Anda di halaman 1dari 31

KURIKULUM PERGURUAN TINGGI BERBASIS KOMPETENSI

Disajikan oleh
Margono Slamet

Institut Pertanian Bogor

Keputusan Menteri Pendidikan Nasional Nomor


232/U/2000 dan Nomor 045/U/2002 mengamanatkan penyusunan kurikulum pendidikan tinggi yang berbasis kompetensi untuk setiap program studi oleh kalangan perguruan tinggi yang bersangkutan (bukan oleh pemerintah).

Jadi PT diberi otonomi/kewenangan dalam menentukan kurikulum program studi yang diselenggarakannya. Kurikulum tidak lagi ditetapkan oleh pemerintah. Pendidikan memang dimaksudkan untuk menumbuh-kembangkan kompetensi sasaran didik untuk mampu berkarya di bidang yang relevan. Orang hidup perlu berkarya, dan untuk berkarya harus memiliki sesuatu kompetensi (= kemampuan bertindak)

Dalam Kepmendidnas No.045/U/2002 kompetensi diartikan sebagai seperangkat tindakan cerdas, penuh tanggungjawab yang dimiliki seseorang sebagai syarat untuk dianggap mampu oleh masyarakat dalam melaksanakan tugas-tugas di bidang pekerjaan tertentu. Kompetensi dapat pula diartikan sebagai ciri-ciri pengetahuan, keterampilan dan kepribadian yang diperlukan untuk mencapai performansi (kinerja) yang tinggi. Pendidikan harus menghasilkan kemampuan bertindak yang benar & cerdas; tindakan yang produktif, yang efektif, yang mampu memecahkan masalah nyata dalam kehidupan. Menguasai pengetahuan tidak sama dengan memiliki kompetensi. Kompetensi berkaitan dengan kemampuan bertindak yang cerdas.

Pendidikan tidak sekedar mengajarkan dan mempelajari pengetahuan, tetapi juga keterampilan dan aspek-aspek kepribadian lain. Pendidikan tidak untuk sekedar menjadi tahu, tetapi untuk menjadi mampu bertindak cerdas. (Memecahkan masalah nyata dalam kehidupan) Dalam ilmu pendidikan dikenal adanya 3 kawasan tujuan pendidikan yang perlu dicapai melalui kegiatan belajar/ pendidikan, yaitu: cognitive, psycho-motoric dan affective. Pendidikan yang baik adalah yang mencakup ketiga kawasan tujuan itu, yang menjamin dikuasainya kemampuan bertindak cerdas, dan bukan sekedar mengetahui (cognitive). Kepmendiknas tsb di atas bertolak dari adanya kritik masyarakat luas bahwa pendidikan kita umumnya baru mengajarkan pengetahuan (teori), belum mengajarkan kemampuan dan mengembangkan kompetensi dalam arti sebenarnya.

UNESCO merumuskan adanya empat pilar utama


pendidikan, yaitu: 1. Learning to know Belajar untuk mengetahui; 2. Learning to do Belajar untuk dapat melakukan; 3. Learning to be Belajar memerankan; 4. Learning to live together Belajar hidup bersama, berinteraksi, bekerja-sama.

Keempatnya harus dapat dicapai melalui setiap pendidikan / program studi.

Kurikulum pendidikan tinggi harus relevan dengan kehidupan nyata yang penuh dengan masalah, kendala, dan tantangan. Pendidikan harus membekali mahasiswa untuk mampu mengatasi semua itu.

Agar bisa mendapat tempat yang terhormat di masyarakat, PT harus berusaha keras agar mampu membekali mahasiswanya dengan kompetensikompetensi yang relevan untuk setiap program studi yang diselenggarakan. Selama ini barangkali yang banyak dibekalkan adalah pengetahuan (ilmu, teori, teknologi, filosofi, dsb) dan kurang aspek yang lain. Dan karena itu belum mampu menumbuhkan kemampuan bertindak atau kompetensi tertentu. Pembaharuan kurikulum ini harus dilakukan sendiri oleh kalangan PT, dan pelaksanaan kurikulumnya dilakukan oleh dosen-dosen yang bersangkutan. Karena itu seba-iknya semua dosen perlu dilibatkan dalam perombakan kurikulum ini.

Kemungkinan besar sesudah perombakan kurikulum ini perlu ditinjau kembali kemampuan-kemampuan dosen, terutama dalam hal to do dan to be. Peningkatan kemampuan dosen dalam hal-hal itu menjadi persyaratan penting. Bagaimana mungkin seorang dosen mengajarkan suatu kemampuan kalau dia sendiri tidak menguasai kemampuan itu. Inipun barangkali merupakan tantangan baru bagi pendidikan tinggi Indonesia, yaitu mengajarkan kemampuan bertindak atau kompetensi (kecuali untuk Fak.Kedokteran dan sejenis). Sebelumnya hanya sekedar mengajarkan pengetahuan, teori, rumus, prinsip, dan bukan kompetensi. Bahkan mungkin kurang mengajarkan bagaimana menggunakan pengetahuan dan teori-teori tersebut dalam kehidupan sehari-hari.

Sesuai Kepmendiknas No.045/U/2002 maka Kompetensi


yang dimiliki oleh setiap sarjana terdiri atas : a. kompetensi utama b. kompetensi pendukung c. kompetensi lain yang bersifat khusus dan gayut dengan kompetensi utama.

Setiap kompetensi di atas memiliki elemen-elemen yang terdiri atas : a. landasan kepribadian b. penguasaan ilmu dan keterampilan c. kemampuan berkarya d. sikap dan perilaku dalam berkarya e. pemahaman kaidah kehidupan bermasyarakat.

LANGKAH-LANGKAH DASAR PENYUSUNAN KURIKULUM

Kebijakan Mendiknas jelas mengkaitkan pendidikan dengan jenis jabatan/pekerjaan tertentu sesudah tamat pendidikan. Kalau ini benar maka hal pertama yang perlu dilakukan adalah mengidentifikasi lapangan kerja atau jenis-jenis pekerjaan dan jabatan yang memiliki relevansi yang logis dengan masingmasing program studi. Kemudian mengidentifikasi peran-peran apa yang harus dilakukan oleh seorang sarjana yang bekerja pada jabatan di situ.

Kemudian analisalah masing-masing peranan : artinya agar seseorang dapat memerankan peranan itu dengan baik dia harus memiliki kompetensi atau menguasai kemampuan apa saja ? Cognitive? Psycho-motoric? Affective? Ciri-ciri kepribadian lainnya? (Berfikirlah tentang konsep/prinsip/teori dan bukan mata-ajaran/mata kuliah). Hasil analisis di atas kemudian dikelompokkan berdasar sifat yang saling berkaitan, dan setiap kelompok kemudian diberi nama sebagai mata ajaran atau mata kuliah. Dengan demikian nantinya setiap mata kuliah akan jelas apa kontribusinya dalam membentuk suatu kompetensi.

PROGRAM STUDI

LAPANGAN KERJA

JABATAN DALAM LAP.KERJA

PERANAN YANG HARUS DILAKUKAN

KOMPETENSI YANG DIPERLUKAN

KURIKULUM

KOMPETENSI UTAMA (Minimal-Wajib)

KOMPETENSI PENDUKUNG (Pelengkap-Disukai)

KOMPETENSI LAIN (Tambahan-Tidak wajib)

CONTOH : Prodi Budidaya Pertanian

Lapangan kerja: - Usaha agribisnis; Dinas Perta-nian


Bag. Produksi.

Peranan: Memimpin sejumlah karyawan bekerja


memproduksi berbagai jenis komoditas pertanian pada sebidang lahan secara produktif dan menguntungkan.

Kompetensi Utama : Teknologi Budidaya Pertanian Kompetensi Pendukung : Ekonomi Usahatani. Kompetensi Lain : Kepemimpinan. Masing-masing kompetensi tsb di atas kemudian diuraikan elemen-elemennya.

Kompetensi Unsur
1. Kepribadian
2. Pengetahuan & Keterampil.

Utama

Pendukung

Lainnya

3. Keahlian berkarya
4. Perilaku berkarya 5. Kehidupan bermasyarakat

Kepribadian : sifat-sifat umum yang telah berhasil dikembangkan pada diri seseorang, seperti teliti, rapi, rajin, disiplin, cermat, sikap mental, minat, dsb. (Af) Pengetahuan & Keterampilan : jenis/substansi pengetahuan dan keterampilan yg diperlukan. (C+Ps) Keahlian berkarya : kemampuan yang dikuasai dengan sangat tinggi, dapat diandalkan, profesional. (Perpaduan C+Ps+Af) Perilaku berkarya : Sifat perilaku yang mendukung dalam berkarya, seperti produktif, efisien, efektif, jujur, dsb. Kehidupan bermasyarakat : kemampuan kerja-sama dan pendekatan pada orang lain; dapat menerima keragaman dalam kehidupan bermasyarakat.

Kurikulum Prodi. terdiri atas Kurikulum Inti dan Kurikulum Pelengkap.

Kurikulum Inti merupakan penciri dari kemampuan utama, yang bersifat : a. Dasar untuk mencapai kompetensi lulusan;

b. Acuan baku minimal mutu penyelenggaraan Prodi;


c. Berlaku secara nasional dan internasional; d. Lentur dan akomodatif terhadap perubahan; e. Kesepakatan bersama antar PT, masyarakat profesi dan pengguna lulusan.

Kurikulum Pelengkap adalah penciri dari kompetensi pendukung dan kompetensi lainnya, disusun oleh perguruan tinggi penyelenggara prodi. Kepmendiknas No.045/U/2002 Pasal 4 menyebutkan bahwa : Kurikulum inti suatu program studi berisikan keterangan/ penjelasan mengenai : a. Nama program studi; b. Ciri khas kompetensi utama sebagai pembeda antara program studi satu dengan lainnya; c. Fasilitas utama yang diperlukan untuk penyelenggaraan program studi; d. Persyaratan akademis dosen; e. Substansi kajian kompetensi utama yang dikelompokkan menurut elemen kompetensi;

(lanjutan. .)

f. Proses belajar mengajar dan bahan kajian untuk mencapai elemen-elemen kompetensi; g. Sistem evaluasi berdasarkan kompetensi; h. Kelompok masyarakat pemrakarsa kurikulum inti.

Perbandingan beban ekivalen sks : Kompetensi utama : 40 ~80%

Kompetensi pendukung : 20 ~ 40%

Kompetensi lain

0 ~ 30%

KEPMENDIKNAS No. 232/U/2000 Pasal 1 dan 8:

Kurikulum Inti program sarjana terdiri atas :


1. Kelompok MPK Matakuliah Pengembangan Kepribadian 2. Kelompok MKK Matakuliah Keilmuan dan Keterampilan 3. Kelompok MKB Matakuliah Keahlian Berkarya 4. Kelompok MPB Matakuliah Perilaku Berkarya 5. Kelompok MBB Matakuliah Berkehidupan Bermasyarakat.

Kelompok MPK = Kelompok bahan kajian dan pelajaran untuk mengembangkan manusia Indonesia yang beriman dan bertaqwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa dan berbudi pekerti luhur, berkepribadian mantap, dan mandiri serta mempunyai rasa tanggung jawab kemasyarakatan dan kebangsaan.

Kelompok MKK = Kelompok bahan kajian dan pelajaran


yang ditujukan terutama untuk memberikan landasan penguasaan ilmu dan keterampilan tertentu.

Kelompok MKB = Kelompok bahan kajian dan pelajaran yang bertujuan menghasilkan tenaga ahli dengan kekaryaan berdasarkan dasar ilmu dan keterampilan yang dikuasai. Kelompok MPB = Kelompokbahan kajian dan pelajaran yang bertujuan membentuk sikap dan perilaku yang diperlukan seseorangdalam berkarya menurut tingkat keahlian berdasarkan dasar ilmu dan keterampilan yang dikuasai. Kelompok MBB = Kelompok bahan kajian dan pelajaran yang diperlukan seseorang untuk dapat memahami kaidah berkehidupan bermasyarakat sesuai dengan pilihan keahlian dalam berkarya.

MODEL PERANAN SARJANA HUKUM

No. 1

Jenis Pekerjaan 2

Peranan 3

Kompetensi Kompetensi Kompetensi Pengetahuan Keterampilan Utama Pelengkap Lain 4 5 6 7 8

Sikap Mental 9

Mata Kuliah 10

1 Jaksa

2 Hakim

3 Notaris

4 Advokat

5 Biro Hukum

6 Birokrat

Margono Slamet

Disajikan oleh

INTERNAL QUALITY ASSURANCE (Jaminan Mutu Internal)


Internal quality assurance atau jaminan mutu internal adalah proses ke arah penjaminan bahwa PT ybs dapat memenuhi mutu yang dijanjikan. JMI bertujuan melindungi masyarakat agar masyarakat mendapatkan pendidikan dan pelayanan sesuai dengan yang dijanjikan oleh penyelenggara PT. JMI adalah proses pengendalian mutu yang merupakan bagian paradigma baru pengelolaan pendidikan tinggi, yang meliputi mutu, otonomi, akuntabilitas, evaluasi diri, dan akreditasi.

Dengan otonomi yang dimiliki


p.t. harus dapat menyelenggarakan pendidikan tinggi secara bertanggungjawab, yaitu yang selalu menunjuk-kan adanya peningkatan mutu.

P.T. harus dapat menjadikan


evaluasi diri sebagai bagian kegiatan yang terinternalisasi di dalam kehidupan p.t. tsb.

P.T.harus secara sukarela membuka diri (dengan sikap penuh kejujuran) untuk dinilai oleh fihak luar dengan proses akreditasi.

Evaluasi diri merupakan proses


internal yang bila dilakukan dengan baik dan ditindak-lanjuti dengan sesuai merupakan bagian dari jaminan mutu internal. (Sudah sampai mana ED diinternalisasi-kan di PT anda ?)

Akreditasi adalah bagian dari


jaminan mutu eksternal yang bila bisa berjalan sinergis dengan evaluasi diri akan menunjang pemeliharaan peningkatan mutu perguruan tinggi, baik institusinya maupun program studinya.

Internal Quality Assurance adalah


sistem penjaminan mutu pendidikan yang diberikan dan dilakukan oleh PT ybs.

Penjaminan Mutu Internal


mencakup dua hal pokok, yaitu: 1. Komitmen Inti terhadap Kemampuan Institusi. 2. Komitmen Inti terhadap Efektifitas Pendidikan.

Komitmen Inti Terhadap


Kemampuan Institusi meliputi delapan hal:

1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8.

Integritas Visi Tata pamong (governance) Sumberdaya manusia Sarana dan prasarana Keuangan Sistem Informasi Keberlanjutan

Semua itu harus dibangun dengan kesungguhan.

Jika masing-masing dari kedelapan hal tersebut di atas


dibangun dan secara terus-menerus dikembangkan di perguruan tinggi, berarti perguruan tinggi yang bersangkutan telah menunjukkan kemampuannya untuk memberikan jaminan mutu kepada stakeholdernya.

Jaminan Mutu itu tidak sekedar ada atau tidak, tetapi


kalaupun jaminan itu ada tingkatannyapun bervariasi.

Dengan menggunakan standar tertentu akan dapat diketahui sudah setinggi mana kemampuan perguruan tinggi itu dalam menyajikan mutu pendidikan.

ADA DELAPAN HAL YANG DAPAT DIGUNAKAN UNTUK MENGGAMBARKAN TINGKAT KOMITMEN TERHADAP EFEKTIFITAS PENDIDIKAN PERGURUAN TINGGI 1. Mahasiswa 2. Kurikulum 3. Sistem pembelajaran

4. Penelitian dan Pengabdian kepada masyarakat


5. Sistem penjaminan mutu 6. Sistem pengelolaan

7. Suasana akademik
8. Mutu program studi. Semua ini harus diusahakan agar ada dalam kondisi sebaik mungkin ! 29

BAGAIMANA BISA MENGEMBANGKAN DAN MENYAJIKAN JAMINAN MUTU INTERNAL ITU KEPADA MASYARAKAT?

TUNJUKKAN SECARA SERIUS ADANYA KOMITMEN UNTUK SECARA TERUSMENERUS MENINGKATKAN : A. KEMAMPUAN INSTITUSI;

B. KEEFEKTIFAN PENDIDIKAN.

Margono S. - Kurikulum Berbasis Kompetensi

30