Anda di halaman 1dari 34

BAB I PENDAHULUAN Dalam ilmu kedokteran kehakiman, keracunan dikenal sebagai salah satu penyebab kematian yang cukup

banyak sehingga keberadaannya tidak dapat diabaikan. Jumlah maupun jenis reaksi pun semakin bertambah, apalagi dengan makin banyaknya macam-macam zat pembasmi hama. Selain karena faktor murni kecelakaan, racun yang semakin banyak jumlah dan jenisnya ini dapat disalahgunakan untuk tindakan-tindakan kriminal. Walaupun tindakan meracuni seseorang itu dapat dikenakan hukuman, tapi baik di dalam kitab UndangUndang Hukum Pidana maupun di dalam Hukum Acara Pidana (RIB) tidak dijelaskan batasan dari keracunan tersebut, sehingga banyak dipakai batasan-batasan racun menurut beberapa ahli, untuk tindakan kriminal ini, adanya racun harus dibuktikan demi tegaknya hukum. Arsenic, As, banyak digunakan sebagai bahan campuran obat pembasmi tikus (rodentisida). Arsen juga banyak digunakan dalam masyarakat sebagai hasil industri, misalnya sebagai bahan pengawet, bahan cat, insektisida, herbisida, campuran dalam pupuk, maupun mencemari lingkungan masyarakat karena dampak dari industri. Arsen juga digunakan dalam bidang pengobatan. Dalam hal ini digunakan arsen jenis tertentu dan dalam dosis tertentu pula, seperti neosalveran untuk pengobatan penyakit sifilis, frambusia (sampar / patek), sebagai salah satu campuran dalam tonikum, dan obat-obat lainnya seperti solarson, optarson, arsentriferrol, liquor arsenicallis, dan lain-lain. Senyawaan arsen lainnya ialah Arsine, AsH3 (arsenicum lekas uap), Arsen Trioxide (As2O3), Arsen putih, As2S2, As2S3. Karena sifat beracunnya, mudahnya didapat serta mudahnya digunakan oleh masyarakat, maka wajarlah jika ada yang menyalahgunakannya untuk hal-hal yang bertentangan dengan hukum, misalnya pada kasus pembunuhan, yang bisa dilakukan secara langsung maupun perlahan-lahan dengan gejala yang tidak jelas. Sebenarnya arsen sudah dikenal sejak dulu dari sulfide-sulfidenya, dan ahli kimia dari Yunani mendapatkan arsen putih dengan membakar salah satu diantaranya. Pada abad ke XVI, buruh-buruh tambang dariSaxony menjadi kebingungan dan tak menentu ketika mereka mencium bau smaltite, Co As2, karena zat tersebut mengeluarkan asap arsen yang beracun, dan zat tersebut tak menghasilkan perak walaupun zat tersebut nampak seperti perak putih metalik Pada 1775, Karl Wilhelm Scheele, seorang ahli kimia Swedia, menemukan bahwa arsen putih diubah menjadi asam arsenous oleh klorin air. Penambahan logam seng mengurangi arsenous asam ke gas arsine beracun. Jika lembut dipanaskan, gas berkembang akan deposit arsenik logam pada permukaan pembuluh dingin. Salah satu penemuan paling penting adalah bahwa dari "cermin arsenik" sebagai metode untuk mendeteksi racun. Pada 1787, Johann Daniel Metzger adalah penemu awal, setidaknya untuk metode untuk mendeteksi arsenik dalam solusi jika belum dalam tubuh manusia. Ia menemukan bahwa ketika oksida arsenious dipanaskan dengan arang, itu membentuk deposit seperti cermin hitam di piring dingin diadakan di atas bara. Itu adalah zat arsenik. Pada 1806, Valentine Rose mengambil ini lebih lanjut dengan menunjukkan bagaimana arsenik dapat dideteksi pada organ tubuh manusia. Dia menggunakan asam nitrat, kalium karbonat, dan kapur, penguapan campuran itu ke dalam bentuk bubuk dan

memperlakukannya dengan batubara untuk mendapatkan substansi cermin. Di 1821, Serullas memanfaatkan dekomposisi arsine untuk deteksi dalam jumlah kecil dan arsenik dalam isi perut dan urin dalam kasus-kasus keracunan. Pada 1836, James M. Marsh, seorang ahli kimia di Royal Arsenal Inggris di Woolwich, diterapkan pengamatan Serullas yang dalam mengembangkan metode yang dapat diandalkan pertama untuk menentukan keberadaan dari racun diserap dalam jaringan tubuh dan cairan seperti hati, ginjal, dan darah. Setelah pencernaan asam dari jaringan, Marsh dihasilkan arsine gas, yang ditarik melalui tabung kapiler dipanaskan. Arsine yang membusuk, meninggalkan deposit gelap arsenik logam. Ukuran kuantitatif dilakukan dengan membandingkan panjang deposit dari konsentrasi arsenik dikenal dengan orang-orang dari tes spesimen. Tahun 1800-an menyaksikan perkembangan toksikologi forensik sebagai suatu disiplin ilmu. Pada tahun 1814, Mathieiv J. B. Orfila (1787-1853), "Bapak Toksikologi,"diterbitkan Trait des Racun, pendekatan sistematis pertama untuk mempelajari kimia dan fisiologis sifat racun (Gettler, 1977). Orfila Peran sebagai saksi ahli di banyak jejak pembunuhan terkenal, terutama nya penerapan tes Marsh untuk arsen dalam persidangan yang peracun Marie Lafarge, bunga baik populer dan ilmiah terangsang dalam baru ilmu pengetahuan. Sebagai dekan fakultas kedokteran di University of Paris, siswa Orfila banyak terlatih dalam toksikologi forensik. Isolasi sukses pertama dari sebuah racun alkaloid dilakukan pada tahun 1850 oleh Jean Servials Stas, seorang ahli kimia Belgia, menggunakan solusi asam asetat dalam etanol hangat untuk mengekstrak nikotin dari jaringan dari Fougnie Gustave dibunuh.

Pada 1840, kuburan Napoleon di pulau itu dibuka, dan tubuhnya cukup terawat baik. Ia pindah dari sana ke pemakaman saat ini di Paris. Selama awal tahun 1960, sebuah tim terdiri dari dokter gigi, seorang ahli toksikologi amatir dan kolektor Napoloana yang telah membaca memoar dari seorang saksi mata (valet Napoleon) terakhir gejala Napoleon dan melihat bahwa mereka konsisten dengan yang keracunan arsenik bertahap. Begitu juga kondisi diawetkan tubuh unembalmed setelah sembilan belas tahun di kuburan. Tim memperoleh sampel rambutnya, yang terkenal telah dihapus pada hari setelah ia meninggal. Menerapkan analisis aktivasi neutron, mereka menemukan apa yang mereka yakini adalah bukti lebih tinggi dari tingkat normal arsenik dalam sampel rambut, serta pengenalan bertahap dari arsenik dari waktu ke waktu. Yang tampaknya menutup kasus ini: Napoleon dibunuh. Namun 20 tahun kemudian, sampel rambut diambil dari hadiah perwira staf di pulau dengan Napoleon dan sasaran teknologi yang berbeda, menemukan kandungan arsenik normal tetapi peningkatan kadar antinomi. Merkurius dan antinomi telah ditemukan untuk mempersulit analisis untuk arsenik. Lainnya melompat dengan penjelasan tentang bagaimana arsenik bisa saja hadir dalam Napoleon tanpa harus diadministrasikan oleh pembunuh rahasia. Arsenik yang biasa digunakan dalam wallpaper, kata satu. Juga, banyak obat pada saat itu terkandung arsenik. Pemeriksa medis Cyril Wecht menunjukkan bahwa sampel rambut Napoleon diambil pada waktu yang berbeda selama hidupnya, bukan hanya di pulau itu, telah menunjukkan pembacaan arsenik tinggi, dan bahwa sebuah artikel 2002 menunjukkan arsenik yang umum digunakan dalam produk rambut pada saat itu. Namun ada masalah dengan kontra-argumen, dan kasus Napoleon belum definitif diselesaikan. Mungkin beberapa teknologi namun di masa depan akan melakukan trik. Selain arsenik, racun lainnya telah digunakan dalam pembunuhan, dan kasus terbaru menunjukkan betapa pentingnya garis waktu dikembangkan dari pertumbuhan rambut. Dalam menghadapi kasus yang demikian, maka peranan kedokteran kehakiman sangatlah penting dalam menentukan apakah korban benar-benar meninggal karena arsen, atau sebab lain. Selain dengan pemeriksaan otopsi, dokter juga bekerja sama dengan bagian toksikologi dalam menentukan adanya arsen dan jumlahnya yang ada pada korban. Pada orang-orang sehat, juga bisa ditemukan arsen, misalnya pada orang yang minum tonikum yang mengandung arsen. Oleh karena itu dalam menentukan sebab kematian karena arsen, selain ditemukannya arsen dalam jaringan atau organ, juga harus dapat ditentukan kuantitas dari arsen yang ada dalam jaringan atau organ tersebut. Dan yang tak kalah pentingnya, walaupun mungkin tidak begitu banyak terjadi, keracunan arsen dapat berupa kontaminasi lingkungan dari zat-zat atau benda hasilan atau yang mengandung arsen.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

Kegunaan
Pada suatu saat logam-logam berat menempati tempat-tempat yang menonjol dalam pengobatan. Disamping juga merupakan penyebab-penyebab keracunan yang penting. Kecuali emas, pemakaian pengobatan dari logam-logam telah dikemukan dimana-dimana. Arsen sudah diketahui sebagai bahan untuk pengobatan oleh orang-orang Yunani dan Roma zaman dulu. Diantaranya digunakan sebagai parasitisida untuk protozoa, misalnya trypanosomiasis, spirochaeta, yaros, demam kambuhan, amoubiasis, vaginitis trichomonal; dan arsen terutama digunakan untuk mengobati filariasis pada anjing. Memang dasar-dasar dari banyak konsep-konsep modern tentang kemoterapi berasal dari kerja awal Ehrlich dengan arsen-arsen organic. Derivate-derivat arsen yang terkenal ialah salversan neoarsphenanime (mapharsan, arsenoxide). Bagaimanapun sekarang medical interest terhadap logam-logam berat telah menurun tajam, oleh karena penggantian dengan obat-obat antimikrobial alam dan sintetik yang mujarab dan aman, serta untuk ukuran kesehatan masyarakat dan higiene pencegahan dapat mengatasi masalah keracunan dari pemakaian industri-industri mereka. Namun perhatian lingkungan, telah turut membantu untuk suatu kejutan dari penelitian yang aktif dan berkelanjutan, dan sebagai literatur dalam toksikologi logam berat. Ditemukannya penisilin menyisihkan arsen sebagai obat anti lues, dan juga obat-obat baru lain yang hampir sama halnya dalam menurunkan penggunaan senyawaan arsen organik yang lain. Pada pengobatan manusia sekarang, arsen-arsen yang masih dipakai hanya untuk pengobatan beberapa penyakit tropis. Terutama masih dipakai pada penyakit-penyakit hewan. Untuk masa-masa mendatang, di Amerika Serikat dan juga di negara-negara lain, imbas dari arsen pada kesehatan, akan lebih banyak yang berasal dari industri dan lingkungan daripada yang berasal dari pemakaian obat-obatan. Salah satu campuran yang paling penting adalah arsen triokside atau arsenious okside, As2O3, dengan kata lain arsen putih yang banyak digunakan sebagai bahan utama racun tikus dan kadang-kadang dikelirukan dengan asam arsenium. Ini terjadi dalam bentuk bubuk putih atau kristal oktahedral yang tidak mempunyai rasa. Arsenic trioxide beracun dan ditemukan pada beberapa pemberantasan tikus. Beberapa obat yang sering digunakan seperti cairan acidi arsenasi dan Fowlers solution mengandung arsen trioxide. Dosis letal (yang mematikan) dari keracunan arsenic tergantung pada senyawaannya. Keracunan fatal oleh arsen trioxide adalah 0,2 0,3 gram bagi orang dewasa.

Intoksikasi akutAcute minimal lethal dose untuk arsenik trioksida pada orang dewasa adalah 70 200mg atau 1 mg/kg/hari. Dosis arsenik inorganik kurang dari 1 mg/kg dapat menyebabkan penyakit yang serius pada anak-anak. Sedangkan untuk gas arsen dapat menyebabkankematian pada kadar 150 250 ppm. Pajanan antara 25 50 ppm selama 30 menit atau100 ppm selama kurang dari 30 menit dapat menyebabkan hemolisis dan kematian. Intoksikasi kronik Sebuah sumber menuliskan frekuensi kanker jelas meningkat pada dosis 400g /hari.The National Research Council menaksir pajanan terhadap air minum yang mengandung10 g/L arsen setiap hari akan meningkatkan resiko terkena bladder cancer Campuran arsen yang beracun dalam bentuk lain yaitu trichloride, triyodide, sodium arsenate, pada Pearsons solution, Scheeles green atau Copper arsenite, Paris green, Realgar, atau arsenic sulfide, Donovans solution, (masing-masing 1 % merkuri yodide dan arsenic yodide), Clemens solution (potassium arsenat pada bromidi) dan pigmen-pigmen yang serupa Brunwick green, Vienna merah dan mineral biru dimana terdapat sejumlah arsen dalam bentuk lain. Arsen dalam beberapa campuran arsen organic lain juga toksis. Seperti telah disinggung sebelumnya bahwa penggunaan arsen dalam pengobatan sudah sangat jarang, hanya terbatas pada hewan. Di Indonesia, terutama pada masa pembangunan ini arsen banyak digunakan untuk / pada pabrik-pabrik, alat-alat kesenian, pertanian, pertanian dan perkebunan yang kadang-kadang menyebabkan keracunan, misalnya: 1. Arsenicus acid / white arsenic Bentuk kristal putih transparan, ada yang afogne seperti enamel, rasa sedikit pahit. Banyak dipakai untuk: pada peternakan untuk membersihkan bulu-bulu domba (campuran bentuk sulfur atau cairan ter), racun tikus. 2. Persenyawaan Na dan K, liquor arsenicals (Fowlers sol) Fly water merupakan campuran dari 1 bagian larutan arsenic sodium dengan 2 bagian gula dalam 20 bagian air. Kertas yang diberi larutan ini disebut Fly Paper atau Kertas lalat. Banyak dipakai untuk: membersihkan semak-semak, pengawetan kayu (membunuh serangga / preservatives) 3. Perseny arsenic / arsenic pigment dengan tembaga Antara lain copper arsenic, scheele green, emerald green (aceto arsenite of copper) Banyak dipakai untuk: membuat pigmen-pigmen hijau pada kertas hiasan (dekorasi), bahan-bahan cat. 4. Asam arsenic dan persenyewaan arsenic K dan Na Banyak dipakai untuk: pada pabrik untuk membuat magenta, rasa nilin, warnawarna aniline, jenis-jenis tinta cetak. 5. Sulfida dari arsenic Antara lain jenis realgar, orpiment (yellow arsenic sulfide). Banyak dipakai untuk: Orpiment digunakan untuk membuat lukisan-lukisan, cat kertas, warna pada mainan anak-anak, bahan perontok rambut; Orpiment ini bila dicampur dengan linae (jeruk) dapat digunakan untuk penyamakan kulit (menghilangkan wol dari kulit)

6. Arsenic Chloride Larutan arsenic dalam asam hidroklorida mengandung 1 % arsenioz acid yang sangat beracun. 7. Arsin (AsH3, Arsen uretted hydrogen) Berbentuk gas yang sangat beracun, menyebabkan hemolisa kematian yang dapat bersifat mendadak, gas tidak berwarna berbau bawang. Banyak terbentuk dalam proses produksi hydrogen, karena proses produksi persenyawaan gas arsenic dengan bantuan Hn. 8. Arsen dengan Pb Banyak dipakai untuk: membuat peluru / mimis. Klasifikasi Arsen Arsen sendiri sebagai unsur tidak digunakan. Elemen arsen adalah metal, berwarna abuabu, sering digunakan bersama timah yang digunakan dalam pabrik, kadang-kadang ditemukan dalam bentuk metal murni, dimana bentuk alamiahnya tersebut tidak toksik. Campuran tersebut tersebut bagaimanapun juga dapat beracun dan sebagian darinya terkontaminasi dengan bahan tambang, arang dan batu bara.

Arsenik Metalic Grey Jejak arsen didapat pada minyak, air dan tumbuh-tumbuhan. Sebagian kecil terdapat sebagai campuran kimia yang digunakan sebagai industri, misalnya mineral arsen, mineral alkali dan metal seperti besi, seng dan timah. Arsenik merupakan salah satu unsur yang ada di dalam tanah, sehingga perlu diketahui jika menghadapi kasus dimana korban telah dikubur. Contohnya tanah disekitar tubuh korban; yaitu di atas, bawah, dan di sekitar tubuh korban harus diambil guna dilakukan pemeriksaan toksikologis. Tindakan tersebut selayaknya diambil untuk mencegah timbulnya interpretasi yang keliru. Air dapat mengandung arsenic sebagai akibat kontaminasi dari sisa-sisa pembuangan pabrik / industri. Dalam proses pembuatan bir, arsenic dapat terbentuk, yaitu sewaktu membuat glukosa untuk dijadikan bir.

Arsenic juga ditemukan dalam jumlah yang cukup tinggi di dalam kerang, oleh sebab itu orang-orang yang mempunyai kebiasaan makan kerang, ekskresi arsenic dalam urin cukup tinggi, sama halnya dengan mereka yang keracunan arsenic kronis. Arsen dalam tabel periodik tidak termasuk golongan logam, tetapi karena mempunyai sifat mirip logam, maka dimasukkan ke dalam golongan metalloid. Yang dimaksud logam berat ialah: 1. Logam yang mempunyai sifat membentuk garam dengan asam. 2. Logam yang mempunyai berat molekul antara 59-232. 3. Logam yang dapat bereaksi dengan ligond (pengikat berupa gugus atom, ion, atau molekul yang memiliki kesanggupan untuk menjadi donor pasangan dalam satu atau lebih ikatan koordinat [coordinate bound]). Arsen digolongkan ke dalam persenyawaan organic dan in organic; pembagian ini sebagian untuk memudahkan penggolongan kimia. Arsen in organik berbeda dengan arsen organik dalam beberapa hal yang penting dalam farmakologi. Hampir semua arsen in organik dapat dianggap sebagai garam asam meta arsenit (HAsO2). Arsen yang sering digunakan untuk insektisida, racun tikus, dan herbisida adalah karbason (4-ureidobenzen-asam arsenat), glikobiarsol, drokarbil, dan oksofenarsin. Arsen trioksida (AsO3) sering disebut Arsenous acid yang merupakan anhidrid dari asam meta arsenous (HAsO2). Hampir semua trivalent arsen in organik dapat dianggap sebagai garam-garam dari asam meta arsenous. Potassium arsenat adalah salah satu pemakaian untuk segala macam pengobatan. Sodium arsenites calcium arsenite copper acete Cupie aceto arsenite dipakai terutama sebagai insektisida, rodentisida, fungisida, dan herbasida. Arsen trichlorid sekali-sekali dipakai sebagai pengganti potassium arsenat. Senyawa-senyawa arsen dari Pb, calcium, dan sodium; masih dipakai dalam formula lama insektisida, yang terkadang merupakan kepentingan dalam hal toksikologinya. Misalnya yang berasal dari arsen pentoxide, dipakai sebagai herbisida dan defoliant. Cocodyl dan sodium sodium cocodilate Na; digolongkan sebagai asam in organik, karena bentuk aktifnya adalah asam arsenikus, dimana kebanyakan cocodyl yang masuk dalam badan dikonversikan. Arsine adalah gas beracun yang menyebabkan keracunan-keracunan industri yang sering terjadi. Dimethyl arsine, dimethyl arsenic acid, dan methyl arsenic acid, sebagaimana garamgaram sodium dan amoniumnya, muncul sebagai bentuk biotik kontaminan lingkungan; dan juga dipakai sebagai herbisida. Arsen organic yang terbanyak / terpenting adalah derivat dari benzene arsenic acid. Ada tiga derivate pentavalen yang digunakan dalam pengobatan; carbosone (4-urcide

benzene arsenic acid), tryparsonide (sodium N-Carbomyl methyl p-amine benzene arsenat) dan glicobiarsol. Benzene arsenic adalah golongan ikatan arsenic karbon dan invivo yang betul-betul tidak dirubah menjadi asam in organik. Ada atau tidak adanya berbagai substituent pada cincin benzene tidak hanya menandai kelarutan dari obat, tetapi juga kemampuan penetrasinya pada membran sel, baik pada organisme parasit maupun pada inang. Pemilihannya dapat dicapai dengan penggantian grup-grup yang tepat. Arsen-arsen organik tanpa grup polar tinggi larut dalam lemak dan siap menembus kulit; beberapa senyawa biasanya mempunyai aksi nesicant. Tanpa memperhatikan apakah suatu arsen mengenai tubuh sebagai arsen trivalent atau pentavalen; semua keracunan berat dan aksi mikrobial dapat dihubungkan dengan bentuk trivalent. Beberapa arsen pentavalen, dikurangi sebagai in vivo, diubah menjadi bentuk aktif trivalent, yaitu suatu arsen ozide. Bagaimanapun redok aqnilibia; penguapan oksidasi in vivo, dan arsen trivalent dioksidasi pelan-pelan dalam tubuh menjadi pentavalen arsenic. Toksisitas yang rendah dan pengembalian yang tinggi dari arsen pentavalen di dalam urin dan ekskreta menandakan bahwa sangat kecil reduksi yang berlangsung. Arsen-arsen organik pentavalen semuanya menunjukkan sifat anion dalam cairan tubuh. Dan dalam hal menembus sel-sel inang / pejamu tidaklah sesiap jika dibandingkan dengan sel-sel dari parasit yang rentan / peka. Dan ini menunjukkan efek terapi yang lebih tinggi dari bentuk trivalent. Arsen, seperti telah disebut di muka adalah racun klasik dari pembunuhan dan bunuh diri, tapi tak kurang pentingnya untuk toksikologi industri. Efek kronis dari arsen trioxide dan dapat diduga debu-debu arsen lain, terutama terdiri dari luka pada membran mukosa dan kulit. Menurut Harsen, ulkus dan perforasi septum hidung tak jarang dapat dijumpai pada pekerja-pekerja arsen. Pentingnya arsen sebagai penyebab kanker masih diragukan. Tapi kejadian abnormal dari kanker eksterna dan saluran pernafasan pada kelompok pekerja-pekerja yang terkena debu arsenic oxide telah dilaporkan. Banyak senyawa-senyawa arsen organic yang sangat toksik. Lewisite Ch Cl = Ch As Cl2 merupakan satu diantara gas-gas yang digunakan dalam kimia yang merupakan suatu vesicant yang kuat dan dephenyl chloro arsino, dipenylamine chloro arsine, serta dipenyl cyano arsine merupakan jenis senyawa yang sangat iritan. Konsentrasi kecil dapat mengakibatkan muntah-muntah. Cairan arsen triklorid juga vesicant dan sangat toksik bila menyentuh kulit.

Arsine merupakan gas tidak berwarna, berbau bawang, dan sangat beracun. Arsine telah diperagakan terjadi dari campuran Ca hydride dan metal oxida yang ada dimana penderita bekerja, pada konsentrasi rata-rata 0,5 ppm. Besarnya bahaya arsine terletak terutama pada penguapan selektifnya daripada toksisitasnya, lain dari pada itu mungkin saja. Demikian suatu debu dari senyawa incet terdiri dari 0,1 % arsen tidak akan menyebabkan keracunan yang sama. Tapi bila zat tersebut menyebabkan proses reduksi kimia atau elektrolit, arsen mungkin menguap hampir seluruhnya seperti arsine, dan suatu konsentrasi yang berbahaya bisa dihasilkan dari material yang relatif kecil. Sifat-sifat kimia dan fisika arsen Simbol As Nomor atom 33 74,9216 (Publikasi Lexicon) Berat Atom 74,91 (Publikasi Hervey B. Elkins PhD) Berat jenis (bentuk kristal hitam) 5,7 g/cc Valensi 3,5 Titik lebur 814 C / 149 F 614 C / 113 C (Publikasi Lexicon) Titik sublimasi 615 C (Publikasi Hervey B. Elkins PhD) Senyawa-senyawa berbahaya AsH3; As2O3; AsCl3, arsenites; arsenates Senyawa-senyawa tak berbahaya Arsenic; As2S3 Efek berbahaya (kronik) Ulserasi kulit, kerusakan bagian hidung Serius Derajat 0,25 mg/m3 udara (untuk As3O3 1 mg / 1 liter M.A.C. urin. 1. Analisa urin Penilaian 2. Analisa udara 3. Analisa rambut dan kuku

1. Arsen In Organik Bentuk arsen in organik ini sifatnya sangat beracun dan paling sering digunakan karena sifatnya tersebut. Campuran ini, lebih banyak digunakan untuk pembunuhan dimana racun diberikan dalam dosis besar atau pemberian dosis kecil tetapi berulang-ulang, supaya dapat menimbulkan gejala-gejala seperti sakit biasa. Dahulu pembunuhan pada sejumlah manusia dengan racun tunggal, paling banyak menggunakan jenis arsen ini. Cara pemberiannya dengan cara dicampur pada makanan atau minuman. Tetapi cara pembunuhan seperti ini sudah jarang dilakukan lagi, karena racun ini mudah diketahui dan dicurigai secara langsung sebagai tindakan kriminal. Pada sebagian kecil kasus pembunuhan dengan preparat yang mengandung arsen dimasukkan lewat rektum, vagina,

dan uretra serta kematiannya serupa dengan yang diakibatkan oleh obat secara injeksi. Secara pervaginam dapat untuk menginduksi abortus. Kasus-kasus bunuh diri menggunakan racun lebih sering dan biasanya menggunakan racun tikus atau Paris Green. Kecelakaan akibat racun in organik sering terjadi. Sebagian kasus yang diperiksa tersebut ditenggarai menggunakan jenis racun tikus, atau semprotan untuk tanaman (makan buah-buahan, sayuran dimana berasal dari daerah yang disemprot), untuk pengawet kertas atau untuk kain, kertas dinding (karena mengandung arsen yang kemudian menjadi partikel debu dalam rumah) dan untuk campuran warna. Campuran arsen juga ditemukan pada minuman, air, bir, kopi, obat-obatan, mineral, gas, dan produk batu bara. Penggunaan obat dalam bentuk campuran arsen harus diperhatikan karena bahayanya; apakah itu diberikan secara internal ataupun secara topikal seperti lotion, salf, atau bedak untuk luka, tumor, atau kerusakan pada kulit yang lain. Gejala keracunan kadang disebabkan oleh absorbsi obat. Pada beberapa contoh kasus, arsenic trioxide sering dikelirukan dengan bubuk putih yang lain. Senyawa in organik, hanya mempunyai kemampuan kecil untuk mematikan jaringan tubuh, tapi tetap meracuni protoplasma sel tubuh, yang selama berada dalam sirkulasi darah dan jika terjadi kontak dengan sel hidup dapat menyebabkan perubahan-perubahan degeneratif. Pada umumnya aksi dari iritasi lokal tidak diketahui, tidak begitu jelas, tapi setelah diabsorbsi, akan terus ke aliran darah menuju bagian-bagian organ tubuh hingga timbul efek-efek pada kapiler. Intensitas dari toksemia tergantung dari jumlah obat dan kecepatan absorbsi obat yang diberikan. Jika racun dalam bentuk cairan akan cepat diabsorbsi, tetapi jika diberikan dalam bentuk yang padat akan diabsorbsi lebih lambat. Racun ini akan diabsorbsi dan ditimbun dalam jaringan hepar dan organ lain untuk beberapa hari, dan akan dieliminasi melalui ginjal dan traktus gastrointestinal. 2. Arsen Organik Preparat arsen organik banyak dibuat, sebagian besar diantaranya merupakan senyawa sintetis. Senyawaan organik, termasuk diantaranya merupakan golongan alifatik dan aromatik, yang mengandung baik trivalent maupun pentavalen arsenic. Bersifat kurang toksis apabila dibandingkan dengan bentuk in organik, mungkin disebabkan karena absorbsinya yang lebih lambat. Bila masuk ke dalam tubuh, akan terurai secara perlahan-lahan dan biasanya tidak menyebabkan kerusakan / kesulitan-kesulitan yang serius, namun kadang-kadang bila karena sesuatu hal, dapat mempercepat absorbsinya sehingga dapat menimbulkan efek toksis yang lebih berat. Beberapa bentuk dari trivalen digunakan pada pengobatan tripanosomiasis dan spirochaeta misalnya pada demam kambuhan sifilis. Bentuk arsen ini ditimbun dalam berbagai

organ, khususnya pada hati dan arsen jenis ini menghilang secara bertahap. Hal ini menyebabkan efeknya terhadap parasit (durasinya) arsen menjadi panjang. Arsen pentavalen organik tidak seefisien arsen trivalent, dan jika digunakan untuk obat bisa berbahaya. Arsen trivalent organik yang paling penting adalah derivat dari Arsphenamine (Salvarsan atau 606, formula HCL.NH2.C6H3As=AsC6H3.OH. NH2HCL.2H2O) diantaranya silver arsphenamine, sulfarshphenamine, bismarsen (bismuth arsphenamine sulfonate) dan neoarsphenamine (mapharsen, arseoxide, dasar dari kelompok arsphenamine). Bentuk di atas semuanya efisien dalam pengobatan spirochaeta dan penyakit protoza. Diberikan secara intra vena dalam larutan sekali dengan dosis 0,3-0,6 gram, kecuali silver arsphenamine diberikan dengan dosis lebih kecil. Sekitar tahun 1954, pengobatan berkembang dengan pemberian dosis yang lebih besar, dengan berbagai cara, misalnya intra vena perdrop lambat, intravena perdrip cepat, dan pemberian dengan spuit injeksi. Pemberian marphasen yang dikombinasi dengan bismuth atau vaksin typoid, dengan hasil pengobatan yang lebih baik. Pemberian arsen trivalent sebagai pencegahan tidak menimbulkan kerugian, tapi dalam kasus yang jarang dapat menimbulkan kematian. Kadang-kadang pasien mati dengan gejala kolaps seluruh tubuh sesudah pemberian dosis tunggal dengan injeksi. Pada otopsi, sedikit memperlihatkan gejala khas, hal ini mungkin disebabkan karena reaksi hipersensitivitas. Pada kasus lain, kematian terjadi akibat keracunan kronik oleh pemecahan / disosiasi arsen organik dari preparat arsphenamine dalam tubuh, dan efek ini memerlukan waktu beberapa hari sampai beberapa minggu untuk berkembang. Satu gejala yang paling mencolok adalah dermatitis exfoliativa pada seluruh tubuh, khas dengan adanya skuama epidermis dan infiltrasi leukosit di sekelilingnya dan pada korium. Pada kasus yang lain, terjadi asphenamine enchephaloragi dan pasien meninggal setelah koma, dan dari otopsi memperlihatkan petichae dan perdarahan yang difus dan dapat juga terjadi perdarahan pada pons. Diatesa hemorrhagi juga terjadi pada jaringan subserosa khususnya pada mesenterium, intestinum tenue, dan otot jantung. Kadang granulositopenia atau anemia aplastik, atau berkembang menjadi trombosis umum dapat terjadi. Efek berikutnya berlangsung proses degenerasi berat yang terjadi pada parenkim organ dan hati yang bisa saja terlibat, akhirnya terjadi kematian mendadak (akut) atau subakutyellow atrofi dengan sakit kuning. Pada kasus dimana korban dapat diselamatkan, dapat terlihat bercak fibrosis pada parenkim hepar dan hepatitis kronik akibat proses degeneratif yang lama. Jika pemberian tidak hati-hati, dan keluar dari vena, dapat menyebabkan tormbosis.

Pemberian BAL pada komplikasi akibat arsen organik grup salvarsan misalnya dermatosis, dermatitis exfoliativa, perdarahan otak, sakit kuning, akan memberikan hasil yang baik. Arsen organik pentavalen termasuk sodium cacodilate, (CH3)2AsO.ONa, arrhenal, arsacetin, acetarsone tryparsamide dan lainnya, pada dosis toksis akan menimbulkan efek subakut atau kronik. Tryparsamide punya efek lain yang dapat menyebabkan amblyopia. FARMAKOKINETIKA

1. Absorbsi
Senyawa-senyawa arsen yang larut dalam air diabsorbsi dari semua selaput lendir dan secara pemberian parenteral. Absorbsi senyawa arsen yang sukar larut dalam air misalnya As2O3 yang sangat tergantung pada kehalusan dari bagian-bagiannya (fineness of subdivision). Dalam obat pembasmian tanaman pengganggu (herbicides), terutama As2O3 terbagi dengan agak kasar. Walaupun senyawa arsen yang pentavalen lebih banyak mengalami imitasi daripada senyawa yang trivalent, namun senyawa arsen in organik yang pentavalen diabsorbsi lebih baik daripada yang trivalent, namun karena mereka kurang bereaksi dengan isi usus dan mukosa senyawa arsen organik yang trivalent adalah juga sedikit diarbsorpsi dari saluran gastro intestinal, kecuali melarsopral. Bagaimanapun juga zat-zat tersebut dihancurkan di dalam usus dan darinya dihasilkan senyawa arsen in organik yang siap diabsorbsi senyawa arsen yang pentavalen diabsorbsi dengan variasi yang luas carbarsone dan melarsopral absorbsinya cukup pada pemberian peroral dalam pengobatan penyakit infeksi yang sesuai. Carbarsone cukup banyak yang tidak diabsorbsi sehingga efektif untuk melawan parasit dalam usus. Triparsamide sedikit diabsorbsi dari saluran pencernaan. Absorbsi melalui kulit merupakan fungsi dari pelarut lipid. Secara umum senyawa arsen trivalent diabsorbsi lebih baik dari pada yang pentavalen. Di Amerika Serikat, masukan harian untuk senyawa arsen sangat bervariasi, tapi rataratanya 1 mg perhari dan beban untuk tubuh orang dewasa normal biasanya 14-21 mg (II-927). Pembicaraan di atas kiranya akan menjadi lengkap bila dikaitkan dengan hal-hal sebagai berikut:

1. Absorbsi melalui saluran pencernaan biasanya terjadi pada usaha bunuh diri. Pembunuhan dan keracunan anak-anak dapat terjadi karena mereka tertarik akan warna atau rasa enak suatu obat, sehingga menyebabkan keracunan karena overdosis. Saluran pencernaan masih merupakan lingkungan luar (milious externa), sehingga adanya zat-zat beracun di dalam saluran pencernaan tidak akan mengakibatkan keracunan hanya racun-racun yang bersifat kanotik atau korosif yang dapat merusak selaput lendir usus, yang selanjutnya bisa terjadi perforasi, peritonitis, yang akhirnya dapat menyebabkan kematian.

Pada umumnya zat beracun lebih mudah menyebabkan keracunan jika diberikan pada perut kosong karena lebih cepat diabsorbsi. Juga pada umumnya bentuk non ion akan lebih mudah diabsorbsi daripada bentuk ion, serta ph dapat mempengaruhi difusi zat beracun melalui membran epitel usus. Selain ph, konstante dinosiasi (p Ka) berpengaruh atas bentuk non ion dan bentuk ion, menurut persamaan Handecson Hasselbach:

- Untuk asam: P Ka ph = log (bentuk non ion) (bentuk ion) - Untuk basa : P Ka ph = log (bentuk ion) (bentuk non ion)

2.Absorbsi melalui kulit dipengaruhi oleh beberapa hal: - Stratum corneum merupakan therato limiting basic sehingga bila lapisan ini rusak atau jika integritas kulit terganggu, maka absorbsi akan dipermudah. - Spesies pada hewan. - Beberapa zat kimia dapat merubah kulit sehingga lebih permeabel terhadap zat kimia lain. - Sifat-sifat psikokimia. - Zat-zat yang larut dalam lipid kurang mudah diabsorbsi kulit jika dibandingkan dengan zat-zat yang larut dalam air. - Zat-zat kimia yang berbentuk non ion lebih mudah diabsorbsi daripada yang berbentuk ion. - Ph, ukuran molekul, temperatur dan vaskularisasi juga ikut menentukan. 3.Sebagian dari zat-zat beracun yang masuk melalui pernafasan terabsorbsi melalui selaput lendir di bagian tracheo-bronchial, non pharynx dan oropharynx serta sebagian dari zat-zat tadi tertelan dan masuk ke dalam alat pencernaan. Partikel-partikel sebesar 5 mikrometer atau lebih tetap berada di dalam nasopharynx (bernafas melalui mulut), dan yang berukuran 2-5 mikron bisa sampai ke dalam bagian tracheo-bronchial, yang kemudian oleh lendir dan silia dapat dibersihkan dengan atau tanpa perantaraan batuk. Partikel-partikel sebesar 1 mikrometer atau kurang dapat masuk ke alveoli dimana partikel-partikel itu dapat diabsorbsi masuk ke dalam darah. 2. Distribusi Setelah zat beracun memasuki plasma darah, baik dengan perantaraan absorbsi maupun langsung melalui intravena, maka zat tersebut dapat terdistribusi ke seluruh bagian tubuh. Kecepatan distribusi ditentukan oleh banyaknya vaskularisasi, mudahnya zat itu memasuki

pembuluh kapiler dan menembus membran sel jaringan, serta adanya afinitas jaringan terhadap zat tersebut. Konsentrasi zat beracun ini di dalam darah setelah beberapa waktu tertentu maka dari sini tergantung pada volume distribusinya (Vd); makin besar Vd-nya, makin kecil konsentrasi zat beracun tersebut berada di dalam darah (X). Penimbunan senyawa arsen terutama di dalam hepar, ren, dinding saluran pencernaan, limpa dan paru-paru. Dalam jumlah kecil terdapat pada otot dan jaringan syaraf. Dan selain itu juga terdapat dalam rambut dan kuku, dimana disini mulai terdapat 2 minggu sesudah pemberian dan dapat tinggal sampai 1 tahun. Pada keratin banyak terdapat gugus salf hydril, demikian juga pada jaringan tulang yang dapat menetap untuk selama-lamanya (II). 3. Biotransformasi (II) Biotransformasi dari senyawa arsen hanya sedikit sekali diketahui. Dari studi pada hewan percobaan nampak kemungkinan senyawa arsen yang trivalent sedikit demi sedikit diubah kearah bentuk pentavalen, dan keduanya sebagian-sebagian diubah ke arah methyl arsenator. 4. Ekskresi Sebagian dari suatu dosis senyawa arsen trivalent yang diabsorbsi akan diekskresikan secara lambat melalui urin setelah pemberian secara parenteral yang dimulai dalam waku 2-8 jam. Namun hal ini dapat bertahan sampai 10 hari untuk eliminasi dari arsen secara komplit setelah pemberian dosis tunggal dan dapat sampai 20 hari pada pemberian berulang. Ekskresi yang lambat ini merupakan dasar untuk terjadinya keracunan arsen yang kumulatif. Arsenate dan bentuk pentavalen yang lain pada tubuh manusia sangat cepat diekskresi, dan oleh sebab itu maka sangat kecil kemungkinannya untuk menjadi keracunan yang bersifat kumulatif, kecuali pemberian dengan dosis yang sangat tinggi dalam periode waktu tertentu. Lisella dkk. (1972), telah mengkalkulasi bahwa pada pemberian arsen pentavalen secara terus-menerus pada dosis maksimal yang diperkenankan di dalam makanan, udara, dan air, maka akan memerlukan waktu 30 tahun untuk terjadinya penimbunan beban toksis bagi badan. Sejalan dengan kenyataan bahwa senyawa arsen trivalent adalah mungkin untuk diekskresikan di dalam jaringan dan bentuk pentavalen cepat diekskresi, maka arsenate diabsorbsi pada bagian proksimal dari tubulus kontortus renir dan diekskresikan sebagai arsenite (Ginsbing, 1965). (II) Senyawa arsenite dapat menembus placental barcick dan telah ditemukan pada janin yang meninggal (sugoctal, 1969). Kira-kira 45 % dari senyawa arsen yang dihisap ketika merokok diekskresikan melalui urin dan kurang lebih 2,5 % melalui feses (Holland et all, 1959). Pada pemberian BAL (dimecarpol), maka ekskresi melalui urin sangat jelas menanjak tanpa adanya

kerusakan pada alat ekskresi. Bila pemberian BAL tepat, maka akan dapat menekan sebagian besar tanda dan gejala keracunan akut (Woody and Kometani, 1948). 5. Mekanisme keracunan Mekanisme kerja toksik yang utama dari senyawa arsen ialah dengan menghambat kerja enzim sulfihidril. Senyawa arsen organik yang trivalent misalnya phenyl arsen oxide lebih poten dalam hal menghambat kerja enzim sulfihidril daripada arsenites in organik. Arsenoxide sebagai senyawa antara yang aktif (active intermurate) tidak dapat bereaksi dengan kelompok-kelompok kimia yang lain, kecuali sulfihidril. Consparasid arsen arsen misalnya aesphenamine dan senyawa arsen yang pentavalen harus dikonversi menjadi arsenoxide atau arsenit terlebih dahulu sebelum dapat bereaksi, kecuali dikloroarsen yang dapat bereaksi langsung. Formulasi yang umum dan komplit dari reaksi arsenoxide (arsenite) dengan gugus sulfihidril dari protein adalah sebagai berikut: S-PR R As = O + 2 Hs PR R + As S-PR Dimana R adalah gugus kimia, dan PR adalah protein. Inertivasi dari enymen sulfihifdril yang esensial mungkin merupakan langkah pertama ke arah kerusakan sel. Di antara senyawa arsen, klorvinilkloroarsen (lewisite) mempunyai daya inhibisi yang terkuat. Ion arsenat dapat bekerja sebagai uncouplers pada fosforilasi oksidatif, karena itu pembentukan ATP terganggu. Sistem oksidasi piruvat dan sejumlah besar enzim lain adalah rawan terhadap senyawa arsen. Peranan dari interaksi antara senyawa arsen dengan thiocic (x liporc) acid, suatu bagian esensial dari reaksi dekarboksilasi piruvat menjadi perhatian utama, lebih dari reaksi dengan sulfihidril dari dua molekul yang berbeda seperti dilukiskan pada formula di atas senyawa arsen yang dapat bereaksi dengan kedua gugus sulfihidril dari thiocic acid untuk membentuk cincin bersegi enam, yaitu suatu cincin yang lebih stabil daripada monocyclic thio arsenites. Pembentukan cincin menunjukkan kemanjuran dimercaprol dalam pengobatan keracunan arsen. Arsine (AsH3) bergabung dengan hemoglobin dan dioksidasi menjadi campuran (compound) hemolitik dan tidak menunjukkan aksi dengan menghambat enzim sulfihidril. + H-O-H

BAB III MANIFESTASI KLINIS ARSEN

1. Efek lokal
Senyawa arsen baik organik maupun in organik dapat menembus epitel dan menyebabkan nekrosis dan pengelupasan. Campuran yang larut dalam air, daya toksis lokalnya sangat lemah; triparsamide dan senyawa organik pentavalen yang pada umumnya diberikan secara intramuskular tidak menyebabkan iritasi lokal. Zat ini larut dalam air dan cepat diabsorbsi. Dermatitis kontak dan konjungtivitis yang non alergika sering terjadi di antara para perkerja yang terpapar terhadap debu yang mengandung senyawa arsen. Menghisap udara yang mengandung arsen secara terus-menerus dapat menyebabkan perforasi septum nasi.

2. Efek sistemik
Efek pada peredaran darah

Senyawa arsen dosis kecil in organik menyebabkan vasodilatasi ringan. Dosis besar menimbulkan efek pada sistem sirkulasi. Perlukaan dapat terjadi pada semua anyaman kapiler, tapi yang sering terjadi di daerah splanchnicus. Sebagai hasilnya adalah transudasi dari plasma dan penurunan darah yang tajam, selanjutnya terjadi kerusakan arteri dan myocard serta tekanan darah turun sampai terjadi syok. Gambaran EKG yang abnormal tetap terjadi sampai satu bulan sesudah penyembuhan dari intoksikasi akuta. Senyawa arsen organ trivalent terutama mengenai kapiler, tekanan pembuluh darah (resistant vessels), dan tentang jantung, pengaruhnya sama dengan arsen in organik. Pada dosis terapeutik obat, efek pada sirkulasi bervariasi dengan jarang terjadi reaksi seperti syok angioneurotik yang segera mengikuti pemberian tryparsamide. Hal ini terjadi mengikuti pemberian senyawa arsenic sejenis dengan sifat simpatomimetik yang secara efektif meninggikan tekanan darah selama suatu krisis; dimana hal tersebut tidak terjadi selama syok oleh karena senyawa arsen in organik. Krisis ini terjadi disebabkan oleh karena flocylasi plasma protein. Arteriosclerosis perifer (clackfoot diseases dapat disebabkan oleh pemasukan senyawa arsen in organic secara kronis (Heydoen, 1970). Tractus gastrointestinal

Dosis kecil senyawa arsen in organik terutama yang trivalent menyebabkan splanchnic hyperemia. Transudasi plasma pada kapiler sebagai akibat pada dosis besar membentuk vesikula

di bawah mukosa gastrointestinal. Vesikula tadi akhirnya pecah, fragmen epitel terlepas, lalu plasma tercurah ke dalam lumen, yang kemudian akan membeku. Jaringan yang rusak dan aksi cathartic dari meningkatnya cairan dalam lumen menyebabkan naiknya peristaltik dan keluarnya tinja yang karateristiknya seperti air beras. Protiforens epitel yang normal ditekan, yang menyebabkan kerusakan lebih lanjut. Segera sesudah itu feses menjadi berdarah, muntah seringkali terjadi, dan muntahan mungkin mengandung darah. Stomatitis mungkin juga terjadi, serangan gastrointestinal mungkin terjadi dengan sedikit demi sedikit sehingga kemungkinan cara cuman arsenic mungkin diabaikan. Sindrom nausea, vomiting, diare, sakit kepala dan malaise merupakan tipe reaksi yang sering terjadi sebagai akibat pemberian injeksi senyawa arsen organik. Reaksi ini tidak segera terjadi, tetapi terjadi dalam waktu 4-12 jam sesudah injeksi dan berlangsung selama beberapa jam sampai hitungan hari. Hal ini disebabkan oleh intoksikasi oleh bagian senyawa arsenic yang aktif dari obat tersebut. Insidensi tertinggi terjadi setelah pemberian senyawa arsen trivalent dan paling rendah setelah pemberian senyawa arsen pentavalen; misalnya tryparsamide. Over dosis yang sangat besar dari senyawa arsen organik efeknya sama dengan pemberian senyawa arsen in organik. Tractus urinarius

Aksi dari senyawa arsen pada kapiler ginjal, tubuler dan glomeruli dapat menyebabkan kerusakan ren yang hebat. Efek pertama pada glomeruli, pembuluh darah mengalami dilatasi sehingga memungkinkan hilangnya protein dan kemudian terjadi pembengkakan untuk mengisi glomerulair. Variasi tingkatan dari nekrosis tubuler dan degenerasi terjadi, urin berkurang dan berisi protein, eritrosis dan carts. Sejumlah carts, albuminuria ringan dan darah pada urin sedikit meninggi, sering terjadi setelah pemberian senyawa arsen organik dengan dosis terapeutik namun efek ini hanya bersifat sementara. Kerusakan ginjal akut yang jarang terjadi akibat arsen organik adalah idiosyncrasi. Kulit

Pemberian senyawa arsen in organik dengan dosis rendah dan secara kronis akan menyebabkan vasodilatasi kulit dan milk and corce complexion. Penggunaan senyawa arsenic yang berkepanjangan juga menyebabkan hiperkeratosis dan hiperpigmentasi, yag akhirnya aksi ini menuju ke arah atrofi dan degenerasi serta mungkin juga ke arah kanker. Erupsi pada kulit umumnya terjadi setelah pengobatan dengan senyawa arsen in organik. Senyawa arsen trivalent yang sistemik mengganggu dengan respon peradangan pada kulit dan dapat menyebabkan terjadinya pyoderma. Hal tersebut juga mengganggu penyembuhan luka pada kulit dan jaringan lain.

Insidensi dermatitis pada penggunaan senyawa arsen organik pentavalen adalah rendah dan reaksinya biasanya ringan. Luka bisa lokal atau menyeluruh dalam distribusinya. Sistem syaraf pusat (SSP)

Pada penggunaan secara kronis atau terpapar dengan senyawa arsen in organik (namun jarang pada senyawa arsen organik) dapat menyebabkan neuritis periferal. Pada kasus yang berat, sumsum tulang belakang bisa terkena juga. Pada pemberian senyawa arsen in organik dengan dosis toksis secara akuta, hampir 5 % akan menunjukkan depresi sentral tanpa gejalagejala gastrointestinal. Dari arsen yang masih digunakan oleh manusia, tryparsamide tapi bukan carborsone atau glico biarzol menyebabkan insidensi yang tinggi dalah hal efek pada SSP, bila digunakan dengan dosis terapeutik. Efek ini biasanya visual. Ensefalopati dapat ditimbulkan pada penggunaan: Senyawa arsen organik trivalent misalnya: melarsoprol (paling umum sebagai rekasi toksik). Senyawa arsen organik pentavalen, glico biorsal pada dosis klinis (tapi jarang). Overdosis carbarsone.

Gejalanya termasuk sakit kepala yang berat, konvulsi dan koma. Gejala-gejala sebelumnya terlihat pada cairan serebro spinal jumlah sel dan protein bertambah. Kerusakan pada otak terutama yang berasal dari vasculair dan terjadi pada massa putih dan abu-abu, gejalanya berupa perdarahan nekrosis dengan focus yang multipel dan simetris. Perlu ditambahkan pada pemberian dimecaprol ialah pengobatan sedatif, anti konvulsan dan tindakan untuk mengurangi oedem otak, yang mana antara lain dapat dengan memberi mannitol hipertonik atau larutan ureum. Darah

Senyawa arsen in organik mengganggu sum-sum tulang dan mengubah komposisi sel-sel darah. Vaskularisasi pada sumsum tulang bertambah. Pada dosis sedang menyebabkan pengurangan eritrosit dan pada dosis besar menyebabkan perubahan morfologis sel-sel darah dengan tampak adanya megalocytes dan microscytes. Senyawa arsen in organik juga menekan produksi leukosit. Beberapa efek kronis pada adarah dapat disebabkan oleh karena terganggunya absorbsi asam folat. Arsenite juga mengganggu syntore parpyrine (Van Togeran et all, 1965). Gangguan pada darah dan sumsum tulang yang ditimbulkan oleh senyawa arsen in organic merupakan masalah yang benar-benar serius, tapi untungnya jarang terjadi. Sejumlah kasus agranulasitosis disebabkan oleh glico biornd yang mana telah dilaporkan pernah terjadi.

Hati

Senyawa arsen in organik dan sejumlah yang organik, terutama toksis terhadap lever dan menimbulkan infiltrasi lemak, nekrosis sentralis dan chirossis triparsamide yang dapat merusak kapur pada dosis terapeutik. Kerusakan bisa sedang atau berat; menyebabkan acute yellow athrophybahkan kematian. Kerusakan pada umumnya mengenai parenkim hepar, tetapi pada beberapa kasus memberikan gambaran klinis yang menyerupai aclusi saluran empedu secara umum yang disebabkan oleh pericholangitis dan thrombus empron pada cabang saluran empedu yang paling halus. Metabolisme

Aksi toksis yang mula-mula dari senyawa arsen organik menimbulkan oedema tersembunyi disebabkan oleh kerusakan kapiler. Pada kerusakan arsen eliminasi nitrogen bertambah oleh karena degenerasi jaringan yang terjadi pada banyak organ. Percobaan untuk mendemonstrasikan aksi tonik dari senyawa arsen pada hewan percobaan menunjukkan bahwa elemen ini tidak berguna pada pertumbuhan dan perkembangan.

Simptomatologi
Keracunan akut: 1. Gejala biasanya timbul - 1 jam sesudah masuknya obat, tapi mungkin terlambat sampai beberapa jam, terutama bila arsen masuk bersama makanan. 2. Rasa manis metalik, bau bawang putih pada nafas dan feses. 3. Penyempitan pada tenggorokan dan kesukaran menelan. Rasa seperti terbakar dan sakit kolik pada aerophagus ventriculus dan usus. 4. Muntah dan diare dan ekskretanya air beras seperti pada kolera dan kemudian feses berdarah. 5. Dehidrasi dengan rasa haus yang sangat dan kram otot. 6. Sianosis, pols lemah, dan anggota badan menjadi dingin. 7. Vertigo, sakit kepala bagian depan. Pada beberapa kasus (tipe serebral) vertigo stupor, delirium dan mania dapat terjadi tanpa gejala gastro intestinal yang menonjol. 8. Syncope, koma, kadang-kadang konvulsi, paralisis umum dan kematian. 9. Bila fase akut bisa sembuh, maka neuritis perifer yang termasuk syaraf sensoris dan motoris tidak jarang terserang. 10. Berbagai erupsi pada kulit, lebih sering terjadi pada keracunan kronis. 11. Pada saat penyembuhan, kelemahan dan diare akan tetap ada sampai beberapa minggu dan kadang-kadang sindrom sukar dibedakan dengan keracunan kronis.

Keracunan kronis Terdapat manifestasi sebagai berikut, mulai dari anoreksia, gangguan pencernaan yang ringan, sedikit demam, pucat, lemah, peradangan catarrhal pada hidung, tenggorokan, konjungtiva dan laring seperti pada infeksi coryza; stomatitis dan salivasi juga sering terjadi. Gangguan kulit dapat berupa eritrema, eczema, pigmentasi (arsenic melanosis), keratosis (terutama pada telapak tangan dan kaki), bersisik dan desquamasi, kuku rapuh, rambut dan kuku rontok dan oedema subkutan yang lokal. Gejala kerusakan ginjal timbul, pembesaran hepar dengan ikterus dan kadang-kadang dengan pruritus dan dapat menjadi sirosis dan asites. Komplikasi jantung (fibrilasi ventrikular dan kardiak akut) pernah dilaporkan walau jarang. Kadang-kadang ada reaksi kehilangan protein pada diskrasia darah enteropathy yang hebat, akibat dari deposit semua elemen seluler dari sum-sum tulang. Kejadian ini mungkin berhubungan dengan metabolisme folic acid. Pada keracunan yang lanjut, maka gejala syaraf menonjol yaitu encephalopaties dan neuritis perifer lebih umum terjadi. Mula-mula yang terkena syaraf sensorius hingga timbul parestesia, hipertesia dan sakit, namun kemudian muncul paralisa, atrofi otot, biasanya pada kaki. Kemungkinan akan menonjol distribusi kehilangan perasaan yang disebut Glove and Stocking. Dalam hal simptomatologi ini, lebih khas pada keracunan arsen in organik, yaitu ada empat tipe dan gejala keracunan yang terjadi: 1. Bentuk paralisis akut Akibat pemberian arsen in organik dalam jumlah besar dan cepat masuk ke dalam sirkulasi.Manifestasi dari bentuk ini ialah kolaps sirkulatori dengan tekanan darah rendah, nadi yang cepat dan lemah, pernafasan sukar dan dangkal, sesak nafas, semicommatore atau stupor dan kadang-kadang konvulsi. Pasien tidak menunjukkan gejala gastrointestinal (kalaupun ada berupa muntah-berak, nyeri perut). Gejalanya timbul mendadak. Penderita dapat meninggal sebelum 24 jam. Gejala di atas disebabkan oleh penekanan syaraf pusat oleh senyawa arsen dosis tinggi terutama pada medulla oblongata. 2. Tipe gastro-intestinal Tipe ini lebih umum terjadi dan gejala-gejala yang khas ditimbulkan oleh karena perlukaan / lesi pada ventrikulus, usus, dan organ-organ yang parenkimateous. Segera setelah masuknya senyawa arsen, terjadi muntah yang berlangsung selama 1 atau 2 jam kemudian diikuti dengan diare. Perbedaan gejala-gejala klinik yang menonjol, bervariasi pada tiap-tiap kasus. Pada beberapa kasus diare berat adalah gejala yang paling menonjol, sedangkan pada pasien lain

adalah mual, muntah, rasa panas dan terbakar, sakit dan kram pada abdomen yang menjadi keluhan utama. Pada pasien yang lain lagi dapat menderita gatal / serak pada tenggorokan, sensasi haus yang sangat, mulut terasa kering. Kombinasi dari gejala-gejala tersebut bisa terjadi. Muntah bisa terjadi terus-menerus dan muntahannya nampak seperti air beras dan terkadang berisi lendir darah dan cairan empedu. Diare mungkin hebat dan feses mungkin berdarah atau seperti air beras sama dengan feses pada cholera asiatica. Pada kasus yang lebih jelas terdapat muka yang livid, sianosis, merasa gelisah, kulit dingin lembab, kram pada lengan, betis, delirium, albuminuri, urin yang berkurang dan dehidrasi oleh karena muntah yang terusmenerus dan diare. Hal ini bermakna pada kasus muntah dapat terjadi setelah makan arsen bebas, dan ini menimbulkan keragu-raguan berhubung dengan adanya arsen sesudah diabsorbsi yang telah dikeluarkan kembali ke dalam lambung. Kematian terjadi dalam beberapa jam atau hitungan hari. Bila pasien dapat bertahan terhadap serangan maka akan terjadi pemulihan. 3. Tipe subakut Tipe ini terjadi pada pemberian senyawa arsen dalam dosis kecil, berulang-ulang, dan dalam interval tertentu. Atau pada pemberian dosis tunggal yang besar yang tidak menyebabkan kematian dalam waktu cepat namun tinggal di dalam tubuh dan menyebabkan kerusakan selama waktu ekskresinya yang lambat. Korban tetap hidup selama beberapa minggu atau sampai beberapa bulan. Beberapa dapat berkembang menjadi keracunan hepar yang degeneratif, yang melanjut menjadi acute / subacute yellow atrophy dan diikuti oleh icterus toxic yang berat. Perdarahan multipel dapat terjadi pada lapisan subserosa atau pada jaringan longgar di daerah areola. Tractus intro intestinal mungkin mengalami radang kronis dengan diare yang terus-menerus, kram dan dehidrasi. Ginjal dapat menunjukkan inflamasi, nefrosis dengan albuminuria dan urin berdarah. Erupsi pada kulit, daerah yang eczematous dan keratosis timbul di beberapa tempat. Pasien kehilangan berat badan, menjadi kurus dan lemah, sakit yang serius, dan akhirnya meninggal. 4. Tipe kronis Dapat terjadi akibat perkembangan pada sejumlah kasus, sesudah gejala akut menghilang dan ini dapat menunjukkan sejumlah manifestasi yang berbeda-beda. Pada suatu tipe neuritis kronis dapat timbul dengan degenerasi serabut syaraf yang dimulai dari daerah perifer berlanjut ke arah pusat. Lesi ini ditandai dengan paralise otot tangan dan kaki, anastesia gangguan pertumbuhan seperti atrofi otot, rambut dan kuku rontok. Pada beberapa kasus gastritis kronis dapat diamati dengan anoreksia, nausea dan diare. Kelemahan

yang progresif, coryza, keratosis pada telapak tangan dan kaki, kelopak mata yang oedematous, mata yang menonjol, kehilangan berat badan, anemia, pucat, penurunan daya tahan tubuh secara umum dan sakit-sakitan dapat terjadi. Sindrom ini dapat ditimbulkan intoksikasi dari senyawa volatil yang dihasilkan oleh jamur padawall papers yang mengandung senyawa arsen atau dengan paparan terhadap asap industri, atau dengan menelan secara terus-menerus dalam jumlah kecil di dalam makanan, atau absorbsi oleh kulit secara terus-menerus dari cat / pewarnaan baju. Bentuk keracunan akut dapat tidak didahului gejala akut. Tipe kronis dari keracunan ini tidak didahului oleh gejala akut dan nampak kronis. Di India, Sirian dan Austria biasa diberikan sebagai obat-obatan, - 2 gram arsenic trioxide tiap minggu. Dan ada beberapa kasus dengan pemberian dosis besar tidak menimbulkan efek toksis. Hal ini dapat diterangkan dengan teori peningkatan eliminasi atau penurunan absorbsi. Sedang laporan lain melaporkan terjadinya efek toksis pada pemberian arsen. Pemeriksaan toksikologi pada kasus subakut atau kronik dapat diperlihatkan hanya sedikit jumlah arsen yang di dapat dalam tubuh. Meskipun jarang, pemeriksaan toksikologi postmortem didapatkan hasil negatif. Misalnya pada keracunan kronis dengan komplikasi jaundice berat dan beberapa lesi perdarahan dengan pemeriksaan toksikologi ketika masih hidup pada urin dapat ditemukan adanya arsen, tapi pada saat otopsi tak bisa dideteksi pada organ-organ yang rusak. Pada kasus yang berlanjut, keracunan logam dapat ditimbun pada tulang, kulit, dan rambut yang terjadi lambat, dan sebagian dari rambut, kulit dan tulang tadi dapat dipergunakan untuk pemeriksaaan kimiawi sebaik organ yang dimaksud. Arsine (Hidrogen Arsine, arsiniuretted hydrogen AsH3), merupakan gas tak berwarna, yang berbau sangat busuk. Contoh ekstrim keracunan tersebut jika hidrogen bersenyawa dengan arsen trivalent pada tes Marsh. Kasus keracunan bisa terjadi di laboratorium kimia, industri pabrik, dimana logam mencair dan terbentuk asam dan hidrogen dalam jumlah besar. Sejumlah logam dan bahan kimia yang mengandung As dari proses tersebut menghasilkan arseniuretted hydrogen. Beberapa penulis menyebutkan timbulnya gas ini dalam kapal selam yang berasal dari lapisan baterai. Gejala keracunan dapat terjadi sangat cepat sesudah menghisap gas, atau dapat timbul setelah beberapa jam berlalu. Korban menjadi sakit atau tak berdaya dan mengeluh lemas, pusing, sakit kepala, sakit perut, mual, dan muntah. Arsen dapat menyerang syaraf pusat dan mengakibatkan nekrose dan kelumpuhan. Akibat penting dari gas ini adalah menyebabkan hemolise darah merah, hemoglobinuria, dan jaundice. Umumnya muncul kurang lebih 4 jam sesudah menghisap gas. Kerusakan eritrosit dapat menginduksi anemia berat. Kematian terjadi pada 36 % kasus karena kolaps jantung yang diperberat edema paru atau seperti typoid disertai delirium. Keracunan arsine kronis terjadi karena menghirup secara berulang-ulang. Gejalanya terutama multipel neuritis. Penanganan awal dengan memindahkan korban dari daerah beracun

dan pemberian O2. Transfusi dapat diberikan untuk menangani anemianya. Istirahat merupakan pengobatan simptomatis

BAB IV HASIL OTOPSI PADA KASUS ARSEN AKUT DAN KRONIS Hasil Otopsi Kasus Akut Dan Kronis. Lesi yang berupa nekrosa mempunyai tingkatan yang sangat bervariasi. Pada kematian yang terjadi dalam beberapa jam karena kolapsnya sirkulasi, membran mukosa lambung dan usus dapat tidak memperlihatkan perubahan yang bermakna. Lambung dapat kosong atau berisi lendir, atau sejumlah cairan kemerahan. Kadang-kadang pada lipatan membran mukosa lambung terdapat kristal oktahedral dari As trioxide atau bercak Paris Green, atau deposit kekuningan dari As sulfide yang terbentuk oleh kombinasi kimiawi antara arsen dengan hydrogen sulfat dalam lambung. Pada kasus lain, mukosa lambung merah kongesti dan edema, sementara itu tampak garis gelap karena korosi pada lipatan, berbentuk karet atau bentuk pemanggang besi pada tempat korosi oleh racun. Lambung dapat berisi lendir warna gelap yang bercampur darah. Pada tahap awal usus tidak menunjukkan perubahan yang berarti, meskipun arsen diperkirakan sudah sampai jaringan. Selanjutnya pada tahapan menyerang tubuh lebih lanjut, lesi meluas. Dinding lambung dan usus dapat bengkak dan kelihatan edema dan kongesti pada lapisan sub-mukosa, dan biasanya berwarna merah kecoklatan dengan perdarahan bagian dalam sub-mukosa dengan berbagai ukuran di sana-sini. Pada suatu kasus, terdapat pseudomembran warna abu-abu kekuningan pada jejunum bagian atas. Pada beberapa bagian usus dapat berwarna kuning akibat penimbunan arsenic sulfide. Usus dapat berisi sejumlah besar cairan mirip cucian beras, atau dapat kosong dan berisi lender darah. Perluasan lesi sangat bervariasi., kadang lamban, dan sebagian usus mengalami inflamasi, bahkan kadang seluruh gastrointestinal terlibat. Mulut, faring dan esophagus kadang memperlihatkan proses yang sama, hanya intensitasnya lebih rendah. Pada kulit kadang terbentuk bulla pada bagian yang terkena racun, edema pada muka dan sekitar mata pernah dilaporkan bahkan sampai terjadi perdarahan atau purulen. Inflamasi lambung dan usus sebagian besar akibat ekskresi As melalui membran mukosa dan efek lambung secara langsung mengenai pembuluh darah sub-mukosa, dan yang lebih jarang korosif langsung pada dinding usus. Pada beberapa kasus, pemberian arsen in organik pada ulkus kulit atau pada kulit yang utuh, akan diikuti dengan gejala gastrointestinal, meskipun pemberian tidak melalui mulut. Pemeriksaan mikroskopik pada lesi yang meliputi mulut dan usus pada keracunan arsen, memperlihatkan perdarahan pembuluh darah kecil sub-mukosa yang berisi sel darah merah dan sel leukosit plimorfonuklear, disertai bengkak dan membesarnya endothelium, jaringan ekstravaskuler (pada sub-mukosa) edema dan juga mengandung sel darah merah dan leukosit polimorfonuklear.

Pada korban yang mampu bertahan hidup selama beberapa hari, terjadi perubahan pada parenkim dan degenerasi lemak pada jantung, hepar, dan ginjal dengan warna suram, abu-abu kemerahan, abu-abu kekuningan. Obat akan ditimbun dalam hepar, parenkim sel akan menjadi bengkak dan ikterik, dan jaringan tubuh akan memperlihatkan berbagai tingkatan dari ikterik hepatogenous. Sesudah racun menjadi subakut atau kronik, akan terjadi komplikasi atrofi kuning akut. Perdarahan atau purpura dengan ukuran yang berbeda-beda dapat terjadi pada jaringan subserosa atau pada jaringan longgar seperti mesenterium, jaringan retroperitoneal, epikardium, preaortae, dan lain-lain. Jaringan subendokardial, khususnya pada permukaan septum ventrikel kiri dapat terlihat bercak kecil menyala seperti perdarahan atau perdarahan yang luas. Lesi ini dapat berubah menjadi perlemakan atau terjadi perubahan degenerasi lain pada endothelium kapiler dan dengan mikroskopik dapat terlihat infiltrasi polimorfonuklear yang jelas pada daerah perdarahan. Pada suatu kasus keracunan arsen akut, pemeriksaan kelenjar adrenal pada bagian korteks mengalami nekrosis disertai dengan infiltrasi leukosit. Jika arsen diberikan dalam bentuk padat dan kematian terjadi pada stadium awal, sebagian besar arsen diketemukan dalam lambung. Jika perjalanan penyakitnya lebih panjang, jumlah arsen dalam lambung berkurang. Seseudah diserap, racun disebar ke organ-organ dan terbanyak ditimbun di hepar, lien, ren, dan jaringan lain dalam beberapa minggu, secara bertahap dikeluarkan lewat urin dan feses. Hepar biasanya mengandung lebih banyak ketimbang organ lainnya, akan tetapi jumlahnya sangat bervariasi sehingga sukar untuk menentukan jumlah minimal dalam jaringan yang menyebabkan kematian. Adanya sejumlah besar arsen dalam organ akan memungkinkan lambatnya pembusukan mayat. Bukti yang nyata perihal jumlah arsen dalam organ akan tergantung pada jenis kasusnya. Meskipun demikian, riwayat penyakit dan penemuan pada otopsi sangat mengarahkan keracunan karena obat ini, memperhitungkan jumlah tiap menitnya harus hati-hati, banyak jumlah arsen yang ada dalam tubuh merupakan akibat pengobatan. Jika analisa kimia hanya terbatas pada luar tubuh atau hanya ada arsen dalam lambung, usus, tetapi organ lain seperti hati, ginjal, dan otak tidak, maka kesimpulan sebab kematian tidak bisa dibuat. Pada penanganan lain jika terasa sejumlah arsen ditemukan pada jaringan-jaringan dan organ lain dalam tubuh, khususnya pada hubungannya dengan bentuk tanda klinis dan lesi patologis, hasilnya akan signifikan adanya aksi absorbsi dan toksis antemortem. Pada kasus akut organ, yang paling baik untuk pemeriksaan adalah lambung dan isinya, hati, ginjal, dan otak. Pada beberapa kasus ini, isi usus dan urin dapat berharga. Pada otopsi bongkar jenazah, tanah di sekitarnya, cairan di sekitar peti dan sebagian dari peti seharusnya diambil untuk di tes adanya arsen untuk membatasi kontaminasi yang mungkin terjadi. Pada otopsi kasus kronis ditemukan semua jaringan kekuningan, perubahan degeneratif pada hati yang meluas ke lien, dengan deposit pada parenkim, toksik pada ginjal dan pada paru.

Pemeriksaan toksikologi dari arsine pada tubuh sama dengan campuran arsenic trioxide yang teroksidasi dalam jaringan. Pada keracunan akut, paru dan otak sangat baik untuk bahan analisa.

BAB V PEMERIKSAAN LABORATORIUM TOXICOLOGY ARSEN a. Reinsch Test Reinsch tes merupakan suatu cara untuk memancing logam-logam dari campuran dengan mempergunakan: Logam Cu untuk memancing logam As dan Hg. Logam Fe untuk memancing logam Cu.

Cara Kerja: Mempersiapkan logam Cu yang akan dipakai.

Logam Cu sebelum dipakai dibersihkan terlebih dahulu dengan jalan membakar logam Cu tersebut dengan api benzene sampai membara, kemudian dimasukkan dalam HNO3 pekat lebih kurang 10 menit, lalu dimasukkan ke dalam HCl 10 % lebih kurang 10 menit, kemudian dicuci dengan air mengalir lalu dikeringkan dengan kertas saring, masukkan ke dalam alkohol selama 10 menit kemudian dimasukkan ke dalam eter untuk membebaskannya dari lemak-lemak, dan logam Cu siap dipakai. Memancing logam dari sampel

Dengan mempergunakan logam Cu yang telah kita persiapkan. Sampel sebanyak 10 gram dikeringkan dengan waterbath, lalu dihaluskan. Masukkan bubuk sampel tadi ke dalam tabung Erlenmeyer 125 cc, kemudian tambahkan 5 cc HCl pekat lalu ditambah aquadest sebanyak 10 cc. Langkah selanjutnya, masukkan logam Cu (ikat dulu dengan benang supaya nanti mengambilnya mudah, tapi benangnya jangan ikut tercelup) lalu dipanaskan selama 1 jam. Sesudah itu logam diambil dan dicuci dengan air mengalir, kemudian keringkan. Periksa pada logam CU tersebut apakah terdapat noda-noda atau perubahan warna yang menunjukkan adanya logam yang berhasil dipancing, yaitu As atau Hg. Berikut ini cara kerja yang lebih sistematis: 1. Membuat spiral kawat tembaga dengan diameter 0,88 mm (BWG 20), dengan melingkarkan pada sebatang pensil sebanyak 14 kali, dengan menyisakan bagian yang lurus sepanjang 10 cm, sebagai pegangan. 2. Organ dengan berat 10 gram, misalnya isi lambung, masukkan ke dalam water bath, sampai kering, gerus sampai lumat. 3. Tepung BB dimasukkan dalam labu ehrlenmeyer 125 cc, tambahkan 5 cc HCl pekat, lalu tambahkan aquadest 10 cc. 4. Spiral Cu tadi dicuci dengan asam nitrat pekat, lalu bersihkan dengan air yang mengalir, kemudian dengan alkohol, lalu dengan eter.

5. Masukkan kawat spiral tadi ke dalam campuran. 6. Panasi labu erlenmeyer tadi dengan waterbath selama 1 jam. 7. Spiral diangkat; bersihkan dengan air mengalir untuk menghilangkan material BB yang melekat. Telitilah kalau masih ada sisa material BB yang melekat pada spiral tersebut. Dengan warna abu-abu dari Cu5As2, selain arsen; maka Sb, Bi, Ag, Hg, Se, Te, dan sulfiden akan membentuk deposit (kerak) pada spiral Cu tersebut. 8. Spiral Cu tadi dimasukkan dalam tabung sublimasi, dipanasi, kemudian arsennya akan bereaksi dengan udara membentuk As2O3 dan membentuk kristal oktahedral dan tetrahedral pada bagian yang dingin. Dapat ditambahkan bahwa pada waktu disublimasikan, yang menguap ada 3 macam logam, yaitu: As, Sb dan Hg. 9. Sensitivitas: 250 mikrogram As dalam 50 cc cairan. 10. Reaksi ini dapat diteruskan dengan reaksi lain, seperti tersebut di bawah ini. b. Marsh Test Sifat: Spesifik untuk arsen. Harus dilakukan di almari asam. Dasar: Senyawa arsen diredusir oleh AsH3 dipanaskan dipanaskan As+ gas hidrogen. H naccent senyawa

Reaksinya: As2O3 + 12 Zn + 12 H2SO4 4 AsH3 + 12 ZnSO4+ 4 H2O H3AsO4 + 4 Zn + 4 H2SO4 AsH3 + 4 ZnSO4 + H2O AsH3 -------------------------- As4 + 6 H2

Cara kerja: - Alat Marsh disiapkan, lengkap dengan butir-butir Zn dan H2SO4 yang bebas dari As. Ujung tabung pemanas yang bebas disambung dengan pipa karet, sedangkan ujung yang lain dimasukkan ke dalam larutan AgNO3 3 %. Gunanya untuk: 1. 2. Menghilangkan udara dalam labu Erlenmeyer agar tidak terjadi letusan. Mengetahui bahwa alat Marsh itu termasuknya reagennya bebas As. Bila ada As, akan terjadi endapan hitam pada larutan AgNO3: 6 AgNO3 + 3 H2O + AsH3 H3AsO3 + 6 HNO2 (reaksi Hofmann) Biarkan alat ini selama jam, kalaupun terjadi endapan pada larutan AgNO3, harus diulangi lagi dengan alat-alat yang lebih bersih. Jika larutan AgNO3 tetap jernih, setelah jam, pipa karet dilepas, zat yang akan diperiksa dimasukkan dalam alat Marsh, lewat corong pengisi dan pada bagian pipa yang menjepit dari pipa Marsh, dibalut dengan kasa tembaga. Dan dipanasi dengan Bunsen brander sampai memijar.

Jika zat yang diperiksa mengandung As, akan terjadi cermin pada bagian pipa setelah pemanasan. Kepekaan: 1/50 mg. Bila untuk membuat hidrogen digunakan elektrolise, dengan kepekaan 1/200 mg (4 gamma). Kepekaan yang lebih kecil lagi tidak perlu, sebab As pada jumlah yang kecil tidak toksis.

Membedakan As dan Sb: Sb, bila diperiksa dengan alat Marsh, juga akan membentuk cermin, yang mudah dibedakan dengan As. 1. Cermin As terjadi di pipa Marsh sesudah pemanasan. Cermin Sb terjadi sesudah dan sebelum pemanasan (lihat gambar). 2. Bila tabung Marsh diambil dan dialiri udara sambil dipanasi sedikit, maka cermin As akan menjadi As2O3 yang menguap dan dibawa aliran udara dan menyublim di bagian ujung sepit dari pipa Marsh, kemudian membentuk kristal yang tetra atau oktahedrat, sedang Sb membentuk sublimasi yang amorph dan dapat dilihat dengan mikroskop. 3. Bila cermin tadi adalah As, maka dapat larut dalam NaClO, sedang Sb tidak larut. Reaksinya: 2 As + NaClO + 3 H2O 1 H3AsO3 + NaCl. 4. Bila dalam tabung Marsh dialirkan gas H2S, maka baik As maupun Sb-nya akan membentuk sulfidenya. Sulfide arsen yang berwarna kuning mudah menguap, dan akan menyublim di tabung yang dingin, sedangkan sulfide Sb-nya pada pemanasan tidak menguap, namun tetap tinggal di tempatnya dan berwarna kemerahan. 5. Bila dialiri gas HCl, sulfide Asnya tetap saja, sedang sulfide Sb akan berubah menjadi chloride yang larut dalam air. c. Metoda Gutzeit Indikator: AgNO3 kristal dan Larutan AgNO3 1 % Prinsip : Senyawa As direduksi oleh H2 (hasil reaksi Zn dengan H2SO4 4N) menjadi AsH3 yang berbentuk gas. Kegunaan Pb asetat untuk mengikat gas H2S yang terjadi. Sedangkan AgNO3 berfungsi sebagai indikator, bila ada As maka akan terjadi senyawa AsH3 yang bila bereaksi dengan AgNO3 akan berwarna kuning dalam keadaan panas dan berwarna hitam dalam keadaan dingin. Reaksi: Zn + H2SO4 ------- ZnSO4 + H2 As + H2 ------- AsH3 AsH3 + 6 AgNO3 ------- AsAg3.3 AgNO3 + 3 HNO3 (berwarna kuning bila panas)

Dalam keadaan dingin akan berubah menjadi hitam karena dalam udara ada H2O AsAg3.3 AgNO3 + 3 H2O H3AsO + 6 Ag (hitam) + 3 HNO3

d. Sanger Black Test (modifikasi Gutzeit) Prinsip: As diubah dahulu menjadi AsH3, seperti pada percobaan Marsh. Indikator: inilah letak perbedaan reaksi Gutzeit dengan Sanger Black, dimana disini dipakai HgCl2 atau HgBr2. Percobaan ini dapat dipakai untuk menentukan As secara semikuantitatif. Percobaan ini kurang spesifik, namun cukup mudah dilakukan dan ketidakspesifikannya mudah diatasi. Cara kerja: Gunakan alat Sanger Black atau alat Gutzeit yang dimodifikasi. Sampel yang akan diperiksa mula-mula harus ditimbang atau diukur volumenya (ini untuk kuantitatif). Untuk mengetes kemurnian reagens dan kebersihan alatnya, dilakukan testing dahulu, jadi dilakukan percobaan tanpa sampel. Dalam labu Erlenmeyer, masukkan butiran Zn yang telah direndam dalam larutan CuSO4 5% selama 5 menit. Lalu tambahkan H2SO4 4 N sebanyak 20 cc atau lebih. Pasanglah prop (gabus penutup) yang terbuat dari karet yang sudah dipasangi cerobongnya yang berisi kertas saring / kapas yang telah diinfiltrir dengan Pb asetat, yang gunanya untuk menangkap H2S yang timbul yang dapat mengganggu jalannya pemeriksaan. Pada ujung cerobong dipasangi pipa kaca yang diisi dengan kertas saring ukuran lebar 1 mm dan telah diinfiltrir dengan sublimate. Biarkan alat ini demikian selama 30 menit. Jika kertas sublimate tetap putih, berarti reagensia dan alatnya bebas dari As, maka sediaan sampel tadi dapat dimasukkan. Ditunggu sampai terjadi perubahan warna pada kertas sublimate dan lamanya menunggu sampai perubahan warna tadi konstan (tidak bertambah panjang lagi). Bila warna yang terjadi sudah tidak bertambah panjang lagi, berarti As dalam labu sudah habis. Penentuan jumlah As yang ada ialah dengan cara dibandingkan dengan panjangnya bagian yang berubah warnanya itu dengan standart yang telah dibuat terlebih dahulu dengan berbagai macam kadar. Cara membuat standard sama saja, hanya jumlah As-nya sudah diketahui lebih dahulu. Inilah sebabnya disebut semikuantitatif karena hanya membandingkan dengan standart.

Reaksi yang terjadi (pada kertas sublimate): AsH3 + 3 HgCl2 ------- 3 HCl + As(HgCl)3 -------kuning 2 As(HgCl)3 + AsH3 ------- 3AsH(HgCl)2 ------- oranye AsH(HgCl)2 + AsH3 ------- 6 HCl + As2Hg3 ----- coklat

Warna-warna yang terjadi: Kertas sublimate yang mula-mula putih bila terkena gas AsH3 akan berubah menjadi kuning terlebih dahulu, lalu di bawahnya timbul warna oranye, coklat, dan akhirnya hitam. Jadi bagian yang paling banyak terkena gas AsH3akan berwarna hitam, yang paling sedikit akan berwarna kuning. Bahan-bahan untuk pemeriksaan: Kertas sublimate; adalah kertas saring yang telah direndam dalam larutan sublimate 5 % dalam alkohol selama 5 menit, dan dikeringkan pada temperatur kamar, setelah itu tepinya dibuang lalu dipotong dengan ukuran 1 x 80 mm. Kertas / kapas Pb asetat; adalah kertas saring atau kapas yang telah direndam dalam larutan Pb asetat 5 % selama 5 menit, lalu dikeringkan pada temperatur kamar. Jika dalam sampel, As-nya terlalu banyak, kertas sublimate yang panjangnya 8 cm tersebut seluruhnya akan berubah warna menjadi hitam, maka percobaan ini harus diulangi lagi dengan sampel yang baru dengan cara mengencerkan sampelnya menjadi separuhnya, misalnya dengan hanya memasukkan separuh dari sampel yang ada.

Yang menganggu pemeriksaan: Sb dan P. Jika sampelnya diperkirakan tercampur dengan Sb atau fosfor, maka sebelum dilakukan percobaan modifikasi Gutzeit, terlebih dahulu dilakukan percobaan Reinch, lalu kawat tembaga yang telah dipakai tadi diperiksa secara modifikasi Gutzeit. Yang ikut terpancing pada kawat Cu adalah As dan Sb, sedang P-nya tidak ikut terpancing. Dan setelah percobaan modifikasi gutzeit ini selesai, maka kertas sublimate diuji dengan HCl, sehingga bila ada Sb-nya, warna hitam yang ditimbulkan oleh adanya Sb tadi akan hilang oleh uap HCl. Material untuk keperluan analisis: 1. Isi lambung. Air bekas pembilas lambung (gastric lavage), ~ 100 ml/cc. 2. Urin, ~ 100 ml/cc. 3. Rambut, dibagi menjadi 3: ujung, tengah, pangkal; yang dipisahkan dalam 3 botol dan masing-masing diberi label 4. Kuku 5. Tulang 6. Kulit 7. Hepar, liver functietest untuk mengetahui kerusakan hepar. 8. Darah, untuk keperluan pemeriksaan albumin, pemeriksaan hematuri, dan analisis kadar arsen, juga Hb, leukosit, eritrosit, hitung jenis (differential count), terutama perubahan eosinofil. Jumlah sampel adalah sebanyak mungkin yang dapat diambil, sebab lebih baik bersisa dan dapat dikembalikan daripada kurang. Pemeriksaan toksikologi untuk arsen harus dilakukan secara kualitatif dan kuantitatif; pemeriksaan kualitatif saja tidak berarti sebab dapat pula

ditemukan arsen dalam jaringan pada orang yang suka minum tonikum yang mengandung As (misalnya Arseen triferol) dan orang tersebut malah sehat. Hasil pemeriksaan: 1. Pada keracunan akut a. b. Air seni : terdapat darah dan protein Darah : terutama pada kasus-kasus yang fatal; konsentrasi arsen 0,1 mg/100 gr. 1,5

2. Pada keracunan kronis - Rambut, kuku, air seni, dan feses: terdapat zat arsen: anemia dengan neutrophilic leucophenia.

BAB VI KESIMPULAN Sebenarnya arsen sudah dikenal sejak dulu dari sulfide-sulfidenya, dan ahli kimia dari Yunani mendapatkan arsen putih dengan membakar salah satu diantaranya. Pada abad ke XVI, buruh-buruh tambang dariSaxony menjadi kebingungan dan tak menentu ketika mereka mencium bau smaltite, Co As2, karena zat tersebut mengeluarkan asap arsen yang beracun, dan zat tersebut tak menghasilkan perak walaupun zat tersebut nampak seperti perak putih metalik. Pada 1840, kuburan Napoleon di pulau itu dibuka, dan tubuhnya cukup terawat baik. Ia pindah dari sana ke pemakaman saat ini di Paris. Selama awal tahun 1960, sebuah tim terdiri dari dokter gigi, seorang ahli toksikologi amatir dan kolektor Napoloana yang telah membaca memoar dari seorang saksi mata (valet Napoleon) terakhir gejala Napoleon dan melihat bahwa mereka konsisten dengan yang keracunan arsenik bertahap. Begitu juga kondisi diawetkan tubuh unembalmed setelah sembilan belas tahun di kuburan. Tim memperoleh sampel rambutnya, yang terkenal telah dihapus pada hari setelah ia meninggal. Menerapkan analisis aktivasi neutron, mereka menemukan apa yang mereka yakini adalah bukti lebih tinggi dari tingkat normal arsenik dalam sampel rambut, serta pengenalan bertahap dari arsenik dari waktu ke waktu. Yang tampaknya menutup kasus ini: Napoleon dibunuh. Pada tahun 1814, Mathieiv J. B. Orfila (1787-1853), "Bapak Toksikologi,"diterbitkan Trait des Racun, pendekatan sistematis pertama untuk mempelajari kimia dan fisiologis sifat racun (Gettler, 1977). Dalam menghadapi kasus yang demikian, maka peranan kedokteran kehakiman sangatlah penting dalam menentukan apakah korban benar-benar meninggal karena arsen, atau sebab lain. Selain dengan pemeriksaan otopsi, dokter juga bekerja sama dengan bagian toksikologi dalam menentukan adanya arsen dan jumlahnya yang ada pada korban. Salah satu campuran yang paling penting adalah arsen triokside atau arsenious okside, As2O3, dengan kata lain arsen putih yang banyak digunakan sebagai bahan utama racun tikus dan kadang-kadang dikelirukan dengan asam arsenium. Campuran arsen yang beracun dalam bentuk lain yaitu trichloride, triyodide, sodium arsenate, pada Pearsons solution, Scheeles green atau Copper arsenite, Paris green, Realgar, atau arsenic sulfide, Donovans solution, (masing-masing 1 % merkuri yodide dan arsenic yodide), Clemens solution (potassium arsenat pada bromidi) dan pigmen-pigmen yang serupa Brunwick green, Vienna merah dan mineral biru dimana terdapat sejumlah arsen dalam bentuk lain. Arsen dalam beberapa campuran arsen organic lain juga toksis. Dosis letal (yang mematikan) dari keracunan arsenic tergantung pada senyawaannya. Keracunan fatal oleh arsen trioxide adalah 0,2 0,3 gram bagi orang dewasa.

Arsen digolongkan ke dalam persenyawaan organic dan in organic; pembagian ini sebagian untuk memudahkan penggolongan kimia. Arsen in organik berbeda dengan arsen organik dalam beberapa hal yang penting dalam farmakologi. Farmakokinetika: Absorbsi (Absorbsi melalui saluran pencernaan biasanya terjadi pada usaha bunuh diri, Absorbsi melalui kulit, Absorbsi sebagian dari zat-zat beracun yang masuk melalui pernafasan terabsorbsi melalui selaput lendir di bagian tracheo-bronchial, non pharynx dan oropharynx serta sebagian dari zat-zat tadi tertelan dan masuk ke dalam alat pencernaan ). Distribusi (Kecepatan distribusi ditentukan oleh banyaknya vaskularisasi, mudahnya zat itu memasuki pembuluh kapiler dan menembus membran sel jaringan, serta adanya afinitas jaringan terhadap zat tersebut. ). Biotransformasi (Biotransformasi dari senyawa arsen hanya sedikit sekali diketahui ). Ekskresi (Ekskresi yang lambat ini merupakan dasar untuk terjadinya keracunan arsen yang kumulatif ). Mekanisme Keracunan ( Mekanisme kerja toksik yang utama dari senyawa arsen ialah dengan menghambat kerja enzim sulfihidril ). Manifestasi klinis tebagi atas 2 efek yang meliputi: Efek lokal (Dermatitis kontak dan konjungtivitis yang non alergika sering terjadi di antara para perkerja yang terpapar terhadap debu yang mengandung senyawa arsen. Menghisap udara yang mengandung arsen secara terusmenerus dapat menyebabkan perforasi septum nasi ) dan Efek sistemik ( Efek pada peredaran darah, Tractus gastrointestinal, Tractus urinarius, Kulit, Sistem syaraf pusat (SSP), Darah, Hati, dan Metabolisme).Simptomatologi pada Arsen terbagi atas Keracunan akut dan Keracunan kronis yang masing- masing memberikan gejala pada organ vital dan Komplikasi pada masing masing kondisi. Hasil otopsi pada Kasus dapat dibagi atas: Kasus akut (Pada beberapa kasus akut, pemberian arsen in organik pada ulkus kulit atau pada kulit yang utuh, akan diikuti dengan gejala gastrointestinal, meskipun pemberian tidak melalui mulut atau melalui mulut ), Kasus kronis ( Pada otopsi kasus kronis ditemukan semua jaringan kekuningan, perubahan degeneratif pada hati yang meluas ke lien, dengan deposit pada parenkim, toksik pada ginjal dan pada paru ). Pemeriksaan laboratorium toxicology arsen dalam hal ini berguna untuk memisahkan arsen dari bentukan logam lainnya, terdiri dari tes tes khusus antara lain: Reinsch Test; Marsh Test; Metoda Gutzeit; dan Sanger Black Test (modifikasi Gutzeit).