Anda di halaman 1dari 37

SKRIPSI

POLA PENGGUNAAN OBAT PADA PASIEN DIFTERI ANAK


(Studi di Instalasi Rawat Inap Departemen/SMF Ilmu Kesehatan Anak

RSUD Dr. Soetomo Surabaya )

NUKI ZULIAN H 050810201


FAKULTAS FARMASI UNIVERSITAS AIRLANGGA DEPARTEMEN FARMASI KLINIS SURABAYA 2011

LATAR BELAKANG
Difteri
Menghasilkan eksotoksin

Infeksi akut bakteri C. diphtheriae pada daerah nasofaring dan kulit (Gershon, 2004; Mandell, et al., 2010;
Kliegman, et al, 2011)

Sangat MENULAR (droplet batuk/ bersin pasien /karier, makanan terkontaminasi)

Kejadian penyakit difteri

Imunisasi Difteri

Pencegahan difteri pemberian imunisasi difteri dilakukan 3x bayi berumur usia 2, 4, dan 6 bulan dengan vaksin difteri, pertusis dan tetanus (DPT)

Setelah suntikan ketiga daya proteksi terhadap infeksi difteri sebesar 98,5% a, namun kekebalan setelah imunisasi dasar (DPT 1,2 3) hanya bertahan selama 10 tahun. Perlu diberikan booster dengan vaksin Td (difteri dan tetanus) setiap 10 tahun sekali

Cahyo, 2010

Demam subfebris (37,8-38,9oC)

Nyeri telan

Pseudomembran

bullneck

Perbesaran kelenjar getah bening (PKGB)

(Rampengan, 2005; PDT, 2008; Kliegman, 2011)


4

EPIDEMIOLOGI
menyerang anak di bawah 5 tahun dan orang dewasa di atas 40 tahun dan 20% dapat menjadi fatal sampai menimbulkan kematian.

WHO

Jawa Timur

Per 4 November 2011telah terjadi 432 kasus difteri pada anak - anak di 37 Kabupaten/Kota dengan 12 pasien meninggal dunia. Pasien paling banyakberasal dari Madura, Malang dan Surabaya (Dinkes, 2011)

Sangat diperlukan studi lebih lanjut mengenai difteri pada anak-anak, baik dalam hal penatalaksanaan maupun pengobatannya.

PATOFISIOLOGI

Bakteri C. diphtheriae

Berkoloni di nasofaring Strain Toksigenik (menghasilkan eksotoksin)

Toksin menyebabkan inflamasi lokal pseudomembran, bullneck Toksin menyebar ke peredaran darah, dan terikat reseptor HB-EGF komplikasi (miokarditis, neuritis, nefritis)
6

(a)

(b)

(c)

Dinding sel Nukleus

(d)
Sitoplasma

Gambar 1 (a) Bullneck, (b) pseudomembran (c) difteri pada kulit (Web RSUD Dr Sutomo) (d) Bakteri difteri dengan pewarnaan TEM yang masih bergabung (sciencephoto.com)

KOMPLIKASI/ PENYULIT

Obstruksi saluran nafas Miokarditis Neuritis


Nefritis
Greshon, 2004; PDT, 2008; Guilfoile, 2009; Kliegman, 2011; Mandell, 2011

TERAPI
ADS
Mengikat toksin yang masih bebas dalam darah

Antibiotik Terapi Suportif

Membunuh kuman penyebab difteri

Tergantung dari gejala dan komplikasi yang timbul.

Serum yang berasal dari kuda yang dikebalkan terhadap toksin difteri 1 ml= 2.000 U. penyimpanan pada suhu 2-8oC Reaksi alergites alergi Tes kulit (moloney test) dan tes konjungtiva. (+)salah satu, pemberian ADS dengan desensitasi Pemberian ADS secara intravena dilakukan secara drip dalam larutan infus Dekstrosa dan salin 200 ml dalam waktu 4-8 jam
Tabel 1 Dosis ADS yang digunakan di RSUD Dr Soetomo (PDT, 2008)

PDT, 2008; Guilfoile, 2009; Kliegman, 2011

Tipe Difteri

Rute

Dosis (units)

Difteri ringan (hidung, kulit, konjungtiva)


Difteri sedang (pseudomembran terbatas pada tonsil, difteri laring) Difteri berat (pseudomembran meluas ke luar tonsil, keadaan anak yang toksik, disertai bullneck dan disertai penyulit akibat efek toksin (komplikasi))

i.m
i.v i.v

20.000
40.000 100.000

10

1 UI pen G=0,6 g

Mengurangi jumlah bakteri Antibiotik penisilin dan eritromisin Hari ke-14 hasil swab masih positif, pengobatan dilanjutkan 10 hari lagi Dosis: a. Penisilin procain 50.000-100.000 UI/kgBB/hari selama 7-10 hari b. Eritromisin dapat digunakan secara parenteral atau oral dengan dosis 40 mg/KgBB/hari dan maksimal sampai 2 g/ hari Antibiotik ini dapat diberikan secara tunggal maupun kombinnasi tergantung derajat penyakit pasien.
Penisilin G prokain

Gershon, 2004; PDT, 2008; Alberta, 2011; Kliegman, 2010

11

Difteri merupakan penyakit infeksi yang mudah menular Difteri dapat memberikan kontribusi morbiditas dan mortalitas yang cukup tinggi terutama pada anak Program pemerintah untuk dapat menanggulangi diferi di Indonesia masih belum sepenuhnya berhasil Monitoring perkembangan pasien difteri dan terapi yang adekuat oleh pihak pelayanan kesehatan sangat dibutuhkan agar pasien tidak jatuh pada kondisi komplikasi yang akan meningkatkan biaya pengobatan dan mortalitas pada pasien

PERLU ADANYA STUDI PENGGUNAAN OBAT PADA PASIEN DIFTERI ANAK

12

RUMUSAN MASALAH

Bagaimanakah pola penggunaan obat pada pasien infeksi difteri pada anak di Instalasi Rawat Inap Departemen/SMF Ilmu Kesehatan Anak RSUD Dr. Soetomo Surabaya ?
13

TUJUAN PENELITIAN

Tujuan Umum

Mengetahui profil penggunaan obat pada pasien difteri di Instalasi Rawat Inap Departemen / SMF Ilmu Kesehatan Anak RSUD Dr. Soetomo Surabaya

Tujuan Khusus

Mengkaji jenis obat, bentuk sediaan, rute pemberian yang diberikan dan lama terapi dikaitkan dengan data lab. / data klinik pasien. Mengidentifikasi adanya problema obat yang mungkin terjadi.

14

Manfaat Penelitian
Memberikan gambaran dan informasi mengenai pemberian terapi obat pada pasien difteri. Dapat digunakan oleh praktisi kesehatan sebagai bahan evaluasi dan pengawasan penggunaan obat pada pasien difteri.

Praktisi Kesehatan

Farmasis

Dapat meningkatkan kualitas asuhan kefarmasian terkait pertimbangan pengobatan pada pasien infeksi difteri anak pada pelayanan kesehatan.

15

KERANGKA KONSEPTUAL
Kegagalan Imunisasi (DPT) Sistem imun yang belum sempurna Bakteri Corynebacterium diphtheriae Strain non toksigenik Terinfeksi bacteriophage pembawa gen pembentuk toksin Strain toksigenik Eksotoksin (-) Eksotoksin (+) Menyebar lewat aliran darah Jaringan Protein tidak terbentuk SEL MATI (jaringan nekrotik) Bebas Jantung (Miokarditis) Syaraf (Polineuritis) dan paralisis Ginjal (Nefritis) Terapi suportif Terapi Anti Toxin Difteri (ADS) mengikat toksin yang bebas Meningkatkan kondisi pasien Terapi cairan Antipiretik Kortikosteroid Bed rest Analgesik, dll. Lokal (tempat infeksi) Difteri hidungmembran septum nasi (putih) Difteri tonsil-faring bullneck, nyeri telan, demam Difteri laringobstruksi saluran nafas Infeksi Difteri

EF2berfungsi untuk translokasi asam amino untuk pembentukan protein HB-EGF(Heparinbinding epidermal growth factor) terdapat pada sel eukariot, seperti jantung, syaraf, dan lainnya

2 fragmen: A (aminoterminal) terdiri dari segmen C mengkatalisis pembentukan ADP-ribosil-EF2 yang tidak aktif dari NAD dan EF2 B (Carboxyterminal) terdiri dari segmen R dan TSegmen R berlekatan langsung pada reseptor sel eukariot (HB-EGF). Segmen T untuk mengeluarkan fragmen A dari endosom

Terapi Antibiotik Mengurangi jumlah mikroba Penisilin Eritromisin Cloksasilin

Infeksi Ringan difteri hidung, kulit, dan atau konjungtiva

Beratnya Penyakit

Infeksi Sedang Pseudomembran terbatas pada (difteri laring)

tonsil Pola penggunaan obat

Infeksi Berat Pseudomembran meluas keluar tonsil, disertai bullneck + adanya komplikasi dan penyulit karena toksin

Gambar 2 Skema Kerangka Konseptual

16

METODE PENELITIAN
Jenis Penelitian
Penelitian Observasional menggunakan data retrospektif (RM), dan analisa dilakukan secara deskriptif

Sampel

Pasien anak yang didiagnosis akhir menderita difteri dan dirawat inap pada tanggal 1 Januari 31 Desember 2011 Digunakan metode Time limited sampling

Kriteria Inklusi

Pasien anak dengan diagnosis akhir difteri dengan atau tanpa komplikasi seperti miokarditis, paralisis, nefritis dan lainnya. Pasien dirawat pada tanggal 1 Januari - 31 Desember 2011

Kriteria Eksklusi

Pasien yang menderita difteri dengan status imunokompromais, seperti ALL, HIV, dan minum obat imunosupresan. Pasien dengan diagnosis akhir difteri tapi data rekam medik kurang lengkap (lama MRS < 3hari, terapi antibiotik tidak tertulis, dll.) sehingga tidak dapat diketahui pola penggunaan obatnya

17

SKEMA ALUR PENELITIAN

Pasien Difteri pada tanggal 1 Januari- 31 Desember 2011


Pasien dengan diagnosis akhir difteri dan memenuhi kriteria inklusi-eksklusi Rekam Medik pasien

Data Penderita:
No RM Nama; Usia; Alamat Diagnosis utama Riwayat imunisasi Komplikasi Riwayat Alergi Data Lab Data Klinik

Terapi Obat: Jenis Obat

Rute Pemberian
Dosis Frekuensi pemberian Lama Pemberian Interaksi Efek Samping

Pemindahan Data kelembar pengumpul data


Rekapitulasi Data Analisis dan Penyajian Data

18

HASIL PENELITIAN

45 40 35 30 25 20 15 10 5 0

41% 36% 23%

Prosentase Pasien (%)

1-4

4-6 usia (tahun)

6-12

Gambar 3 Sebaran Jenis Kelamin Pasien Difteri Anak di RSUD Dr. Soetomo pada Periode Januari sampai Desember 2011

Gambar 4 Sebaran Usia Pasien Difteri di RSUD Dr. Soetomo pada Periode Januari sampai Desember 2011

Usia 6-12 paling banyak terkena difteri: kekebalan karena imunisasi dasar (DPT 1,2,3) hanya bertahan selama 10 tahun dan pasien membutuhkan booster (vaksinasi Td(difteri dan tetanus)).

19

Demografi Pasien (Cont)


45 40 35 30 25 20 15 10 5 0 41%

Prosentase Pasien (%)

Gambar 5 Sebaran Tempat Tinggal Pasien Difteri Anak

18% 10% 8%

5%

3%

3%

3%

3%

3%

3%

3%

Tempat Tinggal pasien

Imunisasi difteri perlu menjadi perhatian bagi pemerintah serta tenaga kesehatan : 1. Program imunisasi masih belum mencakup seluruh anak di Indonesia 2. efektivitas dari imunisasi difteri

Gambar 6 Riwayat Imunisasi DPT pada Pasien Difteri Anak

20

70 60
59%

ProsentasePasien (%)

50 40
33%

Gambar 7 Diagnosis Pasien Difteri Anak

30 20 10
3% 3% 3%

0
Difteri Tonsil Difteri Tonsil Faring Difteri Tonsil Hidung Difteri Tonsil Laring Difteri Tonsil Faring Laring

Diagnosis Pasien Difteri Anak

Diagnosis dan beratnya penyakit dari pasien akan mempengaruhi manifestasi klinis yang ditimbulkan oleh infeksi C. diphtheriae, sehingga akan mempengaruhi dosis dari terapi ADS yang digunakan(Rampengan, 2005; Kliegman, 2011).

21

120 Prosentase Pasien (%) 100 80 100% 100%

Gambar 8 Gejala Klinis pada Pasien Difteri Anak

64%

60
40

59% 49% 49% 44% 26% 8% 5%

20
0

Gambar 9 Lama Rawat Inap Pasien Difteri Anak


120 8% Prosentase Pasien (%) 100 80 60

40
20 0

Lama Rawat Inap Rawat Inap Lama Pasien Difteri Anak

Pasien boleh KRS setelah hasil swab tenggorokan dan hidung menunjukkan hasil negatif minimal 2x berturut turut, gejala klinis dan lab membaik, serta telahmenerima pengobatan ADS dan antibiotik selama 7-14 hari

22

Tabel 2 Macam Penyakit Penyerta (Komorbid) dan Komplikasi pada Pasien Difteri Anak

Komplikasi
Bullneck Miokarditis Obstruksi jalan nafas

Jumlah Pasien* 1 2 1

Prosentase (%)** 3 5 3

Penyakit Penyerta (komorbid) Varicella Diare akut non dehidrasi Viral exantema ISK Bronchopneumoni Typhoid fever Asimptomatik ASD

Jumlah Pasien* 1 1 1 1 1 1 1

Prosentase (%)** 3 3 3 3 3 3 3

Timbulnya komplikasi dapat dicegah bila diagnosis difteri dilakukan lebih awal sehingga penyebaran toksin dapat dicegah dengan diberikannnya antitoksin difteri (ADS) dan antibiotik untuk mengurangi jumlah toksin yang dihasilkan (Guifoile, 2009).

23

Tabel 3 Profil Penggunaan Anti Difteri Serum (ADS) pada Pasien Difteri Anak
Dosis ADS Pasien 40.000 U 40.000 U 40.000 U 40.000 U 100.000 U 100.000 U 100.000 U 100.000 U 100.000 U 80.000 U 100.000 U Tipe difteri Difteri tonsil Difteri tonsil hidung Difteri tonsil laring Difteri tonsil faring D. tonsil + PJB. asimptomatik ASD Difteri tonsil +bullneck Difteri tonsil faring Difteri tonsil faring +miokarditis Difteri tonsil laring +obstruksi jalan nafas Difteri tonsil >3hari Difteri tonsil >3 hari Total * = Pustaka : a. PDT anak, 2008, b. Gershon, 2004 ** = Jumlah pasien menunjukkan jumlah pasien yang menggunakan obat tersebut, pasien hanya menerima 1 macam obat ***= (+) Sesuai; (-) Tidak Sesuai 80.000120.000U Lama penyakit > 3 hari atau pasien dengan bengkak pada leherb 100.000 40.000 60.000U Dosis Pustaka* Tipe difteri Pustaka* Jumlah Pasien** 12 1 1 3 1 1 9 1 1 1 8 39 Ket.*** + + + + + + + + + + +

Difteri sedang (pseudomembran terbatas pada tonsil, difteri laring)a

Difteri berat (pseudomembran meluar keluar tonsil, toksik, disertai bullneck, disertai penyulit akibat efek toksina,b

24

Pemberian ADS pada Pasien Difteri Anak

Gambar 10 Pemberian ADS pada Pasien Difteri Anak di RSUD dr Soetomo Surabaya periode Januari- Desember 2011

Pemberian ADS pada pasien: 1. Single dose: iv drip yang dilarutkan dalam D5S atau D5S sebanyak 100-300 ml diberikan selama 6-8 jam 2. Desensitasi (Besredka): Bila terjadi reaksi alergi pada skin test. Diberikan dalam dosis terbagi 6-13, interval antar dosis 15 menit dan diberikan secara berurutan rute subkutan (diencerkan dengan PZ aa dan dilanjutkan tidak diencerkan (murni)), intramuskular, dan terakhir intravena drip dalam D5S atau D5S sebanyak 100-200 ml selama 6-8jam.

25

Tabel 4 Profil Penggunaan Antibiotik pada Pasien Difteri Anak

Antibiotik

Dosis Antibiotik Pasien 1x <50.000 U/kgBB 1x 50.000-100.000

Dosis pustaka* 50.000-100.000 U/KgBB/hari (maks.

Jumlah Pasien** 3 20 17 5

Keterangan*** + + + + +

Penisilin

procain

U/kgBB
2x25.000-50.000 U/kgBB 2x>50.000 U/kgBB

1,2 juta U/hari dalam 2


dosis)a,b

Eritromisin

3x<13 mg/kgBB 3x13-17 mg/kgBB 3x>17 mg/kgBB 4x<10 mg/kgBB 4x10-12,5 mg/kgBB

40-50 mg/kg/hari diberikan setiap 6jam (10-12,5 mg/kgBB/dosis) , maksimal 2g/hari a,c,d

2 10 3 1 1

4x>12,5mg/kgBB
* = Pustaka : a.PDT Anak; b. Gershon, 2004; c. Tatro, 2003; d. Kliegman, 2011.
** = Jumlah pasien menunjukkan jumlah pasien yang menggunakan obat tersebut, pasien dapat menerima lebih dari 1 macam obat ***= (+) Sesuai; (-) Tidak Sesuai

26

Tes Alergi pada Pasien Difteri Anak

5%
negatif

95%

positif

Gambar 11 Tes Alergi Penisilin pada Pasien Difteri Anak di RSUD dr Soetomo Surabaya periode Januari- Desember 2011

Pada pasien yang menunjukkan reaksi alergi pada penisilin procain, maka pemberian antibiotik diganti dengan eritromisin.

27

Tabel 5 Lama Pemberian Antibiotik sebagai Terapi selama MRS pada Pasien Difteri
Jenis Antibiotik Tunggal
Penisilin prokain (im) 10 11 12 14 10 19 112 142 2114 39 111 125 6 7 3 1 1 1 1 1 1 1 1 1

Lama Pemberian (hari)

Jumlah Pasien*

Eritromisin (po)

Tunggal (pengganti)
Penisilin prokain (im) Penisilin prokain (im)

Penisilin prokain (im) Eritromisin

Kombinasi
Penisilin prokain (im) dan Eritromisin (po) 8 dan 8 10 dan 10 10 dan 11 10 dan 12 11 dan 11 11 dan 10 12 dan 12 13 dan 13 1 1 2 2 1 1 1 1
28

Tabel 5 Lama Pemberian Antibiotik sebagai Terapi selama MRS pada Pasien Difteri (Lanjutan)
Jenis Antibiotik
Kombinasi Pengganti Penisilin procain (im) dan eritromisin (po) eritromisin (po Penisilin procain (im) Penisilin procain (im) dan eritromisin (po) Penisilin procain (im) Penisilin procain (im) dan eritromisin (po) eritromisin (po) TOTAL 10 dan 29 12 dan 313 64 dan 9 19 dan 53 1 1 1 1 39

Lama Pemberian (hari)

Jumlah Pasien

*= Jumlah pasien menunjukkan jumlah pasien yang menggunakan obat tersebut, pasien hanya menerima 1 macam obat

29

Obat sebagai Terapi Utama maupun yang Ditujukan untuk Penyakit Penyerta dan Komplikasi pada Pasien
Antibiotika Ampisilin Sulbaktam Sefotaksim Seftriakson Amoksisilin clavulanat Kloksasilin Bronkodilator Salbutamol Ambroksol Antijamur Nystatin Diuretik Manitol Obat gastritis Ranitidin Terapi O2 Antijamur Enystyn (Nistatin) Konstipasi Microlax Antialergi Klorfeniramin maleat Hidrocortison cream Vitamin dan mineral Multivitamin Zinc Probiotik Terapi Inhalasi Nebul PZ Nebul ventolin dalam PZ Sulfas Atropin Inj. Transamin Termoregulasi Paracetamol Novalgin Terapi Cairan D5 NS D5 NS Inj. KCl Inj. Ca Glukonas Na Fusidat cream

Keterangan :

Kortikosteroid Deksametason Antivirus Acyclovir

Obat yang berwarna merah adalah yang paling banyak digunakan

30

Tabel 6 Outcome Terapi pada Pasien Difteri Anak


Outcome Terapi Parameter* Nyeri telan
Pseudomembran

Pre (MRS)

Jml. Pasien

Post (KRS)

Jml Pasien

Kriteria
Ada nyeri telan Tidak ada (sembuh) Ada pseudomembran Tidak ada (hilang) Ada PKGB Tidak ada (hilang)

Prosentase (%)**

+ + + + + + + + +

39 39 18 12 18 33 19 24 9 30

PKGB Bullneck Hiperemi Peningkatan WBC Demam Peningkatan RR

+ + + + + + + + + + -

0 39 0 39 0 18 0 12 0 18 2 31 0 19 3 21 0 9 0 30

Ada Tidak ada (hilang)


Ada Tidak ada (hilang) Tetap diatas normal Turun ke batas normal Tetap di atas normal Turun ke batas normal Tetap di atas normal Turun ke batas normal Ada pertumbuhan s.d. akhir Tdk tumbuh dipemeriksaan akhir Tumbuh dipemeriksaan akhir Tidak tumbuh s.d akhir

0 100 0 100 0 100 0 100 0 100 6 94 0 100 12 88 0 100 0 77***

Swab Tenggorokan

* = Seorang pasien dapat mengalami lebih dari satu macam outcome terapi **= Prosentase dihitung berdasarkan perbandingan jumlah pasien yang mengalami outcome terapi tertentu (kolom post) dengan jumlah pasien pada kondisi pasien saat MRS (pre) ***= Prosentase dihitung berdasarkan perbandingan jumlah pasien pada kolom post dengan jumlah total pasien (39 orang) Kolom pre: (+) = mengalami gejala atau hasil lab di atas batas normal (-) = tidak mengalami gejala atau hasil lab. di batas normal Kolom post: (+) = gejala masih ada atau hasil lab. masih di atas normal (-) = gejala hilang (sembuh) atau hasil lab. masih di batas normal

31

Tabel 7 Problema Terkait Obat (DRP) Potensial


Obat Penyebab Efek Samping* Rekomendasi - Dilakukan skin test sebelum diberikan - Pemantauan terhadap gejala hipersensitifitas - Pemberian ADS dilakukan secara desensitasi - Dilakukan skin test sebelum diberikan - Pemantauan terhadap gejala alergi - Pemantauan gangguan GIT - Pemberian eritromisin setelah makan - Pemantauan dosis terapi - Terapi tetap dilanjutkan - Pemantauan dosis terapi

Jumlah pasien**

Prosentase (%)

ADS

Reaksi alergic

39

100

Penisilin Eritromisin Salbutamol Kortikosteroid (deksametason)

Reaksi alergi Gangguan GITa, b Palpitasi, takikardi, tremora

38 22 1

97 56 3

Gangguan pada GITa,b

12

31

Atropin sulfat

Palpitasi, takikardi, aritmiaa,b

- Pemantauan dosis terapi - Pemantauan gejala yang timbul - Penghentian terapi


- Pemantauan dosis terapi - injeksi iv drip dengan kecepatan maks. 40 mEq/jam

Inj. KCl

Hiperkalemiac

* Pustaka : a. Tatro, 2003; b. Lacy, 2007; c. Mandell, 2010

32

Kondisi KRS Pasien Difteri Anak


80 70 Prosentase Jml. Pasien (%) 60 50 40 30 20 10 0 sembuh mulai sembuh Kondis Pasien saat KRS pulang paksa

69%

26%

5%

Gambar 12 Kondisi KRS Pasien Difteri Anak

Kriteria pembagian pasien: 1. Pasien KRS dengan kondisi sembuh (outcome terapi pasien berada dalam rentang normal), 2. Pasien KRS dengan kondisi mulai sembuh (1 outcome terapi belum berada dalam rentang normal) dan 3. pulang paksa (kemungkinan karena keadaan ekonomi atau orang tua pasien menginginkan pasien untuk rawat jalan)

33

KESIMPULAN
1

Terapi utama untuk difteri adalah anti difteri serum (ADS) dan Antibiotik (penisilin prokain dan eritromisin). ADS diberikan dengan dosis 40.000 IU, 80.000 IU, 100.000 IU yang diberikan dengan rute intravena drip dalam D5S atau D5S sebanyak 100-300 ml selama 6-8 jam dan 40.000 IU, dan 100.000 IU yang diberikan dengan secara desensitasi (besredka) Antibiotik penisilin procain diberikan dengan dosis 40.000 136.000 IU/kgBB. Antibiotik eritromisin diberikan dengan dosis 30 60 mg/kgBB Penggunaan antibiotik digunakan secara tunggal, pengganti dan kombinasi.

Terapi suportif yang digunakan bergantung pada kondisi klinis, komplikasi dan atau penyakit yang menyertai. Dan yang paling banyak digunakan adalah antipiretik, analgesik untuk penurun panas pasien dan nyeri tenggorokan dan terapi cairan dan elektrolit untuk pengganti cairan tubuh. Keberhasilan terapi ditandai dengan hilangnya gejala nyeri telan, pseudomembran, bullneck, pembesaran kelenjar getah bening (PKGB), dan hiperemi (100%) . Data klinik respiratory rate (RR) (88%) dan suhu (100%) turun ke batas normal. Data Lab. WBC (94%) turun ke batas normal. Tidak ada pertumbuhan pada swab tenggorok dan hidung pasien (100%). Problema Terkait Obat (DRP) yang ditemui yaitu : DRP potensial : efek samping obat, tidak ada interaksi obat yang terjadi selama terapi pada penelitian

34

SARAN

Perlunya penelitian lebih lanjut terhadap kualitas vaksin DPT yang beredar di pasaran terutama yang digunakan untuk menunjang program pemerintah. Peningkatan upaya promotif terhadap vaksinasi DPT

35

Alberta, 2011. Alberta Health and Wellness Public Health Notifiable Disease Management Guidelines. Diphtheria Guideline. Government of Alberta

Arfijanto, M. V., Siti Irma Mashitah, Prihatini Widyanti, Bramantono, A Patient with Suspected Diphtheria. Indonesian Journal of Tropical and Infectious Disease. 2010. Vol. 1, No. 2, p. 69-75.
Atkinson, W ., Hamborsky J, McIntyre L, Wolfe S,. 2007. Diphteria. In: Epidimiology and prevention of Vaccine-Preventable disease (Pink book). p. 75-85 Basuki, Parwati S., Soegeng Soegijanto, Diphtheria. In: 2008. Pedoman Diagnosis dan Terapi Bagian/SMF Ilmu Kesehatan Anak Edisi III Buku Satu. Surabaya: Rumah Sakit Umum Dokter Soetomo, p. 76-83. Centers for Disease Control and Prevention (CDC). Respiratory diphtheria-like illness caused by toxigenic Corynebacterium ulceransIdaho, 2010. MMWR 2011. p. 1-15 Cipolle, R.J., Strand, L.M and Morley, P.C., 1998. Pharmaceutical Care Practice. New York: McGraw Hill Health Profession Division. P. 23-46 Cook, C., Gordon., Alimuddin L. Zumla., 2008. Mansons Tropical Disease 22nd ed. Saunders Elsevier. p. 1132-1137 Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur. 2011. Difteri situasi terkini dan gerakan penanggulangannya di Jawa Timur. Di akses dari http://Dinkes.jatimprov.go.id/contentdetailed/9/1/131/difteri_situasi_ terkini_dan_gerakan_penanggulangannya_di_jawa_timur.html. Diakses pada 18 november 2011.

36

37