Anda di halaman 1dari 5

1.

Pengertian hukum islam di Indonesia : peraturan yg dirumuskan berdasarkan wahyu Allah dan Sunnah Rasul tentang tingkah laku mukallaf yg diakui dan diyakini berlaku mengikat bagi semua pemeluk Islam yg juga dapat diartikan sebagai syariat islam/fiqh islam, fatwa2, keputusan pengadilan dan Undangundang (KHI). Yg melatar belakangi hukum islam di Indonesia ialah untuk mengatur hubungan antara manusia dengan Allah (fiqh ibadat) dan untuk mengatur hubungan antara sesame manusia (fiqh muamalat). Keberadaan hokum islam di Indonesia sendiri amat sangat penting akan tetapi kini sebagian besar merupakan proyeksi teoritis dan pengkajiannya lebih bersifat pertahanan daripada kemusnahan. Kekuatan hukum islam di Indonesia sendiri sudah menadi hukum positif yg dipedomani oleh para hakim dan masyarakat dan secara substansial telah diakui keberadaannya.

2. Perkawinan wanita hamil dalam KHI BAB 8 pasal 53 disebutkan : (1) Seorang wanita hamil di luar nikah, dapat dikawinkan dengan pria yang menghamilinya. (2) Perkawinan dengan wanita hamil yang disebut pada ayat (1) dapat dialngsungkan tanpa menunggu lebih dahulu kelahiran anaknya. (3) Dengan dilangsungkannya perkawinan pada saat wanita hamil, tidak diperlukan perkawinan ulang setelah anak yang dikandung lahir. Dan tidak diperbolehkan bagi lelaki yg tidak menghamilinya karena akibat hokum yg ditimbulkan, seakan-akan kebolehan tersebut member peluang kepada orangorang yg kurang/tidak kokoh keagamaannya akan dengan gampang menyalurkan kebutuhan seksualnya diluar nikah. Asal-usul anak, dalam UUP pasal 42 dan KHI pasal 99 terdapat persamaan dalam merumuskan anak yg sah yaitu anak yg sah ialah anak yg dilahirkan dalam perkawinan yg sah. Yg artinya ukuran sah atau tidaknya seorang anak dilihat pada waktu lahirnya tanpa memperhitungkan kapan konsepsi itu terjadi. Serta anak yg lahir akibat perkawinan yg sah. Bertentangan dengan apa yg ditegaskan dalam fiqh bahwa anak yg sah adalah anak yg lahir oleh sebab dan didalam perkawinan yg sah

maka selain itu disebut sebagai anak zina yg hanya memiliki hubungan naasab dengan ibunya. 3. Kewajiban suami yg beristri lebih dari 1 orang dalam KHI BAB 9 pasal 55 dan (1) Beristeri lebih satu orang pada waktu bersamaan, terbatas hanya sampai empat isteri. (2) Syarat utaama beristeri lebih dari seorang, suami harus mampu berlaku adil terhadap ister-isteri dan anak-anaknya. (3) Apabila syarat utama yang disebut pada ayat (2) tidak mungkin dipenuhi, suami dilarang beristeri dari seorang. 4. Bagian masing-masing ahli waris dalam KHI BAB 3 pasal 176-182 : Pasal 176 Anak perempuan bila hanya seorang ia mendapat separoh bagian, bila dua orang atau lebih mereka bersama-sama mendapzt dua pertiga bagian, dan apabila anask perempuan bersama-sama dengan anak laki-laki, maka bagian anak laki-laki adalah dua berbanding satu dengan anak perempuan. Pasal 177 Ayah mendapat sepertiga bagian bila pewaris tidak meninggalkan anak, bila ada anak, ayah mendapat seperenam bagian. Pasal 178 (1) Ibu mendapat seperenam bagian bila ada anak atau dua saudara atau lebih. Bila tidak ada anak atau dua orang saudara atau lebih, maka ia mendapat sepertiga bagian. (2) Ibu mendapat sepertiga bagian dari sisa sesudah diambil oleh janda atau duda bila bersama-sama dengan ayah. Pasal 179 Duda mendapat separoh bagian, bila pewaris tidak meninggalkan anak, dan bila pewaris meninggalkan anak, maka duda mendapat seperempat bagaian. Pasal 180 Janda mendapat seperempat bagian bila pewaris tidak meninggalkan anak, dan bila pewaris meninggalkan anak maka janda mendapat seperdelapan bagian.

Pasal 181 Bila seorang meninggal tanpa meninggalkan anak dan ayah, maka saudara laki-laki dan saudara perempuan seibu masing-masing mendapat seperenam bagian. Bila mereka itu dua orang atau lebih maka mereka bersama-sama mendapat sepertiga bagian. Pasal 182 Bila seorang meninggal tanpa meninggalkan anak dan ayah, sedang ia mempunyai satu saudara perempuan kandung atau seayah, maka ua mendapat separoh bagian. Bila saudara perempuan tersebut bersama-sama dengan saudara perempuan kandung atau seayah dua orang atau lebih, maka mereka bersamasama mendapat dua pertiga bagian. Bila saudara perempuan tersebut bersamasama dengan saudara laki-laki kandung atau seayah, maka bagian saudara laki-laki dua berbanding satu dengan saudara perempuan. 5. Penarikan kembali harta wakaf : Pasal 225 (1) Pada dasarnya terhadap benda yang telah diwakafkan tidak dapat dilakukan perubahan atau penggunaan lain dari pada yang dimaksud dalam ikrar wakaf. (2) Penyimpangan dari ketentuantersebut dalam ayat (1) hanya dapat dilakukan terhadap hal-hal tertentu setelah terlebih dahulu mendapat persetujuan tertulis dari Kepala Kantur Urusan Agama Kecamatan berdasarkan saran dari Majelis Ulama Kecamatan dan Camat setempat dengan alasan: a. karena tidak sesuai lagi dengan tujuan wakaf seperti diikrarkan oleh wakif; b. karena kepentingan umum. Akan tetapi menurut mazhab Imam Abu Hanifah tidak diperbolehkan untuk menjual, menghibahkan atau mewariskan harta wakaf kecuali setelah dilakukan kembali penarikan harta wakaf oleh orang yg mewakafkan. Dan, selama orang yg mewakafkan/pewarisnya belum menarik kembali harta wakaf tersebut maka yg wajib dilakukan adalah menyedekahkan hasilnya dengan masih tetapnya harta wakaf sesuai dengan keinginan dan syarat orang yg mewakafkan.

6. Masalah aborsi dalam islam dan kaitannya dengan hokum positif di Indonesia, aborsi yg dibenarkan menurut hokum positif (KUHP pasal 299, 346-349) dan hokum islam ialah tindakan pengguguran kandungan yang

dilakukan apabila kehamilan tersebut dapat membahayakan nyawa wanita hamil dan hal itu hanya dapat dilakukan sebelum kandungan berusia empat bulan.
7. Pemeliharaan anak dan tanggung jawab terhadap anak bila terjadi

perceraian

menurut

islam

ialah

baik

ibu

maupun

bapak

tetap

berkewajiban memelihara dan mempunyai tanggung jawab terhadap anak meskipun telah bercerai akan tetapi yg lebih berhak adalah istri sesuai dengan KHI BAB 14 pasal 105 yaitu :
Dalam hal terjadinya perceraian : a. Pemeliharaan anak yang belum mumayyiz atau belum berumur 12 tahun adalah hak ibunya; b. Pemeliharaan anak yang sudah mumayyiz diserahkan kepada anak untuk memilih diantara ayah atau ibunya sebagai pemegang hak pemeliharaanya; c. biaya pemeliharaanditanggung olehayahnya. Sedangkan menurut KUHP Perdata sesuai dengan ketentuan pasal 41 UU No. 1 tahun 1974 menegaskan bahwa bapaklah yg bertanggung jawab atas semua pemeliharaan dan pendidikan yg diperlukan si anak, bila kenyataannya bapak tidak sanggup maka ibu ikut memikul biaya dimaksud.

8. Mazhab az-Zahiri, Tokoh pemikirnya adalah Daud az-Zahiri yang dijuluki Abu
Sulaiman. Pemikiran mazhab ini dapat ditemui sampai sekarang melalui karya ilmiah Ibnu Hazm, yaitu kitab al-Ahkam fi Usul al-Ahkam di bidang usul fiqh dan al-Muhalla di bidang fiqh. Sesuai dengan namanya, prinsip dasar mazhab ini adalah memahami nash (Al-Qur' an dan sunnah Nabi SAW) secara literal, selama tidak ada dalil lain yang menunjukkan bahwa pengertian yang dimaksud dari suatu nash bukan makna literalnya. Apabila suatu masalah tidak dijumpai hukumnya dalam nash, maka mereka berpedoman pada ijma'. Ijma' yang mereka terima adalah ijma' seluruh ulama mujtahid pada suatu

masa tertentu, sesuai dengan pengertian ijma' yang dikemukakan ulama usul fiqh. Menurut Muhammad Yusuf Musa, pendapat az-Zahiri merupakan bahasa halus dalam menolak kehujahan ijma', karena ijma' seperti ini tidak mungkin terjadi seperti yang dikemukakan Imam asy-Syafi'i. Kemudian, mereka juga menolak qiyas, istihsan, al-maslahah al-mursalah dan metode istinbat lainnya yang didasarkan pada ra'yu (rasio semata): Sekalipun para tokoh Mazhab az-Zahiri banyak menulis buku di bidang fiqh, mazhab ini tidak utuh karena pengikut fanatiknya tidak banyak. Akan tetapi, dalam literatur-literatur fiqh, pendapat mazhab ini sering dinukilkan ulama fiqh sebagai perbandingan antar mazhab. Mazhab ini pernah dianut oleh sebagian masyarakat Andalusia, Spanyol. Dengan punahnya mazhab-mazhab kecil ini, maka mazhab fiqh yang utuh dan dianut masyarakat Islam di berbagai wilayah Islam sampai sekarang adalah Mazhab Hanafi, Mazhab Maliki, Mazhab Syafi'i dan Mazhab Hanbali, yang dalam fiqh disebut dengan al-Mazahib al-Arba'ah (Mazhab yang Empat) atau al-Mazahib alQubra (Mazhab-Mazhab Besar)

Sumber hukum yang dipegangi Imam Syafi'i dalam menetapkan hukum adalah Al Qur'an, Sunnah, Ijma', Qoul Shohaby, dan Qiyas. Urutan tersebut bersifat hierarki, artinya sumber hukum yang ada di bawahnya tidak boleh bertentangan dengan yang di atasnya. Sementara mengenai istihsan yang digunakan oleh Imam Malik dan Abu Hanifah, dalam beberapa hal Imam Syafi'i juga menggunakannya. Dalam hal istihsan hanya terjadi perbedaan istilah saja. Ternyata istihsan yang ditentang Syafi'i, bukan istihsan yang dipakai oleh Imam Abu Hanifah dan Imam Malik, melainkan penggunaan ro'yu yang liar dalam penetapan hukum.