Anda di halaman 1dari 26

RHINITIS VASOMOTOR SINUSITIS MAXILLARIS DENTOGEN MOLAR 3 DEXTRA

Gizza Dandy Pradana Ryan Aprilian Putri Octi Guchiani

G1A009024 G1A009025 G1A009026

IDENTITAS PASIEN
Nama : Ny. K

Umur
Jenis kelamin Alamat Agama Pekerjaan

:
: : : :

27 tahun
Perempuan Mandiraja Rt 02 Rw 05 Banjarnegara Islam Ibu Rumah Tangga 17 12 2012

Tanggal Periksa :

ANAMNESIS
1. Keluhan Utama: pilek, ingus tidak bisa keluar dan berbau 2. Riwayat Penyakit Sekarang

Pasien datang ke poli THT dengan keluhan pilek, ingus pada hidung kanan tidak bisa dikeluarkan dan berbau sejak 1 tahun yang lalu. Keluahan berlangsung terus menerus, jumlahnya banyak. Keluahan dirasa bertambah berat saat pagi hari dan di udara dingin, serta berkurang pada siang hari. Pasien mempunyai riwayat gigi berlubang (molar 3 kanan) dicabut 3 hari yang lalu. Keluhan lainnya penglihatan tidak jelas, pusing, dan batuk. Sesak nafas disangkal. Gangguan pendengaran disangkal. Demam disangkal.
3. Riwayat Penyakit Dahulu

Tidak ada alergi


4. Riwayat Penyakit Keluarga Tidak ada alergi

PEMERIKSAAN FISIK
A. Keadaan Umum B. Kesadaran C. Vital sign T N R S : : : : 120/80 mmHg 80 x/menit 20 x/menit 37 C : baik : Compos mentis

STATUS GENERALIS
1. Kepala Mata THT 3. Thorak Cor : S1>S2 reguler, murmur (-), gallop (-) Pulmo : suara dasar vesikuler, rhonki basah (-/-), wheezing (-/-) 4. Abdomen: Inspeksi Auskultasi : datar : bising usus (+) N : konjungtiva anemis (-/-), sklera ikterik (-/-) : status lokalis

2. Leher : simetris

Palpasi : supel
Perkusi : tympani 5. Ekstremitas: edema (-)

STATUS LOKALIS
1. Telinga Tidak dilakukan

2. Hidung a. Rhinoskopi Anterior Dextra Sinistra Concha Medius Hiperemis Eudema ( + ( + ) ( + ) ) ( + ) Keterangan

Concha Inferior

Hiperemis
Eudema

( +
( + ( -

) ( + )
) ( + ) ) ( ) Letak Bentuk ::-

Polip

Sekret Tumor Deviasi Septum Letak

+) (

+ )

: meautus nasi media

Bentuk : mukoid Warna : bening Sifat : tidak banyak ( ( - ) ( - ) ( - ) - )

Rhinoskopi Posterior Adenoid Post nasal drip

Keterangan tidak dilakukan tidak dilakukan

Tumor

tidak dilakukan

3. Tenggorokan a. Uvula : hiperemis (-), letak simetris ditengah (sentral)

b.

Tonsil
Hipertrofi Kripte Detritus

Dextra
( - ) ( - ) ( - )

Sinistra Keterangan
( - ) ( - ) ( - ) T1-T1

c. Mulut

Hiperemis

( - )

( - )

Lidah Gigi

: :

dbn terdapat bekas cabut gigi (molar 3 dextra superior)

d.

Faring
Granulasi Hiperemis : : -

Post nasal drip : -

e.

Laringoskopi Indirek
Tidak dilakukan

PEMERIKSAAN PENUNJANG
Rontgen (posisi waters) 1. Deviasi septum nasi 2. Kesuraman pada sinus maxillaris kanan

3. Tidak tampak kesuraman pada sinus maxillaris kiri, sinus


frontalis kanan kiri, sinus ethmoidalis kanan kiri 4. Mastoid air cell kanan kiri baik

DIAGNOSIS KERJA
1. Rhinitis vasomotor
2. Sinusitis maxillaris dentogen molar 3 dextra superior

DIAGNOSIS BANDING
1. Rhinitis alergi 2. Rhinitis infeksi kronis

TERAPI
Medikamentosa
Rhinitis vasomotor Dekongestan oral pseudoefedrin 3x 60 mg Kortikosteroid topikal budesonide

Sinusitis maxillaris Antibiotik amoksisilin 3 x 500mg (2 minggu) Pungsi irigasi sinus

Edukasi
1. Hindari penyebab (dingin, renang, hujan-hujanan, minum air dingin/es

2. Perbaikan ventilasi kamar


3. Makan-makanan bergizi untuk meningkatkan gizi 4. Olahraga 5. Penjelasan tentang penyakit, faktor resiko

USULAN PEMERIKSAAN
Kultur sekret, tes alergi, IgE serum

PROGNOSIS
Bonam

KOMPLIKASI
1. Osteomiellitis dan abses subperiosteal

2. Meningitis
3. bronkitis

RINITIS VASOMOTOR
KELOMPOK B

DEFINISI
Rinitis vasomotor adalah suatu inflamasi mukosa hidung yang bukan merupakan proses alergi, bukan proses infeksi, menyebabkan terjadinya obstruksi hidung dan rinorea.
Rinitis vasomotor adalah infeksi kronis lapisan mukosa hidung yang disebabkan oleh terganggunya keseimbangan sistem saraf parasimpatis dan simpatis

ETIOLOGI
Etilogi pasti rinitis vasomotor belum diketahui dan diduga akibat gangguan keseimbangan sistem saraf otonom yang dipicu oleh zat-zat tertentu

FAKTOR PREDISPOSISI
Obat-obatan yang menekan dan menghambat kerja saraf simpatis, seperti ergotamin, chlorpromazin, obat anti hipertensi dan obat vasokonstriktor topikal.
faktor fisik, seperti iritasi oleh asap rokok, udara dingin, kelembaban udara yang tinggi dan bau yang merangsang. faktor endokrin, sepeti keadaan kehamilan, pubertas, pemakaian pil anti hamil dan hipotiroidisme.

faktor psikis, seperti stress, ansietas dan fatigue

PATOFISIOLOGI
Sistem saraf otonom mengontrol suplai darah ke dalam mukosa nasal dan sekresi mukus Diameter dari arteri hidung diatur oleh saraf simpatis sedangkan saraf parasimpatis mengontrol sekresi glandula dan mengurangi tingkat kekentalannya, serta menekan efek dari pembuluh darah kapasitan (kapiler) Efek dari hipoaktivitas saraf simpatis atau hiperaktivitas saraf parasimpatis bisa berpengaruh pada pembuluh darah menyebabkan terjadinya peningkatan edema interstisial dan akhirnya terjadi kongesti yang bermanifestasi klinis sebagai hidung tersumbat Aktivasi dari saraf parasimpatis juga meningkatkan sekresi mukus yang menyebabkan terjadinya rinorea yang eksesif

PENEGAKAN DIAGNOSIS

PENATALAKSANAAN
Pengobatan rinitis vasomotor bervariasi, tergantung kepada faktor penyebab dan gejala yang menonjol. Secara garis besar, pengobatan dibagi dalam (Wheeler, 2005). :
1. Menghindari penyebab / pencetus ( Avoidance therapy ) 2. Pengobatan konservatif ( Farmakoterapi ) dekongestan, anti histmain, kortikosteroid topikal, anti kolinergik Terapi operaitf dilakukan bila pengobatan konservatif gagal

PROGNOSIS

Prognosis dari rinitis vasomotor bervariasi. Penyakit kadang-kadang dapat membaik dengan tiba tiba, tetapi bisa juga resisten terhadap pengobatan yang diberikan.

KOMPLIKASI

Sinusitis
Eritema pada hidung sebelah luar

Pembengkakan wajah

SINUSITIS
Sinusitis adalah randang pada mukosa yang melapisi sinus produksi sekret berlebih + gangguan drainase
Predisposi: 1. Infeksi karena virus dan bakteri pada saluran nafas. 2. Rhinitis alergi, rinitis hormonal (wanita hamil) 3. Polip hidung. 4. Kelainan anatomi : deviasi septum, hipertrofi konka. 5. Sumbatan di Kompleks Osteo Meatal (KOM). 6. Infeksi tonsil. 7. Infeksi gigi. 8. Kelainan Imunologi. 9. Diskinesia silia (sindrom kertagener). 10. Hipertrofi adenoid pada anak. 11. Lingkungan : polusi, udara dingin dan kering, kebiasaan merokok.

PATOFISIOLOGI
Faktor predisposiedem mukosa sinusgangguan fungsi siliagangguan drainase sinus bakteri patogen tumbuh subuh hipoksia & stasis lendir bakteri anaerob tumbuh sekret bau, jika berlangsu lamahipertrofi jar. polip dan kista

PENEGAKAN DIAGNOSIS
sinusitis akan diperoleh keluhan demam, lesu, ingus kental berbau busuk yang mengalir ke nasofaring, nyeri lokal da nyeri alih:

Sinus maxillaris: bawah mata, gigi, dahi, telinga. Sinus ethmoidalis: pangkal hidung, bola mata, dan pelipis. Sinus frontalis: dahi dan seluruh kepala.

Sinus sfenoidalis: vertex, oksipital dan mastoid


RA: mukosa konka yang edem dan hiperemis, terdapat nanah di meatus nasi. RP: post nasal drip Ro Waters: air fluid level/ perselubungan Transiluminasi

PENATALAKSANAAN
medikomentosa
dekongestan, ekspektoran, antikolinergik, analgetik, kortikosteroid, antibiotik, pencucian hidung dan pembedahan (Operasi Cadwell Luc pada sinus maxillaris, Operasi ethmiodektomi pada sinus ethmoidalis,Operasi Killian pada sinus frontalis,Operasi intranasal pada sinus sfenoidalis,Bedah sinus endoskopik fungsional dengan prinsip membuka daerah ostio meatal sehingga drainase berjalan baik).

nonmedikamentosa
Perbaiki ventilasi rumah. Tidur dengan kepala yang ditinggikan. Hindari polutan. Diet seimbang dan olahraga. Menghirup uap air mendidih 2-4 kali perhari,

prognosis
Pada pasien tanpa komplikasi dapat sembuh dan beraktivitas normal. Pasien dengan komplikasi akan memperpanjang masa pengobatan. Pengobatan gagal terjadi pada sekitar 10-15% pasien

Komplikasi
Osteomielitis dan abses subperiosteal. Edem palpebra dan abses orbita. Meningitis dan abses intrakranial. Bronkitis dan bronkiektasis.