LAPORAN PENDAHULUAN dan ASUHAN KEPERAWATAN Pada Tn.

“ M ” dengan Diagnosa Medis “ STEMI ” ( ST Elevasi Miokard Infark ) Di Ruang “ ICU ” RSUD dr. Soedomo Trenggalek

ANGGOTA KELOMPOK I : 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. 12. Ackhip Triana Adif Zainul Arifin Ana Bachtiar Redy A. Bayu Nurhianto Chairirul Fawaid Santoso Dedik Budianto Dian Permanasari Illuh Wuwuh Asrining Puri Mei Cristiana Muhibbatul Husna Zulvia Mayanti

AKADEMI KEPERAWATAN PEMKAB TRENGGALEK Jln. Dr. Soedomo No. 5 Telp (0355) 791293 Kode Pos 66312 TRENGGALEK 2012

1.

DEFINISI KASUS

SKA adalah kejadian kegawatan pada pembuluh darah koroner (Andra, 2006). SKA adalah fase akut dari Angina Pectoralis Tidak Stabil/ APTS yang disertai infark miokard akut/ IMA gelombang Q ( IMA Q ) dan non ST elevasi (Non STEMI) tanpa gelombang Q (IMA TQ) dengan ST elevasi (STEMI) yang terjadi karena adanya thrombosis akibat rupture plak aterosklerosis yang tidak stabil (Wasid, 2007). SKA adalah salah satu sindrom yang terdiri dari beberapa penyakit koroner yaitu angina tak stabil (unstable angina), infark miokard non elevasi ST, infark miokard ST elevasi ( STEMI ). Maupun angina pectoralis fase infark/ pasca tindakan intervensi koroner perakutan (Harum, 2007). SKA adalah gabungan gejala klinis yang menandakan iskemia miokard akut terdiri dari infark miokard akut dengan elevasi segmen ST (STEMI). Infark miokard akut tanpa elevasi segment ST (NSTEMI), dan angina pectoris tidak stabil (Unstable Angina Pectoris). SKA adalah keadaan darurat jantung dengan manifestasi klinis rasa tidak enak di dada/ gejala lain sebagai kaibat iskemia miokardium (HARUM, 2007) SKA adalah terjadi ketidak seimbangan antara suplai dan kebutuhan O2 miokard (Heni Rohani). Infark miokard akut didefinisikan sebagai nekrosis mikard yang disebabkan oleh tidak adekuatnya pasokan darah akibat sumbatan akut pada arteri koroner.

usia lanjut. gangguan pemasukan nutrisi kurang dari kebutuhan dan gangguan kecemasan karena kurang pengetahuan. SKA dapat menyebabkan berbagai masalah. HT. Aterosklerosis menyebabkan pembuluh darah pecah yang akhirnya mengakibatkan faktor pembekuan dan pengeluaran faktor jaringan. selain menyebabkan kelemahan fisik ATP/ energy turun yang menyebabkan penurunan suplai O2 dan peningkatan kebutuhan O2 juga menyebabkan STEMI bila danya ST elevasi dan mengakibatkan NSTEMI bila tidak ada ST elevasi . Pada metabolism anaerob dapat juga menyebabkan energy/ ATP turun yang menyebabkan kelemahan fisik . crah jantung menurun. Aterosklerosis diakibatkan karena hiperkolesterolemia. gangguan rasa nyaman nyeri menyebabkan banyak masalah diantaranya gangguan pola tidur . SKEMA B. SKA mengakibatkan curah jantung menurun yang berakibat resiko gangguan cairan elektrolit. hipokalemia. URAIAN Aterosklerosis merupakan suatu penyumbatan yang diakibatkan karena lemak menggumpul. kelemahan fisik menyebabkan intoleransi aktivitas dan betrest. Bedrest mengakibatkan mobilitas kurang. salah satunya akan terjadi peningkatan kebutuhan O2 dan suplai O2 yang akan menyebabkan terjadinya metabolism anaerob. kegemukan. disertai produksi thrombin meningkat yang terjadi secra agresi yang akhirnya terjadi pembekuan trombus yang berakibat penurunan aliran darah koroner. juga menyebabkan suplai O2 . Merokok. DM. selain itu juga menyebabkan gangguan personal hygiene. Bedrest menyebabkan penekanan yang lama pada bagian tubuh yang mengakibatkan tubuh terjadi lecet dan muncul ulkus sehingga muncul diagnosa keperawatan resiko tiggi gangguan integritas kulit.2. Dan dari penurunan aliran darah koroner terjadilah SKA (Sindroma Koroner Akut). intoleransi aktivitas. PATOFISIOLOGI A. akhirnya terjadi penurunan peristaltic maka terjadi konstipasi dan muncul diagnose keperawatan perubahan pola eliminasi. hal ini juga merupakan faktor penyebab dekompensasi kordis. sehingga muncul masalah keperawatan gangguan rasa nyaman nyeri . sehingga produksi asam laktat meningkat dan menimbulkan nyeri.

Anemia berat. c. ETIOLOGI Rilantono (1996) mengatakan sumber masalah sesungguhnya hanya terletak pada penyempitan pembuluh darah jantung (vasokonstriksi). Wasid (2007) menambahkan mulainya terjadinya SKA dipengaruhi oleh beberapa keadaan yaitu : a. Menurut Covie MR Dar O (2008) penyebab SKA adalah a. Infeksi pada pembuluh darah. terkejut. Aktivitas / latihan fisik yang berlebihan (tidak terkondisikan). b. d. kontraksi tidak terkoordinasi. Hipertensi d. Penyempitan ini diakibatkan oleh 4 hal. Stres. d. keadaan tersebut ada hubungan dengan peningkatan aktivitas simpatis. Kegagalan dalam abnormalitas miokard. . berkurangnya kontraktilitas. b. mengakibatkan kebutuhan O2 meningkat. Udara dingin. sehingga tekanan darah meningkat. 3. frekuensi debar jantung meningkat. maka untuk kompensasi resirasi meningkat akhirnya terjadi gangguan pola nafas. emosi. Adanya timbunan lemak (aterosklerosis) dalam pembuluh darah akibat konsumsi kolesterol tinggi. c. Vasokonstriksi (penyempitan pembuluh darah akibat kejang terus menerus).ke paru turun. Sumbatan (trombosis) oleh sel beku darah (trombus). Aritmia b. dapat disebabkan oleh hilangnya miosit (infark miokard) . meliputi : a. Takikardia (kegiatan abnormalitas ritmis jantung). c.

Kelas akut . hipoksia dan gagal nafas. b. yaitu sakit dada antara 48 jam s/d 1 bulan. infeksi. c. dengan nyeri pada waktu istirahat/ aktivitas sangat ringan. Kelas B : primer. Intake/ masukan garam tinggi. Fase I : Inpatient Anggota tim multidisiplin rehabilitasi jantung akan mengunjungi pasien jantung di ICU dan di bangsal perawatan. berat. Fase I terdiri dari 5 tahap Myocardial infark tanpa complikasi Step 1 : • • • • • • Latihan lingkup gerak sendi assistif Bangun dari tempat tidur  duduk dikursi BAB/BAK disamping tempat tidur. yakni kurang dari 48 jam. Kelas I : serangan baru. terjadi > 2 kali/ hari. seperti anemia. jika kamar mandi agak jauh Dapat melakukan aktifitas sendiri dengan duduk Terapi fisik dada (Chest physical therapy) Aktivitas level : 1 – 2 Mets Step 2 : . 4. dicetuskan oleh hal-hal diluar koroner. Secara klinis : a. KLASIFIKASI SKA Wasid (2007) mengatakan berat/ ringan SKA menurut Braunwald (1993) adalah : a. Fase Fase Rehabilitasi SKA 1. yaitu kurang dari 2 bulan progesif. hipotensi. tujuan kunjungan ini untuk memberikan exercise dan edukasi.e. c. Kelas II : subakut. demam. Kelainan congenital jantung. Kelas C : setelah infark (dalam 2 minggu IMA) belum pernah diobati. Kelas A : sekunder. f. b.

Durasi : 3-6 bulan. Rencana pulang. menjalar ke leher. Program latihan. lengan kiri dan kanan. rasa diremas-remas. Konselling dan edukasi. Fase IV : Long Term Cardiac Rehabilitation • • • Pemeliharaan jangka panjang dari goal individu (seumur hidup) Monitoring secara professional dari status klinik dan follow up perkembangan secara keseluruhan oleh tim primary healthcare Kemungkinan akan dibentuk kelompok pendukung pasien jantung (klub) 5.. serta ulu hati. Aktivitas level : 3 – 4 Mets Step 5 : • • • • • Melanjutkan program diatas Naik turun tangga 1 lantai. Rasa dingin.• • • • • • Latihan LGS aktif Duduk dikursi sesering mungkin ADL partial self care Mandi dengan shower dengan posisi duduk Berjalan short distance 2-3x/hari dengan supervisi Aktivitas level : 1 – 3 Mets Step 3 : • • • Jalan ditingkatkan (in Hall) perlahan 5-10 menit 2-3 kali sehari ADL partial selfcare Aktivitas level : 2 – 3 Mets Step 4 : • • • • Jalan ditingkatkan 5-10 menit di ruangan 3-4 kali sehari ADL/Perawatan diri secara mandiri Naik turun tangga ½ lantai atau turun tangga 1 lantai. Program Konseling Aktivitas level : 3 – 4 Mets 1. Goal : 6 Mets 1. Keluhan nyeri di tengah dada. Pasien individual/group. Durasi : 4-8 minggu. 2. 1. Fase III : Mainte Terdiri dari: Sesi edukasi formal mengenai faktor risiko. MANIFESTASI KLINIS 1. Goal : 6-8 Mets. Rasa terbakar . Fase II : Outpatient Terdiri dari : Program latihan terstruktur.

3. 7. Palpasi Denyut nadi perifer melemah. 6. B4 (Bladder) Adanya oliguri pada klien merupakan tanda awal syok kardiogenik . B3 (Brain) Kesadaran umum biasanya composmentis. 6. 8.B6 B1 (Breathing) Klien terlihat sesak. Dispnea kardiak biasa ditemukan. Kadang disertai kembung pada ulu hati Kadang disertai masuk angin Mual Pening kemudian pingsan. Auskultasi Tekanan darah biasanya menurun. 5. serta punggung. bahu. B2 (Blood) Inspeksi Keluhan lokasi nyeri biasanya di daerah substernal atau nyeri diatas pericardium. Perkusi Batas jantung tidak mengalami pergeseran. Keringat ringan Keluhan nyeri yang merambat ke kedua rahang gigi kanan/ kiri. 4. PENGKAJIAN FOKUS Pengkajian B1. frekuensi nafas melebihi nomal dan mengeluh sesak nafas seperti tercekik.

1.B5 (Bowel) Klien mengalami mual. DM . - Warna pucat atau sianosis/ kulit abu-abu. muntah. - Friksi : dicurigai perikarditis. 2. tidak dapat tidur. perubahan postural dari tidur sampai Bunyi jantung ekstra : S3/S4 mungkin menunjukkan gagal jantung/ penurunan kontraktilitas atau complain ventrikel. krekels. Edema : distensi vena juguler. edema umum. Pola hidup menetap. kesulitan melakukan perawatan diri. kelelahan. Eliminasi    Penurunan berkemih Urine berwarna gelap Nocturia . pada membrane mukosa dan bibir. tidak dapat tidur. Aktivitas/ istirahat Gejala : Kelemahan. atau lemah/ kuat kualitasnya dengan pengisian kapiler lambat. tidak teratur. edema dependen/ perifer. Nadi dapat normal. kuku datar. Disritmia mungkin terjadi. penuh/ tak kuat. - riwayat IM sebelumnya. kelelahan. Tanda : Takikardi. Irama jantung dapat teratur atau tak teratur. Sirkulasi Gejala : Tanda : duduk. masalah TD.TD : dapat normal atau naik/ turun . penurunan peristaltic usus. GJK. penyait arteri koroner. 3. dispnea pada istirahat/ aktivitas. B6 (Bone) Klien sering merasa kelemahan. Pada palpasi abdomen ditemukan nyeri tekan di ke empat kuadran.

6. Tidak tentu likasinya seperti epigastrium. rahang. 4. siku. prekordia. 5. 7. Diare/ konstipasi. berdenyut selama tidu atau saat bangun. kulit kering/ berkeringat. perubahan berat badan. TD. Sputum : bersih. penyakit pernafasan kronis. perubahan postur tubuh. Tanda : perubahan mental. batuk dengan/tanpa produksi sputum. kehilangan kontak mata. Bunyi nafas : bersih atau krekels atau mengi. sianosis. menggeliat. menangis. merah muda kental. Respons otomatik . substernal. Tanda : wajah meringis. perubahan frekuensi/ irama jantung. nyeri ulu hati/ terbakar. kesadaran. Tanda : penurunan turgor kulit. Tanda : peningkatan frekueinsi pernafasan. tidak hilang dengan istirahat atau nirogliserin. dapat menyebar ke tangan. merintih. riwayat merokok. abdomen. sesak nafas. bersendawa. Nyeri/ ketidaknyamanan Gejala : nyeri dada yang timbulnya mendadak. Lokasi : tipikal pada dada anterior. punggung. leher. Hygiene Gejala/ tanda : kesulitan melakukan tugas perawatan. pucat. rahang . warna kulit/ kelembaban. wajah. Menarik diri. Makanan / cairan Gejala : Mual. kelemahan. Pernafasan Gejala : dispnea . muntah. pernafasan. . 8. kehilangan nafsu makan. Neurosensori Gejala : pusing.

Gangguan pola nafas . Morphin d. Gagal ginjal d. Gangguan rasa nyaman nyeri 2. 3. Penurunan curah jantung 3. 8. Aspirin e. Resiko gangguan keseimbangan cairan dan elekrolit 4. Fraksi lemak menunjukkan peningkatan kadar kolesterol. oedema. MASALAH KOLABORATIF a. Oksigenasi b. PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK 1. Acites c. efusi pleura. PENATALAKSANAAN a. TIC (opidine)). b.7. 4. EKG untuk menentukan kelainan jantung. Foto thorax untuk menentukan terjadinya pembesaran jantung. Antitrombolitik lain (clopidogrel. 9. Elektrolit serum untukmengetahui kadar Na + yang rendah. 10. Syok kardiogenik. MASALAH KEPERAWATAN 1. c. Nitrogliserin (digunakan pada px yang tidak hipotensi). Hipoksemia. 2.

13. 2. 5. Gangguan pola tidur b/d nyeri. Resiko syok neurogenik Resti gangguan integritas kulit Perubahan pola eliminasi Bersihan jalan nafas tak efektif. Resiko syok neurogenik b/d nyeri 10. Bersihan jalan nafas tak efektif b/d penumpukan sekret. 7. 12. 11. 13. Intoleransi aktivitas b/d nyeri/ kelemahan fisik. Gangguan pemenuhan nutrisi kurang dari kebutuhan b/d nyeri. DIAGNOSA KEPERAWATAN 1. Gangguan pola nafas b/d penurunan suplai O2 ke paru. Gangguan personal hygiene 10. Perubahan pola eliminasi b/d konstipasi. Gangguan personal hygiene b/d bedrest. Gangguan kecemasan b/d kurang pengetahuan. Penurunan curah jantung b/d proses penyakit. Resti gangguan integritas kulit b/d bedrest. 11. . 4. 8.5. 3. Gangguan rasa nyaman nyeri b/d penurunan suplai O2 ke miokard. 12. Gangguan kecemasan 8. 11. 9. Resiko gangguan keseimbangan cairan dan elekrolit : hipokalemia b/d penurunan filtrasi glomerulus. 6. Gangguan pemenuhan nutrisi kurang dari kebutuhan 7. Intoleransi aktivitas 6. Gangguan pola tidur 9.

g. klien mengatakan nyeri berkurang. batasi jumlah pengunjung klien. Observasi timbulnya nyeri dengan melihat isyarat verbal dan non verbal. d. Pelihara ketenangan. e. Kolaborasi medikasi vasodilator. ISDN. Kurangi/ batasi aktivitas fisik selama serangan R/ Pembatasan aktivitas fisik mengurangi konsumsi oksigen dan bebban kerja jantung c. Monitor tanda-tanda vital. bunyi jantung setiap 2 jam bila keadaan sudah stabil.12. pemberian diuretic furosemid. R/ perubahan tanda-tanda vital dan bunyi jantung merupakan indicator perubahan hemodinamik. f. Kriteria hasil : skala nyeri berkurang. Tujuan : curah jantung meningkat setelah intervensi 1 jam. Tujuan umum : kx dapat beradaptasi dengan nyeri setelah mendapatkan perawatan 1x 24 jam dan nyeri berkurang. Posisi tidur supine semi fowler. . R/ posisi semifowler membantu meringankan gejala kesulitan bernafas dan memerbaiki ekspansi paru. R/ vasodilator dan diuretic bertujuan untuk mengurangi beban jantung dengan cara menurunkan preload dan afterload. kx tampak tenang. Penurunan curah jantung b/d proses penyakit. 2. lingkungan yang nyaman. INTERVENSI KEPERAWATAN 1. R/ lingkungan yang nyaman dan tenang menunjang kebutuhan istirahat dan mengurangi kecemasan. BHSP R/ untuk mempermudah hubungan dan komunikasi antara perawat dan pasien. a. b. R/ nyeri merangsang respon stress yang memicu pelepasan katekolamin endogen sehingga meningkatkan konsumsi oksigen. dan catat tiap perubahan penting yang timbul. Gangguan rasa nyaman nyeri b/d penurunan suplai O2 ke miokard.

R/ beristirahat akan mengurangi O2 demand sehingga jantung tidak berkontraksi melebihi kemampuannya. a. b. R/ penurunan kalium pada darah berpengaruh pada kontraksi jantung. 3. b. h. R/ vasodilator dan diuretic bertujuan untuk mengurangi beban jantung dengan cara menurunkan preload dan afterload. . Motivasi px untuk bedrest/ istirahat. Tujuan : terjadi keseimbangan caira dan elektrolit setelah intervensi 1 jam. R/ istirahat bisa mengurangi O2 demand sehingga jantung tidak terkontriksi melebihi kemampuannya. Kriteria hasil : TD normal 110/ 80-140/90. a. lebih waspada. ISDN. c. hal ini mempengaruhi TD. pemberian diuretic furosemid. Evaluasi perubahan TD. Berikan posisi kepala head up (15o-30o) R/ Untuk memperlancar darah balik ke jantung. sehingga menghindari bendungan vena jugularis. Resiko gangguan keseimbangan cairan dan elekrolit : hipokalemia b/d penurunan filtrasi glomerulus. Evaluasi perubahan TD. Kolaborasi medikasi vasodilator. Nadi. dan beban jantung tidak bertambah berat. R/ untuk mengevaluasi terapi yang sudah diberikan dan untuk program intervensi selanjutnya.Kriteria hasil: TD normal 110/ 80-140/90. Nadi. Pantau nadi dan TD lebih intensive. R/ mengevaluasi terapi yang sudah diberikan. sehingga perbaikan intervensi selanjutnya. px mengatakan kelelahan berkurang. nadi kuat. nadi px . c. sehingga memanatu lebih intensive. Anjurkan px untuk istirahat. Kolaborasi dalam pemberian kalium dan panau pemberian kecepatan kalium. d. Klinis. serum elekrolit dan klinis . nadi kuat dan regular.

c. Kriteria hasil : px tidak sesak. irama nafas teratur.frekuensi. Atur posisi px senyaman mungkin (semifowler). Intoleransi aktivitas b/d nyeri/ kelemahan fisik. b. a. Kaji respons pasien terhadap aktivitas. d. R/ mengurangi sesak/ meningkatkaan ekspansi paru. 5. frekuensi nafas.R/ koreksi kalium akan membantu menaikkan kadar kalium dalam darah. R/ miokarditis menyebabkan inflamasi dan kemungkinan kerusakan fungsi sel-sel miokardial sebagai akbat GJK. Berikan tambahan O2 seperlunya. perhatikan adanya dan perubahan dalam hal kelemahan. Tujuan : setelah dilakukan tindakan keperawtan 3x 24 jam adanya perubahan dalam tanda vital karena aktivits. cepat lambat. Gangguan pola nafas b/d penurunan suplai O2 ke paru. . Tujuan : setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 2x 24 jam gangguan pola nafas dapat teratasi. kedalaman pernafasan. Kriteria hasil : px mampu melakukan aktivitas meskipun hanya minimal. Ajarkan teknik pernafasan dalam R/ mempermudah dalam penarikan nafas. 4. R/ meningkatkan konsentrasi O2 dalam proses pertukaran gas. a. RR 16-20 x / menit. Observasi suara nafas. R/ untuk mengetahui suara nafas.

1998. Pantau frekuensi/ irama jantung. penurunan TD. kajarta : EGC. c. d. Jakarta : FKUI. 1998. takikardia. R/ membantu menentukan derajat dekompensasi jantung dan pulmonal. R/ memberikan semangat kepada px untuk mempercepat penyembuhan.b. Anjurkan keluarga untuk membantu memenuhi kebutuhan px. Buku ajar kardiologi. Pedomana rencana asuhan keperawatan praktek klinik . DAFTAR PUSTAKA Rilantono. Jakarta : EGC.TD. Carpenito. Diagnose keperawatan : aplkasi pada praktek klinik. Pertahankan tirah baring selama periode demam dan sesuai indikasi. dkk. FORMAT PENGKAJIAN GAWAT DARURAT (TRAUMA/ NON TRAUMA) . Marlynn. Edisis III. dan frekuensi pernafasan sebelum / setelah aktivitas dan selama diperlukan. 13. R/ memenuhi kebutuhan yang diperlukan px e. dan takipneu. E dongoes. disritmia. R/ meningkatkan resolusi inflamsi selama fase akut dari perikarditsi. 1999. Berikan motivasi kepada px unuk berlatih melakukan aktivitas.

BIODATA  Nama Pasien  Jenis kelamin  Umur  Status perkawinan  Pekerjaaan  Agama  Pendidikan terakhir  Alamat  Tgl MRS  Tgl pengkajian : Tn. A. T : nyeri dirasakan hilang timbul. gangguan system : Kardiovaskuler Data Fokus: Nyeri dada sebelah kiri.laki : 71 tahun : Kawin : Pensiunan PNS : Islam : SLTA :Karangan :16 November 2012 :20 November 2012 2.1. 3. S : skala nyeri 7 (1-10). Data subyektif Keluhan utama (PQRST. Diagnosa medis : STEMI Masalah keperawatan yang muncul. mekanisme kejadian. 4. Lebih berat bila digunakan untuk bergerak. A : px mengatakan tidak mempuyai alergi obat-obatan atau makanan. R : nyeri dirasakan pada dada sebelah kirinya. S : px mengatakan nyeri dada sebelah kiri. M : sebelum kejadian px tidak minum obat. Q : nyeri dirasakan seperti tertindih benda berat. M : Laki. . nyeri seperti tertindih benda berat. SAMPLE) P : px mengatakan nyeri pada dada sebelah kirinya.

TD : 145/ 101 mmHg Tidak ada tanda-tanda syok.P : makanan terakhir yang dimakan klien adalah sambal kentang yang pedas. kemudian bersama keluarganya px dibawa ke IGD RSUD Dr. ii. Tidak ada sianosis.6 . iii. Soedomo pukul 12. Akral hangat.45 WIB. Circulation CRT kembali dalam 2 detik.5. tidak anemis. px tiba-tiba mengeluh dada sebelah kirinya sakit. iv. Airway : Tidak ada sumbatan jalan nafas. suhu 373 0C Nadi : 87 x/ menit. Breathing : Frekuensi/ RR : 24 x/ menit Irama : irregular. Tidak ada tanda-tanda sulit bernafas. B. E : Pada hari jum’at 16 november 2012 pukul 12. Data obyektif i. L : minuman terakhir yang diminum px adalah susu. Lidah tidak jatuh ke belakang.30 wib . sewaktu px di rumah setelah shalat jum’at. Tidak ada tanda-tanda hipoksia. kemudian dari IGD pindah ke ICU pada pukul 15. Disability GCS : 4. Pola nafas : cepat dangkal.50 wib.

Kekuatan otot : 4 4 4 4 v.Kesadaran : composmentis Reflek babinsky : . Environment : Berikan lingkungan yang nyaman dan batasi pengunjung. head to toe assessment : . Five Intervensi : TD : 145/101 mmHg. vii. tekanan darah. Terpasng monitor EKG. Pengunjung dibatasi 1 orang. History . Memberikan posisi head up 15-30 0. Full vital Sign . Melonggarkan pakaian px. Terpasang oksimetri. vi. Give Comfort : Px dianjurkan untuk bedrest total Posisikan px head up 15-30 0 viii. Exposure . respirasi. N S :87 x/ menit : 370 C RR : 24x / menit Terpasang O2 nasal kanul 3 lt/ menit Terpasang DC Terpasang infuse RL 14 tetes/ menit.

Konjungtiva merah muda Sclera putih. Rambut berbau. Soedomo pukul 12. Telinga : Simetris kanan dan kiri. c. . Rambut putih dan sebagian hitam. kemudian dari IGD pindah ke ICU pada pukul 15. benda asing dan perdarahan. b. Bersih tidak ada serumen. Mata : Lengkap. Hidung : Simetris.Pada hari jum’at 16 November 2012 pukul 12. septum nasi di tengah. Struktur wajah simetris antara kanan dan kiri. benda asing. Pupil mengecil jika kena cahaya. Kepala : Bentuk kepala simetris antara kanan dan kiri. px tiba-tiba mengeluh dada sebelah kirinya sakit.30 wib . Tidak ada pernafasan cuping hidung. Kelopak mata tidak ada oedema dan tidak cowong. simetris antara kanan dan kiri. Tidak ada pembengkakan eptum nasi Lubang hidung bersih.45 WIB. Penyebaran rambut merata.50 wib. d. perdarahan. tidak ada sekret. Kulit kepala bersih. kemudian bersama keluarganya px dibawa ke IGD RSUD Dr. sewaktu px di rumah setelah shalat jum’at. a.

e. Auskultasi : tidak ada suara nafas tambahan. Keadaan gig dn gusi tidak ada perdarahan. Perkusi : Terdengar sonor di seluruh lapang paru. Thorak Inspeksi : Bentuk dada normal chest. Leher : Posisi trakea simetris antara kanan dan kiri. Mulut dan faring : Keadaan bibir lembab. h. i. Faring tidak ada pembengkakan dan perdarahan. sudah ada yang tangal. Palpasi : ictus cordis terletak pada ICS 5 mid clavicula sinistra selebar 2 cm. Jantung Inspeksi : tidak ada pulsasi. BJ II di ICS II linea sternalis kiri dan kanan. Tidak ada pembesaran kelenjar tiroid Tidak ada pembesaran klenjar limfe Tidak ada pembesaran vena jugularis Ada denyut nadi karotis g. gigi tidak lengkap. Abdomen : . f. Auskultasi : BJ I di ICS V linea sternalis kiri.

Peristaltik usus : 29 x/ menit. Inspeksi Back/ Posterior Surface Tidak ada kelainan pada punggung dan tulang belakang. Tidak ada oedema Kekuatan otot : 4 4 4 4 k. j. ix. 5. Suara abdomen : timpani. Px bedrest Intake Nutrisi : Px. Tidak ada benjolan. Benjolan/ masa : tidak ada benjolan / masa. mandi. Ekstremitas : Tidak ada fraktur.Bentuk abdomen : Datar. Lain – lain : k/u lemah ADL dibantu : pemberian makan. Keadaan kotor. Makan Bubur Halus dan Habis 2 Sendok makan . eliminasi (BAK dan BAB) dan berdandan/ berpakaian. pembengkakan dan peradangan pada inguinal. Pelvis dan genetalia Rambut pubis merata.

9 mg/dl 46.0 16. 7 7. Minum Susu yang disediakan oleh RS dan Minum Susu Kedelai dan habis ¼ gelas.2) (140-200) 137.1 202 103/ ul g/ dl 103/ ul (70-110) (40-150) (9-40) (2. Belum BAB selama 5 Hari sejak Masuk Rumah sakit BAK : 1200 cc 6. 96 u/l mg/dl mg/dl Cholesterol 238 Elektrolit Natrium Kalium Clorida Kalsium 144 3.6-7. Eliminasi: BAB : Px.98 105 1.Intake Cairan : Px. Pemeriksaan penunjang : Laboratorium WBC HGB PLT Glucose Trigliserid AST Uric acid 7.24 mmol/ L mmol/ L mmol/L mmol/L EKG : .8 mg/ dl 226.

consider inferior injury ST > 0. V1-V6. aVf. Rate 94 PR 168 QRSD 92 QT 334 QTC 430 Axis P35 QRS 48 T 46 7. III. ST elevation. II.15 MV . acute Q > 35 Ms.Sinus rytmy : …normal Paxis Vrate 50-99 Ekstensive anterior infark.08 m V2. ST 0. Penatalaksanaan (Medis dan Perawatan): Medis Infuse RL 14 tetes/ menit Diet BH O2 3 liter/ menit Injeksi ketorolac 30 x 3 inj Injeksi Hexen 1x Injeksi miniaspi Obat oral Miniaspi 1x 80 mg Vaclo 3x 30 mg Simvastatin 1x 10 mg Allopurinol 1x 100 mg Lactulosa 1x CN MST Continus 1x 1 .

22 November 2012 Inj. . Bralin Obat Oral : Miniaspi Vaclo 1x80 mg 1x75 mg 3x1 apl 3x300 mg 1x 2. Ketorolak Inj. Ketorolak Inj. Aristra Inj. Hexer TINDAKAN KEPERAWATAN Inj. Bralin Hari / Tanggal : Selasa. 20 November 2012 Inj.Hari / Tanggal : Kamis.5 g ( 2.5 cc ) 2x 1000 Obat Oral : Miniaspi Vaclo 1x80 mg 1x75 mg 3x1 apl 3x300 mg 2x 1000 Simvastatin 1x10 mg Hitrin 2g Allopurinol 1x100 mg MST 2x11Tab Simvastatin 1x10 mg Hitrin 2g Allopurinol 1x100 mg Lactulosa MST ISDN DAST 1xCH 2x1 tab 3x5gr 2x1 Tab. Hexer Inj.

5 g ( 2. 21 November 2012 Inj.5 cc ) 2x 1000 Simvastatin 1x10 mg Hitrin 2g Allopurinol 1x100 mg Lactulosa 1xCH . Ketorolak Inj. Aristra Inj.Hari / Tanggal : Rabu. Bralin Obat Oral : Miniaspi Vaclo 1x80 mg 1x75 mg 3x1 apl 3x300 mg 1x 2. Hexer Inj.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful