Anda di halaman 1dari 23

Paper Ini Dibuat Untuk Melengkapi Persyaratan Kepanitraan Klinik Senior Di SMF Ilmu Penyakit Telinga Hidung Dan

Tenggorokan RSU Dr. Pirngadi Medan Fakultas Kedokteran Universitas Malahayati

Oleh,

Yuliana Flavia Agustina

98310027

Pembimbing,

Dr. Rehulina Surbakti, Sp.THT

SMF ILMU PENYAKIT TELINGA HIDUNG TENGGOROKAN FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS MALAHAYATI RSU DR. PIRNGADI MEDAN

Mastoiditis Kronis

2005 MASTOIDITIS KRONIS


PENDAHULUAN Mastoiditis merupakan peradangan tulang mastoid, biasanya berasal dari cavum tympani. Perluasan infeksi telinga bagian tengah yang berulang-ulang dapat menyebabkan timbulnya perubahan pada mastoid berupa penebalan mukosa dan terkumpulnya eksudat. Lama kelamaan akan terjadi peradangan tulang (osteitis) dan pengumpulan eksudat yang makin banyak yang akhirnya mencari jalan keluar. Daerah yang lemah biasanya terletak dibelakang telinga menyebabkan abses subperiosteum. Perluasan infeksi tergantung pada : Virulensi kuman. Resistensi kuman. Keadaan mukosa telinga tengah. Struktur tulang mastoid. Faktor predisposisi seperti virus, gangguan fungsi silier, alergi dan

imunodefisiensi dapat mempermudah terjadinya mastoiditis. Mastoiditis kronik yang disebabkan oleh OMSK harus dicurigai bila terdapat nyeri pada pergerakan pinna disamping adanya eritema dan odema pada lipatan posterior aurikuler. Nekrosis pada tulang mastoid dapat menyebabkan infeksi tersebar ke jaringan lunak diluar mastoid, sehingga terjadi pembengkakan dibelakang telinga dan os zygomatikus serta pembengkakan dileher (abses bezold). Bila infeksi

KKS SMF THT RSU. Dr. Pirngadi Medan 2005 FK-UNMAL

Yuliana Flavia

Mastoiditis Kronis

sembuh dan proses degenerasi menjadi baik, maka akan terjadi sclerosis pada mastoid.

Macam-macam mastoiditis ntara lain : 1. Mastoiditis + nanah + jaringan granulasi. 2. Mastoiditis + colesteatoma. 3. Campuran 1 dan 2. 4. Mastoiditis yang sklerotik.

ANATOMI

Rongga mastoid berbentuk seperti pyramid dengan puncak mengarah ke caudal. Atap mastoid adalah fossa kranii media. Dinding medial adalah dinding lateral kranii posterior. Pada dinding anterior mastoid terdapat aditus ad antrum. Dibawah kedua patokan ini berjalan saraf facialis dalam kanalis tulangnya untuk keluar dari tulang temporal melalui foramen stilomastoideus diujung anterior

KKS SMF THT RSU. Dr. Pirngadi Medan 2005 FK-UNMAL

Yuliana Flavia

Mastoiditis Kronis

Krista yang terbentuk oleh insersio otot digrastikus. Dinding lateral mastoid adalah tulang subkutan yang dengan mudah dapat dipalpasi diposterior aurikula.(2) Dari kavum timpani ada hubungan melalui aditus ad antrum ke antrum mastoideum ialah ruangan pertama dan terbesar dari sel-sel mastoideus. Antrum mastoideum ini sudah terdapat sejak waktu lahir. Sel-sel di mastoid (pneumatisasi) baru terjadi sesudah lahir pada tahun pertama. Sel-sel ini berhubungan satu sama lainnya pneumatisasi mastoid pada setiap orang tidak sama. Pada pneumatisasi yang ekstrim selain pada prosessus mastoideus, dapat pula sampai ke bagian tulang temporal lainnya. Yang biasanya hanya terdiri dari tulang kompakta atau spongiosa, misalnya pada prosessua zigomatikus, sekitar labirin dan ujung tulang petrosa. Luasnya pneumatisasi tergantung pada faktor herediter konstitusional dan faktor peradangan pada usia muda. Bila ada gangguan mukosa maka daya pneumatisasi hilang atau berkurang. Ini juga terjadi bila radang pada telinga, maka dapat dilihat pneumatisasi yang terhenti (arrested pneumatization) atau pneumatisasi yang tidak ada sama sekali, misalnya terdapat radang yang menahun (teori dar Wittmack). Oleh karena itu pneumatisasi prosessus mastoideus dibagi dalam : 1. Prosessus mastoideus kompakta (sklerotis) dimana tidak ditemui sel-sel. 2. Prosessus mastoideus spongiosa (diploik) dimana terdapat sel-sel kecil saja. 3. Prosessus mastoideus dengan pneumatisasi yang luas dimana sel-sel disini membesar.

KKS SMF THT RSU. Dr. Pirngadi Medan 2005 FK-UNMAL

Yuliana Flavia

Mastoiditis Kronis

Selulae mastoideus seluruhnya berhubungan kavum timpani. Dekat antrum sel-selnya kecil, makin ke perifer sel-selnya bertambah besar oleh karena itu bila terjadi radang pada sel-sel mastoid, drainase tidak begitu baik hingga mudah terjadi radang pada mastoid (mastoiditis).(3)

DEFINISI Mastoiditis kronis suatu infeksi kronik telinga tengah dan prosessus mastoideus(4)

ETIOLOGI Mastoiditis kronis dapat disebabkan oleh kuman-kuman pseudomonas spp, streptococcus spp, staphylococcus spp, eschericia coli.(5)

KKS SMF THT RSU. Dr. Pirngadi Medan 2005 FK-UNMAL

Yuliana Flavia

Mastoiditis Kronis

EPIDEMIOLOGI Insidensinya masih belum lengkap tetapi beberapa literatur dan studi prevalensi menyebutkan bahwa suku Eskimo alaka dan penduduk amerika asli lebih sering mengalami mastoiditis.(4) Biasanya mastoiditis didahului oleh otitis media supuratif kronik yang tidak diobati atau diobati dengan pengobatan yang tidak adekuat.(4)

PATOFISIOLOGI Telinga tengah biasanya steril. Gangguan aksi fisiologis silia, enzim penghasil mucus dan antibodi berfungsi sebagai mekanisme pertahanan bila telinga terpapar dengan mikroba dan kontaminan pada saat menelan. Ini terjadi apabila mekanisme fisiologis ini terganggu. Sebagai pelengkap mekanisme pertahanan dipermukaan, suatu anyaman kapiler subepitel yang penting menyediakan pula faktor-faktor humoral leukosit polimorfonuklear dan sel fagosit lainnya. Obstruksi tuba eustachius merupakan suatu faktor penyebab dasar. Dengan demikian hilanglah sawar utama terhadap invasi bakteri dan sepsis bakteri yang tidak biasanya patogenik, dapat berkolonisasi dalam telinga tengah menyerang jaringan dan menimbulkan nfeksi.(4) Nanah (pus) yang terbentuk akibat infeksi ditelinga tengah merupakan media yang sesuai bagi berbagai macam kuman untuk dapat tumbuh dan berkembang baik.(5) Penyebab infeksi kemungkinan adalah antrum tertutup oleh radang hingga terjadi oedem pada mukosa mastoid hingga drainase dari pus terganggu, kemudian dinding-dinding sel mastoid (trabaikel) menjadi nekrotik, hingga sel-sel

KKS SMF THT RSU. Dr. Pirngadi Medan 2005 FK-UNMAL

Yuliana Flavia

Mastoiditis Kronis

berhubungan satu sama lain. Pus dari mastoid menjadi jalan keluar melalui kortek dan sampai dibawah periost dibelakang daun telinga hingga terjadi abses subperiosteal retroaurikuler. Jadi disini bukan hanya mukosa yang meradang tetapi tulang turut nekrotik.(6) GEJALA KLINIS 1. Nyeri atau rasa tidak nyaman pada telinga. 2. Ottorhoea. 3. Pendengaran berkurang. 4. Demam. 5. Sakit kepala. 6. Nyeri tekan di daerah mastoid. 7. Edema pada prosessus mastoideus hiperemis yang lambat laun menjadi abses. 8. Liang telinga bagian atas belakang turun (sangging). Hal ini disebabkan oleh karena timbulnya periotitis pada tempat ini. 9. Membrana timpani menonjol keluar dan terjadi pengeluaran cairan yang kontinu dan semakin banyak lubang perforasi gendang. 10. Kadang terdapat gejala iritasi vestibuler antara lain : Vertigo. Nistagmus. Mual. Muntah.

KKS SMF THT RSU. Dr. Pirngadi Medan 2005 FK-UNMAL

Yuliana Flavia

Mastoiditis Kronis

DIAGNOSIS Diagnosis ditegakkan berdasarkan : 1. Gejala klinis.

KKS SMF THT RSU. Dr. Pirngadi Medan 2005 FK-UNMAL

Yuliana Flavia

Mastoiditis Kronis

2. Laboratorium Darah : leukositosis. Pengambilan sekret untuk pemeriksaan kultur dan sensitivitas antibiotik. 3. Pemeriksaan audiometric : tuli konduktif. 4. Pada foto rontgen dan CT Scan. Menunjukkan perkabutan difus sel-sel mastoid dan hilangnya septa antar selulae.(2,4,5,7)

DIAGNOSIS BANDING Mastoiditis kronis dapat di dignosis banding antara lain dengan : 1. Radang kelenjar yang letaknya retroaurikuler misalnya sebagai komplikasi dari radang kulit kepala. 2. Furunkel (otitis eksterna sirkum kripta). KOMPLIKASI 1. Paresis fasial.

KKS SMF THT RSU. Dr. Pirngadi Medan 2005 FK-UNMAL

Yuliana Flavia

Mastoiditis Kronis

Paresis fasial disebabkan oleh destruksi tulang yang meliputi N.VII sehingga kontinuitasnya terganggu, paresis biasanya hanya bersifat sementara. 2. Tromboflebitis. 3. Komplikasi intracranial antara lain : Meningitis. Abses otak. Labirintis.

PENATALAKSANAAN Pasien diberikan antibiotik yang didasarkan dari hasil kultur. Pemberian dilakukan selama 2 3 minggu secara oral. Selama pemberian antibiotik, pasien harus diobservasi untuk memonitor tanda kekambuhan. Bila terdapat perbaikan atau ditemukan kolesteatoma perlu dilakukan pembedahan. Ada beberapa jenis pembedahan atau teknik operasi yang dapat dilakukan pada mastoiditis kronis antara lain : 1. Mastoidektomi sederhana/ simple mastoidektomi (operasi Schwartze). 2. Mastoidektomi radikal (operasi Zautal/ Stacke). 3. Mastoidektomi radikal dengan modifikasi (operasi Bondy) 4. Miringoplasti. 5. Timpanoplasti. 6. Timpanoplasti dengan pendekatan ganda (combined approach

tympanoplasty).(2,3,4,5,6,7)

KKS SMF THT RSU. Dr. Pirngadi Medan 2005 FK-UNMAL

Yuliana Flavia

10

Mastoiditis Kronis

Yang dibahas disini hanyalah simple mastoidektomi atau mastoidektomi kortikal atau operasi Schwartze.

MASTOIDEKTOMI SEDERHANA Prinsip operasi ini adalah membersihkan seluruh sel-sel yang ada didalam mastoid sampai kedaerah antrum dari jaringan patologik. Operasi ini dilakukan pada OMSK tipe benigna yang dengan pengobatan konservatif tidak sembuh. Tujuannya ialah supaya tenang dan telinga tidak berarir lagi. Pada operasi ini fungsi pendengaran tidak diperbaiki. INDIKASI SIMPLE MASTOIDEKTOMI Indikasi pembedahan dengan metode simple mastoidektomi adalah : 1. Mastoiditis laten. Mastoid koalesen yang tidak menunjukkan tanda dan gejala yang khas dikelompokan kedalam istilah tersembunyi atau mastoiditis laten, pada umumnya pengobatan tidak cukup dengan antibiotika. Gejala yang akut reda tetapi pasien tidaklah sepenuhnya baik, nyeri disertai dengan ketulian dan demam, pada pemeriksaan membran timpani tampak jelas dan tandatanda peradangan dan kongesti mukosa timpani. Tampak postaural periostel yang mengentalkan tulang mastoid. Dari pemeriksaan radiologi tampak proses koalesens mastoid. 2. Mastoiditis subperiosteal. Adalah pembengkakan klasik dibelakang telinga disertai pergeseran daun telinga kebawah yang lebih cenderung dianggap sebagai komplikasi dari mastoiditis akut ketimbang tanda dari mastoiditis akut. Dengan

KKS SMF THT RSU. Dr. Pirngadi Medan 2005 FK-UNMAL

Yuliana Flavia

11

Mastoiditis Kronis

mengadakan erosi terhadap dinding atik bagian luar, abses periosteal akan menyebabkan pembangkakan dibagian dalam liang telinga. Apabila

dengan pemeriksaan radiologi mastoid masih meragukan, sebaiknya dipertimbangkan melakukan eksplorasi secara bedah. 3. Abses Bezold. Adalah abses di leher yang letaknya dalam, sebagai komplikasi mastoiditis akut, dimana nanah merembes sampai ke permukaan superior dari m. sternokleinomastoideus. KONTRA INDIKASI Kadar hemoglobin yang rendah. Penyakit sistemik umum : diabetes, hipertensi, lemah jantung, gangguan perdarahan dengan waktu perdarahan dan pembekuan yang memanjang.

TEKNIK OPERASI INSISI Standart post auricular. Mastoid dibuat miring untuk mendapatkan keadaan yang lebih baik, kemiringan dibuat dibelakang dan dibawah, bila tidak dibuat miring maka insisi akan meninggi kebidang posterior. Persiapan sebelum operasi. Mencukur rambut dibelakang telinga, daerah yang akan di insisi diberikan antiseptik agar steril. Menganastesi daerah yang akan dioperasi dengan 2% xylocaine dan 1 : 100.00 adrenalin untuk mengurangi perdarahan.

KKS SMF THT RSU. Dr. Pirngadi Medan 2005 FK-UNMAL

Yuliana Flavia

12

Mastoiditis Kronis

Insisi daerah past aurikuler beberapa mm dibelakang sulkus post aurikuler.

Insisi melalui periosteum terus kebawah tulang, diatas muskulus temporalis. Jika terjadi pneumatisasi akan dibuat insisi posterior pada periosteum.

Periosteum di elevasi dari tulang. sudut Mc Ewen, spina of henle dan pinggir tulang posterior pada meatus dipisahkan. Kemiringan tersebut dibersihkan dari pinggir seluruh serabut fibromuskular. Jaringan lunak dikeluarkan dari daerah tersebut dengan menggerakan refraktor.

KKS SMF THT RSU. Dr. Pirngadi Medan 2005 FK-UNMAL

Yuliana Flavia

13

Mastoiditis Kronis

Kortek mastoid dipindahkan berdasarkan sistem anatomis (sudut Mc Ewen) dengan alat elektrik dan membuat lubang pada antrum yang dibuka.

Sel-sel udara diangkat antrum dan dibersihkan melalui suatu proses hingga kerongga sebelah kiri yang terikat diatas tulang yang menutupi sinus lateralis dan didepan dinding meatus posterior dan aditus ad antrum.

KKS SMF THT RSU. Dr. Pirngadi Medan 2005 FK-UNMAL

Yuliana Flavia

14

Mastoiditis Kronis

Semua sel harus diangkat. Aerasi mastoid dapat diartikan sebagai pengangkatan tulang hingga mencapai daerah occipital, dan mencapai akar zygoma. Kemiringan yang dipindahkan tersbut harus sampai ke serabut otot poster

Penutupan sayatan kulit ditutup dengan sutura yang terbelah-belah. Jika terjadi perdarahan dibutuhkan karet kecil untuk menahan aliran darah selama 24 jam. Kulit dijahit lapis perlapis.

KOMPLIKASI OPERASI Komplikasi pembedahan dengan teknik simple mastoidektomi antara lain : 1. Kerusakan nervus fasialis. Nervus fasialis merupakan resiko utama untuk terjadinya kerusakan selama dilakukannya proses pembersihan pada sejumlah sel-sel udara retrofasial.

KKS SMF THT RSU. Dr. Pirngadi Medan 2005 FK-UNMAL

Yuliana Flavia

15

Mastoiditis Kronis

2. Dislokasi incus. Kebutaan alat-alat yang melewati antrum secara langsung terjadi pada telinga tengah, resiko dislokasi ini mengalami proses yang singkat pada incus dari fossa incudis dengan adanya pekak lateral. 3. Penetrasi sinus vena lateral. Kadang-kadang sinus terletak didaerah permukaan sehinga kerusakan dengan mudah dapat terjadi. 4. Penetrasi pada fossa dura tengah. Jika mastoid dibuka pada tingkat yang tinggi, akan terjadi penetrasi pada fossa dura tengah. 5. Post operatif hematom. Berkumpulnya darah dibawah sutura sehingga menghasilkan devialitas terhadap tekanan yang ada diikuti pemotongan dan gagalnya

penggabungan primer. 6. Reakumulasi post operatif pada pus. Gagalnya pemindahan seluruh sel-sel udara yang ada dimukosa sehingga menghasilkan supurasi yang berlanjut dan membentuk abses pada sub insisi post operatif. 7. Kerusakan pada kokhlea.

KESIMPULAN Mastoiditis merupakan suatu penyakit yang sudah jarang ditemukan. Mastoiditis dapat terjadi pada pasien-pasien imunosupresif atau mereka

KKS SMF THT RSU. Dr. Pirngadi Medan 2005 FK-UNMAL

Yuliana Flavia

16

Mastoiditis Kronis

yang mengabaikan otitis media akut yang dideritanya. Baik mastoiditis akut maupun kronis selalu didahului oleh otitis media. Mastoiditis kronis adalah suatu infeksi bakteri pada prosessus mastoideus (tulang yang menonjol dibelakang telinga). Mastoiditis kronis disebabkan oleh hancurnya dinding tulang-tulang tipis diantara sel-sel udara mastoid (cellulae mastoidea). Penyakit ini biasanya terjadi jika otitis media akut yang tidak diobati secara tuntas sehingga menyebar dari telinga tengah ke tulang disekitarnya, yaitu prosessus mastoideus. Gejala klinis dari mastoiditis antara lain : terbentuknya abses (penimbunan nanah) didalam tulang. kulit yang melapisi prosessus mastoideus menjadi merah, membengkak dan nyeri bila ditekan. Daun telinga terdorong kesamping dan kebawah. Gejala lainnya adalah demam, nyeri disekitar dan didalam telinga serta keluarnya cairan kental dari telinga. Nyeri cenderung menetap dan berdenyut. Terjadi ketulian yang berkembang secara progresif. Jika tidak diobati bisa terjadi ketulian, sepsis, meningitis, abses otak atau kematian. Komplikasi dari mastoiditis kronis dapat terjadi pada telinga tengah, telinga dalam, ekstradural, dan susunan saraf pusat. Diagnosis mastoiditis kronis ditegakkan berdasarkan : anamnesis, pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan penunjang. Prinsip penatalaksanaan mastoiditis kronis adalah dengan pemberian antibiotik dosis tinggi dan pembedahan.

KKS SMF THT RSU. Dr. Pirngadi Medan 2005 FK-UNMAL

Yuliana Flavia

17

Mastoiditis Kronis

Prinsip dari pembedahan/ operasi simple mastoidektomi adalah membersihkan seluruh sel yang ada didalam mastoid sampai sel-sel yang menghubungkannya dengan antrum, tujuan dari pembersihan ini adalah agar terjadi drainase dari mastoid melalui antrum, telinga tengah dan melalui perforasi sampai ke liang telinga bagian luar. Setelah operasi, diharapkan telinga menjadi kering, membran timpani tertutup kembali dan pendengaran menjadi baik.

DAFTAR PUSTAKA

1. Soepardi EA, Iskandar N, Buku Ajar Ilmu Penyakit Telinga Hidung Tenggorok, Edisi ke-14, Jakarta, gaya Baru, FK-UI, 2001 : 54-60.

KKS SMF THT RSU. Dr. Pirngadi Medan 2005 FK-UNMAL

Yuliana Flavia

18

Mastoiditis Kronis

2. anonymous

Excerpt

from

mastoiditis,

Available

at

http://www.emedicine.com 3. Adam GL, Boies LR, Higler PA, Alih Bahasa Wijaya, Caroline, Buku Ajara Penyakit THT, Edisi ke-6, Jakarta, EGC, 1994 : 32, 95-112. 4. Adenan A, Kumpulan Kuliah Telinga, FK-USU, Medan :9-10,54-63. 5. Anonymous : Mastoiditis, Available at :

http://www.bsac.org.uk/pyxis/HeadandNeckinfections/mastoiditis 6. Balenger JJ, Ilmu Penyakit Telinga Hidung Tenggorok Kepala dan Leher, Jilid II, edisi ke-13, Jakarta, Binarupa Aksara, 1994 : 405-30. 7. Sjamsuhidajat R, De Jong W, Buku ajar Ilmu Bedah, edisi Revisi ,Jakarta, EGC, 1997 :476.

KKS SMF THT RSU. Dr. Pirngadi Medan 2005 FK-UNMAL

Yuliana Flavia

19

Mastoiditis Kronis

KATA PENGANTAR

Assalammualaikum Wr. Wb. Dengan rasa syukur dan hati lega, penulis telah selesai menyusun paper ini guna memenuhi persyaratan KKS di Bagian Ilmu Penyakit THT. RSU. Dr. Pirngadi Medan dengan judul MASTOIDITIS KRONIS. Pada kesempatan ini tak lupa penulis mengucapkan banyak terima kasih kepada Dr. Rehulina Surbakti, Sp.THT. atas bimbingan dan arahannya selama mengikuti KKS di Bagian Ilmu Penyakit THT. RSU. Dr. Pirngadi Medan serta dalam penyusunan paper ini. Juga penulis mengucapkan terima kasih kepada:
1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. 12. 13. Dr. Zulkifli, Sp.THT. Dr. Netty Harnita, Sp.THT. Dr. Dewi Fauziah Syahnan, Sp. THT. Dr. Ali Syahbana Siregar, Sp.THT. Dr. Linda Samosir, Sp. THT. Dr. Beresman Sianipar, Sp.THT. Dr. T. Yohanita, Sp.THT. Dr. Magdalena Hutagalung, Sp.THT. Dr. Ita Rodhertani L. Tobing, Sp.THT. Dr. Zalfina Cora, Sp. THT. Dr. M.Taufiq, Sp.THT. Dr. Olina Hulu, Sp. THT Dr. Seri Ulina, Sp.THT

Staf pegawai dan perawat di SMF THT RSU. Dr. Pirngadi Medan dan semua pihak yang telah membantu dalam menyelesaikan paper ini.

Bahwasanya hasil usaha penyusunan paper ini masih banyak kekurangannya, tidaklah mengherankan karena keterbatasan pengetahuan yang ada pada penulis. Kritik dan saran yang sifatnya membangun sangat penlis harapkan guna perbaikan penyusunan paper lain dikemudian kesempatan.

KKS SMF THT RSU. Dr. Pirngadi Medan 2005 FK-UNMAL

Yuliana Flavia

i 20

Mastoiditis Kronis

Harapan penulis semoga paper ini dapat bermanfaat dalam menambah pengetahuan serta dapat menjadi arahan dalam mengimplementasikan penatalaksanaan Otitis Media Akut di masyarakat. Medan, Juni 2005 Penulis

KKS SMF THT RSU. Dr. Pirngadi Medan 2005 FK-UNMAL

Yuliana Flavia

ii 21

Mastoiditis Kronis

DAFTAR ISI
Kata Pengantar Daftar isi i . iii

MASTOIDITIS KRONIS PENDAHULUAN....................................................................................................2 ANATOMI...............................................................................................................3 DEFINISI.................................................................................................................5 ETIOLOGI...............................................................................................................5 EPIDEMIOLOGI.....................................................................................................6 PATOFISIOLOGI....................................................................................................6 GEJALA KLINIS.....................................................................................................7 DIAGNOSIS............................................................................................................8 DIAGNOSIS BANDING.........................................................................................9 KOMPLIKASI.........................................................................................................9 PENATALAKSANAAN.......................................................................................10 MASTOIDEKTOMI SEDERHANA.................................................................11 TEKNIK OPERASI...............................................................................................12 KOMPLIKASI OPERASI.....................................................................................15 KESIMPULAN......................................................................................................16 DAFTAR PUSTAKA

KKS SMF THT RSU. Dr. Pirngadi Medan 2005 FK-UNMAL

Yuliana Flavia

iii 22

Mastoiditis Kronis

KKS SMF THT RSU. Dr. Pirngadi Medan 2005 FK-UNMAL

Yuliana Flavia

23