Anda di halaman 1dari 11

LO 1 Memahami dan menjelaskan anatomi makroskopik dan mikroskopik organ limfoid Li 1.

1 Memahami dan menjelaskan makroskopik organ limfoid THYMUS ANATOMI THYMUS Organ limfoid terletak pada sternum bagian atas belakang di daerah pubertas mediastinum superior dan bertumbuh terus sampai pubertas. Setelah mulai pubertas, thymus mengalami involusi dan setelah dewasa semakin mengecil, tapi masih dapat berfungsi untuk menghasilkan limfosit t yang baru Thymus yang besar terlihat setelah lahir pada saat bayi dan neonates. Pada cadaver orang dewasa sewaktu praktikum anatomi jarang kita temukan lagi. Mempunyai 2 buah lobus, mempunyai bagian cortex dan medulla, berbentuk segitiga, gepeng, dan kemerahan. Secara anatomi thymus : Mempunyai batas-batas sbb : 1. Batas anterior : Manubrium sterni dan rawan costae 1V 2. Batas atas : Region colli inferior (trachea),

TONSIL ANATOMI TONSIL Tonsil termasuk salah satu dari organ limfoid yang terdiri dari atas 3 buah tonsila sbb : 1. Tonsila palatine = di depan 2. Tonsila lingualis = di belakang 3. Tonsila pharyngealis = di atas Ketiga tonsila di atas membentuk satu cincin (melingkar) pada saluran limfe yang dikenal dengan Ring of Waldeyer.

Tonsila palatina :Organ limfoid yang terletak pada dinding lateralis Oropharynx dextra dan sinistra.Terletak dalam satu lekukan yang dikenal dengan Fossa Tonsillaris. Yang dibatasi oleh 2 buah otot yang melengkung berbentuk arcus yaitu : arcus Palatoglossus dan arcus Palatopharyngeus. Dasar Fossa tonsillaris tersebut dinamakan dengan Tonsil Bed. Tonsil membuka ke cavum oris terdiri dari 12-15 crypta tonsilaris. Dapat dilihat hanya dengan buka mulut baca aa..a, tonsila palatina terlihat normal sedikit penonjolan ke dalam pharynx, tetapi tidak keluar Fossa tonsillaris. Ditutupi oleh selapis jaringan ikat fibrosa yang berbentuk capsula. Tonsila Lingualis : adalah salah satu organ limfoid yang terletak di belakang lidah 1/3 bagian posterior, dan tidak mempunyai papilla sehingga terlihat permukaan berbenjol-benjol. (FOLLICEL) Tonsila Pharyngealis : adalah organ limfoid yang terdapat di daerah nasopharynx dibelakang pintu hidung belakang. Bila membesar dikenal dengan ADENOID : terletak di daerah Nasopharynx tepatnya diatas torus tubarius dan O.P.T.A. bila adenoid membesar dapat menyebabkan sesak nafas, sebab dapat menyumbat pintu nares posterior (CHOANAE).

LIEN (LIMFA) Lien adalah organ limfoid yang terbesar, lunak, rapuh dan vascular bewarna kemerahan dan bentuk oval. ANATOMI LIEN :

Terletak pada region hipochondrium sinistra dalam ruang intra peritoneal. Di proyeksikan dari luar pada costae 9, 10, dan 11, setinggi vertebrae thoracalis 11 sampai 12. Besar lien sebesar kepalan tangan sendiri. Dibungkus oleh jaringan perlekatan peritoneum pada permukaan yang dinamakan Capsula Lienalis. Fixasi lien ke ren (ginjal) melalui ligamentum Renolienalis dank e lambung (gaster) ligamentum gastrolienalis. Pembuluh darah masuk daerah Hillus Lienalis adalah Arteria Lienalis, darah vena melalui Vena Lienalis vena port untuk di bawah ke Hepar. Dalam lien terdapat pusat imunologis yaitu folikel limfoid (folikel putih) yang tersebar diseluruh sinusoid yang sangat vascular (folikel merah) Batas-batas Lien sbb : Anterior gaster, cauda pancreas, flexura colli sinistra, ren sinistra. Posterior diaphragm, costae dari ix sampai 12 Cauda PANCREAS menempel pada daerah hillus lienalis bersamaan dengan masuknya arteria lienalis dan keluar vena lienalis.

Li 1.2 Memahami dan menjelaskan mikroskopik organ limfoid Tonsila Palatina Permukaan tonsila palatina ditutupi epitel berlapis gepeng yang juga melapisi invaginasi atau kripti tonsila. Banyak limfonodulus terletak di bawah jaringan ikat dan tersebar sepanjang kriptus. Limfonoduli terbenam didalam stroma jaringan ikat

retikular dan jaringan limfatik difus. Noduli sering saling menyatu dan umumnya memperlihatkan pusat germinal. Jaringan ikat fibroelastis terdapat dibawah tonsila dan membentuk simpainya. Septa (trabekula) berasal dari simpai dan menyusup diantara limfonoduli sebagai pusat jaringan ikat dan membentuk dinding kripti. Serat otot rangka membentuk lapisan dibawah tonsila.

Timus Kelenjar timus adalah organ limfoid yang berlobul-lobul. Timus diliputi oleh kapsul jaringan ikat tempat banyak trabekula berasal. Trabekula meluas ke dan membagi kelenjar timus menjadi lobulus yang tidak utuh. Setiap lobulus terdiri atas korteks (diluar) yang terpulas gelap dan medula (didalam) yang terpulas pucat. Karena lobulus tidak utuh, medula memperlihatkan kontinuitas diantara lobulus di sebelahnya. Banyak pembuluh darah yang memasuki kelenjar timus melalui jaringan ikat kapsul dan trabekula.

Korteks setiap lobulus mengandung limfosit yang memadat tanpa pembentukan limfonodus.

Sebaliknya, medula mengandung limfosit lebih sedikit, tetapi mempunyai sel retikular epitel yang lebih banyak. Medula juga mengandung Badan Hassal yang menjadi ciri yang sangat karakteristik pada kelenjar timus. Histologi kelenjar timus bervariasi, tergantung usia individu. Kelenjar ini mencapai perkembangan terbesarnya segera setelah lahir, namun kelenjar ini mulai berinvolusi pada masa pubertas. Produksi limfosit menurun dan badan Hassal menjadi lebih besar. Selain itu, parenkim kelenjar secara bertahap digantikan oleh jaringan ikat longgar dan sel lemak. Limpa Limpa dibungkus sebuah simpai jaringan ikat padat yang menjulurkan trabekula jaringan ikat ke bagian dalam limpa. Trabekula utama memasuki limpa di hilus dan bercabang-cabang menyusup seluruh organ. Pada trabekula, terdapat arteri trabekularis dan vena trabekularis. Trabekula yang terpotong melintang tampak bulat atau nodular. Limpa ditandai dengan sejumlah agregat limfonodulus, noduli ini membentuk pulpa alba organ. Limfonoduli mengandung pusat germinal, jumlahnya secara progresif berkurang bersama dengan penambahan umur. Arteri sentralis melewati setiap limfonodulus, namun arteri ini umumnya tidak terletak di pusat. Arteri sentralis adalah cabang dari arteri trabekularis yang mendapat selubung jaringan limfatik saat meninggalkan trabekula. Selubung ini juga membentuk limfonodulus yang kemudian membentuk pulpa alba limpa. Disekitar limfonodulus dan trabekula, terdapat anyaman sel merata yang membentuk bagian terbesar organ dan secara kolektif membentuk pulpa rubra atau pulpa limpa. Sediaan segar pulpa rubra tampak merah karena jaringan vaskularnya. Pulpa rubra juga mengandung arteri pupla, sinus venosus dan korda limpa (Billroth), hal ini tampak sebagai untaian difusi

jaringan limfatik diantara sinus venosus. Korda limpa membentuk anyaman longgar jaringan ikat retikular yang biasanya tertutup jaringan padat lain. Limpa tidak memperlihatkan adanya korteks dan medula seperti pada limfonodi, namun limfonodulus terdapat di seluruh bagian limpa. Sealain itu, limpa mengandung sinus venosus, berbeda dengan sinus limfatik pada limfonodi. Namun, pada limpa tidak ada sinus subkapsularis ataupun sinus trabekularis. Simpai dan trabekula pada limpa lebih tebal daripada simpai dan trabekula di limfonodus, dan mengandung sedikit sel otot polos.

LO 2 Memahami dan menjelaskan definisi dan mekanisme imunitas Li 2.1 Definisi Imunitas adalah resistensi terhadap penyakit terutama infeksi. Sistem imun diperlukan tubuh untuk mempertahankan kebutuhannya terhadap bahaya yang dapat ditimbulkan berbagai bahan dalam lingkungan hidup. Li 2.2 Klasifikasi

Immune System

Innate (Nonspecific) o line of defense 1

Adaptive (Specific) o line of defense 2 Protects/re-exposure

Cellular Components

Humoral Components

Cellular Components

Humoral Components

Li 2.3 Mekanisme imunitas Kekebalan natural = alamiah = non-spesifik Dipunyai sejak lahir Pertahanan pertama dari bahan asing atau antigen dari luar Bersifat non-spesifik karena tidak ditujukan terhadap mikroorganisme tertentu Responnya cepat. Terdiri atas 3 mekanisme, yaitu: a. Fisik / Mekanik Contoh: kulit, selaput lendir, silia saluran nafas, batuk, dan bersin Keratinosit dan lapisan epidermis kulit sehat dan epitel mukosa yang utuh tidak dapat ditembus kebanyakan mikroba. Kulit yang rusak akibat luka bakar dan selaput lendir saluran nafas yang rusak oleh asap rokok akan meningkatkan resiko infeksi. b. Larut Contoh: asam lambung, interferon, dan komplemen Komplemen Berperan sebagai opsonin yang meningkatkan fagositosis, sebagai faktor kemotaktik dan juga menimbulkan destruksi atau lisis bakteri dan parasit Interferon c. Selular Contoh: fagositosis, sel NK, sel mast, dan eosinofil Mekanisme Fagositosis Kekebalan didapat = spesifik = adaptif Dibentuk sesudah kontak dengan bahan asing (non-self); antigen/imunogen/allergen. Kekebalan terbentuk sesudah: o Sakit o Infeksi subklinik o Imunisasi: o Imunisasi pasif o Vaksinasi atau imunisasi aktif Terdiri atas 2 mekanisme, yaitu a. Humoral Pemeran utamanya adalah limfosit B atau sel B. Sel B berasal dari sel asal multipoten di sumsum tulang. Sel B yang dirangsang oleh benda asing

akan berproliferasi, berdiferensiasi, dan berkembang menjadi sel plasma yang memproduksi antibodi yang berperan untuk pertahanan terhadap infeksi ekstraseluler, virus, dan bakteri serta menetralkan toksinnya.

b. Selular Pemeran utamanya adalah limfosit T atau sel T. Sel tersebut juga berasal dari sel asal yang sama seperti sel B. Pada orang dewasa, sel T dibentuk di sumsum tulang, tetapi berproliferasi dan diferensiasinya terjadi dalam kelenjar timus. Terdiri atas beberapa subset sel dengan fungsi yang berlainan, yaitu: a. Sel CD4+ (Th1, Th2) b. Sel CD8+ atau CTL atau Tc c. Sel Ts Fungsi utamanya adalah untuk pertahanan terhadap bakteri yang hidup intraseluler, virus, jamur, parasit, dan keganasan. LO 3 Memahami dan menjelaskan antigen Li 3.1 Definisi Secara spesifik imunogen adalah bahan yang dapat merangsang sel B atau sel T atau keduanya. Antigen adalah bahan yang berinteraksi dengan produk respons imun yang oleh imunogen spesifik seperti antibodi dan atau TCR. Antigen lengkap adalah antigen yang menginduksi baik respons imun maupun bereaksi dengan produknya. Yang disebut antigen inkomplit atau hapten, tidak dapat dengan sendiri menginduksi respons imun, tetapi dapat bereaksi dengan produknya seperti antibodi. Li 3.2 Klasifikasi antigen Antigen dapat dibagi menurut epitop, spesifisitas, ketergantungan terhadap sel T dan sifat kimiawi : 1. Pembagian antigen menurut epitop a. Unideterminan, univalen Hanya satu jenis determinan/epitop pada satu molekul. b. Unideterminan, multivalen Hanya satu jenis determinan tetapi dua atau lebih determinan tersebut ditemukan pada satu molekul c. Multideterminan, univalen Banyak epitop yang bermacam-macam tetapi hanya satu dari setiap macamnya (kebanyakan protein). d. Multidetermina, multivalen Banyak macam determinan dan banyak dari setiap macam pada satu molekul (antigen dengan berat molekul yang tinggi dan kompleks secara kimiawi).

2. Pembagian antigen menurut spesifisitas a. Heteroantigen, yang dimiliki oleh banyak spesies b. Xenoantigen, yang hanya dimiliki spesies tertentu. c. Autoantigen, yang dimiliki alat tubuh sendiri 3. Pembagian antigen menurut ketergantungan terhadap sel T a. T dependen, yang memerlukan pengenalan oleh sel T terlebih dahulu untuk dapat menimbulkan respons antibodi. Kebanyakan antigen protein termasuk dalam golongan ini. b. T independen, yang dapat merangsang sel B tanpa bantuan sel T untuk membentuk antibodi. Kebanyakan antigen golongan ini berupa molekul besar polimerik yang dipecah didalam tubuh secara perlahan-lahan, misalnya lipopolisakarida, ficoll, dekstran, levan dan flagelin polimerik bakteri. 4. Pembagian antigen menurut sifat kimiawi a. Hidrat arang (polisakarida) Hidrat arang pada umumnya imunogenik. b. Lipid Lipid biasanya tidak imunogenik, tetapi menjadi imunogenik bila diikat protein pembawa. c. Asam nukleat Asam nukleat tidak imunogenik, tetapi dapat menjadi imunogenik bila diikat protein molekul pembawa. d. Protein Kebanyakan protein adalah imunogenik dan pada umumnya multideterminan dan univalen. LO 4 Memahami dan menjelaskan antibodi Li 4.1 Definisi Bahan tersebut mengandung molekul antibodi yang digolongkan dalam protein yang disebut globulin dan sekarang dikenal sebagai imunoglobulin. Fungsi utamanya adalah mengikat antigen dan menghantarkannya ke sistem efektor pemusnahan. Antibodi yang terbentuk secara spesifik akan mengikat antigen baru lainnya yang sejenis. Li 4.2 Klasifikasi a. Imunoglobulin G IgG merupakan komponen utama imunoglobulin serum, dengan berat molekul 160.000 dalton. IgG merupakan imunoglobulin terbanyak dalam darah, CSS dan peritoneal. IgG pada manusia terdiri atas empat subkelas yaitu IgCL, IgG2, IgG3 dan IgG4 yang berbeda dalam sifat dan aktivitas biologik. b. Imunoglobulin A Kadarnya terbanyak ditemukan dalam cairan sekresi saluran napas, cerna dan kemih, air mata, keringat, ludah dan dalam air susu ibu yang lebih berupa IgA

sekretori (sIgA) yang merupakan bagian terbanyak. Komponen sekretori melindungi IgA dari profease mamalia. Fungsi IgA dari protease mamalia. Fungsi IgA adalah sebagai berikut: sIgA melindungi tubuh dari patogen oleh karena dapat bereaksi dengan molekul adhesi dari patogen potensial sehingga mencegah adherens dan kolonisasi patogen tersebut dalam sel pejamu. IgA dapat bekerja sebagai opsonin, oleh karena neutrofil, monosit dan makrofag memiliki reseptor untuk Fc (Fc-R) sehingga dapat meningkatkan efek bakteriolitik komplemen dan menetralisasi toksin Baik IgA dalam serum maupun dalam sekresi dapat menetralkan toksin IgA dalam serum dapat mengaglutinasikan kuman, mengganggu motilitasnya sehingga memudahkan fagositosis (opsonisasi) oleh sel polimorfonuklear IgA sendiri dapat mengaktifkan komplemen melalui jalur alternatif, tidak seperti halnya dengan IgG atau IgM yang dapat mengaktifkan komplemen melalui jalur klasik. c. Imunoglobulin M Nama M berasal dari makro-globulin dan berat molekul IgM adalah 900.000 dalton. IgM merupakan Ig paling efisien dalam aktivasi komplemen (jalur klasik). IgM dibentuk paling dahulu pada respons imun primer terhadap kebanyakan antigen dibanding dengan IgG. d. Imunoglobulin D IgD ditemukan dalam serum dengan kadar yang sangat rendah. IgD tidak mengikat komplemen, mempunyai aktivasi antibodi terhadap antigen berbagai makanan dan autoantigen seperti komponen nukleus, IgD juga diduga dapat mencegah terjadinya toleransi imun, tetapi mekanismenya belum jelas. e. Imunoglobulin E IgE mudah diikat sel mast, basofil dan eosinofil yang memiliki reseptor untuk fraksi Fc dari IgE (Fc-R). Kadar IgE yang tinggi ditemukan pada infeksi cacing, skistosomiasis, penyakit hidatid, trikinosis dan diduga berperan pada imunitas parasit. LO 5 Memahami dan menjelaskan vaksin LO 6 Memahami dan menjelaskan hukum vaksinasi menggunakan bahan haram dari prespektif islam Banyak jenis vaksin yang bersumber dari bahan-bahan yang diharamkan.Seorang pakar dari Amerika mengatakan bahwa vaksin polio dibuat dari campuran ginjal kera, sel kanker manusia, serta cairan tubuh hewan tertentu termasuk serum dari sapi, bayi kuda, dan ekstrak mentah lambung babi. Selain itu, beberapa vaksin juga diperoleh dari aborsi janin manusia yang sengaja digugurkan. Vaksin untuk cacar air, Hepatitis A, dan MMR diperoleh dengan menggunakan fetall cell line yang diaborsi, MRC-5, dan WI-38. Vaksin yang mengandung MRC-5 dan WI-38 adalah beberapa vaksin yang mengandung cell line diploid manusia. Penggunaan janin bayi yang sengaja digugurkan ini bukan merupakan suat hal yang

dirahasiakan pada publik. Sel line yang biasa digunakan untuk keperluan vaksin biasanya diambil dari bagian paru-paru, kulit, otot, ginjal, hati, thyroid, thymus, dan hati yang diperoleh dari aborsi terpisah. Penamaan isolat biasanya dikaitkan dengan sumber yang diperoleh misalnya WI-38 adalah isolat yang diperoleh dari paru-paru bayi perempuan berumur 3 bulan. Usul Fiqh Ada kaidah usul fiqh yang mengatakan bahwa mencegah kemudharatan lebih didahulukan daripada mengambil manfaatnya. Demikian alasan yang dijadikan dasar hukum pengambilan keputusan terhadap kehalalan vaksin polio sekalipun diketahui bahwa vaksin tersebut disediakan dari bahan yang tidak diperkenankan dalam Islam.