P. 1
bgm

bgm

|Views: 45|Likes:
Dipublikasikan oleh maulculas_rangers2
bgm
bgm

More info:

Published by: maulculas_rangers2 on Dec 20, 2012
Hak Cipta:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

01/09/2014

pdf

text

original

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Pembangunan kesehatan adalah bagian dari pembangunan nasional yang bertujuan untuk meningkatkan kesadaran, kemauan dan kemampuan hidup sehat bagi setiap orang agar terwujud derajat kesehatan masyarakat setinggi – tingginya. Pembangunan kesehatan tersebut merupakan upaya seluruh potensi bangsa Indonesia, baik masyarakat, swasta maupun pemerintah. Keadaan gizi yang tidak seimbang dapat mempengaruhi status gizi dan pada akhirnya menimbulkan masalah gizi. Sampai saat ini ada 4 masalah gizi utama yang berkaitan dengan kesehatan masyarakat yaitu kurang energy protein (KEP), anemia gizi besi, kurang vitamin A (KVA), dan gangguan akibat kekurangan yodium (GAKY). Masalah gizi terbagi menjadi masalah gizi makro dan mikro. Masalah gizi makro adalah masalah yang utamanya disebabkan kekurangan atau

ketidakseimbangan asupan energi dan protein. Manifestasi dari masalah gizi makro bila terjadi pada wanita usia subur dan ibu hamil yang Kurang Energi Kronis (KEK) adalah berat badan bayi baru lahir yang rendah (BBLR). Bila terjadi pada anak balita akan mengakibatkan marasmus, kwashiorkor atau marasmic-kwashiorkor dan selanjutnya akan terjadi gangguan pertumbuhan pada anak usia sekolah.

1

2

Dalam hal ini seorang manajer program kesehatan masyarakat dituntut untuk memiliki keterampilan mengkaji dan merumuskan masalah kesehatan masyarakat dan masalah program yang berkaitan dengan kejadian kekurangan gizi. Untuk menghadapi tuntunan perkembangan program di era otonomi daerah, petugas kesehatan yang bekerja di Dinas Kesehatan dan Propinsi harus meningkatkan pengetahuan dan keterampilan manajerialnya agar tugas-tugas pokoknya dapat dilaksanakan lebih efisien, lebih efektif, dan produktif. Upaya untuk mencegah semakin memburuknya keadaan gizi masyarakat di masa datang perlu dilakukan dengan segera dan direncanakan sesuai masalah daerah sejalan dengan kebijakan pemerintah dalam pelaksanaan desentralisasi. Keadaan ini diharapkan dapat semakin mempercepat sasaran nasional dan global dalam menetapkan program yang sistematis mulai dari perencanaan, pelaksanaan dan pemantauan. Sehubungan dengan baru berdirinya Dinas Kesehatn Kota Tangerang Selatan, maka pada kegiatan magang kali ini mahasiswa peminatan gizi program studi kesehatan masyarakat fakultas kedokteran dan ilmu kesehatan UIN syarif hidayatullah ingin melihat dan mengetahui gambaran evaluasi program perbaikan gizi yang ada di Dinas Kesehatan Kota Tangerang Selatan. 1.2 Tujuan Kegiatan Magang 1.2.1 Tujuan Umum Diketahuinya gambaran umum evaluasi program perbaikan gizi yang dilaksanakan oleh Dinas Kesehatan Kota Tangerang Selatan tahun 2009. 1.2.2 Tujuan Khusus

3

1. Diketahuinya gambaran umum Dinas Kesehatan Kota Tangerang Selatan tahun 2009. 2. Diketahuinya gambaran umum bagian gizi Dinas Kesehatan Kota Tangerang Selatan tahun 2009. 3. Diketahuinya gambaran umum program gizi Dinas Kesehatan Kota Tangerang Selatan tahun 2009. 4. Diketahuinya gambaran evaluasi program perbaikan gizi Dinas Kesehatan Kota Tangerang Selatan tahun 2009.

1.3 Manfaat Kegiatan Magang 1.3.1 Bagi Mahasiswa 1. Mengerti dan memahami masalah kesehatan masyarakat secara nyata di institusi kerja sebagai kesiapan mahasiswa dalam memasuki dunia kerja. 2. Mampu mengaplikasikan ilmu dan teori yang diperoleh selama kuliah. 3. Menambah wawasan dan mampu mengembangkan kompetensi diri serta adaptasi dalam dunia kerja.
4. Memperoleh pengalaman bekerja dalam sebuah tim (team work) untuk

memecahkan berbagai masalah kesehatan sesuai bidang institusi kerja tempat magang.

1.3.2

Bagi Program Studi Kesehatan Masyarakat UIN Jakarta

3.4 1. Terlaksananya salah satu dari upaya untuk megimplementasikan Tri Dharma Perguruan Tinggi yaitu: akademik. .3 Bagi Dinas Kesehatan Kota Tangerang Selatan Memberikan masukan. 2. Meningkatkan kapasitas dan kualitas pendidikan dengan melibatkan tenaga terampil dari lapangan dalam kegiatan magang. pengabdian masyarakat dengan aplikasi nilai-nilai islam di tempat kerja. Terbinanya suatu jaringan kerja sama yang berkelanjutan dengan institusi magang dalam upaya meningkatkan keterkaitan dan kesepadanan antara substansi akademik dengan kompetensi sumber daya manusia yang kompetitif dan dibutuhkan dalam pembangunan kesehatan masyarakat. penelitian. khususnya dalam mencari solusi masalah kesehatan masyarakat secara proporsional agar dapat memecahkan di Institusi magang.3. 1.

Pengertian Dinas Kesehatan berperan dalam melaksanakan sebagian urusan pemerintahan daerah di bidang kesehatan berdasarkan azas ekonomi dan tugas pembantuan (Dinkes Kabupaten Cianjur.1. Upaya perbaikan gizi masyarakat Upaya perbaikan gizi masyarakat bertujuan untuk meningkatkan status gizi dalam rangka menunjang peningkatan derajat kesehatan masyarakat salah satu kegiatannya adalah melakukan pemantauan pertumbuhan balita. 2008). 2008). 3) Pembinaan dan pelaksanaan tugas dinas dalam menyelenggarakan sebagian urusan pemerintahan di bidang kesehatan. Fungsi Dinas Kesehatan diantaranya adalah : 1) Perumusan kebijakan teknis dinas di bidang perencanaan. pelayanan gizi di posyandu. pembinaan.5 BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. pelaksanaan. . 4) Pelaksana tugas lain yang diberikan oleh Bupati (Dinkes Kabupaten Cianjur. 2) Penyelenggara urusan pemerintahan dan pelayanan umum di bidang kesehatan.2.1. evapor penyelenggara urusan pemerintah daerah serta penyiapan bahan perumusan kebijakan pemerintah daerah di bidang kesehatan. 2.1 Dinas Kesehatan 2.

6 2.2 Program Perbaikan Gizi Program pada dasarnya merupakan kumpulan kegiatan yang dihimpun dalam satu kelompok yang sama secara sendiri-sendiri atau bersama-sama untuk mencapai tujuan dan sasaran. Program penanggulangan Kurang Energi Protein (KEP) dan Kurang Energi Kronik (KEK) serta kegemukan. 4. ibu nifas dan menyusui serta balita. Program yang baik akan menuntun pada hasil-hasil yang diinginkan. Oleh karena itu. Program penanggulangan Kurang Vitamin A (KVA) Program Penanggulangan Anemia Gizi Besi (AGB) dan kekurangan zat gizi mikro lain. Dalam mewujudkan pembangunan kesehatan di era desentralisasi kesehatan yaitu dengan meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan dan sumber daya kesehatan/ tenaga kesehatan. tujuan dan sasaran serta visi dan misi. Empat program utama yang dilaksanakan yaitu : 1. penetapan program dilakukan dengan melihat kebijakan yang telah ditetapkan. 3. 2. Program perbaikan gizi dilaksanakan untuk meningkatkan status gizi masyarakat terutama ditujukan kepada kelompok rentan ibu hamil. Tujuan khusus dari program diatas adalah menurunkan prevalensi masalah kekurangan gizi dengan meningkatkan penganekaragaman konsumsi pangan Program Penanggulangan Gangguan Akibat Kurang berdasarkan menu seimbang (Depkes RI. maka diperlukan dukungan dari berbagai program diantaranya program perbaikan gizi masyarakat. 1999) . Yodium (GAKY).

LB3-SIMPUS.59 bulan.000 S. Kohort Balita dan Biro Pusat Statistik Kabupaten/Kota.000 S. yang diberikan kepada anak umur 12. yang diberikan kepada bayi umur 6-11 bulan dan kapsul vitamin A berwarna merah dengan dosis 200.7 2.1 Pemberian Kapsul Vitamin A 2 Kali per Tahun kepada Balita Balita yang dimaksud dalam program distribusi kapsul vitamin A adalah bayi yang berumur mulai umur 6-11 bulan dan anak umur 12-59 bulan yang mendapat kapsul vitamin A dosis tinggi.I. Sedangkan rujukannya yaitu: .3 Standar Pelayanan Minimal Berdasarkan Standar Pelayanan Minimum yang ditetapkan oleh Departemen Kesehatan Republik Indonesia.3. yaitu: 2. Kapsul vitamin A dosis tinggi terdiri dari kapsul vitamin A berwarna biru dengan dosis 100. Untuk rumus perhitungannya yaitu: Sumber Data berasal dari FIII Gizi.I. Untuk cakupan balita yang mendapat kapsul vitamin A adalah cakupan bayi 6-11 bulan mendapat kapsul vitamin A satu kali dan anak umur 12-59 bulan mendapat kapsul vitamin A dosis tinggi dua kali per tahun di satu wilayah kerja pada kurun waktu tertentu. ada beberapa program yang minimal dilaksanakan Dinas Kesehatan di tingkat Kabupaten/ Kota.

Depkes RI Tahun Pedoman Pemberian Kapsul Vitamin A. Pedoman dan deteksi tatalaksana kasus xerophtalmi. Tablet Fe adalah tablet tambah darah untuk menanggulangi Anemia Gizi Besi yang diberikan kepada ibu hamil. 6) Monitoring dan Evaluasi. 2. Depkes RI Tahun 2002. 5) Penggandaan Buku Pedoman dan Juknis. Pedoman Akselerasi Cakupan Kapsul Vitamin A. Untuk mencapai target tersebut maka langkah-langkah yang dgunakan dalam kegiatan pemberian kapsul vitamin A kepada balita ini adalah 1) Pendataan Sasaran Balita (Baseline data). Booklet Deteksi Dini Xerophtalmia. Untuk cakupan Ibu Hamil Mendapat Tablet Fe adalah cakupan Ibu hamil yang mendapat 90 tablet Fe selama periode kehamilannya di satu wilayah kerja pada kurun waktu tertentu. 4) Sweeping pemberian kapsul vitamin A. b) c) d) 2002. 2) Perencanaan kebutuhan kapsul vitamin A. 3) Pengadaan dan pendistribusian kapsul vitamin A. Untuk rumus perhitungannya yaitu: .2 Pemberian Tablet Fe 90 bagi Ibu Hamil Ibu hamil adalah ibu yang mengandung mulai trimester I s/d trismester III.3. Depkes RI Tahun 2000.8 a) 2000. Depkes RI Tahun Target dari program ini yang ditetapkan oleh Depkes yaitu 80% pada tahun 2005 dan 90% pada tahun 2010.

Untuk mencapai target tersebut maka langkah-langkah yang dgunakan dalam kegiatan pemberian tablet Fe bagi ibu hamil adalah 1) Pendataan Sasaran Ibu Hamil (Baseline data). Sedangkan untuk rujukannya yaitu berasal dari 1) Pedoman Pemberian Tablet Besi-Folat dan Sirup Besi bagi Petugas Depkes RI Tahun 1999. 5) Monitoring dan Evaluasi. .3 Pemberian Makanan Pendamping ASI pada Bayi Bawah Garis Merah dari Keluarga Miskin. 4) Penggandaan Buku Pedoman dan Juknis.3.05 x CBR wilayah kerja yang sama x jumlah penduduk di wilayah kerja yang sama. Target dari program ini yang ditetapkan oleh Depkes yaitu 70% pada tahun 2005 dan 90% pada tahun 2010. 2. PWS-KIA.9 Sumber Data diperoleh dari Kohort LB3 Ibu. 3) Pengadaan dan pendistrubusian tablet Fe. 2) Booklet Anemia Gizi dan Tablet Tambah Darah Untuk WUS Tahun 2001. Perkiraan sasaran ibu bersalin di wilayah kerja yang sama dihitung dengan formula 1. 2) Perencanaan kebutuhan tablet Fe (zat besi).

Untuk cakupan Pemberian Makanan Pendamping ASI pada bayi usia 6-11 bulan BGM dari keluarga miskin adalah pemberian MP-ASI dengan porsi 100 gram per hari selama 90 hari. kacang-kacangan.10 Bayi Bawah Garis Merah (BGM) keluarga miskin adalah bayi usia 6-11 bulan yang berat badannya berada pada garis merah atau di bawah garis merah pada KMS. susu. terigu. lesitin kedele. Sedangkan untuk rujukannya yaitu berasal dari Pedoman pengelolaan Makanan Pendamping Air Susu Ibu (MP-ASI) untuk bayi usia 6-11 bulan dan Spesifikasi MP-ASI tahun 2004. nasi tim dan biscuit yang dapat dibuat dari campuran beras. LB3-SIMPUS. margarine. R1 Gizi. sesuai dengan Gakin yang disepakati. Rumus penghitungannya yaitu: Sumber data berasal dari Laporan Khusus MP-ASI. dan atau beras merah. . MP-ASI dapat berbentuk bubur. garam bikarbonat dan diperkaya dengan vitamin dan mineral. Keluarga Miskin (Gakin) adalah keluarga yang dtetapkan oleh Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota melalui Tim Koordinasi Kabupaten/Kota (TKK) dengan melibatkan Tim Desa dalam mengidentifikasi nama dan alamat Gakin secara tepat. gula. sumber protein hewani/nabati.

11 Target dari program ini yang ditetapkan oleh Depkes yaitu 90% pada tahun 2005 dan 100% pada tahun 2010. 8) Monitoring dan Evaluasi.3. Perawatan sesuai standar yaitu pelayanan yang diberikan mencakup : 1) Pemeriksaan klinis meliputi kesadaran. 7) Pencatatan/Pelaporan. hipoglikemi. . 5) Sosialisasi program MP-ASI. kwasiorkor. yang ada di kabupaten/kota. 2) Pengukuran antropometri menggunakan parameter BB dan TB. dan marasmus-kwasiorkor). Untuk mencapai target tersebut maka langkah-langkah yang dgunakan dalam kegiatan pemberian makanan pendamping ASI pada bayi garis merah dari keluarga miskin ini adalah 1) Pendataan sasaran. dan hipotermi. dehidrasi. Gizi buruk adalah status gizi menurut berat badan (BB) dan tinggi badan (TB) dengan Z-score < -3. 6) Distribusi MP-ASI. 2. 4) Pelatihan tenaga pelaksanaan program MP-ASI.4 Balita Gizi Buruk Mendapat Perawatan Balita adalah anak usia di bawah lima tahun (0 tahun sampai dengan 4 tahun 11 bulan). dan atau dengan tanda-tanda klinis (marasmus. 2) Penyusunan Spesifikasi dan Pedoman 3) Pengelolaan MP-ASI untuk bayi usia 6-11 bln dan anak usia 12-23 bln.

jenis. Sedangkan rujukannya yaitu berasal dari: . Balita gizi buruk mendapat perawatan adalah balita gizi buruk yang ditangani di sarana pelayanan kesehatan sesuai tatalaksana gizi buruk di satu wilayah kerja pada kurun waktu tertentu. Rumus penghitungannya yaitu: Sumber data yaitu berasal dari R1/Gizi. 5) Ditimbang setiap minggu untuk memantau peningkatan BB sampai mencapai Z-score -1. Laporan KLB gizi buruk Puskesmas dan atau Rumah Sakit. W1 (laporan Wabah KLB). Transisi. mengikuti fase Stabilisasi. dan Rehabilitasi. 4) Diberikan pengobatan sesuai penyakit penyerta. 6) Konseling gizi kepada orang tua / pengasuh tentang cara memberi makan anak. SIRS. LB3-SIMPUS. dan jumlah yang sesuai kebutuhan.12 3) Pemberian larutan elektrolit dan multimicronutrient serta memberikan makanan dalam bentuk.

2003. 3) 4) 5) 6) 7) Buku Bagan Tatalaksana Anak Gizi Buruk. 2003. Panduan Pelatihan Tatalaksana Anak Gizi Buruk. Modul Manajemen Terpadu Balita Sakit (MTBS) Pedoman Tatalaksana KEP pada Anak di Puskesmas dan Rumah Tangga. Sedangkan rumus perhitungannya adalah: . Pedoman pelayanan gizi rumah sakit. 2003. 3) Pelayanan kasus. 4) Evaluasi. 1998. 2) Pelatihan tenaga kesehatan. Petunjuk Teknis Tatalaksana Anak Gizi Buruk. 2.13 1) Pedoman Tatalaksana KEP pada Anak di Rumah Sakit Kabupaten/Kodya.3.5 Pemantauan Balita yang Naik Berat Badannya Balita yang naik berat badannya (N) adalah balita yang ditimbang 2 (dua) bulan berturut-turut naik berat badannya dan mengikuti garis pertumbuhan pada KMS. Target dari program ini yang ditetapkan oleh Depkes yaitu 100% pada tahun 2005 dan 100% pada tahun 2010. Untuk mencapai target tersebut maka langkah-langkah yang dgunakan dalam kegiatan balita gizi buruk mendapat perawatan ini adalah 1) Perencanaan penyiapan sarana/prasarana. 2003. Balita yang naik berat badannya (N) adalah Balita yang ditimbang (D) di Posyandu maupun di luar Posyandu yang berat badannya naik di satu wilayah kerja pada kurun waktu tertentu. 2) 1998.

LB3-SIMPUS. Sedangkan rumus perhitungannya yaitu: . Sedangkan rujukannya yaitu: Pedoman UPGK. pelaksanaan kegiatan dan pengambilan laporan 3) Pelaksanaan pemantauan pertumbuhan di posyandu dan di luar posyandu 4) Bimbingan teknis. R1 Gizi. dan Pedoman pemantauan pertumbuhan balita.3.6 Balita Bawah Garis Merah Balita Bawah Garis Merah (BGM) adalah balita yang ditimbang berat badannya berada pada garis merah atau di bawah garis merah pada KMS. Target dari program ini yang ditetapkan oleh Depkes yaitu 60% pada tahun 2005 dan 80% pada tahun 2010. pengadaan daftar tilik. Untuk mencapai target tersebut maka langkah-langkah yang dgunakan dalam kegiatan pemantauan balita yang naik berat badannya adalah 1) Pengadaan dan pemeliharaan sarana terdiri dari alat timbang. 2) Perencanaan logistik. formulir rujukan. Balita Bawah Garis Merah (BGM) adalah balita BGM yang ditemukan disatu wilayah kerja pada kurun waktu tertentu. 2. Pedoman pengisian KMS. LB3SIMPUS.14 Sumber data yaitu berasal dari R1 Gizi.

LB3-SIMPUS. Tanpa adanya evaluasi sulit rasanya untuk mengetahui sejauh mana tujuan – tujuan yang direncanakan itu telah mencapai tujuan atau belum (Notoatmojo. Pelacakan BGM melalui pemantauan pertumbuhan di posyandu dan di luar posyandu. Untuk mencapai target tersebut maka langkah-langkah yang digunakan dalam kegiatan balita bawah garis merah ini adalah 1) Pengadaan dan pemeliharaan alat ukur berat badan dan KMS. 4) Bimbingan teknis (Depkes RI.4 Evaluasi Program Evaluasi merupakan suatu kegiatan yang bertujuan untuk menilai hasil dari program yang dilaksanakan. 2003). Pedoman pengisian KMS. karena dengan evaluasi akan diperoleh umpan balik (feed back) terhadap program atau pelaksanaan kegiatan. 1999) 2. Target dari program ini yang ditetapkan oleh Depkes yaitu 8% pada tahun 2005 dan 5% pada tahun 2010. . Sedangkan rujuknnya yaitu Pedoman UPG. dan Pedoman pemantauan pertumbuhan balita. pengadaan daftar tilik dan formulir rujukan 2) 3) Perencanaan penyiapan logistik.15 Sumber data yaitu berasal dari R1 Gizi.

program dan proyek. Tujuan evaluasi secara umum untuk mengetahui dengan pasti apakah pencapaian hasil.16 Evaluasi Program gizi dilakukan untuk menilai kemajuan kegiatan dan hasil yang dicapai dalam upaya peningkatan gizi masyarakat yang dilakukan oleh masingmasing wilayah/ daerah (Depkes RI. 2) Menentukan suatu bentuk kegiatan yang tepat. Dalam buku panduan pengelolaan program perbaikan gizi kabupaten/ kota. Dengan evaluasi dapat diungkapkan mengenai pencapaian statu tujuan. kemajuan dan kendala yang dijumpai dalam pelaksanaan program/ kegiatan dapat dinilai dan dipelajari guna perbaikan pelaksanaan program/kegiatan di masa yang akan datang. tujuan dari evaluasi yaitu: 1) Memperbaiki rancangan kebijakan. sasaran dan target tertentu. b) Memberi sumbangan pada klarifikasi dan kritik terhadap nilai-nilai yang mendasari tujuan dan target. Evaluasi mempunyai beberapa fungsi antara lain: a) Memberikan informasi yang valid mengenai program dan kegiatan yaitu seberapa jauh kebutuhan. 3) Memperoleh masukan untuk digunakan didalam proses perencanaan yang akan datang. nilai dan desempatan telah dicapai. 4) Mengukur keberhasilan suatu program (Depkes RI. . 2000). 2008).

Ini karena apa saja bisa dievaluasi. Menentukan apa yang akan dievaluasi. Menentukan apa yang akan dievaluasi Mengembangkan kerangka dan batasan Merancang desain (metode) Membuat kesimpulan dan pelaporan Melakukan Pengamatan. Evaluasi merupakan bagian integral dari proses manajemen. Dalam evaluasi itu sendiri ada siklusnya yang bisa dilihat berikut ini. apakah itu rencananya. Mengembangkan kerangka dan batasan. efek atau bahkan dampak suatu kegiatan serta pengaruh terhadap lingkungan yang luas.1 Daur Evaluasi Menyusun rencana dan instrumen Dari gambar daur evaluasi diatas. keluaran.17 c) Memberi sumbangan pada aplikasi metode analisis kebijakan termasuk perumusan masalah yang direkomendasikan. 2. d) Evaluasi memiliki tujuan pokok melihat seberapa besar kesenjangan antara pencapaian hasil kegiatan dan program dengan harapan atau renacana yang sudah ditetapkan. Pengukuran dan analisis Bagan 2. tampak bahwa evaluasi secara umum meliputi langkah-langkah berikut ini: 1. sumber daya. Di tahap ini dilakukan asumsi-asumsi mengenai hasil evaluasi serta . proses pelaksanaan.

melakukan pengukuran serta mengolah informasi dan mengkajinya sesuai tujuan evaluasi. pengukuran. output. Melakukan pengamatan. 1. 6. dan analisis. Menyusun instrumen dan rencana pelaksanaan. Keenam langkah evaluasi diatas dapat dipadatkan dua langkah terpenting yaitu menetapkan apa (fokus) yang akan dievaluasi dan merancang metode (cara) melaksanakannya. Langkah ini bisa dilakukan dengan mengkaji secara sistem yaitu dengan menguraikan proses kegiatan menurut unsurunsur sistem yaitu: input. Informasi yang dihasilkan dari proses evaluasi ini disajikan dalam bentuk laporan sesuai dengan kebutuhan atau permintaan.18 pembatasan ruang lingkup evaluasi serta batasan – batasan yang dipakai agar objektif dan fokus. impact. feed back serta environment. 2005). outcome. 2. Memilih atau merancang desain evaluasi (Notoatmojo. . Selanjutnya adalah melakukan pengumpulan data hasil pengamatan. Membuat kesimpulan dan pelaporan. 4. 3. Merancag desain (metode). Karena biasanya evaluasi terfokus pada satu atau beberapa aspek. 5. Selanjutnya ialah mengembangkan instrumen pengamatan atau pengukuran serta rencana analisis dan membuat rencana pelaksanaan evaluasi. proses. Menetapkan apa yang akan dievaluasi. maka dilakukan perancangan desain.

Berbagi pengalaman Guna melindungi pihak lain terjebak dalam kesalahan yang sama. Mengidentifikasi kekurangan dan kelebihan Agar dapat memperkuat program itu sendiri. 3. 5. . 6. Biaya dan manfaat Melihat apakah biaya yang dikeluarkan cukup masuk akal (reasonable). Meningkatkan pemantauan Agar tercapai manajemen yang lebih baik. Meningkatkan keefektifan. 2. Melihat apakah usaha sudah dilakukan secara efektif Guna melihat perbedaan apa yang telah terjadi setelah diterapkan suatu program. 9. atau untuk mengajak seseorang untuk ikut melaksanakan metode yang serupa bila metode yang dijalankan telah berhasil dengan baik.2-4) menyatakan 10 alasan mengapa suatu evaluasi perlu dilakukan: 1. Mengumpulkan informasi Guna merencanakan dan mengelola kegiatan program secara lebih baik. 8. Pencapaian Guna melihat apa yang sudah dicapai.19 Feurstein (1990:h. 4. Mengukur kemajuan Melihat kemajuan dikaitkan dengan objektif program. agar dapat memberikan dampak yang lebih luas. 7.

dan output. proses. Evaluasi ini memfokuskan diri pada aktivitas program . ke sepuluh alasan inilah yang paling sering muncul dan menjadi alasan kenapa suatu evaluasi dilakukan. yang meliputi: sumber daya manusia. sarana dan prasarana. Evaluasi input ini memfokuskan pada berbagai unsure yang masuk dalam suatu pelaksanaan suatu program 2) Evaluasi proses adalah evaluasi yang dilakukan terhadap berbagai kegiatan yang dilakukan untuk mencapai tujuan. Menurut Donabedian (Khotimah. Untuk mendapatkan evaluasi yang tepat. yang berkaitan dengan penyediaan dan penerimaan pelayanan.20 10. komunitas funsionl dan komunitas lokal. Pendekatan sistem dapat dilakukan untuk suatu program kesehatan dimana penilaian secara komprehensif dapat dilakukan dengan menilai input. 2002) evaluasi dikelompokkan menjadi tiga kategori yaitu : 1) Evaluasi input adalah evaluasi yang dilakukan pada atribut atau ciri – ciri tempat pemberian pelayanan. tetapi tidak semua alasan selalu muncul pada setiap kasus pengevaluasian. salah satunya adalah dengan pendekatan sistem. Evaluasi proses ini menilai pelaksanaan kegiatan apakah telah mencapai target yang ditetapkan. Memunkinkan terciptanya perencanaan yang lebih baik. Karena memberikan kesempatan untuk mendapatkan masukan dari masyarakat. mengidentifikasi kendala dan masalah yang dihadapi serta pemecahannya. Akan tetapi. dana. Meskipun diatas telah diungkapkan adanya sepuluh alasan suatu organisasi melakukan evaluasi. adekuat dan sesuai dengan tujuan evaluasi. dapat digunakan beberapa pendekatan.

Misalnya saja. Evaluasi ini menilai pencapaian setiap kegiatan penanggulangan gizi. Dalam suatu perencanaan yang berorientasi pada program. dalam suatu program pembangunan social yang menyatakan bahwa diperlukan satu tenaga kader local yang terlatih untuk menangani 10 rumah tangga maka perlu dicek apakah tenaga kader yang terlatih tersebut benar-benar ada. misalnya persentasi cakupan program terhadap populasi sasaran. Indikator dibawah ini adalah sembilan indikator yang paling sering digunakan untuk mengevaluasi suatu kegiatan: 1. Sebaliknya. .21 yang melibatkan interaksi langsung antara klien denga staf ‘terdepan’ (line staff) yang merupakan pusat dari pencapaian tujuan (objektif) program 3) Evaluasi output adalah evaluasi yang dilakukan terhadap hasil pelayanan.evaluasi yang berorientasi pada klien akan melakukan pengukuran ataupun pengkajian berdasarkan perubahan perilaku klien. Indikator keberhasilan (indicators of availability) Indikator ini melihat apakah unsur yang seharusnya ada dalam suatu proses itu benar-benar ada. misalnya. pada kasus penanganan anak jalanan kriteria dikembangkan berdasarkan indeks perkembangan anak (child development indeks) Dalam hubungan dengan kriteria keberhasilan yang digunakan untuk suatu proses evaluasi. berkaitan dengan hasil yang dicapai dalam pelaksanaan pelayanan tersebut.feurstein (1990:h. perencanaan ini tidak berkonsentrasi pada perubahan perilaku klien. criteria keberhasilan pada umumnya dikembangkan berdasarkan cakupan ataupun hasil dari suatu program. Akan tetapi.25-27) mengajukan beberapa indikator yang perlu untuk dipertimbangkan.

Misalnya. Atau. tetapi ternyata kompor tersebut mengunakan lebih banyak minyak tanah ataupun kayu dibandingkan dengan kompor yang biasa mereka gunakan.22 2. 4. brapa banyak anak jalanan yang belum bisa membaca dan menulis. Indikator keterjangkauan (indicators of accessibility) Indikator ini melihat apakah layanan yang ditawarkan masih berada dalam ‘jangkauan’ pihak-pihak yang membutuhkan. apakah puskesmas yang didirikan untuk melayani suatu masyarakat desa berada pada posisi yang stategis. dipergunakan (dimanfaatkan) oleh kelompok sasaran. 3. Berdasarkan keadaan tersebut maka teknologi yang lebih baru ini dapat dikatakan kurang relevan untuk diperkenalkan bila dibandingkan dengan kompor yang biasa mereka gunakan. 5. proporsi orang yang menerima bantuan dana . seberapa banyak PUS (pasangan usia subur) yang memanfaatkan layanan jasa puskesmas dalam upaya meningkatkan KB mandiri. apakah suatu posko becana alam berada dalam jangkauan dari korban bencana tersebut. Indikator pemanfaatan (indicators of utilisation) Indikator ini melihat seberapa banyak suatu layanan yang sudah disediakan oleh pihak pemberi layanan. pada suatu program pemberdayaan perempuan pedesaan di mana diperkenalkan kompor teknologi terbaru. dimana sebagian besar warga desa dapat dengan mundah dating ke puskesmas.misalnya saja. Misalnya saja. Indikator relevansi (indicator of relevance) Indikator ini menunjukan seberapa relevan ataupun tepatnya sesuatu yang teknologi atau layanan yang ditawarkan. Misalnya saja. Atau. Indikator cakupan (indicators of coverage) Indikator ini mennjukkan proporsi orang-orang yang membutuhkan sesuatu dan menerima layanan tersebut.

Indikator upaya (indicators of efforts) Indikator ini menggambarkan berapa banyak upaya yang sudah ‘ditanamkan’ dalam rangka mencapai tujuan yang sudah ditetapkan. 9.23 kemanusiaan untuk mengatasi masalah kemiskinan dari sekian banyak orang-orang miskin di suatu desa. apakah layanan yang diberikan oleh suatu Organisasi Pelayanan Masyarakat (human service organizations) sudah memenuhi syarat dalam hal keramahan. berapa banyak sumber daya manusia dan sumber daya material yang dimanfaat guna membangun sarana transportasi antar desa. suatu layanan yang bisa dijalankan dengan baik dengan hanya memanfaatkan 4 tenaga lapangan. Bila hal ini yang dilakukan maka yang akan terjadi adalah underemployment (pengangguran terselubung). Misalnya saja. 8. Misalnya. atau tidak memboroskan sumber daya yang ada dalam upaya mncapai tujuan. 7. keresposifan dan sikap empati terhadap klien ataupun kualitas dari tangibles yang ada dalam proyek tersebut. Indikator dampak (indicator of impact) . tidak perlu dipaksakan untuk mempekerjakan 10 tenaga lapangan dengan alsan untuk menghindari terjadinya pengangguran. 6. Indikator kualitas (indicators of quality) Indikator ini menunjukkan standar kualitas dari layanan yang disampaikan ke kelompok sasaran. Misalnya saja. Indikator efisiensi (indicator of effisiency) Indikator ini menunjukkan apakah sumber daya dan aktivitas yang dilaksanakan guna mencapai tujuan dimanfaatkan secara tepat guna (efisien).

apakah setelah dikembangkan layanan untuk mengatasi kemiskinan selama tiga tahun di suatu desa.24 Indikator ini melihat apakah sesuatu yang kita lakukan benar-benar memberikan sutau perubahan di masyarakat. Misalnya. maka angka penduduk yang berada dibawah garis kemiskinan sudah menurun. .

Konsultasi dan revisi proposal magang. Sosialisasi dengan pihak Dinkes Tangsel Pelaksanaan Magang Konsultasi kegiatan magang Observasi lapangan Input data gizi Wawancara dengan bagian gizi Pengumpulan data Pengolahan dan analisa data Bimbingan dengan dosen pembimbing dan pembimbing lapangan Evaluasi Kegiatan Magang Pembuatan laporan magang Konsultasi dengan pembimbing Persiapan sidang magang Refisi laporan Bagan 3.1 Alur Kegiatan Magang Alur kegiatan magang di Dinas Kesehatan Tangerang Selatan adalah sebagai berikut: Persiapan magang Pengajuan surat magang Konfirmasi surat magang.1 Alur Kegiatan Magang . Penyusunan proposal magang.25 BAB III ALUR DAN JADWAL KEGIATAN 3.

26 Langkah-langkah kegiatan magang yang dilakukan meliputi tiga langkah. Konsultasi dan revisi proposal magang. yaitu: tahap persiapan. dan tahap evaluasi magang. meliputi: 1. 4. Konsultasi kegiatan magang dengan pembimbing lapangan 2. Berikut ini akan dijelaskan masing-masing tahapan dalam kegiatan magang ini: I. meliputi: 1. Melakukan observasi lapangan 3. Pemantauan pelaksanaan magang oleh pembimbing lapangan dan pembimbing fakultas. Tahap persiapan magang. 7. Pengambilan data-data yang diperlukan. Bimbingan dengan dosen pembimbing 8. Penentuan pembimbing lapangan oleh pihak institusi II. Bimbingan dengan pembimbing lapangan III. Konfirmasi tentang permohonan magang kepada pihak institusi tentang diterima atau tidak diterima menjadi peserta magang di institusi tersebut. Analisis data laporan tahunan Dinas Kesehatan Kota Tangerang Selatan 5. 6. meliputi: . Tahap pelaksanaan magang. Penyusunan proposal magang. tahap pelaksanaan. Melakukan input data program perbaikan gizi tahun 2009 4. 3. Tahap evaluasi magang. Sosialisasi dengan pihak Dinas Kesehatan Kota Tangerang Selatan 6. 5. Pengajuan surat magang kepada pihak institusi yaitu Dinas Kesehatan Kota Tangerang Selatan 2.

Presentasi hasil laporan magang 4. Penyusunan laporan magang oleh mahasiswa peserta magang 3. Tanggal Kegiatan 3 Februari . . 3. - Tempat Dinas Kesehatan Kota Tangerang Selatan Dinas Kesehatan Kota Tangerang Selatan Wawancara dan diskusi dengan staf gizi mengenai program gizi yang ada di Dinas Hari Rabu Kesehatan Tangerang Selatan.Melakukan input data perbaikan gizi dari laporan LB3 masing-masing Puskesmas yang ada di wilayah kerja Dinas Kesehatan Kota Tangerang Selatan tahun 2009. Konsultasi penyusunan laporan magang kepada dosen pembimbing fakultas dan pembimbing lapangan 2.1 Jadwal Kegiatan Magang di Dinas Kesehatan Tangerang Selatan Tahun 2010 Hari Senin Tanggal Kegiatan 1 Februari .Perkenalan dengan pihak Dinas Kesehatan 2010 Tangerang Selatan serta seksi gizi.Melakukan input data perbaikan gizi dari 2010 laporan LB3 masing-masing Puskesmas yang Tempat Dinas Kesehatan .Pemberian arahan dari pembimbing lapangan mengenai hal-hal yang akan Selasa 2 Februari 2010 dilakukan selama magang. Revisi hasil laporan.27 1.2 Jadwal Kegiatan Magang Tabel 3. .

28 ada di wilayah kerja Dinas Kesehatan Tangerang Selatan. - Melakukan observasi lapangan. Pengambilan data sekunder mengenai Dinas Kesehatan Kota Tangerang Selatan program perbaikan gizi yang ada di Dinas Kesehatan Tangerang Selatan. − Rekapitulasi data evaluasi program gizi . . Jumat 5 Februari 2010 - Melakukan analisis program perbaikan gizi Dinas Kesehatan Kota Tangerang Selatan yang sudah dilaksanakan Dinas Kesehatan Tangerang Selatan tahun 2009. .Analisis laporan tahunan Dinas Kesehatan Tangerang Selatan. Tempat Dinas Kesehatan Kota Tangerang Hari Senin Tanggal Kegiatan 8 Februari − Melakukan input data perbaikan gizi dari 2010 laporan LB3 bulan Januari masing-masing Puskesmas.Melakukan observasi lapangan. Kota Tangerang Selatan Kamis 4 Februari 2010 - Melakukan input data SKDN tahun 2009.

− Observasi lapangan. − Selatan Dinas Kesehatan Selasa 9 Februari 2010 − Bimbingan dengan pembimbing lapangan. Melanjutkan rekapitulasi data evaluasi program gizi bulan januari − Membantu melakukan input data LB3 lansia Kota Tangerang Selatan Dinas Kesehatan Kota Tangerang Selatan Dinas Kesehatan Kota Tangerang dan remaja. − Melanjutkan rekapitulasi data evaluasi program gizi bulan Januari. Selatan Tempat Dinas Kesehatan Kota Tangerang Senin 15 Februari − Rekapitulasi data gizi buruk bulan januari Selatan Dinas Kesehatan tahun 2010. Kamis 11 Februari 2010 − − Bimbingan dengan dosen pembimbing . Hari Jumat Tanggal 12 Februari 2010 Kegiatan . .Melanjutkan evaluasi laporan tahunan program gizi tahun 2009 Dinas Kesehatan Tangerang Selatan. Melanjutkan rekapitulasi data evaluasi program gizi bulan Januari. Rabu 10 Februari 2010 − Melakukan input data gizi bulan Januari dari laporan LB3 masing-masing Puskesmas.29 bulan Januari.

30 2010 − Mengamati proses evaluasi program Kota Tangerang Selatan Dinas Kesehatan Kota Tangerang Selatan Dinas Kesehatan Kota Tangerang perbaikan gizi yang dilakukan Dinas Kesehatan Tangerang Selatan. Selasa 16 Februari 2010 − Wawancara dan diskusi dengan kepala seksi gizi mengenai pelaksanaan evaluasi program perbaikan gizi Dinas Kesehatan Tangerang Selatan. Bimbingan magang dengan dosen pembimbing. − Selatan Tempat Dinas Kesehatan Kota Tangerang Rekapitulasi data laporan bulanan gizi buruk. Hari Tanggal Kamis 18 Februari 2010 Kegiatan − Rekapitulasi data LB3 gizi buruk.Membantu rekapitulasi data LB3 Kesehatan Ibu dan Anak (KIA). Jumat 19 Februari 2010 - Melakukan input data nama balita gizi Selatan Dinas Kesehatan Kota Tangerang Selatan buruk yang ada di wilayah Tangerang Selatan . Rabu 17 Februari 2010 − − Studi literature. .

− Bimbingan magang dengan pembimbing lapangan Senin 1 Maret 2010 - Melakukan analisis data tahunan program gizi tahun 2009 Dinas Kesehatan Tangerang . Selasa 23 Februari 2010 − Melanjutkan analisis program gizi Dinas Selatan Dinas Kesehatan Kota Tangerang Kesehatan Tangerang Selatan. − Bimbingan magang dengan dosen Selatan Tempat Dinas Kesehatan Kota Tangerang Selatan Dinas Kesehatan Kota Tangerang Selatan Dinas Kesehatan pembimbing. − Observasi lapangan. Kamis 25 Februari 2010 − Melakukan analisis data tahunan program gizi tahun 2009 Dinas Kesehatan Tangerang Selatan. Hari Rabu Tanggal 24 Februari 2010 Kegiatan − Membantu melakukan evaluasi laporan bulanan Kesehatan Ibu dan Anak (KIA). − Observasi lapangan.31 Senin 22 Februari 2010 − Melakukan analisis program gizi Dinas Dinas Kesehatan Kota Tangerang Kesehatan Tangerang Selatan.

Konsultasi mengenai laporan magang Dinas Kesehatan Kota Tangerang kepada pembimbing lapangan. Hari Rabu Tanggal 3 Maret 2010 Kegiatan − Penyusunan laporan magang. − Selatan Tempat Dinas Kesehatan Kota Tangerang Wawancara dengan staf gizi Dinas Kesehatan Tangerang Selatan. − Penyusunan laporan magang.32 Selatan. . . Konsultasi mengenai laporan magang Selatan Dinas Kesehatan Kota Tangerang Selatan kepada pembimbing lapangan. Kamis 4 Maret 2010 − − Penyusunan laporan magang. Jumat 5 Maret 2010 − − Penyusunan laporan magang. Pengambilan data nama-nama Tenaga Pelaksana Gizi (TPG). Selasa 2 Maret 2010 − Kota Tangerang Selatan Dinas Kesehatan Kota Tangerang Penyusunan laporan magang.Pengambilan data laporan tahunan seksi gizi.

.33 Senin 8 Maret 2010 − Konsultasi mengenai laporan magang. Presentasi hasil magang kepada pihak yang Selatan Dinas Kesehatan Kota Tangerang Selatan − − terkait masalah program gizi. Rekapitulasi data desa Setu.

1. 4. serta memiliki derajat kesehatan yang setinggi-tingginya di seluruh wilayah Kota Tangerang Selatan.2 Misi .1 Gambaran Umum Dinas Kesehatan Kota Tangerang Selatan Dinas Kesehatan Kota Tangerang Selatan merupakan daerah otonom yang terbentuk pada akhir tahun 2008 berdasarkan Undang-undang Nomor 51 Tahun 2008.1 Visi Visi Dinas Kesehatan Kota Tangerang Selatan berpedoman pada visi kesehatan nasional dan provinsi. Melalui visi ini diharapkan pada tahun 2009 gambaran masyarakat di Kota Tangerang Selatan dimasa depan ditandai dengan penduduknya yang hidup dalam lingkungan dan perilaku hidup sehat.34 BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4. dilakukan dengan tujuan meningkatkan pelayanan dalam bidang kesehatan. Pembentukan daerah otonom baru tersebut. Dinas Kesehatan Kota Tangerang Selatan telah menetapkan visinya untuk tahun 2009 yaitu ”Rakyat Tangerang Selatan Mandiri Dalam Hidup Sehat”. Untuk mewujudkan visi pembangunan kesehatan tersebut. yang merupakan pemekaran dari Kabupaten Tangerang. tentang Pembentukan Kota Tangerang Selatan di Propinsi Banten tertanggal 26 November 2008. yang tentunya diperlukan dukungan dan kerjasama oleh sektor lain untuk mewujudkannya.1. memiliki kemampuan untuk menjangkau pelayanan kesehatan yang bermutu secara adil dan merata. 4.

. ditetapkan tiga misi pembangunan kesehatan sebagai berikut : 1. 2. Meningkatkan kemitraan dengan seluruh pelaku di bidang kesehatan. Meningkatkan pemerataan pelayanan kesehatan yang bermutu dan terjangkau oleh seluruh lapisan masyarakat.35 Dalam Upaya mencapai Visi Pembangunan Kesehatan di Kota Tangerang Selatan. 3. Mendorong kemandirian masyarakat melalui peningkatan pemberdayaan kesehatan individu. keluarga. masyarakat beserta lingkungannya.

3 Struktur Organisasi Bagan 4.36 4.1.1 Struktur Organisasai Dinas Kesehatan Kota Tangerang Selatan .

Jumlah Tenaga ini tiap tahun semakin meningkat seiring dengan bertambannya lembaga pemberi pelayanan kesehatan.1.1 Jumlah Tenaga Kerja Dinas Kesehatan Tangerang Selatan Tahun 2009 Tenaga Kesehatan Perawat Bidan Dokter Gigi No Puskesmas Ahli Kesehatan 0 0 0 0 0 AhliGizi Ahli Sanitasi Jumlah 20 24 24 14 19 Dokter Umum 3 2 3 2 2 1 2 3 4 5 Serpong Pondok Pamulang Jagung Ciputat Kampung Sawah 1 3 4 3 3 13 10 9 4 7 1 7 6 4 5 1 1 1 1 1 1 1 1 0 1 . Peningkatan Kompentensi Perawat dan Bidan semakin di tingkatkan dalam upaya peningkatan akan kemampuan dalam pelayanan dan proses persalinan dan untuk menurunkan AKB dan AKI. Tabel berikut memperlihatkan jumlah tenaga kerja yang ada di wilayah Dinas Kesehatan Kota Tangerang Selatan. Ketenagaan Tenaga medis/ Dokter merupakan salah satu unsur pelaksana pelayanan kesehatan baik di Dinas Kesehatan maupun di Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas). Selain Ketenagaan di Bidang Dokter terdapat Pula tenaga Kesehatan di bagian Gizi sebagai bagian dari unsur pelaksana pelayanan kesehatan.4 Sumber Daya Kesehatan A.37 4. Bagian Keperawatan dan Kebidanan merupakan bagian yang tak kalah penting dalam pelayanan kesehatan. Tabel 4.

Tabel 4. C. Sarana dan Prasarana Kesehatan Tabel berikut ini menunjukkan jumlah sarana yang ada di wilayah Dinas Kesehatan Kota Tangerang selatan.2 Jumlah Sarana Dinas Kesehatan Kota Tangerang Selatan Tahun 2009 No 1 2 3 No 4 5 6 Kecamatan Serpong Utara Serpong Setu Kecamatan Pamulang Cipuat Ciputat Puskesmas Non DPT DPT 1 0 1 0 1 0 Puskesmas Non DPT DPT 0 1 3 0 1 0 Jumlah 1 1 1 Jumlah 1 3 1 Pustu 2 5 2 Pustu 2 2 2 Pusling Roda 4 Roda 2 1 4 3 3 Pusling Roda 4 Roda 2 1 4 3 12 1 3 Jumlah Bidan .38 Ahli Sanitasi Dokter Gigi Ahli Kesehatan 0 0 0 0 1 1 1 1 Ahli Gizi Perawat Dokter Umum No Puskesmas 6 7 8 9 Jombang Ciputat Timur Pondok Aren Jurang Mangu 2 1 2 2 3 22 2 1 2 2 2 23 8 9 9 6 12 87 5 3 7 2 5 45 1 1 1 0 0 8 0 0 1 1 0 6 18 15 22 13 23 192 10 Setu Timur Kota Tangerang Selatan B. Dana Dinas Kesehatan Kota Tangerang Selatan pada Tahun Anggaran 2009 mendapatkan anggaran dari APBD.

39 7 Timur Pondok Aren Jumlah Keterangan : 1. 2 9 0 1 2 10 1 16 2 10 5 34 Puskesmas Non : Puskesmas tanpa dengan tempat tidur perawatan : Puskesmas dengan tempat tidur perawatan Puskesmas DTP : Puskesmas Pembantu DTP 2. . Pustu Sedangkan untuk prasarananya bisa dilihat dari table berikut ini. 3.

3 Jumlah Prasarana Kesehatan Menurut Kecamatan Kota Tangerang Selatan Tahun 2009 Kecamatan No Jenis Serpong Serpong Utara 1 2 3 4 Perawatan 5 6 7 No Balai Pengobatan Swasta Praktek Dokter Umum Praktek Swasta Dokter Gigi Swasta Jenis 30 113 42 22 131 46 44 167 81 14 71 28 Kecamatan 31 93 36 24 65 28 11 20 6 176 660 267 Rumah Sakit Puskesmas Puskesmas Pembantu Tempat tidur Puskesmas 14 14 3 1 2 2 1 1 1 1 1 2 3 2 Pamulang Ciputat Timur 3 1 1 Aren 3 2 2 1 2 Ciputat Pondok Setu Kota Tangerang Selatan 14 10 11 .40 Tabel 4.

41 Total Kota Serpong Serpong Utara 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 Praktek Dokter Spesialis Praktek Bidan Swasta Laboratorium Klinik Swasta Optik Apotik Toko Obat Berijin Industri Kecil Obat Tradisional Rumah Bersalin Swasta Pengobatan Tradisional Puskesmas Keliling 2 4 1 1 8 1 4 4 1 6 5 3 9 2 1 10 7 2 1 1 1 33 31 10 6 40 1 2 6 2 8 26 29 3 5 31 80 7 9 10 17 11 48 7 5 9 2 16 Pamulang Ciputat Ciputat Timur 30 41 5 15 25 1 Pondok Setu Aren Selatan 8 22 6 9 18 7 16 1 2 2 1 112 276 30 42 75 6 48 Tangerang .

melaksanakan pembinaan dan koordinasi serta pengawasan dan pengendalian kegiatan peningkatan gizi masyarakat. Selain tugas diatas. Perencanaan program perbaikan gizi dari hasil analisis dan penyiapan bahan untuk peningkatan status gizi masyarakat. d) Pelaksanaan tugas lain yang diberikan atasan sesuai dengan bidang tugasnya. peningkatan gizi masyarakat. Pelaksanaan pengumpulan. . Pelaksanaan monitoring dan evaluasi serta pelaporan kegiatan. peningkatan gizi masyarakat. c) Pelaksanaan monitoring dan evaluasi serta pelaporan kegiatan.2 Gambaran Seksi Gizi Dinas Kesehatan Kota Tengerang Selatan Seksi perbaikan gizi masyarakat mempunyai tugas merencanakan. peningkatan gizi masyarakat. pengolahan. b) Pelaksanaan koordinasi dengan instansi/lembaga lainnya terkait program perbaikan gizi. seksi gizi juga mempunyai beberapa fungsi diantaranya yaitu: a. b. peningkatan gizi masyarakat. pengansalisisan data dan penyiapan bahan untuk meningkatkan status gizi masyarakat.42 4. e. Dalam tugasnya secara rinci dapat dijabarkan sebagai berikut: a) Perencanaan program perbaikan gizi dari hasil analisis. Pelaksanaan koordinasi dengan instansi/lembaga lainnya terkait kebutuhan dan penyiapan bahan untuk peningkatkan status gizi masyarakat. c. d. Pelaksanaan kegiatan kebutuhan dan penyiapan bahan untuk meningkatkan status gizi masyarakat.

i) Melaksanakan tugas kedinasan lain sesuai dengan bidang tugasnya. Kepala Seksi Gizi: Ida Budi Kurniasih SKM. Adapun rincian dari tugas kepala seksi adalah sebagai berikut: a) Menyusun program kerja seksi gizi b) Membagi tugas dan memberi petunjuk pelaksanaan tugas kepada staf gizi c) Monitoring dan mengevaluasi hasil kerja staf gizi d) Menyusun kebijaksanaan pedoman dan petunjuk teknis pembinaan pengaturan gizi masyarakat. f) Mengonsep dan memaraf naskah dinas sesuai dengan bidang tugas dan kewenangannya. Tugas dari kepala seksi gizi meliputi pengumpulan data.1 Sumber Daya Manusia Sumber daya manusia (SDM) yang ada di bagian gizi terdiri dari Kepala Seksi Gizi dan Staf Gizi. e) Mempelajari data sebagai bahan pelaksanaan kegiatan pembinaan pengaturan gizi masyarakat.2. h) Melaporkan hasil pelaksanaan tugas kepada atasan. dengan rincian sebagai berikut: 1. 4.43 f. . penyiapan bahan penyusunan petunjuk teknis dan pelaksanaan operasional pembinaan pengaturan gizi masyarakat. g) Menyimpan arsip seksi gizi. Pelaksanasan tugas lain yang diberikan atasan sesuai dengan bidang tugasnya. pengolahan data.

Sehingga ini salah satu kendala dan permasalahan dalam pelaksanaan program gizi. dan.44 2. f) Melaporkan hasil pelaksanaan tugas kepada atasan g) Melaksanakan tugas kedinasan lain sesuai bidang tugasnya. AMG Tugas dari staf gizi meliputi melaksanakan program gizi serta pemantauan kegiatan di Puskesmas serta menerima laporan dari Puskesmas. Vitamin A. Tenaga Pelaksana Gizi tersebar di sepuluh wilayah kerja Puskesmas dengan latar belakang pendidikan gizi dan bidan. c) Mengoreksi bahan/ data dari laporan tenaga pelaksana gizi Puskesmas. kepala Seksi Gizi dan Staf Gizi dibantu oleh Tenaga Pelaksana Gizi. . d) Mempelajari data sebagai bahan pelaksanaan kegiatan pembinaan pengaturan gizi masyarakat e) Mengawasi pendistribusian dalam pemberian makanan tambahan. Adapun tugas dari masing-masing staf gizi meliputi: a) Melaksanakan program kerja seksi gizi b) Memeriksa dan mengevaluasi hasil kerja Puskesmas. tablet Fe dan alat-alat program perbaikan gizi. Dari sepuluh Tenaga Pelaksana Gizi tersebut. tidak semuanya berlatar belakang gizi. Staf Gizi terdiri dari: 1) Agung Surakusumah. Dalam menjalankan program gizi di wilayah Dinas Kesehatan Tangerang Selatan. SKM 2) Santy Marina Simatupang.

Karena kader disini sebagai penggerak dari masyarakat untuk ikut serta dalam kegiatan Posyandu. Dinas Kesehatan Kota Tangerang Selatan belum dilaksanakan. Dinas Kesehatan Kota Tangerang Selatan mengacu pada empat masalah gizi utama yang berkaitan dengan kesehatan masyarakat yaitu kurang energi protein (KEP).45 Selain TPG. Jurang mangu.2. Rencana untuk program GAKY ini akan dijalankan pada tahun 2010. Akan tetapi untuk gangguan akibat kekurangan yodium ini. Ciputat Timur. 4. Pondok Jagung. Pondok Aren. ada 54 bidan desa dan para kader posyandu yang ikut serta dalam kegiatan program perbaikan gizi. . Jombang. dan gangguan akibat kekurangan yodium (GAKY). Meskipun Dinas Kesehatan Kota Tangerang Selatan ini baru satu tahun berdiri. Kampung Sawah.3 Gambaran Umum Program Gizi Dinas Kesehatan Kota Tangerang Selatan Dalam menjalankan program perbaikan gizi. anemia gizi besi. Para kader ini merupakan ujung tombak keberhasilan suatu program. Kesepuluh Puskesmas tersebut adalah Puskesmas Serpong.2 Sarana dan Prasarana Dalam menjalankan tugas dan fungsinya. tetapi sarana dan prasarana yang ada sudah memadai yang terdiri dari dua laptop. dan satu printer. Puskesmas yang ada di wilayah kerja Dinas Kesehatan Kota Tangerang Selatan ini ada sepuluh Puskesmas. Pada tahun 2009. Pamulang dan Setu. sarana dan prasarana merupakan hal yanh penting dan menunjang proses berjalannya suatu program. Sehingga dalam pelaksanaan program tidak menjadi hambatan. kurang vitamin A (KVA). Ciputat. 4.

. Penimbangan berat badan merupakan kegiatan rutin Posyandu yang bertujuan untuk memantau pertumbuhan balita yang dilakukan setiap bulannya oleh kader Posyandu yang merupakan tenaga sukarela dan telah mendapatkan latihan oleh instansi kesehatan.3. Adapun kegiatan-kegiatan yang dilakukan dalam program pemantauan pertumbuhan balita ini adalah.1 Program Pemantauan Pertumbuhan Balita Program pemantauan pertumbuhan balita ini dilakukan di Posyandu berupa penimbangan berat badan. Adapun kegiatan-kegiatan yang dijalankan dalam program pemantauan pertumbuhan balita ada empat yaitu: a. metode yang digunakan adalah antropometri. agar dapat melakukan penimbangan secara benar. Di dalam melakukan penimbangan berat badan balita perlu suatu keterampilan tersendiri oleh petugas. dan pencatatan hasil dari berat badan dan tinggi badan dalam Kartu Menuju Sehat (KMS). dan N adalah (anak balita yang ditimbang dan berat badannya naik sesuai dengan garis pertumbuhan). Dalam program pemantauan pertumbuhan balita. Analisis SKDN Analisis data SKDN diperoleh dari hasil kegiatan Posyandu setiap bulan.46 Adapun program perbaikan gizi yang dijalankan oleh Dinas Kesehatan Kota Tangerang Selatan ada empat yaitu: 4. pengukuran tinggi badan. K adalah (jumlah balita yang terdaftar di Posyandu dan memiliki KMS). D adalah (jumlah balita yang datang dan ditimbang di Posyandu). Kegiatan posyandu ini dilakukan setiap bulan bagi balita yang ada di wilayah Kota Tangerang Selatan sesuai dengan wilayah kerja Puskesmas. SKDN terdiri dari S adalah (Semua balita yang ada di Posyandu wilayah kerja Dinas Kesehatan).

4. dan N/D (Keberhasilan Program).47 Adapun indikator yang digunakan.3. yaitu : D/S (Partisipasi Masyarakat dalam program). Hanya balita yang menjadi sampel saja yang dilakukan pengukuran dan penimbangannya. Bulan Penimbangan Balita (BPB) Kegiatan Bulan Penimbangan Balita ini dilakukan dua kali dalam setahun yaitu pada bulan Februari dan Agustus. Indikator yang digunakan dalam kegiatan ini adalah BB/U. c. K/S (Cakupan Program). Pemantauan Status Gizi (PSG) Kegiatan pemantauan status gizi balita ini dilakukan pada bulan Agustus. Pengukuran dan penimbangan dilakukan oleh para kader posyandu. Sasaran dalam kegiatan ini adalah semua balita yang ada di wilayah Kota Tangerang Selatan. BB/TB dan TB/U. b. Masing-masing Posyandu itu akan melaporkan jumlah balita BGM kepada Puskesmas sehingga diketahui jumlah balita BGM di tingkat Puskesmas. Pencatatan Balita BGM (Bawah Garis Merah) Kegiatan penimbangan balita yang dilakukan setiap bulan kemudian dicatat dalam KMS.2 Perbaikan Gizi pada Ibu Hamil . d. Dari masing-masing Puskesmas akan melaporkan ke Dinas Kesehatan. Kegiatan ini dilakukan oleh Tenaga Pelaksana Gizi (TPG) dari masing-masing Puskesmas. Tidak semua balita diukur dan ditimbang. Jumlah balita BGM akan dicatat pada masing-masing posyandu. N/S (Efektifitas Program). Dari KMS itu bisa diketahui balita BGM.

Pelaksanaan dari kegiatan ini yaitu setiap bulan melalui puskesmas yang ada di wilayah kerjanya.48 Program perbaikan gizi pada ibu hamil ini ditujukan supaya kebutuhan gizi bagi ibu hamil tercukupi. Sehingga resiko terjadinya anemia dan KEK (Kurang Energi Kronik) bisa diatasi. Tablet Fe yang diberikan yaitu Fe 1 dan Fe 3. Kegiatan ini diawali dengan pencatatan ibu hamil yang KEK. Pemberian Makanan Tambahan bagi Ibu Hamil yang KEK Sasaran dari kegiatan ini yaitu ibu hamil yang mengalami KEK yang ada di wilayah Tangerang Selatan. dilakukan pengukuran LILA (Lingkar Lengan Atas). 4. Adapun kegiatan-kegiatan yang dijalankan dalam program perbaikan gizi pada ibu hamil ada dua kegiatan yaitu: a. Untuk mengetahui ibu hamil yang mengalami KEK. Salah satu program yang dijalankan oleh Dinas Kesehatan Kota Tangerang Selatan adalah pemberian tablet Fe bagi ibu hamil dan pemberian makanan tambahan bagi ibu hamil yang mengalami KEK. maka dilakukan pemberian makanan tambahan dari ibu hamil yang KEK tersebut. b.3 Penanggulangan Kekurangan Vitamin A . Pencatatan dari ibu hamil yang KEK ini dilakukan setiap bulan melalui Puskesmas yang ada di wilayah kerjanya.3. Pemberian Tablet Fe bagi Ibu Hamil Sasaran dalam kegiatan ini adalah semua ibu hamil yang ada di wilayah Dinas Kesehatan Kota Tangerang Selatan. setelah diketahui ibu hamil yang KEK.

49

Untuk menanggulangi masalah kekurangan vitamin A, kegiatan yang dilakukan oleh Dinas Kesehatan Kota Tangerang Selatan adalah: a. Pemberian Kapsul Vitamin A pada Balita Sasaran dalam pemberian kapsul vitamin A pada balita ini adalah balita usia 6-11 bulan dan balita usia 12-59 bulan. Adapun kapsul vitamin A yang diberikan yaitu warna biru diberikan pada balita usia 6-11 bulan. Sedangkan warna merah diberikan pada balita usia 12-59 bulan. Pendistribusian vitamin A pada balita dilakukan dalam dua periode yaitu bulan Februari dan Agustus. b. Pemberian Kapsul Vitamin A pada Ibu Nifas Sasarannya yaitu semua ibu nifas yang ada di Wilayah Tangerang Selatan Kapsul vitamin A yang diberikan kepada ibu nifas adalah kapsul dengan warna merah. Adapun pendistribusian vitamin A pada ibu nifas ini dilakukan setiap bulan melalui puskesmas yang ada di wilayah kerjanya.

4.3.4

Penanggulangan Gizi Buruk

Program penanggulangan gizi buruk ini bertujuan untuk menangani masalah gizi buruk dari awal ditemukan kasus. Adapun kegiatan yang dilakukan dalam menanggulangi masalah gizi buruk yang ada di wilayah Tangerang Selatan adalah:

a. Perawatan terhadap Balita Gizi Buruk

50

Balita yang terdeteksi terkena gizi buruk, langsung dilakukan perawatan baik di puskesmas maupun rumah sakit terdekat. Perawatan ini bisa berupa pengobatan konsultasi gizi dan pemberian makanan tambahan. b. Pemberian MP-ASI Selain dilakukan perawatan terhadap balita gizi buruk, pemberian MP-ASI juga dijalankan oleh Dinas Kesehatan. Hal ini dilakukan untuk memulihkan keadaan balita gizi buruk tersebut. Selain pemberian MP-ASI bagi balita gizi buruk, MP-ASI juga diberikan kepada semua balita Gakin (Keluarga Miskin) yang ada di wilayah Tangerang Selatan.

4.4 Gambaran Evaluasi Program Gizi Dinas Kesehatan Kota Tangerang Selatan Evaluasi dalam suatu program kegiatan sangat diperlukan guna mengukur tingkat keberhasilan dari program yang sudah dilakukan, karena dengan evaluasi akan diperoleh umpan balik (feed back) terhadap program atau pelaksanaan kegiatan tersebut. Tanpa adanya evaluasi sulit rasanya untuk mengetahui sejauh mana tujuan – tujuan yang direncanakan itu telah mencapai tujuan atau belum. Selain evaluasi, Dinas Kesehatan Kota Tangerang Selatan juga melakukan monitoring terhadap sepuluh Puskesmas yang ada di Wilayah kerjanya. Ada beberapa alasan dilakukannya suatu evaluasi program gizi di Dinas Kesehatan Kota Tangerang Selatan, diantaranya yaitu:
1) Melihat apakah program perbaikan gizi yang dilaksanakan itu sudah mencapai

target yang telah ditetapkan oleh Dinas Kesehatan.

51

2) Mengidentifikasi kekurangan dan kelebihan dari masing-masing program

perbaikan gizi yang dijalankan
3) Merencanakan dan mengelola kegiatan program perbaikan gizi dengan lebih

baik.
4) Agar dapat memberikan dampak yang lebih luas. Yaitu mengatasi permasalahan

gizi yang ada di wilayah Tangerang Selatan. Proses evaluasi ini ditujukan untuk menilai input, proses, output dan outcome dari suatu program gizi yang dilaksanakan oleh seksi gizi Dinas Kesehatan Kota Tangerang Selatan. Seksi Gizi Dinas Kesehatan Kota Tangerang Selatan menggunakan pendekatan sistem dalam melaksanakan evaluasi program gizi. Dalam pedekatan sistem ini, seksi gizi Dinas Kesehatan Kota Tangerang Selatan menilai input, proses, dan output. Untuk lebih jelasnya bisa dilihat pada alur pendekatan sistem berikut ini.

INPUT Data SDM Dana Metode Waktu Sarana dan prasaran

PROSES Pengumpulan data. Analisis data Interpretasi (Laporan Tahunan) OUTPUT Cakupan dari masing-masing program perbaikan gizi

1 Input Evaluasi input ini lebih memfokuskan pada berbagai unsur yang masuk dalam pelaksanaan suatu program. Sehingga data cukup dari format LB3 dari Puskesmas. Secara keseluruhan data yang ada di Dinas Kesehatan ini diperoleh dari laporan LB3 (lampiran 2) masing-masing Puskesmas yang ada di wilayah kerja Dinas Kesehatan Kota Tangerang Selatan.4.4. Sedangkan laporan W1 (laporan wabah KLB 24 jam) tidak dilaporkan. karena yang dilaporkan adalah laporan .2 Alur Pendekatan System dalam Evaluasi Program Perbaikan Gizi 4. Unsur-unsur yang perlu diperhatikan dalam melakukan evaluasi input program perbaikan gizi yang sudah dijalankan oleh seksi gizi Dinas Kesehatan Kota Tangerang Selatan. yaitu: 4.1. Data R1 gizi tidak dilaporkan ketingkat Dinas Kesehatan karena data ini ada di tingkat posyandu.1 Data Data merupakan hal yang penting dalam evaluasi suatu program. Data F3 gizi juga tidak dilaporkan ke Dinas Kesehatan karena format F3 merupakan data rekapan di tingkat puskesmas. karena laporan LB3 sudah mencakup laporan dari semua program dan kegiatan yang ada di puskesmas dan posyandu.52 Bagan 4.

Sehingga seksi gizi memperoleh data mengenai program perbaikan gizi dari bagian perencanaan. Kepala seksi gizi akan mengoreksi evaluasi program perbaikan gizi. Tenaga yang ada di seksi gizi sebanyak tiga orang yang terdiri dari kepala seksi gizi dan dua staff gizi. Dinas Kesehatan Kota Tangerang Selatan mendapatkan dana dari Anggaran Pendapatan . Dari laporan W1 itu akan di rekap untuk dilaporkan ke Dinas Kesehatan dalam bentuk laporan W2. data juga diperoleh dari laporan kegiatan PSG dan BPB.4. 4. baik dari segi kuantitas maupun kualitasnya. Sedangkan laporan W2 mengenai kasus gizi buruk ini diperoleh dari bagian surveilans. Evaluasi program perbaikan gizi ini dilakukan oleh seksi gizi bekerjasama dengan bagian perencanaan. Dan laporan mengenai balita gizi buruk tiap bulannya langsung dari puskesmas ke bagian gizi Dinas Kesehatan.4.1. 4.2 Sumber Daya Manusia Salah satu faktor keberhasilan suatu program adalah tersedianya sumber daya manusia yang cukup. laporan W2 dan laporan balita gizi buruk tiap bulannya.1. Laporan W1 ada di tingkat puskesmas.53 W2 (laporan KLB satu minggu). Laporan LB3 dari masing-masing puskesmas ini akan dilaporkan ke Dinas Kesehatan melalui bagian perencanaan.3 Dana Dana merupakan komponen yang penting dalam pelaksanaan suatu program. Data laporan LB3 itu mencakup semua program yang ada di Dinas Kesehatan Kota Tangerang Selatan. Selain laporan LB3. Dimana staff gizi akan melakukan analisis dari data gizi yang diperoleh dari bagian perencanaan.

Sedangkan evaluasi tahunan dibuat sebagai laporan tahunan dan perencanaan program perbaikan gizi tahun selanjutnya.6 Sarana dan Prasarana Sarana dan prasarana yang digunakan dalam pelaksanaan evaluasi program perbaikan gizi ini meliputi laptop. kendala dan permasalahan serta pemecahan dari permasalahan . sedangkan untuk laporannya yaitu menggunakan program Microsoft word.1.4. printer dan alat-alat tulis yang lainnya.4.54 dan Belanja Daerah (APBD) untuk semua pelaksanaan program perbaikan gizi. 4. 4.1. Adapun hal-hal yang perlu diperhatikan dalam melakukan evaluasi proses ini yaitu proses berjalannya program. laporan W2 dan laporan balita gizi buruk tiap bulannya yaitu menggunakan perangkat komputer.4. Dimana dalam melakukan analisis data menggunakan program Microsoft exel. 4.2 Proses Evaluasi proses ini lebih memfokuskan pada aktivitas suatu program. laporan kegiatan PSG dan BPB. 4.4 Metode Metode yang digunakan dalam melakukan evaluasi dari data LB3.4.1. Evaluasi bulanan ini dilakukan setiap bulan oleh seksi gizi.5 Waktu Dalam melakukan evaluasi program perbaikan gizi. ada dua tahap yang dilakukan oleh Dinas Kesehatan Tangerang Selatan seksi gizi yaitu evaluasi bulanan dan evaluasi tahunan. Sehingga jika ada masalah dan kendala dalam pelaksanaan program perbaikan gizi bisa langsung diidentifikasi dan dipecahkan. Mereka tidak mendapatkan dana dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).

Tabel 4. beberapa kendala dan permasalahan yang dihadapi oleh seksi gizi adalah: 1. Adanya kendala dan permasalahan ini mungkin bisa menjadi salah satu hambatan dari keberhasilan suatu program. Tabel ini menunjukkan perbandingan antara standar dan keadaan yang ada di lapangan dari evaluasi proses tersebut. Dalam pelaksanaan program perbaikan gizi di wilayah Kota Tangerang Selatan. Pada tahap evaluasi proses ini pelaksanaan dari masing-masing kegiatan sudah mencapai target yang telah ditetapkan oleh Dinas Kesehatan. Hal ini disebabkan karena kesalahan dalam pengisian data baik di LB3.4 Perbandingan Evaluasi Proses antara Standar dan Keadaan di Lapangan Dinas Kesehatan Tangerang Selatan Tahun 2009 Standar Keadaan di Lapangan dari masing-masing Dalam evaluasi proses dilihat apakah Pelaksanaan pelaksanaan kegiatan telah mencapai kegiatan sudah mencapai target yang target yang ditetapkan. laporan W2. mengidentifikasi telah ditetapkan.55 tersebut. dari evaluasi proses kendala dan masalah yang dihadapi. ada beberapa kendala dan permasalahan yang dihadapi oleh seksi gizi. Salah satu akibatnya yaitu adanya . ini ada 6 kendala dan permasalahan yang dihadapi oleh Dinas Kesehatan. Berdasarkan hasil wawancara dan observasi. maupun laporan balita gizi buruk tiap bulannya dan kurangnya pemahaman mengenai definisi operasional dari masing-masing program. Kurangnya validitas data dan data riil yang sukar didapat.

4.56 ketimpangan antara laporan LB3 dan W2. dan Wali Kota jadi terlambat. pelaporan ke Dinas Kesehatan Propinsi terhambat. proses evaluasi terhambat dan penyusunan program selanjutnya jadi terlambat. Hal ini mungkin karena kesalahan penulisan.2. 4. Sehingga bisa jadi wilayah tersebut sebenarnya mempunyai permasalahan gizi tetapi karena datanya kurang valid. kesalahan data dari tingkat Posyandu dan pemahaman yang kurang mengenai cara pengisian laporan bulanan (LB3). Bappeda. Maka timbullah permasalahan gizi. Akibatnya timbullah permasalahan gizi. Adanya data yang tidak lengkap dari laporan bulanan (LB3) Puskesmas. Selain itu proses penyusunan program dari hasil evaluasi juga terhambat.1 Alur Pelaporan dan Pendistribusian Bagian Berikut ini bagan alur pelaporan program perbaikan gizi di Dinas Kesehatan Seksi Gizi Perencanaan Tangerang selatan. Keterlambatan pelaporan data dari puskesmas ke Dinas Kesehatan. maka permasalahan gizi yang ada tidak kelihatan. Keterlambatan ini disebabkan karena keterlambatan pelaporan dari Posyandu. 2. Dinkes TPG Koordinator Kader Bidan Desa Kader Posyandu . Akibat yang bisa ditimbulkan dari keterlambatan data yang masuk yaitu laporan ke Dinas Kesehatan Propinsi. 3. sehingga dari tingkat Puskesmas terlambat juga pelaporan datanya. dampaknya yaitu bisa terjadi kematian pada balita tersebut. Salah satu contohnya yaitu keterlambatan dalam pelaporan balita yang gizi buruk. Sehingga proses pelaksanaan evaluasi.

Dinas Kesehatan Kota Tangerang selatan dibagian seksi gizi menerima laporan dari Puskesmas melalui bagian perencanaan. Dari alur tersebut. Selain adanya bidan desa. laporan akan didistribusikan ke masing-masing bagian yang ada di Dinkes sesuai dengan program yang dijalankan.3 Alur Pelaporan Program Perbaikan gizi Dinas Kesehatan Tangerang Selatan Tahun 2009 Semua program gizi yang ada di Dinas Kesehatan Kota Tangerang Selatan. Tenaga Pelaksana Gizi akan melakukan rekapitulasi data untuk bisa dilaporkan ke Dinas Kesehatan Kota Tangerang Selatan melalui bagian perencaan. Kader yang ada di Posyandu akan melaporkan hasil kegiatannya ke bidan desa. Seksi gizi memperoleh data dari bagian perencanaan yang nantinya akan dilakukan evaluasi. Dari bagian perencanaan. pelaksanaanya dipengaruhi oleh aktivitas dari Posyandu yang ada di wlayah kerja Puskesmas. Laporan dari kader posyandu itu akan di laporkan ke Puskesmas setempat melalui Tenaga Pelaksana Gizi oleh bidan desa yang bekerjasama dengan koordinator kader posyandu. Aktivitas posyandu masih tergantung kepada keberadaan bidan desa dan kader posyandu. Laporan rutin yang .57 Bagan 4. koordinator kader posyandu juga mengawasi pelaksanaan dan pelaporan dari kegiatan yang ada.

Laporan khusus ini seperti laporan kegiatan Bulan Penimbangan Balita. alur pelaksanaan kegiatan dari semua program perbaikan gizi bisa dilihat pada bagan berikut ini. ada juga laporan khusus bagi program gizi yang pelaksanaannya tidak setiap bulan. Laporan Bulan Penimbangan Balita dan pendistribusian vitamin A dilakukan pada bulan Februari dan Agustus. Sedangkan laporan Pemantauan Status Gizi dilakukan setiap bulan Agustus. Pemantauan Status Gizi dan laporan program pendistribusian vitamin A bagi balita usia 6-11 bulan dan balita usia 12-59 bulan.58 masuk ke seksi gizi berupa laporan bulanan (LB3). Seksi Gizi TPG Koordinator Kader Bidan Desa Kader Posyandu Sasaran . Selain alur pelaporan. Dari laporan-laporan yang ada. dilakukan evaluasi program gizi. Selain laporan rutin. laporan W2 dan laporan balita gizi buruk. Dimana tujuan dilakukanya evaluasi adalah untuk megetahui keberhasilan dari program gizi tersebut dan dijadikan standar dalam penyusunan program gizi selanjutnya.

program perbaikan gizi akan disalurkan ke Posyandu-posyandu yang ada di wilayah kerja Puskesmas. 4. Dinas Kesehatan Seksi Gizi menetapkan program-program yang akan dilaksanaan.4.2.4 Alur Pelaksanaan Program Perbaikan gizi Dinas Kesehatan Tangerang Selatan Tahun 2009 Dalam pelaksanaan program perbaikan gizi. TPG.2 Proses Evaluasi Program Perbaikan Gizi Dinas Kesehatan Tangerang Selatan Dalam melakukan evaluasi program perbaikan gizi yang dijalankan oleh Dinas Kesehatan Kota Tangerang Selatan. Kader Posyandu inilah sebagai penggerak masyarakat. bidan desa dan para kader menjalankan program perbaikan gizi tersebut. Dari tingkat Puskesmas.59 Bagan 4. adapun alurnya bisa dilihat pada bagan berikut ini: Pengumpulan Data Laporan LB3 Laporan W2 Laporan balita gizi buruk tiap bulannya Analisis Data Interpretasi (Laporan Tahunan) . Dari Seksi gizi ini akan disosialisasikan ke Puskesmas melalui Tenaga Pelaksana Gizi (TPG) yang ada di masing-masing Puskesmas.

dapat diketahui wilayah di Kota Tangerang Selatan yang mempunyai permasalahan gizi. d) Dari hasil analisis evaluasi tersebut. Sehingga sebagai pertimbangan dalam menjalankan program perbaikan gizi tahun berikutnya. e) Dinas Kesehatan Kota Tangerang Selatan akan melaporkan hasil evaluasi tersebut kepada Bapeda. laporan langsung ke bagian gizi dari puskesmas dan laporan W2 dibagian surveilans. Data ini berasal dari LB3 program perbaikan gizi dari bagian perencanaan.3 Output . Wali Kota dan Dinas Kesehatan Propinsi. dilakukan interpretasi dalam bentuk laporan tahunan dan kesimpulan. dapat dijelaskan langkah-langkah proses evaluasi program perbaikan gizi yang dilakukan oleh seksi gizi yaitu: a) Melakukan pengumpulan data dari hasil pencatatan sepuluh Puskesmas yang ada di wilayah kerjanya.60 Bagan 4. b) Dilakukan analisis dari data yang ada sesuai dengan tujuan dari evaluasi tersebut. c) Dari hasil analisis tersebut. Data yang diperoleh mencakup semua program perbaikan gizi yang sudah dijalankan oleh Dinas Kesehatan Kota Tangerang Selatan.4.5 Alur Proses Evaluasi Program Perbaikan Gizi Dari alur diatas. Proses analisis data ini menggunakan computer perangkat komputer. 4.

Laporan tahunan ini berasal dari rekapitulasi dan analisis dari pencapaian cakupan program yang sudah dilaksanakan. Pencapaian cakupan dari masing-masing program tersebut dibandingkan dengan target dari Standar Pelayanan Minimal (SPM). dan hasil survey seperti Riskesdas 2007. susenas dan sebagainya. Tabel 4.5 Perbandingan Evaluasi Output antara Standard dan Keadaan di Lapangan Dinas Kesehatan Tangerang Selatan Tahun 2009 Standar Keadaan di Lapangan Evaluasi output menilai pencapaian setiap Dari semua program perbaikan gizi kegiatan perbaikan gizi. susenas dan sebagainya status gizi kurus melebihi angka yang . Laporan tahunan ini akan dilaporkan ke Dinas Kesehatan Provinsi.61 Evaluasi output diketahui dari laporan tahunan Dinas Kesehatan Tangerang Selatan. masing-masing kegiatan mengacu kepada Kecuali kegiatan PSG. dan hasil survey seperti kurang. gizi sebelumnya. hasil pencapaian program tahun balita yang mengalami gizi buruk. Bapeda dan Wali kota. Namun dikarenakan Dinas Kesehatan Kota Tangerang Selatan ini masih baru. maka pencapaian cakupan tidak dibandingkan dengan hasil pencapaian program tahun sebelumnya. Laporan tahunan mencakup semua program dan kegiatan yang ada di Dinas Kesehatan Tangerang Selatan. dan Riskesdas 2007. Berikut ini tabel perbandingan antara standar dari evaluasi output dengan keadaan yang ada di lapangan. dimana jumlah SPM. hasil pencapaian program tahun sebelumnya. status gizi kurus sekali. Target dari pencapaiannya sudah diatas target.

10%.3. . efektifitas program (N/S) sebesar 40%.33%. Adapun hasil pencapaian cakupan dari masing-masing program adalah sebagai berikut: 4.4. cakupan program (K/S) mencapai 93. dan keberhasilan program (N/D) sebesar 72.60%. Analisis SKDN Cakupan dari kegiatan SKDN Dinas Kesehatan Kota Tangerang Selatan tahun 2009 adalah rata-rata tingkat pertisipasi masyarakat (D/S) terhadap kegiatan penimbangan di Posyandu adalah sebesar 74.1 Program Pemantauan Pertumbuhan Balita Pecapaian cakupan dari masing-masing kegiatan dalam program pemantauan pertumbuhan balita adalah sebagai berikut: a. efektifitas program (N/S) sebesar 53.62 ditetapkan oleh WHO. dan keberhasilan program (N/D) sebesar 70%. Pencatatan Balita BGM (Bawah Garis Merah) Cakupan pencapaian kegiatan pencatatan balita BGM Dinas Kesehatan Kota Tangerang Selatan tahun 2009 adalah sebesar 1. b.10%.10%. Cakupan program SKDN Dinas Kesehatan Kota Tangerang Selatan tahun 2009 sudah mecapai target yang ditetapkan yaitu target tingkat pertisipasi masyarakat (D/S) terhadap kegiatan penimbangan di Posyandu adalah sebesar 72%. cakupan program (K/S) mencapai 80%.

Bila dibandingkan dengan target tersebut.2% 4.74% dan gizi lebih sebesar 3.2 Perbaikan Gizi pada Ibu Hamil Pencapaian cakupan dari masing-masing kegiatan pada program perbaikan gizi pada ibu hamil adalah sebagai berikut: a. normal 88.41% dan gemuk 6. gizi baik sebesar 85.07%. indikator yang digunakan yaitu BB/TB.85%. nilai balita BGM di Dinas Kesehatan Kota Tangerang Selatan masih di bawah target.76%.51%. d. Dimana prevalensi balita yang kurus sekali adalah sebesar 0. Bulan Penimbangan Balita (BPB) Output dari kegiatan Bulan Penimbangan Balita Dinas Kesehatan Kota Tangerang Selatan ini adalah diketahuinya prevalensi balita yang mengalami gizi buruk sebesar 0. Sedangkan untuk indikator TB/U yaitu prevalensi balita yag mengalami pendek sebesar 14. dan balita yang normal sebesar 85.63 Target yang ditetapkan Dinas Kesehatan Kota Tangerang Selatan adalah sebesar 15%.4. Pemantauan Status Gizi (PSG) Dari kegiatan Pemntauan Status Gizi pada balita di wilayah Kota Tangerag Selatan tahun 2009. c.94%. 43%. output yang diperoleh dengan indikator BB/U yaitu prevalensi balita yang mengalami gizi buruk sebesar 1%.06%.3.60% dan balita yang mengalami gizi lebih sebesar 2.67%. Selain indikator BB/U dan TB/U. kurus sebesar 4. balita gizi baik 91. Pemberian Tablet Fe bagi Ibu Hamil .83%. balita gizi kurang sebesar 5. gizi kurang 9.

64 Cakupan kegiatan pemberian tablet Fe1 bagi Ibu Hamil Di wilayah Dinas Kesehatan Kota Tangerang Selatan sebesar 97.3 Penanggulangan Kekuragan Vitamin A Dalam program penanggulangan kekurangan vitamin A. Jadi semua ibu hamil yang megalami KEK sudah memperoleh makanan tambahan. Sehingga program distribusi vitamin A ini sudah mencapai target semua. Sedangkan untuk tablet Fe3 sebesar 95. Pemberian Makanan Tambahan bagi Ibu Hamil yang KEK Cakupan pencapaian kegiatan pemberian makanan tambahan pada ibu hamil yang KEK di wilayah Dinas Kesehatan Kota Tangerang Selatan adalah 100%. cakupan pencapaiannya sebesar 95. b. Sehingga persentase cakupannya sudah mencapai target telah ditentukan. b. 4.33%. Sedangkan pada balita usia 12-59 bulan.4.72%.3. Target yang ditetapkan oleh Dinas Kesehatan untuk pendistribusian Vitamin A berdasarkan SPM adalah sebesar 90%. Pemberian Kapsul Vitamin A pada Balita Cakupan pencapaian kegiatan distribusi vitamin A di wilayah Dinas Kesehatan Kota Tangerang Selatan pada balita usia adalah sebesar 6-11 bulan adalah sebesar 98. pencapaian dari masingmasing kegiatannya adalah: a.47%.68%. Target yang ditetapkan seksi gizi Dinas Kesehatan Kota Tangerang Selatan untuk pencapaian cakupan pemberian tablet Fe1 sebesar 90% dan Fe3 sebesar 80%. Pemberian Kapsul Vitamin A pada Ibu Nifas .

Target yang ditetapkan oleh Dinas Kesehatan untuk pendistribusian Vitamin A berdasarkan SPM adalah sebesar 90%. Target yang ditetapkan Dinas Kesehatan Kota Tangerang Selata berdasarkan Standar Pelayanan Minimal (SPM) adalah sebesar 100%. pencapaian dari masingmasing kegiatannya adalah: a.73%. Perawatan yang ada berupa konseling. 4.3. cakupannya sebesar 90.65 Cakupan pencapaian kegiatan pendistribusian vitamin A pada ibu nifas.4. Cakupan kegiatan balita gizi buruk yang mendapatkan perawatan di Dinas Kesehatan Kota Tangerang Selatan tahun 2009 ini sudah mencapai target. b. Jadi semua balita yang mengalami gizi buruk sudah langsung ditangani dan dilakukan perawatan rawat inap dan rawat jalan baik di Puskesmas maupun di rumah sakit setempat. Sehingga program distribusi vitamin A ini sudah mencapai target semua.4 Penanggulangan Gizi Buruk Dalam program penanggulangan kekurangan vitamin A. Hal ini . Perawatan terhadap Balita Gizi Buruk Cakupan kegiatan balita gizi buruk yang mendapatkan perawatan di wilayah Dinas Kesehatan Kota Tangerang Selatan adalah 100%. Pemberian MP-ASI Cakupan pencapaian kegiatan balita BGM Gakin yang memperoleh MP ASI Dinas Kesehatan Kota Tangerang Selatan tahun 2009 adalah sebesar 100%. pengobatan dan konsultasi gizi.

kriteria keberhasilan pada umumnya dikembangkan berdasarkan cakupan ataupun hasil dari suatu program. Namun di Dinas kesehatan Kota Tangerang Selatan. hanya 4 indikator yang dijadikan kriteria keberhasilannya yaitu : 1. 3. Dimana dalam pelaksanaannya dana menjadi salah satu kendala berjalannya suatu program.Menurut feurstein dalam hubungan dengan kriteria keberhasilan yang digunakan untuk suatu proses evaluasi.4 Indikator dalam Evaluasi Dalam suatu perencanaan yang berorientasi pada program. Indikator keterjangkauan (indicators of accessibility) Indikator ini melihat apakah layanan yang ditawarkan masih berada dalam ‘jangkauan’ pihak-pihak yang membutuhkan. dana. 2. SDM. sarana dan prasarana. metode. Indikator ini bisa dilihat dari bentuk layanan bagi keluarga miskin berupa pemberian MP-ASI pencapaiannya sudah 100%. Target yang ditetapkan oleh Dinas Kesehatan Kota Tangerang Selatan untuk kegiatan ini adalah sebesar 100%. waktu. Unsur yang ada dalam program perbaikan gizi Dinas Kesehata Tagerang Selatan ini meliputi data. ada 9 indikator yang perlu dipertimbangkan. Indikator pemanfaatan (indicators of utilisation) . Sehingga cakupan program ini sudah mencapai target. indikator keberhasilan ini melihat apakah unsur yang seharusnya ada dalam suatu proses itu benar-benar ada. Indikator keberhasilan (indicators of availability) Dalam menilai keberhasilan suatu program.66 berarti bahwa semua balita BGM Gakin yang ada di wilayah Kota Tangerang selatan semuanya sudah memperoleh makanan pendamping ASI.3. 4.

Sehingga bisa dikatakan semua kelompok sasaran sudah memanfaatkan program yang ada di Dinas Kesehatan. 4. Dimana dalam pencapaiannya semua program di Dinas Kesehatan sudah mencapai target. Indikator ini dilihat dari pencapaian cakupan dar masingmasing program. Indikator ini bisa dilihat dari output yaitu pencapaian suatu program. Indikator cakupan (indicators of coverage) Indikator ini mennjukkan proporsi orang-orang yang membutuhkan sesuatu dan menerima layanan tersebut. Dimana semua program yang ada di Dinas Kesehatan Kota Tangerang Selatan sudah mencapai target.67 Indikator ini melihat seberapa banyak suatu layanan yang sudah disediakan oleh pihak pemberi layanan. dipergunakan (dimanfaatkan) oleh kelompok sasaran. .

Dimana ada sepuluh Puskesmas yang ada di wilayah kerja Dinas Kesehatan Tangerang Selatan. Staf yang ada di seksi gizi terdiri dari kepala seksi gizi dan dua orang staf gizi. Pondok Aren. c) Ada empat program gizi yang dijalankan oleh Dinkes Kota Tangerang Selatan seksi gizi pada tahun 2009. dan penanggulangan gizi buruk.1 KESIMPULAN a) Dinas Kesehatan Kota Tangerang selatan merupakan Dinas Kesehatan yang baru berdiri tahun 2009. Pondok Jagung. perbaikan gizi pada ibu hamil.68 BAB V KESIMPULAN DAN SARAN 5. Ciputat. d) Evaluasi yang dilakukan oleh Dinkes Kota Tangerang Selatan Seksi Gizi adalah dengan pegumpulan data dari hasil pencatatan sepuluh Puskesmas yang ada di wilayah kerjanya. Dimana dalam kesehatan keluarga itu terdiri dari seksi gizi. yaitu: program pemantauan pertumbuhan balita. KIA. dijalankan oleh sepuluh Puskesmas tersebut yaitu puskesmas Serpong. Ciputat Timur. dan lansia_remaja. Kampung Sawah dan Setu. Jurang Mangu. Jombang. Semua program dan kegiatan yang ada di Dinas Kesehatan Tangerang Selatan. b) Seksi gizi Dinas Kesehatan Kota Tangerang Selatan merupakan bagian dari kesehatan keluarga. Pamulang. penanggulangan kekurangan vitamin A. Selain itu Dinas Kesehatan Kota . Setelah itu dilakukan analisis dari data tersebut dan diinterpretasikan.

Dimana pencapaian dari masing-masing program sudah mencapai target. Proses. proses dan output. Input. ii. Sumber daya manusia yang ada terdiri dari tiga orang dibagian seksi gizi Dana berasal dari APBD. Pengumpulan data dari sepuluh Puskesmas yang ada di wilayah kerjanya. Analisis data dengan menggunakan perangkat komputer Interpretasi data dan dibuat dalam bentuk laporan tahunan. 2. Sarana dan prasarana yang digunakan dalam melakukan evaluasi yaitu laptop. vi. iii. iii. 3. Metode yang digunakan yaitu dengan menggunakan perangkat komputer Waktu pelaksanaannya yaitu bulanan dan tahunan. meliputi: i. v. laporan W2 dan laporan balita gizi buruk tiap bulannya. Proses evaluasi yang dilakukan melalui pendekatan system yaitu menilai input. 1. 5. terdiri dari: i. Output. ii. iv.2 SARAN . printer dan alat-alat tulis yang lainnya.69 Tangerang Selatan melakukan monitoring terhadap Puskesmas yang ada di wilayah kerjanya. Data yang mencakup Laporan LB3. meliputi cakupan dari masing-masing program perbaikan gizi dalam bentuk laporan tahunan.

baik laporan LB3. 6) Dilakukan evaluasi kegiatan dari masing-masing program yang ada. . 5) Setelah dilakukan evaluasi. Sehingga pelaksanaan program selanjutnya bisa lebih baik. 3) Adanya reward bagi puskesmas yang tepat waktu dalam melaporkan datanya dan adanya punishment bagi puskesmas yang telat pelaporan datanya. W2 dan laporan balita yang gizi buruk tiap bulannya bagi tenaga pelaksana gizi yang ada di Puskesmas. Sehingga bisa langsung dilakukan pemecahan dan solusi dari permasalahan dan hambatan yang ada dalam program tersebut. 4) Kroscek dari data yang masuk.70 1) Diadakan pelatihan mengenai cara pengisian formulir LB3. W2 dan laporan balita gizi buruk tiap bulannya. 2) Diadakan pertemuan berkala untuk pemahaman dan penyamaan persepsi mengenai program yang akan dijalankan. diharapkan ada feed back dari program yang ada.

Jakarta: Depkes RI. Promosi Kesehatan. Jakarta: EGC . A. Jakarta: Depkes RI. A. Teori dan Aplikasi. Masyarakat dan Intervensi Komunitas. Soekidjo. Jakarta: PT Asdi Mahasatya. Manajemen Pelayanan Kesehatan Primer. Tangsel. RI. Petunjuk Teknis Standar Pelayanan Minimal (SPM). Pendidikan dan Perilaku Kesehatan. RI. 2004. Pengembangan. Profil Kesehatan Kota Tangerang Selatan Tahun 2009. Depkes. Notoatmodjo. Jakarta: Depkes RI. 2009. Depkes. Depok: Penerbit FEUI. Gde. 2005. RI. Buku Panduan Pengelolaan Program Perbaikan Gizi Kabupaten/ Kota. 2003. Pemberdayaan. Manajemen Kesehatan. Rukminto. Jakarta: Depkes RI. Depkes. 2000. Rencana Pembangunan Kesehatan Menuju Indnesia Sehat 2010. Muninjaya. Dinkes. Isbandi.Tangerang Selatan: Dinkes Tangsel. Jakarta : Penerbit Buku Kedokteran EGC. Jakarta: Penerbit Rineka Cipta. Notoatmodjo. 2008. 1999. Soekidjo.71 DAFTAR PUSTAKA Depkes. Pedoman Pemantauan Wilayah Setempat – Gizi (PWS-GIZI). 2008. 2003 WHO. RI.

You're Reading a Free Preview

Mengunduh
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->