Anda di halaman 1dari 8

BAB II LANDASAN TEORI

2.1. Pengertian Audit Audit atau pemeriksaan dalam arti luas bermakna evaluasi terhadap suatu organisasi, sistem, proses, atau produk.Audit dilaksanakan oleh pihak yang kompeten, objektif, dan tidak memihak, yang disebut auditor. Menurut Mulyadi(2002) , Audit adalah suatu proses sistematik untuk memperoleh dan mengevaluasi bukti secara obyektif mengenai pernyataanpernyataan tentang kegiatan dan kejadian ekonomi, dengan tujuan untuk menetapkan tingkat kesesuaian antara pernyataan-pernyataan tersebut dengan kriteria yang telah ditetapkan, serta penyampaian haisl-hasilnya kepada pemakai yang berkepentingan. Secara umum pengertian di atas dapat diartikan bahwa audit adalah proses sistematis yang dilakukan oleh orang yang kompeten dan independen dengan mengumpulkan dan mengevaluasi bahan bukti dan bertujuan memberikan pendapatmengenai kewajaran laporan keuangan tersebut. Jadi, audit itu adalah suatu rangkaian kegiatan yang menyangkut: 1. Proses pengumpulan dan evaluasi bahan bukti Informasi yang dapat diukur. Informasi yang dievaluasi adalah informasi yang dapat diukur. Hal-hal yang bersifat kualitatif harus dikelompokkan dalam kelompok yang terukur, sehingga dapat dinilai menurut ukuran yang jelas, seumpamanya Baik Sekali, Baik, Cukup, Kurang Baik, dan Tidak Baik dengan ukuran yang jelas kriterianya. 2. Entitas ekonomi. Untuk menegaskan bahwa yang diaudit itu adalah kesatuan, baik berupa Perusahaan, Divisi, atau yang lain.Dilakukan oleh seseorang (atau sejumlah orang) yang kompeten dan independen yang disebut sebagai Auditor. 3. Menentukan kesesuaian informasi dengan kriteria penyimpangan ditemukan. yang

Penentuan itu harus berdasarkan ukuran yang jelas. Artinya, dengan kriteria apa hal tersebut dikatakan menyimpang. 4. Melaporkan hasilnya. Laporan berisi informasi tentang kesesuaian antara informasi yang diuji dan kriterianya, atau ketidaksesuaian informasi yang diuji dengan kriterianya serta menunjukkan fakta atas ketidaksesuaian tersebut.

Sifat Sifat dari Auditing : 1. Auditing membutuhkan pendekatan langkah per langkah yang dibentuk dengan perencanaan teliti sertapemilihan dan pelaksanaan teknik yang tepat dengan hatihati. 2. Mengumpulkan, meninjau, dan mendokumentasikan bukti audit.

Dalam melaksanakan audit faktor-faktor berikut harus diperhatikan: 1. Dibutuhkan informasi yang dapat diukur dan sejumlah kriteria (standar) yang dapat digunakan sebagai panduan untuk mengevaluasi informasi tersebut. 2. Penetapan entitas ekonomi dan periode waktu yang diaudit harus jelas untuk menentukan lingkup tanggungjawab auditor. 3. Bahan bukti harus diperoleh dalam jumlah dan kualitas yang cukup untuk memenuhi tujuan audit. 4. Kemampuan auditor memahami kriteria yang digunakan serta sikap independen dalam mengumpulkan bahan bukti yang diperlukan untuk mendukung kesimpulan yang akan diambilnya. 2.2. Jenis Jenis Audit Secara umum jenis audit ditentukan atas dasar tujuan dilakukannya audit, jenis objek audit dan orang yang melakukan audit tersebut. Menurut Abdul Halim (1995:6) dalam bukunya yang berjudul, Auditing dilihat dari sisi untuk siapa audit dilaksanakan, audit diklasifikasikan sebagai berikut: 1. Audit eksternal: merupakan suatu kontrol sosial yang memberikan jasa untuk memenuhi kebutuhan informasi bagi pihak luar perusahaan.

2.

Audit internal: merupakan suatu kontrol dari suatu organisasi yang mengukur suatu efektivitas organisasi.

3.

Audit sektor publik: merupakan suatu kontrol atas organisasi pemerintahan yang memberikan jasanya kepada masyarakat. Adapun jenis-jenis audit menurut Sukrisno Agoes (2004:10) ditinjau dari segi

luas pemeriksaannya audit terbagi atas: 1. General Audit (Pemeriksaan Umum) General audit merupakan suatu pemeriksaan umum atas laporan keuangan yang dilakukan oleh Kantor Akuntan Publik dengan tujuan memberikan pendapat tentang kewajaran laporan keuangan secara keseluruhan. 2. Special Audit (Pemeriksaan Khusus) Special audit merupakan suatu pemeriksaan yang terbatas sesuai dengan permintaan auditee. Dalam hal ini auditor tidak perlu memberikan pendapat secara keseluruhan tentang kewajaran laporan keuangan, yang diberikan hanya sebatas pada masalah tertentu yang diperiksa. Menurut Kell dan Boyton berdasarkan tujuan dilaksanakannya, audit terbagi atas tiga jenis audit yaitu audit laporan keuangan, audit kepatuhan, dan audit operasional, yang dapat dijelaskan sebagai berikut : 1. Audit Laporan Keuangan (Financial Statement Audit) Audit laporan keuangan merupakan proses pemeriksaan atas laporan keuangan suatu instansi atau organisasi untuk menilai apakah laporan keuangan tersebut sesuai dengan prinsip akuntansi yang berlaku umum. Ukuran kesesuaian dari audit laporan keuangan yaitu kewajaran dalam penyajiannya. Audit keuangan umumnya dilaksanakan oleh kantor akuntan publik atau akuntan publiksebagai auditor independen dengan berpedoman pada standar profesional akuntan publik.Hasil audit lalu dibagikan kepada pihak luar perusahaan seperti kreditor, pemegang saham, dan kantor pelayanan pajak. 2. Audit Kepatuhan (Compliance Audit) Audit kepatuhan merupakan penghimpunan dan pengevaluasian terhadap buktibukti dengan tujuan untuk menentukan apakah kegiatan finansial atau operasi

dari suatu entitas sesuai dengan kondisi, aturan, dan regulasi yang ditentukan. Dengan audit kepatuhan ini dapat diketahui juga apakah suatu prosedur, aturan, regulasi lebih tinggi ditaati/ditakuti. Audit ini bertujuan untuk menentukan apakah yang diperiksa sesuai dengan kondisi, peratuan, dan undang-undang tertentu.Audit kepatuhan biasanya disebut fungsi audit internal, karena oleh pegawai perusahaan. 3. Audit Operasional (Operational Audit) Audit operasional mencakup penelaahan yang sistematis atas aktivitas suatu organisasi yang dihubungkan dengan tujuan yang khusus. Secara umum, audit operasional dilakukan dengan tujuan untuk menilai efektivitas, efisiensi maupun kehematan (ekonomis) dari prosedur atau metoda suatu operasi.Tujuan audit operasional adalah untuk : a. Menilai kinerja, kinerja dibandingkan dengan kebijakan-kebijakan, standarstandar, dan sasaran-sasaran yang ditetapkan oleh manajemen, b. c. Mengidentifikasikan peluang dan, Memberikan rekomendasi untuk perbaikan atau tindakan lebih lanjut. Pihakpihak yang mungkin meminta dilakukannya audit operasional adalah manajemen dan pihak ketiga. Hasil audit operasional diserahkan kepada pihak yang meminta dilaksanakannya audit tersebut.

2.3. Pengertian Aktiva Aktiva adalah sumber daya ekonomi yang diperoleh dan dikuasai oleh suatu perusahaan sebagai hasil dari transaksi masa lalu, salah satunya adalah aktiva tetap yang digunakan perusahaan dalam kegiatan operasional perusahaan dalam menghasilkan produk. Menurut SAK No. 16 tahun 2004 yang dimaksud dengan aktiva adalah sumber daya yang dikuasai oleh perusahaan sebagai akibat dari peristiwa masa lalu dan dari mana manfaat ekonomis di masa depan diharapkan akan diperoleh perusahaan. Selanjutnya dijelaskan dalam kerangka dasar penyusunan dan penyajian laporan keuangan paragraf 56 bahwa banyak aktiva, modal, aktiva tetap memiliki bentuk

fisik. Namun demikian bentuk fisik tersebut tidak esensial untuk menentukan eksistensi aktiva; karena itu, paten dan hak cipta, misalnya, merupakan aktiva kalau manfaat yang diperoleh perusahaan di masa depan dan kalau masing-masing aktiva tersebut dikuasai perusahaan. Dalam menentukan eksistensi aktiva, hak milik tidak esensial jadi misalnya property yang diperoleh melalui sewa guna usaha adalah aktiva jika perusahaan mengendalikan manfaat yang diharapkan dari property tersebut. Pengertian Aktiva menurut FASB Statement of Financial accounting Concepts No. 3 (SFAC No. 3), Aktiva adalah manfaat ekonomis mendatang yang mungkin akan diperoleh atau dikendalikan oleh kesatuan ekonomi tertentu sebagai akibat transaksi atau peristiwa yang lalu. Pengertian aktiva yang dikemukakan oleh pakar ekonomi sangat beragam, namun pada dasarnya pengertiannya sama yaitu aktiva merupakan sumber daya ekonomi suatu perusahaan yang diukur berdasarkan prinsip akuntansi.

2.3.1

Pengertian Aktiva Tetap Aktiva tetap merupakan komponen penting yang dimiliki perusahaan dalam

melakukan suatu usaha dan biasanya memiliki nilai nominal yang cukup besar dan material. Jumlah aktiva tetap yang dimiliki oleh suatu perusahaan akan sangat berpengaruh terhadap tingkat produktivitas dan penjualan perusahaan, yang pada nantinya akan memperbesar jumlah laba yang dihasilkan. Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) No. 16 (2004:16.2), mendefinisikan aktiva tetap sebagai berikut, Aktiva tetap adalah aktiva berwujud yang diperoleh dalam bentuk siap pakai atau dengan dibangun terlebih dahulu, yang digunakan dalam operasi perusahaan, tidak dimaksudkan untuk dijual dalam rangka kegiatan normal perusahaan dan mempunyai manfaat lebih dari satu tahun. Menurut Soemarso (2005:20) dalam bukunya, Akuntansi Suatu Pengantar mengatakan, Aktiva tetap adalah aktiva tetap berwujud yang masa manfaatnya lebih dari satu tahun, digunakan dalam kegiatan perusahaan yang dimiliki tidak untuk dijual kembali dalam kegiatan normal perusahaan serta memiliki nilai yang cukup

besar. Sehingga aktiva tetap merupakan aktiva jangka panjang yang dimaksudkan untuk digunakan dalam kegiatan normal perusahaan serta mengandung kekayaan perusahaan. Menurut Zaki Baridwan (2001), Aktiva tetap adalah kekayaan perusahaan yang memiliki wujud, mempunyai manfaat ekonomis lebih dari satu tahun, dan diperoleh perusahaan untuk melaksanakan kegiatan perusahaan, bukan untuk dijual kembali.

2.3.2

Sifat Aktiva Tetap Ada beberapa sifat atau ciri aktiva tetap:

1.

Tujuan dari pembeliannya bukan untuk dijual kembali atau diperjualbelikan sebagaibarang dagangan, tetapi untuk dipergunakan dalam kegiatan operasi perusahaan.

2. 3.

Mempunyai masa manfaat lebih dari 1 tahun. Jumlahnya cukup material. Dari beberapa definisi aktiva tetap di atas, dapat diketahui karakteristik dari

aktiva tetap adalah sebagai berikut: 1. 2. 3. 4. 5. 6. Aktiva berwujud Memiliki masa manfaat lebih dari satu tahun Merupakan kekayaan perusahaan Digunakan dalam kegiatan normal perusahaan Tidak dimaksudkan untuk dijual kembali Memiliki nilai yang cukup besar

2.4

Pengertian Audit Aktiva Tetap Audit aktiva tetap yang tekanannya pada tinjauan terhadap pendataan, evaluasi

dan pelaporan aktiva tetap dengan tujuan untuk menilai keberhasilannya dan ketepatgunaan.Biasanya proporsi terbesar dari aktiva tetap adalah aktiva yang ada

10

pada awal tahun yang sebelumnya telah diaudit. Karena itu, akan lebih murah untuk memusatkan perhatian pada populasi yang lebih kecil dari transaksi tahun berjalan. Inspeksi aktiva tetap akan memungkinkan auditor untuk mendapatkan pengetahuan pribadi yang langsung mengenai eksistensinya. Dalam penugasan yang berulang, inspeksi yang terinci dapat dibatasi pada pos-pos yang tercantum pada skedul penambahan aktiva tetap.Akan tetapi, auditor harus mengunjungi aktiva tetap lainnya sambil tetap waspada terhadap bukti relevan lainnya tentang aktiva tetap. Jenis Jenis Audit Aktiva Tetap

2.4.1

Audit pada aktiva tetap terbagi menjadi dua berdasarkan jenis aktiva tetapnya, yaitu : 1. Audit pada Fixed Tangible Assets / Aktiva tetap yang mempunyai wujud/bentuk, bisa dilihatdan bisa diraba. Adapun yang termasuk Fixed Tangible assets seperti: a. Tanah (Land) yang di atasnya dibangun gedung kantor, pabrik atau rumah,dimana b. tanah tidak mengalami penyusutan . c. Gedung (Building) termasuk pagar, lapangan parkir, taman, mesinmesin(Machinery), Peralatan (Equipment), Furniture &Fixtures (Meja, Kursi), DeliveryEquipment/Vehicles (Mobil, motor, kapal laut, pesawat terbang). d. Sumber alam (Natural Resources), seperti pertambangan minyak, batubara, emas,marmer dan hak pengusahaan hutan /HPH. Untuk penilaian aktiva tetap berwujud, dinilai berdasarkan harga

perolehannyayaitusemua biaya-biaya yang dikeluarkan untuk memperoleh aktiva tetap tersebut darisemenjak dipesan sampai dengan siap digunakan. Ada beberapa metodepenyusutanaktiva tetap, diantaranya yaitu: a. Straight Line Method. b. Declining Balance Method. c. Double Declining Balance Method.

11

d. Anuity Method. e. The Sum Of The Year Digit Method. f. Production Unit Method. g. Group And Composite Method. h. Inventory System i. Services Hours Method.

2.

Audit pada Fixed Intangible Assets/Aktiva tetap yang tidak mempunyai wujud/bentuk, sehinggatidak bisa dilihat dan tidak bisa diraba. Adapun yang termasuk Fixed Intangible assetsseperti: Hak Patent, Hak Cipta (Copy Right), Franchise, Goodwill, dll.