadian, akar penyebab termasuk bagaimana kejadian itu terjadi dan kategorisasinya), rekomendasi dan lampiran lampiran.

Resolution Setelah dokumen diinvestigasi, kemudian dilakukan peninjauan dan pelaporan isu. Dalam meninjau dan melaporkan isu melakukan beberapa proses, yaitu a. b. c. d. e. Tinjauan tim Tinjauan hukum jika berlaku Rancangan tinjauan dengan manajemen Mengeluarkan laporan akhir Mengkomunikasikan pelajaran

Mengembangkan Urutan waktu digunakan untuk mengatur fakta. Hal ini dilakukan dengan cara meletakkan semua fakta yang diketahui pada urutan waktu kejadiannya, mulai dengan urutan kejadian yang diperlukan untuk mengidentifikasi semua penyebab potensial
21

termasuk menanggapi kasus jika dampak yang diakibatkan oleh insiden tersebut besar. Urutan waktu juga dapat membantu untuk mencegah langsung mengambil kesimpulan atas kejadian tersebut. Teknik yang digunakan untuk mendapatkan urutan waktu ini tidak dengan mengintimidasi tetapi fokus pada fakta-fakta.

Mengidentifikasi sistem pelindung Sistem pelindung adalah setiap sistem manajemen atau sistem perangkat keras yang mengurangi potensi terjadinya insiden atau konsekuaensi dari suatu insiden. memungkinkan tim memikirkan penyebab lain karena tinjauan dari daftar item ini akan dilakukan selama analisis akar penyebab. Tujuan disini adalah untuk mengakui beberapa item penting bahwa tim tidak akan lupa daftar ini akan di tinjau ulang pada akhir langkah analisis untuk memastikan ide-ide potensial telah ditangani dan tidak lagi dianggap kritis.

Verifikasi penyebab Dalam melakukan verifikasi penyebab, beberapa tehnik yang dilakukan oleh CPI adalah pengamatan, testing/ lab analysis, data (tulisan/electronic), teori ahli, kebijaksanaan konvensional dan wawancara

Pencegahan Insiden di Lapangan (Gathering Station dan Well Work) Secara umum untuk pencegahan maupun penangan insiden dilapangan sama dengan penanganan insiden di bagian yang lain, hanya saja ada beberapa pencegahan dan respon terhadap insiden di lapangan yang disesuaikan dengan kondisi lapangannya. Berdasarkan hasil observasi yang dilakukan, pencegahan terhadap insiden di lapangan sudah sangat baik, misalnya di setiap tempat yang memiliki sumber bahaya sudah ada peringatan sumber bahaya apa saja yang ada dan PPE apa yang harus digunakan saat berada dilokasi tersebut dan maintenance untuk setiap peralatan juga sudah dilakukan secara berkala sesuai kebutuhan setiap peralatannya.

22

2.6 Kebijakan Perusahaan di Bidang K3

Dalam manual P2K3 Departemen Tenaga Kerja, kebijakan K3 merupakan pernyataan terhadap sasaran, tujuan dan prinsip-prinsip operasional yang melandasi organisasi. Perencanaan dari operasional organisasi yang meliputi tentang K3 harus datang dan dikeluarkan oleh pimpinan perusahaan, sehingga dapat meletakkan masalah K3 ke dalam prespektif seluruh jajaran manajemen Berdasarkan hasil wawancara dengan penyelia diketahui kebijakan K3 di lingkungan Pabrik Kelapa Sawit Tanjung Medan bukanlah usulan dari P2K3 namun sudah menjadi kebijakan perusahaan sejak dini dan sudah dikeluarkan secara tertulis. Keluarnya kebijakan K3 tersebut dengan pertimbangan untuk meningkatkan produktivitas pekerja serta menghindari kerugian-kerugian lainnya yang diakibatkan tidak diterapkannya kebijakan K3 tersebut.

2.7 Pengawasan Kebijakan di Bidang K3 Pengawasan terhadap kebijakan K3 di Pabrik Kelapa Sawit Tanjung Medan hanya dilakukan oleh pihak perusahaan (internal pabrik). Sampai saat ini pengawasan untuk menangani masalah K3 telah direkrut dan bertugas di lingkungan Pabrik dari instansi lain belum pernah dilakukan, hal ini disebabkan tenaga kerja yang dilatih Kelapa Sawit Tanjung Medan. Program pengawasan terhadap program K3 yang dilakukan personil P2K3 dilaksanakan setiap bulannya untuk melihat sejauhmana program K3 sudah berjalan dan setiap hari anggota P2K3 memastikan departemen yang dibawahinya telah menjalankan program K3 yang telah ditetapkan oleh perusahaan. Personil P2K3 melakukan pengawasan terhadap program kerja P2K3 dengan menggunakan daftar cheklist dan chek dokumen yang berisikan tentang seluruh tindakan pengawasan yang harus dilakukan seperti pemeriksaan lingkungan kerja, pemeriksaan kondisi yang dapat membahayakan dan pemeriksaan sikap yang dapat membahayakan masing-masing seksi seperti di administration section, quality section, water waste treatment plant section, process section, shore tank section, dan lain-lain. Ketua P2K3 melaksanakan pengawasan dengan inspeksi (meninjau lapangan) ke
23

lapangan dan Pelaksanaan pengawasan yang dilaporkan berupa daftar isian program K3menerima laporan dari pengawasan yang dilakukan anggota P2K3pada tahun selanjutnya. Menurut Widjanarko (1997) bahwa pengawasan yang harus dilakukan oleh anggota P2K3 di unit kerja adalah melakukan pemeriksaan K3 untuk mengetahui sampai sejauhmana penerapan K3 di unit kerja tersebut telah dilaksanakan dan bagaimana perkembangannya.

24