Anda di halaman 1dari 30

HSDK 610 ASPEK HUKUM dalam PEMBANGUNAN (2 SKS)

Oleh : Eliatun, ST., MT.

ASPEK HUKUM dalam PEMBANGUNAN


Aspek Hukum dalam Industri Konstruksi Undang Undang Agraria Peraturan Pembebasan Tanah Ijin Mendirikan Bangunan Pelelangan Jaminan Keselamatan Kerja

HUKUM PEMBANGUNAN dalam INDUSTRI KONSTRUKSI DI INDONESIA


KEPPRES NO. 17 TAHUN 2000 DIPERBAHARUI dgn KEPPRES NO. 42 TAHUN 2002 tentang PELAKSANAAN ANGGARAN DAN PENDAPATAN BELANJA NEGARA KEPPRES NO. 18 TAHUN 2000 DIPERBAHARUI dgn KEPPRES NO. 80 TAHUN 2003 tentang PEDOMAN PELAKSANAAN PENGADAAN BARANG/JASA INSTANSI PEMERINTAH UU. RI. NO. 18 TAHUN 1999 tentang JASA KONSTRUKSI

HUKUM PEMBANGUNAN dalam INDUSTRI KONSTRUKSI DI INDONESIA


PP. RI. NO. 29 TAHUN 2000 dan NO. 30 TAHUN 2000 tentang PENYELENGGARAAN JASA KONSTRUKSI UU. NO. 16 TAHUN 2000 tentang KETENTUAN UMUM dan TATA CARA PERPAJAKAN UU. NO. 17 TAHUN 2000 tentang PAJAK PENGHASILAN UU. NO. 18 TAHUN 2000 tentang PAJAK PERTAMBAHAN NILAI

KEPPRES NO. 80 TAHUN 2003 tentang PEDOMAN PELAKSANAAN PENGADAAN BARANG/JASA INSTANSI PEMERINTAH
Maksud diberlakukannya Keputusan Presiden ini adalah untuk mengatur pelaksanaan pengadaan barang/jasa yang sebagian atau seluruhnya dibiayai dari APBN/APBD.

KEPPRES NO. 80 TAHUN 2003 tentang PEDOMAN PELAKSANAAN PENGADAAN BARANG/JASA INSTANSI PEMERINTAH

Tujuan diberlakukannya Keputusan Presiden ini adalah agar pelaksanaan pengadaan barang/jasa yang sebagian atau seluruhnya dibiayai APBN/APBD dilakukan secara efisien, efektif, terbuka dan bersaing, transparan, adil/tidak diskriminatif, dan akuntabel.

KEPPRES NO. 80 TAHUN 2003 tentang PEDOMAN PELAKSANAAN PENGADAAN BARANG/JASA INSTANSI PEMERINTAH efisien, berarti pengadaan barang/jasa harus diusahakan dengan menggunakan dana dan daya yang terbatas untuk mencapai sasaran yang ditetapkan dalam waktu sesingkatsingkatnya dan dapat dipertanggungjawabkan;

KEPPRES NO. 80 TAHUN 2003 tentang PEDOMAN PELAKSANAAN PENGADAAN BARANG/JASA INSTANSI PEMERINTAH efektif, berarti pengadaan barang/jasa harus sesuai dengan kebutuhan yang telah ditetapkan dan dapat memberikan manfaat yang sebesarbesarnya sesuai dengan sasaran yang ditetapkan;

KEPPRES NO. 80 TAHUN 2003 tentang PEDOMAN PELAKSANAAN PENGADAAN BARANG/JASA INSTANSI PEMERINTAH terbuka dan bersaing, berarti pengadaan barang/jasa harus terbuka bagi penyedia barang/jasa yang memenuhi persyaratan dan dilakukan melalui persaingan yang sehat di antara penyedia barang/jasa yang setara dan memenuhi syarat/kriteria tertentu berdasarkan ketentuan dan prosedur yang jelas dan transparan;

KEPPRES NO. 80 TAHUN 2003 tentang PEDOMAN PELAKSANAAN PENGADAAN BARANG/JASA INSTANSI PEMERINTAH
transparan, berarti semua ketentuan dan informasi mengenai pengadaan barang/jasa, termasuk syarat teknis administrasi pengadaan, tata cara evaluasi, hasil evaluasi, penetapan calon penyedia barang/jasa, sifatnya terbuka bagi peserta penyedia barang/jasa yang berminat serta bagi masyarakat luas pada umumnya;

KEPPRES NO. 80 TAHUN 2003 tentang PEDOMAN PELAKSANAAN PENGADAAN BARANG/JASA INSTANSI PEMERINTAH

adil/tidak diskriminatif, berarti

memberikan perlakuan yang sama bagi semua calon penyedia barang/jasa dan tidak mengarah untuk memberi keuntungan kepada pihak tertentu, dengan cara dan atau alasan apapun;

KEPPRES NO. 80 TAHUN 2003 tentang PEDOMAN PELAKSANAAN PENGADAAN BARANG/JASA INSTANSI PEMERINTAH

akuntabel, berarti harus mencapai


sasaran baik fisik, keuangan maupun manfaat bagi kelancaran pelaksanaan tugas umum pemerintahan dan pelayanan masyarakat sesuai dengan prinsip-prinsip serta ketentuan yang berlaku dalam pengadaan barang/jasa.

KEPPRES NO. 80 TAHUN 2003 tentang PEDOMAN PELAKSANAAN PENGADAAN BARANG/JASA INSTANSI PEMERINTAH
Ruang lingkup berlakunya Keputusan Presiden ini adalah :
pengadaan barang/jasa yang pembiayaannya sebagian atau seluruhnya dibebankan pada APBN/APBD; pengadaan barang/jasa yang sebagian atau seluruhnya dibiayai dari pinjaman/hibah luar negeri (PHLN) yang sesuai atau tidak bertentangan dengan pedoman dan ketentuan pengadaan barang/jasa dari pemberi pinjaman/hibah bersangkutan; pengadaan barang/jasa untuk investasi di lingkungan BI, BHMN, BUMN, BUMD, yang pembiayaannya sebagian atau seluruhnya dibebankan pada APBN/APBD.

UNDANG-UNDANG RI. NO. 18 TAHUN 1999 tentang JASA KONSTRUKSI


Pengaturan jasa konstruksi berlandaskan pada asas kejujuran dan keadilan, manfaat, keserasian, keseimbangan, kemandirian, keterbukaan, kemitraan, keamanan dan keselamatan demi kepentingan masyarakat, bangsa, dan negara.

UNDANG-UNDANG RI. NO. 18 TAHUN 1999 tentang JASA KONSTRUKSI


Asas kejujuran dan keadilan ; mengandung pengertian kesadaran akan fungsi dan haknya dalam penyelenggaraan tertib jasa konstruksi Asas manfaat ; mengandung pengertian bahwa segala kegiatan jasa konstruksi harus dilaksanakan pada prinsip-prinsip profesionalitas dalam kemampuan dan tanggung jawab, efisiensi dan efektifitas yang dapat menjamin terwujudnya nilai tambah yang optimal bagi para pihak dalam penyelenggaraan jasa konstruksi dan kepentingan nasional

UNDANG-UNDANG RI. NO. 18 TAHUN 1999 tentang JASA KONSTRUKSI


Asas keserasian ; mengandung pengertian harmoni dalam interaksi antara pengguna jasa dan penyedia jasa dalam penyelenggaraan pekerjaan konstruksi yang berwawasan lingkungan untuk menghasilkan produk yang berkualitas tinggi dan bermanfaat tinggi Asas keseimbangan ; mengandung pengertian bahwa penyelenggaraan pekerjaan konstruksi harus berlandaskan pada prinsip yang menjamin terwujudnya keseimbangan antara kemampuan penyedia jasa dan beban kerjanya.

UNDANG-UNDANG RI. NO. 18 TAHUN 1999 tentang JASA KONSTRUKSI


Asas kemandirian ; mengandung pengertian tumbuh dan berkembangnya daya saing jasa konstruksi nasional. Asas keterbukaan ; mengandung pengertian ketersediaan informasi yang dapat diakses sehingga memberikan peluang bagi para pihak, terwujudnya transparansi dalam penyelenggaraan pekerjaan konstruksi yang memungkinkan adanya koreksi sehingga dapat dihindari adanya berbagai kekurangan dan penyimpangan.

UNDANG-UNDANG RI. NO. 18 TAHUN 1999 tentang JASA KONSTRUKSI


Asas kemitraan ; mengandung pengertian hubungan kerja para pihak yang harmonis, terbuka, bersifat timbal balik, dan sinergis. Asas keamanan dan keselamatan ; mengandung pengertian terpenuhinya tertib penyelenggaraan jasa konstruksi, keamanan lingkungan dan keselamatan kerja, serta pemanfaatan hasil pekerjaan konstruksi dengan tetap memperhatikan kepentingan umum.

UNDANG-UNDANG RI. NO. 18 TAHUN 1999 tentang JASA KONSTRUKSI


Pengaturan jasa konstruksi bertujuan : a. memberikan arah pertumbuhan dan perkembangan jasa konstruksi untuk mewujudkan struktur usaha yang kokoh, andal, berdaya saing tinggi, dan hasil pekerjaan konstruksi yang berkualita b. mewujudkan tertib penyelenggaraan pekerjaan konstruksi yang menjamin kesetaraan kedudukan antara pengguna jasa dan penyedia jasa dalam hak dan kewajiban, serta meningkatkan kepatuhan pada ketentuan peraturan perundang- undangan yang berlaku;

UNDANG-UNDANG RI. NO. 18 TAHUN 1999 tentang JASA KONSTRUKSI


c. mewujudkan peningkatan peran masyarakat di bidang jasa konstruksi.

UNDANG-UNDANG RI. NO. 18 TAHUN 1999 tentang JASA KONSTRUKSI


Usaha Jasa Konstruksi : (1) Jenis usaha jasa konstruksi terdiri dari usaha perencanaan konstruksi, usaha pelaksanaan konstruksi dan usaha pengawasan konstruksi yang masing-masing dilaksanakan oleh perencana konstruksi, pelaksana konstruksi, dan pengawas konstruksi.

UNDANG-UNDANG RI. NO. 18 TAHUN 1999 tentang JASA KONSTRUKSI


(2) Usaha perencanaan konstruksi memberikan layanan jasa perencanaan dalam pekerjaan konstruksi yang meliputi rangkaian kegiatan atau bagianbagian dari kegiatan mulai dari studi pengembangan sampai dengan penyusunan dokumen kontrak kerja konstruksi.

UNDANG-UNDANG RI. NO. 18 TAHUN 1999 tentang JASA KONSTRUKSI


(3) Usaha pelaksanaan konstruksi memberikan layanan jasa pelaksanaan dalam pekerjaan konstruksi yang meliputi rangkaian kegiatan atau bagianbagian dari kegiatan mulai dari penyiapan lapangan sampai dengan penyerahan akhir hasil pekerjaan konstruksi.

UNDANG-UNDANG RI. NO. 18 TAHUN 1999 tentang JASA KONSTRUKSI


Perencana konstruksi, pelaksana konstruksi, dan pengawas konstruksi yang berbentuk badan usaha harus: memenuhi ketentuan tentang perizinan usaha di bidang jasa konstruksi; memiliki sertifikat, klasifikasi, dan kualifikasi perusahaan jasa konstruksi.

PERATURAN PEMERINTAH RI. NO. 29 TAHUN 2000 dan NO. 30 TAHUN 2000 tentang PENYELENGGARAAN dan PEMBINAAN JASA KONSTRUKSI Pengaturan jasa konstruksi berlandaskan pada asa kejujuran dan keadilan, manfaat, keserasian, keseimbangan, kemandirian, keterbukaan, kemitraan, keamanan dan keselamatan demi kepentingan masyarakat, bangsa dan negara

PERATURAN PEMERINTAH RI. NO. 29 TAHUN 2000 dan NO. 30 TAHUN 2000 tentang PENYELENGGARAAN dan PEMBINAAN JASA KONSTRUKSI
Tujuan dari pengaturan jasa konstruksi : memberikan arah pertumbuhan dan perkembangan jasa konstruksi untuk mewujudkan struktur usaha yang kokoh, andal, berdaya saing tinggi dan hasil pekerjaan konstruksi yang berkualitas; mewujudkan tertib penyelenggaraan pekerjaan konstruksi yang menjamin kesetaraan kedudukan antara pengguna jasa dan penyedia jasa dalam hak dan kewajiban, serta meningkatkan kepatuhan pada ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku; serta untuk mewujudkan peningkatan masyarakat di bidang jasa konstruksi.

PERATURAN PEMERINTAH RI. NO. 29 TAHUN 2000 dan NO. 30 TAHUN 2000 tentang PENYELENGGARAAN dan PEMBINAAN JASA KONSTRUKSI Lingkup pengaturan penyelenggaraan pekerjaan konstruksi meliputi tata cara pemilihan/pelelangan, kontrak kerja konstruksi, penyelenggaraan pekerjaan konstruksi, kegagalan bangunan, penyelesaian sengketa, larangan persekongkolan, dan sanksi administratif.

PERATURAN PEMERINTAH RI. NO. 29 TAHUN 2000 dan NO. 30 TAHUN 2000 tentang PENYELENGGARAAN dan PEMBINAAN JASA KONSTRUKSI Kontrak kerja konstruksi :
Kontrak kerja konstruksi pada dasarnya dibuat secara terpisah sesuai tahapan dalam pekerjaan konstuksi yang terdiri dari kontrak kerja konstruksi untuk pekerjaan perencanaan, kontrak kerja konstruksi untuk pekerjaan pelaksanaan, dan kontrak kerja konstruksi untuk pekerjaan pengawasan.

PERATURAN PEMERINTAH RI. NO. 29 TAHUN 2000 dan NO. 30 TAHUN 2000 tentang PENYELENGGARAAN dan PEMBINAAN JASA KONSTRUKSI Kontrak kerja konstruksi sebagaimana dimaksud dibedakan berdasarkan :
Bentuk imbalan yang terdiri dari :
Lump Sum; kontrak jasa atas penyelesaian seluruh pekerjaan dalam jangka waktu tertentu dengan jumlah harga yang pasti dan tetap serta semua risiko yang mungkin terjadi dalam proses penyelesaian pekerjaan yang sepenuhnya ditanggung oleh penyedia jasa sepanjang gambar dan spesifikasi tidak berubah

PERATURAN PEMERINTAH RI. NO. 29 TAHUN 2000 dan NO. 30 TAHUN 2000 tentang PENYELENGGARAAN dan PEMBINAAN JASA KONSTRUKSI