Anda di halaman 1dari 4

PRAKTIKUM 2 PEMBUATAN BRIKET

A. Hari dan Tanggal B. Tempat C. Acara Praktikum D. Tujuan Praktikum

: Senin, 05 Desember 2011 : Laboratorium Hyperkes Poltekkes Kemenkes Ykt : Pembuatan Briket :

1. Agar mahasiswa mampu membuat briket 2. Agar mahasiswa mengetahui perbandingan/campuran briket yang efektif

E. Dasar Teori

Bahan bakar adalah istilah popular media untuk menyalakan api. Bahan bakar dapat bersifat alami (ditemukan langsung dari alam), tetapi juga bersifat buatan (diolah dengan teknologi maju). Bahan bakar alami misalnya kayu bakar, batubara dan minyak bumi. Bahan bakar buatan misalnya gas alam cair dan listrik. Sebenarnya listrik tidak dapat disebut sebagai bahan bakar karena langsung menghasilkan panas. Panas inilah yang sebenarnya dibutuhkan manusia dari proses pembakaran, disamping cahaya akibat nyalannya (Ismun, 1993). Saat ini biaya yang dibutukan untuk mendapatkan bahan bakar makin lama makin mahal. Makin tinggi teknologi yang digunakan untuk mengolah bahan bakar, maka makin mahal harganya. Demikian pula, makin langka bahan baku yang dipakai untuk menghasilkan bahan bakar, maka harganya akan semakin mahal. Akibat langsung jika menggunakan bahan bakar semacam ini adalah biaya hidup tinggi sehingga tidak banyak orang ang mapu memanfaatkannya. Gas alam yang dicairkan, misalnya LNG tidak banyak terjangkau oleh masayarakat desa atau pedagan-pedagang kecil yang memerlukan bahan bakar (Anonimous, 2000). Tempurung kelapa terletak dibagian dalam kelapa setelah sabut. Pada bagian pangkal tempurung terdapat 3 buah lubang tubuh (ovule) yang menunjukkan bahwa bakal buah asalnya berlubang 3 dan yang tumbuh biasanya satu buah.

Tempurung merupakan lapisan yang keras dengan ketebalan antara 3 mm sampai 5 mm. Sifat kerasnya disebabkan oleh banyaknya kandungan silikat (SiO2) yang terdapat pada tempurung tersebut. Tempurung kelapa banyak mengandung lignin, methoxyl yang hampir sama dengan yang ada pada kayu. Pada umumnya, nilai kalor yang terkandung dalam tempurung kelapa berkisar antara 18200 kJ/kg hingga 19338,05 kJ/kg (Palugkun, 1999). Briket bioarang adalah gumpalan-gumpalan atau batangan-batangan arang yang terbuat dari bioarang (bahan lunak). Bioarang diolah menjadi bahan yang sebenarnya termasuk bahan lunak yang dengan proses tertentu diolah menjadi bahan arang keras dengan bentuk tertentu. Kualitas dari bioarang ini tidak kalah dengan batubara atau bahan bakar jenis arang lainnya. Pembuatan briket arang dari limbah pertanian dapat dilakukan dengan menambah bahan perekat, dimana bahan baku diarangkan terlebih dahulu kemudian ditumbuk, dicampur perekat, dicetak dengan sistem hidrolik maupun manual dan selanjutnya dikeringkan. Penggunaaan bahan perekat dimaksudkan unuk menarik air dan mebentuk tekstur yang padat atau mengikat dua substrat yang direkatkan. Dengan adanya bahan perekat masa susunan partikel semakin baik, teratur dan lebih padat sehingga dalam proses pencetakan keteguhan tekan dan arang briket akan semakin baik. Dalam penggunaan bahan perekat harus memperhatikan faktor ekonomis maupun non ekonomisnya (Silalahi, 2000) Biorang ini memberikan keuntungan yaitu biayanya amat murah. Alat yang digunakan untuk pembuatan briket bioarang cukup sederhana dan bahan bakunya pun sangat murah, bahkan tidak perlu membeli karena berasal dari sampah, limbah pertanian yang tidka digunakan lagi. Bahan baku untuk pembuatan arang umumnya tlah tersedia disekitar kita. Briket bioarang dalam penggunaannya menggunakan tungku yang relatif kecil dibandingkan tungku lainnya (Andry, 2000).

F. Alat dan Bahan : 1. Alat a. Bahan organik yang dapat terbakar (batok kelapa) b. Air c. Tepung kanji 2. Bahan a. Drum b. Minyak tanah c. Korek api d. Pengaduk e. Kompor f. Penumbuk g. Ayakan h. Panci i. Pancetak briket

G. Cara Kerja

1. Memasukan bahan- bahan organik dalam drum dan memberi minyak tanah 2. Membakar bahan-bahan organik dan mengaduknya sampai rata 3. Menutup drum dengan tidak rapat agar bahan organik tersebut tidak menjadi abu (tetap menjadi arang) 4. Drum tersebut disiram air agar menjadi dingin dan kemudian memindahakan arang ke penumbuk 5. Arang ditumbuk sampai halus dan disaring / diayak 6. Membuat lem dengan cara memanaskan campuran tepung kanji dengan air 7. Lem yang telah jadi dicampur dengan arang yang telah ditumbuk dan diayak 8. Lem dan arang terus dicampur sampai rata dan partikel arang saling menempel satu sama lain 9. Memasukan campuran lem dan arang tersebut ke dalam cetakan dan kemudian dikeringkan, dapat dijemur dibawah sinar matahari atau dioven. 10. Briket siap digunakan.

H. Pembahasan Pada pembuatan briket kami menggunakan bahan dasar tempurung kelapa. Selanjutnya tempurung kelapa dibakar untuk dijadikan menjadi arang. Tempurung yang sudah menjadi arang ditumbuk hingga dianggap halus, lalu diayak untuk memisahkan tumbukan arang yang masih berukuran besar. Lem ini dibuat dengan campuran tepung kanji dan air yang dipanaskan. Campuran antara air dan tepung kanji ini dibuat sampai campuran tidak encer dan tidak terlalu menggumpal. Arang yang sudah diayak kemudian dicampur dengan lem. Perbandingan antara lem dan arang, sebaiknya lebih banyak arangnya karena hasilnya akan lebih bagus. Jika lem yang digunakan terlalu banyak maka briket akan mengahsilakan banyak asapa jika digunakan. Cetak campuran lem dan juga arang dengan penutup pipa. Hasil cetakan selanjutnya dikeringkan dibawah sinar matahari langsung, bisa 2-3 hari atau jika cuaca tidak mendukung bisa 5-7 hari pengeringan atau bisa dengan teknik pengovenan.

I. Kesimpulan 1. Briket dibuat dari campuran arang yang ditumbuk dengan lem (kanji + air). Lem yang digunakan sebagai perekat. Campuran lem dan juga arang, lebih banyak arangnya untuk mendapatkan hasil briket yang baik dan agar tidak menjadi campuran briket yang menimbulkan banyak asap jika digunakan. 2. Briket dikatakan baik apabila setelah pengeringan briket memiliki tekstur yang keras dan tidak kenyal atau tidak hancur saat dipencet/digenggam dengan tangan.