Anda di halaman 1dari 11

TUGAS PRESENTASI KASUS APPENDISITIS

Tutor: Tutor : dr. Kamal Agung Wijayana, Sp.B. Disusun Oleh: KELOMPOK A2 Lucky Mariam Mega Apsopela Sandivera Fickry Adiansyah Gohlena Raja C. G1A009005 G1A009006 G1A009007 G1A009008 G1A009009

KEMENTRIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU-ILMU KESEHATAN JURUSAN KEDOKTERAN PURWOKERTO 2012

I. PENDAHULUAN Sistem pencernaan atau sistem gastrointestin adalah sistem organ dalam manusia yang menerima makanan, mencernanya menjadi energi dan nutrien, serta mengeluarkan sisa proses tersebut. Usus buntu atau sekum dalam istilah anatomi adalah suatu kantung yang terhubung pada usus penyerapan serta bagian kolon menanjak dari usus besar. Pada awalnya organ ini dianggap sebagai organ tambahan yang tidak mempunyai fungsi, tetapi saat ini diketahui bahwa fungsi apendix adalah sebagai organ imunologik dan secara aktif berperan dalam sekresi immunoglobulin dimana memiliki/ berisi kelenjar limfoid. Selain itu, Appendiks juga didefinisikan sebagai organ tambahan kecil yang menyerupai jari, melekat pada sekum tepat dibawah katup ileocecal (Baughman, 2000). Apendisitis adalah infeksi bakterial pada apendiks vermiformis. Apendisitis akut merupakan keadaan akut abdomen yang memerlukan pembedahan segera untuk mencegah komplikasi yang lebih buruk. Apendisitis akut memiliki manifestasi klinis yang beragam, terkadang menyerupai sindroma klinis lainnya, dan berkaitan dengan morbiditas signifikan yang meningkat dengan penundaan diagnosis. Jika telah terjadi perforasi, maka komplikasi dapat terjadi seperti peritonitis umum, abses, dan komplikasi pascaoperasi seperti fistula dan infeksi luka operasi (Smeltzer et al., 2002). Apendisitis akut dapat terjadi pada semua umur. Insidensinya meningkat pada pubertas dan mencapai puncaknya pada usia remaja dan pada usia 20 tahun. Insiden terbanyak apendisitis akut berada pada kelompok usia 20-40 tahun. Namun angka kejadian perforasi dari kasus apendisitis justru lebih sering terjadi pada kelompok usia <12 tahun dan > 65 tahun. Diagnosis appendisitis akut pada anak tidak mudah ditegakkan hanya berdasarkan gambaran klinis. Keadaan ini menghasilkan angka apendektomi negatif sebesar 20 % dan angka perforasi sebesar 20-30 % (Liang et al., 2006). Di Amerika Serikat terjadi penurunan jumlah kasus apendisitis dari 100 kasus menjadi 52 kasus setiap 100.000 penduduk dari tahun 1975 - 1991. Terdapat 15 - 30 % gambaran histopatologi yang normal pada hasil apendektomi dan 30 - 45% di antaranya terjadi pada wanita. Keadaan ini menambah komplikasi pascaoperasi, seperti adhesi, konsekuensi beban sosial-ekonomi, kehilangan jumlah hari kerja, dan produktivitas. Berdasarkan US Census Bureau,

International Data Base tahun 2004, di benua Asia negara Cina dan India masih menempati urutan pertama dan kedua insidensi terbanyak kasus appendisitis akut, sedangkan Indonesia menempati urutan ketiga. Insiden apendisitis akut di Indonesia masih sangat tinggi. Pada Tahun 2004 terdapat 596.132 insiden dari 283.452.952 populasi masyarakat Indonesia (Ragawati, 2009). Tingkat akurasi diagnosis appendisitis akut berkisar 76 - 92 %. Pemakaian laparoskopi, ultrasonografi, dan Computed Tomography Scanning (CT-scan), merupakan upaya untuk meningkatkan akurasi diagnosis apendisitis akut. Beberapa pemeriksaan laboratorium dasar masih banyak digunakan dalam diagnosis penunjang apendisitis akut. C-reactive protein (CRP), jumlah sel leukosit, dan hitung jenis neutrofil (differential count) adalah penanda yang sensitif bagi proses inflamasi. Pemeriksaan ini sangat mudah, cepat, dan murah untuk Rumah Sakit di daerah (Tzanakis, et al., 2005).

II. TINJAUAN PUSTAKA A. Definisi Apensisitis adalah peradangan appendix vermiformis yang dikarenakan oleh infeksi ataupun sumbatan (Sjamsuhidajat, 2004). B. Etiologi dan Predisposisi Berikut adalah etiolodi dan predisposisi yang dapat menyebabkan apendisitis (Jason et all, 2008 ) : 1. Adanya isi lumen seperti feses, parasite ata yang lainnya 2. Derajat sumbatan yang terus-menerus 3. Sekresi mucus yang terus-menerus 4. Sifat inelastic dari mukosa appendix 5. Hiperplasia dari folikel limfoid karena infeksi pada GIT 6. Adanya benda asing seperti cacing askariasis 7. Erosi mukosa appendiks karena parasit seperti E. Histilitica. C. Patofisiologi Apendisitis biasanya disebabkan oleh penyumbatan lumen appendiks. Obstruksi tersebut menyebabkan mukus yang diproduksi mukosa appendiks mengalami bendungan. Semakin lama mukus tersebut semakin banyak, namun elasitas dinding appendiks mempunyai keterbatasan sehingga menyebabkan peningkatan tekanan intra lumen. Tekanan tersebut akan menghambat aliran limfe yang mengakibatkan edema dan ulaserasi mukosa. Pada saat itu terjadi apendisitis akut fokal yang ditandai dengan nyeri epigastrium. Bila sekresi mukus berlanjut, tekanan akan terus meningkat. Hal tersebut akan menyebabkan obstruksi vena, edema bertambah dan bakteri akan menembus dinding sehingga peradangan yang timbul meluas dan mengenai peritoneum yang dapat menimbulkan nyeri pada abdomen kanan bawah yang disebut apendisitis supuratif akut. Apabila aliran arteri terganggu maka akan terjadi infrak dinding appendiks yang diikuti ganggren. Stadium ini disebut apendisitis ganggrenosa. Bila dinding appendiks rapuh maka akan terjadi prefesional disebut appendikssitis perforasi. Bila proses berjalan lambat, omentum dan usus yang berdekatan akan bergerak ke arah appendiks hingga muncul

infiltrat appendikkularis. Pada anak-anak karena omentum lebih pendek dan appendiks lebih panjang, dinding lebih tipis. Keadaan tersebut ditambah dengan daya tahan tubuh yang masih kurang memudahkan untuk terjadi perforasi, sedangkan pada orang tua mudah terjadi karena ada gangguan pembuluh darah (Wulandari, 2012).

Gambar 1. Patofisiologi Apendisitis ( Jason et all, 2008)

D. Penegakkan diagnosis 1. Anamnesis Pada anamnesis gambaran klinis yang sering dikeluhkan oleh penderita, antara lain (Jong, 1997) : a. Nyeri abdominal. Nyeri ini merupakan gejala klasik apendisitis. Mula-mula nyeri dirasakan samar-samar dan tumpul yang merupakan nyeri viseral di daerah epigastrium atau sekitar umbilicus. Setelah beberapa jam nyeri berpindah dan menetap di abdomen kanan bawah (titik Mc. Burney). Nyeri akan bersifat tajam dan lebih jelas letaknya sehingga berupa nyeri somatik setempat. Bila terjadi perangsangan peritoneum biasanya penderita akan mengeluh nyeri di perut pada saat berjalan atau batuk. b. c. d. e. Mual-muntah biasanya pada fase awal. Nafsu makan menurun. Obstipasi dan diare pada anak-anak. Demam, terjadi bila sudah ada komplikasi, bila belum ada

komplikasi biasanya tubuh belum panas. Suhu biasanya berkisar 37,7-38,3 C. 2. Pemeriksaan fisik a. Inspeksi Kadang sudah terlihat waktu penderita berjalan sambil bungkuk dan memegang perut. Penderita tampak kesakitan. Pada inspeksi perut tidak ditemukan gambaran spesifik. Kembung sering terlihat pada penderita dengan komplikasi perforasi. Penonjolan perut kanan bawah bisa dilihat pada massa atau abses appendicular. b. Palpasi Dengan palpasi di daerah titik Mc. Burney didapatkan tandatanda peritonitis lokal yaitu: 1) Nyeri tekan di Mc. Burney. 2) Nyeri lepas. 3) Defans muscular lokal. Defans muscular menunjukkan adanya rangsangan peritoneum parietal.

Pada appendix letak retroperitoneal, defans muscular mungkin tidak ada, yang ada nyeri pinggang. c. Auskultasi Peristaltik usus sering normal. Peristaltik dapat hilang karena ileus paralitik pada peritonitis generalisata akibat apendisitis perforate. Pemeriksaan Colok Dubur Akan didapatkan nyeri kuadran kanan pada jam 9-12. Pada apendisitis pelvika akan didapatkan nyeri terbatas sewaktu dilakukan colok dubur. Tanda-Tanda Khusus 1) Psoas Sign Dilakukan dengan rangsangan m.psoas dengan cara penderita dalam posisi terlentang, tungkai kanan lurus ditahan pemeriksa, penderita disuruh hiperekstensi atau fleksi aktif. Psoas sign (+) bila terasa nyeri di abdomen kanan bawah. 2) Rovsing Sign Perut kiri bawah ditekan, akan terasa sakit pada perut kanan bawah. 3) Obturator Sign Dilakukan dengan menyuruh penderita tidur terlentang, lalu dilakukan gerakan fleksi dan endorotasi sendi panggul. Obturator sign (+) bila terasa nyeri di perut kanan bawah. 3. Pemeriksaan penunjang Pemerisaan penunjang pada apendisitis meliputi (Kumar et al., 2007) : a. Pemeriksaan Laboratorium 1) Pemeriksaan darah : akan didapatkan leukositosis pada kebanyakan kasus appendisitis akut terutama pada kasus dengan komplikasi. Pada appendicular infiltrat, LED akan meningkat. 2) Pemeriksaan urin : untuk melihat adanya eritrosit, leukosit dan bakteri di dalam urin. Pemeriksaan ini sangat membantu dalam menyingkirkan diagnosis banding seperti infeksi saluran

kemih atau batu ginjal yang mempunyai gejala klinis yang hampir sama dengan apendisitis. b. Abdominal X-Ray Digunakan untuk melihat adanya fecalith sebagai penyebab apendisitis. Pemeriksaan ini dilakukan terutama pada anak-anak. c. USG Bila hasil pemeriksaan fisik meragukan, dapat dilakukan pemeriksaan USG, terutama pada wanita, juga bila dicurigai adanya abses. Dengan USG dapat dipakai untuk menyingkirkan diagnosis banding seperti kehamilan ektopik, adnecitis dan sebagainya. d. Barium enema Yaitu suatu pemeriksaan X-Ray dengan memasukkan barium ke colon melalui anus. Pemeriksaan ini dapat menunjukkan komplikasi-komplikasi dari apendisitis pada jaringan sekitarnya dan juga untuk menyingkirkan diagnosis banding. e. CT-Scan Dapat menunjukkan tanda-tanda dari apendisitis. Selain itu juga dapat menunjukkan komplikasi dari apendisitis seperti bila terjadi abses. f. Laparoscopi Yaitu suatu tindakan dengan menggunakan kamera fiberoptic yang dimasukkan dalam abdomen, appendix dapat divisualisasikan secara langsung.Tehnik ini dilakukan di bawah pengaruh anestesi umum. Bila pada saat melakukan tindakan ini didapatkan peradangan pada appendix maka pada saat itu juga dapat langsung dilakukan pengangkatan appendix. E. Penatalaksanaan 1. Non medikamentosa a. b. c. Batasi diet dengan makan sedikit dan sering Minum cairan adekuat pada saat makan untuk membantu Makan perlahan dan mengunyah sempurna untuk

proses pasase makanan menambah saliva pada makanan

d. e. f.

Hiondari makan bersuhu ekstrim, pedas, berlemak, alkohpl, Hindari makan dan minum sebelum istirahat untuk Tinggikan kepala tidur 6-8 inchi Pembedahan yaitu dengan apendiktomi, apendiktomi bisa

kopi, coklat, dan jus jeruk mencegah masalah refluks nocturnal 2. Medikamentosa dilakukan secara terbuka ataupun dengan cara laparaskopi. Bila apendektomi terbuka, insisi Mc Burney paling banyak dipilih oleh ahli bedah. Pada penderita yang belum jelas sebaiknya dilakukan observassi dulu. Diberikan antibiotic profilaksis untuk mengurangi luka sepsis pasca operasi yaitu metronidazole. Identifikasi pre operasi abses apendiks dapat diterapi dengan drainase perkutaneus dan antibiotik IV dengan apendiktomi elektif beberapa bulan kemudian (Syamsuhidayat, 2004). F. Prognosis Apendisitis dapat menyebabkan komplikasi sekitar 4-15%, serta biaya yang terkait dan ketidaknyamanan rawat inap dan pembedahan. Tertunda diagnosis dan pengobatan untuk akun banyak mortalitas dan morbiditas terkait dengan usus buntu. Dengan resiko kematian berkisar antara 0,1% hingga 0,6% (Craig, 2012). G. Komplikasi Komplikasi utama apendisitis adalah sepsis yang dapat berkembang menjadi : perforasi, peritonitis, dan abses. Perforasi secara umum terjadi 24 jam setelah nyeri. Gejala nyeri antara lain demam, meningkatnya nyeri, spasme otot dinding perut kuadran kanan bawah dengan tanbda peritonitis umum atau abses yang terlokalisasi ileus, demam, mlaise, dan leukositosis (Schwartz, Seymour I, 2000).

III.KESIMPULAN 1. Apendisitis adalah peradangan pada appendix vermiformis. 2. Etiologi apendisitis secara garis besar dikarenakan oleh adanya sumbatan ataupun infeksi bakteri. 3. Pemeriksaan yang khas untuk diagnosis appendicitis antara lain adalah defans muscular, psoas sign, Mc burney, obturator sign dan rovsing sign. 4. Penatalaksaanaan untuk apendisitis dapat merupakan tindakan bedah dan non bedah.

DAFTAR PUSTAKA Baughman, Diane C. 2000. Keperawatan Medical Bedah: Buku Saku Untuk Brunner Dan Suddarth. Ahli Bahasa Yasmin Asih.Penerbit Buku Kedokteran. Jakarta: EGC. Craig, Sandy. 2012. Appendicitis. Available : http://emedicine.medscape.com /article/773895-overview#a0101. Di akses pada tanggal 5 Desember 2012. Jong, Wim de dan R. Sjamsuhidayat. 1997. Buku Ajar Ilmu Bedah Edisi Revisi. EGC : Jakarta. Jason, A., Brodsky, M.D., Rockville, M.D. 2008. National Digestive Diseases Information Clearinghouse. Appendicitis. NIH Publication No. 094547 Liang, MK., H.G. Lo, and J.L.Marcks. 2006. Stump appendicitis: comprehensive review of literature. Am Surg. 72(2):162-6. a

Kumar, Vinay., Cotran, Ramzi., Robbins, Stanley. 2007. Buku Ajar Patologi edisi 7 volume 2. EGC : Jakarta Ragawati, A.D., 2009. Hubungan Antara Angka Leukosit Pre Operasi Dengan Kejadian Komplikasi Pasca Operasi Apendektomi Emergensi Pada Pasien Apendisitis Akut. Skripsi. Universitas Muhammadiyah Surakarta. 34 hal. R. syamsuhidayat. 2004. Buku Ajar Ilmu Bedah Edisi 2. Jakarta : EGC Schwartz, Seymour, 2000. Intisari Prinsip Prinsip Ilmu Bedah. Jakarta : EGC Smeltzer, Sizanne C. Dan Bare, Brenda G. 2002. Keperawatan Medical Bedah Brunner Dan Suddarth, Vol. 2 Edisi 8 Alih Bahasa Agung Waluyo. Jakarta: EGC. Tzanakis, NE., S.P. Efstathiou, K. Danulidis. 2005. A new approach to accurate diagnosis of acute appendicitis. World J Surg. 29(9):1151-6.