Anda di halaman 1dari 4

ASETAMINOFEN Mekanisme kerja : belum jelas, asetaminofen menghambat sintesis prostaglandin pada SSP Data farmakokinetik Asetaminofen diabsorpsi

secara cepat dan sempurna di saluran GI pada pemberian oral.

Asetaminofen terdistribusi secara cepat dan merata pada kebanyakan jaringan tubuh. Sekitar 25% asetaminofen di dalam darah terikat pada protein plasma. Asetaminofen dimetabolisme oleh system enzim mikrosomal di dalam liver. Asetaminofen mempunyai waktu paro plasma 1,25-3 jam, dan mungkin lebih lama mengikutin dosis toksik atau pada pasien dengan kerusakan liver. Sekitar 80-85% asetaminofen di dalam tubuh mengalami konjugasi terutama dengan asam glukuronat dan dengan asam sulfat. Asetaminofen dieksresikan lewat urin kirakira sebanyak 85% dalam bentuk bebas dan terkonjugasi. Indikasi : nyeri ringan sampai sedang : demam Kontaindikasi : pasien dengan fenilketonuria (kekurangan homozigot fenilalanin hidroksilase) dan pasien yang harus membatasi masukan fenilalanin. Peringatan : berkurangnya fungsi hati dan ginjal; ketergantungan pada alcohol Interaksi obat : resin penukar anion; kolestiramin menurunkan absorpsi parasetamol. Antikoagulan : penggunaan parasetamol secara rutin dalam waktu yang lama mungkin meningkatkan warfarin. Metoklopramid dan domperidon :

metoklopramid mempercepat absorpsi parasetamol (meningkatkan efek) Efek samping : efek samping jarang ; kecuali ruam kulit ; kelainan darah; pankreatitis akut dilaporkan setelah penggunaan jangka panjang ; penting pada kerusakan hati (dan lebuh jarang kerusakan ginjal) setelah overdosis.

Halaman 23 ISO FARMAKOTERAPI Tim penyusun : Prof. Dr. Elin Yulinah Sukandar, Apt Dr. retnosari Andrajati, Apt Penerbit : PT. ISFI penerbitan- Jakarta 2008

Perkembangan selanjutnya bahwa teknik kromatografi justru lebih banyak digunakan untuk analisis senyawa yang tidak berwarna. Kromatografi pada prinsipnya adalah suatu teknik pemisahan menggunakan dua fasa yaitu fasa gerak (mobile) dan fasa diam (stationary). Pemisahan terjadi berdasarkan distribusi komponen zat yang dianalisa (analit) antara dua fasa tersebut dimana pemisahan komponen terjadi secara diferensial yang dibawa fasa gerak melewati fasa diam. Fasa gerak dapat berupa cairan (kromatografi cair) atau berupa gas (kromatografi gas). Sedangkan fasa diam adalah berupa padatan (adsorbsi) atau cairan (partisi). Pembagian kromatografi pada umumnya didasarkan pada fasa gerak yaitu kromatografi cair dan kromatografi gas sehingga ada empat jenis kromatografi seperti berikut. 1. Fasa gerak cair dan fasa diam cair Contoh : - kromatografi kertas - Kromatografi cair kinerja tinggi (HPLC) 2. Fasa gerak cair dan fasa diam padat Contoh : 3. - kromatografi lapis tipis (KLT/TLC)

Fasa gerak gas dan fasa diam cair Contoh : - kromatografi gas cair (GLC atau GC saja)

4.

Fasa gerak gas dan fasa diam padat Contoh : -kromatografi gas padat (GSC= Gas Solid Chromatography)

Untuk analisa senyawa organik yang paling banyak digunakan adalah jenis 1 sampai 3 tergantung tujuan analisisnya. Perkembangan selanjutnya adalah bahwa teknik kromatografi dijalankan dengan teknik manipulasi perbedaaan aktivitas sifat-sifat fisik dari zat-zat yang menyusun suatu sampel (analit) yang akan dipisahkan antara fasa gerak dan fasa diam yaitu: 1. 2. 3. 4. 5. 6. Sifat adsorbs Sifat pertukaran ion (ion exchange) Kelarutan/kepolaran/titik didih Ukuran partikel (size exclution) dengan cara gel permeabilitas dan gel filtrasi Afinitas kimia Pertukaran ion dengan fasa diam resin (ion exchane chromatography)

Teknik kromatografi untuk senyawa organik bertujuan untuk analisa kualitatif, preparative, dan kuantitatif khususnya prosen kompososisi yang biasanya dibandingkan dengan standar otentik. (Sanusi Ibrahim dan Marham Sitorus, 2012)

Penjerap yang paling sering digunakan pada KLT adalah silika dan serbuk selulosa, sementara mekanisme sorpsi-desorpsi (suatu mekanisme perpindahan solut dari fase diam ke fase gerak atau sebaliknya) yang utama pada KLT adalah partisi dan adsorbsi. Lapisan tipis yang digunakan sebagai penjerap juga dapat dibuat dari silika yang telah dimodifikasi, resin penukar ion, gel eksklusi, dan siklodekstrin yang digunakan untuk pemisahan kiral. Beberapa penjerap KLT serupa dengan penjerap yang digunakan pada KCKT. Kebanyakan penjerap dikontrol keajegan ukuran partikel dan luas permukaannya. Beberapa prosedur kromatografi, terutama pemisahan yang menggunkan larutan pengembang anhidrat, mensyaratkan adanya kontrol kandungan air dalam silika. Kandungan air yang ideal adalah antara 11-12 % b/b. Lempeng silika gel dapat dimodifikasi untuk membentuk penjerap fase terbalik dengan cara membacemnya menggunakan parafin cair, minyak silikon, atau dengan lemak. Lempeng fase terbalik jenis ini digunakan untuk identifikasi hormon-hormon steroid. Ringkasan berbagai macam agen pembacem silika sbb : Bahan pembacem Carbomer Tetradekana Tujuan Identifikasi neomisin sulfat Identifiksi sepradin dan atau

identifikasi sefaklor Tembaga sulfat 2% Pemisahan 7 senyawa barbiturat dan etilendiamin 2% Tembaga sulfat 0,1% Pemisahan sulfonamida Seng asetat 1% Pemisahan 7 obat golongan obat-obat golongan

antihistamin EDTA Pemisahan serotonin, epinefrin, dan nor-epinefrin