Anda di halaman 1dari 21

PEMBAHASAN

RESPONS IMUN TANTANGAN TERHADAP ANTIGEN DAN PENYAKIT

1. Pendahuluan Imunitas (kekebalan) merupakan terminologi yang digunakan untuk respon spesifik dan respon imun. Kekebalan terhadap infeksi, baik yang terbentuk mengikuti paparan organisme penyebab maupun yang dapat dirangsang secara buatan dengan imunitas terutama untuk resiko terhadap paparan. Mungkin di antara kita tentu terbiasa berada dalam keadaan sehat dan bebas dari infeksi. Ketika kita kena infeksi, secara normal akan sembuh karena tubuh mengenali tidak mikroorganisme sebagai zat asing dan bekerja untuk melawan atau menghancurkan mikroorganisme tersebut. Kadang sistem imun dapat menyebabkan efek yag diinginkan (hipersensitifitas). Dalam pengertian yang paling luas, imunologi mengacu pada semua mekanisme pertahanan yang dapat dimobilisasi tubuh memerangi ancaman invasi asing. Kulit dan struktur-struktur yang menyertainya merupakan penghalang yang hebat bagi pertumbuhan dan penetrasi virus dan bakteri. Keringat dan sekresi-sekresi lainnya cenderung menjaga pH yang rendah di permukaan epidermis, sehingga mencegah propagasi berbagai jenis patogen. Flora alamiah bakteri-bakteri yang secara alamiah tumbuh di permukaan kulit serta di dalam lekukanlekukan dan duktus-duktus di tubuh. Flora alamiah tersebut saling menjaga pertumbuhan populasi masing-masing, dan selain itu juga berperan sebagai penghalang bagi pertumbuhan mikroorganisme-mikroorganisme asing. Jika terdapat bukaan, struktur-struktur internal yang bersambungan dengan bukaan-bukaan tersebut dilapisi oleh sebuah lapisan mucus protektif, yang tidak hanya melumasi struktur tersebut, namun juga bisa menjebak penyerbu dari luar, untuk kemudian diekskresikan.

Sekresi di sepanjang saluran-saluran, misalnya duktus air mata, sebenarnya menghancurkan bakteri-bakteri penyerang. Seandainya saja barisan pertahanan kulit itu bisa dipenetrasi oleh penyerang, masih ada berbagai respons internal yang merupakan bagian dari rangkaian sistem-sistem pertahanan tubuh. Pembentukan interferon terutama dirangsang oleh kehadiran virus. Interferon adalah protein-protein kecil yang dihasilkan dalam sebuah sel yang diserang oleh virus. Interferon bekerja melindungi sel-sel yang berdekatan dengan sel tersebut dari invasi virus, dengan cara melekatkan diri pada sel-sel tersebut untuk mencegah pembentukan protein virus. 2. Definisi Sistem Imun Sistem imun adalah suatu sistem kompleks yang memberikan respon imun, baik humoral maupun selular untuk menghadapi agens asing spesifik, seperti bakteri, virus, toksin, atau zat lain yang oleh tubuh dianggap bukan bagian diri. Sisem imun terdiri dari semua sel, jaringan, dan organ yang diperlukan untuk respons imun. Fungsi sistem imun adalah melindungi tubuh dari patogen dan menghancurkan sel-sel yang sudah tidak dikenali sebagai sel tubuh sendiri. Jika sistem ini tidak bekerja maka dapat menyebabkan autoimun, defisiensi imun, atau penyakit alergi. Sistem imunlah yang memungkinkan terjadinya penyembuhan dari infeksi oleh mikroorganisme yag inginvasi pertahanan permukaan tubuh. Pasien rawat ini lebih berisiko terhadap invasi mikroorganisme karena penyakit mereka atau karena terapi yang idberikan harus melewati mekanisme pertahanan normal. Contohnya adalah pada kasus luka bakar, kateterisasi urine, neutropenia (jumlah sel darah putih/neutrofil rendah, kurangnya flora bakteri normal), dan malnutrisi pada pasien pascaoperasi atau pasien yang dirawat di perawatan intensif. Lini pertahanan tubuh pertama adalah kulit. Jika kulit dilewati atau diinvasi, maka akan terjadi respons inflamasi (peradangan). Respons inflamasi Tanda kerja sistem imun yang paling terlihat adalah adanya kemerahan, pembengkatan, dan nyeri yang dilihat/dirasakan saat terluka atau terinvasi oleh benda asing. Reaksi ini disebut juga respons inflamasi. Tanda-tanda ini disebabkan oleh:

1. Dilatasi pembuluh darah, yang akan meningkatkan aliran darah sehingga lebih banyak darah mencapai area yang terkena. 2. Meningkatkan permeabilitas kapiler, yang memungkinkan molekul sistem imun yang berukuran besar dan sel fagosit bermigrasi ke jaringan. 3. Zat kimia, seperti histamin dan limfokin yang dilepaskan dari sel-sel yang rusak. 4. Akumulasi cairan inflamasi ke ruang tertutup, sehingga terjadi peningkatan tekanan. Efek ini membuat area inflamasi terlokalisasi, dan terjadi pengenceran (dilusi) zat iritasi serta eliminasi melalui fagositosit. Kondisi inflamasi yang sering terjadi, misalnya pada colitis, meningitis, pneumonia, dan pleuritis. Kadang respon inflamasi berlangsung lama dan dapat menyebabkan kematian jaringan, misalnya gangren dan tuberculosis.
3. Karakteristik/Gambaran Penting Sistem Imun Spesifik

Sistem imun mempunyai empat gambaran yang penting, yaitu: a. Spesifisitas Respon imun pada mamalia mempunyai spesifisitas untuk satu antigen tertentu. Umumnya tidak ditemukan reaksi silang dengan yang lain, suatu antigen yang dekat hubungannya, bahkan suatu perbedaan kandungan kimiawi di antara kedua antigentersebut hanya berupa perbedaan komparatif kecil dalam struktur molekuler. Sebagai contoh, kemampuan sistem imun untuk membedakan antigen golongan darah yang berbeda. b. Keanekaragaman Sistem imun kelihatannya memiliki perlawanan terhadap berbagai antigen yang berbedabeda sepanjang hidup seorang individu. Karenanya harus dipunyai keanekaragaman respons yang ditentukan. Keanekanragaman ini sebagian diturunkan dan sebagian didapat pada waktu maturasi sistem imun.
c. Daya ingat (memory)

Ketika antigen bereaksi dengan sel klon yang berkemampuan imunologi dengan spesifisitas untuk antigen, terdapat ekspansi dari klon serta adaptasi dari sel untuk memberi kemungkinan spesifisitas yang tinggi untuk antigen. Selama proses ini 3

berlangsung, sel memori dilahirkan, sehingga apabila antigen ditemukan untuk kedua kalinya, respons imun akan lebih cepat terjadi dan lebih spesifik. Hal ini merupakan dasar prosedur imunisasi aktif d. Pemilihan sistem pertahan yang lain Mengenal kembali material asing oleh sistem imun, oleh dirinya sendiri, tidak selalu menghasilkan pengrusakan material tersebut. Sel dari sistem imun melepaskan messenger kimiawi (seperti sitokin) yang mengambil dan mengaktifkan sel lain (seperti polimorf, makrofag, dan sel mast) atau sistem kimiawi (seperti komplemen, amine, kinin dan enzim lisosomal) untuk menghancurkan material asing. Sistem imun selalu siaga secara konstan dan setiap komponennya harus siap sedia dan dapat mencapai area yang terserang dengan cepat agar sistem bekerja dengan efektif. Sistem limfoid menyediakan jaringan dan sel-sel yang dibutuhkan untuk respons imun. Lokasi utama produksi limfosit adalah pada sumsum tulang dan timus. Limpa, kelenjar getah bening, dan jaringan yang dekat mukosa, seperti tonsil (organ dan jaringan perifer) merupakan lokasi dimana sel-sel imun bereaksi dengan antigen. Penyaring terbaik mikroorganisme adalah limpa. Jika limpa diangkat, maka sistem imun akan kurang efektif. Limfosit berpindah dari lokasi produksinya ke jaringan perifer melalui darah dan sistem limfatik. Sekitar 1-2% limfosit akan beresirkulasi setiap jam, tetapi jika terdapat antigen yang dikenali maka sirkulasinya akan terhenti dan sel-sel yang tersensitisasi oleh antigen dapat dilokalisasi di kelenjar getah bening tempat antigen pertama ali dikenali. Dengan ara ini maka respons imun yang baik dapat tercapai dengan cepat. 4. Komponen Respons Imun a. Antigen Antigen adalah suatu zat yang menyebabkan respons imun spesifik. Antigen biasanya berupa zat dengan berat molekul besar dan juga kompleks zat kimia, seperti protein dan polisakarida. a. Determinan antigenik (epilop) adalah kelompok kimia terkecil dari suatu antigen yang dapat membangkitkan repons imun. Suatu antigen dapat memiliki satu atau 4

lebih molekul determinan antigenik, satu molekul pun dalam keadaan yang sesuai dapat menstimulasi respons yang jelas. b. Hapten adalah senyawa kecil yang jika sendirian tidak dapat menginduksi respons imun, tetapi senyawa ini menjadi imunogenik jika bersatu dengan carrier yang berat molekulnya besar, seperti protein serum. c. Hapten dapat berupa obat, antibiotic, zat tambahan makanan, atau kosmetik. Ada banyak senyawa dengan berat molekul kecil yang jika berkonjugasi dengan karrier dalam tubuh dapat membentuk imunogenisitas. Misalnya, pada beberapa orang, penisilin tidak bersifat antigenik sampai penisilin tersebut bergabung dengan protein serum dan mampu memicu respons imun. Antigen merupakan suatu substansi yang mempunyai kemampuan merangsang respons imun (di dalam kasus ini juga disebut sebagai imonogen), termasuk di dalam respon imun ini yaitu pembentukan suatu antibodi yang spesifik atau sel-T yang sangat penting. Untuk lebih tepatnya, suatu antigen juga merupakan substansi yang berasksi dengan antibodi atau sel-T prima tanpa mengindahkan kemampuannya untuk menurunkan mereka. Sebagian besar antigen merupakan molekul yang besar. Molekul yang kecil biasanya tidak mempengaruhi respons imun kecuali bila mengikatkan diri pada molekul pembawa yang lebih besar. Struktur topografi yang paling kecil pada permukaan molekul besar yang dapat dikenal oleh sistem imun, disebut hapten, epitope atau penentu antigenik (antigenic determinant). Sistem imun dapat merespons antigen melalui dua cara, yaitu dengan imunitas sel perantara (cell mediated immunity: CMI) dan dengan imunitas homoral (produksi antibodi). Antigen adalah molekul yang dapat merangsang respons imun spesifik untuk melawan antigen itu sendiri atau sel yang akan membawanya. Miliaran sel B dan T dihasilkan selama perkembangan janin dengan kemungkinan berikatan dengan sekurang-kurangnya 100 juta antigen berbeda. Antigen yang dapat berikatan dengan sel T atau B termasuk antigen yang melekat pada dinding sel bakteri atau mikroplasma, selubung virus, atau serbuk, debu, atau makanan. Setiap sel tubuh individu memiliki protein permukaan yang dapat dikenali sebagai antigen asing oleh sel B atau T dari tubuh individu lain. Bila

antigen dapat menginaktifkan dan kemudian memperbanyak diri atau berdiferensiasi, hal ini disebut dengan antigen imunogenik. Pengenalan antigen Telah dikatakan bahwa pengenalan antigen (zat asing) merupakan langkah pertama dalam aktivasi sistem imun. Hal ini berarti sistem imun harus mengenali sel mana yang berasal dari tubuh sehingga sel tersebut tidak dihancurkan. Semua sel telah diberi label yang membuatnya dapat dikenali, yaitu suatu penanda protein yang disebut kompleks histokompatibilitas mayor (mayor histocompatibilitas complx, MHC). Terdapat dua sel MHC, yaitu kelas I dan kelas II. Jika suatu mikroorganisme memasuki tubuh untuk pertama kalinya, maka

mokroorganisme tersebut akan difagositosis oleh makrofag kerena mikroorganisme tersebut tidak dikenali sebagai sel tubuh normal. Mikroorganisme akan dihancurkan atau diproses sehingga fragmen-fragmen peptida antigen akan terlihat pada permukaan sel oleh molekul HMC. Makrofag ini kemudian disebut sel presentan antigen (antigen presenting cell, APC). Istilah APC dapat digunakan untuk setiap sel yang memiliki bagian dari antigen yang telah diproses pada permukaan selnya. Yang termasuk golongan APC adalah sel-B baru yang memiliki molekul antibodi pada seluruh membran permukaan yang dapat terikat secara spesifik pada mikroorganisme. Jika mikroorganisme difagositosis ke dalam sel, maka mikroorganisme akan diproses. Presentasi APC dapat dilakukan oleh protein MHC kelas I maupun II, dan keduanya menentukan jenis sel T yang akan bereaksi. b. Antibodi Antibodi diproduksi oleh sel plasma di dalam kelenjar limfe, limpa, dan sumsum tulang. Sitoplasma bersifat agak basofilik, dan pada pemeriksaan mikroskop electron memperlihatkan reticulum endoplasmik yang cukup besar, berkaitan dengan produksi proteinnya untuk dikirim ke luar. Satu sel plasma memproduksi antigen satu kelas yang bereaksi terhadap satu jenis antigen. Struktur dasar unit imonuglobulin terdiri atas dua pasang rantai polipeptida yang identik. Pasangan yang besar-rantai berat (the heavy chains) mempunyai berat molekul sekitar 6

dua kali dari pasangan yang lebih kecil-rantai ringan (the light chains). Apabila molekul dicerna oleh enzim papain, molekul akan terpotong menjadi dua fragmen Fab, yang mempunyai tempat untuk mengikat antigen, dan satu fragmen Fc. Fragmen Fc dari kelompok imunoglobulin tertentu mempunyai peran dalam pengaktifan komplemen. Dikenal ada lima kelas imunoglobulin yaitu IgG, IgM, IgA, IgD, dan IgE, yang masingmasing mempunyai karakteristik sesuai dengan perbedaan struktur dari masing-masing rantai berat, yang juga disebut dengan huruf Yunani sebagai , , , , dan . Hanya ada dua tipe rantai ringan, yang disebut (kappa) dan (lambda), dan setiap molekul Ig hanya mempunyai satu atau tipe lain dari rantai ringan. Setiap kelas molekul imunoglobulin memiliki fungsi yang berbeda. IgG adalah

imunoglobulin terbanyak dan dapat melintasi plasenta untuk memberi perlindungan terhadap janin. IgM terdiri dari lima unit dasar dan merupakan lini pertama untuk menyerang bakteri. IgA terdapat dalam cairan sekresi tubuh, seperti saliva, kolostrum, air susu dan secret trakeobronkial. IgD terdapat pada permukaan sel B tetapi konsentrasinya dalam serum darah sangat lemah. IgE dikaitkan dengan reaksi aleri, misalnya asma. Jumlah relatif setiap kelas. Jumlah relatif setiap kelas imunoglobulin dapat dilihat pada table. Bagian pengikat antigen dari molekul Ig ada pada ujung akhir N dari rantai polipeptida Fab. Daerah ini telah ditunjukkan oleh rangkaian asam amino, yang mengandung region yang hiperveriabel yang bertanggung jawab terhadap variasi dalam struktur tertier bagian/tempat pengikat antigen, dan luasnya konsekuensi sesuai dengan spesifitasnya. Variasi ini dimungkinkan oleh gene rearrangement, yang juga bertanggung jawab pada berbagai variasi reseptor sel-T antigen.

5. Pertahanan Melawan Infeksi 7

Sistem imun dapat membedakan sel-sel atau komponen tubuh sendiri dari zat asing, dimana zat asing ini disebut juga antigen. Respons imun terjadi berdasarkan pengenalan zat/komponen asing ini dan eliminasinya. Ada dua bagian fungisonal sistem imun, yaitu sistem imun alamiah atau intrinsik (innate) yang bereaksi terlebih dahulu melawan setiap antigen, dan sistem imun dapatan atau adaptif yang teraktivasi jika sistem imun intrinsik gagal. Kedua sistem ini kemudia bekerja sama. Respons adaptif bersifat spesifik terhadap antigen khusus, dan sistem imun akan terus menyimpan memori dan mengingatnya. Hal ini berarti jika respon imun terhadap suatu antigen telah teraktivasi maka jika suatu saan kita terpapar dengan antigen yang sama untuk kedua kalinya, akan terjadi respons yang lebih cepat. Sistem imun alamiah maupun dapatan bergantung pada sel dan komponen terlarut untuk dapat bekerja dengan baik. Lingkungan hidup kita mengandung berbagai mikroorganisme yang potensial masuk ke dalam tubuh (misalnya bakteri atau virus). Namun, untungnya tubuh yang sehat mampu mempertahankan diri terhadap infeksi mikroorganisme melalui mekansime non-spesifik (bawaan) dan spesifik (didapat).
a. Imunitas Non-Spesifik/Bawaan/Alamiah/Intrinsik

Respons imun bawaan meliputi respons peradangan terhadap infeksi atau cedera dan sel darah putih yang terlibat antara lain neutrofil, basofil, eosinofil, serta monosit dan makrofag. Respons peradangan dirangsang setelah terjadi cedera atau infeksi dengan mengalirkan sel darah putih dan trombosit ke daerah cedera atau radang untuk membatasi kerusakan dan meningkatkan penyembuhan. Respons peradangan tidak menuntut spesifisitas atau daya ingat, tetapi respons ini cepat dan efektif. Banyak mekanisme pertahanan yang non-spesifik yang bekerja menahan invasi mikroorgansime ke dalam tubuh. Termasuk di dalamnya: Faktor mekanikal, misalnya kulit yang utuh dan epitel lapisan mucus yang dalam kondisi normal tidak dapat ditembus microbial. Di samping itu, gerakan dapat membuang mikroorganisme, seperti pada reflek batuk, bersin, dan muntah, besamasama dengan gerak yang konstan seperti bergetarnya silia pada traktus respiratorius dan peristaltik usus. 8

Faktor larutan, yang dikelompokan menjadi dua, yaitu biokimia (lisozim dalam

air mata, sekresi sebaseus, sekresi hidung, ludah, dan cairan intestinal asam lambung, keasaman vagina, laktoferin, serta asam neuraminik) dan humoral (komplemen, APP, mediator asal lipid, serta sitokin). Faktor seluler, dimana leukosit polimorfonuklear dan makrofag memfagosit dan

menghancurkan mikroorganisme. Sel mast dan basofil memproduksi mediator yang mudah larut dari respons radang. Subpopulasi limfosit yang disebut sel pembunuh alami (natural killer cells/NK cells) membunuh sel jaringan yang terinfeksi dengan cara yang tidak spesifik. Sistem imun dikontrol oleh sel khusus yang disebut sel darah putih. Sel darah putih melindungi tubuh dari infeksi kanker serta membantu proses penyembuhan. Sel darah putih meliputi neutrofil, eosinofil, basofil, monosit, dan makrofag, serta limfosit B dan T. Trombosit adalah fragmen sel yang juga berperan dalam proses penyembuhan. Sel darah putih dan trombosit diproduksi oleh sel stem (originator) yang disebut sel stem pluripoten, dalam sumsum tulang. Sel yang dihasilkan kemudian berdiferensiasi dan menghasilkan satu jenis sel darah. Neutrofil, Eosinofil, dan Basofil

Neutrofil, eosinofil, dan basofil disebut granulosit karena penampakannya yang granular (memiliki butir-butir). Sel-sel ini tetap berada dalam sumsum tulang atau sirkulasi sampai mereka tertarik ke daerah infeksi, peradangan, atau trauma oleh zatzat yang keluar dari jaringan yang rusak, yang dihasilkan oleh mikroorganisme atau oleh limfosit B atau T. granulosit mengandung enzim yang penting untuk fagositosis sisa-sisa sel dan penghancuran mikroorganisme setelah menyelesaikan fungsinya, granulosit mati. Pada infeksi yang serius, granulosit mungkin hanya dapat bertahan beberapa jam. Neutrofil adalah sel darah putih pertama yang datang ke tempat cedera atau infeksi dan berperan penting dalam proses peradangan. Sel-sel ini mulai segera memakan sel dan sisa-sisa sel. Sel ini juga melepaskan zat-zat kimia yang menarik sel darah putih lain ke tempat peradangan, dengan proses yang disebut kemotaksis. Neutofil memulai 9

proses peradangan Secara klinis,

melalui vasodilatasi dan meningkatkan permeabilitas kapiler. neutrofil sering dirujuk sebagai sel polimorfonuklear

(polymorphonuclear, PMN) atau neutrofil tersegmen karena kemunculannya yang tersegmentasi dari inti sel berlobus ganda. Pada orang dewasa, sekitar 50% sel darah putih yang bersirkulasi adalah neutrofil. Eosinofil memiliki beberapa fungsi. Pertama, eosinofil ikut berperan dalam respons alergi. Kedua, eosinofil berfungsi penting dalam pertahanan terhadap infeksi parasit. Sel-sel ini berfungsi protektif bagi pejamu dengan mengakhiri respons peradangan. Sel-sel ini memfagositosis sisa-sisa sel dengan tingkat yang lebih rendah daripada neutrofil. Eosinofi secara normal hanya 1% sampai 3% dalam sel darah putih yang bersirkulasi. Kadarnya dapat meningkat selama terjadi respons alergi atau infeksi helmintik (parasit). Basofil bersirkulasi dalam alian darah dan, apabila diaktifkan oleh cedera atau infeksi, maka akan mengeluarkan histamin bradikinin, dan serotonin. Zat-zat ini meningkatkan permeabilitas kapiler dan aliran darah ke daerah/tempat yang bersangkutan, menuju daerah yang diperlukan mediator lain untuk mengeliminasi infeksi dan meningkatkan proses penyembuhan. Basofil mengeluarkan bahan alami antipembekuan heparin, yang memastikan bahwa jalur pembekuan dan koagulasi tidak terus berlangsung tanpa pengawasan. Basofil juga terlibat dalam pembetukan respons alergik. Sel-sel ini memiliki fungsi sangat mirip dengan sel mast, yaitu sel pencetus peradangan jaringan tertentu. Akan tetapi, yang berbeda adalah basofil beredar dalam darah dengan jumlah basofil dalam sel darah putih yang bersirkulasi adalah 1%. Monosit dan Makrofag

Monosit beredar dalam darah dan masuk ke jaringan yang cedera melewati membran kapiler yang menjadi permeabel sebagai akibat dari reaksi peradangan. Monosit tidak besifat fagositik, tetapi setelah beberapa jam berada di jaringan, sel ini berkembang matang menjadi makrofag, makrofag adalah sel besar yang mampu mencerna bakteri dan sisa sel dalam jumlah yang besar. Makrofag dapat memfagositosis sel darah merah dan sel darah putih lain yang telah lisis. Sebagian sel makrofag mengkoloni 10

jaringan, misalnya kulit, kelenjar limfe, dan paru selama berbulan-bulan atau bertahun-tahun. Sel-sel ini berfungsi untuk menghancurkan mikroorganisme yang masuk ke dalam tubuh. Sistem sel monosit makrofag disebut sistem retikuloendotel. Sekitar 3% sampai 7% monosit dalam sel darah putih bersirkulasi ditemukan pada orang dewasa. b. Imunitas Spesifik/Didapat Respons imun spesifik melibatkan pengaktifan sel B dan T. Sel B dan T mampu merespons secara spesifik dan cermat setiap molekul asing yang terdapat dalam tubuh sepanjang waktu. Begitu muncul respons terhadap moleku, sel B atau T akan mengingatnya. Bila muncul respons terhadap molekul asing, sel B atau T akan berespons lebih cepat dan lebih efektif dibandingkan respons sebelumnya. Respon sel B terhadap antigen Ketika menghadapi antigen spesifik, sel B berikatan dengan antigen tersebut seperti kunci dengan gemboknya. Hal ini menyebabkan sel B berdiferensiasi menjadi sel plasma. Sel plasma pada gilirannya mulai mensekresi jutaan molekul antibodi yang dibentuk secara spesifik untuk melawan antigen. Setelah dibentuk, antibodi yang disebut imunoglobulin, beredar melalui aliran darah menemukan antigen yang merangsang pembentukannya, kemudian menghancurkannya. Respons yang diperantarai antibodi diperlukan sebagai mekanisme pertahanan terhadap bakteri dan virus yang bersirkulasi serta terhadap toksin yang dihasilkan bakteri. Imunogobulin/antibodi Terdapat lima imunoglobulin spesifik yang dibentuk dalam berespons terhadap antigen. Antibodi tersebut adalah: IgG, adalah antibodi yang paling banyak ditemukan dan mencakup sekitar 80% dari semua imunoglobulin dalam darah. IgG adalah antibodi utama yang melintasi plasenta dari ibu kepada janinnya selama kehamilan. Kadar IgG meningkat secara lambat selama berespons primer terhadap suatu antigen, tetapi meningkat secara cepat dan dengan kekuatan yang lebih besar pada pajanan kedua.

11

IgM, adalah jenis yang pertama kali dibentuk dan paling tinggi

konsentrasinya sewaktu pajanan primer kepada suatu antigen. IgM adalah antibodi yang berukuran terbesar. IgM, merupakan antibodi pertama yang tiba di sisi infeksi pada pajanan awal terhadap antigen. Antibodi IgM mengaktivasi komplemen dan memperbanyak fagositosis, tetapi umur molekul ini relatif pendek. Karena ukurannya, maka molekul ini menetap pada pembuluh darah dan tidak memasuki jaringan sekitar.

IgA, paling banyak terdapat dalam sekresi, misalnya air liur, mucus

vagina, air susu, sekresi saluran cerna dan paru, serta semen. IgA lebih bekerja secara lokal daripada sistemik. IgA ibu disalurkan kepada bayinya sewaktu menyusui (seperti juga IgG dan IgM dalam jumlah yang lebih sedikit). IgA disekresi sebagai satu lempeng dari dua molekul Ig yang dihubungkan dengan rantai J (junction). IgA dijadikan satu ke transport piece, yang disekresikan pada tempat ini; IgA mempunyai fungsi untuk pertahanan lokal. IgA mengaktifkan komplemen melalui jalur alternatif.

dapat

IgD, dalam serum darah dan limfe relatif sedikit, tetapi banyak ditemukan yang mengetahui fungsinya; molekul ini

dalam limfosit B. Hanya sedikit membantu memicu respon imun.

IgE, biasanya ditemukan dalam konsentrasi darah yang sangat rendah.

Kadarnya meningkat selama reaksi alergi dan pada penyakit parasitic tertentu. Molekul ini terikat pada reseptor sel mast dan basophil serta menyebabkan pelepasan histamin da mediator kimia lainnya.
-

Komplemen adalah serangkaian molekul yang menyebabkan inisiasi respons

peradangan dan penghancuran sel pembawa antigen, bila diaktifkan. Seperti pengaktifan sel NK, pengikatan antigen ke bagian Fab antibodi memungkinkan molekul pertama dalam rantai komplemen (C1) berikatan dengan bagian Fc secara nonspesifik. Setiap pengikatan menghubungkan sel pembawa antigen ke komplemen, yang akhirnya terjadi destruksi sel tersebut.
-

Stimulasi fagositik terjadi dengan mekanisme serupa; ketika antigen berikatan

dengan bagian Fab antibodi, sel fagositik (biasanya makrofag atau neutrofil) 12

berikatan dengan bagian Fc nonspesifik yang merangsang fagositosis terhadap antigen yang terikat termasuk selnya.
-

Efek langsung terjadi bila suatu antibodi berikatan dengan virus pada tempat

yang sama dengan tempat ketika virus berikatan dan memasuki sel pejamu sehingga menginaktivasi virus. Proses serupa terjadi ketika antibodi berikatan dengan toksin yang dihasilkan oleh bakteri pada tempat yang sama ketika toksin digunakan untuk berinteraksi dengan sel yang rentan/pejamu. Hal ini dapat mengelimiansi efek toksin. Opsonisasi

Pengikatan suatu antibodi ke antigen pada suatu bakteri menyebabkan opsonisasi bakteri tersebut. Opsonisasi berarti perubahan dinding sel bakteri yang menyebabkan bakteri yang semula tidak dapat ditembus, menjadi rentan terhadap fagositosis. Komplemen juga berfungsi sebagai opsonin (suatu bahan yang dapat menyebabkan opsonisasi). Peran sel T ketika sel B berespons terhadap antigen

Untuk meningkatkan serangan antibodi terhadap mikroorganisme, diperlukan dukungan dari sel T. Sitokinin dihasilkan oleh pengaktifan limfosit T yang memicu proliferasi dan diferensiasi sel B menjadi sel plasma yang mengahsilkan antibodi. Sel pengingat

Sebagian sel B tidak menjadi plasma penghasil antibodi setelah perangsangan antigen, namun menjadi sel pengingat (memory cell). Sel pengingat akan bersirkulasi terus-menerus di dalam darah dan menjadi aktif segera setelah terjadi pajanan baru ke antigen. Respons sel T terhadap antigen Sewaktu berikatan dengan antigen imunogenik, bekerja pada satu antigen: sel T sitotoksik, sel sel T terangsang untuk matur dan helper, sel T regulatori, dan sel T bereproduksi. Hal ini menghasilkan paling sedikit empat subtipe sel T yang mampu pengingat. Respons sel T terhadap antigen disebut respons diperantarai sel, karena sel T

13

berespons secara langsung; sel ini tidak perlu menjadi sel plasma dan menghasilkan antibodi untuk menghancurkan antigen. Kelima jenis sel T akan dibahas di bawah.
-

Sel T sitotoksik, secara langsung menghancurkan antigen dengan mengeluarkan

bahan-bahan kimia toksik. Bahan-bahan kimia ini melubangi membran pada sel-sel yang membawa antigen. Sel T sitotoksik disebut CD8, karena protein spesifik terdapat pada membran plasma sel.
-

Sel T helper mensekresikan peptida, disebut sitokinin, yang bekerja sebagai

pemberi pesan sel (cell messenger) untuk mengkoordinasi respons sel T sitotoksik dan sel B. Terdapat dua kategori umum sel T helper (Th), yaitu Th1 dan Th2. Sel Th1 melepaskan sitokinin yang proinflamatori dengan mengerahkan neutrofil dan monosit ke daerah yang cedera atau infeksi yang merangsang fagositosis makrofag. Sitokinin Th1 menignkatkan pembentukan prostaglandin yang menyebabkan peningkatan aliran darah dan edema interstisial, dan menginduksi gejala peradangan sistemik termasuk demam. Sitokinin Th1 memfasilitasi pembentukan sel T sitotoksik dan menginduksi respons imun yang diperantarai sel. Sel Th2 umumnya mensekresi sitokinin anti-inflamatori yang mengurangi kemungkinan terjadinya reaksi peradangan yang berbahaya. Sel Th2 memfasilitasi pengaktifan respons humoral (pengontrol sel B). Respons imun Th1 dan Th2 satu sama lain biasanya seimbang.
-

Sel T regulatori, bekerja dengan menekan respons imun pejamu, suatu fungsi

yang di satu sisi, dapat meningkatkan resiko infeksi dan di sisi lain, dapat melindungi pejamu terhadap sistem imun yang terlalu berlebihan. Sel T regulatori terlihat menekan fungsi imun melalui kontak langsung dengan sel B atau sel T lain, dan/atau dengan melepaskan sitokinin anti-inflamatori. Defisiensi sel T regulatori ditemukan telah berkontribusi pada perkembangan penyakit otoimun, sedangkan aktivitas sel T regulatori yang berlebihan dapat melindungi sel tumor dari serangan imun. Hasil riset menunjukkan bahwa virus tertentu, termasuk human immunodeficiency virus (HIV) menggali kemampuan sel T untuk menekan respons antivirus tubuh. Sel T regulatori ditandai dengan adanya reseptor C25 pada membran sel.

14

Sel T pengingat, beredar dalam aliran darah sampai bertemu lagi dengan antigen

spesifik yang merangsang pembentukannya. Respons muncul dengan cepat setelah sel ini bertemu dengan antigen tersebut. Peran protein MHC dalam mengontrol imunitas

Setelah sel asing difagositosis oleh makrofag atau berikatan dengan sel B, antigen dari sel ditampilkan terhadap makrofag atau sel B yang berdekatan dengan antigen MHC II pejamu. Antigen asing dan antigen MHC II ditampilkan bersama untuk melewati sel T helper (CD4). Setiap kali melewatinya, sel T helper mambandingkan antigen asing dengan antigen MHC II pejamu. Bila ketika mambandingkan antigen tersebut, sel T helper mengenali antigen asing, sel ini akan mensekresi sitokinin yang mengaktifkan sel B menjadi sel plasma pensekresi antibodi. Bila antigen antigen yang muncul terlihat oleh sel T helper dan sangat mirip dengan protein MHC II pada sel B atau makrofag, sel T helper tidak akan teraktivasi, atau mungkin dapat menjadi sel T regulatori, dan antigen tidak akan diserang. Untuk pengaktivan sel sitotoksik (CD8), protein MHC I ditampilkan oleh antigen asing. Semua sel menampakkan protein MHC I sehingga setiap sel dapat menampilkan antigen asing terhadap sel CD8 untuk dibandingkan. Sel yang terinfeksi virus menghasilkan protein abnormal seperti yang dilakukan oleh sel kanker. Protein abnormal ini dikenali sebagai antigen dan ditampilkan bersama dengan protein MHC I. ketika sel T sitotoksik berhadapan dengan protein abnormal yang dibandingkan dengan protein MHC I, sel tersebit dirangsang untuk memulai serangan terhadap antigen. Pembentukan toleransi diri

Selama masa gestasi, ratusan ribu sel T dan B dibentuk. Sebagian dari sel T dan B ini bersifat komplementer, dengan demikian mampu bereaksi terhadap antigen-antigen penjamu, untuk menyingkirkan potensi serangan terhadap sel pejamu, sel T yang berada di timus dan sel B di sumsum tulang terpajan selama masa kritis embriogenesis pada banyak jaringan pejamu. Bila ketika itu sel T atau B berhadapan dengan antigan yang memiliki kecocokan dengan sel tersebut, sel-sel T atau B 15

deprogram untuk mengalami apoptosis dan destruksi diri. Hal ini menyisakan hanya sel yang toleran terhadap antigen pejamu. Teori toleransi ini disebut teori delesi klonal, karena menjelaskan eliminasi klonal sel imun yang bereaski terhadap antigen sendiri. Metode lain juga dapat digunakan untuk memastikan eliminasi sel yang berpotensi menyerang antigen pejamu. Mekanisme ini, yang disebut penginaktifan klonal, terjadi di luar timus selama perkembangan janin dan sepanjang hidupnya. Dalam proses ini, antigen MHC II ditampilkan pada sel T helper. Bila sel T helper menghadapi antigen spesifik dengan kecocokan di antara protein MHC, sel T helper akan mengalami apoptosis. Karena sel T helper sangat penting dalam pengaktifan sel B untuk menjadi sel plasma, delesi klonal dan penginaktifan klonal dari sel T dapat menyingkirkan imunitas selular dan humoral terhadap antigen sendiri. Dalam proses ini, toleransi dikenali sebagai proses aktif yang sangat diperlukan untuk kelangsungan hidup (survival) pejamu untuk bertahan. Terkadang toleransi terhadap sel pejamu hilang. Hal ini mengakibatkan timbulnya respons imun terhadap sel-sel pejamu dan menyebabkan suatu keadaan yang disebut otoimun. Respons sel T dan B terhadap antigen asing Respons sel B melibatkan pengikatan sel B dengan antigen asing. Sel T helper menampilkan potongan antigen, baik oleh sel B secara langsung ataupun oleh makrofag yang telah memfagositosis antigen. Bila antigen berbeda dengan protein MHC II yang ditampilkan oleh sel B atau makrofag, sel T helper melepaskan sitokinin yang mengaktifkan sel B. Hal ini menyebabkan sel B menjadi sel plasma pensekresi antibodi. Antibodi tersebut akan mengikat antigen ke seluruh tubuh dan menyusun penghancurannya. Sel T juga merangsang makrofag untuk meningkatkan fagositosis organisme dan mengaktifkan sel darah putih dan komplemen untuk membantu respons pertahanan. Respons diperantarai sel melibatkan proses menampilkan protein asing oleh setiap sel terinfeksi-organisme atau sel intraselular yang menjadi kanker pada sel T sitotoksik 16

bersama dengan protein MHC I yang dihasilkannya. Hal ini mengaktifkan sel sitotoksik yang dapat menghancurkan sel pembawa protein asing. 6. Keadaan penyakit atau cedera Ada banyak penyakit yang berhubungan dengan perubahan fungsi imun. Salah satu contoh yang mungkin paling sering kita jumpai adalah alergi. a. Definisi Alergi adalah rangsangan berlebihan terhadap reaksi peradangan yang terjadi sebagai respons terhadap antigen lingkungan spesifik. Suatu antigen yang menyebabkan alergi disebut dengan alergen. Reaksi alergi dapat diperantarai antibodi atau sel T. Reaksi hipersensitivitas tipe I adalah contoh alergi yang diperantarai antibodi, sedangkan reaksi hipersensitifitas tipe IV adalah alergi diperantarai sel T. Orang dengan respons alergi hipersensitifitas tipe I membentuk banyak antibodi IgE yang sensitive terhadap alergen. Apabila antigen dijumpai oleh antibodi tersebut, antibodi akan berespons berlebihan sehingga terjadi dehranulasi sel mast yang luas disertai pelepasan histamin dan berbagai perantara peradangan lainnya (leukotrien, kemokin, dan sitokin). Reaksi hipersensitifitas yipe IV terjadi setelah transport alergen transdemal (menembus kulit) yang ditunjukkan oleh sel T yang tersensitisasi alergen tersebut. Manifestasi suatu respons alergi bergantung di mana alergen ditemukan; di dalam makanan, dalam partikel yang terhirup, atau melalui kulit. Waktu reaksi alergi bermacam-macam bergantung pada apakah respons tipe I (segera) atau tipe IV (lambat). Reaksi tipe I melibatkan kulit yang disebut dermatitis atopic, sedangkan reaksi tipe IV disebut dermatitis kontak alergi. b. Penyebab Penyebab alergi bisa karena predisposisi genetik. Predisposisi tersebut dapat berupa pengikatan IgE yang berlebihan, mudahnya sel mast dipicu untuk berdegranulasi, atau respons sel T helper yang berlebihan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa defisiensi sel T regulatori dapat menyebabkan responsivitas berlebih dari sistem imun dan alergi. Pajanan berlebihan terhadap alergen-alergen tertentu setiap saat, termasuk selama gestasi, dapat menyebabkan respons alergi. 17

c. Gambaran Klinis Pembengkakan lokal, gatal, dan kemarahan kulit, pada pajanan alergen ke kulit. Reaksi tipe IV sering ditandai dengan lepuhan dan pengerasan pada area yang terkena. Diare dan kram abdomen, pada pajanan alergen saluran cerna. Rinitis alergi, yang ditandai oleh mata gatal dan pilek encer, pada pajanan alergen

saluran napas. Terjadi pembengkakan dan kongesti. Dapat timbul kesulitan bernapas akibat konstriksi otot polos bronkiolus pada janan napas yang diinduksi oleh histamin. d. Perangkat diagnostik Uji kulit membantu diagnosis alergi. Alergen dicurigai yang jumlahnya sedikit diinjeksikan di bawah kulit. Individu yang alergi terhadap alergen tersebut akan berespons dengan ditemukannya eritema, bengkak, dan gatat pada area injeksi. Analisis imunoglobulin serum dapat menunjukkan peningkatan hitung basofil dan eosinofil. e. Komplikasi Reaksi alergi yang hebat dapat menyebabkan anafilaksis. Hal ini ditandai oleh penurunan tekanan darah dan penutupan jalan napas. Gatal, kram, dan diare dapat terjadi. Tanpa inverse, reaksi yang sangat hebat dapat menyebabkan syok kardiovaskular, hipoksia, dan kematian. Dermatitis kontak alergi dapat menyebabkan infeksi sekunder akibat berlebihan. f. Penatalakasaan Antihistamin dan obat-obatan yang menghambat degranulasi sel mast dapat mengurangi gejala-gejala alergi. Kortikosteroid yang dihirup atau sistemik bekerja sebagai obat anti peradangan dan dapat mengurangi gejala suatu alergi. Orang yang mengidap alergi perlu menggunakan obat-obat ini dalam jangka waktu yang panjang sebelum obat menjadi garukan

18

efektif. Kortikosteroid inhalan hanya berefek di saluran napas dan tidak menimbulkan efek sistemik. -

Stabilizer sel mast inhalan mengurangi degranulasi sel mast dan dapat menurunkan gejala alergi tipe I. Terapi desensitisasi, berupa penyuntikan berulang alergen dalam jumlah yang kecil dapat mendorong pasien tersebut membentuk antobodi IgG terhadap alergen. Antibodi ini dapat bekerja sebagai antibodi penghambat (blocking antibodies). Sewaktu pasien tersebut kembali terpajan ke alergen, antibodi penghambat dapat berikatan dengan alergen berhubungan dengan kemampuan alergen untuk berikatan dengan molekul IgE ganda secara kovalen bersama-sama. Karena pengikatan IgG tidak menyebabkan degranulasi sel mast yang berlebihan, maka gejala alergi dapat berkurang. Antibodi IgG dihasilkan setiap kali berikatan dengan alergen dan terkadang dapat menghentikan respons alergi.

7. Respon Imun Diperantarai Sel Antibodi efektif dalam melawan patogen dan toksin ekstraseluler, tetapi tidak dapat mengikat patogen intraseluler, misalnya virus dan toksin. Untungnya terdapat respons sistem imun lain yang hanya melibatkan sel T, yaitu respons imun yang diperantarai sel. Respons ini tidak hanya efektif melawan patogen intraseluler, tetapi juga dapat mengenali sel-sel abnormal, misalnya sel kanker dan sel jaringan organ cangkok (graft). Oleh karena itu, pada transplantasi organ penting diperhatikan kecocokan jaringan, dan diberikan obat-obatan yang menekan respons imun sehingga tidak terjadi penolakan terhadap organ donor. Sel T juga akan meningkatkan jumlah sel lainnya, misalnya makrofag yang akan membantu pembersihan sel-sel yang terinfeksi. Pada keadaan inflamasi kronik, misalnya tuberculosis, terbentuk granuloma (kumpulan makrofag yang berfusi, sel-sel raksasa, sel epitel, dan sel T) yang mengalami klasifikasi sehingga menyebabkan gangguan fungsi jaringan. Sel T matur di dalam timus dan berdiferensiasi menjadi sel T helper dan sel T sitotoksik serta mensintesis reseptor untuk setiap antigen spesifik, jadi setiap sel T akan memberi respons pada antigen yang berbeda. Sel T yang baru ini akan memasuki aliran darah dan tetap tidak aktif sampai bertemu dengan sel presentan antigen dengan kompleks MHC kelas I dan II pada permukaan selnya yang dapat dikenali oleh sel T. 19

Pengenalan terhadap kompleks tersebut akan menstimulasi sel T yang tepat (Th/MHC kelas II, Tc/MHC kelas I) untuk kemudian membelah dan membentuk suatu populasi atau klon sel, yang sedang bereaksi dengan kompleks antigen yang MHC yang sama. Dengan bantuan sel T helper, yang memproduksi interleukin, maka klon sel T sitotoksik akan berditerensiasi menjadi sel efektor dan sel memori yang akan berespons terhadap antigen yang sama. Interaksi dengan sel yang terinfeksi atau sel asing akan mengaktivasi sel T sitotoksik untuk membunuh dengan cara melubangi membran plasma dan mensekresi toksin ke se lasing tersebut. Kemudian sel T sitotoksik bebas menyerang sel lainnya.

DAFTAR PUSTAKA

Underwood, J.C.E. 1999. Patologi Umum dan Sistemik. Volume 1. Edisi 2. Jakarta: EGC. James, J., Baker, C., dan Swain, H. 2008. Prinsip-Prinsip Sains untuk Keperawatan. Jakarta: Erlangga. 20

Fried, G.H., dan Hademenos, G.J. 2006. Schaums Outlines Biologi. Edisi Kedua. Jakarta: Erlangga. Corwin, Elizabeth J. 2009. Buku Saku Patofisiologi. Edisi 3. Jakarta: EGC.

21