Anda di halaman 1dari 15

LOMBA PENULISAN ARTIKEL PERKEBUNAN Tema Pembangunan Perkebunan Kelapa Sawit Yang Berkelanjutan Berwawasan Lingkungan Dalam Menuju

Kesejahteraan Masyarakat

Judul Artikel WISATA AGRO PERKEBUNAN KELAPA SAWIT Sebagai Bentuk Pembangunan Perkebunan Kelapa Sawit Yang Berkelanjutan Berwawasan Lingkungan Dalam Menuju Kesejahteraan Masyarakat

Oleh : V I N A D E S Y A N A

PONTIANAK 2012

BIOGRAFI SINGKAT PENULIS Nama Tempat, tanggal lahir Status : VINA DESYANA : Pontianak, 29 Desember 1992 : Mahasiswa aktif semester V Prodi Pendidikan Kimia FKIP Universitas Tanjungpura Alamat No. HP Email : Jl. Tanjung Pura Gg. Tani Komp. Mitra Keluarga B 5 : 0852 5044 1236 : vinadesyana39@yahoo.com

Latar Belakang dan Ringkasan Isi Artikel Kelapa sawit merupakan salah satu komoditi unggulan yang menjadi solusi bagi krisis energy dunia karena dapat dikembangkan menjadi bahan bakar biofuel. Selain itu, terdapat berbagai produk unggulan lain yang merupakan hasil pengolahan kelapa sawit, seperti komestik, lilin, sabun, margarine, minyak goreng, yoghurt, obat-obatan, pulp, karbon aktif, asap cair, pakan ternak, dll. Indonesia merupakan negara yang sangat diuntungkan dan patut bersyukur karena memiliki lahan yang luas dan cocok bagi perkebunan kelapa sawit, khususnya Kalimantan Barat. Perkebunan kelapa sawit pada saat ini berbeda dengan perkebunan kelapa sawit konvensional. Dalam perkebunan kelapa sawit konvensional, eksklusifitas menjadi ciri yang utama, dimana masyarakat dan kondisi lingkungan di sekitarnya diabaikan. Hal ini berbeda dengan perkebunan kelapa sawit modern yang bercirikan inklusifitas. Masyarakat dan kondisi lingkungan menjadi faktor yang cukup dominan untuk diperhitungkan dalam beroperasinya perkebunan kelapa sawit dan disinilah RSPO memainkan peranan yang signifikan dalam menjadikan perkebunan kelapa sawit menjadi perkebunan yang dapat diterima oleh semua pihak. Pembangunan berkelanjutan hanya dapat dicapai jika dampak sosial dan dampak lingkungan seimbang dengan tujuan ekonomi yang diharapkan. Pariwisata sebagai salah satu sektor pembangunan tidak dapat dilepaskan kaitannya dengan pembangunan berkelanjutan yang telah dicanangkan oleh pemerintah sesuai dengan tujuan pembangunan nasional. Wisata agro Perkebunan Kelapa Sawit adalah salah satu bentuk kegiatan wisata yang dilakukan di kawasan perkebunan kelapa sawit yang menyajikan suguhan pemandangan alam kawasan perkebunan dan aktivitas di dalamnya seperti persiapan lahan, penanaman, pemeliharaan, pemanenan, pengolahan hasil panen sampai dalam bentuk siap dipasarkan dan bahkan wisatawan dapat membeli produk-produk unggulan kelapa sawit tersebut sebagai oleh-oleh. Wisata agro memiliki banyak manfaat baik itu bagi petani local, masyarakat, swasta dan pemerintah. Hal itu diantaranya dapat menciptakan produk wisata baru (diversifikasi), memunculkan peluang bagi petani local untuk meningkatkan pendapatan, dan menjadi sarana pendidikan bagi masyarakat awam. Di Kalimantan Barat banyak sekali daerah yang dapat diseleksi menjadi kawasan wisata agro perkebunan kelapa sawit antara lain Kapuas Hulu, Ketapang, Landak, Sanggau, dsbg. Pemeran utama didalam wisata agro adalah petani, pengunjung/wisatawan, dan pemerintah atau institusi. Peran mereka bersama dengan interaksi mereka adalah penting untuk menuju sukses dalam pengembangan wisata agro.

WISATA AGRO PERKEBUNAN KELAPA SAWIT Sebagai Bentuk Pembangunan Perkebunan Kelapa Sawit Yang Berkelanjutan Berwawasan Lingkungan Dalam Menuju Kesejahteraan Masyarakat

Kelapa Sawit, Anugerah Tuhan bagi Indonesia Krisis energi untuk bahan dasar kehidupan manusia telah menjadi fakta yang sangat mengkhawatirkan. Energi alternatif menjadi pilihan tepat dalam rangka mengantisipasi kekhawatiran akan krisis energi. Salah satu pengembangan sektor energi alternatif adalah pengembangan perkebunan kelapa sawit untuk dikembangkan menjadi bahan bakar biofuel. Beberapa institusi seperti Bank Dunia (World Bank) dan International Finance Corporation (IFC) menaruh perhatian khusus dalam mengembangkan sustainable energy melalui bahan dasar kelapa sawit. Indonesia merupakan salah satu negara yang sangat diuntungkan dengan adanya perubahan penggunaan energi dunia ini karena hanya dua negara yang mendominasi industri/perkebunan kelapa sawit, yaitu Malaysia dan Indonesia. Malaysia pertumbuhannya cenderung melambat karena adanya keterbatasan lahan, sedangkan di Indonesia potensi pengembangan lahannya masih terbuka. Sebagai informasi, luas lahan kelapa sawit di Indonesia kira-kira 8,5 juta hektar. Persentase 5% dari luas lahan Indonesia yang 190 juta hektar. Sementara itu luas wilayah Provinsi Kalimantan Barat adalah 146.807 km (7,53% luas Indonesia). Berdasarkan Perda Nomor 5 Tahun 2004 tentang RTRW Provinsi Kalimantan Barat, luas wilayah Kalimantan Barat adalah 14.680.700 Ha ,dari keluasan tersebut 41,54 % merupakan Pertanian Lahan Kering (PLK) seluas 6.097.913 Ha. Dari 6.097.913 Ha yang memungkinkan, Dinas Perkebunan Provinsi Kalimantan Barat mengalokasikan untuk lahan perkebunan seluas 3.500.000 Ha dan 1.500.000 Ha dikhususkan bagi perkebunan kelapa sawit. 683.108,19 Ha lahan dari 1.500.000 Ha yang sudah terealisasi penanamannya oleh perusahaan sawit yang telah mengantongi Izin Lokasi, IUP, dan HGU. Dalam rangka mengembangkan Biofuel ini, beberapa perusahaan perkebunan kelapa sawit mulai menerapkan konsep mengenai sustainable palm oil, sehingga pasokan Biofuel juga tidak lantas mengabaikan kondisi sosial dan lingkungan yang terdapat di sekitar perkebunan

kelapa sawit. Terlebih lagi dengan keberadaan Roundtable Sustainable Palm Oil (RSPO), perkebunan kelapa sawit berkewajiban untuk menjaga aspek lingkungan dan memperhatikan kondisi sosial yang ada di sekitarnya.

Kelapa Sawit yang Multifungsi Kelapa Sawit sebagai tanaman industri memiliki berbagai macam kegunaan baik untuk industri pangan maupun non pangan. Minyak sawit dapat digunakan untuk begitu beragam peruntukannya karena keunggulan sifat yang dimilikinya yaitu tahan oksidasi dengan tekanan tinggi, mampu melarutkan bahan kimia yang tidak larut oleh bahan pelarut lainnya, mempunyai daya melapis yang tinggi dan tidak menimbulkan iritasi pada tubuh dalam bidang kosmetik. Bagian yang paling populer untuk diolah dari kelapa sawit adalah buah. Bagian daging buah menghasilkan minyak kelapa sawit mentah yang diolah menjadi bahan baku minyak goreng dan berbagai jenis turunannya. Kelebihan minyak nabati dari sawit adalah harga yang murah, rendah kolesterol, dan memiliki kandungan karoten tinggi. Minyak sawit juga diolah menjadi bahan baku margarin. Minyak inti menjadi bahan baku minyak alkohol dan industri kosmetika. Daging dan kulit buahnya mengandung minyak. Minyaknya itu digunakan sebagai bahan minyak goreng, sabun, dan lilin. Ampasnya dimanfaatkan untuk makanan ternak. Ampas yang disebut bungkil inti sawit itu digunakan sebagai salah satu bahan pembuatan makanan ayam. Tempurungnya digunakan sebagai bahan bakar dan arang. Sisa pengolahan buah sawit sangat potensial menjadi bahan campuran makanan ternak dan difermentasikan menjadi kompos. Secara umum, kegunaan-kegunaan diatas dapat dikelompokkan sebagai berikut: 1. Produk pangan Berasal dari minyak sawit / CPO dan minyak inti sawit antara lain: emulsifier, margarine, minyak goreng, minyak makan, shortening, vanaspati, confectioneries, es krim, yoghurt. 2. Produk non pangan/Oleochemicals

Berasal dari minyak sawit / CPO dan minyak inti sawit antara lain: senyawa ester, lilin, kosmetik, farmasi, biodiesel. 3. Produk samping / limbah antara lain: tandan kosong sawit untuk pulp dan kertas, kompos, karbon dan rayon cangkang untuk bahan bakar dan karbon aktif, asap cair, fenol, briket arang, dan tepungtempurung. serat untuk medium density atau fibre board dan bahan bakar pelepah dan batang sawit untuk furniture, pulp & kertas, pakan ternak bungkil inti sawit untuk pakan ternak sludge untuk pakan ternak

Urgensi Peranan RSPO dalam Pembangunan Perkebunan Kelapa Sawit yang Berkelanjutan Berwawasan Lingkungan Perusahaan perkebunan kelapa sawit harus memiliki kejelasan komitmen dalam mengembangkan pola produksi perkebunan kelapa sawit yang berkelanjutan, terutama dari aspek lingkungan dan aspek sosial. Roundtable Sustainable Palm Oil (RSPO) berisi prinsip dan kriteria yang mencakup aspek lingkungan dan aspek sosial. Prinsip dan kriteria yang terdapat di dalam RSPO wajib dilaksanakan oleh setiap perusahaan perkebunan kelapa sawit, sehingga perusahaan perkebunan kelapa sawit yang berkelanjutan harus memiliki komitmen sosial dan komitmen lingkungan. Untuk menghindari degradasi lingkungan secara berlebihan, RSPO yang beranggotakan berbagai pihak hadir untuk mewujudkan perkebunan kelapa sawit yang berkelanjutan berwawasan lingkungan di Indonesia. Upaya untuk mewujudkan perkebunan kelapa sawit yang berkelanjutan ini dapat dilihat dalam 8 Prinsip di dalam RSPO, yaitu: 1. komitmen terhadap transparansi 2. Memenuhi hukum dan peraturan yang berlaku 3. Komitmen terhadap ekonomi dan kelayakan jangka panjang 4. Penggunaan praktik terbaik dan tepat oleh perkebunan dan pabrik 5. Tanggungjawab lingkungan dan konservasi kekayaan alam dan keanekaragaman hayati

6. Tanggungjawab kepada pekerja, individu-individu dan komunitas dari kebun dan pabrik 7. Pengembangan perkebunan baru secara bertanggung jawab 8. Komitmen terhadap perbaikan terus menerus pada wilayah-wilayah utama aktivitas. Dari keberadaan RSPO sendiri memiliki implikasi berantai, yaitu: 1. Perusahaan perkebunan kelapa sawit yang telah memperoleh sertifikasi RSPO akan dinilai bahwa perusahaan tersebut sudah memiliki akuntabilitas terhadap aspek sosial dan aspek lingkungan. 2. Preferensi pasar akan tergiring kepada Crude Palm Oil/minyak sawit mentah yang environmental friendly dan akan memberikan keuntungan yang signifikan bagi pihak perusahaan. 3. Kualitas lingkungan dapat dimonitoring dengan alat monitoring yang terukur dan dapat dibuktikan secara ilmiah. 4. Keterlibatan masyarakat dalam mendukung perkebunan kelapa sawit akan memberikan keamanan investasi sekaligus juga memberikan manfaat positif bagi masyarakat yang bersangkutan.

Dengan demikian, perkebunan kelapa sawit pada saat ini berbeda dengan perkebunan kelapa sawit konvensional. Dalam perkebunan kelapa sawit konvensional, eksklusifitas menjadi ciri yang utama, dimana masyarakat dan kondisi lingkungan di sekitarnya diabaikan. Hal ini berbeda dengan perkebunan kelapa sawit modern yang bercirikan inklusifitas. Masyarakat dan kondisi lingkungan menjadi faktor yang cukup dominan untuk diperhitungkan dalam beroperasinya perkebunan kelapa sawit dan disinilah RSPO memainkan peranan yang signifikan dalam menjadikan perkebunan kelapa sawit menjadi perkebunan yang dapat diterima oleh semua pihak.

CSR sebagai Komitmen Sosial Perusahaan Perkebunan Kelapa Sawit Perkembangan areal perkebunan kelapa sawit di Indonesia semakin meluas. Perluasan tersebut kerapkali menyemai kontroversi dan hubungan konfliktual antara pihak perusahaan, pemerintah (daerah maupun pusat) dan pihak Lembaga Swadaya Masyarakat yang berorientasi environmentalist. Kontestasi ini dapat diartikan bahwa masing-masing pihak memaknai dan memiliki pandangan yang berbeda terhadap pengembangan perkebunan

kelapa sawit. Pihak perusahaan melihat bahwa pengembangan perkebunan kelapa sawit sejalan dengan upaya untuk menciptakan lapangan pekerjaan bagi masyarakat, terutama masyarakat di sekitar perkebunan. Pihak pemerintah melihat bahwa pengembangan perkebunan kelapa sawit merupakan langkah strategis yang dilakukan oleh pemerintah daerah dalam mengundang investor untuk berinvestasi di daerahnya, sehingga diharapkan dengan keberadaan investasi di daerahnya, maka akan secara otomatis mendongkrak pendapatan asli daerah. Kemudian, pihak LSM akan melihat bahwa pengembangan perkebunan kelapa sawit berkontribusi bagi kerusakan hutan dan degradasi lingkungan. Ketiga pihak yang saling berargumentasi ini belum menemukan kesepahaman dan kesamaan pandangan dalam memandang pengembangan perkebunan kelapa sawit hingga pada saat ini, terutama pihak perusahaan perkebunan kelapa sawit dengan pihak LSM. Namun, apabila kita melihat secara lebih dalam dan lebih netral mengenai perseteruan yang mungkin sulit untuk berakhir antara pihak perusahaan perkebunan kelapa sawit dengan LSM lingkungan, sebenarnya Roundtable Sustainable Palm Oil (RSPO) hadir sebagai sarana untuk mengembangkan perkebunan kelapa sawit secara berkelanjutan. Keanggotaan RSPO ini juga terdiri dari berbagai stakeholder, yaitu pemerintah, LSM, pengusaha perkebunan kelapa sawit, sehingga RSPO dilihat dari segi keberadaannya merupakan lembaga intermediary dan memiliki aturan yang harus dipenuhi oleh anggota RSPO dalam rangka mengembangkan perkebunan kelapa sawit yang berkelanjutan. Tentunya dengan adanya RSPO, perkebunan kelapa sawit secara tidak langsung diharapkan dapat mentransformasikan dirinya dari perkebunan kelapa sawit konvensional menuju perkebunan kelapa sawit yang modern. Pengertian perkebunan kelapa sawit yang modern dalam hal ini adalah perkebunan kelapa sawit yang memiliki perhatian penuh dalam memberikan dampak positif bagi masyarakat di sekitarnya dengan tidak mengurangi kualitas lingkungan secara signifikan. Undang-undang Nomor 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas yang disahkan DPR tanggal 20 Juli 2007 menandai babak baru pengaturan CSR, yaitu keempat ayat dalam Pasal 74 UU tersebut menetapkan kewajiban semua perusahaan dibidang sumber daya alam untuk melaksanakan tanggung jawab sosial dan lingkungan. Respon perusahaan perkebunan kelapa sawit cukup positif di dalam menerapkan komitmen sosial sebagaimana tercantum di dalam UU No. 40 tahun 2007, bahkan sudah tidak heran lagi perusahaan perkebunan kelapa sawit mengembangkan Corporate Social Responsibility (CSR) sebagai bentuk nyata atas kepeduliannya terhadap masyarakat di sekitar perkebunan.

Potensi Wisata Agro dalam Pembangunan Perkebunan Kelapa Sawit yang Berkelanjutan Berwawasan Lingkungan

Pembangunan berkelanjutan (sustainable development) menjadi tema yang kuat dan kontroversial. Kuat karena hampir semua negara di dunia menyetujui tema ini, kontroversial karena tema ini seolah-olah menjadi retorika belaka bagi negara- negara dunia maju. Pembangunan berkelanjutan hanya dapat dicapai jika dampak sosial dan dampak lingkungan seimbang dengan tujuan ekonomi yang diharapkan. Pariwisata sebagai salah satu sektor pembangunan tidak dapat dilepaskan kaitannya dengan pembangunan berkelanjutan yang telah dicanangkan oleh pemerintah sesuai dengan tujuan pembangunan nasional. Pariwisata yang melibatkan antara lain pelaku, proses

penyelenggaraan, kebijakan, supply dan demand, politik, sosial budaya yang saling berinteraksi dengan eratnya, akan lebih realistis bila dilihat sebagai sistem dengan berbagai subsistem yang saling berhubungan dan mempengaruhi. Dalam kerangka kesisteman tersebut, pendekatan terhadap fungsi dan peran pelaku, dampak lingkungan, peningkatan pengetahuan dan kesejahteraan masyarakat, serta kesetaraan dalam proses penyelenggaraan menjadi semakin penting. Wisata agro Perkebunan Kelapa Sawit adalah salah satu bentuk kegiatan wisata yang dilakukan di kawasan pertanian yang menyajikan suguhan pemandangan alam kawasan perkebunan dan aktivitas di dalamnya seperti persiapan lahan, penanaman, pemeliharaan, pemanenan, pengolahan hasil panen sampai dalam bentuk siap dipasarkan dan bahkan wisatawan dapat membeli produk-produk unggulan kelapa sawit sebagai oleh-oleh. Wisata agro tersebut ikut melibatkan wisatawan dalam kegiatan-kegiatan pertanian. Wisata agro ini juga merupakan suatu upaya dalam rangka menciptakan produk wisata baru (diversifikasi) dan merupakan kegiatan pengembangan wisata yang berkaitan dengan kegiatan pedesaan dan perkebunan yang mampu meningkatkan nilai tambah kegiatan perkebunan dan kesejahteraan pedesaan. Di Kalimantan Barat banyak sekali daerah yang dapat diseleksi menjadi kawasan wisata agro perkebunan kelapa sawit. Berikut ini adalah data wilayah Potensi Pengembangan Komoditi Kelapa Sawit : No 1 2 3 Nama Daerah Kabupaten Bengkayang Kabupaten Kapuas Hulu Kabupaten Ketapang Luas Lahan Lahan yang sudah Digunakan (Ha): 3.915 Lahan yang sudah Digunakan (Ha): 10.446 Lahan yang sudah Digunakan (Ha): 49.936

Lahan yang sudah Digunakan (Ha): 1.862 Status Lahan: Perkebunan Rakyat 5 Kabupaten Landak Lahan yang sudah Digunakan (Ha): 10.759 6 Kabupaten Melawi Lahan yang sudah Digunakan (Ha): 6.404 7 Kabupaten Pontianak Lahan yang sudah Digunakan (Ha): 164 Status Lahan: Perkebunan Rakyat 8 Kabupaten Sambas Lahan yang sudah Digunakan (Ha): 8.037 Status Lahan: Perkebunan Rakyat 9 Kabupaten Sanggau Lahan yang sudah Digunakan (Ha): 63.238 Status Lahan: Perkebunan Rakyat 10 Kabupaten Sekadau Lahan yang sudah Digunakan (Ha): 24.634 11 Kabupaten Sintang Lahan yang sudah Digunakan (Ha): 19.046 12 Kota Singkawang Lahan yang sudah Digunakan (Ha): 1.260 Sumber : http://regionalinvestment.bkpm.go.id/newsipid/id/commodityarea.php?ia=61&ic=2

Kabupaten Kubu Raya

Pemeran utama didalam wisata agro adalah petani, pengunjung/wisatawan, dan pemerintah atau institusi. Peran mereka bersama dengan interaksi mereka adalah penting untuk menuju sukses dalam pengembangan wisata agro.

Keuntungan dari pengembangan wisata agro bagi petani local khususnya kelapa sawit dapat dirinci sebagai berikut: 1. Wisata agro dapat memunculkan peluang bagi petani lokal untuk meningkatkan pendapatan dan meningkatkan taraf hidup serta kelangsungan operasi mereka; 2. Menjadi sarana yang baik untuk mendidik orang banyak/masyarakat tentang pentingnya pertanian dan kontribusinya untuk perekonomian secara luas dan meningkatkan mutu hidup; 3. Mengurangi arus urbanisasi ke perkotaan karena masyarakat telah mampu mendapatkan pendapatan yang layak dari usahanya di desa (wisata agro) 4. Wisata agro dapat menjadi media promosi untuk produk-produk unggulan kelapa sawit, diantaranya seperti minyak goreng, sabun, lilin, kosmetik, kompos, dan lain sebagainya yang dapat dipasarkan disini. Bahkan kemudian menciptakan nilai tambah dan direct-marking merangsang kegiatan ekonomi masyarakat di daerah dimana wisata agro dikembangkan khususnya di Kalimantan Barat.

Sedangkan manfaat wisata agro bagi pengunjung adalah sebagai berikut: Menjalin hubungan kekeluargaan dengan petani atau masyarakat local, meningkatkan kesehatan dan kesegaran tubuh, beristirahat dan menghilangkan kejenuhan, mendapatkan petualangan yang mengagumkan, mendapatkan makanan yang benar-benar alami, mendapatkan suasana yang benar-benar berbeda, dan biaya yang murah karena wisata agro relatif lebih murah dari wisata yang lainnya. Pola pengelolaan wisata agro yang dikembangkan atau dibangun perlu dilakukan dengan mengikutsertakan masyarakat setempat dalam berbagai kegiatan yang menunjang usaha wisata agro. Dengan keikutsertaan masyarakat di dalam pengembangan wisata agro diharapkan dapat ditumbuhkembangkan interaksi positif dalam bentuk rasa ikut memiliki untuk menjaga eksistensi obyek.

Peran serta masyarakat dapat dilakukan melalui : 1. Masyarakat desa yang memiliki lahan perkebunan kelapa sawit di dalam kawasan yang dibangun agar tetap dapat mengolah lahannya sehingga menunjang peningkatan hasil produk pertanian yang menjadi daya tarik wisata agro dan di sisi lain akan mendorong rasa memiliki dan tanggungjawab di dalam pengelolaan kawasan secara keseluruhan. 2. Melibatkan masyarakat desa setempat di dalam kegiatan perusahaan secara langsung sebagai tenaga kerja, baik untuk pertanian maupun untuk pelayanan wisata, pemandu dan lain-lain. Untuk itu pihak pengelola perlu melakukan langkah-langkah dan upaya untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan tenaga kerja khusus yang berasal dari masyarakat. 3. Menyediakan fasilitas dan tempat penjualan hasil perkebunan kelapa sawit, kerajinan dan cendera mata khas masyarakat desa di sekitar kawasan, sehingga dapat memperkenalkan khas setempat sekaligus untuk meningkatkan penghasilan. Produk-produk unggulan kelapa sawit tersebut dapat dipamerkan dan dijual dalam outlet-outlet sekitar kawasan wisata agro. Disamping itu, dapat pula diikutsertakan di dalam penampilan atraksi seni dan budaya setempat untuk disajikan kepada wisatawan. Pada hakekatnya pengembangan wisata agro mempunyai tujuan ganda termasuk promosi produk unggulan kelapa sawit, meningkatkan volume penjualan, membantu meningkatkan perolehan devisa, membantu meningkatkan pendapatan petani dan masyarakat sekitar, disamping untuk meningkatkan jenis dan variasi produk pariwisata Indonesia.

Ada beberapa aspek yang perlu dilaksanakan untuk pengembangan wisata agro menurut Situs Departemen Pertanian (2007) yaitu: 1. Aspek pengembangan sumberdaya manusia. Sumberdaya manusia mulai dari pengelola sampai kepada masyarakat berperan penting dalam keberhasilan pengembangan Wisata agro. Kemampuan pengelola Wisata agro dalam menetapkan target sasaran dan menyediakan, mengemas, menyajikan paket-paket wisata serta promosi yang terus menerus sesuai dengan potensi yang dimiliki sangat menentukan keberhasilan dalam mendatangkan wisatawan. Dalam hal ini keberadaan/peran pemandu wisata dinilai sangat penting. Kemampuan pemandu wisata yang memiliki pengetahuan ilmu dan keterampilan menjual produk wisata sangat menentukan. Pengetahuan pemandu wisata seringkali tidak hanya terbatas kepada produk dari objek wisata yang dijual tetapi juga pengetahuan umum terutama hal-hal yang lebih mendalam berkaitan dengan produk wisata tersebut.

2. Aspek sumber daya alam. Sebagai bagian dari usaha pertanian, usaha Wisata agro sangat mengandalkan kondisi sumberdaya alam dan lingkungan. Sumberdaya alam dan lingkungan tersebut mencakup sumberdaya objek wisata yang dijual serta lingkungan sekitar termasuk masyarakat. Untuk itu upaya mempertahankan kelestarian dan keasrian sumberdaya alam dan lingkungan yang dijual sangat menentukan keberlanjutan usaha Wisata agro.

Kondisi lingkungan masyarakat sekitar sangat menentukan minat wisatawan untuk berkunjung. Sebaik apapun objek wisata yang ditawarkan namun apabila berada di tengah masyarakat tidak menerima kehadirannya akan menyulitkan dalam pemasaran objek wisata. 3. Aspek promosi, baik melalui media informasi atau dari mulut ke mulut. Kegiatan promosi merupakan kunci dalam mendorong kegiatan Wisata agro. Informasi dan pesan promosi dapat dilakukan melalui berbagai cara, seperti melalui leaflet, booklet, pameran, cinderamata, mass media (dalam bentuk iklan atau media audiovisual), serta penyediaan informasi pada tempat public (hotel, restoran, bandara dan lainnya). Dalam kaitan ini kerjasama antara objek Wisata agro dengan Biro Perjalanan, Perhotelan, dan Jasa Angkutan sangat berperan. 4. Aspek sarana transportasi. Kehadiran konsumen/wisatawan juga ditentukan oleh kemudahan-kemudahan yang diciptakan, mulai dari pelayanan yang baik, kemudahan akomodasi dan transportasi sampai kepada kesadaran masyarakat sekitarnya. 5. Aspek kelembagaan, baik pemerintah, swasta maupun masyarakat Pengembangan Wisata agro memerlukan dukungan semua pihak pemerintah, swasta terutama pengusaha Wisata agro, lembaga yang terkait seperti perjalanan wisata, perhotelan dan lainnya, perguruan tinggi serta masyarakat. Pemerintah bertindak sebagai fasilitator dalam mendukung berkembangnya Wisata agro dalam bentuk kemudahan perijinan dan lainnya. Intervensi pemerintah terbatas kepada pengaturan agar tidak terjadi iklim usaha yang saling mematikan. Untuk itu kerjasama baik antara pengusaha objek Wisata agro, maupun antara objek Wisata agro dengan lembaga pendukung (perjalanan wisata, perhotelan dan lainnya) sangat penting.

Sedangkan menurut Spillane, (1994) untuk dapat mengembangkan suatu kawasan menjadi kawasan pariwisata (termasuk juga wisata agro) ada lima unsur yang harus dipenuhi seperti dibawah ini: 1. Attractions Dalam konteks pengembangan wisata agro, atraksi yang dimaksud adalah, hamparan kebun/lahan pertanian, keindahan alam, keindahan taman, budaya petani tersebut serta segala sesuatu yang berhubungan dengan aktivitas pertanian tersebut. 2. Facilities

Fasilitas yang diperlukan mungkin penambahan sarana umum, telekomunikasi, hotel dan restoran pada sentra-sentra pasar. 3. Infrastructure Infrastruktur yang dimaksud dalam bentuk Sistem pengairan, Jaringan komunikasi, fasilitas kesehatan, terminal pengangkutan, sumber listrik dan energi, system pembuangan kotoran/pembungan air, jalan raya dan system keamanan. 4. Transportation Transportasi umum, Bis-Terminal, system keamanan penumpang, system Informasi perjalanan, tenaga Kerja, kepastian tarif, peta kota/objek wisata. 5. Hospitality Keramah-tamahan masyarakat akan menjadi cerminan keberhasilan sebuah system pariwisata yang baik.

Aspek Keberlanjutan Wisata Agro Pembangunan berkelanjutan pada umumnya mempunyai sasaran memberikan manfaat bagi generasi sekarang tanpa mengurangi manfaat bagi generasi mendatang. Agar wisata agro dapat berkelanjutan maka produk wisata agro yang ditampilkan harus harmonis dengan lingkungan local spesifik. Dengan demikian masyarakat akan peduli terhadap sumberadaya wisata karena memberikan manfaat sehingga masyarakat merasakan kegiatan wisata sebagai suatu kesatuan dalam kehidupannya. Partisipasi lokal memberikan banyak peluang secara efektif dalam kegiatan pembangunan dimana hal ini berarti bahwa memberi wewenang atau kekuasaan pada masyarakat sebagai pemeran social dan bukan subjek pasif untuk mengelola sumberdaya membuat keputusan dan melakukan control terhadap kegiatan kegiatan yang mempengaruh kehidupan sesuai dengan kemampuan mereka. Adanya kegiatan wisata agro haruslah menjamin kelestarian lingkungannya terutama yang terkait dengan sumberdaya hayati renewable maupun non renewable sehingga dapat menjamin peningkatan kesejahteraan masyarakat di kawasan tersebut.

Sumber : Ariyanto. 2003. Ekonomi Pariwisata. (Online).( http://www.geocities.com/ariyanto

eks79/home.htm diakses tanggal 13 Desember 2012).

Lindberg K. dan Hawkins E.D, 1995. Ekoturisme : Petunjuk Untuk Perencanaan dan Pengelolaan. The Ecotourism Society. North Benington: Vermont.

Spillane, James.1994. Ekonomi Pariwisata, Sejarah dan prospeknya.Yogyakarta: Kanisius.

http://regionalinvestment.bkpm.go.id/newsipid/id/commodityarea.php?ia=61&ic=2

http://www.pustaka-deptan.go.id/agritek/ppua0150.pdf