Anda di halaman 1dari 24

STATUS PASIEN

I. IDENTITAS A. Identitas Pasien

No. Catatan Medik Nama pasien Usia Jenis Kelamin Lahir Agama Suku bangsa Alamat Tanggal masuk RS

: : : : : : : : :

31-06-70 Andita Alifa Samir 28 hari Perempuan Batam, 07 Mei 2012 Islam Sumatera Kampung Paya lebar Tanjung Uban 08-05-2012 sampai 15-05-2012 25-05-2012 sampai

B. Identitas Orangtua

AYAH Nama Usia Agama Pendidikan Pekerjaan Penghasilan : : : : : : Tn. Amirullah 26 tahun Islam PT Karyawan Swasta Tidak ditanyakan

IBU Nama Usia Agama Pendidikan Pekerjaan Penghasilan : : : : : : Ny. Salmah 28 tahun Islam PT Karyawan -

II. RIWAYAT HIDUP A. Riwayat Kehamilan dan Persalinan Selama hamil, ibu pasien melakukan pemeriksaan antenatal ke bidan setiap bulan. Selain itu ibu pasien pun pernah periksa ke dokter kandungan, dan dilakukan pemeriksaan USG 1x. hasil USG menyatakan bahwa bayi yang dikandung kemungkinan mengalami kelainan bawaan. Ibu pasien menyangkal bahwa dirinya menderita penyakit Diabetes, hipertensi, ataupun penyakit berat lainnya saat hamil. Pada waktu hamil, ibu pasien pernah dirawat di RS selama 3 hari karena diare. Ibu pasien juga menyangkal adanya riwayat penyakit keturunan dalam keluarganya dan mengaku dalam kehamilannya tidak pernah merokok, minum minuman keras, mengkonsumsi obat-obatan maupun jamu-jamuan. Selama kehamilan ibu pernah imunisasi tetanus. Ibu pasien mengaku bahwa dirinya makan makanan yang sehat, baik sayur maupun buah-buahan. Pasien lahir tanggal 07 Mei 2012 pukul 14.30 WIB dari seorang ibu G1P0A0 dengan usia kehamilan lebih bulan (42 minggu), lahir via sc dibantu dokter kandungan di RSUP. Saat pasien lahir, pasien tidak langsung menangis, ketuban jernih, BB lahir 4330 gram, Lingkar kepala 58cm, panjang badan tidak diketahui. B. Riwayat Makanan Os tidak mengkonsumsi ASI. Sejak dirawat di RS, os diberikan PASI yaitu susu formula. C. Riwayat Pertumbuhan dan Perkembangan Belum dapat dinilai pada anak ini. D. Riwayat Imunisasi Os belum menerima imunisasi apapun sejak lahir. E. Riwayat perumahan dan sanitasi lingkungan Rumah milik, pasien tinggal bersama kedua orang tuanya di rumah dengan ukuran sedang. Bukan daerah yang padat penduduk, lingkungan bersih, dan nyaman. Tidak berada dekat pabrik atau tempat pembuangan sampah akhir. Pembuangan sampah rutin dan air minum berasal dari PAM. Ventilasi baik sehingga cahaya matahari cukup masuk ke dalam rumah.

III. RIWAYAT PENYAKIT ANAMNESA Anamnesa dilakukan pada hari Senin, 04 Juni 2012 jam 10.00 Anamnesa secara alloanamnesis pada ibu pasien. KELUHAN UTAMA: Kepala besar sejak lahir dan orang tua ingin anaknya dirawat di RSOB saja. KELUHAN TAMBAHAN: Tidak ada RIWAYAT PENYAKIT SEKARANG: Os datang dibawa oleh orang tuanya ke IGD RSOB pada tanggal 25 Mei 2012 dengan keluhan kepala os besar sejak lahir dan orang tua os ingin os dirawat di RSOB saja.. Sebelumnya os dirawat di RSOB selama 7 hari dan diperbolehkan pulang oleh dokter dengan catatan bahwa os harus kontrol ke RS atau Puskesmas terdekat. Oleh dokter bedah saraf, os dinyatakan menderita kelainan bawaan yaitu hidranensefali congenital. Dan tidak dapat dilakukan pengobatan apapun selain pengobatan simtomatik dan suportif. Namun karena selama di rumah keadaan pasien makin memburuk maka Os dibawa oleh kedua orang tua korban ke RSOB untuk dirawat. RIWAYAT PENYAKIT DAHULU: Os pernah dirawat di RSOB dari tanggal 8 Mei-15Mei 2012 atas rujukan dari RSUP dengan hidrosefalus kongenital. Os dirujuk ke RSOB untuk pengobatan lebih lanjut, perbaikan keadaan umum dan dikonsulkan ke dokter Bedah Saraf. RIWAYAT PENYAKIT KELUARGA: Keluarga pasien tidak ada yang pernah menderita sakit seperti ini.
3

IV. PEMERIKSAAN FISIK (04-06-2012 jam 07.00)

Keadaan Umum : tampak sakit berat, menangis lemah, gerak lemah Kesadaran Berat badan Panjang badan Lingkar kepala Lingkar dada : Compos Mentis, CCS : 10 (E:3, V: 3, M: 4) : 5090 gram : tidak diperiksa : 61 cm : tidak diperiksa

Tanda Vital: Frekuensi Nadi : 152x/menit : 37,60C : 95%

Frekuensi Napas : 80x/menit Temparatur Saturasi O2

Kulit Kepala

: sawo matang, ikterik (-), sianosis (-), turgor buruk, kulit kering (+), ruam (-) : Makrocephali, ubun-ubun tidak dapat dinilai, lunak pada perabaan, kulit kepala tegang, mengkilat, dan menipis, terdapat ulkus dekubitus di kepala, pelebaran vena (+), trauma (-), distribusi rambut tidak merata, warna rambut hitam, rontok (+)

Mata

:Edema palpebra -/-, CA-/-, SI -/-, sunset eyes +, reflex cahaya langsung/tidak langsung +/+, pupil bulat, isokor, asimetris, secret +/+, mata cekung +/+, mata merah -/-.

Telinga

: dextra: deformitas (+), mikrotia, darah(-), sekret (-), lubang telinga (-) Sinitra : deformitas (+), normotia, darah (-), sekret (-), lubang telinga (+)

Hidung

: deformitas (-), secret -/-, PCH +/+


4

Mulut Leher Thorax Paru:

: deformitas (-), bibir kering (+), tidak trismus, gigi (-) : retraksi suprasternal (+) : bentuk dada seperti dada burung (pektus carinatum)

Inspeksi Palpasi Perkusi

: kedua hemithorax simetris pada keadaan statis dan dinamis : vocal fremitus tidak dilakukan : tidak dilakukan

Auskultasi : suara nafas vesikuler pada kedua hemithorax, Rh-/-, Wh -/-

Jantung: Inspeksi Palpasi Perkusi : ictus cordis tidak terlihat : ictus cordis teraba di ICS V midclavicularis kiri : dalam batas normal, tidak terdapat pembesaran jantung

Auskultasi : S1, S2 reguler, m(-), g (-).

Abdomen : Inspeksi (+) Palpasi Perkusi : supel, hepar tidak teraba, lien tiak teraba, ginjal ballotement -/: didapatkan timpani pada seluruh kuadran abdomen : tampak cekung, pelebaran vena (+), ruam (-), retraksi epigastrium

Auskultasi : bising usus (+)

Genitalia : jenis kelamin perempuan, labia mayor (+), labia minor (+) Extremitas : deformitas (-), akral hangat +/+, edema -/-, sianosis -/Refleks: Dextra Bisep + lemah Sinistra + lemah

Trisep Patella Achiles Kremaster Patologis

+ lemah + lemah + lemah -

+ lemah + lemah + lemah -

V. PEMERIKSAAN PENUNJANG Laboratorium Tanggal Lekosit Hemoglobin Hematokrit Trombosit Natrium Kalium Chlor 25/05/2012 26/05/2012 12,3 12,1 33,9 204 109 8,0 81 13,6 19,5 57,9 193 119 5,8 92 31/05/2012 01/06/2012 13,3 16 43,8 189 126 4,9 98 07/06/2012 10,0 18 49,8 195 12/06/2012 8,4 21,6 56,4 169

Rontgen Thorax (08-05-2012)

CT Scan Kepala (08/05/2012)

Kesan : Hidranensefali

VI.

RESUME Seorang bayi perempuan, usia 28 hari, dibawa oleh orangtuanya ke IGD RSOB dengan keluhan sesak dan kepala besar sejak lahir. Orang tua os ingin anaknya dapat dirawat di RSOB. 2 minggu SMRS os pernah dirawat di RSOB atas rujukan dari RSUP Tanjung Uban dengan keluhan kepala besar sejak lahir dan diagnosis sementara adalah hidrosefalus kongenital. Setelah dilakukan pemeriksaan CTscan kepala didapat diagnosis kerja adalah hidranensefali congenital. Pada pemeriksaan fisik didapatkan: keadaan menangis lemah, gerak tidak aktif, turgor kulit buruk, kulit kering (+), makrocephali 61 cm, BB 5090 gram. Pada kepala didapatkan pelebaran vena (+), ulkus dekubitus di kepala (+), kelopak mata cekung, sunset eye (+), secret (+).

VII.

DIAGNOSA KERJA
7

Hidranensefali Kongenital Ulkus dekubitus di kepala VIII. PROGNOSIS Hingga saat ini belum ditemukan tatalaksana standar untuk pengobatan hidranensefali. Pengobatan atau terapi hanya secara simtomatik dan suportif. Sedangkan untuk hydrocephalus dapat diterapi dengan operasi VP shunt. Jadi, prognosis anak dengan hidranensefali secara umum sangat buruk. Biasanya meninggal dalam tahun pertama kehidupan. Ad vitam Ad fungtionam IX. : ad malam : ad malam.

PENATALAKSANAAN Pada pasien ini dilakukan terapi suportif dan simptomatik berupa : Perawatan inkubator level II Termoregulasi 36,50-37,50C O2 kanul 1-2 L/menit ASI/PASI per OGT 50-75cc/3jam Perawatan Luka : NaCl0,9% 100cc + Hypobac 200mg

X.

FOLLOW UP Tanggal 05-06-2012 Subjektif UK: 29 hari UP : 12 hari Demam (-), Sesak (+) Objektif BB : 5090 gram LK : 61 cm HR: 152x/m Assessment Hidranensefali congenital Rawat level II 36,50C-37,50C O2 1-2L/m ASI/PASI per OGT 5075cc/3jam Perawatan luka:
8

Plan inkubator

Ulkus dekubitus Termoregulasi di kepala.

Kejang (-), ikterik (-), RR: 70x/m sianosis(-) minum (+) T : 37,60C , muntah (-) BAB (+), BAK (+) SpO2: 95% KU: menangis

lemah, gerak tidak aktif.

Kepala: makrosefali, pelebaran vena (+) Sunset secret eye +/+, (+), Luka pada

kompres NaCl 0,9% 100cc + Hypobac 200mg

dekubitus kepala (+). Retraksi ss (+)

Retraksi sela iga + Retraksi epigastrium (+), thorax, abdomen dan ekstremitas dalam batas normal.

Tanggal 06-06-2012 Subjektif UK: 30 hari UP: 13 hari Demam (-), Sesak (+) Objektif BB : 5190 gram LK : 62 cm HR: 146x/m Assessment Hidranensefali congenital Plan Rawat level II 36,50C-37,50C O2 1-2L/m ASI/PASI per OGT 5075cc/3jam Perawatan luka: kompres NaCl 0,9% 100cc + Hypobac 200mg menangis inkubator

Ulkus dekubitus Termoregulasi di kepala

Kejang (-), ikterik (-), RR: 78x/m sianosis(-) minum (+) T : 37,10C , muntah (-) BAB (+), BAK (+) SpO2: 92% KU:

lemah, gerak tidak aktif. Kepala: makrosefali, Luka dekubitus pada kepala (+), pelebaran vena (+),

luka dekubitus mulai mengering + luka baru Sunset eye (+),

secret +/+. Retraksi ss (+) Retraksi sela iga + Retraksi epigastrium (+), abdomen ekstremitas batas normal. thorax, dan dalam

Tanggal 07-06-2012 Subjektif UK: 31 hari UP: 14 hari Demam (-), Sesak (+) Objektif BB : 5180 gram LK : 63 cm HR: 156x/m
0

Assessment Hidranensefali congenital Ulkus dekubitus

Plan Rawat box level II Termoregulasi 36,50C-37,50C O2 1-2L/m ASI/PASI per OGT 5075cc/3jam Perawatan luka: kompres NaCl 0,9% 100cc + Hypobac 200mg.

Kejang (-), ikterik (-), RR: 86x/m sianosis(-) minum (+) T : 35,5 C , muntah (-) BAB (+), BAK (+) SpO2: 95% KU: menangis

di kepala

lemah, gerak tidak aktif. Kepala: makrosefali, Luka dekubitus pada kepala (+), pelebaran vena (+), luka dekubitus mulai mengering +

10

luka baru Sunset eye (+),

secret +/+. Retraksi ss (+) Retraksi sela iga + Retraksi epigastrium (+), abdomen ekstremitas batas normal. thorax, dan dalam

Tanggal 08-06-2012 Subjektif UK: 32 hari UP: 15 hari Demam (-), Sesak (+) Objektif BB : 5210 gram LK : 63 cm HR: 146x/m
0

Assessment Hidranensefali congenital Ulkus dekubitus

Plan Rawat box level II Termoregulasi 36,50C-37,50C O2 1-2L/m ASI/PASI per OGT 5075cc/3jam Perawatan luka: kompres NaCl 0,9% 100cc + Hypobac 200mg.

Kejang (-), ikterik (-), RR: 76x/m sianosis(-) minum (+) T : 36,5 C , muntah (-) BAB (+), BAK (+) SpO2: 98% KU: menangis

di kepala

lemah, gerak tidak aktif. Kepala: makrosefali, Luka dekubitus pada kepala (+), pelebaran vena (+), luka dekubitus mulai mengering + luka baru Sunset eye (+),

11

secret +/+. Retraksi ss (+) Retraksi sela iga + Retraksi epigastrium (+), abdomen ekstremitas batas normal. thorax, dan dalam

Tanggal 09-06-2012 Subjektif UK: 33 hari UP: 16 hari Demam (-), Sesak (+) Objektif BB : 5300 gram LK : 63,5 cm HR: 145x/m
0

Assessment Hidranensefali congenital Ulkus dekubitus

Plan Rawat box level II Termoregulasi 36,50C-37,50C O2 1-2L/m ASI/PASI per OGT 75cc/3jam Perawatan luka: kompres NaCl 0,9% 100cc + Hypobac 200mg.

Kejang (-), ikterik (-), RR: 76x/m sianosis(-) minum (+) T : 37,6 C , muntah (-) BAB (+), BAK (+) SpO2: 90% KU: menangis

di kepala

lemah, gerak tidak aktif. Kepala: makrosefali, Luka dekubitus pada kepala (+), pelebaran vena (+), luka dekubitus mulai mengering + luka baru Sunset eye (+),

secret +/+. Retraksi ss (+)


12

Retraksi sela iga + Retraksi epigastrium (+), abdomen ekstremitas batas normal. thorax, dan dalam

Tanggal 10-06-2012 Subjektif UK: 34 hari UP: 17 hari Demam (-), Sesak (+) Objektif BB : 5160 gram LK : 64 cm HR: 138x/m
0

Assessment Hidranensefali congenital Ulkus dekubitus

Plan Rawat box level II Termoregulasi 36,50C-37,50C O2 1-2L/m ASI/PASI per OGT 75cc/3jam Perawatan luka: kompres NaCl 0,9% 100cc + Hypobac 200mg.

Kejang (-), ikterik (-), RR: 68x/m sianosis(-) minum (+) T : 36 C , muntah (-) BAB (+), BAK (+) SpO2: 91% KU: menangis

di kepala

lemah, gerak tidak aktif. Kepala: makrosefali, Luka dekubitus pada kepala (+), pelebaran vena (+), luka dekubitus mulai mengering + luka baru Sunset eye (+),

secret +/+. Retraksi ss (+) Retraksi sela iga + Retraksi epigastrium


13

(+), abdomen ekstremitas batas normal.

thorax, dan dalam

Tanggal 11-06-2012 Subjektif UK: 35 hari UP: 18 hari Demam (-), Sesak (+) Objektif BB : 5320 gram LK : 64,5 cm HR: 155x/m
0

Assessment Hidranensefali congenital Ulkus dekubitus

Plan Rawat box level II Termoregulasi 36,50C-37,50C O2 1-2L/m ASI/PASI per OGT 75cc/3jam Perawatan luka: kompres NaCl 0,9% 100cc + Hypobac 200mg.

Kejang (-), ikterik (-), RR: 77x/m sianosis(-) minum (+) T : 37,5 C , muntah (-) BAB (+), BAK (+) SpO2: 96% KU: menangis

di kepala

lemah, gerak tidak aktif. Kepala: makrosefali, Luka dekubitus pada kepala (+), pelebaran vena (+), luka dekubitus mulai mengering + luka baru Sunset eye (+),

secret +/+. Retraksi ss (+) Retraksi sela iga + Retraksi epigastrium (+), abdomen thorax, dan
14

ekstremitas batas normal.

dalam

Tanggal 12-06-2012 Subjektif UK: 36 hari UP: 19 hari Demam (-), Sesak (+) Objektif BB : 5390 gram LK : 65 cm HR: 159x/m Assessment Hidranensefali congenital Ulkus Plan Rawat level II 36,50C-37,50C O2 1-2L/m ASI/PASI per OGT 5075cc/3jam Perawatan luka: menangis inkubator

dekubitus Termoregulasi

Kejang (-), ikterik (-), RR: 78x/m sianosis(-) minum (+) T : 36,90C , muntah (-) BAB (+), BAK (+) SpO2: 92% KU:

di kepala

lemah, gerak tidak aktif. Kepala: makrosefali, Luka dekubitus pada kepala (+), pelebaran vena (+), luka dekubitus mulai mengering + luka baru Sunset eye (+),

kompres NaCl 0,9% 100cc + Hypobac 200mg.

secret +/+. Retraksi ss (+) Retraksi sela iga + Retraksi epigastrium (+), abdomen ekstremitas batas normal.
15

thorax, dan dalam

XI. ANAMNESIS

ANALISA KASUS

1. Keluhan Utama: Kepala besar sejak lahir Kebanyakan pembesaran kepala disebabkan karena peningkatan TIK,

konsekuensinya

makrosefali mungkin memerlukan tindakan. Makrosefali

diklasifikasikan berdasarkan etiologinya kedalam: Kelainan aliran LCS dan kelainan rongga LCS akumulasi LCS abnormal akibat kelainan aliran LCS, mungkin menimbulkan peninggian TIK. Hidrosefalus adalah contoh kelainan aliran LCS. Disgenesis parenkim otak atau hilangnya parenkim otak yang telah berkembang sebelumnya bisa mengakibatkan terbentuknya rongga LCS yang abnormal. Lesi massa intracranial sesuai lokasinya dibagi dua yaitu : lesi ekstraserebral dan intraserebral. Pada lesi ekstraserebral yang paling sering adalah penimbunan cairan subdural seperti misalnya hematoma subdural, efusi subdural, dan kista arakhnoid. Sedangkan untuk lesi intraserebral yang paling sering adalah tumor otak dan abses otak. Penambahan volume otak penambahan volume parenkim otak disebut megansefali. Lesi ini berbeda dengan edema otak, dimana yang bertambah adalah volume air otak. Megansefali bukan merupakan kandidat untuk dilakukannya operasi bedah saraf. Ada dua jenis yaitu megansefali anatomic (disebabkan pertambahan ukuran dan jumlah neuron) dan megansefali metabolic (akumulasi metabolit abnormal sekitar neuron akibat kelainan otak). Penebalan abnormal tengkorak pada keadaan yang jarang pembesaran kepala mungkin disebabkan penebalan cranium akibat dysplasia kranioskeletal dan sejenisnya. 2. Riwayat Kehamilan dan Persalinan : ibu os pernah dirawat di RS karena diare. Infeksi pada ibu selama hamil dapat mengganggu pertumbuhan dan perkembangan embriologi janin terutama jika terjadi pada trimester awal kehamilan. Infeksi

16

toxoplasmosis, cytomegalovirus dan herpes simplex adalah yang paling sering berhubungan dengan angka kejadian hidranensefali pada banyak kasus menurut penelitian para ahli. PEMRIKSAAN FISIK 1. Tanda vital : sesak (80x/m) karena akumulasi berlebih LCS pada rongga cranium maka terjadi peningkatan tekanan intracranial. Akibatnya terjadi gangguan suplay darah ke otak sehingga terjadi penurunan konsentrasi O2 dan glukosa di otak sehingga akan terjadi kelelahan, iritabel dan mengantuk. Hiperventilasi disini merupaka suatu mekanisme kompensasi yang dilakukan tubuh untuk memenuhi suplay O2 ke otak. Jika kompensasi tidak berhasil maka bias terjadi penurunan kesadaran. selain itu sesak dapat terjadi akibat gangguan langsung pada batang otak. Dimana batang otak itu sendiri berfungsi mengatur pernapasan, denyut jantung, suhu, proses pencernaan dan sumber insting manusia. Hiperventilasi disini tewrjadi sebagai mekanisme kompensasi untuk menurunkan TIK yangcepat walau untuk jangka waktu yang singkat. 2. Kepala : Makrosefali Berikut ini adalah tabel lingkar kepala normal pada anak dan bayi perempuan menurut Nellhaus:

17

Beberapa penyebab yang mengakibatkan pertumbuhan lingkar kepala menjadi tidak normal adalah: Lingkar kepala kecil (<-2SD): Bayi kecil Familial feature Mental subnormality kraniostenosis Lingkar kepala besar (>+2SD): Bayi besar Familial feature Hidrosefalus Megansefali Hidranensefali Tumor serebral Efusi subdural 3. Mata : sunset eye +/+

18

fenomena ini timbul karena TIK yang tinggi dapat menekan tulang atap orbita yang sangat tipis. Tulang atap orbita ini terus lantas menekan bola mata sehingga bola mata berputar ke bawah. Dengan kedudukan mata demikian, banyak sclera terlihat diantara limbus atas kornea dan tepi kelopak mata atas. Tanda tersebut pun bisa dikorelasikan dengan dilatasi ventrikel III yang sekaligus dapat melumpuhkan gerakan elevasi bola mata.

4. Telinga: Deformitas (+/+), mikrotia, lubang telinga (+/-) pada beberapa literature didapatkan adanya hubungan kejadian hidranensefali dengan beberapa kejadian anomali yang menyertainya seperti : labioskizis, labiopalatyoskizis, mikrotia, tidak terbentuknya lubang telinga, renal aplastic dysplasia, dan defek pada jantung. PEMERIKSAAN PENUNJANG 1. CT Scan Kepala : Hidranensefali Pada CT Scan terdapat gamabaran classic appearance yaitu tidak tampak gambaran hemisfer serebri dan seluruh rongga cranium terisi dengan cairan yaitu LCS ( gambaran low density) CT Scan harus dilakukan pada penilaian ukuran kepala abnormal. Ruang LCS mudah diperiksa dengan CT Scan. Diagnosis CT makrosefali berdasarkan pada dilatasi, deformasi atau deviasi rongga LCS. Pembesaran kepala diklasifikasikan ke dalam dua golongan besar berdasar ukuran ventrikel: o Pembesaran kepala dengan dilatasi ventrikuler: Disebabkan oleh gangguan sirkulasi LCS, bentuk dilatasi bermacam-macam tergantung tempat obstruksi. Contoh : Hidrocephalus. o Pembesaran kepala tanpa dilatasi ventrikuler: Pada megansefali misalnya, CT Scan biasa tidak memperlihatkan adanya dilatasi ventrikel walaupun makrosefali. Begitu pula dengan hidranensefali, tidak tampak dilatasi ventrikuler, bahkan pada kasus-kasus berat tidak tampak gambaran ventrikel.

19

DIAGNOSIS 1. Hidranensefali Kongenital Hidranensefali terdiri dari 2 kata yaitu hidrosefalus dan anensefali. Hidranensefali adalah suatu kelainan congenital pada otak dengan karakteristik yakni tidak terdapatnya hemisfer serebri dan terdapat struktur seperti kantong yang berisi cairan serebrospinal yang mengelilingi batang otak dang ganglia basalis serta menempati tempat yang seharusnya diisi oleh hemisfer otak. Insidens hidranensefali sekitar 0.2 persen dari neonatus. Lahir mati atau mati usia bayi muda sering pada kasus yang berat. Mikrogiria sering ditemukan pada tepi

hemisfer serebral, dan korteks hemisfer sisanya sering memperlihatkan empat lapisan yang mengandung banyak neuron yang immatur. Ventrikel lateral tidak ada, tapi ventrikel ketiga terkadang dijumpai. Pleksus khoroid biasanya ada. Pons, medulla, serebelum, tentorium, dan saraf otak dijumpai, namun sering kecil abnormal. Patogenesis hidranensefali belum pasti. Infeksi maternal(toxoplasmosis,

cytomegalovirus, and Herpes simplex infections (HSV)), radiasi, usaha menginduksi aborsi,anemia, intoksikasi karbon monoksida, leher terjerat tali pusat, dan anoksia fetal dilaporkan sebagai penyebab. Refleks neonatal dapat dideteksi pada bayi dengan hidranensefali untuk beberapa minggu setelah lahir, namun tak ada perkembangan psikomotor yang tampak setelahnya.Tanda klinis yang umum dijumpai adalah: kesulitan menelan, gangguan konjugasi gerak mata, nistagmus, strabismus, bangkitan konvulsif, dan hipotermia.

20

2. Ulkus dekubitus di kepala Ulkus dekubitus adalah kerusakan kulit yang terjadi akibat kekurangan aliran darah dan iritasi kulit yang menutupi tulang yang menonjol dimana kulit tersebut mendapat tekanan dari berbagai benda dalam jangka waktu yang lama. bagian tubuh yang sering mengalami ulkus dekubitus adalah bagian dimana terdapat penonjolan tulang yaitu siku, tumit, pinggul, pergelangan kaki, bahu, punggung dan kepala. kulit kaya akan pembuluh darah yang mengangkut oksigen ke seluruh lapisannya. Jika aliran darah terputus lebih dari 2-3 jam, maka kulit akan mati, yang dimulai pada lapisan kulit bagian atas. Penyebab berkurangnya aliran darah ke kulit adalah tekanan. Jika tekanan menyebabkan terputusnya aliran darah, maka kulit akan mengalami kekurangan oksigen, pada mulanya akan tampak merah dan meradang lalu membentuk luka terbuka (ulkus). Gerakan yang normal akan mengurangi tekanan sehingga darah akan terus mengalir. stadium ulkus dekubitus: Stadium 1 : ulkus belum terbentuk seutuhnya Stadium 2 :kulit merah dan bengkak, melepuh, lapisan kulit paling atas mati Stadium 3 :ulkus mulai menyusup ke kulit yang lebih dalam Stadium 4 : ulkus menembus kulit dan lemak, sampai ke otot Stadium 5 : terjadi kerusakan otot Stadium 6: terjadi kerusakan tulang dan kadang terjadi infeksi tulang

PROGNOSIS 1. Ad vitam : ad malam secara umum buruk karena hingga saat ini belum diketahui tatalaksana standar untuk hidranensefali congenital. Talalaksana yang dilakukan pada penderita hidranensefali congenital hanya berupa pengobatan suportif dan simtomatik. Dari penelitian , ditemukan bahwa penderita dapat bertahan hidup beberapa bulan. Namun umumnya meninggal dalam tahun pertama kehidupan. 2. Ad fungtionam : ad malam

21

Hidrosefalus, LCS banyak terakumulasi dalam rongga otak dan kranium sehingga menekan batang otak mengakibatkan gangguan fungsi batang otak. Anensefali pada pasien ini juga mengakibatkan formasi/ pembentukan otak dan bagian-bagian otak lainnya seperti batang otak tidak sempurnaterjadi gangguan fungsi otak dan batang otakgangguan pada fungsi organ-organ vital yang dikontrol oleh otak.

22

DAFTAR PUSTAKA
1. J Ray, B August. About Hydranencephaly in infant. 2007. Free medicine article. San

Fransisco.Available at http://www.principalhealthnews.com/topic/topic100586649 accessed on June 4 2012. 2. Westwood B. Definition of Hydranencephaly. 2008. Available at

http://www.medicinet.com/topic/30348948 accessed on June 2012. 3. Halsay S, Allen N, Chamberlin H: Hydranencephaly. Handbook of Clinical Neurology. Amsterdam, Elsevier/North Holland Biomedical Press 30:661-680, 2007. 4. Warkany J: Congenital malformation. About Hidranencephaly. Chicago Yearbook Medical Publishers pp 221-237, 1981. 5. Christie J, Rakusan T, Martinez M, et al.: Hydranencephaly caused by congenital infection with herpes simplex virus. Pediatric Inf Disease 5:473-478, 2006. 6. Greene M, Benacerraf B, Crawford J: Hydranencephaly: ultrasound appearance during in utero evolution. Radiology 156:779-780, 2005. 7. Nahmias A, Keyserling H, Kerrick G, et al. In: Diseases of the fetus and newborn infant. Philadelphia:WB Saunders ;2003.p.636-78. 8. Hadi H, Mashini I, Devoe L, et al.Ultrasonic prenatal diagnosis of hydranencephaly. A case report. J Reprod Med. 2006;31:254-6. 9. Sutton LN, Bruce DA, Schut L. Hydranencephaly versus maximal hydrocephalus: an important clinical distinction. Neurosurgery. 2009; 6:34-8. 10. Ngoerah, I. Gst. Ng. Gd., 2011, Dasar-dasar Ilmu Penyakit Saraf, Airlangga University Press, Surabaya. Hal : 45-9. 11. Swaiman, K.F., and Wright, F.S. 2005 Hydrocephalus, in Farmer, T.W. (editor) Practice of Pediatrics Neurology, vol II, C.V Mosby Co., Saint Louis, 11(2) : 111-4 12. H Hidalgo, J Bowie, ER Rosenberg, PC Ram, K Ford, and E Lipsit.In utero sonographic diagnosis of fetal cerebral anomalies. American Journal of Roentgenology. 2012; 39(1):1438. 13. Hutto C, Arvin A, Jacobs R,et al. Intrauterine herpes simplex infections. J Pediatrics. 2007;110:97-101.

23

14. Nicolaides KH, Snijders RJM, Gosden CM, Berry C, Campbell S. Ultrasonographically detectable markers of fetal chromosomal abnormalities. Lancet. 2002; 340:704-7. 15. Kurtz AB, Johnson PT. Diagnosis please. Case 7: Hydranencephaly. Radiology. 2009;210(2):419-22. 16. Nyberg DA, Pretorius DH. Cerebral malformations. In: Nyberg DA, Mahony BS, Pretorius DH, eds. Diagnostic ultrasound of fetal anomalies: text and atlas. Chicago, Ill: Year Book Medical; 2009.p.98-121.

24