Anda di halaman 1dari 2

Polusi Udara sebagai Dampak dari Nabun pada Warga RT06/01 Kampung Ganceng Kecamatan Cipayung, Jakarta Timur

Muhammad Utsman 4815107128 Pendidikan Sosiologi Non Reg 2010 Tulisan ini mengetengahkan sekilas pandang mengenai pencemaran udara di ligkungan sekitar. Semakin pesatnya kemajuan ekonomi mendorong semakin bertambahnya kebutuhan akan konsumsi, transportasi, dan sebagainya. Dilain sisi lingkungan alam yang mendukung hajat hidup manusia semakin terancam kualitasnya, efek negatif pencemaran udara kepada kehidupan manusia kian hari kian bertambah. Untuk itulah tulisan singkat ini dipersembahkan sebagai bahan awal untuk melangkah menciptakan lingkungan yang sehat dan nyaman. Pencemaran udara adalah masuknya, atau tercampurnya unsur-unsur berbahaya ke dalam atmosfir yang dapat mengakibatkan terjadinya kerusakan lingkungan, gangguan pada kesehatan manusia secara umum serta menurunkan kualitas lingkungan.Pencemaran udara dapat terjadi dimana-mana, misalnya di dalam rumah, sekolah, dan kantor. Pencemaran ini sering disebut pencemaran dalam ruangan (indoor pollution). Sementara itu pencemaran di luar ruangan (outdoor pollution) berasal dari emisi kendaraan bermotor, industri, perkapalan, dan proses alami oleh makhluk hidup. Di daerah Kampung Ganceng ini pun terjadi pencemaran udara yang desebabkan oleh pembakaran sampah rumah tangga yang dilkukan oleh para warganya. Pencegahan pencemaran lingkungan sudah seharusnya dilakukan demi menjaga kelestarian alam dimana tempat kita hidup. Namun sebagian warga RT06/01 di Kampung Ganceng ini kurang mengerti akan hal itu. Warga daerah ini terutama ibu rumah tangga sangat sering sekali membakar limbah atau sampah dari rumah tangga mereka terutama pada sore hari, dan mereka sering menyebut kegiatan ini sebagai nabun.

Masalah sampah memang tidak bisa dipisahkan dengan persolan pencemaran lingkungan. Kita tidak usah terlalu mengkritisi pencemaran yang dilakukan oleh perusahaan-perusahaan besar, cukup dengan menjaga tingkah laku kita sehari-hari dalam mencitai alam cukup untuk melestarikan lingkungan sekitar kita. Sebaiknya ada pemisahan antara sampah organik dan non organik, dan ada pengelolaan atau pemanfaatan sampah yag baik agar bisa di daur ulang, namun hal ini tidak tercermin dari warga Kampung Ganceng yang masih melakukan pembakaran sampah rumah tangga mereka.

Kegiatan nabun ini pada awalnya tidak sesering yang dilakukan pada saat ini. Hal ini terjadi dikarenakan lahan kosong yang dijadikan tempat pembuangan sampah warga sini sudah pindah kepemilikan, di beli oleh pihak developer untuk dibangun perumahan dengan model kapling, sehingga saat ini warga pun tidak deperbolehkan membuang sampah di tempat itu. Pihak developer pun sampai saat ini tidak membuat tempat pembuangan sampah baru sebagai pengganti tempat pembuangan sampah yang lama. Akhirnya warga pun beralih dari membuang sampah menjadi membakar sampah rumah tangga mereka. Bagi mereka nabun merupakan hal yang biasa saja, bahkan meurut saya mereka sangat menyukai kegiatan ini, mereka yang lelah mengurusi seharia kegiatan rumah tangganya, melakukan kegiatan nabun ini di sore hari sambil berinteraksi dengan ibu rumah tanggla lainya. Mereka berbincang-bincang, arisan kecil-kecilan, bahkan bergosip pada saat menabun secara bersama-sama. Seolah mereka tidak sadar bahwa kegiatannya telah mencemari lingkungan mereka. Walaupun secara tidak langsung, tetapi apabila kegiatan ini berlangsung secara terus menerus akan membahayakan kehidupan warga sekitar Kampung Ganceng ini. Terlihat dari semakin banyaknya daun pohon pepaya yang mudah menguning dan pohon ketapang yang dahulu di daerah ini selalu berbuah, sekarang sudah tidak berbuah lagi, ini berarti bahwa udara disekitar wilyah ini sudah meningkat keasamannya yang di tandai oleh daun pepaya yang menguning tersebut dan pohon ketapang yang sudah tidak berbuah. Dahulu di daerah ini pada tahun 1990an masih terasa sangat sejuk dengan udara yang begitu bersih, namun pada saat ini udara sudah mulai terasa panas, mungkin pembakaran sampah atau nabun ini menjadi salah satu penyebab kejadian ini. Kegiatan ini bukannya mendapat persetujuan oleh warga sekitar lainnya, ada beberapa yang mengadukan hal ini ke ketua RT, dan solusi yang dilakukan adalah mulai minggu yang lalu sudah ada petugas yang mengangkut sampah setiap hari dengan biaya retribusi sebesar Rp.5000 setiap sebulan per satu keluarga dan efeknya sekarang sudah berkurangnya pembakaran sampah rumah tangga atau nabun di daerah ini, waluapun kegiatan serupa masih di lakukan di RT sebelah. Semoga kesadaran warga akan pentingnya udara yang tidak tercemar semakin meningkat, sehingga kegiatan pencemaran lingkungan yang dianggap wajar oleh beberapa warga Kampung Ganceng ini menjadi semakin berkurang dan udara daerah Kampung Ganceng ini menjadi sejuk kembali.