I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Dalam Undang-Undang Sistem Nasional No.

20 Tahun 2003 Tahun 2003 Bab I pasal 1 ayat 1 yang berbunyi: Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan Negara. (Sisdiknas, 2010:2) Belajar merupakan kegiatan utama dalam setiap usaha pendidikan. Dalam proses pembelajaran banyak faktor yang mempengaruhi pencapaian tujuan belajar. Fakta menunjukan bahwa banyak sekali bentuk-bentuk perubahan yang diperoleh individu dari hasil belajar, sehingga kualitas peradaban individu juga tergantung pada apa dan bagaimana individu belajar. Namun kadangkala siswa merasakan kondisi yang kurang nyaman dalam proses belajar. Ketidaknyamanan tersebut menimbulkan kecemasan sehingga siswa menjadi tidak dapat konsentrasi dalam belajar. Kecemasan, kekhawatiran akan ketidak berhasilan merupakan kecendrungan yang dapat mendukung munculnya minat untuk belajar, namun kecemasan yang berlebih akan menjadi sesuatu yang merugikan apabila berada pada batas diluar kewajaran. Individu yang mengalami kecemasan dipengaruhi oleh beberapa hal, diantaranya karena adanya pengalaman negatif perilaku yang yang telah dilakukan, seperti kekhawatiran akan adanya kegagalan. Merasa frustasi dalam situasi tertentu dan ketidakpastian melakukan sesuatu. Dapat diketahui bahwa kecemasan dipengaruhi oleh beberapa hal diantaranya kekhawatiran akan kegagalan, frustasi pada hasil tindakan yang lalu, evaluasi diri yang negative, perasaan diri yang negatif tentang tentang

1

kemampuan yang dimilikinya, dan orientasi diri yang negatif. (Ghufron, M, N & Risnawati S, R. 2010: 144-145). Kecemasan perlu mendapat perhatian dari guru dan pendidik, bahwa faktor lingkungan sosial, tekanan, perlakuan dan sikap guru bisa menjadi pemicu munculnya kecemasan. Selanjutnya kecemasan dapat disebabkan karena kondisi aktivitas belajar dikelas yang berlangsung secara tidak baik. Kenyataan ini seringkali dijumpai dalam proses pembelajaran, dimana perbedaan kemampuan individu yang beragam menjadi penyebab munculnya kecemasan. Kecemasan menjadi salah satu salah satu penghambat dalam belajar apabila sampai mengganggu kenerja fungsi kognitif siswa. Awalnya pemikiran tentang kecemasan belajar muncul dari sikap dan perlakuan guru, iklim sekolah yang kurang nyaman, ketidakpercayaan pada kemampuan yang dimiliki, siswa merasa kehilangan makna dan harapan serta muncul bayangan kegagalan. Pemikiran tersebut akhirnya dapat mempengaruhi pandangan pada masa depan karena memprediksi hasil yang buruk. Kondisi ini tidak dapat dipandang sebelah mata, dibutuhkan tindakan penanggulangan yang cepat dan tepat dalam upaya membantu mengatasi kecemasan siswa, karena apabila dibiarkan akan merugikan siswa secara fisik dan psikologis. Program bimbingan dan konseling disekolah sebagai wadah yang memfasilitasi kebutuhan psikologis siswa dapat membantu mengatasi masalahmasalah yang dipandang cukup efektif untuk memberi arahan, dorongan dan memberi kesempatan pada siswa untuk melakukan penilaian diri atas tugas dan pekerjaan yang ia lakukan. Meskipun demikian dalam prakteknya keberadaan layanan bimbingan dan konseling belum banyak dimanfaatkan siswa.

Rendahnya kunjungan siswa keruang bimbingan tidak semata-mata karena faktor siswa, tetapi didukung pula karena kemampuan professional guru BK yang kurang memadai sehingga dipersepsi siswa sebagai sikap yang kurang simpati. Hakikatnya didalam proses belajar siswa tidak akan terlepas dari
2

interaksi dan komunikasi, antara siswa dengan siswa, siswa dengan guru, siswa dengan lingkungan belajar. Mereka dituntut untuk dapat menyesuaikan diri dengan lingkungannya membangun pola interaksi dan komunikasi yang harmonis. Dalam proses pembelajaran guru memberi kontribusi cukup besar dalam membentuk kepribadian siswa yaitu dengan memberikan kesempatan sebesar-besarnya untuk mengungkapkan pendapat dari siswa itu sendiri agar dalam sekolah tidak hanya guru yang aktif tetapi juga siswa dituntut aktif dalam setiap pembelajaran berlangsung misalnya kegagalan membangun komunikasi akan menimbulkan persepsi yang salah dan akan menambah tingkat kecemasan belajar siswa. Merebaknya isu kecemasan belajar secara langsung

bersinggungan dengan isi kualitas belajar, terutama jika dilihat dari dampak yang ditimbulkannya. Selain berdampak pada aspek kognitif juga pada aspek afektif siswa. Dalam konsep behavioral, perilaku manusia merupakan hasil belajar, sehingga dapat diubah dengan memanipulasi dan mengkreasi kondisi-kondisi belajar. Pada dasarnya proses konseling merupakan suatu penataan proses atau pengalaman belajar untuk membantu individu mengubah perilakunya agar mendapat memecahkan masalahnya. (Surya, M. 2003 : 25). Sepanjang rasa cemas tersebut intensitasnya masih berada pada batas kewajaran justru dapat menjadi pendorong, tetapi apabila kecemasan menjadi berlebihan siswa akan mengalami gangguan yaitu kecemasan menjadi berlebihan siswa akan mengalami gangguan yaitu kekhawatiran, cemas, menjasd tidak rasional apabila aktivitas dalam kehidupannya terganggu dan menghambat fungsi social dalam dirinya. Karena belajar merupakan proses berpikir yang berhubungan dengan inteligensi atau kemampuan seringkali kita beranggapan bahwa faktor inteligensi yang rendah sebagai satu-satunya faktor yang membuat seorang siswa merasa cemas dalam belajar, padahal faktor-faktor non inteligensi seperti yang digambarkan diatas tidak sedikit yang menjadi penyebab munculnya rasa cemas.
3

Kecemasan

belajar

yang

berlebihan

selain

menghambat

dan

menggganggu fungsi afektif juga mempengaruhi fungsi kognitif siswa seperti, tidak dapat berkonsentrasi, sulit untuk mengingat. Pada tingkat kronis gangguan kecemasan akan berdampak pada kesehatan fisik dan psikis. Dalam hal ini bimbingan konseling disekolah dapat memfasilitasi siswa dalam masa transisi menuju kedewasaan agar mereka mampu membuat keputasan yang sangat tepat, positif, efektif, tidak diwarnai dengan kecemasan yang berlebihan terhadap aktivitas pembelajaran yang menuntut penguasaan kompetensi pada setiap mata pelajaran. Diharapkan bahwa siswa memiliki kemampuan antisipatif dalam menghadapi tantangan dan kendala-kendala, respontif dalam menghadapi peluang yang muncul untuk mengaktualisasikan potensi yang mereka miliki. Di sekolah SMA PGRI IV Jl. Veteran Km 4,5. Terdapat mengalami gejala kecemasan dari hasil studi pendahuluan yang dilakukan oleh peneliti kepada konselor sekolah yaitu Ibu Hj. Suhartini menyatakan bahwa siswa-siswi yang mengalami kecemasan misalnya gugup, tidak percaya diri, menggigit pensil, persaingan, situasi tes, kegiatan atau latihan yang dihitung waktunya, menarik diri dari lingkungan sekitar, sering bertengkar, mudah tersinggung dan sebagainya. Hal tersebut dikarenakan target kurikulum yang terlalu tinggi, pelaksanaan layanan BK yang kurang efektif, hukuman yang diberikan petugas pelajar terlalu berat, dll. Sehingga dengan permasalahan ini maka peneliti ingin mengadakan penelitian disekolah ini. Yang mana pada saat masa remaja ini adalah masa untuk pencarian jati diri sehingga banyak terjadi kesalahan-kesalahan persepsi yang ditenggarai karena ketidak mampuan membangun komunikasi akibatnya siswa mengalami kecemasan. Keberagaman masalah yang dihadapi siswa diatas menuntut perlunya layanan BK responsip yang menyediakan program terapeutik untuk mengubah perasaan-perasaan negatifdan menggantikannya dengan perasaan-perasaan yang
4

positif. Keberadaan layanan bimbingan dan konseling disekolah adalah suatu proses bantuan yang dilakukan melaluikomunikasi dialogis, terstruktur, antar pribadi, mendalam, terarah kepada pemecahan masalah dan upaya

mengoptimaisasikan perkembangan individu Salah satu teknik pendekatan untuk membantu siswa mengatasi kecemasan belajar adalah model pendekatan behavioral yaitu melalui tekhnik Operant Conditioning, Social Modeling, Cognitif Learning, dan Emotional Learning. Model layanan bimbingan dan konseling behavioral efektif untuk memfasilitasi dan membantu siswa bagaimana mereduksi perasaan cemas, perasaan takut gagal, perasaan menyalahkan orang lain dan diri sendiri. Pendekatan behavioral bertujuan memperkuat perilaku yang diharapkan dan mengubah perilaku yang tidak diharapkan. Kondisi kecemasan yang bervariasi menggambarkan tingkat

kemampuan siswa yang berbeda dalam menyikapi, dan mempersepsi lingkungan. Salah satu upaya untuk mengubah perilaku salah tersebut adalah melalui pendekatan model konseling perilaku atau behavior. Pendekatan konseling behavioral lebih bersifat pada suatu pelatihan terhadap perilaku. Teknik pendekatan diarahkan pada prosedur untuk memfasilitasi perubahan perilaku dilakukan melalui proses belajar (learning) atau belajar kembali (relearning). Berdasarkan gambaran diatas maka peneliti tertarik untuk mengadakan penelitian yang berjudul “Keefektifan Melalui Pendekatan Behavioral Dalam Mengatasi Kecemasan Siswa Kelas X SMA PGRI IV Banjarmasin”. B. Rumusan Masalah Berdasarkan pada belakang masalah tersebut di atas, maka dirumuskan masalah-masalah sebagai berikut: 1. Bagaimana tingkat kecemasan siswa di SMA PGRI IV Banjarmasin sebelum diberikan konseling behavioral?

5

2.

Bagaimana tingkat kecemasan siswa di SMA PGRI IV Banjarmasin sesudah diberikan konseling behavioral?

3.

Bagaimana konseling behavioral dalam mengatasi kecemasan siswa di SMA PGRI IV Banjarmasin?

C. Batasan Masalah Adapun batasan permasalahan yang diteliti oleh peneliti yaitu: 1. Sebagai gambaran tingkat kecemasan siswa di SMA PGRI IV Banjarmasin sebelum diberikan konseling behavioral 2. Sebagai gambaran tingkat kecemasan siswa di SMA PGRI IV Banjarmasin sesudah diberikan konseling behavioral 3. Sebagai gambaran konseling behavioral dalam mengatasi kecemasan siswa di SMA PGRI IV Banjarmasin D. Tujuan Penelitian Sesuai dengan latar belakang masalah dan rumusan masalah yang dikemukakan di atas, maka tujuan penelitian ini untuk mengetahui : 1. Untuk mengetahui tingkat kecemasan siswa di SMA PGRI IV Banjarmasin sebelum diberikan konseling behavioral 2. Untuk mengetahui tingkat kecemasan siswa di SMA PGRI IV Banjarmasin sesudah diberikan konseling behavioral 3. Untuk mengetahui konseling behavioral dalam mengatasi kecemasan siswa di SMA PGRI IV Banjarmasin E. Kegunaan Penelitian 1. Siswa Dengan dilakukanya penelitian ini berguna bagi siswa sebagai masukan agar lebih memahami tujuan dan fungsi dari layanan konseling behavior 2. Konselor Sebagai bahan masukan untuk konselor untuk memilih layanan yang mana sesuai dengan dengan kebutuhan siswa untuk menbantu mengentaskan masalah siswa
6

3.

Peneliti Sebagai untuk menambah pengetahuan dari hasil penelitian secara langsung masalah layanan konseling behavior.

4.

FKIP Unlam Sebagai bahan informasi data ilmiah untuk mengembangkan ilmu pengetahuan pada lembaga pendidikan serta menjadi bahan perbandingan untuk penelitian selanjutnya.

F. Definisi Operasional 1. Konseling Konseling merupakan suatu proses untuk membantu individu mengatasi hambatan-hambatan perkembangan dirinya, dan untuk mencapai

perkembangan optimal kemampuan pribadi yang dimilikinya, proses tersebut dapat terjadi setiap waktu. (Prayitno & Amti, E. 2006:100) 2. Behavior Therapy Belajar yang dimaksud disini adalah perubahan tingkah laku yang disebabkan bukan karena kematangan. Teori belajar yang dipakai dalam pendekatan ini sebagai aplikasi dari percobaan tingkah lakudalam laboratorium. (Pujosuwarno, S. 1997: 80) 3. Kecemasan adalah kondisi kejiwaan yang penuh dengan kekhawatiran dan ketakutan apa yang akan terjadi, baik berkaitan dengan permasalahan yang terbatas maupun hal-hal yang aneh. (Musfir. 2005: 512) 4. Siswa merupakan subyek yang dari penelitian yang dilakukan oleh peneliti diberikan konseling.

7

II. KAJIAN PUSTAKA A. Konseling Behavioral 1) Pengertian Konseling Behavioral Konselor behavioral membatasi perilaku sebagai fungsi interaksi antara pembawaan dengan lingkungannya. Perilaku yang dapat diamati merupakan suatu kepedulian dari para konselor sebagai kriteria pengukuran keberhasilan konseling. Menurut pandangan ini manusia bukanlah hasil dari dorongan tidak sadar seperti yang dikemukakan oleh Freud. Dalam konsep behavioral, perilaku manusia merupakan hasil belajar, sehingga dapat diubah dengan memanipulasi dan mengkreasi kondisikondisi belajar. Pada dasarnya, proses konseling merupakan suatu penetaan proses atau pengalaman belajar untuk membantu individu mengubah perilakunya agar dapat memecahkan masalahnya. (Surya, M. 2003: 25) Behaviorisme adalah suatu pandangan tingkah laku manusia, dalil dasarnya adalah bahwa tingkah laku itu tertib dan bahwa eksperimen yang dikendalikan dengan cermat akan menyikapkan hukum-hukum yang mengendalikan tingkah laku. Behaviorisme ditandai oleh sikap membatasi metode-metode dan prosedur-prosedur pada data yang dapat diamati. Pendekatan behavioristik tidak menguraikan asumsiasumsi filosofis tertentu tentang manusia secara langsung. Setiap orang dipandang memiliki kecendrungan-kecendrungan positif dan negative yang sama . manusia pada dasarnya dibentuk oleh lingkungan social budayanya. Segenap tingkah laku manusia itu dipelajari. Meskipun berkeyakinan bahwa segenap tingkah laku pada dasarnya merupakan hasil dari kekuatan-kekuatan lingkungan dan factor-faktor genetic, para behavioris memasukan pembuatan putusansebagai salah satu tingkah laku. (Corey, G. 2010: 195)

8

Teori behaviorisme pada umumnya lebih mengutamakan unsur fisik dari organisasi kepribadian. I.P Pavlop sebagai salah satu tokoh behaviorisme membuktikan melalui percobaan anjingnya yang terkenal bahwa perilaku dapat dikendalikan dengan memberi rangsangan tertentu melalui proses yang dinamakan conditioning (pembiasaan). Anjing yang sudah dikondisikan untuk mendengar bel terlebih dahulu sebelum mendapat makanan akan keluar air liurnya begitu mendengar bunyi bel, walaupun makanan belum tiba. Menurut Pavlop, antara manusia dan hewan pada dasarnya hanyalah terdiri dari jaringan-jaringan syaraf dan otot yang bereaksi secara tertentu jika diberikan rangsangan tertentu. Demikian pula dengan J.B Watson, tokoh behaviorisme lain yang mengutarakan bahwa kepribadian manusia dapat dibentuk melalui pemberian rangsangan tertentu melalui proses conditioning/proses pembiasaan dari lingkungan.

(Hutagalung, I. 2007:6). Dari pengertian konseling dan behaviorisme yang dipaparkan di atas kita dapat menarik kesimpulan bahwa yang dimaksud dengan konseling behavioral adalah sebuah proses konseling (bantuan) yang diberikan oleh konselor kepada klien dengan menggunakan pendekatan-pendekatan tingkah laku (behavioral), dalam hal pemecahan masalah-masalh yang dihadapi serta dalam penentuan arah kehidupan yang ingin dicapai oleh diri klien. Menurut Krumboltz & Thoresen konseling behavioral adalah suatu proses membantu orang untuk belajar memecahkan masalah interpersonal, emosional, dan keputusan tertentu. 2) Peran dan Fungsi Konselor Konselor dalam terapi behavioristic memegang peranan aktif dan direktif dalam pelaksanaan proses konseling. Dalam hal ini konselor harus mencari pemecahan masalah klien. Fungsi utama konselor adalah bertindak

9

sebagai guru, pengarah, penasehat, konsultan, pemberi dukungan, fasilitator, dan mendiagnosis tingkah laku maladatif klien dan mengubahnya menjadi tingkah laku adaptif. (Corey, 2009) Fungsi lain konsleor adalah sebagai model bagi kliennya. Bandura (Corey, 2009) mengatakan bahwa proses fundamental yang paling memungkinkan klien dapat mempelajari tingkah laku baru adalah melalui proses imitasi atau percontohan social. Konselor dijadikan model pribadi yang ingin ditiru oleh klien karena klien, cendrung memandang konselor orang yang patut untuk diteladani. Klien sering sekali meniru sikap, nilai, dan tingkah laku konselor. Untuk itulah seorang konselor diharapkan menyadari peranannya yang begitu penting dalam konseling sehingga tidak memunculkan perilaku yang tidak semestinya untuk ditiru. Krasner (dikutip dari Corey, 2009) mengatakan bahwa konselor berperan sebagai “mesin perkuatan” bagi kliennya. Konselor dalam prakteknya selalu memberikan penguatan positif atau negative untuk membentuk tingkah lakubaru klien. Hal ini didasarkan pada anggapan bahwa peran terapis dalam terapi behavioristik adalah memanipulasi dan mengendalikan konseling melalui pengetahuan dan keterampilan dalam menggunakan teknik-teknik terapi. Konselor memiliki kekuatan untuk memberikan pengaruh dan mengendalikan tingkah laku kliennya. Senada dengan yang diungkapkan oleh Kresner tersebut, Goodstein (dikutip dari Corey, 2009) juga mengungkapkan bahwa peran konselor adalah pemberi perkuatan. Konselor akan selalu menunjang perkembangan tingkah laku klien agar dapat diterima secara sosial. Minat, perhatian, menerima, dan memahami klien adalah bentuk penguatan yang paling berarti bagi klien. (Lubis, N, L. 2011:170-171)

10

3) Tujuan behavior therapy Tujuan dari aliran ini adalah membantu klien untuk mendapatkan tingkah laku baru. Behavior therapy dirumuskan sebagai sebagai aplikasi metode eksperimen terhadap masalah-malsalah tingkah laku itu diperoleh melalui hasil belajar yang keliru, dan karenanya harus dirubah melalui proses belajar, sehingga dapat lebih sesuai. Pendekaktan ini tidak banyak menggunakan bahasa verbal, tetapi langsung menggarap simpton yang tampak pada klien. Apabila klien mengeluh karena mengalami kecemasan, konselor tidak akan mencoba menelusuri sejarah kehidupan klien, tetapi akan menyusun langkah-langkah conditional untuk meringankan gejalagejala kecemasan tersebut. Pendekatan ini bertujuan menghilangkantingkah laku yang maladaptive dan membentuk tingkah laku baru. Eysenck melukiskan karakteristik behavior therapy sebagai berikut: a. Bahwa behavior therapy memandang simpton sebagai bukti adanya kekeliruan hasil belajar b. Memandang bahwa simpton-simpton tingkah laku itu ditentukan berdasarkan perbedaan individu yang terbentuk secara conditioning dan otonom, sesuai dengan lingkungan masing-masing. c. Menganggap penyembuhan gangguan nerotik itu sebagai pembentukan kebiasaan yang baru d. Menganggap bahwa pertalian pribadi tidaklah esensial bagi

penyembuhan gangguan nerotik, sekalipun untuk hal-hal tertentu kadang-kadang diperlukan. Dapatlah disimpulkan bahwa behavior therapy bertujuan

menghilangkan simpton-simpton yang yang maladaptive serta membentuk tingkah laku well adaptive. (Pujosuwarno, S. 1997: 81-82)

11

4) Proses konseling Menurut Krumboltz dan Thoresen (Shertzer & Stone, 1980, 190), konseling behavioural merupakan suatu proses membantu orang untuk membantu belajar memecahkan masalah interpersonal, emosional, dan keputusan tertentu. Penekanan istilah belajar dalam pengertian belajar ini adalah atas pertimbangan bahwa konselor membantu orang (klien) belajar atau merubah perilaku. Konselor berperan mengubah perilaku dalam proses belajar dengan menciptakan kondisi yang sedemikian rupa sehingga klien dapat mengubah perilakunya serta memecahkan masalahnya. Menurut Krumboltz, dalam konseling pemahaman itu diperlukan akan tetapi tidak mutlak karena yang penting adalah klien yang harus belajar untuk menyelesaikan kesulitanya dan pemahaman hanya diperlukan pada saat membentuk pengalaman belajar. Selanjutnya Krumboltz

mengemukakan manfaat konseptualisasi masalah klien sebagai masalah klien sebagai masalah belajar. Manfaat tersebut adalah: (1) teoritis dan riset yang didasarkan kepada bukti dan pemikiran sekarang tentang masalah belajar dapat menghasilkan masalah-masalah baru, (2) konseptualisasi konseling sebagai belajar, dapat mengintegrasikan konseling dengan pendidikan, (3) tujuan-tujuan dapat dibatasi dan dicapai, (4) perhatian dapat dipusatkan pada apa yang akan dilakukan untuk mengembangkan perilaku yang lebih adaptif, dan (5) klien akan merasa bertambah rasa tanggung jawabnya terhadap tindakannya karena mereka lebih menyadari akibatakibat dari tindakanya. Tujuan konseling menurut Krumboltz harus diperhatikan criteria berikut: (1) tujuan harus diinginkan oleh klien, (2) konselor harus berkeinginan untuk membantu klien mencapai tujuan, dan (3) tujuan harus mempunyai kemungkinan untuk dinilai pencapaiannya oleh klien. Tujuan konseling dikelompokkan dalam tiga kategori yaitu: memperbaiki perilaku
12

salah sesuai, belajar tentang proses pembuatan keputusan, dan pencegahan timbulnya masalah-masalah. Menurut Corey, (1986, 178) ada tiga fungsi tujuan dalam konseling behavioural yaitu (1) sebagai refleksi masalah klien dan dengan demikian sebagai arah bagi konseling, (2) sebagai dasar pemilihan dan penggunaan strategi konseling, (3) sebagai kerangka untuk menilai hasil konseling. Urutan pemilihan dan penetapan tujuan yang digambarkan oleh Cormier and Cormier (corey, 1986, 178) sebagai salah satu bentuk kerja sama antara konselor dengan klien, adalah sebagai berikut: a. Konselor menjelaskan maksud dan tujuan b. Klien mengkhususkan perubahan positif yang dikehendaki sebagai hasil konseling c. Klien dan konselor menetapkan tujuan yang telah ditetapkan apakah merupakan perubahan yang dimiliki oleh klien d. Bersama-sama menjajagi apakah tujuan-tujuan itu realistic e. Mereka mendiskusikan kemungkinan manfaat-manfaat tujuan f. Mereka mendiskusikan kemungkinan kerugian-kerugian tujuan g. Atas dasar informasi yang diperoleh tentang tujuan klien, konselor dan klien membuat salah satu keputusan berikut: untuk melanjutkan konseling, atau mempertimbangkan kembali tujuan akan mencari referral. Mengenai metode konseling , Krumboltz mengkategorikan menjadi empat pendekatan : (1) operant learning, (2) unitative learning, (3) connitive learning, dan (4) emotional learning. Dati pendekatan operant learning hal yang penting adalah penguatan (reinforment) yang dapat menghasilkan perilaku klien yang dikehendaki konselor yang hendaknya dapat memilih tindakanya agar dapat memberikan penguatan terhadap perilaku klien yang dikehendaki. Yang harus diperhatikan adalah saat yang tepat untuk memberikan penguatan baik dalam wawancara maupun diluar wawancara. Dalam penguatan ini ada empat hal yang harus diperhatikan yaitu: (1)
13

penguatan yang diterapkan hendaknya memiliki cukup kemungkinan untuk mendorong klien, (2) penguatan hendaknya dilaksanakan secara sistematis, (3) konselor harus mengetahui kapan dan bagaimana memberikan penguatan, dan (4) konselor harus dapat merancang perilaku yang memerlukan penguatan. Metode unitative learning atau social modeling diterapkan oleh konselor dengan merancang suatu perilaku adaptif yang dapat dijadikan model oleh klien. Model-model perilaku adaptif dapat dalam bentuk rekaman, pengajaran berprograman, video, film, arang atau biografi. Modelmodel yang dipilih hendaknya merupakan sautu subyek yang berprestise, kompeten, dapat diketahui, atraktif (menarik), dan berpengaruh. Semua akan berpengaruh kepada klien apabila memiliki kemiripan dengan klien. Metode kognitif learning atau pembelajaran kognitif merupakan metode yang berupa pengajaran secara verbal, kontrak antara konselor dengan klien, dan bermain peranan. Metode ini lebih banyak menekankan aspek perubahan kognitif klien dalam upaya membantu memecahkan masalahnya. Selanjutnya metode emotional learning atau pembelajaran emosional diterapkan pada individu yang mengalalmi suatu kecemasan.

Pelaksanaannya dilakukan dalam situasi rileks dengan menghadirkan rangsangan yang menimbulkan kecemasan bersama suatu rangsangan lain yang menyenangkan. Dengan cara itu maka kecemasan dapat berkurang dan akhirnya dapat dihilangkan Adapun tekhnik-tekhnik yang biasa digunakan dalam keempat pendekatan metode diatas adalah antara lain: desentiasi sistematis, metode latihan rileks, tekhnik-tekhnik penguatan, pembuatan model latihan rileks, tekhnik-tekhnik penguatan, pembuatan model restructuring kognitif,
14

perhentian pikiran, latihan ketegasan, latihan ketegasan sosia, program management diri, penguatan perilaku, latihan khusus, tekhnik-tekhnik terapi multimodal, tugas-tugas pekerjaan rumah. Penggunaan tekhnik-tekhnik oleh konselor behavioral tergantung kepada berbagai variable, antara lain: (1) kelebihan dan perilaku klien, (2) macam masalah klien yang memerlukan bantuan, (3) macam dan nilai penguatan yang tersedia dalam lingkungan klien, dan (4) orang lain yang mempunyai arti tertentu bagi kehidupan klien dan dapat membantu konselor dalam meningkatkan perubahan perilaku yang dikehendaki. (Surya M, 2003: 26-29) 5) Prosedur Pelaksanaan Konseling a. Langkah-Langkah Penelitian 1) Tahap pre-test Dalam tahap ini peneliti melakukan pengukuran dengan membagikan instrumen angket kepada siswa SMA X SMA PGRI IV Banjarmasin sebelum perlakuan. Setelah diteliti beberapa waktu atau satu hari, dan dapat selesai menentukan hasilnya siapa saja siswa-siswa yang mengalami kecemasan. b. Tahap-Tahap Konseling 1) Tahap Pendahuluan a) Tahap relaksasi 1) Menyarankan kepada siswa untuk ambil nafas dalam-dalam dan tahap selama 5 detik kemudian lepaskan dengan perlahan (lakukan dengan berulang selama 3-4 kali). Dan setelah itu dipersilahkan untuk bernafas seperti biasa. 2) Duduk dengan senyaman mungkin, atau sandarkan badan dengan serileks mungkin, sandarkan tangan ke dua paha atau kursi.

15

3) Gerakkan kepala anda, dan putar rotasi kedua arah yang saling berlawanan, anggukkan keatas dan kebawah sampai terasa enak leher. b) Pelaksanaan konseling 1) Pada pertemuan ini. Siswa datang keruang konseling untuk mengungkapkan masalah yang ada dibenaknya. 2) Konselor dengan bijak menerima siswa tersebut sebagai konseli yang sedang mengahadapi masalah. 3) Konseli menceritakan masalah yang sedang ia hadapi yaitu masalah kecemasan ketika sering kali ia berpidato, atau menjelaskan pertanyaan dari temannya pada waktu diskusi. 4) Konselor menerima semua yang diungkapkan konseli, dengan penuh empati. 5) Setelah konseli menceritakan masalah tentang kecemasannya dalam mengungkapkan verbal dimuka umum seperti berpidato dan mengungkapkan jawaban pertanyaan didepan temantemannya. 6) Konselor memberikan arahan dan bimbingan kepada konseli. Apabila rasa cemas timbul dalam diri kamu maka hendaknya kamu relaksasi untuk melawannya agar rasa cemas itu berkurang atau jika kamu kerasa takut gagal dalam berpidato maka hendaknya kamu untuk cobalah untuk menerimannya. (operant learning) 7) Misalnya “jika saya menjadi kamu, saya akan berusaha dirumah melatih diri didepan cermin, seakan-akan pantulan diri saya itu adalah semua orang, jadi saya berbicara dengan seleluasanya. Apa yang hendak saya katakan, saya ungkapkan tanpa ada rasa malu. Dan hal itu saya lakukan terus menerus sampai saya benar-

16

benar bisa dengan mahir mengeluarkan kata-kata, perasaan yang ada pada benak pikiran saya. (social modeling) 8) Atau saya (konselor) setelah itu membiasakan melatih berpidato dihadapan keluarga saya, pada adik saya, pada kakak saya dan anggota keluarga. Setelah beberapa minggu, kita bisa melatih berpidato, mengemukakan pendapat, memberi jawaban dimuka teman-teman atau dimuka umum. Dan itu terus saya lakukan sampai benar-benar hilang rasa gugup dan cemas yang seperti anda rasakan. (cognitif learning). 9) Atau juga pada saat kamu merasa cemas ketika berpidato didepan teman-teman dan didepan umum. Maka kamu saya beri kesempatan berpidato dihadapan saya. 10) Ketika konseli berpidato dihadapan konselor, timbulah rasa cemas tinggi pada diri konseli. Konselor memberi arahan kepada konseli “hendaknya ketika kamu cemas, kamu seharusnya melakukan pidato dengan disertai candaan atau lawakan agar rasa cemas itu dapat direduksi. (emotional learning). 11) Setelah konseli diberikan arahan, masukan dan bimbingan dengan penguasaan keterampilan yang dimiliki konselor, dan ketika itu konseli sudah merasa lebih baik dari kondisi sebelumnya, perasaannya yang ia anggap pengalaman itu selalu menghantuinya ketika ia tampil didepan umum baik berdiskusi maupun berpidato. Maka konseli sudah tertolong secara kondisi psikologisnya. Dan konselor bisa memberikan kesempatan kepada konseli untuk melanjutkan kegiatan ini jika konseli menemukan masalah lagi baik dalam masalah yang serupa maupun yang berbeda. 12) Konselor menutup kegiatan konseling.

17

B. Kecemasan 1) Pengertian Kecemasan Kecemasan adalah respon emosi tanpa objek yang spesifik secara subyektif dialami dan dikomunikasikan secara interpersonal. Kecemasan adalah kebingungan, kekhawatiran pada sesuatu yang akan terjadi dengan penyebab yang tidak jelas dan dihubungkan dengan perasaan tidak menentu dan tidak berdaya. Kecemasan tidak dapat dihindarkan dari kehidupan individu dalam memelihara keseimbangan.pengalaman rasa cemas seseorang tidak sama pada beberapa situasi dan hubungan interpersonal. (Suliswati & Papayo, T, A. Dkk. 2005:108-109) Nietzal berpendapat bahwa kecemasan berasal dari bahasa latin (anxius) dan dari bahasa jerman (anst), yaitu suatu kata yang digunakan untuk menggambarkan efek negative dan rangsangan fisiologi. Muchlas (1976) mendefinisikan istilah kecemasan sebagai sesuatu pengalaman subyektif mengenai ketegangan mental kesukaran dan tekanan yang menyertai konflik atau ancaman. Sementara Lazarus (1976) membedakan perasaan cemas menurut penyebabnya menjadi dua. a. State anxiety State anxiety adalah reaksi emosi sementara yang timbul pada situasi tertentu yang dirasakan sebagai ancaman, misalnya mengikuti tes, menjalani operasi , atau lainnya. Keadaan ini ditentukan oleh perasaan tegang yang subyektif. b. Trait anxiety Trait anxiety adalah disposisi untuk menjadi cemas dalam menghadapi mecapai cemas dalam menghadapi berbagai macam situasi (gambaran kepribadian). Ini merupakan ciri atau sifat yang cukup stabil yang mengarahkan seseorang atau menginterpretasikan suatu keadaan
18

menetap pada individu (bersifat bawaan) dan berhubungan dengan kepribadian yang demikian. Kecemasan adalah suatu keadaan tertentu (state anxiety), yaitu menghadapi situasi yang tidak pasti dan tidak menentu terhadap kemampuannya dalam menghadapi tes, berupa emosi yang kurang menyenangkan yang dialami oleh individu dan bukan kecemasan sebagai sifat yang melekat pada kepribadiannya. Berdasarkan beberapa pendapat diatas, dapat ditarik kesimpulan bahwa kecemasan merupakan pengalaman subyektif yang tidak

menyenangkan mengenai kekhawatiran atau ketegangan berupa perasaan cemas, tegang, dan emosi yang dialami oleh seseorang. (Ghufron, M, N & Risnawati S, R. 2010: 141-143). 2) Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Kecemasan Penyebab utama perilaku kecemasan ini adalah tidak adanya kesadaran diri dan kepercayaan diri karena sejarah terlihat pada kebiasaan cemas. Harga diri siswa ini rendah karena umpan balik negative sering didengar dari orang lain dewasa dan teman sebaya. (Khalsa, S,S. 2008:150) Adler dan Rodman (1991) menyatakan terdapat dua factor yang menyebabkan adanya kecemasan, yaitu pengalaman yang negative pada masa lalu dan pikiran yang tidak rasional. a. Pengalaman negative pada masa lalu Pengalaman ini merupakan hal yang tidak menyenangkan pada masa lalu mengenai peristiwa yang dapat terulang lagi pada masa mendatang, apabila individu tersebut menghadapi situasi atau kejadian yang sama dan juga tidak menyenangkan, misalnya perah gagal tes. Hal tersebut merupakan pengalaman umum yang menimbulkan kecemasan siswa dalam menghadapi tes.

19

b.

Pikiran yang tidak rasional Ellis dalam Adler dan Rodman (1991) memberi daftar kepercayaan atau keyakinan kecemasan sebagai contoh dari pikiran tidak rasional yang disebut buah kesempurnaan, persetujuan, dan generalisasi yang yidak tepat. 1) Kegagalan kataskopik Kegagalan kataskopik yaitu adanya asumsi dari siri individu bahwa akan terjadi sesuatu yang buruk pada dirinya. Individu mengalami kecemasan dan perasaan ketidakampuan serta tidak sanggup mengatasi permasalahannya. 2) Kesempurnaan Setiap individu mengingginkan kesempurnaan. Individu ini mengharapkan dirinya berperilaku sempurna dan tidak ada cacat. Ukuran kesempurnaan dijadikan target dan sumber inspirasi bagi individu tersebut. 3) Persetujuan Persetujuan adanya keyakinan yang salah didasarkan pada ide bahwa terdapat hal virtual yang tidak hanya diinginkan, tetapi juga untuk mencapai perstujuan dari sesama tean atau siswa. 4) Generalisasi yang tidak tepat Keadaan ini juga memberi istilah generalisasi yang berlebihan. Hal ini terjadi pada orang yang mempunyai sedikit pengalaman. Secara umum factor-faktor yang menyababkan timbulnya kecemasan

adalah factor internal dan factor eksternal. Factor internal meliputi meliputi tingkat religiusitas yang rendah, rasa pesimis, takut gagal, pengalaman negative masa lalu, dan fikiran-fikiran tidak rasional sementara eksternal seperti kurangnya dukungan social. (Ghufron, M, N & Risnawati S, R. 2010: 145-147).

20

Sesungguhnya manusia tidak dilahirkan dengan penuh ketakutan ataupun dengan kecemasan. Sesungguhnya ketakutan dan kecemasan itu hadir karena adanya emosi yang berlebih. Selain itu, keduanya pun mampu hadir karena lingkungan yang menyertainya, baik lingkungan keluarga, sekolah maupun pekerjaan Dengan demikian, bias bias bahwa penyebab hadirnya kecemasan antara lain sebagai berikut. 1) Rumah yang penuh pertengkaran ataupun salah pengertian atau penuh dengan kesalah pahaman serta adanya ketidakpedulian orang tua terhadap anak-anaknya 2) Lingkungan yang memfokuskan pada persaingan memperebutkan materi ataupun materi ataupun pertengkaran demi mempertahankan hidup dan juga yang menumbuhkan ambisi manusia hingga mampu mengalahkan akhlak dan hati nuraninya. (Musfir, 2005: 511) 3) Macam-Macam Kecemasan Dorongan untuk pemuasan kebutuhan sebagian besar menguasai dinamika kepribadian individu. Akan tetapi untuk memenuhi kebutuhan tersebut tidak selamanya kesampaian. Sebab individu sering menghadapi rintangan atau hal yang tak menyenangkan yang dating dari lingkungan. Sehingga kemungkinan pemenuhan kebutuhan tak terjadi. Hal itu menimbulkan kecemasan. Freud mengemukakan tiga macam kecemasan yaitu: a. Kecemasan realistis, yaitu takut akan bahaya yang dating dari luar; cemas atau takut jenis ini bersumber dari ego. b. Kecemasan neurotis, yakni kecemasan yang bersumber dari id, kalaukalau insting tidak dapat dikendalikan sehingga menyebabkan orang berbuat sesuatu yang dapat dihukum. c. Kecemasan moral yang bersumber pada sumber ego. Kecemasan ini dinamakan juga kecemasan kata hati. Kecemasan ini disebabkan oleh
21

pertentangan moral yang sudah baik dengan perbuatan-perbuatan yang mungkin menentang norma-norma moral itu. Willis, S, S. 2004: 59). 4) Tingkat kecemasan a. Kecemasan ringan Dihubungkan dengan ketegangan yang dialami sehari-hari. Individu masih waspada serta lapang persepsinya meluas, menajamkan indra. Dapat memotivasi individu untuk belajar dan mampu

memecahkan masalah secara efektif dan menghasilkan pertumbuhan dan kreativitas. Contohnya: 1) Seseorang yang menghadapi ujian akhir 2) Pasangan dewasa yang akan memasuki jenjang pernikahan. 3) Individu yang akan melanjutkan pendidikan kejenjang yang lebih tinggi 4) Individu yang tiba-tiba dikejar anjing menggonggong. b. Kecemasan sedang Individu terfokus hanya pada pikiran yang menjadi perhatiannya, terjadi penyempitan lapangan persepsi, masih dapat melakukan sesuatu dengan arahan orang lain. Contohnya: 1) Pasangan suami istri yang menghadapi kelahiran bayi pertama dengan resiko tinggi 2) Keluarga yang menghadapi perpecahan (berantakan) 3) Individu yang mengalamikonflik dalam pekerjaan c. Kecemasan berat Lapangan persepsi individu sangat sempit. Pusat perhatiannya pada detil yang kecil (spesifik) dan tidak dapat berpikir tentang hal-hal yang lain. Seluruh perilaku dimaksudkan untuk mengurangi kecemasan dan perlu banyak perintah/arahan untuk terfokus kepada area lain. Contohnya

22

1) Individu yang mengalami kehilangan harta benda dan orang yang dicintai karena bencana alam 2) Individu dalam penyandraan. (Suliswati & Papayo, T, A. Dkk. 2005:109-110) 5) Aspek-Aspek Kecemasan Deffenbacher dan Hezeleus dalam register (1991) mengemukakan bahwa sumber penyebab kecemasan, meliputi hal-hal dibawah ini: a. Kekhawatiran (worry) Kekhawatiran (worry) merupakan pikiran negative tentang dirinya sendiri, seperti perasaan negative behwa ia lebih jelek dibandingkan dengan teman-temannya. b. Emossionalitas (imossionality) Emossionalitas (imossionality) sebagai reaksi diri terhadap rangsangan saraf otonom, seperti jantung berdebar-debar, keringat dingin dan tegang. c. Gangguan dan hambatan dalam menyelesaikan tugas (task generated interference) Gangguan dan hambatan dalam menyelesaikan tugas merupakan kecendrungan yang dialami seseorang yang selalu tertekan karena pemikiran yang rasional terhadap tugas. (Ghufron, M. Nur & Risnawati S, Rini. 2010: 143-144). Speilberger, Liebert, dan Morris dalam (Elliot, 1999): Jeslid dalam Hunsley (1985): Mendler dan Saroson dalam Hockey (1983): Gonzales, Tayler. Dan Anton dalam Frietman (1997) telah engadakan percobaan konseptual untuk mengukur kecemasan yang dialami individu dan kecemasan tersebut didefinisikan sebagai konsep yang terdiri dari dua dimensi utama, yaitu kekhawatiran dan emosionalitas. Dimensi emosi merujuk pada reaksi fisiologis dan system saraf otonomik yang timbul akibat situasi atau objek tertentu. Juga merupakan
23

perasaan yang tidak menyenangkan dan reaksi emosi terhadap hal buruk yang dirasakan yang mungkin terjadi, seperti ketegangan bertambah, jantung berdebar keras, tubuh berkeringat, dan badan gemetar psaat mengerjakan sesuatu. Kekhawatiran merupakan aspek kognitif dari kecemasan yang dialami berupa pikiran negative tentang diri dan lingkunganyadan perasaan negative kemungkinan kegagalan serta konsekuensinya seperti tidak adanya harapan mendapat situasi sesuai yang diharapkan, kritis terhadap diri sendiri, menyerah terhadap situasi yang ada, dan merasa khawatir berlebihan tentang kemungkinan apa yang dilakukan. Shah (2000) membagi kecemasan menjadi tiga koponen, yaitu: a. Komponen fisik, seperti pusing, sakit perut, tangan berkeringat, perut mual, mulut kering, grogi dan lain-lain. b. Emosional seperti panik dan takut c. Mental atau kognitif, seperti gangguan perhatian dan memori, kekhawatiran, ketidakteraturan dalam berfikir, dan bingung. Selain itu, ada tiga komponen yang ada pada kecemasan menghadapi tes, yaitu kekhawatiran (worry), emosionalitas

(imosionality), serta gangguan dan hambatan dalam menyelesaikan tugas (task generated). (Ghufron M. Nur & Risnawati S, Rini. 2010: 143-144). 6) Deskripsi kecemasan Kecemasan adalah kondisi kejiwaan yang penuh dengan

kekhawatiran dan ketakutan apa yang akan terjadi, baik berkaitan dengan permasalahan yang terbatas maupun hal-hal yang aneh. Emosi seperti sedih dan sakit umumnya akan hilang dengan hilangnya penyebab

kemunculannya, namun tidak dengan kecemasan. Kecemasan bersifat akut dan inilah permasalahan yang sedang banyak dihadapi pada masa ini.

24

Deskripsi umum akan kecemasan yaitu “perasaan tertekan dan tidak tenang serta berfikiran kacau dengan disertai banyak penyesalan”. Hal ini sangat berpengaruh pada tubuh hingga tubuh dirasa menggigil, menimbulkan banyak keringat, jantung berdegub cepat, lambung terasa mual, tubuh terasa mual, tubuh terasa lemas,kemampuan berproduktivitas berkurang hingga banyak manusia melariikan diri kealam imajinasinya sebagai bentuk terapi sementara. Kecemasan ini pada awalnya hanyalah bisikan akan kekhawatiran. Apabila kecemasan ini makin lama dan menguat, maka akan menimbulkan banyak penyakit kejiwaan dan juga penyakit tubuh, seperti halnya iritasi lambung, turunya tekanan darah, kencing manis, alergi kulit, dan penyakit asma. Terapi modern akan kecemasan ini dimulai dari mengenal penyebab dibalik hadirnya kecemasan dan langsung focus kepada penyebab tersebut hingga kemungkinan akan didapati penyebab-penyabab yang mengarah pada trauma masa kanak-kanak. Mengenal penyebab ini bias dilakukan dengan cara mengamati, mengenal jati diri, merenung, menganalisis diri lebih jauh ataupun dengan terapi social, rehat dan juga terapi kedokteran dan juga obatobatan penenang. Selain itu mulai dikenal dengan terapi “profesi” atau dengan membuat seseorang yang dilanda kecemasan tersebut sibuk dengan suatu pekerjaan hingga ia terlupa akan permasalahan dan kecemasan yang sedang dihadapinya. Selain itu juga terkenal terapi lain dalam menggulangi kecemasan, yaitu terapi hipnotis. Terapi ini terkadang berhasil disatu kondisi, namun terkadang, namun terkadang pula gagal diterapkan dalam kondisi lainnya. Sehingga, permasalahan yang ada justru masih ada dan terkadang malah lebih meluas dan meningkat dari sebelumnya. Terapi yang banyak ditawarkan oleh dunia kedokteran dan dunia psikologi modern umumnya hanyalah terapi pada permukaannya saja dan
25

bukan dari akarnya. Dale Carneige dalam bukunya, mengatakan beberapa hal berikut. 1) Janganlah menyeberangi jembatan sebelum berhasil melewatinya atau janganlah merasa cemas akan sesuatu sebelum sesuatu itu terjadi. 2) Jangan menanggisi susu yang tumpah atau sesuatu yang sudah berlalu biarlah berlalu 3) Jangan membeli peluit dengan harga lebih banyak dari normalnya atau jangan mengkonsentrasikan pada sesuatu lebih dari porsi yang dibutuhkanya. 4) Tutuplah pintu masa lalu dan masa yang akan datang, atau jalanilah hidupmu dihari ini. Ia pun menggambarkan dalam bukunya akan gambaran

kehidupandimana manusia hidup dengan banyak keraguan akibat kecemasan mereka yang berlebihan disaat manusia harusnya hidup dalam keadaan bahagia hingga terbenamnya matahari, dan inilah sebenarnya diharapkan dari suatu kehidupan. Dengan terapi psikologi tersebut, umumnya kecemasan itu masih ada seseorang terkadang merasa sendiri didunia ini hingga menimbulkan ketegangan dalam keluarga serta lupa untuk berinteraksi dengan Tuhannya. Dan ia pun seolah-olah takut akan masa depanya yang suram. Kajiankedokteran dan psikologi modern tidak menawarkan kepada manusia satu solusi yang menyeluruh atas permasalahanya yang ada, namun sekedar menawarkan penyembuhan atas penyakit dengan penyebabnya yang tampak hingga terlupa akan permasalahannya. Dari sinilah mengapa kecemasan selalu lalu menjadi penyakit pada masa ini dan bahkan pada setiap masa dalam kehidupan manusia kecuali orang-orang yang mendapatkan rahmat dari Tuhannya. (Musfir, 2005: 512-513) Kecemasan memiliki karakteristtik berupa munculnya perasaan takut dan kehati-hatian atau kewaspadaan
26

yang tidak jelas

dan

tidak

menyenangkan (Davison & Neale, 2001) kecemasan sering kali disertai dengan gejala fisik seperti sakit kepala, jantung berdebar cepat, dada terasa sesak, sakit perut, atau tidak tenang dan tidak dapat duduk diam, dll. Gejalagejala kecemasan yang muncul padamasing-masing orang. Kaplan, Sadock, & Grebb (1994) menyebutkan bahwa “takut” dan”cemas” merupakan dua emosi yang berfungsi sevbagai tanda suatu adanya bahaya, rasa takut muncul jika terdapat ancaman yang jelas atau nyata, berasal dari lingkungan, dan tidak menimbulkan konflik dari individu. Sedangkan kecemasan muncul jika bahaya muncul dari dalam diri, tidak jelas, atau menyebabkan konflik bagi individu. (Fausiah, F & Widuri, J. 2008:74) 7) Dinamika Kecemasan Individu yang mengalami kecemasan dipengaruhi oleh beberapa hal , diantaranya karena adanya pengalaman negatif perilaku yang telah dilakukan, seperti kekhawatiran akan adanya kegagalan. Merasa frustasi dalam situasi tertentu dan ketidakpastian melakukan sesuatu. Dinamika kecemasan, ditinjau dari teori psikoanalisis dapat disebabkan oleh adanya tekanan buruk perilaku masa lalu serta adanya gangguan mental. Ditinjau dari teori kognitif, kecemasan terjadi karena adanya evaluasi diri yang negatif. Perasaan negatif tentang kemampuan yang dimilikinnya dan orientasi diri yang negatif. Berdasarkan pandangan teori humanistic, maka kecemasan merupakan kekhawatiran tentang masa depan, yaitu khawatir pada apa yang akan dilakukan Jadi dapat diketahui bahwa kecemasan dipengaruhi oleh beberapa hal diantaranya kekhawatiran akan kegagalan, frustasi pada hasil tindakan yang lalu, evaluasi diri yang negatif, perasaan diri yang negatif tentang kemampuan yang dimilikinya, dan orientasi diri yang negatif. (Ghufron, M, N & Risnawati S, R. 2010: 144-145). 8) Gangguan Kecemasan Ada beberapa macam gangguan kecemasan, meliputi:
27

a. Gangguan panik Frekuensi pasien dalam gangguan panic mengalami serangan panic adalah bervariasi dari serangan multiple dari satu hari sampai

hanyabeberapa serangan dalam satu tahun, dari gangguan panic sering disertai dengan argofobia yaitu ketakutan berada sendiri ditempat-tempat public, contohnya disupermarket dan lain sebagainya. Adapun orang yang pertama kali menyamakan gangguan panic dengan gangguan argofobia adalah freud, istilah agrofobia adalah telah diajukan pada tahun 1871 untuk kondisi dimana pasien merasa takut berada ditempat public tanpa disertai teman atau saudara. Kata ini didapatkan dari bahasa esir yaitu agora dan phobos yang berarti ketakutan akan tempat penjualan Kriteria diasnostik untuk gangguan panic adalah 1) Palpitasi, jantung berdebar kuat atau kecepatan jantung bertambah cepat 2) Berkeringat 3) Gemetar atau bergoncang 4) Rasa nafas sesak atau tertahan 5) Perasaan tercekik 6) Nyeri dada atau perasaan tidak nyaman 7) Mual atau gangguan perut 8) Perasaan pusing, bergoyang atau melayang 9) Menggigil atau perasaan panas dan lain sebagainya b. Fobia spesifik dan fobia social Fobia spesifik adalah lebig sering dibandingkan fobia social, fobia spesifik adalah gangguan mental yang paling sering dialami oleh wanita dan nomor dua terserang pada laki-laki. Hanya setelah gangguan berhubungan dengan zat prevensi enem bulan spesifik adalah kira-kira 5-10 per 100 orang. Objek dan situasi. Objek dan situasi yang ditakuti oleh fobia spesifik adalah binatang, badai, ketinggian, penyakit, cedera dan kematian
28

Adalah merupakan suatu gangguan defresif berat dan gangguan skizoit,menghindari situasi social merupakan gejala defresi, terapan wawancara psikiatrik dengan pasien memungkinkan berbagai kumpulan gejala depresi. Adapun kriteria dari gangguan fobia social ini adalah: 1) Rasa takut yang jelas dan terlihat pada saat bertemu dengan orang banyak atau bertemu dengan orang yang tidak dikenal 2) Pemaparan dengan situasi social yang ditakuti hamper selalu mencetuskan kecemasan 3) Orang menyadari adanya rasa takut yang berlebihan dan tidak beralasan. c. Gangguan obsesif kompulsif Gangguan obsesif kompulsif merupakan suatu gangguan yang menyebabkan ketidak berdayaan, karena obsesi dapat menghabiskan waktu dan dapat mengganggu fungsi pekerjaan, kativitas social yang biasanya atau hubungan dengan teman dan anggota keluarga d. Gangguan stress pasca traumatic dan gangguan stress akut Menurut definisinya stressor adalah factor penyebab utama dalam pengembangan gangguan stress pasca traumatic setelah peristiwa traumatik e. Gangguan kecemasan umum Gangguan kecemasan umum merupakan suatu kondisi yang sering ditemukan oleh setiap orang adapun penyebab gangguan ini sama sekali tidak diketahui Terdapat dua bidang pemikiran utama tentang factor psikososial yang menyebabkan gangguan kecemasan umum adalah bidang kognitif perilaku dan bidang psikoanalitik f. Gangguan somatoform Gangguan somatoform adalah sekelompok gangguan yang memiliki gejala fisik (contoh: nyeri, mual dan pusing) dimana tidak ditemukan gejala medis yang tidak adekuat. Gejala dan keluhan somatofom adalah cukup
29

serius untuk menyebabkan penderitaan emosional yang bermakna pada pasien atau gangguan pada kemampuan pasien untuk berfungsi dalam peran social atau pekerjaannya Diagnostic and statistical manual of mental disorder edisi keempat (DSM-IV) mempertahankan sebagian besar diasnostik yang dituliskan didalam edisi ketiga yang telah direfisi terdapat lima gangguan somatoform spesifik diantaranya 1) Gangguan somatif ditandai dengan banyaknya keluhan fisik yang mengenai banyaknya system organ 2) Gangguan yang ditandai dengan oleh satu atau dau keluhan neurologis 3) Hipokondiriasis ditandai oleh focus gejala yang lebih ringan dari pada kepercayaan pasien bahwa dia menderita penyakit tertentu 4) Gangguan dismorfik tubuh ditandai oleh kepercayaan palsu atau persepsi yang berlebihan bahwa suatu bagian tubuh mengalami cacat 5) Gangguan nyari yang ditandai oleh gejala nyeri yang semata-mata berhubungan dengan factor psikologis atau secara bermakna dieksaserbasioleh factor psikologis. (Ardani, T, A. 2011: 16-18)

30

III. Kerangka Berpikir dan Hipotesis A. Kerangka berpikir

Kecemasan siswa meliputi pengalaman subyektifyang tidak menyenanangkan

Kekhawatiran pada sesuatu yang akan terjadi dengan penyebab yang tidak jelas, perasaan tidak menentu dan tidak berdaya. (Sukiswati & Papayo, T, A. Dkk. 2005:108) Kecemasan siswa meliputi perut mual, gugup, berkeringat, gemetar, sulit tidur dll

Siswa dapat mengendalikan diri dan selalu berpikir positif dalam menjalankan tugas-tugas yang ada

Pendekatan Behavioral: 1. Operant Conditioning 2. Social modeling 3. Cognitive learning 4. Emotional learning

31

B. Hipotesis Hipotesa arti kata hipotesa berasal dari dua penggalan kata, yaitu “hipo” artinya “dibawah” dan “Thesa” artinya “kebenaran” atau “pendapat”. Selanjutnya penulisanya menjadi hipotesa menurut ejaan bbahasa Indonesia yang diperbaharui. Menurut maknanya dalam suatu penelitian hipotesa merupakan “jawaban sementara” atau kesimpulan yang diambil untuk menjawab permasalahan yang diajukan dalam penelitian. (Mardalis. 2004: 48). Hipotesis penelitian (Ha) menyatakan adanya pengaruh antara variabel X dengan variabel Y, sedangkan hipotesis nol (Ho) menyatakan tidak ada pengaruh antara veriabel X dan variabel Y, sehingga dapat disimpulkan bahwa hipotesis penelitian (Ha) adanya pengaruh tingkat kecemasan siswa sebelum diberikan konseling behavior dan sesudah diberikan konseling behavior. Dan hipotesis nol (Ho) menyatakan tidak ada pengaruh kecemasan siswa sebelum dan sesudah diberikan konseling behavioral. C. Penelitian Relevan Dalam penelitian yang akan dilakukan oleh peneliti maka penelitian akan membandingkan penelitian yang telah diadakan oleh pihak lain. Trismiati yang berjudul “Perbedaan Tingkat Kecemasan Antara Pria dan Wanita Akseptor Kontrasepsi Mantap Di RSUP Dr. Sardjito” Kesimpulan Hipotesis pertama yang diuji menggunakan Anava Antar A menunjukkan ada perbedaan tingkat kecemasan yang signifikan antara wanita akseptor kontrasepsi mantap dan pria akseptor kontrasepsi mantap dengan F Antar-A = 5,328 dan p = 0,023. Mean wanita (A1) 99,792 lebih besar dari mean pria (A2) 92,676 berarti wanita lebih tinggi tingkat kecemasannya daripada pria. Hipotesis kedua diuji dengan menggunakan Anava Antar-B, menunjukkan tidak ada perbedaan tingkat kecemasan antara akseptor kontrasepsi mantap yang menerima konseling kontrasepsi mantap dan yang tidak, dengan F antar B = 0,646 dan harga p = 0,646. Hipotesis ketiga diuji dengan Anava Antar-C
32

dengan hasil F Antar-C = 1,346 dan harga p = 0,268 berarti tidak ada perbedaan tingkat kecemasan antara lama pemakaian, kurang dari 1 tahun, antara 1-2 tahun, dan lebih dari 2 tahun. Marwiati yang berjudul “Hubungan Tingkat Kecemasan Dengan Strategi Koping Pada Keluarga Dengan Anggota Keluarga Yang Dirawat Dengan Penyakit Jantung Di Rsud Ambarawa 2005”. Berdasarkan hasil analisa dan pembahasan, maka dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut : 1. Secara umum gambaran tingkat kecemasan keluarga tentang penyakit jantung adalah sedang yaitu 57,6%, tingkat kecemaan ringan 21,2% dan tingkat kecemasan berat 21,2%. 2. Gambaran strategi koping keluarga terhadap penyakit jantung sudah cukup baik yang mana 72,7% menggunakan koping adaptif dan 27,3% masih menggunakan koping maladaptif. 3. Ada hubungan tingkat kecemasan keluarga tentang penyakit jantung dengan strategi koping keluarga dengan anggota keluarganya yang menderita penyakit jantung dan dirawat di rumah sakit (p<0,001). Anurmalasari, R. Karyono, Dewi K, S. yang berjudul “Hubungan Antara Pemahaman Tentang HIV/AIDS Dengan Kecemasan Tertular hiv/aids Pada Wps (wanita penjaja seks) Langsung di Cilacap” mendapat kesimpulan: 1. Terdapat hubungan yang signifikan p = 0,000 (p<0,05) antara Pemahaman Tentang HIV/AIDS dengan Kecemasan Tertular HIV/AIDS pada WPS Langsung di Cilacap, dengan rxy = 0,515 yang artinya ada hubungan positif antara Pemahaman Tentang HIV/AIDS dengan Kecemasan Tertular HIV/AIDS, sehingga hipotesis penelitian yang menyatakan ada hubungan positif antara Pemahaman Tentang HIV/AIDS dengan Kecemasan Tertular HIV/AIDS diterima.

33

2. Sumbangan efektif Pemahaman Tentang HIV/AIDS sebesar 26,5% menunjukkan bahwa Pemahaman Tentang HIV/AIDS berpengaruh terhadap Kecemasan Tertular HIV/AIDS subjek sebesar 26,5%. Sisanya sebesar 73,5% ditentukan oleh faktor-faktor lain yang tidak diungkap dalam penelitian ini. Setiawan, Tanjung, M Sukri. Yang berjudul “Efek Komunikasi Terapeutik Terhadap Tingkat Kecemasan Pasien Pre Operasi D Rumah Sakit Haji Adam Malik Medan”. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulan bahwa penelitian yang dilakukan terhadap 7 responden pasien pre operasi di ruang Melati Rumah Sakit H. Adam Malik Medan, menggambarkan 57,1% tingkat kecemasannya ringan dan 42,9% tingkat kecemasannya. Hasil statistik diperoleh p = 0,014, n = 7; α = 0.05. Data ini menunjukkan bahwa variable komunikasi terapeutik memiliki pengaruh signifikan terhadap variable tingkat kecemasan pasien pre operasi.

IV. Metode Penelitian A. Rancangan Penelitian Rancangan penelitian adalah terjemahan research design, artinya rencana atau prosedur yang akan dilalui dalam mengumpulkan informasi untuk menjawab permasalahan penelitian. Rancangan penelitian berisi gambaran tentang; kapan penelitian dilakukan, dari mana data diperoleh, dalam kondisi bagaimana subjek yang diteliti, bagaimana mengolah data dan melaporkannya. . (Hadeli. 2006:59`) Penelitian ini menggunakan rangcangan pre-eksperimental desain Intact-Group Comparison, yaitu pada desain ini terdapat satu kelompok untuk eksperimen (yang diberi perlakuan) dan setengah untuk kelompok control (yang tidak diberi perlakuan). Paradigma penelitiannya dapat digambarkan sebagai berikut.

34

keterangan:

X

:

hasil pengukuran setengah kelompok yang diberi perlakuan

:

hasil pengukuran setengah kelompok yang tidak diberi perlakuan (Sugiyono. 2011:111)

B. Variable Penelitian Variable penelitian adalah segala sesuatu yang berbentuk apa saja yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari sehingga diperoleh informasi tentang hal tersebut, kemudian ditarik kesimpulanya. Secara teoritis variable dapat didefinisikan sebagai atribut seseorang, atau obyek, yang mempunyai variasi antara satu orang dengan yang lain atau satu obyek dengan obyek yang lain (Hatch dan Farhady, 1981). Variable juga dapat merupakan atribut dari bidang keilmuwan atau kegiatan tertentu. Tinggi, berat badan, sikap, motivasi, kepemimpinan, disiplin kerja, merupakan atribut-atribut dari setiap orang. Berat, ukuran, bentuk, dan warna merupakan atribut-atribut dari objek. Struktur organisasi, model pendelegasian, kepemimpinan, kepengawasan, koordinasi, prosedur, mekanisme kerja, deskripsi pekerjaan, kebijakan, adalah merupakan contoh variable dalam kegiatan administrasi pendidikan. Dinamakan variable karena ada variasinya. Misalnya berat badan dapat dikatakan variable, karena berat badan sekelompok orang itu bervariasi antara orang satu dengan yang lain. Jadi kalau peneliti akan memilih variable penelitian, baik yang dimiliki orang obyek, maupun bidang kegiatan dan keilmuan tertentu, maka harus ada variasinya. Variable yang tidak dan variasinya, maka penelitian harus didasarkan pada sekelompok sumber data atau obyek yang bervariasi. (Sugiyono, 2011: 60).

35

Variable bebas (X)

: konseling behavioral

Variable terikat (Y) : kecemasan C. Tempat, Subyek dan Objek Penelitian 1. Waktu Penelitian Pada penelitian ini dilaksanakan selama 4 bulan, mulai dari bulan Februari sampai dengan bulan Mei 2012. 2. Tempat Penelitian Tempat penelitian di SMA PGRI IV Banjarmasin, Alasan memilih sekolah ini adalah karena disekolah ini terdapat siswa yang mengalami kecemasan yang dialami siswa pada saat mengikuti belajar mengajar disekolah yang dapat dilihat secara kasat mata yang ditunjukan dari perasaan gugup, khawatir dll. 3. Subyek Penelitian Subyek penelitian ini adalah siswa-siswi SMA PGRI IV Banjarmasin 2012/2013. 4. Objek Penelitian Objek penelitian ini adalah apa yang menjadi titik perhatian dalam penelitian. Yang menjadi objek dalam penelitian ini adalah kecemasan siswa di PGRI IV Banjarmasin. D. Jenis Dan Sumber Data 1. Jenis Data a. Data Primer Data primer merupakan data yang dikumpulkan langsung dari individu-individu yang diselidiki. Dalam penelitian ini data primernya adalah data yang diperoleh dari hasil angket siswa-siswi di SMA PGRI IV Banjarmasin.

36

b. Data Sekunder Data sekunder merupakan data penunjang yang menyangkut mengenai subjek yang diteliti melalui dokumen-dokumen yang diperoleh oleh SMA PGRI IV Banjarmasin. 2. Sumber Data Sumber data adalah subjek dari mana data itu. Sumber data dalam penelitian ini, yaitu: a. Responden, yaitu siswa-siswi di SMA PGRI IV Banjarmasin. b. Dukomen, yaitu data-data jumlah kelas dan jumlah populasi siswasiswi SMA PGRI IV Banjarmasin. E. Teknik Pengumpulan Data 1. Populasi Penelitian Populasi yaitu keseluruhan sasaran yang seharusnya diteliti dan pada populasi itu hasil penelitian diberlakukan. Populasi adalah tempat terjadinya masalah yang kita selidiki. (Kasiram, M. 2010: 256) Alasan peneliti dalam melakukan penelitian dikelas X, karena siswa yang baru memasuki sekolah tersebut siswanya juga baru beradaptasi dengan gaya belajar yang diterapkan sekolah tersebut sehingga tidak jarang ada siswa yang masih belum bisa beradaptasi dengan pembelajaran yang diterapkan oleh sekolah sehingga akan menimbulkan kecemasan. Tabel 1 Populasi Penelitian No 1 2 3 Kelas X1 X2 X3 jumlah Jumlah Siswa 35 37 36 108

37

Berikut ini kriteria inklusi yang dijadikan sampel penelitian: a. Kelas X1, X2, X3. Peneliti mengumpulkan data dari konselor sekolah mengenai kecemasan siswa. b. Kelas X akan dilakukan tingkat kecemasan dengan menggunakan angket kecemasan. c. Setelah diperoleh mengenai hasil tingkat kecemasan menunjukan siswa yang mendapatkan tingkat kecemasan sangat tinggi d. Sampel yang diambil hanya siswa yang memiliki tingkat kecemasan sangat tinggi yaitu 10 orang. e. Setelah sampel diperoleh kemudian dilakukan wawancara dengan sampel tersebut. 2. Sampel Penelitian Sampel adalah bagian dari populasi yang akan diteliti secara mendalam. Sampel diambil bila kita merasa tidak mampu meneliti seluruh populasi. Syarat utama sampel ialah harus mewakili populasi. Oleh karena itu, semua ciri-ciri populasi harus diwakili dalam sampel. (Kasiram, M. 2010: 258) Alasan kenapa peneliti melakukan penelitian dikelas I, karena siswa yang baru memasuki sekolah tersebut siswanya juga baru beradaptasi dengan gaya belajar yang diterapkan sekolah tersebut sehingga tidak jarang ada siswa yang masih belum bisa beradaptasi dengan pembelajaran yang diterapkan oleh sekolah sehingga akan menimbulkan kecemasan.

38

Sampel dalam penelitian adalah siswa-siswi di SMA PGRI IV Banjarmasin Tabel 2 Sampel Penelitian No 1 2 3 Kelas X1 X2 X3 jumlah sampel 3 3 4 10

Dalam tahap pertama ini peneliti mengambil data dengan menyebarkan angket kecamasan terlebih dahulu kepala populasi dengan ini akan diperoleh sampel yang mana sampel yang diambil adalah siswa yang mengalami kecemasan tingkat berat sehingga siswa akan dibagi dibagi menjadi dua kelompok, satu kelompok diberikan perlakuan (treatment) dan satu kelompoknya lagi tidak diberi perlakuan (kelompok control). Dalam teknik pengambilan sampling yang peneliti pilih adalah purposive sampling dalam hal ini pemilihan sampel berdasarkan pada karakteristik tertentu yang dianggap mempunyai sangkut paut dengan karakteristik populasi yang sudah diketahui sebelumnya. (Umar, H. 2007: 92). 3. Pelaksanaan penelitian a. Tahap pre-test Dalam tahap ini peneliti melakukan pengukuran dengan membagikan skala kecemasan kepada siswa kelas X sebelum perlakuan. b. Tahap eksperimen a) Tahap relaksasi

39

1) Menyarankan kepada siswa untuk ambil nafas dalam-dalam dan tahap selama 5 detik kemudian lepaskan dengan perlahan (lakukan dengan berulang selama 3-4 kali). Dan setelah itu dipersilahkan untuk bernafas seperti biasa. 2) Duduk dengan senyaman mungkin, atau sandarkan badan dengan se-rileks mungkin, sandarkan tangan ke dua paha atau kursi. 3) Gerakkan kepala anda, dan putar rotasi kedua arah yang saling berlawanan, anggukkan keatas dan kebawah sampai terasa enak leher. b) Pelaksanaan konseling 1) Pada pertemuan ini. Siswa datang keruang konselng untuk mengungkapkan masalah yang ada dibenaknya. 2) Konselor dengan bijak menerima siswa tersebut sebagai konseli yang sedang mengahadapi masalah. 3) Konseli menceritakan masalah yang sedang ia hadapi yaitu masalah kecemasan ketika sering kali ia berpidato, atau menjelaskan pertanyaan dari temannya pada waktu diskusi. 4) Konselor menerima semua yang diungkapkan konseli, dengan penuh empati. 5) Setelah konseli menceritakan masalah tentang kecemasannya dalam mengungkapkan verbal dimuka umum seperti berpidato dan mengungkapkan jawaban pertanyaan didepan temantemannya. 6) Konselor memberikan arahan dan bimbingan kepada konseli. Apabila rasa cemas timbul dalam diri kamu maka hendaknya kamu relaksasi untuk melawannya agar rasa cemas itu berkurang atau jika kamu kerasa takut gagal dalam berpidato maka hendaknya kamu untuk cobalah untuk menerimannya(operant learning)
40

7) Misalnya “jika saya menjadi kamu, saya akan berusaha dirumah melatih diri didepan cermin, seakan-akan pantulan diri saya itu adalah semua orang, jadi saya berbicara dengan seleluasanya. Apa yang hendak saya katakan, saya ungkapkan tanpa ada rasa malu. Dan hal itu saya lakukan terus menerus sampai saya benarbenar bisa dengan mahir mengeluarkan kata-kata, perasaan yang ada pada benak pikiran saya. (social modeling) 8) Atau saya (konselor) setelah itu membiasakan melatih berpidato dihadapan keluarga saya, pada adik saya, pada kakak saya dan anggota keluarga. Setelah beberapa minggu, kita bisa melatih berpidato, mengemukakan pendapat, memberi jawaban dimuka teman-teman atau dimuka umum. Dan itu terus saya lakukan sampai benar-benar hilang rasa gugup dan cemas yang seperti anda rasakan. (cognitif learning). 9) Atau juga pada saat kamu pada saat kamu merasa cemas ketika berpidato didepan teman-teman dan didepan umum. Maka kamu saya beri kesempatan berpidato dihadapan saya. 10) Ketika konseli berpidato dihadapan konselor, timbulah rasa cemas tinggi pada diri konseli. Konselor memberi arahann kepada konseli “hendaknya ketika kamu cemas, kamu

seharusnya melakukan pidato dengan disertai candaan atau lawakan agar rasa ceams itu dapat direduksi. (emotional learning). 11) Setelah konseli diberikan arahan, masukan dan bimbingan dengan penguasaan keterampilan yang dimiliki konselor, dan ketika itu konseli sudah merasa lebih baik dari kondisi sebelumnya, perasaannya yang ia anggap pengalaman itu selalu menghantuinya ketika ia tampil didipan umum baik berdiskusi maupun berpidato. Maka konseli sudah tertolong secara kondisi
41

psikologisnya. Dan konselor bisa memberikan kesempatan kepada konseli untuk melanjutkan kegiatan ini jika konseli menemukan masalah lagi baik dalam masalah yang serupa maupun yang berbeda. 12) Konselor menutup kegiatan konseling.

F. Instrument Penelitian Instrument penelitian adalah suatu alat yang digunakan untuk mengukur fenomena alam maupun sosial yang di amati yang secara spesifik disebut variabel penelitian (Sugiyono, 2010:102). 1. Bahan perlakuan Pada bahan perlakuan ini berisi panduan prosedur pelaksanaan konseling behavioral yang meliputi empat tahap, yaitu (1) operant learning, (2) unitative learning, (3) connitive learning, dan (4) emotional learning.. masing-masing aspek penjelasan mengenai langkah-langkah pelaksanaan konseling. Panduan disusun menjadi dua komponen, yaitu (1) pendahuluan, dan (2) tahapan pelaksanaan konseling behavioral. Komponen pendahuluan berisi tentang perilaku yang menimbulkan kecemasan siswa yakni siswa yang mengalami kekhawatiran dan kegelisahan. Kompenen kedua tahapan pelaksanaan konseling behavioral yang setiap komponen terdiri dari tujuan dan prosedur pelaksanaan. Komponen tujuan berisi mengenai rumusan secara operational tentang apa yang mau dicapai dari proses tahapan konseling. Komponen prosedur pelaksanaan mengenai langkah-langkah yang harus dilaksanakan konseor dalam proses konseling secara sistematis. a. Validasi ahli Setelah tersusun panduan pelaksanaan konseling behavior dan sebelum digunakan dalam penelitian, terlebih dahulu akan dilakukan validasi ahli. Untuk mendapatkan data yang bersifat kuantitatif maka disusun
42

dalam bentuk skala peniaian. Skala penilaian ini terdiri dati 10 item, yakni dengan skor 1-5 yang terdapat pada table berikut: Table 3 Hasil validasi ahli Panduan pelaksanaan terapi behavior No Aspek yang dinilai Kejelasan konsep konseling 1 dengan menggunakan pendekatan behavioral 2 Keoperasionalan rumusan tujuan dari setiap tahapan Ketepatan konselor untuk 3 membangun hubungan baik dengan konseli 4 Berurutan dalam langkah-langkah pelaksanaan konseling behavioral Kejelasan langkah-langkah 5 pelaksanaan konseling dalam setiap tahap 6 Kesesuaian pengaturan waktu setiap pertemuan Ketepatan dan kejelasan 7 penggunaan teknik-teknik konseling behavioral yang digunakan setiap tahap 8 9 Kejelasan peran konselor Kejelasan peran konseli Hasil penilaian nilai uraian

43

10

Kejelasan konselor mengakhiri konseling Jumlah

2.

Instrument pengumpulan data Untuk melakukan pengukuran, peneliti menggunakan instrument

pengukuran terdahulu. Instrument pengukuran yang digunakan adalah skala kecemasan. a. Skala kecemasan Skala ini adalah skala likert. Berdasarkan aspek kecemasan terbagi menjadi 3 sub variable, yaitu kecemasan realistic, kecemasan neurotic, dan kecemasan moral. Setiap item pertannyaan terdiri dari 4 kemungkinan jawaban yaitu: (1) skor 4 untuk jawaban sangat setuju (ST), (2) skor tiga untuk jawaban setuju (S), (3) skor dua untuk jawaban tidak setuju (TS), dan (4) skor untuk jawaban sangat tidak setuju (STS). G. Teknik Pengolahan Data dan Analisis Data Setelah data terkumpul yang diperoleh dari angket dan diteliti kembali untuk memastikan jumlah angket yang dikembalikan. Kemudian dilakukan juga pengontrolan terhadap jawaban responden, sejauh mana dia dapat menjawab pertanyaan. Untuk dapat menganalisis data, maka data tersebut dimasukan ke dalam bentuk tabel atau disebut dengan tabulasi data, dengan menggunakan rumus sebagai berikut :

(

) √

(Margono. 2010 : 200)

44

Untuk menafsirkan hasil analisis presentase tersebut, ditetapkan suatu kriteria penelitian sebagai berikut : 00.001 - 20.00% 20.01 - 40.00% 40.01 - 60.00% 60.01 - 80.00% 80.01 - 100% :Sebagian terkecil :Sebagian kecil :Cukup besar :Sebagian besar :Sebagian terbesar

Berdasarkan analisis dan kriteria yang telah ditetapkan seperti tersebut diatas. Maka dapat ditarik kesimpulan mengenai layanan konseling behavior untuk mengatasi kecemasan siswa.

\

45

H. Jadwal Penelitian BULAN No Kegiatan Februari Maret April Mei 1 2 3 4

1 2 3 4 1 2 Tahap 1 Persiapan
X X X X

3 4 1 2 3 4

Pembuatan Proposal Tahapan

2

Pengumpulan Data Tahapan

X

X

X

X

3

Pengolahan Data Tahapan

X

X

X

X

4

Penulisan Laporan

X

X

X

X

46

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful

Master Your Semester with Scribd & The New York Times

Special offer for students: Only $4.99/month.

Master Your Semester with a Special Offer from Scribd & The New York Times

Cancel anytime.