Anda di halaman 1dari 9

KARAKTERISTIK KUAT LENTUR BAMBU ATER ( GIGANTOCHLOA ATTER KURZ ) PADA UMUR SATU DAN DUA TAHUN

Mohammad Gopar, Ananto Nugroho dan Bambang Subiyanto UPT Balai Litbang Biomaterial LIPI Kompleks Puslitbang IPH Jl. Raya Bogor Km. 46, Cibinong P.O. Box 422 Bogor 16911 Telp. 021-8794511, Fax. 021-8794510 ABSTRACT Ater bamboos at the age of one and two years were used in the study. Different types of test specimens were evaluated. Round, long specimens were subjected to 4-point bending test with span of 3000 mm while round, short specimens to 3-point bending tests with span 700 mm. Split specimens were subjected to 3-point bending, and the specimens was tested with skin surface in tension and the other with skin surface in compression. Strength properties like MOR and MOE were determined and data were analyzed statistically. Density, wall thickness and outer diameter, in combination, can be successfully used in predicting the MOR and MOE of specimens. The results showed that the density of bamboos have a major effect in bending strength. One and two years bamboos have a maximum strength in top position of stem. Keywords: bambu ater, density, MOR, MOE PENDAHULUAN Bambu merupakan produk hasil hutan non kayu yang termasuk dalam jenis tumbuhan Bamboidae anggota sub familia rumput, tumbuhan jenis ini mempunyai batang berongga dan beruas-ruas yang mudah ditemukan hidup liar di wilayah Indonesia. Bambu juga telah dikenal dan sangat dekat dengan kehidupan masyarakat Indonesia. Keanekaragaman jenis bambu di dunia sekitar 1250 1500 jenis, sedangkan Indonesia memiliki 10% atau sekitar 154 jenis bambu1. Dewasa ini bambu telah menjadi alternatif bahan bangunan terutama untuk kegunaan struktural. Dalam perkembangannya sebagai bahan alternatif, komunitas peneliti dari berbagai negara telah meneliti dan mencari berbagai data kekuatan bambu untuk mendukung hal tersebut. Seiring dengan perkembangan penelitian metode pengujian dan jenis bambu yang digunakan berbeda tergantung dari potensi jenis bambu dimana

penelitian tersebut dilakukan, sehingga tidak tepat bila dijadikan acuan dari jenis bambu ditempat lain. Berdasarkan hal diatas maka perlu dilakukan penelitian tersendiri yang membahas karakteristik kekuatan bambu dengan melihat potensi bambu yang ada di Indonesia untuk digunakan sebagai informasi oleh masyarakat. Salah satu potensi bambu yang ada di Indonesia adalah bambu ater, dimana jenis bambu ini memiliki penyebaran yang cukup luas di Indonesia terutama di pulau jawa dan memiliki sifat yang baik yaitu kuat, lurus, pengerjaannya mudah dan dapat tumbuh dewasa dalam waktu 3 4 tahun. Salah satu penelitian bambu yang pernah dilakukan dengan menggabungkan beberapa metode pengujian adalah seperti yang dilakukan oleh Gnanaharan et al 2 dalam pengujian Bending Strength of Guadua Bamboo Comparasion of Different Testing Procedures. Dalam penelitian tersebut dilakukan pengujian kekuatan lentur bambu Guadua angustifiola dari Costa Rica dengan tiga metode pengujian yaitu 4-point bending test panjang 3000 mm, 3-point bending test panjang 700 mm dan pengujian lentur dalam bentuk split speciment panjang 140-210 mm. Sifat fisis dan mekanis merupakan informasi penting guna memberi petunjuk tentang cara pengerjaan maupun sifat barang yang dihasilkan. Hasil pengujian sifat fisis dan mekanis bambu telah dilakukan oleh Ginoga3 (1977). Pengujian dilakukan pada bambu apus (Gigantochloa apus Kurz.), bambu hitam (Gigantochloa nigrocillata Kurz.) dan bambu lainnya, namun terbatas hanya pada beberapa jenis dan umur bambu. Selain itu ada beberapa hal yang mempengaruhi sifat fisis dan mekanis bambu yaitu umur, posisi ketinggian, diameter, tebal daging bambu, posisi beban (pada buku atau ruas), posisi radial dari luas sampai ke bagian dalam dan kadar air bambu3. Oleh karena itu dalam penelitian ini mencoba mengidetifikasi kekuatan bambu yang hanya dibatasi pada kekuatan lentur melalui tiga metode pengujian dengan memperhatikan variabel-variabel yang mempengaruhi, terutama tinjauan nilai density. Penelitian juga dilakukan untuk tujuan jangka panjang dalam pembuatan database kekuatan bambu sehingga masih merupakan penelitian awal dengan variasi pengujian umur bambu yang masih muda yaitu terbatas pada umur satu dan dua tahun. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui karakteristik kekuatan lentur dari keseluruhan bagian batang bambu ater dan juga mencari nilai persamaan untuk prediksi kekuatan lentur dengan variable yang mempengaruhi.

METODE DAN BAHAN Penelitian mulai dilakukan pada 20 Juli 2007 sampai dengan 30 Mei 2008. Jenis bambu yang digunakan sebagai sampel adalah bambu ater (Gigantochloa atter Kurz.) yang ditanam di kebun bambu di lingkungan kantor UPT BPP Biomaterial LIPI di Cibinong tahun 2003. Variasi umur bambu yang digunakan pada penelitian ini adalah pada umur bambu muda yaitu satu dan dua tahun. Sampel bambu diambil sepanjang batang yang utuh, untuk kemudian dikeringkan secara alami ditempat terlindung dengan kadar air kurang dari 30%. Detail pemotongan sepanjang bambu untuk sampel pengujian dapat dilihat pada Gambar 1.

30 m m

S T (S p lit T o p )

1000 m m

R S T (R o u n d S h o rt T o p )

65 00 m m

37 0 0 m m

R L (R o u n d L o n g )

1 0 00 m m

R S B (R o u n d S h o rt B a s e )
30 m m

S B (S p lit B ase )

Gambar 1. Metode pengambilan sample dari tiap batang Pada bagian tengah batang bambu sesuai spesies dan umur bambu diambil potongan bambu dengan panjang 3700 mm untuk dilakukan pengujian 4-point bending sebanyak masing-masing 3 sampel4. Selanjutnya sisa potongan pada bagian pangkal dan pucuk bambu diambil masing-masing sepanjang 1000 mm untuk pengujian 3-point bending sebanyak 3 sampel sehingga total sample, seluruhnya adalah 6 sampel5. Sedangkan bagian ujung digunakan untuk pengujian 3-point bending dalam bentuk potongan kecil (split) dengan panjang 300 mm yang diuji pada arah permukaan kulit bambu yang menerima gaya tarik dan permukaan kulit bambu yang menerima gaya tekan pada saat pengujian6, untuk lebih jelas dapat dilihat pada Gambar 2.

RL (Round Long)

RSB (Round Short Base)

RST (Round Short Top)

SB (Split Base) STT (Split Top Top)

ST (Split Top)

SBT (Split Base Top)

SBB (Split Base Bottom)

STB(Split Top Bottom)

Gambar 2. Metode pengujian sampel2 Kerapatan dan kadar air Dari setiap batang bambu dan umur diambil sampel kecil dari jarak yang dekat dengan titik pengujian untuk dilakukan pengujian kadar air (moisture content) dan kerapatan (density). Kadar air diukur menggunakan oven dengan metode pengeringan. Sedangkan kerapatan diukur dengan menggunakan densitometer. Analisis data Hasil analisa lebih ditekankan pada statistik hubungan antara variable, dengan maksud untuk menemukan cara yang mudah dalam menentukan sifat mekanik dari bambu dan selebihnya hasil penelitian akan dipaparkan secara deskriptif. Untuk mencari persamaan yang dapat memprediksi nilai MOR dan MOE maka dilakukan Multiple liniear regression pada variable-variabel yang mempengaruhi. Selain itu juga dilakukan uji beda paired t-test pada sampel split untuk melihat ada tidaknya perbedaan kekuatan lentur antara pengujian dengan pemukaan kulit tertekan dan pengujian dengan permukaan kulit tertarik, juga antara bagian pangkal dan bagian pucuk batang. Analisa statistik dalam penelitian ini dibantu dengan software SPSS V.15, dengan memperhatikan sebaran data berdistribusi normal menurut Kolmogorof-Smirnov Test.

HASIL DAN PEMBAHASAN Gambaran umum besarnya nilai rata-rata kerapatan terhadap keseluruhan panjang bambu dan sampel dapat dilihat pada Gambar 3.
1.0 0.9
K r p ta e a a n(g /c 3 r m ).....

0.8 0.7 0.6 0.5 0.4 0.3 0.2 0.1 0.0 SB R B S R L R ST S T B atang bambu Ater 1 tahun Ater 2 tahun

SB RSB RL RST ST

: Split Base : Round Short Base : Round Long : Round Short Top : Split Top

Gambar 3. variasi kerapatan sepanjang bambu Dari Gambar 3 dapat dilihat rata-rata nilai kerapatan sepanjang bambu, dimana nilai kerapatan maksimum bambu ater umur satu tahun terdapat pada bagian RSB yang menunjukkan pematangan dan perkembangan serat bambu muda masih terkonsentrasi pada pangkal batang. Sedangkan pada umur dua tahun kerapatan bambu dari pangkal ke pucuk batang mulai meningkat yang disebabkan bertambahnya serat dan penurunan jumlah vascular bundles dengan nilai maksimum terdapat pada bagian RST sehingga pematangan batang bambu sudah terkonsentrasi pada daerah pucuk batang. Sampel bulat panjang Pada Gambar 4 hasil pengujian dari sampel bulat panjang merupakan gambaran besarnya kekuatan lentur pada bagian tengah bentang bambu.
70 60
MOR (MPa)....
MOE (Mpa)....

8000 7000 6000 5000 4000 3000 2000 1000 0

50 40 30 20 10 0 1 U mur (tahun) 2

1 U mur (tahun)

Gambar 4. Nilai MOR dan MOE bambu ater untuk sample bulat panjang 5

Dari Gambar 4 dapat dilihat bahwa, dari umur satu hingga dua tahun nilai rata-rata kekuatan lentur bambu ater akan mengalami peningkatan. Hal ini menunjukkan bahwa perkembangan sel bambu yang bertambah dengan bertambahnya umur diikuti dengan pertambahan serat yang mengakibatkan kekuatan bambu akan meningkat. Untuk melihat variabel apa saja yang mempengaruhi nilai MOR dan MOE dilakukan Multiple liniear regression yang hasilnya dapat dilihat pada Tabel 1. Tabel 1. Persamaan Multiple liniear regression untuk memprediksi nilai MOR dan MOE pada sampel bulat panjang bambu ater.
Umur 1 th 2 th Y MOR MOE MOR MOE X1 kerapatan kerapatan kerapatan kerapatan X2 tebal tebal tebal tebal X3 diameter luar diameter luar diameter luar diameter luar Persamaan Y = 90,836 X1 + 20,910 X2 - 2,425X3 Y = 1304,348X1 - 292,792X2 + 91,743X3 Y = 166,485 X1 + 1,608 X2 - 1,211 X3 Y = 16759,681X1+ 94.377X2 -107,046X3 R2 1 1 1 1

Dari Tabel 1 hasil Multiple liniear regression didapat persamaan yang bisa digunakan untuk meprediksi besarnya nilai MOR maupun MOE untuk masing-masing umur bambu ater dengan nilai R2 = 1. Sedangkan variabel yang mempengaruhi kekuatan lentur bambu ater pada bagian tengah bentang adalah nilai kerapatan, tebal dan diameter luar. Sampel bulat pendek Pada Gambar 5 hasil pengujian dari sampel bulat pendek berupa nilai MOR dan MOE. Nilai tersebut merupakan gambaran besarnya kekuatan lentur pada bagian atas (round short top) dan bawah (round short base) bentang bambu.

70 60
MO R (MPa)....
MOE (MPa)....

8000 7000 6000 5000 4000 3000 2000 1000 0 RSB(Round Short Base) RST(Round Short Top)

50 40 30 20 10 0 1 Umur (tahun) 2

1 Umur (tahun)

Gambar 5. Nilai MOR dan MOE bambu ater untuk sample bulat pendek

Dari Gambar 5 dapat dilihat bahwa dari umur satu hingga dua tahun nilai rata-rata kekuatan lentur bambu, baik itu pada MOR maupun MOE secara umum akan mengalami peningkatan. Hal ini menunjukkan bahwa perkembangan sel dan serat bambu juga bertambah dengan bertambahnya umur baik itu pada pangkal maupun pucuk batang dan sesuai dengan nilai kerapatan seperti ditunjukkan pada Gambar 2 dimana salah satu yang mempengaruhi kekuatan lentur adalah nilai kerapatan. Untuk melihat lebih jelas variabel yang mempengaruhi nilai MOR dan MOE pada sampel bulat pendek untuk bagian pangkal dan pucuk batang dilakukan Multiple liniear regression yang hasilnya dapat dilihat pada Tabel 2. Tabel 2. Persamaan Multiple linier regression untuk memprediksi nilai MOR dan MOE pada sampel bulat pendek bambu ater.
Umur 1 th 2 th Y MOR MOE MOR MOE X1 density density density density Persamaan Y = 35,004 X1 Y = 4146,676 X1 Y = 43,707X1 Y = 6465,170 X1 R2 0,977 0,985 0,954 0,930

Dari Tabel 2 hasil Multiple liniear regression didapat persamaan yang bisa digunakan untuk meprediksi besarnya nilai MOR maupun MOE untuk masing-masing umur bambu ater dengan R2 yang mendekati 1. Sedangkan variabel yang lebih mempengaruhi pada sampel bulat pendek hanya nilai kerapatan. Sampel potongan kecil Pada Gambar 6 hasil pengujian dari sampel split berupa nilai MOR dan MOE yang besarannya tergantung dari posisi sampel dan jenis pengujian.
300 250 200 150 100 50 0 1 Umur (tahun) 2

30000 25000 20000 15000 10000 5000 0 1 Umur (tahun) 2

MOR (MPa)...

MOE (MPa)...

SBB (Split Base Bottom) SBT(Split Base Top) STB(Split Top Bottom) STT(Split Top Top)

Gambar 6. Nilai MOR dan MOE bambu ater untuk sample split 7

Dari Gambar 6 dapat dilihat bahwa dari umur satu hingga dua tahun nilai rata-rata kekuatan lentur bambu baik itu pada MOR maupun MOE akan meningkat, dan peningkatan yang sangat signifikan terdapat pada pengujian split top dimana nilai kekuatan lenturnya lebih besar dari split base. Sehingga bisa dikatakan bahwa kekuatan lentur pucuk batang lebih besar dari pada pangkal batang. Untuk mengetahui adakah perbedaan kekuatan yang nyata antara sampel bagian pangkal dengan sampel bagian pucuk batang dan perbedaan kekuatan antara sampel yang diuji dengan bagian kulit tertarik dan dengan bagian kulit tertekan, maka perlu dilakukan uji beda kekuatan. Hasil lengkap pengujian paired t-test dapat dilihat pada Tabel 3. Tabel 3. Hasil uji beda kekuatan lentur pada sampel bentuk split.
Umur 1 th 2 th Paired t-test T-value p T-value p SBB-SBT MOR MOE 0,501 0,032 0,626 0,975 3,053 3,006 0,011 0,012 STB-STT MOR MOE 4,681 2,665 0,001 0,026 3,749 -0,960 0,003 0,358 (SBB+SBT) - (STB+STT) MOR MOE -4,669 -14,337 0,001 0,000 -13,857 -12,056 0,000 0,000

Dari Tabel 3 dapat dilihat bahwa secara umum hubungan kekuatan antara jenis pengujian memiliki perbedaan kekuatan lentur, begitu juga antara bagian pangkal dan ujung batang ditunjukkan dengan nilai p < 0,05. Namun untuk bagian pangkal pada bambu ater (split base) umur satu tahun beda pengujian tidak menunjukan perbedaan kekuatan yang terlalu signifikan ditunjukkan dengan nilai p > 0,05. Perbedaan yang signifikan antar pangkal dan pucuk batang disebabkan karena jumlah konsentrasi serat antar pangkal dan pucuk batang memang berbeda, dimana pada pucuk batang konsentrasi serat lebih besar. Untuk mencari variabel apa saja yang dapat mempengaruhi nilai MOR dan MOE dilakukan Multiple liniear regression yang hasilnya dapat dilihat pada Tabel 4. Tabel 4 Persamaan Multiple linier regression untuk memprediksi nilai MOR dan MOE pada sampel bulat pendek bambu ater
Umur 1 th 2 th Y MOR MOE MOR MOE X1 kerapatan kerapatan kerapatan kerapatan X2 tebal tebal tebal tebal Persamaan Y = 141,728X1 2,669 X2 Y = 19781,181X1 733,913 X2 Y = 463,549 X1 15,272 X2 Y = 42886,925 X1 1616,223 X2 R2 0,983 0,942 0,922 0,915

Dari Tabel 4 hasil Multiple liniear regression didapat persamaan yang bisa digunakan untuk meprediksi besarnya nilai MOR maupun MOE untuk masing-masing umur

bambu ater dengan R2 yang mendekati 1. Sedangkan variabel yang mempengaruhi pada sampel split adalah nilai kerapatan dan tebal bambu.

Kesimpulan
Kekuatan lentur bambu ater pada umur satu dan dua tahun akan lebih besar pada bagian pucuk batang (round short top ; split top). Secara keseluruhan kekuatan lentur bambu ater akan lebih banyak dipengaruhi oleh nilai density dimana jumlah sel dan serat akan bertambah seiring waktu sehingga kekuatan lentur akan meningkat. Selain itu pengambilan persamaan dan variabel data bambu untuk memprediksi nilai kekuatan lentur harus mempertimbangkan umur bambu dan posisi dari bagian bambu yang akan digunakan.

Daftar Pustaka
1Tan

Lieke. 2006. Mengenal Bambu dan Manfaatnya Terhadap Konservasi Alam dan Kerajinan. http://www.geocities.com/ewang_unpatti/seminarbambu.,

Konstruksi

dikases tanggal 20 Februari 2008.


2Gnanaharan

et al. 1994. Bending Strength of Guadua Bamboo Comparasion of Diffrent Testing Procedures. Working paper. International Network for Bamboo and Rattan no 3, Kerala Forest Research Institute, New Delhi.
3Krisdianto

dkk. 2006. Sari Hasil Penelitian Bambu. http://www.dephut.go.id/INFORMASI/litbang/teliti/bambu.htm., diakses tanggal 20 Februari 2008.
4International

Standard. 2004. Bamboo - Determination of physical and mechanical properties - Part 1: Requirements. ISO 22157-1: 2004, Switzerland.
5BIS

(Bureau of Indian Standards). 1973. Methods of Tests for Round Bamboos. IS: 6874. Bureau of Indian Standards, New Delhi.
6BIS

(Bureau of Indian Standards). 1976. Methods of Tests for Split Bamboos. IS: 8242. Bureau of Indian Standards, New Delhi.