Anda di halaman 1dari 12

Makalah

RUMAH TORAJA
Disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah Penyehatan Pemukiman Semester IV

Disusun Oleh : 1. Astari Juwita 2. Dilla Dwi Arinta 3. Fidia Dwi Listya 4. Khafid Anwar C 5. Pradnyayu Pinggarani 6. Rizqy Amalia 7. Sun Elsa Novita 8. Tomi Saputra

KEMENTRIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA POLITEKNIK KESEHATAN YOGYAKARTA JURUSAN KESEHATAN LINGKUNGAN 2012

KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa yang telah melimpahkan rahmat dan hidayah-Nya, sehingga tugas makalah dengan judul Rumah Toraja dapat diselesaikan tepat pada waktunya. Makalah ini terwujud atas bimbingan, saran dan bantuan dari berbagai pihak yang tidak bisa disebutkan satu persatu dan pada kesempatan ini penulis menyampaikan penghargaan dan terima kasih kepada: 1. Dr. Hj. Lucky Herawati, SKM.MSc, selaku Direktur Politeknik Kesehatan Kemenkes Yogyakarta. 2. Tuntas Bagyono, SKM,M.Kes, selaku Ketua Jurusan Kesehatan Lingkungan Kemenkes RI Yogyakarta. 3. 4. 5. 6. Pak Sigit selaku ..... Bu Hani selaku... Kedua orang tua yang telah memberikan dukungan dan doa Teman-teman baikku yang selalu semangat memberikan dukungan dan bantuannya. Penulis mengharapkan kritik dan saran yang membangun dari pembaca untuk kesempurnaan tugas laporan PTPSP ini. Harapan penulis semoga tugas PTPSP ini dapat bermanfaat bagi kita semua.

Yogyakarta, Mei 2012

Penulis

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar belakang Rumah adalah bangunan yang dijadikan tempat tinggal selama jangka waktu tertentu. Rumah bisa menjadi tempat tinggal manusia maupun hewan, namun tempat tinggal yang khusus bagi hewan biasa disebut sangkar, sarang, atau kandang. Dalam arti khusus, rumah mengacu pada konsep - konsep sosial kemasyarakatan yang terjalin di dalam bangunan tempat tinggal. Rumah menjadi faktor utama bagi sebuah keluarga dalam membentuk karakter dan menciptakan pribadi pribadi yang baik. Maka dari itu harus dibangun rumah dengan fasilitas fasilitas yang mencukupi dan memenuhi syarat rumah sehat sehingga terwujud tujuan yang diharapkan. Indonesia kaya akan ragam budaya. Termasuk khasanah arsitekturnya dari aceh sampai papua. Terdapat ciri arsitektur yang berbeda karena latar belakang yang beragam. Rumah Tongkonan adalah salah satu arsitektur yang ada di Indonesia yang memiliki ciri dan karakteristik yang khas dan berbeda. Rumah Tongkonan adalah Rumah asli Suku Toraja. Suku Toraja adalah suku yang menetap di pegunungan bagian utara Sulawesi Selatan, Indonesia. Populasinya diperkirakan sekitar 1 juta jiwa, dengan 500.000 di antaranya masih tinggal di Kabupaten Tana Toraja, Kabupaten Toraja Utara, dan Kabupaten Mamasa. Kebudayaan yang ada di Suku Toraja, sangat berpengaruh terhadap gaya arsitektur pada Rumah Tongkonan. Gaya arsitektur Rumah Tongkonan berhubungan erat dengan kesehatan penghuninya. Dalam makalah ini akan dibahas mengenai dampak kesehatan Rumah Toraja.

B. Tujuan 1 2 3 4 Untuk mengetahui karakteristik yang khas dari Rumah Toraja. Untuk mengetahui fungsi Rumah Toraja. Untuk mengetahui kelebihan dan kekurangan Rumah Toraja. Untuk mengetahui Rumah Toraja kaitannya dengan kesehatan.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

A. Pengertian Rumah tradisional Toraja merupakan salah satu kebudayaan bangsa yang keberadaannya dipandang perlu untuk dipelihara agar tidak punah. Rumah tradisional atau rumah adat Toraja disebut Tongkonan. Tongkonan adalah rumah tradisional Toraja yang berdiri di atas tumpukan kayu dan dihiasi dengan ukiran berwarna merah, hitam, dan kuning. Kata "tongkonan" berasal dari bahasa Toraja tongkon (duduk).Tongkonan merupakan pusat kehidupan sosial suku Toraja. Ritual yang berhubungan dengan tongkonan sangatlah penting dalam kehidupan spiritual suku Toraja oleh karena itu semua anggota keluarga diharuskan ikut serta karena Tongkonan melambangkan hubungan mereka dengan leluhur mereka. Menurut cerita rakyat Toraja, tongkonan pertama dibangun di surga dengan empat tiang. Ketika leluhur suku Toraja turun ke bumi, dia meniru rumah tersebut dan menggelar upacara yang besar. Pembangunan tongkonan adalah pekerjaan yang melelahkan dan biasanya dilakukan dengan bantuan keluarga besar. Ada tiga jenis tongkonan, Tongkonan layuk adalah tempat kekuasaan tertinggi, yang digunakan sebagai pusat "pemerintahan". Tongkonan pekamberan adalah milik anggota keluarga yang memiliki wewenang tertentu dalam adat dan tradisi lokal sedangkan anggota keluarga biasa tinggal di tongkonan batu. Eksklusifitas kaum bangsawan atas tongkonan semakin berkurang seiring banyaknya rakyat biasa yang mencari pekerjaan yang menguntungkan di daerah lain di Indonesia. Setelah memperoleh cukup uang, orang biasa pun mampu membangun tongkonan yang besar.

B. Karakteristik Rumah Toraja Rumah tradisional atau rumah adat Toraja disebut Tongkonan . Letak bangunan rumahnya membujur utara-selatan, dengan pintu terletak di sebelah utara. dengan keyakinan bumi dan langit merupakan satu kesatuan dan bumi dibagi dalam 4 penjuru, yaitu: 1. Bagian utara disebut Ulunna langi, yang paling mulia. 2. Bagian timur disebut Matallo, tempat metahari terbit, tempat asalnya kebahagiaan atau kehidupan. 3. Bagian barat disebut Matampu, tempat metahari terbenam, lawan dari kebahagiaan atau kehidupan, yaitu kesusahan atau kematian. 4. Bagian selatan disebut Pollona langi, sebagai lawan bagian yang mulia, tempat melepas segala sesuatu yang tidak baik. Lebih detailnya Rumah Toraja memilliki karakteristik, sebagai berikut : 1. Bagian dalam rumah dibagi tiga bagian, yaitu bagian utara, tengah, dan selatan. Ruangan di bagian utara disebut tangalok yang berfungsi sebagai ruang tamu, tempat anak-anak tidur, serta tempat meletakkan sesaji. Ruangan sebelah selatan disebut sumbung, merupakan

ruangan untuk kepala keluarga tetapi juga dianggap sebagai sumber penyakit. Ruangan bagian tengah disebut Sali yang berfungsi sebagai ruang makan, pertemuan keluarga, dapur, serta tempat meletakkan orang mati. Mayat orang mati masyarakat Toraja tidak langsung dikuburkan tetapi disimpan di rumah tongkonan. 2. Perletakan jendela yang mempunyai makna dan fungsi masing-masing 3. Perletakan balok-balok kayu dengan arah tertentu, yaitu pokok di sebelah utara dan timur, ujungnya disebelah selatan atau utara 4. Adanya Ornamen tanduk kerbau di depan tongkonan, ini

melambangkan kemampuan ekonomi sang pemilik rumah saat upacara penguburan anggota keluarganya. Setiap upacara adat di Toraja seperti pemakaman akan mengorbankan kerbau dalam jumlah yang banyak. Tanduk kerbau kemudian dipasang pada tongkonan milik keluarga bersangkutan. Semakin banyak tanduk yang terpasang di

depan tongkonan maka semakin tinggi pula status sosial keluarga pemilik rumah tongkonan tersebut. 5. Rumah Toraja memiliki empat warna dasar yaitu: hitam, merah, kuning, dan putih yang mewakili kepercayaan asli Toraja (Aluk To Dolo). Tiap warna yang digunakan melambangkan hal-hal yang berbeda.

Warna hitam melambangkan kematian dan kegelapan. Kuning adalah simbol anugerah dan kekuasaan ilahi. Merah adalah warna darah yang melambangkan kehidupan manusia. Dan, putih adalah warna daging dan tulang yang artinya suci. 6. rumah adat ini dibangun dengan konstruksi yang terbuat dari kayu tanpa menggunakan unsur logam sama sekali seperti paku.

C. Fungsi Rumah Toraja Pada dasarnya semua rumah memiliki fungsi yang sama yaitu sebagai tempat tinggal yang nyaman bagi semua penghuni rumah. Rumah Toraja pun secara umum berfungsi sebagai rumah tinggal, kegiatan sosial, upacara adat, serta membina kekerabatan. Tongkonan berasal dari

kata tongkon yang bermakna menduduki atau tempat duduk. Dikatakan sebagai tempat duduk karena dahulu menjadi tempat berkumpulnya bangsawan Toraja yang duduk dalam tongkonan untuk berdiskusi. Rumah adat ini mempunyai fungsi sosial dan budaya yang bertingkat-tingkat di masyarakat. Awalnya merupakan pusat pemerintahan, kekuasaan adat, sekaligus perkembangan kehidupan sosial budaya masyarakat Toraja. Tongkonan merupakan pusat kehidupan sosial suku Toraja. Ritual adat yang berhubungan dengan tongkonan sangatlah penting dalam kehidupan spiritual mereka. Oleh karena itu, semua anggota keluarga diharuskan ikut serta sebagai lambang hubungan mereka dengan leluhur. Masyarakat Toraja menganggap umah tongkonan sebagai ibu, sedangkan alang

sura (lumbung padi) sebagai bapak. Bagian dalam rumah dibagi tiga bagian, yaitu bagian utara, tengah, dan selatan. Ruangan di bagian utara disebut tangalok yang berfungsi sebagai ruang tamu, tempat anak-anak tidur, serta tempat meletakkan sesaji. Ruangan sebelah selatan disebut sumbung, merupakan ruangan untuk kepala keluarga tetapi juga dianggap sebagai sumber penyakit. Ruangan

bagian

tengah

disebut Sali yang

berfungsi

sebagai

ruang

makan,

pertemuan keluarga, dapur, serta tempat meletakkan orang mati. Mayat orang mati masyarakat Toraja tidak langsung dikuburkan tetapi disimpan di rumah tongkonan. Agar mayat tidak berbau dan membusuk maka dibalsem dengan ramuan tradisional yang terbuat dari daun sirih dan getah pisang. Sebelum upacara penguburan, mayat tersebut dianggap sebagai orang sakit dan akan disimpan dalam peti khusus. Peti mati tradisional Toraja disebut erong yang berbentuk kerbau (laki-laki) dan babi (perempuan). Sementara untuk bangsawan berbentuk rumah adat. Sebelum upacara penguburan, mayat juga terlebih dulu disimpan di alang sura (lumbung padi) selama 3 hari.

D. Kelebihan dan Kekurangan Rumah Toraja Rumah Toraja memiliki kelebihan dan kekurangan dari berbagai aspek ekonomi maupun lingkungan, antara lain: 1. Kelebihan Rumah Adat Toraja a. Posisi rumah menghadap utara-selatan, sehingga cukup

penghawaan karena sesuai dengan arah angin (angin darat dan angin laut). b. Di sisi barat dan timur bangunan terdapat jendela kecil, tempat masuknya sinar matahari dan aliran angin. c. Pada kolong nampak ruang kosong dan tertutup, sesuai untuk daerah tropis yang membutuhkan atap yang tinggi, sehingga rumah tidak menjadi pengap. d. Atap berasal dari alang-alang sehingga menyerap panas. e. Lantainya terdiri dari lembaran papan yang diperkuat dengan struktur lantai panggung, sehingga menghindarkan dari bahaya hewan buas. f. Terdapat lumbung padi yang tiang-tiangnya dibuat dari batang pohon palem (bangah) yang licin, sehingga tikus tidak dapat naik ke dalam lumbung. 2. Kerugian Rumah Adat Toraja a. Terbuat dari kayu, sehingga mudah terbakar jika terjadi bencana kebakaran.

b. Membutuhkan

biaya

yang

besar.

Untuk

membangun

satu

Tongkonan bisa menghabiskan dana 2-3 milyar. c. Banyak ukiran, sehingga banyak debu di sela-sela ukiran.

E. Hubungan Rumah Toraja dengan Kesehatan 1. Rumah asli Toraja yang disebut Tongkonan, selalu dibuat menghadap ke arah utara. Hampir semua rumah orang Toraja menghadap ke arah utara, yaitu menghadap ke arah Puang Matua, sebutan orang toraja bagi Tuhan Yang Maha Esa. Selain itu untuk menghormati leluhur mereka dan dipercaya akan mendapatkan keberkahan di dunia. Dari sisi kesehatan, rumah adat Toraja baik karena menghadap ke utara. Sehingga perhawaannya lancar dan sirkulasi udara dalam rumah baik. Hal tersebut karena di Indonesia yang beriklim tropis ini, arah angin cenderung berhembus dari utara. 2. Di sisi barat dan timur bangunan terdapat jendela kecil, sebagai tempat masuknya sinar matahari dan aliran angin. 3. Tongkonan berupa rumah panggung dari kayu, dimana kolong yang ada di bawah rumah sebagai kandang ternak seperti kerbau dan ayam yang dipelihara oleh pemilik rumah. Adanya kandang kerbau di bawah rumah ini tentu dapat menimbulkan beberapa dampak, antara lain mengundang vektor (nyamuk), tikus, kecoa, lalat karena kotoran ternak, bau dan menganggu estetika jika tidak dirawat dengan baik. 4. Di depan tongkonan terdapat lumbung padi yang disebut alang. Tiang-tiang lumbung padi dibuat dari batang pohon palem atau bangah yang licin, sehingga tikus tidak dapat naik ke dalam lumbung. 5. Bagian dalam rumah dibagi menjadi tiga bagian, yaitu bagian utara, tengah, dan selatan. Ruangan di bagian utara disebut tangalok yang berfungsi sebagai ruang tamu, tempat anak-anak tidur, juga tempat meletakkan sesaji. Melihat dari kegunaan ruangan ini, kurang pantas jika digunakan sebagai tempat meletakkan sesaji. Karena juga dipakai untuk ruang tamu dan tempat tidur anak, yang rentan terkena penyakit akibat asap dari sesaji. 6. Lantai pada Tongkonan terbuat dari papan kayu uru yang disusun di atas pembalokan lantai. Kayu uru ini bersifat ringan dan kuat, sehingga

digunakan sebagai lantai. Kayu uru termasuk kelas awet kedua dan kelas kuat ketiga sampai keempat. Tidak dimakan rayap dan tetap awet hingga pemakaian ratusan tahun (Hands Book of Indonesian Forestry, 1997 dan Atlas Kayu Indonesia, 2004). Tetapi jika pemasangan papan kayu tidak rapat, maka bau dari kandang yang terletak di bawah kolong rumah dapat masuk ke dalam rumah dan mengganggu pernafasan bagi penghuninya. 7. Dinding yang berfungsi sebagai rangka menggunakan kayu uru atau kayu kecapi. Sedangkan dinding pengisinya menggunakan kayu enau. Pada dinding tidak terdapat celah, sehingga pada malam hari terasa pengap karena sedikitnya udara yang masuk. 8. Atap pada Tongkonan terbuat dari bambu-bambu pilihan yang disusun tumpang tindih yang dikait oleh beberapa reng bambu dan diikat oleh tali bambu/rotan. Fungsi dari susunan demikian adalah untuk mencegah masuknya air hujan melalui celah-celahnya. Fungsi lain adalah sebagai ventilasi, karena pada Tongkonan tidak terdapat celah pada dindingnya.

BAB III PENUTUP

A. Kesimpulan 1. Rumah Tongkonan dominan dibuat dari kayu. 2. Rumah Tongkonan terdiri dari 4 penjuru, yaitu: Bagian utara atau Ulunna langi, bagian timur atau Matallo, bagian barat atau Matampu, bagian selatan atau Pollona langi. 3. Rumah Tongkonan dibagi menjadi 3 bagian, yaitu bagian depan disebut Tangalok, bagian belakang disebut Sumbung dan bagian tengah disebut Sali. 4. Rumah Adat Toraja secara umum berfungsi sebagai rumah tinggal, kegiatan sosial, upacara adat, serta membina kekerabatan, namun secara khusus mempunyai fungsi sosial dan budaya yang bertingkattingkat di masyarakat 5. Secara keseluruhan bahan yang digunakan dalam pembuatan rumah sudah awet dan kuat. 6. Rumah adat tongkonan sudah memenuhi/sesuai dengan beberapa karakteristik rumah tropis. 7. Rumah Suku Toraja mahal dalam pengadaan bahan dan pembiayaan proses pembangunannya. 8. Beberapa kekurangan utama yang harus diperbaiki pada arsitektur dan design antara lain : a. b. c. Penempatan kandang dibawah rumah. Pada dinding rumah kaitannya dengan kurangnya celah udara. Pada fungsi ruangan kaitannya dengan kesehatan penghuni.

B. Saran 1. Penempatan kandang ternak sebaiknya juga diletakkan dibawah kolong rumah, dijauhkan dari pemukiman dan dibuatkan kandang sendiri. 2. Sesaji yang diletakkan di bagian utara yang juga berfungsi sebagai ruang tamu dan tempat tidur anak sebaiknya dibuatkan sekat.

3. Disarankan untuk menambah jumlah ventilasi/ paling tidak celah pada dinding Rumah Tongkonan. 4. Pemeliharaan Kayu pada Rumah Tongkonan lebih diperhatikan karena bahan utama pada pembuatan rumah adat ini. Purnishing pada kayu, pengelapan dan pembersihan rutin juga harus dilakukan secara berkala.