Anda di halaman 1dari 21

PERKECAMBAHAN BIJI I TUJUAN 1. Mengetahui gaya berkecambah dan kecepatan berkecambah suatu biji. 2.

Mengetahui faktor-faktor luar yang mempengaruhi perkecambahan biji. 3. Mengetahui pengaruh khemikalia terhadap perkecambahan biji.

TINJAUAN PUSTAKA Perkecambahan benih dapat dipengaruhi oleh faktor dalam yang meliputi: tingkat kemasakan benih, ukuran benih, dormansi, dan penghambat perkecambahan, serta faktor luar yang meliputi: air, temperatur, oksigen, dan cahaya. (Sutopo, 1993). 1. Tingkat kemasakan benih Benih yang dipanen sebelum mencapai tingkat kemasakan fisiologis tidak mempunyai viabilitas tinggi. Pada beberapa jenis tanaman, benih yang demikian tidak akan dapat berkecambah. Hal ini diduga benih belum memiliki cadangan makanan yang cukup dan pembentukan embrio belum sempurna. 2. Ukuran benih, karbohidrat, protein, lemak, dan mineral ada dalam jaringan penyimpanan benih. Bahan-bahan tersebut diperlukan sebagai bahan baku dan energi bagi embrio saat perkecambahan. Ukuran benih mempunyai korelasi yang positip terhadap kandungan protein pada benih. semakin besar/berat ukuran benih maka kandungan protein juga makin meningkat. Dinyatakan juga bahwa berat benih berpengaruh terhadap kecepatan pertumbuhan dan produksi, karena berat benih menentukan besarnya kecambah pada pada saat permulaan dan berat tanaman pada saat dipanen. 3. Dormansi Benih dorman adalah benih yang sebenarnya hidup tetapi tidak mau berkecambah meskipun diletakkan pada lingkungan yang memenuhi syarat untuk berkecambah. Penyebab dormansi antara lain adalah impermeabilitas kulit biji terhadap air atau gas-gas (sangat umum pada famili leguminosae), embrio rudimenter, halangan perkembangan embrio oleh sebab-sebab mekanis, dan adanya bahan-bahan penghambat perkecambahan. Benih dorman dapat dirangsang untuk berkecambah dengan perlakuan seperti: pemberian suhu rendah pada keadaan lembab (stratifikasi), goncangan (impaction), atau direndam dalam larutan asam sulfat. 4. Penghambat perkecambahan Banyak zat-zat yang diketahui dapat menghambat perkecambahan benih. Contoh zatzat tersebut adalah herbisida, auksin, bahan-bahan yang terkandung dalam buah, larutan mannitol dan NaCl yang mempunyai tingkat osmotik tinggi, serta bahan yang

menghambat respirasi (sianida dan fluorida). Semua persenyawaan tersebut menghambat perkecambahan tetapi tak dapat dipandang sebagai penyebab dormansi. Istilah induksi dormansi digunakan bila benih dapat dibuat berkecambah lagi oleh beberapa cara yang telah disebutkan. 5. Air Faktor yang mempengaruhi penyerapan air oleh benih ada dua, yaitu sifat kulit pelindung benih dan jumlah air yang tersedia pada medium sekitarnya. Jumlah air yang diperlukan untuk berkecambah bervariasi tergantung kepada jenis benih, umumnya tidak melampaui dua atau tiga kali dari berat keringnya. 6. Oksigen Proses respirasi akan berlangsung selama benih masih hidup. Pada saat perkecambahan berlangsung, proses respirasi akan meningkat disertai dengan meningkatnya pengambilan oksigen dan pelepasan karbondioksida, air dan energi. Pada umumnya, proses perkecambahan dapat terhambat bila penggunaan oksigen terbatas. 7. Cahaya Kebutuhan benih terhadap cahaya untuk berkecambah berbeda-beda tergantung pada jenis tanaman. Benih yang dikecambahkan pada keadaan kurang cahaya atau gelap dapat menghasilkan kecambah yang mengalami etiolasi, yaitu terjadinya pemanjangan yang tidak normal pada hipokotil atau epikotil, kecambah pucat dan lemah. Temperatur harus dikendalikan dengan teliti beberapa macam benih berkecambah diatas suatu batas yang lebar dari temperatur yang wajar, tetapi yang lain mulai tumbuh dengan segera hanya dibatas yang sempit. Benih berkecambah biasanya pada temperatur dimana benih itu telah menyesuaikan dengan iklim di tempat benih tersebut dihasilkan (Stefferud, 1961). Pada dasarnya perkecambahan merupakan suatu proses pertumbuhan dari biji setelah mengalami masa dormansi. Bila kondisi-kondisi sekelilingnya memungkinkan (Novijanto, 1996). Ketersediaan air di lingkungan sekitar benih merupakan faktor penting. Kurang tersedianya air pada lingkungan benih akan menyebabkan jumlah air yang diambil untuk berkecambah menjadi semakin rendah atau tidak terpenuhi. Hal ini dapat berpengaruh besar pada proses perkecambahan. Jika jumlah air yang diserap tidak mencapai kebutuhan minimum maka proses perkecambahan tidak akan pernah terjadi. Ada batas minimum serapan air yang harus dilampaui agar perkecambahan dapat berlangsung (Bewley dan Black, 1982). Imbibisi pada benih yang dilakukan secara tiba-tiba apalagi terhadap benih dengan kadar air sangat rendah dan benih yang mengalami penyimpanan yang lama dapat menyebabkan kerusakan pada struktur membran sehingga perlu suatu kondisi dimana imbibisi dilaksanakan secara terkontrol. Salah satu upaya yang dapat dilakukan untuk

mengatasi masalah tersebut adalah dengan invigorasi benih yaitu dengan cara mengkondisikan benih sedemikian rupa sehingga karakter fisiologi dan biokimiawi yang terdapat di dalam benih dapat dimanfaatkan secara optimal (Khan, 1992). Penggunaan hormon pengatur tumbuh di beberapa jenis bahan kimia dapat meningkatkan perkecambahan dan vigoritas tanaman pada kondisi lingkungan tertentu, diantaranya Giberelin (GA3) yang banyak untuk pemecah dormansi pada beberapa macam benih (Weaver, 1972).

METODOLOGI Bahan bahan yang digunakan dalam praktikum ini adalah benih padi (Oryza sativa), kertas filter, alkohol 0%, 10%, 25%, 50% dan 80%. Sedangkan alat alat yang digunakan adalah bak perkecambahan, petridish, kaca pengaduk, penggaris, sendok, pinset, beaker glass, kaca penutup dan gelas ukur. Biji direndam ke dalam alkohol 0, 10, 25, 50 dan 70 % masing-masing selama 10, 30 dan 60 menit. Kemudian biji dicuci yang telah direndam tadi dengan air. Setelah itu kertas filter dibasahi dengan air dan diletakkan dalam petridish. Biji padi dihitung sebanyak 25 biji dan diletakkan ke dalam petridish, lalu petridish ditutup dengan penutup. Selanjutnya diamati dan dihitung jumlah biji yang berkecambah (plumula dan radicle sudah mencapai panjang 2 mm untuk padi dan 5 mm untuk kacangan) setiap hari selama seminggu dimulai sehari setelah percobaan. Biji yang telah berkecambah dan berjamur dibuang untuk mempermudah pengamatan. Gaya nilai berkecambah dan indeks vigor dihitung dari masing-masing perlakuan. Alkohol 0% gunakan sebagai kontrol untuk mengetahui kecepatan berkecambah biji tanaman, sedang perlakuan lain untuk melihat pengaruh khemikalia terhadap perkecambahan biji. Kemudian grafik gaya berkecambah dan indeks vigor dibuat pada berbagai hari pengamatan untuk semua konsentrasi dalam masing-masing alokasi waktu perendaman.

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Pertumbuhan adalah salah satu ciri makhluk hidup yang melangsungkan kehidupannya,. Seluruh organisme yang masih hidup melakukan pertumubuhan guna menambah massa, volume maupun tinggi tubuh organisme. Tidak terkecuali pada tanaman. Tanaman juga melakukan pertumbuhan sebagai salah satu ciri makhluk hidup. Tumbuhan tumbuh dari kecil menjadi besar dan berkembang dari satu sel zigot menjadi embrio kemudian menjadi satu individu yang mempunyai akar, batang dan daun. 1.2 Rumusan Masalah Berdasarkan latar belakang di atas, maka rumusan masalahnya adalah sebagai berikut: 1) Apakah ada perbedaan respon perkecambahan biji jagung antara Air, Nacl , dan Cuka? 2) Apakah ada pengaruh adanya hujan asam terhadap perkecambahan dan pertumbuhan tanaman ? 3) Adakah Faktor-faktor apa sajakah yang dapat mempengaruhi kecepatan perkecambahan dan pertumbuhan tanaman jagung ? 1.3 Tujuan Adapun tujuan dari percobaan ini adalah : 1) Untuk mengetahui adanya pengaruh derajat keasaman (pH) dalamproses perkecambahan dan pertumbuhan tanaman jagung.

2) Untuk mengetahui pH yang optimal dalam proses perkecambahan dan pertumbuhan tanaman jagung 3) Untuk mengetahui Faktor-faktor yang dapat perkecambahan dan pertumbuhan tanaman jagung 1.4 Hipoteis 1) Ada perbedaan respon perkecambahan biji jagung antara pH Air, NaCl dan Cuka. 2) Ada pengaruh adanya hujan asam terhadap perkecambahan da pertumbuhan tanaman. 3) Terdapat faktor-faktor yang mempengaruhi kecepatan perkecambahan dan pertumbuhan tanaman jagung. BAB II KAJIAN TEORI mempengaruhi kecepatan

2.1 Perkecambahan dan Pertumbuhan 2.1.1 Perkecambahan Perkecambahan terjadi karena pertumbuhan radikula (calon akar) dan pertumbuhan plumula (calon batang). Faktor luar yang mempengaruhi perkecambahan adalah air, kelembapan, oksigen dan suhu. Perkecambahan biji ada dua macam yaitu: a. Perkecambahan epigeal : Hipokotil memanjang sehingga plumula dan kotiledon ke permukaan tanah dan kotiledon melakukan fotosintesis selama daun belum terbentuk. Contoh : perkecambahan kacang hijau.

b.

Perkecambahan hypogeal : epikotil memanjang sehingga puluma keluar menembus kulit biji dan muncul diatas permukaan tanah sedangkan kotiledon tertinggal dalam tanah. Contoh : perekecambahan kacang kapri.

Dalam biji terdapat calon individu baru atau embrio yang dilengkapi dengan cadangan makanan. Pada tanaman dikotil misalnya kacang mempunyai dua kotiledon yang membesar. Sumbu embrio bagian bawah kotiledon disebut hipokotil. Bagian terminalnya (ujung) disebut radikula. Sumbu embrio bagian atas kotiledon disebut epikotil. Dan ujungnya disebut plumula (pucuk embrio) yaitu ujung batang bersama calon-calon (primordium) daun. Embrio yang tumbuh belum memiiki klorofil , sehingga embrio belum dapat membuat makanannya sendiri. Umumnya, makanan untu pertumbuhan embrio berasal dari endosperma. Akan tetapi tidak semua biji memiliki endsperma.biji tumbuhan polong-polongan,misalnya kacang tidak memiliki endosperma, melainkan cadangan makanannya dari kotiledon. Endosermanya sendiri sudah habis.biji yang demikian disebut biji eksalbuminus. Sedangkan biji yang endospermanya ada disebut biji albuminus. Tumbuhan monokotil mempunyai satu kotiledon .misalnya pada Grminineae (Poaceae), misalnya jagung,kotiledonnya disebut skutelum. Skutelum menyerap nutrien dari endosperma dan memindahkannya ke bagian embrio selama proses perkecambahannya. Radikula (calon akar) monokotil diselubungi oleh koleoriza (sarung akar lembaga) dan ujung embrio diselubungi koleoptil (sarung pucuk lembaga). 2.2.1 Pertumbuhan Pertumbuhan primer Merupakan pertumbuhan yang terjadi karena adanya meristem primer. Pertumbuhan ini disebabkan oleh kegiatan titik tumbuh prmer yang terdapat pada ujung akar dan ujung batan dimulai sejak tumbuhan masih berupa embrio.

Pertumbuhan sekunder Merupakan pertumbuhan yang terjadi karena adanya meristem sekunder. Pertumbuhan ini disebabkan oleh kegiatan kambium yang bersifat meristematik kembali. Ciri-ciri jaringan meristemtik ini adalah mempunyai dinding yang tipis, bervakuola kecil atau tidak bervakuola, stiplasma pekat dan sel-slenya belum berspeliasasi. Ketika pertumbuhan berlangsung secara aktif, sel-sel meristem membelah dan membentuk sel-sel baru. Sel baru yang terbantuk itu pada awalnya rupanya sama tetapi setelah dewasa, sel-sel tadi berdiferensiasi menjadi jaringan lain. Jaringann meristem ada dua jenis yaitu : a. Jaringan meristem apix b. Jaringan meristem lateral Pertumbuhan sekunder disebabkan oleh kegiatan meristem sekunder yang meliputi: A. Kambium gabus B. Kambium fasis C. Kambium interfasis 4. Pertumbuhan terminal Terjadi pada ujung akar dan ujung batang tumbuhan berbiji yang aktif tumbuh. Terdapat 3 daerah (zona) pertumbuhan dan perkembangan: a. Daerah pembelahan (daerah meristematik). b. Daerah pemanjangan c. Daerah diferensiasi

2.2 Tanaman Jagung Tanaman jagung ( Zea mays ) sangat bermanfaat bagi kehidupan manusia. Di Indonesia, jagung merupakan komoditi tanaman pangan kedua terpenting setelah padi. Akhir-akhir ini tanaman jagung semakin meningkat penggunaannya. Tanaman jagung banyak sekali gunanya, sebab hampir seluruh bagian tanaman dapat dimanfaatkan untuk berbagai macam keperluan. Buah jagung muda bisa dimanfaatkan sebagai sayuran, bergedel, bakwan, sambel goreng. Jagung tua biasa digunakan sebagai pengganti nasi, marning, brondong, roti jagung, tepung, bihun, bahan campuran kopi bubuk, biskuit, kue kering, pakan ternak, baha baku, industri farmasi, dextrin, perekat, industri textil. Tanaman jagung sangat bermanfaat bagi kehidupan manusia ataupun hewan, jagung merupakan makanan pokok kedua setelah padi, produksi jagung kini dapat dikonsumsi oleh manusia dalam bentuk penyajian, jagung merupakan salah satu bahan makanan yang mengandung hidrat arang, yang dapat digunakan untuk menggantikan (mensubtitusi) beras. Jagung termasuk tanaman akar serabut yang terdiri dari tipe akar yaitu akar dan seminal, akar adventif dan akar udara, seminal tumbuh dari radikma dan embiro. Akar adventif disebut juga akar tunjang. Akar ini dari buku paling bawah. Sekitar 4 cm di bawah permukaan tanah. Akar udara adalah akar yang keluar dari dua atau lebih dari buku terbawah dekat permukaan tanah. Batang jagun g tidak bercabang, berbentuk silinder. Pada buku ruas akan muncul tunas yang berkembang menjadi tongkol. Tinggi jagung tergantung variates, umumnya berkisar 100 300 cm. Daun jagung memanjang dan keluar dari buku-buku batang. Jumlah daun terdiri dari 8-48 helaian tergantung varietasnya. Antara kelopak dan helaian terdapat lidah daun yang disebut Ligula, fungsi Ligula adalah mencegah air masuk ke dalam kelopak daun dan batang. Pada proses tumbuh tanaman jagung dibedakan dalam dua stadia yaitu: a. Stadia vegetative Pada stadia vegetatif ini melalui fase kecambah, dilanjutkan dengan fase pertumbuhan vegetatif, akar batang daun yang cepat pada akhirnya pertumbuhan vegetatif menjadi lambat sehingga dinamainya stadia generative.

b.

Stadia generatif Pada stadia ini dinamai dengan pembentukan primordia. Proses pembungaan yang mencakup peristiwa penyerbukan dan pembuahan. Penyerbukan yang terjadi pada tanaman jagung biasanya dibantu dengan angin, yaitu dengan cara menebarkan tepung sari kemudian menjatuhkan pada tangkai. Letak bunga jantan dan betina tidak berada di satu tempat. Bunga jantan pada ujung batang yang sedang berbunga, sedangkan bunga betina berada di pertengahan batang atau tongkol. Perlu dijaga kemurnian biji dari varietas yang dibudidayakan dan juga terjadinya penyerbukan silang pada tanaman jagung. Proses penyerbukan, tepung sari tidak harus menempel pada kepala putik. Karena tangkai putik dapat menyebabkan proses penyerbukan tetap berlangsung. Tangkai putik berupa rambut jagung bila ditempel tepung sari. Perkembangan dan pertumbuhan serbuk sari berlanjut. Proses pertumbuhan merupakan kelanjutan peristiwa penyerbukan dapat berlangsung selama serbuk sari menempel pada putik. Kemudian saluran-saluran tangkai putik bertemu sel telur. Kondisi pH yang baik untuk pertumbuhan jagung berkisar antara 5,5 7,0 dan pH optimal 6,8 terutama pada saat berbunga dan pengisian biji. Curah hujan yang normal untuk pertumbuhan tanaman jagung yang ideal adalah sekitar 250 mm/tahun sampai 2000 mm/tahun. Jagung akan tumbuh dengan baik di daerah yang ketinggiannya lebih dari 5000 m di atas permukaan laut. (Supapto, 1999).

2.3 Derajat Keasaman (pH) pH adalah derajat keasaman yang digunakan untuk menyatakan tingkat keasaman atau kebasaan yang dimiliki oleh suatu larutan. Ia didefinisikan sebagai kologaritma aktivitas ion hidrogen (H+) yang terlarut.Koefisien aktivitas ion hidrogen tidak dapat diukur secara eksperimental, sehingga nilainya didasarkan pada perhitungan teoritis. Skala pH bukanlah skala absolut. Ia bersifat relatif terhadap sekumpulan larutan standar yang pH-nya ditentukan berdasarkan persetujuan internasional.

BAB III METODE PERCOBAAN

3.1 Alat dan Bahan 1) gelas plastik / aqua 2) kapas 3) Biji Jagung 4) Air 5) Spidol 6) HCL 0,1 M 7) Cuka 3.2 Variabel Percobaan Variabel Manipulasi : Air dengan variasi pH 3 dan 5 Variabel Respon Variabel Kontrol

7 secukupnya 30 biji

: Percepatan Perkecambahan dan Pertumbuhan tanaman jagung : - Jenis Jagung - Jenis media tanam (tanah) -

3.3 Langkah Percobaan Adapun langkah-langkah dari percobaan ini sebagai berikut : 1) Menyiapkan air dengan pH 3, 5 dan 7 dengan cara mencampurkan larutan HCL 0,1 M kemudian dimasukkan ke dalam botol dan diberi label masing-masing. 2) Menyiapkan biji jagung dari jenis yang sama, merendam biji jagung sebanyak 10 kedalam air yang telah ditentukan dengan masing-masing pH selama 30 menit.

3) Menyediakan 3 buah polibag dengan cara memotong botol air mineral pada bagian bawah dengan menggunkan cutter. Kemudian melubangi bagian bawahnya agar air bisa keluar waktu penyiraman dan beri label. 4) Potong bagian tengah botol air mineral sisanya tadi sebagai penyangga polibeg. Membasahi tanah dengan air yang telah ditentukan kemudian meletakkan (menanam) biji jagung dan basahi atau sirami tanah setiap hari sesuai pH yang telah ditentukan selam 7 hari 5) Mengamati perkecambahan yang pada bji jagung selama 7 hari. 6) Memeriksa pertumbuhan pada hari ke-7.

BAB 1V DATA DAN ANALISA

4.1 Data Percobaan A. Hasil percobaan pada pH 3 Hari keJumlah Biji yang Berkecambah 1 0 2 7 3 0 4 0 5 0 6 0 7 0 % 70%

Kecepatan Perkecambahan = + + + + + + = 3,5 pH 3 % perkecambahan = 7/10 x 100% = 70% Panjang terakhir pengamatan No. 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. Biji 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Panjang Tanaman 15 cm 23 cm 22 cm 11,4 cm 16 cm 13 11 -

B. Hasil Percobaan pada pH 5 Hari keJumlah Biji yang Berkecambah 1 0 2 8 3 0 4 0 5 0 6 0 7 0 % 80%

pH 5 % perkecambahan = 8/10 x 100% = 80% Kecepatan Perkecambahan = + + + + + + = 4 Panjang terakhir pengamatan dan jumlah helai daun No. 1. 2. 3. Biji 1 2 3 Panjang Tanaman 26 cm 31 cm 24 cm

4. 5. 6. 7. 8. 9. 10.

4 5 6 7 8 9 10

21,6 cm 28,3 cm 26 24 28 -

C. Hasil percobaan pada pH 7 Hari keJumlah Biji yang Berkecambah 1 0 2 7 3 0 4 0 5 0 6 0 7 0 % 70%

pH 7 % perkecambahan = 7/10 x 100% = 70% Kecepatan Perkecambahan = + + + + + + = 3,5 Panjang terakhir pengamatan dan jumlah helai daun No. 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. Biji 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Panjang Tanaman 24 cm 33 cm 28 cm 27,4 cm 29,1cm 22,6 26,1 -

4.2 Analisa Data Dari tabel diatas dapat diketahui bahwa, dari 10 biji tidak semuanya berkecambah dan tumbuh. Dari 10 biji yang tumbuh, pada pH 3 tumbuh 7, dari pH 5 tumbuh 8 dan dari pH 7 tumbuh 7. Dari data yang didapat, pH 5 menumbuhkan biji jagung paling banyak yakni sebanyak 8 biji jagung. Sehingga,prosentasi perkecambahan dari percobaan yang dilakukan selam 7 hari, pH 3 sebesar 70%, pH 5 sebesar 80% dan pH 7 sebesar 70%. Sedangkan kecepatan perkecambahan dari pH 3 adalah 3,5, pH 5 adalah 4 dan pH 7 adalah 3,5. Pada percobaan pH 3 tanaman jagung yang paling panjang adalah 23 cm. pada percobaan pH 5 tanaman jagung yang paling panjang adalah 31cm dan percobaan pH 5 tanaman jagung yang paling panjang adalah 33 cm. sehingga, tanaman jagung yang paling panjang terdapat pada pH 7.

BAB IV PEMBAHASAN

4.1 Pengaruh Derajat Keasaman Terhadap Perkecambahan Biji Jagung Pada percobaan yang saya lakukan menunjukkan perbedaan respon perkecambahan biji dan pertumbuhan tanaman jagung antara pH 3, 5 dan 7. Hal ini dapat dilihat dari jumlah biji yang berhasil berkecambah dan tumbuh. Pada pH 3 terdapat 7 tanaman dan yang degeneratif sebanyak 3. Pada pH 5 terdapat 8 tanaman dan yang degeneratif sebanyak dan pada pH 7 terdapat 7 tanaman dan yang degeneratif sebanyak 3. Secara teori tanaman

jagung dapat tumbuh optimal pada pH antara 5,5 7,0. Pada percobaan ini pH yang banyak menumbuhkan tanaman jagung adalah pH 5 yakni 8 tanaman dari 10 biji yang ditanam. Sedangkan pada pH 3 dan 7 berhasil menumbuhkan 7 tanaman jagung dari 10 biji yang ditanam. Disini terjadi kesamaan jumlah tanaman yang tumbuh. Namun, setelah diukur, tanaman jagung yang paling tinggi terdapat pada pH 7 yakni sebesar 33 cm. pada waktu penanaman, saya menggunakan jenis biji yang sama. Namun pada percobaan terdapat biji yang mati atau degeneratif. Hal ini dapat dipengaruhi oleh biji itu sendiri. Maksudnya disini adalah pada jenis biji yag sama belum tentu memiliki kemampuan tumbuh yang sama, seperti tingkat kematngan benih, dominansi benih dan ukuran dari benih jagung itu sendiri.

4.2 Pengaruh Hujan Asam Terhadap Pertumbuhan Tanaman Hujan asam diartikan sebagai segala macam hujan dengan pH di bawah 5,6. Hujan secara alami bersifat asam (pH sedikit di bawah 6) karenakarbondioksida (CO2) di udara yang larut dengan air hujan memiliki bentuk sebagai asam lemah. Jenis asam dalam hujan ini sangat bermanfaat karena membantu melarutkan mineral dalam tanah yang dibutuhkan oleh tumbuhan dan binatang. Hujan asam disebabkan oleh belerang (sulfur) yang merupakan pengotor dalam bahan bakar fosil serta nitrogen di udara yang bereaksi dengan oksigen membentuk sulfur dioksida dan nitrogen oksida. Zat-zat ini berdifusi ke atmosfer dan bereaksi dengan air untuk membentuk asam sulfatdan asam nitrat yang mudah larut sehingga jatuh bersama air hujan. Air hujan yang asam tersebut akan meningkatkan kadar keasaman tanah dan air permukaan yang terbukti berbahaya bagi kehidupan ikan dan tanaman. Usaha untuk mengatasi hal ini saat ini sedang gencar dilaksanakan. cara alami hujan asam dapat terjadi akibat semburan dari gunung berapi dan dari proses biologis di tanah, rawa, dan laut. Akan tetapi, mayoritas hujan asam disebabkan oleh aktivitas manusia seperti industri,pembangkit tenaga listrik, kendaraan bermotor dan pabrik pengolahan pertanian (terutama amonia). Gas-gas yang dihasilkan oleh proses ini dapat terbawa angin hingga ratusan kilometer di atmosfer sebelum berubah menjadi asam dan terdeposit ke tanah.

Hujan asam dapat mempengaruhi pertumbuhan tanaman. Karena hujang yang mengandng asam yang jatuh ke tanah dan menyimpan airnya, dapat melarutkan mineral-mineral dan unsure hara yang terkandung dalam tanah. Hujan asam yang larut bersama nutrisi didalam tanah akan menyapu kandungan tersebut sebelum pohon-pohon dapat menggunakannya untuk tumbuh. Serta akan melepaskan zat kimia beracun seperti aluminium, yang akan bercampur didalam nutrisi. Sehingga apabila nutrisi ini dimakan oleh tumbuhan akan menghambat pertumbuhan dan mempercepat daun berguguran, selebihnya pohonpohon akan terserang penyakit, kekeringan dan mati. Seperti halnya danau, Hutan juga mempunyai kemampuan untuk menetralisir hujan asam dengan jenis batuan dan tanah yang dapat mengurangi tingkat keasaman. Pencemaran udara telah menghambat fotosintesis dan immobilisasi hasil fotosintesis dengan pembentukan metabolit sekunder yang potensial beracun. Sebagai akibatnya akar kekurangan energi, karena hasil fotosintesis tertahan di tajuk. Sebaliknya tahuk mengakumulasikan zat yang potensial beracun tersebut. Dengan demikian pertumbuhan akar dan mikoriza terhambat sedangkan daunpun menjadi rontok. Pohon menjadi lemah dan mudah terserang penyakit dan hama. Penurunan pH tanah akibat deposisi asam juga menyebabkan terlepasnya aluminium dari tanah dan menimbulkan keracunan. Akar yang halus akan mengalami nekrosis sehingga penyerapan hara dan iar terhambat. Hal ini menyebabkan pohon kekurangan air dan hara serta akhirnya mati. Hanya tumbuhan tertentu yang dapat bertahan hidup pada daerah tersebut, hal ini akan berakibat pada hilangnya beberapa spesies. Ini juga berarti bahwa keragaman hayati tamanan juga semakin menurun. Kadar SO2 yang tinggi di hutan menyebabkan noda putih atau coklat pada permukaan daun, jika hal ini terjadi dalam jangka waktu yang lama akan menyebabkan kematian tumbuhan tersebut. Menurut Soemarmoto (1992), dari analisis daun yang terkena deposisi asam menunjukkan kadar magnesium yang rendah. Sedangkan magnesium merupakan salah satu nutrisi assensial bagi tanaman. Kekurangan magnesium disebabkan oleh pencucian magnesium dari tanah karena pH yang rendah dan kerusakan daun meyebabkan pencucian magnesium di daun.

Pada percobaan yang saya lakukan, ada daun yang daunnya berwarna agak kuning kecoklatan, hal ini mengindikasikan adanya pengaruh hujan asam terhadap tanaman, yang dibuktikan dengan percobaan ini,dimana jagung ditanam dengan menggunkan pH dibawah pH 5 yakni pH 3. 4.3 Faktor-faktor yang Mempengaruhi Pertumbuhan Tanaman Pada percobaan ini,tidak hanya derajat keasaman saja yang mempengaruhi perkecambahan dan pertumbuhan tanaman jagung. Faktor-faktor tersebut adalah faktor biotik dan faktor abiotik. Faktor biotik adalah faktor yang mempengaruhi pertumbuhan tanaman yang berasal dari dalam. Dalam percobaan ini berasal dari tanaman itu sendiri. Dalam hal ini adalah nutrisi. Makanan (nutrisi) sangat diperlukan dalam pertumbuhan perkecambahan. Jika banyak nutrisi yang diserap tanaman jagung, maka pertumbuhan akan semakin baik pula. Sedangkan faktor abiotik yang mempengaruhi pertumbuhan jagung adalah cahaya, air, kelembaban, derajat keasaman. Cahaya sangat membantu dalam proses fotosintesis ketika tanaman jagung sudah tumbuh daun. Sekitar 80-90 % tubuh mahkluk hidup tersusun atas air. Zat ini digunakan sebagai pelarut di dalam sitoplasma, untuk menjaga tekanan osmosis sel, dan mencegah sel dari kekeringan. Air dibutuhkan untuk kelangsungan hidup organisme. Bagi tumbuhan, air diperlukan dalam pertumbuhan, perkecambahan dan penyebaran biji, bagi hewan dan manusia air diperlukan untuk minum dan sarana hidup lain seperti transportasi bagi manusia dan tempat hidup bagi ikan. Bagi unsur abiotik lain misalnya tanah dan batuan, air digunakan sebagai pelarut dan pelapuk. Salinitas juga berpengaruh. Jika kadar garam tinggi, sel-sel akar tumbuhan akan mati dan akhirnya akan mematikan tumbuhan itu. Didaerah yang berkadar garam tinggi hanya hidup tumbuhan tertentu. Misalnya pohon bakau di pantai yang tahan terhadap lingkungan berkadar garam tinggi.
http://dyahemangfitri.blogspot.com/2011/03/laporan-biologi-pengaruh-ph-terhadap.html

Kamis, 10 Maret 2011

FITRIA DWI A (103204016) AND ERMI SUGIHARTI (103204046

Suhu

Rata-rata suhu optimal untuk rentang jagung pertumbuhan antara 68 dan 73 F. Namun, suhu optimum bervariasi selama musim jagung tumbuh dan antara siang dan malam hari. Jagung dapat bertahan eksposur singkat pada suhu rendah dan tinggi dari 32 dan 112 F, masing-masing.Temperatur yang lebih dingin memperlambat pertumbuhan tanaman. Pertumbuhan menurun sekali suhu turun sampai sekitar 41 F. Suhu antara 32 dan 28 F memiliki sedikit efek pada jagung. Temperatur yang sangat rendah menyebabkan kerusakan pembekuan, tingkat keparahan yang akan tergantung pada durasi, temperatur, dan tahap pertumbuhan jagung. Suhu rendah diperpanjang pada fase bibit yang mengurangi suhu tanah ke bawah titik beku dua inci di bawah permukaan dapat membunuh jagung. Kemudian musim, eksposur panjang jagung untuk suhu di bawah 28 F dapat merusak jagung dengan merusak "titik tumbuh". Titik tumbuh jagung terletak di tengah batang dan di bawah permukaan tanah sampai V5 - V6 tahap pertumbuhan (5 - 6 daun jagung dengan kerah). Pada tahap pertumbuhan V6, jagung akan menjadi sekitar 12 inci tinggi. Penting untuk diingat bahwa meskipun jagung dapat berkecambah dan tumbuh perlahan-lahan di sekitar 50 F, penanaman harus mulai ketika suhu tanah rata-rata mencapai 55 F di atas dua inci. Perkecambahan Miskin dan berdiri biasanya merupakan hasil dari suhu tanah yang rendah. Hasil jagung juga dapat dikurangi karena suhu udara yang tinggi (95 F dan lebih tinggi) saat penyerbukan.Temperatur yang tinggi selama waktu ini dapat menyebabkan kerusakan pada penyerbukan tanaman jika berada di bawah stres kekeringan. Selama stres kelembaban, terutama pada kelembaban relatif rendah, suhu tinggi dapat mengering sutra dan kerusakan atau membunuh serbuk sari. Penyerbukan tidak akan terpengaruh oleh suhu tinggi jika ada kelembaban yang cukup di dalam tanah, karena gudang serbuk sari biasanya terjadi selama jam pagi. Tumbuh Gelar Hari (GDD) Produktivitas jagung juga berkorelasi dengan panjang musim tanam, yang dicirikan oleh Hari Gelar Tumbuh (GDD) akumulasi (disebut sebagai "unit panas"). GDD ini akumulasi dari hari setelah penanaman sampai masak fisiologis.Metode perhitungan GDD yang paling umum digunakan untuk jagung di Amerika Serikat adalah metode 86/50. Hari derajat tumbuh dihitung sebagai suhu harian rata-rata minus 50 dengan menggunakan rumus berikut: GDD = ((Tmax + Tmin) / 2) - 50 mana Tmax adalah suhu maksimum dan Tmin adalah suhu minimum. Jika suhu maksimum di atas 86 F, 86 digunakan, dan jika suhu minimum lebih rendah dari 50 F, 50 digunakan dalam perhitungan suhu rata-rata. Jagung hibrida memerlukan sejumlah GDDs akumulasi untuk mencapai kematangan. Long-musim hibrida membutuhkan GDDs lebih untuk mencapai masak fisiologis daripada pendek musim hibrida. Metode GDD lebih akurat dalam produksi jagung dibandingkan dengan metode tradisional hari dari tanam hingga jatuh tempo. Embun Hasil panen jagung tertinggi hanya dapat diperoleh di bawah kondisi kelembaban optimal selama musim tanam.Kelembaban stres di salah satu tahap pertumbuhan akan mengakibatkan penurunan hasil potensial. Jagung memiliki kebutuhan air pada umumnya tinggi dan dapat menggunakan sekitar 0,25 inci air per hari selama pertumbuhan yang cepat. Namun, penggunaan air dapat meningkat hingga 0,35 inci per hari selama penyerbukan. Hasil panen jagung akan berkurang jika evapotranspirasi melebihi pasokan air dari tanah setiap saat selama pertumbuhan jagung. Evapotranspirasi adalah jumlah kehilangan air dari tanah melalui penguapan dan air yang digunakan oleh tanaman selama transpirasi. Air kerugian besar

dalam pertumbuhan jagung awal adalah dari penguapan. Selama stres kelembaban, ketersediaan dan penyerapan nutrisi juga berkurang dan tanaman stres sehingga melemah juga lebih rentan terhadap penyakit dan kerusakan serangga. Kehilangan hasil akibat cekaman air akan tergantung pada tahap pertumbuhan jagung selama cekaman kekeringan serta panjang dan tingkat keparahan kekeringan. Jagung yang paling sensitif (kehilangan hasil tertinggi potensial) terhadap stres air selama penyerbukan, diikuti oleh butirmengisi, dan tahap pertumbuhan vegetatif. Air stres selama tahap pertumbuhan vegetatif akan mengurangi batang dan daun ekspansi sel serta akumulasi bahan kering karena air yang lebih rendah dan asupan CO2. Hal ini mengakibatkan tinggi tanaman berkurang dan luas daun, dan potensi hasil lebih rendah. Stres kelembaban yang parah ditandai dengan layu daun. Jagung tanaman di fase awal layu kekeringan di sore hari. Selama periode waktu yang lebih kekeringan, layu terjadi pada hari sebelumnya. Akhirnya, daun layu tetap sepanjang hari. Penurunan yield 10 sampai 20% dapat terjadi jika cekaman kekeringan terjadi selama tahap vegetatif jagung. Kelembaban stres selama penyerbukan adalah yang paling penting untuk mengurangi potensi hasil jagung. Stres kelembaban parah akan mengakibatkan silking tertunda dan penyerbukan berkurang karena kurangnya serbuk sari yang layak dan sinkronisasi berkurang antara silking dan penyerbukan. Di bawah stres berat, beberapa tanaman tidak akan membentuk setiap sutra, sutra atau akan muncul setelah produksi serbuk sari telah berakhir, sehingga mengakibatkan telinga kurang berkembang. Stres kelembaban selama tahap ini dapat menyebabkan penurunan hasil hingga 50%. Kernel, terutama di dekat ujung telinga, yang paling rentan terhadap aborsi selama dua minggu pertama setelah penyerbukan. Kernel Tip umumnya dibuahi lalu dan kurang kuat. Selama tahap adonan kernel, kehilangan hasil terutama disebabkan penurunan akumulasi kernel berat kering. Stres selama tahap-tahap adonan dan penyok akan menurunkan bobot kernel dan sering menyebabkan prematur pembentukan lapisan hitam. Setelah biji-bijian telah mencapai masak fisiologis, stres kelembaban tidak akan memiliki efek fisiologis lebih lanjut tentang hasil akhir. Populasi tanaman kelembaban tinggi-membatasi lingkungan meningkatkan stres dan masalah kelembaban silking, yang mengarah ke nomor kernel berkurang.
http://translate.google.co.id/translate?hl=id&langpair=en|id&u=http://www.clemson.edu/ extension/rowcrops/corn/guide/environmental_conditions.html 9-12-2012 clemson

BAB V PENUTUP

5.1 Kesimpulan Dari percobaan yang dilakukan, kesimpulan yang dapat diambil dari percobaan ini adalah sebagi berikut : 1) Ada perbedaan respon perkecambahan biji jagung antara pH 3,5 dan 7 2) Hujan asam berpengaruh terhadap pertumbuhan tanaman 3) Ada faktor yang mempengaruhi pertumbuhan tanaman jagung, yakni faktor biotic dan faktor abiotik.