Anda di halaman 1dari 21

BAB I PENDAHULUAN

1.1 TUJUAN 1.1.1 Mengetahui jenis longsoran yang ada dilapangan 1.1.2 Mengetahui cara penaggulangan longsoran yang terjadi 1.1.3 Mengetahui penyebab dan faktor yang dapat menyebabkan longsor 1.1.4 Mengetahui dampak dan akibat dari longsor yang terjadi 1.1.5 Mengetahui jenis kontruksi yang tepat untuk rekayasa bangunan, bendungan 1.2 MAKSUD 1.2.1 Praktikan dapat Mengetahui jenis longsoran yang ada dilapangan 1.2.2 Praktikan dapat Mengetahui cara penaggulangan longsoran yang terjadi 1.2.3 Praktikan dapat Mengetahui penyebab dan faktor yang dapat menyebabkan longsor 1.2.4 Praktikan dapat Mengetahui dampak dan akibat dari longsor yang terjadi 1.2.5Praktikan dapat Mengetahui jenis kontruksi yang tepat untuk rekayasa bangunan, bendungan dll. 1.3 WAKTU DAN TEMPAT PENGAMATAN 1.3 WAKTU PELAKSANAAN Waktu pelaksanaan pengamatan analisi longsor ini dilaksanakan pada : Hari Tanggal : :

1.4 TEMPAT PELAKSANAAN Pelaksanaan analisis longsoran ini dilaksanakan pada daerah : 1.

BAB II DASAR TEORI


Pengertian longsoran (landslide) dengan gerakan tanah (mass movement) mempunyai kesamaan. Untuk memberikan definisi longsoran perlu penjelasan keduanya. Gerakan tanah ialah perpindahan massa tanah/batu pada arah tegak, mendatar atau miring dari kedudukan semula. Gerakan tanah mencakup gerak rayapan dan aliran maupun longsoran. Menurut definisi ini longsoran adalah bagian gerakan tanah (Purbohadiwidjojo, dalam Pangular, 1985). Jika menurut definisi ini perpindahan massa tanah/batu pada arah tegak adalah termasuk gerakan tanah, maka gerakan vertikal yang mengakibatkan bulging (lendutan)

akibat keruntuhan fondasi dapat dimasukkan pula dalam jenis gerakan tanah. Dengan demikian pengertiannya menjadi sangat luas. Menurut Varnes (1978, dalam Hansen, 1984) longsoran (landslide) dapat diklasifikasikannya menjadi: jatuhan (fall), jungkiran (topple), luncuran (slide) dan nendatan (slump), aliran (flow), gerak bentang lateral (lateral spread), dan gerakan majemuk (complex movement). Klasifikasi yang diberikan oleh HWRBLC, Highway Research Board Landslide Committee (1978), mengacu kepada Varnes (1978) yang berdasarkan kepada: a) material yang nampak, b) kecepatan perpindahan material yang bergerak, c) susunan massa yang berpindah, dan d) jenis material dan gerakannya. Gerakan tanah (mass movement) menurut Varnes (1978) adalah gerakan perpindahan atau gerakan lereng dari bagian atas atau perpindahan massa tanah maupun batu pada arah tegak, mendatar atau miring dari kedudukan semula. Longsoran (landslide) merupakan bagian dari gerakan tanah, jenisnya terdiri atas jatuhan (fall), jungkiran (topple), luncuran (slide), nendatan (slump), aliran (flow), gerak horisontal atau bentangan lateral (lateral spread), rayapan (creep) dan longsoran majemuk. Untuk membedakan longsoran, landslide, yang mengandung pengertian luas, maka istilah slides digunakan kepada longsoran gelinciran yang terdiri atas luncuran atau slide (longsoran gelinciran translasional) dan nendatan atau slump (longsoran gelinciran rotasional). Berbagai jenis longsoran (landslide) dalam beberapa klasifikasi di atas dapat dijelaskan sebagai berikut :
Jatuhan (Fall) adalah jatuhan atau massa batuan bergerak melalui udara,

termasuk gerak jatuh bebas, meloncat dan penggelindingan bongkah batu dan bahan rombakan tanpa banyak bersinggungan satu dengan yang lain. Termasuk jenis gerakan ini adalah runtuhan (urug, lawina, avalanche) batu, bahan rombakan maupun tanah.
Longsoran-longsoran

gelinciran

(slides)

adalah

gerakan

yang

disebabkan oleh keruntuhan melalui satu atau beberapa bidang yang dapat diamati ataupun diduga. Slides dibagi lagi menjadi dua jenis. Disebut

luncuran (slide) bila dipengaruhi gerak translasional dan susunan materialnya yang banyak berubah. Bila longsoran gelinciran dengan susunan materialnya tidak banyak berubah dan umumnya dipengaruhi gerak rotasional, maka disebut nendatan (slump), Termasuk longsoran gelinciran adalah: luncuran bongkah tanah maupun bahan rombakan, dan nendatan tanah.
Aliran (flow) adalah gerakan yang dipengaruhi oleh jumlah kandungan

atau kadar airtanah, terjadi pada material tak terkonsolidasi. Bidang longsor antara material yang bergerak umumnya tidak dapat dikenali. Termasuk dalam jenis gerakan aliran kering adalah sandrun (larianpasir), aliran fragmen batu, aliran loess. Sedangkan jenis gerakan aliran basah adalah aliran pasir-lanau, aliran tanah cepat, aliran tanah lambat, aliran lumpur, dan aliran bahan rombakan.
Longsoran majemuk (complex landslide) adalah gabungan dari dua atau

tiga jenis gerakan di atas. Pada umumnya longsoran majemuk terjadi di alam, tetapi biasanya ada salah satu jenis gerakan yang menonjol atau lebih dominan.

Gambar 1. Longsoran Majemuk


Rayapan (creep) adalah gerakan yang dapat dibedakan dalam hal

kecepatan gerakannya yang secara alami biasanya lambat. Rayapan (creep) dibedakan menjadi tiga jenis, yaitu: rayapan musiman yang dipengaruhi iklim, rayapan bersinambungan yang dipengaruhi kuat geser dari material, dan rayapan melaju yang berhubungan dengan keruntuhan lereng atau perpindahan massa lainnya.
Gerak horisontal / bentangan lateral (lateral spread) merupakan jenis

longsoran yang dipengaruhi oleh pergerakan bentangan material batuan secara horisontal. Biasanya berasosiasi dengan jungkiran, jatuhan batuan, nendatan dan luncuran lumpur sehingga biasa dimasukkan dalam kategori complex landslide - longsoran majemuk. Pada bentangan lateral tanah maupun bahan rombakan, biasanya berasosiasi dengan nendatan, luncuran

atau aliran yang berkembang selama maupun setelah longsor terjadi. Material yang terlibat antara lain lempung (jenis quick clay) atau pasir yang mengalami luncuran akibat gempa. Tabel 1. Klasifikasi longsoran (landslide) oleh Varnes (1978, dalam M.J. Hansen, 1984) yang digunakan oleh Higway Reseach Board Landslide Comitte (1978, dalam Sudarsono & Pangular, 1986)

BAB III DATA LAPANGAN


1. STA 1

Gambar 1 STA 1Desa Emplak, Kec.Bawen, Kab. Semarang

Lokasi Morfologi Bentuk lahan Proses denudasional Litologi Dimensi


Tinggi

: Desa Emplak, Kec.Bawen, Kab. Semarang : pegunungan sangat terjal : denudasional : longsoran bahan rombakan : tanah : : 4 meter : 5 meter : 55 : sedang : pohon & semak : perkebunan : objek studi geologi

Panjang

Slope Tingkat Pelapukan Vegetasi Tataguna Lahan Potensi Positif

Potensi Negatif Morfogenesa

: longsor susulan : Karena pengaruh proses-proses eksogen (cuaca, erosi, pelapukan) serta kelerengannya yang tergolong sangat curam, batuan yang telah lapuk menjadi tanah dan bahan rombakan lain kehilangan daya ikatnya sehingga massa tanah dan bahan rombakan bergerak dengan cara meluncur melalui bidang longsornya.

2. STA 2

Gambar 2 STA 2Desa Barandukuh Kec. Ambarawa Kab. Semarang

Lokasi Morfolog Litologi Dimensi Tinggi Lebar

: Desa Barandukuh,Ambarawa,Semarang : Perbukitan : Batuan beku (insitu) : : 15 meter : 10 meter

Tingkat Pelapukan Vegetasi Tataguna Lahan Potensi Positif Potensi Negatif Morfogenesa

: Sedang : Lumut,semak : Pemukiman ,perkebunan : Objek Studi Geologi : Longsor ; Di dalam masa tanah yang longsor masih terdapat material lepasan / bahan rombakan dari pelapukan batuan . Massa tanah beserta bahan rombakan kehilangan daya ikatnya dan kemudian jatuh

Jenis longsoran

: jatuhan

3. STA 3

Gambar 3. STA 3 Desa Mangunharjo

Lokasi Morfologi Litologi Dimensi


Tinggi Lebar

: Desa Mangunharjo : Perbukitan : soil : : 20 meter : 12 meter

Tingkat Pelapukan Vegetasi Tataguna Lahan Potensi Positif Potensi Negatif Morfogenesa

: Sedang : Lumut,semak : ,perkebunan : Objek Studi Geologi : Longsor ; Di dalam masa tanah yang longsor masih terdapat material lepasan / bahan rombakan dari pelapukan batuan . Massa tanah beserta bahan rombakan kehilangan daya ikatnya dan kemudian jatuh dengan cara meluncur (longsoran/slide)

Jenis longsoran 4. STA 4

: block glide

Gambar 4 STA 4Desa Meteseh

Lokasi Morfolog Litologi Dimensi

: Desa Meteseh : Perbukitan : batulempung :

Tinggi Lebar

: 10 meter : 20 meter : Sedang : Lumut,semak : perkebunan : Objek Studi Geologi : Longsor ; Di dalam masa tanah yang longsor masih terdapat material lepasan / bahan rombakan dari pelapukan batuan . Massa tanah beserta bahan rombakan kehilangan daya ikatnya dan kemudian jatuh dengan cara meluncur (longsoran/slide)

Tingkat Pelapukan Vegetasi Tataguna Lahan Potensi Positif Potensi Negatif Morfogenesa

Jenis longsoran

: aliran

5. STA 5

Gambar 5 STA 5Desa Segarbencah

Lokasi Morfolog

: Desa Segarbencah : Perbukitan

Litologi Dimensi
Tinggi

: Batuan beku (insitu) : : 5 meter : 10 meter : Sedang : Lumut,semak : Pemukiman ,perkebunan : Objek Studi Geologi : Longsor ; Di dalam masa tanah yang longsor masih terdapat material lepasan / bahan rombakan dari pelapukan batuan . Massa tanah beserta bahan rombakan kehilangan daya ikatnya dan kemudian longsor

Lebar Tingkat Pelapukan Vegetasi Tataguna Lahan Potensi Positif Potensi Negatif Morfogenesa

Jenis longsoran

: longsoran bahan rombakan

BAB IV PEMBAHASAN
4.1 STA 1 Lokasi pengamatan pertama ini terletak di Desa Emplak, Kecamatan Bawen, Kabupaten Semarang. Lokasi ini dapat ditempuh dengan menggunakan kendaraan bermotor. Morfologi daerah ini berupa pegunungan sangat terjal dengan bentuk lahan denudasional. Litologinya berupa tanah. Dimensi dari singkapan ini sepanjang 4 meter dengan tinggi 5 meter dengan kelerengannya sebesar 55. Tingkat pelapukannya termasuk ke dalam tingkat pelapukan yang sedang tinggi. Vegetasi yang terdapat di sekitar singkapan adalah pohon dan semak-semak. Tataguna lahan daerah ini adalah digunakan sebagai daerah perkebunan. Potensi negatif dari singkapan ini adalah terjadinya longsor susulan. Longsor merupakan salah satu jenis gerakan tanah. Gerakan tanah adalah perpindahan massa tanah atau batuan pada arah tegak, datar, atau miring dari kedudukan semula, yang terjadi bila ada gangguan kesetimbangan pada saat itu. Singkapan ini termasuk ke dalam jenis gerakan tanah yang berupa longsoran bahan rombakan. Longsoran bahan rombakan adalah gerakan massa tanah atau hasil pelapukan batuan melalui bidang longsor yang relatif turun secara meluncur atau menggelinding. Bidang longsor merupakan bidang batas antara tanah dengan bantuan induknya. Penyebab terjadinya gerakan tanah pada singkapan ini adalah kemiringan tanah yang cukup tinggi dengan kelerengan 55, jenis batuan atau tanah yang telah mengalami tingkat pelapukan sedang tinggi, dan curah hujan yang cukup tinggi. Longsor adalah perpindahan atau pergerakan batuan, massa, tanah secara menurun menuju bagian bawah suatu lereng. Jadi tanah longsor bisa terjadi pada material tanah atau batuan atau campuran keduanya. Tanah dan batuan terdiri dari komponen-komponen yang apabila terjadi gangguan, akan mengalami ketidakseimbangan di dalamnya, sehingga mudah rusak atau terlepas dari bagian

massa dasarnya. Kekuatan tanah dari satu lereng bisa berkurang disebabkan oleh meningkatnya kandungan air yang disebabkan oleh hujan lebat atau naiknya air tanah. Sementara itu tekanan bawah lereng dapat disebabkan oleh hilangnya pohon atau tumbuhan yang tumbuh di sekitar. Longsoran bahan rombakan ini terjadi karena pengaruh proses-proses eksogen (cuaca, erosi, dan pelapukan) serta kelerengannya yang tergolong sangat curam. Batuan yang telah lapuk menjadi tanah dan bahan rombakan lain kehilangan daya ikatnya sehingga massa tanah dan bahan rombakan bergerak dengan cara meluncur melalui bidang longsornya. 4. 2 STA 2 Lokasi pengamatan kedua ini terletak di Desa barandukuh, Kabupaten Semarang. Lokasi ini dapat ditempuh dengan menggunakan kendaraan bermotor. Morfologi daerah ini berupa perbukitan dengan bentuk lahan denudasional. Litologinya berupa tanah. Dimensi dari singkapan ini lebar 10 meter dengan tinggi 15 meter. Tingkat pelapukannya termasuk ke dalam tingkat pelapukan yang sedang. Vegetasi yang terdapat di sekitar singkapan adalah pohon dan semak-semak. Tataguna lahan daerah ini adalah digunakan sebagai daerah perkebunan dan pemukiman. Potensi negatif dari singkapan ini adalah terjadinya longsor susulan. Longsor merupakan salah satu jenis gerakan tanah. Gerakan tanah adalah perpindahan massa tanah atau batuan pada arah tegak, datar, atau miring dari kedudukan semula, yang terjadi bila ada gangguan kesetimbangan pada saat itu. Singkapan ini termasuk ke dalam jenis gerakan tanah yang berupa longsoran bahan rombakan. Longsoran bahan rombakan adalah gerakan massa tanah atau hasil pelapukan batuan melalui bidang longsor yang relatif turun secara meluncur atau menggelinding. Bidang longsor merupakan bidang batas antara tanah dengan bantuan induknya. Penyebab terjadinya gerakan tanah pada singkapan ini adalah kemiringan tanah yang cukup tinggi dengan kelerengan 20, jenis batuan atau tanah yang telah mengalami tingkat pelapukan sedang, dan curah hujan yang cukup tinggi.

Longsor adalah perpindahan atau pergerakan batuan, massa, tanah secara menurun menuju bagian bawah suatu lereng. Jadi tanah longsor bisa terjadi pada material tanah atau batuan atau campuran keduanya. Tanah dan batuan terdiri dari komponen-komponen yang apabila terjadi gangguan, akan mengalami ketidakseimbangan di dalamnya, sehingga mudah rusak atau terlepas dari bagian massa dasarnya. Kekuatan tanah dari satu lereng bisa berkurang disebabkan oleh meningkatnya kandungan air yang disebabkan oleh hujan lebat atau naiknya air tanah. Sementara itu tekanan bawah lereng dapat disebabkan oleh hilangnya pohon atau tumbuhan yang tumbuh di sekitar. Longsoran bahan rombakan ini terjadi karena pengaruh proses-proses eksogen (cuaca, erosi, dan pelapukan) serta kelerengannya yang tergolong sangat curam. Batuan yang telah lapuk menjadi tanah dan bahan rombakan lain kehilangan daya ikatnya sehingga massa tanah dan bahan rombakan bergerak dengan cara meluncur melalui bidang longsornya. Dan jenis longsoran ini termasuk kedalam jatuhan bahan rombakan. 4.3 STA 3 Lokasi pengamatan ketiga ini terletak di Kelurahan Mangunharjo, Kecamatan Meteseh, Kota Semarang. Lokasi ini dapat ditempuh dengan menggunakan kendaraan bermotor. Morfologi daerah ini berupa perbukitan dengan bentuk lahan denudasional. Litologinya berupa tanah. Dimensi dari singkapan ini sepanjang 12 meter dengan tinggi 20 meter dengan kelerengannya hampir 90. Tingkat pelapukannya termasuk ke dalam tingkat pelapukan yang sedang tinggi. Vegetasi yang terdapat di sekitar singkapan adalah pohon dan semak-semak. Tataguna lahan daerah ini adalah digunakan sebagai daerah perkebunan. Potensi negatif dari singkapan ini adalah terjadinya longsor susulan. Longsor merupakan salah satu jenis gerakan tanah. Gerakan tanah adalah perpindahan massa tanah atau batuan pada arah tegak, datar, atau miring dari kedudukan semula, yang terjadi bila ada gangguan kesetimbangan pada saat itu. Singkapan ini termasuk ke dalam jenis gerakan tanah yang berupa runtuhan

batuan. Runtuhan batuan adalah suatu massa batuan jatuh ke bawah karena terlepas dari batuan induknya. Terjadi pada tebing tebing yang terjal. Gerakannya ekstrim cepat. Penyebab terjadinya gerakan tanah pada singkapan ini adalah kemiringan tanah yang cukup tinggi dengan kelerengan hampir 90, jenis batuan atau tanah yang telah mengalami tingkat pelapukan sedang tinggi, dan curah hujan yang cukup tinggi. Longsor adalah perpindahan atau pergerakan batuan, massa, tanah secara menurun menuju bagian bawah suatu lereng. Jadi tanah longsor bisa terjadi pada material tanah atau batuan atau campuran keduanya. Tanah dan batuan terdiri dari komponen-komponen yang apabila terjadi gangguan, akan mengalami ketidakseimbangan di dalamnya, sehingga mudah rusak atau terlepas dari bagian massa dasarnya. Kekuatan tanah dari satu lereng bisa berkurang disebabkan oleh meningkatnya kandungan air yang disebabkan oleh hujan lebat atau naiknya air tanah. Sementara itu tekanan bawah lereng dapat disebabkan oleh hilangnya pohon atau tumbuhan yang tumbuh di sekitar. Gejala-gejala umum yang biasanya timbul sebelum terjadinya bencana tanah longsor adalah : Munculnya retakan-retakan di lereng yang sejajar dengan arah tebing. Biasanya terjadi setelah hujan. Munculnya mata air baru secara tiba-tiba. Tebing rapuh dan kerikil mulai berjatuhan. Singkapan ini termasuk ke dalam jenis tanah longsor yang berupa runtuhan batu. Runtuhan batu terjadi ketika sejumlah besar batuan atau material lain bergerak ke bawah dengan cara jatuh bebas. Umumnya terjadi pada lereng yang terjal hingga meng-gantung terutama di daerah pantai. Batu-batu besar yang jatuh dapat menyebabkan kerusakan yang parah. Runtuhan batuan ini terjadi karena di dalam massa tanah yang longsor masih terdapat material lepasan atau bahan rombakan dari pelapukan batuan. Massa tanah beserta bahan rombakan kehilangan daya ikatnya dan kemudian jatuh mengikuti gaya gravitasi.

4.4 STA 4 Lokasi pengamatan ketiga ini terletak di desa meteseh, Kecamatan Meteseh, Kota Semarang. Lokasi ini dapat ditempuh dengan menggunakan kendaraan bermotor. Morfologi daerah ini berupa perbukitan dengan bentuk lahan denudasional. Litologinya berupa batulempung. Dimensi dari singkapan ini lebar 20 meter dengan tinggi 10 meter . Tingkat pelapukannya termasuk ke dalam tingkat pelapukan yang sedang. Vegetasi yang terdapat di sekitar singkapan adalah pohon dan semak-semak. Tataguna lahan daerah ini adalah digunakan sebagai daerah perkebunan. Potensi negatif dari singkapan ini adalah terjadinya longsor susulan. Longsor merupakan salah satu jenis gerakan tanah. Gerakan tanah adalah perpindahan massa tanah atau batuan pada arah tegak, datar, atau miring dari kedudukan semula, yang terjadi bila ada gangguan kesetimbangan pada saat itu. Singkapan ini termasuk ke dalam jenis gerakan tanah yang berupa runtuhan batuan. Runtuhan batuan adalah suatu massa batuan jatuh ke bawah karena terlepas dari batuan induknya. Terjadi pada tebing tebing yang terjal. Gerakannya ekstrim cepat., jenis batuan atau tanah yang telah mengalami tingkat pelapukan sedang tinggi, dan curah hujan yang cukup tinggi. Longsor adalah perpindahan atau pergerakan batuan, massa, tanah secara menurun menuju bagian bawah suatu lereng. Jadi tanah longsor bisa terjadi pada material tanah atau batuan atau campuran keduanya. Tanah dan batuan terdiri dari komponen-komponen yang apabila terjadi gangguan, akan mengalami ketidakseimbangan di dalamnya, sehingga mudah rusak atau terlepas dari bagian massa dasarnya. Kekuatan tanah dari satu lereng bisa berkurang disebabkan oleh meningkatnya kandungan air yang disebabkan oleh hujan lebat atau naiknya air tanah. Sementara itu tekanan bawah lereng dapat disebabkan oleh hilangnya pohon atau tumbuhan yang tumbuh di sekitar. Gejala-gejala umum yang biasanya timbul sebelum terjadinya bencana tanah longsor adalah : Munculnya retakan-retakan di lereng yang sejajar dengan arah tebing. Biasanya terjadi setelah hujan.

Munculnya mata air baru secara tiba-tiba. Tebing rapuh dan kerikil mulai berjatuhan. Gerakan turun kebawah dari massa tanah atau batuan yang berupa blok dengan kecepatan lambat sampai agak cepat. Blok yang turun dapat disebabkan atau dibatasi oleh kekar atau sesar. Di dalam massa tanah yang longsor masih terdapat material lepasan/bahan rombakan kehilangan daya ikatnya dan kemudian meluncur, jenis longsora ini merupakan block glide. 4.5 STA 5 Lokasi pengamatan pertama ini terletak di Desa Segarbencah, Kabupaten Semarang. Lokasi ini dapat ditempuh dengan menggunakan kendaraan bermotor. Morfologi daerah ini berupa pegunungan sangat terjal dengan bentuk lahan denudasional. Litologinya berupa tanah. Dimensi dari singkapan ini sepanjang 10 meter dengan tinggi 5 meter .Tingkat pelapukannya termasuk ke dalam tingkat pelapukan yang sedang. Vegetasi yang terdapat di sekitar singkapan adalah pohon dan semak-semak. Tataguna lahan daerah ini adalah digunakan sebagai daerah perkebunan. Potensi negatif dari singkapan ini adalah terjadinya longsor susulan. Longsor merupakan salah satu jenis gerakan tanah. Gerakan tanah adalah perpindahan massa tanah atau batuan pada arah tegak, datar, atau miring dari kedudukan semula, yang terjadi bila ada gangguan kesetimbangan pada saat itu. Singkapan ini termasuk ke dalam jenis gerakan tanah yang berupa longsoran bahan rombakan. Longsoran bahan rombakan adalah gerakan massa tanah atau hasil pelapukan batuan melalui bidang longsor yang relatif turun secara meluncur atau menggelinding. Bidang longsor merupakan bidang batas antara tanah dengan bantuan induknya. Penyebab terjadinya gerakan tanah pada singkapan ini adalah kemiringan tanah yang cukup miring., jenis batuan atau tanah yang telah mengalami tingkat pelapukan sedang, dan curah hujan yang cukup tinggi. Longsor adalah perpindahan atau pergerakan batuan, massa, tanah secara menurun menuju bagian bawah suatu lereng. Jadi tanah longsor bisa terjadi pada

material tanah atau batuan atau campuran keduanya. Tanah dan batuan terdiri dari komponen-komponen yang apabila terjadi gangguan, akan mengalami ketidakseimbangan di dalamnya, sehingga mudah rusak atau terlepas dari bagian massa dasarnya. Kekuatan tanah dari satu lereng bisa berkurang disebabkan oleh meningkatnya kandungan air yang disebabkan oleh hujan lebat atau naiknya air tanah. Sementara itu tekanan bawah lereng dapat disebabkan oleh hilangnya pohon atau tumbuhan yang tumbuh di sekitar. Longsoran bahan rombakan ini terjadi karena pengaruh proses-proses eksogen (cuaca, erosi, dan pelapukan) serta kelerengannya yang tergolong sangat curam. Batuan yang telah lapuk menjadi tanah dan bahan rombakan lain kehilangan daya ikatnya sehingga massa tanah dan bahan rombakan bergerak dengan cara meluncur melalui bidang longsornya. Jenis longsoran ini merupakan longsoran bahan rombakan.

BAB V PENUTUP
5.1 KESIMPULAN

DAFTAR PUSTAKA

Karyono., 2004, Diktat Perencanaan Tambang Terbuka, Universitas Islam Bandung. Arief., S., 2007, Dasar-Dasar Analisis Kestabilan Lereng, [serial online] September 2011. Available from:URL:http://www. dasar-dasar analisis kestabilan lereng.go.id. Accessed September 11,2011. Zakaria., Z., 2011, Analisis Kestabilan Lereng Tanah, FMIPA-Universitas Padjajaran. Available from:URL: http://blogs.unpad.ac.id/zufialdizakaria/files/2009/11/zufialdi-zakaria-AnalisisKestabilan-Lereng-20111.pdf. Accessed Oktober 10, 2011.