Anda di halaman 1dari 11

Hematom Vulva

ASUHAN KEBIDANAN DALAM MEMPERSIAPKAN DAN KOLABORASI UNTUK INSISI HEMATOMA VULVA DAN ABSES PAYUDARA BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG B. TUJUAN BAB II PEMBAHASAN A. HEMATOMA VULVA 1. Pengertian Hematoma Hematoma adalah di dapatkannya gumpalan darah sebagai akibat cidera atau robeknya pembuluh darah wanita hamil aterm tanpa cidera mutlak pada lapisan jaringan luar. Penyebab terutama karena gerakan kepala janin selama persalinan (spontan), akibat pertolongan persalinan, karena tusukan pembuluh darah selama anestesi lokal atau penjahitan dan dapat juga karena penjahitan luka episiotomi atau ruptur perinei yang kurang sempurna. Hematoma vulva timbul segera setelah persalinan selesai. Perdarahan ke dalam jaringan subkutan vulva dan ataupun pada dinding vagina di sebabkan oleh pecahnya pembuluh darah. Hematoma vulva jua bisa terjadi karena trauma tekanan atau berhubungan dengan perbaikan robekan perineum atau episiotomi. Ibu yang baru saja melahirkan mengeluh rasa sakit dan hal ini sangat mungkin mengalami syok derajat tertentu yang tidak berhubungan dengan besarnya hematoma. Di perlukan transfusi darah untuk mengatasi syok dan perdarahan yang lebih berat. Hematoma tersebut akan memerlukan drainase dan penjahitan kembali yang biasanya di lakukan dengan anestesi umum. Kecuali bila hematoma tersebut kecil dan hany menunjukkan gejala-gejala yang ringan. Lokasi hematoma obstetrik dapat di daerah infra lefatorial, misalnya hematoma vulva, perineum dan dalam fosa ischiorectal atau di daerah infra levatorial yaitu pravaginal, ligamentum latum, dan mungkin juga naik ekstraperitoneal sampai setinggi lingkaran pelvis. Hematoma infralevatorial di tandai dengan didapatkannya tumor yang nyeri di daerah perineum atau vulva, berwarna biru merah. Tergantung besar dan lokasinya dapat memberikan keluhan lokal, gangguan kemih, atau tekanan pada pencernaan. Hematoma supralevatorial memberikan keluhan nyeri perut bawah yang semakin bertambah pasca persalinan. Kadang-kadang tampak menonjol kedepan pada sepertiga atas vagina, atau tumor di samping uterus yang cepat membesar. Bila terus menerus membesar akan di dapatkan pre-syok dan apabila tidak segera di atasi penderita jatuh dalam syok dan anemia. Hematoma vulva paling sering berasal dari cabang-cabang arteri pudenda, termasuk arteri labialis posterior, perinealis transversal, atau rectalis posterior. Hematom paravaginal mungkin di sebabkan oleh cabang desenden

arteri uterina. Pada stadium awal, hematom membentuk pembengkakan bulat yang menonjol ke dalam bagian atas saluran vagina dan mungkin hampir menutupi lumennya. Apabila berlanjut, perdarahan dapat merembes ke arah retroperitoneum dan membentuk suatu tumor yang teraba di atas ligamentum puoparti, atau kearah atas dan akhirnya mencapai batas bawah diafragma. Hematoma yang berukuran sedang dapat di serap secara spontan. Jaringan di atas hematoma dapat berlubang akibat nekrosis yang di timbulkan oleh tekanan, dan dapat terjadi perdarahan deras. Pada kasus yang lain, isi hematoma mungkin keluar dalam bentuk gumpalan-gumpalan besar bekuan darah. Hematoma vulva di diagnosa berdasarkan nyeri peritoneum hebat dan kemunculan mendadak benjolan yang tegang, fluktuatif, dan sensitif dengan ukuran beragam serta perubahan warna kulit diatasnya. Apabila terbentuk di dekat vagina, kadang-kadang massa mungkin tidak terdeteksi , tetapi gejalagejala penekanan apabila penekanan bukan nyeri, atau ketidak mampuan berkemih seyogyanya di lakukan segera pemeriksaan vagina. Apabila meluas ke atas di antara ligamentum latum, hematom mungkin lolos deteksi, kecuali apabila sebagian benjolan dapat di raba dan di palpasi abdomen atau terjadi hipovelemia. Hematoma vulva yang kecil dan teridentifikasi setelah pasien keluar dari kamar bersalin dapat di biarkan. Namun, apabila nyerinya parah, atau apabila hematoma terus membesar, terapi terbaik adalah insisi segera. Insisi dilakukan di titik distersi maksimum di sertai evakuasi darah dan bekuan serta ligasi titik-titik perdarahan. Rongga kemudian di obliterasi dengan jahitan matras. Setelah hematoma di keringkan sering tidak di temukan titiktitik perdarahan. Pada kasus hematoma bukan rongga hematomanya yang di tampon selama 12-24 jam. Pada hematoma traktur genitalia, kehilangan darah hampir selalu jauh lebih besar dari pada yang di perkirakan secara klinis. Hematoma subperitoneum dan supra vagina lebih sulit di terapi. Hematoma jenis ini dapat di evakuasi dengan insisi perineum, tetapi bila terjadi hemostasis komplit, yang sulit di capai dengan insisi, di sarankan tindakan laparotomi. 2. Hematoma Vulva Terjadinya robekan vulva disebabkan oleh karena robeknya, pembuluh darah terutama vena yang terikat di bawah kulit alat kelamin luar dan selaput lendir vagina. Hal ini dapat terjadi pada kala pengeluaran, atau setelah penjahitan luka robekan yang senbrono atau pecahnya vasises yang terdapat di dinding vagina dan vulva. Hematoma sering terjadi dibahwah penjahitan luka episiotomi yang tidak sempurna atau robekan pada dinding vagina yang tidak dikenali merupakan sebab terjadinya hematoma. Tersebut apakah ada sumber perdarahan. Jika ada, dilakukan penghentian perdarahan. Perdarahan tersebut

dengan mengikat pembuluh darah vena atau arteri yang terputus. Kemudian rongga tersebut di isi dengan kasa steril sampai padat dengan meninggalkan ujung kasa tersebut di luar. Kemudian luka sayatan dijahit dengan jahitan terputus-putus atau jahitan jelujur. Dalam beberapa hal setelah summber perdarahan ditutup, dapat pula dipakai drain. 3. Penanganan Hematoma a. Penanganan hematoma tergantung pada lokasi dan besar hematoma. Pada hematoma yang kecil, tidak perlu tindakan operatif, cukup dilakukan kompres. b. Pada hematoma yang besar lebih-lebih disertai dengan anemia dan pre-syok, perlu segera dilakukan pengosongan hematoma tersebut. Di lakukan sayatan di sepanjang bagian hematoma yang paling terenggang. Seluruh bekuan dikeluarkan sampai kantong hematoma kosong. Dicari sumber perdarahan, perdarahan dihentikan dengan mengikat atau menjahit sumber perdarahan tersebut. Luka sayatan kemudian di jahit. Dalam perdarahan infus dapat dipasang drain atau dimasukkan kasa steril sampai padat dan meninggalkan ujung kasa tersebut diluar.
http://dwikartikasari9.blogspot.com/2012/10/hematom-vulva.html

Hematoma
BAB I TINJAUAN TEORI

1.1 Definisi Hematoma

Hematoma adalah koleksi (kumpulan) dari darah diluar pembuluh darah yang terjadi karena dinding pembuluh darah, arteri, vena atau kapiler, telah dirusak dan darah telah bocor kedalam jaringanjaringan dimana ia tidak pada tempatnya. ( www.ratihrohmad.wordpres.com ) Hematoma terjadi karena kompresi yang kuat disepanjang traktus genitalia, dan tampak sebagai warna ungu pada mukosa vagina atau perineum yang ekimotik. ( www.majalah-farmacia.com ) Istilah hematoma menggambarkan darah yang telah menggumpal. ( Kamus kedokteran, 2007 )

1.2 Tipe-tipe Hematoma Hematoma seringkali digambarkan berdasarkan lokasi mereka. Hematoma mungkin terjadi dimana saja dalam tubuh. Tidak perduli bagaimana hematoma digambarkan atau dimana ia berlokasi, ia tetap koleksi (kumpulan) dari darah-darah yang menggumpal diluar pembuluh darah. Hematoma yang paling berbahaya adalah yang terjadi didalam tengkorak. Karena tengkorak adalah kotak yang tertutup, segala yang mengambil ruang meningkatkan tekanan didalam kotak itu dan berpotensi mengganggu kemampuan otak untuk berfungsi. Tipe Hematoma berdasarkan lokasi yaitu : a. Epidural hematoma terjadi karena trauma, seringkali pada pelipis (temple), dimana arteri meningeal tengah berlokasi. Perdarahan berakumulasi dalam ruang epidural, diluar 'dura' yang adalah lapisan dari otak. Karena cara dura melekat pada tengkorak, hematomas kecil dapat menyebabkan tekanan yang signifikan dan luka otak. b. Subdural hematoma juga terjadi karena trauma namun luka biasanya pada vena-vena dalam otak. Ini menyebabkan kebocoran darah yang lebih lambat, yang memasuki ruang 'subdural' dibawah dura. Ruang dibawah dura memunyai lebih banyak ruang untuk darah berakumulasi sebelum fungsi otak menderita. Ketika orang-orang menua, mereka kehilangan beberapa jaringan otak dan ruang

subdural adalah relatif lebih besar. Perdarahan kedalam ruang subdural mungkin adalah sangat lambat, berangsur-angsur berhenti, dan tidak menyebabkan gejala-gejala akut. Hematoma subdural kronis ini seringkali ditemukan secara kebetulan pada computerized tomography (CT) scans sebagai bagian dari evaluasi pasien untuk kebingungan atau karena kajadian traumatic lain yang terjadi. c. Intracerebral hematoma terjadi didalam jaringan otak sendiri. Intracerebral (intra= didalam + cerebrum=otak) hematoma mungkin disebabkan oleh perdarahan dari tekanan darah tinggi yang tidak terkontrol, kebocoran atau pecahnya aneurysm, trauma, tumor atau stroke. d. Scalp hematoma terjadi diluar tengkorak dan seringkali dapat dirasakan sebagai benjolan pada kepala. Karena luka adalah pada kulit dan lapisan-lapisan otot diluar tengkorak, hematoma sendiri tidak dapat menekan pada otak. Bagaimanapun, hematoma kulit kepala memberi sinyal bahwa telah ada luka kepala dan adalah penting untuk memastikan bahwa perdarahan dalam telah tidak terjadi didalam tengkorak. Ada keberagaman petunjuk-petunjuk tersedia pada dokter untukmembantu dalam menilai apakah pasien akan memerlukan pengujian lebih lanjut untuk menyelidiki segala perdarahan dalam otak. e. Aural atau ear hematoma mungkin terjadi jika luka menyebabkan perdarahan pada helix bagian luar atau struktur tulang muda telinga. Seringkali disebut boxer's, wrestler's ear, atau cauliflower ear, darah terperangkap antara lapisan yang tipis dari kulit dan tulang rawan sendiri. Karena tulang rawan telinga mendapatkan pasokan darahnya secara langsung dari kulit yang terletak diatasnya, hematoma dapat mengurangi aliran darah yang menyebabkan bagian-bagian dari tulang rawan mengerut atau melayu dan mati. Skenario ini berakibat pada telinga yang berbenjol dan berubah bentuk. f. Septal hematoma terjadi dengan trauma hidung. Septal hematoma mungkin terbentuk berhubungan dengan hidung yang patah. Jika tidak dikenali dan dirawat, tulang rawan dapat terurai dan menyebabkan perforasi (pelubangan) dari septum. g. Orthopedic injuries seringkali dihubungkan dengan pembentukan hematoma. Tulang-tulang adalah struktur-struktur yang sangat vaskular karena sumsum adalah dimana sel-sel darah dibuat. Patahpatah tulang selalu dihubungkan dengan hematomas pada tempat patah tulang. Patah-patah tulang dari tulang-tulang yang panjang seperti paha (femur) dan lengan bagian atas (humerus) dapat dihubungkan dengan jumlah perdarahan yang signifikan, adakalanya sampai satu unit darah atau 10% dari pasokan darah tubuh. h. Pelvic bone fractures dapat juga berdarah secara signifikan karena ia mengambil jumlah yang besar dari tenaga untuk mematahkan tulang-tulang ini dan adalah sangat sulit untuk menekan area untuk mengurangi jumlah perdarahan. Pelvic hematomas tersembunyi dan jumlah kehilangan darah mungkin sulit untuk dinilai. i. Intramuscular hematoma dapat menjadi sangat menyakitkan yang disebabkan oleh jumlah pembengkakan dan peradangan. Beberapa otot-otot dikelilingi oleh pita-pita yang kuat dari jaringanjaringan. Jika cukup perdarahan terjadi, tekanan didalam kompartmen-kompartmen dapat meningkat ke titik dimana 'compartment syndrome' dapat terjadi. Pada situasi ini, pasokan darah

dari otot dikompromikan dan otot dan struktur-struktur lain seperti syaraf-syaraf dapat menjadi rusak secara permanen. Ini paling umum terlihat pada kaki bagian bawah dan lengan bagian bawah. j. Subungual hematoma adalah akibat dari luka-luka ruam pada jari-jari tangan atau jari-jari kaki. Perdarahan terjadi dibawah kuku tangan atau kuku kaki dan karena ia terperangkap, tekanan membangun yang menyebabkan nyeri. Trephination, atau pemboran lubang melalui kuku untuk mengeluarkan gumpalan darah, membebaskan tekanan dan membebaskan luka. Kuku yang baru tumbuh melalui waktu. k. Memar-memar dan luka-luka memar (contusions) dari kulit (ecchymosis) adalah istilah-istilah yang menggambarkan subcutaneous hematoma. Ini terjadi disebabkan oleh trauma atau luka-luka pada pembuluh-pembuluh darah superficial dibawah kulit. Individu-individu yang meminum obat-obat anti-coagulant adalah lebih cenderung pada subcutaneous hematomas. l. Intra-abdominal hematoma dan hemorrhage mungkin disebabkan oleh keberagaman dari luka-luka atau penyakit-penyakit. Tidak perduli bagaimana darah sampai kedalam perut, penemuan klinis adalah peritonitis (iritasi dari lapisan perut). Hematomas mungkin terjadi pada organ-organ yang padat seperti hati, limpa, atau ginjal. Mereka mungkin terjadi didalam dinding-dinding dari usus besar (bowel), termasuk usus kecil (duodenum, jejunum, ileum) atau usus besar (colon). Hematomas munkin juga terbentuk didalam lapisan perut yang disebut peritoneum atau dibelakang peritoneum dalam ruang retroperitoneal (retro=belakang). m. Mengeluarkan gumpalan-gumpalan atau hematoma adalah keluhan yang umum ketika wanitawanita menstruasi. Darah dapat berakumulasi dalam vagina sebagai bagian dari mens-mens yang normal dan sebagai gantinya mengalir keluar segera, ia mungkin membentuk gumpalan-gumpalan darah kecil. Mengeluarkan gumpalan-gumpalan darah setelah melahirkan bayi juga adalah relatif umum. Bagaimanapun, perdarahan vagina dan mengeluarkan gumpalan-gumpalan darah atau hematomas ketika hamil adalah tidak normal dan harus menjadi tanda untuk mencari perhatian medis.

1.3 Penyebab Hematoma Trauma adalah penyebab yang paling umum dari hematoma. Hematoma terjadi karena kompresi yang kuat disepanjang traktus genitalia, dan tampak sebagai warna ungu pada mukosa vagina atau perineum yang ekimotik.Hematoma yang kecil diatasi dengan es, analgesik dan pemantauan yang terus menerus. Biasanya hematoma ini dapat diserap kembali secara alami.

Perdarahan Postpartum akibat Laserasi /Robekan Jalan Lahir.

- Robekan jalan lahir merupakan penyebab kedua tersering dari perdarahan postpartum. Robekan dapat terjadi bersamaan dengan atonia uteri. Perdarahan postpartum dengan uterus yang berkontraksi baik biasanya disebabkan oleh robekan servik atau vagina. Robekan Serviks. Persalinan Selalu mengakibatkan robekan serviks sehingga servik seorang multipara berbeda dari yang belum pernah melahirkan pervaginam. Robekan servik yang luas menimbulkan perdarahan dan dapat menjalar ke segmen bawah uterus. Apabila terjadi perdarahan yang tidak berhenti, meskipun plasenta sudah lahir lengkap dan uterus sudah berkontraksi dengan baik, perlu dipikirkan perlukaan jalan lahir, khususnya robekan servik uteri. Robekan Vagina Perlukaan vagina yang tidak berhubungan dengan luka perineum tidak sering dijumpai. Mungkin ditemukan setelah persalinan biasa, tetapi lebih sering terjadi sebagai akibat ekstraksi dengan cunam, terlebih apabila kepala janin harus diputar. Robekan terdapat pada dinding lateral dan baru terlihat pada pemeriksaan speculum Robekan Perineum Robekan perineum terjadi pada hampir semua persalinan pertama dan tidak jarang juga pada persalinan berikutnya. Robekan perineum umumnya terjadi digaris tengah dan bisa menjadi luas apabila kepala janin lahir terlalu cepat, sudut arkus pubis lebih kecil daripada biasa, kepala janin melewati pintu panggul bawah dengan ukuran yang lebih besar daripada sirkum ferensia suboksipito bregmatika. Laserasi pada traktus genitalia sebaiknya dicurigai, ketika terjadi perdarahan yang berlangsung lama yang menyertai kontraksi uterus yang kuat.

1.4 Patofisiologi Perdarahan dapat terjadi dari pembuluh darah plasenta atau uterus yang membentuk hematoma di desidua, sehingga plasenta terdesak dan akhirnya terlepas. Perdarahan berlangsung terus menerus karena otot uterus yang telah meregang oleh kehamilan tidak mampu lebih berkontraksi untuk menghentikan perdarahan. Akibatnya, hematoma retroplasenter akan bertambah besar, sehingga sebagian dan akhirnya seluruh plasenta terlepas dari dinding uterus. Sebagian darah akan menyelundup di bawah selaput ketuban keluar dari vagina, atau menembus selaput ketuban masuk ke dalam kantong ketuban, atau ekstravasasi di antara serabut-serabut otot uterus. Apabila ekstravasasinya berlangsung hebat, seluruh permukaan uterus akan berbercak biru atau ungu dan terasa sangat tegang serta nyeri. Hal ini disebut uterus couvelaire. Nasib janin tergantung dari luasnya plasenta yang terlepas dari dinding uterus. Apabila sebagian besar atau Solusio plasenta terjadi sekitar 1 % dari semua kehamilan di seluruh dunia. Solusio plasenta terjadi sekitar 1 % dari semua kehamilan di seluruh dunia pelayanan kesehatan, dan sosioekonomi. Salah satu faktor reproduksi ialah usia ibu hamil dan paritas. Pengenalan hematoma tergantung pada derajat hematoma (besar dan lamanya) serta keahlian operator.

1.5 Gejala-Gejala Dari Hematoma Tanda dan gejala hematoma : Hematoma tidak selalu tampak dan bahkan bisa terletak di antara jahitan, tapi tanda atau gejala biasanya seperti berikut : Nyeri berat pada vagina atau vulva atau rectal Tekanan pada vagina atau vulva atau rectal tak henti-henti Tampak masa yang membuat deviasi vagina dan rectum Pemeriksaan internal mungkin tidak bisa ditoleransi karena menyebabkan nyeri yang tidak tertahan bagi ibu, yang dengan sendirinya membantu mendiagnosis hematoma Tanda lain meliputi : pembengkakan yang berubah warna dan terisi darah, jaringan edema, tanda syok hipovolemik ( Vicky Chapman, 2006 )

Tanda dan gejala : VAGINA/VULVA Tekanan pada perineum, vagina, uretra, kandung kemih dan rectum Nyeri berat Tegang, bengkak yang berfluktuasi Perubahan warna dari biru sampai biru kehitaman Ligamen Yang meluas Nyeri pada uterus bagian lateral, sensitive pada palpasi Nyeri pada panggul Terasa menonjol pada pemeriksaan rectum bagian atas

Distensi abdomen Daerah jaringan yang teraba secara lateral berada diatas tepi panggul ( Helen Varney, 2002 )
Hematoma menyebabkan iritasi dan peradangan. Gejala-gejala tergantung pada lokasi mereka dan apakah ukuran dari hematoma atau pembengkakan dan peradangan yang berhubungan menyebabkan struktur-struktur yang berdekatannya terpengaruh. Gejala-gejala umum dari peradangan termasuk kemerahan, nyeri, dan bengkak. Pada umumnya, superficial hematomas dari kulit, jaringan lembut, dan otot cenderung hilang melalui waktu. Tekstur awal yang keras dari gumpalan darah berangsur-angsur menjadi lebih seperti spon dan lembut karena gumpalan yang terurai oleh tubuh bentuknya berubah ketika cairan mengalir hilang dan hematoma merata. Perubahan-perubahan warna dari memar yang ungu-biru ke kuning-kuning dan coklat-coklat ketika kimia-kimia darah secara berangsur-angsur dikeluarkan dan hematoma menghilang. Tergantung pada lokasinya, pelunturan-pelunturan warna mungkin berjalan melalui bidang-bidang jaringan yang berbeda oleh gaya berat. Contohnya, hematoma dahi mungkin menyebabkan memar dibawah matamata dan nampak berjalan ke leher ketika ia menghilang melalui waktu. Intracranial, epidural, subdural, dan intracerebral hematoma seringkali memerlukan neurosurgical intervention untuk menstabilkan luka.

1.6 Komplikasi-Komplikasi Dari Hematoma Hematoma menyebabkan pembengkakan dan peradangan. Adalah seringkali dua konsekuensi-konsekuensi ini yang menyebabkan iritasi dari organ-organ dan jaringan-jaringan yang berdekatan dan menyebabkan gejala-gejala dan komplikasi-komplikasi dari hematoma. Satu komplikasi yang umum dari semua hematomas adalah risiko infeksi. Sementara hematoma terbentuk dari darah tua, ia tidak mempunyai pasokan darah sendiri dan oleh karenanya berisiko untuk kolonisasi dengan bakteri-bakteri.
1.7 Penanganan 1. Penanganan hematoma Untuk ukuran kecil kurang dari 3 cm, observasi dan analgesi adalah tindakan yang dilakukan Untuk hematoma yang lebih besar, analgesia dan tindakan segera adalah penting Kebanyakan hematoma memerlukan intervensi bedah yaitu insisi drainase, dan pengikatan pembuluh darah, diikuti dengan tampon atau penjahitan bila jaringan tidak terlalu rapuh atau rusak. Seharusnya dilakukan dengan menggunakan anastesia yang sesuai. Antibiotika dapat diresepkan Tangani hipovolemi bila ada

Diagnosis segera perlu dilakukan Pindah ke rumah sakit dengan ambulans paramedis

2. Penanganan Hematoma vulva Penangann hematoma tergantung pada lokasi dan besarnya hematoma. Pada hematoma yang kecil tidak perlu tindakan operatif, cukup dilakukan kompres pada hematoma yang besar lebih-lebih disertai dengan anemia dan presyok, perlu segera dilakuakn pengosongan hematoma tersebut. Dilakukan sayatan disepanjang bagian hematoma yang paling teregang. Seluruh bekuan dikeluarkan sampai kantong hematoma kosong. Dicari sumber perdarahan, perdarahan dihentikan dengan mengikat atau menjahit sumber perdarahan tersebut. Luka sayatan kemudian dijahit. Dalam perdarahan difus dapat dipasang drain atau dimasukkan kassa steril sampai padat dan meninggalkan ujung kassa tersebut diluar (tamponade) Robekan dinding vagina Pada prinsipnya sama dengan robekan yang lain yaitu robekan dijahit, namun jika terjadi kolporeksis dan fistula visikovaginal sebaiknya dilakukan dikamar operasi Robekan cerviks
Robekan serviks paling sering terjadi pada jam 3 dan 9. bibir depan dan bibir belakang servik dijepit dengan klem fenster (gambar 4.3) kemudian serviks ditariksedidikit untuk menentukan letak robekan dan ujung robekan. Selanjutnya robekan dijahit dengan catgut kromik dimulai dari ujung untuk menghentikan perdarahan.

(http://igdrembang.blogspot.com/2009/05/perlukaan-jalan-lahir.html) 3. Dengan adanya perdarahan yang keluar pada kala III, bila tidak berkontraksi dengan kuat, uterus harus diurut : - Pijat dengan lembut boggi uterus, sambil menyokong segmen uterus bagian bawah untuk menstimulasi kontraksi dan kekuatan penggumpalan. Waspada terhadap kekuatan pemijatan. Pemijatan yang kuat dapat meletihkan uterus, mengakibatkan atonia uteri yang dapat menyebabkan nyeri. Lakukan dengan lembut. Perdarahan yang signifikan dapat terjadi karena penyebab lain selain atoni uteri. - Dorongan pada plasenta diupayakan dengan tekanan manual pada fundus uteri. Bila perdarahan berlanjut pengeluaran plasenta secara manual harus dilakukan. - Pantau tipe dan jumlah perdarahan serta konsistensi uterus yang menyertai selama berlangsungnya hal tersebut. Waspada terhadap darah yang berwarna merah dan uterus yang relaksasi yang berindikasi atoni uteri atau fragmen plasenta yang tertahan. Perdarahan vagina berwarna merah terang dan kontra indikasi uterus, mengindikasikan perdarahan akibat adanya laserasi. - Berikan kompres es salama jam pertama setelah kelahiran pada ibu yang beresiko mengalami hematoma vagina. Jika hematoma terbentuk, gunakan rendam duduk setelah 12 jam.

- Pertahankan pemberian cairan IV dan mulai cairan IV kedua dengan ukuran jarum 18, untuk pemberian produk darah, jika diperlukan. Kirim contoh darah untuk penentuan golongan dan pemeriksaan silang, jika pemeriksaan ini belum dilakukan diruang persalinan. - Pemberian 20 unit oksitodin dalam 1000 ml larutan RL atau saline normal, terbukti efektif bila diberikan infus intra vena + 10 ml/mnt bersama dengan mengurut uterus secara efektif - Bila cara diatas tidak efektif, ergonovine 0,2 mg yang diberikan secara IV, dapat merangsang uterus untuk berkontraksi dan berelaksasi dengan baik, untuk mengatasi perdarahan dari tempat implantasi plasenta. - Pantau asupan dan haluaran cairan setiap jam. Pada awalnya masukan kateter foley untuk memastikan keakuratan perhitungan haluaran. - Berikan oksigen malalui masker atau nasal kanula. Dengan laju 7-10 L/menit bila terdapat tanda kegawatan pernafasan. http://lailatulrahmawati.blogspot.com/2012/10/hematoma.html