Anda di halaman 1dari 30

BAB I PENDAHULUAN

Pemberian obat yang aman dan akurat merupakan salah satu tugas terpenting perawat. Obat adalah alat utama terapi yang digunakan oleh dokter untuk mengobati klien yang memiliki masalah kesehatan. Walaupun obat menguntungkan klien dalam banyak hal, beberapa obat dapat menimbulkan efek samping yang serius atau berpotensi menimbulkan efek yang berbahaya bila tidak tepat diberikan. Perawat bertanggung jawab memahami kerja obat dan efek samping yang ditimbulkan, memberikan obat dengan tepat, memantau respon klien, dan membantu klien menggunakannya dengan benar dan berdasarkan pengetahuan. Selain mengetahui kerja suatu obat tertentu, perawat juga harus memahami masalah kesehatan klien saat ini dan sebelumnya untuk menentukan apakah obat tertentu aman untuk diberikan. Dalam hal ini, pertimbangan perawat penting dalam pemberian obat yang tepat dan aman.

BAB II PEMBAHASAN

1. Cari bahan pertimbangan yang melatar belakangi mengapa pemberian obat-obatan

pada wanita hamil dan menyusui perlu kehati-hatian! Pembahasan : Pemberian obat saat hamil dan laktasi (menyusui) memerlukan perhatian yang seksama mengingat pengaruhnya terhadap pertumbuhan dan pembentukan organ janin yang dapat menimbulkan kecacatan, growth retardation, dan kemunduran pertumbuhan mental. Perlu dipahami istilah:
a. Teratogenik, yaitu kelainan congenital yang terjadi akibat bahan eksogenik saat

pembentukan organ intrauterine. Dengan adanya peristiwa menggemparkan di tahun 1960-an, saat pemakaian talidomid yang disangka aman sebagai obat penenang pada wanita hamil muda ternyata telah menimbulkan ratusan bayi lahir dengan cacat bawaan (phocomelia). Oleh karena itu, pemberian obat pada wanita hamil, terutama pada trimester pertama kehamilan tidak dianjurkan, kecuali pada keadaan yang sangat memerlukan, dan hanya diberikan obat-obat yang telah diketahui aman untuk janin.
b. Dismorfogenik, mengandung pengertian yang lebih luas, meliputi semua pengaruh

yang merugikan dari exogenic agent dalam bentuk morfologis, fungsional yang dijumpai saat kelahiran atau ditemukan kemudian. Mekanisme dismorfogenik exogenic agent dapat dikemukakan sebagai berikut: a. Berpengaruh langsung pada janin, tergantung pada konsentrasi obat dalam darah dan jaringan, sifat dan struktur, dan sifat kimianya. b. Berpengaruh pada perubahan fungsi plasenta. fungsi plasenta sangat penting untuk pertumbuhan dan perkembangan janin intrauterine. oleh karena itu, setiap obat yang dapat mempengaruhi fungsi plasenta akan berpengaruh juga terhadap perkembangan dan pertumbuhan janin.

c. Berpengaruh pada perubahan metabolism maternal. Setiap exogenic agent sebagian atau

seluruhnya diolah dulu melalui berbagai bentuk metabolism pada organ maternal sehingga fungsinya dapat bermanfaat untuk pertumbuhan dan perkembangan yang diharapkan. Pemberian obat pada wanita hamil Penggunaan obat pada saat perkembangan janin dapat memengaruhi struktur janin pada saat terpapar. Thalimoid adalah contoh obat yang besar pengaruhnya pada perkembangan anggota badan (tangan, kaki) segera sesudah terjadi pemaparan. Pemaparan ini akan berefek pada saat waktu kritis pertumbuhan anggota badan yaitu selama minggu ke empat sampai minggu ke tujuh kehamilan. Mekanisme berbagai obat yang menghasilkan efek teratogenik belum diketahui dan mungkin sebabkan oleh multifaktor. a. Obat dapat bekerja langsung pada jaringan ibu dan juga secara tidak langsung memengaruhi jaringan janin. b. Obat mungkin juga mengganggu aliran oksigen atau nutrisi lewat plasenta sehingga memengaruhi jaringan janin.
c. Obat juga dapat bekerja langsung pada proses perkembangan jaringan janin, misalnya

vitamin A (retinol) yang memperlihatkan perubahan pada jaringan normal. Dervat vitamin A (isotretinoin, etretinat) adalah teratogenik yang potensial. d. Kekurangan substansi yang esensial diperlukan juga akan berperan pada abnormalitas. Misalnya pemberian asam folat selama kehamilan dapat menurunkan insiden kerusakan pada selubung saraf, yang menyebabkan timbulnya spina bifida. Pemberian obat pada saat menyusui Hampir semua obat yang diminum perempuan menyusui terdeteksi di dalam ASI, untungnya konsentrasi obat di ASI umumnya rendah. Konsentrasi obat dalam darah ibu adalah faktor utama yang berperan pada proses transfer obat ke ASI selain dari faktor-faktor fisiko-kimia obat. Volume darah dan cairan tubuh/cairan tubuh dan curah jantung yang meningkat pada kehamilan akan kembali normal setelah kurang lebih satu bulan melahirkan. Karena itu, pemberian obat secara kronik mungkin memerlukan penyesuaian dosis. Obat yang larut dalam lemak, yang non-polar dan yang tidak terion akan mudah melewati membran sel alveoli dan kapiler susu. Obat yang ukurannya kecil (< 200 Dalton) akan 3

mudah melewati pori membran epitel susu. Obat yang terikat dengan protein plasma tidak dapat melewati membran. Jadi, hanya obat yang tidak terikat yang dapat melewatinya. Plasma relatif sedikit lebih basa dari ASI. Karena itu, obat yang bersifat basa lemah di plasma akan lebih banyak dalam bentuk tidak terionisasi dan mudah menembus membran alveoli dan kapiler susu. Sesampainya di ASI, obat yang bersifat basa tersebut akan mudah terionisasi sehingga tidak mudah untuk melewati membran kembali ke plasma. Fenomena ini dikenal dengan ion trapping. Meskipun demikian, telah diketahui bahwa toksisitas pada bayi dapat ditemukan. Rasio M:P adalah perbandingan antara konsentrasi obat di ASI dan di plasma ibu. Rasio M:P yang >1 menunjukkan bahwa obat banyak berpindah ke ASI, sebaliknya rasio M:P <1 menunjukkan bahwa obat sedikit berpindah ke ASI. Pada umumnya kadar puncak obat di ASI adalah sekitar 1-3 jam sesudah ibu minum obat. Hal ini mungkin dapat membantu mempertimbangkan untuk tidak memberikan ASI pada kadar puncak. Bila ibu menyusui tetap harus meminum obat yang potensial toksik terhadap bayinya, maka untuk sementara ASI tidak diberikan tetapi harus dipompa. ASI dapat diberikan kembali setelah dapat dikatakan tubuh bersih dari obat. Edukasi yang dapat diberikan pada wanita yang sedang menyusui mengenai pemakaian obat adalah sebelum sang ibu pergi ke dokter untuk berobat, kita sarankan agar ibunya menyediakan asi tampung, yang setidaknya bisa bertahan sampai dengan 2 minggu jika di taruh dalam pendingin.
2. Apa yang dimaksud dengan bahan teratogen? Bahan apa saja yang dimaksud? Apa

saja contohnya? Pembahasan : Bahan teratogenik adalah bahan-bahan yang dapat menimbulkan terjadinya kecacatan pada janin selama dalam kehamilan ibu. Bahan-bahan yang secara kedokteran dikenal mampu memberikan efek gangguan pada janin dan menimbulkan kecacatan dikenal sebagai bahan teratogenik. 4

Bahan teratogenik dapat menimbulkan bayi lahir dengan cacat lahir berupa cacat fisik yang nampak maupun tidak nampak. Contoh kecacatan fisik yang nampak misalnya bibir sumbing, keanehan bentuk anggota gerak, kelainan bentuk kepala, tubuh maupun organ lain yang nampak dari luar. Sedangkan cacat lahir yang tidak nampak misalnya kelainan otak, penurunan kecerdasan/IQ, kelainan bentuk jantung, pembentukan sekat jantung yang tidak sempurna, gangguan reaksi metabolisme tubuh, kelainan ginjal atau bahkan kelainan organ reproduksi. Proses pembentukan jaringan dan organ tubuh selama janin dalam kandungan dikenal dengan istilah organogenesis. Proses ini berlangsung terutama pada saat kehamilan trisemester pertama dan akan selesai pada awal trisemester ke dua atau sekitar 16 minggu. Adanya bahan-bahan yang bersifat teratogenik akan menimbulkan gangguan pada sel-sel tubuh janin yang sedang melakukan proses pembentukkan organ tersebut. Akibat adanya gangguan tersebut, maka sel tidak dapat tumbuh dan berkembang sebagaimana seharusnya dan menimbulkan berbagai cacat lahir yang dapat terjadi pada organ luar maupun organ dalam. Bahan teratogenik tidak hanya dapat menyebabkan kecacatan fisik. Bahan tersebut juga dapat menimbulkan kelainan dalam hal psikologis dan kecerdasan. Hal ini berhubungan dengan adanya gangguan pada pembentukan sel-sel otak bayi selama ia dalam kandungan. Bila bayi terlahir dengan cacat fisik yang nampak dan mungkin diperbaiki atau diterapi dengan cara pembedahan (misalnya bibir sumbing dan kelainan katub jantung) maka mungkin kecacatan anak dapat tertutup begitu anak menginjak dewasa dan mencegah terjadinya gangguangangguan yang mungkin muncul saat bayi dewasa. Hingga kini belum ditemukan cara untuk mengobati efek yang timbul akibat paparan bahan teratogenik pada ibu hamil. Oleh karena itu, satu-satunya jalan yang dapat dilakukan oleh ibu hamil dalam mencegah efek bahan teratogenik adalah dengan menghindari paparan bahan tersebut pada dirinya. Untuk itu perlu bagi ibu hamil untuk mengetahui dan memahami bahan-bahan apa saja yang dapat memberikan efek teratogenik. Bahan teratogenik dibagi menjadi 3 kelas berdasarkan golongannya yakni bahan teratogenik fisik, kimia dan biologis. 5

a. Bahan tertogenik fisik adalah bahan yang bersifat teratogen dari unsur-unsur fisik

misalnya Radiasi nuklir, sinar gamma dan sinar X (sinar rontgen). Bila ibu terkena radiasi nuklir (misal pada tragedi chernobil) atau terpajang dengan agen fisik tersebut, maka janin akan lahir dengan berbagai kecacatan fisik. Tidak ada tipe kecacatan fisik tertentu pada paparan ibu hamil dengan radiasi, karena agen teratogenik ini sifatnya tidak spesifik karena mengganggu berbagai macam organ. Dalam menghindari terpajan agen teratogen fisik, maka ibu sebaiknya menghindari melakukan foto rontgen apabila ibu sedang hamil. Foto rontgen yang terlalu sering dan berulang pada kehamilan kurang dari 12 minggu dapat memberikan gangguan berupa kecacatan lahir pada janin.
b. Bahan teratogenik kimia adalah bahan yang berupa senyawa senyawa kimia yang bila

masuk dalam tubuh ibu pada saat saat kritis pembentukan organ tubuh janin dapat menyebabkan gangguan pada proses tersebut. Kebanyakan bahan teratogenik adalah bahan kimia. Bahkan obat-obatan yang digunakan untuk mengobati beberapa penyakit tertentu juga memiliki efek teratogenik. c. Agen teratogenik biologis adalah agen yang paling umum dikenal oleh ibu hamil. Istilah TORCH atau toksoplasma, rubella, cytomegalo virus dan herpes merupakan agen teratogenik biologis yang umum dihadapi oleh ibu hamil dalam masyarakat. Infeksi TORCH dapat menimbulkan berbagai kecacatan lahir dan bahkan abortus sampai kematian janin. Selain itu, beberapa infeksi virus dan bakteri lain seperti penyakit sifilis/raja singa juga dapat memberikan efek teratogenik. Ada baiknya bila ibu sebelum kehamilannya melakukan pemeriksaan laboratorium pendahuluan untuk menentukan apakah ia sedang menderita infeksi TORCH, infeksi virus atau bakteri lain yang berbahaya bagi dirinya maupun kehamilannya. Bila dari hasil dinyatakan positif, ada baiknya bila ibu tidak hamil lebih dulu sampai penyakitnya disembuhkan dan telah dinyatakan fit untuk hamil.

Beberapa obat yang terbukti teratogenik adalah antikonvulsan, warfarin, alkohol, antagonis asam folat (metotreksat, aminopterin), dietilstilbestrol, androgen, dan thalidomide. Kecuali fenitoin, obat-obat yang terbukti teratogenik tidak diperlukan dalam masa kehamilan. Obat6

obat yang terduga bersifat teratogenik adalah agen-agen alkilasi, nikotin, sulfonil urea, isotretinoin (13-cis-asam retinoid), asam valproat dan benzodiazepin.

Obat-obat yang Diketahui atau Dicurigai Mempunyai Efek Teratogenik Obat Efek teratogenik Diketahui teratogen Dismorfogenesis fasialis, retardasi ringan Antikonvulsan (fenitoin, trimetadion) Antikoagulan (warfarin dan sejenis) Alkohol pada mental, retardasi pertumbuhan, cacat jantung. Hipoplasia nasalis, kerusakan epifisis, atrofi optik, retardasi mental. Sindrom alkohol pada retardasi janin-retardasi ringan pada pertumbuhan, Antagonis asam folat (metotreksat, aminopterin) Hormon Dietilstilbestrol dan sejenisnya Androgen Metil merkuri Thalidomide Asam valproat Isotretinoin 13-cis-asam retinoid Terduga teratogen Agen-agen alkilasi Litium karbonat Nikotin Sulfonilurea Abortus, anomali Anomali Ebstein (?) Terlambat pertumbuhan Anomali (?) 7 Maskulinisasi janin wanita. Kerusakan susunan saraf pusat, retardasi pertumbuhan. Fokomelia. Defek tabung saraf terbuka (Open neural tube defects). Hidrosefalus, cacat jantung, cacat telinga dan pendengaran. Adenosis vagina, karsinogenesis, anomali serviks dan uterus, kelainan epididimis.

mental, anomali bertambah. Abortus, malformasi ganda.

Karbamazepin

Defek tabung saraf terbuka

3. Sebutkan tiga fase krusial kontak obat dengan janin; pre organogenesis; fase

embrio dan fase fetal. Apa dampaknya ? Pembahasan :


a. Fase implantasi, yaitu pada umur kehamilan kurang dari 3 minggu. Pada fase ini

obat dapat memberi pengaruh buruk atau mungkin tidak sama sekali. Jika terjadi pengaruh buruk biasanya menyebabkan kematian embrio atau berakhirnya kehamilan (abortus).
b. Fase embional atau organogenesis, yaitu pada umur kehamilan antara 4-8 minggu.

Pada fase ini terjadi diferensiasi pertumbuhan untuk terjadinya malformasi anatomik (pengaruh teratogenik). Berbagai pengaruh buruk yang mungkin terjadi pada fase ini antara lain: Gangguan fungsional atau metabolik yang permanen yang biasanya baru muncul kemudian, jadi tidak timbul secara langsung pada saat kehamilan. Misalnya pemakaian hormon dietilstilbestrol pada trimester pertama kehamilan terbukti berkaitan dengan terjadinya adenokarsinoma vagina pada anak perempuan di kemudian hari (pada saat mereka sudah dewasa).
-

Pengaruh letal, berupa kematian janin atau terjadinya abortus. Pengaruh sub-letal,

yang biasanya dalam bentuk malformasi anatomis pertumbuhan organ, seperti misalnya fokolemia karena talidomid.
c. Fase fetal, yaitu pada trimester kedua dan ketiga kehamilan. Dalam fase ini terjadi

maturasi dan pertumbuhan lebih lanjut dari janin. Pengaruh buruk senyawa asing terhadap janin pada fase ini tidak berupa malformasi anatomik lagi, tetapi mungkin dapat berupa gangguan pertumbuhan, baik terhadap fungsi-fungsi fisiologik atau biokimiawi organ-organ. Demikian pula pengaruh obat yang dialami ibu dapat pula dialami janin, meskipun mungkin dalam derajat yang berbeda. Sebagai contoh adalah terjadinya depresi pernafasan neonatus karena selama masa akhir kehamilan, ibu mengkonsumsi obat-obat seperti

analgetika-narkotik; atau terjadinya efek samping pada sistem ekstrapiramidal setelah pemakaian fenotiazin. 4. Bagaimana pembagian klasifikasi obat berdasarkan Food and Drugs Administration ? Dan berikan obat-obat contohnya! Pembahasan : Food and Drug Administration (FDA), atau BPOM (Badan Pengawas Obat dan Makanan) Amerika Serikat, membuat sebuah sistem klasifikasi tingkat keamanan sebuah obat. Sistem klasifikasi ini dibuat agar memudahkan para dokter memahami risk benefit ratio sebuah obat sesuai kategori klasifikasinya. a. Kategori A Studi terkontrol pada ibu hamil tidak menunjukkan adanya peningkatan resiko untuk terjadinya kelainan janin apabila diberikan selama kehamilan. Dibawah 1% dari seluruh obat-obatan yang termasuk dalam kategori ini diantaranya levotiroksin, suplemen kalium, dan vitamin prenatal, jika diminum sesuai dosis yang direkomendasikan. Obat/bahan obat yang berdasarkan penelitian (pada manusia) tidak menunjukkan terjadinya risiko terhadap janin. Beberapa jenis vitamin dan multivitamin yang diberikan semasa hamil termasuk dalam kategori ini kecuali "megavitamins". Diantaranya juga Nystatin vaginal (mycostatin atau obat anti jamur) b. Kategori B Studi pada binatang percobaan tidak menunjukkan adanya resiko pada janin, tetapi tidak ada studi terkontrol pada ibu hamil. Atau studi terhadap reproduksi binatang percobaan menunjukkan adanya efek samping, tetapi penelitian pada ibu hamil tidak menunjukkan adanya resiko pada janin pada trisemester I kehamilan dan tidak ada bukti beresiko pada trisemester berikutnya. Contohnya, antibiotik golongan Penisilin (amoksilin, ampisilin), makrolid (eritromisin, claritromisin, azitromisin), dan sebagian besar golongan sefalosporin (cefadroksil, cefixime, ceftriakson, cefotaxim). c. Kategori C

Studi pada binatang menunjukkan adanya efek samping (teratogenik atau embriosidal atau memiliki efek lain), dan tidak ada studi terkontrol pada ibu hamil. Atau belum ada studi terhadap wanita dan binatang percobaan. Obat ini hanya boleh diberikan jika besarnya manfaat yang diperoleh melebihi besarnya resiko terhadap janin. Hampir dua pertiga dari selurruh obat termasuk dalam kategori ini. Beberapa obat yang digunakan untuk terapi kondisi yang mengancam nyawa seperti albuterol (asma), zidovudine dan lamivudine (HIV/AIDS), dan obat antihipertensi golongan penyekat beta dan penyekat kalsium. d. Kategori D Adanya bukti positif mengenai resiko obat ini terhadap janin, tetapi obat ini masih diperbolehkan untuk diberikan pada wanita hamil, jika besarnya manfaat yang diperoleh melebihi besarnya resiko terhadap janin (misalnya jika obat ini diperlukan untuk mengatasi keadaan yang mengancam jiwa atau penyakit serius apabila obat yang lebih aman tidak dapat digunakan atau tidak efektif). Contohnya seperti kortikosteroid sistemik, azatioprine, phenytoin, carbamazepine, asam valproat, dan lithium. e. Kategori X Studi pada binatang percobaan atau manusia memperlihatkan abnormalitas pada janin atau tidak terbukti beresiko pada janin dan besarnya resiko obat ini pada wanita hamil jelas-jelas melebihi manfaat yang diharapkan. Dilarang penggunaannya pada wanita hamil atau yang memiliki kemungkinan untuk hamil. Contohnya adalah sejenis obat untuk jerawat yang dikenal sebagai isotretinoin, yang dapat menyebabkan kelainan multipel pada sistem saraf, wajah, maupun kardiovaskuler.

5. Sebutkan golongan obat uterotonika dan bagaimana cara kerjanya ?

Pembahasan : Uterotonika adalah zat yang digunakan untuk meningkatkan kontraksi uterus. Uterotonik banyak digunakan untuk induksi, penguatan persalinan, pencegahan serta penanganan 10

perdarahan post partum, pengendapan perdarahan akibat abortus inkompletikus dan penanganan aktif pada kala III persalinan. Jenis-jenis obat yang sering digunakan adalah sebagai berikut: a. Metergin Metergin merupakan obat yang termasuk dalam golongan alkaloid ergot yang bersumber dari jamur gandum Clavicus purpurea dan mengandung karbohidrat, gliserida, steroid, asam amino, amin, basa amonium kuaterner. Nama generic : metal ergometrin, metal ergometrina, hydrogen maleat Nama paten : methergin, met6hernial, methorin, metilat, myomergin Ergotamin (alkaloid asam

Yang termnasuk obat golongan alkaloid lainnya adalah

amino), Dihidroergotamin (dehidro alkaloid asam amino), Ergonovin (alkaloid amin).

Golongan Ergotamin

Vasokontriksi Kerusakan Endotel Sensitif

dan

Oksitosik Sangat Aktif, Kerja

Lambat, Tidak Efektif Dehidroergotamin Ergonovin Kurang Aktif Sangat Kurang Aktif per Oral Aktif Pada Uterus Hamil Sangat Aktif, Kerja Cepat dan Efektif Per Oral Mekanisme Mekaniske kerja metergin
-

Mempengaruhi otot uterus berkontraksi terus-menerus sehingga memperpendek Menstimulasi otot-otot polos terutama dari pembuluh darah perifer dan rahim. Pembuluh darah mengalami vasokonstriksi sehingga tekanan darah naik dan Bio Tranformasi dalam hati. 11

kala III. -

terjadi efek oksitosuk pada kandungan mature.

Ekskresi melalui hati dan ginjal. Ergotamin diabsorbsi lambat dan tidak sempurna di saluran cerna. Kadar puncak plasma dicapai setelah 2 jam. Pemberian kofein akan meningkatkan kadar puncak plasma 2 kali lipat Dosis ergotamin IM 1/10 dosis oral absorbsi di tempat suntikan lambat Dosis ergotamin IV dosis IM efek perangsangan uterus setelah 5 menit. Ekskresi ergotamin melalui: empedu sedikit yang melalui urine. Pada pemberian oral bromokriptin diabsorbsi lebih baik drpd ergotamin, dan

reaksi perlu waktu 20 menit.


-

dieliminasi lebih lambat.

Efek pada uterus: -

Semua alkaloid ergot meningkatkan kontraksi uterus secara nyata Dosis kecil menyebabkan kontraksi, dosis besar menyebabkan tetani Kepekaan uterus tergantung maturitas dan kehamilan Sediaaan ergot paling kuat: ergonovin

Indikasi -

Uterotonika dan pengobatan Migren Migren etiologinya multifaktor (emosi, stress fisik, diet, hormonal) Pemberian analgesik perlu dicoba dulu sebelum ergotamin (toksik) Ergotamin menghilangkan 95% migren dan 15% sakit kepala lainya Dosis: 0,25-0,5 mg SK atau IM

Kontraindikasi Dapat menyebabkan ganggan tidak boleh diberikan pada penderita: Sepsis Penyakit pembuluh darah (arterosklerosis) 12

Penyakit pembuluh darah koroner Tromboflebitis Penyakit hati dan ginjal

Cara pakai dan dosis


-

Oral, mulai kerja setelah sepuluh menit, dosisnya 0,2-0,4 mg, 2-4 kali sehari Injeksi intravena Mulai kerja 40 detik, dosisnya 0,2 mg IM, mulai kerja 7-8 menit, dosisnya 0,2 mg dan boleh diulang 2 kali. Hal ini lebih

selama 2 hari -

menguntungkan karena efek samping lebih sedikit. Efek samping Kontraksi dapat terjadi begitu kuat sehingga resiko retensio plasenta akan meningkat. Keadaan ini disebabkan oleh kontraksi segmen bawah uterus yang terjadi berurutan sehingga perlepasan plasenta terhalang. -

Diare dan muntah , Kerja metergin menyerupai kerja dopamine yang kerap kali Gejala keracunan : mual, muntah, diare, gatal, kulit dingin, nadi lemah dan cepat, Toksik keracunan akut dan kronik Paling toksik ergotamine Dosis keracunan fatal: 26 mg per oral selama beberapa hari, atau dosis tunggal Gejala keracunan kronik: perubahan peredaran darah ( tungkai bawah, paha,

menimbulkan mual dan muntah pada 20-30 % ibu melahirkan. bingung dan tidak sadar, pengliatan kabur, sakit kepala, kejang, koma, meninggal. -

0,5-1,5 mg parenteral lengan dan tangan jadi pucat), nyeri otot, denyut nadi melemah, gangren, angina pectoris, bradikardi, penurunan atau kenaikan tekanan darah Keracunan biasanya disebabkan: takar lajak dan peningkatan sensitivitas Terapi ergotisme , Penghentian pengobatan Pemberian terapi simptomatis :

mempertahankan aliran darah ke jaringan : antikoagulan, na nitroprusid (vasodilator 13

kuat) Atropin atau antiemetik gol fenotiazin untuk menghilangkan mual dan muntah Kalsium glukonat untuk menghilangkan nyeri otot. b. Oksitosin Oksitosin diproduksi dan disimpan oleh hipofisis posterior. Rangsangan dari serviks, vagina dan payudara secara refleks melepaskan oksitosin, hal tersebut berkaitan dg semakin sensitivnya uterus terhadap oksitosin, sehingga pada akhir kehamilan kadar oksitosin meninggi dimana berikatan dg reseptor oksitosin yg terletak di dlm miometrium yaitu dlm membran plasma sel otot polos uterus , oksitosin adalah golongan obat yang digunakan untuk merangsang kontraksi otot polos uterus dalam membantu proses persalinan, pencegahan perdarahan pasca persalinan (P3) serta penguatan persalinan , Oksitosin merangsang otot polos uterus dan mammae selektif dan cukup kuat Stimulus sensoris pada serviks, vagina dan payudara merangsang hipofisis posterior melepaskan oksitosin. Sensitivitas uterus meningkat dng pertambahan usia kehamilan. Nama Paten: Piton S., Syntocinon, Hypophysi, Piroglandol. Oksitosin diabsorsi dengan cepat melalui mukosa mulut sehingga memungknkan oksitosin diberkan secara tablet hisap. Cara pemberian nasal atau tablet hisap did/cadangan untuk penggunaan pasca persalinan, selama kehamilan kadar amino peptidase dalam plama (oksitosin atau vasopresinase) meniongkat 10x dan menurun setelah persalinan. Enzim mengaktifkan oksitosin dan ADH melalui pemecahan ikatan peptida enzim meregulasi kosentrasi oksitosin. Meskipun sudah lazim di gunakan di banyak klinik bersalin atau bagian obstetric rumah sakit, namun potensi oksitoksin dalam mengganggu keseimbangan cairan dan tekana darah membuat obat ini tidak tepat untuk digunakan pada ibu hamil dengan pre-eklamsia aau penyakit kardiovaskuler atau pada ibu hamil yang berusia di atas 3 tahun. Pemberian infuse oksitoksin merupakan kontraindikasi pada ibu hamil yang menghadapi resiko karena melahirkan pervaginam, misalnya kasus dengan melpresentasi atau solosio plasenta atau denagn resiko rupture uteri yang tinggi. Pemberian infuse oksitoksin yang terus-menerus pada kasus dengan resistensi dan inersia uterus merupakan kontraindikasi. Uterus yang starvasi. Kontraksi otot uterus memerlukan glukosa maupun oksigen. Jika pasokan keduanya tidak terdapat pada otot yang berkontraksi tersebut dan keadaan 14

ini mungkin terjadi karena starvasi atau pemberian oksitoksin tidak akan adekuat sehingga pemberian oksitoksin secara sedikit demi sedikit tidak akan efektif. Situasi ini lebih cenderung di jumpai pada persalinan yang lama. lokal di uterus tetapi sedikit pengaruhn ya terhadap eliminasi kadar oksitosin dalam plasma. Sediaan Oksitosin Injeksi Oksitosin (Pitosin) 10 unit USP/ml IM atau IV Semua sediaan sintetis, yang alam mahal Semprot hidung: 40 unit USP/ml Tablet sublingual: 200 unit USP

Mekanisme kerja Efek pada Uterus: -

Merangsang frekuensi dan kontraksi uterus Efek pada uterus menurun jika estrogen menurun Uterus imatur kurang peka thd oksitosin Infus oksitoksin perlu diamati menghindari tetani respon uterus meningkat

8 x lipat pada usia kehamilan 39 minggu Efek pada mamae:


-

Menyebabkan kontraksi otot polos mioepitel susu mengalir (ejeksi susu) Sediaan oksitosin berguna untuk memperlancar ejeksi susu, serta mengurangi

pembengkakan payudara pasca persalina Efek Kardiovaskuler: -

Relaksasi otot polos pembuluh darah (dosis besar) Penurunan tekanan sistolik, warna kulit merah, aliran darah ke ekstremitas Hasil baik pada pemakaian parenteral Cepat diabsorbsi oleh mukosa mulut Efektif untuk pemberian tablet isap

menurun, takikardi dan curah jantung menurun

15

Selama hamil ada peningkatkan enzim Oksitosinase atau sistil aminopeptidase

berfungsi mengaktifkan oksitoksin enzim tersebut berkurang setelah melahirkan, diduga dibuat oleh plasenta Bersama dengan faktor-faktor lainnya, oksitoksin memainkan peranan yang sangat penting dalam persalinan dan injeksi ASI. Oksitoksin bekerja pada reseptor oksitoksik untuk menyebabkan :
-

Kontraksi uterus kehamilan aterm yang terjadi lewat kerja langsung pada otot Konstriksi pembuluh darah umbilicus Kontraksi sel-sel miopitel (refleks ejeksi

polos maupun lewat peningkatan produksi prostaglandin. ASI) Oksitoksin bekerja pada reseptor hormone antidiuretik (ADH) untuk menyebakan: Peningkatan atau penurunan yang mendadak pada tekanan darah (khususnya Retensi air diastolic) karena terjadinya vasodilatasi. Kerja oksitoksin yang meliputi : kontraksi tuba uterine (fallopi) untuk membantu pengangkutan sperma; luteolisis (involusi korpus luteum); perana neurotransmitter yang lain dalam system saraf pusat. Oksitoksindisintesis I dalam hipotalamus, kelenjar gonad, plasenta dan uterus. Mulai dari usia kehamilan 32 minggu dan selanjutnya, konsentrasi oksitoksin dan demikian pula aktivitas uterus akan lebih tinggi pada malam harinya. Pelepasan oksitoksin endogenus di tingkatkan oleh:
-

Persalinan, di mana pelepasanendogenus oksitoksin bersifat pulsatil, control

umpan balik yang positif dari persalinan akan mencapai puncaknya pada saat terjadi gelombang pelepasan oksitoksin -

Stimulasi serviks, vagina atau payudara Estrogen yang beredar dalam darah Peningkatan osmolalitas/ konsentrasi plasma (glosarium) Volume cairan yang rendah dalam sirkulasi darah Stress, dalam persalinan dapat memicu partus prespitatus yang di kenal dengan

istilah refleks ejeksi fetus. Sters yang disebabkan oleh tangisan bayi menstimulasi produksi ASI. Pelepasan oksitoksin di supresi oleh: 16

Alcohol (hal ini menggangu awal pemberian asi) Relaksin Penurunan osmolalitas (konsentrasi) plasma Volume cairan yang tinggi dalam sirkulasi darah

Indikasi dan Kontraindikasi Indikasi Oksitosik dan mengurangi pembengkakan payudara Kontra indikasi - Kontraksi uterus hipertonik - Distress janin - Prematurisasi dan gawat janin - Letak bati tidak normal - Disporposi sepalo pelvis - Predisposisi lain untuk pecahnya rahim - Obstruksi mekanik pada jalan lahir - Peeklamsi atu pemnyakit kardiovaskuler atu pada ibu hamil yang berusia 35 tahun - Resistensi dan mersia uterus - Uterus yang starvasi Cara pakai dan dosis Untuk induksi persalinan intravena 1-4 mU permenit dinaikkan menjadi 5-20 mU/menit sampai terjadi pola kontraksi secara fisiologis. Untuk perdarahan uteri pasca partus, ditambahkan 10-40 unit pada 1 L dari 5 % dextrose, dan kecepatan infuse dititrasi untuk mengawasi terjadinya atonia uterus. Kemungkinan lain adalah, 10 unit dapat diberikan secara intramuskuler setelah lahirnya plasenta. Untuk menginduksi pengaliran susu, 1satu tiupan ( puff ) disemprotkan ke dalam tiap lubang hidung ibu dalam posisi duduk 2-3 menit sebelum menyusui. Efek samping 17

Spasme uterus ( pada dosis rendah ) Hiper stimulasi uterus 9 membahayan janin: kerusakan jaringan lunak/uterus Keracunan cairan dan hiporatremia ( pada dosis besar) Mual, muntah, aritmia, anafilaksis, ruam kulit, aplasia plasenta, emboli amnion. Kontraksipembuluh darah tali pusat Kerja antidiuretik Reaksi hipersensitifitas Reaksi anafilaktik Hiper stimulasi uterus yang membahayakan janin : kerusakan jaringan lunak / Keracunan cairan dan hiporatremia ( pada dosis besar ) Mual, muntah,ruam kulit, aplasia plasenta, emboli amnion. Kontraksi pembuluh darah tali pusat Aritmia jantung Hematoma panggul

rupture uterus

c. Prostaglandin Prostaglandin merupakan senyawa yg dibuat dari fosfolipid pada membran sel dalam jaringan tubuh. Senyawa tersebut merupakan substansi yg penting sebagai hormon lokal Prostaglandin di dalam tubuh sangat penting dlm membantu proses melahirkan : Pematangan serviks Kontraksi uterus (oksitosin + prostaglandin)

Pembentukan prostaglandin oleh amnion akan meningkat pd saat menjelang akhir kehamilan sehingga menaikkan kadar prostaglandin. Prostaglandin Ditemukan dalam ovarium, miometrium, darah menstruasi juga pada saat Post coitus ditemukan prostaglandin di vagina, Prostaglandin terbagai dua jenis yaitu:
-

PGF merangsang uterus hamil dan tidak hamil PGE merelaksasi uterus tidak hamil, dan merangsang kontraksi uterus hamil.

Sensitivitas uterus terhadap prostaglandin akan meningkat secara progresif sepanjang kehamilan. Dalam bulan terakhir kehamilan, serviks menjadi matang (pengaruh PGE2) yg 18

meningkatkan produksi enzim yg memecah dan melonggarkan kolagen serviks . Ada 4 tipe prostaglandin yg mempunyai peranan penting dlm proses melahirkan, yaitu:
-

PGE1 : Mematangkan serviks PGE2 : Meningkatkan kontraksi uterus dan mematangkan serviks
-

PGI2

: Aliran darah darah dari ibu ke janin

PGI2a : Menimbulkan kontraksi uterus segala waktu Karbopros trometamin : 15-metil PGF2 tersedia dalam bentuk suntikan 250 Dinoproston : PGE2 tersedia dalam suppositoria vaginal 20 mg. Gmeprost : analog alprostadil yang berefek oksitosik. Sulproston : derivat dinoproston. Dinoproston :Dinoproston (PGE2) pervaginal :Tablet dan jelly :Pematangan serviks dan induksi persalinan :10 menit setelah dimasukkan ke dalam vagina :Dinding vagina

Prostaglandin tersedia dalam bentuk sediaan sebagai berikut:


-

g/ml.
-

Contoh :
Obat

Sediaan Indikasi Aksi Absorpsi - Misoprostol


Obat

:Misoprostol (PGE1) :Tablet

pervaginal

Sediaan Indikasi persalinan Mekanisme Kerja

:Induksi dan penguatan persalinan penatalaksanaan kala tiga

Prostaglandin bekerja pada sejumlah reseptor prostaglandin yang berlainan. Substansi ini mempengaruhi banyak sistem dan menyebabkan berbagai efek samping. Indikasi dan kontra indikasi 19

Indikasi: -

Induksi partus aterm Mengontrol perdarahan dan atoni uteri pasca persalinan Merangsang kontraksi uterus post sc atau operasi uterus lainya Induksi abortus terapeutik Uji oksitosin Menghilangkan pembengkakan mamae Terdapat ruptura membran amnion Adanya riwayat sikatris Apabila telah ada perdarahan antepartum yang signifikan (perdarahan vagina

Kontraindikasi

selama kehamilan) atau dimana terdapat plasenta previa dengan atau tanpa perdarahan, prostaglandin tidak digunakan. -

Dalam kondosi mata yang dikenal sobagai glaukoma Jika ada infeksi pada jalan lahir Pada kehmilan melintang sungsang atau miring

Dosis dan cara pakai Karbopros trometamin: Injeksi 250 ug/ml Dinoproston (PGE): Supositoria vaginal 20 mg Gemeprost: Pesari 1mg ( melunakan uterus) Sulpreston: Injeksi 25, 50, 100 ug/ml IM atau IV

6. Sebutkan obat-obat yang termasuk dalam obat tokolitik dan bagaimana cara

kerjanya? Pembahasan : Obat-obat yang termasuk dalam obat tokolitik, yaitu sebagai berikut: 1. Peranan agonis sebagai tokolitik 20

Agonis beta merupakan obat yang sering digunakan dan terbukti efektif menurunkan terjadinya persalinan dalam 24, 48 jam dan 7 hari terapi dibanding plasebo. Agonis adalah golongan tokolitik yang secara struktur sama dengan katekolamin endogen, epinefrin dan nor-epinefrin. Obat ini bekerja dengan merangsang reseptor .adrenergik pada uterus. Isoxuprine adalah obat pertama dari golongan ini yang digunakan sebagai tokolitik kurang lebih 45 tahun yang lalu. Terbutalin dan Ritodrin sekarang yang paling banyak digunakan sebagai tokolitik pada golongan ini di Amerika Serikat dibandingkan dengan Hexoprenalin, Fenoterol, Salbutamol dan lain-lain, tetapi hanya Ritodrin yang direkomendasikan oleh FDA sebagai tokolitik dari golongan ini.
2. Peranan obat anti inflamasi non steroid sebagai tokolitik.

Prostaglandin sebagai salah satu pencetus proses persalinan (kontraksi uterus) yang penting maka para peneliti menganggap bahwa prostaglandin synthetase inhibitor dalam hal ini Obat Anti Inflamasi Non Steroid (OAINS) dapat digunakan sebagai tokolitik. Salah satu obat-obat golongan ini yang dapat dipakai tokolitik adalah Indomethacin Farmakokinetik OAINS bekerja primer sebagai penghambat cyclooxygenase. Indomethacin adalah obat dari golongan ini yang memiliki potensi untuk digunakan sebagai tokolitik. Obat ini dimetabolisme di hati dan diekskresi melalui urin. Indomethacin secara cepat dapat menembus plasenta, dalam 2 jam kadar dalam darah bayi 50% dari kadar dalam darah ibu dan akan menjadi sama dalam 6 jam. Waktu paruh indomethacin pada fetus adalah 14,7 jam yang lebih lama dibanding pada ibu yang hanya 2,2 jam, hal inilah yang dapat mengakibatkan gangguan hati ada fetus. 3. OAINS lain sebagai tokolitik Seperti yang kita ketahui OAINS bekerja primer sebagai penghambat cyclooxygenase (COX) yang mempunyai 2 tipe yaitu COX-1 dan COX-2. Indomethacin adalah OAINS yang bekerja pada kedua tipe ini. Pada manusia peningkatan kadar COX tipe 2 diyakini lebih bermakna terhadap terjadinya persalinan prematur dibanding COX tipe 1. Contoh obat-obat yang dapat digunakan sebagai tokolitik dari golongan ini adalah Nimesulid dan Celecoxib. 21

Nimesulid dapat dipakai sebagai tokolitik tetapi juga dapat menyebabkan terjadinya gagal ginjal stadium akhir pada manusia sehingga hal inilah yang membatasi penggunaannya Sedangkan celecoxib dengan dosis 50, 10, 1 mg/kgbb dapat digunakan sebagai tokolitik yang dapat menunda persalinan dibandingkan tanpa celecoxib dengan efek samping penutupan dini dari duktus arteriosus yang lebih kecil dibanding indomethacin. 4. Peranan Magnesium Sulfat (MgSO4) sebagai tokolitik MgSO4 sudah lama dikenal dan dipakai sebagai anti kejang pada penderita preeklamsia sebagai anti kejang yang juga bersifat sebagai tokolitik. Obat ini dipakai sebagai obat tokolitik utama karena murah, mudah cara pemakaiannya dan resiko terhadap sistem kardiovaskuler yang rendah serta hanya menghasilkan efek samping yang minimal terhadap ibu, janin dan neonatal. Kerugian terbesar yang signifikan dari penggunaan magnesium sulfat sebagai obat tokolitik adalah harus diberikan secara parenteral. Farmakokinetik Jumlah total magnesium dalam tubuh manusia adalah 24 gr yang sebagian besar terdapat pada tulang dan ruang intraseluler dan hanya 1% pada ekstraseluler. Konsentrasi magnesium pada serum wanita normal berkisar antara 1,83 mEq/l dan turun menjadi 1,39 mEq/l pada wanita hamil. Magnesium dikeluarkan dari tubuh melalui ginjal oleh karena itu konsentrasi magnesium plasma ditentukan oleh jumlah pemberian melalui infuse dan kecepatan filtrai glomerulus. MgSO4 mempunyai dua cara yang memungkinkannya bekerja sebagai tokolitik, yang pertama peningkatan kadar MgSO4 menurunkan pelepasan asetilkoin oleh motor and plates pada neuromuscular junction sehingga mencegah masuknya kalsium, cara yang kedua adalah MgSO4 berperan sebagai antagonis kalsium pada sel dan ekstrasel. Kontraindikasi dan Penggunaan Klinik Intoksikasi MgSO4 dapat dihindari dengan memastikan bahwa pengeluaran urin memadai, reflex patella ada dan tidak ada depresi pernapasan. Reflex patella menghilanga menghilang pada kadar 10 mEq/l (antara 9-13 mg/dl) dan pada kadar plasma lebih dari 10 22

mEq/l akan timbul depresi pernapasan dan henti napas dapat terjadi pada kadar plasma 12 mEq/l atau lebih. MgSO4 sebagai terapi tokolitik dimulai dengan dosis awal 4-6 gr secara intravana yang diberikan selama 15-30 menit dan diikuti dengan dosis 2-4 gr/jam selama 24 jam. Selama terapi tokolitik dilakukan konsentrasi serum ibu biasanya dipelihara antara 4-9 mg/dl. Untuk meminimalisir atau mencegah terjadinya intoksikasi seperti hal di atas maka perlunya disediakan kalsium glukonas 1 gr sebagai anti dotum dari magnesium sulfat.

7. Sebutkan obat-obat yang lazim diberikan saat hamil!

Pembahasan : Efek obat pada jaringan reproduksi, uterus dan kelenjar susu, pada kehamilan kadang dipengaruhi oleh hormon-hormon sesuai dengan fase kehamilan. Efek obat pada jaringan tidak berubah bermakna karena kehamilan tidak berubah, walau terjadi perubahan misalnya curah jantung atau aliran darah ke ginjal. Perubahan tersebut kadang menyebabkan wanita hamil membutuhkan obat yang tidak dibutuhkan pada saat tidak hamil. Contohnya glikosida jantung dan diuretik yang dibutuhkan pada kehamilan karena peningkatan beban jantung pada kehamilan. Atau insulin yang dibutuhkan untuk mengontrol glukosa darah pada diabetes yang diinduksi oleh kehamilan. Beberapa penelitian untuk mengetahui kerja obat di janin berkembang dengan pesat, yang berkaitan dengan pemberian obat pada wanita hamil yang ditujukan untuk pengobatan janin walaupun mekanismenya masih belum jelas diketahui. Contohnya kortikosteroid diberikan untuk merangsang matangnya paru janin bila ada prediksi kelahiran prematur. Contoh lainnya adalah fenobarbital yang dapat menginduksi enzim hati untuk metabolisme bilirubin sehingga insidens jaundice (bayi kuning) akan berkurang. Selain itu, fenobarbital juga dapat menurunkan resiko perdarahan intrakranial bayi kurang umur. Selain itu, anti 23

aritmia juga diberikan pada ibu hamil untuk mengobati janinnya yang menderita aritmia jantung.

8. Obat-obat khusus : kapan dipakai; untuk apa dan apa istimewanya/harus berhati-

hati? Pembahasan: a. Magnesium Sulfat Magnesium sulfat penting untuk mencegah kejang pada pada pasien-pasien dengan pre-eklampsia berat atau eklampsia (hipertensi yang timbul saat kehamilan atau setelah persalinan). Dalam dosis farmakologik, obat ini bekerja di susunan saraf pusat. Kerja yang menyerupai kurare pada sambungan neuromuskular jelas mengganggu pelepasan asetilkolin pada terminal saraf motoris. Magnesium bisa juga menggantikan kalsium pada sambungan neuromuskular, sehingga mengubah potensial membran dan transmisi neuromuskular dan eksitasi. Sekalipun magnesium menurunkan resistensi intrinsik di dalam pembuluh darah rahim, pengaruh hipotensi biasanya tidak terjadi atau terjadi hanya sementara. Dengan menggunakan dosis pencegahan serangan, magnesium sulfat diperkirakan tidak punya pengaruh besar terhadap kontraksi rahim yang akan datang. Dosis yang digunakan untuk maksud tokolisis biasanya dua kali dosis untuk mencegah kejang. Terapi magnesium harus diteruskan selama bedah sesar. Perelaksasi otot biasanya diberikan dalam dosis yang lebih rendah.

b. Methotrexate Methotrexate : imunosupresan , untuk obat kanker (kemoterapi).


-

Metotreksat ialah analog 4-amino, N10-metil asam folat. Metotreksat sangat

efektif pada koriokarsinoma, korioadenomadestruens dan mola hidatidosa. 24

Kombinasi metotreksat dengan klorambusil dan daktinomisin efektif terhadap

karsinoma testis, limfoma limfositik stadium III dan IV terutama pada anak, dan memberikan remisi temporer pd mikosisfungoides.
-

Dalam kombinasi dengan berbagai antikanker, metotreksat digunakan pada Pada leukemia limfoblastik akut pada anak, metotreksat sebagaiobat tunggal

karsinoma mama, paru dan ovarium, timfoma Burkitt dan limfoma non-Hodgkin. memberikan remisi lengkap pada 20% pasien; dlmkombinasi dg prednison remisi lengkap mencapai 80%.
-

Untuk terapi penunjang leukemia limfositik akut, metotreksat dalam kombinasi

dengan markaptopurin merupakan obat terpilih. Metotreksat ialah obat primer untuk limfoma sel T kulit dan meduloblastoma

c. Kortikosteroid Pemakaian kortikosteroid menjadikan pematangan paru-paru dipercepat bilamana ada kemungkinan terjadi persalinan pretern. Sesuai dengan laporan kesepakatan Institusi Kesehatan Nasional dewasa ini, umumnya penelitian yang melibatkan pemakaian betametason dan deksametason memperlihatkan penurunan insidensi yang amat jelas dari gangguan kesukaran pernapasan, perdarahan intraventrikuler, dan kematian neonatus bilamana telah diberikan kortikosteroid sebelum persalinan diperkirakan terjadi, terutama pada kehamilan antara 26 sampai 34 minggu. Evaluasi pertumbuhan dari janin-janin yang diobati demikian yang sekarang telah menjadi anak-anak berusia sekolah tidak menunjukkan pengaruh jelek apapun dari pengobatan jangka pendek yang demikian. Pemberian kortikosteroid benar-benar memperlihatkan kegunaannya pada kehamilan yang berkomplikasi dengan ketuban pecah dini. Umumnya para peneliti berkesimpulan bahwa tidak ada hubungan antara infeksi maternal dan neonatal dengan pemakaian terapi kortikosteroid jangka pendek. Kortikosteroid bisa meningkatkan hitung butir darah putih (terutama netrofil), jadi untuk menapis infeksi diperlukan kriteria klinik dan kultur yang sewajarnya.

25

Kortikosteroid bisa menurunkan toleransi terhadap glukosa karena kenaikan kebutuhan insulin yang terjadi pada inhibisi penggunaan glukosa, mobilisasi asam amino untuk dikonversi menjadi glukosa dan glikogen, dan induksi enzim-enzim hati untuk glukoneogenesis. Dengan begitu terapi kortikosteroid tidak dianjurkan bilamana diperkirakan akan terjadi persalinan prematur pada penderita diabetes yang kurang terkendali.

Kontraindikasi terapi kortikosteroid Kontraindikasi absolut terapi kortikosteroid jarang. Kontraindikasi di pihak ibu meliputi penyakit-penyakit febris, tuberkulosis, herpes yang aktif, atau infeksi lain. Kortikosteroid juga merupakan kontraindikasi jika terdapat infeksi intraamnion, ancaman partus, hasil uji coba kematangan paru yang positif, atau tidak berkemampuan memonitor keadaan janin. Steroid dapat diberikan pada kehamilan yang berkomplikasi hipertensi ringan, diabetes yang terkendali dengan baik, hipertiroidisme, insufisiensi plasenta, perdarahan uterus yang sedikit, partus prematurus yang mendapat obat-obat tokolitik yang mencukupi, atau ketuban pecah dini. Diperlukan penelitian lebih lanjut untuk mengevaluasi risiko dan faedah dari pemakaian kortikosteroid pada wanita dengan KPD, dan keamanan pemberian ulang.

d. Misoprostol Misoprostol dapat diberikan secara oral, sublingual, vaginal maupun rektal. Misoprostol sangat mudah diserap, dan menjalani de-esterifikasi cepat menjadi asam bebas, yang berperan dalam aktivitas kliniknya dan tidak seperti senyawa asalnya, metabolit aktifnya ini dapat dideteksi di dalam plasma. Rantai samping alfa dari asam misoprostol menjalani oksidasi beta dan rantai samping beta menjalani oksidasi omega yang diikuti dengan reduksi keton untuk menghasilkan analog prostaglandin F.

26

Pada keadaan normal, misoprostol dengan cepat diabsorbsi setelah pemberian secara oral. Konsentrasi asam misoprostol didalam plasma mencapai puncak setelah kirakira 30 menit dan akan menurun dengan cepat. Bioavailibilitas misoprostol menurun apabila diberikan bersamaan dengan makanan atau pada pemberian antasid.1 Setelah pemberian per oral, asam misoprostol mencapai kadar puncak setelah 123 menit dengan waktu paruh 20-40 menit. Misoprostol terutama mengalami metabolisme di hati tetapi tidak menginduksi sistem enzim sitokrom hepatik P-450 sehingga interaksinya dengan obat-obat lain dapat diabaikan.2 Misoprostol diekskresikan melalui ginjal sekitar 80% dan melalui feses 15%. Sekitar 1% dari metabolit aktif akan diekskresikan juga di dalam urin. Misoprostol : menggugurkan implantasi zigot (6 hari setelah senggama)

9. Sebutkan bahan obat yang diberikan sebagai kontrasepsi, bahan yang dipakai dan

cara pemberiannya! Pembahasan : Bahan obat yang diberikan sebagai kontrasepsi, bahan yang dipakai dan cara pemberiannya, yaitu : a. Hormonal
-

Kontrasepsi oral (pil pengendali kelahiran) merupakan gabungan estrogen sintesis dan progesteron sintesis yang dikonsumsi perempuan selama 21 hari siklus menstruasi. Pil ini menghalangi ovulasi dengan menekan LH (dalam dosis besar) dan memiliki efek perubahan transpor tubal dan perubahan endometrial yang menghalangi implamasi (dosis rendah).

Norplant merupakan implan progesteron sintesis subdermal yang memberikan kontrasepsi selama 5 tahun.

27

Depoprovera adalah kontrasepsi yang dapat diinjeksikan. Injeksi tunggal progesteron sintesis 150 mg memberikan kontrasepsi selama 3 bulan. Simana efeksampingnya adalah perdarahan ireguler, berat badan turun, sakit kepala atau mual. b. Seterilisasi bedah.

Pada perempuan dilakukan dengan ligasi yubal, kauterisasi atau pengikatan tuba uterin sedangkan pada laki-laki dilakukan dengan pemotongan, kauterisasi atau pengikatan duktus vas diverens yang disebut dengan vasektomi. c. Intra Uterin Device (IUD) Intra Uterin Device (IUD) dimasukkan kedalam rongga uterus. Mekanisme jelasnya dalam mencegah kehamilan tidak diketahui. Alat ini dipercaya mampu mengganggu implantasi ovum yang telah dibuahi dengan cara mengubah lingkungan uterus. d. Kontrasepsi barier, menghalangi sperma menyatu dengan oosit. Barier fisik secara mekanis mengobstruksi aliran sperma melalui serviks. Diafragma vagina yang menutupi serviks dan alan ini harus dipakai bersama dengan spermisida. Kondom melapisi penis pada saat ereksi untuk menangkap semen yang

terejakulasi dan mencegah memasuki vagina juga dapat mencegah penyakit menular seksual. Barier kimia. Foam (busa), jeli, krim, supositori, dan spons vagina mengandung spermisida yang secara kimia dapat menghancurkan sperma dalam vagina.

28

BAB III KESIMPULAN

3.1 Kesimpulan Informasi terkait keamanan penggunaan obat pada saat kehamilan tentunya menjadi salah satu kebutuhan dan hak konsumen/klien. Obat pada dasarnya merupakan senyawa toksik bila dosis dan penggunaanya tidak disesuaikan dengan kondisi badan pasien maupun penyakitnya. Penggunaan obat untuk ibu hamil harus sangat diperhatikan. Pada ibu hamil, jantung dan ginjal bekerja lebih keras, sehingga beberapa perjalanan obat di dalam tubuh berlangsung lebih cepat dari biasanya. Beberapa obat dapat membahayakan janin di beberapa stage kehamilan tertentu saja, namun ada juga yang membahayakan di seluruh stage kehamilan. Beberapa obat dapat menembus dinding plasenta, sehingga dapat membahayakan kondisi janin. Plasenta ini dapat menjadi organ tempat pertukaran beberapa zat antara ibu dan fetus, termasuk obat. Dengan mengacu pada ketentuan yang digunakan oleh FDA (Food and Drag Administration) US, terdapat lima kategori keamanan obat untuk kehamilan. Pembagian kategori ini didasarkan pada resiko obat terhadap system reproduksi, resiko efek samping, dan perbandingan manfaat dengan resiko. 3.2 Saran Bukan hanya obat-obat keras saja yang mungkin berbahaya bagi ibu hamil maupun kondisi janin, obat bebas yang dijual di pasaran (Over the Counter, OTC) juga dapat membahayakan. Dalam kasus obat keras, penggunaannya lebih dapat terkendali karena obat ini hanya dapat ditebus apabila terdapat resep dokter. Untuk obat OTC/bebas, perlu ada pengetahuan dari pasien, penggalian informasi oleh pasien, edukasi, maupun konseling dari tenaga medis yang berperan.

DAFTAR PUSTAKA
29

Rayburn, Wiliam F dan J. Christopher Carey. 1995. Obstetri & Ginekologi. Jakarta : Widya Medika. Manuaba, Ida Bagus Gde. 2003. Penuntun Kepaniteraan Klinik Obstetri & Ginekologi. Edisi 2. Jakarta: EGC.

30

Anda mungkin juga menyukai