Anda di halaman 1dari 17

PRESENTASI KASUS

1. Identitas
-Nama -Umur - Jenis kelamin - Pekerjaan - Alamat - Masuk RSUAM : Tn. R : 52 tahun : Laki - laki : Buruh : Dusun VI suka rame Rt 22/ Rw 09, desa Natar, kec. Natar : 04-10-2005, pukul 13.00 WIB

2. Anamnesa
Autoanamnesa, (04-10-2005) - Keluhan utama - Keluhan tambahan : Mata kiri terasa sakit : Mata kiri merah, gatal, berair, penglihatan menurun,

keluar kotoran dari mata, sakit kepala. - Riwayat penyakit sekarang Pasien datang ke RSUAM dengan keluhan mata kiri terasa sakit sejak 2 bulan yang lalu. Keluhan sakit diasakan pasien seperti ditusuk - tusuk. Keluhan juga disertai mata kiri merah, gatal, berair, keluar kotoran dari mata, serta penglihatan mata kiri pasien yang makin lama makin menurun. Keluhan ini dirasakan setelah mata kirinya terkena debu, sehingga menimbulkan rasa gatal. dan oleh pasien mata kirinya digosok gosok dengan tangannya. Dua minggu kemudian pasien baru berobat ke dokter dan diberi obat tetes mata (pasien tidak ingat nama obatnya). Setelah diberi obat pasien mengaku sakit matanya tidak sembuh sembuh malah terasa sakitnya makin berat, dan karena itu pasien memutuskan untuk berobat ke RSUAM.

- Riwayat penyakit dahulu Pasien menyangkal memiliki riwayat DM Pasien menyangkal memiliki riwayat darah tinggi Pasien menyangkal memilii riwayat alergi obat - Riwayat penyakit keluarga Tidak ada anggota keluarga lainnya yang menderita sakit seperti ini. 3. Pemeriksaan Fisik (04 Oktober 2005, pukul 13.00 wib) Status Present - Keadaan umum - Kesadaran - Tekanan darah - Nadi - Pernafasan - Suhu Status Generalis - Kepala Bentuk Rambut Mata Telinga Hidung : Bulat, simetris : Hitam beruban, lurus, tidak mudah dicabut : Status Oftamologis : Bentuk normal, simetris, liang lapang, serumen (-/-) : Bentuk normal, tidak ada septum deviasi, pernafasan Cuping hidung tidak ada, secret tidak ada. Mulut : Bibir tidak sianosis, lidah tidak kotor, faring tidak hiperemis, Tidak ada perdarahan gusi. : Tampak sakit sedang : Compos mentis : 120/80 mmHg : 80 x/menit : 24 x/menit : 36,4 C

- Leher Inspeksi Palpasi JVP - Toraks Inspeksi PARU Inspeksi Palpasi Perkusi Auskultasi : Pergerakan nafas kanan-kiri simetris. : Fremitus taktil simetris kanan-kiri : Sonor pada kedua lapang paru : Suara nafas vesikuler pada seluruh lapangan paru, wheezing (-/-), ronkhi (-/-). JANTUNG Inspeksi Palpasi Perkusi : Ictus cordis tidak terlihat. : Ictus cordis tidak teraba : Batas atas sela iga III garis midclavicula sinistra Batas jantung kanan sela iga V garis sternal dextra Batas jantung kiri sela iga V garis midclavicula sinistra. Auskultasi - Abdomen Inspeksi Palpasi : Perut datar simetris, venektasi (-). : Turgor cukup, hepar dan lien tidak teraba, nyeri tekan (-), defans muscular (-). : Bunyi jantung I-II murni, murmur (-). : Bentuk simetris : Bentuk simetris, trakea tidak deviasi, kelenjar getah bening tidak membesar. : kelenjar getah bening tidak membesar. : tidak meningkat

Perkusi Auskultasi - Genitalia Externa Kelamin - Ekstremitas Superior Inferior

: Timpani. : Bising usus (+) normal.

: laki - laki, tidak ada kelainan

: tidak ada kelainan : tidak ada kelainan

STATUS OFTALMOLOGIS

OCCULUS DEXTRA 6/6 Tidak dilakukan Tidak dilakukan Tidak dilakukan Normal, tidak menonjol Tidak ada kelainan Tidak ada kelainan Oedem (-) Oedem (-) Tenang Tenang Tenang Putih, jernih, anikterik Jernih Sedang Gbr. kripta baik, sinekia(-) Bulat, sentral, RC (+) Jernih Tidak dilakukan Tidak dilakukan Normal (palpasi) Normal

VISUS KOREKSI SKIASKOPI SENSUS KOLORIS BULBUS OCULI SUPER CILIA PARESE/PARALYSE PALPEBRA SUPERIOR PALPEBRA INFERIOR CONJUNGTIVA PALPEBRA CONJUNGTIVA FORNICES CONJUNGTIVA BULBI SCLERA CORNEA CAMERA OCULI ANTERIOR IRIS PUPIL LENSA FUNDUS REFLEKS CORPUS VITREUM TENSIO OCULI SISTEM CANALIS LACRIMALIS

OCCULUS SINISTRA 1/~ Tidak dilakukan Tidak dilakukan Tidak dilakukan Normal, tidak menonjol Tidak ada kelainan Tidak ada kelainan Oedem (-) Oedem (-) Hiperemis Hiperemis Injeksi konjungtiva(+) Sulit dinilai Keruh, Defek (+),Perforasi ulcus cornea Hipopion 2/3 bagian Prolaps iris Sulit dinilai Sulit dinilai Tidak dilakukan Tidak dilakukan Normal (palpasi) Lakrimasi

4. Pemeriksaan Penunjang
Tidak dilakukan pemeriksaan penunjang pada pasien

RESUME Pasien laki laki, usia 52 tahun, datang ke RSUAM a keluhan mata kiri terasa sakit sejak 2 bulan yang lalu. Keluhan sakit diasakan pasien seperti ditusuk tusuk. Keluhan juga disertai mata kiri merah, gatal, berair, keluar kotoran dari mata, serta penglihatan mata kiri pasien yang makin lama makin menurun. Dua minggu kemudian pasien baru berobat ke dokter dan diberi obat tetes mata (pasien tidak ingat nama obatnya). Setelah diberi obat pasien mengaku sakit matanya tidak sembuh sembuh malah terasa sakitnya makin berat, dan karena itu pasien memutuskan untuk berobat ke RSUAM. Pada pemeriksaan fisik ditemukan Status present : Dalam batas normal Status generalis : Dalam batas normal Status oftalmologi Oculi sinistra : Visus 1/~ Proyeksi sinar baik Bulbus oculi normal Palpebra superior & inferior oedem (-) Conjungtiva palpebra dan fornices hiperemis & injeksi conjungtiva bulbi sclera anicterik Cornea defek (+), perforasi ulkus kornea (+) CoA hipopion 2/3 bagian Iris prolaps iris Pupil sulit dinilai Lensa sulit dinilai Pemeriksaan Penunjang Tidak dilakukan pemeriksaan penunjang pada pasien

Anjuran Pemeriksaan 1. Pemeriksaan Mikrobiologi/Bakteriologi dengan pewarnaan Gram (sediaan Apus dari kerokan kornea. 2. Kultur dan Resistensi Test. 3. Tes Fluorescein. 4. Tes Fistel. Diagnosa Kerja ULKUS KORNEA dan PERFORASI KORNEA OCULAR SINISTRA Therapy 1. Bed rest, diet nasi biasa 2. Medikamentosa a. Tropin ED I tiap 12 jam OS b. Gentamicin ED 1% gtt I/1 jam OS c. Injeksi Gentamicin 80 mg tiap 12 jam I.M d. Pondex 250 mg 3dd tab I 3. Operatif Enukleasi Ocular Sinistra Prognosa - Quo ad vitam - Qou ad fungtionam : ad bonam : dubia ad malam

FOLLOW UP Tanggal OS Visus Palpebra Superior Palpebra Inferior Konjungtiva Palpebra Konjungtiva Fornices Konjungtiva Bulbi Sklera Kornea COA OS Iris Visus Pupil Palpebra Superior Lensa Palpebra Inferior Konjungtiva Palpebra Therapi Konjungtiva Fornices Konjungtiva Bulbi Sklera Kornea COA Iris Pupil Lensa Therapi Tanggal 04102005 OS 1/~, proyeksi sinar baik oedem (-) oedem (-) hiperemis hiperemis Injeksi konjungtiva Sulit dinilai 05 10 2004 Defek(+), perforasi ulkus kornea hipopion OS bagian 2/3 1/~, proyeksiiris baik Prolaps sinar sulit dinilai oedem (-) sulit dinilai oedem (-) hiperemis Tropin ED I gtt I/12 jam OS hiperemis Gentamisin 1% ED I gtt I/1 Injeksi konjungtiva jam OS Sulit dinilai Injeksi gentamisin 80 mg tiap Defek(+), perforasi ulkus 12 jam I.M kornea Pondex 250 mg2/3 bagian hipopion 3dd I Prolaps iris sulit dinilai sulit dinilai Tropin ED I gtt I/12 jam OS Gentamisin 1% jam OS ED I gtt I/1 OS 1/~, proyeksi sinar baik oedem (-) oedem (-) hiperemis hiperemis Injeksi konjungtiva Sulit dinilai Defek(+), perforasi ulkus kornea hipopion 2/3 bagian Prolaps iris sulit dinilai sulit dinilai 06 10 2004

Injeksi gentamisin 80 mg tiap 12 jam I.M Pondex 250 mg 3dd I

Tanggal OS Visus Palpebra Superior Palpebra Inferior Konjungtiva Palpebra Konjungtiva Fornices Konjungtiva Bulbi Sklera Kornea COA Iris Pupil Lensa Therapi

07102005 OS

08 10 2005 OS

Tanggal OS Visus Palpebra Superior Palpebra Inferior Konjungtiva Palpebra Konjungtiva Fornices Konjungtiva Bulbi Sklera Kornea COA Iris Pupil Lensa Therapi

9102004 OS

10 10 2004 OS

Pada tanggal pukul wib pasien Pulang Atas Permintaan Sendiri.

ULKUS KORNEA Ulkus kornea dibedakan dalam bentuk : Ulkus kornea sentral Ulkus kornea perifer

1. Ulkus kornea sentral Ulkus sentral biasanya merupakan ulkus infeksi akibat kerusakan pada epitel. Lesi terletak di sentral, jauh dari limbus vaskular. Hipopion biasanya ( tidak selalu ) menyertai ulkus. Hipopion adalah pengumpulan sel-sel radang yang tampak sebagai lapis pucat di bagian bawah kamera anterior dan khas untuk ulkus sentral kornea bakteri dan fungi. Meskipun hipopion itu steril pada ulkus kornea bakteri, kecuali terjadi robekan pada membran descement, pada ulkus fungi lesi ini mungkin mengandung unsur fungus. Etiologi ulkus kornea sentral biasanya bakteri (Pseudomonas, Pneumokok, Moraxela liquefaciens, Streptokok beta hemolitik, Klebsiella pneumoni, E.coli, Proteus), virus (herpes simpleks,herpes zoster), jamur (Candida albican, Fusarium solani, species Nokardia, Sefalosforium dan Aspergilus). Biasanya dimulai dengan trauma kecil dari epitel kornea, seperti tergores oleh pensil atau terkena debu yang kemudian disusul dengan infeksi sekunder dengan kuman-kuman. Kuman ini dapat berasal dari konjungtiva,sakus lakrimal. Oleh karena itu jangan lupa melakukan pemeriksaan bakteriologis dari kerokan konjungtiva dan isi dari sakus lakrimal. Juga tes anel, disamping pemeriksaan yang harus biasa dilakukan pada keratitis. Penyakit ini biasa didapatkan pada

petani, buruh tambang,orang- orang dengan kesehatan yang buruk, orang jompo, penderita glaukoma,pecandu alkohol dan obat bius. Pada tempat trauma di kornea timbul infiltrat, oleh karena pengumpulan dari wandering cell disertai injeksi perikornea dan injeksi konjungtiva. Penderita mengeluh kesakitan, disertai pembengkakan dari palpebra. Infiltrat ini cepat membesar dan ulkusnya menjalar ke arah permukaan dan ke dalam, sehingga ulkus tergaung bentuknya dan penjalarannya dari sentral ke perifer. 2. Ulkus kornea perifer Ulkus perifer merupakan peradangan kornea bagian perifer berbentuk khas yang biasanya terdapat daerah jernih antara limbus kornea dengan tempat kelainannya. Diduga dasar kelainannya adalah suatu reaksi hipersensitifitas terhadap eksotoksin bakteri. Ulkus yang terutama terdapat pada bagian perifer kornea, biasanya terjadi akibat alergi, toksik, infeksi dan penyakit kolagen vascular. Biasanya bersifat rekuren, dengan kemungkinan terdapatnya Streptococcus pneumoniae, Hemophillus aegepty, Moraxella lacunata dan Esrichia. Penglihatan pasien dengan ulkus perifer akan menurun disertai rasa sakit, fotofobia dan lakrimasi. Terdapat pada satu mata blefarospasme, injeksi konjungtiva, infiltrate atau ulkus yang memanjang dan dangkal. Terdapat unilateral dapat tunggal atau multiple dan daerah yang jernih antara kelainan ini dengan limbus kornea. Kebanyakan ulkus kornea perifer bersifat jinak namun sangat sakit. Ulkus ini timbul akibat konjungtivitis bakteri akut atau menahun, khususnya blefarokonjungtivitis stafilokok dan lebih jarang konjungtivitis koch-weeks (Haemophilus aegyptius). Namun ulkus-ulkus ini bukan proses infeksi dan kerokan tak mengandung bakteri penyebab. Ulkus timbul akibat sensitisasi

terhadap produk bakteri, antibodi dari pembuluh limbus bereaksi dengan antigen yang telah berdifusi melalui epitel kornea.Ulkus kornea perifer antara lain berupa - ulkus dan infiltrat marginal - ulkus mooren - keratokonjungtivitis phlyctenular - keratitis marginal pada penyakit autoimun - ulkus kornea akibat defisiensi vitamin A - keratitis neurotropik - keratitis pajanan (exposure)

Pengobatan dan Pemeriksaan Penunjang


Pemeriksaan laboratorium sangat berguna untuk membantu membuat diagnosis kausa. Pemeriksaan jamur dilakukan dengan sediaan hapus yang memakai larutan KOH. Sebaiknya pada setiap ulkus kornea dilakukan pemeriksaan agar darah, Saboraud, Triglikolat dan agar coklat. Secara umum, pengobatan untuk ulkus kornea adalah dengan siklopegik, antibiotic topical yang sesuai, dan pasien dirawat bila terjadi perforasi, pasien tidak dapat memberi obat sendiri, tidak terdapat reaksi obat dan perlunya obat sistemik. Pengobatan pada ulkus kornea bertujuan untuk menghalangi pertumbuhan bakteri dengan pemberian antibiotika dan mengurangi reaksi radang dengan steroid. Secara umum ulkus kornea diobati sebagai berikut : Tidak boleh dibebat, karena akan menaikkan suhu sehingga berfungsi sebagai incubator. Secret yang terbentuk dibersihkan 4 kali sehari Diperhatikan kemungkinan terjadinya glaucoma sekunder. Debridement sangat membantu penyembuhan.

Diberi antibiotika yang sesuai dengan kausa. Biasanya diberi secara local, kecuali pada keadaan yang berat. Pengobatan dihentikan bila sudah terjadi epitelialisasi dan mata terlihat tenang, kecuali bila penyebabnya Pseudomonas yang memerlukan tambahan pengobatan selama 1-2 minggu. Pada ulkus kornea dilakukan pembedahan atau keratoplasty apabila: Dengan pengobatan tidak sembuh Terjadinya jaringan parut yang mengganggu penglihatan. Yang paling ideal untuk pengobatan terhadap ulkus kornea adalah pencegahan terjadinya ulkus dengan pengobatan setiap trauma kornea sesteril mungkin. Kalau terdapat debu, maka keluarkanlah debu tersebut dengan alat-alat yang steril, kemudian beri antibiotic local yang berspektrum luas, kalau perlu juga sistemik dan mata ditutup kasa steril dan diganti setiap hari sampai sembuh. Bila telah terbentuk ulkus, maka sebaiknya dilakukan pemeriksaan mikrobiologi dan resistensi, supaya pengobatannya tepat guna. Sebagai contoh: Pneumokokus Pseudomonas : Streptomisin, penicillin, tetrasiklin local dan sistemik. : Polimiksin B, dihidrostreptomisin.

Morax axenfeld : kloramfenikol. Fungus : mikostatin, amfoterisin B, nistatin, dll.

Disamping itu juga diberikan Sulfas Atropin sebagai salep atau larutan sebagai midriatika, mata ditutup juga diberikan roborantia, analgetika, sedative. Kalau tidak sembuh dapat dilakukan: Kauterisasi kimia dan mekanik Parasentesa Membuat flap konjungtiva, dll.

DAFTAR PUSTAKA

1. Sidartha Ilyas, Prof. Dr, SpM; Ulkus Kornea dalam Ilmu Penyakit Mata; BP FKUI, Edisi kedua, Jakarta, 2002; hal. 164-172 2. N. Wijaya S. D, Dr; Ulkus Kornea dalam Ilmu Penyakit Mata, Jakarta, 1983. 3. Asbury Taylor, Sanitato James J. Trauma, dalam Vaughan Daniel G, Abury Taylor, Eva Paul Riordan. Oftalmologi Umum. Disis XIV. Jakarta : Widya Medika; 2000.p.380-87 4. Perhimpunan Dokter Ahli Mata; Ilmu Penyakit Mata; Airlangga University Press