Anda di halaman 1dari 5

REFLEKSI DISKUSI KASUS

WAKTU

: 1 sesi @ 90 menit

TUJUAN INSTRUKSIONAL UMUM Peserta memahami tentang refleksi diskusi kasus, serta dapat berperan aktif dan mengikuti proses RDK yang terjadi dalam organisasi tempat mereka bekerja. TUJUAN INSTRUKSIONAL KHUSUS Meningkatnya pengetahuan peserta tentang : 1. 2. 3. MATERI 1. 2. 3. 4. METODA 1. 2. 3. 4. Kuliah singkat Interaksi Kerja Kelompok Presentasi Diskusi Pleno

RENCANA PEMBELAJARAN : Bagian Topik Metode Waktu Bagian Topik Metode Waktu Bagian Metode Waktu Bagian Topik Metode Waktu A : : B : : : C : : D : Evaluasi pembelajaran : Tanya Jawab : 10 menit Pleno 30 menit Kerja Kelompok (Diskusi kelompok) 30 menit Refleksi Diskusi Kasus Kuliah Singkat : 30 menit

M A T E R I REFLEKSI DISKUSI KASUS

Pendahuluan Pengembangan profesionalisme masa kini bagi perawat dan bidan menjadi tantangan, dimana mutu pelayanan yang tinggi akan menjadi tuntutan dari pelanggan. Peningk atan profesionalisme dapat dilakukan dengan berbagai cara, salah satunya melalui refleksi diskusi kasus (RDK) sebagai suatu metoda baru yang diperkenalkan di In donesia. Apabila dilaksanakan secara rutin dan konsisten oleh kelompok masing-ma sing akan dapat mendorong perawat dan bidan lebih memahami hubungan standar deng an kegiatan pelayanan yang dilakukan sehari-hari. Mempraktekkan RDK juga dapat d ikatakan sebagai bagian in-service training yang sangat efektif dan sangat efisien. K esadaran akan kebutuhan untuk berkembang adalah menjadi salah satu tanggung jawa b perawat dan bidan terhadap dirinya sendiri dan profesinya. Melalui peningkatan profesionalisme setiap anggota profesi akan dapat pula meningkatkan kinerja per awat dan bidan sesuai standar dalam memberikan pelayanan yang bermutu untuk meme nuhi harapan masyarakat. Pengertian Refleksi diskusi kasus adalah suatu metoda dalam merefleksikan pengalaman klinis perawat dan bidan yang mengacu kepada pemahaman terhadap standar. Tujuan 1. 2. 3. Untuk mengembangkan profesionalisme perawat dan bidan Meningkatkan aktualisasi diri perawat dan bidan Membangkitkan motivasi untuk belajar.

Persyaratan 1. Suatu kelompok perawat atau kelompok bidan terdiri dari 5 8 orang 2. Salah satu anggota kelompok berperan sebagai fasilitator, satu orang lag i sebagai penyaji dan lainnya sebagai peserta. 3. Posisi fasilitator, penyaji dan peserta lain dalam diskusi setara (equa l) 4. Kasus yang disajikan oleh penyaji merupakan pengalaman klinis keperawata n atau kebidanan yang menarik. 5. Posisi duduk sebaiknya melingkar tanpa dibatasi oleh meja atau benda lai nnya, agar setiap peserta dapat saling bertatapan dan berkomunikasi secara bebas . 6. Tidak boleh ada interupsi dan hanya satu orang saja yang berbicara dalam satu saat, peserta lainnya memperhatikan proses diskusi. 7. Tidak diperkenankan ada dominasi, kritik yang dapat memojokkan peserta l ainnya. 8. Membawa catatan diperbolehkan, namun perhatian tidak boleh terkikis atau tertumpu hanya pada cataan, sehingga dapat mengurangi perhatian dalam berdiskus i.

Proses Diskusi Meliputi 1. Sistem yang didukung oleh manajer lini pertama (kepala ruangan/superviso r di puskesmas) yang mendorong serta mewajibkan anggotanya untuk melaksanakan RD K secara rutin, terencana dan terjadwal dengan baik. 2. Kelompok perawat atau kelompok bidan berbagi (sharring) pengalaman klini s dan iptek diantara sejawat masing-masing selama 1 jam, minimal setiap bulan se kali. 3. Setiap anggota secara bergilir mendapat kesempatan dan menimba pengalama n sebagai fasilitator, penyaji dan sebagai anggota dalam diskusi tersebut. 4. Proses diskusi memberikan kesempatan kepada setiap anggota untuk menyamp aikan pendapat dengan cara mengajukan pertanyaan-pertanyaan sedemikian rupa yang merefleksikan pengalaman, pengetahuan serta kemampuan masing-masing. 5. Selama diskusi berlangsung harus dijaga agar tidak ada pihak-pihak yang nerasa tertekan ataupun terpojok. Yang diharapkan terjadi justru sebaliknya yait u dukungan dan dorongan bagi setiap peserta agar terbiasa menyampaikan pendapat mereka masing-masing. 6. Refleksi Diskusi Kasus dapat dimanfaatkan sebagai wahana untuk memecahk an masalah, namun tidak dipaksakan (tidak harus). 7. Adanya catatan kehadiran dan laporan RDK serta catatan tentang isu-isu y ang muncul tidak terjadi atau terulang lagi. 8. RDK merupakan salah satu metoda in-service training yang mengandung ciri -ciri pembelajaran antar sejawat dalam satu profesi, sebagai salah satu sarana u ntuk meningkatkan kemampuan perawat atau bidan. Peran sebagai Fasilitator, Penyaji dan Anggota A. Pedoman Bagi Fasilitator 1. Membuka pertemuan dan mengucapkan selamat datang 2. Menyampaikan tujuan pertemuan, mengajak semua peserta untuk merefleksika n pengalaman klinis masing-masing. 3. Meminta persetujuan tentang lamanya waktu diskusi (kontrak waktu). 4. Menyampaikan syarat-syarat selama pertemuan. 5. Mempersilakan penyaji untuk mempresentasikan kasusnya selama 10 20 menit. 6. Fasilitator memberikan kesempatan kepada peserta untuk mengajukan pertan yaan secara bergilir selama 30 menit. 7. Mengatur lalu lintas pertanyaan-pertanyaan yang diajukan oleh peserta da n klarifikasi bila ada yang tidak jelas. 8. Fasilitator boleh mengajukan pertanyaan sama seperti peserta lainnya. 9. Setelah pertanyaan berakhir, fasilitator bertanya kepada presenter, apa yang bisa dipelajari dari diskusi tersebut, kemudian dilanjutkan kepada semua pe serta lainnya satu persatu, termasuk fasilitator sendiri juga memberikan pendapa tnya. 10. Fasilitator membuat kesimpulan dan menyampaikan issue-issue yang muncul berdasarkan pernyataan-pernyataan yang disampaikan oleh semua peserta. 11. Fasilitator melengkapi catatan RDK meliputi materi, issue-issue yang mun cul, termasuk meminta tanda tangan semua peserta. 12. Selanjutnya fasilitator meminta kesepakatan untuk rencana pertemuan beri kutnya. 13. Fasilitator menutup pertemuan dan berjabat tangan. 14. Fasilitator menyimpan laporan RDK pada arsip yang telah ditentukan bersa ma. B. Pedoman Bagi Penyaji 1. Memikirkan serta menyiapkan kasus klinis keperawatan atau kebidanan yang pernah dialami atau pernah terlibat didalam perawatannya. 2. Menjelaskan kasus tersebut dan tetap merahasiaan identitas pasen. 3. Tujuan penyajian kasus memberikan kesempatan bagi penyaji untuk berfikir atau berefleksi ulang tentang bagaimana pasen tersebut ditangani, hambatan apa

saja yang dialami serta keberhasilan apa saja yang telah dicapai. 4. Penyaji mempunyai kesempatan 10-20 menit untuk menyajkan kasus tersebut. 5. Bila penyajian telah selesai, peserta akan mengajukan pertanyaan-pertany aan berupa klarifikasi penanganannya. Mereka tidak akan mengatakan apa yang haru s anda lakukan atau memberi jawaban maupun saran apapun. 6. Penyaji menyimak pertanyaan dan memberikan jawaban sesuai dengan pengeta huan serta pengalaman nyata yang telah dilakukan dan merujuk pada standar yang r elevan atau SOP yang berlaku. 7. Bila perlu mencatat esensi penting dari pertanyaan-pertanyaan yang diaju kan, atau hal-hal yang belum pernah diketahui sebelumnya sebagai informasi baru. 8. Bila tidak ada lagi pertanyaan, fasilitator akan meminta anda sebagai or ang pertama dalam kelompok untuk menyampaikan apa saja yang dapat dipelajari dar i kasus tersebut, terutama berhubungan dengan informasi baru yang dianggap dapat memberikan tambahan pengetahuan atau sesuatu hal yang pernah diketahui tetapi d ilupakan. Semua hal tersebut diyakini akan dapat dipergunakan untuk perbaikan ki nerja pada waktu yang akan datang. C. Pedoman Bagi Anggota/Peserta 1. Setelah memperhatikan penyajian kasus tersebut , setiap peserta menyiapk an pertanyaan-pertanyaan, minimal satu pertanyaan. Kesempatan seluas-luasnya dib erikan untuk melakukan klarifikasi atas penanganan kasus tersebut. 2. Didalam mengajukan pertanyaan, cobalah merujuk pada standar atau SOP yan g berlaku, refleksi ulang bila anda mempunyai pengalaman dalam menangani kasus s emacam itu atau iptek terbaru yang diketahui. 3. Peserta tidak diperbolehkan untuk memberikan jawaban, saran secara langs ung atau memberitahukan bagaimana seharusnya perawatan pasen itu harus dilakukan . 4. Bila anda berpikir bahwa penyaji melakukan perawatan dengan cara yang b erbeda , tidak sesuai standar atau tidak sesuai dengan SOP yang berlaku, anda di larang keras untuk melakukan kritik. Anda hanya dapat melakukan klarifikasi kepa da penyaji apakah dia telah memikirkan cara lain seperti apa yang anda pikirkan. 5. Selama diskusi berlangsung semua peserta memberikan perhatian penuh, kar ena sangat mungkin dari setiap pertanyaan atau klarifikasi yang muncul, ada dian taranya yang belum pernah diketahui oleh peserta lainnya. Ini merupakan kesempat an bagi semua anggota untuk belajar serta memperoleh informasi atau pengetahuan baru dari proses diskusi ini dalam waktu yang relatif sangat singkat. 6. Perlu diingat bahwa semua anggota kelompok juga akan belajar dari pemiki ran anda. 7. Peserta mempunyai waktu 20-30 menit untuk mengajukan pertanyaan, setelah itu anda perlu menyimak kembali apa yang dapat anda pelajari dari proses diskus i kasus tersebut, guna dapat menjawab dengan tepat pertanyaan dari fasilitator p ada akhir sesi tersebut. 8. Kesimpulan tentang issue-issue yang muncul dapat dijadikan cermin bagi s emua peserta, agar kejadian atau masalah yang sama tidak terulang dimasa yang ak an datang.

Penugasan 1. Kelompok dibagi dalam kelompok bidan RS dan Puskesmas serta kelompok per awat RS dan puskesmas 2. Pelaksanaannya diawasi oleh bidan dan perawat trainers. Kesimpulan Refleksi Diskusi Kasus (RDK) merupakan metoda baru yang dapat menuntun perawat d an bidan dalam satu kelompok diskusi, baik di rumah sakit maupun puskesmas untuk berbagi pengetahuan serta pengalaman klinisnya yang didasarkan atas standar yan g berlaku. Proses diskusi yang berlangsung memberikan ruang dan waktu bagi setia p peserta untuk merefleksikan pengalaman serta kemampuannya , tanpa tekanan, bah

kan terkondisi bahwa setiap peserta saling mendukung, utamanya bagi perawat ata u bidan yang tidak terbiasa atau kurang percaya diri dalam menyampaikan pendapat . Issue-issue yang muncul dapat menambah pengetahuan peserta dan dapat dijadikan s ebagai bahan pertimbangan dalam perbaikan suatu SOP atau membuat yang baru bila diperlukan. Selain itu issue yang muncul dapat dijadikan cermin dimasa yang akan datang tidak terulang kembali. Pemahaman peserta terhadap standar maupun SOP ya ng semakin meningkat berarti akan semakin meningkatkan profesionalisme mereka, sebagai landasan untuk melakukan kinerja yang bermutu tinggi. Evaluasi Proses 1. Apa yang dimaksud dengan Refleksi Diskusi Kasus (RDK) ? 2. Sebutkan tujuan dilaksanakan RDK ! 3. Sebutkan beberapa hal yang tidak boleh dilakukan selama RDK berlangsung dan apa alasannya! 4. Apa saja manfaat dari issue-issue yang muncul dalam proses RDK ? 5. Mengapa RDK dikatakan sebagai salah satu metoda dalam in-service trainin g ? Referensi Hennesy, D, (2001), Reflective Case Discussion lopment Management System, Jogjakarta. Modul of Clinical Performance and Deve

Beri Nilai