Anda di halaman 1dari 12

STANDARISASI FORMULA OBAT KAPSUL UNTUK MENGURANGI SAKIT MAAG

Disusun untuk Memenuhi Salah Satu Tugas Mata Kuliah Teori Standarisasi Obat Bahan Alam

Disusun oleh : Nama : NIM : Ima Nur Rosmayanti 31109050

PROGRAM STUDI S1-FARMASI STIKes BAKTI TUNAS HUSADA TASIKMALAYA 2012

1. Pendahuluan Obat tradisional merupakan warisan

berlaku di bidang obat tradisional (Ditjen POM, 1999).

budaya bangsa perlu terus dilestariakan dan dikembangkan untuk menunjang pembangunan kesehatan sekaligus untuk meningkatkan 2. Tinjauan Pustaka Obat tradisional adalah bahan atau ramuan yang berupa bahan tumbuhan, bahan hewan, bahan mineral, sediaan galenik atau campuran dari bahan-bahan tersebut, yang secara tradisional telah digunakan untuk pengobatan berdasarkan pengalaman. Obat tradisional dibuat atau diramu dari bahan tumbuh-tumbuhan, bahan hewan, sediaan sarian (galenik), atau campuran bahan-bahan tersebut. Obat tradisional secara turun-temurun telah digunakan untuk kesehatan berdasarkan pengalaman. Obat tradisional telah digunakan oleh berbagai aspek masyarakat mulai dari tingkat ekonomi atas sampai tingkat bawah, karena obat tradisional mudah didapat, harganya yang cukup terjangkau dan berkhasiat untuk pengobatan, perawatan dan pencegahan penyakit (Ditjen POM, 1994). Menurut Material Medika (MMI, 1995), simplisia dapat digolongkan dalam tiga kategori, yaitu: 1. Simplisia nabati masyarakat dari Simplisia nabati adalah simplisia yang berupa tanaman utuh, bagian tanaman atau eksudat tanaman. Eksudat adalah isi sel yang secara spontan keluar dari tanaman atau isi sel yang dengan cara tertentu dipisahkan dari tanamannya dan belum berupa zat kimia.

perekonomian rakyat. Produksi, dan penggunaan obat tradisional di Indonesia memperlihatkan kecendrungan terus meningkat, baik jenis

maupun volumenya. Sejak jaman dahulu, manusia sangat mengandalkan memenuhi lingkungan sekitarnya Misalnya untuk untuk

kebutuhannya.

makan, tempat berteduh, pakaian, obat, pupuk, parfum, dan bahkan untuk kecantikan dapat diperoleh dari lingkungan. Sehingga kekayaan alam di sekitar manusia sebenarnya sedemikian rupa sangat bermanfaat dan belum sepenuhnya digali, dimanfaatkan, atau bahkan

dikembangkan. Bangsa Indonesia telah lama mengenal dan menggunakan tanaman berkhasiat obat sebagai salah satu upaya dalam

menanggulangi masalah kesehatan. Pengetahuan tentang tanaman berkhasiat obat berdasar pada pengalaman dan ketrampilan yang secara turun temurun telah diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Guna melindungi

bahaya penggunaan obat tradisional yang tidak terdaftar atau tidak memenuhi syarat , ditempuh berbagai penyebaran langkah strategis, yang antara cukup lain kepada

informasi

masyarakat danpengusaha, termasuk informasi mengenai peraturan perundangan-undangan yang

Ima Nur Rosmayanti, STIKes BTH Tasikmalaya

2. Simplisia hewani Simplisia hewani adalah simplisia yang berupa hewan atau bagian hewan zat-zat berguna yang dihasilkan oleh hewan dan belum berupa zat kimia murni. 3. Simplisia pelikan (mineral) Simplisia pelikan adalah simplisia yang berupa bahan-bahan pelican (mineral) yang belum diolah atau telah diolah dengan cara sederhana dan belum berupa zat kimia. Zat kimia berkhasiat (obat) tidak

2. Curcuma Domestica Rhizoma 3. Phyllanthi Niruri Herba

80 mg 50 mg

2.2 Monografi (Identitas Simplisia) 2.2.1 Monografi serbuk simplisia 1. Rimpang Kunyit (Curcuma Domestica Rhizoma) Pemerian : Berupa kepingan ringan, rapuh, warna kuning jingga, kuning jingga kemerahan sampai kuning jingga kecoklatan, bau khas, rasa agak pahit, agak pedas, lamakelamaan menimbulkan rasa tebal, bentuk hampir bundar sampai bulat panjang, kadangkadang bercabang, lebar 0,5-3cm, panjang 26cm, tebal 1-5 mm, umumnya melengkung tidak beraturan, kadang-kadang terdapat pangkal upih daun dan pangkal akar. Batas korteks dan silinder pusat kadang-kadang jelas, berkas pertahanan agak rata, berdebu, warna kuning jingga, sampai coklat kemerahan Mikroskopik : Fragmen pengenal

diperbolehkan digunakan dalam campuran obat tradisional karena obat tradisional diperjual belikan secara bebas. Dengan sendirinya apabila zat berkhasiat (obat) ini dicampurkan dengan ramuan obat tradisional dapat berakibat buruk bagi kesehatan (Dirjen POM, 1986). Kapsul adalah sediaan padat yang terdiri rrrrdari obat dalam cangkang keras atau lunak yang dapat larut. Cangkang umumnya terbuat dari gelatin, tetapi dapat juga terbuat dari pati dan bahan lain yang sesuai. Ukuran cangkang kapsul keras bervariasi dari nomor paling kecil (5) sampai nomor paling besar (000), dan ada juga kapsul gelatin keras ukuran 0 dengan bentuk memanjang ( dikenal sebangai usuran OE), yang memberikan

adalah jaringan gabus, sel parenkim berisi bahan pewarna kuning, berkas pengangkut, rambut penutup, bbbutir amilum dan sel parenkim berisi amilum. Senyawa identitas : Kurkumin

kapasitas isi yang lebih besar tanpa peningkatan diameter. Contohnya kapsul pacekap Susut pengeringan <111> tidak lebih dari 12% 2.1 Praformulasi Formula awal 1. Kaemferiae Galangae Rhizoma 120 mg Abu Total <81> tidak lebih dari 8,2 % Abu tidak larut asam <82> tidak lebih dari 0,9 % Sari larut air <91> tidak kurang dari 11,5 %

(Farmakope IV, 1995).

Sari larut etanol <92> tidak kurang dari 11,4 % Kandungan kimia : kadar minyak atsiri tidak kurang dari 3,02 % v/b, kadar etil pmetoksisinamat tidak kurang dari 6,60 %.

3. Herba meniran (Phyllanthi Niruri Herba) Pemerian : berupa herba, bau khas, rasa pahit, batang bentuk bulat, daun kecil, bentuk bundar telur sampai bundar memanjang, panjang helai daun 5-10 mm, lebar 2,5-5 mm, bunga dan

2. Rimpang Kencur (Kaemferiae Galangae Rhizoma) Pemerian : Berupa irisan pipih, bau khas, rasa pedas bentuk hampir bundar sampai jorong atau tidak beraturan, tebal 1-4 mm, panjang 15cm, lebar 0,5-3cm bagian tepi berombak dan berkeriput warna cokelat sampai coklat

buah terdapat pada ketiak daun atau terlepas, buah bentuk bulat berwarna hijau kekuningan sampai kuning kecoklatan. Mikroskopik : fragmen pengenal adalah epidermis atas dengan kristal kalsium oksalat bentuk roset, epidermis atas dengan kristal kalsium oksalat bentuk prisma dipalisade,

kemerahan bagian tengah berwarna putih sampai putih kecoklatan. Korteks sempit, lebar lebih kurang 2mm, warna putih. Mikroskopik : Fragmen pengenal adalah butir amilum, parenkim, periderm, berkas

epidermis bawah dengan stomata, kulit buah dengan dinding tangensial serupa serabut

sklerenkim dan kulit biji tampak tangensial. Senyawa identitas : Filantin


OCH3 OCH3 OCH3 OCH3

pengangkut penebalan spiral, parenkim dengan sel sekresi dan berkas pengangkut penebalan tangga Senyawa identitas : Etil p-metoksisinamat
O

O CH3 O

CH3

OCH3 OCH3

Susut pengeringan <111> tidak lebih dari 10% Abu Total <81> tidak lebih dari 8,7 % Abu tidak larut asam <82> tidak lebih dari 2,5% Sari larut air <91> tidak kurang dari 14,2% Sari larut etanol <92> tidak kurang dari 4,2 % Kandungan kimia : kadar minyak atsiri tidak kurang dari 2,40 % v/b, kadar etil pmetoksisinamat tidak kurang dari 1,80%.

Susut pengeringan <111> tidak lebih dari 14% Abu Total <81> tidak lebih dari 7,2 % Abu tidak larut asam <82> tidak lebih dari 1,2 % Sari larut air <91> tidak kurang dari 16,0 % Sari larut etanol <92> tidak kurang dari 8,0 % Kandungan kimia : kadar flavonoid total tidak kurang dari 0,90 %.

Ima Nur Rosmayanti, STIKes BTH Tasikmalaya

4. Avicel Pemerian : Serbuk kristal berporos, serpihan putih, murni, tidak berbau, tidak berrasa Kegunaan dalam formula : Pengisi (10-30%)

Kandungan kimia ektrak kadar flavonoid total tidak kurang dari 3,20%

3. Metode Penelitian 3.1 Alat dan Bahan

2.2.2 Monografi Ekstrak Kental 1. Curcuma Domestica Rhizoma Rendemen Identitas agak pahit Kadar air tidak lebih dari 10 % Kadar abu total tidak lebih dari 0,4 % Kadar abu tidak larut asam tidak lebih dari 0,1 % Kandungan kimia ektrak kadar minyak atsiri tidak kurang dari 3,20 %, kadar kurkuminoid tidak kurang dari 33,90 %. 2. Kaemferiae Galangae Rhizoma Rendemen : tidak kurang dari 8,3 %, : tidak kurang dari 11,0 % : warna kuning, bau khas, rasa

Alat

yang

digunakan

pada

prosespembuatan sediaan obat tradisional ini yaitualat ekstraksi (sokhletasi)

untuk mendapatkan ekstrak kental dari masingmasing simplisia, alat pengujian evaluasi kapsul, dll. Bahan yang digunakan padapembuatan sediaan ini yaitu ekstrak kental kunyit, ekstrak kental, ektrak kental kencur, dan ekrak kental herba meniran , madu, gula merah, dan zattambahan lain yang digunakan

untuk pembuatan sediaan kapsul yaitu avicel.

gunakan etanol p sebagai pelarut. Identitas : warna coklat tua, bau khas, rasa

3.2 Metode Ekstraksi Proses penyarianekstrak bertujuan untuk mendapatkan kandungan zat aktif yang

pedas, dan tebal di lidah Kadar air tidak lebih dari 10% Kadar abu total tidak lebih dari 0,5 % Kadar tidak larut asam tidak lebih dari 0,2 % Kandungan kimia ekstrak minyak atsiri tidak kurang dari 7,93 %, kadar etil p-metoksisinamat tidak kurang dari 4,30 %. 3. Phyllanthi Niruri Herba Rendemen Identitas pahit Kadar air tidak lebih dari 17 % Kadar abu total tidak lebih dari 3,5 % Kadar abu tidak larut asam tidak lebih dari 1,5 % : tidak kurang dari 26,7 % : warna hitam, tidak berbau, rasa

dibutuhkan dari masing-masing simplisia dengan cara ekstraksi (Sokhletasi). Adapun prinsip sokletasi itu adalah penyarian berulang ulang sehingga hasil yang didapatkan sempurna dan pelarut yang

digunakan relatif sedikit. Bila penyaringan ini telah selesai, maka pelarutnya diuapkan kembali dan sisanya adalah zat yang tersaring. Haluskan Bungkus sampel dan keringkan kertas sampel, saring

dengan

(selongsong ), ikat dengan benang,masukkan ke dalam alat soklet, Masukkan pelarut sebanyak 1,5 x volume ekstraktor soklet, Lakukan Ima Nur Rosmayanti, STIKes BTH Tasikmalaya

sokletasi

sampai

pelarut

tidak

berwarna,

dikocok di atas penangas air dengan 10 ml pelarut yang sesuai selama 10 menit. Masukkan filtrat ke dalam labu tentukur 10 ml tambahkan pelarut sampai tanda.

Keluarkan sampel, panaskan untuk membuat ekstrak kental.

3.3 Pengujian Mutu Ekstrak Ekstrak yang telah didapatkankemudian dilakukan beberapa pengujianparameter-

Prosedur KLT totolkan larutan uji dan larutan pembanding, menurut cara yang tertara pada masing-masing monografi dengan jarak antara 1,5 sampai 2 cm dari tepi bawah lempeng, dan biarkan mengering. Gunakan alat sablon untuk menentukan tempat penotolan dan jarak rambat, beri tanda pada jarak rambat. 2. Penetapan kadar minyak atsiri Timbang seksama sejumlah bahan yang diperkirakan mengandung 0,3 ml minyak atsiri, masukkan ke dalam labu alas bulat 1L, tambahkan 200 300 ml air suling, hubungkan labu dengan pendingin dan buret bersekala. Untuk minyak atsiri dengan bobot jenis lebih kecil dari 1, tambahkan 0,2 toluen atau xilen ke dalam buret. Panaskan dengan tangas udara, sehingga lambat penyulingan tetapi teratur. berlangsung Setelah dengan

parameter mutu ekstrak meliputi parameter spesifik dan parameter non spesifik, yaitu : 1. Penetapan kadar dengan kromatografi lapis tipis (KLT) Pada kromatografi lapis tipis (KLT), zat penjerap merupakan lapisan tipis serbuk halus yang dilapiskan pada lempeng kaca, plastik atau logam secara merata umumnya digunakan lempeng kaca. Alat dan tipis bahan yaitu untuk lempeng

kromatografi

lapis

kromatografi dengan tebal serba rata dan ukuran yang sesuai umumnya 20x20 cm, rak

penyimpanan, zat penjerap, bejana kromatografi, alat sablon, pipet mikro, alat penyemprot pereaksi, lampu ultraviolet. Penjenuhan bejana tempatkan kertas saring dalam bejana kromatografi. Tinggi kertas saring 18 cm dan lebarnya sama dengan lebar bejana. Masukkan sejumlah larutan pengembang ke dalam bejana kromatografi, hingga tingginya 0,5 sampai 1 cm dari dasar bejana. Tutup kedap dan biarkan hingga kertas saring basah

penyulingan

selesai, biarkan selama tidak kurang dari 15 menit, catat volume minyak atsiri pada buret. Kadar minyak atsiri dihitung dalam % v/b. 3. Penetapan kadar abu total Timbang seksama 2 sampai 3 gram bahan uji yang telah dihaluskan dan masukkan ke dalam krus silikat yang telah dipijar dan ditara, pijarkan perlahan-lahan hingga arang habis, diinginkan dan timbang. Jika dengan cara ini arang tidak dapat dihilangkan, tambahkan air panas, aduk, saring melalui kertas saring bebas abu,. Pijarkan saring Ima Nur Rosmayanti, STIKes BTH Tasikmalaya

seluruhnya. Kertas saring harus masing-masing monografi, prosedur KLT dilakukan dalam bejana jenuh. Larutan uji KLT timbang seksama lebih kurang 1 gram serbuk simplisia, rendam sambil

beserta sisa penyaringan dalam krus yang asam. Masukkan filtrat ke dalam krus, uapkan pijarkan hingga bobot tetap. Kadar abu total dihitung terhadap berat bahan uji, dinyatakan dalam % b/b. 4. Penetapan kadar abu tidak larut asam Didihkan abu yang diperoleh pada

7. Penetapan kadar sari larut etanol Timbang seksama lebih kurang 5 g serbuk (4/18) yang telah dikeringkan di uadara masukkan ke dalam labu bersumbat, tambahkan 100 ml etanol 95% p, kocok berkali-kali selama 6 jam pertama, biarkan selam 18 jam. Saring cepat untuk menghindarkan penguapan etanol, uapkan 20 ml filtrat hingga kering dalam cawan dangkal beralas datar yang telah dipanaskan 105 0 dan ditara, panaskan sisa pada suhu 105o hingga bobot tetap. Hitung kadar dalam % sari larut etanol. 8. Penetapan susut pengeringan Susut pengeringan adalah pengurangan berat bahan setelah dikeringkan dengan cara yang telah ditetapkan. Kecuali dinyatakan lain dalam masing-masing monografi, simplisia harus dalam bentuk serbuk dengan derjat halus nomor 8, suhu pengeringan 105o dan susut pengeringan ditetapkan sebagai berikut : timbang seksama 1-2 g simplisia dalam botol timbang dangkal bertutup yang sebelumnya telah dipanaskan pada suhu penetapan dan ditara. Ratakan bahan dalam botol timbang dengan menggoyangkan botol, hingga merupakan lapisan setebal lebih kurang 5-10 mm, masukkan dalam ruang pengering, buka tutupnya, keringkan pada suhu penetapan hingga bobot tetap. Sebelumnya setiap

penetapan kadar abu total dengan 25 ml asam klorida encer LP selama 5 menit, kumpulkan bagian yang tidak larut dalam asam, saring melalui kertas saring bebas abu, cuci dengan air panas, pijarkan dalam krus hingga bobot tetap. Kadar abu yang tidak larut dalam asam dihitung terhadap berat bahan uji, dinyatakan dalam % b/b. 5. Penetapan kadar air Alat labu 500 ml hubungkan dengan pendingin air balik melalui alat penampung yang dilengkapi dengan tabung penerima 5 ml yang berskala 0,1 ml. Panaskan menggunakan

pemanas listrik yang suhunya dapat diatur atau tangas minyak. Bagian atas labu tabung

penyambung sebaiknya dibungkus dengan asbes. 6. Penetapan kadar sari larut air Timbang seksama lebih kurang 5 g serbuk (4/18) yang telah dikeringkan di udara, masukkan ke dalam labu bersumbat, tambahkan 100 ml air jenuh kloroform, kocok berkali-kali selama 6 jam pertama, biarkan selama 18 jam. Saring, uapkan 25 ml filtrat hingga kering dalam cawan dangkal beralas datar yang telah dipanaskan 105 odan ditara, panaskan sisa pada suhu 105o hingga bobot tetap. Hitung kadar dalam % sari larut air

pengeringan, biarkan botol dalam keadaan tertutup mendingin dalam eksikator hingga suhu ruang.

Ima Nur Rosmayanti, STIKes BTH Tasikmalaya

3.4 Formulasi Sediaan Tiap kapsul mengandung : 1. Curcuma Domestica Rhizoma 2. Kaemferiae Galangae Rhizoma 3. Phyllanthi Niruri Herba 4. Gula merah 5. Madu 120 mg 80 mg 50 mg 50 mg 50 mg

simplisia lalu tambahkan avicel bisa sebagai pengering atau pengisi. Lalu masukkan kedalam cangkang kapsul.

3.6 Evaluasi Sediaan Kapsul Evaluasi kapsul Beberapa persyaratan yang harus dipenuhi menurut FI III adalah sebagai berikut :

Perhitungan untuk 1 Kapsul : 1. Curcuma Domestica Rhizoma 2. Kaemferiae Galangae Rhizoma 3. Phyllanthi Niruri Herba 4. Gula merah 5. Madu 6. Avicell 120 mg 80 mg 50 mg 50 mg 50 mg 150 mg

1. Keragaman Bobot Kelompok kapsul yang berisi bahan padat

Timbang 20 kapsul sekaligus, timbang lagi satu per satu, catat bobotnya.

Keluarkan semua isi kapsul, timbang seluruh bagian cangkang kapsul

Bobot ratarata kapsul

Perbedaan bobot kapsul dala % A 10 7,5 B 20 15

Perhitungan untuk 50 kapsul : 1. Curcuma Domestica Rhizoma 50x120 = 6 g 2. Kaemferiae Galangae Rhizoma 50x80 = 4 g 3. Phyllanthi Niruri Herba 4. Gula merah 5. Madu 6. Avicell 50x50 = 2.5 g

120 mg 120 mg

Hitung bobot isi tiap kapsul dan hitung bobot rata-rata isi tiap kapsul.

50x50 = 2.5 g 50x50 = 2.5 g 150x50 = 7.5 g

Memenuhi syarat FI, jika perbedaan dalam % bobot isi tiap kapsul terhadap bobot rata-rata tiap isi kapsul tidak boleh lebih dari yang ditetapkan dalam kolom

3.5 Metode Pembuatan Simplisia dikeringkan kemudian dibuat ektrak kental dengan cara metode sokhletasi, hasilnya yaitu ekstrak encer. lalu pekatkan ekstrak encer menjadi ekstrak kental kemudian timbang bahan bahan yang diperlukan, msukkan kedalam mortir mulai dari yang paling sedikit campur semua bahan sampai homogen kemudian tambahkan gula merah dan madu sebagai pemanis atau pengurang rasa pahit dari zat aktif

A dan untuk setiap 2 kapsul terhadap bobot rata-rata ditetapkan dalam kolom B. Kelompok kapsul yang berisi bahan cair atau setengah padat / pasta / salep. Timbang 10 kapsul sekaligus, timbang lagi satu per satu. Keluarkan semua isi kapsul, cuci

cangkang kapsul dengan eter. Buang

Ima Nur Rosmayanti, STIKes BTH Tasikmalaya

cairan cucian, biarkan hingga tak berbau eter lagi.


persyaratan FI, jika waktu hancurnya tidak lebih dari 15 menit. 3. Keseragaman Sediaan Terdiri atas keragaman bobot untuk kapsul keras dan keseragaman kandungan untuk kapsul lunak. 4. Uji Disolusi Uji melarutnya kapsul dalam tubuh untuk dapat cepat termetabolisme.

Timbang seluruh bagian cangkang kapsul Hitung bobot isi kapsul dan bobot ratarata isi kapsul.

Memenuhi syarat FI, jika perbedaan dalam % bobot isi tiap kapsul terhadap bobot rata-rata tiap isi kapsul tidak lebih dari 7,5%.

4. Pembahasan 2. Waktu Hancur Ditentukan dengan suatu alat disebut disintegrator tester yang terdiri atas: Lima buah tabung transparan dengan ukuran (P.80-100mm, dd 28mm, d.l 30mm) ujung bawah dilengkapi dengan kawat kasa tahan karat dengan lubang sesuai dengan pengayak no.4 Bak berisi air dengan suhu 36-38 C sebanyak 100 ml. dengan kedalaman tidak kurang dari 15 cm sehingga dapat dinaikturunkan dengan teratur. Kedudukan kawat kasa pada posisi tertinggi berada tepat di atas permukaan air dan kedudukan terendah mulut keranjang tepat di bawah permukaan air. Cara pengujian waktu : Masukkan 5 butir kapsul dalam keranjang (setiap tabung untuk satu kapsul), Naik-turunkan keranjang secara teratur 30x setiap menit, Kapsul dinyatakan hancur jika sudah tidak ada lagi bagian kapsul yang tertinggal di atas kasa Waktu yang telama hancur di antara kapsul itu yang dinyatakan sebagai waktu hancur kapsul yang bersangkutan. Memenuhi Ima Nur Rosmayanti, STIKes BTH Tasikmalaya kapsul bahan
o

Obat tradisional adalah bahan atau yang ramuan yang berupa bahan tumbuhan, bahan hewan, bahan mineral, sediaan galenik atau campuran dari bahan-bahan tersebut, yang secara tradisional telah digunakan untuk pengobatan berdasarkan pengalaman. Obat tradisional dibuat atau diramu dari bahan tumbuh-tumbuhan, bahan hewan, sediaan sarian (galenik), atau campuran bahan-bahan tersebut. Dalam pengertian umum kefarmasian yang digunakan bahan obat sebagai simplisia. yang belum

Simplisia

adalah

alamiah yang

dipergunakan

sebagai

mengalami pengolahan apapun juga dan kecuali dinyatakan lain berupa bahan yang dikeringkan. Pada untuk percobaan pembuatan sakit sediaan ini

mengobati

maag

menggunakan simplisia dari tanaman Curcuma Domestica Galangae Rhizoma (kunyit), Kaemferiae

Rhizoma(kencur),

dan Phyllanthi

Niruri Herba (herba meniran) serta ditambahkan zat pendukung khasiat seperti adanya gula merah dan madu.

Kunyit termasuk obat alami yang paling dikenal masyarakat untuk mengobati penyakit maag. Kurkuminoid (bahan aktif dari kunyit) terdiri sebanyak dari 10% kurkumin, dan desmetoksikumin

akan dilakukan dengan metode ekstraksi nanti, karena semakin kecil luas permukaan maka semakin besar pula peluang zat aktif dari masing-masing tanaman akan tersari sempurna. Setelah didapatkan bentuk serbuk dari masing-masing simplisia, kemudian dilakukan beberapa pengujian parameter seperti parameter spesifik dan non spesifik. Beberapa contoh yang dilakukan yaitu pengujian organoleptik yang meliputi warna, bau, rasa dan bentuk simplisia, kemudian dilakukan kimia atau identifikasi kandungan fitokimia dengan

bisdesmetoksikurkumin

sebanyak 1-5% dan zat-zat bermanfaat lainnya seperti minyak atsiri yang terdiri dari keton sesquiterpen, turmeron, tumeon 60%,

Zingiberen 25%, felandren, sabinen, borneol dan sineil. Kunyit juga mengandung lemak sebanyak 1-3%, karbohidrat sebanyak 3%, protein 30%, pati 8%, vitamin C 45-55%, dan garam-garam mineral, yaitu zat besi, fosfor, dan kalsium terbukti memiliki efek antioksidan, antibakteri, antiradang, dan antikanker sehingga baik

skrining

menggunakan beberapa reaksi kimia untuk mengetahui ada atau tidaknya zat aktif tertentu dalam masing-masing simplisia. Pada proses selanjutnya yaitu penyarian zat berkhasiat simplisia dalam bentuk ekstrak kental dilakukan dengan menggunakan metode ekstraksi. Ekstraksi itu sendiri adalah suatu proses penyarian senyawa aktif dalam tanaman dengan menggunakan metode tertentu dan pelarut yang cocok. Metode ekstraksi yang digunakan pada pembuatan ekstrak ini yaitu sokhletasi yang termasuk ke dalam ekstraksi panas. Prinsip dari sokhletasi ini yaitu suatu pelarut akan menyari simplisia secara berulang dengan menguapkan uap pelarut yang menetes melalui simplisia dan campuran keduanya akan tercampur dan masuk melalui pipa menuju labu alas dan kemudian akan teruapkan kembali menyari simplisia sampai seterusnya. Setiap 100 gram serbuk simplisia digunakan pelarut etanol 70%

dikonsumsi sebagai obat maag dan untuk kesehatan lainnya. Tanaman kencur mempunyai kandungan kimia antara lain mengandung pati (4,14 %), mineral (13,73 %), dan minyak atsiri (0,02 %) berupa sineol, asam metil kanil dan penta dekaan, asam cinnamic, ethyl aster, asam sinamic, borneol, kamphene, paraeumarin, asam anisic, alkaloid dan gom. Minyak atsiri didalam kencur ini digunakan sebagai zat aktif

pendukung sebagai obat maag. Meniran mempunyai kandungan kimia berupa Filantin, Hipofilantin, Kalium, damar, tanin, flavonoid, alkaloid, triperpenoid, asam lemak dan vitamin c. Pada tahap awal pembuatan dilakukan proses pengumpulan bahan baku sampai menjadi sediaan serbuk simplisia. Hal ini agar

memudahkan pada saat penyarian zat aktif yang

sebanyak 250 mL. Dilakukan beberapa kali Ima Nur Rosmayanti, STIKes BTH Tasikmalaya

penyarian ekstrak karena untuk mendapatkan ekstrak kental yang cukup banyak. Penggunaan etanol sebagai cairan penyari karena etanol cepat menyari kandungan aktif pada sel-sel tumbuhan, dibandingkan dengan air yang tidak akan menyari sempurna dan methanol yang cukup berbahaya. Setelah didapatkan ekstrak cair dari hasil sokhletasi, kemudian dilakukan pemekatan

Penambahan gula merah sebenarnya tidak terlalu penting untuk dilakukan, karena sediaan dalam bentuk kapsul yang mempunyai keuntungan menutupi rasa pahit sudah cukup untuk tidak ditambahkan pemanis. Madu mempunyai banyak manfaat, terlebih jika digunakan madu murni alami yang tidak mengandung campuran gula. Penambahan avicel disini banyak sekali

kegunaannya, seperti untuk pengisi dan yang yang paling penting adalah sifatnya sebagai absorben atau penyerap lembab atau penyerap air yang dikhawatirkan masih adanya air atau pelarut yang masih tertinggal atau tersisa dalam campuran ekstrak. Semua bahan yang dicampurkan,

ekstrak untuk kemudian dilakukan beberapa pengujian penentuan parameter nilai rf, non spesifik seperti air,

penentuan

kadar

penentuan kadar sari, penentuan kadar abu dan abu tidak larut asam, kadar minyak atsiri, dll. Pada penentuan parameter non spesifik di atas didapatkan beberapa nilai yang memenuhi persyaratan dengan untuk masing-masing ekstrak-ekstrak ekstrak, tersebut

kemudian dilakukan pengisian pada kapsul yang tersedia. Kapsul yang digunakan adalah kapsul lunak dengan ukuran 0 yang dipakai untuk bobot serbuk < 600 mg. Jumlah bobot setiap kapsul adalah 500 mg dan akan dibuat sebanyak 50 kapsul. Evaluasi sediaan kapsul perlu dilakukan, hal tersebut agar mengetahui kualitas suatu sediaan yang baik atau tidaknya. Evaluasi kapsul dilakukan seperti pengujian keseragaman bobot, waktu hancur, dan disolusi. Keseragaman bobot dilakukan terhadap 10 kapsul yang ditimbang secara acak kemudian dihitung nilai rata-rata 10 kapsul dan ditentukan % nilai penyimpangannya. Untuk berat kapsul yang lebih dari 250 mg, tidak boleh lebih dari 2

demikian

memenuhi persyaratan untuk dijadikan suatu komponen sediaan obat herbal. Ektrak yang telah didapatkan kemudian dikentalkan lebih pekat hingga tidak dapat dituang. Sebenarnya hal ini cukup salah untuk dilakukan, karena banyak kandungan minyak atsiri yang bersifat volatile atau mudah menguap yang terdapat dalam masing-masing ekstrak yang ikut teruapkan dan berkurang. Ekstrak kental yang sudah didapatkan kemudian ditimbang sesuai jumlah yang

dibutuhkan untuk dibuat suatu sediaan kapsul dengan menggunakan zat tambahan avicell. Masing-masing ekstrak digerus dan

kapsul penyimpangannya lebih dari 7,5% dan tidak boleh satu kapsul pun lebih dari 15%.

dengan dilakukan penambahan zat penunjang khasiat seperti gula merah dan madu.

Ima Nur Rosmayanti, STIKes BTH Tasikmalaya

Pengujian waktu hancur sangat penting untuk dilakukan. Waktu hancur untuk sediaan kapsul harus lebih cepat daripada sediaan padat (tablet) yaitu kurang dari 15 menit. Pengujiannya yaitu satu atau dua kapsul direndam dalam air dengan suhu kurang lebih 37 C selama beberapa menit. Suhu tersebut disesuaikan dengan suhu tubuh normal manusia. Waktu yang dihasilkan akan dijadikan suatu kesimpulan baik atau buruknya kapsul tersebut jika dilihat dari waktu hancur. Semakin cepat kapsul tersebut hancur maka proses penyerapannya akan semakin cepat pula untuk dimetabolisme oleh tubuh. Pengujian disolusi sangat penting untuk dilakukan dalam sediaan padat. Pengujian ini akan berpengaruh pada proses penyerapan zat aktif oleh tubuh. Pengujiannya dilakukan selama kurang lebih 60 menit untuk sediaan padat. Pengujian untuk kapsul lunak bisa saja dilakukan antara 15-30 menit karena kapsul mudah melarut dibandingkan dengan tablet. Setiap 5 menit hasil pelarutan pembacaan dapat nilai diambil untuk dilakukan
o

seperti Obat Herbal Terstandar (OHT) dan Fitofarmaka jumlahnya masih dapat terhitung dibandingkan dengan obat jamu yang tidak perlu mendapatkan proses standarisasi terlebih dahulu dan tidak memerlukan biaya yang cukup mahal.

5. Daftar Pustaka Depkes RI. 2008. Farmakope Herbal Indonesia Depkes RI. Materia Medika Indonesia Depkes RI. 1979. Farmkope Indonesia edisi III http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/ 19424/3/Chapter%20II.pdf http://referensidunia.blogspot.com/2011/06/obatmaag-referensi-kesehatan.html http://www.obatmaagtradisional.com/2012/06/ob at-maag-alami_04.html http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/ 19424/4/Chapter%20I.pdf http://rinirahmayanti18.blogspot.com/2012/02/so kletasi.html

absorban

kelarutannya

menggunakan alat spektrofotometer. Sediaan obat tradisional ini perlu

dikembangkan lebih lanjut melalui beberapa pengujian ilmiah lainnya seperti pra klinik dan klinik. Pada proses standarisasi bahan-bahan sampai produk akhir diharapkan bisa

terstandarisasi untuk mendapatkan mutu yang terjamin. Proses tersebut memerlukan waktu yang sangat panjang dan memerlukan biaya yang cukup mahal, oleh sebab itu obat tradisional yang beredar dalam bentuk yang terstandarisasi Ima Nur Rosmayanti, STIKes BTH Tasikmalaya