P. 1
381

381

|Views: 17|Likes:
Dipublikasikan oleh Format Seorang Legenda

More info:

Published by: Format Seorang Legenda on Dec 18, 2012
Hak Cipta:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

11/30/2013

pdf

text

original

LAPORAN HASIL PENELITIAN

ANALISIS SUMBER EROSI DAN SEDIMENTASI
Dl DTW KEDUNG OMBO DENGAN CITRA SATELIT
DAN SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS
PROGRAM INSENTIF RISET TERAPAN
Fokus Bidang Prioritas : Peningkatan Kinerja Sesuai TUPOKSI
Kode ProdukTarget
Kode Kegiatan
Peneliti Utama : lr. Beny Harjadi, M.Sc
KEMENTERIAN KEHUTANAN
BADAN PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN KEHUTANAN
BALAI PENELITIAN KEHUTANAN SOLO
Jl. Jend. A.Yani-Pabelan, Kartasura, PO BOX 295 Surakarta I 571 02
Teleoon: I Fax.: r0271 ' Email: bpk_solo_pp@yahoo.com
LE,IBAR I D E ~ T I T AS
Lemb
- ~ - - ------ ----- -- --
litian dan P b .,..,.
Nama Lembaga Penelitian Balai Peneliti an Kehutanan Solo, Badan Litbang Kehutanan, Kemenhut
Pimpinan lr. Bambang Sugiarto, MP
Alamat Jl. Jend. A.Yani-Pabelan. Kartasura, PO BOX 295 Surakarta/571 02. Tip.
(0271 )716709/Fax (0271 )716959. Email; htto: //www .bok-so1o.or.id
ldentitas K · . - .... ~ ..............
Judul Analisis Sumber Erosi dan Sedimentasi di DTW Kedung Ombo
dengan Citra Satelit dan Sistem lnformasi Geografis
Abstraksi Ketersediaan air waduk Kedung Ombo dari tahun ke tahun
cenderung semakin menurun. Penurunan ketersediaan air waduk
Kedung Ombo diindikasikan disebabkan oleh deforestasi dan
konversi untuk lahan pertanian pada daerah tangkanan waduk
(DTW) . Ana/isis sumber erosi dan sedimentasi, diharapkan dapat
menjadi arahan dalam pengelolaan daerah yang teridentifikasi
mengalami kerusakan. Perubahan penutupan lahan sekitar satu
dekade kurang dari 2% hal tersebut lebih banyak disebabkan
karena pergeseran musim dan pola tanam. Faktor erosi SES
antara lain : arah lereng (aspek) arah barat daya dan barat /aut
dengan tingkat erosi tinggi (4), drainase sangat rendah (1 ),
penutupan lahan rendah (2), kemiringan lereng rendah (1 ), tekstur
tinggi (4), sehingga SES relatif rendah di DTW Kedung Ombo.
Erosi MMF dipengaruhi banyak faktor antara lain : faktor tanaman
I
(c), intersepsi dan alrian batang (A), evapotranspirasi (EtEo),
I kedalaman perakaran (RD), kelembaban tanah (MS), bobot jenis
1
tanah (80), indeks erodibilitas tanah (K), curah hujan tahunan (R),
II energi kinetik hujan (E) , kapasitas kelembaban tanah (RC), dan
I
volume a/iran permukaan (Q) . Ana/isis erosi MMF dengan citra
sate/it di DTW Kedung Ombo sangat rendah (2, 12 tonlhalth) dan
erosi MMF di lapangan 0, 74 ton/halth. Begitu juga sedimentasinya
sangat rendah hampir tidak ada.
Kata Kunci : analisis, erosi , sedimentasi , citra satelit dan SIG,
waduk Kedung Ombo
T:m Peneliti;
I Koordinator Ir. Beny Harjadi, MSc
"' Al amat Jl. Jend. A.Yani-Pabelan, Kartasura, PO BOX 295 Surakarta/571 02. Tip.
-
(027 1 )716709/ Fax (0271 )716959. Email; htto: //www.bok-solo.or. id
'
Anggota Peneliti
a. Ora. Dewi Subaktini, Msi
b . Arina Miardiani , S.Hut
. ~ . aktu Pelaksanaan I Pebruari 201 0 sampai 22 Nopember 20 I 0
?ubli kasi
LEMBAR
Judul Penelitian : Analisis Sumber Erosi dan Sedimentasi di DTW Kedung Ombo
dengan Citra Satelit dan Sistem lnformasi Geografis
Fokus Bidang Prioritas : Peningkatan Kinerja Sesuai TUPOKSI
'ode ProdukTarget
Keterangan Lembaga Pelaksana/ Pengelola Penelitian
Koordinatorl Peneliti Utama
;..;ama Lembaga I lnstitusi
Unit Organisasi
Alamat
Teleponi H PI Fax/Emai I
Jangka Waktu Kegiatan
Biaya Tahun - I (2009)
Bi aya Tahun- 2 (20 I 0)
Total Biaya
Kegiatan
Rekapitulasi Biaya tahun 20 I 0 Rekaoitulasi s· hun 2010
Uraian
I
2
..,
.)
4
Gaji dan Upah
Seminari Perjalanan
Bahan Habis Pakai
Lain-lain
Jumlah
Diperiksa oleh
Kepala Seksi EVLAP
Lembaga Pelaksana Penelitian
lr. Beny Harjadi, MSc
Badan Litbang Kehutanan, DEPHUT
Balai Penelitian Kehutanan Solo
Jl. Jend. A. Yani, Pabelan, PO BOX 295, Surakarta
(0271 )716709 I 08122686657
e-mail: adbsolo@yahoo.com
2 tahun (2009-20 I 0)
Rp. 150.000.000,00
Rp. 98.700.000,00
Rp. 248.700.000,00
Lanjutan
Jumlah (Rp)
58,340,000
35, I 00,000
3,276,000
I ,984,000
Rp. 98.700.000
Surakarta, November 2010
Diperiksa oleh
Ketua KELTI
Pelaksana Tugas,
2?::- :s;;; :::--
"""""'
gus Munawar. MP
9610827.198903.1 .002
Drs. lrfan Budi Pramono, MSc
NIP.19600513 198603 1 001
lr. Beny Harjadi , MSc
NIP.1961 0317 199002 1 001
ii
Analisis Sumber Erosi dan Sedimentasi di DTW Kedung Ombo
dengan Citra Sate lit dan Sistem lnformasi Geografis
Oleh :
Beny Harjadi, Arina Miardini , Yudi Lastiantoro, Dewi Subaktini,
Bambang Ragil WMP dan Y. Gunawan
RINGKASAN
Waduk Kedung Ombo dengan luas 5.898 hektar dan genangan 46 km
2
memberikan
konstribusi yang cukup besar dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat, baik secara
ekonomi, sosia/, maupun aspek lainnya, sehingga keberadaannya perlu dilestarikan.
Ketersediaan air waduk Kedung Ombo dari tahun ke tahun cenderung semakin menurun.
Penurunan ketersediaan air waduk Kedung Ombo diindikasikan disebabkan oleh deforestasi
dan konversi untuk lahan pertanian pada daerah tangkanan waduk (DTW). Berkurangnya ruang
terbuka hijau ini menyebabkan tingginya erosi di daerah hulu atau di sub daerah a/iran sungai,
sehingga sedimentasi menjadi tinggi yang mengakibatkan pengurangan kapasitas waduk.
Dalam upaya mewujudkan kesinambungan fungsi waduk Kedung Ombo, diperlukan sistem
pengelolaan yang terpadu dan sinerjik. Ana/isis sumber erosi dan sedimentasi, diharapkan
dapat menjadi arahan dalam penge/olaan daerah yang teridentifikasi mengalami kerusakan.
Dalam penelitian ini dilakukan ana/isis perubahan penutupan lahan dan pola pemanfaatan
lahan dan perhitungan erosi dengan metode SES (Soil Erosion Status) dan MMF (Morgan,
Morgan dan Finney).
Perubahan penutupan /ahan sekitar satu dekade kurang dari 2% hal tersebut lebih
banyak disebabkan karena pergeseran musim dan pola tanam. Faktor erosi SES antara lain :
arah lereng (aspek) arah barat daya dan barat /aut dengan tingkat erosi tinggi (4) , drainase
sangat rendah (1), penutupan lahan rendah (2), kemiringan lereng rendah (1) , tekstur tinggi (4) ,
sehingga SES relatif rendah di DTW Kedung Ombo. Erosi MMF dipengaruhi banyak faktor
antara lain : faktor tanaman (c), intersepsi dan alrian batang (A) , evapotranspirasi (EtEo) ,
edalaman perakaran (RD), kelembaban tanah (MS), bobot jenis tanah (80), indeks erodibilitas
~ a r . a h (K), curah hujan tahunan (R), energi kinetik hujan (E), kapasitas kelembaban tanah (RC),
Gar. volume a/iran permukaan (Q). Ana/isis erosi MMF dengan citra sate/it di DTW Kedung
Ombo sangat rendah (2, 12 ton/ha/th) dan erosi MMF di /apangan 0, 74 tonlhalth. Begitu juga
sedimentasinya sangat rendah hampir tidak ada.
Permasalahan yang terjadi di DTW Kedung Ombo se/ain masa/ah erosi dan
-smmentasi, maka masalah yang lebih besar adalah konflik masalah sosia/ yaitu meliputi
• e::>emilikan tanah yang rendah dan relokasi daerah yang dulunya tergenang waduk serta
-asa.ah lahan yang terfarang untuk budidaya tanaman semusim misalnya di daerah green belt
s . ~ ... x hijau). Masa/ah DTW Kedung Ombo kurang mendapat perhatian dari Dinas-dinas yang
s ~ . . - a r . dan Tim Koordinasi yang menangani secara terpadu.
<a:.a Kunci : analisis, erosi, sedimentasi, citra satelit dan SIG, waduk Kedung Ombo
Ill
PRAKATA
Laporan Termin II"Anaiisis Sumber Erosi dan Sedimentasi di DTW Kedung Ombo
dengan Citra Sate/it dan Sistem lnformasi Geografis" Kementerian Negara Riset dan
eknologi tahun 2010 irii merupakan hasil kegiatan yang telah dilakukan sekitar 80%. Tujuan
oenelitian ini adalah a) menganalisis perubahan penutupan lahan di daerah tangkapan waduk
!'(edung Ombo, b) mengetahui sumber erosi dan sedimentasi di waduk Kedung Ombo dengan
o . ~ a n t u a n interpretasi citra satelit dan analisis Sistem lnformasi Geografi (SIG}, c) mengetahui
:Jola pemanfaatan lahan di daerah tangkapan waduk Kedung Ombo. Laporan ini berisi tentang
'"'asil ti m fisik yang terdiri dari analisis perubahan penutupan lahan, perhitungan erosi baik
secara kuantitatif maupun kualitatif serta tim social ekonomi yang mencakup kondisi social
e:<onomi masyarakat di DTW Kedung Ombo.
Demikian Laporan Termin II Ana/isis Sumber Erosi dan Sedimentasi di OTW Kedung
Ombo dengan Citra Sate/it dan Sistem lnformasi Geografis tahun 2010, dan dengan selesainya
_aporan ini diharapkan dapat memperlancar penyusunan Laporan Hasil Penelitian (LHP) akhir.
Surakarta, November 2010
lr. Beny Harjadi, MSc
NIP.19610317 199002 1 001
IV
DAFTAR lSI
?RAKATA ................ .. ............... .......... ...... .... ... .. ........ .. .. ................ ................. ...... ..... ... .... ...... ...... iv
"JAFTAR lSI ....... ......... .... ... ........ ................................................. .. .............. ... ........ .. ..... .............. .. . v
DAFTAR TABEL .... .... ....... .. .... ..... ....... ... .. ..... .. .. ... .... .... ... ....... .... .. ...................... .. .. ..... ... ............ vii
DAFTARGAMBAR ................. .. .................. ............ ....... ....... .............. ..... ..... ... ....... ... ... .... .. ........ ix
DAFT AR LAMP IRAN ............. ............................. .. ... ................ ... ... ..... .... ...... ...... ....................... xi
I. PENDAHULUAN ................... ... .................................................. ....... ... ................ .... .. ................ 1
1.2. Tujuan ......... ....... .. ... .... .......................... .............. ........ .. .. ....... ................. ... ....... .... ... ... ..... .. ... 2
1.3. Sasaran ... ........ ...... .. ... ........... ... ................ ..... ... ................... ........ ....... ............ .... ... ... ....... ..... .. 2
1.4. Luaran ... ...................... ........... .... ..... ... ....... .......... ....... ................ .... ........ .... ....... .. ........ .. ........ 2
1.5. Ruang Lingkup ..... ... ............. ............. ....................... .... ... .. .... .. .. .... ..... ......................... .. ....... 2
1.6. Perumusan Masalah .... ....... .... ... ................................ ....................... .. ........ ........ .... .... .... .. ... .. 3
1.6.1. Rumusan Masalah ... ...... .............. ........................... ..... ............. ....................... ............. .. 3
1.6.2. Pertanyaan Penelitian .... ... ........ .. ... ............ ......... ............... .. ........... ... .............. .. ............. 4
1.6.3. Hasil yang Telah Dicapai ....... .... ...... .......... ....... ....... ...... ....... ...... ...... ...... ............ ........ ... 4
II. TINJAUANPUSTAKA ........... ...... .... .. .. ..... .......... ... ...... ... .......................... ...... ............. ............ 6
2.1. Analisis Perubahan Penutupan Lahan ... .. ...... ...... .. ..... .. ......... ...... ..... ... .......... ... ...... .... .. ........ 6
2.2. Erosi dan Sedimentasi Waduk .... ........ ...... ..... .. ................... ... ........ ..... ...... .... .. ............. ... ... ... 7
2.3. Analisa Citra Satelit dan Sistem Informasi Geografi ........................... ...... ... ... .. .......... ........ 8
2.4. Pola Pemanfaatan Lahan ... ..... ......... .. ...... ... .......... ........ ..... ..... ............ ......... ... ... ......... ......... 10
III. TUWAN DAN MANFAAT ............ · ....................... ............ .................. ........ ....... .. ... .............. 12
3. 1. Tujuan ............... ... ............. ............................. .......... ............ ... .. .............. .......... ............ ..... 12
3.2. Manfaat ..... ................ ~ ...... .......................... .... ........... ....... ...... ...................... .... .. ................. l2
IV. METODOLOGI ..... ............................ ................ .............. ............ ....... .... .............. .................. 13
4.1 . Lokasi Penelitian ................................ ........ ........... .... ............................ ... .... .......... ......... .. 1"
4.2. Bahan dan Alat ................. ......... .......... .. .......... ........ .... ............................. .... ...................... 1
4.3. Cara Pengambilan dan Analisis Data ... .. .......................................................................... .. 15
4.3.1. Analisis Perubahan Penutupan Lahan di DTW Kedung Ombo ................................... 15
4.3.2. Sumber erosi dan sedimentasi di waduk Kedung Ombo dengan PJ dan SIG ......... .... 16
4.3.2.1. Erosi Kualitatif (SES= Soil Erosion Status) .............. ................ .......... .. ..... .. ...... .. 16
4.3.2.2. Erosi kuantitatif (MMF =Morgan, Morgan, dan Finney) ....... ..... .... .... ........... ... .. J 8
4.3.3. Pola pemanfaatan lahan di daerah tangkapan waduk Kedung Ombo ... .. .. .. .... ............. 21
4.4. Rancangan/Design Riset (lihat Gambar 2) ..... ................ .................................. ... ...... .... ... 22
v
. HASIL DAN PEMBAHASAN ..... .... ...... ..... .... .... .... ..... .... .... ....... ............ ...... ..... ... ...... ..... .. .... . 23
5.1 Analisis Perubahan Penutupan Lahan di DTW Kedung Ombo .......... ... .... ... .. ....... .. .... .. .... . 23
5.2. Analisis Sumber Erosi dan Sedimentasi di DTW Kedung Ombo ... .. .. ... ............. ..... ... ..... .. 27
5.2.1. Erosi Kualitatif (SES = Soil Erosion Status) ......... ... .... .... .. .. .. ..... .......... ....... ... ..... ..... . 28
5 .2.2. Erosi Kuantitatif (MMF) ........ ............ .......... ............ ........ ...... .. .... ... .. ............ .. ............. 3 7
5.2.2. 1. Faktor-faktor Analisis MMF .............................. ... ... .......... .... .............. .... .... .... .. .. 37
5.2.2. 1. MMF (Morgan, Morgan dan Finney) .... .. .................... ........ ...... .. .. ... .... .. ........ .... .. 48
5.2.2.2. Sedimen MMF ... .. ... ... .... ............... ..... .... ..... ......... ....... ...... ........ ... .. .... .... .... ........... 50
5.2.3. Kondisi Sosial Ekonomi masyarakat di sckitar DTW Kedung Ombo ....... .. ........... ... 52
5.2.3. 1.Sub DAS Gading ................................ ........... .. ... ............. ........... .... .......... .... .... ..... 51
5.2.3.2. Sub DAS Karang Boyo ................................ .. .. .. ...... ........ .. ......... .... ...... .. ... .... .... ... 54
5.2.3.3. Sub DAS Laban ... ....................... ............ ...... ............................. ..... ... , ... ............ ... 57
5.2.3.4. Sub DAS Uter .. .. ......... ... .. ........... ... ......... .... .... ..... ... .............. ...... .. .... ...... ....... ... .... 60
5.2.4. Kelembagaan DTW (Daerah Tangkapan Waduk) Kedung Ombo ........................ .... .. 64
5.2.4.1. BP DAS Pemali Jeratun : .............. ... ............ .. ........... .. .... .. .... .. .. .. ......... .. .......... ..... 64
5.2.4.2. BINLUH Ungaran : ... ... ............. .. ............. ... ........................................... ... ........... 65
5.2.4.3 . Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten · . .... ....... ...... .............. .... .. .... .. .. .. ......... ... ...... 65
5.2.4.4. BAPPEDA Kabupaten ... ............... ..... .... ... ....... .. ........ ... .. ... ... ... ..... ........ ... .... ..... ... . 66
5.2.4.5. Dinas Perkebunan dan Kehutanan Kabupaten .... ... ...... .. .... .......... .................... .. ... 66
5.2.4.6. Dinas Pertanian ... .... ....... .... ... ..... ... ...... .. ..... .... ...... ...... .. ... .... ..... ... .... ........ ... ........... 67
5.2.5. Analisis SWOT .... ....... .... ... ......... ... ... ....... ... ... ... ... ........... ............. ...... ..... ............. ..... .. . 68
5.2.5. 1. Identifikasi Faktor-Faktor Internal ............................... .. ................. .. ............. ... ... 68
5.2.5.2. Identifikasi Faktor-Faktor Eksterna1 .. ......... .. ....................................... .. ... ............ 68
5.2.5.3. STRATEGI S0 ...... ................. .. .......... ....... ..... .. .... .... ... ... .. .. ... .. ............ ... ... .... ....... 69
5.2.5.3. STRATEGIST ... .. ....... .... ... .... .. ....... .. .......... ..... ..... .............. .. .. ... ..... .... ... .. ...... ...... 69
5.2.5.4. STRATEGI wo .... ........ ..... ........ ........ .......... .... ....... ......... ....... ........... ........ ..... ... .. 69
5.2.5.5. STRATEGI WT ...... ...... .................. .. ...... ............... .............. ... .... ... ... ... .. .. .. .... ...... . 70
5.2.5.6. Analisis Strategis dan Pilihan .. ... ......................................................................... 72
5.2.5.7. Analisis Pilihan Faktor Penentu Keberhasilan .. .. .. .. .. ..... .. .................................... 74
5.2.5.8. Hasil Akhir Analisis SWOT ....... .. .. .. ..... .... ......... .... ..... .... ...... ...... ............ .. ... .. .... .. 75
V1. KESIMPULAN DAN SARAN ... .......... ........ .. .. ......... ..... .... .... .......... .. ....................... ...... .. ..... 76
5.1. Kesimpulan ............... ...... .... ........ ..... ..... ..... ... .... .. ..... .. .......... ........... ........ ...... .... ... ....... ... ..... 76
5.2. Saran ................ ............... .......... .. ...... .... ... .. ...... ......... .......... ..... ... ...... ...... .... ....... ... ..... ... ...... 77
DAFT AR PUST AKA ........................ .. .. .. ......... .. ...... .. ............... ..... ......................... .. ... ... .............. 78
. .\.. \11PIRAN ........................... ........ ..... .... ......... ...... ... ...... ............. ..... ..... ......... ..... .. ....... ... ..... ..... ... 80
VI
DAFTAR T ABEL
Tabel 1. Beberapa Faktor Dalam Perhitungan SES (Soil Erosion Status) .... ... ................ . 17
Tabel 2. Beberapa Parameter Formula Perhitungan SES ... ... ................. ........ ................ .. .. 18
Tabel 3. Beberapa Parameter Tanaman yang Dikumpulkan dari Lapangan atau Tabell9
Tabel 4. Beberapa Tanah yang Dikumpulkan dari Lapangan atau Tabe1 ........ .. ............... 19
Tabel 5. Formula Perhitungan MMF (Morgan, Morgan, dan Finney, 1984) ...................... 20
Tabel 6. Jenis Penutupan Lahan DTW Kedung Ombo dan Perubahan Luasnya pada
Tahun 2001 dan 2008 ..... .. ... .......... .. ................................. .. ........... ........ ......... ..... . 25
Tabel 7. Arah Lereng pada masing-masing Sub DAS di DTW Kedung Ombo .. .. .......... 28
Tabel 8. Kerapatan Sungai pada Masing-masing Sub DAS di DTW Kedung Ombo ....... 30
Tabel 9. Klasifikasi Penutupan Lahan pada Masing-masing Sub DAS di DTW Kedung
Ombo ............ .. ......... .. ............. .. ............... .... .. ........................ ........................ .... ...... 31
Tabel 10. Kemiringan Lereng pada Masing-masing Sub DAS di DTW Kedung Ombo ... 32
Tabel 11. Tekstur Tanah pada Masing-masing Sub DAS di DTW Kedung Ombo ......... 34
Tabel 12. Potensi Erosi Kualitatif melalui Metode SES pada Masing-masing Sub DAS
di DTW Kedung Ombo .......... ...... ... ............... ......... .... .......... ....... ................. ......... 35
Tabel 13. Nilai Erosi pada Masing-masing sub DAS melalui metode MMF ..................... .48
Tabel 14. Nilai Erosi MMF di Lapangan pada Masing-masing sub DAS ........................... 49
Tabel 15. Jumlah, Kepadatan dan Pertumbuhan Penduduk tahun 2008 .......................... 52
Tabel 16 . . Matapencaharian Penduduk .................... .. .. ................... ...................................... 53
Tabel 17 .. Jumlah Penduduk Usia Lima Tahun Keatas Menurut Pendidikan Tertinggi .. 53
VII
Tabel 18 .. Jumlah Keluarga Sej ahtera Me Tingkatan, ...................................... .... ....... 54
Tabel 19 .. Jumlah, Kepadatan dan Pertumbuhan Penduduk ............................................. 55
Tabel 20 .. Jenis Matapencaharian Penduduk ........... .. ........................................ .................. 56
Tabel 21 .. Jumlah Penduduk Usia Lima Tahun Keatas Menurut Pendidikan Tertinggi .. 56
Tabel 22. Jumlah Keluarga Sejahtera Menu rut Tingkatan ......................... ........ ... ........ ....... 57
Tabel 23. Jumlah, Kepadatan dan Pertumbuhan Penduduk .... ...... .... ...... .................. ..... .... 57
Tabel 24 .. Jenis Matapencaharian Penduduk ... ..................... ........ .... ..... .. ...... ... ............. .. .... . 58
Tabel 25 .. Jumlah Penduduk Usia Lima Tahun Keatas Menurut Pendidikan Tertinggi .. 59
Tabel 26 .. Jumlah Keluarga Sejahtera Menurut Tingkatan ............ ... .... ........ ... ....... .... ......... 59
Tabel 27 .. Jumlah, Kepadatan dan Pertumbuhan Penduduk .... ... .... .... ... .. ...... ... .... .. .. ......... 61
Tabel 28 . . Jenis Mata Pencaharian Penduduk .............. .... .... ............ ... .. .............................. 62
Tabel 29 .. Jumlah Penduduk Usia Lima Tahun Keatas Menurut Pendidikan Tertinggi
Tahun 2008 . ................ .... ................................. ..... .... ... .................... ............ ..... ...... 63
Tabel 30 .. Jumlah Keluarga Sejahtera Menurut Tingkatan ....... .. ........................................ . 64
Tabel 31 .. Matriks Analisis Faktor Strategis Internal (IF AS) ........................ .. .. .... ... ............. 70
Tabel 32 .. Matriks Analisis Faktor Strategis Eksternal (EFAS) ............ .................. .. .. ......... 71
Tabel 33 .. Anal isis Strategis dengan Faktor Internal dan Eksternal .................. ........... ... ... 72
viii
DAFTAR GAMBAR
Gambar 1. Peta Letak Ketinggian Tempat dari Dataran Rendah sampai Puncak Bukit di
DTW Kedung Ombo,Boyolali, Jawa Tengah .... ... .. .. ...... ... ... ... .. .............................. 14
Gambar 2. Diagram Alur Pemecahan Masalah Kelembagaan, Deforestrasi, Erosi dan
Sedimentasi ......................... ... ......... .. .................... ... ...... ................ .... ..... ......... .... ..... .. .. .. 22
Gambar 3. Peta Daerah Tangkapan Waduk (DTW) Kedung Ombo, Jawa tengah : Sub
DAS Karangboyo, Gading, Laban, dan Uter . ......... .. ........ .. ..................................... 23
Gambar 4. (a). Peta Penutupan Lahan di DTW Kedung Ombo tahun 2001, dan (b).
Peta Penutupan Lahan di DTW Kedung Ombo tahun 2008 ................................. 26
Gambar 5. Peta Kelas Arah Lereng : (1). Utara, (2) . Barat Laut dan Timur Laut. (3)
Barat dan Timur, (4) Barat Daya dan Tenggara, (5) Selatan .. .... ........ ..... ........... .. 29
Gambar 6. Peta Kalas Kerapatan Drainase: (1 ). Tidak ada drinase grid 500x500, (2) .
Ordo sungai 4, (3) . Ordo sungai 3, (4) . Ordo sungai 2, (5) . Ordo sungai 1 ........ 30
Gambar 7. Peta Kelas Penutupan Lahan: (1). Hutan > 40%, datar, (2) . Hutan > 40%,
curam, (3): Hutan 10- 40%, (4). Hutan < 10%, terasering, (5). Hutan <
1 Oo/o, tanpa teras .... ........... ...... ................... ...... ... .... .......... ......... .............. .. .................. 32
Gam bar 8. Pete Kelas kemiringan Lereng : (1) < 15% Dataran, (2) 15- 45 Miring, (3).
45-65 Sangat Miirng, (4). 65-85 Curam, (5) . > 85% Ekstrim Curam ... .. ...... .. 33
Gam bar 9. Peta Kelas Tekctur Tanah : (1 ). Liat berat, (2). Liat ringan, (3) . Lempung, (4) .
Pasir hal us, (5) . Pasir kasar ... ... ..... .............. ........... ................................................. .. 34
Gam bar 10. Peta Kelas Erosi Kualitatif SES : (1 ). Sangat Ring an < 5tlha/th, (2) . Ringan
=5-10, (3). Sedang10-25, (4). Berat =25-50, (5). Sangat Berat. >50 t/ha/th .... . 36
Gambar 11. Peta Nilai Crop Cover Management Factor (C) atau Faktor Pengelolaan
Tanaman di DTW Kedung Ombo .............. ......................... ..... .... ....... ........ ............. .. 37
Gambar 12. Peta Interception and Stream Flow (A) atau lntersepsi dan Aliran Satang di
DTW Kedung Ombo .... ......... ........ ... .. .. .. ............................................... ...... ...... ....... ... . 38
Gambar 13. Peta Evapotranspiration (EtEo) , atau Evapotranspirasi Aktual (Et) dan
Evapotranspirasi Potensial (EO) di DTW Kedung Ombo ..... .. ......................... . ..... 39
Gambar 14. Peta Root Depth (RD ) atau Kedalaman Perakaran satuan meter (m) di
DTW Keou-:,g Orlbo .................... ........ .......... .............. ....... ........... ........... 40
IX
Gambar 15. Peta Moisture Content (MS) atau Kel embaban Tanah satuan % di DTW
Kedung Ombo ......... .............. ................ .......................... .... ................ .... ..... .. .... ... ... 41
Gambar 16. Peta Buld Densisty (BD) atau Bobot Jenis Tanah (g/cm
3
) di DTW Kedung
Ombo ... ....... ... ...................... ........................ ............ .. ................................ .................... 42
Gambar 17. Peta Soil Detachability Index (K) atau lndeks Erodibiltas Tanah (g/j) ........ ... .. . .43
Gambar 18. Peta Annual Rainfall (R) atau Curah Hujan Tahunan (mm) di DTW Kedung
Ombo ......................... ........................................................ ... ..................................... .... 44
Gambar 19. Peta Kinetic Energy of Rainfall (E) a tau Energi Kinetik U/m
2
) ......... . ........... .. ..... .45
Gambar 20. Peta Soil Moisture Storage (Rc) Kapasitas Simpan Kelembaban Tanah
Dalam Keadaan Vegetasi Aktual (mm) di DTW Kedung Ombo ........................... 46
Gambar 21. Peta Volume of Overland Flow (Q) atau Volume Aliran Permukaan (mm) di
DTW Kedung Ombo ............................... .... ..... .. .. ...... .................. ...... ... .... ........ ........... 4 7
Gambar 22. Peta Erosi Kuantitatif MMF satuan ton/ha/tahun Hasil Analisis Citra Satelit
di DTW Kedung Ombo ...... .. ............ .... .............. ....................... ....... ....... .... ... ... ........... 48
Gambar 23. Peta Erosi Kuantitatif MMF satuan ton/ha/tahun dalam Keadaan/Kondisi
Lapangan di DTW Kedung Ombo ............ .. .............................................................. .49
Gambar 24. Peta Sedimen Secara Kuantitatif MMF dengan Anal isis Citra Satelit di
DTW Kedung Ombo ... .. .. .. ................... .. .. ................................... .. ........................... .... 50
Gambar 25. Peta Sedimen Secara Kuantitatif MMF dalam Keadaan/Kondisi Lapangan
di DTW Ke.dung Ombo ........ ........................................................................................ 51
X
DAFTAR LAMPIRAN
Tabel Lampiran 1. Tim Pelaksana Penelitian .................. ........ ... ............ ..... ..... .... .......... ..... ... 80
Tabel Lampiran 2. Tata waktu kegiatan "Ana/isis Sumber Erosi dan Sedimentasi di DTW
Kedung Ombo dengan Citra Sate/it dan Sis tern lnformasi Geografi" ... ...... 81
Tabel Lampiran 3. Kerangka Logis Analisis Sumber Erosi dan Sedimentasi di DTW
Kedung Ombo dengan Citra Satelit dan Sistem lnformasi Geografis
........................... .... .................. ............ ................... .. ..... ............................... 82
XI
I. PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Waduk Kedung Ombo merupakan waduk buatan yang terletak di perbatasan Kabupaten
Grobogan, Sragen, dan Boyolali. Waduk Kedung Ombo memiliki luas 5.898 hektar dengan
genangan 46 km
2
. Waduk Kedung Ombo sebagai waduk multi fungsi, telah memberikan
konstribusi yang cukup besar dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat, baik secara
ekonomi, sosial, maupun aspek lainnya, sehingga keberadaannya perlu dilestarikan.
Ketersediaan air waduk Kedung Ombo dari tahun ke tahun cenderung semakin
menurun. Hal ini berbanding terbalik dengan permintaan air yang semakin meningkat sebagai
akibat peningkatan jumlah penduduk, beragamnya pemanfaatan air, berkembangnya
pembangunan, serta kecenderungan menurunnya kualitas air akibat pencemaran oleh berbagai
kegiatan. Berdasarkan data Kementerian Lingkingan Hidup (2003) waduk Kedung Ombo
mengalami penyusutan air 42.67 % dari volume air normal (723.16 juta m
3
). Data dari
Departemen Pekerjaan Umum per Februari 2007 menyebutkan, volume ketersediaan air di
Waduk Kedungombo hanya setengah dari yang direncanakan.
Adanya penurunan fungsi waduk Kedung Ombo ini diindikasikan karena adanya
deforestasi dan konversi untuk lahan pertanian pada daerah tangkanan waduk (DTW) .
Kerusakan hutan dan lahan akan menyebabkan terjadinya sedimentasi pada sungai dan waduk
yang berasal dari erosi tanah. Faktor penyebab terjadinya erosi dan sedimentasi sangat
kompleks dan dipengaruhi oleh berbagai faktor, baik berupa faktor alami maupun
anthropogenik. Erosi dapat mempengaruhi produktivitas lahan pada DAS bagian hulu dan dapat
memberikan dampak negatif pada DAS bagian hilir (sekitar muara sungai).
Dalam upaya mewujudkan kesinambungan fungsi waduk Kedung Ombo diperlukan
sistem pengelolaan yang terpadu dan sinerjik. lnformasi mengenai sumber erosi dan
sedimentasi di waduk Kedung Ombo masih sangat minim, sehingga perlu dilakukan kaj ian
tentang erosi dan sedimentasi. lnformasi ini memerlukan akurasi tinggi pada areal yang luas,
maka dapat dianaisis melalui citra satelit dan sistem informasi geografis (SIG) . Dengan
mengetahui sumber erosi dan sedimentasi, diharapkan dapat menjadi arahan dalam
pengelolaan daerah yang teridentifikasi mengalami kerusakan.
1.2. Tujuan
1. Menganalisis perubahan penutupan la'la aeran tangkapan waduk {DTW) Kedung
Ombo
2. Mengetahui sumber erosi dan sedimentas: di waduk Kedung Ombo dengan bantuan
interpretasi citra satelit dan anali sis Sistem lnformasi Geografi (SIG) .
3. Mengetahui pola pemanfaatan lahan di daerah tangkapan waduk Kedung Ombo
1.3. Sasaran
1. Diketahuinya perubahan penutupan lahan untuk periode waktu tertentu dengan analisis
citra dan SIG
2. Diperolehnya tekhnik perhitungan erosi secara kuantitaif dan kualitatif dengan analisis
citra dan SIG serta pengaruhnya terhadap sedimentasi di waduk Kedung Ombo
3. Diperolehnya informasi pola pemanfaatan lahan yang dikaitkan dengan kondisi sosial ,
ekonomi dan budaya masyarakat di DTW Kedung Ombo
1.4. Luaran
1. Peta penutupan lahan untuk dua periode waktu yang berbeda serta penyebarannya
2. Peta erosi secara kuantitatif dan kualitatif serta kaitannya dengan kondisi sedimentasi di
waduk Kedung Ombo
3. Pola pemanfaata.n lahan di DTW Kedung Ombo ditinjau dari aspek sosial, ekonomi dan
budaya
1.5. Ruang Lingkup .
Dalam pengelolaan sumberdaya air waduk sering dijumpai permasalahan-permasalahan
yang menyangkut aspek perencanaan, operasi dan pemeliharaan. Kondisi ketersediaan air di
waduk Kedung Ombo makin menurun dari tahun ke tahun. Terjadinya penggundulan hutan,
juga menyebabkan tingginya erosi di daerah hulu atau di sub daerah aliran sungai, yang
berasal dari beberapa sungai yang bermuara ke waduk, sehingga sedimentasi menjadi tinggi
yang mengakibatkan pengurangan kapasitas waduk. Berkenaan dengan permasalahan
tersebut maka perlu diteliti aspek-aspek sumber penyebab erosi dan sedimentasi secara
keseluruhan baik mengenai perubahan penutupan lahan, erosi dan sedimentasi yang terjadi
maupun aspek pemanfaatan lahan oleh masyarakat.
2
1.6. Perumusan Masalah
1.6.1. Rumusan Masalah
Adanya pertambahan penduduk dan peningkatan perekonomian berkorelasi dengan
peningkatan kebutuhan air bersih. Kebutuhan air hampir dapat dipastikan mempunyai
kecenderungan tidak sejalan dengan tingkat ketersediannya baik terkait dengan dimensi waktu
dan ruang, maupun jumlah dan kualitasnya. Untuk mengatasi masalah tersebut maka dibangun
waduk sebagai tampungan air. Waduk merupakan suatu bangunan air yang berfungsi untuk
menampung air yamg digunakan pada saat debit rendah. Dari segi kegunaannya waduk ada
dua yaitu, waduk eka guna misalnya waduk yang khusus digunakan untuk irigasi, pembangkit
li strik, pengendalian banjir, dan waduk serba guna misalnya waduk yang berguna menyeluruh
dalam satu waduk itu (Sudjarwadi, 1989).
Dari data yang telah dihimpun sebelumnya sejak tahun 1970-an, waduk di Indonesia
terutama di Pulau Jawa sudah mulai terganggu fungsinya. Laporan Project Implementation Plan
for Dam Operational Improvement and Safety Project (DOISP) dalam Azdan dan Chandra
(2008) dijelaskan bahwa perubahan sangat cepat terjadi pada kurun 1990-an sampai tahun
2000. Dari tiap 100 hektar Ia han di kawasan tangkapan air mengalami konversi sebanyak 60
persennya. Penyebab utama pengurangan kapasitas tampungan waduk di Indonesia adalah
•:ngginya laju sedimentasi yang disebabkan karena adanya kerusakan hutan budidaya dan
lahan pertanian di daerah hulu.
Salah satu waduk yang dibangun oleh pemerintah adalah waduk Kedung Ombo. Waduk
· i mampu mengairi Pati, Kudus, Grobogan, Boyolali, Sragen dan Demak. lsu tentang defisit air
ang terjadi pada daerah kering seperti Kabupaten Grobogan, Sragen dan Boyolali menuntut
.vaduk Kedung Ombo tetap mampu menyediakan air secara kontinyu. Namun dalam
erkembangannya waduk ini bukan tidak mungkin akan mengalami pendangkalan oleh
sedimentasi akibat erosi di bagian hulu dan DAS. Hal ini tentunya berakibat meningkatkan
sedimentasi di dasar waduk. sebagian besar daerahnya merupakan permukiman, lahan
:Jertanian, tegalan yang rentan terjadinya erosi permukaan dan sumber sedimen.
Erosi adalah peristiwa pindahnya atau terangkutnya tanah atau bagian-bagian tanah
: ari suatu tempat ke tempat lain oleh media alami (Arsyad, 1989). Terjadinya erosi pada lahan
·erbuka yang diikuti oleh hilangnya bahan organik pada lahan terbuka dan pemadatan tanah
--enyebabkan terjadinya penurunan kapasitas infiltrasi tanah. Akibatnya hujan yang terjadi
se1anjutnya akan dengan mudah untuk terakumulasi di permukaan membentuk limpasan
_ermukaan sehingga kemampuan hi droorologisnya berkurang (Rahim, 2000)
3
Sedimentasi merupakan proses kelanjutan dari peristiwa erosi atau peristiwa terkikisnya
permukaan akibat air hujan. Tanah tesebut mengalir melalui cekungan-cekungan, saluran-
saluran air, kemudian masuk ke sungai. Sungai selain berfungsi sebagai sarana mengalirkan air
juga dapat berfungsi sebagai pengangkut bahan-bahan material yang berupa sedimen (Qohar,
2002).
Faktor utama yang mempengaruhi gerakan sedimen (transport sedimen) di sungai
adalah : berat jenis butiran dan kecepatan aliran dan morfologi sungai. Perencanaan waduk di
dalamnya selalu disediakan sebagian volume penampungan yang disebut volume mati (dead
storage), selama sedimen masih mengisi volume mati, waduk masih bisa beroperasi secara
normal. Laju sedimentasi pada waduk sangat dipengaruhi oleh kondisi daerah tangkapan air
waduk tersebut. Beberapa faktor yang mempengaruhi laju sedimen di waduk adalah : tipe
tanah, kemiringan lahan, penutupan vegetasi, karakter hujan dan tata guna lahan (Sumarto,
1995).
Untuk menekan laju erosi dan sedimentasi di waduk Kedung Ombo perlu diinventarisasi
sumbernya. Sumber erosi dan sedimentasi merupakan lokasi-lokasi yang dianulir sebagai asal
proses erosi dan sedimentasi di waduk Kedung Ombo. Dengan mengetahui sumbernya,
diharapkan dapat menjadi data dasar dalam upaya rehabilitasi dalam satu kesatuan daerah
tangkapan waduk.
1.6.2. Pertanyaan Penelitian
Adanya perubahan penutupan lahan pada dua periode tertentu, apakah berpengaruh
secara signif lkan terhadap perubahan hasil air menyangkut kualitas, kuantitas dan kontinyuitas.
Apakah citra setelit marnpu menghitung erosi dan sedimentasi setiap satuan lahan satau setiap
satuan sub DAS. Bagaimana untuk mendapatkan beberapa data biofisik seperti kemiringan
lereng, arah lereng dan lain-lain untuk menghitung erosi dan sedimentasi dengantekhnik
analisis citra satelit dan SIG. Apakah pola fikir masyarakat dan kondisi sosial ekonomi lembaga
dan budaya (soseklembud) akan mempengaruhi lingkungan terutama erosi dan sedimentasi di
DTW Kedung Ombo.
1.6.3. Hasil yang Telah Dicapai
DTW Mrica mencakup dua wilayah Kabupaten yaitu Wonosobo dan Banjarnegara yang
didalamnya terdapat enam sub DAS yang menuju ke waduk dengan luas total DTW sebesar
98573.316 ha yang terdiri dari: Lumajang 5.79 % (5710.358 ha), Serayu hulu 21.52 %
(21216.1 44 ha) , Serayu 23 85 ha), Begaluh 12.53% (12351 .543 ha), Tulis 13.62
4
% (13420.857 ha), dan Merawu 22.68 % {22360.038 ha)
Pada DTW Mrica terjadi perubahan kondi si penutupan lahan pada DTW Mrica pada
periode 2001 sampai 2008 namun perbedaan ini tidak menunjukkan perbedaan yang signifikan.
Peningkatan luas lahan terjadi pada Hutan sebesar 1420.290 ha, Kebun Sayur sebesar
665.730 ha, pekarangan sebesar 1137.870 ha, dan bero sebesar 347.760 ha. Pengurangan
luas lahan terjadi pada Badan air sebesar 231 .930 ha, tegalan sebesar 457.830 ha, sawah
sebesar 1163.520 ha dan semak sebesar 1718.370 ha.
Sumber erosi dan sedimentasi di DTW Mrica berdasarkan analisis citra terdapat di DTW
Merawu yang terdiri sungai Tulis, sungai Begaluh, dan sungai Merawu. Beberapa daerah yang
erinventarisir sebagai penyumbang erosi terbesar yaitu Wonoyoto, Mojotengah dan Garung,
Batur dan Kejajar, dan Banjarmangu.
Erosi dapat dihitung secara liner melalui persamaan y = 0,3502x - 1 E+06 dengan nilai
~ = 0,9594 dimana y=nilai erosi prediksi lapangan. dan x= hasil perhitungan erosi dengan satelit
dan Sedimentasi dapat dihitung dengan persamaan y = 0,7869x - 6E+08 dengan nilai ~ =
0,9302 dimana y=nilai sedimentasi prediksi lapangan. dan x= hasil perhitungan sedimentasi
dengan satelit
Pola pemanfaatan lahan di DTW Mrica pada bagian hulu sangat berbeda dengan bagian
ilir. Pada daerah hulu 73% masyarakatnya memanfaatkan Ia han sebagai kebun sayur,18.61%
sebagai tegalan dan 8.34% sebagai pekarangan, sedangkan pada bagian hilir 50.70%
'Tiasyarakat memanfaatkan lahan sebagai tegalan, 18.09 sebagai pekarangan dan 3.21 %
sebagai sawah.
Rekomendasi yang dapat diberikan kepada instansi yang terkait dengan pengelolaan
-:JTW Mrica untuk prioritas r'ehabilitasi kawasan antara lain (a) peningkatan kesadaran dan
epedulian publik yang rendah terhadap kerusakan sumber daya hutan, degradasi lahan dan
gkungan melalui penyuluhan, (b) Pengsinergisan kebijakan lokal, provinsi dan nasional dalam
~ a l degradasi SOH, lahan dan lingkungan; (c) Koordinasi antar sektor dalam pembangunan
.• • laya (d) Perlu pengembangan jenis komoditas pertanian alternative selain kentang
5
II. TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Analisis Perubahan Penutupan Lahan
Dalam rangka mendeteksi perubahan yang terjadi di permukaan bumi diperlukan suatu
teknik yang dapat mengidentifikasi perubahan-perubahan atau fenomena melalui pengamatan
pada berbagai waktu yang berbeda. Menurut Singh (1989) salah satu data yang paling banyak
digunakan adalah data penginderaan jauh dari satelit yang dapat mendeteksi perubahan karena
peliputannya yang berulang-ulang dengan interval waktu yang pendek dan terus menerus.
lnformasi tentang penutupan lahan yang akurat dan up to date sangat penting dalam
pengelolaan lahan (land Management) pada suatu DAS. Perubahan aktivitas pada suatu
penggunaan lahan dalam suatu ruang dan waktu sering mengakibatkan perubahan penutupan
lahan sebagai indikasi aktivitas pengelolaan lahan. Untuk memperoleh perencanaan
pengelolaan yang sesuai maka perlu dipilah pemahaman antara 'penutupan lahan' dan
'penggunaan lahan', walaupun sering peristilahannya dapat digunakan keduanya. Definisi
penutupan lahan (land cover) menurut (Berrios, 2004) adalah obyek fisik yang menutup
permukaan tanah yang meliputi vegetasi (alami maupun tanaman), bangunan buatan manusia,
tubuh air, es, batuan dan permukaan pasir (padang pasir). Sedangkan penggunaan lahan (land
use) adalah pemanfaatan lahan oleh manusia untuk tujuan tertentu (Berrios, 2004).
Dalam peta Rupa Bumi Indonesia (RBI) skala 1 : 250.000, tahun 1986, penutupan
lahan/penggunaan lahan dibedakan menjadi : hutan, perkebunan, ladang, pemukiman, dan
sawah. Oleh Badan Planologi Kehutanan, Departemen Kehutanan, klasifikasi penutupan lahan
tersebut diperluas menjadi : ·
1. Hutan :a. hutan lahan kering primer
b. hutan lahan kering sekunder
c. hutan tanaman
d. hutan rawa primer
e. hutan rawa sekunder
2. Perkebunan
3. Pemukiman
4. Sawah
5. Lahan kering/ladang :
a. pertanian lahan kering
b. pertanian lahan keri ng campur semak
6. Rawa
6
7. Tanah terbuka
8. Tubuh air
9. Belukar:
a. semak/belukar
b. belukar rawa
ldentifikasi penutupan vegetasi maupun non vegetasi pada citra penginderaan jauh
dapat dilakukan secara manual dan secara digital (menggunakan citra satelit). Klasifikasi
penutupan lahan didasarkan pada luas penutupan vegetasi dan non vegetasi yang dinyatakan
dalam prosentase penutupan. Analisis kuantitatif kategori penutupan vegetasi sebagai faktor
yang mempengaruhi kejadian limpasan permukaan didasarkan pada prosentase luas
penutupan vegetasi dan non vegetasi. Semakin luas penutupan lahan yang berupa vegetasi
semakin menghambat terjadinya limpasan permukaan, dan sebaliknya semakin tipis atau
hampir tidak ada penutupan vegetasi berarti semakin menunjang terjadinya limpasan
permukaan, apalagi tanpa disertai dengan upaya konservasi seperti pembuatan terasering dll
(BPDAS Solo dan PUSPICS, 2002).
2.2. Erosi dan Sedimentasi Waduk
Waduk merupakan suatu bangunan air yang berfungsi untuk menampung air yamg
digunakan pada saat debit rendah. Dari segi kegunaannya waduk ada dua yaitu, waduk eka
guna misalnya waduk yang khusus digunakan untuk irigasi, pembangkit listrik, pengendalian
banjir, dan waduk serba guna misalnya waduk yang berguna menyeluruh dalam satu waduk itu
(Sudjarwadi, 1989).
Erosi adalah peristiwa pindahnya atau terangkutnya tanah atau bagian-bagian tanah
dari suatu tempat ke tempat lain oleh media alami (Arsyad, 1989). Terjadinya erosi pada lahan
erbuka yang diikuti oleh hilangnya bahan organik pada lahan terbuka dan pemadatan tanah
menyebabkan terjadinya penurunan kapasitas infiltrasi tanah. Akibatnya hujan yang terjadi
selanjutnya akan dengan mudah untuk terakumulasi di permukaan membentuk limpasan
permukaan sehingga kemampuan hidroorologisnya berkurang (Rahim, 2000)
Sedimentasi merupakan proses kelanjutan dari peristiwa erosi atau peristiwa terkikisnya
permukaan akibat air hujan. Tanah tesebut mengalir melalui cekungan-cekungan, saluran-
saluran air, kemudian masuk ke sungai. Sungai selain berfungsi sebagai sarana mengalirkan air
juga dapat berfungsi sebagai pengangkut bahan-bahan material yang berupa sedimen (Qohar,
2002).
7
Menurut Suyono dan Tominaga (1985 aa.am va 2006), Sedimen yang terbawa
anyut oleh aliran air terdiri dari dua muatan ya:tu oerupa 111.1atan dasar (bed load) maupun
11uatan melayang (suspended load). Muatan dasar yaitu berupa material yang bergerak dalam
aliran sungai dengan cara bergulir, meluncur, dan meloncat-loncat di atas permukaan dasar
sungai. Sedangkan muatan melayang yaitu butiran-butiran halus yang ukurannya lebih kecil
ang senantiasa melayang di dalam air.
Faktor utama yang mempengaruhi gerakan sedimen (transport sedimen) di sungai
a::lalah : berat jenis butiran dan kecepatan ali ran dan morfologi sungai. Perencanaan waduk di
:alamnya selalu disediakan sebagian volume penampungan yang disebut volume mati (dead
s:orage), selama sedimen masih mengisi volume mati, waduk masih bisa beroperasi secara
Laju sedimentasi pada waduk sangat dipengaruhi oleh kondisi daerah tangkapan air
aduk tersebut. Beberapa faktor yang mempengaruhi laju sedimen di waduk adalah : tipe
:a.1ah, kemiringan lahan, penutupan vegetasi, karakter hujan dan tata guna lahan (Sumarto,
995) .
.3. Analisa Citra Satelit dan Sistem lnformasi Geografi
Analisa citra dapat dimanfaatkan dalam berbagai bidang baik untuk deteksi wilayah
• e"1utanan maupun diluar wilayah tersebut. Beberapa macam satelit perlu dikeahui untuk
-e,entukan pilihan penggunaan hasil citra yang diproduksi, hal tersebut berkaitan dengan
• egunaan dan keunggulan masing-masing satelit, semakin lengkap citra yang dihasilkan oleh
satelit maka semakin banyak informasi yang dapat dipetik manfaatnya (Johansen dan Sanders,
982).
Dalam menganalisa citra satelit diperlukan analisa interaktif yang meliputi beberapa
egiatan antara lain: (1) perbaikan citra (image restoration), (2) Penajaman citra (image
enhancement), (3) Klasifikasi citra secara intensif (interactive image classification) (Lillesand
an Kiefer, 1979).
Menu rut Purwadhi (2001) penajaman citra dimaksudkan untuk mempertajam kontras
ang tampak pada ujud gambaran yang terekam dalam citra. Secara umum teknik penajaman
dl dalam aplikasinya dapat dikategorikan dalam tiga cara, yaitu manipulasi kontras (contrast
anipulation), manipulasi kenampakan spasial (spatial feature manipulation) dan manipulasi
lti citra (multi-image manipulation). Manipulasi kontras dilakukan dengan memodifikasi
sehingga dapat meningkatkan ketajaman citra. Manipulasi kenampakan spasial
-encakup penggunaan filter spasial (spatial filtering) dan penajaman tepi (edge enhancement).
8
Sedangkan manipulasi multi citra dapat dil akukan dengan PCA, NDVI dll. Poveda,G dan
Salazar F.Luis, 2004, menerapkan formul asi NDVI pada citra digital untuk mengetahui
keanekaragaman tanaman tahunan di Amazonia. Panjang gelombang yang digunakan untuk
menyusun formula tersebut adalah inframerah dekat (0.73 - 1.1 um) dan merah (0.55 - 0.68
um). Pada kajian tersebut diperoleh informasi bahwa formula NDVI yang diterapkan pada citra
digital dapat digunakan untuk mengetahui kemampuan potosintesis tanaman tahunan.
Menurut Mas Francois dan Ramirez (1996) , keterbatasan dari klasifikasi data digital
yang mengandalkan nilai spektral adalah apabila spektral dari penutupan lahan yang berbeda
memiliki nilai yang hampir sama (similar) . Hal tersebut mengakibatkan klas penutupan lahan
idak dapat dibedakan sehingga akurasinya rendah.
Menurut Danoedoro (2003) klasifikasi citra secara digital tidak cukup hanya
mengandalkan informasi spektral akan tetapi diperlukan pengetahuan tambahan mengenai tipe
penutupan lahan di lokasi kajian yang meliputi teksture dan informasi medan (terrain
information) .
Sistem lnformasi" Geografis atau sering disebut Geographic Information System (GIS)
adalah suatu sistem yang berbasis komputer yang dapat digunakan untuk menyimpan,
menganalisis dan memanggil kembali data dengan cepat dan mudah (Aronoff, 1989).
Teknologi ini berkembang sangat pesat dan menjadi alat yang efektif untuk digunakan di dalam
analisa - analisa geografis. Sumber data yang dapat digunakan sebagai masukan (input) di
dalam sistem ini adalah survei lapangan (pengukuran lapangan), peta dan data dari
penginderaan jauh.
Menu rut Molenaar (1991) sistem informasi geografis dapat digunakan untuk
mendiskripsikan obyek, fenornena atau proses yang terjadi di permukaan bumi. Prinsip dasar
Si stem lnformasi Geografis (SIG) adalah setiap data spasial/geografis berkaitan dengan letak
(position) dan atribut. Data yang berkaitan dengan letak geografis digambarkan sebagai titik
(point), garis (arc) dan area (poligon). Sedangkan atribut menerangkan fenomena yang
menyertai titik, garis dan poligon tersebut. Ada 2 struktur data didalam sistem informasi
geografis yaitu struktur data raster dan vektor.
Struktur data raster adalah kumpulan dari titik atau ruang (cells) yang meliput suatu
permukaan bumi ke dalam kotak yang teratur (regular grid) . Di dalam struktur data raster atribut
obyek secara langsung berhubungan dengan posisi obyek tersebut. Contoh dari struktur data
raster adalah data penginderaan jauh seperti potret udara dan citra satelit . Pada struktur data
raster masing - masing kotak (cells) menunjukkan luasan dari permukaan lahan. Struktur data
ektor menampilkan kena11pa:<an dengan tingkat ketelitian posisi yang jauh lebih tinggi
dibanding data raste
9
4. Pola Pemanfaatan Lahan
Sitorus (2001) mendefinsikan sumberdaya Ia han (land resources) sebagai lingkungan
._ _
1
terdiri dari iklim, relief, tanah, air dan vegetasi serta benda yang ada di atasnya sepanjang
~ = a pengaruhnya terhadap penggunaan lahan. Oleh karena itu sumberdaya lahan dapat
,: '(atakan sebagai ekosistem karena adanya hubungan yang dinamis antara organisme yang
a::a di atas lahan tersebut dengan lingkungannya (Mather, 1986) .
Dalam rangka memuaskan kebutuhan dan keinginan manusia yang terus berkembang
- ~ 1 untuk memacu pertumbuhan ekonomi yang semakin tinggi , pengelolaan sumberdaya lahan
S-e;}:1gkali kurang bijaksana dan tidak mempertimbangkan aspek keberlanjutannya (untuk
=-;;Jka pendek) sehingga kelestariannya semakin terancam. Akibatnya, sumberdaya lahan yang
alitas tinggi menjadi berkurang dan man usia semakin bergantung pada sumberdaya lahan
=-g bersifat marginal (kualitas lahan yang rendah) . Hal ini berimplikasi pada semakin
rangnya ketahanan pangan, tingkat dan intensitas pencemaran yang berat dan kerusakan
- ;i<ungan lainnya. Dengan demikian, secara keseluruhan aktifitas kehidupan cenderung
-e,1uju sistem pemanfaatan sumberdaya alam dengan kapasitas daya dukung yang menurun.
C ain pihak, permintaan akan sumberdaya lahan terus meningkat akibat tekanan pertambahan
c·:nauduk dan peningkatan konsumsi per kapita (Rustiadi, 2001 ).
Menurut Dardah (2005) , terkait daya dukung lingkungan, terdapat beberapa hal penting
.·=:•g harus diperhatikan dalam pemanfaatan lahan:
• Ketersediaan sumber daya alam dan sumber daya buatan yang dibutuhkan dalam
pelaksanaan kegiatim yang akan dikembangkan. Dalam konteks ini ketersediaan
tersebut harus diperhitungkan secara cermat, agar pemanfaatan sumber daya alam
dapat dijaga pada tingkat yang memungkinkan upaya pelestariannya.
• Jenis kegiatan yang akan dikembangkan harus sesuai dengan karakteristik
geomorfologis lokasi Uenis tanah, kemiringan, struktur batuan). Hal ini dimaksudkan
agar lahan dapat didorong untuk dimanfaatkan secara tepat sesuai dengan sifat fisiknya.
• lntensitas kegiatan yang akan dikembangkan dilihat dari luas lahan yang dibutuhkan dan
skala produksi yang ditetapkan. Hal ini sangat terkait dengan pemenuhan kebutuhan
sumber daya alam dan sumber daya buatan sebagaimana telah disampaikan di atas.
lntensitas kegiatan yang tinggi akan membutuhkan sumber daya dalam jumlah besar
yang mungKin tidak ses:..ai a eng an ketersediaannya.
10
• Dampak yang mungkin timbul dari kegiatan yang akan dikembangkan terhadap
lingkungan sekitar dan kawasan lain dalam satu ekosistem, baik dampak lingkungan
maupun dampak sosial. Hal ini dimaksudkan agar pengelola kagiatan yang
memanfaatkan lahan dapat menyusun langkah-langkah antisipasi untuk meminimalkan
dampak yang timbul.
• Alternatif metoda penanganan dampak yang tersedia untuk memastikan bahwa dampak
yang mungkin timbul oleh kegiatan yang akan dikembangkan dapat diselesaikan tanpa
mengorbankan kepentingan lingkungan, ekonomi , dan sosial-budaya masyarakat.
11
Ill. TUJUAN DAN MANFAAT
3.1. Tujuan
Tujuan penelitian "Ana/isis Sumber Erosi dan Sedimentasi di DTW Kedung Ombo
... engan Citra Sate/it dan Sistem lnformasi Geografis" adalah :
1. Menganalisis perubahan penutupan lahan di daerah tangkapan waduk (DTW) Kedung
Ombo
2. Mengetahui sumber erosi dan sedimentasi di waduk Kedung Ombo dengan bantuan
interpretasi citra satelit dan analisis Sistem lnformasi Geografi (SIG).
3. Mengetahui pola pemanfaatan lahan di daerah tangkapan waduk Kedung Ombo
3.2. Manfaat
Manfaat yang dapat diperoleh dari penelitian ini yaitu diharapkan dari kegiatan
:-enelitian sumber erosi dan sedimentasi yang ada di DTW Kedung Ombo antara lain :
1. Diketahuinya kondisi perubahan penutupan lahan di DTW Kedung Omb
2. Diketahuinya daerah sumber erosi dan sedimentasi di DTW Kedung Ombo yang
dihasilkan dari analisis citra satelit dan SIG
3. Diketahuinya pola pemanfaatan lahan di DTW Kedung Ombo
Rekomendasi kepada instansi yang terkait dengan pengelolaan DTW Kedung Ombo
-'1tuk prioritas rehabilitasi Kawasan yang terinventarisir menyumbang erosi dan sedimen yang
--e.atif besar. lnstansi terkait meliputi Dinas-dinas yang wilayahnya masuk di DTW (Daerah
-angkapan Waduk) Kedung Ombo antar lain Kabupaten Boyolali , Sragen, Semarang dan
3robogan. Dinas terkait yang perlu peduli dengan waduk Kedung Ombo antara lain, Dinas PU
=>ekerjaan Umum), PLN (Perusahaan Listrik Negara) , Dinas Pariwisata, Dinas Lingkungan
idup, Dinas Pertanian dan Kehutanan, serta BAPPEDA.
Berkenaan pentingnya penanganan waduk Kedung Ombo perlu ada pengelolaan
oersama DTW agar umur waduk dapat berfungsi sesuai dengan umur waduk yang diharapkan.
J isamping itu mengingat permasalahan waduk tidak hanya masalah biofisik tetapi juga masalah
sosial ekonomi karena adanya konflik kepentingan, sehingga perlu penanganan secara lintas
sektoral, holi stik, dan integratif.
12
IV. METODOLOGI
Lokasi Penelitian
Penelitian ini dilakukan Waduk Kedung Ombo dengan luas genangannya sebesar
.600 ha yang wilayahnya meliputi Kab. Sragen, Grobogan dan Boyolali. Penelitian
dilakukan pada tahun 2010. Gambaran mengenai kondisi secara umum di Waduk Kedung
Ombo meliputi beberapa aspek, antara lain :
a. Secara geografi Waduk Kedung Ombo terletak di bagian selatan Jawa Tengah pada
posisi 110°45'-111°10' BT (Bujur Timur) dan 71°5'-7°30' LS (Lintang Selatan), tepatnya
terletak di Ds. Rambat, Kec. Geyer+ 29 Km kearah selatan kota Purwodadi.
b. Daerah waduk mempunyai iklim tropis dan temperatur sedang dengan curah hujan rata-
rata dibawah 3.000 mm/tahun dan hari hujan dengan rata-rata dibawah 150 hari/tahun
c. DTW Waduk Kedung Ombo memiliki kemiringan dari datar sampai mirng. Relief relative
atau topografi wilayahnya beraneka ragam, ada daerah pegunungan kapur yang
membentang dari timur ke barat terletak di sebelah utara bengawan Solo dan dataran
rendah yang terse bar. Tinggi tempat rata-rata 109 m dari permukaan laut dengan
deviasi 50 m. DTW terbagi menjadi 3 kelompok : 1) Daerah hilir berada pada ketinggian
sampai dengan 50 mdpl, dengan kelerengan 0 - 8%, 2) Daerah tengah berada pada
ketinggian antara 50 -100 mdpl, dengan kelerengan 8 - 45%, 3) Daerah hulu berada
pada ketinggian antara 100- 500 mdpl, dengan kelerengan >45%. Menurut ketinggian
tempat di DTW Kedung Ombo terdiri dari : (a) dataran rendah, (b) kaki bukit, (c)
punggung bukit, (d) cfataran tinggi, dan (e) puncak bukit (Gam bar 1 ).
d. Wilayah Waduk Kedung Ombo terdiri dari beberapa jenis tanah antara lain: 1) AI uvial
(Entisols) dengan bahan induknya endapan liat dan pasir, 2) Asosiasi Litosol (Entisols),
Mediteran kuning (Uitisols) dan Rensina (Rendell) dengan bahan induknya batu kapur
dan napal lunak, 3) Komplek Regosol kelabu (entisols) dan Grumosol kelabu tua
(Vertisols) dengan bahan induknya batu kapur dan napal, 4) Grumosol dengan bahan
induk endapan liat, 5) Grumosol dengan bahan induk batu kapur dan napal, 6) Asosiasi
Grumosol tua coklat dengan bahan induk napal lunak, 7) Asosiasi Mediteran merang
kekuningan dan Mediteran coklat kekuningan dengan bahan induk batu liat lunak. Tipe
dasar adalah lempung berpasir. Fisiografi batuan secara umum berupa bukit lipatan,
tekstur batu kapur, dengan struktur padat hingga remah.
13
- -
-
..,..,.
: legend
-4
.&. ... ... ... ....
a.- .A: Dataran rendah
DB: Kaki bukit
• C: Punggung bukit
• D: Datar an tinggi
PfM;\1 E: Puncak bukit
-1 r-
H
W*E
s
"""""
tol'OD004
+ + + + +


I
' '
- -
- -
-
.....................
................................ • ..
1000000000 0 1000000000 2000000000 Meter;
..... ......... • • • • • hilt
}14T ..........
Gambar 1. Peta Letak Ketinggian Tempat dari Dataran Rendah sampai Puncak Bukit di DTW
Kedung Ombo,Boyolali, Jawa Tengah
14
4.2. Bahan dan Alat
Bahan yang digunakan dalam kegiatan ini antara lain:
1. Peta- peta dasar, antara lain : Peta RBI skala 1 : 25.000 (Peta kontur dan Penutupan
Lahan) dan Peta Landsystem Peta situasi dan administrasi.
2. Citra satelit digital perekaman terbaru, SRTM (Shuttle RadarThematic Mapper)
3. Alat tulis: pensil, balpoint dan alat tulis untuk penafsiran citra yaitu OHP fine full color,
selotip dan plastik astralon.
4. Kertas plotter, kertas printer dan tinta warna (cartridge) untuk warna hitam, kuning,
magenta dan cyan.
Sedangkan peralatan yang diperlukan antara lain :
1. Peralatan untuk interpretasi citra satelit secara visual (Loop, stereoskop cermin/saku,
Komputer)
2. Peralatan survei lapangan (Meteran, Kompas, Abney level, pH stik, Blanke survei ,
Kamera digital, GPS, kuisioner dan daftar pertanyaan untuk wawancara)
3. Peralatan untuk pengolahan data digital dan SIG, antara lain:
• Perangkat keras (hard ware) berupa komputer
• Perangkat lunak (soft ware) untuk analisis citra yaitu Erdas-lmagine versi 8.7 dan
PC Arc/Info versi 3.40 plus dan ArcView 3.3, llwis 3.3. untuk analisa SIG. Untuk
tabulasi diperlukan Excel, Microsoft word dan DBASE IIIPius.
4. 3. Cara Pengambilan dan Analisis Data
4.3.1. Analisis Perubahan Penutupan Lahan di DTW Kedung Ombo
Analisis perubahan penutupan lahan dalam penelitian ini ditujukan untuk mengetahui
oerubahan luas ketersediaan ruang terbuka hijau, lokasi dan penyebarannya yang terjadi dalam
run waktu tertentu. Analisis citra satelit akan dilakukan di laboratorium PJ dan SIG serta akan
dilakukan ground cek melalui observasi sampling beberapa obyek di lapangan. Untuk
11enetapkan titik-titik sampel obyek dipilah dalam tiga wilayah: hulu, tengah, dan hilir dengan
asumsi bahwa ketiga wilayah tersebut memiliki pola penutupan lahan yang berbeda berkaitan
dengan penggunaan lahan yang berbeda pula. Mengingat keterbatasan waktu, dana dan
at<:sesibilitas, pada masing-masing wilayah ditetapkan Sub DAS-Sub DAS representatif.
Kondisi penutupan lahan pada setiap Sub DAS/Sub-sub DAS reprensentatif
dfinterpretasikan j enis-jenis pe
::>emil ahan j enis penutupan Ia;; a
pannya berdasarkan perbedaan spektral reflektannya.
engacu pada sistim klasifikasi penutupan lahan Badan
15
_=analogi Kehutanan serta dilakukan melalui proses analisis spektral. Pen eta pan titik-titik
sampel dilakukan berdasarkan tumpang tindih (overlay) peta jenis penutupan lahan hasil
- erpretasi citra digital (perbedaan spektral reflektan) dengan peta penutupan dan penggunaan
1ahan yang ada (peta RBI , peta penggunaan lahan, peta landsistem), selanjutnya titik-titik
sampel pada peta hasil overlay diambil dengan mempertimbangkan sebaran dan kemudahan
aksesibilitas lapangannya.
Penajaman citra digital dimaksudkan untuk memperjelas kenampakan obyek pada citra
dan memperbaiki kualitas citra. Penajaman yang akan dilakukan meliputi filtering, manipulasi
histogram citra dll. Setelah dilakukan pemrosesan citra seperti tersebut di atas, kemudian
dilakukan klasifikasi tidak berbantuan (Unsupervised classification). Hasil klasifikasi digunakan
ntuk menentukan titik sampel Uenis penutupan dan penggunaan lahan) yang selanjutnya
digunakan sebagai dasar di dalam kegiatan lapangan (ground checking) . Klasifikasi berbantuan
Supervised Classification) dilakukan setelah kegiatan lapangan .
. 3.2. Sumber erosi dan sedimentasi di waduk Kedung Ombo dengan PJ dan SIG
Metode perhitungan erosi tanah dilakukan secara kualitatif dengan metode SES (Soil
=rosi Status) dan secara kuantitatif dengan metode MMF (Morgan, Morgan dan Finney) .
4. 3.2.1. Erosi Kualitatif (SES= Soil Erosion Status)
SES dihitung secara kualitatif dan bergantung dari 5 parameter yaitu: arah lereng
aspect), kemiringan lereng (slope gradient), kerapatan sungai (drainage density), jenis tanah
Soil types), dan penutupan dan penggunaan lahan (landusel landcover) , (Tabel 1)
16
Soil Erosion Sf
ER0$1" ·· ·
. ! • lf:)i
RELAllF' ' .,,,. ·
EROS I •-' .. .', '{ ,..,.,..
Utara Sangat Rendah 1
Tenggara dan Timur laut Rendah 2
Timur dan Barat Sedang 3
Barat daya, Barat laut Tinggi 4
Selatan Sangat Tinggi 5
2. Kemiringan < 15% Sangat Rendah 1
Lereng 15-45 Rendah 2
45-65 Sedang 3
65-85 Tinggi 4
> 85% SangatTinggi 5
Kerapatan Tidak ada drinase grid 500x500 Sangat Rendah 1
Drainase Ordo sungai 4 Rendah 2
Ordo sungai 3 Sedang 3
Ordo sungai 2 Tinggi 4
Ordo sungai 1 Sangat Tinggi 5
-.
Tipe Tanah Liat berat Sangat Rendah 1
Liat ringan Rendah 2
Lempung Sedang 3
Pasir halus Tinggi 4
Pasir kasar Sangat Tinggi 5

Land use Hutan > 40%, datar Sangat Rendah 1
Land cover Hutan > 40%, curam Rendah 2
Hutan 1 0 - 40% Sedang 3
Hutan < 10%, terasering Tinggi 4
Hutan < 10%, tanpa teras
5
Untuk mendapatkan parameter diatas dapat diperoleh dari analisis citra satelit (aspek,
lereng, kerapatan drainase, dan land use land cover) atau dengan mengumpulkan
:a:a dari lapangan (tipe tanah). Jika data tekstur tanah tidak diperoleh di lapangan dapat
.,: aKukan pendekatan dengan analisis citra satelit,yaitu pada daerah datar relatif tekstur kearah
- sebaliknya pada daerah miring dengan tekstur relatif kasar.(Tabel 2).
17
_____________ __ KETERANGAN :'··
MEMOTONG BATAS DAS DEM01500 : Peta OEM (Digital Elevation
DEM01500das=iff(isundef(btsdas),?,dem01500) Model, ketinggian 0-1500 m yang akan
dipotong
,btsdas : peta raster batas das yang
dipakai untuk memotong
ASPEKIARAH LERENG AspecTD : aspek atau arah lereng dengan
AspecTD=raddeg(aspecTR) satuan degree atau derajat (o)
AspecTDsci=MapSiicing(AspecTD,AspecTDslc) AspecTR : aspek atau arah lereng dengan
AspecTR=ATAN2(dx,dy)+PI satuan radian
Dx=MapFilter(DEM01500das.mpr,DFDX.fil) Ox : beda jarak vertikal (absi=X)
Dy=MapFilter(DEM01500das.mpr,DFDY.fil) Oy : beda jarak horizontal (ordinat = Y)
SLOPE/KEMIRINGAN LERENG SLPD : Slope degree atau kemiringan
SLPD= RADDEG(ATAN(SLPP/100)) lereng dengan satuan derajat (o)
SLPP= 1 OO*hyp( dx,dy)/90 SLPP : slope percent a tau kemiringan
SLPPslic= MapSiicing(SLPP,SLPPslic) lereng dengan satuan persen (%)
4.3.2.2. Erosi kuantitatif (MMF = Morgan, Morgan, dan Finney)
Dalam penggunaan metode MMF diperlukan peta variasi beberapa faktor tanaman,
tanah dan iklim. Beberapa parameter tanaman yang dikumpulkan dari lapangan atau dengan
menggunakan tabel antara lain : nilai faktor pengelolaan tanaman (C). prosentase kontribusi
hujan permanen dalam bentuk intersepsi dan aliran batang (A) , evapotranspirasi aktual dan
evapotranspirasi potensial (ETEo), kedalaman perakaran (RD), (Tabel 3Error! Reference
source not found.) .
Beberapa parameter tanaman yang dikumpulkan dari lapangan atau dengan
menggunakan tabel antara lain : kelembaban tanah (MS), bobot jenis tanah (80), indeks
erodibiltas tanah (K), (Tabel4).
18
A. FAKTOR TANAMAN
Hutan
Kebun
Sawah
an
Badan air
Bero
B. FAKTOR TANAH
B 4-8
c 8-15
0 15-25
E 25-35
F 35-45
G 45-65
H 65-85
I > 85%
Keterangan : S: Score, contoh S. MS (Score untuk MS!kelembaban tanah)
C. FAKTOR IKLIM
R= 1 000+0.329*DEM01500das
E=R*(11 .87+8.73*1og(l))
E=R*(11.87+8.73*1og(25))
RC= 1 OO*MS•BO*RO*(ETEQ)A(Q.5)
Q= R•e"'-RC.'25
19
A Formula Fase Air
a. Energi air hujan yang jatuh
E=R*(11.87+8.73*1og I)
b. Aliran permukaan
Q= R* exp (-Rc/Ro)
Q= R*e"(-RC/RO)
R. = 1 000+0.329*DEM01500das
1 OO*MS*BD*RD*(ETE0)
0

5
B. Formula Fase Sedimen
a. Perhitungan percikan tanah
= =K*(E.exp-ap)b.1 o-
3
==K*(E*e"(-0.05+A))*1.0*1 0"-3
b. Kapsitas aliran permukaan
G=C*Q
2
*sin S*1 o-
3
G=C*(Q"2)*(sin(S))*1 0"-3
C. Kehilangan Tanah
SL = min(G,F) = kg/m
2
SL = kg/m
2
= ton/ha
E : energi kinetik (jlm
2
)
R : curah hujan tahunan (mm)
I : intensitas hujan (mmljam)
Q : volume a/iran permukaan (mm)
Rc: kapasitas simpan kelembaban tanah
dalam Keadaan vegetasi aktual (mm)
Ro: rata-rata hujan per hari (mm)
MS : kelembaban tanah (%)
BD : bobot jenis tanah (glcm
3
)
RO : kedalaman perakaran (m)
ET: evapotranspirasi aktual
EO : evapotranspirasi potensial
F : rata-rata percikan partikel tanah (kglm
2
)
K : indeks erodibiltas tanah (g/j)
P : prosentase intersepsi air hujan oleh
tanaman, dengan nilai eksponen :
a=O,OS dan b = 1,0
G : kapasita transportasi a/iran permukaan
(kglm
2
)
C : nilai faktor pengelolaan tanaman
Q: volume a/iran permukaan (mm)
SL : kehilangan tanah, diambil yang
memiliki nilai paling kecil (minimum)
Perkiraan perhitungan kehilangan tanah tahunan dengan membandingkan dua peta
yaitu peta laju pemecahan tanah dan peta kapasitas trsanaport aliran permukaan dan diambil
il ai minimum dua diantara peta tersebut (Tabel 5) .
Peta yang dihasilkan berupa model erosi tanah yang sudah dibagi menurut tingkatan
erosi , kontribusi hutan terbuka merupakan maksimum dari kehilangan tanah yaitu > 50
ha/tahun (VH=Very High = sangat tinggi). Kehilanagan tanah paling sedikit dicatat pada lahan
anaman pertanian ya:t.J < 5 tiha/tahun (VL=Very Low = sangat rendah) . Selanjutnya tiap-tiap
ingkatan erosi d'ka. dari erosi yang terendah 10 untuk VL, 20 untuk L, 30
20
ntuk M., 40 untuk H, dan 50 untuk VH, dan total semuanya dibagi dengan luas masing-masing
Sub DAS.
4.3.3. Pola pemanfaatan lahan di daerah tangkapan waduk Kedung Ombo
Pengambilan data akan dilakukan dengan beberapa teknik antara lain pengamatan
observasi), wawancara menggunakan kuesioner/ in-deph interview serta pengkajian dari
dokumen-dokumen (data sekunder).
1 ). Observasi digunakan untuk menggali data dari sumber data yang berupa peristiwa,
tempat atau lokasi, benda serta rekaman gambar Pengamatan tidak hanya dikaitkan
dengan suatu yang terjadi (informasi), tetapi juga dengan hal-hal yang berkaitan
disekitarnya (konteks). Hal ini berarti bahwa dalam pengamatan tidak hanya
mencatat suatu kejadian atau peristiwa.
2). Wawancara
Wawancara (interview) adalah pengumpulan data dengan mengajukan pertanyaan
secara langsung. Teknik wawancara yang akan digunakan adalah wawancara
terstruktur dan wawancara tidak terstruktur (in- depth interview). Wawancara
terstruktur dilakukan dengan menggunakan pedoman pertanyaan yang telah
diinformulasikan oleh peneliti. Wawancara terstruktur akan dilakukan dengan
responden dari desa yang dilokasi penelitian. Wawancara tidak terstruktur (in-deph
interview) dilakukan dengan . menggunakan pertanyaan yang bersifat "open ended"
dan mengarah pada kedalam informasi.
Analisa data yang digunakan dalam menganalisis pemanfaatan lahan lebih
bersifat deskriptif kualitatif. Analisis deskriptif dilakukan dengan tabulasi frekuensi,
distribusi, persentase dan grafik. Analisis kualitatif dilakukan untuk menggali data
pemanfaatan lahan pada DTW Kedung Ombo secara lebih mendalam.
21
Rancangan/Design Riset (lihat Gambar 2)
Masalah
Kelembagaan
Peraturan Pemda
dan
Kebiasaan Masyarakat
Masalah
Deforestrasi
Alih Fungsi Hutan
Penggundulan Hutan
PEMECAHAN
MASALAH
Erosi dan Sedimentasi
Waduk Kedung Ombo
Masalah
Erosi dan Sedimentasi
Morfoerosi
dan
Sedimentasi Waduk
Sutvai Penggunaan Lahan
dan Penutupan Lahan
LAND USE/LAND COVER
Survai Sosial Ekonomi
Kelembagaan dan Budaya
Survai Macam dan Tingkat
Erosi, Data Sedimentasi di
Waduk Kedung Ombo
ISDL SOSEKLEMBUD
Tabulasi Data Sosek
Kompilasi Data Biofisik
Pemetaan Sub DAS
HASIL AKHIR
dan
REKOMENDASI
3 am bar 2 . Diagram Aim Pemecahan ~ 1 a s a l a h Kelembagaan, Deforestrasi, Erosi dan Sedimentasi
22
V. HASIL DAN PEMBAHAS
5.1 Analisis Perubahan Penutupan Lahan di DTW Kedung Ombo
Waduk Kedung Ombo merupakan salah satu penyangga eKonomi dan ekosistem yang
mencakup empat kabupaten yaitu Sragen, Boyolali, Semarang dan Grobogan. Bagian hilir
erdapat di kabupaten Sragen dan Grobogan, sedangkan hulu terdapat di Kabupaten Semarang
dan Boyolali. DTW Kedung Ombo memiliki luasan 57744,041 ha yang terdiri dari empat sub
.JAS. Sub DAS tersebut yaitu Sub DAS Karangboyo dengan luas 11941,365 ha, sub DAS
_aban 11476,544 ha, sub DAS Gading 16880,083 ha dan sub DAS Uter 17446,049 ha. Peta
.JTW Kedung Ombo dapat dilihat pada Gam bar .3.
1170Xl0-l +
Peta Daerah Tangkapan Waduk Kedungombo
Jaw a Tengah
""""'
+ + + +
_,., .....,
"'"""
1000000000 0 1000000000 2000000000 Motors
'"<DW
LEGENOA
- Sub OAS Kanngboyo
0 Sub OAS Gadlng
l!iiiJ Sub OAS Laban
~ Sub OAS Ut.r
H
W*E
s
k aM-N•IU1'111r:lfl ..
· - ~ · · ~ ~ · " " ' " · .......... ""' ..... .: ... 1111111 •
... ,...,. ...... .... _ ... ,.'-
JIA'fllll ......... klt'II .. U 1 • • 1 ~ 1 , 1
::;a'Tlbar 3 . Peta Daerah Tangkapan Waduk (DTW) Kedung Ombo, Jawa tengah : Sub DAS
Karangboyo, Gading, Laban, dan Uter.
Berdasarkan hasil orientasi fisik lapangan bahwa kondisi umum DAS di DTW Kedung
C-nbo dapat dijelaskan sebagai berikut:
Sub DAS Uter memiliki wil ayah paling besar yang terdiri dari Kab Boyolali : 4 kec dan 32
desa, Sragen : 4 kec dan 27 desa. Wil ayah sub DAS ini didominasi oleh dataran rendah
23
dengan jenis tanah Vertisols dengan kanat.r.gar 1a:
2. utSub DAS Gading wilayahnya terdiri dari Kao S 29 desa dan
Semarang : 4 kec dan 39 desa. Secara umum '<c-dsi b,c:;sto( Swb DAS Gading
merupakan daerah perbukitan keci l dan sebagian besar aaerah alluvi al-coll uvial dan
dataran. Kondisi batuan beku yang telah mengalami pelapukan, sehingga solum tanah
cukup dalam > 90 em dan kedalaman regolit > 200 em. Jenis tanah di dominasi
lnceptisols dan sedikit Entisols, yaitu untuk lncepti sols bi asa digunakan untuk sawah
irigasi dan Entisols banyak dilahan perhutani dengan tanaman jati dan mahoni.
3. Sub DAS Laban wilayahnya terdiri dari Kab. Boyolali : 7 kec dan 46 desa, Semarang 1
kec dan 6 desa, Sragen 2 kec dan 2 desa. Daerah ini banyak di dominasi tanaman
keras jati, mahoni dan sedikit akasia. Bentuk lahan di sub DAS ini berbukti kecil dan
alluvial-colluivial, dengan jenis tanah lnceptisols dan Entisols. Kelas KPL(Kelas
Kemampuan Lahan) dari Kelas II sampai VI , yaitu kelas II pada lahan sawah irigasi dan
kelas VI pada lahan produksi milik perhutani.
4. Sub DAS Karangboyo wilayah ini terdiri dari Kab Boyolali 3 kec dan 20 desa, Grobogan
1 kec dan 1 desa, Semarang 2 kec dan 11 desa. Sub DAS ini merupakan daerah tengah
bagian utara DTW Kedung Ombo. Jenis tanah di daerah ini vertisols dan mengandung
liat berat (Silty Clay atau Sandy Clay), sebagian tanah Entisols pada bentuk lahan
perbukitan yang memiliki kelas KPL V atau VI untuk lahan Perhutani untuk kawasan
hutan produksi biasa dan produksi terbatas.
Perubahan penggunaan lahan memberikan pengaruh yang nyata terhadap kondisi
:'"Oiogis suatu DAS. Perubanan penggunaan lahan dapat diketahui dengan melakukan suatu
.:,....ai1si s terhadap jenis penutupan lahan. Jenis-jenis penutupan lahan di DTW Kedung Ombo
-:upakan representasi dari penggunaannya antara lain adalah lahan berhutan, perkebunan,
--ak belukar, tegalan, tanah kosong (bero), badan air, rawa, sawah dan pekarangan.
Analisis perubahan penutupan lahan DTW Kedung Ombo dilakukan dengan
-ggunakan data citra satelit Landsat tahun 2001 dan 2008. Hasil interpretasi dari kedua data
·-sebut, menunjukkan bahwa terjadi perubahan jenis penutupan lahan yang dinyatakan
penambahan atau pengurangan luas dari masing-masing jenis. Tabel 6 menunjukan
---:::>ahan penutupan lahan di DTW Kedung Ombo.
24
-abel 6. Jenis Penutupan Lahan DTW Kedung Ombo dan Perubahan Luasnya pada tahun
2001 dan 2008
~ - . _ _ ~ !t! ··- ~ - " . - .,,...
,,. Prosen-
'f<tase (%)
-1263.15 -2.19
6.21 0.01 2.25 000 3.96 0.01
Sera 7816.86 13.54 7166.70 12.41 650.16 1,13
Hutan 11392.65 19.73 10867.86 18.82 52479 0.91
.::
Perkebunan 225.99 0.39 106.74 0.18 11925 0.21
-
.::
Pekarangan 7174.26 12.42 7997.85 13.85 -823.59 -1.43
-
Raw a 1.26 0.00 1.71 0.00 -0.45 0 00
-
Sawah 13806.90 23.91 13752.99 23.82 53.91 0.09
-
Tegalan 14148.23 24.50 13453.11 23.30 735.12 1.20
,,
<t
Berdasarkan hasil interpretasi lahan tahun 2001, tutupan lahan paling besar adalah
:egalan yaitu sebesar 14148.23 ha (24.50%). Hal ini berbeda dengan tutupan lahan pada tahun
2008 yang didominasi oleh sawah sebesar 13752.99 ha (23.83%). Dalam jangka waktu 2001
sampai dengan 2008 terjadi perubahan penutupan lahan di DTW Kedung Ombo. Perubahan
·ersebut menunjukkan adanya kenaikan dan penurunan luas penggunaan lahan. Jenis tutupan
ahan yang mengalami kenaikan yaitu badan air, pekarangan dan rawa, sedangkan tutupan
ahan yang mengalami penurunan yaitu semak belukar, bero, hutan, perkebunan, sawah dan
·egalan.
Peningkatan luasan terjadi pada genangan air yaitu badan air sebesar 1263.15 ha atau
2.19 % dan rawa meningkat sebesar 0.45 ha. Peningkatan luas ini disebabkan oleh perluasan
ambak yang dilakukan oleh masyarakat di sekitar waduk. Peningkatan tutupan pekarangan/
permukiman terjadi sebesar .823.59 ha (1.43 %). Perubahan penggunaan lahan menjadi
pemukiman ini juga terkait dengan kondisi demografi di sekitar kawasan tersebut. Adanya
penambahan jumlah penduduk yang konsekuensinya membutuhkan ruang yang lebih luas
untuk pemukiman dan penghidupan. Gambar 4 menunjukkan peta jenis penutupan lahan untuk
tahun 2001 dan 2008.
25
-
-
Peta Penutupan Lahan di DTW Kedung Ombo
Tahun 2001
-
1000000000

"""""
""""'
0
""""' ..,.,.
1000000000 2000000000 Mele!1;
Pekar at"\Qan
Perkebunan
R.,_a
Sawah
Te<Qalan
N
W*E
s
I,IIJio..,_tt ..
..... JIIfi .......... ,.,,,,. ............. ,.ICJ•ut.-.. ...
............... -, ...
Jj ... ,_, ....... ,. k•"·-· , ..,. ... ,,
Peta Penutupan Lahan di DTW Kedung Ombo
Tahun 2008
_,.
-
1000000000
I!!!!!!!
""""'
-
0
"""""
--
- -
1 000000000 2000000000 Meiers
!V.:
R-•
5...-h
: T...,.a.n
N
W*E
s
..... ..,u.o. ...
........... ...._ .. ", ................. .._ ...
................ ""....__ s. ..
.14 .. ,_ ........ .. -
Gambar 4. (a). Peta Penutupan Lahan di DTW Kedung Ombo tahun 2001, dan
(b). Peta Penutupan Lahan di DTW Kedung Ombo tahun 2008
26
Penurunan luasan tutupan laha'i :e;jac :;,ada enam tipe tutupan lahan. Tutupan lahan
oleh tanah kosong (bero) mengalami ... asan sebesar 650.16 ha (1.13%). Penurunan
ini diakibatkan karena alih guna lahan dari oero menjadi tegalan atau pekarangan/ permukiman.
Tutupan lahan bervegetasi di DTW Keaung Ombo mengalami penurunan. Penurunan ini
berkisar antara 0.01% sampai 1.20% dari total rona awal pada tahun 2001 yang dibandingkan
dengan rona akhir di tahun 2008. Tutu pan lahan bervegetasi yang mengalami penurunan yaitu
semak belukar, sebesar 3.93 ha (0.01 %), hutan, 524.79 ha (0.91%), Perkebunan 119.25 ha
0.21%, sawah 53.91 ha ( 0.09%) dan tegalan 735.1 2 ha (1.20 %). Pola perubahan yang terjadi
::>ada lahan bervegatasi seperti hutan, perkebunan, semak belukar, tegalan merupakan suatu
dinamika perubahan yang saling mempengaruhi. Berdasarkan pola perubahan tersebut maka
dapat diketahui jika di suatu lokasi terjadi peningkatan kerapatan vegetasi maka di lokasi
ainnya akan terjadi penurunan.
5.2. Analisis Sumber Erosi dan Sedimentasi di DTW Kedung Ombo
Perhitungan erosi tanah dilakukan secara kualitatif dengan metode SES (Soil Erosi
Status) dan secara kuantitatif dengan metode MMF (Morgan, Morgan dan Finney) .
27
5.2.1. Erosi Kualitatif (SES = Soil Erosion Status)
SES dihitung secara kualitatif dan bergantung dari 5 parameter yaitu: arah lereng
aspect), kemiringan lereng (slope gradient), kerapatan sungai (drainage density), jenis tanah
Soil types), dan penutupan dan penggunaan Ia han (land use! landcover) .
Arah Lereng (Aspect)
Arah lereng memberikan pengaruh secara tidak langsung terhadap besaran erosi. Arah
-t!ng akan menentukan besarnya jumlah penyinaran matahari yang akan mempengaruhi
:-:Jses pedogenesis tanah berupa pelapukan dan pembentukan tanah. Secara keseluruhan
Kedung Ombo di dominasi oleh daerah yang arah lerengnya menghadap ke utara
- :::esar 15197.24 ha (26.32%). Lereng yang menghadap arah utara dalam metode SES
dalam kelas 1 (sangat rendah) . Lihat Tabel7 dibawah ini.
Arah Lereng pada masing-masing Sub DAS di DTW Kedung Ombo
Sangat Rendah
Tenggara dan Timur laut 2 Rendah
Timur dan Barat 3 Sedang
Barat daya, Barat laut 4 Tinggi 3512.58
Selatan 5 Sangat Tinggi 1933.72
- Gading Utara 1 Sangat Rendah 2905.39
Tenggara dan Timur laut 2 Rendah 5509.11
Timur dan Barat 3 Sedang 4327.37
Barat daya, Barat laut 4 Tinggi 3327.81
Selatan 5 Sangat Tinggi 1479.34
- Laban Utara 1 SangatRendah 2177.63
Tenggara dan Timur laut 2 Rendah 3219.95
Timur dan Barat 3 Sedang 2380.95
Barat daya, Barat laut 4 Tinggi 2324.39
Selatan 5 Sangat Tinggi 1249.22
- Uter Utara 1 Sangat Rendah 2608.39
2 Rendah 4029.97
3 Sedang 3898.79
4 Tinggi 3849.37
5 Sangat Tinggi 2302.26
57744.04
28
Pada Sub DAS Karangboyo arah ,ere;og c.dominasi pada arah barat daya dan barat laut
sebesar 3512.58 ha (28.90%), sedangkan caeran yang lerengnya menghadap ke utara sangat
kecil yaitu sebesar 1548.40 ha (12.74% •. Pada sub DAS Gading arah lereng di dominasi pada
arah tenggara dan timur laut sebesar 5509.11 ha (31.39%), sedangkan daerah yang luasanya
paling rendah yaitu yang lerengnya menghadap selatan sebesar 1479.34 ha (8.43%). Pada sub
DAS Laban arah lereng di dominasi pada arah tenggara dan timur laut sebesar 3219.95 ha
(28.36%), sedangkan daerah yang luasannya paling rendah yaitu yang lerengnya menghadap
selatan sebesar 1249.22 ha (11.00 %). Pada sub DAS Uter arah lereng di dominasi pada arah
tenggara dan timur laut sebesar 4029.97 ha (24.1 5%), sedangkan daerah dengan luasannya
paling rendah yaitu yang lerengnya menghadap selatan sebesar 2302.26 ha (13.79 %). Lihat
Gambar 5.
r------------------------------··--·--·----
-· ...
-
-
-
+
-
1000000000
I!!!!!!
+
-
0
A
+ +
1000000000 2000000000 Meters
Legend
-1
N
W*E
s
h ___ ........ .,.
... ,.., .............. ,.,.._. ...... ...,... ...
...... , ........ ~ .... ~
~ .. , ... , .... ~ ............
Gam bar 5. Peta Kelas Arah Lereng : (1 ). Utara, (2). Barat Laut dan Timur Laut, (3) Barat dan
Timur, (4) Barat Daya dan Tenggara, (5) Selatan
b. Drainase (Kerapatan Sungai)
Dari hasil klasifikasi diperoleh tiga kelas kerapatan sungai yaitu seperti tersaji pada
Tabel8 di bawah ini:
29
Tabel 8. Kerapatan Sungai pada Masing-masing Sub DAS c; DT-J.
2 Gading
3 Laban
4 Uter
~ Q t a
No Drainase
Tidak Rapat
Rapat
No Drainase
Tidak Rapat
Rapat
Agak Rapat
Sangat Rapat
No Drainase
Tidak Rapat
Rapat
No Drainase
Tidak Rapat
Rapat
1
2
3
1
2
3
4
5
1
2
3
1
2
3
Sangat Renda
Rendah
Sedang
Sangat Rendah
Rendah
Sedang
Tinggi
SangatTinggi
Sangat Rendah
Rendah
Sedang
Sangat Rendah
Rendah
Sedang
11607.74
295.13
1.62
14280.19
1587.49
807.49
226.78
0.67
11202.27
294.17
2.86
17296.35
140.88
0.38
67744.04
Oalam SES Kerapatan sungai berpengaruh terhadap
terjadinya erosi. Semakin besar kerapatan sungainya maka potensi terhadap erosi semakin
besar. Secara keseluruhan kerapatan sungai di DTW Kedung Ombo didominasi tidak ada
drinase sungai dengan luasan mencapai 54386.56 ha (94.19%). hal ini berarti tidak ada partikel
tanah yang terbuang melalui run off. Prosentase terkecil yaitu kerapatan sungai sangat rapat
yaitu hanya mencapai 0.67 ha (0.001 %). Sebagian besar wilayah DTW Kedung Ombo tidak
memiliki drainase sehingga dapat dikatakan bahwa DTW kedung Ombo memiliki potensi erosi
yang sangat rendah (Gambar 6).
D
1000000000 2000000000 Mol•rs
1'
. I
Legend
-1
2
~ 3
-4
5
"
W*[
s
··--·---·
tiOIII ...................... ...__ ...
· - · - - ~ ... , .. ,.., ....... _. _ _., ..• -
Gambar 6. Peta Kelas Kerapatan Drainase: (1) . Tidak ada drinase grid 500x500, (2). Ordo
sungai 4, (3). Ordo sungai 3, (4). Ordo sungai 2, (5). Ordo sungai 1
30
• . Penutupan Lahan (Land Use Land Cover)
:ata penutupan dan penggunaan lahan diperoleh dari interpretasi citra tahun 2008 hasilnya
:erupa peta penutupan/penggunaan lahan. Klasifikasi penutupan penggunaan lahan mengacu
• asifikasi Badan Planologi Kehutanan dengan penambahan sesui dengan kondisi yang ada di
aoangan berdasar data rechecking lapangan. Jenis-jenis penutupan lahan di DTW Kedung
antara lain adalah lahan berhutan, perkebunan, semak belukar, tegalan, tanah kosong
badan air, rawa, sawah dan pekarangan. Hasil klasifikasi penutupan lahan tersaji pada
Tabel 9 di bawah.ini:
-abel9. Klasifikasi Penutupan Lahan pada Masing-masing Sub DAS di DTW Kedung Ombo
1 Karangboyo 1 Sangat Rendah 3244.67
2 Rendah 6488.78
5 Sangat Tinggi 2131.99
2 Gading 1 Sangat Rendah 3597.21
2 Rendah 12221.85
5 Sangat Tinggi 1088.44
3 Laban 1 Sangat Rendah 2882.71
2 Rendah 6601 .77
5 Sangat Tinggi 1445.22
4 Uter 1 Sangat Rendah 4484.77
2 Rendah 8868.72
3 Sedang 2.36
5 . Sangat Tinggi 2844.32
.. .. , . '.

·67744.04
:t-'!.1';- :· • ,
.
Penutupan lahan di DTW Kedung Ombo di dominasi oleh kode 2 yang merupakan
:aerah berhutan > 40% dengan tingkat erosi rendah yaitu sebesar 34181 .11 ha (59.19%).
terkecil yaitu penutupan Ia han dengan daerah berhutan 10-40% dengan kode 2
. a1tu sebesar 2.36 ha (0.004%),1ihat Gambar 7.
31
r---------------------------------· ··-- - ·--
- -
·-
t11'CIICDI +
+
1000000000
!!!!!!!!!
+
0
L
+ +
-
1000000000 2000000000 Meltr5
Legend
-0
2
3
4
5
II
W*[
s
....... ~ ..........
.................................. ,..._...
....... -...... ~ " " "
.II A, ... , ........ ..__, tWI .. WU
Gambar7. Peta Kelas Penutupan Lahan: (1). Hutan > 40%, datar, (2). Hutan > 40%, curam,
(3). Hutan 10-40%, (4). Hutan < 10%, terasering, (5). Hutan < 10%, tanpa teras
d. Kemiringan Lereng (Slope Persen)
DTW Kedung Ombo diklasifikasikan memiliki empat kelas kemiringan, Sebagian besar
DTW Kedung Ombo memiliki kemiringan lereng datar yaitu mencapai 54386 ha (94.18%).
Prosentase yang terkecil yaitu pada kemiringan lereng 64-85% yaitu hanya sebesar 1 0.49 ha
(0. 018%), lihat Tabel10.
Tabel 10. Kemiringan Lereng pada Masing-masing Sub DAS di DTW Kedung Ombo
<15%
15-45%
2 Gading <15% 1 SangatRendah
15-45% 2 Rendah 2394.985
45-65-% 3 Sedang 216.9537
64-85% 4 Tinggi 10.4993
3 Laban <15% 1 SangatRendah 11202.27
15-45% 2 Rendah 297.0347
4 Uter <15% 1 SangatRendah 17296.35
15-45% 2 Rendah 141 .2633
57744.04
32
Kemiringan lereng memi liki per.gar'..:l'1 yang lebih besar terhadap terjadinya erosi.
Semakin besar kemiringan lereng maka laj:.J aiiran permukaan semakin tinggi dan kemampuan
tanah untuk meresapkan air semakin i<eci: i'l,lah yang menyebabkan daerah yang memiliki
kemiringan besar potensi erosinya lebih besar. Berdasar hasil klasifikasi kemiringan DTW
Kedung Ombo tergolong datar sehingga potensi erosi masih tergolong sangat rendah (Gambar
8).
......
- -
-· ...
-
,_,
+ + + +
- - - -
1000000000 0 1000000000
-
s
.-..
.. -
+
r--
-
2000000000 Meiers
Legend
-1
2
3
4
II
w*r
s
~
u ....... .:..........
...... _..... ............................
.............. ~ .. h-
J4 II,_,,.,-.,., .... _. ,.,._.,..U
Gambar 8. Pete Kelas kemiringan Lereng: (1} < 15% Dataran, (2) 15-45 Miring, (3). 45-65
Sangat Miirng, (4). 65- 85 Curam, (5). > 85% Ekstrim Curam
e. Tekstur
Tekstur tanah di DTW Kedung Ombo diklasifikasi 5 tekstur yaitu liat berat, liat ringan,
lempung, pasir hal us dan pasir kasar (Tabel 11 ).
Tekstur merupakan sifat fisik tanah yang mempengaruhi kerentanan tanah terhadap
erosi. Sebagian besar tekstur tanah di DTW Kedung Ombo didominasi oleh tekstur pasir kasar
yaitu mencapai 33917.60 ha (58.74%), sedangkan yang paling sedikit yaitu liat ringan sebesar
0.67 ha atau 0.001 %. Berdasarkan tekstur tanah ini maka dapat dikatakan bahwa potensi erosi
dengan klasifikasi tekstur berpeluang sangat tinggi (Gam bar 9).
33
2 Gading
3 Laban
4 Uter
;p,_.
......
·-t
+
-
Pasir kasar
Liat Berat
Liat Ringan
Lempung
Pasir halus
Pasir kasar
Lempung
Pasir halus
Pasir kasar
Lempung
Pasir halus
Pasir kasar
- -
... ...
+ +
I
- -
1000000000 0
~
5
2
3
4
5
3
4
5
3
4
5
"""""
+
......
1000000000
Sub DAS di DTW Kedu
~ ~ ~ i i i i i i > . l
Sedang 1.62
T:ngg, 3493.69
Sangat Tinggi 8409.17
SangatRendah 9.83
Rendah 0.67
Sedang 1024.45
Tinggi 5542.01
Sangat Tinggi 10325.68
Sedang 2.86
Tinggi 3008.62
Sangat Tinggi 8487.82
Sedang 0.38
Tinggi 2333.13
Sangat Tinggi 15104.10
;;• "57744.04
----· .. -.
·-
......
T1
Legend
i.l
--
2
~ 3
4
-
.. ....,
.5
II
W*[
s
totci)Q)
+
r ~
~
I
-
a • ...,...,, • ..,.,..,.
...................... -......... _, .
2000 000000 f.Mter;
.......................... h ..
.,. ... , ................. _ .............
Gambar 9. Peta Kelas TekcturTanah: (1). Liat berat, (2) . Liat ringan, (3). Lempung, (4). Pasir
halus, (5) . Pasir kasar
35
f. SES (Soil Erosion Status)
Erosi kualitatif dengan meotede perhitungan SES (Soil Erosion Status) diperoleh dengan
menjumlahkan ke lima faktor yaitu : aspek, drainase, penutupan lahan, lereng dan
tekstur, dan ke lima faktor terse but setelah dijumlahkan selanjutnya dibagi 5 (SES=
(SASP+SDRN+SLU+SSLG+STXT)/5). Erosi kualtitatif di DTW Kedung Ombo dapat
dilihat pada
Tabel12.
Tabel12. Potensi Erosi Kualitatif melalui Metode SES pada Masing-masing Sub DAS di DTW
Kedung Ombo
1 Karangboyo 1 Sangat Rendah
2 Rendah 8793.294
3 Sedang 898.9601
2 Gading 1 Sangat Rendah 4400.418
2 Rendah 12816.58
3 Sedang 333.4628
3 Laban 1 Sangat Rendah 3296.021
2 Rendah 7653.963
3 Sedang 403.4304
4 Uter 1 Sangat Rendah 3796.017
2 Rendah 11915.24
3 Sedang 973.096
Total 57744.04
Berdasarkan penilain erosi secara kualitatif melalui metode SES di peroleh hasil bahwa
di DTW Kedung Ombo memiliki tiga klas erosi, yaitu sangat rendah, rendah dan sedang.
Potensi erosi di DTW Kedung Ombo masih tergolong sangat ringan dengan luasan klas sangat
rendah sebesar 13956.01 ha (24.17%). Peta Erosi SES dapat dilihat pada Gam bar 10.
36
-
-
..
·-
-
·-t +
-

...
+
-
1000000000
I!!!!!!!!!!!
-
....
+
-
0
Q!XD) ...:.00
.... ....
+ +
- -
1000000000 2000000000 Meters
Legend
:.SR: Sangat
lmlO ,---, R: Ring an
-
5: Sedang
B: Berat
f l ss: sangat
tiiODI) '
H
W*E
s
--
ltt:.......
...... , ........ .,. .............. ..
............. ............ h.
.... ,._._, ... ._lr'..afU._..,,.,mru
Gambar 10. Peta Kelas Erosi Kualitatif SES: (1). Sangat Ringan < St/ha/th, (2). Ringan =5-10,
(3). Sedang10-25, (4). Berat =25-50, (5). Sangat Berat. >50 t/ha/th
37
5.2.2. Erosi Kuantitatif (MMF)
5.2.2.1. Faktor-faktor Ana/isis MMF
a. Faktor Pengelolaan Tanaman
Nilai pengelolaan tanaman (C) atau penutupan lahan di DTW Kedung Ombo dari 0
(rapat dengan kanopi tanaman) dan nilai 1 (l ahan terbuka atau bero) . Kondisi lahan yang
sebagian besar tertutup oleh tanaman, maka erosi yang terjadi akan ditekan sampai tingkat
yang paling rendah (Gam bar 11 ).
-
-
.......
-
........ - ~ +
-
-
+
-
1000000000
I!!!!!!!!!!
-
+
-
0
-
.......,
c
+ +
- -
1000000000 2000000000 Mel$rs
Legend
.0.000
...,..,. .0.250
E!)o.5oo
.0.750
....... ~ o o o
II
W*[
s
........
"""""
.............. ~ ~
......... _ ......... -........... .:. ...........
.... .............................. ~ . ....
.P A .. _ IIIH•• ~ - · l . n ~ ~
Gam bar 11 . Peta Nilai Crop Cover Management Factor (C) atau Faktor Pengelolaan Tanaman
di DTW Kedung Ombo
Hanya sebagian kecil DTW Kedung Ombo yang memiliki nilai C mendekati 1 yaitu
pada daerah bawah, hal tersbut karena baru pergantian pola tanam tanaman semusim
setelah dilakukan pemanenan. Sedangkan pada daerah atas memiliki nilai mendekati 0 hal
tersebut karena selalu hijau dengan tanaman hutan rakyat dan tanaman tahunan lainnya.
38
b. lntersepsi dan Aliran Satang
Nilai intersepsi dan aliran ba:ar.g oervariasi dari 0 sampai 1, semakin mendekati nilai
0 maka semakin sedikit penyerapan a:r hujan oleh tanaman dan semakin mendakati 1 maka
semakin mendekati maksimal penyerapan air hujan oleh tanaman. Dari Gambar 12 terlihat
bahwa sebagian besar tanaman mampun menyerap air hujan mendekati 0,3 atau 30% air
hujan yang jatuh, dan sebagian kecil memiliki nilai intersepsi 0,22 atau 22%.
4CICXlO 4!IXIlO eiiXD) QCCJ)O ..xoo
-· . -
Al Legend
·· ·0.2250
0.2625
0.3000
--1 r--
··•
r. .• , ·;! ., .... ;'f.:::. ,.
• • ·. ... ·.• < .... ,-t' .. .. ,..J ••
/ ·,,_1; • • •',
.· . , . ... .... '· ,, .. \. .:·
., . ''/'t .
• &.•...:D
"""""'.. +
+ + + +
"""""'
- -
tl
w*r
s
... _._ .......... _ ..
-
1000000000 0
- .......
1000000000 1000000000 M<.>IE>r>
• ..... , . .. ............. - ............ •••..u· •·
................................
)' A, ................. _., ........ .
-·-------·
Gambar 12. Peta Interception and Stream Flow (A) atau lntersepsi dan Aliran Satang di DTW
Kedung Ombo
Perbedaan intersepsi yang ada di DTW Kedung Ombo seperti halnya kejadian di
tempat lain,yaitu bahwa dengan semakin rindangnya kanopi dan banyaknya cabang, ranting
dan daun dari beberapa jenis tanaman maka akan semakin tinggi nilai intersepsinya.
lntersepsi di tanaman semusim yang sangat rapat tanamannya akan lebih tinggi nilai
intersepsinya dibandingkan pada daerah dengan tanaman tahunan seperti di hulu DTW
Kedung Ombo.
39
c. Evapotranspirasi (EtEo)
Evapotranspirasi merupakan penguapan kehilangan air ke udara karena faktor
panas lingkungan atau kelembaban karena pengaruh evaporasi dari kondisi tanah dan
transpirasi oleh tanaman. Transpirasi dan evaporasi dari permukaan tanah bersama-sama
disebut evapotranspirasi atau kebutuhan air. Jika air yang tersedia dalam tanah cukup
banyak maka evapotranspirasi itu disebut evapotranspirasi potensial. Mengingat faktor-
faktor yang mempengaruhi evapotranspirasi itu banyak dan lebih sulit daripada faktor yang
mempengaruhi evaporasi maka banyaknya evapotranspirasi tidak dapat diperkirakan
dengan teliti. Akan tetapi evapotranspirasi adalah faktor dasar untuk menentukan kebutuhan
air dalam rencana irigasi dan merupakan proses yang penting dalam siklus hidrologi.
Sedangkan nilai Et Eo merupakan perbadingan antara evapotranspirasi aktual yang terjadi
dibandingkan dengan evapotranspirasi potensial.
-
- -
-
.L .L ...
.. ,_, ..
+ + +
- - -
1000000000 0
- -
. E t ~
-
.......
-
+ +
.........
.....,.
-
1000000000 2000000000 M.ltoro;
Legend
- .10
H
W*[
s
~
... - .................
............................. - .... ··•...u••o.
....................... _ ... , ...
~ . ,_ ......... ,..,._ .... , ... ~
Gambar 13. Peta Evapotranspiration (EtEo), atau Evapotranspirasi Aktual (Et) dan
Evapotranspirasi Potensial (EO) di DTW Kedung Ombo
Nilai rasio Evapotrnaspirasi aktual dan potensial di DTW Kedung Ombo berkisar 0,1
sampai 1 ,35, yaitu semakin tinggi nilai rasio maka banyak terjadi evapotrtanspirasi aktual
sesuai dengan kondisi lahan dan penutupan lahanya (Gambar 13).
40
d. Kedalaman Perakaran
Kedalaman perakara'"' = ::epth) merupakan kedalaman sampai batas
akar tanaman mampu eoih dalam dari solum tanah (soil depth) dan
sampai batas kedalaman regolit ' regc.iih depth). Semakin dalam perakaran mampu
menembus tanah maka semakin u.ngg1 dan rindang suatu tanaman. Dari Gambar 14
namapak bahwa kedalaman sebagian ebsar kedalaman akar 20 em sampai 40 em.
-
..,.,..,
-
-
... ...
.. + + +
- - -
1000000000 0
.,..,.
-
RD
.......
""""
........
+ +
.. ,_,
- -
1000000000 2000000000
Legend
0.2
0.3
•!;JO 4
") I
0.5
0.6
H
W*E
s
.............. ..
.... _ ····--4···-........... .....
................ ..
.Jll A T.... ., ....... t::Mu-• ,,........,..
Gambar 14. Peta Root pepth (RD) atau Kedalaman Perakaran satuan meter (m) di DTW
Kedung Onibo
Kedalaman perakaran efektif merupakan cermin kemudahan tanah ditembus oleh
akar, semakin tandus dank eras suatu tanah, maka perakaran semakin sulit menembus
tanah. Begitu juga kemampuan menembus tanah juga ditentukan ada tidaknya tanah kedap
dan batuan masif yang keras. Kedalaman tanah di DTW Kedung Ombo dari 20-60 em ,
dan sebagian besar lebih dari 30 · em sehingga tanah relatif tidak ban yak menggangu
perakaran tanaman.
41
e. Kelembaban Tanah
Kelembaban tanah dftunjui<kan sebagai potensial air tanah yang sangat penting
dalam mempelajari epidimiologi penyakit akar dan juga mempelajari penyakit daun dan
tunas yang mempengaruhi pertumbuhan dan status bagian tanaman. Alat untuk mengukur
kelembaban tanah adalah higrometer atau termocopel psycometer yang terus-menerus
memonitoring kelembaban tanah. Potesial air tanah setara potensial penguapan ke udara.
Potensial penguapan dapat dimonitoring dengan higrometer.
---------
- - -
"""""
--
MSl Legend
: .2.0
..... --2.8
....
.... ....
3.5
4.3
-
.......
. ...., .5.0

W*[
5
-
.......
.. _I
+ + + + +
rxam

- -
-
.,...,.
-
............................ .,.
100000000o
...... , ............ ·-............ "' ....
0 1000000000 2000000000 Meter;
...... ............... , ...
.It A.,..,... P_..•'-•
Gam bar 15. Peta Moisture Content (MS) atau Kelembaban Tanah satuan % di DTW Kedung
Ombo
Kelembaban tanah (MS) di DTW Kedung Ombo berkisar 2 sampai 3,5, artinya
semakin tinggi nilai MS maka tanah akan semakin lembab. 01 DTW Kedung Ombo
sebagian besar kelembaban 3,5 atau relatif sedang, yaitu di dominasi tanaman persawahan
irigasi (Gambar 15).
42
f. Bobot Janis Tanah
Bobot jenis atau berat jenis aaa.Jar perbandingan relatif antara massa jenis sebuah
zat dengan massa jenis air murni. Air mumi bermassa jenis 1 g/cm
3
atau 1000 kg/m
3
. Berat
jenis tidak mempunyai satuan. Penentuan bobot jenis dapat diukur dengan piknometer,
Areometer, timbangan hidrostatik (timbangan Mohr-Westphal) dan cara manometris (4).
- - - -
... .....
.. - ~
+ +
+ +
- -
- -
1000000000 0 1000000000
-
BD
...
-i·
-
2000000000 Me1ers.
Legend
. ·.1.2
- --1.3
.. 1000
.......
r ~
··1.4
··1.5
N
W*£
s
~
..... _.._ ... ~ ..
..................................................
...... , .......................... , .....
)I ... '-- ........... ·--·-· , ... . ~ • ..,.
Gambar 16. Peta Buld Densisty (BD) atau Bobot Jenis Tanah (g/cm
3
) di DTW Kedung Ombo
Nilai Bobot jenis (BD) di DTW Kedung Ombo berkisar antara 1,2 sampai 1 ,5, yaitu
semakin tinggi nilai BD maka tanahs emakin padat dan pori-pori mikro sedikit, sehingga
aerasi tanah terganggu. Dl DTW Kedung Ombo sebagian besar BD 1 ,3 artinya tanah tidak
terlalu lepas (tekstur sangat kasar/pasir/samd) dan juga terlalu padat (tekstur sangat
haluslliat/clay). Sehingga sebagian besar rata-rata kondisi tanah relatif baik aerasinya dan
tidak terlalu padat (Gambar 16).
43
g. lndeks Erodibiltas Tanah
Erodibilitas tanah atau tanah terhadap erosi merupakan mudah tidak
tanah tererosi akibat penghancuran o1en jatuhnya butir-butir hujan oleh kekuatan aliran
permukaan. Secara alami nil ai K ,erodiDiltas alami) tanah merupakan sifat kompleks yang
tergantung pada laju infiltrasi tanah dan kapasitas tanah untuk bertahan terhadap
penghancuran agregat (detachment) serta pengangkutan oleh hujan dan aliran permukaan.
... ... ...
.......
.. ,..,...
+ + + +
- - -
1000000000 0 1000000000
-
.....
+
-
2000000000
Legend
-0.1
0.3
0.5
0.7
0.9
H
W*[
s

.c. .. ..
.................................. •
............................. 144
.)t ... ., _ ........ ..... ... ..a
Gambar 17. Peta Soil Detachability Index (K) atau lndeks Erodibiltas Tanah (g/j)
Semakin tinggi nilai K (erodibilitas tanah) maka tanah akan semakin mudah tererosi ,
untuk DTW Kedung Ombo memiliki nilai K dari 0,1 sampai 0,9, dan rata-rata kebanyakan
nilai K nya cukup tinggi dari 0,7-0,9. walaupun nilai K nya tinggi , tetapi karena kemiringan
lahan tidak terlalu curam maka tidak terlalu tinggi proses degradasi lahannya (Gambar 17).
44
h. Curah Hujan Tahunan
Hujan merupakan satu oe.,U'< presipitasi yang berwujud cairan. Presipitasi sendiri
dapat berwujud padat (mi salnya salju dan hujan es) atau aerosol (seperti embun dan kabut).
Hujan terbentuk apabil a titik air yang terpisah jatuh ke bumi dari awan. Tidak semua air
hujan sampai ke permukaan bumi karena sebagian menguap ketika jatuh melalui udara
kering. curah hujan adalah: jumlah air yang jatuh di permukaan tanah datar selama periode
tertentu yang diukur dengan satuan tinggi (mm) di atas permukaan horizontal bila tidak
terjadi evaporasi, runoff dan infiltrasi. Satuan CH adalah mm, inch. Curah hujan tahunan
merupakan total penjumlahan curah hujan setiap tahun. Curah hujan tahunan (R)
dipengaruhi oleh letak ketinggian tempat, sehingga rum us R= 1 000+0.329*DEM
(DEM=Digital Elevation .
.-------------------------------------· --- ··--·-----------
-
....,.
......
-f .... .... ....
·-1
_ ..
--
11-f + + +
- - -
1000boo000 0
!!!!!!!!!!!!
"""""
--
l Legend
· ·1026.649
....
-L - .1276.442
+ +
- -
1000000000 2000000000 M;ltel"5
"'1526.236
1776.029
r- _2o2s.a22
.. -
.. .....
N
W*E
s
................. .....,._ ..
... • ·- ,.,......__.... • • • •
...............................
Jl. ,...,.. , ...... ,_..,._
Gambar 18. Peta Annual Rainfall (R) atau Curah Hujan Tahunan (mm) di DTW Kedung Ombo
Curah hujan di DTW Kedung Ombo per tahunnya dari 1026 - 2025 mm, dan
sebagian besar '1026 mm, artinya curah hujan yang turun di Kedung Ombo tidak terlalu
tinggi. Dengan curah hujan yang rendah maka kondisi tanahnya relatif kering dan gersang
(Gambar 18).
45
1. Energi Kinetik
Setiap benda yang bergerao< mempunyai energi yang disebut Energi Kinetik atau
Energi gerak, dengan kata lam energi kinetik itu energi yang sedang dilakukan pada
benda yang bergerak. Energi kmetik (E) dipenfaruhi oleh faktor curah hujan (R) dan
lntensitas hujan (I) dengan rumus E=R*(11.87+8.73*1og I)
441)(1)0 ...:r:o 4DlOO <Otd:O ...::clOO
-· ~ ~ ~ - ~ ~ • - .30735.032
.24723.485
E
l Legend
-1 r
.. tciCIOO. .,.._. ........ }
017'QIQI t +
+ + + +
.. ,.,..
- - -
·- ...,.
1000000000 0 1000000000 2000000000 Metol"5
L-------------'--------- - - ---- ----
Gam bar 19. Peta Kinetic Energy of Rainfall (E) atau Energi Kinetik U/m
2
)
-
36746.578
42758.125
48769.672
ll
W*E
s
•• - ....... r..""""""' ..
.................. ,_,. ........ ~ ........... ..
''"'" ............................. , ....
Jl a. ........... ' ~ - · , ....... ..,..
----------
Energi kinetik atau tetesan air hujan yang menyebabkan terjadinya benturan
denganpertikel tanah di DTW Kedung Ombo, berkisar antara 24723 sampai 48769
joule/m2. Sebagian besar rata-rata energi kinetic di Kedung Ombo cukup rendah (24723
joule/m2), artinya butiran hujan yang jatuh ke tanah tidak merusak sifat fisik tanah,
misalnya pemecahan butiran tanah, tertutupnya pori-pori tanah dan meningkatkan potensi
tanah tererosi (Gambar 19).
46
J· Kapasitas Simpan Kelembaban Tanah (RC)
Kapasitas simpa
dipengaruhi oleh 4 faktor
eJembaban tanah dalam keadaan vegetasi aktual (mm)
a ~ u : Kelembaban tanah (MS), Bobot jenis tanah (80) ,
Kedalaman efektif perakaran, dan Evapotranspirasi (EtEo) dengan rumus RC=
1 OO*MS*BD*RD*{ETE0)
0 5
..,..,.
-· ~
tt1UIGDI +
+
1000000000
!!!!!!!!!
-
+
0
......
-
RC
+ +
1000000000 2000000000 ""'lers
: Legend
-30.3579
-
109.9105
189.4632
269.0158
348.5685
"
W*E
s
· - - ~ - - - ..
·--..... -·-"-·-···-··---
·-··-............... , ... ,. . . ........ _. __ . , ...... ...u
Gambar 20. Peta Soil Moisture Storage (Rc) Kapasitas Simpan Kelembaban Tanah Dalam
Keadaan Vegetasi Aktual (mm) di DTW Kedung Ombo
Kapasitas kelembaban tanah untuk penyimpanan air huja di DTW Kedung Ombo
berkisar 30 sampai 348 mm, dan rata-rata sebagian besar relatif rendah (30 mm}, sehingga
penyimpanan air hujan oleh tanah tidak membahayakan bagi tanaman. Dengan nilai RC
yang rendah maka aerasi tanah cukup baik, dan ketersediaan untuk tanaman hanya jangka
waktu pendek. Nilai RC yang terlalu tinggi tidak baik bagi kesehatan perakaran tanaman,
karena akar akan mudah busuk, walaupun ketersediaan airnya bisa untuk jangka waktu
yang lebih lama (Gam bar 20).
47
k. Volume Aliran Permukaan Q)
Volume aliran ::: :e"garuhi oleh faktor curah hujan tahunan (R) ,
Kapasitas simpan kelembaban ta."a" calam keadaan vegetasi aktual (Rc) dan rata-rata
hujan per hari (Ro) , dengan rumus C= exp -Rc!Ro) atau Q= R*e"(-Rc/Ro)
-·.
-
•JIIIIICIOiol + + +
1000000000 0
-·----------------------------------
Q
+ +
1000000000 2000000000 Meier.;
Legend
_.o.oooo
.0.0012

.0.0036
I t .0.0048
.......
H
W*E
s

._h .......
............. ......
........ ............ "-*
.llillf_ ...... .. ........
Gambar 21. Peta Volume of Overland Flow (Q) atau Volume Aliran Permukaan (mm) di DTW
Kedung Ombo
Volume aliran permukaan (Q) tidak terlalu tinggi di DTW Kedung Ombo yaitu
hanya berkisar antara 0 sampai 0,0048 mm, artinya sebagian besar air hujan banyak terserap
oleh tanah. Kondisi tersebut karena memang tanah di DTW Kedung Ombo relatif kering,
sehingga kapasitas menyerap air cukup tinggi, dan sebagian besar di daerah bawah
mengandung kapur yang mempunyai sifat meloloskan air. Dengan semakin banyaknya tanah
yang di masuk kedalam tanah dan dibuang dalam bentuk perkolasi maka aliran pennukaan
sangat kecil (Gam bar 21 ).
48
5.2.2.1. MMF (Morgan, Morg. Finney)
a. Erosi MMF Analisa Citra
Perhitungan yang menyebabkan erosi terjadi erosi di suatu lahan
(F) dipengaruhi ole.1 fao<:or : eroaibilitas tanah (K), energi kinetik hujan (E) dan intersepsi
hujan pada tanama
0.05+A))*1.0*1 0"-3.
22.
. se.1mgga rumus erosi MMF F=K*(E.exp·ap)b.10-
3
atau F=K*(E*e"(-
il ai MMF hasil analisis satelit dapat dilihat pada Tabel 13 dan Gambar
Tabel13. Nilai Erosi pada Masing-masing sub DAS melalui metode MMF
"·· ···· · - · -- - · ·- · Keii.•MMF .. Anallsls ::, .. Lua.-·(ha)
2 Gading
3 Laban
4 Uter
-
-· ...


·-· +
-
-
...
+
-
1000000000
!!!!!!!!
Sang at Rendah 11151 . 79
Rendah 422.03
Sang at Rendah 13757.25
Rendah 3704.60
Sedang 1426.90
Tinggi 2.85
Sangat Rendah 10986.20
Rendah 380.15
Sangat Rendah 15760.82
Rendah 151 .44
>;:, 67.7 44.04
- -
EC
l Legend
• • 2.1243
.... ... ...
--8.5931
15.0619
21.5307

d!!-=.¥'1-- -- -27' 9995
- _,..
+ + +
- - -
0 1000000000 1000000000 Mi.161"5
.. _
·-
N
W*E
s
w ...... .:. ...... ..
... .,., .... .................... ...
....................... ,.
.. tt ... I' .....
Gambar 22. Peta Erosi Kuantitatif MMF satuan ton/ha/tahun Hasil Analisis Citra Satelit di DTW
Kedung Ombo
49
b. Erosi MMF di Lapangan
Selanjutnya nilai erosi MMF dimasukkan dalam formula regresiakan diperoleh nilai
erosi MMF dalam kondisi di lapangan seperti pada Gambar 23 dan Tabel14.
Tabel14. Nilai Erosi MMF di Lapangan pada Masing-masing sub DAS
1 Karangboyo
2 Gading
3 Laban
4 Uter
1 Sangat Rendah
1 Sangat Rendah
2 Rendah
1 Sangat Rendah
1 Sangat Rendah
'.i·,
11574,14
18236,46
655,6635
11366,66
15911 ,11
,; '· ';':;,;'1 57744.04
.---------------------------------------------------------------.
....,.
- -
.....,

·-
·-t
+ + + +
-
- - -
1000000000 0 1000000000
.....
EL
+
-
2000000000
5 275
, "j\'·0$1'1''\' I
--7.540
., . ..,. -·9.805
II
W*E
s
·-
r-
.....
............... ,. .. ,....,. .......... ....
............................. , ..
I' . ,_ ........ , .. ..-..u
Gambar 23. Peta Erosi Kuantitatif MMF satuan ton/ha/tahun dalam Keadaan/Kondisi Lapangan
di DTW Kedung Ombo
50
b. Sedimen MMF di Lapangan
Dengan _memasukkan regresi yang diperoleh waktu penelitian di DTW Mrica
Banjarnegara, maka akan diperoleh besarnya sedimentasi seperti dapat dilihat pada
Gambar 25.
-
-· .
·-·

• .,... +
-
""""
-
+
-
1000000000
I!!!!!!!
_,.
.....
+ +
-
.....
0 1000000000
-
SLI
Legend
-
+
-
2000000000 M e t e ~
0.000
..... ===
0.000250
0.000500
0.000750
-
...... -0.001000
.. -
·-
H
W*E
s
!( ......... , .. . ..........
............................... ............,.
,..,.,_......._......._
.tt.,_ ........ __ .'"""'_
Gambar 25. Peta Sedimen Secara Kuantitatif MMF dalam Keadaan/Kondisi Lapa
Kedung Ombo
52
5.2.3. Kondisi Sosial Ekonomi masya
5.2.3.1.5ub DAS Gading
Secara adminidtratif S
Boyolali dan di Kabupaten _ :1::-_.::-J :-::-_: c .... -.::
Ombo
• ecamatan di Kabupaten
2008 sejumlah 194.194
jiwa yang terdiri dari pria 96.056; ·.., a :::j. v.:::""..: ·='::_ i : .; , F••ta ... e:::acatan penduduknya 891 jiwa
per km2 dengan pertumbuhan s.::.c::- ,a rata-rata 0.5%. Kawasan ini telah
padat penduduknya sehingga
penduduk yang salah satunva
mengendalikan pertumbuhan
e.uarga Berencana dan ternyata efektif
menekan pertumbuhan seper:.. c, l(ecamatan Ampel yang pertumbuhan penduduknya
hanya 0,03% per tahun. Untuk leo:n ,er.gr<.apnya periksa Tabel1 5 ..
Boyolali Am pel 18,838 19,671 38,509 758 0,03
Kr.Gede 3,528 3,819 7,347 976 0,46
Kemusu 2, 503 2,548 5,051 967 0,63
Selo 2,999 2,150 5,149 331 0,12
Wonosegoro 6,065 6,455 12,520 995 0,27
Semarang Getasan 3,795 4,116 7,911 827 0,53
Suruh 15,710 16,671 32,381 925 1,04
Susukan 16.928 17.012 33,940 925 0,37
Sumber : Badan Pusat Statistik Kecamatan Dalam Angka.2008.
Jumlah penduduk wahita di Sub DAS Gading lebih banyak dari pada pria, hal ini
disebabkan karena tenaga pria yang produktif baynak merantau ke kota-kota besar untuk
berjualan sate sapi dan sate kambing. Sedangkan tenaga kerja yang masih berdomisili di tanah
elahirannya terserap pada bidang pertanian, perdagangan dan jasa serta lain-lain. Untuk lebih
Jelasnya periksa Tabel 16.
Jenis matapencaharian masyarakat di Sub DAS Gading yang paling banyak adalah
pekerjaan lain-lain yaitu jenis pekerjaan yang tidak masuk dalam kategori j enis
matapencaharian oleh BPS (2008) sebanyak 95.835 orang, bidang pertanian sebanyak
65. 474 orang, bidang industri sebanyak 13.840 orang dan bidang jasa sebanyak 12.267
orang.
53
Kr.Gede 2565 5!! n 1.553 200 271 277 767 6.199
Kemusu 2102 15 52 28 125 227 79 1.633 4.267
Selo 3.541 102 62 602 871 5178
Wonosegoro 4.697 5!C 708 254 636 364 1.955 9.260
Getasan 6.174 69 338 7.519 14.100
Suruh 11.145 246 3.923 298 1.992 22.714 40.318
Susukan 10.845 749 6.205 74!J 4.902 17.950 41.400
Sumber : Badan Pusat Statistik Kecamatan Dalam Angka.2008
Pada Tabel diatas menunjukan bahwa jenis pekerjaan masyarakat di SUB DAS Gading tidak lagi
idomonasi oleh bidang pertanian, khususnya tanaman pangan, perkebunan, perikanan dan
:)eternakan tetapi sudah tersedia jenis matapencaharian lainnya seperti membuka kios pulsa, warung
ternet, dll.
Pendidikan merupakan salah satu parameter untuk menilai apakah di suatu wilayah tergolong
"i1i skin atau tidak miskin karena pada daerah miskin tingkat pendidikannya rendah karena orang
... anya tidak mampu menyekolahkan anak-anaknya. Jumlah penduduk yang menamatkan sekolahnya
dapat diperiksa Tabel17.
Boyolali Am pel 293 1,473 3,148 12,885 17,833 35,632
Kr.Gede 225 1,163 1,549 2,617 1,251 6,805
Kemusu 65 517 967 2,682 443 4,674
Selo 27 136 431 2,088 3,005 5,687
Wonosegoro 224 1,746 2,202 4,140 1,862 10,174
Serna rang Getasan 163 695 1,104 4,661 1,076 7,699
Suruh 865 5,267 7,025 11,285 7,320 31 ,762
Susukan 1,297 5,283 6,102 9,544 6,827 29,053
Tenaaran 1.262 5.265 7
Sumber : Badan Pusat Statistik Kecamatan Dalam Angka.2008.
ang menamatkan pendidikannya pada tingkat sekolah dasar (SO) sebesar
53
Penduduk yang pada tingkat sekolah dasar (SD) sebesar
36,48% dan tidak tama: S:J 24% sehingga jumlah penduduk yang berpendidikan
rendah sebesar 67,72%. Sehmgga pendidikan penduduk rendah.
Jumlah keluarga prasejah:era se::>esar 48,35% dan jumlah keluarga sejahtera I sebesar
15,78% sehingga jumlah keluarga m1si<in sebesar 64,13%. Sedangkan jumlah keluarga yang
tidak miskin sebesar 34,37% dan jumlah keluarga kaya sebanyak 1 ,50% dari total keluarga di
Sub DAS Gading. Untuk lebih jelasnya periksa Tabel 18, bahwa keluarga yang bermukim
diwilayah Sub DAS Gading sebagian besar (64%) adalah miskin.
Boyolali Am pel 5,360 2,359 1,607 2,907 335 12,568
Kr.Gede 1,054 377 601 211 17 2,260
Kemusu 796 256 159 50 6 1,267
Selo 1,286 316 187 79 30 1,898
Wonosegoro 2,139 671 290 102 3,202
Semarang Getasan 994 589 178 319 - 2,080
Suruh 6,085 1,182 2,146 2,481 209 12,103
Susukan 4,533 1,507 1,470 3,027 90 10,627
Sumber : Badan Pusat Statistik Kccamatan Dalam Angka.200X.
5.2.3.2. Sub DAS Karang Boyo.
Secara adminidtratif Sub DAS Karang Boyo masuk kebeberapa kecamatan di
Kabupaten Boyolali dan di Kabupaten Semarang. Jumlah penduduknya pada tahun 2008
sejumlah 37.092 jiwa yang terdiri dari pria 18,364 jiwa dan wanita 18,728 jiwa. Kepadatan
penduduknya 480 jiwa per km2 dengan pertumbuhan penduduk setiap tahunnya rata-rata
0.66%. Untuk lebih jelasnya periksa Tabel 19,
55
Boyolali Juwangi
Kemusu
Wonosegoro
Semarang Suruh
2,958
2,635
16.332
12,755
Sumber : Badan Pusat Statisti.k Kecamatan Dalam Angka.2008.
3,035
2,747
16.744
12,929
5,993
5,382
33.076
25,684
256 0,75
255 0,31
485 0,52
925 1,04
Kecamatan Suruh yang termasuk dalam Sub DAS Karang Boyo merupakan daerah paling
padat penduduknya yaitu 925 jiwa per km
2
dengan pertumbuhan yang paling besar yaitu 1,04%
pertahun sementara di Kecamatan Kemusu hanya 0,31%, Hal ini disebabkan karena
Kecamatan Suruh merupakan pusat perindustrian dan juga sebagai pusat pemerintahan tingkat
kecamatan.
Jenis matapencaharian penduduk di Sub DAS Karang Boyo sebagian besar dalam
bidang pertanian yaitu sebesar 28.87 4 orang atau 41,55% dari total penduduk.
Matapencaharian lain-lain merupakan jenis matapencaharian kedua setelah bidang pertania ...
Untuk lebih jelasnya periksa Tabel 20.
56
Boyolali Juwangi 2,1l0 - 8 - 77 131 88 2,6]8
Kemusu 2.623 35 54 50 192 42 148 I ,395
Wonosegoro }.;.3 13 2.234 - 2,293 724 1,805 1, 106 4,413
Semarang Suruh 9,828 - -
19 1 2,307 280 1,543 18,862
.. '.i:- ....• - 1."- : - ;Y 'i 't}._i.,') '/:;:;f-1; t ' ' '!j .... ' ',:''\ ' . :
)
2,885 27,308
. 4.15
Sumber : Badan Pusat Statistik Kecamatan Dalam Angka.2008.
Jumlah penduduk yang dapat menamatkan pendidikan sekolah dasar sebanyak 22,332
orang atau sebesar 36,82% dan yang tidak tamat SO sebanyak 17,763 orang atau sebesar
29,28%. Sehingga jumlah penduduk yang tingkat pendidikannya rendah sebesar 40.095 orang
atau sebesar 66,1 0%. Untuk lebih jelasnya periksa Tabel21.
5,052
4,539
26,888
33,011
69,490
Boyolali Juwangi 13 206 447 2,157 2,725 5,548
Kemusu 45 314 954 2,787 894 4,994
Wonosegoro 396 5,029 6,367 12,988 6,824 31,604
Serna rang Suruh 363 2,835 3,591 4,400 7,320 18,509
Sumber : Badan Pusat Statistik Kecamatan Dalarn Angka.2008.
Jumlah penduduk yang dapat sekolah sampai tingkat menengah pertama (SMP)
sebesar 11 .359 orang atau sebesar 18,73% dan menengah atas (SMA) sebanyak 8.384 orang
atau sebesar 13,82%. Sehingga jumlah penduduk yang tingkat pendidikannya menengah
sebanyak 19.743 orang atau sebesar 32,55%.
Jumlah keluarga pra sejahtera sebanyak 12.442 kepala keluarga atau sebesar 65,79%
57
dan keluarga sejahtera I seba
Boyolali Juwangi
2 8' 4 Kepal a keluarga atau sebesar 15,20%. Sehingga
5 6 keluarga atau sebesar 80,99%. Jumlah keluarga
arga atau sebesar 0,26%. (lihat Tabel 22).
1,130
976
7,392
273
231
1,743
177
80
525
47
29
136
4
1,627
1,320
: Badan Pusat Statistik Kecamatan Dalam Angka.2008.
5.2.3.3. Sub DAS Laban
Secara adminidtratif Sub DAS Laban masuk kebeberapa kecamatan di Kabupaten
Boyolali, Semarang dan Sragen. Jumlah penduduknya pada tahun 2008 sejumlah 117.088
jiwa yang terdiri dari pria 57.728 jiwa dan wanita 59.360 jiwa. Kepadatan penduduknya 7.916
jiwa per km2 dengan pertumbuhan penduduk setiap tahunnya rata-rata 0,45% (Tabel 23).
Pertumbuhan
:: %Jthn
Boyolali Juwangi 2,575 2,484 5,059 556 0,68
Kemusu 15,695 16,043 31,738 467 0,35
Wonosegoro. 528 547 1,075 1,052 1,57
Am pel 394 427 821 758 0,03
An dong 2,728 1,886 4,614
1 '1 32
0,38
Kr.Gede 16,069 17,324 33,393 976 0,46
Klego 8,009 8,276 16,285 837 0,50
Simo 1,758 1,911 3,669 511 0,03
Semarang Susukan 5,460 5,741 11,201 925 0,37
Sragen Miri 1,655 1,771 3,426 303 0,10
Sumber : Badan Pusat Statistik Kecamatan Dalam Angka.2008.
58
Jumlah penduOU!( v.a:l::a :: S ... ~ DAS Laban lebih banyak dari pada pria, hal ini
disebabkan karena tenaga plia ,a ... ,g Droauktif banyak merantau ke kota-kota besar untuk
bekerja disektor informal sepeni :ul(ang batu, tukang katu atau tenaga kasar. Sedangkan
tenaga kerja yang masih berdomlsili di tanah kelahirannya terserap pada bidang pertanian,
perdagangan dan jasa serta lain-lain. Untuk lebih jelasnya periksa Tabel24.
Boyolali Juwangi 1,817 - 53 - 8 138 181 2,068
Kemusu 14,746 130 355 225 189 900 600 8,597
Wonosegoro 412 198 -
72 50 149 103 185
Am pel 223 - -
71 5 8 189 198
Andong 2,348 - -
30 170 235 144 1,696
Kr.Gede 6,831 2,764 96 7,113 757 854 888 3,529
Klego 7,240 24 22 66 134 874 1,092 4,332
Simo 1,996
- -
46 64 82 44 863
Semarang Susukan 4,108 - 538 263 649 1,324 4,856
Sragen Miri 1,877 - - - 123 253 3,864 297
Sumber : Badan Pusat Statistik Kecamatan Dalarn Angka.2008.
Jenis matapencaharian masyarakat di Sub DAS Laban yang paling dominan adalah
pertanian dalam arti luas yaitu pertanian tanaman pangan, perkebunan, peternakan dan
perikanan. Namun pekerjaan lain-lain juga merupakan jenis pekerjaan yang dapat memberi
lapangan pekerjaan bagi sepertiga penduduknya (33,44%). Sektor jasa memberi lapangan
pekerjaan bagi 10% penduduknya.
Jumlah penduduk yang dapat menamatkan pendidikan sekolah dasar sebanyak orang
atau 46.246 sebesar 43,39% dan yang tidak tamat SO sebanyak orang 24.621 atau sebesar
23,10 %. Sehingga jumlah penduduk yang tingkat pendidikannya rendah sebesar 70.867 orang
atau sebesar 66,49%. Jumlah penduduk yang tingkat pendidikannya menengah sebesar 33.504
orang atau 31 ,43%. Jumlah penduduk yang tingakat pendidikannya tinggi sebesar 2.212 orang
58
4,265
25,742
1,169
694
4,623
22,832
13,784
3,09!:
11 ,73c
6 41£
atau 2,08% dari tote: : J. ; a diatas lima tahun. Untuk lebih jelasnya periksa
Tabel25.
Boyolali Juwang·
2.
112 253 567 3.727 4.680
Kemusu 443 2.916 5.922 16.162 4.554 29.997
Wonosegoro 35 170 235 494 140 1.074
Am pel 5 118 101 260 276 760
An dong 88 598 1,000 1,352 2.159 5.197
Kr.Gede 688 5.640 6.964 12,334 5.266 30.892
Kl ego 371 1.348 2.456 6.216 4.681 15.072
Simo 338 538 893 1.138 499 3.406
Semarang Susukan 156 1.542 1.583 4.404 1.954 9.639
Sragen Miri 8 187 286 1.256 753 2.490
Sumber : Badan Pusat Statistik Kecamatan Dalam Angka.2008.
Tingkat pendidikan penduduk di Sub DAS Laban tergolong rendah dan terjadi
penjejangan tingkat pendidikan di antara penduduknya. Tingkat pendidikan merupakan
parameter dari tingkat kesejahteraan keluarganya, terutama di daerah pedesaan. Hal ini terkait
dengan faktor ekonomi keluarga untuk membiayai pendidikan anak-anaknya, terutama biaya
akomodasi dan transportasi.
Jumlah keluarga pra sejahtera 13.288 kepala keluarga atau sebesar 56,55%, jumlah
keluarga sejahtera I sebanyak 4.479 kepala keluarga atau sebesar 19,06%. Sehingga jumlah
keluarga miskin sebanyak 17.767 kepala keluarga atau sebesar 75,61%. Jumlah keluarga
dengan tingkat ekonomi sedang (sejahtera I dan II) sebanyak 5.562 kepala keluarga atau
sebesar 23,68%. Jumlah keluarga mampu atau kaya sebanyak 169 kepala keluarga atau
sebesar 0,71 %. Untuk lebih jelasnya periksa Tabel 26.
59
Boyolali Juwangi 5iG 695 102 19 1.326
Kemusu 5.204 1.457 486 175 31 8.353
Wonosegoro 172 49 52 29 302
Ampel 136 17 9 62 1 225
Andong 1.003 188 156 218 - 1.565
Kr.Gede 5.394 2.368 1.368 520 27 9.677
Klego 2.187 1.017 902 531 43 4.680
Simo 501 216 131 136 67 1.051
Semarang Susukan 1.735 497 340 711 17 3.300
Sragen Miri 900 31 74 - 9 1.014
Sumber : Badan Pusat Statistik Kecamatan Dalam Angka.2008.
Tingkat kesejahteraan keluarga di Sub DAS Laban rendah atau miskin, terutama di kecamatan
Andong.
5.2.3.4. Sub DAS Uter
Jumlah penduduk merupakan asset suatu daerah untuk membangun daerahnya.
Jumlah penduduk di Sub ADS Uter pada tahun 2008 sejumlah 291 .823 jiwa yang terdiri dari
pria 183.766 jiwa dan wan ita 108.057 jiwa. Kepadatan penduduknya 857 jiwa per km2 dengan
pertumbuhan penduduk setiap tahunnya rata-rata 0,55%. Jumlah penduduk pria lebih banyak
dari pada wanita, hal ini disebabkan karena tenaga pria yang produktif tidak merantau ke kota-
kota besar. Untuk lebih jelasnya periksa Tabel27.
60
Boyolali An dong
~ - -·c
L f. ::. 1 - 29.580 57.099 1.132 0,38
Kemusu
• 583
1.699 3.282 616 0,34
Klego "2.525 12.964 25.489 895 0,55
Nogosari 2.227 2.441 4.668 719 0,45
Simo 3.328 3.429 6.757 1.094 0,24
Sragen Miri 12.729 25.902 38.631 602 0,18
Sumberlawang 13.099 13.865 26.964 604 0,54
Gemolong 14.401 14.547 28.948 1.144 1,91
Kali Jambe 7.032 6.800 13.832 907 0.42
Sumber : Badan Pusat Stati stik Kecamatan Dalatn Angka.2008.
Pertumbuhan penduduk sebesar 0,55% pertahun merupakan parameter bahwa wilayah
tersebut dalam kurun waktu 10 tahun mendatang akan merupakan daerah yang padat dan
merupakan lumbung tenaga kerja produktif. Sehingga diperlukan lapangan kerja yang dapat
menampungnya.
Adapun jenis matapencaharian penduduknya adalah pertanian tanaman pangan,
peternakan, industri , perdagangan, jasa dan lain-lain. Matapencaharian utama penduduknya
adalah bidang pertanian yaitu mencapai separuh jumlah penduduk yang bekerja. Jumlah
penduduk yang bekerja dibidang lain-lain mencapai 32,30% atau hampir sepertiganya.
Sedangkan jumlah penduduk yang bekerja dibidang perdagangan 10%. Jumlah penduduk
yang bekerja di bidang jasa dan industri juga hampir mencapai 10%. Penduduk yang bekerj a
dibidang perikanan hanya di kecamatan Kemusu dan Klego merupakan daerah genangan
waduk Kedung Ombo, jumlah penduduk yang bekerja dibidang perikanan hanya 0,05%. Untuk
lebih jelasnya periksa Tabel 28.
61
Boyolali Andong 2"' .590 - - 261 1.504 2.421 1.369 20.295 47.440
Kemusu 1.430 15 40 23 407 174 33 644 2.766
Klego 11 .637 50 22 95 201 1.186 1.395 6.948 21 .534
Nogosari 1.423
- - 6 553 370 290 1.300 3.942
Simo 3.668
- 5 54 61 176 164 1.568 5.696
Sragen Miri 13.957 - - - 940 2.234 685 1.872 19.688
Sumberlawang 5.360
- - - 433 3.221 331 3.666 13.011
Gemolong 7.123
- - - 1.590 1.872 605 9.225 20.415
Matapencaharian penduduk di Sub DAS Uter didominasi bidang pertanian tanaman
pangan. Sedangkan pekerjaan lain-lain merupakan alternatif kedua yang digeluti oleh sepertiga
penduduknya. Perdagangan merupakan urat nadi kemajuan pembangunan suatu daerah,
sehingga terciptalah pasar antara produsen dan konsumen dengan jasa perantaranya
pedagang. Jumlah pedagang di wilayah ini sebesar 10% dari jumlah penduduk yang bekerja.
Jumlah penduduk yang bekerja di bidang industri sebesar 5,60% kebanyakan merupakan buruh
industry di daerah lain sebagai pekerja komuter atau "lanjon" (bhs.Jawa).
Pendidikan merupakan sarana dalam memenuhi syarat untuk menjadi buruh industry
pada saat ini. Syarat menjadi buruh pabrik minimal lulus Sekolah Menengah Pertama atau
SMP, karena membantu pemerintah untuk mensukseskan program 9 tahun pendidikan dasar.
Tingkat pendidikan merupakan cermin tingkat kesejahteraan keluarga di suatu wilayah. Tingkat
pendidikan yang rendah dapat merupakan gambaran kemiskinan pada daerah tersebut karena
pendidikan yang rendah akibat dari tidak mampunya suatu keluarga menyekolahkan anaknya.
Untuk lebih jelasnya periksa Tabel 29.
62
Boyolali An dong ~ 3 . 2 5.836 9.785 15.247 20.102 51 .902
Kemusu ~ 6 142 519 1.724 633 3.034
Klego 503 1.873 3.647 9.918 7.675 23.616
Nogosari 49 378 884 1.650 1.359 4.320
Simo 668 1.326 1.404 2.024 846 6.268
Sragen Miri 630 2.993 4.379 5.542 4.744 18.288
Sumberlawang 570 2.155 2.908 7.676 2.602 15.911
Gemolong 411 2.524 4.244 8.212 3.249 18.640
Jumlah penduduk yang tidak tamat sekolah dasar (SO) sebanyak 42.349 orang atau
sebesar 27,97% dan yang tamat SD sebanyak 55.616 orang atau sebesar 36,74%. Sehingga
jumlah penduduk yang berpendidikan rendah sebanyak 97.965 orang atau sebesar 64,71 %.
Jumlah penduduk yang berpendidikan menengah sebanyak 49.488 orang atau sebesar
32,69%. Sedangkan yang berpendidikan tinggi sebanyak 3.926 orang atau sebesar 2,59%.
Terjadi kesenjangan tingkat pendidikan penduduk di Sub DAS Uter antara yang berpendidikan
rendah (64,71 %) dengan yang berpendidikan tinggi (2,59%). Tingkat pendidikan di wilayah ini
masih rendah. Hal ini tidak dapat dipisahkan dengan tingkat kesejahteraan keluarga.
Jumlah keluarga yang pra sejahtera sebanyak 27.055 kepala keluarga atau sebesar
50,78%. Jumlah keluarga yang tingkatnya sejahtera I sebanyak 7.920 kepala keluarga atau
sebesar 14,87%. Sehingga jumlah keluarga miskin di Sub DAS Uter sebanyak 34.975 kepala
keluarga atau sebesar 65,65%. Jumlah keluarga dengan tingkat ekonomi menengah (sejahtera
II dan Ill) sebanyak 17.723 kepala keluarga atau sebesar 33,26%. Sedangkan jumlah keluarga
dengan tingkat sejahtera IV atau kaya sebanyak 574 kepala keluarga atau sebesar 1 ,09%.
Untuk lebih jelasnya periksa Tabel 30.
63
Tabel 30 .. Jumlah Ke:;..a' ga Se.a1.:era Ti ngkatan
Boyolali Andoog i3'i 5 1.753 2.069 3.480 18 15.295
Kemusu 5: 3 369 118 31 8 1.049
Klego 3.666 1.371 1.356 674 42 7. 109
No go sari 678 348 362 237 96 1.721
Simo 974 212 390
]g7
S'i 2 048
Sragen Miri 4. 992 544 1.867 129 8 7.540
Sumberlawang 4.040 785 1.288 295 73 6.481
Gemolong 2.436 1.679 2.380 972 223 7.690
Sebagian besar (65,65%) tingkat kesejahteraan keluarga di Sub DAS Uter rendah atau
miskin . Terjadi kejenjangan tingkat kesejahteraan antara kaya dan miskin yang cukup
menyolok yaitu keluarga kaya sebesar 1,09% sedangkan keluarga miskin 65,65%. Hal ini
disebabkan karen a jenis · matapencaharian yang berbeda tiap kepala keluarga dan
keberuntungan.
5.2.4. Kelembagaan DTW (Daerah Tangkapan Waduk) Kedung Ombo
5.2.4.1. BP DAS Pemali Jeratun :
o Menangani semua daerah Tangkapan Air yang menjadi tugas kewenangannya
o Setuju dengan kerjasama antar instansi untuk menangani Waduk Kedung Ombo
o Secara periodik tiap tiga bulan sekali mengadakan pertemuan bagi seluruh
rimbawan (PNS) se Jawa Tengah ber tern pat bergantian.
o Greenbelt di wilayah WKO banyak yang diserobot masyarakat untuk Ia han
pertanian sehingga diperlukan penanganan lebih lanjut.
o BP DAS Pemali Jratun terdapat Kepala Seksi yang menangani kelembagaan
Pengelolaan Daerah Aliran Sungai .
64
o Kebun B1t>r: qa<', a: _;-,:-_-x tanun ini ada 50 Unit tiap unit dapat 50.000 bibit
yang akar c·, sa:urx.a:-- «e .:esa cesa yang berada di dalam kawasan hutan. BP DAS
a.
o Kerj asama cergan untuk melakukan penghijauan di kampus-kampus
seperti Universrtas D.:::o:1egoro (UNDIP) sehingga dijuluki Kampus Konservasi .
o Tahun 2008 membuat AreaJ Model di Dieng sekitar 25 Ha. Untuk ditanami kayu
sengon dan tanaman buah-buahan yang cocok untuk daerah ding in.
5.2.4.2. BINLUH Ungaran :
o Lahi r pada 23 Juni 2008 di tingkat Propinsi dan Kabupaten,
o Sekretari at Bakorl uh berkedudukan di Kabupaten Semarang (kota
Ungaran)sebagai Ketuanya adalah Gubernur Jawa Tengah.
o Bakorluh dibantu oleh Ketua-ketua Komisi yaitu Komisi Pertanian, Komisi Kelautan
dan Komisi Kehutanan, setingkat Eselon Ill.
o Fungsi Bakorluh untuk membantu pekerjaan Gubernur dalam memberikan
masukan kebijakan dalam bidang pertanian, kehutanan dan kelautan.
o Pelaku Utama/ Gapoktan, Keltan. Sekarang namanya Pelaku Utama
o Bakorluh untuk tingkat Propinsi, sebagai tempat koordinasi para pejabat penyuluh
se propinsi Jawa Tengah berkedudukan di Ungaran.
o Bapeluh untuk tingkat Kabupaten berkedudukan di masing-masing ibukota
kabupaten sebagai induk para penyuluh di bidang pertanian, kehutanan dan
kelautan.
o Balai Penyuluhan untuk tingkat Kecamatan berkedudukan di masing-masing
kecamatan di yang dahulu namanya Balai Penyuluh Pertanian.
o Pusat Penyuluh Desa untuk tingkat desa sebagai ujung tombak penyuluhan untuk
bidang pertanian secara luas.
o Kelompok Tani sekarang disebut Kelompok Pelaku Utama Pertanian.
5.2.4.3. Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten :
o Dinas Lingkungan Hidup dahulu (1995 an) disaat pembangunan Waduk Kedung
Ombo mempunyai tugas sebagai fasilitator menangani keperluan masyarakat yang
tergusur dan kepentingan pemerintah. Sekarang sudah selesai dan tidak
menangani lagi .
65
o Untuk kerjasama '-s-..a-s. :::a.am kaitannya dengan WKO, setuju saja sesuai
dengan bidang tugas -;-:-nasing instansi . Din as Lingkungan Hid up sebagai
instansi yang menga· ... as· Ker...;sakan kerusakan lingkungan hidup yang terjadi di
wilayah kabupaten dan bersifat koordinasi. Sebagai contoh untuk
kawasan lindung oleh Dinas Kehutanan kaitannya dengan penghijauan yang
sifatnya parsial. Masalah sedimennya atau kedangkalan WKO oleh Dinas
Pekerjaan Umum untuk menanganinya.
o Greenbelt yang lebih bertanggung jawab adalah PSDA, pembinaan Teknisnya oleh
Kehutanan
5.2.4.4. BAPPEDA Kabupaten
o Kewenangan dalam menangani kerusakan lahan terutama sedimentasi dan banjir
berada di Balai Sumber Daya Alam khususnya Umum Bidang Hidrologi
di Semarang
o Bappeda dapat memfasilitasi tempat dan akomodasi untuk koordinasi antar
instansi untuk membicarakan kelangsungan fungsi dari Waduk Kedung Ombo
yang berada di wilayah Kabupaten nya.
o Tugas BAPPEDA hanya sebagai Fasilitator saja.
5.2.4.5. Dinas Perkebunan dan Kehutanan Kabupaten
o Perlunya pengelolaan WKO secara tepadu oleh instansi terkait di kabupaten
Sragen, Boyolali, dan Semarang. Hal ini untuk mencegah pendangkalan waduk
dengan mer'nelihara vegetasi pada daerah genangannya, terutama di daerah
greenbelt.
o Tata hubungan kerja antar instansi : setara dan saling koordinasi dalam
melaksanakan kegiatan penanaman (vegetative) dan sipil teknis di WKO.
o lnstansi ini berperan dalam pelaksanaan kegiatan penghijauan pada wilayah
kerjanya termasuk di WKO, yang tertuang dalam rencana 25 tahun, 5 tahun dan
tahunan.
o Mempunyai bidang yang menangani pengelolaan DAS yaitu : Bidang
Perlindungan, Rehabilitasi dan Konservasi (PRK) mempunyai tiga seksi : Seksi
Perlindungan dan Penataan Lahan, Seksi Rehabilitasi Lahan dan Hutan Rakyat ,
serta Seksi Konservasi Lahan dan Sipil Teknis.
66
o Masalah laj u oe .... .. sa'-&:-- -g<: .... ngan lebih cepat dibanding dengan perbaikan
lingkungan. ::>e"'erhtah daerah yang tersedia untuk pengelolaan DAS
atau WKO sangat teroatas, sehingga perlu mengajak dan memotivasi pihak ketiga
yang peduli temadap i<e.estarian lingkungan agar ikut serta melakukan kegiatan
kelestarian lingkungan terutama mencegah pendangkalan WKO dengan kegiatan
penanaman di greenbelt dan cathment area nya.
o Perlu diadakan seminar se_hari tentang PENGELOLAAN WADUK KEDUNG OMBO
(WKO) TERPADU LINTAS KABUPATEN.
o lnstansi yang perlu diundang dalam seminar tersebut antara lain : Dinas HUTBUN,
Badan Lingkungan Hidup, BAPPEDA, Dinas Pertanian, Dinas Pekerjaan Umum
bidang Pengairan, Perum PERHUTANI dan LSM peduli lingkungan.
5.2.4.6. Dinas Pertanian
o Perlunya pengelolaan WKO secara tepadu oleh instansi terkait di kabupaten
Sragen, Boyolali, Semarang. Diperlukan rutinitas kegiatan di wilayah Kedung
Ombo agar lebih mengetahui kondisi aliran singainya diwaktu kemarau maupun
penghujan. Hal ini untuk merencanakan kegiatan kelestarian lingkungannya.
o Tata hubungan kerja dengan instansi terkait sangat erat, sebab Dinas Pertanian
merupakan rantai dari pengelolaan manajemen sumberdaya air, yaitu mulai dari
hulu sampai hilir.
o lnstansi kami berperan dalam pelaksanaan menangani pemanfaatan air dari
saluran tersier sampai kepetak-petak sawah melalui Paguyuban Petani Pengguna
Air (P3A). Proyek PUKL T Pengembangan Usahatani Konservasi Lahan Terpadu.
o Kami mempunyai seksi yang menangani pengelolaan DAS yaitu : Seksi
Rehabilitasi Pengembangan Lahan dan Pengelolaan Air.
o Pemikiran: adanya antar instansi yang sebaiknya dikoordinir oleh
BPDAS Jratun Seluna. Keberadaan WKO diarahkan untuk membuat kerjasama
instansi antar kabupaten dalam hal pelestarian dan pemanfaatan nya.
67
5.2.5. Analisis SWOT
Berdasarkan tugas ;:>eke':< ca:- •t.ngsi dari instansi terkait tersebut diatas
maka lnstansi yang berpe.t.ang caa....., mengelola Daerah Tangkapan Waduk Kedung
Ombo dianalisis denga
maupun eksternal unt
upaya pengembangan
sebagai berikut :
a.1a1s.s S.VOT. Hasil identifikasi faktor-faktor internal
engana:isls berbagai permasalahan dan peluang dalam
agaan pengelolaan WKO lintas kabupaten adalah
5.2.5.1. ldentifikasi Faktor-Faktor Internal
Dari hasil kajian yang dilakukan diperoleh kondisi internal dengan faktor-
faktor kekuatan dan kelemahan yang dimil iki oleh masing-masing lembaga /instansi
yang berperan dalam pengelolaan WKO, sebagai berikut:
a. Kekuatan (Strengths)
- Kebijakan otonomi daerah
- Keterkaitan hulu - hilir
- Peraturan pemerintah Daerah dalam pengelolaan WKO, dll
b. Kelemahan (Weaknesses)
- Pengelolaan WKO belum terpadu
- Koordinasi antar lintas sektor dan lintas wilayah belum berjalan dengan baik
- Keterbatasan anggaran
- Kelembagaan pengelolaan WKO belum terbentuk, dll.
5.2.5.2. ldentifikasi Faktor..faktor Eksternal
Dari hasil kajian akan diperoleh kondisi eksternal dengan faktor-faktor:
peluang dan ancaman, yang dimiliki oleh masing-masing lembaga linstansi yang
berperan dalam pengelolaan WKO. sebagai berikut:
a. Peluang (Opportunities)
- Paradigma pengelolaan WKO yang multi sektoral
- Stakeholder yang terlibat cukup banyak
- Sumberdaya manusia dan sumberdaya alam tersedia dan cukup.dll.
b. Ancaman (Threats)
- Ego sektoral lintas kabupaten
- Degradasi lingkungan fisik, penyerobotan lahan garapan, dll.
68
Berdasarkan hasil identifKas internal dan eksternal tersebut, dapat
dikemukakan 4 strategi . dalam upaya pengembangan kelembagaan pengelolaan WKO lintas
kabupaten dengan menggunakan anallsis SWOT , yaitu :
5.2.5.3. STRA TEGI SO
Strategi SO adalah strategi yang menggunakan kekuatan untuk memanfaatkan
peluang yang ada. Jika kedua faktor tersebut dikombinasikan maka akan menjadi pendukung
bagi pengembangan kelembagaan dalam konteks lintas kabupaten dengan membuat
perencanaan pengelolaan WKO yang nantinya menjadi pola pengelolaan WKO antar
kabupaten.
5.2.5.3. STRA TEGI ST
Strategi ST adalah strategi yang menggunakan kekuatan untuk mengatasi ancaman.
Sebaiknya pemerintah pusat atau propinsi sebagai fasilitator dalam kelembagaan pengelolaan
WKO dalam konteks lintas kabupaten, memanfaatkan faktor kekuatan yang dimili ki melalui
kegiatan, sosialisasi dan sebagainya untuk meningkatkan pemahaman masyarakat maupun
pemerintah daerah terhadap pengelolaan WKO sehingga dapat meningkatkan kesadaran dan
partisipasi masyarakat dalam kelembagaan pengelolaan WKO lintas wilayah kabupaten.
Klarifikasi dan kejelasan tugas pokok dan fungsi masing-masing lembaga terkait sangat
diperlukan dalam pengaturan kewenangan pengelolaan WKO.
5.2.5.4. STRA TEGI WO
Mengingat daerah tangkapan air WKO yang tidak terbatas oleh wilayah administrasi
pemerintahan, maka dalam pengelolaannya akan melibatkan lembaga/instansi lintas sektoral
dan lintas kabupaten. Oleh karena itu kelembagaan pengelolaan WKO dirasakan sangat perlu
termasuk di dalamnya mekanisme kerja dan koordinasi antar lembaga. Tugasnya sebagai
koordinasi operasional, berbentuk lembaga/instansi (Badan Koordinasi Pengelolaan WKO).
Koordinator adalah instansi yang berwenang mengkoordinasikan penyelenggaraan urusan
pengelolaan WKO, bukan sebagai pelaksana pengelolaan WKO. Pelaksanaan operasional dan
pemeliharaan lingkungan dilaksanakan oleh instansi teknis terkait pada tiap pemerintah
kabupaten.
69
5.2.5.5. STRA TEGI WT
Strategi WT adalah memini malkan kelemahan untuk menghindari
ancaman yang ada. <.e::;.:a :a!Ctor tersebut maka yang harus dilakukan oleh
pemerintah daerah kabupaten rr.er 1 ;:>e:-aturan perundang-undangan tentang pengelolaan
WKO, dalam bentuk peraturan pemerintah Kabupaten, SK Gubernur, Perdaprop dll. Diharapkan
perangkat peraturan tersebut dapat dij adikan kori dor dalam pengelolaan daerah tangkapan air
WKO (lihat Tabel31dan Tabel 32) ..
KEKUA TAN (S)
1. I Sumberdaya Man usia tersedia
I
25
I
4
I
100
2. Adanya potensi dan sumberdaya hutan, 30 3 90 I II
tanah dan air
3. I Adanya Perundang-undangan/PERDA/ I 25 I 3 I 75 I Ill
Petunjuk Teknis
4. I Tersedianya Organisasi UPT di tiap I 25 I 2 I 50 I IV
kabupaten
KELEMAHAN (W)
1.
I Kualitas Sumberdaya Manusia masih rendah I
30
I
4
I
120
2 Pengelolaan lahan belum seluruhnya 20 3 60 I IV
menerapkan kaiaah konservasi tanah dan air
3 I Kesadaran hukum masyarakat masih rendah 25 3 75 Ill
4 Masih rendahnya dukungan dana pemdakab 25 4 100 II
untuk mengelola lingkungan terutama pada
daerah tangkapan air WKO
ting : 1=paling lemah, 2=/emah, 3=kuat, 4= sangat kuat
70
PELUANG (0)
1. \ Kebutuhan kayu sebagai bahan baku industri I 30 I 4 I 120
meningkat
2 I Adanya pangsa pasar kayu dan non kayu
I
25
I
3
I
75 I II
3 Adanya dukungan pihak ketiga sebagai 20 3 60 I Ill
investor (Perum Perhutani dan PT
Perkebunan)
4 I Luas kawasan tersedia dalam jumlah cukup I 25 I 2 I 50 I IV
ANCAMAN (T)
1. I Kebutuhan ekonomi yang meningkat terus
I
20
I
4
I
80
I
Ill
2 Produksi pertanian diluar kawasan hutan 20 3 60 IV
kurang mencukupi kebutuhan masyarakatnya
3 I Perambahan hutan oleh sebagian masyarakat
I
30
I
4
I
120
4 j Adanya 11/ega//oging 30 3 90 I II
Keterangan: Rating: 1=paling lemah, 2=/emah, 3=kuat, 4= sangat kuat
71
5.2.5.6. Analisis Strategis dan Pili abel 33)
Tabel 33 .. Analisis Strategis ""r..emal dan Eksternal
Faktor
INTERNAL
Faktor
EKSTERNAL
PELUANG (0)
1. Kebutuhan kayu dan non
kayu sbagai bahan baku
industri meningkat
2. Adanya pangsa pasar
lokal dan nasional
3. Adanya dukungan pihak
Din as
Kab sebagai fasilitator
4. Tersedia luas kawasan
hutan
dalam jumlah cukup
KEKUATAN lS) :
1. an usia
•ersec;a
2. Adanva potensi dan
sumberdaya lingkungan,
hutan. tanah dan air
3. Adanya Perundang-
undangan/ PERDA/ Juknis
KELEMAHAN (W) :
1. Kualitas Sumberdaya Manusia
masih rendah
2. Pengelolaan lahan belum
menerapkan kaidah konservasi
SO A.
3. Kesadaran hukum masyarakat
masih rendah terutama
4. Tersedianya Organisasi UPT I penyerobotan lahan
Kab/ Dinas-dinas Kab. 4. Belum ditegakkannya sangsi
STRATEGJ (S-0)
1.0ptimalisasi SDA hutan,
tanah dan air yang tersedia
maka permintaan kayu dan
ketersediaan air sepanjang
tahun dapat terpenuhi
2.Adanya Dinas PU (Bidang
Pengelolaan Banj ir) , maka
daerah dapat memasok air
sepanjang tahun dan
produksi komoditi spesifik
lokasi mampu bersaing
(Getah & Kayu Pinus
mercusii dan kayu jati)
3.Kuantitas dan Kualitas SDM
Kehutanan yang ada,
mampu menjaga SDA hutan,
tanah dan air
hukum bagi perambah hutan .
-------1
STRATEGJ (W-0)
1. Peningkatan kualitas SDM
lingkungan Kehutanan melalui
pelatihan dan pendidikan
kejenjang yang lebih tinggi
2.Dengan menerapkan
konservasi SDA hutan, tanah
dan air maka sedimentasi
waduk kedung Ombo dapat
ditekan.
3.Pemenuhan kebutuhan hidup
masyarakat terpenuhi dengan
dukungan Pemda mensosiali-
sasikan peraturan dan
menerap-kan sangsi hukum
bagi perambah hutan akan
membuat jera penduduk yang
melanggarnya.
72
ANCAMAN (T) STRA TEGI (S- STRA TEGI (W-T)
1.Kebutuhan ekonomi yang 1. Memacu :Jer ,.-,gr<.atan 1.Pelatihan SDM Kehutanan dan
lingkungan hidup dalam hal
pengelolaan SDA hutan,
selalu meningkat tiap prodi..IJ<S. yang berori entasi
tahuunnya pasar aengan tetap
2.Produksi pertanian diluar
kawasan hutan kurang
mencu kupi kebutuhan
masyarakat
3.Perambahan hutan oleh
sebagian masyarakat
masih berlangsung.
4.Adanya llegalloging
menerapkan kaidah konser- tanah dan air yang
vasi hutan, tanah dan air menerapkan kaidah
2. Pengelola SDA hutan, tanah pelestarian akan mengurangi
dan air bertanggung jawab sedimentasi waduk
untuk menghindari terjadinya 2.Produksi pertanian lainnya
degradasi lingkungan (HHBK), yang berasal dari
3. Sosialisasi Perda/aturan- hutan alam yang tetap dijaga
aturan tentang pengelolaan kelestariannya tetap diterima
SDA hutan, tanah dan air,
maka penyerobotan dan
perusakan lahan serta
pencurian kayu dapat
dihindari
pasar
3.Sosialisasi Perda/aturan-aturan
maka perambahan hutan dan
pencurian kayu (illegal loging)
dapat ditekan/ dikurangi.
73
5.2.5.7. Analisis Pilihan Fakto
Strategi S-0
eoemasil an
Tersedianya SDM yang terampil dan profesional akan mampu mengelola
SDA hutan, tanah dan air, ... .. < produksi komoditi primadona spesifik lokasi
yang mampu bersaing, <a
1
.. ,at: , Tectona grandis) . Dengan terbentuknya lembaga
pengelolaan DTA Waduk Ked:..:-g Or::oo ditingkat propinsi diharapkan hutan tetap lestari, lahan
di kawasan hutan dan greenoe.t t1dak dirambah dan lahan usahatani menerapkan kaidah
konservasi tanah dan air, maka akan dapat menekan erosi dan longsor, serta dapat menjaga
kedalaman waduk Kedung Ombo sehingga pasokan air terjaga sepanjang tahun untuk
pengairan Ia han dan bahan baku li strik tenaga air (PL TA) bagi masyarakat.
Strategi W-0
Untuk meningkatkan kuantitas dan kualitas SDM Kehutanan, dalam rangka
menyiapkan lembaga atau bidang Pengelolaan DTA Waduk Kedung Ombo ditingkat propinsi,
maka perlu disekolahkan atau dikursuskan baik oleh Pemda maupun pihak swasta/donor.
Pengelolaan lahan dengan menerapkan kaidah konservasi SDA hutan, tanah dan air maka
tingkat sedimentasi waduk Kedung Ombo dapat ditekan sehingga waduk tetap berfungsi
sebagai bahan baku listrik tenaga air dan pengairan untuk lahan ushatani terutama sawah.
Sehingga pemenuhan kebutuhan hidup masyarakat terpenuhi . Dukungan Pemda
mensosialisasikan peraturan dan menerapkan sangsi hukum bagi perambah hutan akan
membuat jera penduduk yang melanggarnya.
Strategi (S-T)
Memacu peningkatan produksi yang berorientasi pasar dengan tetap menerapkan
kaidah konservasi hutan, tanah dan air maka dapat meningkatkan kesejahteraan hidup
masyarakatnya. Berdasarkan Perda/aturan-aturan yang ada maupun yang akan dibuat oleh
DPRD Kabupaten, tentang sangsi hukum pelanggaran kerusakan lingkungan DTA Waduk
Kedung Ombo atau pencurian kayu dikawasan hutan negara (illegalloging), dapat
disosialisasikan kemasyarakat yang masih bermukim dibantaran waduk dan membuat jera para
pelanggar hukum /aturan.
74
VI. KESIMPULAN DAN SARAN
5.1. Kesimpulan
DTW Kedung Ombo mem;:;lQ iuasan 57744,041 ha yang terdiri dari empat sub DAS.
Sub DAS tersebut yaitu Sub DAS Karangboyo dengan luas 11941 ,365 ha, sub DAS Laban
11476,544 ha, sub DAS Gading 16880,083 ha dan sub DAS Uter 17446,049 ha. Dalam jangka
watu antara tahun 2001 sampai dengan 2008 telah terjadi perubahan jenis penutupan lahan
yang dinyatakan dengan penambahan atau pengurangan luas dari masing-masing jenis tutu pan
lahan. Peningkatan luasan terj adi pada genangan air yaitu badan air sebesar 1263.15 ha atau
2.19 % dan rawa meningkat sebesar 0.45 ha dan pekarangan/ permukiman sebesar 823.59 ha
(1.43 %). Penurunan luasan terjadi pada tanah kosong (bero) sebesar 650.16 ha (1.13%),
semak belukar, sebesar 3.93 ha (0.01%), hutan, 524.79 ha (0.91%), Perkebunan 119.25 ha
(0.21%, sawah 53.91 ha ( 0.09%) dan tegalan 735.12 ha (1.20 %).
Penilaian erosi secara kualitatif melalui metode SES di peroleh hasil bahwa di DTW
Kedung Ombo memiliki tiga klas erosi, yaitu sangat rendah, rendah dan sedang. Potensi erosi
total di DTW Kedung Ombo masih tergolong sang at rendah dengan luasan sebesar 13956.01
ha (24.1 7%). Sumber erosi pada level sedang terjadi di sub DAS Uter. Penilaian erosi secara
kuantitatif dilakukan dengan metode MMF menunjukkan bahwa Kedung Ombo memiliki empat
kelas erosi. Potensi erosi di Kedung Ombo didominasi oleh nilai 2.1243 dengan luas 51656.07
ha, (89.46%) sehingga masih tergolong sangat rendah. Sumber erosi pada level tinggi terjadi
pada sub DAS gading. Nilai sedimentasi di DTW Kedung Ombo juga tergolong masih tergolong
sangat rendah.
Hutan lindung yang berada dikawasan Perum Perhutani seharusnya bebas dari
pemukiman penduduk, namun saat ini masih ada pemukiman penduduk sehingga diperlukan
pendekatan persuasive kepada pemukim. Perlunya ketegasan pemerintah untuk menegakan
aturan. Lahan milik masyarakat yang sudah dibebaskan yang merupakan daerah tangkapan air
WKO saat ini dikelola kembali oleh pemiliknya untuk usahatani berupa persawahan dan tegal.
Hal ini yang menangani Dinas Kehutanan Kabupaten setempat. Jalur Hijau (Greenbelt) di
Kemusu masih digunakan sebagai perkampungan penduduk. Jumlah penduduk .:±: 800 orang
sampai sekarang masih belum pindah. Penanganan kerusakan lingkungan hidup di WKO
dengan Sipil Teknis dengan Vegetasi.
RTRW (Rencana Tata Ruang Wilayah) , membuat rencana pembangunan sarana dan
prasarana Sumber Daya Al am setempat sebagai bahan musrenbang tingkat desa. Musrenbang
76
DAFT AR PUS TAKA
Aronoff,S.,1989. Geographical lnformaUon System. A Management Perspective. WDL
Publication, Ottawa Canada.
Arsyad, Sitanala. 1989. Konservasi Tanah dan Air. UPT Produksi Media lnformasi. Lembaga
Sumberdaya lnformasi. lnstitut Pertanian Boger. Bogar.
Azdan, D & S. Candra. 2008. Kriti snya Kondisi Bendungan di Indonesia. Makalah. Komite
Nasional Indonesia untuk bendungan Besar (KNI-BB) atau Indonesian National
Committee on Large Dams (I NACOLD)
Berrios, P.H., 2004. Spatial Analysis of The Differences Between Forest Land Use and Forest
Cover Using GIS and RS. A case study in Telake Watershed, Pasir district, East
Kalimantan. MSc Thesis. lTC The Netherlands.
BPDASSOLO dan PUSPICS., 2002. Pemantauan dan Evaluasi Pengelolaan Daerah A/iran
Sungai Solo (Laporan Akhir).
Danoedoro P., 2003. Multisource Classification For Landuse Mapping Based On Spectral,
Textural and Terrain Information Using Landsat Thematic Mapper. Indonesian
Journal Of Geography Gadjah Mada University. Yogyakarta
Dardah, Hernanto. 2005. Pemanfaatan Lahan Berbasis Rencana Tata Ruang sebagai Upaya
Perwujudan Ruang Hidup yang Nyaman, Produktif dan Berkelanjutan. Fakultas
Pertanian lnstitut Pertanian Bogar. lnstitut Pertanian Bogar. Bogar
Darmono, 2001. Penggunaan Beberapa Metode Untuk Prediksi Laju Endapan Sedimen di
Waduk PB Jenderal Sudirman. Tesis, Program Studi Teknik Sipil, Jurusan llmu-llmu
Teknik, Program Pasca Sarjana UGM, Yogyakarta.
Johansen, C.J. dan J.L., Sanders. 1982. Remote Sensing for Resource Management. Kansas
City. Missouri.
Lillesand dan Kiefer, 1979. Remote Sensing and Image Interpretation. Terjemahan
Penginderaan Jauh dan lnterpretasi Citra. Gajah Mada University. Yogakarta
Mas Francois Jean dan Ramirez Isabel. 1996. Comparison of Land Use Classifications
Obtained by Visual Interpretation and Digital Processing. lTC Journal the
Netherlands.
Mather, A.S. 1986. Land Use. Longman Group U.K. Limited. New York. 286 p
Molenaar, M., 1991 . Status and Problems of Geographical Information Systems. The Necessity
of a Geoinformation Theory. Journal of Photogrammetry and Remote Sensing, 46.pp
85-103.
Purwadhi, Sri Hardiyanti, 2001. lnterpretasi Citra Digital. Gramedia Widiasarana Indonesia.
Jakarta
78
Qahar, Abdul. 2002. Prediksi
Akhir. Fakultas Tek
r _a,.ar:an w aduk Kedung Ombo Akibat Sedimen. Tugas
'e:sitas Gajah Mada. Yogyakarta
Rahim, Supli Efendi. 2000. Pengenaa:1an Erosi Tanah. Bumi Aksara. Jakarta
Rustiadi, E., K. Mizuno and S. Kobayashi. 2001. Measuring Spatial Pattern of Suburbanization
Process. Journal of Rural Planning Association 18 (1): 31-41
Singh, A. 1989. Review Article. Digital Change Detection Techniques Using Remotely-sensed
Data. International Journal Remote Sensing. 10 (6): 989- 1003
Sitorus, S.R.P. 2001 . Pengembangan Sumberdaya Lahan Berkelanjutan. Edisi Kedua. Lab.
Perencanaan Pengembangan Sumberdaya Lahan. Jurusan Tanah. Fakultas

Sitorus, J., Purwandari, Darwini, L.E., Widyastuti, R., Suharno. 2006. Kajian Model Deteksi
Perubahan Penutupan Lahan Menggunakan Data lnderaja untuk Aplikasi Perubahan
Lahan Sawah. Didang Pengembangan Pemanfaatan lnderaja Pusbangja. LAPAN.
Jakarta
Sudjarwadi. 1987. Tekhnik Sumber Daya Air. PAU llmu Tekhnik Universitas Gajah Mada.
Yogyakata
Soemarto, C.D. 1995. Hidrologi Teknik. Erlangga. Jakarta
79
PI RAN
1. Personil Pelaksana Penelitia
Susunan :.a-: ·,.:.-a .s1s Sumber Erosi dan Sedimentasi di DTW
Kedung Ombo dengan CiTc: :;a- lnformasi Geografis" Dikti tahun anggaran 2010
ditunjukkan pada Tabel Lamo.'d- "
I---· --·I II"""U -·I I o I II II I _ , _ ,, __ ,, _ I - · 1 - 11 .. 1 - 1 I
No Nama Posisi dalam Golongan/ Jabatan Bidang Uraian
kegiatan
I
Pang kat/NIP Keahlian Tug as
1. lr. Beny Koordinator dan Pembina Utama Peneliti S2-PJ Analisis
Harjadi,MSc Pelaksana Muda/IV-c/ Madya erosi
·Ana/isis Erosi 19610317 dengan
dan 199002.1 .001 PJ
Sedimentasi
2 Arina Miardini, Pelaksana Penata Muda/ Calon S1 Analisis
S. Hut "Ana/isis 111-a/19830905 Peneliti Kehutanan perubaha
Deforestrasi di 200801 2 002 n
Daerah penutupan
Ia han
Waduk dengan
PJ
3 Ora Dewi Pelaksana Penata Tk.ll Ill- Peneliti S2 Sosio\ogi Analisis
Subaktini, M.Si "Ana/isis Sosek, d/19570813 Mud a Pedesaan sosek
Penyebab 198603 2 002 secara
Degradasi sampling
La han"
.
4. lr. Yudi Pelaksana Pembina Tk.l/ Peneliti Sosiologi Anal isis
Lastiantoro, "Ana/isis Kele- IV-b/ Madya Kehutanan kelembag
MP. mbagaan dan 19550304.1976 aan dan
Budaya" 03.1.003 budaya
4. Y. Gunawan T eknisi Survai Penata Muda/ Teknisi STM Teknisi
lapangan 111-a/19561 007 Pertanian soseklem
198103 1 005 bud
5 Bam bang Teknisi Pengatur/11 c/ Calon SKMA Teknisi PJ
Ragil WMP Pemetaan SIG
19790701
Teknisi Kehutanan dan SIG
199803 1 001
litkayasa
80
2. Jadwal Penelitian
Tata waktu kegiatan penelitian Analisis Sumber Erosi dan Sedimentasi di DTW
Kedung Ombo dengan Citra Satelit dan Sistem lnformasi Geografi diuraikan pada
Tabel Lampiran 2 berikut.
Tabel Lampiran 2. Tata waktu kegiatan "Ana/isis Sumber T>'rosi dan Sedimentasi di D'l'W Kedung Ombo
dPnmm Citra Sate/it dan Sistem l ,. · ' ' ,. "
4.
81
Tabel Lampiran 3. Kerangka Legis Analisis Sumber Erosi dan Sedimentasi di DTW Kedung Ombo dengan Citra Satelit dan Sistem
lnformasi Geoarafis
Tujuan:
Menginformasikan beberapa sumber
sedimentasi dan erosi di Waduk Kedung
Ombo dengan analisis citra satelit dan SIG,
sehingga dapat dilakukan pencegahan
pendangkalan waduk yang menyebabkan
umur waduk berkura
Sasaran :
1 ldentifikasi sumber-sumber penyebab
erosi dan penyebarannya
lnventarisasi sumber-sumber penyebab
terjadinya sedimentasi di Kedung Ombo
3 Pemetaan penyebaran luas dan analisis
tingkat erosi dengan Citra Satelit dan
Sistem lnformasi Geografis
Output:
1. Tersedianya data sekunder maupun data
primer tentang penyebab erosi
2. Tersedianya data sedkunder maupun
primer: sumber sedementasi di Waduk
Kedung Ombo
3. Tersedianya data grafis dan angka
dalam bentuk Peta dari hasil analisis
citra satelit
Sosialisai dan diseminasi beberapa
sumber sediemntasi dan erosi kepada
pihak yang bertanngung jawab
terhadap pengelolaan waduk Kedung
Ombo
Tersedianya :
1. lnformasi sumber-sumber
penyebab erosi
2. lnformasi sumber-sumber
penyebab sedimentasi
di Kedung Ombo
3. Peta penyebaran erosi dari hasil
analisis Citra satelit dan Sistem
lnformasi geografis
1. beberapa data
penyebab terjadinya erosi
2. Sosialisasi data penyebab
terjadinya sedimentasi kepada
instansi dan pihak terkait dengan
pengelolaan DAS Kedung ombo
3. Sosialisasi Peta sebaran luas dan
tingkat erosi
Sudah disosialisasikan Sumberdana
kepada para pihak dan tersedia, ada
instansi terkait tontang pertisipasi dari
penyebab torjudmya instansi yang
pendangkalan Wctduk hm kopcntingan
1. Adanya informas1
beberapa sumbor
penyebab
erosi
2. Adanya informasi
sumber penyebab
sedimentasi waduk
3. Adanya Peta sebaran
luas dan tin kat erosi
1. Diseminasi hasil 1. Dana dan tenaga
kegiatan pemetaan tersedia
dalam bentuk diskusi 2. Koordinasi,
pembahasan hasil Diseminasi, dan
penelitian Sosialisasi
2. Publikasi hasil berjalan dengan
kegiatan pemetaan baik
kepada instansi dan
·hak terkait
82
Aktivitas :
1.1. Pengumpulan data sekunder penyebab
terjadinya erosi baik dalam bentuk
angka, gratis maupun text dan
koordinasi ke instansi.
1.2. Pengumpulan data erosi pri mer dengan
melakukan survai di l<lpanqan
2.1. Pengumpul an dntn snkundcr penyebab
tcrj ndiny; 1 •.l' dinl c> nt. t•;t batk dalam
ht•nl11f., unqkn llldllpun gratis dan
J.. nordlll.t'tl kn •
l 'nll(lltlllpul• m clata sedimen primer
c hm{J• 111 rnolakukan survai di waduk
KndtlllCJ Ombo
• dnn lnterpretasi citra satelit untuk
lllnllqhtlung pcnyebaran luas dan tingkat
Pemetaan erosi serta Pemetaan
sedimentasi di Waduk Kedung Ombo
. Data sekunder erosi dari instansi,
antara lain Dinas PU, Pengelola
Waduk Kedung Ombo, dan Dinas
terkait lainnya
. Data primer erosi dengan
mendatangi setiap satuan lahan untuk
dijadikan peta sebaran erosi
. Data sekunder sedimentasi dari
beberapa instansi terkait dan pihak
pengeiola waduk
. Data primer sedimentasi dengan
mengambil sampel supended load
dan bed load.
. Data erosi hasil analisis dan
interpretasi citra satelit
. Peta sebaran erosi serta sedimentasi
di Waduk Kedung Ombo
!<under
1. Adanya data

erosi dari inta(l
terkait
·rner
2. Adanya data P(J
5
urvai
erosi dari has
11
lapangan d
el<un er
3. waduk
sedtmentast dl dari
Kedung OmbO (lsi
beberapa inst
9
·rner
4. Adanya data hasil
sedimentasi

analisis labor9 .
5. Adanya data e
ros'
hasil analisis . dan
rost
6. Adanya Peta e
sedimentasi
Sarana transportasi,
soft ware dan hard
ware, data, dana
dan tenaga tersedia
83

You're Reading a Free Preview

Mengunduh
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->