Anda di halaman 1dari 19

Influence of GnRH Administration on Timing of the LH surge and Ovulation in Dwarf Goats

KELOMPOK PRESENTASI B-1 Departemen Reproduksi Veteriner Fakutas Kedokteran Hewan Universitas Syiah Kuala

1. PENDAHULUAN
Hormon protein (peptida)
GnRH (hipotalamus)

Hormon Reproduksi

FSH, LH dan Prolactin (hipofisa anterior) Oksitosin dan melatonin (hipofisa posterior)

Hormon steroid
Estrogen (folikel ovarium) Progesteron (corpus luteum) Testosteron (sel leydig testis)

Prostaglandin (Hormon asam lemak)

GnRH (Gonadotrophin Releasing Hormone)

Diproduksi di hipotalamus, kemudian dilepaskan, berfungsi menstimulasi hipofisis anterior untuk memproduksi dan melepaskan hormon-hormon gonadotropin (FSH / LH ). FSH (Follicle Stimulating Hormone) Diproduksi di sel-sel basal hipofisis anterior, sebagai respons terhadap GnRH. Berfungsi memicu pertumbuhan dan pematangan folikel dan sel-sel granulosa di ovarium betina (pada jantan : memicu pematangan sperma di testis).

LH (Luteinizing Hormone) / ICSH (Interstitial Cell Stimulating Hormone) Diproduksi di sel-sel kromofob hipofisis anterior. Bersama FSH, LH berfungsi memicu perkembangan folikel (sel-sel teka dan sel-sel granulosa) dan juga mencetuskan terjadinya ovulasi di pertengahan siklus (LH-surge). Selama fase luteal siklus, LH meningkatkan dan mempertahankan fungsi korpus luteum pascaovulasi dalam menghasilkan progesteron.

2. BAHAN DAN METODE


2.1. Hewan dan Lokasi Penelitian dilakukan pada musim kawin dan dengan suhu standar di Propinsi Quebec (Kanada), yang biasanya mulai dari akhir September hingga Maret. Menggunakan sebanyak 12 ekor kambing pygmi. Umur dan berat badan kambing berkisar 1-5 tahun dan 15-45 kg. 2.2. Sinkronisasi Berahi Secara intravaginal (Veramix), 60 mg MAP untuk 10 hari sejalan dengan 125 g cloprostenol (Estrumate) secara intramuskular.

2.3. Deteksi Berahi


Menggunakan dua jantan dilengkapi dengan menandai pakai warna yang berbeda. Betina secara acak ditempatkan dlm dua petak. Jantannya di kandang masing-masing kemudian berpindah setiap 4 jam. Betina dianggap estrus ketika ia berdiri dan siap utk dinaiki jantan.

2.4. Sampel darah


Untuk menentukan waktu LH surge preovulasi, sampel darah
dikoleksi dalam tabung dengan 7 ml heparinized Vacutainer. Diambil setiap 2 jam.

Sampel disentrifus dengan 1000 x g dan suhu 4C selama 20 menit, lalu plasma diambil dan bekukan pada suhu -20C.

2.5. Uji Hormon


Konsentrasi plasma LH diukur dengan menggunakan metode RIA. Sensitifitas pengujian adalah 0,03 ng/ml , dan koefisien intra dan antar uji variasi adalah masing-masing 6,3% dan 8,1%

2.6. Anestesi dan preparasi

Hewan dipuasakan 24 - 36 jam sebelum laparoskopi. Pada saat laparoskopi pre-anestesi dengan 0,35 - 0,5 mg/kg Diazepam dan 5,0 - 7,0 mg/kg Ketamin secara I.V. Anestesi umum dengan 1,5 3,5 % isoflurane, lalu beri antibiotik spektrum luas 200 mg/10 kg I.M. Oxytetracycline.

2.7. Laparoskopi
Dilakukan utk mengamati ovarium dengan menarik fimbrae, Jumlah ovulasi dicatat utk setiap ovarium.

2.8. Analisa statistik

Data estrus dan LH surge dianalisis dengan prosedur MIXED, dan data ovulasi dianalisis dengan prosedur FREQ.

3. HASIL
Pemberian 50 g GnRH tidak berpengaruh terhadap timbulnya estrus, meskipun waktu estrus bergeser secara signifikan dari Januari sampai Juni dan variabel di bulan Juni (P < 0.05). Dengan tidak adanya terapi GnRH, LH surge bergeser secara signifikan dari Januari ke Juni. Konsentrasi LH pada saat puncak tidak berbeda Antara kelompok perlakuan ataupun musim. Keseluruhan pemberian GnRH meningkatkan proporsi hewan setelah 60 jam perlakuan.

4. Diskusi
24 jam setelah pemberian GnRH tidak berpengaruh signifikan terhadap waktu estrus, namun efeknya mengurangi interval LH surge dan meningkatkan Sinkronisasi LH surge (P<0.05).

Tiga dari enam kambing yang diberi terapi 50 g GnRH Diluar musim kawin memperlihatkan LH surge kedua 12-18 Jam setelah lonjakan pertama pada 26 jam.
Dapat disimpulkan bahwa GnRH eksogen tidak habis pada gelombang pertama. Gelombang kedua terjadi akibat Peningkatan estradiol dan penurunan progesteron.

Terapi dengan 50 g GnRH juga mengalami penurunan interval dan meningkatkan sinkronisasi ovulasi.

Semua hewan yang diberi GnRH ovulasi dalam waktu 60 jam, sedangkan dengan terapi eCG hanya dua hingga tiga hewan yang ovulasi dalam waktu yang sama.
Musim memiliki efek yang signifikan terhadap waktu dan sinkronisasi estrus.

Musim tidak berpengaruh signifikan terhadap waktu ovulasi. Perubahan protokol mungkin akan memberi manfaat yaitu semua hewan mengalami ovulasi pada bulan Juni. Hasil ini menunjukkan bahwa penambahan GnRH ke protokol sinkronisasi birahi mungkin berguna saat waktu yang tepat utk ovulasi. Secara umum pemberian GnRH akan memfasilitasi pengendalian keberhasilan reproduksi dan teknologi reproduksi yang lebih maju.

Siklus Estrus/Birahi

http://www.cahe.nmsu.edu/pubs/_b/b-212.pdf

Penelitian lebih lanjut diperlukan utk menentukan waktu optimal pemberian GnRH pada musim kawin dan tidak musim kawin utk memastikan perkembangan folikel dan ovulasi yang akurat, juga utk mengetahui dosis yang efektif dari GnRH pada kambing dan bila digunakan bersamaan progesteron, prostaglandin, dan eCG.

5. KESIMPULAN

Reproduksi baru dapat berlangsung setelah hewan mencapai masa pubertas atau dewasa kelamin, dan hal ini diatur oleh kelenjar-kelenjar endokrin dan hormon yang dihasilkan dalam tubuh hewan. Hewan betina harus menghasilkan ovum yang hidup dan di ovulasikan pada waktu yang tepat. Ia harus memperlihatkan estrus atau keinginan untuk kawin dekat waktu ovulasi sehingga kemungkinan penyatuan sel kelamin jantan dengan sel telur dan kemungkinan pembuahan lebih tinggi. reproduksi normal melingkupi penyerentakan dan penyesuaian banyak mekanisme fisiologik.

TERIMA KASIH