Anda di halaman 1dari 85

ProsPek dan arah Pengembangan agribisnis : rangkuman kebutuhan investasi

AGRO INOVASI

I. PENDAHULUAN
Program Revitalisasi Pertanian yang dicanangkan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada tanggal  Juni 2005 dilatarbelakangi oleh fakta empiris bahwa sektor pertanian, perikanan dan perkebunan masih tetap berperan vital dalam mewujudkan tujuan nasional untuk memajukan kesejahteraan umum, namun vitalita s kinerjanya kini cenderung mengalami degradasi sehingga perlu segera direvitalisasi secara sungguh-sungguh. Revitalisasi pertanian merupakan pernyataan politik pemerintah untuk menjadikan sektor pertanian sebagai prioritas pembangunan nasional. Agenda pokok Revitalisasi Pertanian ialah membalik tren penurunan dan mengakselerasi peningkatan produksi dan nilai tambah usaha pertanian. Faktor kunci untuk itu ialah peningkatan dan perluasan kapasitas produksi melalui renovasi, penumbuhkembangan dan restrukturisasi agribisnis, kelembagaan maupun infrastruktur penunjang. Peningkatan dan perluasan kapasitas produksi diwujudkan melalui investasi bisnis maupun investasi infrastruktur. Pada intinya, investasi adalah modal yang digunakan untuk meningkatkan atau memfasilitasi peningkatan kapasitas produksi. Pemerintah bukanlah pelaku usaha. Usaha ekonomi sebesarbesarnya dilaksanakan oleh swasta, baik perorangan (masyarakat) maupun perusahaan. Oleh karena itu, investasi usaha sepenuhnya dilakukan oleh swasta. Peran pemerintah terutama adalah dalam pembangunan infrastruktur publik, insentif dan regulasi yang esensial untuk pertumbuh-kembangan perusahaan swasta. Investasi infrastruktur yang dilaksanakan pemerintah merupakan komplementer dan fasilitator bagi investasi usaha yang dilaksanakan pengusaha. Tujuan swasta melakukan investasi ialah untuk memperoleh laba sebesar-besarnya. Informasi mengenai peluang bidang usaha dan lokasi yang prospektif untuk meraih laba amatlah esensial bagi investor swasta. Termasuk dalam hal ini adalah arah kebijakan pemerintah yang akan menentukan ketersediaan fasilitasi pendukung, utamanya infrastruktur publik dan insentif berusaha.


AGRO INOVASI

ProsPek dan arah Pengembangan agribisnis : rangkuman kebutuhan investasi

Sehubungan dengan itu, sebagai salah satu agenda operasionalisasi Revitalisasi Pertanian, Departemen Pertanian melalui Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian mengambil tindakan proaktif menerbitkan buku tentang arah kebijakan dan prospek investasi untuk 7 komoditas pertanian, usaha jasa alat dan mesin pertanian, serta potensi pengembangan lahan pertanian yang dipandang diperlukan oleh swasta dalam merencanakan investasinya. Buku ini merupakan ringkasan dari 20 buku tersebut. Investor yang berminat memperoleh informasi lebih rinci tentang komoditas tertentu dapat membaca buku tentang komoditas tersebut.

ProsPek dan arah Pengembangan agribisnis : rangkuman kebutuhan investasi

AGRO INOVASI

II. VISI, ARAH DAN PETA JALAN PEMBANGUNAN PERTANIAN


Visi pembangunan pertanian jangka panjang dirumuskan sebagai berikut: Terwujudnya sistem pertanian industrial berdaya saing, berkeadilan dan berkelanjutan guna menjamin ketahanan pangan dan kesejahteraan masyarakat pertanian. Tujuan akhir pembangunan pertanian adalah mewujudkan masyarakat pertanian sejahtera. Oleh karena itu, pembangunan jangka panjang sektor pertanian diorientasikan pada peningkatan kualitas hidup masyarakat pertanian dengan sasaran sebagai berikut: ). Terwujudnya sistem pertanian industrial yang berdayasaing Sistem pertanian industrial dicirikan oleh usaha pertanian bernilai tambah tinggi dan terintegrasi dalam satu rantai pasok (supply chain) berdasarkan relasi kemitraan sinergis dan adil dengan bertumpu pada sumberdaya nasional, kearifan lokal serta ilmu pengetahuan dan teknologi berwawasan lingkungan. Sistem pertanian industrial adalah sosok pertanian ideal yang merupakan keharusan agar usaha pertanian dapat bertahan hidup dan tumbuh berkembang secara berkelanjutan dalam tatanan lingkungan persaingan global yang makin ketat. 2). Mantapnya ketahanan pangan secara mandiri Mantapnya ketahanan pangan secara mandiri berarti terpenuhinya pasokan pangan dan terjaminnya akses pangan sesuai kebutuhan bagi seluruh masyarakat dengan mengandalkan produksi dalam negeri dan kemampuan daya beli masyarakat. Upaya pemantapan ketahanan pangan tidak boleh merugikan, malah harus didasarkan sebagai bagian integral dari upaya peningkatan kesejahteraan petani. ). Terciptanya kesempatan kerja penuh bagi masyarakat pertanian Dalam jangka panjang diharapkan seluruh angkatan kerja pertanian mendapatkan pekerjaan penuh sehingga pengangguran terbuka maupun terselubung tidak lagi terjadi secara permanen. Faktor


AGRO INOVASI

ProsPek dan arah Pengembangan agribisnis : rangkuman kebutuhan investasi

kunci untuk itu ialah meningkatnya kesempatan kerja di pedesaan dan berkembangnya tekanan penyerapan tenaga kerja di pertanian. ). Terhapusnya masyarakat pertanian dari kemiskinan dan tercapainya pendapatan petani US$ 2500/kapita/tahun. Berkurangnya jumlah masyarakat tani miskin dan meningkatnya pendapatan petani merupakan prasyarat terwujudnya kesejahteraan masyarakat tani yang menjadi sasaran akhir pembangunan pertanian. Ini hanya dapat diwujudkan melalui peningkatan skala usahatani, peningkatan produktivitas dan pengurangan tekanan penduduk pada usaha pertanian. Garis-garis besar kebijakan yang akan dilakukan adalah: ). Membangun basis bagi partisipasi petani Basis partisipasi petani perlu dibangun dengan kuat agar mereka mampu berpartisipasi aktif dalam pembangunan sehingga mampu memperoleh hasil sebesar-besarnya dan terdistribusi secara adil dan merata. Basis partisipasi petani untuk mengakses modal, faktor-faktor produksi serta insentif dan fasilitasi kebijakan pemerintah dibangun agar petani mampu mengaktualisasikan kegiatan usahataninya secara optimal untuk menunjang peningkatan pendapatannya. Untuk itu, peraturan keagrariaan akan digunakan, individu petani akan diberdayakan dan organisasi petani akan ditumbuh-kembangkan. 2). Meningkatkan potensi basis produksi dan skala usaha pertanian Basis usaha pertanian ditingkatkan melalui revitalisasi, ekstensifikasi dan diversifikasi utamanya pembukaan areal baru khususnya di Luar Jawa, dengan memacu investasi swasta baik usaha pertanian rakyat maupun perusahaan besar pertanian yang bermitra dengan usaha pertanian rakyat dengan dukungan fasilitasi komplementer dan insentif dari pemerintah. Peningkatan potensi basis produksi dikembangkan dengan sasaran peningkatan skala usaha, peningkatan dan perluasan kapasitas produksi agregat dan penyeimbangan pemanfaatan lahan antar wilayah di Indonesia. Peningkatan skala usaha pertanian juga dilakukan melalui pengembangan usaha kooperatif,


ProsPek dan arah Pengembangan agribisnis : rangkuman kebutuhan investasi

AGRO INOVASI

serta penyediaan lapangan kerja non-pertanian guna mengurangi tekanan tenaga kerja terhadap pertanian utamanya melalui pengembangan industri di pedesaan. ). Mewujudkan pemenuhan kebutuhan sumberdaya insani pertanian yang berkualitas Peningkatan kualitas sumberdaya manusia ini difokuskan pada peningkatan kemampuan penguasaan teknologi, kewirausahaan dan manajemen usaha tani melalui pengembangan sistem pendidikan dan penyuluhan pertanian. Kebijakan ini diimplementasikan dalam bentuk revitalisasi sistem pendidikan dan penyuluhan pertanian guna menciptakan insan pertanian berkualitas yang mampu menguasai dan menerapkan teknologi serta mengelola usahataninya secara efisien. ). Mewujudkan pemenuhan kebutuhan infrastruktur pertanian Kebutuhan infrastruktur pertanian utamanya sarana irigasi, jalan pertanian dan pedesaan, kelistrikan dan telekomunikasi pedesaan serta pasar pertanian yang bersifat publik dibangun selengkap mungkin oleh pemerintah dengan memberikan kesempatan kepada swasta untuk turut berpartisipasi pada bidang-bidang tertentu yang mungkin diusahakan secara komersial. 5). Mewujudkan sistem pembiayaan pertanian tepat guna Sistem pembiayaan pertanian yang sesuai dengan karakteristik petani dibangun dengan menumbuh kembangkan lembaga keuangan khusus yang melayani pertanian, baik berupa bank pertanian maupun lembaga keuangan mikro. Pemerintah akan memberikan dukungan dan insentif mencakup perlakuan khusus dan berbeda, penjaminan kredit dana talangan dan subsidi harga. 6). Mewujudkan sistem inovasi pertanian Sistem inovasi pertanian dibangun dengan lembaga penelitian pemerintah sebagai penggerak utamanya dan lembaga penelitian swasta sebagai komplementaritasnya. Sistem inovasi pertanian mengintegrasikan lembaga penelitian penghasil IPTEK dasar,
5

AGRO INOVASI

ProsPek dan arah Pengembangan agribisnis : rangkuman kebutuhan investasi

lembaga pemerintah atau swasta sebagai pengganda dan penyalur IPTEK, lembaga penyuluhan sebagai fasilitator penerimaan IPTEK tersebut oleh petani. Penguasaan bioteknologi diperlukan dalam rangka membangun sistem produksi yang mampu merespon preferensi konsumen untuk meningkatkan daya saing produk yang bersangkutan. Pada akhir tahun 2025, bioteknologi akan menjadi penggerak utama sistem pertanian industrial. 7). Penyediaan sistem insentif dan perlindungan bagi petani Penyediaan insentif dan perlindungan bagi petani dilakukan untuk merangsang peningkatan produksi, investasi dan efisiensi usaha pertanian melalui kebijakan mikro maupun makro meliputi kebijakan insentif subsidi dan perlindungan harga input dan output, fiskal, moneter dan perdagangan. Kebijakan insentif mencakup pemberian jaminan harga, subsidi dan keringan pajak. Perlindungan bagi petani mencakup pengamanan dari praktek perdagangan yang tidak adil, resiko pasar dan gagal panen akibat anomali iklim. 8).vMewujudkan sistem usahatani bernilai tinggi melalui intensifikasi diversifikasi dan pewilayahan pengembangan komoditas unggulan Usaha pertanian rumah tangga diarahkan untuk mengembangkan sistem usaha intensifikasi diversifikasi atau multi usaha intensif. Regionalisasi pengembangan komoditas unggulan diarahkan untuk meningkatkan efisiensi pemanfaatan sumberdaya pertanian dan mendorong investasi baru berdasarkan keunggulan komparatif wilayah. Dalam kaitan dengan efisiensi pemanfaatan sumberdaya pertanian. Sesuai dengan perubahan struktur perekonomian maka pertanian di Jawa diarahkan untuk pengembangan komoditas bernilai tinggi (high value commodities) seperti hortikultura, sedangkan pengembangan komoditas pangan diarahkan ke Kalimantan, Sulawesi dan Sumatera. Pengembangan komoditas perkebunan diarahkan ke Papua dan Maluku. Pengembangan komoditas peternakan berbasis lahan diarahkan ke Bali dan Nusa Tenggara

ProsPek dan arah Pengembangan agribisnis : rangkuman kebutuhan investasi

AGRO INOVASI

9). Mewujudkan agroindustri berbasis pertanian domestik di pedesaan Kebijakan ini diarahkan untuk meningkatkan nilai tambah disepanjang alur vertikal sistem komoditas pertanian melalui pengembangan produk agroindustri berbasis sumberdaya domestik dan ilmu pengetahuan dan teknologi inovasi serta berlokasi di pedesaan. Dengan terwujudnya agroindustri, maka kontribusi sektor pertanian terhadap nilai tambah dan kesempatan kerja terhadap perekonomian pedesaan makin meningkat. Agroindustri akan menjadi satu pilar sistem pertanian industrial yang akan menjadi pondasi struktur ekonomi nasional pada akhir tahun 2025. 0). Mewujudkan sistem rantai pasok terpadu berbasis kelembagaan pertanian yang kokoh Pengembangan rantai pasok terpadu komoditas pertanian secara vertikal dibangun berdasarkan sistem kemitraan yang sehat dan adil. Pemerintah bertindak sebagai fasilitator dan regulator yang kredibel dan adil untuk mewujudkan pertumbuhan sektor pertanian yang berkelanjutan. Pengembangan rantai pasok tersebut harus berbasis kelembagaan pertanian yang kokoh sebagai perekat relasi semua komponen di dalam sistem pertanian industrial. Kelembagaan pertanian dibangun berdasarkan prinsip kemitraan setara, sehat dan berkeadilan. ). Menerapkan praktek pertanian dan manufaktur yang baik Praktek pertanian yang baik merupakan salah satu prasyarat untuk mewujudkan sistem pertanian industrial berdaya saing dan berwawasan lingkungan. Mutu produk pertanian harus dapat dijamin dan ditelusuri sesuai dengan standar persyaratan internasional. Untuk itu pemerintah akan menyusun protokol teknis dan insentif untuk merangsang penerapannya. 2). Mewujudkan pemerintahan yang baik, bersih dan berpihak kepada petani dan pertanian Pemerintahan yang baik dan bersih mutlak perlu untuk mewujudkan visi pertanian di atas. Cara penyelenggaraan pemerintahan yang baik (good governance) sangat diperlukan dalam pelaksanaan
7

AGRO INOVASI

ProsPek dan arah Pengembangan agribisnis : rangkuman kebutuhan investasi

pembangunan pertanian, yaitu : bersih (clean), berkemampuan (competent), terpercaya (credible) dan secara publik dapat dipertanggungjawabkan (accountable). Faktor kunci untuk itu ialah penghayatan dan pengamalan ruh pembangunan pertanian yakni bersih dan peduli. Berdasarkan visi, sasaran dan arah kebijakan di atas maka peta jalan (road map) transformasi usaha menuju sistim pertanian industri dapat digambarkan seperti pada gambar . Sasaran akhir adalah terwujudnya sistem pertanian industrial yang dapat dibedakan menjadi tiga bentuk: a. Perusahaan besar pertanian terintegrasi (konglomerat pertanian terpadu) b. Perusahaan besar pertanian terkoordinasi c. Rantai pasok terpadu berbasis usaha pertanian kecil/mikro. Pendorong kunci (key driving forces), proses dan lintasan menuju sasaran akhir tersebut tergantung pada kondisi awal dan tahapan.

Pengusaha Besar Pertanian

Pengusaha Agro Industri Primer Perorangan Konglomerat Agribisnis Terpadu

Pengusaha Agro Industri Sekunder Terpadu

Skala Pengusaha Agro Industri Primer Terkoordinasi Perusahaan Agro Industri Sekunder Terkoordinasi Perusahaan Agribisnis Terkoordinasi

Integrasi Organisasi

Perusahaan Pertanian Skala Menengah

Usahatani Skala Kecil / Mikro Usahatani Multi Komoditas Usahatani Kooperatif Multi Komoditas

Perusahaan Agro Industri Primer Skala Kecil / Mikro Perusahaan Agro Industri Skala Kecil/ Mikro

Rantai Pasok Komoditas Olah Terpadu

ProsPek dan arah Pengembangan agribisnis : rangkuman kebutuhan investasi

Pendorong kunci: ~ Migrasi ke luar ~ Inovasi Teknologi ~ Transformasi ekonomi Proses / mekanisme ~ Perluasan basis produksi ~ Optimalisasi skala usaha Peningkatan niali tambah/pendalaman industri

Rantai Pasok Komoditas Primer Terpadu

Pendorong kunci: ~ Inovasi iptek ~ Revolusi super-hipper market ~ Revolusi ICT ~ Globalisasi

Proses: ~ Diversifikasi ~ Industrialisasi ~ Organisasi ~ Koordinasi integrasi

2025

Gambar . Peta jalan proses transformasi menuju sistem pertanian industrial

AGRO INOVASI

AGRO INOVASI

ProsPek dan arah Pengembangan agribisnis : rangkuman kebutuhan investasi

III. POTENSI SUMBER DAYA ALAM


A. Potensi Lahan Basah dan Lahan Kering Potensi sumberdaya lahan yang akan dibahas berikut ini adalah hasil analisis terhadap dua peta/data yaitu () peta arahan tata ruang pertanian nasional pada skala :.000.000, dan (2) peta arahan tata ruang pertanian provinsi pada skala :250.000. Provinsi yang telah tersedia peta arahan tata ruang pertaniannya pada skala :250.000 mencakup 20 provinsi, yaitu seluruh Sumatera (9 provinsi), Jawa dan Bali (7 provinsi), Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Sulawesi Tenggara, dan Sulawesi Selatan, sedangkan provinsi lainnya masih dalam skala :.000.000. Dengan demikian data potensi sumberdaya lahan di Sumatera, Jawa, Bali, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Sulawesi Tenggara, dan Sulawesi Selatan dapat dipakai untuk perencanaan tingkat regional/provinsi, sedangkan pada provinsi lainnya hanya dapat dipakai untuk perencanaan tingkat nasional. Analisis potensi sumberdaya lahan menggunakan beberapa karakteristik lahan seperti tanah, bahan induk, bentuk wilayah, iklim, dan ketinggian tempat. Lahan yang sesuai untuk budidaya pertanian dikelompokkan berdasarkan jenis tanaman yaitu untuk lahan basah dan lahan kering adalah tanaman semusim dan tanaman tahunan atau tanaman perkebunan. Pengelompokkan lahan secara garis besar ditentukan oleh bentuk wilayah dan kelas lereng. Tanaman pangan diarahkan pengembangannya pada lahan dengan bentuk wilayah datar-bergelombang (lereng <5%) dan tanaman tahunan/ perkebunan pada lahan bergelombang-berbukit (lereng 5-0%). Namun kenyataannya, banyak lahan datar-bergelombang digunakan untuk tanaman tahunan atau tanaman perkebunan, sehingga tanaman pangan (tegalan) tersisihkan. Oleh karena itu banyak tanaman pangan diusahakan di lahan berbukit hingga bergunung, bahkan di kawasan hutan (kawasan lindung). Berdasarkan kondisi biofisik lahan (bentuk wilayah, lereng, iklim), dari total daratan Indonesia seluas 88,2 juta ha, lahan yang
0

ProsPek dan arah Pengembangan agribisnis : rangkuman kebutuhan investasi

AGRO INOVASI

sesuai untuk pertanian adalah seluas 9 juta ha, yaitu 25, juta ha untuk pertanian lahan basah (sawah) dan 68,6 juta ha untuk pertanian lahan kering (Tabel ). Dari 9 juta ha lahan yang sesuai untuk pertanian, 0,7 juta ha berpeluang untuk perluasan areal, 8, juta ha untuk lahan sawah, 7, juta ha untuk pertanian lahan kering tanaman semusim, dan 5, juta ha untuk tanaman tahunan atau tanaman perkebunan (Tabel 2). 1. Lahan basah Lahan basah adalah lahan yang secara biofisik sesuai untuk sawah, meliputi lahan sawah yang sudah ada, lahan rawa, dan lahan non-rawa yang memungkinkan untuk digenangi atau diirigasi. Luas lahan basah yang sesuai untuk sawah adalah 25, juta ha, yang terluas terdapat di Papua (7, juta ha), kemudian Kalimantan Tengah (2, juta ha), Kalimantan Barat (,8 juta ha), Jawa Tengah (,6 juta ha), Jawa Timur (,5 juta ha), Riau (, juta ha), dan provinsi lainnya di bawah  juta ha (Tabel ). Dari total luas lahan 25, juta ha yang sesuai untuk sawah, 7,79 juta ha telah digunakan untuk sawah dan 9, juta ha digunakan untuk keperluan lainnya (non-sawah, pemukiman, kawasan industri, infrastruktur), sehingga secara spasial masih tersisa lahan yang sesuai untuk perluasan areal sawah seluas 8,28 juta ha (Tabel 2). Di Jawa Tengah dan Jawa Timur terdapat lahan yang sesuai untuk sawah, tetapi sudah terpakai untuk perluasan sawah dan penggunaan lainnya. Untuk perluasan sawah di Jawa terdapat lahan seluas .000 ha, sekitar 7.000 ha di antaranya terdapat di Jawa Barat. Melihat kondisi lahan yang demikian, praktis perluasan areal sawah di Jawa sulit untuk dilakukan. Peluang terbesar perluasan lahan sawah terdapat di Papua, yaitu sekitar 5,2 juta ha, namun memerlukan investasi yang cukup tinggi mengingat masalah transportasi masih terbatas. Daerah lain yang berpeluang untuk perluasan sawah adalah Kalimantan seluas , juta ha, sekitar 70.000 ha di antaranya merupakan sawah rawa, baik sawah pasang surut maupun sawah lebak. Di Kalimantan, lahan


AGRO INOVASI

ProsPek dan arah Pengembangan agribisnis : rangkuman kebutuhan investasi

yang terluas untuk perluasan sawah terdapat di Kalimantan Tengah, yaitu 66.000 ha, 69.000 ha di antaranya untuk sawah non-rawa dan 77.000 ha untuk sawah rawa. Di Sumatera terdapat 960.000 ha lahan yang berpeluang untuk perluasan sawah, yang terluas terdapat di Sumatera Selatan (25.000 ha), kemudian Riau dan Jambi (masing-masing sekitar 90.000 ha). Di Sumatera Selatan peluang terbesar untuk perluasan sawah terdapat di lahan rawa (95.000 ha). Di Sulawesi terdapat 2.000 ha lahan yang berpeluang untuk perluasan sawah, semuanya merupakan lahan non-rawa. Lahan basah tersebut selain sesuai untuk padi sawah juga sesuai untuk palawija (jagung, kedelai). Lahan sawah di daerah beriklim agak kering (curah hujan <.500 mm/tahun) yang umumnya terdapat di dataran Aluvial dapat pula dikembangkan untuk budi daya bawang merah. 2. Lahan kering Lahan kering didefinisikan sebagai hamparan lahan yang tidak pernah tergenang hampir sepanjang waktu. Terdapat 68,6 juta ha lahan kering yang sesuai untuk pertanian, 25,09 juta ha di antaranya untuk tanaman semusim dan ,55 juta ha untuk tanaman tahunan. Namun karena keterbatasan data spasial, sampai saat ini belum diketahui secara pasti luas lahan kering yang telah digunakan untuk pertanian. Meskipun demikian, sebagai perkiraan telah digunakan peta penggunaan lahan skala :.000.000 untuk mengidentifikasi lahan yang saat ini masih ditumbuhi alang-alang atau dalam kondisi semak belukar. Peta tersebut ditumpangtepatkan (overlay) dengan peta arahan tata ruang pertanian, sehingga dapat diperkirakan lahan kering yang masih tersedia untuk perluasan areal pertanian, yaitu seluas 22,9 juta ha, yang terdiri dari 7,08 juta ha untuk pertanian tanaman semusim dan 5, juta ha untuk pertanian tanaman tahunan (Tabel 2).

2

ProsPek dan arah Pengembangan agribisnis : rangkuman kebutuhan investasi

AGRO INOVASI

Terdapat 25,09 juta ha lahan kering yang sesuai untuk tanaman semusim, yang terluas terdapat di Kalimantan Timur (5,5 juta ha), kemudian di Papua (,2 juta ha), Sumatera Utara (2,8 juta ha), Sumatera Selatan (,6 juta ha), Kalimantan Barat (,7 juta ha), Lampung (, juta ha), dan provinsi lainnya di bawah  juta ha. Dari total luas lahan kering yang sesuai untuk tanaman semusim (25, juta ha), sebagian besar telah digunakan untuk lahan pertanian dan untuk keperluan lainnya (pemukiman, kawasan industri, infrastruktur, dll), sehingga secara spasial masih tersisa lahan kering yang sesuai untuk perluasan areal tanaman semusim seluas 7,08 juta ha. Meskipun di Jawa ketersediaan lahan kering yang sesuai untuk pengembangan tanaman semusim cukup luas, namun untuk perluasan areal sangat terbatas karena sudah terpakai untuk keperluan berbagai penggunaan. Di Jawa terdapat sekitar 0.000 ha lahan kering untuk perluasan areal tanaman semusim, sekitar 26.000 ha di antaranya terdapat di Jawa Timur. Berdasarkan data ini maka perluasan areal tanaman semusim pada lahan kering di Jawa sulit dilakukan. Peluang terbesar perluasan areal tanaman semusim pada lahan kering terdapat di Kalimantan, yaitu ,6 juta ha, yang terluas di Kalimantan Timur (,88 juta ha) dan diikuti oleh Kalimantan Barat (856.000 ha). Peluang lain untuk perluasan areal tanaman semusim pada lahan kering adalah di Papua, yaitu ,69 juta ha, kemudian Sumatera Utara (29.000 ha). Di provinsi lainnya, peluang perluasan areal di bawah 00.000 ha (Tabel 2). Luas lahan kering yang sesuai untuk tanaman tahunan atau tanaman perkebunan mencapai ,55 juta ha, yang terluas terdapat di Papua (5,76 juta ha), kemudian diikuti oleh Kalimantan Tengah (,7 juta ha), Kalimantan Barat (,5 juta ha), Riau (,27 juta ha), Kalimantan Timur (,6 juta ha), Jambi (2, juta ha), Sumatera Selatan (2,2 juta ha), dan provinsi lainnya di bawah ,5 juta ha (Tabel ). Dari total luas lahan kering yang sesuai untuk tanaman tahunan (,55 juta ha), seperti halnya lahan untuk tanaman semusim, sebagian besar telah digunakan untuk lahan pertanian dan keper-



AGRO INOVASI

ProsPek dan arah Pengembangan agribisnis : rangkuman kebutuhan investasi

luan lainnya (pemukiman, kawasan industri, infra-struktur, dll), sehingga secara spasial masih tersisa untuk perluasan areal tanaman tahunan atau tanaman perkebunan seluas 5, juta ha (Tabel 2). Dibandingkan dengan di pulau lainnya, di Jawa terbatas lahan yang dapat digunakan untuk perluasan areal tanaman tahunan, yaitu sekitar 58.000 ha, 00.000 ha di antaranya terdapat di Jawa Barat dan Banten. Peluang terbesar perluasan areal tanaman tahunan terdapat di Kalimantan, yaitu seluas 7,27 juta ha, yang terluas di Kalimantan Timur (2, juta ha), diikuti oleh Kalimantan Tengah (2,66 juta ha), dan Kalimantan Barat (,77 juta ha). Wilayah lain yang memiliki peluang bagi perluasan areal tanaman tahunan adalah Papua dengan luasan 2,79 juta ha, kemudian Sumatera Selatan seluas 72.000 ha. Di provinsi lainnya, peluang perluasan areal di bawah 500.000 ha.



ProsPek dan arah Pengembangan agribisnis : rangkuman kebutuhan investasi

AGRO INOVASI

Tabel . Total luas lahan yang sesuai untuk pertanian lahan basah, lahan kering tanaman semusim, dan lahan kering tanaman tahunan
Pulau/ Provinsi . NAD 2. Sumut . Riau . Sumbar 5. Jambi 6. Sumsel 7. Babel 8. Bengkulu 9. Lampung Sumatera 0. DKI Jakarta . Banten 2. Jabar . Jateng . DI Yogyakarta 5. Jatim Jawa 6. Bali 7. NTB 8. NTT Bali dan NT 9. Kalbar 20. Kalteng 2. Kalsel 22. Kaltim Kalimantan 2. Sulut 2. Gorontalo 25. Sulteng 26. Sulsel 27. Sultra Sulawesi 28. Papua 29. Maluku 0. Maluku Utara Maluku dan Papua Indonesia Keterangan : LB-Semusim 6.989 65.707 .2.65 5.2 666.09 986.997 20.5 78.82 505.982 5.187.909 .267 9.659 982.76 .59.6 0.0 .88.9 4.366.736 26.78 5.879 99.202 479.829 .85.66 2.25.595 902.270 7.02 5.416.543 27.92 8.069 6.565 97.26 69.5 1.930.187 7.0.07 2.22 7.605 8.040.334 25.421.538 Lahan Pertanian (ha) LK-Semusim*) 702.00 2.802.25 5.07 9.85 2.0 .589.526 6.5 .5.09 7.747.637 7. .98 265.05 79.067 8.286 886.56 1.964.103 07.59 5.6 786.798 1.229.525 .682.959 77.89 98.5 5.5.57 8.953.235 2.02 98.05 9.26 22.75 29.5 790.983 .8.87 7.565 .97 4.403.412 25.088.895 LK-Tahunan**) 829.09 920.69 .267.05 725.285 2..9 2.98.079 79.05 62.725 52.89 13.182.265 0 97.06 88.8 95.7 75.568 988.08 2.774.498 60.69 269.856 .200.2 1.630.891 .507.898 .7.52 87.060 .598.562 13.668.043 759.762 20.980 .7.5 826.669 62.8 3.787.147 5.758.80 .258.2 .500.079 8.516.790 43.559.634 Total (ha) .978.068 .58.8 5.92.777 .79.25 .02.2 .77.602 9.69 .5.0 2.5.65 26.117.811 8.698 592.67 2.066.57 2.879.660 85.26 .62.887 9.105.337 95.02 758.87 2.86.2 3.340.245 8.006.9 7.770.07 2.70.8 9.557.78 28.037.821 98.986 92.5 2.080.0 2.086.290 .00.8 6.508.317 7.5.760 .65.8 .96.658 20.960.536 94.070.067

*) **)

LK-Semusim juga sesuai untuk tanaman tahunan LK-Tahunan pada lahan kering dan sebagian gambut

5

AGRO INOVASI

ProsPek dan arah Pengembangan agribisnis : rangkuman kebutuhan investasi

Tabel 2. Luas lahan yang sesuai untuk perluasan areal pertanian lahan basah, lahan kering tanaman semusim, dan lahan kering tanaman tahunan
Pulau/ Provinsi Rawa LB-semusim (ha) LK-Semusim*) LK-Tahunan**) Total (ha) Non rawa Total (ha) (ha) (ha ) 282.09 .29 78.66 29.75 .972 67.22 252.980 896.25 .5.225 55.8 0.6 75.776 77. 258.997 6.8 07.225 2.86 967.6 225.70 25.277 88.078 209.05 20.02 26.98 2.02 87.9 1.311.776 3.226.785 5.499.407 0 0 0  5.757 56.557 .87 8.090 60.0 8.966 20.65 0.922 26.9 5.5 66.00 40.544 158.953 213.890 .09 7.659 80.628 22.5 529.57 558.9 137.659 610.165 796.746 856.68 .770.09 2.809.575 0.980 2.66.50 .709.888 9.79 09.0 .28.57 .886.26 2..29 .59.55 3.639.403 7.272.049 12.307.390 5.09 .5 6.592 20.257 7.29 95.8 .527 69.725 266.05 99.72 9.7 06.58 2.056 215.452 601.180 1.239.604 .688.587 2.790.2 9.665.699 0.8 562.06 50.9 20.80 8.890 1.738.978 3.440.973 10.612.651 7.083.811 15.310.104 30.669.688

NAD .660 6.60 68.26 Sumut 6.700 68.800 75.500 Riau 6.00 9.700 86.000 Sumbar 9.52 70.695 0.07 Jambi 0.500 56.600 97.000 Sumsel 95.72 9.650 25.9 Babel 0 25.807 25.807 Bengkulu 0 22.80 22.80 Lampung 22.500 7.500 0.000 Sumatera 354.854 606.193 960.847 DKI Jakarta 0 0 Banten .88 .88 Jabar 7.7 7.7 Jateng .02 .02 DI Yogyakarta Jatim .56 .56 Jawa 0 14.393 14.393 Bali 0 .09 .09 NTB 0 6.27 6.27 NTT 0 28.58 28.58 Bali dan NT 0 48.922 48.922 Kalbar 7.279 8.89 8.098 Kalteng 77.9 69.20 66.97 Kalsel 2.0 2.27 .68 Kaltim 67.276 6.87 2.76 Kalimantan 730.160 665.779 1.395.939 Sulut 0 26.67 26.67 Gorontalo 0 20.257 20.257 Sulteng 0 9.825 9.825 Sulsel 0 6.0 6.0 Sultra 0 2.22 2.22 Sulawesi 0 422.972 422.972 Papua .89.66 .29.6 5.87.000 Maluku 0 2.680 2.680 Maluku Utara 0 2.020 2.020 Maluku+Papua 1.893.366 3.539.334 5.432.700 Indonesia 2.978.380 5.297.593 8.275.773

Keterangan :

*) **)

LK-Semusim juga sesuai untuk tanaman tahunan LK-Tahunan pada lahan kering dan sebagian gambut

6

ProsPek dan arah Pengembangan agribisnis : rangkuman kebutuhan investasi

AGRO INOVASI

B. Potensi Lokasi Pengembangan Komoditas Berikut diinformasikan luas lahan yang sesuai untuk perluasan areal pertanian berdasarkan permintaan dan arahan pengembangan ke depan (200-2025) dari Pusat Penelitian dan Pengembangan Komoditas lingkup Badan Litbang Pertanian. Peluang perluasan areal hanya dihitung untuk  komoditas pada provinsi prioritas (Tabel ). Ke  komoditas tersebut, adalah: padi sawah, padi gogo, jagung, kedelai, bawang merah, pisang, jeruk, kelapa sawit, karet, kakao, tebu, kelapa, dan cengkeh. Pada provinsi lain, kemungkinan perluasan areal untuk komoditas-komoditas tersebut masih ada, namun tidak masuk ke dalam cakupan bahasan buku ini. Untuk rimpang (tanaman obat) tidak tersedia data potensi sumberdaya lahan. Ternak dan anggrek tidak berbasis lahan sehingga tidak dibahas dalam buku ini.

7

8
AGRO INOVASI

Tabel . Luas lahan yang sesuai untuk perluasan areal pertanaman  komoditas pertanian pada provinsi prioritas
Luas lahan untuk perluasan areal (Ha) Kedelai Bw Merah Pisang Jeruk Klp Sawit Karet 9.60 Kakao Tebu Kelapa Cengkeh Jumlah 0.820 .20 .7 98 2.8 70.659 7.29 9.000 6.000 2.565 25.9 88.587 88.680 80.25 0.96 .75.29 .08.9 27.87.72 .90 5.60 59.260 5.000 20.000 252.870 80.25 00.0 0.90 00.00 558.000 .90 5.6 59.26 9.65 250.57 252.87 80.25 09.000 0.92 89.0 82.780 08.6 9.60 7.855 879.000 505.75 760.0 607.800 .820 .6.05 89.0 82.780 08.00 20.760 59.260 879.60 8.5 0.000 505.75 760.0 200.000 607.86 6.700 6.5 279.000 5.958 .86 88.682 75.000 00.08 558.0 0.000 558.022 9.75 .90 5.02 2.86 .90 8.68 52.926 252.870 5.958 .5 .828 88.68 0.980 200.000 5.095 50.50 92.795 .520.080 295.69 2.70.69 8.5 6.9 7.22 .7 58.6 56.87 7.659 529.57 2.626.66 .709.882 .28.57 .7.602 .5 2.70 5.768 9.000 9.085 6.96 25.9 8.65.698

Provinsi

ProsPek dan arah Pengembangan agribisnis : rangkuman kebutuhan investasi

Padi Sawah Padi Gogo

Jagung

NAD Sumut Sumbar Riau 86.000 Jambi Sumsel 25.9 Bengkulu Lampung Babel DKI Jabar Jateng DIY Jatim Banten Bali NTB NTT Kalbar Kalteng 66.97 Kalsel .68 Kaltim Sulut Sulteng Sulsel Sultra Gorontalo Maluku Maluku Utara Papua 5.87.000

8.000 07.225 .98 .69 .98 00.62 -

200.000 67.825 .200 67.000 56.000 0.980 9.79 986.26 0.725 28.05 -

TOTAL

6.589.7 876.202 2.75.890 90.50 9.762 .875.206 .979.67 .890. .79.7 .7.76 598.022

Catatan: Peluang perluasan areal pada provinsi lain diluar provinsi prioritas, tidak dibahas dalam buku ini

ProsPek dan arah Pengembangan agribisnis : rangkuman kebutuhan investasi

AGRO INOVASI

IV. PROSPEK BISNIS ALAT DAN MESIN PERTANIAN


Mekanisasi pertanian sebagai supporting systems mempunyai peranan penting dalam mendukung revitalisasi pertanian. Alat dan mesin pertanian (alsintan) sangat diperlukan dalam upaya mendukung peningkatan produktivitas dan kualitas hasil pertanian. Implementasi mekanisasi pertanian di Indonesia dapat dikatakan sangat lamban dan jauh tertinggal dari negara-negara penghasil produk pertanian lainnya. Penyebab lambannya implementasi mekanisasi pertanian di Indonesia, antara lain : (a) skala kepemilikan lahan yang relatif kecil, (b) relatif rendahnya insentif harga produk pertanian olahan, dan (c) melimpahnya tenaga kerja di sektor pertanian, sehingga penerapan teknologi mekanisasi pertanian seringkali mendapat tentangan dari masyarakat. Namun dengan semakin terbukanya pasar dalam negeri terhadap impor produk pertanian dari negara lain, ke depan dalam rangka meningkatkan dayasaing produk pertanian dalam negeri, mekanisasi pertanian mutlak diperlukan. Dengan demikian, ke depan bisnis alsintan di Indonesia mempunyai prospek yang sangat baik untuk berkembang. Untuk membuktikan hal ini, berikut akan diuraikan kondisi penggunaan alsintan dan perkiraan kebutuhan ke depan. A. Kondisi Saat Ini 1. Mekanisasi tanaman pangan Berdasarkan Tabel  terlihat bahwa peluang pengembangan mekanisasi pertanian di subsektor tanaman pangan, khususnya tanaman padi, masih terbuka cukup lebar. Dari alur aktivitas kegiatan usahatani padi mulai dari pengolahan lahan hingga penggilingan, hanya ada dua kegiatan yang penerapan mekanisasinya sudah mencapai 00 persen, yaitu pengendalian hama-penyakit dan penggilingan padi, sementara penerapan mekanisasi untuk kegiatan yang lainnya masih relatif rendah, bahkan untuk kegiatan tanam, penyiangan dan panen masih 00 persen menggunakan alat tradisional.

9

AGRO INOVASI

ProsPek dan arah Pengembangan agribisnis : rangkuman kebutuhan investasi

Tabel  .

Status penggunaan alat dan mesin pertanian (padi) dalam beberapa spektrum kegiatan usahatani di Indonesia (%)

No Aktifitas Tradisional Mekanisasi Keterangan  Pengolahan lahan 62 8 Kapasitas traktor roda 2 = 0 ha /unit/th 2 Tanam 00 0 Masih tradisional menggunakan tandur jajar, tugal  Penyiangan 00 0 Masih tradisional menggunakan landak manual  Pengendalian hama 0 00 Menggunakan hand sprayer dan dan penyakit power sprayer 5 Pengairan 50 50 Kapasitas Pompa air =0 ha/ unit/th 6 Panen 00 0 Masih tradisional menggunakan sabit dan ani-ani 7 Perontokan 79 2 Kapasitas Power thresher = 60 ha/unit/th 8 Pengeringan 85-90 0-5 Kapasitas dryer = 60 ton/unit/th 9 Penggilingan 0 00 Kapasitas industri penggilingan padi sudah lebih dari 97% pada tahun 996. Diperkirakan saat sekarang sudah melebihi 00% di 00% di beberapa tempat. Sumber : Diolah berdasarkan data jumlah mesin tahun 200 dan survey pasca panen berbagai sumber.

2. Mekanisasi tanaman perkebunan Berbeda dengan subsektor tanaman pangan, data penggunaan alat dan mesin pertanian untuk subsektor perkebunan masih sangat terbatas. Namun dari berbagai hasil studi mengenai kegiatan usahatani tanaman perkebunan menunjukkan bahwa hingga saat ini penggunaan alat dan mesin pertanian untuk kegiatan budidaya tanaman di perkebunan rakyat masih relatif terbatas. Alat pertanian yang digunakan umumnya hasil modifikasi dari peralatan rumah tangga, khususnya yang digunakan untuk panen, penyimpanan dan pengangkutan hasil perkebunan. Penggunaan alat pertanian yang masih tradisional tersebut, selain kurang efisien juga menurunkan kualitas hasil panen. Peluang pengembangan penggunaan alat dan mesin pertanian di subsektor tanaman perkebunan masih sangat
20

ProsPek dan arah Pengembangan agribisnis : rangkuman kebutuhan investasi

AGRO INOVASI

terbuka untuk hampir semua komoditas, seperti kelapa, kelapa sawit, kakao, karet, tebu dan lain-lain. Di samping peluang pengembangan alsintan budidaya, prospek cerah juga terjadi pada pengembangan alsintan pengolahan tanaman perkebunan. Dari Tabel 5 terlihat bahwa ketersediaan alsin pengolahan komoditi perkebunan saat ini masih belum mampu menyerap seluruh bahan baku yang tersedia, kecuali untuk alsin pengolah karet crumb rubber dan pengolah kelapa sawit yang sudah mampu menyerap bahan baku sekitar 90 persen. Alsin lain yang mempunyai prospek baik untuk berkembang adalah alsin prosesing untuk komoditi cengkeh dan tanaman obat, seperti alsin pembersih dan pencuci, perajang, pengering, penepung dan lain-lain.
Tabel 5. Perbandingan ketersediaan alsin perkebunan dengan ketersediaan bahan baku yang dapat diolah, tahun 200
Jenis Alsin Pengolahan Minyak Kelapa Pengolahan Arang Batok Kelapa Pengolah Kelapa (Kopra) Pengolah Karet Crumb rubber (SIR) Pengolah Karet Slab/ Bokar/ SIT Pengolahan Karet SIT (RSS) Pengolahan Kelapa Sawit Pengolah Kakao Pengolah Kopi Hummermill Pengolah Kopi UPH Mini Pengolah Kopi UPH Lengkap Alsin tersedia (unit) .00 55 92 9 6.0 9 206 9 2.28 5 672 Kapasitas olah Bahan yang yang dapat tidak dapat diserap (ton) diserap (ton) 769.9 6.68 66.26 .552970 252.60 .26.587 8.8.985 20.952 28.520 .500 98.2 .92.72 2.6.56 .56.88 287.87 .0.58 .07.66 8. 285.098 5.89 52.07 76. % 7 9 5 8 85 67 0 67 67 97 9

Sumber : Ditjen BSP, Deptan (200)

3. Mekanisasi peternakan Setelah mengalami keterpurukan akibat krisis ekonomi yang terjadi pada pertengahan tahun 997, subsektor peternakan saat ini telah kembali menunjukkan perkembangan yang sangat positif. Berdasarkan data terakhir (Tabel 6), kebutuhan alsin peternakan yang belum terpenuhi masih cukup besar, dan kebutuhan alsin tersebut ke
2

AGRO INOVASI

ProsPek dan arah Pengembangan agribisnis : rangkuman kebutuhan investasi

depan akan semakin meningkat seiring dengan perkembangan subsektor peternakan.


Tabel 6. Jumlah dan kebutuhan alat dan mesin peternakan, tahun 200 No.
.

Jenis Alat dan Mesin


Inseminasi Buatan : a. Container (0-20 liter) b. Container (2-0 liter) c. Mikroskop Alat dan Mesin Ternak Unggas a. Giling Pakan b. Pencampur Pakan c. Mesin Tetas <000 butir/unit d. Mesin Tetas >000 butir/unit e. Mesin Pembersih Bulu Unggas f. Kulkas g. Pemanas h. Pelet Alat dan Mesin Ternak Potong a. Mesin Pencacah Rumput b. Mesin Pengepres Rumput c. Timbangan kpst 500-000 kg

Ketersediaan saat ini (unit)


87 .088  08 90 9.990 9 0 62 987  265 27 

Kebutuhan (unit)
.966 2.959 07 8. 8.50 29.758 8 0.768 2.782 02 6.598 6.56 6.588

2.

.

Sumber : Ditjen BSP, Deptan (200)

4. Mekanisasi tanaman hortikultura Perhatian terhadap aplikasi alsin untuk budidaya dan pengolahan tanaman hortikultura hingga saat ini masih relatif rendah. Untuk mendukung pengembangan agribisnis hortikultura agar didapatkan keuntungan usaha yang layak dan mampu bersaing dengan produk impor, diperlukan mekanisasi mulai dari budidaya, pasca panen dan pengolahannya. Alat dan mesin pertanian yang berkembang di tingkat pengguna selama ini yang tercatat adalah: alsin grader (jeruk, kentang), vacuum frying, alsin pengering dan perajang (pisang), dan perajang simplisia.

22

ProsPek dan arah Pengembangan agribisnis : rangkuman kebutuhan investasi

AGRO INOVASI

B. Prospek Bisnis dan Usaha Jasa Alsintan 1. Prospek bisnis Seperti yang telah disinggung sebelumnya bahwa prospek bisnis alat dan mesin pertanian di Indonesia selama kurun waktu 5 tahun ke depan cukup cerah. Berdasarkan Tabel 7 terlihat bahwa kebutuhan alsintan untuk kegiatan usahatani/budidaya dan pengolahan hasil pertanian cukup besar. Sebagai contoh, kebutuhan hand sprayer untuk budidaya tanaman pangan diperkirakan mencapai 2, juta unit, alat pengolah hasil perkebunan bervariasi antara 5005 ribu unit, alsin peternakan berkisar antara 00 20 ribu unit, dan alsin untuk budidaya dan pengolahan produk hortikultura berkisar antara 8509.500 unit. 2. Usaha jasa alsintan Prospek usaha jasa penyewaan alsintan ke depan cukup baik. Perspektif ini didasarkan pada kondisi penggunaan alsintan yang masih relatif minim di tingkat petani. Berdasarkan hasil analisis ekonomi, usaha jasa penyewaan alsintan mempunyai tingkat keuntungan usaha yang cukup baik seperti terlihat pada Tabel 8. Untuk mencapai break even Point (BEP), cakupan luas lahan yang harus dipenuhi umumnya berkisar antara 5-0 hektar, kecuali untuk alsin reaper (5 ha), dryer (29 ha) dan penggilingan padi (RMU) (0 ha). Tingkat pengembalian modalnya (IRR) juga cukup tinggi, yaitu di atas 0%.

2

AGRO INOVASI

ProsPek dan arah Pengembangan agribisnis : rangkuman kebutuhan investasi

Tabel 7. Kebutuhan alat dan mesin pertanian, 2005-200 Jenis Alsintan Tanaman Pangan hand sprayer Tanaman Perkebunan Alsin Pengolahan Minyak Kelapa Alsin Pengolahan Arang Batok Kelapa Alsin Pengolah Kelapa (Kopra) Alsin Pengolah Karet Slab/ Bokar/ SIT Alsin Pengolahan Karet SIT (RSS) Alsin Pengolah Kakao Alsin Pengolah Kopi hummermill Alsin Pengolah Kopi UPH Mini Alsin Pengolah Kopi UPH Lengkap Tanaman Hortikultura hand sprayer Power sprayer Perajang Multiguna (pisang) Vacuum Frying grader Jeruk Pemeras Jeruk Peternakan Inseminasi Buatan : a. Container (0-20 liter) b. Container (2-0 liter) c. Mikroskop alat dan mesin Ternak Unggas a. Giling Pakan b. Pencampur Pakan c. Mesin Tetas <000 butir/unit d. Mesin Tetas >000 butir/unit e. Kulkas f. Pemanas g. Pelet alat dan mesin Ternak Potong a. Mesin Pencacah Rumput b. Mesin Pengepres Rumput c. Timbangan kpst 500-000 kg
Sumber: Ditjen BSP (200) (diolah)

Kebutuhan (unit) 2.72.2 2.525 985 .927 5.087 500 500 .92 .707 .26 9.5 8.8 8 .66 5.69 6.79 .9 .87 00 8.6 8.60 9.768 00 0.706 .295 00 6. 6.7 6.7

2

ProsPek dan arah Pengembangan agribisnis : rangkuman kebutuhan investasi

AGRO INOVASI

Tabel 8. Analisis profil usaha jasa penyewaan alsintan No. . 2. . . 5. 6. 7. 8. 9. 0. BEP ) B/C Ratio (ha/th) 0% Traktor Tangan, Bajak singkal ,0 , Traktor Tangan, Bajak singkal dan rotary 7,96 , Transplanter 5,02 ,2 Power weeder 20,89 ,20 Pompa 6, ,09 reaper 52,9 ,25 Thresher , ,7 dryer 28,2 ,29 RMU 0,7 ,2 Pemipil Jagung 5,66 , Nama Alsin
)

IRR % ,9 0,8 52,2 68,88 59,9 85,9 85,7 5,89 52,05 69,08

Keterangan:

Luas cakupan minimum yang memberikan keuntungan

25

AGRO INOVASI

ProsPek dan arah Pengembangan agribisnis : rangkuman kebutuhan investasi

V. PROSPEK BISNIS KOMODITAS UNGGULAN


A. Komoditas Pangan 1. Padi Beras merupakan komoditas strategis, primadona dan utama dalam mendukung pembangunan sektor ekonomi dan ketahanan pangan nasional, serta menjadi basis utama dalam revitalisasi pertanian di masa mendatang. Hingga saat ini dan puluhan tahun yang akan datang, beras masih tetap menjadi sumber utama gizi dan energi lebih dari 90% penduduk Indonesia. Selain untuk konsumsi langsung, berbagai alternatif potensi untuk meningkatkan nilai tambah beras dapat dilakukan dengan pemanfaatan teknologi pasca panen termasuk produk sampingannya. Demikian halnya dengan limbah dari tanaman ini yaitu jerami sangat potensi digunakan terutama sebagai pakan/silase terutama pad MK I dan MK II. Berbagai alternatif dan potensi dari produk turunan dan sampingan dari padi/beras seperti disajikan pada Gambar 2. Prospek pengembangan beras dalam negeri cukup cerah terutama untuk mengisi pasar domestik, mengingat produksi padi/beras dalam negeri sampai saat ini belum mampu memenuhi kebutuhannya secara baik, sehingga kekurangannya sekitar 5% harus diimpor. Peluang pasar ini akan terus meningkat seiring meningkatnya permintaan beras dalam negeri baik untuk konsumsi langsung maupun untuk memenuhi industri olahan. Karena Indonesia juga memiliki keunggulan komparatif untuk memproduksi padi/beras, maka selain untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri, pengembangan beras/padi juga berpeluang untuk mengisi pasar ekspor, apalagi kondisi pasar beras dunia selama ini bersifat tipis, hanya 5-6% dari produksi beras dunia. Untuk memanfaatkan peluang yang ada, tantangan yang dihadapi dalam pengembangan padi/beras ke depan adalah bagaimana padi/beras produksi dalam negeri bisa bersaing dengan pasar ekspor. Negara utama yang menjadi pesaing Indonesia dalam memproduksi padi/beras adalah Thailand dan Vietnam.
26

ProsPek dan arah Pengembangan agribisnis : rangkuman kebutuhan investasi

AGRO INOVASI

- Kompos - Pakan/Silase

PANGAN POKOK

- Beras Kepala - Beras Giling Berkualitas - Beras Arimatik - Beras Instan - Beras Kristal

JERAMI (+ 50%)

- Bahan Bakar - Media Jamur - Kertas - Papan Partikel

- Beras IG Rendah PANGAN - Beras Nutrisi Tinggi FUNGSIONAL - Beras Bertembaga - Beras Fe Tinggi

- Beras Yodium

PADI

BERAS PECAH KULIT (+ 80%)

- BERAS (+ 61%) - MENIR (+ 10%)

PANGANAN

- Kue Basah - Kue Kering

TEPUNG

BAHAN BAKU INDUSTRI

- Tepung BKP - Tepung Instan - Industri Tekstil - Pangan Olahan

BIHUN, EKSTRUDAT
- Pangan Olahan

GABAH (+ 50%)

DEDAK (+ 9%)

- Pakan - Pangan Serat - Minyak

PATI

- Modified Starch - Gum/Perekat

SEKAM (+ 20%)

- Arang Sekam - Abu Gosok - Bahan Bakar - Silikat - Karbon Aktif

INDUSTRI TEKSTIL

Gambar 2. Pohon industri beras

Selain prospek yang cukup baik dari sisi permintaan, usaha pengembangan padi/beras di Indonesia juga cukup menguntungkan. Usahatani padi yang dikelola petani mampu memberikan keuntungan sekitar Rp 2,-2,8 juta/ha pada tingkat B/C= ,77 2,0 (Tabel 9). Usahatani ini akan memberikan keuntungan yang semakin menarik jika dikelola secara lebih baik lagi.
Tabel 9. Penerimaan, biaya dan keuntungan usahatani padi (Rp jt/ha) Uraian . 2. . . Penerimaan Biaya Keuntungan B/C MH 5,5 2,7 2,8 2,0 MKI 5, 2,9 2,5 ,86 MKII 5,  2, ,77

27

AGRO INOVASI

ProsPek dan arah Pengembangan agribisnis : rangkuman kebutuhan investasi

Beberapa usaha seperti traktor, thresher, dan penggilingan padi (RMU) yang terkait langsung mendukung pengembangan padi/ beras, juga memberikan keuntungan yang cukup menarik bagi para pelakunya (Tabel 0).
Tabel 0. Penerimaan, biaya dan keuntungan usaha traktor, thresher dan RMU (Rp jt) Uraian . Penerimaan 2. Biaya (Tetap + Variabel) . Keuntungan . B/C 5. Pay back Period (th) Traktor ,25 7,88 ,7 , , Thresher 9,26 6,00 ,26 ,5 2, RMU 2,79 0,82 ,97 ,9 2,65

Peta jalan (road map) program pengembangan industri beras di Indonesia baik dalam program jangka pendek (2005-200), jangka menengah (20-205) maupun jangka panjang (206-2025) disajikan pada Gambar . Tampak bahwa baik dalam program jangka pendek, menengah dan panjang, pengembangan industri beras masih tetap dikonsentrasikan pada peningkatan produksi beras untuk kebutuhan konsumsi langsung, baik melalui program intensifikasi maupun ekstensifikasi. Namun demikian mulai pada program jangka menengah dan panjang selain tetap dikonsentrasikan pada peningkatan produksi beras nasional juga diikuti dengan program perbaikan kualitas beras agar mampu bersaing dengan beras dunia.

Beras Berkualitas

Beras Berkualitas

Beras

Beras

2005

200

205

2025

Gambar . Peta jalan (road map) program pengembangan industri beras 28

ProsPek dan arah Pengembangan agribisnis : rangkuman kebutuhan investasi

AGRO INOVASI

Sejak lebih dari satu dekade, yang lalu laju peningkatan produksi padi nasional cenderung melandai. Penyebabnya antara lain adalah belum ditemukannya inovasi teknologi yang mampu memecahkan masalah peningkatan produksi. Varietas unggul yang ada tidak mampu berproduksi lebih tinggi karena keterbatasan genetik. Pada tahun-tahun tertentu, di saat kemarau panjang atau terjadinya ledakan hama dan penyakit, produksi padi umumnya turun. Menurunnya produktivitas lahan, terutama di sebagian lahan sawah irigasi, juga merupakan kendala produksi padi dewasa ini. Sesuai dengan keinginan banyak pihak untuk mewujudkan swasembada beras berkelanjutan, berbagai upaya dan strategi perlu ditempuh. Dalam mewujudkan swasembada beras yang merupakan salah satu sasaran dari Revitalisasi Pertanian, ada dua pendekatan yang dapat ditempuh, yaitu peningkatan produktivitas 0,5-,0% per tahun dan perluasan areal tanam 0,-0,8% per tahun. Salah satu terobosan dalam peningkatan produktivitas adalah melalui perakitan dan pengembangan padi hibrida dengan memanfaatkan gejala heterosis yang umumnya muncul pada turunan pertama (F) dari suatu persilangan antar varietas yang berbeda. Di Indonesia, hasil padi hibrida di tingkat penelitian berkisar antara 8-0 ton/ha atau 0-25% lebih tinggi dibanding hasil padi inbrida yang berkembang saat ini, seperti IR6, Ciherang, dan Way Apo Buru. Di lokasi tertentu dengan penerapan teknologi budidaya yang tepat, hasil padi hibrida mencapai lebih dari 9 ton/ha, tetapi di beberapa lokasi lain hasilnya lebih rendah, terutama karena serangan hama penyakit dan ketidaktepatan penerapan teknologi budidaya. Di Bali, penanaman padi hibrida Maro dan Rokan di lahan petani memberikan hasil lebih tinggi ,7-2, ton/ha atau 29-% dari IR6 yang hanya mampu berproduksi 6,5 ton/ha, atau lebih tinggi 0,5-,2 ton/ ha dari varietas unggul Cimelati dan Ciherang. Agar mampu memberikan produktivitas yang tinggi, padi hibrida harus dibudidayakan dengan pendekatan PTT (Pengelolaan Tanaman dan Sumberdaya Terpadu) atau SIPT (Sistem Integrasi Padi dan Ternak).

29

AGRO INOVASI

ProsPek dan arah Pengembangan agribisnis : rangkuman kebutuhan investasi

Beberapa faktor pendukung pengembangan padi hibrida di Indonesia adalah: () Kebijakan dan program pemerintah untuk menuju swasembada beras lestari, (2) Luas baku lahan sawah lebih dari -5 juta ha dengan berbagai tipe agroekosistem, () Apresiasi dan tingkat adopsi teknologi oleh petani pada agroekosistem lahan sawah cukup tinggi dengan produktivitas padi ,7 ton/ha, () Tersedianya 29 varietas unggul padi hibrida (VUH) sebagai starting point pengembangan, (5) Program dan strategi Badan Litbang Pertanian dalam perakitan VUH hasil persilangan sendiri dari plasma nutfah nasional dan/atau dengan galur introduksi, (6) Ketersediaan inovasi teknologi budidaya, terutama melalui pendekatan PTT, dan (7) Dukungan dunia usaha, khususnya dalam penyediaan benih F dan pengujian/pelepasan varietas. Keunggulan heterosis padi hibrida hanya muncul pada generasi F, tidak muncul pada generasi berikutnya, sehingga penanaman harus selalu menggunakan benih F. Secara teknis, dalam pengembangan padi hibrida terdapat lima faktor kunci, yaitu: (a) varietas yang cocok, (b) benih F bermutu, (c) teknologi budidaya yang tepat (pendekatan PTT), (d) kesesuaian wilayah, dan (e) respon petani. Kemampuan varietas padi hibrida dalam berproduksi tidak terlepas dari keragaan biologis dan sifat umum yang dimiliki. Varietas padi hibrida yang berpenampilan baik di suatu wilayah belum tentu baik di wilayah yang lain (spesifik lokasi). Seperti halnya padi inbrida, ketahanan terhadap hama penyakit dan mutu beras varietas padi hibrida juga beragam. Cina dinilai sebagai negara terkemuka dalam pengembangan padi hibrida dengan dukungan program perakitan yang sangat intensif dan memiliki cukup banyak varietas hibrida unggul. Namun karena Cina termasuk negara beriklim subtropik yang kondisi iklimnya berbeda dengan Indonesia, maka tidak semua varietas padi hibrida Cina cocok dikembangkan di Indonesia dan/atau keragaannya tidak sama dengan di Cina. Oleh sebab itu, arah pengembangan padi hibrida di Indonesia harus ditujukan untuk merakit sendiri varietas padi hibrida dengan memanfaatkan plasma nutfah nasional. Dalam jangka pendek dan menengah dapat ditempuh beberapa pendekatan, yaitu: () merakit VUH dari
0

ProsPek dan arah Pengembangan agribisnis : rangkuman kebutuhan investasi

AGRO INOVASI

galur-galur tetua introduksi, (2) merakit VUH dengan mengombinasikan galur-galur introduksi dengan galur nasional, () menguji varietas hibrida introduksi untuk mengetahui daya adaptasi dan keragaannya di berbagai lokasi sebelum diusulkan untuk dilepas. Pendekatan yang terakhir memungkinkan untuk mengimpor benih F langsung dari negara asal, namun cara ini memiliki kelemahan dan risiko, baik dalam aspek kekarantinaan maupun aspek sosial, ekonomi, dan ketergantungan. Dengan produktivitas sekitar 80 ton GKG/ha, pada tingkat harga gabah yang pesimis hanya Rp 000/kg, usahatani padi hibrida cukup menguntungkan. Dengan biaya produksi sekitar Rp -5 juta/ha, usahatani hibrida mampu memberikan penerimaan dan keuntungan bersih berturut-turut Rp 8,0 0,0 juta/ha dan Rp 5,0 7,0 juta/ha pada tingkat R/C = 2,0 2,5. 2. Jagung Jagung merupakan salah satu komoditas utama tanaman pangan yang mempunyai peranan strategis dalam pembangunan pertanian dan perekonomian Indonesia, mengingat komoditas ini mempunyai fungsi multiguna, baik untuk konsumsi langsung maupun sebagai bahan baku utama industri pakan serta industri pangan. Selain itu, pentingnya peranan jagung terhadap perekonomian nasional telah menempatkan jagung sebagai kontributor terbesar kedua terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) setelah padi dalam subsektor tanaman pangan. Hampir seluruh bagian dari tanaman jagung mempunyai potensi nilai ekonomis (Gambar .). Buah jagung pipilan, sebagai produk utamanya merupakan bahan baku utama (50%) industri pakan, selain dapat dikonsumsi langsung dan sebagai bahan baku industri pangan. Daun, batang, kelobot, tongkolnya dapat dipakai sebagai pakan ternak dan pemanfaatan lainnya. Demikian juga dengan bagian lainnya jika dikelola dengan baik berpotensi mempunyai nilai ekonomi yang cukup menarik. Prospek pasar jagung baik di pasar domestik maupun pasar dunia sangat cerah. Pasar jagung domestik masih terbuka lebar,


AGRO INOVASI

ProsPek dan arah Pengembangan agribisnis : rangkuman kebutuhan investasi

mengingat sampai saat ini produksi jagung Indonesia belum mampu secara baik memenuhi kebutuhannya, yaitu baru sekitar 90%. Meningkatnya permintaan jagung dunia terutama dari negara-negara Asia akibat berkembang pesatnya industri peternakan di negara tersebut dan relatif tipisnya pasar jagung dunia (% dari total produksi jagung dunia) menunjukkan bahwa pasar jagung dunia sangat terbuka lebar bagi para ekspotir baru. Negara pesaing utama Indonesia dalam merebut pasar ekspor adalah Amerika Serikat dan Argentina. Sekalipun semua biaya diperhitungkan, ternyata usahatani jagung terutama yang menggunakan varietas hibrida tetap memberikan keuntungan yang cukup menarik bagi petani (88 ribu Rp. 2, juta per ha pada tingkat B/C berkisar ,2,50 (Tabel ). Selain menguntungkan, memproduksi jagung di Indonsia juga mampu bersaing dengan jagung impor, ditunjukkan oleh nilai Nilai DRCR (domestic resource Cost ratio) < , yaitu berkisar 0,66-0,89.

2

ProsPek dan arah Pengembangan agribisnis : rangkuman kebutuhan investasi

AGRO INOVASI

Daun Daun

Pakan kompos Pakan kompos

Kulit kelobot Kulit kelobot

- Pakan - Pakan - Kompos - Kompos - Industri Rokok - Industri rokok

Grit Grit

Pakan --Pakan --Pangan Pangan


- Pakan - Pakan - Pangan Pangan Bahan baku industri - Bahanbaku industri

Tepung Tepung

Jagung pipilan Jagung

Pati Pati

- Pakan Pakan Pangan - Pangan - Bahanbaku industri - Bahan baku industri

Jagung Jagung

Buah Jagung Buah jagung

Lembaga Lembaga

Minyak Minyak

Kulit ari Kulit ari

Bahan baku industri Bahan bakuindustri

Tongkol Tongkol

- Pakan - Pakan - Kompos - Kompos - PulpPulp - Bahan bakar - Bahan bakar

Rambut Rambut

Batang

- Pakan - Pakan - Pulp - Pulp - Kertas - Kertas - Bahan bakar - Bahan bakar

Gambar . Pohon industri jagung Tabel . Kelayakan usahatani jagung hibrida per hektar
Uraian
A. Produksi . Produksi (kg) 2. Nilai (Rp000) B. Total Biaya (Rp) C. Keuntungan B/C TIP (Kg/ha) TIH (Rp/kg) Toleransi penurunan (%)

Sumatera Utara Lahan Lahan Sawah Kering


6.508 5.987 .00 .887 ,6 .56,8 60,0 ,52 6.957 5.572 .9 2.08 ,60 .58,7 50,8 7,5

Lampung Lahan Lahan Sawah Kering


.966 .569 .685 88 ,2 .005,2 72,0 9,5 .685 .0 .00 .20 ,9 .69.7 66,7 28,07

Jawa Timur Lahan Sawah


6.755 6.25 5.95 .020 ,20 5.66, 769, 6,

Keterangan : TIP = Titik Impas Produksi dan TIH = Titik Impas Harga



AGRO INOVASI

ProsPek dan arah Pengembangan agribisnis : rangkuman kebutuhan investasi

Pengembangan usaha pada industri hulu (penangkaran benih) dan industri hilir (pabrik pakan) untuk mendukung pengembangan jagung di Indonesia juga cukup menguntungkan. Contoh usaha penangkaran benih jagung yang dilakukan petani plasma PT. Sang Hyang Sri di Sulawesi Selatan mampu memberikan keuntungan Rp 6,6 juta/ha pada tingkat B/C = 2,8. Kinerja industri pakan di tiga lokasi (Lampung, Bogor dan Bandung) menunjukkan bahwa usaha industri pakan ayam baik untuk pakan ayam petelur (starter, grower, dan layer) maupun pakan ayam pedaging (starter dan finisher) cukup menguntungkan pada tingkat B/C = ,08,0. Usaha ini diperkirakan akan semakin menguntungkan jika kapasitas terpakai bisa mendekati kapasitas terpasang melalui penyediaan jagung dalam negeri secara berkelanjutan. Kini, jumlah penggunaan jagung untuk pakan lebih dari 50%, dan sisanya untuk industri pangan, konsumsi langsung, dan penggunaan lainnya. Dalam program jangka pendek, pengembangan industri jagung melalui intensifikasi (dengan memperluas penggunaan benih hibrida) dan ekstensifikasi diharapkan mampu untuk swasembada terutama untuk memenuhi industri pakan dan pangan (Gambar 5). Sementara dalam program jangka menengah, selain swasembada jagung, Indonesia juga diharapkan sebagai eksportir serta sekaligus mengembangkan industri pati jagung, dan dalam program jangka panjang juga mengembangkan industri yang berbasis pati jagung.
Produk Olahan Pati Pati Jagung Pakan Pangan
2005

Pakan Pangan
200 205 2025

Gambar 5. Peta jalan (road map) program pengembangan industri jagung



ProsPek dan arah Pengembangan agribisnis : rangkuman kebutuhan investasi

AGRO INOVASI

3. Kedelai Kedelai merupakan komoditas tanaman pangan terpenting ketiga setelah padi dan jagung. Selain itu, kedelai juga merupakan tanaman palawija yang kaya akan protein yang memiliki arti penting dalam industri pangan dan pakan. Kedelai berperan sebagai sumber protein nabati yang sangat penting dalam rangka peningkatan gizi masyarakat karena aman bagi kesehatan dan murah harganya. Sama halnya dengan dua tanaman pangan sebelumnya, berbagai alternatif potensi untuk meningkatkan nilai tambah kedelai termasuk produk sampingannya dapat dilakukan melalui pemanfaatan teknologi pasca panen. Kedelai dapat diolah untuk menghasilkan berbagai produk yang sangat dibutuhkan bagi kehidupan manusia, baik sebagai produk pangan, farmasi (obat-obatan), aplikasi dalam bidang teknik (industri) dan sebagai pakan (Gambar 6). Bahkan, bungkil kedelai, salah satu produk samping kedelai yang pemanfaatannya sebagai bahan baku pembuatan pakan, hampir 00% masih diimpor. Prospek pengembangan kedelai di Indonesia terutama untuk mengisi pasar domestik masih sangat terbuka luas, mengingat produksi kedelai dalam negeri masih jauh dibawah jumlah permintaan domestik. Pada tahun 990, produksi dalam negeri mampu mengisi pasar dalam negeri sekitar 8,2%, dan sisanya 26,68% di impor. Kemampuan produksi dalam negeri untuk mengisi pasar dalam negeri semakin menurun, setelah tahun 2000 lebih dari 50% kebutuhan domestik dipenuhi dari impor. Bahkan pada tahun 200, sudah mencapai 65%. Peluang pasar domestik diperkirakan terus meningkat seiring dengan meningkatnya permintaan kedelai dan produk turunannya.

5

AGRO INOVASI

ProsPek dan arah Pengembangan agribisnis : rangkuman kebutuhan investasi

Pangan Fermentasi Pangan Non Fermentasi

Tempe, kecap, natto, dll Tahu, susu, dll

K e d e l a i

Minyak Kasar

Pangan (minyak, salad, minyak goreng, mentega putih, margarine)

Lesitin

Teknik/Industri (wetting, pelarut, pengemulsi penstabil, pelumas, dll


Pangan (rerotian, eskrim, yoghurt, makanan bayi infant formula, kembang gula)

Konsentrat Protein

Farmasi (obat-obatan, kecantikan) Pakan Ternak

Bungkil

Gambar 6. Pohon industri kedelai

Walaupun produktivitasnya masih rendah, pada tingkat harga yang relatif stabil (Rp .000/kg) secara finansial usahatani kedelai cukup menguntungkan, yaitu Rp 2,05 juta/ha pada tingkat B/C=2, (Tabel 2). Namun demikian, usaha ini belum mampu bersaing dalam upaya meningkatkan substitusi kedelai impor. Perbaikan produktivitas merupakan salah satu cara untuk meningkatkan daya saing komoditas ini.
Tabel 2. Penerimaan, biaya dan keuntungan usahatani kedelai (Rp jt/ha) Uraian . Produksi (kg) 2. Penerimaan . Biaya . Keuntungan 5. B/C Jumlah .28 ,85 ,80 2,05 2,

6

ProsPek dan arah Pengembangan agribisnis : rangkuman kebutuhan investasi

AGRO INOVASI

Industri berbasis kedelai yang telah berkembang adalah tempe, tauco, kecap, tahu dan susu. Namun demikian produksi kedelai Indonesia baru mampu memenuhi sekitar 5%, dan sebanyak 65% masih diimpor. Sehingga program pengembangan kedelai dalam jangka pendek adalah meningkatkan produksi dalam negeri dalam upaya mengurangi impor untuk memenuhi kebutuhan dari industri yang telah berkembang selama ini. Baik dalam jangka menengah maupun panjang program pengembangan kedelai tetap diarahkan pada peningkatan substitusi impor untuk memenuhi industri minyak goreng, mentega putih dan margarin yang diharapkan mulai berkembang dalam program jangka menengah. Industri obat-obatan dan kecantikan yang berbasis kedelai diharapkan tumbuh dalam program jangka panjang (Gambar 7).
Obat-obatan kecantikan

Tempe Tauco Kecap Tahu Susu 2005

Tempe Tauco Kecap Tahu Susu 200

Minyak Goreng Mentega Putih Margarin

205

2025

Gambar 7. Peta jalan (road map) program pengembangan industri kedelai

B. Komoditas Hortikultura 1. Jeruk Jeruk merupakan komoditas buah yang cukup menguntungkan untuk diusahakan dan telah terbukti mampu meningkatkan kesejahteraan petani, menumbuhkembangkan perekonomian regional dan jika digarap serius agribisnis jeruk berpotensi besar dalam menyumbang secara nyata pertumbuhan perekonomian nasional. Tanaman Jeruk dapat tumbuh dan diusahakan petani di dataran rendah hingga dataran tinggi dengan varietas/spesies komersial yang
7

AGRO INOVASI

ProsPek dan arah Pengembangan agribisnis : rangkuman kebutuhan investasi

berbeda, dan berpotensi untuk dikonsumsi oleh semua masyarakat termasuk yang berpendapatan rendah. Potensi nilai ekonomi yang dapat dimanfaatkan dari tanaman jeruk relatif banyak (Gambar 8). Buah jeruk selain dikonsumsi dalam bentuk buah segar, juga berpotensi diolah menjadi berbagai macam produk yang mempunyai nilai ekonomi tinggi. Hasil olah buah jeruk yang sudah umum dilakukan adalah dalam bentuk sari murni, sari buah siap saji, jam, jelly, dan mamalade. Saat ini, Indonesia termasuk negara pengimpor jeruk terbesar kedua di ASEAN setelah Malaysia sebesar 9.696 ton; sedangkan ekspornya hanya sebesar .26 ton dengan tujuan ke Malaysia, Brunei Darusalam, dan Timur Tengah. Ekspor jeruk nasional masih sangat kecil dibanding dengan negara produsen jeruk lainnya seperti Spanyol, Afsel, Yunani, Maroko, Belanda, Turki dan Mesir. Sehingga pengembangan jeruk dalam negeri masih sangat prospektif untuk mengisi pasar domestik. Pengembangan jeruk untuk meningkatkan penerimaan devisa juga dapat dilakukan dengan mengisi pasar ekspor yang masih terbuka luas. Nilai ekonomis jeruk dapat dilihat dari tingkat kesejahteraan petaninya yang relatif tinggi. Keuntungan usahatani jeruk biasanya mulai diperoleh pada tahun ke , dengan besar yang bervariasi tergantung jenis maupun lokasi. Analisis usahatani jeruk di lahan pasang surut di Lampung dan Kalimantan Selatan memberikan nilai B/C sebesar ,62,92, dengan nilai NPV sebesar Rp.6.676.82 Rp.9.982.250 dan IRR sekitar 9,%. Secara umum, hasil analisis terhadap rataan biaya produksi usahatani jeruk per hektar, diperoleh tingkat keuntungan sebesar Rp 69,58 juta/ ha/siklus tanaman atau Rp ,60 juta/ha/tahun (Tabel ).
8

ProsPek dan arah Pengembangan agribisnis : rangkuman kebutuhan investasi

AGRO INOVASI

Segmen tanpa Biji Segmen tanpa biji

1.1. Sari murni (pure single strength) Sari murni (pure single strngth juice ) 2.2. Konsentrat, 70 o BrixBrix Konsentrat , 50 50 - 70 o 3.3. Sari buah siap saji 100% Sari buah siap saji (5 (5-100% kandungan sari) kandungan sari) 4.4. Jam, jelly, marmalade Jam, jelly , dan marmalade 5.5. Cuka dan Cider Cuka & cider 6.6. Fruit leather dari puree Fruit leather dari puree 7.7. Canning & bottling (pengalengan Canning & bottling (pengalengan dan dan pembotolan) pembotolan ) 8.8. Bioessence Bioessence

Olahan Olahan

Biji Biji

Minyak -- Minyak -- Makanan ternak Makanan -- Pektin Pektin

Ternak

Ampas Ampas

- Makanan ternak Ternak - Makanan

JERUK JERUK

Kulit Kulit

- Minyak lemonene - Minyak lemonene - Pektin - Pektin - Kulit kering untuk pabrik jamu - Kulit kering untuk pabrik jamu - Dietary fiber (serat pangan ) - Dietary fiber (serat pangan)

Buah Sehat Sehat

- Teknologi bangsal pengemasan & OC Teknik pemanenan - Teknologi bangsal pengemasan & OC (pencucian, ortasi/grading, precooling, (pencucian , ortasi/grading, precooling , pre-treatment, ,pengemasan, penyimanan pre-treatment pengemasan , - Supply Chain ,Management penyimpanan - Kulit kering untuk pabrik jamu transporatasi/distribusi) - Supply Chain(serat pangan) - Dietary fiber Management

- Teknik pemanenan

Segar Segar
Buah cacat/busuk Buah cacat busuk /
- Pupuk organik -- Makanan ternak Makanan - Gula tetes

- Pupuk organik ternak - Gula tetes

Gambar 8. Pohon industri jeruk Untuk jeruk jenis pamelo atau jeruk besar yang merupakan tanaman jeruk asli Indonesia dengan sentra produksi di Kabupaten Magetan-Jatim, Pangkep-Sulsel, dan Sumedang-Jabar, mulai digemari pasar domestik maupun internasional. Usahatani jeruk pamelo di Magetan-Jatim selama 5 tahun memberikan NPV = Rp. 2.688.000, net B/C = 6,0 dan IRR = 59,8% pada DF %.

9

AGRO INOVASI

ProsPek dan arah Pengembangan agribisnis : rangkuman kebutuhan investasi

Tabel . Penerimaan, biaya dan keuntungan usahatani jeruk selama  tahun (Rp jt/ha) Uraian . 2. . . 5. Produksi (ton) Penerimaan Biaya Keuntungan B/C Jumlah 29 608,65 29,07 69,58 2,55

Produksi jeruk selama ini lebih banyak dikonsumsi dalam bentuk jeruk segar. Sementara produksi jeruk domestik belum mampu memenuhi secara baik permintaannya. Sehingga pengembangan industri jeruk baik dalam program jangka pendek maupun menengah adalah meningkatkan produksi dan kualitas jeruk dalam negeri terutama untuk memenuhi pasar domestik dan kelebihannya untuk mengisi pasar ekspor (Gambar 9). Dalam program jangka panjang selain memperkuat produksi dan kualitas jeruk domestik, juga adanya pengembangan industri-industri yang berbasis jeruk, seperti industri jam dan jelly.
Jam Jelly Jeruk Segar
2005

Jeruk Segar
200

Jeruk Segar
205 2025

Gambar 9. Peta jalan (road map) program pengembangan industri jeruk

2. Pisang Pisang merupakan salah satu komoditas buah unggulan Indonesia. Luas panen dan produksi pisang selalu menempati posisi pertama. Produksi pisang sebagian besar dipanen dari pertanaman kebun rakyat. Disamping untuk konsumsi segar, beberapa kultivar pisang di
0

ProsPek dan arah Pengembangan agribisnis : rangkuman kebutuhan investasi

AGRO INOVASI

Indonesia juga dimanfaatkan sebagai bahan baku industri olahan pisang misalnya industri kripik, sale dan tepung pisang. Pisang banyak mengandung vitamin dan mineral esensial yang sangat bermanfaat bagi kesehatan. Bahkan di beberapa daerah di Papua pisang merupakan subsitusi makanan pokok, seperti di beberapa negara di Afrika. Tanaman pisang adalah tanaman yang multiguna dan mempunyai potensi nilai ekonomi yang cukup tinggi. Selain dimanfaatkan buahnya baik untuk konsumsi langsung dalam bentuk segar dan bahan baku industri yang berbasis pisang (keripik, ledre, getuk, sale, jus, tepung, puree, sirup glukose), daunnya dapat digunakan sebagai pembungkus, jantungnya bisa dijadikan sayur, pelepah daunnya bisa digunakan sebagai bahan kerajinan (tas, topi, tikar, dll), dari bonggol dan batang pisang yang telah dipanen bisa diambil patinya (5-0%), kulit dan seresah batang pisang dapat digunakan sebagai bahan makanan ternak (Gambar 0). Daun pisang telah menjadi salah satu produk ekspor Thailand ke luar negeri antara lain ke Amerika Serikat. Pengembangan komoditas pisang di Indonesia cukup cerah, baik untuk memenuhi permintaan pasar domestik maupun pasar dunia. Dengan jumlah penduduk lebih dari 200 juta, dan dengan asumsi pesemis 50% saja yang mengkonsumsi satu buah pisang segar per hari, maka akan dibutuhkan pisang segar sebanyak ,5 juta ton per tahun. Permintaan pisang di pasar domestik tidak hanya sebatas pisang segar, banyak juga permintaan dalam bentuk olahan (keripik, sale, puree, pasta pisang). Pengembangan komoditas ini untuk mengisi pasar ekspor juga terbuka lebar, terbukti Indonesia termasuk salah satu negara eksportir pisang. Negara pesaing utama Indonesia dalam mengekspor pisang adalah Ekuador, Philipina, dan Kolombia. Usahatani pisang baik pisang segar (kelompok cavendish) maupun pisang olah (Kepok, Tanduk, dan Agung Talun) kalau dikelola secara baik mampu memberikan keuntungan yang menarik, yaitu masing-masing Rp ,7 juta/ha dan Rp 7, juta/ha pada tingkat B/C= ,5 dan ,50 (Tabel ).



AGRO INOVASI

ProsPek dan arah Pengembangan agribisnis : rangkuman kebutuhan investasi

Batang Luar Batang Luar


Batang Batang

Pakan Ternak Pakan Ternak Pupuk Organik Pupuk Organik Serat untuk pakaian Serat untuk pakaian Handicraff Handicraft

Empulur Empulur

- - Tepung Tepung - - Acar Acar - - Kertas Kertas - - Dye(warna) Dye (warna)

Pohon Pisang Pohon Pisang

Daun Daun

Pembungkus -- Pembungkus Kertas -- Kertas -- Dye (warna) Dye (warna)


- Chip - Chip - Dendeng - Dendeng - Acar - Acar - Tepung - Tepung - Kertas - Kertas - Obat - Obat - Dye (warna) - Dye (warna)

Bonggol Bonggol

PISANG PISANG

Jantung Jantung Pisang Pisang


Limbah Limbah

Sayuran - -Sayuran - -Penyedap rasa Penyedap rasa


- Pupuk Organik Organik - Makanan Ternak Ternak

Tandan Tandan

Kulit Kulit

Etil alkohol -- Etil alkohol Biogas -- Biogas Dye -- Dye Wax lantai -- Wax lantai -- Semir sepatu Semir sepatu

Tandan & Tandan & Buah Pisang Pisang

Off Grade Off Grade

Ketcup --Ketchup --Vinegar Vinegar --Sari/cider Sari/cider


Segar Segar

Edible Edible portion portion

- Teknologi Packaging - Teknologi Packaging House House operation (penyisiran , operation & QC & QC (penyisiran, pencucian, pencucian , pengeringan , grading dan pengemasan ), pengeringan, grading dan untuk ekspor dibutuhkan pengemasan), untuk ekspor cooking cham pada cham pada dibutuhkan cooking penyimpanan & transportasi penyimpanan & transportasi
1. Kripik/chip 1. Kripik /chip 2. Lendre 2. Lendre 3. Getuk (pasar DN) 3. Getuk (pasar DN) 4. Sale 4. Sale 5. Jus 5. Jus 6. Tepung (MPASI) 6. Tepung (MPASI) 7. Puree (substitusi impor ) 7. Puree (substitusi impor) 8. Sirup Glukosa 8. Sirup Glukosa 9. Etil alkohol 9. Etil Alkohol 10. Flakes 10.Flakes 11. Jam, jelly 11.Jam, jelly 12. Cider/anggur 12.Cider/anggur

Olahan Olahan

Gambar 0. Pohon industri pisang Tabel . Penerimaan, biaya dan keuntungan usahatani pisang segar dan pisang olah (Rp jt/ha) Uraian Pisang Segar . 2. . . 5. Produksi (ton) Penerimaan Biaya Keuntungan B/C 75 2,5 77,8 ,7 ,5 Jumlah Pisang Olah 75 2,5 75, 7, ,50

2

ProsPek dan arah Pengembangan agribisnis : rangkuman kebutuhan investasi

AGRO INOVASI

Selain menguntungkan pada tingkat usahatani, industri yang berbasis pisang juga cukup menjanjikan bagi para pelakunya. Pada umumnya jenis-jenis industri ini mampu memberikan nilai tambah di atas 00% (Tabel 5).
Tabel 5. Perkiraan besarnya nilai tambah dari beberapa bentuk pengolahan pisang Produk Olahan Varietas yang digunakan
Kripik Ambon Hijau & Kuning, Kepok Kuning & Putih, Cavendish, dll Raja Bulu Ambon, Kepok Kuning, Lampung, Mas, Uli, dll Nangka Raja Bulu Siem, Nangka, Kepok Ambon Ambon, Cavendish & Raja Bulu Ambon, Cavendish & Raja Bulu

Rendemen (%) Nilai Tambah


+ 20 00-50

Ledre Sale Getuk Jus Tepung Tepung MPASI) Puree Jam

7-20 2-7 20-0 50-60 29-2 9-,5 20-0 70-75

200-250 00-50 50-00 50-500 50-50 600-650 50-200 200-250

Dalam program jangka pendek, pengembangan industri pisang diarahkan untuk memperkuat penyediaan bahan baku bagi industri pisang yang sudah berkembang saat ini termasuk permintaan buah pisang segar (Gambar ). Namun demikian juga diikuti pengembangan industri tepung pisang. Sementara dalam program jangka menengah diharapkan tumbuhnya industri turunan lainnya seperti industri jus, puree, jam, dan anggur. Selain untuk memenuhi kebutuhan industri yang telah berkembang pada program-program sebelumnya, program pengembangan industri pisang dalam jangka panjang diharapkan juga mampu memasok industri sirup glukosa dan ethil alkohol yang diharapkan muncul pada saat itu.


AGRO INOVASI

ProsPek dan arah Pengembangan agribisnis : rangkuman kebutuhan investasi

Sirup Glukosa Ethil Alkohol Jus, Puree Jam Anggur

Tepung

Pisang Segar Keripik Getuk Lendre Sale

Pisang Segar Keripik Getuk Lendre Sale

2005

200

205

2025

Gambar . Peta jalan (road map) program pengembangan industri pisang

3. Bawang merah Bawang merah merupakan salah satu komoditas sayuran unggulan yang sejak lama telah diusahakan oleh petani secara intensif. Komoditas sayuran ini termasuk ke dalam kelompok rempah tidak bersubstitusi yang berfungsi sebagai bumbu penyedap makanan serta bahan obat tradisional. Komoditas ini juga merupakan sumber pendapatan dan kesempatan kerja yang memberikan kontribusi cukup tinggi terhadap perkembangan ekonomi wilayah. Selain dijual dalam bentuk bawang segar, berbagai produk olahan dapat dihasilkan dari komoditas bawang, seperti bawang goreng, minyak bawang goreng, tepung bawang goreng, dan lain sebagainya (Gambar 2). Sehingga jika dikelola dengan baik, komoditas bawang beserta produk turunannya mempunyai potensi nilai ekonomi yang cukup tinggi. Data ekspor-impor selama periode 98-200 menunjukkan bahwa Indonesia merupakan net importer bawang merah, karena volume ekspor untuk komoditas ini secara konsisten selalu lebih rendah dibandingkan dengan volume impornya. Fenomena ini menunjukkan


ProsPek dan arah Pengembangan agribisnis : rangkuman kebutuhan investasi

AGRO INOVASI

bahwa prospek pengembangan bawang merah di Indonesia cukup cerah jika dikaitkan dengan potensi pasar yang ada. Selain untuk memenuhi pasar domestik yang permintaannya terus meningkat sekitar ,6%/th, peluang untuk meningkatkan ekspor sebenarnya masih terbuka lebar, terutama untuk mengisi pasar ekspor bawang merah super. Namun sampai saat ini ekspor dilakukan secara terbatas mengingat kebutuhan dalam negeri yang begitu besar. Negara pesaing Indonesia untuk mengisi pasar ekspor adalah Malaysia, Thailand, Philipina, dan Taiwan.
B a w a n g M e r a h Bibit
n Teknik pemanenan (umur, cara, alat) n Sortasi/grading n Curing/pelayuan n Pengeringan n Pengemasan n Pengangkutan n Penyimpanan

Segar (Ikat/Protolan) Umbi Konsum

Olahan

n n n n n n n n n n

Irisan Kering (15%) Irisan Basah/utuh (80%) Pickles/acar (80%) Bawang Goreng (20%) Bubuk Bawang Merah (12.5%) Tepung Bawang Merah (10%) Oleoresin Minyak bawang merah Pasta Anti Trombolik

Gambar 2. Pohon industri bawang merah

Selain cukup prospek dari potensi pasar yang ada, usahatani bawang merah di tiga lokasi kajian (Brebes, Cirebon dan Nganjuk) menurut varietas cukup menguntungkan. Bahkan di Nganjuk bawang merah varietas Bauji dan Philipina mampu memberikan keuntungan mencapai Rp  - 8 juta/ha, mengingat produktivitas bawang di lokasi ini bisa mencapai -5 ton/ha (Tabel 6).

5

AGRO INOVASI

ProsPek dan arah Pengembangan agribisnis : rangkuman kebutuhan investasi

Tabel 6. Penerimaan, biaya dan keuntungan usahatani bawang merah per hektar varietas lokal dan impor (Rp juta/ha) Uraian Produksi (ton) Peneriman Biaya Keuntungan B/C Brebes Philipina 9, 26, 8 2, 9 2, 5 ,0 Cirebon Timur Philipina 7,85 0,80 2, 02 26, 98 20, 25 2,  0,77 5, 55 ,0 ,26 Nganjuk Bauji Philipina 5,22 ,77 5, 2 5, 5 27, 2 2, 07 7, 89 , 6 ,66 ,8

Usaha industri yang berbahan baku bawang merah, seperti industri bawang merah goreng tampaknya juga cukup menguntungkan. Pada kapasitas 600 kg/hari, usaha ini mampu memberikan keuntungan Rp 5 jt/hari pada tingkat B/C=,2 (Tabel 7).
Tabel 7. Penerimaan, biaya dan keuntungan industri bawang merah goreng (kapasitas 600 kg /hari) Uraian . Produksi (rendemen 20%) (kg) 2. Penerimaan (Rp jt) . Biaya (Rp jt) . Keuntungan (Rp jt) 5. B/C Jumlah 600 0,00 25,0 ,99 ,2

Peta jalan (road map) program pengembangan industri bawang merah di Indonesia disajikan pada Gambar . Dalam perdagangan bawang merah, status Indonesia adalah sebagai net importir, sehingga program pengembangan bawang merah dalam jangka pendek adalah memperkuat penyediaan bahan baku bagi industri bawang merah yang sudah berkembang saat ini. Program pengembangan industri bawang merah dalam jangka menengah diharapkan munculnya industri bubuk bawang merah dan industri tepung bawang merah, dan dalam jangka panjang munculnya industri pasta dan industri anti trombolik yang berbasis bawang merah.
6

ProsPek dan arah Pengembangan agribisnis : rangkuman kebutuhan investasi

AGRO INOVASI

Pasta Anti Trombolik Bubuk Bawang Merah Tepung Bawang Merah Bawang Goreng Minyak Goreng Umbi Konsumsi 2005 Bawang Goreng Minyak Goreng Umbi Konsumsi 200 205 2025

Gambar . Peta jalan (road map) program pengembangan industri bawang merah

4. Anggrek Anggrek merupakan jenis bunga yang cukup populer dan biasanya banyak digunakan untuk berbagai keperluan seperti upacara keagamaan, hiasan dan dekorasi ruangan, ucapan selamat serta untuk ungkapan duka cita. Hongkong, Singapura dan Amerika Serikat merupakan contoh beberapa negara yang cukup gencar meminta anggrek asal Indonesia karena memiliki keragaman serta ciri khas tersendiri sebagai bunga tropis. Hal ini menyebabkan peningkatan minat untuk memelihara tanaman anggrek secara komersial, mengingat kondisi pasar yang cukup cerah. Tanaman anggrek mempunyai potensi nilai ekonomi tinggi jika pengelolaanya dikaitkan dengan selera pasar. Beberapa alternatif bentuk produk yang bisa dihasilkan dari tanaman anggrek disajikan pada Gambar . Khusus usaha produk bunga potong dan bunga pot, permintaan yang terbentuk dari selera konsumen sangat menentukan laku tidaknya produk yang ditawarkan. Pengusaha, petani produsen bunga potong dan pot maupun bibit anggrek harus mengikuti perkembangan pasar terbuka dengan mencari terobosan-terobosan dalam penawaran ke luar negeri diikuti dengan peningkatan produksi, pembinaan peningkatan kualitas dan profesionalisme pengusaha, petani produsen anggrek.
7

AGRO INOVASI

ProsPek dan arah Pengembangan agribisnis : rangkuman kebutuhan investasi

Prospek pengembangan aggrek di Indonesia cukup cerah baik untuk memenuhi pasar domestik maupun pasar dunia. Konsumen anggrek untuk pasar dalam negeri adalah penggemar dan pecinta anggrek, pedagang keliling, pedagang pada kios di tempat-tempat tertentu dalam kota, perhotelan, perkantoran, gedung-gedung pertemuan, pengusaha pertamanan, toko bunga, florist, pesta-pesta dan perkawinan. Jenis-jenis anggrek yang banyak diminta pasar domestik adalah Vanda douglas, dendrobium dan golden shower. Permintaan anggrek dalam negeri, selain dipenuhi oleh produksi dalam negeri juga dari produk impor untuk jenis-jenis tertentu, seperti Phalaenopsis, dan dendrobium. Dalam pasar dunia, negara-negara pengekspor bunga potong anggrek yang menjadi pesaing Indonesia adalah Taiwan, Cina, Singapura, Malaysia, Vietnam, India, Mali, Australia, New Zealand, Belanda, Albania dan Rusia.
ANGGREK

Plantet

Compot/seedling Remaja

Pot Plant

Bunga Potong

- Pengadaan laboraturium perbenihan - Pemilihan pohon induk anggrek hasil hibridisasi (varietas unggul) - Jenis anggrek (bunga potong, pot plant

Pengadaan/penggunaan bibit unggul * Teknologi budidaya: - pemilihan media tumbuh (jenis media) - pemupukan (jenis pupuk) - pengendalian hama & penyakit (pestisida) * Sarana dan prasarana - naungan (paranet) untuk rumah sere - rak - springkle - pengatur kelembaban

Teknologi budidaya: - Kriteria tanaman pot bermutu & tahan lama di wismasari (indoors) - Transportasi - Teknik memperpanjang umur peragaan di dalam ruangan (ambient & AC) - Teknik pemeliharaan keragaan di pengecer & di konsumen Sarana dan prasarana - naungan (paranet) untuk rumah sere - rak - springkle - pengatur kelembaban

Teknik Perlakuan Segar: - Teknologi pemanenan - Sortasi/grading - Pra Pendinginan - Larutan pendinginan (holding & pulsing solution) - Pengemasan* - Transportasi* - Penyimpanan* Sarana dan prasarana - Ruang Pendingin

Gambar . Pohon industri anggrek

Anggrek dapat dipasarkan dalam bentuk compot, tanaman individu/tanaman remaja, tanaman dewasa dan bunga potong.
8

ProsPek dan arah Pengembangan agribisnis : rangkuman kebutuhan investasi

AGRO INOVASI

Untuk menghasilkan produk-produk ini diperlukan biaya yang berbeda. Hasil analisis usahatani yang dilakukan untuk luasan 000 m 2, menunjukkan bahwa semua jenis usaha ini jika dikelola secara baik cukup menjanjikan (Tabel 8).
Tabel 8. Penerimaan, biaya, dan keuntungan usahatani anggrek dendrobium berdasarkan jenis usaha (Rp juta/000 m 2). Uraian Penerimaan Total Biaya Keuntungan B/C Compot 9, 7,9 56,50 , Individu/tan remaja 29,65 8,5 5,2 ,5 Jenis usaha Tan. dewasa 26,09 6,0 52,9 ,2 Bunga Potong 80,08 62,77 7,0 ,

Program pengembangan industri anggrek baik dalam jangka pendek, menengah, maupun jangka panjang lebih difokuskan pada peningkatan produksi baik yang diproduksi lewat industri bunga potong maupun tanaman pot dalam upaya memenuhi permintaan domestik maupun pasar ekspor. Kedua industri ini juga harus ditopang oleh industri perbenihan yang handal. Namun demikian, dalam program jangka menengah juga difokuskan pada peningkatan kualitas, sementara program jangka panjang selain kualitas juga memperbanyak ragam dari komoditas ini sesuai selera pasar (Gambar 5).
Benih Anggrek Berkualitas & Beragam Bunga Potong Berkualitas & Beragam Tanaman Pot Berkualitas & Beragam

Benih Anggrek Bunga Potong Tanaman Pot 2005

Benih Anggrek Berkualitas Bunga Potong Berkualitas Tanaman Pot Berkualitas Benih Anggrek Bunga Potong TanamanPot 200 205

2025

Gambar 5. Peta jalan (road map) program pengembangan industri anggrek 9

AGRO INOVASI

ProsPek dan arah Pengembangan agribisnis : rangkuman kebutuhan investasi

C. Komoditas Perkebunan 1. Kakao Kakao merupakan salah satu komoditas perkebunan yang peranannya cukup penting bagi perekonomian nasional, khususnya sebagai penyedia lapangan kerja, sumber pendapatan dan devisa negara. Disamping itu kakao juga berperan dalam mendorong pengembangan wilayah dan pengembangan agroindustri. Pada tahun 2002, perkebunan kakao telah menyediakan lapangan kerja dan sumber pendapatan bagi sekitar 900 ribu kepala keluarga petani yang sebagian besar berada di Kawasan Timur Indonesia (KTI) serta memberikan sumbangan devisa terbesar ke tiga sub sektor perkebunan setelah karet dan kelapa sawit dengan nilai sebesar US $ 70 juta. Indonesia berpotensi untuk menjadi produsen utama kakao dunia, apabila berbagai permasalahan utama (mengganasnya serangan hama PBK. mutu produk yang masih rendah dan masih belum optimalnya pengembangan produk hilir kakao) dapat diatasi dan agribisnis kakao dikembangkan dan dikelola secara baik. Indonesia masih memiliki lahan potensial yang cukup besar untuk pengembangan kakao. Disamping itu kebun yang telah di bangun masih berpeluang untuk ditingkatkan produktivitasnya karena produktivitas rata-rata saat ini kurang dari 50% potensinya. Di sisi lain, situasi perkakaoan dunia beberapa tahun terakhir sering mengalami defisit, sehingga harga kakao dunia stabil pada tingkat yang tinggi. Kondisi ini merupakan suatu peluang yang baik untuk segera dimanfaatkan. Upaya peningkatan produksi kakao mempunyai arti yang strategis karena pasar ekspor biji kakao Indonesia masih sangat terbuka dan pasar domestik masih belum tergarap. Investasi rehabilitasi, peremajaan dan perluasan areal perkebunan kakao cukup menguntungkan (Tabel 9). Rehabilitasi menghabiskan dana investasi sebesar Rp 0 juta/ha dan menghasilkan NPV sebesar Rp 5,7 juta dan B/C sebesar ,52 pada tingkat diskonto 5% serta IRR sebesar 29,92%. Peremajaan membutuhkan biaya investasi sebesar Rp 7,5 juta/ha kebun kakao dan dengan
50

ProsPek dan arah Pengembangan agribisnis : rangkuman kebutuhan investasi

AGRO INOVASI

investasi tersebut akan dihasilkan NPV sebesar Rp 9,58 juta dan B/C sebesar ,27 pada tingkat diskonto 5% serta IRR sebesar 2,62%. Sementara untuk perluasan dibutuhkan dana investasi sebesar Rp 20 juta/ha kebun kakao dan dihasilkan NPV sebesar Rp 7,5 juta dan B/C sebesar ,20 pada tingkat diskonto 5% serta IRR sebesar 9,7%.
Tabel 9. Kelayakan rehabilitasi, peremajaan dan perluasan kebun kakao (ha) Uraian Biaya Investasi (Rp jt) NPV (Rp/jt) B/C IRR (%) Rehabilitasi 0,0 5,7 ,52 29,92 Peremajaan 7,5 9,58 ,27 2,62 Perluasan 20,0 7,50 ,20 9,7

2. Karet Karet merupakan salah satu komoditi perkebunan penting, baik sebagai sumber pendapatan, kesempatan kerja dan devisa, pendorong pertumbuhan ekonomi sentra-sentra baru di wilayah sekitar perkebunan karet maupun pelestarian lingkungan dan sumberdaya hayati. Namun sebagai negara dengan luas areal terbesar dan produksi kedua terbesar dunia, Indonesia masih menghadapi beberapa kendala, yaitu rendahnya produktivitas, terutama karet rakyat yang merupakan mayoritas (9%) areal karet nasional dan ragam produk olahan yang masih terbatas, yang didominasi oleh karet remah (crumb rubber). Rendahnya produktivitas kebun karet rakyat disebabkan oleh banyaknya areal tua, rusak dan tidak produktif, penggunaan bibit bukan klon unggul serta kondisi kebun yang menyerupai hutan. Potensi nilai tambah produk karet dapat diperoleh melalui pengembangan industri hilir dan pemanfaatan kayu karet sebagai bahan baku industri kayu (Gambar 6). Terlihat bahwa cukup banyak ragam produk yang dapat dihasilkan dari lateks, utamanya non ban, sedangkan ragam produk dari kayu karet tidak sebanyak dari lateks. Namun sampai saat ini potensi kayu karet tua belum dimanfaatkan secara optimal.
5

AGRO INOVASI

ProsPek dan arah Pengembangan agribisnis : rangkuman kebutuhan investasi

Agribisnis karet alam di masa datang mempunyai prospek yang semakin cerah, karena adanya kesadaran akan kelestarian lingkungan dan sumberdaya alam, kecenderungan penggunaan green tyres, meningkatnya industri polimer pengguna karet serta semakin langkanya sumber-sumber minyak bumi dan semakin mahalnya harga minyak bumi sebagai bahan pembuatan karet sintetis. Pada tahun 2002, jumlah konsumsi karet dunia lebih tinggi dari produksi. Indonesia akan mempunyai peluang untuk menjadi produsen terbesar dunia karena negara pesaing utama seperti Thailand dan Malaysia makin kekurangan lahan dan makin sulit mendapatkan tenaga kerja yang murah sehingga keunggulan komparatif dan kompetitif Indonesia akan makin baik.
Alat kesehatan dan laboratorium Perlengkapan kendaraan Lateks sheet Bokar Crumb rubber Alat olah raga Perlengkapan pakaian Pohon Karet Kayu Arang, kayu gergajian, pulp Perlengkapan teknik industrii Perlengkapan anak dan bayi Perlengkapan rumah tangga Furniture Barang lain
Pipet, Slang stetoskop, dll
Ban kendaraan, pedal sepeda dan motor, ban of the road, karet kaca

Bola sepak, volley, basket, pakaian selam, dll Sepatu, sandal, karet dll air house, oil seal, rubber bushing, dll Balon karet, dot susu, perlak, mainan anak, dll Karpet, perlengkapan lain Kondom, pelampung, dll

Gambar 6. Pohon industri karet Sebagian besar produk karet Indonesia diolah menjadi karet remah (crumb rubber) dengan kodifikasi standard indonesian rubber
52

ProsPek dan arah Pengembangan agribisnis : rangkuman kebutuhan investasi

AGRO INOVASI

(SIR) dan lainnya diolah dalam bentuk RSS dan lateks pekat. Untuk meningkatkan nilai tambah komoditas karet, program jangka pendek akan difokuskan pada memperkuat pengembangan industri ban dan peralatan rumah tangga. Sementara dalam jangka menengah memperkuat dan memperbanyak munculnya industri alat olah raga dan perlengkapan anak yang berbasis karet, serta dalam program jangka panjang memperkuat dan memperbanyak industri perlengkapan teknik yang berbasis karet (Gambar 7). Program ini tentunya akan berhasil jika juga diikuti dengan peningkatan produksi dan kualitas karet dalam negeri.
Perlengkapan Teknik Alat Olah Raga Perlengkapan Anak Ban Perlengkapan RT

Crumb rubber
2005 200 205 2025

Gambar 7. Peta jalan (road map) program pengembangan industri karet

3. Kelapa sawit Kelapa sawit merupakan salah satu tanaman perkebunan yang mempunyai peran penting bagi subsektor perkebunan. Pengembangan kelapa sawit antara lain memberi manfaat dalam peningkatan pendapatan petani. Sebagai bahan baku industri pengolahan yang menciptakan nilai tambah, menyediakan kesempatan kerja bagi lebih dari 2 juta tenaga kerja di berbagai sub sistem. Dari sisi upaya pelestarian lingkungan hidup, tanaman kelapa sawit yang merupakan tanaman tahunan berbentuk pohon (tree crops) dapat berperan dalam penyerapan efek gas rumah kaca seperti (CO2) dan mampu menghasilkan O2 atau jasa lingkungan lainnya seperti konservasi biodiversity atau eko-wisata.
5

AGRO INOVASI

ProsPek dan arah Pengembangan agribisnis : rangkuman kebutuhan investasi

Beraneka ragam produk dan potensi nilai ekonomi yang dapat dihasilkan dari kelapa sawit seperti terlihat pada pohon industri kelapa sawit (Gambar 8). Produk utama yang diperoleh adalah minyak kelapa sawit dan minyak inti sawit, dan produk sampingan yang berasal dari limbah. Beberapa produk yang dihasilkan dari pengembangan minyak sawit diantaranya adalah minyak goreng, produk-produk oleokimia, seperti fatty acid, fatty alkohol, glycerine, metalic soap, stearic acid, methyl ester, dan stearin. Berkembangnya industri oleokimia dasar merangsang tumbuhnya industri barang konsumen seperti deterjen, sabun dan kosmetika. Sedangkan jenis produk yang dihasilkan dari pemanfaatan limbah adalah pupuk organik, kompos dan kalium, serat yang berasal dari tandan kosong kelapa sawit, arang aktif dari tempurung buah, pulp kertas yang berasal dari batang dan tandan sawit, perabot dan papan partikel dari batang, dan pakan ternak dari batang pelepah, serta pupuk organik dari limbah cair dari proses produksi minyak sawit.
K ayu Proses
Furnitur

Pelepah

T BS

K elapa S awit
Limbah cair Limbah padat Inti CPO

Pupuk

Pulping
Pulp

PK S

RANUT
Biogas

Kompos
Kompos

Ref+Frac Ref
RBD PO RBD olein RBD stearin

Rationing
Pakan ternak

Crushing
Bungkil PKO Kegunaan teknis, sabun dll

Pulping
Pulp

Blending
Margarin M.goreng M.masak Shortening

Penyabu nan
Sabun

Pengu rai
Serat Rayon Serat

Ref+Frac
Stearin Olein

Ref.
RBD PKO

Splitting
Fatty acids

Blending
Margarin Vanaspati Es krim M.goreng Shortening

Splitting
Fatty acids

Blending
Margarin

Hidrogen.
Hyd. PKO Hyd Olein

Proses
Fatty amida Fatty alkohol Fatty amines

Ref+Frac
Cocoa butter equivalent Super olein

Blending
Margarin Shortening

Penya bunan
Sabun

Blending
Confectio nary

Blending
Margarin

Krim Biskuit Susu isian

Es krim

Confectionary

Ref=Rafinasi Ref=Rafinasi Frac=Fraksinasi, Frac=Fraksinasi, Hidrog=hidrogenasi Hidrog=hidrogenasi

...

Proses
Emuls ifier

Gambar 8. Pohon industri kelapa sawit 5

ProsPek dan arah Pengembangan agribisnis : rangkuman kebutuhan investasi

AGRO INOVASI

Secara umum kinerja pasar domestik dan dunia memberi signal bahwa pengembangan agribisnis kelapa sawit masih mempunyai prospek yang cukup cerah, mengingat permintaan terhadap komoditas ini dan turunannya baik di pasar domestik maupun pasar dunia terus meningkat seiring dengan meningkat jumlah penduduk dan adanya perbaikan daya beli masyarakat. Dalam perdagangan CPO, Indonesia tercatat sebagai negara eksporter terbesar setelah Malaysia. Pangsa ekspor Indonesia pada tahun 969 sebesar 20,9% dan pada tahun 2002 tumbuh menjadi 2,6% terhadap ekspor dunia. Seiring dengan meningkatnya permintaan akan minyak sawit dan produk turunannya, maka diperkirakan kinerja berbagai industri yang berbasis minyak sawit juga cukup memberikan insentif yang menarik bagi para pelakunya. Keragaan perkiraan biaya dan nilai tambah menurut jenis industri yang berbasis minyak sawit disajikan pada Tabel 20.
Tabel 20. Jenis Industri, perkiraan biaya investasi dan nilai tambah industri berbasis minyak sawit. Produk Bahan Baku Tingkat Teknologi Menengah Tinggi Tinggi 200 700 Miliar 00 500 200 - 700 Miliar Perkiraan Investasi Pertambahan Nilai 20% 50% 50% 200% 00% 00% 600%

olein & stearin CPO Fatty acids ester surfactant/ emulsifier Sabun mandi Lilin CPO, PKO, Katalis Palmitat, miristat

stearat, oleat, Tinggi sorbitol, gliserol

CPO, PKO, NaOh, Sederhana Mulai dari pewarna, parfum kurang  miliar stearat Sederhana Sederhana Mulai dari kurang  miliar  200 Miliar

Kosmetik, surfaktan, (lotion, cream, ester, amida bedak, shampo)

55

AGRO INOVASI

ProsPek dan arah Pengembangan agribisnis : rangkuman kebutuhan investasi

Peta jalan (road map) pengembangan industri sawit ke depan disajikan pada Gambar 9. Kebanyakan produk olahan dan eskpor Indonesia dari kelapa sawit baru pada tahap CPO saja, sehingga nilai tambahnya lebih banyak dinikmati oleh negera pengimpor yang melakukan pengolahan lebih lanjut. Untuk meraih dan meningkatkan nilai tambah sawit dalam negeri, program pengembangan industri sawit dalam jangka pendek difokuskan pada pengembangan industri minyak goreng dan margarin, dan dalam jangka menengah adalah pengembangan industri oleokimia yang berbasis sawit. Untuk mengantisipasi terjadinya kelangkaan sumber energi (minyak tanah) maka pengembangan industri biodeisel yang berbasis sawit dalam program jangka panjang sangat prospektif dan strategis.
Biodeisel Oleokimia Minyak Goreng Margarin

CPO
2005 200 205 2025

Gambar 9. Peta jalan (road map) program pengembangan industri sawit

4. Tanaman obat Indonesia memiliki ketergantungan yang besar terhadap obat dan bahan baku obat konvensional impor yang nilainya mencapai 60 juta USD per tahun, sehingga perlu dicarikan substitusinya dengan produk industri di dalam negeri. Sementara itu, trend masyarakat konsumen dunia yang menuntut pangan dan produk kesehatan yang aman dengan slogan back to nature dan meninggalkan rokok, juga menunjukkan pertumbuhan pesat, termasuk di Indonesia. Berdasarkan klaim khasiat yang dimilikinya, jumlah serapan oleh industri obat tradisional (IOT), jumlah petani dan tenaga yang terlibat, prospek pengembangan dan trend investasi ke depan, lima komoditas tanaman
56

ProsPek dan arah Pengembangan agribisnis : rangkuman kebutuhan investasi

AGRO INOVASI

obat yang potensial untuk dikembangkan adalah temulawak, kunyit, kencur, jahe dan purwoceng. Temulawak, kunyit, kencur dan jahe merupakan kelompok tanaman rimpang-rimpangan (Zingiberaceae) mempunyai potensi yang sangat besar untuk digunakan dalam hampir semua produk obat tradisional (jamu) karena paling banyak diklaim sebagai penyembuh berbagai penyakit masyarakat moderen (degeneratif, penurunan imunitas, penurunan vitalitas). Sedangkan purwoceng sangat potensial untuk dikembangkan sebagai komplemen dan substitusi ginseng impor sehingga dapat menghemat devisa negara (Gambar 20 dan 2). Produk yang dihasilkan dari tanaman temulawak, kunyit, kencur dan jahe adalah produk setengah jadi (simplisia, pati, minyak, ekstrak), produk industri (makanan/minuman, kosmetika, farmasi, IKOT dan IOT), produk jadi (sirup, instan, bedak, tablet dan kapsul). Sedangkan untuk purwoceng, produk setengah jadi berupa simplisia dan ekstrak, produk industri dalam bentuk jamu seduh, minuman kesehatan (IKOT/IOT), pil atau tablet/kapsul (farmasi).

57

AGRO INOVASI

ProsPek dan arah Pengembangan agribisnis : rangkuman kebutuhan investasi

Keterangan : * : Teknologi tersedia, dapat dilakukan ditingkat IKOT & IOT ** : Potensial & prospektif, fitofarmaka, memerlukan investasi alih teknologi & biaya riset Gambar 20. Pohon industri temulawak, kunyit, kencur dan jahe

Peluang pasar masih cukup luas baik untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri maupun ekspor. Komoditas jahe, temulawak, kunyit, kencur dan purwoceng, sampai saat ini kontribusinya terhadap ekspor simplisia masih kecil, mengingat kebutuhan dalam negeri atas komoditas tersebut masih cukup tinggi. Sebagian IOT bahkan masih mengimpor bahan baku dari luar negeri, terutama temulawak, kunyit,
58

ProsPek dan arah Pengembangan agribisnis : rangkuman kebutuhan investasi

AGRO INOVASI

kencur dan jahe. Padahal peluang untuk berproduksi di dalam negeri cukup besar mengingat potensi lahan dan sumberdaya manusia yang ada di dalam negeri cukup memadai untuk membangun industri hulu sampai hilir (pengembangan produk) untuk ke empat komoditas tersebut. Hal ini terjadi karena nilai jual bahan baku tanpa olah di tingkat petani sangat rendah sehingga kurang menarik minat untuk mengusahakan komoditas tersebut secara intensif. Tantangan pada saat ini adalah mengusahakan pencapaian nilai jual yang memadai. Harga rimpang temulawak yang wajar di tingkat petani adalah Rp..500/kg, kunyit Rp. 000/kg, kencur Rp. 5.000/kg dan jahe Rp.2.500/kg. Investasi di sektor hulu akan menarik minat apabila nilai jual hasil produk pertanian tanaman obat bisa ditingkatkan, dengan mengoptimalkan industri hilir melalui diversifikasi produk.

Tanaman Kencur (kaempferia galanga)

59

AGRO INOVASI

ProsPek dan arah Pengembangan agribisnis : rangkuman kebutuhan investasi

Gambar 2. Pohon industri purwoceng Keterangan : * ** : Teknologi tersedia, dapat dilakukan ditingkat IKOT & IOT : Potensial & prospektif, fitofarmaka, memerlukan investasi alih teknologi & biaya riset

Pada tahun 200 luas lahan pertanian tanaman obat di Indonesia mencapai . ha dan luas tanam temulawak, kunyit, kencur dan jahe mencapai 8.5% dari luas total areal tersebut dengan sentra produksi di Pulau Jawa. Untuk nilai tambah tanaman obat di sektor usaha industri hulu, ditentukan oleh faktor produksi dalam pembudidayaannya. Faktor pendukung yang mempunyai nilai tambah adalah penyediaan bibit unggul. Rendahnya produktivitas
60

ProsPek dan arah Pengembangan agribisnis : rangkuman kebutuhan investasi

AGRO INOVASI

tanaman obat di sebagian besar sentra produksi disebabkan petani belum mengikuti teknik budidaya anjuran berdasarkan SPO yang dibakukan, serta belum menggunakan bibit unggul. Sedangkan peningkatan nilai tambah melalui diversifikasi produk primer (rimpang) menjadi produk sekunder (simplisia, ekstrak) oleh usaha agroindustri primer (pengirisan, pengeringan rimpang dan ekstraksi), merupakan salah satu upaya pemenuhan kebutuhan industri serta peningkatan pendapatan petani yang kini dilakukan. Arah pengembangan tanaman obat sampai tahun 200 masih diarahkan ke lokasi dimana industri obat tradisional berkembang yaitu di Pulau Jawa dengan target luas areal .276 ha untuk temulawak, .527 ha kunyit, .270 ha kencur, 7.2 ha jahe dan 5 ha purwoceng. Target produksi sampai tahun 200 dengan asumsi produktivitas per tahun rata-rata 7-8 ton/ha, maka produksi temulawak diperkirakan mencapai .020 ton, kunyit 5.26 ton, kencur 26.290 ton dan purwoceng 850 ton. Kecuali ada permintaan khusus, setelah 200 areal pengembangan temulawak, kunyit, kencur, jahe dan purwoceng dapat diperluas ke luar Pulau Jawa yang ketersediaan lahannya lebih luas. Untuk teknologi budidaya dan pasca panen, arah pengembangan difokuskan pada pemanfaatan varietas/klon unggul, sosialisasi dan pelatihan teknologi serta bantuan investasi permodalan. Ratarata produktivitas varietas unggul yang ada saat ini adalah untuk temulawak 20-0 ton/ha (kadar minyak atsiri 6,2-0,6%, kadar kurkumin 2,0-,%); kunyit 7-20 ton/ha (kadar kurkumin 8-%); kencur 2-6 ton/ha (kadar minyak atsiri 2,6-6,2%, kadar sari larut dalam air 62%, kadar sari larut dalam etanol 5-9,5%); dan potensi produksi jahe putih besar 20-0 ton/ha. Pengembangan agribisnis hilir komoditas tanaman obat diarahkan untuk pengembangan produk turunan berupa produk jadi, pengembangan industri hilir temulawak, kunyit, kencur, jahe dan purwoceng yang dilakukan dengan diversifikasi produk dalam bentuk yang lebih sederhana yaitu simplisia atau ekstrak.

6

AGRO INOVASI

ProsPek dan arah Pengembangan agribisnis : rangkuman kebutuhan investasi

5. Tebu Tebu/gula merupakan salah satu komoditas strategis dalam perekonomian Indonesia. Dengan luas areal sekitar 50 ribu ha pada periode 2000-2005, industri gula berbasis tebu merupakan salah satu sumber pendapatan bagi sekitar 900 ribu petani dengan jumlah tenaga kerja yang terlibat mencapai sekitar , juta orang. Gula juga merupakan salah satu kebutuhan pokok masyarakat dan sumber kalori yang relatif murah. Karena merupakan kebutuhan pokok, maka dinamika harga gula akan mempunyai pengaruh langsung terhadap laju inflasi. Di samping sebagai bahan baku utama industri gula, banyak produk turunan dari tebu yang mempunyai potensi nilai ekonomi yang bisa untuk dikembangkan karena mempunyai peluang pasar yang masih terbuka baik di pasar domestik maupun internasional (Gambar 22). Beberapa produk turunan dari tebu adalah ethanol (asam asetat, ethyl asetat), ragi roti, PST (inactive yeast), Ca-sitrat dan listrik berpeluang besar untuk mengisi pasar domestik, sementara produk turunan tebu yang memiliki peluang pasar luar negeri antara lain wafer pucuk tebu, papan partikel, papan serat, pulp, kertas, asam sitrat, Ca-sitrat, jamur. Produk turunan lainnya yang memiliki pasar yang besar adalah asam sitrat. Pasar terbesar adalah industri minuman dan deterjen.

62

ProsPek dan arah Pengembangan agribisnis : rangkuman kebutuhan investasi

AGRO INOVASI

Utilization as fuel

Electricity Charcoal Briguettes Methane & Producer Gas Pulp Paper board & card board Fiber board Particle board Moulded board Furfural & Derivates Alpha Cellulose Carboxymethyl Cellulose Xylitol Diacetyl Plastics Ethanol Amonia Poutry liter & mulch Bagasse concret Soil amendment Animal feed Exportation Fertilizer Dehydrated molases Animal feed Rum Ethyl Alcohol Rectified spirits Anhydrous alcohol Alcohol derivatives Vinegar Acetone - Butanol Citric acid Lactic acid Glycerol Yeast Single Cell Protein Aconitic acid Monosodium glutamate Dextran L-lysine Xantham Gum Itaconic acid Linolenic acid

Bagasse

Fibrous products

Flue Gasses Fertiliser Animal Feed


Wax and Fats

Cane Tops And Leaves

Miscellaneous
Filter mud Sugar Cane Sugar

Direct Utiazation
Furnace Ash
Molasses

Protein from Cane Juice

Distilling

Other fermentation industries

Miscellaneous

Gambar 22. Pohon industri tebu

Dengan masih terbuka lebarnya peluang pasar, maka prospek pengembangan tebu di Indonesia masih sangat baik. Demikian juga prospek pengembangan industri gula dan industri turunan lainnya yang berbasis tebu. Dari sisi pasar, permintaan gula dari dalam negeri masih terbuka sekitar , juta ton per tahun. Pemerintah dengan berbagai kebijakan promotif dan protektifnya telah menciptakan iklim investasi
6

AGRO INOVASI

ProsPek dan arah Pengembangan agribisnis : rangkuman kebutuhan investasi

yang kondusif untuk pengembangan industri gula berbasis tebu. Pasar internasional yang dalam tiga tahun terakhir mengalami defisit sebagai akibat tekanan yang dihadapi oleh produsen utama gula dunia juga mengindikasikan investasi pada bidang ini cukup prospektif. Selain prospektif dari sisi permintaan, usahatani tebu dan beberapa industri turunannya juga cukup menguntungkan bagi para pelakunya, seperti berturut-turut disajikan pada Tabel 2 dan 22.
Tabel 2. Analisis usahatani tanaman PC, teknologi standar PTPN (Rp jt/ha). Uraian Total Biaya Nilai Produksi Gula Penerimaan Petani (66%) Keuntungan Petani B/C Ratio Tabel 22. Analisis usaha beberapa industri berbasis tebu Jenis Usaha Pabrik Gula Ethanol Particle board (Ex Eropa atau China) Cogenaration (listrik) Biaya (Rp Miliar) Kapasitas Investasi Operasional Perkiraan B/C -0 ribu TCD 900 -000 5 - 50 . . 60 kl/hari  200 9 .7 25 -  .8 72 m per jam 95 57 6000 kWh 5 9 .8 Nilai 5,8 28,5 8,8 ,0 .9

Keterangan: Asumsi :000 kw tebu, rendemen 7.5%, harga Rp 800/kg

Program pengembangan industri gula dalam jangka pendek ditujukan untuk melakukan rehabillitasi Pabrik Gula (PG) yang ada di Jawa sehingga mampu menghasilkan gula hablur dengan harga pokok yang bersaing dan termasuk juga memproduksi refined white sugar (Gambar 2). Dalam jangka menengah ditujukan pada pengembangan PG di luar Jawa dengan beberapa bentuk produk yang bisa dihasilkan seperti gula putih, raw sugar dan refined white sugar. Dalam jangka panjang merupakan program pengembangan industri berbasis tebu, seperti ethanol, alkohol dan bahan campuran bensin.
6

ProsPek dan arah Pengembangan agribisnis : rangkuman kebutuhan investasi

AGRO INOVASI

Ethanol, Alkohol Bahan Campuran Gula Putih Raw Sugar Refined White Sugar Bensin

Refined White Sugar

Gula Hablur 2005

Gula Hablur 200 205 2025

Gambar 2. Peta jalan (road map) program pengembangan industri tebu

6. Cengkeh Cengkeh merupakan tanaman asli Indonesia, yang semulanya merupakan komoditas ekspor berubah menjadi komoditas yang harus diimpor karena pesatnya perkembangan industri rokok kretek. Cengkeh merupakan salah satu bahan baku utama rokok kretek yang mencakup 80% produk rokok nasional. Sehingga peranan komoditas cengkeh melalui industri rokok kretek sangat signifikan dalam memacu pertumbuhan perekonomian nasional. Sumbangan industri rokok kretek terhadap PDB nasional mencapai Rp 2,2 triliun dari perkiraan Rp 29 triliun penerimaan cukai rokok. Tenaga kerja yang terkait langsung maupun tidak langsung dengan industri rokok kretek mencapai sekitar 6 juta. Kegunaan produk tanaman cengkeh selain untuk rokok kretek, belum banyak dimanfaatkan. Padahal banyak produk turunan yang bernilai ekonomi dapat dihasilkan dari tanaman cengkeh (Gambar 2). Salah satu produk turunan cengkeh yang sudah berkembang adalah minyak cengkeh. Dari minyak cengkeh sendiri dapat diproduksi berbagai jenis produk lanjutan seperti eugenol yang banyak dimanfaatkan untuk fungisida dan industri makanan dan farmasi, metyl eugenol untuk pembuatan insektisida, dan beberapa produk lainnya (iso eugenol, eugenol asetat dan vanilin) yang banyak digunakan industri flavor.
65

AGRO INOVASI

ProsPek dan arah Pengembangan agribisnis : rangkuman kebutuhan investasi

Tua dan Mati Tua dan Mati


Batang Batang

Bahan bangunan Bahan bangunan

Dahan Dahan dan ranting Ranting

Kayu bakar Kayu bakar Arang Arang Arang aktif Arang Aktif

Minyak Minyak daun cengkeh daun cengkeh

Industri farmasi Industri farmasi Pestisida nabati Pestisida Nabati


Isolat Isolat dan turunannya dan turunannya

CENGKEH CENGKEH

Daun
Tepung daun kering Tepung daun kering

-- Eugenol: :industri makanan dan Eugenol industri makanan farmasi dan farmasi -- Isoeugenol: : industri flavor/ Isoeugenol industri flavor / fragrance fragrance -- Eugenol asetat : industri flavor / asetat: industri flavor/ fragrancefragrance Vanillin industri flavor/ -- Vanillin:: industri flavor / fragrance fragrance

Pestisida Nabati Pestisida nabati

- Industri rokok - Industri rokok - Rempah Rempah Bahan Baku pembuatan - Bahan baku pembuatan oleoresin oleoresin cengkeh cengkeh - Industri kerajinan Industri kerajinan -

Bunga cengkeh Bunga cengkeh

Bunga kering Bunga kering Minyak daun cengkeh Minyak daun cengkeh

Eugenol: industri makanan -- Eugenol : industri makanan dan farmasi dan farmasi Isoeugenol: flavor/ -- Isoeugenol : industri flavor / fragrance fragrance -- Eugenol asetat : industri flavor / Eugenol asetat: flavor/ fragrance fragrance -- Vanillin : industri flavor / Vanillin: industri flavor/ fragrance fragrance

Tangkai Tangkai bunga bunga cengkeh cengkeh

Minyak Minyak gagang cengkeh gagang cengkeh

-- Eugenol: :industri makanan dan Eugenol industri makanan farmasi dan farmasi -- Isoeugenol: :industri flavor// Isoeugenol industri flavor fragrance fragrance Eugenol asetat industri flavor -- Eugenol asetat: :industri flavor// fragrancefragrance - Vanillin:: industri flavor/ Vanillin industri flavor / fragrance fragrance

- Industri farmasi - Industri farmasi - Industri makanan - Industri makanan - Industri flavor/fragrance - Industri flavor /fragrance

Gambar 2. Pohon industri cengkeh

Prospek pengembangan komoditas cengkeh di Indonesia sangat cerah, terutama untuk mengisi pasar dalam negeri mengingat sampai saat ini status Indonesia dalam perdagangan cengkeh dunia adalah sebagai net importer. Selain sebagai bahan baku utama industri rokok, pengembangan komoditas cengkeh juga sangat prospek untuk memenuhi industri minyak cengkeh. Ekspor minyak cengkeh Indonesia cukup besar, yaitu lebih dari 60% dari kebutuhan dunia. Madagaskar dan Tanzania merupakan dua negara yang cukup potensial menjadi pesaing Indonesia dalam memproduksi cengkeh.
66

ProsPek dan arah Pengembangan agribisnis : rangkuman kebutuhan investasi

AGRO INOVASI

Pengembangan komoditas cengkeh dan beberapa produk turunnya juga cukup menguntungkan bagi para pelakunya, seperti disajikan berturut-turut pada Tabel 2 25.
Tabel 2. Analisis kelayakan investasi tanaman cengkeh (000 ha) Uraian NPV pada discoun faktor 8% (Rp Miliar) IRR (%) B/C Harga minimum cengkeh kering (Rp/kg) Nilai 5,8 2,20 ,5 25.625,0

Tabel 2. Analisis kelayakan investasi usaha penyulingan daun cengkeh kapasitas 5000 liter Uraian NPV pada discoun faktor 8% (Rp Juta) IRR (%) B/C Harga maksimum daun cengkeh (Rp/kg) Harga minimum minyak cengkeh (Rp/kg
Produk Eugenol Balsem Cengkeh Bahan Baku Perkiraan Investasi Minyak Cengkeh Minyak Cengkeh Rp 85 juta, kapasitas lt/produksi (2000lt/th) Jumlah Unit Usaha 2 unit

Nilai 0,7 2,00 ,26 72,0 22.650,0


Pertambahan nilai Rp 5 jt/ 000 lt Rp 00/kemasan @ 5 ml Rp 20000/lt B/C ,5 ,0

Tabel 25. Kelayakan investasi pada beberapa industri yang berbasis cengkeh.

Rp 5 juta, Kapasitas 00 unit alat 00 kemasan @ 5 ml produksi (60000kemasan/th) Rp 55 juta Kapasitas lat 000 lt/ produksi (600000lt/th) 0 unit

Fungsisida Minyak Nabati Cengkeh

,27

Sebagian besar produksi cengkeh digunakan oleh industri rokok kretek, dan sebagian kecil untuk industri minyak cengkeh dan indsutri balsem. Indonesia masih tercatat sebagai pengimpor cengkeh,

67

AGRO INOVASI

ProsPek dan arah Pengembangan agribisnis : rangkuman kebutuhan investasi

sehingga program pengembangan industri cengkeh ke dalam jangka pendek masih difokuskan indsutri yang telah berkembang saat ini melalui peningkatan pasokan bahan baku dalam negeri. Sementara pengembangan industri cengkeh dalam jangka menengah selain memperkuat industri yang telah berkembang juga diarahkan pada pengembangan industri eugenol yang berbasis cengkeh, sedangkan dalam program jangka panjang adalah mengembangkan industri fungsida nabati yang ramah lingkungan (Gambar 25).
Fungisida Nabati Eugenol

Rokok Kretek Minyak Cengkeh Balsem Cengkeh

Rokok Kretek Minyak Cengkeh Balsem Cengkeh

2005

200

205

2025

Gambar 25. Peta jalan (road map) program pengembangan industri cengkeh

7. Kelapa Kelapa merupakan bagian dari kehidupan bagi masyarakat Indonesia, karena hampir semua bagian tanaman ini dapat dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan ekonomi, sosial dan budaya. Arti penting tanaman ini bagi masyarakat yaitu tercermin dari luas areal perkebunan rakyat yang mencapai 98% dari total perkebunan yang ada dan melibatkan lebih dari  juta rumah tangga petani, dan itu pun belum termasuk tenaga kerja yang terlibat pada kegiatan pengolahan produk turunan dan hasil sampingannya yang sangat beragam. Selama ini produk olahan kelapa masih terbatas. Padahal jika dikelola dengan baik, hampir semua bagian dari tanaman kelapa mempunyai potensi nilai ekonomi (Gambar 26). Produk-produk yang dapat dihasilkan dari buah kelapa dan banyak diminati karena terbukti telah mempunyai nilai ekonomi tinggi adalah VCO, AC, CF, CP, CC serta oleo68

ProsPek dan arah Pengembangan agribisnis : rangkuman kebutuhan investasi

AGRO INOVASI

kimia yang dapat menghasilkan asam lemak, metil ester, fatty alkohol, fatty amine, fatty nitrogen, glyserol, dan lain sebagainya. Batang kelapa merupakan bahan baku industri furnitur dan bangunan.
Daun
- Bingkai Lemari - Janur - Keranjang Sampah - Sapu Lidi - Sarang Ketupat - Tatakan - Tempat Buah - Asinan - Bongol / Kelapa Muda - Lumpia - Jenewer / Gin / Lambaneg - Ragi - Tuba - Kipas - Sandal - Tas Tangan - Topi

Pucuk Daun

Manggar Kelapa

Pelepah Kering

Air Kelapa

- Minuman Segar - Cuka Kelapa - Kecap Kelapa - Nata de Coco - Minuman Isotonik - Minuman vinegar - Buko Segar - Kue Kelapa - Manisan Serutan Kelapa - Salad Kelapa Kopra Desicated Coconut Minyak Kelapa Tradisional Minyak Kelapa RBD

KELAPA

Kelapa Muda

Buah Kelapa

Kelapa Tua

Virgin Coconut Oil Bungkil Kelapa Pakan Ternak


- Arang Tempurung - Arang Aktif - Bahan Baku Industri Kerajinan - Obat Nyamuk - Tepung Batok Kelapa - Serat Sabut Kelapa - Bahan Baku Industri Kerajinan - Pewarna Batik - Pektin

Produk Oleo-kimia - Metil ester - Fatty acid - Fatty alkohol sulfates - Fatty alkohol ethoxylates - Fatty amines - Gliserol - Medium Chain Triglyceride - Coco-monoglyceride - dan lain-lain

Tempurung

Sabut Kelapa

Batang Kelapa

- Perabot - Bahan Bangunan

Akar

- Bahan Obat-obatan - Bahan Pewarna - Bost beer

Gambar 26. Pohon industri kelapa 69

AGRO INOVASI

ProsPek dan arah Pengembangan agribisnis : rangkuman kebutuhan investasi

Peluang pengembangan agribisnis kelapa dengan produk bernilai ekonomi tinggi sangat besar dan mempunyai pasar yang cukup prospek, terutama untuk mengisi pasar ekspor. Produk kelapa nasional sebagian besar (75%) merupakan komoditi ekspor, dan sisanya sekitar 25% untuk memenuhi permintaan pasar domestik. Selain di pasar domestik, permintaan pasar ekspor terhadap produk olahan kelapa pada umumnya menunjukkan kecenderungan yang meningkat. Kontribusi usahatani kelapa terhadap pendapatan rumah tangga tani relatif masih sedikit, yaitu hanya sekitar sekitar Rp ,7 juta/ ha/th atau Rp 2 ribu/ha/bln, mengingat usaha ini pada umumnya masih merupakan usaha sambilan. Namun demikian, kinerja usaha beberapa industri berbasis kelapa yang sudah berkembang cukup menjanjikan (Tabel 26).
Tabel 26. Profil usaha beberapa produk yang berbasis kelapa Jenis Produk nata de Coco Coconut Fiber activated Carbon brown sugar desicated Coconut Skala Kecil Menengah Menengah Kecil Besar NPV (Rp jt) 95 2.62 22.92 .96 8.670 B/C ,2 2,0 ,2 2,5 ,5 IRR (%) 2,0 52, 2,0 7,0 22,0 PBP (th)  2   

Seperti halnya sawit, sebagian besar hasil olahan dari komoditas kelapa adalah dalam bentuk CCO, sehingga nilai tambah dari komoditas ini belum banyak bisa nikmati, padahal kelapa dan CCO kalau diolah lebih lanjut mampu memberikan nilai tambah dan devisa negara yang cukup besar. Untuk meraih nilai tambah tersebut, maka dalam jangka pendek program pengembangan industri kelapa difokuskan pada pengembangan industri minyak goreng dan industri VCO disertai dengan pasokan bahan baku yang semakin meningkat. Dalam jangka menengah, diharapkan sudah muncul industri-industri oleokimia tidak hanya berbasis bahan baku sawit/CPO saja, tetapi juga berbasis bahan baku kelapa/CCO. Agar nilai tambah dapat diraih
70

ProsPek dan arah Pengembangan agribisnis : rangkuman kebutuhan investasi

AGRO INOVASI

lebih secara maksimal lagi, maka program pengembangan industri kelapa dalam jangka panjang diarahkan pada industri-industri yang berbasis oleokimia (Gambar 27).
Produk Olahan Oleokimia Oleokimia Minyak Goreng VCO

CCO 2005 200 205 2025

Gambar 27. Peta jalan (road map) program pengembangan industri kelapa

D. Komoditas Peternakan 1. Unggas Komoditas unggas (lebih dari 90% adalah kontribusi dari ayam ras) menduduki komoditas pertama untuk konsumsi daging di Indonesia yakni sebesar 56%. Meskipun demikian, sampai dengan akhir tahun 200, konsumsi daging ayam ras dan telur di Indonesia juga masih rendah dibandingkan dengan beberapa negara ASEAN lainnya. Kenyataan bahwa telah terjadi pertambahan penduduk, peningkatan pendapatan, urbanisasi, perubahan gaya hidup, serta peningkatan kesadaran akan gizi seimbang dalam mencerdaskan kehidupan bangsa, memicu terjadinya lonjakan permintaan produk daging ayam dan telur setiap tahun. Agribisnis hulu perunggasan berpotensi besar pada industri pakan, obat dan vaksin, dan pembibitan (Gambar 28). Komponen biaya produksi industri terbesar perunggasan adalah biaya pakan yang mencapai 60-80%. Sementara itu, impor jagung sebagai bahan baku
7

AGRO INOVASI

ProsPek dan arah Pengembangan agribisnis : rangkuman kebutuhan investasi

utama pakan terus meningkat dari tahun ke tahun. Jika industri unggas tumbuh dengan baik, maka kebutuhan akan jagung juga terus meningkat. Pengembangan komoditas jagung perlu mendapatkan perhatian baik oleh pemerintah, swasta maupun masyarakat petani. Sementara itu Indonesia mempunyai potensi bahan pakan lain yang berasal dari limbah agroindustri. Kajian awal menunjukkan bahwa bahan-bahan tersebut berpotensi untuk digunakan sebagai salah satu komponen sumber energi bagi ayam dan itik.
1. Industri Pakan 2. Industri Obat dan Vaksin Hewan 3. Industri Pembibitan 4. Industri Peralatan Peternakan 1. Komersial Terintegrasi 2. Usaha Rakyat Bermitra 3. Usaha Mandiri (Komersial dan Usaha Rakyat).

HULU

1. Ayam ras pedaging 2. Ayam ras petelur 3. Ayam Buras 4. Itik

BUDIDAYA UNGGAS

UNGGAS PEDAGING INDUSTRI RPA


INDUSTRI PENGOLAHAN MAKANAN

HILIR

UNGGAS PETELUR

DAGING SEGAR
PRODUK OLAHAN

TELUR SEGAR
PRODUK OLAHAN
Tepung Telur Telur Asin

INDUSTRI PENGOLAHAN MAKANAN

1. Bakso 2. Sosis 3. Corned 4. Abon 5. Nugget 6. Burger

KONSUMSI RUMAH TANGGA


INDUSTRI PENGOLAHAN NON MAKANAN Peralatan RT Peralatan Olah Raga Bahan Baku Makanan Ternak

PRODUK

INDUSTRI PENGOLAHAN NON MAKANAN

Gambar 28. Pohon industri ternak unggas

Pada agribisnis hilir, peningkatan populasi ayam juga akan mengakibatkan melimpahnya hasil samping dari tindakan pemotongan yaitu berupa cakar ayam dan jeroan. Hasil samping ini belum di72

ProsPek dan arah Pengembangan agribisnis : rangkuman kebutuhan investasi

AGRO INOVASI

manfaatkan secara optimal, dimana melalui teknologi yang sederhana, hal ini dapat menjadi peluang usaha untuk investasi di bidang pengolahan industri pangan (keripik cakar dan jeroan). Bulu itik juga masih sangat berpotensi untuk diolah. Hal ini ditunjukkan masih banyak bulu itik yang belum dimanfaatkan untuk diolah sebagai komoditas ekspor yang bernilai. Dengan adanya teknologi separasi bulu diharapkan bulu itik yang dihasilkan dapat meningkatkan mutu dan harga menjadi relatif lebih tinggi. Unggas memiliki prospek pasar yang sangat baik dan merupakan pendorong utama penyediaan protein hewani nasional. Salah satu prospek pasar yang menarik dan perlu dikembangkan adalah industri pakan unggas. Daya saing produk perunggasan dinilai merupakan tantangan yang cukup kuat bagi perkembangan industri perunggasan, terlebih jika dikaitkan dengan pasar global. Komponen terbesar untuk memperoleh produk yang berdayasaing terletak pada aspek pakan, dimana biaya pakan ini merupakan komponen tertinggi dalam komposisi biaya produksi industri perunggasan. Bukti empiris menunjukkan bahwa lemahnya kinerja penyediaan bahan baku pakan menjadi salah satu kendala dalam menghasilkan produk unggas yang berdayasaing. Apalagi jika hal ini dikaitkan dengan bahan baku utama pakan unggas yang sebagian besar terdiri dari jagung, dimana impor jagung untuk kebutuhan pakan unggas terus meningkat dari tahun ke tahun. Pada akhir tahun 200 hal tersebut mencapai ,7 juta ton. Jika konsumsi pakan unggas mencapai 7,2 juta ton, maka diperlukan jagung sebesar ,5 juta ton. Diproyeksikan masing-masing pada tahun 200 dan tahun 2020, impor jagung dapat mencapai  juta ton dan 8 juta ton jika produksi jagung nasional tidak tumbuh. Jagung untuk pakan unggas memiliki prospek pasar yang sangat baik, dimana dinyatakan bahwa jika industri unggas tumbuh dengan baik, maka kebutuhan akan jagung juga terus meningkat. Arah pengembangan agribisnis unggas difokuskan untuk memantapkan dan memperluas industri perunggasan dalam rangka merespon peningkatan permintaan di dalam negeri. Mengingat populasi unggas yang rata-rata meningkat cukup tinggi (sekitar 5-0%)
7

AGRO INOVASI

ProsPek dan arah Pengembangan agribisnis : rangkuman kebutuhan investasi

setiap tahunnya maka pengembangan unggas ke depan harus mulai dipikirkan di luar Jawa, dengan pertimbangan ketersediaan pasokan bahan pakan masih memungkinkan dan prospek pemasaran yang baik. Sampai dengan 200 pengembangan unggas di sektor budidaya diarahkan untuk penyediaan daging dan telur ayam dan resistensi terhadap penyakit. Di sektor industri hulu, pengembangan diarahkan pada optimalisasi pemanfaatan bahan baku lokal, terutama jagung, untuk menjamin kontinuitas suplai yang dibutuhkan oleh pabrik pakan. Program ekstensifikasi berupa pembukaan perkebunan jagung dengan sistem PIR dapat dilakukan guna meningkatkan produksi jagung nasional. Untuk industri hilir, produksi daging dan telur selain untuk memenuhi permintaan nasional, juga diarahkan untuk peningkatan nilai tambah melalui industri pengolahan makanan. Produk olahan seperti bakso, sosis, corned, tepung telur atau telur asin nantinya akan mampu memenuhi kebutuhan protein masyarakat. Profil usaha di sektor primer menunjukkan bahwa usaha peternakan ayam ras pedagang cukup memberikan peluang usaha yang baik, sepanjang manajemen pemeliharaan mengikuti prosedur dan ketetapan yang berlaku. Hal ini ditunjukkan dengan nilai B/C yang diperoleh secara berturut-turut sebesar ,6; ,28 dan ,25 pada usaha mandiri, pola kemitraan inti-plasma dan pola kemitraan poultry shop dengan skala usaha 5 ribu ekor (Tabel 27). Indikasi yang hampir sama juga terjadi pada ayam ras petelur pada skala usaha 0 ribu ekor, dengan nilai B/C adalah ,29 dan , masingmasing untuk usaha mandiri dan pola kemitraan dengan poultry shop. Hal ini memberikan indikasi bahwa usaha peternakan ayam ras petelur mempunyai keuntungan yang relatif baik bagi para peternak. Sedangkan hal tersebut untuk usaha ayam lokal dan ternak itik masingmasing nilai B/C adalah ,0 dan ,2.

7

ProsPek dan arah Pengembangan agribisnis : rangkuman kebutuhan investasi

AGRO INOVASI

Tabel 27. Profil usaha ternak unggas (juta rupiah)


Uraian Ayam Ras Pedaging Skala Usaha Investasi/Modal Kerja Total Biaya Penerimaan Pendapatan B/C Ayam Ras Petelur Skala Usaha Investasi/Modal Kerja Total Biaya Penerimaan Pendapatan B/C Ayam Lokal Skala Usaha Investasi/Modal Kerja Total Biaya Penerimaan Pendapatan B/C Usaha Mandiri 5.000 256,0 62,2 89,9 25,8 ,6 0.000 680,0 .2,7 .708,6 8,9 ,29 .000 5.0 7,6 8, 0,8 ,0 Pola Inti Plasma 5.000 29,9 , 70,8 7,6 ,28 0.000 .09,9 70,5 .266, 5,6 , Itik Skala Usaha Investasi/Modal Kerja Total Biaya Penerimaan Pendapatan B/C Pola Poultry shop 5.000 28,5 2,9 6,6 ,2 ,25

.000 ,9 09,8 ,7 2,9 ,20

2. Sapi Daging merupakan salah satu bahan pangan yang sangat penting dalam mencukupi kebutuhan gizi masyarakat, serta merupakan komoditas ekonomi yang mempunyai nilai sangat strategis. Untuk memenuhi kebutuhan daging di Indonesia saat ini berasal dari (i) unggas (broiler, petelur jantan, ayam kampung dan itik), (ii) sapi (sapi potong, sapi perah dan kerbau), (iii) babi, serta (iv) kambing dan domba (kado). Dari keempat jenis daging tersebut, hanya konsumsi daging sapi (<2 kg/kapita/tahun) yang masih belum dapat dipenuhi dari pasokan dalam negeri, karena laju peningkatan permintaan tidak dapat diimbangi oleh pertambahan populasi. Potensi komoditas sapi yang dapat dikembangkan untuk menunjang usaha sapi potong adalah bahan mentah utama yang
75

AGRO INOVASI

ProsPek dan arah Pengembangan agribisnis : rangkuman kebutuhan investasi

dihasilkan seperti daging, susu dan kulit (Gambar 29). Pengembangan ini dapat menghasilkan produk ikutan berupa kompos yang sangat dibutuhkan untuk menjaga kesuburan lahan. Potensi lainnya adalah produk turunan yang berupa kulit samak, terutama untuk pengembangan 5-20 tahun mendatang. Total impor daging dan sapi potong pernah mencapai setara atau sekitar 600.000-700.000 ekor/tahun (2002), dan jumlah ini sepenuhnya akan dipenuhi dari dalam negeri, maka sedikitnya diperlukan tambahan populasi induk sekitar  juta ekor, yang akan berakibat total populasi harus bertambah 2-2,5 juta ekor. Sementara itu bila dalam 5-0 tahun mendatang rata-rata konsumsi daging meningkat dan mencapai  kg/kapita/tahun, diperlukan tambahan populasi (induk, sapihan dan bakalan) sekitar -,5 juta ekor.

Gambar 29. Pohon industri agribisnis sapi 76

ProsPek dan arah Pengembangan agribisnis : rangkuman kebutuhan investasi

AGRO INOVASI

Angka-angka tersebut memberi gambaran bahwa prospek industri sapi di Indonesia cukup menjanjikan. Bila dalam 0 tahun mendatang akan diarahkan untuk melakukan substitusi impor secara selektif, maka sedikitnya diperlukan ketersediaan lahan dan/atau pakan untuk mengakomodasi penambahan populasi sebesar 5-6 juta ekor. Saat ini masih tersedia kawasan perkebunan yang relatif kosong ternak seluas > 5 juta ha, lahan sawah dan tegalan yang belum optimal dimanfaatkan untuk pengembangan ternak > 0 juta ha, serta lahan lain yang belum dimanfaatkan secara optimal > 5 juta ha di Sumatera, Kalimantan dan Sulawesi. Setiap ha kawasan perkebunan atau pertanian sedikitnya mampu menyediakan bahan pakan untuk 2 ekor sapi, sepanjang tahun. Inovasi teknologi memungkinkan untuk mengolah hasil samping dan limbah pertanian maupun agroindustri sebagai pakan murah. Tantangan yang akan dihadapi adalah meningkatkan gairah peternak untuk bersaing karena kecenderungan peningkatan impor daging dan sapi bakalan maupun sapi potong bukan semata-mata disebabkan karena senjang permintaan dan penawaran, tetapi juga karena adanya kemudahan dalam pengadaan produk impor (volume, kredit, transportasi) serta harga produk yang memang relatif murah. Dalam dasawarsa terakhir ini ada kecenderungan impor daging dan sapi hidup jumlahnya terus meningkat, kecuali sesaat setelah krisis tahun 997. Menurut laporan ACIAR (2002), pada tahun 2000 perbandingan impor daging, jerohan dan sapi hidup mendekati ::. Sementara itu pada tahun 2002 impor sapi hidup telah mencapai > 20.000 ekor. Namun akhir-akhir ini telah terjadi perubahan (penurunan impor) yang cukup signifikan. Kondisi ini telah menyebabkan harga daging di dalam negeri sangat baik dan merangsang usaha peternak sapi di pedesaan. Secara nasional populasi sapi potong dari tahun 99-2002 mengalami penurunan sebesar ,% per tahun. Saat ini populasi sapi dan kerbau di Indonesia mencapai jumlah lebih dari ,5 juta ekor. Oleh sebab itu, Arah pengembangan ternak sapi melalui peningkatan populasi ternak dapat dilakukan melalui beberapa cara, antara lain: (i) mempercepat umur beranak pertama, dari > ,5
77

AGRO INOVASI

ProsPek dan arah Pengembangan agribisnis : rangkuman kebutuhan investasi

tahun menjadi < ,5 tahun, (ii) memperpendek jarak beranak dari > 8 bulan menjadi sekitar 2- bulan sehingga akan ada tambahan jumlah anak selama masa produksi sekitar 2 ekor/induk, (iii) menekan angka kematian anak dan induk, (iv) mengurangi pemotongan ternak produktif dan ternak kecil/muda, (v) mendorong perkembangan usaha pembibitan penghasil sapi bibit, serta (vi) menambah populasi ternak produktif, melalui impor sapi betina produktif. Pada industri hulu, biaya terbesar untuk menghasilkan sapi bakalan atau daging adalah pakan, yang dapat mencapai 70-80%. Ke depan, arah pengembangan industri hulu ini difokuskan untuk membuat pola integrasi yang berdampak pada pengurangan biaya pakan usaha cow calf operation secara signifikan, sehingga produk yang dihasilkan mempunyai daya saing yang sangat tinggi. Namun untuk usaha penggemukkan diperlukan dukungan khusus berupa ransum rasional yang berkualitas namun tetap murah. Dalam hal ini yang terpenting adalah biaya ransum untuk meningkatkan pertambahan bobot badan masih ekonomis. Usaha agribisnis hulu lain yang perlu dikembangkan adalah penyediaan calon-calon induk; dan pejantan unggul, baik untuk keperluan IB maupun pejantan untuk kawin alam. Industri hilir yang dapat dikembangkan untuk menunjang usaha sapi potong pada diagram pohon industri agribisnis sapi potong adalah pengolahan bahan mentah utama yang akan dihasilkan seperti daging, susu dan kulit. Fasilitas utama dan pertama yang diperlukan adalah Rumah Potong Hewan (RPH) dan tempat penyimpanan produk yang memadai. Profil usaha penggemukkan sapi skala 000 ekor sapi bakalan setiap siklus dengan  siklus per tahun, akan diperoleh keuntungan bersih sebesar Rp. ,8 miliar dengan R/C rasio ,8 (Tabel 28). Profil usaha cow-calf operation (pembibitan) sapi skala 500 ekor induk untuk menghasilkan 000 ekor sapi bakalan per
78

ProsPek dan arah Pengembangan agribisnis : rangkuman kebutuhan investasi

AGRO INOVASI

tahun, akan diperoleh keuntungan sebesar Rp. 0,2 miliar dengan R/C rasio ,2. Sedangkan profil usaha pabrik pakan skala 0 ton per hari, akan diperoleh keuntungan sebesar Rp. 0,5 miliar per tahun dengan R/C rasio ,.
Tabel 28. Profil usaha ternak sapi dan pabrik pakan (miliar rupiah)
Komponen Skala Usaha Investasi yang diperlukan Modal Kerja Penerimaan Penjualan sapi Penjualan Pupuk Penjualan produk Pengeluaran Pakan Obat-obatan Tenaga Kerja IB Lain-lain Keuntungan R/C ratio Sapi Penggemukkan .000 ekor ,7 ,00 2,5 2,8 0,5 0,75* ,00 0,05 0,25 0, ,78 ,6 Sapi Pembibitan .500 ekor induk 0,6 6,00 2,2 ,8 0,57 ,99** ,86 0.005 0,05 0,0 0,00 0, ,2 Produksi Pakan 0 ton/hari , 0,50 2,0 2,0 ,60 ,00*** 0.50 0.0 0,50 ,

Keterangan: * termasuk pembelian sapi bakalan  X periode @ 000 ekor ** tidak termasuk pembelian sapi induk *** pembelian bahan dasar pakan

3. Kambing dan Domba Kambing dan domba (Kado) mempunyai peran yang sangat strategis bagi kehidupan masyarakat pedesaan dan berkembang di hampir seluruh wilayah Indonesia. Kado mampu berkembang dan bertahan di semua zona agro-ekologi dan hampir tidak terpisahkan
79

AGRO INOVASI

ProsPek dan arah Pengembangan agribisnis : rangkuman kebutuhan investasi

dari sistem usahatani. Pemasaran produk kado sebagian besar untuk memenuhi kebutuhan warung sate kambing, dan hanya sebagian kecil dipasarkan untuk keperluan konsumsi rumah tangga. Namun hasil ikutannya berupa kulit sangat penting bagi industri kulit skala besar maupun rumah tangga (Gambar 0). Fungsi dan peran terpenting lainnya dari ternak ini adalah untuk kepentingan dalam sistem usahatani, serta sosial budaya seperti: qurban dan akikah, seni ketangkasan domba, dan penghasil susu. Dari populasi 22 juta ekor ternak kado yang tersebar di Indonesia dapat dihasilkan sekitar 0- juta ekor anak per tahun. Produksi ini dapat mencukupi kebutuhan kado di dalam negeri. Dengan adanya tambahan permintaan untuk keperluan konsumsi di dalam negeri, kebutuhan hewan qurban serta untuk keperluan akikah, diperkirakan diperlukan tambahan ternak siap jual sekitar 5 juta ekor/tahun dalam 0 tahun ke depan. Ditinjau dari aspek pasar, pengembangan usaha ternak kado mempunyai prospek yang cukup baik untuk dikembangkan. Untuk memenuhi kebutuhan konsumsi di dalam negeri saja diperlukan tidak kurang dari 5,6 juta ekor/tahun. Permintaan dari negara tetangga seperti Malaysia, Brunei Darussalam dan Arab Saudi, mengakibatkan permintaan tersebut semakin sulit untuk dipenuhi. Guna mencukupi pasar Idul Adha saja, setiap tahun Arab Saudi memerlukan 2,5 juta ekor kado dari Indonesia. Sementara itu, Malaysia dan Brunei Darussalam memerlukan 200 ribu ekor kado. Arah pengembangan budidaya ternak kado dapat dilakukan melalui peningkatan populasi dan kualitas ternak karena dalam 0 tahun mendatang diperkirakan ada tambahan permintaan sampai 5 juta ekor kado setiap tahunnya, baik untuk tujuan konsumsi, qurban, akikah ataupun ekspor. Pengembangan ternak tipe perah atau dwiguna diharapkan dapat menjawab permintaan khusus
80

ProsPek dan arah Pengembangan agribisnis : rangkuman kebutuhan investasi

AGRO INOVASI

yang cukup potensil. Usaha untuk mendorong pengembangan ternak untuk tujuan ekspor merupakan salah satu alternatif yang harus dilakukan, dengan resiko pasokan kulit di dalam negeri akan berkurang. Di lain pihak pengembangan usaha di hilir seperti industri penyamakan kulit sangat prospektif. Saat ini kapasitas terpasang pabrik industri penyamakan kulit baru terpenuhi 0%.
Hewan qurban/ akikah Qurban/akikah EKSPOR

Hewan hidup

PDB / DEVISA

Table food (Sate/steak), susu segar Daging segar/Susu Dendeng, abon, sosis, keju, yoghurt Kulit samak* Kulit segar Kulit Domba* Jerohan (hati, usus) Tulang Kotoran/manure

Kambing Domba

Prod. Fashion Prod. Fashion Table food


Kalsium** Pakan

Limbah

Produk suplemen Sumber kalsium dan phosphor Pupuk organik/ pengamanan lingkungan Kerajinan Tangan/ souvenier

Kulit afkir

Krupuk
Kulit samak*

Keterangan: * potensial dan prospektif; ** potensial dan prospektif, teknologi masih perlu, memerlu kan investasi pemerintah untuk riset Gambar 0. Pohon industri kambing dan domba (kado)

Profil usaha ternak kambing dan domba komponennya meliputi penyediaan lahan, kandang, peralatan dan ternak induk. Biaya produksi terdiri dari biaya operasional baik biaya tetap berupa biaya penyusutan dan biaya tidak tetap yang habis dalam satu periode produksi. Komponen penerimaan terdiri dari penjualan anak lepas sapih dan ternak afkir pada periode pembesaran serta ternak bakalan
8

AGRO INOVASI

ProsPek dan arah Pengembangan agribisnis : rangkuman kebutuhan investasi

umur satu tahun pada periode penggemukkan. Nilai B/C yang diperoleh adalah ,7 dan ,9 masing-masing pada usaha pembesaran dan penggemukkan (Tabel 29). Hal ini menunjukkan bahwa usaha peternakan kado cukup memberikan prospek yang baik bagi usaha peternakan rakyat.
Tabel 29. Profil usaha ternak kambing dan domba (juta rupiah). Uraian Jumlah Betina Jumlah Jantan Jumlah Ternak Bakalan Investasi/Modal Kerja Total Biaya Penerimaan Pendapatan B/C Pembesaran Kado 90 0 9, 65,8 77, , ,7 2 72,9 6,0 8,7 2,7 ,9 Penggemukkan Kado

82

ProsPek dan arah Pengembangan agribisnis : rangkuman kebutuhan investasi

AGRO INOVASI

VI. PERKIRAAN KEBUTUHAN INVESTASI


A. Kebutuhan Investasi Sektor Pertanian Perkiraan kebutuhan investasi sektor pertanian selama periode 2005-2009 sebesar Rp 96,5 triliun dengan rincian sub sektor tanaman pangan dan hortikultura Rp 2,6 triliun, sub sektor perkebunan Rp ,8 triliun dan sub sektor peternakan Rp 29,0 triliun (Tabel 0).
Tabel 0. Perkiraan kebutuhan investasi total sektor pertanian, 2005-2009 (Rp miliar)
Tahun 2005 2006 2007 2008 2009 Total Pangan & Hortikultura .090 .75 .70 5.057 5.5 2.67 Perkebunan 6.66 7.660 8.667 9.778 .00 .772 Peternakan .687 5.209 5.766 6.6 7.007 29.0 Pertanian 5.0 7.2 9. 2.99 2.26 96.52

B. Kebutuhan Investasi Komoditas Unggulan Kebutuhan investasi revitalisasi pertanian untuk 7 komoditi yang menjadi prioritas pembangunan pertanian lima tahun mendatang (periode 2005200) diperkirakan mencapai Rp. 5,8 triliun. Sebagian besar kebutuhan investasi tersebut berasal dari pihak swasta yang mencapai Rp. 79,5 triliun atau sebesar 5,5 persen, diikuti kebutuhan investasi publik/masyarakat dan pemerintah masing-masing sebesar Rp. 52,9 triliun (6,2 persen) dan Rp. ,5 triliun (9, %) (Tabel ). Kebutuhan investasi komoditas perkebunan merupakan yang terbesar yaitu mencapai Rp. 68, triliun, diikuti peternakan Rp. 5, triliun, tanaman pangan Rp. 8,6 triliun dan hortikultura Rp. 7,8 triliun. Kebutuhan investasi komoditas perkebunan, peternakan dan hortikultura sebagian besar berasal dari kebutuhan investasi pihak swasta, sementara untuk komoditas tanaman pangan kebutuhan investasi terbesarnya berasal dari investasi publik.
8

AGRO INOVASI

ProsPek dan arah Pengembangan agribisnis : rangkuman kebutuhan investasi

Tiga komoditas yang membutuhkan investasi terbesar adalah kelapa sawit, unggas dan tanaman obat masing-masing diperkirakan mencapai Rp. 27, triliun, Rp. 2,5 triliun dan Rp. 2,7 triliun. Sementara untuk komoditas padi, jagung, kedelai dan tebu, total kebutuhan investasi masing-masing komoditas sebesar Rp. ,7 triliun, Rp. ,0 triliun, Rp. 2,6 triliun dan Rp. 8,2 triliun.

8

ProsPek dan arah Pengembangan agribisnis : rangkuman kebutuhan investasi

AGRO INOVASI

Tabel . Nilai investasi pengembangan agribisnis komoditas pertanian 2005 200
Komoditas Sektor Investasi Publik () 2.22.859 2.22.859 6.00.000 .80.000 .00.000 7.078.859 Perkiraan Kebutuhan Investasi (Rp) Tahun 2005 - 200 Pemerintah Swasta Total (2) () ()+(2)+() 66.600.000 66.600.000 20.000.000 20.000.000 8.000.000 8.000.000 9.00.000 5.706.000 6.05.000 .075.8.000 .82.66 .82.66 7.000 7.000 20.000.000 0.000.000 50.000.000 5.295.66 2.50.000.000 2.500.000.000 650.000.000 5.600.000.000.000 9..000.000 .0.000.000 7.600.000 .7.600.000 5.200.000 98.500.000 99.700.000 587.90.000 ,0.000.000 50.000.000 2.77.90.000 5.00.000.000 9.50.000.000 5.00.000.000 7.99.25.000 9.520.000 .500.000 .020.000 5.998.502 .086.829.558 .087.89.000 .20.67.060 .8.000 .500.000 6..000 97.2.000 7.560.000 0.79.000 .89.79.060 .050.000.000 8.000.000.000 00.000.000 22.50.000.000 0.250.600.000 .0.000.000 7.600.000 .76.200.000 68.2.859 98.500.000 .082.92.859 905.90.000 .0.000.000 50.000.000 2.695.90.000 0.200.000 9.020.000 20.050.000 8.6.58.859 2.9.50 .500.000 8..50 .955.809.866 .087.07.96 .09.825.8 6.7.682.66 9.77.000 .500.000 96.27.000 .22.859 97.2.000 7.560.000 578.07.859 7.800.60.655 2.500.000.000 2.000.000.000 2.800.000.000 5.00.000.000

Tanaman Pangan Padi Primer Olahan Infrastruktur Total Primer Olahan Infrastruktur Total Primer Olahan Infrastruktur Total Total Total Total

Jagung

Kedelai

Padi Hibirda Gandum Kc. Tanah Hortikultura Pisang

Total Tanaman Pangan

Jeruk

Bawang Merah

Anggrek

Primer 5.2.50 Olahan Infrastruktur Total 5.2.50 Primer .809.8.6 Olahan 27.88 Infrastruktur .8.720 Total ,8,2,922 Primer 909.2.000 Olahan Infrastruktur Total 909.2.000 Primer 2.22.859 Olahan Infrastruktur Total 2.22.859 2.75.27.9 Total Total Total 8.000.000.000 .500.000.000 .750.000.000 2.250.000.000

Total Hortikultura Peternakan Unggas Sapi Kado Total Peternakan

85