Anda di halaman 1dari 3

REALITAS SOSIAL ANTARA INDIVIDU DAN MASYARAKAT

Kehidupan suatu individu tidak bisa terlepas dari adanya masyarakat. Individu dalam mencari kebutuhannya selalu berada di tengah masyarakat dalam prosesnya, Sehingga karena itu individu adalah makhluk sosial yang tidak bisa hidup tanpa ada orang lain di sekitarnya. Dalam pencarian kebenaran kehidupun individu sering dibenturkan dengan kebutuhan masyarakat itu sendiri atau sebaliknya kebutuhan masyarakat sering dibenturkan dengan kebutuhan individu. Sering muncul pertanyaan apakah individu yang berada duluan atau masyarakat yang hidup duluan. Menoleh sejarah ke belakang, kehidupan manusia dalam agama mengataka bahwa manusia yang diturunkan oleh Tuhan ke bumi adalah Adam dan Hawa, yang bisa kita katakan bahwa bukan dalam bentuk kehidupan individu melainkan kehidupan masyarakat karena lebih dari satu individu. Dalam teori evolusi Darwin menyatakan bahwa manusia berevolusi dari kera dan nenek moyang manusia dan kera adalah sama. Apakah benar bahwa masyarakat adalah ciptaan pertamaNya atau kah individu duluan yang berada di bumi ini? Mengkaji pencarian yang pertama tercipta di bumi antara individu dengan masyarakat, sama dengan mencari yang pertama antara telur atau ayam? Individu hidup untuk bermasyarakat, dan masyarakat hidup untuk individu, individu tidak bisa tercipta tanpa ada masyarakat, dan masyarakat tidak bisa tercipta tanpa individu. Apakah masyarakat harus diberikan prioritas di atas individu, atau sebaliknya dan independensi sebagai individu tidak mungkin ada tanpa dependensi dari masyarakat. Hal yang sangat rumit untuk mencari kebenaran siapa yang tercipta pertama kali. Sehingga hal ini menarik untuk didiskusi, kemudian penulis mencoba mengkaji hal ini dengan memaparkan beberapa teori teori klasik mengenai realitas sosial dari beberapa ahli ahli psikologi jaman dulu yang teori-teorinya sampai sekarang masih menjadi grand theory dalam hubungan sosial individu dan Masyarakat. A. AUGUST COMTE (1798-1857) August Comte lahir pada tanggal 19 Januari 1798 di kota Montpellier di bagian selatan Perancis. Comte adalah sosiolog terkenal di zamannya dengan gelar Bapak Positiveme dan Bapak Sosiologi. Istilah-istilah positif paling sering muncul dalam buku-buku komte dan yang paling terkenal sampai sekarang adalah Sistem Politik Positif tahun 1824. Positivisme adalah paham filsafat yang cenderung untuk membatasi pengetahuan benar manusia kepada hal-hal yang dapat diperoleh dengan menggunakan metode ilmu pengetahuan (Science, Sains). Hal positif, adalah hal yang mesti dibenarkan oleh setiap orang yang mempunyai kesempatan sama untuk menilainya, dengan hal yang serupa ini mendasari dan membentuk ilmu pengetahuan. Hal ini bertentangan dengan kejadian-kejadian yang kita

khayalkan, suka dengarkan atau kita percayai. Comte meyakini bahwa pembangunan kembali masyarakat atas dasar-dasar hukum rasional pasti akan berhasil. Positivisme adalah ajaran bahwa hanya fakta atau hal yang dapat ditinjau dan di uji, melandasi pengetahaun sah, seingga metafisika dan teologi harus dianggp sebagai permainan kata atau spekulasi liar saja. Comte yakin bahwa kemampuan akal-budi manusia untuk mengenal gejala dunia agak terbatas. Maka dari itu manusia harus bersahaja dalam aspirasinya untuk mencari pengetahuan yang layak disebut ilmiah. 3 hal saja yang dapat dilakukan oleh manusia yaitu (a). Menerima dan membenarkan gejala empiris sebagai kenyataan, (b). mengumpulkan dan menggolongkan gejala itu menurut hukum yang menguasai mereka, (c). Meramalkan kejadian yang akan datang berdasar hukum-hukum itu dan mengambil tindakan yang dirasa perlu atau berfaedah. Comte mengambil alih gagasan Aristoteles, bahwa pada dasarnya masyarakat harus dilihat sebagai orde, yaitu susunan yang tetap dan tertib, yang dimana dilator belakangi oleh kenyataan, bahwa orang saling membutuhkan dan saling melengkapi sesuai dengan kemampuan mereka masing-masing. Comte melihat bahwa masyarakatlah yang penting di mana individu hidup untuk bermasyarakat dan wujud atau realitas sendiri ada pada masyarakat. Pandangannya tentang masyarakat bercorak holistis, di mana pandangan ini adalah berakar dari realism yang menganggap bahwa konsep-konsep manusia, binatang, pohon, keadilan, keindahan dan sebagainya mewakili suatu realitas yang nyata di luar orang yang memikirkan mereka. Pandangan ini menganggap bahwa segala sesuatunya adalah bentuk dari konsep manusia mempunyai realitas sendiri di luar pikiran manusia yang telah disediakan oleh masyarakat sebelumnya. Comte melihat masyarakat Holistis sebagai kesatuan, yang dalam bentuk dan arahnya tidak bergantung pada inisiatif bebas anggotanya, melainkan pada proses spontan-otomatis perkembangan akal budi manusia di mana proses merupakan proses alam yang tak terelakkan dan tak terhentikan, sehingga perkembangan atau evolusi itu di kuasai oleh suatu hukum universal yang berlaku bagi semua orang di mana pun dan kapan pun. Comte menekankan bahwa proses akal budi evolusi manusia yang dalam perkembangannya dikuasai oleh hukum yang satu dan sama bagi seluruh dunia. Cara manusia berpikir dan menafsirkan dunia berkembang secara bertahap, dan keadaan masyarakat selalu bersesuaian dengan tahap yang sedang di capai. Pada pemahaman positivism gejala alam diterangkan oleh akal budi berdasarkan hukumhukumnya yang dapat ditinjau, diuji dan dibuktikan atas cara empiris, sehingga manusia diharapkan untuk mampu menerapkan dan memanfaatkannya demi suatu penguasaan atas lingkungan alam dan perecanaan masa depan yang lebih baik. Comte menganggap bahwa dahulu tempat-tempat ibadah menjadi tempat utama persatuan kehidupan bersama, dan agama menjiwai dan melembagakan seluruh

masyarakat, sekarang universitas-universitas, bank-bank, dan kawasan industry menjadi urat nadi masyarakat. Comte menganggap perkembangan pikiran manusia tidak serentak menyentuh atau meliputi semua bidang pengetahuan secara merata. Ada pengetahuan yang cepat kea rah positif, dan ada juga yang lamban, pengetahuan yang membutuhkan penafsiran agama atau metafisik, akan ditinggalkan dengan penafsiran positif. Misalnya dalam pengetahuan matematika, pengetahuan yang paling dasar dan sederhana serta universal, dan tidak tergantung sifat religious, sehingga tidak pernah ada Dewa Angka. Sebaliknya semakin rumit dalam penafsiran pemahaman, maka akan semakin lama penerangan pemahaman semakin berubah, misalnya cuaca yang berubah-ubah tanpa diketahui akan perubahannya dengan pasti sehingga muncul bahwa gejala ini muncul dari Dewa, kehidupan manusia lahir dan mati, kaya atau miskin, ditafsirkan seolah-olah disebabkan oleh kekuatan-kekuatan gaib. Comte menyimpulkan bahwa gagasan-gagasan yang dahulu mendasari struktur masyarakat dan Negara harus ditinggalkan sebab sudah using, oleh karena itu harus diganti dengan konsep-konsep dalam dan bentuk-bentuk yang rasional. Comte menerangkan bahwa sejarah pada pokoknya adalah proses perkembangan bertahap dari cara manusia berpikir, dan proses perkembangan ini bersifat mutlak, universal, dan tak terelakan. Masyarakat baru juga yang didasarkan atas kenyataan empiris dan hasil pemikiran rasional, diharapkan akan mencapai tingkat integrasi yang lebi besar. Satu kali tahap positivism dicapai oleh manusia, tahap-tahap pendahuluan harus ditinggalkan bagaikan bagian-bagian roket, yang hanya berguna selama waktu si astronot masih perlu ditempatkan di angkasa kemudian di buang (Veeger, 1990).