Anda di halaman 1dari 4

BAB I PENDAHULUAN Pembangunan kesehatan pada hakekatnya adalah penyelenggaraan upaya kesehatan oleh bangsa Indonesia untuk mencapai

kemampuan untuk hidup sehat setiap penduduk agar dapat mewujudkan derajat kesehatan masyarakat secara optimal, sebagai salah satu unsur kesejahteraan umum dari tujuan nasional. Untuk mencapai hal tersebut diselenggarakan upaya kesehatan secara menyeluruh, terpadu, dapat diterima dan terjangkau oleh seluruh masyarakat (Depkes RI, 2007). Adapaun program pokok Indonesia Sehat 2010 diantaranya adalah program peningkatan upaya kesehatan dilaksanakan secara menyeluruh, terpadu dan berkesinambungan melalui upaya peningkatan kesehatan, pencegahan penyakit, penyembuhan penyakit serta pemulihan kesehatan terhadap suatu penyakit (Depkes RI, 2007). Salah satu penyakit yang masih sering terjadi di masyarakat dan yang masih harus mendapat perhatian adalah penyakit hernia. Hernia berasal dari bahasa latin Herniae berarti penonjolan isi suatu rongga melalui jaringan ikat tipis yang lemah pada dinding rongga. Namun dalam lingkungan masyarakat istilah hernia lebih dikenal sebagai turun berok, burut atau bodek (Giri Made Kusala, 2009). Menurut Syamsuhidayat (2005), hernia adalah prostrusi atau penonjolan isi suatu rongga melalui defek atau bagian lemah dari dinding rongga yang bersangkutan. Penyebab hernia inguinalis hingga saat ini masih belum dapat dimengerti dengan sempurna. Namun yang menjadi prinsip terjadinya hernia inguinalis adalah peninggian tekanan di dalam rongga perut dan kelemahan otot dinding perut (karena usia). Hal-hal yang dapat menyebabkan terjadinya hernia antara lain faktor usia, jenis kelamin, menderita penyakit tertentu, obesitas, kehamilan, pekerjaan, kelahiran prematur dan riwayat terkena hernia (Depkes RI, 2008). Pada hernia reponibilis, isi hernia dapat kembali ke rongga peritoneum. Namun, bila usus tidak dapat kembali karena jepitan oleh anulus inguinalis, terjadi gangguan pembuluh darah dan gangguan pasase segmen usus yang terjepit, maka keadaan ini disebut dengan hernia inguinalis inkarserata. Secara klinis keluhan pasien adalah rasa sakit yang terus menerus. Terjadi gangguan pasase usus seperti abdomen kembung dan muntah (Arief Mansjoer, 2004). Pembuluh darah yang terjepit juga akan mengakibatkan penimbunan racun yang akan berakibat terjadinya infeksi dalam tubuh dan peritonitis. Infeksi ini akan menjadi sumber infeksi ke seluruh dinding usus yang akan berakibat buruk yaitu kematian (Jennifer, 2007). Fakta menarik tentang hernia dari Amerika Serikat, sekitar 700.000 operasi hernia dilakukan tiap tahunnya dan operasi darurat untuk hernia inkarserata merupakan operasi terbanyak nomor 2 setelah operasi darurat untuk apendisitis. Selain itu, hernia inkarserata merupakan penyebab obstruksi usus nomor 1 di Indonesia. Indirect inguinal hernias, di sisi kanan, adalah tipe hernia

yang paling banyak dijumpai pada pria dan wanita. Sekitar 25% pria dan 2% wanita mengalami inguinal hernias, sedangkan femoral hernias, hanya dijumpai pada 3% kasus. Insidens incarcerated atau strangulated hernias pada anak-anak 10-20%; sebanyak 50% diantaranya terjadi pada anak berusia < 6 bulan. Sekitar 10-30% anak memiliki hernia dinding perut (abdominal wall hernia), sebagian besar hernia tipe ini menutup otomatis saat berusia 1 tahun (Dito Anurogo, 2007). Menurut Depkes RI (2008), tujuh puluh lima persen (75%) dari seluruh hernia abdominal terjadi di inguinal (lipat paha), yang lainnya dapat terjadi di umbilikus (pusar) atau daerah perut lainnya. Hernia inguinalis dibagi menjadi dua, yaitu hernia inguinalis medialis dan hernia inguinalis lateralis. Jika kantong hernia inguinalis lateralis mencapai skrotum (buah zakar), hernia ini disebut hernia skrotalis. Hernia inguinalis lateralis terjadi lebih sering dari hernia inguinalis medialis dengan perbandingan 2:1, dan diantara itu ternyata pria lebih sering 7 kali lipat terkena dibandingkan dengan wanita. Semakin bertambahnya usia kita, kemungkinan terjadinya hernia semakin besar. Hernia meningkat pada usia lebih dari 50 tahun Hal ini dipengaruhi oleh kekuatan otot-otot perut yang sudah mulai melemah.

BAB II TINJUAUAN PUSTAKA

BAB III KASUS IDENTITAS Nama Jenis Kelamin Alamat Tanggal Operasi Umur : Tn. S : Laki - laki : Gg.widodo no.7 : 25 Maret 2011 : 75 tahun

Diagnosa Pra Bedah : Hernia Inguinalis Sinistra Jenis Pembedahan : Herniactomie

Keluhan Utama

: Benjolan di lipat paha

Perjalanan penyakit : pasien mengaku terdapat benjolan di lipat paha kiri sejak beberapa tahun yang lalu. Benjolan dilipat paha timbul saat pasien mengedan, batuk, mengangkat beban atau melakukan aktivitas berat lainnya,dan menghilang pada saat dibawa istirahat atau berbaring. Pasien mengaku tidak ada keluhan nyeri ataupun sulit BAB. Riwayat Penyakit : HT (-), DM (-)

Riwayat penyakit keluarga : -

PEMERIKSAAN FISIK Inspeksi : pada kedua sisi lipat paha dan skrotum tampak asimetris pada keadaan berdiri dan berbaring. Pada saat pasien diminta mengedan atau batuk,tampak adanya benjolan. Palpasi kembali. : benjolan hernia teraba lunak, dan pada saat didorong,benjolan tampak masuk

BAB IV PEMBAHASAN

BAB V KESIMPULAN