Anda di halaman 1dari 2

Judul : Gambaran Asuhan Keperawatan Psikososial pada Pasien PPOK di RSUD Wangaya Bulan Maret-April 2012 Latar Belakang

: Selama beberapa dekade, morbiditas psikiatri pada orang sakit semakin diketahui. Terjadinya gejala kecemasan yang berhubungan dengan kondisi medis umum sering ditemukan, walaupun insidensi gangguan bervariasi untuk masing-masing kondisi medis umum spesifik. Namun masih relatif sedikit yang memfokuskan gangguan kejiwaan pada penderita Penyakit Paru Obstruktif Kronik (PPOK). PPOK adalah penyakit paru yang berat dengan pengobatan yang lama dengan berbagai dampak pasien pada kondisi fisik secara umum, fungsi dan kualitas hidupnya. Hubungan antara gangguan PPOK dan kejiwaan, khususnya dalam kecemasan, panik, dan depresi, telah diketahui selama bertahun-tahun. Prevalensi komorbiditas psikiatri pada pasien serta efek dari pengobatan dan prognosisnya tetap tidak terselesaikan. Ada bukti bahwa komorbiditas psikiatri berkontribusi signifikan terhadap penurunan fungsional pada pasien PPOK dan pengobatan kejiwaan mungkin tidak hanya meningkatkan status psikiatri tetapi juga fungsi parunya. PPOK merupakan salah satu penyakit tidak menular yang menjadi masalah kesehatan masyarakat di Indonesia. Penyebabnya antara lain meningkatnya usia harapan hidup dan semakin tingginya pejanan faktor risiko, seperti faktor pejamu yang diduga berhubungan dengan kejadian PPOK, semakin banyaknya jumlah perokok khususnya pada kelompok usia muda, serta pencemaran udara di dalam ruangan maupun di luar ruangan dan ditempat kerja. Data Badan Kesehatan Dunia, menunjukkan tahun 1990 PPOK menempati urutan ke-6 sebagai penyebab utama kematian di dunia dan akan menempati urutan ke-3 setelah penyakit kardiovaskuler dan kanker. Seiring dengan majunya tingkat perekonomian dan industri otomatif, jumlah kendaraan bermotor meningkatkan dari tahun ke tahun di Indonesia. Dengan meningkatnya jumlah perokok dan populasi udara sebagai faktor risiko terhadap PPOK, maka diduga jumlah penyakit tersebut juga akan meningkat. Usia Harapan Hidup (UHH) di Indonesia pada tahun 1990 meningkat dari 60 tahun menjadi 68 tahun pada tahun 2006, dan apabila PPOK tidak dapat ditanggulangi dengan baik, maka UHH di Indonesia akan menjadi menurun karena perjalanan PPOK bersifat kronik.

Di Indonesia tidak ada data yang akurat tentang kekerapan PPOK. Pada Survai Kesehatan Rumah Tangga (SKRT) 1986 asma, bronkitis kronik dan emfisema menduduki peringkat ke - 5 sebagai penyebab kesakitan terbanyak dari 10 penyebab kesakitan utama. SKRT Depkes RI 1992 menunjukkan angka kematian karena asma, bronkitis kronik dan emfisema menduduki peringkat ke - 6 dari 10 penyebab tersering kematian di Indonesia. (http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/22281/5/Chapter%20I.pdf). Menurut Athanasios dan kawan-kawan, ada beberapa penelitian yang mendukung tingginya prevalensi ansietas dan depresi pada pasien PPOK bila dibandingkan dengan penyakit kronik lainnya, kemungkinan disebabkan adanya faktor psikologis atau psikopatologis yang mempengaruhi kemampuan pasien dalam mengatasi penyakitnya. Pada penelitiannya yang lain dijumpai angka ansietas dan depresi pada pasien PPOK lebih tinggi dibandingkan dengan asma bronkial dan tuberculosis. Mengingat permasalahan ini kronik, sangatlah penting bagi klinisi untuk mampu secara cepat mengidentifikasi pasien-pasien yang membutuhkan perhatian lebih terhadap ansietas maupun depresi pada pasien PPOK. Maka peneliti tertarik untuk melakukan penelitian ini untuk melihat gambaran asuhan keperawatan psikososial pada pasien PPOK di RSUD Wangaya Denpasar. (http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/34065/5/Chapter%20I.pdf)

Beri Nilai