Anda di halaman 1dari 5

PATOGENESIS OTITIS MEDIA

Otitis Media adalah peradangan pada sebagian atau seluruh mukosa telinga tengah, tuba eustachius, antrum mastoid, dan sel-sel mastoid. Otitis media berdasarkan gejalanya dibagi atas dua ; 1. Otitis media supuratif 2. Otitis media non supuratif di mana masing-masing memiliki bentuk yang akut dan kronis.

Otitis media akut (OMA) adalah peradangan telinga tengah dengan gejala dan tanda-tanda yang bersifat cepat dan singkat.

Etiologi 1. Bakteri - Streptococcus pneumoniae (40%) Gram +, bentuk bulat (kokus), dan tersusun dalam berbentuk rantai. merupakan flora normal dari saluran pernafasan bagian atas manusia sekitar 5-40 % dan dapat menyebabkan pneumonia, sinutisis, otitis, bronchitis, bakteremia, meningitis dan proses infeksi lainnya.
Haemophilus influenzae (25-30%) Garam -, bentuk batang (kokobasil), dan pendek kira-kira 1,5 m atau seperti rantai

pendek dan merupakan anaerob fakultatif. Merupakan flora normal saluran pernapasan manusia. Bakteri ini sering ditemukan di selaput mukosa saluran napas atas pada manusia.
Moraxella catarhalis (10-15%)

Gram -, aerob, Diplococcus yang dapat menyebabkan infeksi pada sistem pernapasan, telinga tengah, mata, sistem saraf pusat dan sendi manusia. 2. Virus Virus dapat dijumpai tersendiri atau bersamaan dengan bakteri patogenik yang lain. Virus yang paling sering dijumpai pada anak-anak, yaitu respiratory syncytial virus (RSV).
-

influenza virus, atau adenovirus (sebanyak 30-40%). Virus DNA, ukuran 74-84 nm, bereplikasi di dalam nuclei sel yang terinfeksi.

parainfluenza virus, rhinovirus atau enterovirus (sebanyak 10-15%) virus RNA, 100-200 nm.

Klasifikasi Atas dasar faktor : 1. Waktu : akut, sub akut, kronik 2. Membran Timpani : Utuh, Perforasi 3. Adanya Cairan / tidak Sehingga pembagian otitis media menjadi: 1. OMA (akut : < 3 minggu) 2. OMK (kronik : > 2 bulan) 3. OME (Otitis Media Efusi)

Patogenesis Otitis media sering diawali dengan infeksi pada saluran napas seperti radang tenggorokan atau pilek yang menyebar ke telinga tengah lewat saluran Eustachius. Saat bakteri melalui saluran Eustachius, mereka dapat menyebabkan infeksi di saluran tersebut sehingga terjadi pembengkakan di sekitar saluran, tersumbatnya saluran, dan datangnya sel-sel darah putih untuk melawan bakteri. Sel-sel darah putih akan membunuh bakteri dengan mengorbankan diri mereka sendiri. Sebagai hasilnya terbentuklah nanah dalam telinga tengah. Selain itu pembengkakan jaringan sekitar saluran Eustachius menyebabkan lendir yang dihasilkan sel-sel di telinga tengah terkumpul di belakang gendang telinga. Jika lendir dan nanah bertambah banyak, pendengaran dapat terganggu karena gendang telinga dan tulang-tulang kecil penghubung gendang telinga dengan organ pendengaran di telinga dalam tidak dapat bergerak bebas. Kehilangan pendengaran yang dialami umumnya sekitar 24 desibel (bisikan halus). Bila cairan bertambah banyak lagi dapat menyebabkan gangguan pendengaran hingga 45dB (kisaran pembicaraan normal). Selain itu telinga juga akan terasa nyeri. Dan yang paling berat, cairan yang terlalu banyak tersebut akhirnya dapat merobek gendang telinga karena tekanannya (perforasi). Sebagaimana halnya dengan kejadian infeksi saluran pernapasan atas (ISPA), otitis media juga merupakan salah satu penyakit yang sering pada anak. Diperkirakan 75% anak mengalami setidaknya satu episode otitis media sebelum usia tiga tahun dan hampir setengah dari mereka

mengalaminya tiga kali atau lebih. Setidaknya 25% anak mengalami minimal satu episode sebelum usia sepuluh tahun. Otitis media paling sering terjadi pada usia 3-6 tahun.

STADIUM OMA Dibagi atas 5 stadium yaitu; 1. Stadium oklusi tuba eustachius 2. Stadium hiperemis 3. Stadium supurasi 4. Stadium perforsi 5. Stadium resolusi. Keadaan ini berdasarkan pada gambaran membran timpani yang diamati melalui liang telinga luar. 1. Stadium oklusi tuba eustachius Tanda adanya oklusi tuba Eustachius ialah adanya gambaran retraksi membran timpani akibat terjadinya tekanan negatif di dalam telinga tengah, karena adanya absorpsi udara. Kadang-kadang membran timpani tampak normal (tidak ada kelainan) atau berwarna keruh pucat. Efusi mungkin telah terjadi, tetapi tidak dapat dideteksi. Stadium ini sukar dibedakan dengan otitis media serosa yang disebabkan oleh virus atau alergi. 2. Stadium Hiperemis (Stadium Presupurasi)

Pada stadium hiperemis, tampak pembuluh darah yang melebar di membran timpani atau seluruh membran timpani tampak hiperemis serta edem. Sekret yang telah terbentuk mungkin masih bersifat eksudat yang serosa sehingga sukar terlihat. 3. Stadium Supurasi Edem yang hebat pada mukosa telinga tengah dan hancurnya sel epitel superfisial, serta terbentuknya eksudat yang purulen di kavum timpani, menyebabkan membran timpani menonjol (bulging) ke arah liang telinga luar. Pada keadaan ini pasien tampak sangat sakit, nadi dan suhu meningkat dapat sampai 39,5C, serta rasa nyeri di telinga bertambah hebat dan kadang-kadang anak memegang telinga yang sakit. Pada bayi dan anak kecil biasanya gelisah dan sukar tidur, tiba-tiba anak menjerit waktu tidur, diare, kejang-kejang. Apabila tekanan nanah di kavum timpani tidak berkurang, maka terjadi iskemia, akibat tekanan pada kapiler-kapiler, serta timbul tromboflebitis pada vena-vena kecil dan nekrosis mukosa dan submukosa. Nekrosis ini pada membran timpani terlihat sebagai daerah yang lebih lembek dan berwarna kekuningan. Di tempat ini akan terjadi ruptur. 4. Stadium Perforasi Karena beberapa sebab seperti terlambatnya pemberian antibiotika atau virulensi kuman yang tinggi, maka dapat terjadi ruptur membran timpani dan nanah keluar mengalir dari telinga tengah ke liang telinga luar. Anak yang tadinya gelisah sekarang menjadi tenang, suhu badan turun, dan anak dapat tertidur nyenyak. Keadaan ini disebut dengan otitis media akut stadium perforasi. 5. Stadium Resolusi Bila membran timpani tetap utuh, maka keadaan membran timpani perlahan-Iahan akan normal kembali. Bila sudah terjadi perforasi, maka sekret akan berkurang dan akhirnya kering. Bila daya tahan tubuh baik atau virulensi kuman rendah, maka resolusi dapat terjadi walaupun tanpa pengobatan. OMA berubah menjadi OMSK bila perforasi menetap dengan sekret yang keluar terus-menerus atau hilang timbul. OMA dapat menimbulkan gejala sisa (sequele) berupa Otitis Media Serosa bila sekret menetap di kavum timpani tanpa terjadinya perforasi.