Anda di halaman 1dari 3

Quo Vadis Outsourcing System?

Asli dan kenyataan yang tidak dibuat-buat bahwa bisnis outsourcing di Indonesia sangat
memeras pekerja dan membuat gemuk pengusaha. Contoh berapa sih gaji seorang
cleaning service dengan cara outsourcing itu hanya Rp.22.000 saja per hari dan kerjanya
rata-rata 10 jam. Mereka tidak pernah diangkat karyawan tetap walaupun udah kerja
puluhan tahun. Jelas hati mereka teraniaya seperti diiris silet. Walau foto mereka
dipampang di famplet untuk promosi perusahaannya dengan wajah tertawa atau
tersenyum manis, sebenarnya hatinya menjerit alias menangis karena tersiksa oleh
keadaan ini. Apalagi Outsourcing sebangsa Cleaning service, jukir, satpam, buruh pabrik
dan lain-lain kalau tidak dapat kontrak (masih untung bila dapat kontrak dari perusahaan
outsourcing -bila tidak- meraka hanya akan menjadi buruh lepas harian) dari perusahaan
yang lain maka akan bangkrut. Outsourcing yang dikenal masyarakat dengan Yayasan
Tenaga Kerja itu tak lebih hanya sebuah lembaga percaloan yang mendapat legitimasi
dari pemerintah, calo yang memeras karyawan, biasanya yang diperas dulu sebangsa
cleaning service, satpam, jukir, buruh pabrik. Padahal, mereka juga butuh masa depan.
Mereka punya orang tua yang nganggur / miskin, punya anak isteri atau suami,
menyekolahkan anak, kebutuhan hidup sehari-hari. Kalau sampai tidak di-outsource lagi
bagaimana mereka bisa hidup. Tidak heran bila sekarang banyak orang depresi.

Lapangan Pekerjaan yang dulu bisa menjadi karyawan tetap perusahaan, saat ini
semuanya sudah dikuasai oleh perusahaan-perusahaan Out Sourcing, Bahkan IT saat ini
rata-rata dikuasai Out Sourcing. Dan rencana kedepan perusahaan-perusahaan akan
menerapkan system Out Sourcing semua. Bagi masyarakat sendiri sepertinya mereka
dihadapkan pada kenyataan tidak adanya lagi pilihan lain selain mengikuti aturan yang
diterapkan oleh Perusahaan Pengerah Tenaga Kerja tersebut, sebab mereka sangat
membutuhkan pekerjaan untuk menghidupi keluarga mereka, disisi lain keterbatasan
pengetahuan dan keterampilan membuat mereka semakin terpuruk dan menyerah pada
nasib. Sementara itu Eksekutif dan Legislatif belum mampu menampung dan tidak
responsive terhadap keadaan yang dialami oleh kaum buruh yang nota bene mereka juga
adalah warga Negara Republik Indonesia dan berhak mendapatkan kehidupan yang layak.
Seharusnya Pemerintah segera merevisi UU Tenaga Kerja yang terlalu berpihak kepada
pengusaha dan menyengsarakan buruh, (Beginilah kalo eksekutif di kuasai oleh
pengusaha, yang hanya memikirkan kepentingan pribadi dengan mengatasnamakan
Negara dan rakyat). Pemerintah sungguh tega!!!!!!! membiarkan rakyat jelata terinjak-
injak sampai titik yang terendah dengan meng”outsourching”kan tenaga kerja. Padahal
sistem outsourcing ini sungguh nyata sangat merugikan si tenaga kerjanya, saya pikir
sistemnya hampir mendekati romusa atau mungkin kerja rodi dengan gaya baru (Neo
Feodalism). Yang lebih tragis lagi..ada perusahaan Agent Tenaga Kerja (Yang dikenal
masyarakat dengan Yayasan Tenaga Kerja) mengharuskan calon tenaga kerja
memberikan uang antara 300-an ribu sampai 3 jutaan dengan iming-iming dijamin bakal
mendapatkan pekerjaan dengan gaji minimum 1.7 juta. Tapi nyatanya sampe botak terus
gondrong lagi terus botak lagi terus gondrong lagi, ngga juga mendapatkan penempatan.
Kiranya kita harus hati-hati dengan perusahaan seperti itu. Penipuan secara halus. Ya
begitu deh kalo pimpinan dari kalangan pengusaha… Toh prinsip ekonomi sudah jelas2
kita pelajari dari sejak kita sekolah bahwa “Dengan Modal Sekecil2nya Untuk
Mendapatkan Keuntungan Sebesar2nya”. Mau digimanain lagi, kalo doktrin itu sudah
melekat pada diri kita dan juga masyarakat ini terutama yang jadi pengusaha…modal
kecil tapi untung besaaaar!

Kita tahu kerja menggunakan jasa outsourcing kontraknya hanya setahun, kerja jadi gak
tenang karena begitu masuk bulan ke 11 udah pusing mikirin kerja, kontrak diperpanjang
atau gak? Gimana mau tenang bekerja dan berprestasi kalo dibatasi cuman setahun. Lha
pemerintahan aja masa jabatan 5 tahun…apalagi para wakil rakyat di DPR…masa kerja 5
tahun, gaji gede ya enak2 aja… Kalo outsourcing… masa kerja 1 tahun, gaji
pas2an..gimana mau enak dan maju… Masa kerja 5 tahun aja hasil prestasi kerja belum
ada malah tidak ada sama sekali??? Apalagi yang cuma setahun….APA KATA DUNIA!!!

Sejatinya berdirinya perusahaan outsourching itu tidak terlepas dari pengaruh UU No. 13
tahun 2003. Perusahaan takut mengangkat karyawan tetap karena apabila suatu hari
perusahaannya collapse harus bayar karyawan berlipat-lipat apalagi kalo yang udah kerja
puluhan tahun. Udah jatuh tertimpa tangga pula. Makanya terpaksa pake karyawan
kontrak, trus berhubung repot ngurusin karyawan kontrak akhirnya pake outsourching.
Semua itu kembali lagi ke kita masing2 kalo memang kita kerjanya bener, ngak malas2an
plus punya attitude yang bagus kenapa harus takut? Kalau kita berprestasi bagus,
perusahaan pasti mikirin juga kesejahteraan kita. Masalahnya seringkali karyawan
kerjanya males2an, punya attitude yang nggak bagus tapi nuntut gaji dan fasilitas yang
baik. Nah disinilah dilematisnya.

Outsourcing system sebenarnya mungkin tidak terlalu bermasalah bila ada pemantuan
dan pengawasan dari instansi-instansi pemerintah serta ada sanksi yang jelas bagi
perusahaan-perusahaan yang nakal. Nyatanya sekarang ini banyak perusahaan yang
melanggar UU No. 13 tahun 2003 secara lebih spesifik yang mengatur tenaga
outsourcing. Salah satu diantaranya adalah dalam Undang-undang tersebut disebutkan
bahwa tenaga outsourcing tidak boleh dipekerjakan untuk bidang pekerjaan yang
berhubungan langsung dengan produksi, nyatanya dilapangan banyak kita temui tenaga
outsourcing yang terlibat langsung dalam produksi, bahkan dibeberapa perusahaan tenaga
outsourcing ini malah memegang mesin produksi, hal ini jelas sekali melanggar
peraturan. Namun tidak adanya aturan dan sanksi yang tegas dari pemerintah hal ini terus
menerus berlanjut. Sekian dan Terima Kasih. Wassalam.