Anda di halaman 1dari 10

Menata Kepribadian Anak

11/06/2007 - 14:05:23 | Read 345 Time(s)

"" KEPRIBADIAN dalam diri individu, baik ataupun buruk, dibentuk oleh beberapa factor. Menurut
Roucek dan Warren, ... ""

KEPRIBADIAN dalam diri individu, baik ataupun buruk, dibentuk oleh beberapa factor. Menurut
Roucek dan Warren, sosiolog Amerika, ada tiga faktor manpengaruhi pembentukan kepribadian
seorang individu, yaitu faktor biologis/fisik, psikologi/kejiwaan, dan sosiologi/lingkungan.

Faktor biologi s/fisik adalah suatu faktor yang timbul secara lahiriah di dalam diri seorang individu.
Contoh, seseorang yang dilahirkan dengan cacat fisik atau penampilannya kurang ideal, pasti ia akan
rendah diri, pemalu, sukar bergaul, dan sifat minder lainnya. Ataupun sebaliknya.

Menurutg ssosiolog itu, faktor psikologi/ejiwaan, adalah suatu factor yang membentuk suatu
kepribadian yang ditunjang dari berbagai watak, seperti, pemarah, pemalu, agresif, dan lain-lain.
Contoh, temperamen pemarah jika dipaksa atau didesak untuk melakukan sasuatu yang tidak ia sukai,
maka akan memuncak amarahnya.

Faktor sosiologi/lingkungan, adalah suatu faktor yang membentuk kepribadian seorang individu sesuai
dengan kenyataan yang nampak pada kehidupan kelompok atau lingkungan masyarakat sekitarnya
tempat ia berpijak. Contoh, seseorang yang lahir di lingkungan yang penuh solidaritas, pasti orang
tersebut akan mempunyai kepribadian solider atau sikap pengertian terhadap sesama.

Ada pepatah mengatakan, “Jika kita hidup di kehidupan yang nyata dan jika menyelaminya pasti akan
terbawa arus”. Jadi, jika seseorang hidup dalam beberapa factor pendukung pembentukan kepribadian
tersebut, baik faktor tersebut memenuhi syarat maupun tidak, pasti sangat berdampak pada
terbentuknya kepribadian individu tersebut.

Lingkungan Pertama Utama


Dalam keadaan normal, lingkungan pertama yang berhubungan dengan anak adalah orang tua, saudara-
saudara, serta mungkin kerabat dekat yang tinggal serumah. Melalui lingkungan pertama, anak
mengenal dunia sekitar dan pola pergaulan sehari-hari.

Agar proses sosialisasi dan pembentukan kepribadian anak menjadi baik, lingkungan pertama,
khususnya orang tua, harus mengusahakan agar anak-anaknya selalu dekat dengan orang tua;
memberikan pengawasan dan pengendalian yang wajar, sehingga jiwa anak tidak merasa tertekan;
mendorong anak agar dapat membedakan yang benar dan salah, yang baik dan buruk, yang pantas dan
tidak pantas; memperlakukan anak dengan baik; dan menasihati anak-anak jika melakukan kesalahan
atau kekeliruan

Berhati-hatilah dalam membimbing anak. Sebab, apabila terjadi sesuatu yang berbeda dengan hal-hal
itu, anak-anak akan mengalami kekecewaan. Sebuah kekecewaan yang bisa jadi begitu mendalam.
Rasa kecewa ini bisa terjadi lantaran orang tua kurang memperhatikan anak-anaknya, karena terlalu
sibuk; orang tua terlalu memaksakan kehendak dan gagasannya kepada anak dengan ancaman sanksi,
sehingga akan dirasakan oleh anak cukup berat, dan akhirnya anak akan menjadi tertekan jiwanya

Teman Bermain
Dalam lingkungan bermain, seorang anak belajar berinteraksi dengan orangorang yang sebaya. Pada
tahap ini anak mempelajari aturan-aturan yang mengatur orang-orang yang kedudukannya sederajat.
Dalam kelompok teman bermain ini anak mulai mempelajari nilai-nilai keadilan. Pada usia remaja,
kelompok sepermainan itu berkembang menjadi persahabatan yang luas. Perkembangan itu, antara
lain, disebabkan oleh remaja yang bertambah luas ruang lingkup pergaulannya, baik di sekolah maupun
di luar sekolah.

Peranan positif dari kelompok persahabatan bagi perkembangan kepribadian remaja adalah mereka
merasa aman dan merasa dianggap penting dalam kelompok persahabatan; dapat tumbuh dengan baik
dalam kelompok persahabatan; mendapat tempat yang baik bagi penyaluran rasa kecewa, takut,
khawatir, tertekan, gembira, dsb, yang mungkin tidak didapatkan di rumah.

Selain itu, mereka dapat mengembangkan keterampilan-keterampilan sosial yang berguna bagi
kehidupan kelak; dan dapat bersikap dewasa karena pada umumnya kelompok ini mempunyai pola
perilaku dan kaidah-kaidah tertentu.

Disamping peranan positif, ada pula kemungkinan timbulnya peranan negatif. Misal, melalui kelompok
persahabatan yang dinamakan geng. Geng adalah kelompok sosial yang mempunyai kegemaran
berkelahi atau membuat keributan. Bahkan tak jarang mereka terbuai oleh minuman keras dan obat
terlarang. Kemungkinan terjadinya peran negatf senantasa harus ducegah, baik dari orang tua, guru dan
siapa saja yang merasa bertanggung jawab atas masa depan yang baik dan benar bagi para remaja.

Sosialisasi Sekolah
Sekolah adalah tempat anak mempelajari hal-hal yang baru dan mulai membentuk suatu kepribadian
pada diri mereka. Di sekolah, seorang siswa akan mendapatkan pengajaran dan keterampilan yang
bersifat positif. Tetapi, lingkungan sekolah yang kurang baik justru akan dapat mempersubur proses
pengembangan kepribadian anak yang bersifat negatif.

Tidak semua sekolah memiliki kemampuan untuk melaksanakan proses pembekalan dalam anak
didiknya dengan baik. Karenanya, selain guru, dalam proses pendidikan peran orang tua sangat besar.
Mereka dapat mempengaruhi dan membentuk pola kepribadian anak yang mandiri serta dapat
memberikan motivasi dan dorongan dalam meraih keberhasilan.

Kepribadian seorang anak akan mulai terbentuk permanen setelah mereka memasuki usia remaja di
umur 17 tahun. Pada umur itu biasanya mereka akan mulai mempunyai sikap tertentu. Selain
kepribadian mulai terbentuk, mereka mulai memiliki jiwa berani. Misalnya, mulai berani memberikan
kritik apabila menemui keadaan yang kurang memuaskan pada diri mereka. Dan mereka mulai
menyukai lawan jenis mereka.

Sebagai tambahan, fungsi pendidikan sekolah sebagai media pembentukan kepribadian, antara lain
mengembangkan potensi anak untuk mengenal kemampuan dan bakatnya; melestarikan kebudayaan
dengan cara mewariskanya dari generasi ke generasi; merangsang partisipasi demokrasi melalui
pengajaran keterampilan berbicara; memperkaya kehidupan dengan menciptakan cakrawala intelektual;
menciptakan warga negara yang mencintai tanah air, menunjang integritasi antarsuku dan antarbudaya;
mengadakan hiburan umum.

Lingkungan Kerja
Lingkungan kerja mempunyai pengaruh yang sangat besar pada pembentukan kepribadian seseorang.
Pengaruh dari lingkungan kerja tersebut pada umumnya mengendap dalam diri seseorang dan sukar
sekali untuk diubah. Apalagi yang bersangkutan lama bekerja di lingkungan tersebut. Seseorang lama
bekerja di lingkungan kerja tertentu kemudian pindah kerja di lingkungan yang baru, maka dia akan
mengalami kesulitan untuk menyesuaikan diri terhadap lingkungan baru tersebut.

Lingkungan kerja tertentu sering kali menimbulkan konflik batin, yakni mana yang harus diutamakan
antara nilai kedinasan dengan nilai karir yang tidak selalu identik. Proses kepribadian di dalam
pekerjaan berjalan secara formal. Pekerjaan formal mempersiapkan seseorang untuk menguasai peran-
peran baru di kemudian hari, saat seseorang tak lagi tergantung pada orang tuanya.

Fungsi pekerjaan sebagai media kepribadian adalah penguasaan diri dari proses melatih penguasaan
emosional; memahami, mengerti dan menjalankan nilai-nilai yang diantaranya nilai kerja sama,
kemanusiaan, nilai etis dan estetis, sehingga mampu menjalankan tugas dalam hidup bekerja.

Penulis: wartaplus
Kunci proses pengembangan diri adalah mengenal diri sendiri. Ini tidak hanya berlaku bagi
keberhasilan di bidang karier, melainkan juga di berbagai bidang kehidupan lainnya, termasuk
keluarga, sosial masyarakat, dan spiritual.

Dengan mengenal diri sendiri, seseorang mengetahui apa yang mesti jadi tujuan hidupnya. Ia menyadari
kemampuan dan bakat-bakatnya serta tahu bagaimana menggunakannya demi mencapai tujuan tersebut. Dengan
demikian ia lebih mampu menemukan makna dan kepenuhan dari hidupnya.

Jawablah dengan jujur, apakah anda benar-benar mengenal diri anda sendiri?

Ada banyak metode mengenal diri. Salah satunya adalah dengan mengisi kuisioner.
Apa pun bentuk metode yang dipilih, tuntutan dasarnya adalah seseorang harus jujur pada dirinya
sendiri. Ambil contoh ringan, banyak orang tidak jujur saat mengisi kuisioner mengenai dirinya,
terlebih lagi bila hasil kuisioner tersebut dinilai oleh pihak lain.
Mereka mengira dengan menulis jawaban yang ideal, mereka akan mendapatkan hasil penilaian yang
baik, padahal mereka sedang membohongi diri mereka sendiri, yang justru mengagalkan proses
pengembangan diri. Penyebab utamanya adalah karena banyak orang bersikap untuk memenuhi
harapan orang lain.
Ketidakjujuran dan ketidakmampuan untuk bersikap apa adanya membuat mereka tidak menjadi diri
mereka sendiri.

Apakah anda jujur pada diri anda sendiri?

Seringkali menjadi jujur pada diri sendiri terasa menyakitkan.


Banyak orang merasa mandek dalam kariernya. Mereka menganggap orang lain dan lingkungan
sebagai sumber kegagalan. Mereka mengingkari bahwa penyebabnya justru berasal dari dalam diri
mereka sendiri. Di lain pihak, seringkali pula orang tidak mampu jujur pada diri sendiri karena salah
dalam memahami keberhasilan yang sedang diraihnya. Banyak orang berhasil lalu mengira mampu
melakukan apa saja.
Mereka mengembangkan kedua belah lengannya lebar-lebar dan menyangka akan berhasil di semua
hal. Mereka tak mau mengakui bahwa ada batas-batas yang tak mungkin dilalui. Jujur pada diri sendiri
adalah bersedia untuk menerima segala sesuatu apa adanya. Mengenali diri sendiri adalah belajar untuk
menilai dan memahami diri sendiri dengan pikiran jernih tanpa
dibebani dengan prasangka, harapan, ketakutan dan perasaan-perasaan lain.

Maukah anda memaafkan segala sesuatu yang telah terjadi, dan menerima sebagaimana adanya dengan
hati lapang?
Mengenal diri sendiri bukan sekedar mengenal nama, alamat, usia, dan apa-apa yang tercantum dalam
curiculum vitae. Mengenal diri sendiri adalah proses dan hubungan timbal balik antara seseorang
dengan dirinya sendiri.
Dalam kehidupan sehari-hari, orang terbiasa untuk berhubungan dengan orang lain. Mereka
mengembangkan berbagai cara komunikasi efektif dengan orang lain demi tercapainya tujuan.
Demikian pula halnya dengan belajar mengenal diri sendiri, seseorang harus mengembangkan bentuk
komunikasi timbal balik yang baik dengan dirinya sendiri. Mereka harus menumbuhkan
kemampuan untuk melihat dan mendengar apa yang dikatakan oleh dirinya sendiri agar mampu
memahaminya dengan baik. Proses ini adalah ketrampilan yang harus diasah terus-menerus. Pada
awalnya selalu terasa berat, karena sebelum bertindak seseorang harus mengkomunikasikannya terlebih
dahulu dengan dirinya sendiri, "apakah ini adalah sesuatu yang sesuai dengan diri saya? apakah ini
benar-benar menjadi keinginan diri saya?"
Dengan kata lain proses mengenal diri sendiri adalah proses membangkitkan kesadaran diri. Dan,
bagian terberat dalam proses ini adalah belajar untuk disiplin.

Apakah anda sanggup melakukan disiplin diri?


Salah satu bentuk disiplin yang menuntun pada pengenalan diri adalah mengamati diri secara cermat -
mengamati setiap perasaan, pikiran, harapan, keinginan, kegembiraan dan lain-lain yang terjadi dalam
diri sendiri. Para spiritualis biasa melakukan ini dengan bermeditasi, khusyu',
mengheningkan cipta, atau berbagai istilah lain.
Pengamatan ini menumbuhkan kesadaran yang lebih tenang, yang mampu melihat secara jernih pikiran
dan perasaan yang sedang terjadi, kemampuan, bakat dan ketrampilan yang dimiliki, kekuatan dan
kesempatan untuk menggunakan semua pikiran, perasaan, kemampuan, bakat dan ketrampilan itu
untuk sebaik-baiknya kehidupan karier.
Pengamatan diri ini dapat dilakukan di setiap saat sembari melakukan kegiatan sehari-hari.
Justru dalam kegiatan sehari-hari itulah seseorang berkesempatan untuk menyadari betapa banyak
gejolak pikiran, perasaan yang muncul silih berganti.

Apakah anda bersedia menjadi diri anda sendiri?

Banyak orang mengaburkan arti menjadi "diri sendiri" dengan "semaunya sendiri".
Menjadi diri sendiri melalui proses mengenal diri adalah menumbuhkan pengendalian diri karena
dalam mengembangkan dirinya seseorang harus senantiasa berjalan pada potensi-potensi yang
dianugerahkan padanya.
Selain itu, banyak orang menjadi apa yang dikatakan orang lain dan menganggapnya itu sesuai dengan
dirinya.
Yang perlu disadari adalah bahwa setiap orang itu berbeda dan unik.
Tak ada orang yang sama. Mereka dianugerahi kemampuan, potensi dan bakat yang berbeda-beda.
Tugas manusia adalah menggunakan semua itu untuk kemajuan kehidupan ini.
Tujuan mengenal diri untuk pengembangan karir adalah mengenal apa potensi-potensi, bakat-bakat,
kemampuan dan ketrampilan yang ada pada diri agar bisa digunakan untuk kemajuan karir. Selain itu,
mengenal diri akan menumbuhkan kesadaran dan pengendalian diri, suatu bentuk pengembangan emosi
dan spiritual yang dibutuhkan untuk mengiringi langkah
kemajuan karir.

KEGIATAN ALTERNATIF

Ambil waktu senggang, carilah suasana tenang. Persiapkan diri anda untuk
melakukan kegiatan ini. Mungkin kegiatan ini akan berlangsung selama 30
menit atau lebih.
Dalam melaksanakan kegiatan ini bersikaplah seperti menonton film
kehidupan anda. Jangan biarkan emosi anda terlibat.
Berusahalah untuk menerima apa yang telah terjadi. Bila anda bermaksud
menafsirkan apa yang mungkin terlintas dalam kegiatan ini, maka anggaplah
bahwa tidak ada sesuatu pun yang sia-sia, selalu bertujuan, dan baik bagi
pengembangan diri.

1--Ambillah secarik kertas, tuliskan nama, tempat dan tanggal lahir, dan
data pribadi anda lain yang patut anda ketahui. Mampukah anda mengenal
diri anda melalui data-data yang anda tulis sendiri sembari melepaskan
segala harapan-harapan, ketakutan dan kecemasan yang mungkin pernah
ditanamkan dalam benak anda? Mampukah anda melihat diri anda melalui
data-data yang anda tulis dengan cara pandang yang polos dan sederhana?
Apakah anda bisa menyadari bagaimana kepribadian yang biasa anda kenakan
dalam kehidupan sehari-hari?

2--Kini tuliskan riwayat pekerjaan anda. Anda bisa memulainya dari awal
atau akhir. Yang penting adalah anda mampu melihat seluruh riwayat
pekerjaan anda secara utuh.
Mungkin di saat menulis itu, anda teringat pada hal-hal yang menyenangkan
atau menyedihkan. Biarkan saja. Sekali lagi, pandanglah catatan riwayat
pekerjaan anda sesederhana mungkin. Tetapi amati setiap kecenderungan
yang muncul yang menerbitkan kegembiraan dalam pekerjaan anda.

3--Tuliskan riwayat pendidikan anda, sejak kecil hingga sekarang.


Tuliskan pula ketrampilan dan hal-hal apa yang pernah anda pelajari.
Sebagian mungkin semakin terasah. Sebagian lain terlupakan. Lihatlah
seluruh riwayat pendidikan dan pengajaran anda secara utuh. Amati setiap
kecenderungan yang membuat hidup anda terasa menyenangkan.
Apakah anda mampu menemukan hubungan antara pendidikan anda dengan
pekerjaan anda sekarang?

4--Cobalah menulis kegiatan-kegiatan yang anda lakukan.


Biasanya itu adalah kegiatan yang menyenangkan dan membuat hidup terasa
penuh gairah.
Bisa berupa hobi, petualangan, organisasi sosial, agama, seni, olahraga,
dan lain-lain. Apakah anda menemukan hubungan antara kegiatan-kegiatan ini
dengan pekerjaan dan karir anda sekarang?

5--Lihatlah diri anda kini secara utuh, sekali lagi dengan pandangan yang
polos dan sederhana (tanpa dibebani harapan akan masa depan dan
penyesalan pada masa lalu), mampukah anda menemukan diri anda sekarang
sebagai sebuah simpul dari benang- benang masa lalu? Bisakah anda
menemukan hubungan dari semua ini?
Berjalan di atas potensi dan bakat diri selalu berkaitan erat dengan
kebahagiaan dan gairah hidup. Bila anda benar-benar mengerjakan sesuatu
yang sesuai dengan potensi dan bakat, anda akan menemukan kegembiraan dan
energi yang luar biasa besar. Kegiatan di atas hanya selembar kegiatan
alternatif untuk mengenal titik-titik potensi yang memicu kebahagiaan
dalam diri (bila sekarang anda masih bisa merasakan gairah atas kegiatan
anda di masa lalu, maka itu adalah gairah yang muncul dari potensi diri
anda.)
Tentu takkan cukup lima point kegiatan di atas untuk benar-benar mengenal
diri, karena mengenal diri adalah proses yang terus berjalan - bahkan
hingga akhir hayat. Namun setidaknya, dengan sedikit demi sedikit menguak
apa yang ada dalam diri, anda akan menemukan sesuatu hal aturan
sederhana: bahwa hanya dengan menjadi diri sendirilah seseorang menemukan
kebahagiaan sejatinya.
Dan, pengembangan diri semestinya bertujuan untuk menemukan kebahagiaan
diri yang sejati, bukan yang lain.
Perbedaan Konsep Diri antara Siswa Pria dan Siswa Wanita pada SMU
Naurah
Abstract : This research was arranged to understand the self student concept between male and female
students in SMUN 14 Makassar. The sample was taken from male and female student’s self concept. By
limitation of finding budget and time, the sample was gathered just 66 respondents, 33 respondents from
male and female respectively. The instrument used in the form of inventory to find all data about male and
female student’s self concept. Based on the result, there are some differences between male and female
stedent’s self concept in SMUN 14 Makassar.
Kata kunci : perbedaan, konsep diri pria, konsep diri wanita
Dalam perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang semakin maju, tumpuan potensi
pembangunan tidak lagi bersumber pada potensi sumber daya alam melainkan semakin bergeser
pada sumber daya manusia. Indikator mutu pendidikan khususnya pada tingkat SMU, tidaklah
hanya melihat nilai yang diperoleh siswa melalui buku rapor atau NEM, melainkan juga melihat
apakah telah terbentuk sikap dan perilaku yang mencerminkan kepribadian siswa yang
tercantum dalam rumusan tujuan umum pendidikan nasional yang mengandung tiga aspek,
yakni: (1) kognitif, (2) affektif, (3) psikomotor. Dengan demikian proses belajar mengajar
diharapkan dapat mengembangkan ketiga aspek di atas. Proses belajar mengajar yang
memperhitungkan keseimbangan diantara ketiga aspek itu akan melahirkan siswa yang
berpengalaman dan terampil serta menampilkan sikap yang sesuai dengan norma dan aturan
yang berlaku baik di sekolah maupun di lingkungan masyarakat yang lebih luas.
Di sekolah kadangkala dijumpai siswa yang tidak merasa puas dengan nilai yang diperoleh, merasa
dianaktirikan oleh guru, tidak dapat menjalin hubungan akrab dengan teman di kelasnya, dan tidak dapat
mengemukakan pendapatnya dalam diskusi. Kenyataan ini menimbulkan pertanyaan apakah dalam proses
belajar mengajar di sekolah sekarang ini mengalami kepincangan dalam aspek yang menjadi tujuan. Yang jelas
kurikulum sekolah sudah cukup ideal dan guru-guru pun telah dipersiapkan dengan matang untuk
mengembangkan kepribadian siswa dalam proses belajar mengajar sebagaimana yang telah digariskan dalam
GBHN bahwa ….

Sejalan dengan itu perlu dikembangkan iklim mengajar yang dapat menumbuhkan rasa percaya diri serta sikap
dan perilaku yang inovatif dan kreatif …. (1989 : 149).
Jelaslah bahwa kepribadian siswa perlu mendapat perhatian untuk dikembangkan dalam proses belajar
mengajar, termasuk konsep diri karena konsep diri merupakan konsep inti dari kepribadian sebagaimana
dikemukakan oleh La Sulo (1981).
Siswa-siswa sekolah menengah merupakan masa remaja yang perlu mendapat penanganan yang serius
sebagai generasi penerus bangsa. Sebab pada masa inilah konsep diri sedang berkembang dan merupakan dasar
bagi perkembangan fase dewasa. Seperti yang dikemukakan oleh Erick Erikson yang dikutip oleh La Sulo yang
menyatakan bahwa remaja dihadapkan kepada tugas mengembangkan konsep diri yang dapat diterima, stabil dan
fungsional. Mereka yang berhasil akan membangun kesadaran identitas dan yang gagal akan menderita
kekacauan peranan (role confusion).
Siswa yang mempunyai konsep diri yang tinggi akan menggunakan segala potensi dan kemampuannya
seoptimal mungkin dengan jalan mengikuti proses belajar mengajar dengan baik, mengadakan hubungan baik
dengan teman sekelasnya yang dapat mempengaruhi kegiatan belajarnya. Siswa yang mempunyai konsep diri
yang rendah tidak akan menggunakan potensi dan kemampuannya dengan optimal karena mereka tidak
memahami segala potensinya sehingga menimbulkan sifat mengganggu teman, memperolok-olokkan guru dan
sengaja mencari perhatian yang dapat menyebabkan proses belajar mengajar terganggu.
Hampir di semua kesempatan kaum pria lebih banyak menguasai potensi baik potensi alam maupun
manusia. Hal ini dapat diterjemahkan bahwa kaum pria memiliki kekuasaan lebih besar ketimbang kaum wanita.
Namun arti kekuasaan tidak selamanya sama dengan peranan jika dilihat dalam konteks kemanusiaan khususnya
dalam pelestarian dan penciptaan jati diri manusia yang hakiki.
Secara lahiriah (kodrat) terdapat banyak perbedaan antara pria dan wanita sejak lahir maupun dalam
pertumbuhan dan perkembangannya. Dalam hubungan ini, wanita lebih sering dilihat dari sisi fisik, misalnya
kecantikan, sedangkan pria dilihat dari sisi kegagahan. Tak dapat dihindari, kaum pria menempatkan kaum
wanita pada posisi tertentu, demikian pula kaum wanita menempatkan kaum pria pada posisi tertentu pula.
Penempatan posisi semacam ini tidak terlepas dari faktor penerimaan terhadap diri seseorang khususnya
penerimaan terhadap lawan jenisnya. Hal ini mudah dilihat di kalangan remaja khususnya di sekolah dimana
siswa pria lebih banyak menjadi pemimpin organisasi kesiswaan ketimbang siswa wanita, sekalipun kegiatan
organisasi itu berada di luar sekolah. Mengapa hal ini dapat terjadi?. Jika dilihat peranan konsep diri sebagai jati
diri manusia, timbul pertanyaan, apakah ada perbedaan konsep diri antara siswa pria dan siswa wanita.
Permasalahan yang akan diteliti dalam penelitian ini adalah bagaimana perbedaan konsep diri antara siswa pria
dengan siswa wanita pada SMUN 14 Makassar.
Adapun manfaat yang diharapkan dari artikel penelitian ini adalah sebagai berikut: (1) Sebagai pengembangan
ilmu, yaitu sebagai tambahan bacaan pendidikan pada umumnya dan psikologi pendidikan dan bimbingan pada
khususnya. Diharapkan dapat berkembang dan meluas pemahaman tentang konsep diri antara siswa pria dan
siswa wanita agar guru BK dan guru mata pelajaran dapat mengetahui dan memahaminya; (2) Bermanfaat bagi
guru bidang studi dan guru BK (konselor) di sekolah yaitu sebagai bahan pertimbangan bagi guru bidang studi
untuk meningkatkan proses belajar mengajar dan guru BK (konselor) untuk meningkatkan bimbingan karir dan
konseling; (3) Menjadi bahan kajian bagi orang tua untuk meningkatkan pengetahuannya dalam pembinaan anak
di rumah tangga.
Konsep diri merupakan salah satu istilah yang paling banyak ditemukan dan dibahas dalam psikologi remaja.
Konsep diri adalah bagian inti dari kepribadian, olehnya itu aspek ini sangat perlu mendapat perhatian dalam
pembentukan dan dalam pengembangannya. Sekolah sebagai lembaga pendidikan mempunyai taggung jawab
untuk mengembangkan kepribadian siswanya. Siswa-siswa sekolah menengah atas adalah remaja yang sedang
mempersiapkan diri untuk memasuki pendidikan tinggi atau dunia kerja yang cocok atau yang menjadi cita-
citanya. Sehingga kesuksesan pada masa ini akan sangat mempengaruhi hidup dan kehidupan remaja itu kelak.
Oleh karena itu siswa-siswa SMU perlu mendapat perhatian dalam pengembangan konsep dirinya.
Batasan atau pengertian mengenai konsep diri telah banyak dikemukakan oleh para ahli, diantaranya yang telah
dikemukakan oleh Brooks dalam Rahmat (1988) yang menyatakan bahwa konsep diri sebagai those physical,
social and psyhcological of ourselves that we have derived from experiences and our interaction with other. Yang
artinya menyatakan bahwa konsep diri sebagai persepsi kita tentang fisik, sosial dan psikologi kita yang
diperoleh dari pengalaman dan interaksi kita dengan orang lain.
Pengertian konsep diri yang dikemukakan oleh Dali Gulo (1982) yang menyatakan bahwa self adalah
keseluruhan yang dirasa dan diyakini benar oleh individu; ego dan hal-hal yang dilibatkan di dalamnya.
Pendapat ini dipertegas oleh Pudjijoyanti dalam Yatim dan Irianto (1991) yang mendefinisikan konsep diri
sebagai sikap, pandangan atau keyakinan seseorang terhadap keseluruhan dirinya.
Disamping itu Sumadi Suryabrata mengartikan self (diri) dalam dua arti yaitu: (a) sikap dan perasaan orang lain
terhadap dirinya; (b) suatu keseluruhan proses psikologis yang menguasai tingkah laku dan penyesuaian diri
(1983:290). Jadi pada dasarnya pengertian konsep diri dapat dibedakan atas dua, yaitu pengertian diri sebagai
obyek dan pengertian diri sebagai subyek. Kedua pengertian itu begitu berbeda sehingga ada ahli yang
menggunakan istilah yang berlainan, jika bermaksud menunjukkan diri sebagai obyek dipakai self dan jika diri
diartikan sebagai proses digunakan ego. Akan tetapi hal ini bukan ketentuan pasti kadang self dan ego dipakai
secara bergantian.
Tiga komponen konsep diri yaitu citra diri (self image), harga diri (self esteem), dan kepercayaan diri (self
confidence).
Citra diri yaitu persepsi saya terhadap penampilan fisik saya, rentangnya mulai dari posisi ethnik dalam
masyarakat sampai pada penjajaran penampilan pribadi dalam berhadapan dengan norma-norma kultural dari
kecantikan dan kegagahan.
Harga diri menunjuk kepada perasaan dasar kita tentang kelayakan dan nilai, pengetahuan eksistensial
tentang kapasitas mencintai dan sebagai obyek kecintaan orang lain.
Kepercayaan diri adalah suatu pencerminan dari pertemuan antara bakat-bakat alamiah dan keterampilan-
keterampilan serta teknik-teknik yang kita pelajari ketika bekerja dalam bidang-bidang sosial, vokasional atau
kegemaran.
Menurut Hurlock (1980), faktor-faktor yang mempengaruhi konsep diri remaja yaitu: parents ekspectation,
attitude members of the family, physical state of child, biological maturation, impact of radio and TV, school
opportunities, school demands, attitude toward peers, family personal problem, family economic problem,
opinion peers, and religion affiliation.
Penelitian Pudjijogyanti (1991) dalam Yatim dan Irianto membuktikan bahwa anak yang berasal dari
keluarga ekonomi yang rendah cenderung mempersepsi dan menilai dirinya rendah. Anak yang mempunyai
tubuh yang kuat, gagah dan cantik akan menimbulkan penerimaan yang baik oleh orang lain dan juga oleh
dirinya sendiri. Sikap teman sebaya juga mempengaruhi konsep diri. Teman sebaya lebih berpengaruh daripada
orang tua pada masa remaja sebagaimana hasil penelitian Sanafiah Faisal (1993). Pendapat teman sebaya yang
menganggap dia orang yang baik cenderung berbuat baik dan menerima dirinya. Sebaliknya bila dianggap nakal
akan mempengaruhi penerimaan dirinya.
Untuk mengenal atau mengetahui konsep diri siswa secara obyektif maka seorang guru khususnya guru
BK haruslah mengetahui karakteristik konsep diri atau ciri-ciri konsep diri itu sendiri. Ada lima tanda orang
yang memiliki konsep diri yang positif yaitu: (1) ia yakin akan kemampuannya mengatasi masalah, (2) ia merasa
setara dengan orang lain, (3) ia menerima pujian tanpa rasa malu, (4) ia menyadari bahwa setiap orang
mempunyai berbagai perasaan, keinginan dan perilaku tidak seluruhnya disetujui di masyarakat, dan (5) ia
mampu memperbaiki dirinya karena ia sanggup mengungkapkan aspek-aspek kepribadian yang tidak disenangi
dan berusaha mengubahnya. Sedangkan ciri-ciri konsep diri yang rendah yaitu sebagai berikut: (1) peka pada
kritik, (2) responsive terhadap pujian, (3) bersikap hiperkritis terhadap orang lain dan tidak sanggup
mengungkapkan penghargaan pengakuan pada kelebihan orang lain, (4) cenderung merasa tidak diperhatikan
oleh orang lain, dan (5) bersikap pesimis pada kompetensi.
Persepsi kaum pria terhadap kaum wanita khususnya di Indonesia dan lebih khusus lagi di pedesaan juga
memposisikan wanita pada kondisi yang dapat mempengaruhi proses perkembangan diri kaum wanita.
Pujidjogyanti dalam Yatim dan Irianto (1991) membuktikan bahwa terdapat perbedaan sumber konsep diri
antara pria dan wanita, sumber konsep diri bagi pria adalah agresivitas dan kekuatannya sedang konsep diri bagi
wanita bersumber pada keadaan fisik popularitasnya.
Hal yang perlu mendapat pehatian yakni adanya perubahan pandangan dimana dalam kurun waktu
beberapa dekade terakhir masalah jender sangat intensif dibicarakan. Agaknya, persepsi tentang wanita mulai
bergeser. Kesempatan kaum wanita semakin meluas beraktivitas. Demikian pula pengaruh media massa
khususnya media elektronik menampilkan kiprah wanita baik di sisi negatif maupun positifnya yang
memungkinkan penyebab pergeseran persepsi.
Dari uraian di atas, dapatlah disimpulkan bahwa kepada siswa harus ditanamkan secara dini konsep diri
yang tinggi baik oleh siswa pria maupun siswa wanita yang dilakukan secara sadar oleh individu untuk mencapai
tujuan dan cita-citanya.

METODE
Variabel dalam penelitian ini adalah konsep diri pria dan konsep diri wanita. Konsep diri pria adalah agresifitas
sedangkan konsep diri wanita adalah fisik dan popularitas. Penelitian ini termasuk jenis penelitian ex-post-facto,
yang bersifat komparasi atau perbedaan. Besarnya perbedaan antara ubahan bebas dengan ubahan terikat
ditentukan oleh besar koefisien komparasi antara kedua ubahan. Untuk memperoleh data setiap ubahan
digunakan teknik inventori. Teknik inventori adalah instrumen untuk mengumpulkan data ubahan konsep diri,
baik untuk konsep diri pria maupun unuk konsep diri wanita.
Yang dimaksud konsep diri dalam penelitian ini adalah hal-hal yang ingin diketahui pada diri siswa
sekaitan dengan sikap dan perilaku siswa dalam meningkatkan proses belajarnya.
Populasi dalam penelitian ini adalah siswa SMUN 14 Makassar tahun pelajaran 201/2002 yang berjumlah 240
responden yang terbesar dari kelas II. Adapun yang menjadi sampel dalam penelitian ini adalah sebanyak 66
responden yaitu dengan menggunakan teknik proporsional random sampling.
Uji coba instrumen inventori dilakukan terhadap validitas dan realibilitas. Untuk menguji validitas instrumen
tersebut digunakan korelasi Product Moment dalam Arikunto (1984). Adapun tingkat reliabilitas inventori
digunakan rumus Alpha Cronbach.
Data dianalisis dengan menggunakan dua macam teknik analisis yaitu statistik deskriptif dan teknik analisis
komparasi. Teknik analisis statistik deskriptif digunakan untuk mendeskripsikan data, yaitu dengan menghitung
rata-rata (M), simpangan baku (SD), modus(Mo), dan median (Me) sedangkan analisis komparasi digunakan
untuk menguji hipotesis penelitian dengan menggunakan rumus Uji t. Kriteria pengujian adalah terima H0 jika –
t 1-1/2a < t < t 1-1/2a dimana t 1-1/2a didapat daftar distribusi t dengan dk = (n 1 + n2 - 2) dan peluang ( 1 – ½ α ).
Kedua macam analisis statistik yang digunakan secara manual yaitu dengan menggunakan kalkulator fx 3600 P.

KESIMPULAN DAN SARAN

Kesimpulan
Berdasarkan hasil analisis data dan pembahasan hasil penelitian yang diuraikan terdahulu, maka dapat ditarik
kesimpulan sebagai berikut: (1) tidak terdapat perbedaan konsep diri antara siswa pria dengan siswa wanita, (2)
konsep diri siswa pria dengan konsep diri siswa wanita berada pada tingkat sedang dimana hal ini dapat dilihat
dari harga M0 dan Me.

Saran
Berdasarkan hasil penelitian dan kesimpulan yang telah dikemukakan di atas, maka penulis menyarankan
sebagai berikut: (1) bagi siswa hendaknya lebih meningkatkan konsep dirinya dengan cara lebih banyak
membaca untuk menambah wawasan, lebih banyak bergaul di kalangan berpendidikan, dan menambah wawasan
lewat media massa, (2) bagi orang tua dan guru hendaknya semakin meningkatkan pengetahuannya tentang
psikologi remaja agar semakin mudah melakukan pembinaan terhadap peningkatan konsep diri siswa.
DAFTAR RUJUKAN
Dali Gulo. 1982. Kamus Psikologi. Bandung : Tonis.
Danny, I. Yatim dan Irianto. 1991. Kepribadian, Keluarga, dan Narkotik. Jakarta : Arlan.
Elizabeth B. Hurlock. 1980. Perkembangan Anak. Jakarta : Erlangga.
Jalaluddin Rahmat. 1988. Keterampilan Komunikasi. Bandung : CV. Karya Remaja.
Kevin Marjoribanks. 1979. Families and Their Learning Environtments : An Emperical Analysis. New York :
Routledge & Kegan Paul.
Sanafiah Faisal. 1989. Sosiologi Pendidikan. Surabaya : Usaha Novel Indonesia.
S.L.La Sulo. 1981. Beberapa Konsep Teori Kepribadian dan Aplikasinya dalam PBM. Jakarta : P3G Bahasa
Suharsimi Arikunto. 1984. Dasar-Dasar Evaluasi Pendidikan. Jakarta : PT BinaAksara.
Sumadi Suryabrata. 1983 . Proses Belajar Mengajar di Perguruan Tinggi. Yogyakarta : Andi Offset.

Last Updated ( Friday, 18 July 2008 07:55 )