Anda di halaman 1dari 11

Hama Gudang Oryzaephilus surinamensis

Di Indonesia kumbang ini dikenal dengan nama kumbang padi-padian yang bergerigi (saw toothed grain beetle). Kumbang Oryzaephilus surinamensis termasuk kedalam famili Cucujidae. Kumbang ini digolongkan sebagai hama pada tempat penyimpanan dan pabrik pangan karena menyerang bahan baku seperti tepung, kopra dan bungkil.

Klasifikasi :
Kingdom: Phylum: Class: Animalia Arthropoda Insecta

Order: Family: Genus: Species:

Coleoptera Silvanidae Oryzaephilus O. surinamensis

Morfologi : Oryzaephilus surinamensis dewasa berukuran antara 2,5 3,5 mm, tubuh ramping dan pipih. Kumbang ini berwarna coklat kemerah-merahan, antenanya terdiri atas 11 ruas dengan bentuk gada yang kompak. Pada kedua sisi bagian toraks terdapat 6 buah gerigi yang seperti gergaji. Elitron menutupi seluruh bag Ian abdomen. Abdomen hanya mempunyai 5 ruas yang terlihat dari bagian ventral. Tarsi kaki depan, tngah dan belakang terdiri dari 5 ruas.

Gambar Oryzaephilus surinamensis sumber dari internet

Gambar Oryzaephilus surinamensis sumber hasil praktikum Telur Oryzaephilus surinamensis diletakkan satu persatu atau dalam suatu kelompok pada biji-bijian komoditi atau pada celah atau retakan.

Gambar telur Oryzaephilus surinamensis

Larva Oryzaephilus surinamensis berukuran sampai 2,5 mm, berwarna putih sampai kuning pucat dengan bulu-bulu kasar. Larva mempunyai bagian kepala yang jelas dan menarik perhatian. Pada bagian toraks dan permukaan bagian dorsal abdomen terdapat gris lebar yang erwarna kekuning-kuningan dan hijau.

Gambar larva Oryzaephilus surinamensis. Image: Cereal Research Center, Agriculture and Agri-Food Canada.

Gambar larva Oryzaephilus surinamensis. Image: US Department of Agriculture, Agricultural Research Service.

Pupa Oryzaephilus surinamensis berukuran pupa hampir mendekati 1,5 mm, berwarna putih sampai putih pucat, dan bentuknya oval serta kelihatan kompak. Pupa ini terdapat di dalam kepompong yang terbuat dari butiran-butiran komoditi.

Gambar pupa Oryzaephilus surinamensis

Siklus Hidup : Siklus hidup kumbang Oryzaephilus surinamensis selama 25 hari pada kondisi yang optimum. Satu ekor kumbang betina mampu meletakkan telur sebanyak 400 telur (selama 10 minggu). Lamanya stadia telur antara 3-17 hari. Lamanya stadia larva antara 12 15 hari, sedangkan stadia pupa antara 10 12 hari. Kemampuan hidup serangga dewasa 6-10 bulan tetapi ada yang mampu hidup sampai 3 tahun.

Jenis Kerugian yang di timbulkan : Hama kumbang ini merupakan hama sekunder terhadap biji-bijian yang masih utuh dan hama primer pada biji-bijian yang masih utuh dan hama primer pada biji-bijian yang suh rusak atau yang sudah digiling. Material yang diserang

akan berlubang. Akibat serangan hama ini juga menyebabkan pemanasan pada komoditi yang diserangnya, sehingga merangsang tumbuhnya cendawan, yang diantaranya menghasilkan racun aflatoksin.

Tingkat intensitas serangan dan nilai kerugian : Belum ada data statistik yang pernah dilaporkan mengenai besarnya intensitas serangan dan nilai kerugian akibat serangan hama kumbang Oryzaephilus surinamensis ini.

Prefensi makanan : Kumbang ini menyerang padi-padian, kopra, beras, tepung, dedak, pecahan kulit biji gandum, rempah rempah, daging dan buah-buahan yang dikeringkan.

Ekologi hama : Kondisi optimu yang dibutuhkan oleh serangga hama ini pada temperatur lingkungan 30-35oC dan kelembapan relatif 70-90%. Pada temperatur 17,5oC dan kelembapan kurang dari 10%, kumbang ini masih dapat berkembang biak walaupun dengan lama siklus hidup yang lebih panjang. Pada suhu dibawah 0oC kumbang ini masih mampu hidup untuk waktu yang pendek.

Gejala serangan : Gejala yang ditimbulkan sama dengan krusakan akibat kumbang kopra, tetapi lubang gerekannya lebih sempit. Kumbang ini juga dapat merusak padi (gabah).

Cara pengendalian Menurut (Kartasapoetra, 1991). Secara umum, faktor yang mempengaruhi perkembangan dari hama pascapanen dibagi ke dalam 2 faktor : 1. Faktor luar (Eksternal) : terdiri dari iklim, makanan, musuh alami, dan manusia.

2. Faktor dalam (Internal); lebih banyak dipengaruhi oleh faktor genetik hama itu sendiri. Sifat struktur penyimpanan secara umum adalah kondisinya yang stabil dibandingkan lingkungan alami dan ketersediaan pangan yang melimpah. Karakter adakalanya penyimpanan terjadi ini menguntungkan sumber hama gudang, Serangga walaupun hama di

kelangkaan

makanan.

penyimpanan, terutama hama-hama penting adalah serangga yang telah teradaptasi pada lingkungan penyimpanan dengan baik, karena: habitat penyimpanan merupakan reservoir alaminya, toleransinya yang tinggi

terhadap faktor fisik di penyimpanan, keragaman perilaku makan pada berbagai bahan simpan, laju reproduksi yang tinggi, kemampuan yang tinggi dalam menemukan lokasi sumber makanan, kemampuan bertahan hidup dalam kondisi tanpa pangan, adaptasi morfologi yaitu ukuran kecil, bentuk pipih, dan gerakan cepat. Pada dasarnya tahap pencegahan dan pengendalian dapat dilakukan dengan dua cara yakni secara alami dan kimiawi (Anonim, 2009). Tahap Pencegahan Hama Gudang : 1. Menjaga kebersihan gudang Hama gudang menyukai tempat-tempat yang tersembunyi dan karena ukurannya yang kecil, secara sekilas sering tidak terlihat. Oleh karena itu pengusaha atau produsen beras hendaknya senantiasa menjaga kebersihan gudang mulai dari sejak di gudang penggilingan hingga gudang penyimpanan. Untuk menjaga kebersihan gudang dapat dilakukan hal berikut: - Memasang lantai keramik - Gudang harus selalu dibersihkan tiap hari dengan cara disapu dan dipel - Pintu gudang harus selalu tertutup - Petugas gudang harus melepas alas kaki saat masuk 2. Menjaga suhu dan kelembaban gudang Serangga biasanya memiliki kisaran suhu optimum termasuk dalam hal ini hama gudang baik jenis Sitophilus sp maupun Tribolium sp. Suhu optimum pertumbuhan hama gudang adalah 25-37.5C. Ketahanan hidup akan turun

drastis di luar kisaran tersebut. Disamping itu, kelembaban udara di gudang penyimpanan juga harus dijaga. 3. Kemasan kedap udara Semua makhluk hidup termasuk serangga memerlukan udara untuk aktivitas pernafasan. Oleh karena itu salah satu yang dapat dilakukan adalah dengan mendesain kemasan beras yang kedap udara. 4. Sistem Pengendalian Atmosfer Sistem ini dilakukan dengan mengubah komposisi udara dalam ruang penyimpanan. Konsentrasi oksigen dalam ruang penyimpanan dikondisikan serendah mungkin dan digantikan dengan gas lain dari luar seperti CO2 dan N2. Sistem ini sangat aman karena tidak menggunakan pestisida yang berbahaya bagi manusia. Apabila keadaan atmosfer dijaga pada kondisi oksigen rendah (kurang dari 2%, lebih disukai sekitar 0,5%) atau kadar CO2 yang tinggi (lebih besar dari 40%, lebih disukai pada 60%), biji-bijian aman disimpan dalam waktu lama dengan mutu yang tetap baik. 5. Menurunkan tingkat kadar air Kadar air biji berkorelasi positif dengan ketahanan hidup. Kadar air meningkat, kondisi lingkungan makin baik untuk serangga sehingga

ketahanan hidupnya pun meningkat.

Sebaliknya,

ketahanan hidup hama

pascapanen menurun bila kadar air biji rendah. Beras dengan kadar air kurang dari 14 persen akan lebih aman disimpan, sedangkan beras dengan kadar air lebih dari 14 persen akan menyebabkan perkembangbiakan mikroba dan serangga bertambah cepat 6. Meningkatkan derajat sosoh Serangga hama gudang sangat menyukai zat-zat yang terdapat dalam bekatul karena banyak mengandung lemak, protein, dan vitamin. Itu sebabnya beras dengan derajat sosoh rendah (masih banyak mengandung lapisan bekatul) mudah diserang hama gudang. 7. Mencegah kutu datang

Pencegahan

kutu

datang

juga

dapat

dilakukan

dengan

cara

menggantungkan kantong-kantong berisi cabe merah kering atau daun jeruk purut.

Tahap Pengendalian Hama Gudang 1. Fumigasi Fumigasi adalah suatu cara membunuh serangga hama gudang dengan mengunakan senyawa kima (Fumigan). Fumigan berbentuk gas yang dalam konsentrasi tertentu dapat membunuh hama. Fumigasi dapat membunuh hama melalui sistem pernafasan. Daya bunuhnya tergantung pada aktivitas pernafasan sehingga paling efektif pada serangga dengan aktivitas pernafasan tinggi. Setelah gas hilang (fumigasi selesai), tidak ada residu yang dapat mencegah serangan hama. Fumigasi dapat dilakukan pada bahan pangan yang ditutup rapat dengan lembaran plastik fumigasi (stack fumigation). Cara lain adalah fumigasi pada penyimpanan yang kedap udara. Dengan demikian, fumigasi perlu dilakukan secara kontinyu. 2. Penyemprotan Insektisida Tindakan ini biasanya dilakukan pada bahan pangan yang telah difumigasi. Penyemprotan insektisida dilakukan sebagai tindakan yang

bersifat kuratif yaitu dengan menyemprotkan insektisida pada dinding gudang dan langit-langit gudang. Cara yang hampir sama dengan penyemprotan insektisida adalah pengkabutan (fogging) dengan mengubah insektisida cair menjadi kabut sehingga dapat membunuh serangga yang berterbangan di gudang. 3. Penyampuran Insektisida secara Langsung pada Bahan Pangan Pada penyimpanan skala besar cara penyampuran insektisida ini hanya dapat dilaksanakan pada sistem penyinpanan curah (bulk storage). 4. Penggunaan Bahan Alami dan Cara Biologi Untuk pengendalian hama gudang secara alami, kita bisa

menggunakan tanaman-tanaman yang berfungsi sebagai pestisida nabati, seperti daun dan biji srikaya atau juga biji saga. Selain menggunakan ekstrak alami tanaman (ekstrak tanaman minyak nabati), dapat juga menggunakan abu,

mineral, dan bahan lainnya (silica gel). Memang diakui bahwa daya bunuh pestisida nabati ini tidak sehebat pestisida kimia tapi jika kita peduli terhadap keamanan dan kesehatan bahan pangan maka pestisida nabati ini bisa menjadi alternatif. Memang perlu ada penelitian lebih lanjut untuk skala produksi karena selama ini penelitian-penelitian tentang efektivitas pestisida nabati mengendalikan hama gudang masih skala laboratorium. dalam