Anda di halaman 1dari 5

NAMA NIM UJIAN

: ALI MUSLIM BAHREISY : 20121030043 : FILSAFAT ILMU DAN ETIKA BISNIS ISLAMI

JAWABAN UJIAN FILSAFAT ILMU DAN ETIKA BISNIS ISLAM NOMER 4

1. JELASKAN PERBEDAAN PERILAKU DAN SIKAP ILMUWAN YANG MEMAHAMI DAN YANG TIDAK MEMAHAMI FILSAFAT ILMU DALAM MELAKSANAKAN TUGASNYA DALAM MASYARAKAT (INSTITUSI). BERIKAN CONTOH

Perbedaan perilaku dan sikap ilmuwan yang memahami dan yang tidak memahami filsafat ilmu dalam melaksanakan tugasnya dalam masyarakat (institusi)? Tiap pohon Ilmu mempunyai substansi yang khas yang dapat dipelajari melalui Trilogi Filsafat keilmuan yaitu : Ontologi (substansi ilmu) Epistemologi (Teori keilmuan, bagaimana, mendapatkan ilmu) Aksiologi (Penerapan ilmu dalam masyarakat) Dengan memahami karakteristik ilmu masing masing (filosofi ilmu) maka peserta didik sewaktu mempelajari (menuntut) ilmu akan lebih terarah, mendasar, dan komprehensif. Dengan demikian pemahaman ilmu secara filosofis perlu dilakukan lebih dahulu sebelum mempelajari suatu ilmu sehingga penerapan hasil studinya dimasyarakat dilandasi dengan kearifan Contoh, dokter tetap melayani pasien meskipun pasien tidak mempunyai uang karena bertujuan menolong sesama, berbeda dengan dokter yang tidak memahami filosofi ilmu, dokter cenderung materialisme, tidak melayani pasien yang tidak mempunyai uang.

2. DALAM MELAKSANAKAN TUGAS PROFESI DOKTER, BAIK SEBAGAI PRAKTISI MEDIS ATAUPUN SEBAGAI MANAJER RUMAH SAKIT, KEDUANYA TERIKAT PADA RANAH DISIPLIN, ETIKA DAN HUKUM. JELASKAN KESAMAAN DAN PERBEDAAN MASING-MASING RANAH TERSEBUT. BERILAH CONTOH

PELANGGARAN YANG DAPAT TERJADI PADA KETIGANYA SERTA APAKAH ADA KONTRADIKSI ANTARA MASING-MASING

Persamaan disiplin, etika dan hukum 1. Sama-sama merupakan alat untuk mengatur tertibnya hidup bermasyarakat. 2. sebagai objeknya adalah tingkah laku manusia. 3. mengandung hak dan kewajiban anggota-anggota masyarakat, agar tidak saling merugikan 4. menggugah kesadaran untuk bersikap manusiawi. 5. sumbernya adalah hasil pemikiran para pakar dan pengalaman para senior. Perbedaan etika, hukum, dan disiplin 1. Etik dan disiplin berlaku untuk lingkungan profesi, hukum berlaku umum 2. Etik dan disiplin disusun berdasarkan kesepakatan anggota profesi, hukum disusun oleh badan pemerintah 3. Etik tidak seluruhnya tertulis, hukum tercantum secara terinci dalam kitab undangundang dan lembaran/berita negara, disiplin tertulis sesuai dengan standar profesi medik, standar pelayanan, standar operasional prosedur. 4. Sanksi pelanggaran etik berupa tuntunan, sanksi pelanggaran hukum berupa tuntutan, sanksi pelanggaran disiplin bisa berupa peringatan tertulis, rekomendasi pencabutan SIP/STR, atau mengikuti pendidikan/pelatihan. 5. Pelanggaran etik diselesaikan oleh Majelis kehormatan Etik Kedokteran, dan pelanggaran hukum diselesaikan oleh pengadilan, Pelanggaran disiplin diselesaikan oleh Majelis Kehormatan Disiplin Kedokteran Indonesia. 6. Penyelesaian pelanggaran etik tidak selalu disertai bukti fisik, penyelesaian hukum memerlukan bukti fisik.

Pelanggaran etik kedokteran tidak selalu berarti pelanggaran hukum, begitu pula sebaliknya pelanggaran hukum belum tentu pelanggaran etik kedokteran. Di dalam praktek kedokteran terdapat aspek etik dan aspek hukum yang sangat luas, yang sering tumpang-tindih pada suatu issue tertentu, seperti pada informed consent, wajib simpan rahasia kedokteran, profesionalisme. Bahkan di dalam praktek kedokteran, aspek etik seringkali tidak dapat dipisahkan dari aspek hukumnya, oleh karena banyaknya norma etik yang telah diangkat menjadi norma hukum, atau sebaliknya norma hukum yang mengandung nilai-nilai etika. Contoh pelanggaran terhadap etika, disiplin dan hukum yaitu abortus provocatus criminalis.Seorang dokter harus senantiasa mengingat akan kewajibannya melindungi hidup insani (KODEKI, pasal 10). Undang-undang no 23 tahun 1992 tentang kesehatan pasal 15 menyatakan bahwa dalam keadaan darurat sebagai upaya untuk menyelamatkan jiwa ibu hamil dan atau janinnya, dapat dilakukan tindakan medis tertentu. hanya dapat dilakukan berdasarkan indikasi medis yang mengharuskan diambilnya tindakan tersebut oleh tenaga kesehatan yang mempunyai keahlian dan kewenangan untuk itu dan dilakukan sesuai dengan tanggung jawab profesi serta berdasarkan pertimbangan tim ahli dengan persetujuan ibu hamil yang bersangkutan atau suami atau keluarganya pada sarana kesehatan tertentu. TERDAPAT KONTRDIKSI RAHASIA KEDOKTERAN ANTARA ETIK DAN HUKUM Pada ,KODEKI pasal 13 menyatakan setiap dokter wajib merahasiakan segala sesuatu yang diketahuinya tentang seorang pasien, bahkan juga setelah pasien itu meninggal dunia. UU no 29 2004 pasal 48 ayat 2 Rahasia kedokteran dapat dibuka hanya o Untuk kepentingan pasien o Memenuhi permintaan aparatur penegak hukum dalam rangka penegakan hukum o Permintaan pasien sendiri o Berdasarkan ketentuan perundang-undangan

3. PASIEN REMAJA, PUTERA SEORANG DOKTER MENDERITA GAGAL GINJAL, OPNAME DI RUMAH SAKIT. TIAP MINGGU DUA KALI HAEMODIALISIS SEDANG KEADAANYA MAKIN LAMA MAKIN PARAH. ORANG TUANYA MINTA

ANAKNYA DIBAWA PULANG DENGAN MENANGGUNG SEGALA RESIKO YANG TERJADI. PERMINTAAN INI TIDAK DIIJINKAN OLEH DIREKTUR RUMAH SAKIT KARENA TAAT TERHADAP SUMPAH DOKTER YANG MENGHORMATI

KEHIDUPAN MANUSIA. MENURUT ANDA KEPUTUSAN APA YANG TERBAIK UNTUK SOLUSI KASUS TERSEBUT. JELASKAN DENGAN ALASAN YANG RASIONAL Kasus tersebut menjadi masalah etik yang termasuk kedalam euthanasia involuntir (tidak atas permintaan pasien) biasanya pada pasien yang tidak sadar dan biasanya keluarga pasien yang meminta. Keputusan direktur sudah tepat karena jika membolehkan pulang bisa melanggar pasal 345 KUHP : Barang siapa sengaja mendorong orang lain untuk bunuh diri, menolongnya dalam perbuatan itu atau memberi sarana kepadanya untuk itu, diancam dengan pidana penjara paling lama empat tahun kalau orang itu jadi bunuh diri. Involuntir euthanasia masih memerlukan pembahasan yang mendalam mengenai kedudukan hukumnya. Masalahnya adalah, apakah dokter memiliki kewajiban untuk terus menerus memasang alat-alat penunjang kehidupan untuk pasien-pasien yang secara medis tidak mungkin lagi dapat ditolong? Apakah bijaksana dalam kondisi seperti itu terus-menerus membiarkan alat-alat itu terpasang, sedangkan mungkin alat itu akan lebih berguna untuk pasien lain? apakah tidak lebih baik menyerahkan kepada alam, sebab apa artinya hidup jika hanya bergantung dari peralatan medik di rumah sakit? apakah tidak lebih baik membiarkan pasien, yang hidupnya tinggal beberapa saat itu, berada ditenga-tengah keluarganya? pertanyaan itu harus dijawab lebih dahulu sebelum menentukan kebijakan kriminal atas involunter euthanasia. Namun dalam hal ini, yang penting ddirektur itu sudah membuat surat penolakan tindakan medis, dan pihak keluarga juga sudah menandatanganinya, dengan syarat keluarga juga mengerti bahwa apa yang mungkin akan terjadi.