P. 1
UU Otoritas Jasa Keuangan (OJK)

UU Otoritas Jasa Keuangan (OJK)

|Views: 206|Likes:
Dipublikasikan oleh Nasrul Sani M Toaha
UU ini adalah UU yang mengatus tugas dan kewenangan dari OKJ
UU ini adalah UU yang mengatus tugas dan kewenangan dari OKJ

More info:

Published by: Nasrul Sani M Toaha on Dec 23, 2012
Hak Cipta:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

09/13/2015

pdf

text

original

SALINAN

PRESIDEN
REPUBLIK I!'.DONESIA
UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA
NOMOR 21 TAHUN 2011
TENTANG
OTORITAS JASA KEUANGAN
DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA
PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,
Menimbang a. bahwa untuk mewujudkan perekonomian nasional yang
mampu tumbuh secara berkelanjutan dan stabil,
diperlukan kegiatan di dalam sektor jasa keuangan yang
terselenggara secara teratur, adil, transparan, dan
akuntabel, serta mampu mev,rujudkan sistem keuangan
yang tumbuh secara berkelanjutan dan stabil, dan mampu
melindungi kepentingan konsumen dan masyarakat;
b. bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud
dalam huruf a, diperlukan otoritas jasa keuangan yang
memiliki fungsi, tugas, dan wewenang pengaturan dan
pengawasan terhadap kegiatan di dalam sektor jasa
keuangan secara terpadu, independen, dan akuntabel;
c. bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud
dalam huruf a dan huruf b, perlu membentuk Undang­
Undang tentang Otoritas Jasa Keuangan;
Mengingat 1. Pasal 5 ayat (1), Pasal 20, dan Pasal 33 Undang-Undang
Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945;
2. Undang-Undang Nomor 23 Tahun 1999 tentang Bank
Indonesia (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun
1999 Nomor 66, Tambahan Lembaran Negara Republik
Indonesia Nomor 3843) sebagaimana telah beberapa kali
diubah terakhir dengan Undang-Undang Nomor 6 Tahun
2009 tentang Penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti
Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2008 tentang Perubahan
Kedua atas Undang-Undang Nomor 23 Tahun 1999 tentang
Bank ...
PRESIDEN
REPUBLiK INDONl!:lSlA
- 2 ­
Bank Indonesia Menjadi Undang-Undang (Lembaran
Negara Republik Indonesia Tahun 2009 Nomor 7,
Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor
4962);
Dengan Persetujuan Bersama
DEWAN PERWAKILAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA
dan
PRESlDEN REPUBLIK INDONESIA
MEMUTUSKAN:
Menetapkan UNDANG-UNDANG TENTANG OTORITAS JASA KEUANGAN.
BABI
KETENTUAN UMUM
Pasal 1
Dalam Undang-Undang ini yang dimaksud dengan:
1. Otoritas Jasa Keuangan, yang se1anjutnya disingkat OJK,
adalah lembaga yang independen dan bebas dari campur
tangan pihak lain, yang mempunyai fungsi, tugas, dan
wewenang pengaturan, pengawasan, pemeriksaan, dan
penyidikan sebagaimana dimaksud dalam Undang­
Undang ini.
2. Dewan Komisioner adalah pimpinan tertinggi OJK yang
bersifat kolektif dan kolegial.
3. Kepala Eksekutif adalah anggota Dewan Komisioner yang
bertugas memimpin pelaksanaan pengawasan kegiatan
jasa keuangan dan melaporkan pelaksanaan tugasnya
kepada Dewan Komisioner.
4. Lembaga ...
PRE SIDEN
REPUBLIK INDONESIA
- 3 ­
4. Lembaga Jasa Keuangan adalah lembaga yang
me1aksanakan kegiatan di sektor Perbankan, Pasar
Modal, Perasuransian, Dana Pensiun, Lembaga
Pembiayaan, dan Lembaga Jasa Keuangan Lainnya.
5. Perbankan adalah segala sesuatu yang menyangkut
tentang bank, mencakup kelembagaan, kegiatan usaha,
serta cara dan proses dalam me1aksanakan kegiatan
usahanya secara konvensional dan syariah sebagaimana
dimaksud dalam undang-undang mengenai perbankan
dan undang-undang mengenai perbankan syariah.
6. Pasar Modal adalah kegiatan yang bersangkutan dengan
Penawaran Umum dan perdagangan Efek, Perusahaan
Publik yang berkaitan dengan Efek yang diterbitkannya,
serta lembaga dan profesi yang berkaitan dengan Efek
sebagaimana dimaksud dalam undang-undang mengenai
pasar modal.
7. Perasuransian adalah usaha perasuransian yang
bergerak di sektor usaha asuransi, yaitu usaha jasa
keuangan yang dengan menghimpun dana masyarakat
melalui pengumpulan premi asuransi memberikan
perlindungan kepada anggota masyarakat pemakai jasa
asuransi terhadap timbulnya kerugian karena suatu
peristiwa yang tidak pasti atau terhadap hidup atau
meninggalnya seseorang, usaha reasuransi, dan usaha
penunjang usaha asuransi yang menyelenggarakan jasa
keperantaraan, penilaian kerugian asuransi dan jasa
aktuaria, sebagaimana dimaksud dalam undang-undang
mengenai usaha perasuransian.
8. Dana Pensiun adalah badan hukum yang mengelola dan
menjalankan program yang menjanjikan manfaat pensiun
sebagaimana dimaksud dalam undang-undang mengenai
dana pensiun.
9. Lembaga Pembiayaan adalah badan usaha yang
melakukan kegiatan pembiayaan dalam bentuk
penyediaan dana atau barang modal sebagaimana
dimaksud dalam peraturan perundang-undangan
mengenai lembaga pembiayaan.
10. Lembaga ...
PRESIDEN
REPUBLIK INDONESIA
- 4 ­
10. Lembaga Jasa Keuangan Lainnya adalah pergadaian,
lembaga penjaminan, lembaga pembiayaan ekspor
Indonesia, perusahaan pembiayaan sekunder
perumahan, dan lembaga yang menyelenggarakan
pengelolaan dana masyarakat yang bersifat wajib,
meJiputi penyelenggara program jaminan sosiai, pensiun,
dan kesejahteraan, sebagaimana dimaksud dalam
peraturan perundang-undangan mengenai pergadaian,
penjaminan, lembaga pembiayaan ekspor Indonesia,
perusahaan pembiayaan sekunder perumahan, dan
pengelolaan dana masyarakat yang bersifat wajib, serta
lembagajasa keuangan lain yang dinyatakan diawasi oleh
OJK berdasarkan peraturan perundang-undangan.
11. Peraturan OJK adalah peraturan tertulis yang ditetapkan
oleh Dewan Komisioner, mengikat secara umum, dan
diundangkan dalam Lembaran Negara Republik
Indonesia.
12. Peraturan Dewan Komisioner adalah peraturan tertulis
yang ditetapkan oleh Dewan Komisioner dan mengikat di
lingkungan internal OJK.
13. Bank Indonesia adaiah Bank Sentral Republik Indonesia
sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang Dasar
Negara Republik Indonesia Tahun 1945.
14. Lembaga Penjamin Simpanan adalah Lembaga Penjamin
Simpanan sebagaimana dimaksud dalam undang-undang
mengenai lembaga penjamin simpanan.
15. Konsumen adalah pihak-pihak yang menempatkan
dananya dan! atau memanfaatkan pelayanan yang
tersedia di Lembaga Jasa Keuangan antara lain nasabah
pada Perbankan, pemodal di Pasar Modal, pemegang polis
pada Perasuransian, dan peserta pada Dana Pensiun,
berdasarkan peraturan perundang-undangan di sektor
jasa keuangan.
16. Pemerintah adalah pemerintah Republik Indonesia.
17. Gubernur Bank Indonesia adalah pemimpin merangkap
anggota Dewan Gubernur Bank Indonesia.
18. Menteri ...
PRESIDEN
REPU8L1K INDONESIA
- 5 ­
18. Menteri Keuangan adalah menteri yang
menyelenggarakan urusan pemerintahan dibidang
keuangan.
19. Ketua Dewan Komisioner Lembaga Penjamin Simpanan
adalah pemimpin rnerangkap anggota Dewan Komisioner
Lembaga Penjamin Sirnpanan.
20. Ex-officio adalah jabatan seseorang pada lembaga tertentu
karena tugas dan kewenangannya pada lernbaga lain.
21. Kornite Etik adalah organ pendukung Dewan Komisioner
yang bertugas mengawasi kepatuhan Dewan Komisioner,
pejabat dan pegawai OJK terhadap kode etik.
22. Dewan Audit adalah organ pendukung Dewan Komisioner
yang bertugas rne1akukan evaluasi atas pelaksanaan
tugas OJK serta rnenyusun standar audit dan manajemen
risiko OJK.
23. Panitia Seleksi adalah panitia yang dibentuk oleh
Presiden yang bertugas untuk memilih dan menetapkan
calon anggota Dewan Kornisioner untuk disampaikan
kepada Presiden.
24. Setiap Orang adalah orang perseorangan atau korporasi.
25. Forum Koordinasi Stabilitas Sistem Keuangan adalah
forum koordinasi yang dibentuk untuk rnenjaga stabilitas
sis tern keuangan yang anggotanya terdiri atas Menteri
Keuangan selaku koordinator merangkap anggota,
Gubernur Bank Indonesia selaku anggota, Ketua Dewan
Kornisioner Lembaga Penjamin Simpanan selaku anggota,
dan Ketua Dewan Komisioner OJK selaku anggota.
BAB II
PEMBENTUKAN, STATUS, DAN TEMPAT KEDUDUKAN
Pasal2
(1) Dengan Undang-Undang ini dibentuk OJK.
(2) OJK ...
PRESIDEN
REPUBLIK INDONESIA
- 6 ­
(2) OJK adalah lernbaga yang independen dalam
rnelaksanakan tugas dan wewenangnya, bebas dari
campur tangan pihak lain, kecuali untuk hal-hal yang
secara tegas diatur dalarn Undang-Undang ini.
Pasa13
(1) OJK berkedudukan di ibu kota Negara Kesatuan Republik
Indonesia.
(2) OJK dapat rnernpunyai kantor di dalarn dan di luar
wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia yang
dibentuk sesuai dengan kebutuhan.
BAB III
TUJUAN, FUNGSI, TUGAS, DAN WEWENANG
Pasal4
OJK dibentuk dengan tujuan agar keseluruhan kegiatan di
dalarn sektor jasa keuangan:
a. terselenggara secara teratur, adil, transparan, dan
akuntabel;
b. rnampu rnewujudkan sis tern keuangan yang turnbuh
secara berkelanjutan dan stabi\; dan
c. rnarnpu rnelindungi kepentingan Konsurnen dan
rnasyarakat.
Pasal5
OJK berfungsi rnenyelenggarakan sistern pengaturan dan
pengawasan yang terintegrasi terhadap keseluruhan kegiatan
di dalarn sektor jasa keuangan.
PasaI6 ...
PRESIDEN
REPUSLIK INDONESIA
- 7 ­
Pasa16
OJK melaksanakan tugas pengaturan dan pengawasan
terhadap:
a. kegiatan jasa keuangan di sektor Perbankan;
b. kegiatan jasa keuangan di sektor Pasar Modal; dan
c. kegiatan jasa keuangan di sektor Perasuransian, Dana
Pensiun, Lembaga Pembiayaan, dan Lembaga Jasa
Keuangan Lainnya.
Pasal 7
Untuk melaksanakan tugas pengaturan dan pengawasan di
sektor Perbankan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6
huruf a, OJK mempunyai wewenang:
a. pengaturan dan pengawasan mengenal kelembagaan
bank yang meliputi:
1. perizinan untuk pend irian bank, pembukaan kantor
bank, anggaran dasar, rencana kerja, kepemilikan,
kepengurusan dan sumber daya manusia, merger,
konsolidasi dan akuisisi bank, serta pencabutan izin
usaha bank; dan
2. kegiatan usaha bank, antara lain sumber dana,
penyediaan dana, produk hibridasi, dan aktivitas di
bidang jasa;
b. pengaturan dan pengawasan mengenai kesehatan bank
yang meliputi:
1. likuiditas, rentabilitas, solvabilitas, kualitas aset,
rasio kecukupan modal mipimum, batas maksimum
pemberian kredit, rasio pinjaman terhadap
simpanan, dan pencadangan bank;
2. laporan bank yang terkait dengan kesehatan dan
kinerja bank;
3. sistem informasi debitur;
4. pengujian kredit (credit testing); dan
5. standar akuntansi bank;
c. pengaturan ...
PRESIDEN
1lH':f:'USLIK INDONESIA
- 8 ­
c. pengaturan dan pengawasan mengenai aspek kehati­
hatian bank, meliputi:
1. manajemen risiko;
2. tata kelola bank;
3. prinsip mengenal nasabah dan anti pencucian uang;
dan
4. pencegahan pembiayaan terorisme dan kejahatan
perbankan; dan
d. pemeriksaan bank.
Pasal8
Untuk melaksanakan tugas pengaturan sebagalmana
dimaksud dalam Pasal 6, OJK mempunyai wewenang:
a. menetapkan peraturan pelaksanaan Undang-Undang ini;
b. menetapkan peraturan perundang-undangan di sektor
jasa keuangan;
c. menetapkan peraturan dan keputusan OJK;
d. menetapkan peraturan mengenal pengawasan di sektor
jasa keuangan;
e. menetapkan kebijakan mengenai pelaksanaan tugas
OJK;
f. menetapkan peraturan mengenai tata cara penetapan
perintah tertulis terhadap Lembaga Jasa Keuangan dan
pihak tertentu;
g. menetapkan peraturan mengenai tata cara penetapan
pengelola statuter pada Lembaga Jasa Keuangan;
h. menetapkan struktur organisasi dan infrastruktur, serta
mengelola, memelihara, dan menatausahakan kekayaan
dan kewajiban; dan
i. menetapkan peraturan mengenai tata cara pengenaan
sanksi sesuai dengan ketentuan peraturan perundang­
undangan di sektor jasa keuangan.
PasaI9 ...

III Ii:!" IJ iiH. I!'. II'W 0 N fi; Ii I A
- 9 ­
Pasa19
Untuk melaksanakan tugas pengawasan sebagaimana
dimaksud dalam Pasal6, OJK mempunyai wewenang:
a, menetapkan kebijakan operasional pengawasan terhadap
kegiatan jasa keuangan;
b. mengawasi pelaksanaan tugas pengawasan yang
dilaksanakan oleh Kepala Eksekutif;
c, melakukan pengawasan, pemeriksaan, penyidikan,
perlindungan Konsumen, dan tindakan lain terhadap
Lembaga Jasa Keuangan, pelaku, dan/atau penunjang
kegiatan jasa keuangan sebagaimana dimaksud dalam
peraturan perundang-undangan di sektor jasa keuangan;
d, memberikan perintah tertulis kepada Lembaga Jasa
Keuangan dan/ atau pihak tertentu;
e. melakukan penunjukan pengelola statuter;
f. menetapkan penggunaan pengelola statuter;
g. menetapkan sanksi administratif terhadap pihak yang
melakukan pelanggaran terhadap peraturan perundang­
undangan di sektor jasa keuangan; dan
h. memberikan dan/atau mencabut:
1. izin usaha;
2. izin orang perseorangan;
3. efektifnya pernyataan pendaftaran;
4. surat tanda terdaftar;
5. persetujuan melakukan kegiatan usaha;
6. pengesahan;
7. persetujuan atau penetapan pembubaran; dan
8, penetapan lain,
sebagaimana dimaksud dalam peraturan perundang­
undangan di sektor jasa keuangan.
BAB IV ...
PRESIDEN
REPU8LIK INDONESIA
- 10 ­
'BAB IV
DEWAN KOMISIONER
Bagian Kesatu
Struktur Dewan Komisioner
Pasal10
(1) OJK dipimpin oleh Dewan Komisioner.
(2) Dewan Komisioner sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
bersifat ko1ektif dan kolegial.
(3) Dewan Komisioner beranggotakan 9 (sembilan) orang
anggota yang ditetapkan dengan Keputusan Presiden.
(4) Susunan Dewan Komisioner sebagaimana dimaksud pada
ayat (3) terdiri atas:
a. seorang Ketua merangkap anggota;
b. seorang Wakil Ketua sebagai Ketua Komite Etik
merangkap anggota;
c. seorang Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan
merangkap anggota;
d. seorang Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal
merangkap anggota;
e. seorang KepaJa Eksekutif Pengawas Perasuransian,
Dana Pensiun, Lembaga Pembiayaan, dan Lembaga
Jasa Keuangan Lainnya merangkap anggota;
f. seorang Ketua Dewan Audit merangkap anggota;
g. seorang anggota yang membidangi edukasi dan
perlindungan Konsumen;
h. seorang anggota Ex-officio dari Bank Indonesia yang
merupakan anggota Dewan Gubernur Sank
Indonesia; dan
i. seorang anggota Ex-officio dari Kementerian
Keuangan yang merupakan pejabat setingkat eselon I
Kementerian Keuangan.
(5) Anggota Dewan Komisioner sebagaimana dimaksud pada
ayat (4) memiliki hak suara yang sama.
Bagian ...
PRESIDEN
REPUBLIK INDONESIA
- 11 -
Bagian Kedua
Pengangkatan dan Pernberhentian
Pasal II
(1) Anggota Dewan Kornisioner sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 10 ayat (4) huruf a sarnpai dengan huruf g
dipilih oleh Dewan Perwakilan Rakyat berdasarkan calon
anggota yang diusulkan oleh Presiden.
(2) Pernilihan dan penentuan calon anggota Dewan
Kornisioner untuk diusulkan kepada Presiden
sebagaimana dirnaksud pada ayat (1) dilaksanakan oleh
Panitia Seleksi yang dibentuk dengan Keputusan
Presiden:
a. paling singkat 6 (enam) bulan sebelum berakhirnya
rnasajabatan anggota Dewan Komisioner; atau
b. paling lama 2 (dua) bulan sejak tanggal kekosongan
jabatan atau penetapan pernberhentian anggota
Dewan Komisioner karena alasan se bafYiimana
dimaksud dalarn Pasal 17 ayat (I) huruf a, huruf b,
huruf d, huruf e, huruf f, huruf g, huruf h, huruf i,
dan/atau hurufj.
(3) Panitia Seleksi sebagairnana dirnaksud pada ayat (2)
beranggotakan 9 (sernbilan) orang yang terdiri atas unsur
Pemerintah, Bank Indonesia, dan rnasyarakat.
(4) Panitia Seleksi mengurnurnkan penerirnaan calon anggota
Dewan Komisioner sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
kepada rnasyarakat paling lama 5 (lima) hari kerja setelah
ditetapkannya Panitia Seleksi sebagairnana dimaksud
pada ayat (2).
(5) Pendaftaran calon dilakukan dalarn waktu 12 (dua. bela.s)
had kerja secara terus rnenerus.
(6) Panitia Seleksi rnelakukan seleksi administratif terhadap
calon anggota Dewan Komisioner sebagaimana dimaksud
pada ayat (5).
(7) Panitia ...
PRESIDEN
RE:PU8L1t<c INDONE:SIA
- 12 ­
(7) Panitia Se1eksi mengumumkan nama calon yang telah
lulus seleksi administratif untuk mendapatkan masukan
dari masyarakat paling lama 5 (lima) hari kerja sejak
berakhimya waktu pendaftaran calon sebagaimana
dimaksud pada ayat (5).
(8) Masukan sebagaimana dimaksud pada ayat (7)
disampaikan kepada Panitia Seleksi daJam waktu 12 (dua
belas) hari kerja terhitung sejak tanggal diumumkan.
(9) Panitia Seleksi melakukan penilaian dan pemilihan serta
menyampaikan calon anggota Dewan Komisioner kepada
Presiden sebanyak 3 (tiga) orang cajon untuk setiap
anggota Dewan Komisioner yang dibutuhkan, paling lama
12 (dua belas) hari kerja terhitung sejak berakhimya
jangka waktu sebagaimana dimaksud pada ayat (8).
Pasal 12
(1) Presiden memilih dan menyampaikan cajon anggota
Dewan Komisioner sebanyak 2 (dua) orang cajon untuk
setiap anggota Dewan Komisioner yang dibutuhkan
kepada Dewan Perwakilan Rakyat, paling lama 12 (dua
belasl hari kerja terhitung sejak tanggal diterimanya
nama calon anggota Dewan Komisioner dad Panitia
Seleksi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 11 ayat (9).
(2) Dari calon anggota Dewan Komisioner sebagalmana
dimaksud pada ayat (1), Presiden mengajukan sebanyak
2 (dua) orang calon anggota Dewan Komisioner untuk
dipilih oleh Dewan Perwakilan Rakyat sebagai Ketua
Dewan Komisioner.
(3) Calon anggota Dewan Komisioner yang tidak terpilih
menjadi Ketua Dewan Komisioner sebagaimana dirnaksud
pada ayat (2) diikutsertakan untuk dipilih sebagai
anggota Dewan Komisioner oleh Dewan Perwakilan
Rakyat.
(4) Dewan ...
P I ~ ~ , 'JIIJLN
REPUI3I_II". it'lOONESIA
. 13 ­
(4) Dewan Perwakilan Rakyat memilih calon anggota Dewan
Komisioner sesuai dengan jumlah anggota Dewan
Komisioner yang dibutuhkan, paling lama 45
(empat puluh lima) hari kerja sejak diterimanya nama­
nama calon anggota Dewan Komisioner dati Presiden
sebagaimana dimaksud pada ayat (1).
(5) Calon anggota Dewan Komisioner terpilih disampaikan
Dewan Perwakilan Rakyat kepada Presiden paling lama 5
(lima) hati kerja sejak selesainya proses pemilihan calon
anggota Dewan Komisioner sebagaimana dimaksud pada
ayat (4).
(6) Presiden mengangkat dan menetapkan calon terpilih
sebagai anggota Dewan Komisioner paling lama 30 (tiga
puluh) hari kerja terhitung sejak tanggal ditetimanya
nama calon anggota Dewan Komisioner terpilih dati
Dewan Perwakilan Rakyat.
Pasal 13
(1) Anggota Dewan Komisioner sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 10 ayat (4) huruf h diangkat dan ditetapkan
Presiden berdasarkan usulan Gubernur Bank Indonesia.
(2) Anggota Dewan Komisioner sebagaimana ditnaksud
dalam Pasa! 10 ayat (4) huruf i diangkat dan ditetapkan
Presiden berdasarkan usu!an Menteri Keuangan.
Pasal14
(1) Ketua, Wakil Ketua, dan anggota Dewan Komisioner
diangkat dan ditetapkan dengan Keputusan Presiden.
(2) Pembagian tugas di antara anggota Dewan Komisioner
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 10 ayat (4) huruf b
sampai dengan huruf g diputuskan berdasarkan rapat
Dewan Komisioner dan ditetapkan dengan Keputusan
Dewan Komisioner.
(3) Anggota ...
PRESIDEN
REPUBLlt<, INDONESIA
- 14 ­
(3) Anggota Dewan Komisioner sebagaimana Pasal
10 ayat (4) huruf a sampai dengan huruf g diangkat
untuk masa jabatan 5 (lima) tahun dan dapat diangkat
kembali untuk 1 (satu) kali masajabatan.
Pasal15
Syarat calon anggota Dewan Komisioner sebagl!limana
dimaksud dalam Pasal 10 ayat (4) huruf a sampai dengan
huruf g adalah sebagai berikut:
a. warga negara Indonesia;
b. memiliki akhlak, moral, dan integritas yang baik;
c. cakap me1akukan perbuatan hukum;
d. tidak pernah dinyatakan pailit atau tidak pernah menjadi
pengurus perusahaan yang menyebabkan perusahaan
tersebut pailit;
e. sehat jasmani;
f. berusia paling tinggi 65 (enam puluh lima) tahun pada
saat ditetapkan;
g. mempunyai pengalaman atau keahlian di sektor jasa
keuangan; dan
h. tidak pernah dijatuhi pidana penjara berdasarkan
putusan pengadilan yang telah mempunyai kekuatan
hukum tetap karena melakukan tindak pidana yang
diancam dengan hukuman 5 (lima) tahun atau lebih.
Pasal16
(1) Ketua, Wakil Ketua, dan anggota Dewan Komisioner
sebelum memangku jabatannya wajib mengucapkan
sumpah atau janji menurut agama atau kepercayaannya
di hadapan Mahkamah Agung.
(2) Bunyi ...
PRE'>IDEN
REpUBLli, INDONESIA
- 15 ­
(2) Bunyi lafa! sumpah atau janji sebagaimana dimaksud
pada ayat (1) adalah sebagai berikut:
"Saya bersumpah/berjanji bahwa saya, untuk menJadi
Ketua/ Wakil Ketua/ anggota Dewan Komisioner OJK
langsung atau tidak langsung dengan nama dan dalih
apapun tidak memberikan atau menjanjikan untuk
memberikan sesuatu kepada siapapun".
'Saya bersumpah/ berjanJi bahwa saya, dalam melakukan
atau tidak melakukan sesuatu dalam jabatan ini, tidak
akan menerima langsung atau tidak langsung dari
siapapun sesuatu janji atau pemberian dalam bentuk
apapun".
·Saya bersumpah/berjanji bahwa saya akan
melaksanakan tugas dan kewajiban sebagai Ketua/Wakil
Ketua/anggota Dewan Komisioner OJK dengansebaik­
baiknya dan dengan penuh rasa tanggung jawab
berdasarkan peraturan perundang-undangan yang
berkenaan dengan tugas dan kewajiban terse but".
'Saya bersumpah/ berjanji bahwa saya akan setia kepada
Negara Kesatuan Republik Indonesia dan Undang-:Undang
Dasar Negara Republik Indonesia tahun 1945".
Pasal 17
(1) Anggota Dewan Komisioner tidak dapat diberhentikan
sebelum masa jabatannya berakhir, kecuali apabila
memenuhi alasan sebagai berikut:
a. meninggal dunia;
b. mengundurkan diri;
c. masa jabatannya telah berakhir dan tidak dipilih
kembali;
d. berhalangan tetap sehingga tidak dapat
melaksanakan tugas atau diperkirakan secam medis
tidak dapat melaksanakan tugas lebih dari e(enam)
bulan berturut-turut;
e. tidak ...
PRESIDEN
REPW8LIK. INDONESIA
- 16 ­
e. tidak menjalankan tugasnya sebagai anggota Dewan
Komisioner lebih dari 3 (tiga) bulan berturut-turut
tanpa alasan yang dapat dipertanggungjawabkan;
f. tidak lagi menjadi anggota Dewan Gubernur Bank
Indonesia bagi anggota Ex-officio Dewan Komisioner
yang berasal dari Bank Indonesia sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 10 ayat (4) huruf h;
g. tidak lagi menjadi pejabat setingkat eselon I pada
Kementerian Keuangan bagi anggota Epc-officio
Dewan Komisioner yang berasal dari Kementerian
Keuangan sebagaimana dimaksud dalam Pl;lsal 10
ayat (4) huruf i;
h. memiliki hubungan keluarga sampai derajat kedua
danl atau semenda dengan anggota Dewan
Komisioner lain dan tidak ada satu pun yang
mengundurkan diri dari jabatannya;
i. melanggar kode etik; atau
j. tidak lagi memenuhi salah satu syarat sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 15 dan me1anggar larangan
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 22.
(2) Pemberhentian sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
diusulkan o!eh Dewan Komisioner kepada Presiden
untuk mendapatkan penetapan.

Bagian Ketiga
Penggantian Antarwaktu
Pasa! 18
(1) Dalam hal anggota Dewan Komisioner sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 10 ayat (4) huruf asampai
dengan huruf g, diberhentikan karena alasan
sebagaimana dimaksud dalam Pasa! 17 ayat (1) huruf a,
huruf b, huruf d, huruf e, huruf f, huruf g, huruf h,
huruf i, dan/atau hurnf j, dilaksanakan penggantian
anggota Dewan Komisioner antarwaktu sesuai dengan
tata cara pemilihan anggota Dewan Komisioner
sebagaimana diatur dalam Undang-Undang ini.
(2) Anggota ...

REPU9L.lt', INOONESI,r..
- 17 ­
(2) Anggota Dewan Komisioner pengganti diangkat untuk
menggantikan jabatan anggota Dewan Komisiontr yang
diberhentikan sebagaimana dimaksud pada ayat(l) dan
melanjutkan sisa masa jabatan anggota Dewan
Komisioner yang digantikan.
(3) Penggantian anggota Dewan Komisioner sebagaimana
dimaksud pada ayat (1) tidak dilakukan apabila sisa
masa jabatan anggota Dewan Komisioner yang
diberhentikan kurang dad 1 (satu) tahun.
Pasa! 19
(1) Da!am hal Ketua Dewan Komisioner diberhentikan
karena alasan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 17
ayat (1), Wakil Ketua Dewan Komisioner bertindak
sebagai pejabat sementara untuk melaksanakan tugas
dan wewenang Ketua Dewan Komisioner sampai 'dengan
ditetapkannya Ketua Dewan Komisioner yang bartl.
(2) Dalam hal Wakil Ketua Dewan Komisioner diberhentikan
karena alasan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 17
ayat (1), Ketua Dewan Komisioner bertindak sebagai
pejabat sementara untuk melaksanakan tugas dan
wewenang Wakil Ketua Dewan Komisioner sampai
dengan ditetapkannya Wakil Ketua Dewan Komisioner
yang baru.
(3) Dalam hal Ketua dan Wakil Ketua Dewan Kornisioner
diberhentikan karena alasan sebagaimana ditnaksud
dalam Pasal 17 ayat (1), berdasarkan kesepakatan
Dewan Komisioner, salah satu anggota· Dewan
Komisioner sebagaimana dimaksud dalam PasallO ayat
(4) huruf c sampai dengan huruf g bertindaksebagai
pejabat sementara untuk melaksanakan tugas dan
wewenang Ketua danl atau Wakil Ketua· Dewan
Komisioner sampai dengan ditetapkannya. Ketua
danl atau Wakil Ketua Dewan Komisioner yang baru.
(4) Dltlam .. ,
PRESIDEN
REPUBLIK. INDONESIA
- 18 ­
(4) Dalam hal anggota Dewan Komisioner sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 10 ayat (4) huruf c ~ a m p a i
dengan huruf g diberhentikan karena alasan
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 17 ayat (I),
berdasarkan kesepakatan Dewan Komisioner, salah satu
anggota Dewan Komisioner, kecuali anggota 'Dewan
Komisioner Ex-officio sebagaimana dimaksud. dalam
Pasal 10 ayat (4) huruf h dan huruf i, bertindak sebagai
pejabat sementara untuk melaksanakan tugas, dan
wewenang anggota Dewan Komisioner tersebut sampai
dengan ditetapkannya anggota Dewan Komisioner yang
baru.
Bagian Keempat
'fugas dan Wewenang
Pasa120
'fugae pengaturan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6
dilaksanakan oleh Dewan Komisioner.
Pasa121
Dalam melaksanakan kewenangan sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 6, Dewan Komisioner menetapkan Peraturan
OJK, Peraturan Dewan Komisioner, dan/atau Keputusan
Dewan Komisioner. '
Bagian Kelima
Larangan
Pasal22
Anggota Dewan Komisioner dilarang:
a. memiliki benturan kepentingan di Lembaga Jasa
Keuangan yang diawasi oleh OJK;
b. menjadi ...
PRESIDEN
REPUBl.IK INDONESIA
- 19 -
b.
c.
d.
menjadi pengurus dari organisasi pelaku atau profesi di
Lembaga Jasa Keuangan;
menjadi pengurus partai politik; dan
menduduki jabatan pada lembaga lain, kecuali dalam
rangka pelaksanaan fungsi, tugas, dan wewenarilg OJK
dan/atau penugasan berdasarkan ketentuan petaturan
perundang-undangan.
Pasal23
(1) Antaranggota Dewan Komisioner dilarang mempunyai
hubungan keluarga sampai derajat kedua dan semenda.
(2) Jika antaranggota Dewan Komisioner terbukti memiliki
hubungan keluarga sebagaimana dimaksud pada ayat
(1), salah seorang di antara mereka wajib
mengundurkan diri dad jabatannya dalam waktu 30
(tiga puluh) hari terhitung sejak terbukti mempunyai
hubungan keluarga.
(3) Dalam hal tidak ada satu pun anggotaDewan
Komisioner yang mengundurkan did sebagiUmana
dimaksud pada ayat (2), semua anggota 'Dewan
Komisioner yang mempunyai hubungan keluarga
tersebut diberhentikan darijabatannya oleh Presiden.
Bagian Keenam
Rapat dan Pengambilan Keputusan
Pasa124
(1) Dewan Komisioner melaksanakan rapatDewan
Komisioner secara berkala paling sedikit 1 (satu). kali
dalam 2 (dua) minggu atau sewaktu-waktu berdasarkan
permintaan salah satu anggota Dewan Komisioner.
(2) Ketua Dewan
Komisioner.
Komisioner memimpin rapat : Dewan
(3) D&lam ...
PRESIDEN
REPUBLIK INDONESIA
- 20 ­
(3) Dalam hal Ketua Dewan Komisioner berhalangani. Wakil
Ketua Dewan Komisioner memimpin rapat Dewan
Komisioner.
(4) Dalam hal Ketua dan Wakil Ketua Dewan Komisioner
sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dan ayat (3)
berhalangan. berdasarkan kesepakatan anggotaDewan
Komisioner. salah satu anggota Dewan Komisioner
ditunjuk untuk memimpin rapat Dewan Komisioner.
(5) Rapat Dewan Komisioner dinyatakan sah apabila
dihadiri lebih dad 1/2 (satu perdua) dari jumlah anggota
Dewan Komisioner.
(6) Pengambilan keputusan Dewan Komisioner dilakukan
berdasarkan musyawarah untuk mencapai mufakat.
(7) Dalam hal musyawarah untuk mencapai mufakat
sebagaimana dimaksud pada ayat (6) tidak tercapai,
keputusan ditetapkan berdasarkan suara terbanyak.
(8) Setiap rapat Dewan Komisioner dibuat risalah rapat
yang ditandatangani oleh semua anggotaDewan
Komisioner yang hadir.
(9) Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara
penyelenggaraan rapat Dewan Komisioner diatur dengan
Peraturan Dewan Komisioner.
Bagian Ketujuh
Lain-lain
Pasal25
(1) Dewan Komisioner mewakili OJK di dalam dandi luar
pengadilan.
(2) Dewan Komisioner dapat menyerahkan kewe!1angan
mewakili sebagaimana dimaksud pada ayat (1) kepada
satu atau lebih anggota Dewan Komisioner, dan/atau
kepada pejabat OJK atau pihak lain untuk mewakiIi
OJK yang khusus dikuasakan untuk itu.
(3) Ketentuan .. ,
PRESIDEN
REPU8LIK INDONESIA
- 21 ­
(3) Ketentuan mengenai tata cara penugasan dan
pemberian kuasa kepada pihak lain
dimaksud pada ayat (2) diatur dengan Peraturan Dewan
Komisioner.
BABV
ORGANISASI DAN KEPEGAWAIAN
Pasal26
(1) Untuk mendukung kelancaran pelaksanaan fungsi,
tugas dan wewenang OJK, Dewan Komisioner
membentuk organisasi.
(2) Untuk mendukung kelancaran pelaksanaan fungsi,
tugas dan wewenang OJK, Dewan Komisioner
membentuk organ pendukung yang mencakup
sekretariat, Dewan Audit, Komite Etik, dan organ
lainnya sesuai dengan kebutuhan.
(3) Untuk mendukung kelancaran pelaksanaanfungsi,
tugas dan wewenang OJK, Dewan Komisioner dapat
mengangkat staf ahli.
(4) Ketentuan lebih lanjut mengenai organisasi dan tata
kerja OJK diatur dengan Peraturan Dewan Komisiioner.
Pasal27
(1) Dewan Komisioner mengangkat dan memberhentikan
pejabat dan pegawai OJK.
(2) OJK dapat mempekeIjakan pegawai negeri· sesuai
dengan ketentuan peraturan perundang-undanga.n.
(3) Ketentuan lebih lanjut mengenai kepegawaian diatur
dengan Peraturan Dewan Komisioner.
BAB VI ...
PRESICJE.N
REPUBLIK INDONESIA
- 22 ­
BAB VI
PERLINDUNGAN KONSUMEN DAN MASYARAKAT
Pasal28
Untuk perlindungan Konsumen dan masyarakat, OJK
berwenang melakukan tindakan pencegahan kerugian
Konsumen dan masyarakat, yang meliputi:
a. memberikan informasi dan edukasi kepada masyarakat
atas karakteristik sektor jasa keuangan, layanan, dan
produknya;
b. meminta Lembaga Jasa Keuangan untuk menghentikan
kegiatannya apabila kegiatan tersebut berpotensi
merugikan masyarakat; dan
c. tindakan lain yang
ketentuan peraturan
jasa keuangan.
dianggap perlu sesuai dengan
perundang-undangan di sektor
Pasal29
OJK melakukan pelayanan pengaduan Konsumen yang
meliputi:
a. menyiapkan perangkat yang memadai untuk pelayanan
pengaduan Konsumen yang dirugikan oleh pelaku di
Lembaga Jasa Keuangan;
b. membuat mekanisme pengaduan Konsumen yang
dirugikan oleh pelaku di Lembaga Jasa Keuangan; dan
c. memfasilitasi penyelesaian pengaduan Konsumen yang
dirugikan oleh pelaku di Lembaga Jasa Keuangan
sesuai dengan peraturan perundang-undangan di
sektor jasa keuangan.
Pa$a130 ...
fOR N
REPUElLIK INDONESIA
- 25 ­
(3) Setiap Orang yang mengetahui informasi yang bersifat
rahasia, baik karena kedudukannya, profesinya, sebagai
pihak yang diawasi, maupun hubungan apa pun
dengan OJK, dilarang menggunakan. atau
mengungkapkan informasi terse but kepada pihak lain,
kecuali dalam rangka pelaksanaan fungsi, tugas, dan
wewenangnya berdasarkan keputusan OJK atau
diwajibkan oleh Undang-Undang.
(4) Peianggaran terhadap ketentuan ayat (1), ayat (2), dan
ayat (3) dapat dikenai sanksi administratif dan/ atau
sanksi lainnya sesuai dengan ketentuan petaturan
perundang-undangan. '
(5) Ketentuan lebih lanjut mengenai kerabasiaan,
penggunaan, dan pengungkapan informasi sebagrumana
dimaksud pada ayat (1), ayat (2), dan ayat (3); diatur
dengan Peraturan Dewan Komisioner.
BAB VlIl
RENCANA KERJA DAN ANGGARAN
Pasal34
(1) Dewan Komisioner menyusun dan menetapkan tencana
kerja dan anggaran OJK. .
(2) Anggaran OJK bersumber dan Anggaran Pendapatan
dan Belanja Negara dan/ atau pungutan dari pihak yang
melakukan kegiatan di sektor jasa keuangan.
(3) Ketentuan lebih lanjut mengenai rencana keJja dan
anggaran OJK sebagaimana dimaksud pada (1)
diatur dengan Peraturan Dewan Komisioner. .
Pasa135
(1) Anggaran OJK sebagaimana dimaksud dalam Pasal 34
ayat (2) digunakan untuk membiayai kegiatan
operasional, administratif, pengadaan serta
kegiatan pendukung lainnya.
(2) Anggaran ...
PRESIDgN
RgPUBLIK INDONESIA
·26 ­
(2) Anggaran dan penggunaan anggaran untuk membiayai
kegiatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
ditetapkan berdasarkan standar yang wajar di sektor
Jasa keuangan dan dikecualikan dari standar biaya
umum, proses pengadaan barang dan jasa, d ~ sistem
remunerasi sebagaimana diatur dalam peraturan
perundang-undangan yang terkait dengan Anggaran
Pendapatan dan Beianja Negara, pengadaan barang dan
jasa Pemerintah, dan sistem remunerasi.
(3) Untuk mendukung kegiatan operasional OJK,
Pemerintah dapat melakukan penernpatan dana awal ke
OJK.
(4) Ketentuan lebih lanjut mengenai standar biaya, proses
pengadaan barang dan jasa, dan sistern remunerasi
dilltur dengan Peraturan Dewan Komisioncr.
Pa.sa136
Untuk penetapan anggaran sebagaimana dimaksud daiam
Pasai 34 ayat (1) dan ayat (2), OJK terlebih dahulu tilerninta
persetujuan Dewan Perwakilan Rakyat. .
Pasa137
(1) OJK rnengenakan pungutan kepada pihak: yang
rnelakukan kegiatan di sektor jasa keuangan. .
(2) Pihak yang melakukan kegiatan di sektqr jasa
keuangan wajib mernbayar pungutan yang dikenakan
OJK sebagaimana dimaksud pada ayat (1).
(3) Pungutan sebagaimana dimaksud pada ayat (11 adalah
penerirnaan OJK. .
(4) OJK rnenerirna, mengeiola, dan mengadministrasikan
pungutan sebagaimana dimaksud pada ayat (3, secara
akuntabel dan mandiri. .
(5) ti.lam ...
,
PRESIDEN
REPUBLIK INDONESIA
- 27 ­
(5) Dalam hal pungutan yang diterima pada tahun berjalan
melebihi kebutuhan OJK untuk tahun anggaran
berikutnya, kelebihan tersebut disetorkan ke Kas
Negara.
(6) Ketentuan lebih lanjut mengenai pungutan
sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dengan
Peraturan Pemerintah.
BABIX
PELAPORAN DAN AKUNTABILITAS
Pasal38
(1) OJK wajib menyusun laporan keuangan yang terdiri
atas laporan keuangan semesteran dan tahunan,
(2) OJK wajib menyusun laporan kegiatan yang terdiri atas
laporan kegiatan bulanan, triwulanan, dan tahunan.
(3) Dalam hal Dewan Perwakilan Rakyat memerlukan
penjelasan. OJK wajib menyampaikan laporan. .
(4) Periode laporan keuangan sebagaimana d i m a k s ~ d pada
ayat (1) adalah tanggal I Januari sampai dengan 31
Desember. .
(5) OJK wajib menyampaikan laporan kegiatan trivrulanan
sebagaimana dimaksud pada ayat (2) kepada: Dewan
Perwakilan Rakyat sebagai bentuk pertanggungjawaban
kepada masyarakat.
(6) Laporan kegiatan tahunan sebagaimana dimaksud
pada ayat (2) disampaikan kepada Presiden dan. Dewan
Perwakilan Rakyat.
(7) Untuk penyusunan laporan keuangan sebagalmana
dimaksud pada ayat (I), Dewan Korttisioner
menetapkan standar dan kebijakan akuntansi OlJK.
(8) Laporan ...
PRESIOEN
REPUBLIK INDONESIA
- 28 ­
(8) Laporan keuangan tahunan sebagaimana dimaksud
pada ayat (1) diaudit oleh Badan Pemeriksa Keuangan
atau Kantor Akuntan Publik yang ditunjuk oleh Badan
Pemeriksa Keuangan.
(9) OJK wajib mengumumkan laporan tahunah OJK
kepada publik melalui media cetak dan· media
e1ektronik.
(10) Ketentuan lebih lanjut mengenai bentuk dan susunan
laporan keuangan sebagaimana dimaksud padaayat (1)
dan laporan kegiatan sebagaimana dimaksud ayat
(2), serta tata cara, bentuk, dan susunan laponm yang
diumumkan kepada publik diatur dengan Peraturan
Dewan Komisioner.
BABX
HUBUNGAN KELEMBAGAAN
Bagian Kesatu
Koordinasi dan Kerja Sarna
Pasal39
Dalam melaksanakan tugasnya, OJK berkoordinasidengan
Bank Indonesia dalam membuat peraturan pengawasan di
bidang Perbankan antara lain:
a. kewajiban pemenuhan modal minimum bank;
b. sistem informasi perbankan yang terpadu;
c. kebijakan penerimaan dana dari luar . negeri,
penerimaan dana valuta asing, dan pinjaman kdmersial
luar negeri;
d. produk perbankan, transaksi derivatif, kegiatan usaha
bank lainnya;
e. penentuan institusi bank yang masuk
systemically important bank; dan
f. data ...
PRESIDEN
REPUSLIK INDONESIA
, 29 ­
f. data lain yang dikecualikan dari ketentuan tentang
kerahasiaan informasi.
Pasal40
(1) Dalam hal Bank Indonesia untuk melaksanakanfungsi,
tugas, dan wewenangnya memerlukan peme)iksaan
khusus terhadap bank tertentu, Bank Indonesia dapat
melakukan pemeriksaan langsung terhadap bank
tersebut dengan menyampalkan pemberitahuan secara
tertulis terlebih dahulu kepada OJK.
(2) Dalam melakukan kegiatan pemeriksaan sebagrumana
dimaksud pada ayat (1), Bank Indonesia dapat
memberikan penilalan terhadap tingkat
bank.
(3) Laporan hasil pemeriksaan bank sebagaimana
dimaksud pada ayat (1) disampaikan kepad" OJK
paling lama 1 (satu) bulan sejak diterbitkannya japoran
hasil pemeriksaan.
Pasal41
(1) OJK menginformasikan kepada Lembaga Penjamin
Simpanan mengenai bank bermasalah yang isedang
dalam upaya penyehatan oleh OJK sebagaimana
dimaksud dalam peraturan perundang-undanga$.
(2) Dalam hal OJK mengindikasikan bank tertentu
mengalami kesulitan likuiditas danl atau kondisi
kesehatan semakin memburuk, OJK segera
menginformasikan ke Bank Indonesia •untuk
melakukan langkah-langkah sesuai dengan
kewenangan Bank Indonesia.
42 ...
F'RESIDEN
REF'UBLIK INDONESIA
·30·
Pasal42
Lembaga Penjamin Simpanan dapat melakukan
pemeriksaan terhadap bank yang terkait dengan: fungsi.
tugas dan wewenangnya. serta berkoordinasi iterlebih
dahulu dengan OJK.
Pasal43
OJK, Bank Indonesia. dan Lembaga Penjamin Sifupanan
wajib membangun dan memelihara sarana pertukaran
informasi secara terintegrasi.
Bagian Kedua
Protokol Koordinasi
Pasal44
(1) Untuk menjaga stabilitas sistem keuangan. djbentuk
Forum Koordinasi Stabilitas Sistem Keuangan idengan
anggota terdiri atas:
a. Menteri Keuangan selaku anggota merangkap
koordinator;
b. Gubernur Bank Indonesia selaku anggota; ,
c. Ketua Dewan Komisioner OJK selaku anggota; dan
d. Ketua Dewan Komisioner Lembaga Penjamin
Simpanan selaku anggota.
(2) Forum Koordinasi Stabilitas Sistem Keuangan pibantu
kesekretariatan yang dipimpin salah seorang ipejabat
eselon I di Kementerian Keuangan. '
(3) Pengambilan keputusan dalam rapat Forum Ko<;>rdinasi
Stabilitas Sistem Keuangan berdasarkan musyawarah
untuk mufakat.
(4) D.tlam ...
PRESIDEN
REPUBLIK INDONESIA
- 31 ­
(4) Dalam hal musyawarah untuk mufakat sebagaimana
dimaksud pada ayat (3) tidak tercapai. maka
pengambilan keputusan dilakukan berdasarkap suara
terbanyak.
Pasal45
(1) Dalam kondisi normal, Forum Koordinasi Stabilitas
Sistem Keuangan:
a. wajib melakukan pemantauan dan ¢valuasi
stabilitas sistem keuangan;
b. melakukan rapat paling sedikit 1 (satu) kali dalam
3 (tiga) bulan; ,
c. membuat rekomendasi kepada setiap
untuk melakukan tindakan dan/atau miembuat
kebijakan dalam rangka memelihara s1:abilitas
sistem keuangan; dan '
d. melakukan pertukaran informasi.
(2) Dalam kondisi tidak normal untuk pencegahan dan
penanganan krisis, Menteri Keuangan, Gubern1ilr Bank
Indonesia, Ketua Dewan Komisioner OJK, dllml atau
Ketua Dewan Komisioner Lembaga Penjamin Simpanan
yang mengindikasikan adanya potensi krisis at$.u telah
terjadi krisis pada sistem keuangan,
dapat mengajukan ke Forum Koordinasi Sta,bilitas
Sistem Keuangan untuk segera dilakukan guna
memutuskan langkah-langkah pencegahan atau
penanganan krisis.
(3) Menteri Keuangan, Gubernur Bank Indonesia, Ketua
Dewan Komisioner OJK, dan Ketua Dewan Kornisioner
Lembaga Penjamin Simpanan berwenang mehgambil
dan melaksanakan keputusan untuk dan atals nama
institusi yang diwakilinya dalam rangka
keputusan Forum Koordinasi Stabilitas
,
i Sistem
Keuangan, dalam kondisi tidak normal sebagaimana
dimaksud pada ayat (2).
(4) FOrum ...
PRESIDEN
REPUBLIK INDONESIA
- 32 ­
(4) Forum Koordinasi Stabilitas Sistem Keluangan
menetapkan dan melaksanakan kebijakan yang
diperlukan dalam rangka pencegahan dan penanganan
krisis pada sistem keuangan sesuai dengan
kewenangan masing-masing.
(5) Keputusan Forum Koordinasi Stabilitas : Sistem
Keuangan yang terkait dengan penye1esaie0 dan
penanganan suatu bank gagal yang
berdampak sistemik mengikat Lembaga P¢njamin
Simpanan.
Pasal46
(1) Kebijakan Forum Koordinasi Stabilitas ,Sistem
Keuangan yang terkait dengan keuangan negaria wajib
diajukan untuk mendapat persetujuan 'Dewan
Perwakilan Rakyat.
(2) Keputusan Dewan Perwakilan Rakyat wajib ditetapkan
dalam waktu paling lama 24 (dua puluh jam
sejak pengajuan persetujuan sebagaimana dixinaksud
pada ayat (1) diterima oleh Dewan Perwakilan R+.kJ'at.
Bagian Ketiga
Hubungan lnternasional
Pasal47
(1) OJK dapat melakukan kerja sarna dengan otoritas
pengawas Lembaga Jasa Keuangan di negara lain serta
organisasi internasional dan lembaga interriasional
lainnya, antara lain pada bidang dan/atau kegiatan
sebagai berikut: '
a. pengembangan kapasitas kelembagaan. ant\U'a lain
pelatihan sumber daya manusia di : bidang
pengaturan dan pengawasan Lembaga! Jasa
Keuangan;
b. pertultaran ...
PRESIDEN
REPUBLIK INDONESIA
- 33 ­
b. pertukaran informasi; dan
c. kelja sarna dalam rangka pemeriksaa,n dan
penyidikan serta pencegahan kejahatan dl sektor
keuangan. .
(2) OJK dapat menjadi anggota organisasi pengawas jasa
keuangan internasional.
(3) Dalam hal persetujuan perjanjian internasi!mal di
sektor jasa keuangan menyangkut masalah !hukurn
dan berdampak pada sistem keuangan nasionfil, OJK
wajib mendapatkan konfirmasi dad Dewan PerWakilan
Rakyat.
(4) OJK dapat melakukan kerja sarna dan
bantuan dalam rangka pemeriksaan dan
yang dilakukan oleh otoritas pengawas Jasa
Keuangan negara lain berdasarkan perr)li.ntaan
tertulis.
(5) Kerja sarna dan pemberian bantuan dalamrangka
pemeriksaan dan penyidikan sebagaimana dimaksud
pada ayat (4) dapat dilakukan apabila: .
a. otoritas pengawas Lembaga Jasa Keuangani negara
lain tersebut telah memiliki peljanjian kelja sarna
timbal balik dengan OJK; dan .
b. pelaksanaan kerja sarna dan pemberian
tersebut tidak bertentangan dengan kepehtingan
,
umum.
(6) Kelja sarna dan pemberian bantuan dalarn :rangka
penyidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (4) dapat
dilakukan apabila: .
a. otoritas pengawas Lembaga Jasa Keuangan'nl:gara
lain tersebut telah memiliki perjanjian keljb. sarna
timbal balik dengan OJK; dan •
b. pelaksanaan kerja sarna dan pemberian t¥mtuan
tersebut dilakukan sesuai dengan ketentuan
peraturan perundang-undangan di bidang kerja
sarna tim bal balik dalam masalah pidana.
PasdI48 ...
PRESIDEN
REPUBLIK INDONESIA
- 34 ­
Pasa148
Semua bentuk kerja sama intemasional, termasuk di
bidang pengaturan, pengawasan, dan penyidikan, wajib
didasarkan pada prinsip timbal balik yang seimbang.
BAB XI .
PENYIDIKAN
Pasal49
(1) Selain Pejabat Penyidik Kepolisian Negara
Indonesia, Pejabat Pegawai Negeri Sipil tertenttu yang
lingkup tugas dan tanggung jawabnya yang meliputi
pengawasan sektor jasa keuangan di lingkungEl4n OJK,
diberi wewenang khusus sebagai
sebagaimana dimaksud dalam Kitab
Hukum Acara Pidana.
(2) Pegawai negeri sebagaimana dimaksud dalam Pasa! 27
ayat (2) dapat diangkat menjadi Penyidik
Negeri Sipil sebagaimana dimaksud pada ayat
(3) Penyidik Pegawai Negeri Sipil sebagaimana dirttaksud
pada ayat (1) berwenang: '
a. menerima laporan, pemberitahuan,! atau
pengaduan dan seseorang tentang adanya I tindak
pidana di sektor jasa keuangan; ,
b. me!akukan penelitian atas kebenaran
atau keterangan berkenaan dengan tindak pidana
di sektor jasa keuangan; :
c. me1akukan penelitian terhadap Setiap Orar{g yang
diduga melakukan atau terlibat dalam !tindak
pidana di sektor jasa keuangan;
d. memanggil ...
L
PRESIDEN
REPUBLIK INDONESIA
- 35 ­
d. memanggil, memeriksa, serta meminta keterangan
dan barang bukti dari Setiap Orang yang dlsangka
melakukan, atau sebagai saksi dalam. tindak
pidana di sektor jasa keuangan;
e. melakukan pemeriksaan atas pembukuan,
catatan, dan dokumen lain berkenaan dengan
tindak pidana di sektor jasa keuangan;
f. melakukan penggeledahan di setiap: tempat
tertentu yang diduga terdapat setiap barartg bukti
pembukuan, pencatatan, dan dokumen lain serta
melakukan penyitaan terhadap barang yarig dapat
dijadikan bahan bukti dalam perkara. tindak
pidana di sektor jasa keuangan; ,
g. meminta data, dokumen, atau alat bukti lain, baik
cetak maupun elektronik kepada penyelenggara
jasa telekomunikasi;
h. dalam keadaan tertentu meminta kepada, pejabat
yang berwenang untuk melakukan pentegahan
terhadap orang yang diduga telah meiakukan
tindak pidana di sektor jasa keuangan sesuai
dengan ketentuan peraturan pemndang­
undangan; ,
i. meminta bantuan aparat penegak hukum tain;
j. meminta keterangan dari bank tentang keadaan
keuangan pihak yang diduga atau
terlibat dalam peianggaran terhadap
perundang-undangan di sektor jasa keuangan;
k. memblokir rekening pada bank atau
keuangan lain dari pihak yang diduga melakukan
atau terlibat dalam tindak pidana di sekitor jasa
keuangan; ,
meminta bantuan ahli dalam rangka pelaksanaan
tugas penyidikan tindak pidana di sek!:or jasa
keuangan;dan i
m. menyatakan saat dimulai dan dihentjikannya
penyidikan.
Pasai 50 ...
PRESIDEN
REPUBI_IK INDONESIA
- 36 ­
Pasal50
(1) Penyidik Pegawai Negeri Sipil sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 49 menyampaikan hasil penyidikan
kepada Jaksa untuk dilakukan penuntutan.
(2) Jaksa wajib menindaklanjuti dan memutuskan. tindak
lanjut hasil penyidikan sesuai kewenangannYaJ paling
lama 90 (sembilan puluh) hari sejak diterimanya hasil
penyidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1).
Pasa! 51
(1) Penyidik Pegawai Negeri Sipil yang dipekerjaikan di
OJK hanya dapat ditarik dengan pemberitahuan
paling singkat 6 (enam) bulan sebe1um penaril$.n dan
tidak sedang menangani perkara.
(2) Penyidik Pegawai Negeri Sipil diharuskan bekerjasama
dengan instansi terkait.
BAB XII
KETENTUAN PIDANA
Pasal52
(1) Setiap orang perseorangan yang me!anggar ket¢ntuan
Pasa! 33 ayat (1). ayat (2), dan/atau ayat (3). dipidana
dengan pidana penjara paling lama 6 (enam)' tahun
dan pidana denda paling banyak Rp15.000.000.000,OO
(lima betas miliar rupiah).
(2) Apabila pelanggaran terhadap ketentuan Pasa! $3 ayat
(2) dan/ atau ayat (3) dilakukan oleh koriporasi.
dipidana dengan pidana denda paling panyak
Rp45.000.000.000,00 (empat puluh lima miliar rupiah)
dan/atau sebesar jumlah kerugian yang ditimbulkan
akibat pelanggaran tersebut.
.
PasaI 53 ...
PRESIOEN
REPUSLIK Ir.JDONESIA
- 37
Pasal53
(1) Setiap Orang yang dengan sengaja mengabaikau, tidak
memenuhi, atau menghambat pelaksanaan
kewenangan OJK sebagaimana dimaksud dalarn Pasal
9 huruf c, huruf d, huruf e, huruf f, huruf g,
Pasal 30 ayat (1) huruf a, dipidana dengan pidana
penjara paling singkat 2 (dua) tahun dan pidanl\. denda
paling sedikit Rp5.000.000.000,00 (lima miliar rupiah)
atau pidana penjara paling lama 6 (enam) tahun dan
pidana denda paling banyak Rp1S.000.000.000,OO
(lima be1as miliar rupiah). .
(2) Apabila pelanggaran sebagaimana dimaksud pada ayat
(1) dilakukan oleh korporasi, dipidana denganpidana
denda paling sedikit Rp1S.000.000.000,OO (lima belas
miliar rupiah) atau paling banyak
Rp45.000.000.000,OO (empat puluh lima. miliar
rupiah).
Pasal 54
(1) Setiap Orang yang dengan sengaja
dan/atau tidak me1aksanakan perintah tertulis
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 9 huruf d atau
tugas untuk menggunakan pengeiola statuter
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 9 hl,b.ruf f,
dipidana dengan pidana penjara paling singkat ;2 (dua)
tahun dan pidana denda palingsedikit
RpS.OOO.OOO.OOO,OO (lima miliar rupiah) atau pidana
penjara paling lama 6 (enam) tahun dan pidana: denda
paling banyak Rp1S.000.000.000,OO (lima miliar
rupiah).
(2) Apabila pelanggaran sebagaimana dimaksud pa<!ia ayat
(1) dilakukan oleh korporasi, korporasi dilPidana
dengan pidana denda palingsedikit
RpIS.OOO.OOO.OOO.OO (lima belas miliar rupiah) atau
paling banyak Rp45.000.000.000,OO (empat. puluh
lima miliar rupiah).
BAB XIII ...

REPUBLIK INDONESIA
- 38 ­
BAB XIII
KETENTUAN PERALIHAN
Pasal55
(1) Sejak tanggal 31 Desember 2012, fungsi, tugas, dan
wewenang pengaturan dan pengawasan kegiatlln jasa
keuangan di sektor Pasar Modal, Perasuransian, Dana
Pensiun, Lembaga Pembiayaan, dan Jasa
Keuangan Lainnya beralih dari Menteri Keuangan dan
Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan
ke OJK.
(2) Sejak tanggal 31 Desember 2013, fungsi, tugas, dan
wewenang pengaturan dan pengawasan kegiatan jasa
keuangan di sektor Perbankan beralih dan: Bank
Indonesia ke OJK.
Pasal56
(1) Paling lama 8 (delapan) bulan sejak Undang-Undang
ini diundangkan, Presiden mengangkat; dan
menetapkan anggota Dewan Komisioner: untuk
pertama kali dengan susunan sebagaimana dinhaksud
dalam Pasal 10 ayat (4) sesuai dengan tata cara
sebagaimana diatur dalam Pasal 11 ayat {ll, ayat (3)
sampai dengan ayat (9), Pasal 12 ayat (1) tampai
dengan ayat (3) dan ayat (6), Pasal 13, dan Pasal14.
(2) Anggota Dewan Komisioner sebagaimana ditljlaksud
pada ayat (1) diangkat untuk masa jabatan $ (lima)
tahun. '
(3) Paling lama 60 (enam puluh) hari sejak Undang­
Undang ini diundangkan, Presiden membentuk fanitia
Seleksi calon anggota Dewan Komisioner; untuk
pertama kali dengan keanggotaan sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 11 ayat (3).
(4) Dewan ...
PRESIOEN
REPU8L1K INDONESIA
·39·
(4) Dewan Perwakilan Rakyat memilih calon anggota
Dewan Komisioner sesuai dengan jumlah anggota
Dewan Komisioner yang dibutuhkan, paling 30
(tiga puluh) hari sejak diterimanya nama-nama calon
anggota Dewan Komisioner dari Presiden.
(5) Calon anggota Dewan Komisioner terpilih
Dewan Perwakilan Rakyat kepada Presiden palirtg lama
7 (ttUuh) had sejak selesainya proses calon
anggota Dewan Komisioner sebagaimana diqlaksud
pada ayat (4). '
Pasa157
(1) Sejak Undang-lindang In! diundangkan sampai
dengan ditetapkannya anggota Dewan Korqisioner
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 56 ayat (1),
Kementerian Keuangan dibantu oleh Bank Indonesia
menyiapkan:
a. struktur organisasi, tugas pokok dan fungsi,
rancang bangun infrastruktur dan telicnologi
informasi, sistem sumber daya dan
standar prosedur operasional;
b. rencana kerja dan anggaran untuk 'tahun
anggaran 2013;
c. pejabat dan pegawai OJK;
i
d. pejabat dan pegawai organ pendukung pewan
Komisioner; dan
e. hal lain yang diperlukan dalam rangka pengalihan
fungsi, tugas, dan wewenang pengaturap dan
pengawasan kegiatan jasa keuangan di :sektor
jasa keuangan dad Bank Indonesia, l1.IIenteri
Keuangan, dan Badan Pengawas Pasar Modia! dan
Lembaga Keuangan ke OJK.
(2) Kementerian Keuangan menyampaikan hasil
persiapan sebagaimana dimaksud pada ay!lt (1)
kepada Dewan Komisioner OJK untuk ditetapkan.
Pasa:! 58 ...
PRESIDEN
REPUBLIK INDONESIA
40 ­
Pasal58
Paling lama 7 (tujuh) bulan sejak ini
diundangkan, Gubernur Bank Indonesia dan Menteri
Keuangan masing-masing mengusulkan calon !!Jlggota
Dewan Komisioner Ex-officio Bank Indonesia
dimaksud Pasal 10 ayat (4) huruf h dan 'IDe-officio
Kementerian Keuangan sebagaimana dimaksud 10
ayat (4) huruf i kepada Presiden untuk diangkat dan
ditetapkan sebagai anggota Dewan Komisioner.
Pasa! 59
I
Sejak diangkatnya anggota Dewan Kom;isioner
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 56 ayat (1)
I
dengan beralihnya fungsi, tugas, dan wewenang
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 55, Dewan
Komisioner bertugas:
a. menetapkan struktur organisasi, tugas pokak dan
fungsi, rancang bangun infrastruktur dan teknolagi
informasi, sistem sumber daya manusia, dan standar
prosedur operasional;
b. menetapkan rencana kerja dan anggaran OJKi tahun
anggaran 2013; ,
c. mengangkat pejabat dan pegawai OJK;
d. mengangkat pejabat dan pegawai organ pen4ukung
Dewan Komisioner; dan
e. menetapkan hal lain yang diperlukan dalam )'angka
pengalihan fungsi, tugas, dan wewenang
dan pengawasan kegiatan jasa keuangan di jasa
keuangan dari Bank Indonesia, Menteri
dan Badan Pengawas Pasar Modal dan Leimbaga
Keuangan ke OJK
PaS$l60 .. ,
F'RE.SIDlN
REPUBLIK INOONESIA
• 41 ­
Pa.sa160
(1) Paling lama 1 (satu) bulan sejak diangkatnya 4nggota
Dewan Komisioner sebagaimana dimaksud! dalam
Pasal 56 ayat (1), Dewan Komisioner tim
transisi setelah berkoordinasi dengan Menteri
Keuangan dan Gubernur Bank Indonesia.
(2) Menteri Keuangan dan Gubernur Bank In40nesia
wajib mengusulkan kepada Dewan Komisioner: orang­
orang yang menjadi anggota tim transisi lama
14 (empat belas) hari sejak diterimanya i surat
permintaan anggota tim transisi dad :Dewan
Komisioner.
(3) Dewan Komisioner menetapkan anggota tim
berdasarkan usulan Menteri Keuangan dan Gubernur
Bank Indonesia.
Pasal 61
(1) Tim transisi sebagaimana dimaksud dalam 60
ayat (1) bertugas membantu kelancaran
tugas Dewan Komisioner sebagaimana dintaksud
dalam Pasal 59.
(2) Dalam melaksanakan tugasnya, tim transisi
berwenang untuk mengindentifikasi dan memvehfikasi
kekayaan, infrastruktur, informasi, dokumen, dan hal
lain yang terkait dengan pengaturan dan
Lembaga Jasa Keuangan dan memperslapkan
pengalihan penggunaannya ke OJK. .
(3) Tim transisi wajib melaporkan
pelaksanaan tugas dan wewenangnya
dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) kepada rvttenteri
Keuangan, Gubernur Bank Indonesia, dan i Ketua
Dewan Komisioner OJK.
(4) Menteri ...
PRESIDEN
REPU8LIK INDONESIA
- 42 ­
(4) Menteri Keuangan, Gubernur Bank Indonesia, tim
transisi, atau pejabat dan pegawai di Kemepterian
Keuangan dan Bank Indonesia yang terkait pengan
fungsi, tugas, dan wewenang pengaturd dan
pengawasan Lembaga Jasa Keuangan, i wajib
membantu kelancaran pelaksanaan tugas Dewan
Komisioner sebagaimana dimaksud dalam PasaI 59.
(5) Gubernur Bank Indonesia, Menteri Keuangan,
dan/atau Ketua Dewan Komisioner OJK melaporkan
perkembangan proses pengaIihan fungsi, tugas, dan
wewenang dari Bank Indonesia, Kemehterian
Keuangan, dan Badan Pengawas Pasar Modhl dan
Lembaga Keuangan ke OJK paling sedikit 1 (satu) kali
dalam 3 (tiga) bulan kepada Dewan Perwakilan Rakyat.
Pasa162
Paling lama 2 (dua) bulan sejak diangkatnya
Dewan Komisioner sebagaimana dimaksud dalam Pasal 56
ayat (1), Dewan Komisioner menetapkan
organisasi, tugas pokok dan fungsi, standar prPsedur
operasional, dan rancang bangun infrastruktur OJK,
Pasal63
(1) Paling singkat 3 (tiga) bulan sebelum berlilihnya
fungsi, tugas dan wewenang sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 55, Ketua Dewan Komasioner
menyampaikan permintaan secara tertulis j.lsulan
nama pejabat dan pegawai kepada Gubemul1 Bank
Indonesia dan Menteri Keuangan yang akan dialihkan
,
atau dipekerjakan ke OJK. '
(2) Paling ...
(2)
(3)
(4)
(1)
(2)
PP[c,ICJE N
REPU8LIK INDONESIA.
- 43 ­
I
Paling singkat 2 (dua) bulan sebelum
fungsi, tugas dan wewenang sebagaimana dirP&.l<sud
dalam Pasal 55, Gubernur Bank Indonesia dan
Menteri Keuangan wajib mengusulkan nama pejabat
dan pegawai Bank Indonesia dan Kementerian
Keuangan, sesuai dengan permintaan Ketua ,Dewan
Komisioner, untuk dialihkan atau dipekerjeian ke
OJK. '
Untuk memenuhi kebutuhan OJK, selain pejaQat dan
pegawai sebagaimana dimaksud ayat (2), iDewan
Komisioner melakukan rekrutmen pejabat dan
pegawai secara terbuka.
Paling singkat 1 (satu) bulan sebelum
fungsi, tugas dan wewenang sebagaimana didlaksud
dalam Pasal 55, Dewan Komisioner menetapkan
pejabat dan pegawai yang diterima OJK.
Pasal64
Terhitung sejak beralihnya fungsi, tugast dan
wewenang sebagaimana dimaksud dalam Pasal55:
a. pejabat danl atau pegawai Badan Pengawad Pasar
Modal dan Lembaga Keuangan; dan
b. pejabat dan/atau pegawai Bank yang
melaksanakan fungsi, tugas, dan we'tenang
pengaturan dan pengawasan di sektor Perbalnkan,
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 63 a)1at (4)
dialihkan untuk dipekerjakan pada OJK.
Pejabat danJatau pegawai yang dialihkan luntuk
dipekerjakan sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
wajib bekerja di OJK untuk jangka waktu ipaling
singkat:
a. 1 (satu) tahun bagi pejabat dan/atau pegawai
yang berasal dari Badan Pengawas Pasar :Modal
dan Lembaga Keuangan; dan
b. 3 (tiga) ...
PRlcSIDEN
REPUBLlI" 1f'.IDONESIA
- 44 ­
b. 3 (tiga) tahun bagi pejabat danl atau yang
berasal dar! Bank Indonesia.
(3) Pejabat danI atau pegawai sebagaimana dizhaksud
pada ayat (2) wajib menetapkan pilihan status sebagai
pejabat dan/atau pegawai OJK atau: .
a. sebagai pejabat danl atau pegawai Kemerterian
Keuangan. paling lama 3 (tiga) bulan' sejak
beralihnya fungsi, tugas. dan wewenang
sebagaimana dimaksud dalam Pasal bagi
pejabat dan/ atau pegawai yang berasal datii Badan
Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keu,angan;
dan .
b. sebagai pejabat dan/atau pegawai Bank Indr.nesia,
paling lama 2 (dual tahun sejak beralihnya Ifungsi,
tugas. dan wewenang sebagaimana diqJ.aksud
dalam Pasal 55, bagi pejabat dan/atau J:legawai
yang berasal dari Bank Indonesia. .
(4) Pejabat danl atau pegawai sebagaimana dirhaksud
pada ayat (1) dan pejabat dan/atau pegawai OJK
sebagaimana dimaksud pada ayat (3) diberikan hak
sesuai dengan ketentuan OJK dengan· tidak
mengurangi hak pejabat dan/ atau pegawai yang

telah
dimiliki sebelum dan selama pengalihan. .
Pasal65
(1) Terhitung sejak beralihnya fungsi, tugas! dan
wewenang sebagaimana dimaksud dalam Pasal $5:
a. kekayaan dan dokumen yang dimiliki dahl atau
digunakan Bank Indonesia dalam tangka
pelaksanaan fungsi. tugas, dan we...yenang
pengaturan dan pengawasan di sektor Perbimkanj
.
b. kekayaan negara dan dokumen yang dimiliki
dan/atau digunakan Kementerian dan
Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga
Keuangan dalam rangka pelaksanaan rungsi,
tugas, dan wewenang pengaturan dan

di sektor ...
PRESICHcN
REPU8L1t\ INDONESIA
·45·
di sektor Pasar Modal, Perasuransian,; Dana
Pensiun, Lembaga Pembiayaan, dan Lembaga Jasa
Keuangan Lalnnya, .
dapat digunakan oleh OJK.
,
(2) Penggunaan kekayaan, kekayaan n e g a r a ~ dan
dokumen sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
ditetapkan dengan keputusan bersama i atau
keputusan Menteri Keuangan, Gubernur, Bank
Indonesia, dan Ketua Dewan Komisioneri yang
ditetapkan paling singkat 1 (satu) bulan sbbelum
beralihnya fungsi, tugas, dan wewenang sebagalmana
dimaksud dalam Pasal 55. '
Pasal66
(1) Sejak Undang-Undang ini diundangkan llampai
dengan beralihnya fungsi, tugas, dan wewenang
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 55:
a. Bank Indonesia tetap melaksanakan fungsi, tugas,
dan wewenang pengaturan dan pengfi,wasan
kegiatan jasa keuangan di sektor Perbank
an
;dan
b. Menteri Keuangan dan Badan Pengawas! Pasar
Modal dan Lembaga Keuangan I tetap
melaksanakan fungsi, tugas, dan wewenang
pengaturan dan pengawasan kegiatani jasa
keuangan di sektor Pasar Modal, Perasura,nsian,
Dana Pensiun. Lembaga Pembiayaan,i dan
Lembaga Jasa Keuangan Lainnya.
(2) Bank Indonesia, Menteri Keuangan, dan ~ a d a n
Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Ke\:langan
menyampaikan Iaporan atas pelaksanaan tungsi,
tugas dan wewenang sebagalmana dimaksudi pada
ayat (1). kepada OJK.
(3) Pembiayaan yang terkait dengan pelaksanaan tmgsi,
tugas, dan wewenang sebagaimana dimaksudi pada
ayat (1), bersumber dari:
a. BaAk ...
PRESIDEN
REPUBLIK INDONESIA
- 46 ­
a. Bank Indonesia untuk pe!aksanaan fungsiJ tugas,
dan wewenang pengaturan dan pengawasan di
sektor Perbankan; dan
b. Anggaran Pendapatan dan Be!anja Negara: untuk
pe1aksanaan fungsi, tugas, dan wewenang
pengaturan dan pengawasan di sektor i Pasar
Modal, Perasuransian, Dana Pensiun,
Pembiayaan, dan Lembaga Jasa Ke*angan
Lainnya.
(4) Pembiayaan rencana ketja dan anggaran sejak
Undang-Undang ini diundangkan sampai dlengan
beralihnya fungsi, tugas, dan wewenang
dan pengawasan sektor jasa keuangan OJK
sebagaimana dimaksud dalam Pasa! 55,
dari anggaran Badan Pengawas Pasar Modal dan
Lembaga Keuangan Kementerian Keuangan
Bank Indonesia.
Pasal67
(1) Keputusan mengenai pemberian izin usaha, izin orang
perseorangan, efektifnya pernyataan pendaftaran,
surat tanda terdaftar, persetujuan melakukan
kegiatan usaha, pengesahan, dan persetujua!j. atau
penetapan pembubaran, dan setiap keputusart yang
te!ah ditetapkan o!eh Bank Indonesia, Kemeriterian
Keuangan, dan Badan Pengawas Pasar Mod!:\1 dan
Lembaga Keuangan berdasarkan
perundang-undangan di sektor jasa keUjallgan
,
sebelum beralihnya fungsi, tUgas, dan wewenang
sebagaimana dimaksud da!am Pasa! 55, dinyatakan
tetap berlaku.
(2) Permohoqan ...
PRESIOEN
REPUBLIK INDONESIA
- 47 ­
(2) Permohonan izin usaha, izin orang perseor<angan,
pernyataan pendaftaran, surat tanda terldaftar,
persetujuan melakukan kegiatan usaha, pengeliahan,
dan persetujuan atau penetapan pembubaranf serta
permohonan penetapan lainnya yang sedang dalam
proses penyelesaian pada Bank
Kementerian Keuangan, dan Badan Pengawas; Pasar
Modal dan Lembaga Keuangan berdasarkan peraturan
I
perundang-undangan di sektor jasa keuangan, sejak
beralihnya fungsi, tugas, dan wewenang
dimaksud dalam Pasal 55, penyelesalannya
dilanjutkan oleh OJK.
Pasal68
Sejak beralihnya fungsi, tugas, dan wewenang
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 55, pemeriksaan
danfatau penyidikan yang sedang dilakukan oleh Bank
Indonesia, Kementerian Keuangan dan Badan Pengawas
Pasar Modal dan Lembaga Keuangan, penyelesaifumya
dilanjutkan oleh OJK. !
BABXIV
KETENTUAN PENUTUP
Pasal69
(1) Fungsi, tugas, dan wewenang Bank IndJnesia
sebagaimana dimaksud dalam:
a. Pasal 8 huruf c, Pasal 24, Pasal 25, Pasll-l 26,
Pasal 27, Pasa! 28, Pasal 29, Pasa! 30, 31,
Pasa! 32, dan Pasal 33 Undang-Undang Nomor 23
Tahun 1999 tentang Bank Indqnesia
I
.
.
se bagaim\:ma ...
PRESlf)[N
REPU8LIK INDONESIA
- 48 ­
sebagaimana telah beberapa kali diubah terakhir
dengan Undang-Undang Nomor 6 Tahu* 2009
tentang Penetapan Peraturan Pemerintah
Pengganti Undang-Undang Nomor 2 Tahutt 2008
tentang Perubahan Kedua Atas Undang-Ondang
Nomor 23 Tahun 1999 tentang Bank InGionesia
menjadi Undang-Undang (Lembaran lNegara
Republik Indonesia Tahun 2009 Nomor 7,
Tambahan Lembaran Negara Republik In40nesia
Nomor 4962); .
b. Pasal6, Pasa! 7, Pasal 8, Pasa! 11, Pasa!l::;!, Pasa!
13, Pasa! 16, Pasal 18, Pas a! 19, Pasa!
I
Pasal
22, Pasa! 27, Pasa! 28, Pasa! 29, 30,
Pasa! 31, Pasa! 31A, Pasa! 33, Pasa! 34,
Pasa!36, Pasa! 37, Pasa!37A, Pasa!38, Pasa!41,
Pasa! 41A, Pasal 42, Pasa!44, Pasa! 52, Pasal
I
53 Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1992
Perbankan sebagaimana te!ah diubah qengan
Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1998 tentang
Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 7 Tahun
1992 tentang Perbankan (Lembaran Negara
Republik Indonesia Tahun 1998 NomoI' 182,
Tambahan Lembaran Negara Republik Indpnesia
Nomor 3790); :
c. Pasa! 1 angka 15, Pasa! 5, Pasa! 6, Pasa! Pasa!
9, Pasa! 10, Pasal 11, Pasa! 16, Pasa! 17,' Pasa!
20, Pasa! 21, Pasa! 22, Pasa! 26, Pasa! 27'1 Pasa!
28, Pasa! 29, Pasa! 30, Pasa! 31, Pasa! 32,i Pasa!
33, Pas a! 34, Pasa! 35, Pasal 37, Pasa! 38,1 Pasa!
40, Pasal 42, Pasa! 43, Pasa! 46, Pasa! 50,! Pasa!
51, Pasa! 52, Pasa! 53, Pasa! 54, Pasa! 56,! Pasa!
57, dan Pasa! 58 Undang-Undang Nom?r 21
Tahun 2008 tentang Perbankan Syariah
(Lembaran Negara Republik Indonesia rahun
2008 Nomor 94, Tambahan Lembaran rfegara
Republik Indonesia Nomor 4867);
I
beralih menjadi fungsi, tugas, dan OJK
sejak beralihnya fungsi, tugas, dan wewenang
sebagaimana dimaksud da!am Pasa! 55 ayat (2). :
I
(2) Dengfm ...
I
PRESiDE,N
REPUSLII' iN[)ONESIA
- 49 ­
(2) Dengan beralihnya fUngsi, tugas, dan
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 55 ayat (2),
Lembaga Pengawas Perbankan sebagaimana diIlnaksud
dalam Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2004 tentang
Lembaga Penjamin Simpanan (Lembaran :Negara
Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 96, Taritbahan
Lembaran Negara Republik Indonesia 4420)
I
sebagaimana diubah dengan Undang-Undang 7
Tahun 2009 tentang Penetapan Peraturan Pembrintah
Pengganti Undang-Undang Nomor 3 Tabunl 2008
tentang Perubahan atas Undang-Undang Nozhor 24
Tahun 2004 tentang Lembaga Penjamin
Menjadi Undang-Undang (Lembaran Negara R¢publik
I
Indonesia Tabun 2009 Nomor 8, Tambahan Lerjlbaran
Negara Republik Indonesia Nomor 4963), adalah: OJK.
I
(3) Sejak Undang-Undang ini diundangkan, fungsi, tugas,
dan wewenang Komite Koordinasi sebagl:\.imana
dimaksud dalam Undang-Undang Nomor 24 [rabun
2004 tentang Lembaga Penjamin Simpanan (Lenltbaran
Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nompr 96,
Tambahan Lembaran Negara Republik Indionesia
Nomor 4420) sebagaimana diubah dengan Utjldang­
Undang Nomor 7 Tahun 2009 tentang
Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Ulndang
Nomor 3 Tahun 2008 tentang Perubahan atas Uqdang­
Undang Nomor 24 Tahun 2004 tentang
Penjamin Simpanan Menjadi Undang-Ubdang
(Lembaran Negara Republik Indonesia TahunI 2009
Nomor 8, Tambahan Lembaran Negara Republik
Indonesia Nomor 4963), dilaksanakan oleh forum
Koordinasi Stabilitas Sistem Keuangan sebagafmana
dimaksud dalam Undang-Undang ini.
!
(4) Ketent1:lan ...
PRESIDEN
REPUBUK INDONESIA
- 50 ­
(4) Ketentuan mengenai protokol koordinasi
dimaksud dalam Pasal 44, Pasal 45, dan 46
berlaku sampai dengan diundangkannya
undang mengenai jaring pengaman sistem keuar-gan.
Pasal70
Pada saat Undang-Undang ini mulai berlaku:
1. Undang-Undang Nomor 2 Tahun 1992 tentang IUsaha
Perasuransian (Lembaran Negara Republik Im!.onesia
Tahun 1992 Nomor 13, Tambahan Lembaran Negara
I
Republik Indonesia Nomor 3467) dan pereturan
pelaksanaannya;
2. Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1992 tentang
Perbankan (Lembaran Negara Republik Indonesia
Tahun 1992 Nomor 31, Tambahan Lembaran 1'Iegara
Republik Indonesia Nomor 3472) sebagaiman\· telah
diubah dengan Undang-Undang Nomor 10 : ahun
1998 tentang Perubahan Atas Undang-Undang
Nomor 7 Tahun 1992 tentang Perbankan
Negara Republik Indonesia Tahun 1998 Nomor 182,
Tambahan Lembaran Negara Republik
Nomor 3790) dan peraturan pelaksanaannya;
3. Undang-Undang Nomor 11 Tahun 1992 Dana
Pensiun (Lembaran Negara Republik Indonesia rahun
1992 Nomor 37, Tambahan Lembaran *egara
Republik Indonesia Nomor 3477) dan peraturan
pelaksanaannya;
,
I
4. ...

REPUBLII-\ INDONESIA
- 51 ­
I
4. Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1995 tentan$ Pasar
Modal (Lembaran Negara Republik Indonesia! Tahun
1995 Nomor 64, Tambahan Lembaran iNegara
Republik Indonesia Nomor 3608) dan petaturan
pelaksanaannya;
5. Undang-Undang Nomor 23 Tahun 1999 tentank Bank
Indonesia sebagaimana telah beberapa kali diubah
!
terakhir dengan Undang-Undang Nomor 6 Tahuh 2009
tentang Penetapan Peraturan Pemerintah Pebgganti
Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2008 ¥ntang
Perubahan Kedua Atas Undang-Undang Non\LOr 23
Tahun 1999 tentang Bank Indonesia nhenjadi
Undang-Undang (Lembaran Negara Republik Inq.onesia
Tahun 2009 Nomar 7, Tambahan Lembaran Negara
Republik Indonesia Nomor 4962) dan peraturan
pelaksanaannya; !
6. Undang-Undang Namar 21 Tahun 2008 tentang
Perbankan Syariah (Lembaran Negara Republik
Indonesia Tahun 2008 Nomor 94, Tarrlbahan
Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor: 4867)
dan peraturan pelaksanaannya; dan ;
!
7. peraturan perundang-undangan lainnya di jasa
keuangan, .
I
dinyatakan tetap berlaku sepanjang tidak
dan belum diganti berdasarkan Undang-Undang ini. I
PaBa! 71
Undang-Undang ini mulai berlaku pada timggal
I
diundangkan.
I
I
Agar ...
!
- 52 ­
Agar setiap orang mengetahuinya, memerihtahkan
pengundangan Undang- Undang ini I dengan
penempatannya dalam Lembaran Negara
Indonesia.
Disahkan di Jakarta
pada tanggal 22 November 2011
PRESIDEN REPUBLIK INDONESIf"
ttd.
DR. H. SUSILO BAMBANG YUmIpYONO
Diundangkan di Jakarta
pada tanggal 22 November 2011
MENTERI HUKUM DAN HAK ASASI MANUSIA
REPUBLIK INDONESIA,
ttd,
AMIR SYAMSUDIN
LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA TAHUN 2011 NOMOR '111.
Salinan sesuai dengan aslinya
KEMENTERIAN SEKRETARIAT J\'EGARA
REPUBLIK IJ\'DONESIA
Deputi Perundang-undangan
'W'''''t;; Perekonomian,
PRE.SlfJE!"4
REPUBLIK It,IDONESIA
PENJELASAN
ATAS
UNDANG-UNDANG REPUBLlK INDONESIA
NOMOR 21 TAHUN 2011
TENTANG
OTORITAS JASA KEUANGAN
1. UMUM
Dalam rangka mewujudkan perekonomian nasional yang mampu tlitmbuh
dengan stabil dan berkelanjutan, menciptakan kesempatan kerja yarj,g luas
dan seimbang di semua sektor perekonomian, serta mem\trikan
kesejahteraan secara adil kepada seluruh rakyat Indonesia maka px:ogram
pembangunan ekonomi nasional harus dilaksanakan secara
dan mampu menggerakkan kegiatan perekonomian nasionaI yang memiliki
jangkauan yang luas dan menyentuh ke seluruh sektor riil dari
perekonomian masyarakat Indonesia, Program pembangunan eHlonomi
nasional juga harus dilaksanakan secara transparan dan akuntabel yang
berpedoman pada prinsip demokrasi ekonomi sebagaimana diamanatkan
Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia fahun
1945, Untuk mencapai tujuan tersebut, program pembangunan ekionomi
nasional periu didukung oleh tata kelola pemerintahan yang
,
yang
secara terus menerus melakukan reformasi terhadap setiap komlPonen
daIam sistem perekonomian nasional. Salah satu komponen penting (iaIam
sistem perekonomian nasional dimaksud adalah sistem keuangatt dan
seluruh kegiatan jasa keuangan yang menjalankan fungsi bagi
berbagai kegiatan produktif di daIam perekonomian nasionaI, I
Fungsi intermediasi yang diselenggarakan oleh berbagai lembag1 jasa
keuangan, dalam perkembangannya telah memberikan kontribusi, yang
cukup signifikan dalam penyediaan dana untuk pembiayaan pemban\SUnan
ekonomi nasional. Oleh karena itu, Negara senantiasa
perhatian yang serius terhadap perkembangan kegiatan jasa
I
keuangan tersebut, dengan mengupayakan terbentuknya kerflngka
peraturan dan pengawasan sektor jasa keuangan yang dan
komprehensif, ,
Terjadidya .,.
! . ,
,
PRE'SIDe:N
REPUBLIf<, INDONESIA
- 2
i
Terjadinya proses globalisasi dalam sistem keuangan dan
kemajuan di bidang teknologi informasi serta inovasi finansial
i
telah
menciptakan sistem keuangan yang sangat kompleks, dinamis, dani saling
terkait antar-subsektor keuangan baik dalam hal produk maupun
kelembagaan. Di samping itu, adanya lembaga jasa keuangan yang
memiliki hubungan kepemilikan di berbagai subsektor kel,1angan
(konglomerasi) telah menambah kompleksitas transaksi dan interaksi
antarlembaga jasa keuangan di dalam sistem keuangan.
Banyaknya permasalahan lintas sektoral di sektor jasa keuangart, yang
meliputi tindakan moral, hazard, belum optimalnya perlin<;iungan
konsumen jasa keuangan, dan terganggunya stabilitas sistem keuangan
semakin mendorong diperlukannya pembentukan lembaga pengawl:tsan di
sektor jasa keuangan yang terintegrasi. :
Sehubungan dengan hal tersebut dl atas, perlu dilakukan penataan
kembali struktur pengorganisasian dari lembaga-Iembaga, yang
melaksanakan tugas pengaturan dan pengawasan di sektor jasa keJ.,langan
yang mencakup sektor perbankan, pasar modal, perasuransiari, dana
pensiun, lembaga pembiayaan, dan lembaga jasa keuangan lainnya.
Penataan dimaksud dilakukan agar dapat dicapai mekanisme
yang lebih efektif di dalam menangani permasalahan yang timbui dalam
sistem keuangan sehingga dapat lebih menjamin tercapainya stabilitas
sistem keuangan. Pengaturan dan pengawasan terhadap keseluruhan
kegiatan jasa keuangan tersebut harus dilakukan secara terintegrasi.
,
Selain pertimbangan-pertimbangan terdahulu, Undang-Undang Ndmor 23
Tahun 1999 tentang Bank Indonesia sebagaimana telah bebed.pa kali
diubah, terakhir dengan Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2009 itentang
Penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang Niomor 2
Tahun 2008 tentang Perubahan Kedua atas Undang-Undang Nomor 23
Tahun 1999 tentang Bank Indonesia Menjadi Undang-Undang, juga
mengamanatkan pembentukan lembaga pengawasan sektor jasa keuangan
yang mencakup perbankan, asuransi, dana pensiun, sekuritas, modal
ventura dan perusahaan pembiayaan, serta badan-badan lain yang
menyelenggarakan pengelolaan dana masyarakat. Lembaga
sektor jasa keuangan tersebut di atas pada hakikatnya merupakan
lembaga bersifat independen dalam menjalankan tugasnya dan
kedudukannya berada di luar pemerintah. Lembaga ini berkewajiban
menyampaikan laporan kepada Badan Pemeriksa Keuangan dan Dewan
Perwakilan Rakyat.
i
LerPbaga ...
i
----- _.- ... -- ...... u ................. ,. ........ u ..... ,. U.lLLI,.lA n,a,\ \,.;UCl ,tJClua LLaALAi:1.LUYo. Vt.VIH..e.:s
Keuangan otoritas di sektor jasa keuangan yang memiliki relasi
dan keterkaltan yang kuat dengan otoritas lain, dalam hal ini otorita4s fiskal
dan moneter. Oleh karena itu, Jembaga ini melibatkan keterwakilanunsur­
unsur dari kedua otoritas tersebut secara Ex-officio. Keberadaan Ex-officio
1nt rl';1"Y"I!'::lt.-<:<1'lrltron rtQla-rn '" I + •
PRESIDEN
REPU8L1K iNDONESIA
- 7 -
Hurufb I
I
Yang dimaksud dengan "peraturan perundang-undarlgan di
sektor jasa keuangan» adalah peraturan perundang-urJdangan
mengenai Lembaga Jasa Keuangan dan pihak yang mdakukan
kegiatan di sektor jasa keuangan.
Hurufc
Cukup jelas.
Hurufd
Cukup jelas.
Hurufe
Cukup jelas. i
I
Huruff i
Yang dimaksud dengan "perintah tertulis" adalah berintah
secara tertulis untuk melaksanakan atau tidak melaksanakan
kegiatan tertentu guna memenuhi ketentuan PGraturan
perundang-undangan di sektor jasa keuangan
mencegah dan mengurangi kerugian Konsumen, masyarakat,
dan sektor jasa keuangan. I
Perintah tertulis diberikan antara lain untuk
pengurus atau pihak tertentu di Lembaga Jasa
menghentikan, membatasi, atau memperbaiki kegiat usaha
atau transaksi, menghentikan atau mengubah peIjanji antara
Lembaga Jasa Keuangan dengan pihak lain yang diduga
merugikan Konsumen, masyarakat, dan sektor jasa
serta menyampaikan informasi, dokumen, danl atau .laporan
I
tertentu kepada OJK. I
Hurufg
Yang dimaksud dengan "pengelola statuter" adal4 orang
perseorangan atau badan hukum yang ditetapkan OJ\< untuk
melaksanakan kewenangan OJK. i
Pengelola statuter melaksanakan kewenangan OJK, antira lain,
untuk memenuhi ketentuan peraturan perundang-und ngan di
sektor jasa keuangan, mencegah dan mengurangi erugian
Konsumen, masyarakat, dan sektor jasa keuangan, dan/atau
pemberantasan kejahatan keuangan yang dilakukap. pihak
tertentu di sektor jasa keuangan. !

Lajngkah ...
PRESIDEN
REPUBLIK It,[)ONESIA
- 8 -
Langkah yang dilakukan pengelola statuter antara lain j:nelalui
penyelamatan kelangsungan usaha Lembaga Jasa Keuangan
tertentu, pengambilalihan seluruh wewenang dan I fungsi
manajemen Lembaga Jasa Keuangan oleh pengelola
pembatalan atau pengakhiran perjanjian, serta pengalihan
portofolio kekayaan atau usaha dari Lembaga Jasa Keuar{gan.
I
Hurufh I
Cukup jelas. I
Huruf i
Cukup jelas.
Pasa19
Hurufa
Cukup jelas.
Hurufb
Pengawasan Dewan Komisioner terhadap pelaksanaatt tugas
Kepala Eksekutif ditujukan untuk .dan
memperbaiki kinerja dari Kepala Eksekutif. Pengawasan
tidak dimaksudkan untuk memberi kewenangan kepadal Dewan
Komisioner untuk mengintervensi atau turut campur
pelaksanaan tugas dan wewenang setiap Kepala Eksekutif.
Hurufc
Cukup jelas.
Hurufd
Cukup jelas.
Hurufe
Cukup jelas.
Huruff
Cukup jelas.
Hurufg
Cukup jelas.
Hurufh
Cukup jelas.
,
,
...
PR I''';
REPUBLIK INDONESIA
- 9 ­
Pasall0
I
Ayat (1) :
Dewan Komisioner merupakan pimpinan tertinggi OJK.I Dalam
rangka pelaksanaan kerja sama dengan otoritas lembaga
pengawas lembaga jasa keuangan di negara lain serta organisasi
internasional dan lembaga internasional lainnya di sekt6r jasa
keuangan, anggota Dewan Komisioner bertindak sebagai pejabat
yang mewakili negara. :
Ayat (2)
Yang dimaksud dengan "bersifat kolektif' adalah bahwa: setiap
pengambilan keputusan Dewan Komisioner diputuskan I secara
bersama-sama oleh anggota Dewan Komisioner. .
Yang dimaksud dengan "bersifat kolegial" adalah setiap
pengambilan keputusan Dewan Komisioner berdajsarkan
musyawarah untuk mufakat dengan berasaskan dan
kekeluargaan di antara anggota Dewan Komisioner. I
Ayat (3)
Cukup jelas.
Ayat (4)
Hurufa
Cukup jelas.
Hurufb
Cukup jelas.
I
Hurufc
!
Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan memimpin! tugas
pengawasan terhadap kegiatan jasa keuangan di Isektor
Perbankan.
Hurufd
Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal memimpil1 tugas
pengawasan terhadap kegiatan jasa keuangan di i sektor
Pasar Modal.
Huruf e
Kepala Eksekutif Pengawas Perasuransian, Dana Pensiun,
Lembaga Pembiayaan dan Lembaga Jasa Keuangan Uunnya
i
I
memirqpin ...
I
PRESIOEN
REPUBL.lK INDONESIA
- 10 ­
i
memimpin tugas pengawasan terhadap jasa
keuangan di sektor Perasuransian, Dana Pensiun, Uembaga
Pembiayaan, dan Lembaga Jasa Keuangan Lainnya. i
Huruff
Cukup jelas.
Hurufg
Cukup jelas.
Hurufh
Cukup jelas.
Hurufi
Cukup jelas.
Ayat (5)
Setiap anggota Dewan Komisioner memiliki hak I untuk
memberikan pendapat dalam setiap proses
keputusan Dewan Komisioner, dan memUiki hak suara pada saat
keputusan ditetapkan berdasarkan suara terbanyak.
Pasal 11
Ayat (1)
Dalam penyampaian calon anggota Dewan Komisioner i kepada
Dewan Perwakilan Rakyat, Presiden menyampaikan nama-nama
calon Dewan Komisioner. i
Yang dimaksud dengan Dewan Perwakilan Rakyat ada1ah alat
kelengkapan Dewan Perwakilan Rakyat yang membidangi
keuangan dan perbankan. '
Ayat (2)
Cukup jelas.
Ayat (3)
Yang dimaksud dengan "unsur masyarakat" adalah akad£' misi di
sektor jasa keuangan, masyarakat industri Perbankan, ndustri
Pasar Modal, dan/atau Industri Keuangan Non-Ban yang
meliputi Perasuransian, Dana Pensiun, Uembaga Pem iayaan,
dan Lembaga Jasa Keuangan Lainnya.
Ayat (4) ...
PRE. SI))].: N
REPUBLIK, 1t-4()ONESIA
- 11 -
Ayat (4)
Di samping mengumumkan penerimaan calon anggota: Dewan
Komisioner, Panitia Seleksi secara aktif dapat menear! caJon­
calon yang memenuhi persyaratan dan keterwakilanl sesuai
dengan keahliannya dari sektor jasa keuangan yang :diawasi
OJK.
Ayat (5)
Pendaftaran calon anggota Dewan Komisioner dilakukan: dengan
memperhatikan syarat-syarat sebagaimana dimaksudl dalam
Undang-Undang ini.
Ayat (6)
Yang dimaksud dengan "seleksi administratif' adalah \' se1eksi
terhadap calon anggota Dewan Komisioner sesuai dengan
persyaratan sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undailg inL
Ayat (7)
Cukup jelas.
Ayat (8)
Cukup jelas.
Ayat (9)
Yang dimaksud dengan "3 [tiga) orang calon untukl setiap
anggota Dewan Komisioner" adalah bahwa dalam petitgajuan
calon, Panitia Seleksi menyampaikan 3 (tiga) orang calor! untuk
setiap anggota Dewan Komisioner dengan kualifikasi
dan pengalaman yang proporsional dalam industlji jasa
keuangan. Untuk 7 (tujuh) orang anggota Dewan KoniUsioner
yang dibutuhkan, Panitia Seleksi mengajukan kepada :Rresiden
sebanyak 21 [dua puluh satu) orang calon anggota IDewan
Komisioner. I
Pasal12
Ayat (1) ,
Untuk 7 (tujuh) orang anggota Dewan yang
dibutuhkan, Presiden mengajukan kepada Dewan Pertakilan
Rakyat sebanyak 14 (empat belas) orang calon anggota Dewan
Komisioner.
I
I
Ay4t (2) ...

REPU8LIK INDONESIA
- 12 -
Ayat (2)
Ketentuan ini hanya berlaku apabiJa terdapat kebutuhah untuk
mengisijabatan Ketua Dewan Komisioner. i
Ayat (3) i
Ketentuan ini hanya berlaku apabila terdapat kebutUheh untuk
mengisi jabatan Ketua Dewan Komisioner dan paling -*dikit 1
(satu) orang anggota Dewan Komisioner. !
Ayat (4)
Dalam rangka memilih calon anggota Dewan Komisioneq Dewan
Perwakilan Rakyat dapat meminta calon anggota! Dewan
Komisioner untuk melakukan presentasi dalam sidang Dewan
Perwakilan Rakyat menyangkut visi, pengalaman, atau
kemampuan, serta hal-hal yang berkaitan dengan ffi<jral dan
akhlak anggota Dewan Komisioner. !
I
Yang dimaksud dengan "45 (empat puluh lima) hari kerjia" tidak
termasuk masa reses, !
I
Ayat (5) I
I
Yang dimaksud dengan "selesainya proses calon
anggota Dewan Komisioner" adalah sejak ditetapkannya di rapat
paripurna Dewan Perwakilan Rakyat.
Ayat (6)
Cukup jelas.
Pasal13
Cukup jelas.
Pasal14
Cukup jelas.
Pasal15
Hurufa
Cukup jelas.
Hurufb i
Yang dimaksud dengan "memiliki akhlak, moral, dan
yang baik", antara lain tidak pernah masuk dalam daftf orang
tercela. I
,
I
c ...

REPUBLlI<- INDONESIA
- 13 -
Hurufc
Cukup jelas.
Hurufd
Cukup jelas.
Hurufe
i
Anggota Dewan Komisioner tidak terkendala oleh kondisi pasmani
yang secara permanen menyebabkan yang bersangkutan tidak
dapat menjalankan tugasnya dengan baik.
Huruf f
Cukup jelas.
Hurufg
Yang dimaksud dengan "mempunyai pengalaman atau 11:eahlian
di sektor jasa keuangan" adalah seseorang yang memiliki
pengalaman, keilmuan, atau keahlian yang memadai sektor
jasa keuangan. \
Hurufh
Cukup jelas.
Pasal16
Cukup jelas.
Pasal 17
Ayat (1)
Hurufa
Cukup jelas.
Hurufb .I
Pengunduran diri anggota Dewan Komisioner lj>erlaku
efektif sejak tanggal pengunduran diri tersebut disetujui
oleh Presiden.
Hurufc
Cukup jelas.
Hurufd i
Yang dimaksud dengan "berhalangan tetap" cacat
fisik danl atau cacat mental yang tidak
yang bersangkutan melaksanakan tugasnya dengan baik.
I
I
I
Pemberhentian ...

REPUBLItl INDONESIA
- 14 -
Pemberhentian anggota Dewan Komisioner kareIlJa cacat
fisik dan/atau cacat mental ditetapkan dengan Kevutusan
Presiden. 1
Yang dimaksud dengan "diperkirakan secara medis'\ adalah
perkiraan secara medis yang dibuktikan dengan ketfrangan
tertulis dari dokter yang menerangkan bahwa rmggota
Dewan Komisioner yang bersangkutan tidak: dapat
melaksanakan tugas lebih dari 6 (enam) bulan berturut­
turut. i
Hurufe
Yang dimaksud dengan "tanpa alasan yang I dapat
dipertanggungjawabkan" adalah tidak adanya alas¢1 yang
kuat yang menyebabkan anggota Dewan Koritisioner
diberhentikan. I
Alasan yang dapat dipertanggungjawabkan, antaJ\'a lain,
sakit yang dibuktikan dcngan surat keterangan dokt.er yang
ditunjuk Dewan Komisioner, penugasan di luar
OJK oleh Presiden, atau kegiatan lain demi kepehtingan
negara. I
Hurufr
Cukup jelas.
Hurufg
Cukup jelas.
Hurufh .
Yang dimaksud dcngan "semenda" adalah
kekeluargaan karena perkawinan, yaitu pertalian Iantara
salah seorang dari suami isteri dan keluarga sedarhll dari
pihak lain. .
Huruf i I,
Pelanggaran kode etik dalam ketentuan 1m ladalah
pelanggaran yang dikategorikan peianggaran bertt dan
dilaporkan oleh Dewan Komisioner kepada IDewan
Perwakilan Rakyat. ,
Hurufj
Cukup jeias.
Ayat (2)
Cukup jelas.
Pa$aI18 ...
PRESIDf-:f"
REPWBLIK INDONESIA
. 15 -
Pasa! 18
Ayat (1)
Cukup jelas.
Ayat (2)
Cukup je!as.
Ayat (3)
Yang dimaksud dengan "sisa masa jabatan anggota IDewan
Komisioner yang diberhentikan kurang dad 1 (satu) I tahun"
adalah sisa masa jabatan terhitung sejak tangga! pe1etapan
pemberhentian anggota Dewan Komisioner.
Pasa! 19
Ayat (1) i
I
Waki! Ketua yang bertindak sebagai pejabat sementarai Ketua
Dewan Komisioner memiliki kewenangan sebagai Kenjla dan
Wakil Ketua Dewan Komisioner, tetapi hanya memiliki t (satu)
hak suara.
Ayat (2)
I
I
. .
Ketua yang bertindak sebagai pejabat sementara Wakil! Ji(etua
Dewan Komisioner memiliki kewenangan sebagai Ket1a dan
Wakil Ketua Dewan Komisioner, tetapi hanya memiliki 1 (satul
hak suara.
Ayat (3)
Anggota Dewan Komisioner yang bertindak ejabat
sementara Ketua dan/ atau Wakil Ketua Dewan Ko isioner
memiliki kewenangan sebagai anggota, Ketua, dan/ata Waki!
Ketua Dewan Komisioner, tetapi hanya memiliki 1 (sat) hak
suara. I
I
Ayat (4)
Anggota Dewan Komisioner yang bertindak sebagai
sementara dari anggota Dewan Komisioner yang -jmsong
sebagaimana dimaksud ayat ini, memiliki kewenangan
anggota Dewan Komisioner dan anggota Dewan yang
dijabat sementara, tetapi hanya memiliki 1 (satu) hak suara.
\
20 ...

PRE-SI[)LN
REPUBLIt<. INDONESIA
- 16
Pasal20
Cukup jelas.
Pasal21
Cukup jelas.
Pasal22
Hurufa
i
Yang dimaksud dengan "dilarang memiliki benturan kepebtingan
di Lembaga Jasa Keuangan yang diawasi oleh OJK" adalah pada
saat menjabat sebagai anggota Dewan Komisioner: !
:
1) tidak menjadi pengurus atau yang setara dengan
di Lembaga Jasa Keuangan, atau tidak lagi J\Uenjadi
pengurus dengan cara mengundurkan did secara ,tertulis
sebagaipengurus; I
I
2) tidak menjadi pengendaJi dan pengelola di Lembaga Jasa
Keuangan; dan ,
i
3) tidak lagi menjadi pengendali di Lembaga Jasa Keuangan
dengan cara melepaskan pengendalian dan pengelolrannya
sesuai dengan peraturan perundang-undangan di: sektor
jasa keuangan. '
Hurufb
Apabila seseorang diangkat menjadi anggota Dewan
dan yang bersangkutan merupakan pengurus salal) satu
organisasi pelaku atau profesi di Lembaga Jasa Keuangatjt. yang
bersangkutan wajib terlebih dahulu melepaskan jabatan
kepengurusan pada organisasi pelaku atau profesi di Leimbaga
Jasa Keuangan tersebut sebelum ditetapkan menjadi
Dewan Komisioner. '
Hurufc
I
Apabila seseorang diangkat menjadi anggota Dewan KOm)sioner
dan yang bersangkutan merupakan pengurus salah satu\ partai
politik, yang bersangkutan wajib terlebih dahulu melepaskan
jabatan kepengurusan pada partai politik tersebut s1belum
ditetapkan menjadi anggota Dewan Komisioner. '
HUljuf d ...
PRESiDEt·J
REPUBLIK IHDONESIA
- 17
Hurufd I
Mengingat anggota Dewan Komisioner memiliki yang
sangat strategis dalam pengaturan dan pengawasan seklor jasa
keuangan, anggota Dewan Komisioner harus bertindak
profesional dan loyal terhadap pelaksanaan tugasnya. i
Namun, berdasarkan keterkaitan tugas dan jabatannya
Dewan Komisioner dapat merangkap jabatan pada letnbaga­
lembaga tertentu, misalnya jabatan pada or&anisasi
internasionaL \
Pasa123
Ayat (1)
Cukup jelas.
Ayat (2)
Dalam hal hubungan keluarga terjadi pada 2 (dual orang atau
lebih anggota Dewan Komisioner, hanya 1 (satu) yang
dapat tetap menjabat sebagai anggota Dewan Komisioner. T
Ayat (3)
Cukup jelas.
I
Pasa124
Ayat (1)
Cukup jelas.
Ayat (2)
Cukup jelas.
Ayat (3)
Cukup jelas.
Ayat (4)
Cukup jelas.
Ayat (5)
Cukup jelas.
Ayat (6)
Cukup jelas.
Ay!=tt (7) ...
PRE' '-;:'_ t 1"1

- 18 -
Ayat (7)
Cukup jelas.
Ayat (8)
Risalah rapat paling sedikit memuat hari dan i tanggal
pelaksanaan rapat, pimpinan dan peserta rapat, agenda rapat,
dan keputusan rapat. Dalam risalah rapat tersebut, ditUangkan
pendapat seluruh peserta rapat, baik yang menfratakan
persetujuan, tidak memberikan persetujuan, atau, tidak
berpendapat terhadap materi yang diputuskan rapat,
disertai dengan alasannya.
Ayat (9)
Cukup jelas.
Pasal25
Ayat (1)
Cukup jelas.
.
Dewan Komisioner yang ditunjuk mewakili OJK, antalra lain
dalam pelaksanaan ketja sarna antarinstansi dan hubungan
internasional. I
I
Yang dimaksud dengan "pihak lain" adalah badan,
institusi, atau orang, baik dari dalam maupun luar OJK. II
I
I
Ayat (3)
Cukup jelas.
Pasal26
Ayat (1) !
Yang dimaksud dengan "membentuk organisasi" ter:masuk
membentuk lembaga tertentu untuk antara lain menqukung
kegiatan, pengembangan dan pembinaan dan
pensiunan. Untuk tujuan ini, OJK dapat bekerja sarna Cliengan
lembaga lain. I
PFH':S[DE i\j
REPU8L1K INDONESIA
- 19
Ayat (2) !
Yang dimaksud dengan "sekretariat" adalah organ di bawah
Dewan Komisioner yang antara lain membidangi tugas\ umum,
keuangan, sumber daya manusia, organisasi, serta hlfbungan
masyarakat dan kelembagaan. i
I
Organ pendukung yang dibentuk oleh Dewan KOI1nisioner
diketuai atau dikoordinasikan oleh salah seorang anggot4 Dewan
Komisioner berdasarkan rapat Dewan Komisioner. ,
I
Yang dimaksud dengan "organ lain" antara lain I komite
remunerasi, komite manajemen risiko, serta komite t¢knologi
informasi dan komunikasi. I
I
Ayat (3)
Cukup jelas.
Ayat (4)
Cukup jelas.
Pasal27
I
Ayat (1) I
Yang dimaksud dengan "pejabat dan pegawai OJK"! adalah
pejabat dan pegawai baik tetap maupun dipekerjakan. iPejabat
OJK merupakan pejabat struktural ataupun fungsidnal di
lingkungan OJK antara lain deputi komisioner, direktur, dan
pejabat di bawahnya. \
Ayat (2) '\
Untuk mengefektifkan tugas dan wewenangnya, OJK dapat
mempekerjakan pegawai negeri dari instansi lain atau pengan
status lainnya. I
Pegawai negeri yang bekerja pada OJK dapat
i
berstatus
dipekerjakan atau status lainnya dalam rangka menlunjang
kewenangan OJK di bidang pemeriksaan, penyidikan: atau
tugas-tugas yang bersifat khusus. Pegawai neged tersebutrantara
lain berasal dad pejabat penyidik pegawai negeri sipil dan/atau
Pejabat Penyidik Kepolisian. Hak dan kewa,iiban pegawail negeri
tersebut disetarakan dengan hak dan kewajiban pegawai qJK.
\
I
A y a ~ (3) ...
i
PRESJ[};:. :.J
REPUBLIr. ,'''UONESIA
- 20 -
Ayat (3)
Yang dimaksud dengan "kepegawaian" mencakup antjara lain
pengangkatan, kepangkatan, jenjang karier, sistem remunerasi,
pemberhentian, usia pensiun, tata cara mempekerjakan 'pegawai
negeri, serta hak dan kewajiban lain pejabat dan pegawailOJK.
i
Pasal28
Cukup jelas.
Pasal29 ,
Dalam rangka penyelesaian pengaduan Konsumen, dapat
melakukan antara lain verifikasi dan pemeriksaan khus'fls atas
pengaduan dimaksud. i
Pasal30
Ayat (1)
Hurufa
Cukup jelas.
Hurufb
Angka 1
Yang dimaksud dengan "itikad tidak baik"ladalah
itikad tidak baik berdasarkan penilaian OJK. i
Angka 2 ;
Pengajuan gugatan dilakukan berdasarkan
OJK bahwa pelanggaran yang dilakukan oleli suatu
pihak terhadap peraturan perundang-undaI1gan di
sektor jasa keuangan mengakibatkan
materi bagi Konsumen, masyarakat, atau seklfr jasa
keuangan. :
Ayat (2) I
Yang dimaksud dengan "pihak yang dirugikan" adalah, pihak
Konsumen dan/ atau industri jasa keuangan karena pelanrgaran
peraturan perundang-undangan di sektor jasa keuangan., Ganti
kerugian diberikan sesuai dengan nUai yang ditetapkanl pihak
yang berwenang.
Pasai 31 ...

REPUBLI .... i!'il.)ONESIA
- 21 ­
Pasal31
Cukup jelas.
Pasal32
Ayat (1) I
Sejalan dengan praktik tata kelola yang balk, OJK merurnuskan
dan menerapkan kode etik. Kode etik antara lain lnemuat
ketentuan mengenai larangan untuk melakukan tindakim yang
tidak terpuji dan ketentuan umum mengenai perila!{u yang
diharapkan dari anggota Dewan Komisioner, pejablllt, dan
pegawai OJK. Kode etik inl dievaluasi secara berkala. I
Pemberlakuan kode etik disesuaikan dengan tingkatan Jabatan
dan kewenangan dari setiap anggota Dewan Komisioner,
dan pegawai OJK. :
Pelanggaran kode etik terdiri atas 3 (tiga) kategori
yaitu pelanggaran ringan, pelanggaran sedang, dan pelattggaran
berat.
Ayat (2)
Cukup jelas.
Pasa133
Ayat (1) i
Yang dimaksud dengan "rahasia" adalah sesuatu yang nienurut
peraturan perundang-undangan harus dirahasiakan.
Ayat (2)
Cukup jelas.
Ayat (3) .
Setiap Orang yang mengetahui informasi yang bersifat tahasia
karena kedudukannya misalnya, pejabat dari lembagl!l yang
berkoordinasi atau bekerja sarna dengan OJK. I
Setiap Orang yang mengetahui informasi yang bersifat
karena profesinya misalnya, auditor,
aktuaris di industri jasa keuangan.
penilai,
.
atau
Ayat (4)
Cukup jelas.
Ayat (5) .. ,
PRESIDf 1\1
REPUBLlI', INDONESIA
- 22 -
Ayat (5)
Peraturan Dewan Komisioner mengenai kerahasiaan,
penggunaan, dan pengungkapan informasi ditetapkan\ dengan
memperhatikan peraturan perundang-undangan.
Pasa134
Ayat(l)
Cukup jeias.
Ayat (2)
i
Yang dimaksud dengan "pihak yang melakukan kegi,atan di
sektor jasa keuangan" adalah Lembaga Jasa Keuangan d4tn/atau
orang perseorangan atau badan hukum yang melakukan
kegiatan di sektor jasa keuangan. i
I
Pembiayaan kegiatan OJK sewajarnya didanai secara mandiri
yang pendanaannya bersumber dari pungutan pihak
yang melakukan kegiatan di sektor jasa keuangan. Pehetapan
besaran pungutan tersebut dilakukan dengan tetap
memperhatikan kemampuan pihak yang melakukan di
sektor jasa keuangan serta kebutuhan pendanaan OJK. ,
Namun, pembiayaan OJK yang bersumber dad Afggaran
Pendapatan dan Belanja Negara tetap diperlukan: untuk
memenuhi kebutuhan OJK pada saat pungutan dari pihljik yang
melakukan kegiatan di industri jasa keuangan belun:l dapat
mendanai seluruh kegiatan operasional secara mandiri,' antara
lain pada masa awa! pembentukan OJK. I
.
Cukup jelas.
Pasa! 35
Ayat (1)
Yang dimaksud dengan "kegiatan operasional" adalah kbgiatan
penyelenggaraan pe1aksanaan fungsi, tugas dan wewenar{g OJK,
antara lain pengaturan, pengawasan, penegakan qukum,
edukasi dan perlindungan konsumen. I
yang ...
PRr ';1; It :"IJ
REPUBLi,', :;'" J\ 'NESIA
- 23 -
Yang dimaksud dengan "kegiatan administratif' ant1ar"a lain
meliputi kegiatan perkantoran, remunerasi, pendidi*an dan
pelatihan, pengembangan organisasi dan sumber daya n¥musia.
Yang dimaksud dengan "asee' adalah aset lancar dan aset
nonlancar, antara lain persediaan, gedung, peralatan da)1 mesin,
kendaraan, perlengkapan kantor, serta infrastruktur
informasi. i
Ayat (2) !
Yang dimaksud dengan "standar yang wajar pada sekltor jasa
keuangan" adalah standar biaya yang lazim digunakian oleh
sektor jasa keuangan atau regulator sektor jasa kfuangan
sejenis, baik domestik maupun internasional. Hal ini dilakukan
agar OJK dapat mengimbangi tuntutan dan dinamika jasa
keuangan, baik secara domestik maupun internasional. !
Yang dimaksud dengan "standar biaya umum" adalah Istandar
biaya umum yang diberlakukan terhadap Kementeri\m dan
Lembaga sebagaimana dimaksud dalam peraturan pei\lndang­
undangan yang terkait dengan Anggaran dan
Belanja Negara. I
i
Yang dimaksud dengan "sistem remunerasi" antara laizi sistem
mengenai penghasilan, asuransi dan dana pensiun, turijangan,
pesangon, dan imbalan prestasi. I
Ayat (3)
Dana awal berasal dari Anggaran Pendapatan dan IBelanja
Negara yang jumlah dan peruntukannya berdasarkan
persetujuan Dewan Perwakilan Rakyat.
I
Dewan Perwakilan Rakyat dalam hal ini adalah alat
Dewan Perwakilan Rakyat yang membidangi keuanglfn dan
perbankan.
Ayat (4)
Cukup jelas.
Pasa136 I
Yang dimaksud dengan "Dewan Perwakilan Rakyat" adalah alat
kelengkapan Dewan Perwakilan Rakyat yang membidangi kefangan
dan perbankan.
...
PRES!! lLN
REF'UBLIK 11"1.10NESIA
- 24 ­
Pasal37
Ayat(l) i
Yang dimaksud dengan "pungutan" antara lain pungutaln untuk
biaya perizinan, persetujuan, pendaftaran, dan pen$esahan,
biaya pengaturan, pengawasan, pemeriksaan, serta
dan transaksi perdagangan efek.
Pungutan digunakan untuk membiayai anggaran OJK yang tidak
dibiayai Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara. pPlgutan
OJK digunakan untuk membiayai kegiatan opeI'asional,
administrasi dan pengadaan aset serta kegiatan peqdukung
lainnya untuk penyesuaian biaya-biaya dimaksud
standar yang wajar di industri jasa keuangan. I
Yang dimaksud dengan "pihak yang melakukan kegi1ttan di
sektor jasa keuangan" adalah Lembaga Jasa Keuangan dan/atau
orang perseorangan atau badan yang melakukan keg¥ttan di
sektor jasa keuangan. I
i
Ayat (2)
I
Cukup jelas.
Ayat (3)
Cukup jelas.
Ayat (4)
Cukup jelas.
Ayat (5)
Cukup jelas.
Ayat (6) I
I
OJK menyiapkan rancangan Peraturan Pemerintah yang tilemuat
antara lain tata cara penetapan, jenis, besaran, waktu peqagihan
dan pembayaran pungutan, dan sanksi denda. :
Pasa138
Ayat (1)
Cukup jelas.
Ayat (2)
Laporan kegiatan yang disusun OJK antara lain memuat:
I
a. ...
r-J
REPUBLW !"!O('N£SIA
- 25 ­
a. pelaksanaan tugas dan wewenangnya pada I
,
periode
sebelumnya. I
1
b. rencana kebijakan, penetapan sasaran dan langkahtlangkah
pelaksanaan tugas dan wewenang OJK untuk pericide yang
akan datang. I
Ayat (3)
Yang dimaksud dengan "penjelasan" adalah penjelasaq terkait
pelaksanaan tugas dan wewenang OJK.
I
Yang dimaksud dengan "Dewan Perwakilan Rakyat" alat
kelengkapan Dewan Perwakilan Rakyat yang membidangi
keuangan dan perbankan. '
Ayat (4)
Cukup jelas.
Ayat (5)
Cukup jelas.
Ayat (6)
Penyampaian laporan OJK kepada Presiden dan! Dewan
Perwakilan Rakyat dimaksudkan untuk menj!i:skan
pelaksanaan kegiatan dan kinerja OJK selama tahun berj n.
Ayat(7) I
,
Penyusunan standar dan kebijakan akuntansi OJK
dilakukan dengan memperhatikan prinsip akuntansi' yang
berlaku umum.
Ayat (8)
Cukup jelas.
Ayat (9)
Cukup jelas.
Ayat (10) .
Dalam rangka menyusun laporan keuangan yang terkait
pembiayaan yang berasal dari Anggaran Pendapatan dan 8elanja
Negara, Dewan Komisioner harus memperhatikan
perundang-undangan. I
,
...
Jr,
REPLl8L1K ;n, ·qNESIA
- 26 ­
Pasa139
Tata cara koordinasi OJK dengan Bank Indonesia diatur Ibe.rsama
antara OJK dan Bank Indonesia. I
Hurufa
Cukup jelas.
Hurufb
Cukup jelas.
Hurufc
Cukup jelas.
Hurufd
i
Yang dimaksud dengan "kegiatan usaha bank lainnya>r antara
lain adalah kartu kredit, kartu debit, dan internet
Hurufe
Yang dimaksud dengan "systemically important adalah
suatu bank yang karena ukuran aset, modal, dan kefajiban,
luas jaringan, atau kompleksitas transaksi atas jasa
serta keterkaitan dengan sektor keuangan lain I dapat
mengakibatkan gagalnya sebagian atau keseluruhan barilk-bank
lain atau sektor jasa keuangan, baik secara opetasional
maupun fmansial, apabila bank tersebut mengalami
atau gagal. I
Huruff
i
Cukup jelas.
Pasal40
Ayat (1) I
Pada dasamya wewenang pemeriksaan terhadap bank, adalah
wewenang OJK. Namun. dalam hal Bank lnlionesia
melaksanakan fungsi, tugas, dan wewenangnya memb'-1!tuhkan
informasi melalui kegiatan pemeriksaan bank. Bank
dapat melakukan pemeriksaan secara langsung terhadap bank
tertentu yang masuk systemically important bank dan/ata:u bank
lainnya sesuai dengan kewenangan Bank Indonesia di Ibidang
macToprudential.
Uhtuk ."
PRES!;)!" J'-j
REPUBLlI' !"!'
- 27 ­
I
Untuk kelancaran kegiatan pemeriksaan oleh Bank In6onesia,
pemberitahuan secara tertulis dimaksud paling sedikit tnemuat
tujuan, ruang lingkup, jangka waktu, dan
pemeriksaan.
Ayat (2)
Penilaian terhadap tingkat kesehatan bank
kewenangan OJK.
Ayat (3)
Cukup jelas.
Pasal41
Ayat (1)
Cukup jelas.
Ayat (2)
Yang dimaksud dengan "langkah·langkah sesuai kewebangan
Bank Indonesia" adalah pemberian fasilitas pembiayaanljangka
pendek dalam menjalankan fungsi Bank Indonesia sebagai lender
of last resort. Dalam menjalankan fungsi dimaksud I Bank
Indonesia dapat melakukan pemeriksaan terhadap bank
menyampaikan pemberitahuan secara tertulis kepada OJIo\..
I
.
Pada dasarnya wewenang pemeriksaan terhadap bank iadalah
wewenang OJK. Dalam hal Lembaga Penjamin SiIl\lpanan
melaksanakan fungsi, tugas, dan wewenangnya membutuhkan
kegiatan pemeriksaan bank, Lembaga Penjamin Simpanan dapat
melakukan pemeriksaan bank dan tetap berkoordinasi dengain OJK
terlebih dahulu. I
Lingkup pemeriksaan meliputi pemeriksaan premi, poslsi siJpanan
bank, tingkat bunga, kredit macet dan tercatat, bank bermtsalah,
kualitas aset, dan kejahatan di sektor perbankan. I
I
43 ...
!\j
REPUB,-I'" '"f")NESIA
- 28 ­
Pasal43
Pada prinsipnya OJK membangun, memelihara dan
sistem informasi sesuai dengan tugas dan kewenangnya. ,
Yang dimaksud dengan "terintegrasi" adalah bahwa sistetn yang
dibangun oleh OJK, Bank Indonesia, dan Lembaga Penjatnin
Simpanan saling terhubung satu sama lain, sehingga setiap fnsdtusi
dapat saling bertukar informasi dan mengakses informasi pe*bankan
yang dibutuhkan setiap saat (timely basis). Informasi terse but tneliputi
informasi umum dan khusus tentang bank, laporan keuangap bank,
laporan hasH pemeriksaan bank yang dilakukan oleh Bank Inciionesia,
Lembaga Penjamin Simpanan atau oleh OJK, dan lain
dengan tetap menjaga dan mempertimbangkan kerahasiaan idformasi
sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. '
Pasa144
Ayat(l) ,
Menteri Keuangan, Gubernur Bank Indonesia, Ketua IDewan
Komisioner OJK, dan Ketua Dewan Komisioner Lembaga
Penjamin Simpanan masing-masing mewakili Kemdnterian
Keuangan, Bank Indonesia, OJK, dan Lembaga
Simpanan.
Ayat (2)
Cakupan kerja, sumber daya, dan anggaran kesekretlariatan
disepakati oleh setiap anggota Forum Koordinasi
Sistem Keuangan.
Ayat (3)
Cukup jelas.
Ayat (4)
Keputusan yang diambil Forum Koordinasi Stabilitas \Sistem
Keuangan mengikat seluruh anggota forum.
Pasal45
Ayat (1)
Cukup jelas.

}Jpi, ' .:- i!
I;'·
- 29 -
Ayat (2)
Yang dimaksud dengan "krisis pada sistem keuanganj' adalah
kondisi sistem keuangan yang sudah gagal menjalankan fungsi
dan perannya secara efektif dalam perekonomian yang
ditunjukkan dengan memburuknya berbagai indikator iekonomi
dan keuangan antara lain berupa kesulitan likuiditas,masalah
solvabilitas, dan/atau penurunan kepercayaan publik terhadap
sistem keuangan.
Ayat (3)
Cukup jelas.
Ayat (4)
Cukup jelas.
Ayat (5)
Yang dimaksud dengan "bank gagal" adalah bank yang
mengalami kesulitan keuangan dan membaJ!tayakan
kelangsungan usahanya serta dinyatakan tidak dapat lagi
disehatkan oleh OJK sesuai dengan kewenanga1 yang
dimilikinya.
Pasal46
Ayat (1) .
Yang dimaksud dengan "keuangan negara" adalah Afggaran
Pendapatan dan Belanja Negara pada saat kebijakan i Forum
Koordinasi Stabilitas Sistem Keuangan ditetapkan d1n/ atau
dilaksanakan. 1
Yang dimaksud dengan "Dewan Perwakilan Rakyat" alat
kelengkapan Dewan Perwakilan Rakyat yang membidangi
keuangan dan perbankan. I
Ayat(2) :
Yang dimaksud dengan "Dewan Perwakilan Rakyat" alat
kelengkapan Dewan Perwakilan Rakyat yang membidangi
keuangan dan perbankan. I
Pengajuan persetujuan disampaikan oleh Menteri Ke4angan
selaku koordinator Forum Koordinasi Stabilitas Sistem Keuangan
kepada Dewan Perwakilan Rakyat ditujukan langsung
Pimpinan alat kelengkapan Dewan Perwakilan Rakyat yang
I
I
I
membidangi ...
Pf-?f "_ i; I; ;,
REPUBLII "·iNESIA
- 30 ­
i
membidangi keuangan dan perbankan dengan tembusarl kepada
Pimpinan Dewan Perwakilan Rakyat. Surat dinyatakan
setelah dibacakan dalam rapat pleno alat kelengkaPi' Dewan
Perwakilan Rakyat dimaksud.
,
Pasal47
Ayat (1)
OJK dapat bekerja sama antara lain dengan: i
a. organisasi internasional seperti International of
Securities Commissions (IOSCO), International Org$ization
of Pension Supervisors (lOPS), International Association of
Insurance Supervisors (IAIS), organisasi dan
pengatur perbankan internasional; dan '
b. lembaga internasional seperti Asian Development Sank
(ADS), World Bank, Islamic Development Bank (IDB) , dan
Financial Action Task Force on Money Laundering (FAfF).
Ayat (2)
Pembiayaan terkait keanggotaan organisasi dibebankan dalam
anggaran OJK.
Ayat (3)
Perjanjian internasional yang berdampak pada sistem ke angan
nasional termasuk perjanjian internasional yang berqampak
pada kepentingan nasional di bidang sumber daya manusia,
pengendalian, dan kepemilikan di sektor jasa keuangan. '
Yang dimaksud dengan "Dewan Perwakilan Rakyat" alat
kelengkapan Dewan Perwakilan
keuangan dan perbankan.
Rakyat yang mempidangi
I
Ayat (4)
Cukup jelas.
Ayat (5)
Cukup jelas.
Ayat (6)
Cukup jelas.
...
Pf-<F;;..rl;J
REPUBLIh.
. 31 ­
Pasa148
Cukup jelas.
Pasal49
Ayat (1)
Cukup jelas,
Ayat (2)
Cukup jelas.
Ayat (3)
Huruf a
Cukup jelas.
Hurufb
Cukup jelas,
Hurufc
Cukup jelas.
!
I
Hurufd
Cukup jelas.
!
I
Hurufe
!
Cukup jelas,
Huruff
!
Cukup jelas.
Hurufg
Cukup jelas.
Hurufh
Cukup jelas.
Hurufi
Yang dimaksud dengan "penegak hukum lain" antaira lain
kejaksaan, kepolisian, dan pengadilan, .
Hurufj
Cukup jelas,
Hurufk
Cukup jelas.
Hurufl ...
ppr , 1 ~ ' 1 { r-J
REPUBI. I>' ' J ' ~ ' '1!\J[SIA
- 32 -
Hurufl
Cukup jelas.
Hurufm
Cukup jelas.
Pasal50
Cukup jelas.
Pasal51
Ayat(l)
Cukup jelas.
Ayat (2)
Yang dimaksud dengan "instansi terkait" antara lain kejfksaan,
kepolisian dan pengadilan. :
I
Pasal52
I
I
Cukup jelas. I
I
Pasal53
Cukup jelas.
Pasal54
Cukup jelas.
Pasal55
Cukup jelas.
Pasal 56
Ayat(l)
Anggota Dewan Komisioner ditetapkan dengan
I
Kep1!ltusan
Presiden.
I
. Aya,t (2) ...
PRt ":';,1;":q
REPUBL II, ")HESIA
- 33 -
Ayat (2)
Yang dimaksud dengan "masa jabatan 5 (lima) tahun" adalah
masa jabatan anggota Dewan Komisioner selain Dewan
Komisioner Ex-officio Kementerian Keuangan dan! Bank
Indonesia. \
Ayat (3)
,
Pembentukan Panitia Seleksi ditetapkan dengan
Presiden.
Ayat(4) ,
Dalam rangka memilih calon anggota Dewan Komisionerj Dewan
Perwakilan Rakyat dapat meminta calon anggota' Dewan
Komisioner untuk melakukan presentasi dalam sidang\ Dewan
Perwakilan Rakyat menyangkut visi. pengalaman, keahlian atau
kemampuan, serta hal-hal yang berkaitan dengan moral dan
akhlak anggota Dewan Komisioner. ,
Yang dimaksud dengan "30 (tiga puluh) han
n
tidak teFasuk
masa reses,
Ayat (5)
Yang dimaksud dengan "selesainya proses pemilihru{ calon
anggota Dewan Komisioner adalah sejak ditetapkannya <jii rapat
paripurna Dewan Perwakilan Rakyat. '
Pasal57
Ayat (1)
Huruf a
Cukup jelas.
Hurufb
Cukup jelas,
Huruf c
Yang dimaksud dengan "pejabat dan pegawai OJK" '\'adalah
pejabat dan pegawai OJK yang dialihkan dari Bank
Indonesia dan Badan Pengawas Pasar Modal dan Le\mbaga
Keuangan, Kementerian Keuangan.
Hurufd
Cukup jelas.
I
,
Hurufe .. ,
],q- J'l
REPU8L1r ',' 'j ,: '!'!t:SIA
- 34 -
Hurufe
Cukup jelas.
Ayat (2)
Penyampaian hasil persiapan dimaksud dilakukan setelah
Dewan Komisioner ditetapkan. Dewan Komisionerl dapat
me1akukan kajian dan penyempurnaan terhadap hasil pqrsiapan
dimaksud. \
Pasal58
Cukup jelas.
Pasal59
Hurufa
Cukup jelas.
Hurufb
Pembiayaan rencana kerja dan anggaran OJK
Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara.
i
Yang dimaksud dengan "pejabat dan pegawal OJK" \adalah
pejabat dan pegawai OJK yang dialihkan dad Bank
dan Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Ke.qangan,
Kementerian Keuangan, dan dari rekrutmen secara terbuk!a.
Pengangkatan jabatan pegawai OJK dilakukan dengan! Surat
Keputusan Dewan Komisioner. :
Hurufd I
Pengangkatan jabatan pegawai organ pendukung iDewan
Komisioner dilakukan dengan Surat Keputusan \Dewan
Komisioner.
Hurufe
Cukup jelas.
Pasal60
Ayat (1)
Cukup jelas.
Ayat (2) ...
PRE ',.IDc !"!
REPUBLIi, ',P',lNESIA
- 35 -
Ayat (2)
Keanggotaan
tim transisi berasal dari Bank dan
Kementerian
berdasarkan
Keuangan dalam proporsi yang
usulan Gubernur Bank Indonesia dan IMenteri
Keuangan.
Ayat (3)
Cukup jelas.
Pasal61
Ayat (1)
Cukup jelas.
Ayat (2) I
Dalam rangka mendukung kelancaran pelaksanaan
tim transisi dapat menggunakan pihak lain yang relevlill atas
biaya tim transisi. I
Ayat (3)
Cukup jelas.
Ayat (4)
Cukup jelas.
Ayat(5) i
Yang dimaksud dengan "Dewan Perwakilan Rakyat" adaJiah alat
kelengkapan Dewan Perwakilan Rakyat yang
keuangan dan perbankan. I
Pasal62
Cukup jelas.
Pasal63
Ayat (1)
Yang dimaksud dengan "pejabat dan pegawai" adalah tJejabat
dan pegawai Bank Indonesia dan Badan Pengawas Pasafl Modal
dan Lembaga Keuangan di Kementerian Keuangan yang ini
atau berpengalaman menangani pengaturan dan peng4wasan
\
perbankan ...
PR( . ~ I I '
REPUI3L1i" I,'," 'h,ESIA
- 36 ­
I '
perbankan, pasar modal, dan lembaga keuangan serta, pejabat
dan pegawai yang memiliki kualifikasi dan pengalamlitn yang
memadai di bidang pengaturan dan pengawasan sektor jasa
keuangan. .
Ayat (2)
Usulan nama pejabat dan pegawai yang dialihkap atau
dipekerjakan dari Bank Indonesia dan Badan Pengawais Pasar
Modal dan Lembaga Keuangan, Kementerian Kquangan
dilengkapi dengan keterangan tertulis yang memadai m\engenai
pangkat, golongan, jabatan, bidang tugas, gaji dan tunjangan,
pendidikan, pengalaman, keahlian, sasaran jabatrut yang
direkomendasikan, dan keterangan lain yang terkait. i
Yang dimaksud dengan "sesuai dengan permintaan Ketual Dewan
Komisioner" adalah kesesuaian jumlah, kualifikasi, pengalaman,
dan sasaran jabatan yang dibutuhkan dan diminta Ketuaj Dewan
Komisioner. I
I
Ayat(3) Ji
Rekrutmen pejabat dan pegawai secara terbuka dimul i sejak
ditetapkannya struktur organisasi, tugas pokok dan fungsi, dan
rancang bangun infrastruktur OJK oleh Dewan Komisionet.
Ayat(4j I
I
Penetapan pejabat dan pegawai yang diterima OJKi tidak
diartikan bahwa pejabat dan pegawai yang bersangkutaq sudah
dialihkan atau dipekerjakan menjadi pejabat dan pegaw9l OJK.
Pejabat dan pegawai tersebut dinyatakan sebagai pejaJ:j\at dan
pegawai OJK sejak pengangkatan yang bersangkutan oleh Dewan
Komisioner. Pejabat dan pegawai yang dipekerjakan tersebut
berhak memilih menjadi pegawai tetap OJK. !
Pasal64
Ayat (1) .
Penetapan pejabat dan pegawai OJK dilakukan dengan\ Surat
Keputusan Dewan Komisioner.
Ayat (2)
Cukup jelas.
.
Ayht (3) ...
REPUBl fl"'
- 37 -
Ayat (3)
Hurufa
Penetapan jangka waktu 3 (tiga) bulan dimaksudkiUl untuk
memberi kesempatan bagi OJK untuk melakukan proses
rekrutmen untuk mengisi kekosongan dari pejabat dan
pegawai yang tetap memilih status sebagai pegawai
Kementerian Keuangan.
Pejabat dan pegawai yang berasal dari Badan
Pasar Modal dan Lembaga Keuangan yang tetap Imemilih
sebagai pejabat dan pegawai Kementerian Kquangan
dikembalikan ke Kementerian Keuangan pada akhi;!" tahun
pertama. i
Hurufb
Penetapan jangka waktu 2 (dual tahun dimaksudkaf untuk
memberi kesempatan bagi OJK untuk melakukan proses
rekrutmen untuk mengisi kekosongan dad dan
pegawai yang tetap memilih status sebagai pegaw4i Bank
Indonesia. I
Pejabat dan pegawai yang berasal dari Bank Indonesia yang
tetap memilih sebagai pejabat dan pegawai Bank Indonesia
dikembalikan ke Bank Indonesia pada akhir tahun
Ayat (4)
Yang dimaksud dengan "hak pejabat dan pegawai" antalra lain
hak atas pengakuan masa kerja, kepangkatan,
asuransi, penghasilan, tunjangan dan hak lain sesuai aengan
ketentuan perundang-undangan, yang telah menjact1. hak
pegawai yang bersangkutan. i
Sejak pejabat dan pegawai dari Bank Indonesia dan
Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan dipekerjB¥an di
OJK, pejabat dan pegawai dimaksud memiliki haki yang
distandardisasi berdasarkan Peraturan Dewan Komisioner.1
Hak pejabat dan pegawai setelah menjadi pejabat dan
OJK selanjutnya mengikuti ketentuan mengenai hak dan
pegawal dengan ketentuan:
I
a.Bank ...
PRESIlJEN
REPU8L1K INDONESIA
- 38 ­
a. Bank Indonesia tetap bertanggung jawab atas biaya yang
timbul untuk memenuhi hak pejabat dan pegawai yang
berasal dari Bank Indonesia, misalnya: pensiun, asuransi
danl atau tabungan hari tua, sesuai dengan ketentuan yang
berlaku di Bank Indonesia,
b. Kementerian Keuangan tetap bertanggung jawab atas biaya
yang timbul untuk memenuhi hak pejabat dan pegawai yang
berasal dari Kementerian Keuangan, misalnya: ,pensiun,
asuransi danl atau tabungan hari tua, sesuai I dengan
ketentuan yang berlaku di Kementrian Keuangan. i
c. OJK bertanggung jawab atas biaya yang untuk
memenuhi kesetaraan hak pejabat dan pegawai berasal
dari Bank Indonesia dan Kementerian Keuangan, dalam
rangka mengikuti standardisasi hak pejabat dan pegawai di
OJK.
Pasal65
Ayat (1)
Yang dimaksud dengan "kekayaan" dan "kekayaan I
I
negara"
meliputi gedung, kendaraan, peralatan dan perlengkapan kantor,
dan infrastruktur Iainnya yang merupakan peflUnjang
terselenggaranya kegiatan pengaturan dan pengawasan sektor
jasa keuangan. \
Yang dimaksud dengan "dokumen" adalah data dan i1'formasi
baik dalam bentuk tertuIis maupun elektronik yang dimiliki
dan/atau digunakan dalam kegiatan pengaturi' dan
pengawasan sektor jasa keuangan, ,
Kekayaan dan dokumen Bank Indonesia, KemCfnterian
Keuangan, dan Badan Pengawas Pasar Modal dan 4:mbaga
Keuangan yang digunakan OJK adalah kekayaan dan dq>kumen
yang digunakan untuk pengaturan dan pengawasan sektor jasa
keuangan. Sedangkan kekayaan dan dokumen yang digpnakan
untuk pengaturan dan pengawasan perbankan tetapi juga
diperlukan oleh Bank Indonesia dalam rangka
tugasnya, digunakan secara bersama-sama, i
Yang dimaksud dengan "digunakan" adalah dapat dimanf\latkan,
dikelola, dan dipelihara oleh OJK.
i
I
Ayat (2) ...
i".;
REPUBLIK INi)OI'JESIA
- 40 ­
Pasal67
Cukup jelas.
Pasal68
Cukup jelas.
Pasal69
Ayat (1)
Hurufa i
Tugas Bank Indonesia dalam mengatur dan
bank sebagaimana dimaksud dalam Pasal 8 huruf, c yang
dialihkan ke OJK adalah tugas pengaturah dan
pengawasan yang berkaitan dengan microprl.dential
sebagaimana dimaksud Undang-Undang ini.
Bank Indonesia tetap memiliki tugas pengaturan
perbankan terkait macroprudential.
I
Hurufb
Cukup jelas.
I
i
Hurufc
I
Cukup jelas.
Ayat (2)
I
Cukup jelas.
Ayat (3)
Cukup jelas.
Ayat (4)
Cukup jeIas.
Pasal 70
Cukup jelas.
Pasal71
Cukup jelas.
I
,
TAMBAHAN LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA NOMOR 5253. :
I
I

You're Reading a Free Preview

Mengunduh
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->