Anda di halaman 1dari 32

MEMBONGKAR

AQIDAH MURJIAH
Membuktikan Benarnya Fatwa Lajnah Daimah

(Rof'ul Laimah 'An Fatwal Lajnatid Daimah)


(bagian pertama)

Dengan Kata Pengantar :


Fadhilatusy Syaikh Sholih Al Fauzan
Dan Fadhilatusy Syaikh Abdul Aziz bin Abdillah Ar Rojihiy
Dan Fadhilatusy Syaikh Abdul Aziz bin Abdillah Ali Humayyid
-Semoga Alloh menjaga beliau semua-

Penulis:
Fadhilatusy Syaikh Muhammad bin Salim Ad Dausriy
-semoga Alloh menjaga beliau-

Penerjemah:
Abu Fairuz Abdurrohman Al Jawiy
-semoga Alloh memaafkannya-

Editor: ISNAD.Net
ISNAD.Net Hal. 2

‫بسم اهلل الرحمن الرحيم‬

Pengantar Penerjemah

‫ اللهم صل وسلم عذ حممد وعذ آله وأصحابه‬،‫احلمد هلل وأشهد أن ال إله إال اهلل وأشهد أن حممدا عبده ورسوله‬
:‫ أما بعد‬،‫أمجعني‬
Sesungguhnya telah sampai kepada kami teriakan-teriakan sebagian pengikut
Ali Hasan Al Halabiy dalam upaya mereka untuk membela syaikh mereka dan
membersihkan dirinya dari tuduhan para ulama Ahlussunnah tentang aqidah
murjiah. Mereka berusaha untuk melemahkan ketetapan Lajnah Daimah pertama
(yang dipimpin oleh Al Imam Ibnu Baz ‫ )رحمه اهلل‬dan yang kedua (yang dipimpin oleh
fadhilatusy Syaikh Abdul 'Aziz Alusy Syaikh ‫ )حفظه اهلل‬dengan berbagai syubuhat.
Dengan pertolongan Alloh semata saya memulai menerjemahkan (dalam dua
bagian insya Alloh) risalah penting dari fadhilatusy Syaikh Muhammad Ad Dausriy
yang menyingkap pengkaburan Halabiyyun dalam masalah ini. Insya Alloh risalah
beliau ini menjadi cahaya fajar yang menyibak kabut pengkaburan para pengekor
hawa nafsu, dan membongkar pengkhianatan ilmiyyah Al Halabiy, serta menjadi air
segar yang mengusir dahaga para pencari kebenaran yang gigih dan ikhlas.
Adapun pertanyaan sebagian ikhwah: "Apakah teguran para ulama terhadap
Al Halabiy itu menunjukkan bahwasanya dia itu ditahdzir?"
Saya jawab dengan memohon pertolongan Alloh: kumpulan risalah yang saya
kerjakan ini saya susun dan saya usahakan berdasarkan tahapan-tahapan kasus
penyelewengan Al Halabiy. Adanya tahdzir Al Imam Ibnu Baz ‫ رحمه اهلل‬dan beberapa
ulama terhadap kitab yang diperjuangkan oleh Ali Hasan Al Halabiy, ini menunjukkan
adanya penyelewengan aqidah yang berbahaya yang tidak bisa dibiarkan oleh para
ulama Sunnah. Ternyata Ali Hasan tidak menaati nasihat untuk bertobat, dan justru
menulis kitab-kitab yang isinya semakin mempertegas aqidah irja dia dengan
polesan yang menipu, hingga kedua kitabnya itu ditahdzir oleh para ulama besar
sepeninggal Al Imam Ibnu Baz ‫رحمه اهلل‬.
Ketika dia tidak sadar dan bahkan semakin tegas menantang dan memberikan
syubuhat dan membikin sebagian orang goncang terhadap ulama sunnah,
muncullah bantahan rinci terhadapnya dalam kitab ini: "Rof'ul Laimah" yang
membongkar secara rinci kebatilan, pengkhianatan dan bersikerasnya Ali Hasan di
atas kebatilan. Ini cukup sebagai peringatan bagi orang yang ingin keselamatan
agamanya, agar jangan dekat-dekat dengan Ali Hasan dan ajaran-ajarannya, sampai
dia jujur mengumumkan tobat.
ISNAD.Net Hal. 3

Kemudian dalam fitnah Abul Hasan dan Al Maghrowiy, justru Ali Hasan
menampilkan pembelaan terhadap keduanya, sehingga Fadhilatul Mufti Kerajaan
Saudi bagian selatan waktu itu (Asy Syaikh Ahmad An Najmiy ‫ ) رحمه اهلل‬mengatakan:
"Kita tak bisa mengatakan bolehnya diambil ilmu dari mereka" sekalipun beliau
belum mengeluarkannya dari Salafiyyah.
Tapi ini cukup sebagai pelajaran bagi orang yang hatinya hidup dan ingin
menjaga kesehatan agamanya untuk tidak belajar kepadanya, karena memang tidak
pantas belajar pada penebar syubuhat, sekalipun dia masih Salafiy.
Manakala Ali Hasan justru mengeluarkan bantahan terhadap Asy Syaikh
Ahmad An Najmiy, beliaupun mengeluarkan jawaban yang membongkar dan
membantah prinsip-prinsip batil Ali Hasan(1). Ini cukup sebagai tahdzir bagi orang
yang memahami.
Insya Alloh jika terjemahan kitab Asy Syaikh Muhammad Ad Dausriy ‫رحمه اهلل‬
selesai, kita akan masuk kepada risalah-risalah yang lebih keras, sesuai dengan sikap
keras kepala Ali Hasan.
Sebagian orang memberikan pengkaburan dengan mengatakan bahwasanya
sebagian ulama besar tidak setuju dengan ketetapan Lajnah Daimah tersebut. Lalu
sebagian dari orang-orang tadi memamerkan takhrij panjangnya terhadap atsar:
‫ لوس أحد إال يؤخذ من قوله ويدع غر النبي صذ اهلل علوه و سلم‬: ‫عن ابن عباس ريض اهلل عنهام رفعه قال‬

"Dari Ibnu Abbas ‫ رضي اهلل عنهما‬yang mengangkatnya ke Rosululloh ‫صلى اهلل عليه وسلم‬
yang bersabda: "Tiada seorangpun kecuali diambil dari ucapannya dan ditinggalkan
kecuali Nabi ‫ صلى اهلل عليه وسلم‬." (HR. Ath Thobroniy (11941)).
Alhamdulillah hadits ini telah terkenal di kalangan Ahlussunnah, dan menjadi
dalil yang menghantam para pengekor hawa nafsu. Jika memang mereka mengakui
bahwasanya semua orang itu ucapannya bisa diambil ataupun ditolak kecuali Nabi
‫ صلى اهلل عليه وسلم‬, maka janganlah mereka –dan kita semua- taqlid kepada para tokoh
yang tidak ma'shum, tapi lihatlah hujjahnya. Yang sesuai dengan Al Kitab dan As
Sunnah dengan pemahaman salaf, kita ambil dan kita benarkan, sekalipun datang
dengannya anak kecil. Yang ucapannya menyelisihi itu tidak kita ikuti, sekalipun
dibawa oleh tokoh besar.
Sekarang kita telah berselisih pendapat tentang Ali Hasan, kalian telah
mendatangkan beberapa syubuhat untuk membela Ali Hasan, maka sekaranglah
saatnya saya tampilkan kekuatan hujjah para ulama yang menerangkan
kebatilannya. Alloh ً‫ سبحانه وتعال‬berfirman:
َ ِ‫ُون بِاهلل َوا ْل َي ْو ِم ْاْلَ ِخ ِر َذل‬
﴾‫ك َخ ْ ٌْي َو َأ ْح َس ُن ت َْأ ِولا‬ َ ‫ول إِ ْن ُكنْت ُْم ت ُْؤ ِمن‬
ِ ‫﴿ َفإِ ْن َتنَازَ ْعتُم ِِف ََش ٍء َفر ُّدو ُه إِ ََل اهلل َوالرس‬
ُ َ ُ ْ ْ

(1)
Sudah saya dahulukan penyebaran terjemahannya karena memang lebih dulu selesai
diterjemahkan, dan sebagian ikhwah ingin saya segera melanjutkan penjelasan tentang kasus
tokoh ini. Semoga Alloh menolong dan mempermudah.
ISNAD.Net Hal. 4

“Maka jika kalian berselisih pendapat terhadap suatu perkara maka


kembalikanlah hal itu kepada Alloh dan Rosul-Nya, jika memang kalian itu
beriman kepada Alloh dan hari akhir. Yang demikian itu lebih baik, dan akan lebih
baik lagi kesudahannya” (QS. An Nisa: 59)
Al Imam Ibnul Qoyyim ‫ رحمه اهلل‬berkata tentang masalah perselisihan: “Dan
ketika itu maka jadilah masalah tersebut adalah perselisihan yang wajib untuk
dikembalikan kepada Alloh ta’ala dan Rosul-Nya. Barangsiapa enggan untuk yang
demikian itu maka dia itu bisa jadi adalah orang yang bodoh dan taqlid, atau bisa
jadi adalah muta’ashshib pengekor hawa nafsu yang durhaka pada Alloh ta’ala dan
Rosul-Nya ‫ صلً اهلل عليه وسلم‬, dia menyodorkan dirinya untuk bergabung dengan
ancaman Alloh untuk orang macam ini, karena Alloh ta’ala berfirman –lalu
menyebutkan ayat tadi- maka apabila telah tetap bahwasanya masalah ini adalah
masalah yang diperselisihkan, maka wajib secara pasti untuk dikembalikan kepada
Kitabulloh ta’ala dan Sunnah Rosul-Nya.” (“Ighotsatul Lahfan”/ hal. 323).

Semoga Alloh memberkahi umur dan usaha kita mencari dan menampilkan
kebenaran dengan dalil-dalilnya, bukan dengan membebek pada besarnya nama
seorang tokoh.
‫واحلمد هلل رب العادني‬

‫بسم اهلل الرحمن الرحيم‬

Kata Pengantar Fadhilatusy Syaikh Sholih Al Fauzan ‫حفظه اهلل‬

:‫ وبعد‬،‫ وعذ آله وصحبه ومن وااله‬، ‫احلمد هلل والصالة والسالم عذ رسول اهلل‬

Saya telah melihat bantahan saudara kita Asy Syaikh Muhammad bin Salim Ad
Dausriy terhadap saudara kita Asy Syaikh Ali bin Hasan Al Halabiy yang membantah
fatwa Lajnah Daimah tentang masalah Irja (pengakhiran amalan dari iman). Aku
katakan:
Yang pertama: Asy Syaikh Muhammad telah berbuat bagus dalam bantahan
tersebut, di mana beliau menyusulkan kelengkapan banyak sekali dari ucapan-
ucapan ulama yang luput penukilannya dari Asy Syaikh Ali Hasan, yang mana Ali
Hasan bersandar kepada ucapan-ucapan mereka. Adapun upaya Ali Hasan untuk
membikin ragu tentang fatwa Lajnah, maka dia tak punya tempat untuk itu karena
fatwa tadi muncul dengan kesepakatan empat anggota dengan tanda tangan
mereka.
Yang kedua: Asy Syaikh Ali Hasan dan saudara-saudaranya yang
menisbatkan diri kepada Salaf dalam masalah iman wajib bagi mereka untuk
merasa cukup dengan apa yang ditulis oleh Salaf dalam masalah ini, karena
ISNAD.Net Hal. 5

memang dalam tulisan Salaf itu sudah ada kecukupan, sehingga tidak butuh
kepada tulisan-tulisan yang baru yang memecah belah pemikiran dan menjadi
tempat untuk baku bantah dalam masalah yang besar seperti ini. Maka fitnah itu
tidur, tidak boleh dibangunkan agar tidak menjadi jalan masuk kepada para
pembuat kejahatan dan kerusakan di antara Ahlussunnah.
Yang ketiga: saudara kita Asy Syaikh Ali Hasan jika memang harus menukil
ucapan ulama, dia harus menukil dengan lengkap dari awal hingga akhirnya, dan
mengumpulkan ucapan orang alim dalam masalah tersebut dari berbagai bukunya
hingga menjadi jelaslah maksudnya, dan mengembalikan sebagian ucapannya
kepada sebagian yang lain, dan tidak mencukupkan diri dengan menukilkan satu
ujung dan meninggalkan ujung yang lain, karena yang demikian ini menyebabkan
pemahaman yang jelek dan berakibat dinisbatkannya kepada orang alim tadi suatu
pendapat yang tidak dia maksudkan.
Yang terakhir: saya mohon kepada Alloh agar mengaruniakan ilmu yang
bermanfaat dan amal sholih kepada kita semua.

. ‫وصذ اهلل وسلم عذ ىبونا حممد وعذ آله وصحبه‬

Ditulis oleh:
Sholih bin Fauzan bin Abdillah Al Fauzan
ISNAD.Net Hal. 6

‫بسم اهلل الرمحن الرحوم‬

Kata Pengantar Fadhilatusy Syaikh Abdul Aziz bin Abdillah Ar


Rojihiy ‫حفظه اهلل‬

:‫ أما بعد‬. ‫احلمد هلل رب العادني والصالة والسالم عذ أرشف األىبواء وادرسلني ىبونا حممد وعذ آله وصحبه والتابعني‬

Saya telah membaca risalah ini, yang berjudul "Rof'ul Laimah 'An Fatwal
Lajnatid Daimah" karya saudara kita yang mulia Asy Syaikh Muhammad bin Salim Ad
Dausriy –semoga Alloh memberinya taufiq-, yang isinya adalah bantahan terhadap
saudara kita Asy Syaikh Ali Hasan Abdil Hamid yang membantah fatwa Lajnah
Daimah di Kerajaan Arab Saudi dalam masalah Irja (pengakhiran amalan dari iman)
di kedua kitabnya "Shoihatu Nadzir" dan "At Tahdzir Min Fitnatit Takfir", dan yang
demikian itu karena Lajnah Daimah menjelaskan secara global apa yang dikandung
oleh kedua kitab ini, yang berupa kesalahan-kesalahan dalam masalah-masalah
iman dan pengkafiran, dan tentang penukilannya yang terpotong-potong terhadap
ucapan para ulama, demi berdalilkan dengan itu kepada pendapat dirinya
bahwasanya iman itu tidak ada kecuali di hati saja, dan kekafiran itu tidak terjadi
kecuali dengan keyakinan, pendustaan dan penghalalan saja.
Sungguh Asy Syaikh Muhammad Ad Dausriy telah bagus dalam menelusuri
kesalahan-kesalahan Ali Hasan Abdil Hamid, dan menjelaskan –semoga Alloh
memberinya taufiq- apa yang telah ditetapkan oleh Ahlussunnah Wal Jama'ah
tentang apa itu keimanan dan apa itu kekufuran, dan bahwasanya keimanan itu
terjadi dengan hati, lidah, dan anggota badan, dan bahwasanya kekufuran itu juga
bisa terjadi dengan ucapan, perbuatan, keyakinan dan keraguan.
Asy Syaikh Ali Hasan Abdil Hamid telah berupaya untuk berdalilkan dengan
ucapan-ucapan para ulama, tapi setelah memotong-motong ucapan mereka, untuk
mendukung madzhab Murjiah, bahwasanya iman itu tidak terjadi kecuali di hati, dan
kekafiran itu tidak terjadi kecuali dengan hati saja. Dan itu adalah madzhab yang
batil yang menyelisihi nash-nash Al Kitab dan As Sunnah serta ucapan-ucapan para
imam dan ulama.
Maka akh Ali Hasan Abdil Hamid wajib untuk kembali kepada kebenaran lalu
menerimanya, dan menulis risalah yang di dalamnya dia menjelaskan rujuknya dia
kepada madzhab Ahlussunnah Wal Jama'ah. Maka kembali kepada kebenaran itu
merupakan keutamaan. "Dan ucapkanlah kebenaran sekalipun terhadap dirimu
sendiri," "Dan ucapkanlah kebenaran sekalipun dia itu pahit." Dan kembali kepada
kebenaran itu lebih baik daripada bersikeras dalam kebatilan. Dan para ulama itu
yang dulu dan yang sekarang terus-menerus mau menerima kebenaran dan kembali
ISNAD.Net Hal. 7

kepadanya, dan yang demikian itu terhitung sebagai bagian dari keutamaan mereka
dan ilmu mereka serta waro' mereka.
Umar ibnul Khoththob ‫ رضي اهلل عنه‬telah berkata dalam surat yang beliau tulis
untuk Abu Musa Al Asy'ariy ‫ رضي اهلل عنه‬tentang pengadilan: "Janganlah sekali-kali
pengadilan yang engkau putuskan pada hari ini lalu engkau merujuk kembali
pendapatmu dan engkau dibimbing di situ kepada kelurusanmu menghalangimu
untuk engkau rujuk kepada kebenaran, karena sesungguhnya kebenaran itu sudah
ada sejak duli dan tak bisa dibatalkan oleh suatu apapun. Rujuk kepada kebenaran
itu lebih baik daripada bersikeras dalam kebatilan."
Seandainya akh Ali hasan Abdil Hamid mau rujuk kepada madzhab
Ahlissunnah Wal Jama'ah tentang keimanan dan kekufuran, dan bahwasanya kedua
perkara ini terjadi dengan aqidah, ucapan dan perbuatan, niscaya yang demikian itu
adalah dalil tentang keutamaan Ali Hasan, ilmunya, dan waro'nya dalam menerima
kebenaran, dan keteladannya kepada para imam dan ulama. Dan pastinya sikap
rujuknya tadi bisa memotong akar fitnah ini –fitnah Irja- yang bahayanya menjalar,
dan kejelekannya menyebar di tengah-tengah para pemuda dan menyebabkan
terjadinya perpecahan pendapat di benak-benak kebanyakan dari mereka dan
membikin ragu akan aqidah mereka.
Saya memohon pada Alloh ta'ala agar memberikan taufiq kepada akh Ali
Hasan Abdil Hamid untuk rujuk kepada kebenaran dan menerima kebenaran, dan
menyebarkan keyakinan Ahlissunnah Wal Jama'ah tentang masalah-masalah iman
dan kifir, dengan kefasihan, balaghoh, kekuatan dan kemampuan mempengaruhi
hati yang Alloh karuniakan kepadanya.
Dan saya mohon kepada Alloh ta'ala agar mengaruniakan taufiq dan
kelurusan kepada akh Muhammad bin Salim Ad Dausriy, dan agar memberikan
manfaat dengan bantahan yang ditulisnya, dan memberikan manfaat dengan
tulisan-tulisan dan bantahan-bantahan beliau, dan menjadikannya diberkahi di
manapun beliau berada, dan menghilangkan dengan bantahan beliau itu kesamaran
yang terjadi pada sebagian orang tentang masalah ini.
Dan saya mohon kepada Alloh untuk saya dan saudara-saudara saya para
pelajar, agar memberikan ilmu yang bermanfaat, amal sholih, kekokohan di atas
kebenaran, dan setia kepada aqidah Ahlissunnah Wal Jama'ah tentang masalah-
masalah agama, iman dan Islam, yang jelas dan samar, dan mewafatkan kita di atas
Islam, sesungguhnya Dia Yang mengurusi itu dan mampu melaksanakannya.

.‫وصذ اهلل وسلم وبارك عذ عبداهلل ورسوله ىبونا حممد وعذ آله وأصحابه وأتباعه بإحسان إىل يوم الدين‬

Diucapkan dan ditulis oleh:


Abdul Aziz bin Abdillah Ar Rojihiy
Anggota Haiah Tadris di Universitas Al Imam Muhammad bin Su'ud Al Islamiyyah
ISNAD.Net Hal. 8

20/5/1422 H
‫بسم اهلل الرمحن الرحوم‬

Fadhilatusy Syaikh Abdul Aziz bin Abdillah Ali Humayyid ‫حفظه اهلل‬

:‫ أما بعد‬، ‫ وعذ آله وصحبه أهل الوفا‬، ‫ ىبونا حممد‬:‫ وصلوات اهلل وسالمه عذ عبده ادصطػى‬، ‫احلمد هلل وكػى‬

Lajnah Daimah Lil Ifta –semoga Alloh menambahinya taufiq dan petunjuk-
telah mengeluarkan fatwanya dengan nomor (21517) tanggal (14/6/1421 H) tentang
dua kitab akh Ali bin Hasan bin Abdil Hamid Al Halabiy "At Tahdzir Min Fitnatit
Takfir" dan "Shoihatu Nadzir" dan Lajnah menjelaskan secara ringkas dan sekedar
isyarat tentang apa yang dikandung oleh kedua kitab ini, yang berupa kesalahan-
kesalahan dalam masalah-masalah iman, dan tidak memberikan perincian karena
polanya adalah fatwa, bukan pola bantahan dan pembatalan.
Yang lebih pantas untuk dilakukan orang semisal dia (Ali Hasan) adalah
tunduk kepada kebenaran, dalam keadaan dia tahu bahwasanya orang-orang yang
mengeluarkan itu adalah para ulama yang mulia, yang lebih banyak ilmunya
daripada dia, lebih tua umurnya daripada dia, dan lebih maju dalam mengetahui
aqidah daripada dia. Seandainya dia menulis kitab tentang itu yang di dalamnya dia
mensyukuri mereka, mendoakan kebaikan untuk mereka, dan mengumumkan rujuk
dari kesalahan-kesalahan itu, niscaya akar fitnah terpotong, dan niscaya orang besar
dan kecil akan mengagungkan sikap dia itu.
Akan tetapi dia justru bersikap sebaliknya. Dia bersegera membantah Lajnah
dengan bantahan yang di dalamnya dia menggantungkan kesalahannya tadi kepada
orang lain, sambil keluar dari akibat tulisan ujung-ujung jari dia di dalam kedua kitab
tersebut, sambil mengulang-ulang ungkapan-ungkapan berikut ini, contoh kecilnya
adalah: "Itu adalah ucapan fulan, dan ucapanku tidak ada sedikitpun di situ." "Tidak
ada dalam kedua kitabku tersebut pembahasan tentang masalah ini secara mutlak,"
"Maka di manakah tempat bantahan dan bagian yang perlu dikritik?!" "Maka di
manakah pembatasan tersebut!? Dan di manakah bagian yang perlu dibantah?!"
"Maka di manakah pembatasan tersebut!? Dan bagaimanakah jalannya?!" "Maka di
manakah penyelewengan itu?!" "Maka apakah yang dipahami dari nash-nash ini?!
Dan di manakah saya berbicara bohong atas nama Syaikhul Islam dalam ta'liq saya
terhadap ucapan beliau?! Itu Cuma ringkasan darinya dan pemantapan dasar-
dasarnya." "Di manakah saya berbicara bohong atas orang, padahal ucapannya
memang begini?!" "Jika di sana ada diskusi atau kritikan, maka itu ditujukan
terhadap beliau ‫ رحمه اهلل‬bukan kepada yang menukil darinya." "Maka di manakah
komentar saya itu? Dan di manakah saya membawa ucapan ulama kepada yang
tidak dikandungnya?!" "Itu bukanlah ucapan saya sama sekali!" "Maka di manakah
ISNAD.Net Hal. 9

saya membawa ucapan ulama kepada yang tidak dikandungnya?! Di manakah saya
membawa ucapan ulama kepada yang tidak dikandungnya?!" "Maka di manakah
sikap peremehan dari saya!? Di manakah sikap peremehan dari saya?!" dan
seterusnya yang berisi ungkapan-ungkapan yang selalu dihiasi dengan tanda tanya
dan tanda seru yang memenuhi karya tulisnya itu, yang menjadi alamat bagi dirinya.
Dan belum pernah aku membaca karya tulis seseorang yang mengumpulkan tanda
tanya dan tanda seru seperti karya tulis Ali Hasan. Itu merupakan alamat-alamat
reaktif sebagaimana diketahui menurut adat para penulis dan peneliti.
Yang penting dari itu semua adalah: bahwasanya barangsiapa membaca
bantahan Ali Hasan ini, dan belum jelas hakikat perkaranya bagi dirinya, terkadang
bisa tertipu dengan metodenya dalam membantah, dan kepintarannya dalam olah
kata, dan metodenya dalam memberikan pengaburan sehingga dia ragu terhadap
kebenaran Lajnah, menuduh Lajnah berbicara bohong atas nama Ali Hasan,
menzholimi Ali Hasan, dusta terhadapnya.
Dan inilah yang dituduhkan olehnya dengan tulisan dia itu, yang mana kami
mulai mendengar ada orang yang menganggap bahwasanya fatwa Lajnah tadi hanya
muncul dari satu orang tertentu dari anggota Lajnah, dan dibenarkan oleh para
anggota yang lain tanpa pengetahuan dan penelitian!! Belum lagi ucapan para
pembantu Ali Hasan dan orang yang serupa dengan dia, karena sungguh perkara ini
telah melampaui mereka sampai ke sebagian tokoh utama dan sebagian ulama di
negri ini! Jika kepercayaan orang terhadap ulama mereka telah goncang sampai
kepada tarap ini, maka kepada siapakah mereka percaya?! Seandainya dia bersikap
adil, niscaya paling tidak dia akan melihat kepada kerusakan ini, dan tidak membela
dirinya, sekalipun dia menganggap dirinya di atas kebenaran. Maslahat jama'ah itu
lebih didahulukan daripada maslahat individu.
Dan risalah ini "Rof'ul Laimah 'Anil Lajnatid Daimah" yang ditulis oleh saudara
kita yang mulia Asy Syaikh Muhammad bin Salim Ad Dausriy ‫ حفظه اهلل‬datang untuk
meletakkan titik di atas huruf (melakukan peletakan sesuatu dengan tepat), karena
merasa kasihan kepada orang yang berbaik sangka kepada bantahan akh Ali Al
Halabiy, dan melihat bahwasanya Lajnah telah menzholimi dirinya, dan dalam
rangka menyingkap pengkaburan yang diperindah oleh saudara (Ali Hasan) tersebut.
Maka sebagai contoh: penukilan dia terhadap ungkapan-ungkapan sebagian
imam yang dipahami darinya pembatasan kekufuran di dalam aqidah saja, maka Ali
Hasan menampilkannya dalam rangka berdalilkan dengan itu, dan meninggalkan
ucapan imam tersebut di banyak tempat di kitab-kitab beliau padahal di situ ada
obat yang bisa menghilangkan kesamaran yang terkadang bergayut dikarenakan
mencukupkan diri dengan ungkapan tadi saja.
Termasuk dari itu adalah: kebiasaan Ali Hasan untuk memberikan warna
hitam tebal pada setiap kalimat atau ungkapan yang datang dalam menyebutkan
lafazh I'tiqod atau juhud (penentangan) atau ungkapan-ungkapan semacam itu yang
dengannya dia berdalilkan bahwasanya kekufuran itu tidak terjadi kecuali dengan
penentangan dan keyakinan hati, dan dia berupaya memberikan pengkaburan pada
ISNAD.Net H a l . 10

manusia dengan menisbatkan hal itu kepada sebagian imam, maka dia menukilkan
ungkapan sang imam yang di situ beliau berbicara bahwasanya kekufuran itu terjadi
dengan amalan, dan terjadi juga dengan penentangan dan pembangkangan. Maka
Ali Hasan menulis lafazh "amalan" dengan huruf biasa, dan menulis lafazh
"penentangan" dan "pembangkangan" dengan huruf yang sangat hitam. Dan ini
punya pengaruh terhadap sang pembaca sebagaimana diketahui bersama.
Kemudian setelah itu dia menyatakan bahwasanya dia sekedar menukil saja dari
ucapan para imam, dan bahwasanya dia tidak berbuat apa-apa sedikitpun dalam
penukilan tadi! Maka mengapakah dia tidak membiarkan ucapan para imam –saat
menukilkannya tadi- apa adanya? Mengapa dia tidak menukilkan ucapannya
semuanya, sama saja apakah ucapan tadi mendukung dia ataukah membantah
dirinya?
Semoga Alloh merohmati Abdurrohman bin Mahdi yang berkata:
"Ahlussunnah itu menulis apa yang mendukung mereka ataukah membantah
mereka. sedangkan ahli hawa itu tidak menulis kecuali apa yang mendukung
mereka."(2)
Dan penyelisihan akh Ali Al Halabiy terhadap Ahlussunnah di sebagian
masalah keimanan itu telah dikenal darinya sejak dia mengurusi pencetakan kitab
"Ihkamut Taqrir Fi Ahkamit Takfir" karya Murod Syukriy, dan upaya dia untuk
menyebarkan kitab itu. Sekalipun dia berupaya keras untuk membersihkan
namanya dari kitab itu setelah keluarnya ketetapan Lajnah Daimah tentang kitab itu.
Dan aku telah menjelaskan padanya –dengan dihadiri sebagian ikhwah ketika itu-
bahwasanya dia memikul tanggung jawab kitab tadi, dan dia wajib untuk
mengumumkan dengan sangat jelas apa pendapat dia tentang masalah tersebut
yang dikandung oleh kitab itu, dan harus meninggalkan pengelabuhan terhadap
manusia. Maka dia menjanjikan itu tapi tidak memenuhi janjinya.
Dan saya tidak ingin memutuskan bacaanmu –wahai saudaraku pembaca-
terhadap risalah ini, yang menunjukkan bahwasanya Lajnah Daimah telah
mendapatkan taufiq tidak menyebutkan sesuatu dalam fatwanya tersebut kecuali
memang hal itu ada di dalam kedua kitab akh Ali Al Halabiy, dipahami oleh orang
yang memahami, dan tidak diketahui oleh orang yang tidak mengetahuinya.

.‫ وصذ اهلل وسلم عذ ىبونا حممد‬، ‫واهلل ادوفق واهلادي إىل سواء السبول‬

Ditulis oleh:
Sa'd bin Abdillah bin Abdil Aziz Alu Humayyid
6/4/1422 H

(2)
Lihat "Al Jawabush Shohih" karya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah (6/hal. 343). Ungkapan ini juga
telah datang dari Waki' ibnul Jarroh ‫ رحمه اهلل‬sebagaimana di "Sunan Ad Daroquthniy" (1/hal. 26/no.
32).
ISNAD.Net H a l . 11

‫بسم اهلل الرحمن الرحيم‬

Pengantar Penulis

‫ من هيده اهلل فال مضل له‬، ‫ وىعوذ باهلل من رشور أىػسنا وسوئات أعاملنا‬، ‫إن احلمد هلل ىحمده وىستعونه وىستغػره‬
‫ وأشهد أن حممد ًا عبده ورسوله صذ اهلل علوه وعذ‬، ‫ وأشهد أن ال إله إال اهلل وحده ال رشيك له‬، ‫ومن يضلل فال هادي له‬
:‫ أما بعد‬. ‫آله وصحبه وسلم تسلو ًام كثر ًا‬

Maka sesungguhnya pembicaraan tentang iman itu sangat penting dan juga
berbahaya. Kemudian hal itu tidak seperti pembicaraan dalam masalah-masalah
agama yang lain. Yang demikian itu dikarenakan kekeliruan di situ merupakan
kekeliruan dalam dasar agama dan pondasinya. Oleh karena itulah maka bid'ah yang
pertama menghujam ke dalam Islam adalah bid'ah khowarij –yang Rosululloh ‫صلى اهلل‬
‫ عليه وسلم‬memperingatkan umat darinya sebelum mereka muncul keluar-. Dan asal
kekeliruan mereka adalah dalam masalah keimanan, yang mana mereka keliru dalam
meniadakan keimanan dari pelaku dosa besar hingga mereka mengkafirkan
Muslimin, menghalalkan darah mereka, bahkan mengkafirkan para Shohabat
Rosululloh ‫ صلى اهلل عليه وسلم‬dan menumpahkan darah-darah mereka, dan mereka
menyangka bahwasanya diri mereka ada di atas kebenaran dan agama.

Dan berlawanan dengan itu tumbuhlah sekte lain yang tidak kurang
bahayanya daripada khowarij, dan sekte tadi adalah sekte murjiah yang berlebihan
dalam menetapkan keimanan bagi para pelaku kedurhakaan dan dosa besar, hingga
setan menipu mereka dengan keyakinan bahwasanya keimanan orang yang paling
jahat dan paling fasiq itu seperti keimanan Abu Bakr dan Umar ‫رضي اهلل عنهما‬, bahkan
seperti iman Rosululloh ‫صلى اهلل عليه وسلم‬, dan keimanan Jibril. Maka para ulama
sunnah di seluruh penjuru bumi berteriak memperingatkan bahaya mereka, dan
para ulama memperbesar pengingkaran terhadap mereka dikarenakan mereka tahu
busuknya jalan mereka dan rusaknya aqidah mereka, dan rusaknya konsekuensi
ucapan mereka, hingga Ibrohim An Nakho'iy berkata tentang mereka: "Benar-benar
fitnah mereka –yaitu murjiah- lebih aku takuti daripada fitnah Azariqoh (salah satu
sekte khowarij)."
Az Zuhriy berkata: "Tidaklah ada kebid'ahan yang dibikin di dalam Islam yang
lebih berbahaya terhadap muslimin daripada irja."
Al Auza'iy berkata: "Dulu Yahya bin Abi Katsir dan Qotadah berkata: Tidak ada
sedikitpun dari hawa nafsu yang lebih ditakutkan oleh mereka –yaitu Salaf- terhadap
umat ini daripada irja."
ISNAD.Net H a l . 12

Dan Syarik Al Qodhi menyebutkan murjiah, maka beliau berkata: "Mereka


adalah kaum yang paling busuk. Cukuplah bagimu kebusukan Rofidhoh, akan tetapi
murjiah berdusta atas nama Alloh."(3)
Dan aqidah irja terus menjalar di umat ini sepanjang zaman, terkadang apinya
padam –ketika cahaya ilmu bertambah- dan terkadang menyala berkobar-kobar –
ketika cahaya ilmu padam- hingga nampak pengaruhnya dengan jelas dan terang di
umat ini pada hari ini, bahkan telah menjadi kenyataan yang diamalkan. Banyak
orang pada hari ini telah merasa cukup dengan pembenaran hati dan pengucapan
lidah dengan persaksian, kemudian setelah itu mereka mengerjakan keharoman-
keharoman semau mereka dan meninggalkan banyak kewajiban sekalipun tidak
meninggalkan semuanya. Bahkan lebih besar dari itu kebanyakan dari mereka i'tikaf
di tempat pemujaan dan kuburan dan berbuat syirik besar dan kedustaan di situ,
dan dia masih terus menganggap bahwasa dirinya masih di area Islam dan termasuk
dari kalangan muslimin.
Dan bersamaan dengan ini semua, engkau melihat pada hari ini ada orang
yang membela madzhab yang menghinakan itu dan menolongnya serta
menjadikannya sebagai madzhab salaful ummah, dan barangsiapa mengingkarinya
maka dia khowarij yang mudah mengkafirkan –melampaui batas dengan perkara
yang tidak dikenalnya, tanpa ilmu ataupun kesabaran- punya semangat lebih untuk
mengkafirkan muslimin. Dan si pembela madzhab murjiah tadi menulis juz-juz,
kitab-kitab, dan bantahan-bantahan tentang itu yang judulnya berbeda-beda tapi
sasarannya menyatu. Bahkan sasarannya memang satu, yaitu menolong madzhab
yang buruk itu. Dan termasuk dari orang-orang yang membawa bendera ini dan
fanatik kepadanya adalah: Ali bin Hasan Al Halabiy.
Demi Alloh, dulu aku tidak senang untuk membantahnya, sementara orang-
orang yang lebih baik daripada aku telah membantahnya dan menjelaskan
kesalahannya, serta menyemangatinya untuk bertobat dan kembali sejak munculnya
kitab "Ihkamut Taqrir Li Ahkamit Takfir" milik penulisnya yang bernama Murod
Syukriy, yang mana Al Halabiy bangkit untuk mengurusi dan mengawasi
pencetakannya.
Dan dulu aku berangan-angan agar dia kembali dan bertobat. Akan tetapi
sangat disesalkan dia bersikeras tetap di atas apa yang didakwahkannya itu, maka
dia setelah itu menulis berbagai risalah untuk menetapkan di dalamnya madzhab
yang menghinakan itu, dan menolongnya dengan berbagai jenis penetapan yang
gelap, sampai-sampai dia memotong-motong nash-nash dan
menyelewengkannya.
Dan di antara risalah yang ditulisnya tentang masalah itu adalah dua kitab
yang pertama dinamainya dengan "At Tahdzir Min Fitnatit Takfir" dan yang lain:

(3)
Lihat "Majmu'ul Fatawa" (7/hal. 394-395)
ISNAD.Net H a l . 13

"Shoihatu Nadzir Bi Khothorit Takfir". Dan cukuplah kesalahan dari dua kitab itu
adalah dalam penamaannya.(4)
Lajnah Daimah Lil Buhutsil Ilmiyyah Wal Ifta kerajaan Saudi Arabiyyah –
semoga Alloh membalasnya dengan pahala terbaik- telah mengeluarkan fatwa yang
di dalamnya menjelaskan kesalahan Al Halabiy tentang masalah iman, dan
bahwasanya kedua kitab ini "At Tahdzir Min Fitnatit Takfir" dan "Shoihatu Nadzir Bi
Khothorit Takfir" mengajak kepada madzhab irja. Dan para anggota Lajnah yang
mulia menasihatinya untuk bertobat dan kembali, akan tetapi dia tidak
menyambutnya, dan bahkan menulis risalah yang di dalamnya membantah Lajnah
Daimah dengan judul "Al Ajwibatul Mutalaimah 'Ala Fatwal Lajnatid Daimah"(5) dan
mulailah dia berkelit dan berputar-putar –seperti kebiasaannya-, dan
mempermainkan kata, dan memperbanyak penulisan tanda tanya dan tanda seru,
selain keistimewaan dia yang berupa banyaknya kalimat sisipan dan sajak yang
dipaksakan, serta kata-kata untuk membikin takut.
Agar tidak ada orang yang tertipu dengan orang ini dan apa yang ditulisnya,
dan hingga muslimin tidak terkelabuhi olehnya, saya berpandangan bahwasanya
saya wajib –dalam rangka lepas tanggung jawab dan untuk menasihati umat- untuk
menjelaskan keadaan Al Halabiy dalam masalah ini, yang mana ini termasuk kasus
aqidah yang paling berbahaya. Maka saya kumpulkan bantahan terhadap apa yang
ditulisnya yang mana tulisannya itu adalah bantahan terhadap fatwa Lajnah Daimah.
Demi Alloh, ini bukan untuk fanatik terhadap Lajnah. Saya –segala puji bagi Alloh-
bukanlah termasuk orang yang fanatik terhadap tokoh tanpa kebenaran, dan
bukan pula dalam rangka membela Lajnah dengan cara batil. Mereka masih
manusia yang bisa keliru. Akan tetapi saya menulis karena beberapa perkara, di
antaranya adalah:
1- Karena yang demikian tadi adalah termasuk akhir dari apa yang ditulis oleh Al
Halabiy dalam masalah ini.

(4)
Dijadikannya pengkafiran sebagai suatu fitnah dan bahaya secara mutlak seperti itu merupakan
kebodohan belaka. Asy Syaikh Sulaiman bin Samhan ‫ رحمه اهلل‬berkata: "Para shohabat ‫رضي اهلل عنهم‬
telah mengkafirkan orang-orang yang mereka kafirkan dari kalangan orang-orang yang murtad
dengan beraneka jenisnya. Dan Ali mengkafirkan orang-orang yang ghuluw (berlebihan) terhadap
beliau. Dan para ulama sepeninggal beliau telah mengkafirkan Qodariyyah dan yang seperti
mereka, seperti mereka mengkafirkan Jahmiyyah, mereka membunuh Ja'd bin Dirham dan Jahm
bin Shofwan dan orang yang mengikuti pendapat mereka. dan mereka juga membunuh para
zanadiqoh. Demikianlah para ahli ilmu, fiqh dan hadits di setiap generasi dan zaman ada kelompok
yang tegak mengkafirkan orang yang dikafirkan oleh Alloh dan Rosul-Nya, dan tegak dalil tentang
kekafirannya, dan mereka tidak menjauh dari yang demikian itu. Bahkan mereka berpandangan
bahwasanya itu merupakan bagian dari kewajiban agama dan kaidah-kaidah Islam. Dalam hadits:
.»‫«من بدل ّدلنه فاقتلوه‬
"Barangsiapa mengganti agamanya, maka bunuhlah dia."
(5)
Yang benar adalah (‫ )الجىاب عن الشيء‬bukan (‫)الجىاب علً الشيء‬, sehingga judul yang lebih sesuai
adalah: (‫)األجىبة المتالئمة عن فتىي اللجنة الدائمة‬
ISNAD.Net H a l . 14

2- Agar kondisi Al Halabiy menjadi jelas bagi pembaca yang mulia, yang berupa
pemotongan kalimat ulama, penyelewengan maksud dari kalimat tadi, dan
pembangkangannya dan terus-terusannya dia di atas kebatilan, serta
kesukaannya berkelit dari kebenaran. Maka ini semua terlihat sangat jelas
dalam bantahan dia tersebut.
3- Sesungguhnya penelusuran seluruh kesalahannya dalam masalah ini
sangatlah panjang, sementara kesibukan itu banyak dan umur itu pendek.
Seorang pencari kebenaran akan tercukupi dengan penjelasan tentang
kebenaran itu, adapun pengekor hawa nafsu maka kita tak punya daya untuk
meluruskannya. Kita mohon pada Alloh keselamatan.
4- Bantahan Al Halabiy ini sendiri telah menimbulkan suatu keraguan dan
kebimbangan di hati sebagian tokoh utama terhadap keshohihan fatwa
Lajnah, dan menggambarkan bahwasanya Lajnah telah berlebihan menyerang
Al Halabiy serta membawa ucapannya kepada perkara yang tidak
dikandungnya.

Saya menamai bantahan saya ini dengan: "Rof'ul Laimah 'An Fatwal Lajnatid
Daimah."
Saya memohon kepada Alloh ta'ala untuk memberikan taufiq kepada kita dan
para saudara kita kepada perkara yang dicintai-Nya dan diridhoi-Nya, dan
menjadikan seluruh amalan kita itu murni demi wajah-Nya yang mulia dan
mencocoki syariat-Nya.

.‫وصذ اهلل وسلم عذ ىبونا حممد وعذ آله وصحبه‬

Ditulis oleh:
Muhammad bin Salim Ad Dausriy
Kerajaan Saudi Arabiyyah
Wilayah Timur Ihsa
P.O. Box 9318
kode pos 31982
ISNAD.Net H a l . 15

Rambu-rambu Sebelum Permulaan Bantahan

1- Al Halabiy bukanlah ahli tahqiq dalam masalah ini. Andaikata dia mau
mengambil nasihat Lajnah Daimah dalam fatwanya yang terdahulu, dan mau
menahan diri dari memperbincangkan maslah-masalah ini, yang mana Lajnah
telah berkata padanya dan orang yang semacamnya: "Dan orang yang belum
mendalam kakinya dalam ilmu syar'iy dia harus tidak ikut berbicara dalam
masalah-masalah semacam ini, sehingga tidak terjadi bahaya dan perusakan
aqidah berlipat-lipat daripada manfaat dan perbaikan yang diangan-
angankannya." Fatwa Lajnah(6) no. (30212) tanggal 7/1/1419 H yang
membantah kitab "Ihkamut Taqrir". Andaikata Al Halabiy mau menahan diri
dan menyibukkan diri dengan apa yang dimampuinya dengan baik, karena
yang demikian itu lebih selamat untuk agamanya.
2- Al Halabiy membikin kaidah-kaidah batil pada dirinya sendiri dalam masalah
keimanan, dan dia meyakininya, kemudian dia berjalan mencari dalil untuknya
tanpa pengetahuan dan penelitian dalam pendalilan. Terkadang dia
mendatangkan dalil yang menyelisihi ucapannya tanpa disadarinya, dan
terkadang dia memelintir nash-nash kepada apa yang dimauinya. Dan lebih
berat dari itu dan lebih buruk lagi adalah: dia menyelewengkan ucapan ulama,
memotongnya, mempermainkannya dan menyamarkannya, sebagaimana
sebentara lagi akan bisa anda temui insya Alloh.
3- Termasuk dari pengkaburan yang dilakukan oleh Al Halabiy adalah
bahwasanya dia memaparkan ucapan seorang imam yang mengandung lebih
dari satu makna, kemudian dia berkata: "Dan inilah yang kami yakini dan kami
ibadahi Alloh dengannya." Dan kita tidak mengetahui makna yang manakah
yang diinginkannya. Akan datang kepadamu contoh tentang itu.
4- Dia memotong nash-nash dan mengambil darinya apa yang disukainya dan
mencocoki hawa nafsunya, serta meninggalkan dari nash tadi apa yang didak
mencocokinya. Dan akan datang kepadamu penjelasannya insya Alloh.
5- Dia banyak sekali mencerca saudaranya para dai dan pelajar yang
menyelisihinya dalam masalah-masalah ini dan dalam masalah yang lain,
sampai bahkan orang yang menyelisihinya dalam masalah penshohihan hadits
atau pelemahannya. Dan ini terkenal dan tersebar di dalam kitab-kitab dia.
Tapi sebaliknya dia tidak mau berhadapan dengan orang-orang sekuler, ilhad,
zandaqoh dan perusakan dengan sesuatu apapun, dan tidak menimpakan
pada mereka seperempat saja dari apa yang dia timpakan kepada saudara-
saudaranya. Wallohul musta'an.
6- Dia memandang dirinya termasuk dari tokoh-tokoh yang diberi wasiat untuk
membawa salafiyyah dan manhaj salaf, sementara seluruh orang yang tidak
mencocokinya berarti adalah kholafiy, bukan salafiy. Seakan-akan manhaj
(6)
Catatan Abu Fairuz: yang dipimpin dan ditanda tangani oleh Al Imam Ibnu Baz ‫رحمه اهلل‬.
ISNAD.Net H a l . 16

salaf adalah gudang untuk kelompok tertentu, atau terbatas di tempat


tertentu.
7- Agar diketahui –demi Alloh Yang tiada sesembahan yang benar selain Dia-
seandainya kasus ini sebagaimana yang dinyatakannya dalam bantahannya di
hal. 38 sekedar kekeliruan ungkapan, atau kesalahan penukilan, atau kelalaian
pemahaman, atau lupa dalam penukilan, niscaya kita termasuk orang yang
pertama memberinya udzur. Akan tetapi kasus ini lebih besar daripada itu,
yaitu: pembentukan dasar bagi madzhab irja dengan metode masa kini yang
baru yang mempergunakan ucapan-ucapan salaf –yang terpotong dan
terselewengkan- demi menetapkan madzhab yang buruk itu, dan
menisbatkannya kepada salaf bahwasanya itu adalah madzhab mereka.
andaikata mereka mencukupkan diri dengan itu. Bahkan mereka
memperburuk gambaran madzhab yang benar yang mana itu adalah madzhab
Ahlissunnah Wal Jama'ah dengan mereka menjadikannya sebagai madzhab
khowarij, dan barangsiapa berpegang dengannya maka dia itu adalah
khowarij. Kita mohon pertolongan kepada Alloh.
8- Sesungguhnya penulis kitab ini –dan hanya milik Alloh saja segala pujian-
adalah termasuk orang yang paling menginginkan terkumpulnya kalimat dan
bersatunya barisan, akan tetapi bukan dengan tebusan tauhid dan dasar
agama. Maka tidaklah aku menulis tulisan ringkas ini –dan hanya milik Alloh
saja segala pujian- karena aku senang terjadinya perpecahan atau
pertengkaran, ataupun ingin perpecahan dan perselisihan, akan tetapi untuk
menjelaskan kebenaran dan menunaikan tanggung jawab dan membela
aqidah yang bersih, aqidah Ahlussunnah Wal Jama'ah. Semoga Alloh
menjadikan kita termasuk di dalamnya dan menjadi penolongnya di dunia dan
akhirat.
9- Sebagian ikhwah bertanya-tanya: "Kenapa Lajnah Daimah membantah Al
Halabiy dan meninggalkan yang lain semacam Sayyid Quthb, Abul A'la Al
Maududiy, dan yang lainnya. Dan ini telah disebutkan oleh Al Halabiy dalam
lipatan-lipatan bantahannya.
Jawabnya adalah:
Yang pertama: Apakah telah dikirimkan kepada Lajnah pertanyaan tentang
mereka dan kitab-kitab mereka, kemudian Lajnah tidak mau menjawabnya?
Yang kedua: seandainya Lajnah keliru karena tidak membantah kitab-kitab
mereka dan tidak menjelaskan keadaan mereka, apakah ini berarti Lajnah
keliru dalam membantah Al Halabiy dan menjelaskan keadaannya? Aku tidak
mengira ada orang adil yang mengucapkan ini.
10- Syaikhul Islam ‫ رحمه اهلل‬berkata: "Dan kebanyakan orang-orang terakhir
tidak bisa membedakan antara madzhab-madzhab salaf dan ucapan murjiah
dan jahmiyyah: karena tercampurnya ini dengan itu dalam ucapan
kebanyakan dari mereka dari kalangan orang yang di dalam batinnya
berpendapat dengan pendapat jahmiyyah dan murjiah dalam masalah iman,
ISNAD.Net H a l . 17

sementara dia itu mengagungkan salaf dan ahlul hadits, sehingga dia mengira
dirinya telah mengumpulkan antara dua madzhab atau mengumpulkan antara
ucapan orang semisalnya dan ucapan salaf."(7)
Beliau ‫ رحمه اهلل‬juga berkata: "… akan tetapi mereka mengira
bahwasanya orang-orang yang membuat perkecualian dalam iman
(mengucapkan : Aku mukmin insya Alloh) dari kalangan salaf, bahwa ini
adalah sumber pengambilan mereka. Itu karena mereka dan yang semisal
dengan mereka tidak paham ucapan salaf, bahkan mereka membantu apa
yang nampak dari ucapan mereka dengan apa yang mereka terima dari ahli
kalam dari kalangan jahmiyyah dan yang seperti mereka dari kalangan ahli
bida', sehingga tinggallah yang lahiriyyahnya adalah ucapan salaf, tapi
batinnya adalah ucapan jahmiyyah yang mereka itu adalah orang yang paling
rusak perkataannya tentang keimanan."(8)

*****

(7)
"Majmu'ul Fatawa"/7/hal. 364.
(8)
"Majmu'ul Fatawa"/7/hal. 143.
ISNAD.Net H a l . 18

[Masuk kepada bantahan terhadap Ali bin Hasan Al Halabiy]

Tibalah saatnya untuk masuk kepada bantahan terhadap Ali bin Hasan Al
Halabiy. Saya mohon pada Alloh pertolongan, taufiq dan kelurusan.

Al Halabiy berkata dalam "Al Ajwibatul Mutalaimah" (hal. 4-5): "… seputar
dua kitabku tersebut: "Bahwasanya kedua kitab tadi mengajak kepada madzhab
irja yang berupa bahwasanya amalan itu bukanlah syarat sah dalam iman" !
Maka aku (Al Halabiy) jawab: perkataan Murjiah yang busuk dan batil itu
dibangun di atas keadaan mereka yang mengeluarkan amalan dari keimanan dan
mereka berkata: "Keimanan itu hanyalah pembenaran dengan hati! Dan
penggucapan lidah –saja-!!" sebagaimana datang sebagai hasil penelitian dalam
fatwa Lajnah Daimah -yang dimuliakan- yang terdahulu (no. 21436) tanggal
8/4/1421 H. Maka amalan itu -menurut murjiah- bukanlah bagian dari iman –sama
sekali, lebih-lebih untuk dibahas di situ dari mereka atau menurut mereka: -
apakah amal itu bagian dari iman –atau di dalam iman(9)- sebagai syarat sah
ataukah syarat kesempurnaan!!!- sampai pada ucapannya:- dan berdasarkan itu,
maka apa yang dimaukan dengan "amalan" dalam peniadaan yang mereka
nyatakan –ini- dari ucapan mereka –yang mereka nisbatkan kepadaku:-
"Bahwasanya amalan itu bukanlah syarat sah dalam keimanan"!?
Selesai ucapan Al Halabiy.
Si penjawab (Asy Syaikh Ad Dausriy) –semoga Alloh memaafkannya- berkata:
Yang dimaukan dengan amalan di sini adalah amalan lahiriyyah -jenis amalan-.
Syaikhul Islam berkata: "Dan murjiah itu mengeluarkan amalan lahiriyyah dari
keimanan. Maka barangsiapa dari mereka memaksudkan mengeluarkan amalan hati
juga, dan menjadikannya sebagai tashdiq (pembenaran), maka itu adalah kesesatan
yang nyata. Dan barangsiapa memaksudkan mengeluarkan amalan zhohir, dikatakan
pada mereka: amalan zhohir itu selalu menyertai amalan batin, tidak terpisah
darinya. Dan hilangnya amalan zhohir itu adalah dalil akan hilangnya amalan batin. –
sampai pada ucapan beliau:- dan para salaf itu sangat keras pengingkaran mereka
terhadap murjiah manakala mereka mengeluarkan amalan dari iman. –sampai pada
ucapan beliau:- dan juga, maka sikap mereka mengeluarkan amalan menunjukkan
bahwasanya mereka mengeluarkan amalan hati juga. Dan ini batil secara pasti.
Karena sungguh orang yang membenarkan Rosul ‫ صلى اهلل عليه وسلم‬dan membencinya
dan memusuhinya dengan hatinya dan badannya, maka dia itu kafir secara pasti.
Dan jika mereka memasukkan amalan hati ke dalam iman, maka mereka keliru
juga(10) karena tidak mungkin iman itu tegak di hati tanpa ada gerakan badan."(11)

(9)
Demikianlah dengan pengulangan dhomir-dhomir, dan dia itu –tidak jelas apa yang
dimaukannya- meniadakan kefasihan, merupakan kecacatan menurut ahli ilmu Bayan.
(10)
Yaitu: sikap mereka mengeluarkan amalan lahiriyyah.
(11)
"Majmu'ul Fatawa"/7/hal. 554-556
ISNAD.Net H a l . 19

Dan Syaikhul Islam ‫ رحمه اهلل‬berkata: "Dan telah terdahulu bahwasanya jenis
amalan itu termasuk dari konsekuensi iman hati, dan bahwasanya iman hati tanpa
ada sedikitpun dari amalan lahiriyyah adalah tidak mungkin. Sama saja apakah
amalan lahiriyyah itu dijadikan sebagai bagian dari konsekuensi iman ataukah bagian
dari iman, sebagaimana telah terdahulu penjelasannya."(12)
Jika ini telah jelas, maka sesungguhnya Al Halabiy dalam kedua kitabnya
tersebut tidak berpendapat bahwasanya amalan zhohir itu termasuk bagian dari
konsekuensi iman hati, tapi dia berpandangan bahwa amalan zhohir itu termasuk
dari kesempurnaan iman, di mana dia berkata dalam "Shoihatu Nazhir" (hal. 27)
menukilkan dari Syaikhul Islam ucapan beliau: "Dan hasil penelitian dalam masalah
ini adalah: bahwasanya iman hati yang sempurna itu mengharuskan adanya amalan
zhohir sesuai dengan kadar, tidak bisa tidak. Dan tidak mungkin keimanan yang
sempurna itu tegak di dalam hati tanpa adanya amalan zhohir."
Kemudian Al Halabiy memberikan komentar dalam catatan kaki terhadap
ucapan Syaikhul Islam dengan berkata: "Dan tidak mungkin ada iman sempurna
yang tegak di hati itu." Dengan ucapannya (yaitu Al Halabiy): "Dan barangsiapa
merenungkan pengait ini, terurailah untuknya kerumitan yang banyak: yaitu dengan
pengait yang berupa ucapan Syaikhul Islam "sempurna"," dan jadilah maknanya
menurut Al Halabiy, bahwasanya mungkin di dalam hati itu keimanan tanpa amalan
lahiriyyah, akan tetapi imannya itu kurang, adapun orang yang ingin keimanan yang
sempurna maka harus ada amalan lahiriyyah.
Ini tidak dinginkan oleh Syaikhul Islam ‫رحمه اهلل‬. Yang beliau maukan dengan
ucapan beliau: "iman yang sempurna" adalah iman yang benar. Dan itulah yang
sesuai dengan ucapan beliau ‫ رحمه اهلل‬yang telah lewat barusan: "Dan bahwasanya
keimana hati tanpa sedikitpun dari amalan lahiriyyah adalah tidak mungkin."
Dan ini juga sesuai dengan ucapan beliau ‫ رحمه اهلل‬: "Dan dengan ini engkau
mengetahui bahwasanya barangsiapa hatinya itu beriman dengan keimanan yang
pasti, tidak mungkin dia tidak mengucapkan dua kalimat syahadat padahal dia
mampu. Maka tidak maunya dia mengucapkan dua kalimat syahadat padahal dia
mampu, maka hal itu mengharuskan hilangnya keimanan hati yang sempurna." (13)
Selesai.
Maka bagaimana pendapat Al Halabiy tentang ucapan yang ini? Barangsiapa
tidak mau mengucapkan mengucapkan dua kalimat syahadat padahal dia mampu,
apakah dikatakan "Hilang darinya kesempurnaan iman dan tersisa bersamanya asal
iman"? jika dia menjawab: "Iya." Maka sungguh dia mengucapkan perkataan yang
besar. Jika dia menjawab: "Tidak," maka dia telah mengakui bahwasanya dirinya
telah keliru dalam memahami ucapan Syaikhul Islam.

(12)
"Majmu'ul Fatawa"/7/hal. 616
(13)
"Majmu'ul Fatawa"/7/hal. 553
ISNAD.Net H a l . 20

Perkara lain, yaitu bisa kita katakan: Apa pandangan Al Halabiy tentang
ucapan Syaikhul Islam(14): "Karena sesungguhnya tidak mungkin ada iman yang
sempurna di dalam hati tanpa ada ucapan ataupun amalan lahiriyyah." Apakah
beliau menginginkan dengan ucapan ini bahwasanya mungkin ada iman dalam hati
tanpa ada ucapan lahiriyyah –yaitu tanpa dua kalimat syahadat-, sementara yang
tidak mungkin hanyalah kesempurnaan iman? Atau apa?

Dan Al Halabiy menyebutkan juga pada halaman 28 dari "Shoihatu Nazhir"


ucapan Syaikhul Islam tentang iman: "Dan asalnya adalah hati, kesempurnaannya
adalah amalan lahiriyyah, …"
Dan dia mengira bahwasanya Syaikhul Islam memaksudkan dengan
kesempurnaan adalah: kesempurnaan yang wajib dan mustahab. Dan ini adalah
kekeliruan dari Al Halabiy dalam memahami ucapan Ibnu Taimiyyah ‫ رحمه اهلل‬karena
sesungguhnya alur pembicaraannya menunjukkan bahwasanya asal iman yang ada
di dalam hati itu tidak sempurna –yaitu: tidak sah- kecuali dengan amalan lahiriyyah,
yang mana beliau berkata setelah itu: "… berbeda dengan Islam, karena asalnya
adalah lahiriyyah, dan kesempurnaannya adalah hati." Maka apakah ada orang yang
berkata: "Cukup dalam Islam asalnya adalah amalan lahiriyyah tanpa
kesempurnaannya yang ada di dalam hati?"
Maka berdasarkan sisi ini dipahamilah ucapan para imam dengan
menggabungkan sebagiannya kepada sebagian yang lain, hingga sebagian
ucapannya menafsirkan sebagian yang lain, bukannya si penukil mengambil apa
yang mencocoki hawa nafsunya dan meninggalkan apa yang menyelisihinya.
Kemudian ketahuilah –semoga Alloh merohmatimu- bahwasanya jelaslah
bagimu pemikiran murjiah dari Al Halabiy dari sisi lain, yaitu: dia menjadikan
kekufuran itu hanya terbatas pada juhud (penentangan) dan takdzib (pendustaan)
saja. Penjelasannya sebagai berikut:
Al 'Allamah Ibnul Qoyyim ‫ رحمه اهلل‬berkata: "Dan di sini ada dasar yang lain,
yaitu bahwasanya hakikat keimanan itu tersusun dari ucapan dan amalan. Ucapan
itu ada dua macam:
Ucapan hati, yaitu aqidah, dan ucapan lidah, yaitu berbicara dengan kalimat Islam.
Amalan itu ada dua macam:
Amalan hati, yaitu niat dengan keikhlasannya, dan amalan anggota badan.
Maka jika empat perkara ini hilang, hilanglah iman secara keseluruhan. Jika
pembenaran hati itu hilang, tidaklah bermanfaat bagian-bagian yang lain, karena
sesungguhnya pembenaran hati itu adalah syarat dalam keyakinannya dan
bahwasanya dia itu bermanfaat.
Jika amalan hati itu hilang tapi masih ada keyakinan pembenaran, maka inilah
medan tempur antara murjiah dan Ahlussunnah.

(14)
"Majmu'ul Fatawa"/7/hal. 562
ISNAD.Net H a l . 21

Ahlussunnah bersepakat akan hilangnya iman, dan bahwasanya pembenaran


itu tidak bermanfaat bersamaan dengan hilangnya amalan hati, yaitu rasa cinta pada
Alloh dan ketaatan pada Alloh."
Selesailah ucapan Ibnul Qoyyim.
Dan ucapan hati yang mana dia itu berupa pembenaran, dia berhadapan
dengan penentangan, pendustaan, pengingkaran dan penghalalan.
Amalan hati yang mana dia itu berupa ketaatan dan pengikutan pada Alloh itu
berhadapan dengan ketidaksetiaan dan keberpalingan dari ketaatan. Maka
Ahlussunnah bersepakat bahwasanya iman itu hilang dikarenakan ketidaksetiaan
dan keberpalingan dari ketaatan, sekalipun tidak ada penentangan ataupun
pendustaan.
Adapun murjiah maka sungguh mereka menyelisihi dalam hal itu dan
berpandangan bahwasanya iman itu tidak hilang kecuali dengan hilangnya
pembenaran –yaitu: dengan adanya penentangan dan pendustaan- . Maka jika telah
jelas bagimu hal ini, maka sungguh Al Halabiy telah menetapkan di dalam kedua
kitabnya tersebut bahwasanya kekufuran itu tidak terjadi kecuali dengan
penentangan dan pendustaan.(15) Dan dalil tentang ini –yaitu dia membatasi
kekufuran dengan penentangan dan pendustaan saja- adalah sebagai berikut:
Penukilan Al Halabiy dari Asy Syaikh Abdul Lathif bin Abdirrohman bin Hasan
Alisy Syaikh ‫ رحمه اهلل‬ucapan beliau: "Sesungguhnya kekufuran itu ada dua macam:
kufur amal, dan kufur penentangan dan pembangkangan. Dan dia itu –yaitu kufur
penentangan-: seseorang mengingkari –dengan menentang dan membangkang-
perkara yang telah diketahuinya bahwasanya Rosululloh ‫صلى اهلل عليه وسلم‬
membawanya dari sisi Alloh, yang berupa nama-nama Robb, sifat-sifat-Nya,

(15)
Yang mana Al Halabiy berkata dalam kitabnya "Shoihatu Nadzir" hal. 39: "Kaidah "tidak
dikafirkan dengan itu seorang muslim" menurut Ahlussunnah itu dibangun di atas ilmu dan
pengetahuan –secara kaidah dan prinsip- kemudian bercabang dari keduanya:
Bisa jadi berupa:
Pertama: keyakinan: penentangan dan pendustaan
Atau kedua: menganggap halal, pengharoman sesuatu yang halal, dan menghalalkan perkara yang
harom, -sampai pada ucapannya-, dan inilah kaidahnya, dan inilah yang kami pelajari dari para
masyayikh kami, dan kami mengambilnya dari ulama kami –yang dulu dan sekarang- secara
bacaan ataupun juga langsung dari lisan."
Dalil apa yang lebih besar daripada ini yang menunjukkan bahwasanya Al Halabiy itu
membatasi kekufuran itu hanya terbatas pada penentangan dan pendustaan, karena muslim itu
menurut dirinya –dan kata dia: menurut Ahlussunnah juga- tidak menjadi kafir sampai dia itu
menentang atau mendustakan atau menghalalkan. Maka di manakah amalan jika demikian?!!
Kemudian perhatikanlah bahwasanya itu tadi adalah suatu kaidah menurut Ahlussunnah,
yang telah dipelajari oleh Al Halabiy dari para masyayikhnya dan diambilnya dari para ulama –yang
dulu dan yang sekarang- secara bacaan dan langsung dari mulut mereka! jika begitu, maka
masalahnya bukan sekedar kesalahan dalam pengungkapan, atau kekeliruan dalam penukilan,
atau kelalaian dalam pemahaman, atau kelupaan dalam penukilan seperti yang dikatakannya
dalam "Al Ajwibatul Mutalaimah" hal. 38.
ISNAD.Net H a l . 22

perbuatan-Nya dan hukum-hukum-Nya yang asalnya adalah tauhid-Nya, dan


peribadatan kepada-Nya satu-satunya tanpa sekutu bagi-Nya."
Selesai dari "At Tahdzir" (hal. 6-7).
Al Halabiy menebalkan dan membesarkan tulisan itu ketika menyebutkan
lafazh penentangan dan pembangkangan(16) untuk menunjukkan bahwasanya
kekufuran itu tidak terjadi kecuali seperti itu. Dan yang menunjukkan kita kepada ini
adalah bahwasanya dia menukilkan pada catatan kaki, dari tiga orang ulama –yaitu
Ibnu Hazm, Ibnul Qoyyim dan Adz Dzahabiy- bahwasanya mereka berpendapat –
menurut Al Halabiy- bahwasanya kekufuran itu hanyalah penentangan.
Dan di sana ada perbedaan antara: penentangan itu adalah kekufuran, dan
antara: kekufuran itu hanyalah berupa penentangan.
Yang pertama adalah: menjadikan penentangan itu sebagai suatu jenis dari
jenis-jenis kekufuran. Dan ini adalah benar.
Yang kedua: membatasi kekufuran pada penentangan saja. Dan ini adalah
batil.
Kemudian Al Halabiy menekankan itu –dengan perkara yang tidak menyisakan
keraguan- dengan apa yang dinukilkannya dari Ath Thohawiy ‫ رحمه اهلل‬yaitu ucapan
beliau: "Tidaklah seseorang itu menjadi kafir dari sisi dia itu dulunya muslim, dan
islamnya itu dengan pengakuan dia terhadap Islam. Maka demikian pula
kemurtadannya itu tidak terjadi kecuali dengan penentangan terhadap Islam."
Selesai dari "At Tahdzir" (hal. 10).
Dia telah menghitamkan huruf dan menebalkannya ketika masuk ke ucapan:
"Kecuali dengan penentangan terhadap Islam." Dan aku tidak mengira adanya
kesamaran bahwasanya peniadaan yang disertai dengan pengecualian itu adalah
dalil tentang adanya pembatasan.
Kemudian dia menukilkan dari ucapan Asy Syaikh Hafizh Al Hakamiy dalam
"A'lamus Sunnatil Mansyuroh": "Kekufuran itu asalnya adalah penentangan dan
pembangkangan yang mengharuskan adanya kesombongan dan kedurhakaan,"
dalam keadaan Al Halabiy mengira bahwasanya Al Hakamiy mencocoki dia
bahwasanya kekufuran itu hanyalah penentangan semata. Akan tetapi dugaan ini
tidak benar, karena Asy Syaikh Hafizh Al Hakamiy ‫ رحمه اهلل‬menyebutkan setelah
jawaban ini jawaban-jawaban yang banyak yang mencocoki aqidah Ahlussunnah.
Andaikata Al Halabiy membacanya. Dan aku kira Al Halabiy telah membacanya
karena tidak tergambarkan bahwasanya jawaban ini diambil tanpa dirinya membaca
apa yang sebelumnya dan yang sesudahnya.
Kemudian dia menekankan juga dengan apa yang dinukilkannya –dengan
pemotongan- dari ucapan Asy Syaikh Abdurrohman As Sa'diy dalam kitab beliau "Al
Irsyad Ila Ma'rifatil Ahkam" (hal. 203): "Dan batasan kekufuran yang mencakup

(16)
Bersamaan dengan bahwasanya Al Halabiy memandang bahwasanya kufur pembangkangan itu
adalah kufur asli, bukan sesuatu yang datang kemudian, sebagaimana akan datang penjelasannya
di halaman 38 dari risalah ini (risalah asli "Rof'ul Laimah").
ISNAD.Net H a l . 23

seluruh jenisnya dan macamnya serta individunya adalah: penentangan terhadap


apa yang dibawa oleh Rosul –atau menentang sebagiannya-."
Selesai dari "At Tahdzir" (hal. 11).
Dan Al Halabiy telah memotong nash ini –seperti kebiasaannya- agar
mencocoki apa yang ditetapkannya yaitu: bahwasanya kekufuran itu tidak terjadi
kecuali dengan penentangan. Jika tidak demikian, mengapa dia menghapus awal
ucapan, yaitu ucapan beliau: "Orang yang murtad adalah orang yang kafir setelah
Islamnya, dengan ucapan, atau perbuatan atau keyakinan atau keraguan."?
Kemudian dia menyebutkan komentar terhadap ucapan yang dinukilnya tadi
dengan ucapannya: "… karena sesungguhnya orang yang telah tetap baginya hukum
Islam dengan keimanan yang pasti, dia itu hanyalah keluar dari Islam dengan
penentangan terhadapnya atau pendustaan terhadapnya. Adapun jika dia itu ragu
atau membangkang atau berpaling atau munafiq maka dia itu memang bukan
mukmin -pada asalnya-."
Selesai dari "At Tahdzir" (hal. 11) catatan kaki no. 1.
Kami jawab –semoga Alloh memaafkan-:
Seandainya tidak ada pada kitab Al Halabiy kecuali ini, niscaya itu cukup dalam
menjelaskan aqidah dia tentang masalah ini dan bahwasanya dia membatasi
kekufuran pada penentangan dan pendustaan semata. Kemudian apa perbedaan
antara komentar ini dengan ucapan pemilik kitab "Ihkamut Taqrir" -yang mana Al
Halabiy mengurusi pencetakannya- pada halaman 13: "Seorang muslim tidak
dikafirkan kecuali jika dia mendustakan Nabi tentang apa yang beliau bawa dan
beliau kabarkan, sama saja apakah pendustaannya itu berupa penentangan seperti
penentangan Iblis dan Fir'aun ataukah berupa pendustaan yang memang bermakna
pendustaan." Yang mana Al Halabiy menyatakan bahwasanya dia berlepas diri dari
pembahasan pemilik kitab "Ihkamut Taqrir" dan nampak padanya perkara kecil dan
besarnya. Maka di manakah berlepas dirinya itu, sementara dia mengulang apa yang
ditetapkannya dan mengulang apa yang ditekankannya?
Meskipun ucapan Al Halabiy bahwasanya dia berlepas diri itu juga tidak jelas,
karena ucapan dia sendiri: "Sesuai dengan apa yang diyakini oleh para ulama Islam
dan para tokoh pemimpin." Maka siapakah yang dimaksudkannya dengan mereka
itu? Apakah mereka itu yang dinukilkan di dalam "Ihkamut Taqrir" yaitu: Al Fakhrur
Roziy dan Al Ghozaliy? Ataukah para ulama Ahlissunnah? Maka ucapan dia itu global
dan butuh pada penjelasan.
Dan setelah ini, ini adalah sebagian dalil yang menunjukkan bahwasanya Al
Halabiy membatasi kekufuran pada penentangan dan pendustaan saja.

Faidah:
Ketahuilah –semoga Alloh memeliharamu- bahwasanya barangsiapa
membatasi kekufuran hanya pada penentangan dan pendustaan saja, maka
konsekuensinya adalah dia harus mengeluarkan amalan hati dari keimanan. Dan
ISNAD.Net H a l . 24

barangsiapa mengeluarkan amalan hati, maka dia harus mengikuti ucapan Jahm,
sebagaimana yang dikatakan oleh Syaikhul Islam ‫ رحمه اهلل‬: "Akan tetapi mereka –
yaitu murjiah- jika mereka tidak memasukkan amalan hati ke dalam iman, mereka
harus menerima ucapan Jahm. Dan jika mereka memasukkan amalan hati ke dalam
keimanan, mereka harus juga memasukkan amalan anggota badan, karena amalan
anggota badan itu menyertai amalan hati dan tidak terpisah darinya." (17)

Al Halabiy berkata dalam "Al Ajwibatul Mutalaimah" hal. 5: "Maka jika


dikatakan "amalan semuanya" maka ini adalah madzhab khowarij dan mu'tazilah
sebagaimana diketahui bersama." Selesai ucapan Al Halabiy.
Aku jawab -semoga Alloh memaafkan aku-:
Madzhab khowarij dan mu'tazilah adalah: mereka memandang bahwasanya
masing-masing amal adalah syarat dalam sohihnya iman. Adapun Ahlussunnah Wal
Jama'ah, mereka memandang bahwasanya jenis amalan itu adalah termasuk dari
keharusan keimanan hati sebagaimana telah lewat penukilannya dari Syaikhul Islam
Ibnu Taimiyyah ‫ رحمه اهلل‬. Dan ada perbedaan besar antara kedua madzhab ini.

Al Halabiy berkata dalam "Al Ajwibatul Mutalaimah" hal. 9: "Dan bab lain
dari penjelasan untuk aku katakan: sesungguhnya buah dari istilah ini –syarat sah-
dari sisi pengkafiran dan tidak adanya pengkafiran –menurutku- adalah benar-
benar ucapan Syaikhul Islam Muhammad bin Abdil Wahhab ‫ رحمه اهلل‬itu sendiri
sebagaimana dalam "Ad Durorus Saniyyah" (1/hal. 102/karya Ibnu Qosim) dan
"Tarikh Najd" (2/hal. 271/karya Ibnu Ghonnam): "… rukun Islam yang lima yang
pertama adalah dua syahadat, kemudian empat rukun jika orang itu mengakuinya
tapi meninggalkannya karena meremehkan, maka kami sekalipun kami
memeranginya agar dia mengerjakannya maka kami tidak mengkafirkannya
karena dia meninggalkannya. Dan para ulama berselisih tentang kafirnya orang
yang meninggalkannya –karena malas, bukan karena menentang-, dan kami tidak
mengkafirkan kecuali apa yang disepakati oleh para ulama –semuanya- yaitu dua
syahadat."
Selesai ucapan Al Halabiy.
Aku katakan –semoga Alloh memaafkan aku-:
Ucapan yang dinukilkan oleh Al Halabiy dari Syaikh Muhammad bin Abdil
Wahhab ‫ رحمه اهلل‬itu menguatkan untukmu –wahai pembaca yang mulia- apa yang
aku sebutkan terdahulu bahwasanya Al Halabiy tidak memandang jenis amalan
sebagai bagian dari keharusan keimanan hati, bahkan cukup baginya dua syahadat
bersama keyakinan hati. Dan dia mengira bahwasanya ucapan Syaikh Muhammad
bin Abdil Wahhab ‫ رحمه اهلل‬itu menunjukkan kepada yang demikian itu. Dia telah
salah menduga sebagaimana dia juga salah dalam memahami ucapan Syaikh, yang
mana dia menduga bahwasanya yang dimaukan oleh Syaikh ‫ رحمه اهلل‬dengan ucapan

(17)
"Majmu'ul Fatawa" (7/hal. 194).
ISNAD.Net H a l . 25

beliau: "... dan kami tidak mengkafirkan kecuali apa yang disepakati oleh para ulama
–semuanya- yaitu dua syahadat," yaitu kami tidak mengkafirkan kecuali orang yang
meninggalkan dua syahadat dan tidak datang dengan dua syahadat tersebut.
Pemahaman Al Halabiy terhadap ucapan tadi tidak benar, dan bukan pula hal
itu maksud dari Syaikh ‫رحمه اهلل‬. Bahkan yang dimaksudkan oleh Syaikh ‫ رحمه اهلل‬adalah
bahwasanya: beliau tidak mengkafirkan kecuali orang yang membatalkan dua
syahadat, sama saja: dengan ucapan ataukah dengan perbuatan. Dan ini diketahui
dari kitab-kitab beliau dan surat-surat beliau(18). Bahkan yang demikian adalah asal
dakwah beliau. Oleh karena itulah perkara terbesar yang dituduhkan kepada beliau
‫ رحمه اهلل‬adalah ucapan mereka bahwasanya beliau mengkafirkan muslimin yang
mengucapkan LA ILAHA ILLALLOH, melaksanakan sholat dan berpuasa.
Sebenarnya beliau itu ‫ رحمه اهلل‬hanyalah mengkafirkan orang-orang yang
menisbatkan diri kepada Islam, yang mendatangkan dua syahadat tapi mereka
membatalkannya dengan amalan mereka yang bersifat syirik, seperti doa kepada
orang-orang sholih, minta pada mereka untuk menghilangkan kesulitan,
menyembelih dan bernadzar untuk mereka, tidak seperti yang diduga oleh Al
Halabiy bahwasanya Syaikh ‫ رحمه اهلل‬tidak mengkafirkan kecuali orang yang
meninggalkan dua syahadat dan tidak mengucapkannya. Dan ini termasuk dari nash-
nash yang didatangkan oleh Al Halabiy yang mengandung lebih dari satu makna(19),
lalu dia membikin terbentuknya dugaan yang keliru dan kesamaran.

Al Halabiy berkata dalam "Al Ajwibatul Mutalaimah" hal. 9: "Dan bab yang
ketiga dari penjelasan, …
Kemudian dia menyebutkan ucapan Asy Syaikh Abdullathif bin Abdirrohman bin
Hasan Alisy Syaikh tentang iman dan kufur, …
Aku jawab –semoga Alloh memaafkan aku-:

(18)
Di antaranya adalah ucapan beliau dalam "Kasyfusy Syubuhat": "Hendaknya kita mengakhiri
pembicaraan dengan satu masalah yang agung yang penting, yang engkau memahaminya dengan
apa yang telah lalu, tapi kami menyendirikan pembicaraan ini karena keagungan kadarnya, dan
karena banyaknya kekeliruan di dalamnya. Kita katakan: tidak ada perselisihan bahwasanya tauhid
itu harus dengan hati, lidah dan amalan. Jika sedikit saja dari ini ada kecacatan, maka orang itu
bukanlah seorang muslim. Jika dia mengetahui tauhid tapi tidak mengamalkannya, maka dia itu
kafir pembangkang seperti Fir'aun, Iblis dan yang semisal dengan mereka."
(19)
Karena ucapan Asy Syaikh Muhammad bin Abdil Wahhab ‫ رحمه اهلل‬: "... dan kami tidak
mengkafirkan kecuali apa yang disepakati oleh para ulama –semuanya- yaitu dua syahadat,"
memungkinkan bahwasanya kufurnya orang itu karena dia meninggalkan dua syahadat atau
membatalkannya. Jika engkau berkata: "Bagaimana engkau tahu bahwasanya Al Halabiy
memaksudkan yang meninggalkan dua syahadat bukan yang membatalkannya?"
Aku jawab: karena Al Halabiy tidak memandang sedikitpun dari amalan yang membikin kafir itu
sebagai pembatal dengan sendirinya. Dan ini mengharuskan setiap orang yang membatasi
kekufuran pada penentangan dan pendustaan. Maka tidak tersisa kecuali kemungkinan yang
pertama, yaitu bahwasanya kekufuran itu terjadi karena meninggalkan dua syahadat.
ISNAD.Net H a l . 26

Yang dinukilkannya dari Asy Syaikh Abdullathif adalah ucapan yang kokoh,
akan tetapi di dalamnya ada kalimat-kalimat yang mengandung kemungkinan yang
bukan menjadi aqidah Asy Syaikh, disebutkan oleh Al Halabiy untuk membikin
dugaan yang keliru, yaitu ucapan Syaikh: "Dan perselisihan tentang amalan anggota
badan, apakah kufur ataukah tidak kufur? Ini terjadi di antara Ahlussunnah."
Terkadang dipahami dari ini bahwasanya yang dimaksudkan dengan amalan
anggota badan adalah jenis amalan anggota badan, sehingga ada orang yang
mengira bahwasanya di antara Ahlussunnah ada perselisihan tentang orang yang
meninggalkan jenis amalan, apakah dia itu kafir ataukah tidak kafir? Dan ini tidak
benar sama sekali, dan benar-benar tidak diinginkan oleh Syaikh, dengan dalil
bahwasanya beliau menyebutkan setelah ini kafirnya orang yang meninggalkan
salah satu pondasi Islam, bukan orang yang meinggalkan seluruh amalan. Dan
sebelum itu beliau menyebutkan ucapan beliau: "Dan jika suatu amalan itu hilang,
seperti sholat, haji, jihad bersama dengan tetap adanya pembenaran hati dan
penerimaannya, maka ini adalah tempat yang diperselisihkan: apakah iman itu
hilang secara keseluruhan jika dia meninggalkan salah satu rukun Islam seperti
sholat, haji, zakat dan puasa, ataukah tidak hilang?" selesai.
Maka seluruh pembicaraannya tidak ada di situ penyebutan jenis amalan(20).
Jika engkau mengetahui ini, maka sesungguhnya Al Halabiy menyebutkan
ucapan tadi untuk membikin dugaan yang keliru bagi orang yang tidak memahami
hakikatnya. Jika tidak demikian, maka sesungguhnya ucapan Al Imam Ibnul Qoyyim
dalam kitab "Ash Sholat" itu jauh lebih jelas daripada ini, maka kenapa dia
meninggalkannya? Padahal diketahui bahwasanya Asy Syaikh Abdullathif itu menukil
dari Ibnul Qoyyim ‫ رحمه اهلل‬. kepada Alloh kita mohon pertolongan.

Al Halabiy berkata dalam "Al Ajwibatul Mutalaimah" hal. 11: "Adapun apa
yang datang pada halaman 6 catatan kaki kedua, maka asalnya adalah ucapan Asy
Syaikh Abdullathif bin Abdirrohman bin Hasan Alisy Syaikh ‫ … رحمهم اهلل‬tentang
bahwasanya kekufuran itu ada dua macam: kufur amalan dan kufur penentangan
dan pembangkangan, … dst. Dan tidak ada tambahan ataupun penggabungan
ataupun komentar dariku." Selesai.
Aku jawab –semoga Alloh memaafkanku-:
Ini tidak benar, karena telah terjadi dari Al Halabiy komentar terhadap ucapan
ini, yang mana dia menyebutkan di bawahnya penukilan-penukilan dari Ibnu Hazm,
Ibnul Qoyyim dan Adz Dzahabiy –telah terdahulu ucapan tentang itu- dan dia
mengira bahwasanya mereka membatasi kekufuran pada penentangan, maka
(20)
Catatan Abu Fairuz –semoga Alloh membimbingnya-: Yaitu: Asy Syaikh Abdullathif
memaksudkan adanya perselisihan tentang orang yang meninggalkan salah satu dari individu
amalan yang menjadi pondasi Islam, bukannya orang yang meninggalkan jenis amalan. Kalau
tentang jenis amalan, maka orang yang meninggalkannya –yaitu meninggalkan amalan secara
keseluruhan, tinggal jenis keyakinan dan jenis ucapan saja misalkan, maka dia itu kafir tanpa ada
perselisihan di kalangan Ahlussunnah. Wallohu a'lam.
ISNAD.Net H a l . 27

bagaimana dia mengatakan bahwasanya dia tidak memberikan komentar


terhadapnya?
Kemudian sesungguhnya Al Halabiy tidak menyempurnakan penukilan dari
Asy Syaikh Abdullathif, bahkan dia mengambil apa yang diduganya mencocoki
madzhabnya yang membikin jatuh itu, dan meninggalkan ucapan beliau yang
menjelaskan madzhab yang benar. Silakan kalian baca ucapan Asy Syaikh Abdullathif
secara lengkap tanpa pemotongan:
Yang mana beliau ‫ رحمه اهلل‬berkata: (21)"Pertama: Dasar yang keempat: kufur
amalan dan kufur penentangan dan pembangkangan, yaitu dia mengingkari perkara
yang telah diketahui bahwasanya Rosululloh ‫ صلى اهلل عليه وسلم‬membawanya dari sisi
Alloh, yang berupa nama-nama Robb, sifat-sifat-Nya, perbuatan-Nya dan hukum-
hukum-Nya yang asalnya adalah tauhid-Nya, dan peribadatan kepada-Nya satu-
satunya tanpa sekutu bagi-Nya. [dan ini menentang keimanan dari segala sisi.
Adapun kufur amalan, maka di antaranya ada yang menentang keimanan seperti
sujud kepada patung, menghina mushaf, membunuh Nabi dan mencaci beliau] dan
seterusnya.
Yang di antara tanda kurung itu dihapus oleh Al Halabiy. Maka perhatikanlah
–wahai orang yang adil, semoga Alloh memeliharamu- bagaimana Asy Syaikh
Abdullathif mendefinisikan dua macam kekufuran - kufur amalan dan kufur
penentangan dan pembangkangan – kemudian al Halabiy mencukupkan diri dengan
penukilan pengenalan salah satu jenis yang mencocoki madzhabnya –yaitu kufur
penentangan dan pembangkangan – dan meninggalkan kufur amalan. Maka apa
yang akan kita katakan? Kepada Alloh saja kita minta pertolongan.

Al Halabiy berkata dalam "Al Ajwibatul Mutalaimah" hal. 12: "Dan


demikianlah Al Imam Ibnul Qoyyim dalam "Ash Showa'iqul Mursalah" (2/hal. 421).
Dan aku telah menukilkan semacam itu juga dari Al Imam Adz Dzahabiy dalam "Al
'Uluw" (hal. 214). Maka mana ucapanku? Dan di manakah pembatasan yang
kulakukan? Dan tidak ada kecuali penukilan-penukilan ilmiyyah ini!! Bahkan tidak
ada di dalamnya kata apapun (!) dari lafazhku ataupun lafazh yang lebih kecil dari
ucapanku!! Adapun Adz Dzahabiy dan Ibnul Qoyyim, maka keduanya adalah dua
imam yang salafiy dan bersih. Maka yang wajib adalah membawa ucapan
keduanya kepada yang dominan, bukan kepada pembatasan saja!!!
Kemudian kenapa penukilanku dari keduanya –dan itu adalah benar-benar
ucapan dan perkataan kedua- tidak dibawa kepada yang demikian itu juga, dan
itulah asalnya?"
Selesai ucapan Al Halabiy.
Aku jawab –semoga Alloh memaafkanku-:
Yang pertama: ucapan dia: (maka di manakah ucapanku?)

(21)
"Ad Durorus Saniyyah" (1/hal. 480).
ISNAD.Net H a l . 28

Jawabanku: sesungguhnya penukilanmu dari para imam tersebut, apa yang


dimaukan? Bukankah itu adalah apa yang engkau yakini dan dengannya engkau
menyembah Alloh?
Kedua: adapun ucapannya: (Dan di manakah pembatasan yang kulakukan?)
Jawabanku: telah lewat penunjukannya di hal. 36-38 dari risalah ini(22)
Ketiga: ucapan dia: (Dan tidak ada kecuali penukilan-penukilan ilmiyyah ini..).
Aku jawab: bukanlah yang terpandang itu penukilannya, akan tetapi yang
penting adalah pemahamannya. Penukilannya benar, tapi pemahamannya sakit.
Keempat: ucapannya: (Kemudian kenapa tidak dibawa penukilanku dari
keduanya …)
Aku jawab: Sesungguhnya kedua imam tersebut Ibnul Qoyyim dan Adz
Dzahabiy adalah dua salafiy yang telah dikenal dengan kesalafiyahannya dan
pertolongannya terhadap madzhab Ahlussunnah. Maka jika keduanya berbicara
secara global di suatu tempat, maka keduanya telah menerangkan perincian perkara
global tadi di tempat-tempat yang lain. Adapun Al Halabiy maka tidak dikenal
darinya kecuali pertolongannya untuk madzhab murjiah. Dan Al Halabiy
mengqiyaskan dirinya kepada kedua imam tadi adalah qiyas yang rusak karena
perbedaan asal dan cabangnya.
Yang kelima: sesungguhnya ucapan Ibnul Qoyyim yang disebutkan oleh Al
Halabiy dan nashnya adalah: "… maka barangsiapa menentang sedikit saja dari apa
yang dibawa oleh Rosul ‫ صلى اهلل عليه وسلم‬setelah dia mengetahuinya bahwasanya
beliau mendatangkan perkara tadi, maka orang ini kafir dalam perkara agama yang
kecil dan besarnya." Dan tidak ada di dalamnya pembatasan kekufuran pada
penentangan saja sebagaimana yang diduga oleh si penulis, hanya saja Ibnul
Qoyyim menjadikan penentangan sebagai salah satu sebab kekufuran, bukan
menghalangi bahwasanya yang lain juga bisa menyebabkan kekufuran.

Al Halabiy berkata dalam "Al Ajwibatul Mutalaimah" hal. 13: "Adapun sisi
kedua, maka aku katakan: aku telah menukilkan dalam "At Tahdzir" hal. 11 dari Al
'Allamah Asy Syaikh Abdurrohman As Sa'diy ‫ رحمه اهلل‬: "…Dan batasan kekufuran
yang mencakup seluruh jenisnya dan macamnya serta individunya ..." dan aku
telah mengomentarinya di sana dengan ucapanku: dengan berbaik sangka kepada
ulama, membawanya kepada kemungkinan yang terbaik."
Aku jawab –semoga Alloh memaafkanku-:
Yang pertama: Asy Syaikh Ibnu Sa'diy tidak butuh kepada baik sangka si
Halabiy kepada beliau ataupun kepada ucapan beliau yang dinukilnya dari beliau.
Tidak ada pada ucapan Asy Syaikh kemungkinan yang buruk sehingga harus
dibaiksangkai. Ibnu Sa'diy telah menjelaskan sebelum ucapan beliau yang dinukil
oleh Al Halabiy dari beliau bahwasanya beliau tidak membatasi kekufuran pada
penentangan. Dan berikut ini ucapan beliau secara lengkap tanpa dipotong:

(22)
Kata Abu Fairuz: dalam kitab aslinya: "Rof'ul Laimah."
ISNAD.Net H a l . 29

"Orang yang murtad adalah orang yang kafir setelah islamnya orang itu, dengan
ucapan atau perbuatan atau keyakinan atau keraguan. Dan batasan kekufuran yang
mencakup seluruh jenisnya … dst."
Yang kedua: ucapan Halabiy: (di manakah pembatasan?)
Aku jawab –semoga Alloh memaafkan aku-:
Yang menjelaskan adanya pembatasan –pada ucapan Al Halabiy- adalah
sebagai berikut:
1- Dia menukilkan ucapan Ibnu Sa'diy secara terpotong karena dia mengira
bahwasanya beliau mencocoki madzhab Al Halabiy yang berupa pembatasan
kekufuran dengan penentangan. Jika tidak demikian, kenapa dia berpaling dari awal
ucapan yang menjelaskan bahwasanya kekufuran itu dengan ucapan atau perbuatan
atau keyakinan atau keraguan?
2- bahwasanya Al Halabiy mengomentari penukilan tadi dengan ucapannya: "Karena
sesungguhnya orang yang telah tetap untuknya hukum Islam dengan keimanan
yang pasti, dia itu hanya keluar dari Islam dengan penentangan terhadapnya atau
pendustaan terhadapnya."
Maka katakan padaku –demi Robbmu- ini pembatasan atau apa? Apa perbedaan
antara ini dengan apa yang ditetapkan dalam "Ihkamut Taqrir" hal. 13: "Tidaklah dia
itu kafir kecuali jika dia mendustakan Nabi tentang apa yang beliau bawa dan beliau
kabarkan, sama saja apakah pendustaannya itu berupa penentangan seperti
penentangan Iblis dan Fir'aun ataukah berupa pendustaan yang memang bermakna
pendustaan."
3- Ucapan dia: "Adapun jika dia itu ragu atau membangkang atau berpaling atau
munafiq, maka sungguh dia itu pada asalnya bukanlah mukmin." Seakan-akan
keraguan atau pembangkangan atau keberpalingan atau kemunafiqan itu tidak
datang setelah adanya keimanan, tapi yang datang itu hanyalah penentangan dan
pendustaan. Maka kembalilah perkaranya kepada bahwasanya kekufuran itu tidak
terjadi kecuali dengan dua perkara tadi –yaitu: penentangan dan pendustaan-.

Adapun ucapannya pada halaman 13: "Dan aku tambahkan –di sini- penjelas
yang lebih banyak dan lebih banyak lagi, … -sampai pada ucapan dia:- terkadang
datang pada sebagian muslimin keraguan atau pembangkangan, atau …, atau …
sampai akhir dari perkara yang terkadang dengan itu mereka keluar dari agama
Islam, …"
Aku jawab:
Al Halabiy tidak ingin mengakui kesalahannya dan bahwasanya Lajnah itu
benar dalam kritikannya kepadanya, maka dirinya membikin pengkaburan dengan
ucapan. Maka Lajnah Daimah ketika mengkritik, mereka itu hanyalah mengkritik dia
kitab yaitu: "At Tahdzir Min Fitnatit Takfir" dan "Shoihatu Nadzir Bi Khothorit Takfir"
dan Lajnah tidaklah mengkritik risalah "Al Ajwibatul Mutalaimah." Maka perbaikan
kesalahan yang dikakukannya dalam bantahannya ini -"Al Ajwibatul Mutalaimah"-
atau menambahi di dalamnya dengan sesuatu, maka tidaklah ini bermakna
ISNAD.Net H a l . 30

bahwasanya Lajnah itu keliru dalam kritikan mereka terhadapnya. Maka orang yang
adil akan berkata: "Iya, aku keliru pada sisi ini. Dan yang benar adalah demikian dan
demikian, …" kemudian dia menulis apa yang ingin diperbaikinya. Adapun
menentang perkara yang sangat jelas dan berbelit-belit serta berkelit, maka ini
bukanlah jalan pencari kebenaran. Ini hanyalah jalan pengekor hawa nafsu. Kita
mohon pada Alloh keselamatan.

Adapun ucapan dia di halaman 14 tentang pembagian kekufuran menurut


Ibnul Qoyyim: "Maka apa yang akan kita katakan? Dan akan kembali kemana? Dan
apa sisi argumentasinya?"
Aku jawab –semoga Alloh memaafkan aku-:
Yang pertama: ada perbedaan antara jenis kekufuran dan sebab kekufuran.
Maka jenis kekufuran itu banyak dan telah dikenal, seperti kekufuran penentangan
dan pendustaan, kekufuran keberpalingan, kekufuran kesombongan, dan kekufuran
kemunafiqan.
Adapun sebab-sebab kekufuran itu tidak keluar dari ucapan, atau amalan,
atau keyakinan, yang syariat menetapkan bahwasanya dia itu adalah kekufuran yang
mengeluarkan dari agama. Dan yang terpandang dalam hukum hanyalah sebab-
sebabnya, bukan jenis-jenisnya. Jenis-jenis kekufuran itu disebutkan hanya sebagai
tafsir saja.
Yang kedua: kita katakan: sesungguhnya pembagian ini datang dengannya
seorang imam salafiy yang memandang bahwasanya keimanan itu adalah ucapan
dan perbuatan, dan bahwasanya kekufuran itu terjadi dengan amalan sebagaimana
bisa terjadi dengan keyakinan. Lihatlah ketika beliau ‫ رحمه اهلل‬berkata dalam kitab
"Ash Sholah" hal. 51: "Di sana ada dasar yang lain, yaitu sesungguhnya kekufuran itu
ada dua macam: kufur amal, dan kufur penentangan dan pembangkangan. Dan dia
itu –yaitu kufur penentangan-: seseorang mengingkari –dengan menentang dan
membangkang-perkara yang telah diketahuinya bahwasanya Rosululloh ‫صلى اهلل عليه‬
‫ وسلم‬membawanya dari sisi Alloh, yang berupa nama-nama Robb, sifat-sifat-Nya,
perbuatan-Nya dan hukum-hukum-Nya. Dan ini adalah kekufuran yang menentang
keimanan dari segala sisi. Adapun kekufuran amalan itu terbagi menjadi amalan
yang menentang keimanan, dan amalan yang tidak menentang keimanan, … dst."
Dan akan datang ucapan ini dengan lengkap insya Alloh. Maka jika ucapan
beliau ada kesamaran di suatu tempat, kita kembalikan kepada ucapan beliau yang
jelas sehingga menjadi jelaslah hukumnya dari madzhab imam ini. Lagi pula
pembagian beliau ini jelas –alhamdulillah- bahwasanya beliau tidak membatasi
kekufuran pada penentangan saja, yang mana beliau ‫ رحمه اهلل‬berkata sebagaimana
yang dinukilkan oleh Al Halabiy dalam pembagian kekufuran: "Pertama: kekufuran
yang muncul dari kebodohan, kesesatan, dan membebek para pendahulu."
kekufuran yang muncul dari kebodohan itu tidak ada di dalamnya
penentangan ataupun pendustaan –sekalipun mengharuskan adanya hal itu dan
tidak muncul kecuali dengan itu-, karena kebodohan itu adalah kosongnya jiwa dari
ISNAD.Net H a l . 31

ilmu. Maka orang ini tidak mengetahui sedikitpun sampai menentangnya atau
mendustakannya.
Dan membebek kepada pendahulu itu tidak mengharuskan adanya
pendustaan ataupun penentangan. Dalilnya adalah: bahwasanya Abu Tholib tidaklah
mendustakan Nabi ‫ صلى اهلل عليه وسلم‬. dia itulah yang berkata: "Mereka telah
mengetahui bahwasanya anak kami tidak didustakan di sisi kami, dan dia tidak
bermaksud berkata batil." Akan tetapi yang menghalangi dia beriman adalah karena
dia membebek kepada para pendahulunya, dan marah demi agama kaumnya. Maka
apakah ada satu orang dari Ahlussunnah yang meragukan kekafirannya?
Beliau ‫ رحمه اهلل‬juga berkata: "Ketiga: kekufuran keberpalingan yang murni."
Dan keberpalingan itu adalah dengan hatinya dan dengan pendengarannya,
sebagaimana beliau sendiri menyebutkan dalam "Madarijus Salikin" (1/hal. 366-267)
yang mana beliau berkata: "Adapun kekufuran keberpalingan adalah: orang itu
berpaling dengan pendengarannya dan dengan hatinya dari Rosul ‫ صلى اهلل عليه وسلم‬.
dia tidak membenarkan beliau dan tidak pula mendustakan beliau, tidak berloyalitas
pada beliau dan tidak pula memusuhi beliau. Dia tidak mencondongkan
pendengarannya pada apa yang beliau bawa sama sekali, …dst." Orang yang
berpaling ini tidak membenarkan, tidak pula mendustakan, tidak berloyalitas, dan
tidak pula memusuhi, tidak menentang dan tidak pula menyetujui.
Maka inilah pembagian tersebut, dan inilah yang menjadi rujukan, dan inilah
sisi yang benar. Maka apakah engkau melihat di dalamnya ada pembatasan
kekufuran pada penentangan atau pendustaan?

Al Halabiy berkata dalam "Al Ajwibatul Mutalaimah" (hal. 14): "Kemudian


dari bab yang lain: apakah Al 'Allamah As Salafiy Ibnu Sa'diy ‫ رحمه اهلل‬dituduh
mencocoki aqidah irja atau mencocoki murjiah? Atau apa?"
Aku jawab –semoga Alloh memaafkan aku-:
Inilah dia teror yang dipakai oleh kaum Quroisy terhadap Nabi ‫صلى اهلل عليه وسلم‬
ketika mereka berkata kepada beliau: "Apakah engkau lebih baik ataukah ayahmu
Abdulloh? Apakah engkau lebih baik ataukah kakekmu Abdul Muththolib?" terus-
menerus teror macam ini dipakai untuk mengharuskan para penyelisih mengikuti
apa yang tidak menjadi keharusan.
Aku ulang-ulang lagi, bahwasanya cacat yang terjadi itu bukan pada perkataan
yang dinukilnya, akan tetapi cacatnya adalah penukilannya dan pemahamannya. Al
Halabiy menukilkan dengan penukilan-penukilan yang terpotong-potong yang
lemah, dan berkata: "Ini adalah ucapan fulan, dan ini adalah aqidah fulan." Soalnya
jika tidak demikian, telah kita lewati bahwasanya Al Halabiy memotong ucapan As
Sa'diy ‫ رحمه اهلل‬dan mengambil dari ucapan beliau apa yang mencocoki dirinya dan
meninggalkan apa yang menyelisihinya. Dan setiap ucapan yang jelas itu jika
dipotong, berubahlah maknanya. Bahkan bisa jadi maknanya akan menentang apa
yang dimaukan. Tidakkah engkau melihat firman Alloh ‫ عز وجل‬:
ISNAD.Net H a l . 32

ِ ِ
]5 ،4 :‫ون﴾ [اداعون‬ ُ ‫لن ُه ْم َع ْن َص َا ِِتِ ْم َس‬
َ ‫اه‬ َ ‫ني * ا َلذ‬
َ ‫﴿ َف َو ْل ٌل ل ْل ُم َص ِل‬
"Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang sholat. Yaitu orang-orang yang lalai
dari sholatnya."
Seandainya sang pembaca berhenti pada firman Alloh ta'ala: "Maka
kecelakaanlah bagi orang-orang yang sholat " bagaimana jadinya maknanya?
Berapa banyaknya orang yang mencela ucapan yang benar, sementaranya
penyakitnya adalah dari pemahaman yang sakit.

(selesai terjemah bagian pertama dari risalah ini, insya Alloh dilanjutkan ke seri dua)