Anda di halaman 1dari 29

LAPORAN KASUS

Kejang Demam +ISPA

PENYUSUN: Aditya Zulkarnain 030.07.008

PEMBIMBING : Dr. Rudi Ruskawan, Sp.A

KEPANITERAAN KLINIK ILMU KESEHATAN ANAK RUMAH SAKIT OTORITA BATAM PERIODE 7 Oktober 2012 15 Desember 201 FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS TRISAKTI

STATUS PASIEN

I. IDENTITAS A. Identitas Pasien No. Catatan Medik Nama pasien Usia Jenis Kelamin Lahir Agama Suku bangsa Alamat Tanggal masuk RS : : : : : : : : : 31-90-47 An.Awalu Zikri 1 tahun 11 bulan Laki-laki Batam, 2 november 2010 Islam Sumatera Puri Agung III blok A no 33,Batam 22-10-2012 sampai 25-10-2012

B. Identitas Orangtua AYAH Nama Usia Agama Pendidikan Pekerjaan Penghasilan : : : : : : Tn. Amir 30 tahun Islam SMA Karyawan Swasta Tidak ditanyakan IBU Nama Usia Agama Pendidikan Pekerjaan Penghasilan : : : : Ny. Marsih 28 tahun Islam SMA

:Ibu rumah tangga :

Hubungan dengan orang tua: Anak kandung II. RIWAYAT PENYAKIT ANAMNESA Anamnesa dilakukan pada hari Selasa, 23 Oktober 2012 jam 13.00 di ruang Bougenville

Anamnesa secara alloanamnesis pada ibu pasien KELUHAN UTAMA: Kejang sejak 1 jam SMRS KELUHAN TAMBAHAN: Demam,Batuk berdahak,pilek,muntah. RIWAYAT PENYAKIT SEKARANG: Os(an.Laki-laki umur 1 tahun 11 bulan,BB 12 kg) datang dibawa oleh orang tuanya ke IGD RSOB pada tanggal 22 Oktober 2012 jam 09.00 pagi,dengan keluhan utama kejang sejak 1 jam SMRS.Disertai keluhan tambahan demam 1 hari smrs ,batuk+pilek 2 hari smrs,muntah 1 hari smrs. Dari Anamnesis didapatkan: Sejak 2 hari SMRS,pasien mengeluh Batuk,Batuknya sedikit,berdahak,tetapi dahak tak dapat dikeluarkan,Kontak dengan penderita TB dan pengobatan paru disangkal.Pasien juga mengalami flu.Keluhan nyeri menelan disangkal.Pasien menurut pengakuan orangtuanya sehabis berenang di pantai.Tidak ada demam,muntah,kejang ataupun sesak.BAB,BAK normal,nafsu makan baik,pasien mau makan dan minum. Sejak 1 Hari SMRS pasien menderita demam,demamnya tinggi,mencapai 40 derajat celcius,demam datang ketika pagi hari .Pasien sempat diberi obat penurun panas yaitu sanmol,dan demamnya turun.Pasien mulai mengalami batuk batuk yang sering dan berdahak disertai flu.Untuk batuk pileknya os diberi obat dari warung.Pada sore harinya suhu tubuh pasien kembali naik mencapai 40 derajat celcius,pasien juga mengalami muntah.Muntahnya dua kali,berisi makanan yang dimakan,kira kira seperempat gelas aqua,.muntah tidak disertai darah,tidak ada muntah menyembur.Kemudian pasien hanya diberikan kompres hangat dan diberi obat sanmol lagi,kemudian malam harinya demamnya turun.Buang air kecil lancar, 4x sehari,warna kuning jernih,banyak dan tidak ada pasir atau darah,tidak ada nyri brkemih.Buang air besar 1x sehari padat,tidak keras,tidak disertai nyeri perut,warna kuning kecoklatan,tidak ada lendir dan darah. Tidak ada sesak,tidak ada keringat malam,tidak ada riwayat batuk lama atau pengobatan paru.Tidak ada keluar cairan dari telinga,tidak ada bintik
3

bintik merah dikulit atau riwayat mimisan,gusi berdarah atau lebam lebam di tubuh.Nafsu makan pasien menurun,dari sebelumnya 3x menjadi dua kali perhari,minum pasien juga berkurang.hanya mau minum susu dari yang biasanya satu gelas menjadi setengah gelas saja, 1 jam SMRS,keesokan paginya pada pukul 08.00 WIB,Pasien kembali mengalami demam mencapai 40 derajat celcius,kemudian pasien mengalami kejang pada saat sedang tiduran, kejang sebanyak satu kali dengan lama kurang dari 1 menit,ketika kejang,seluruh tubuh pasien bergetar dan mata pasien mendelik keatas,bibir tidak membiru,lidah tidak tergigit dan tidak mengeluarkan busa.Sebelum kejang pasien sedang tiduran tetapi sadar dengan demam mencapai 40 derjat celcius,saat kejang pasien tidak sadar dan setelah kejang pasien kembali sadar dan menangis. selama kejang pasien tidak diberi obat anti kejang.Kejang pasien tidak berulang,ini merupakan kejang pertama bagi pasien.riwayat trauma cedera kepala disangkal.Setelah kejang pasien langsung dibawa ke IGD RSOB. RIWAYAT PENYAKIT DAHULU:
PENYAKIT ALERGI CACINGAN DBD DEMAM TIFOID OTITIS PAROTITIS (-) UMUR (-) (-) (-) (-) (-) PENYAKIT DIFTERIA DIARE KEJANG KECELAKAAN MORBILI/varicella OPRASI (-) (-) PENYAKIT JANTUNG GINJAL DARAH RADANG PARU TBC LAINYA

(-) (-) (-) (-)

(-) (-) (-) (-) (-) (-)

Orang tua pasien mengaku bahwa pasien tidak pernah mengalami kejang sebelumnya.Riwayat epilepsi disangkal,riwayat trauma kepala disangkal. Jarang menderita batuk dan pilek. Pasien tidak memiliki alergi terhadap makanan, sesak napas, maupun bersin-bersin saat pagi hari. Sebelumnya pasien tidak pernah dirawat di rumah sakit ataupun mengalami sakit berat sebelumnya.Belum pernah sakit seperti ini sebelumnya. Kesimpulan: sejak dari bayi pasien tidak pernah mengalami sakit berat. RIWAYAT PENYAKIT KELUARGA

Os merupakan anak tunggal.Ayah pasien mengaku dulu sering sakit sakitan yaitu sakit paru paru dan pernah kejang demam sewaktu kecil. Tidak ada riwayat kejang, asma, batuk lama yang tidak sembuh, batuk darah dan penyakit darah dalam keluarga..Tidak ada yang merokok di dalam rumah Tidak ada penyakit bawaan atau turunan dalam keluarga seperrti asthma,diabetes,lemah jantung atau penyakit turunan lainya. Ayah Ibu

Nama Perkawinan Umur saat menikah Keadaan keshetan saat ini Riwayat kesehatan

Amir Pertama 25 tahun Baik

Marsih pertama 23 tahun Baik

Sering sakit waktu kcil dan Baik pernah kejang demam sewaktu kecil

Kesimpulan:keaddan kessehatan kedua orang tua pasien saat ini dalam keaddan baik.tetapi riwayat ayah pasien pernah mengalami hal sama seperti pasien. Riwayat Kehamilan dan Persalinan

MORBIDITAS KEHAMILAN KEHAMILAN

Tidak

ditemukan

kelainan,tidak pernah sakit selama hamil,tidak pernah mengkonsumsi jamu atau obat obatan lain selain dari dokter

Perawatan antenatal

Memeriksakan Rutin di dokter

kandungan

Tempat kelahiran Penolong persalinan KELAHIRAN Cara persalinan

RS OTORITA BATAM BIDAN

Partus spontan

pervaginam

Masa gestasi Keadaan bayi

Cukup bulan Langsung menangis,warna kulit kemerahan. Berat badan: 2700 Panjang badan:50 cm Langsung menangis Tidak ada kelainan

bawaan atau cacat

Pada riwayat kehamilan dan persalinan tidak ditemukan kelainan,kesemuanya baik. A. Riwayat Makanan Umur/bulan 0-2 2-4 4-6 6-8 8-10 10-12 ASI + + + + + + PASI + + + Buah/biskuit +

Bubur susu + +

Nasi tim + +

+ +

Kesimpulan: Gizi cukup, bervariasi Umur diatas 1 tahun: JENIS MAKANAN Nasi/pengganti sayur FREKUENSI DAN JUMLAH 3x sehari,1 centong nasi/kali 3x sehari 1mangkuk/kali
6

daging telur ikan Tahu tempe Susu(merk/takaran) Lain-lain

1x seminggu 2x seminggu,1 butir/kali 2xseminggu,1 potong/kali 3xseminggu,1potong/kali 3xsminggu,1potong/kali dancow Ayam 1x seminggu,1 potong/kali

B. Riwayat Perkembangan Tengkurap Duduk : 3 bulan : 6 bulan berjalan : 13bulan

mendorong dan menarik benda: 18 bulan Bicara(berbntuk kalimat dr 2 kata): 18 bulan

merangkak : 9 bulan berdiri : 11 bulan

Kesimpulan

: Perkembangan baik, sesuai usia

C. Riwayat Imunisasi Vaksin Dasar (umur) I BCG DPT Polio Campak Hepatitis B Imunisasi dasar lengkap.imunisasi ulangan belum D. Riwayat perumahan dan sanitasi lingkungan Rumah milik, pasien tinggal bersama kedua orang tuanya di rumah dengan ukuran sedang. Bukan daerah yang padat penduduk, lingkungan bersih, dan nyaman. Tidak berada dekat pabrik atau tempat pembuangan sampah akhir. Pembuangan sampah rutin dan air minum berasal dari PAM. Ventilasi baik sehingga cahaya matahari cukup masuk ke dalam rumah
7

II

III

IV

1 bulan 2 bulan 1 bulan 9 bulan 0 bulan 1 bulan 5 bulan 4 bulan 2 bulan 6 bulan 4 bulan 6 bulan

III. PEMERIKSAAN FISIK Tanggal 23 oktober 2012 pukul 13.30 WIB Kesadaran Keadaan umum Tanda-tanda vital: -

: compos mentis : tampak sakit sedang

Nadi Pernafasan Suhu

: 100x/ menit : 25x/ menit : 39,00 celcius

Data antropometri Berat badan Panjang badan : 12.0kg :88cm

Menurut kurva who atau z score berada pada range normal Kesan : status Gizi baik

Kepala

: normochepali, ,distribusi rambut merata, rambut tidak

mudah rontok dan

berwarna hitam, wajah simetris. Mata : kelopak mata tidak cekung, konjungtiva pucat -/-, sklera ikterik -/-, pupil isokor kanan kiri, reflex cahaya langsung +/+, reflex cahaya tidak langsung +/+, mata merah -/-, mata berair -/-, air mata +/+. Telinga Hidung : deformitas -/-, sekret dari telinga -/- darah dari telinga -/-. : deformitas (-), deviasi septum (-), sekret +/+ pernafasan cuping hidung (-).
8

Mulut

: deformitas (-), bibir kering (-), sianosis perioral (-), mukosa mulut kering (-) (-) hiperemis (+), lidah kotor (-),

Tenggorokan: Tonsil t1-t1,faring tidak hiperemis,post nasal drip (-) Leher : tidak teraba pembesaran tiroid, kelenjar getah bening tidak teraba membesar, retraksi suprasternal (-) Thoraks : : ictus cordis tidak terlihat : ictus cordis teraba di ICS IV garis midclavicularis kiri : tidak dilakukan : Bunyi jantung I-II regular, tidak mendengar mumur dan gallop

Jantung Palpasi Perkusi Auskultasi Paru Inspeksi :

: kedua hemitoraks simetris dalam keadaan statis dan dinamis, retraksi sela iga (-), retraksi sub costa (-).

Palpasi Auskultasi

: vokal fremitus sulit dinilai : suara napas vesikuler pada hemitoraks kiri dan kanan. Ronkhi -/-, wheezing -/-

Abdomen

: : datar, tidak tampak peristaltik usus, retraksi epigastrium (-) : abdomen teraba lunak, nyeri tekan (-), hepar tidak teraba membesar, lien tidak teraba membesar, ballotment -/-, tidak teraba massa, turgor kulit kembali dalam waktu kurang dari 2 detik.

Inspeksi Palpasi

Perkusi Auskultasi Ekstremitas

: timpani : bising usus 1x/menit

: akral hangat (+) di keempat ekstremitas, sianosis akral (-) di keempat ekstremitas, Ptechiae negatif di keempat akral,rumple leed negatif di keempat

akral Rangsang meningeal: kaku kuduk(-) Brudzinski 1(-) brudzinski II(-) kernig(-) laseq(-)

Pemeriksaan nervus cranialis NI-NXII Normal Reflex fisiologis normal Reflex patologis negativ
9

Uji kekuatan otot dan motorik : normal +5 pada keempat extremitas

PEMERIKSAAN PENUNJANG Laboratorium Tanggal Lekosit Hemoglobin Hematokrit Trombosit Natrium Kalium Chlor 22/10/2012 23/10/2012 8.2 11,1 34,5 202 135 3.6 103 7.8 11,1 35,9 193 135 4.1 105 24/10/2012 8.4 11.5 37.0 212 135 4.5 102

Kesan laboratorium: pemeriksaan lab normal Rontgen thorax: tidak dilakukan IV. RESUME Seorang anak laki laki usia 1 tahun11 bulan dengan berat badan 12kg dibawa oleh orangtuanya ke IGD RSOB dengan keluhan kejang 1 jam smrs dan demam dan muntah sejak 1 hari smrs.disertai batuk dan pilek sejak 2 hari smrsDari peemeriksaan fisik didapatkan keadaan umum tampak sakit sedang,RR; 39X,T:39 derajat

celcius.Pemeriksaan fisik lengkap dan neurologis dalam batas nomal.pemerikssaan rontgen dan lboratorium dalam batas normal. V. DIAGNOSA KERJA Kejang demam sederhana ec .ISPA
10

DIAGNOSA BANDING: Pneumonia

PENATALAKSANAAN 1. Rawat/tirah baring di bangsal anak 2. IVFD 2A 12 Tetes makro per menit 3. Ampicillin sulbactam 4x150mg (IV) 4. Novalgin 3x120 mg (IV) 5. Sanadryl exp 3x1 cth 6. Omeprazol 1x15 mg IV 7. Diet makanan lunak/makan biasa 8. Vometa syrup 3x2.5 ml 9. Stesolid supp 5 mg kalo perlu

PROGNOSIS Ad vitam Ad functionam Ad sanationam : ad bonam : ad bonam : dubia ad bonam

EVALUASI HARIAN PASIEN Tanggal 23 oktober 2012 (perawatan hari kedua) Subjektif: Demam Batuk berdahak Pilek Mual,tetapi muntah(-) Kurang nafsu makan

Objektif: Kes/KU Tanda vital Kepala : compos mentis/tampak sakit sedang : HR: 120x/menit, RR: 25x/menit, S: 39,00C : normochepali, konjungtiva pucat -/-, sklera ikterik -/-, PCH -/-,
11

bibir kering (-), kelopak mata cekung (-)

Leher Thorax

: retraksi SS (-), KGB ttm : Jantung: S1-S2 reguler, mumur (-), gallop (-) Pulmo : SN vesikuler Rh -/-, wh -/-, retraksi sela iga (-)

Abdomen Ekstremitas Refleks Assessment:

: datar, supel, BU (+), turgor baik, hepar-lien ttm, retraksi epigastrium (-) : akral hangat (+), oedema (-), sianosis (-), capillary refill bsaik : kaku kuduk (-),pemeriksaan neurologis normal.

Kejang demam sederhana ISPA Planning 1. IVFD 2A 12 Tetes makro per menit 2. Ampicillin sulbactam 4x150mg (IV) 3. novalgin 3x120mg (IV) 4. Sanadryl exp 3x1/2cth 5. Omeprazol 1x15 mg IV 6. domperidon syr 3x1/2 cth 7. Stesolid supp 5 mg kp 8. Diet makanan lunak makanan biasa

Tanggal 24 oktober 2012 (perawatan hari ketiga) Subjektif: Demam Sudah mulai turun Batuk masih banyak dan sering Mual,muntah (-) Kurang nafsu makan

Objektif: Kes/KU Tanda vital Kepala : compos mentis/tampak sakit sedang : HR: 120x/menit, RR: 20x/menit, S: 37,80 : normochepali, konjungtiva pucat -/-, sklera ikterik -/-, PCH -/-,
12

bibir kering (-), kelopak mata cekung (-) Leher Thorax : retraksi SS (-), KGB ttm : Jantung: S1-S2 reguler, mumur (-), gallop (-) Pulmo : SN vesikuler, Rh -/-, wh -/-, retraksi sela iga (-) Abdomen Ekstremitas Assessment: Kejang demam sederhana ISPA Planning Tanggal 25 oktober 2012 (perawatan hari keempat) Subjektif: Demam tidak ada Batuk mulai mereda,tetapi masih ada Muntah tidak ada,mual tidak ada, Nafsu makan membaik, Tridex 10 tpm/makro Ampicillin sulbactam 4x150 mg Sanmol syrup 4x1cth Sanadryl exp 3x1 cth Comtussi syr 4x1 cth Curvit cl 2x3/4 cth Vometa syr Curvit cl 2x3/4 cth : datar, supel, BU (+), turgor baik, hepar-lien ttm, retraksi epigastrium (-) : akral hangat (+), oedema (-), sianosis (-),

Objektif: Kes/KU Tanda vital Kepala : compos mentis/tampak sakit sedang : HR: 120x/menit, RR: 24x/menit, S: 36,80 : normochepali, konjungtiva pucat -/-, sklera ikterik -/-, PCH -/-, bibir kering (-), kelopak mata cekung (-) Leher : retraksi SS (-), KGB ttm
13

Thorax

: Jantung: S1-S2 reguler, mumur (-), gallop (-) Pulmo : SN vesikuler, Rh -/-, wh -/-, retraksi sela iga (-)

Abdomen Ekstremitas Assessment:

: datar, supel, BU (+), turgor baik, hepar-lien ttm, retraksi epigastrium (-) : akral hangat (+), oedema (-), sianosis (-),

Kejang demam sederhana ISPA Planning Ampicillin sulbactam oral Sanadryl exp 3x1 cth Comtussi syr 4x1 cth Curvit cl 2x3/4 cth

Pasien diperbolehkan pulang(rawat jalan) pada 25 oktober 2012.

14

ANALISA KASUS
Kasus ini didiagnosis sebagai Kejang demam sederhana ec ISPA.berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan laboratorium: Pada anamnesis yang mendukung kejang demam sederhana: 1. Usia pasien 1 tahun 11 bulan 2. Os kejang didahului demam tinggi (40 derajat celcius) 3. Kejang hanya satu kali dan tidak berulang dalam 24 jam 4. Kejang durasinya kurang dari 1 menit 5. Kejang terjadi pada seluruh tubuh 6. Sebelum dan sesudah kejang pasien sadar 7. Tak ada riwayat epilepsi atau epilpsi dalam keluarga 8. Tidak ada riwayat trauma kepala 9. Kejang pada hari awal saki 10. Ada riwayat kejang demam dalam keluarga(merupakan faktor resiko) 11. Tidak ada diare + Pasien muntah hanya 2x dengan kuantitas yang sedikit (menyingkirkan kejang karena kehilangan elktrolit) Dari anamnesis didapatkan pasien mengalami kejang demam sederhana,karena memnuhi kriteria sbagai berikut: 1. Menurut Prichard dan Mc Greals: Kejangnya bersifat simetris, artinya akan terlihat lengan dan tungkai kiri yang kejang sama seperti yang kanan Usia penderita antara 6 bulan 4 tahun (pada kasus ini umur 1 thn) Suhu 1000F (37,780C) atau lebih(pada pasien ini 40 derajat celcius,kejang dapat dicetuskan pada suhu tubuh lebih 38 derajat celcius) Lamanya kejang berlangsung kurang dari 30 menit( pada pasien ini 1) Keadaan neurologi (fungsi saraf) normal dan setelah kejang juga tetap normal (pasien sadar seblum dan stelah kejang) EEG yang dibuat setelah tidak demam adalah normal
15

2. Menurut Livingston: Kejang bersifat umum Lamanya kejang berlangsung singkat (kurang dari 15 menit) Usia waktu kejang demam pertama muncul kurang dari 6 tahun Frekuensi serangan 1-4 kali dalam 1 satu tahun(pada pasien ini baru pertama) EEG normal(belum dilakukan)

3. Menurut Fukuyama: Dikeluarga penderita tidak ada riwayat epilepsi Sebelumnya tidak ada riwayat cedera otak oleh penyebab apapun Serangan kejang demam pertama terjadi antara usia 6 bulan 6 tahun Lamana kejang berlangsung tidak lebih dari 20 menit(bukan kejang demam kompleeks) Kejang tidak bersifat fokal(pada pasien ini kejangnya umum,ini yang dapat membedakan dengan epilepsi atau kejang demam komplex) Tidak didapatkan gangguan atau abnormalitas pasca kejang Sebelumnya juga tidak didapatkan abnormalitas neurologis atau abnormalitas perkembangan Kejang tidak berulang dalam waktu singkat(dibedakan dengan kejang demam kompleks dan berulang)

4. Klasifikasi lain: Kejang demam yang berlangsung singkat, kurang dari 15 menit, dan umumnya akan berhenti sendiri Kejang berbentuk umum tonik dan atau klonik (tanpa gerakan fokal) Kejang tidak berulang dalam waktu 24 jam,riwayat kejang demam di kluarga Pada pasien ini penyebab kejangnya adalah ISPA: Yang mendukung ispa dari anamnesis adalah:
16

1. Batuk berdahak kurang lebih 3 hari,tidk ada riwayat kontak dengan penderita tb,tidak dalam masa pengobatan paru,tidak ada keringat malam(tidak ada batuk

lama,menyingkirkan TBC) 2. Disertai demam(tapi tidak disetai lebam lebam,riwayat perdaarahan,sakit telinga ataupun bintik kemerahan,membuktikan demam berasal dari ispa nya). 3. Pilek 4. Tidak ada sesak(membedakan dengan pneumonia atau ispa berat) Pada anamnesis dapat dismpulkan passien mengalami ispa,karena pasien Hanya mengalami batuk,demam dan pilek Biasa yang tidak disertai sesak.Untuk membedakan dengan pneumonia,dari anamnesis didapatkan pasien mengalami sesak.pada kelompok umur pasien ini yang lebih dari 2 bulan maka ini deklompokkan menjadi bukan pneumonia atau ISPA,berikut klasifikasinya:

Umur kurang dari 2 bulan: 1. Bukan Pneumonia 2. Pneumonaia berat

Untuk umur 2 bulan-5 tahun 1. Pneumonia berat(batuk,demam,kesulitan bernafas) 2. Pneumonia(batuk,demam dan peningkatan frekuensi nafas(batas atas nafas) 3. Bukan pneumonia(hanya batuk dan demam,tanpa ada masalah bernafas) ISPA: ISPA menurut literatur: a. Gejala ISPA Ringan Seorang anak dinyatakan menderita ISPA ringan jika ditemukan satu atau lebih gejalagejala sebagai berikut: 1. Batuk 2. Serak, yaitu anak bersuara parau pada waktu mengeluarkan suara (misal pada waktu berbicara atau menangis) 3. Pilek, yaitu mengeluarkan lendir dari hidung 4. Panas atau demam, suhu badan lebih dari 370C
17

b. Gejala dari ISPA Sedang Seorang anak dinyatakan menderita ISPA sedang jika dijumpai gejala dari ISPA ringan disertai satu atau lebih gejala-gejala sebagai berikut: 1. Pernapasan lebih dari 50 kali per menit pada anak yang berumur kurang dari satu tahun atau lebih dari 40 kali per menit pada anak yang berumur satu tahun atau lebih. Cara menghitung pernapasan ialah dengan menghitung jumlah tarikan napas dalam satu menit. Untuk menghitung dapat digunakan arloji. 2. Suhu lebih dari 390C (diukur dengan termometer) 3. Tenggorokan berwarna merah 4. Timbul bercak bercak merah pada kulit menyerupai bercak campak 5. Telinga sakit atau mengeluarkan nanah dari lubang telinga 6. Pernapasan berbunyi seperti mengorok (mendengkur)

c. Gejala ISPA Berat Seorang anak dinyatakan menderita ISPA berat jika dijumpai gejala-gejala ISPA ringan atau ISPA sedang disertai satu atau lebih gejala-gejala sebagai berikut: 1. Bibir atau kulit membiru 2. Lubang hidung kembang kempis (dengan cukup lebar) pada waktu bernapas 3. Anak tidak sadar atau kesadaran menurun 4. Pernapasan berbunyi seperti orang mengorok dan anak tampak gelisah 5. Sela iga tertarik ke dalam pada waktu bernapas 6. Nadi cepat lebih dari 160 kali per menit atau tidak teraba 7. Tenggorokan berwarna merah

Dari pemeriksaan fisik: Didapatkan dalam batas normal,yang menguatkan diagnosis kejang demam karena ispa,karena pemeriksaan seperti berikut tidak ditemukan: 1.tidak ada penurunan kesadaran(dibedakan dengan meningitis atau encephalitis) 2.suhu tubuh 39 derajat celcius(potensi menimbulkan kejang demam) 3.Tidak ada peningkatan frekuensi nafas(murni ISPA bukan pneumonia)
18

4tidak ada pernafasan cuping hidung(tidak sesak),tidak ada mata cekung(bukan diare),ada sekret hidung(flu/ispa) 5.tidak ada pembesaran KGB(bukan infeksi berat atau tbc) tidak ada retraksi supra sternal 6.tak ada ,retraksi sela iga atau chest indrawaing(bukan pneumonia) 7.tidak ada ronchi,suara nafas vesikuler(bukan pneumonia 8.tidak ada turgor kulit lambat di perut(bukan kejang karena dehidrasi kekurangan elektrolit) 9.Tidak ada ptecie dan rumple leed pada extremitas (bukan demam karena dengue fever) Dari hasil pemeriksaan laboratorium menunjukkan normal: 1.tidak leukositosis(bukan ispa berat atau pnuemonia) Tetapi leukositis ringan dapat terjadi pada ISPA 2.hasil elektrolit normal yang menunjukkan kejang bukan karena kekeurangan elektrolit. ANALISA TERAPI: 1.Kebutuhan cairan,menurut holiday and segar berdasar berat bdan: BB 10 KG pertama= 4ml/kgBB/Jam BB 10 KG kedua=2ml/kgBB/Jam Sisa BB selanjutnya= 1ml/kgBB/Jam Pada pasien ini berat badan nya 12 kg.Maka kebutuhan cairan basalnya. (4x10)+(1x2)=42 ml/jam Jumlah tetesan/menit= Kebutuhan cairan(cc/kg)xberat badan(kg)x20 tetes/menit(makro) Waktu pemberian(jam)x60 cc/jam

19

42x12x20 = 7 tetes per mnit 24x60

Pada pasien yang diberikan 12 tetes per menit infus 2A, 2A(D5+1/4 NS) adalah larutan yang terdiri dari glukosa 5 persen dan Nacl 0.9% dengan perbandingan 1:1 yang terdiri dari dextrosa monohidrat 55gr/L,dextrosa anhidrat 50 gr/l,natrium 150 mmol/L.dan klorida 150 mmol/L Cairan ini biasanya digunakan pada diare dan bronkopneumoni yang dengan komplikasi. Pada pasien ini diberikan ini saat awal karena curiga adanya bronkopneumoni,dan sebagai tatalaksana awal untuk mencegah komplikasi. Berikutnya diberikan cairan rumatan yaitu TRIDEX yang setara dengan KA-EN 3B. Yang isinya adalah glukosa anhydrate 13.5 g,sodium chloride(na cl) 0.875 g,potassium chlorid(kcl) 0.75 sodium lactate 1.12 gr. Pada pasien ini diberikan 10 tetes per menit. Tridex atau KAEN3B adalah cairan untuk rumatan yang umum dipakai,terutama pada pasien yang ada keterbatasan asupan oral,merupakan cairan yang lazim untuk rumatan. Pada pasien ini karena sudah terbukti tidak ada bronkopneumonia dan diare dengan komplikasi maka cairan diganti menjadi tridex,untuk maintenance cairan harian nya.

ANTIBIOTIK Antibiotik yang diberikan adalah ampisilin/sulbactam sesuai dosisnya yaitu 1. Untuk anak dengan berat badan dibawah 20 adalah 50-100 mg/kg/bb.shingga dosisnya: 2. Pada anak ini beratnya 12 kg: 50 x12=600 per hari,sehingga dibagi jadi 4 dosis injeksi intravena 4x150 mg. Ampisilin sulbactam

20

Ampisilin merupakan turunan dari golongan penisilin yang memiliki efek bakterisisdal luas(spektrum luas),sayagnya ampisilin terdegradasi oleh betalaktamse sehingga spektrumnya menjadi tidak luas.Oleh karena itu ampisilin dikombinasikan dengan sulbaktam,yang dapat memblok efek degradasi dari betalkatamse,seehingga spektrumnya dan efeknya jadi luas.ampisilin sulbactam merupakan pilihan pertama antibiotik pada bayi dan neonatus karena dari penelitian terbukti tidak ada efek yang membahyakan kecuali alergi terhadap penislin dan tidak ada bukti resistensi seperti halnya amoxixilin.lebih dipilih daripada golongan sefalosporin yang banyak mengandung efek samping. ANTIPIRETIK Pada pasien ini diberikan antipiretik yaitu novalgin injeksi dengan dosis 10-15 mg/kg/bb per 6-8 jam. Dosis pada pasien ini: 10x bb pasien(12)= 120 mg per 8 jam,berarti 3x120 mg iv. Novalgin isinya adalah metamizole merupakan anagetik,antipiretik dan anti inflamasi kuat.novalgin diberikan hanya jika obat panas seperti paracetamol tidak mampu menurunkan panas,pada kasus ini terbukti paracetamol yang diberikan di rumah tidak mampu menurunkan panas pasien bahkan pasien menjadi kejang.untuk mencegah perburukan dan mneurunkan panas dngan segera maka,pada pasien ini diberikan novalgin injeksi sesuai dosis. Tetapi setelah demamnya turun dan pasien mulai bisa makan,diberikan paracetamol syrup yang merupakan obat pilihan untuk demam yang tidak terlalu tinggi. Antitussif dan expectorant Pada pasien ini diberikan sandryl expectorant.yang dosisnya adalah sesuai pada umur pasien ini yaitu setengah sendok teh 3 kali sehari.ini merupakan setengah dari dosis pada anak yang usianya 6 tahun. Sanadryl isinya adalah difenhidramin HCL dan guaiacolac,amonium klorida dan natrium sitrat. Difenhidramin Hidroklorida merupakan antihistamin yang bekerja menghambat histamin secara kompetitif, dengan efek antitusif, efek antitusif terjadi pada dosis yang menimbulkan sedasi.
21

Amonium klorida dan Natrium Sitrat merupakan ekspektoran ringan bekerja dalam merangsang pengeluaran sekret dari saluran pernafasan.

Kalium Sulfoguaiakolat sebagai ekspektoran dengan meningkatkan volume cairan saluran pernafasan dan membantu mempermudah transpportasi mukus Pada pasien ini pada perawatan hari ketiga diberikan comtussi syrup yang mana sesuai dosis pada anak umur 2 tahun adalah 3 kali 5ml atau satu sendok teh. Comtussi syrup isinya adalah guafanesin dan oxomezasine. Yang mana oxomezasine adalah antihistamin yang lebih kuat dibanding difenhidramin dan yang terlebih disini adalh guaianesin sebagai mucolitic. Pada pasien ini batuknya pada hari ketiga tidak kujung sembuh,dahak tidak encer dan tak dapat dikleuarkan,oleh karena itu dibantu dengan comtussi untuk mencairkan dahak dan mengurangi produksi dahak serta dibantu dengan sandryl untuk mengeluarkan dahaknya dan menghentikan batuknya,pada hari keempat bauk pasien sudah mulai sembuh. Anti vomitus dan anti sekresi Pada pasien ini diberikan domperidon yang dosisnya seusai untuk umur pasien yang 2 tahun yaitu 2x2.5 mg atau 2x setengah sendok teh. Domperidon merupakan obat pilihan yang tepat untuk mengatasi mual dan muntah pada anak,karena minim efek samping daripada metoclorpamid yang mempunyai efek extrapiramidal. Domperidon bekerja langsung menekan refleks muntah dengan menghambat dopamin(anti dopaminergic) ini sama dengan efek dari metoclorpramid hanya saja domperidon tidak bekerja melewati swar darah otak sehingga tidak timbul efek extrapiramidal.efek dari dihambatnya dopamin dapat meningkatkan motilitas dan dilatasi otot sfingter pilorus pada lmbung sehingga meningkatkan pengosongan lambung setlah makan. Karena efek dari vometa ini adalah peningktan pengosongan lambung,maka yang dikhawatirkan adalah tjadinya pingkatan asam lambung atau gastritis ssehingga pada pasien ini diberikan ANTI SEKRESI yaitu OMEPRAZOLE.yang kerjanya adalah mnghambat pompa asam atau proton pump inhibitor sehingga Asam tidak diproduksi dan tidak timbul gastritis. Ini juga bisa sekaligus mengatasi efek multi obat yang diberikan pada pasien ini sementara intake pasien masih

22

kurang,hal ini dapat menyebakan gastritis.sehingga diberikan omeprazol untuk mencegah gastritis. ANTI KONVULSI Pada pasien kejang memnag sudah tidak ada tetapi , apabila datang kejang obat yang paling cepat untuk menghentikan kejang adalah diazepam Obat yang praktis dan dapat diberikan oleh orang tua adalah diazepam rektal dengan dosis 0,5-0,75 mg/kgBB atau diazepam rektal 5 mg untuk anak dengan berat badan kurang dari 10 kg dan 10 mg untuk berat badan lebih dari 10 kg. Atau diazepam rektal dengan dosis 5 mg untuk anak usia dibawah 3 tahun atau dosis 7,5 mg untuk anak usia diatas 3 tahun. Pada pasien ini berusia dibawah 3 tahun yaitu 2 tahun maka dapat diberikan diazepam supp(stesolid) 5 mg hanya dibeirikan sebagai antisipasi juka takut terjadi kejang.

Diazepam merupakan turunan bezodiazepin. Kerja utama diazepam yaitu potensiasi inhibisi neuron dengan asam gamma-aminobutirat (GABA) sebagai mediator pada sistim syaraf pusat. Sehingga karena neurin GABA yang merupakan neuron excitatori itu diinhibisi atau dihambat,maka kejang akan berenti.Karena kejang timbul akibat lepas muatan neuron excitatori yang berlebihan.

Vitamin

Pada psien ini diberikan curvit cl yang isinya adalah Minyak hati Ikan Kod 7.5 mg, Ekstrak Curcuma 10 mg, Asam Arachidonat (AA) 15 mg, DHA, 10 mg, FOS 500 m, CA hipofosfit 500 mg, Vitamin D 100 ui, Dexpanthenol 3 mg, Vitamin A 850 ui, Vitamin B1 3 mg, Vitamin B2 2 mg, Vitamin B6 5 mg, Vitamin B12 5 mcg. Pada pasien ini diberikan karena ada keluhan tidak nafsu makan.cuvit yang merupaka extrak curcuma dapat meningkatkan nafsu makan dan memenuhi kenutuhan vitamin yang hilang karena kurang makan.

23

BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. KEJANG DEMAM 1. DEFINISI Kejang Demam adalah kejang yang terjadi pada anak usia 3 bulan sampai dengan 5 tahun yang berhubungan dengan demam serta tidak didapatkan adanya infeksi ataupun kelainan lain yang jelas di intrakranial. Kejang Demam dibagi menjadi dua kelompok yaitu Kejang Demam Sederhana (KDS) dan Kejang Demam Kompleks (KDK). Kejang Demam Sederhana adalah kejang demam dengan frekuensi kejang tidak lebih dari 1 kali dalam 24 jam, kejang bersifat umum, lama kejang <15 menit dan tidak ada kelainan neurologis sebelum dan sesudah kejang. Kejang Demam Kompleks adalah kejang demam dengan lama kejang >15 menit, kejang fokal atau kejang umum dengan frekuensi > 1 kali dalam 24 jam. Perbedaan KDS dan KDK adalah :

Sebagian besar (65%) kejang demam merupakan kejang demam sederhana dan 35% berupa kejang demam kompleks.

2. PATOFISIOLOGI Kejang merupakan manifestasi klinis akibat terjadinya pelepasan muatan listrik yang berlebihan di sel neuron otak karena gangguan fungsi pada neuron tersebut baik berupa fisiologi, biokimiawi maupun anatomi. Sel saraf seperti halnya sel hidup umumnya, mempunyai potensial mmebran. Potensial membran yaitu selisih potensial antara intrasel dan ekstrasel. Potensial
24

intrasel lebih negatif dibandingkan ekstrasel. Dalam keadaan istirahat potensial membran berkisar antara 30-100 mV. Selisih potensial membran ini akan tetap sama selama sel tidak mendapatkan rangsangan. Potensial membran ini terjadi akibat perbedaan letak dan jumlah ion-ion terutama ion Na+ K+ dan Ca++. Bila sel saraf mengalami stimulasi, misalnya stimulasi listrik maka akan menyebabkan penurunan potensial membran. Mekanisme terjadinya kejang ada beberapa teori : a. Gangguan pembentukan ATP dengan akibat kegagalan pompa Na-K, misalnya pada iskemia, hipoksemia dan hipoglikemia. Sedangkan pada kejang sendiri dapat terjadi pengurangan ATP dan terjadi hipoksemia. b. Perubahan permeabilitas membran sel saraf, misalnya hipokalsemia dan hipomagnesemia. c. Perubahan relatif neurotransmitter yang bersifat eksitasi dibandingkan

neurotransmitter inhibisi dapat menyebabkan deporalisasi yang berlebihan, misalnya ketidak seimbangan antara GABA atau glutamat akan menyebabkan kejang. Patofisiologi kejang demam secara pasti belum diketahui, diperkirakan bahwa pada keadaan demam terjadi peningkatan reaksi kimia tubuh. Dengan demikian reaksi-reaksi oksidasi terjadi lebih cepat dan akibatnya oksigen akan lebih cepat habis, terjadilah keadaan hipoksia. Demam dapat menimbulkan kejang melalui mekanisme sebagai berikut: a. Demam dapat menurunkan nilai ambang kejang pada sel-sel yang belum matang/immatur. b. Timbul dehidrasi sehingga terjadi gangguan elektrolit yang menyebabkan gangguan permeabilitas membran sel. c. Metabolisme basam meningkat sehingga menyebabkan peningkatan asam laktat dan CO2 yang akan merusak neuron.

25

d. Demam meningkatkan Cerebral Blood Flow (CBF) serta meningkatkan kebutuhan oksigen dan glukosa, sehingga menyebabkan gangguan pengaliran ionion keluar masuk sel. Faktor resiko berulangnya Kejang Demam adalah : a. Riwayat kejang demam dalam keluarga b. Usia kurang dari 12 bulan c. Temperatur yang rendah saat kejang d. Cepatnya kejang saat demam.

3. PENATALAKSANAA a. Kejang Demam Sederhana Diazepam secara rectal Pemberian antipiretik (paracetamol atau ibuprofen) KIE bila kejang berulang kembali ke Rumah Sakit.

b. Kejang Demam Kompleks Antipiretik bila panas ( parasetamol/ibuprofen ) o Parasetamol : 10 15 mg/kgBB/kali (4 kali pemberian) o Ibuprofen : 10 mg/kgBB/kali (3 kali pemberian) Obat terusan fenobarbital (3 5 mg/kgBB/hari) atau asam valproat (10 40 mg/kgBB/hari) diberikan bila terdapat faktor resiko dibawah ini : o Terdapat riwayat kejang tanpa demam pada orang tua atau saudara kandung o Terdapat defisit neurologis sebelum dan sesudah kejang yang bersifat sementara atau menetap (palsi serebralis, retardasi mental, dan mikrosefali) o Terdapat kejang fokal o Lama kejang lebih dari 15 menit o Kejang Berulang Obat Intermiten : o Diazepam oral : 0,3 0,5 mg/kgBB/hari setiap 8 jam pada saat demam.
26

o Diazepam rectal : 0,5 mg/kgBB/kali (3 kali pemberian).

27

DAFTAR PUSTAKA

1. UKK Neurologi IDAI. Konsensus Penatalaksanaan Kejang Demam. 2006. 2. Soetomenggolo T, Ismael S. Buku Ajar Neurologi Anak. Jakarta : IDAI; h. 244-51. 3. Roberton DM, South M. Practical Paediatrics Sixth Edition. UK : Churchill Livingstone. 2007; page 582. 4. Tejani NR. Febrile Seizure. Dalam emedicine.medscape.com 5 Februari 2010. 5. Kimia A, Ben-Joseph EP, Rudloe T, Capraro A, Sarco D, Hummel D, Johnston P, Harper MB. Yield of Lumbar Puncture Among Children Who Present With Their First Complex Febrile Seizure. Pediatrics 2010;126;62-69. 6. Vestergaard M, Pedersen MG, Ostergaard JR, Pedersen CB, Olsen J, Christensen J. Death in children with febrile seizures: a population-based cohort study. Lancet. Aug 9 2008;372(9637):457-63. 7. Lumbantobing S M. Kejang Demam (Febrile Convulsions). Jakarta : Balai Penerbit FKUI, 2004. 8. Pusponegoro, Hardiono D., dkk.Konsensus Penatalaksanaan Kejang Demam.Jakarta:Unit Kerja Koordinasi Neurologi Ikatan Dokter Anak Indonesia, 2006.. 9. Behrman R., Kliegman R., Arvin A.Kejang demam.Nelson: Ilmu Kesehatan Anak vol. 3.ed 15.EGC.hal 2059-60.

28

LEMBAR PENGESAHAN

Nama: Aditya Zulkarnain NIM: 0330.07.008 Judul: Kejang demam+ ISPA

Telah diterima dan disetujui oleh pembimbing pada: Hari..................Tanggal..............................

Batam................................2012

Dr.Rudi Ruskawan Sp.A

29