P. 1
TUNARUNGU DAN TUNANETRA

TUNARUNGU DAN TUNANETRA

|Views: 48|Likes:
Dipublikasikan oleh Agil

Tuna Netra, Tuna Rungu, Karakteristik, Klasifikasi, Definisi, Sebab-sebab, Berkebutuhan Khusus

Tuna Netra, Tuna Rungu, Karakteristik, Klasifikasi, Definisi, Sebab-sebab, Berkebutuhan Khusus

More info:

Categories:Types, School Work
Published by: Agil on Dec 26, 2012
Hak Cipta:Attribution Non-commercial
Harga Terdaftar: $4.99 Beli Sekarang

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
See more
See less

09/17/2013

$4.99

USD

pdf

text

original

TUNANETRA DAN TUNARUNGU MATA KULIAH ORTOPEDAGOGIK

Disusun oleh : Agil Prasetyaningarum

101684060

UNIVERSITAS NEGERI SURABAYA FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN PENDIDIKAN GURU PENDIDIKAN ANAK USIA DINI 2012

dan ini secara hokum sudah tergolong buta atau legally blind) c. d. dan atau bantuan lain secara khusus. f. Definisi Tunanetra adalah seseorang yang memilki gangguan dalam penglihatan sehingga menghalangi dirinya untuk berfungsi dalam pendidikan dan aktifitas rehabilitative tanpa menggunakan alat khusus. Kelompok yang hanya dapat menghitung dari berbagai jarak. Klasifikasi Tunanetra a. Kelompok yang hanya dapat membaca huruf E paling besa pada kartu snellen dari jarak 20 feet atau 6/60 meter. Kelompok yang sangat sedikit kemampuan melihat sehingga ia hanya mngenal bentuk dan objek. Kelompok yang tidak dapat melihat tangan yang digerakkan. Kelompok yang mempunyai acuity 20/70 feet (6/21 meter) artinya ia bias melihat dari jarak 20 feet sedangkan anak normal dari jarak 70 feet ini tergolong kurang lihat (Low Vision) b. sedangka orang normal dapat membaca dari jarak 200 feet (20/200 feet atau 6/60 meter.TUNANETRA DAN TUNARUNGU TUNANETRA I. e. Kelompk yang hanya mempunyai Light Projection (dapat melihat terang serta gelap dan dapat menunjuk sumber cahaya) . latihan khusus. II. material khusus.

Hal ini akan mempengaruhi kebutuhan diri seorang tunanetra. Lowefeld). Tunanetra yang terjadi . baik itu disebabkan karena kecelakaan atau sebab lainnya akan mempunyai efek yang berbeda terhadap diri tunanetra. Saat terjadinya kerusakan penglihatan pada seseorang juga menyebabkan pengaruh yang berbeda. Misalnya kerusakan penglihatan yang terjadi secara mendadak. Kedua faktor tersebut menyebabkan pengaruh yang berbeda terhadap diri tunanetra. h. Tunanetra yang kehilangan penglihatannya sebelum usia 5 tahun atau usia 7 tahun akan kehilangan gambaran visualnya yang berguna. Anak ini menggantungkan dirinya pada indera non visual dan memerlukan pendidikan dengan metode yang sesuai dengan keadaan mereka. kita dapat melihat dari dua faktor yaitu faktor usia dan saat terjadinya kerusakan penglihatan. Akan tetapi anak tersebut tidak mampu mengadakan pengamatn visual yang baru (B. Kapan dan bagaimana terjadinya ketunanetraan Ketunanetraan bias terjadi sejak lahir maupun setelah lahir. Kelompok yang tidak mempunyai persepsi cahaya (no light Perception) yang disebut dengan buta total (totally blind) III.g. Tunanetra yang kehilangan penglihatannya setelah umur 7 tahun mereka masih dapat menahan ingatan visualnya dan warna. Kelompok yang hanya mempunyai persepsi cahaya (Light Perseption) yaitu hanya bias melihat terang dan gelap. Dalam terjadinya kerusakan visual. hingga masih dimanfaatkan dalam proses belajarnya.

mendadak bisa berakibat pada goncangan jiwa atau goncangan sosial yang lebih berat bila dibandingkan dengan tunanetra yang terjadi secara bertahap. informasi. namun pengalaman-pengalaman tersebut kurang terintegrasikan. dalam hal berhitung.  Anak tunanetra mengalami kesulitan dalam menguasai keterampilan sosial. Karakteristik Anak Tunanetra dalam Aspek Akademis Tilman & Osborn (1969) menemukan beberapa perbedaan antara anak tunanetra dan anak awas. . Masalah kepribadian cenderung diakibatkan oleh sikap negatif yang diterima anak tunanetra dari lingkungan sosialnya. tetapi kurang baik dalam hal pemahaman (comprehention) dan persaman. dan kosakata. karena keterampilan tersebut biasanya diperoleh individu melalui model atau contoh perilaku dan umpan balik melalui penglihatan. Karakteristik Tunanetra a. b.  Anak tunanetra menyimpan pengalaman-pengalaman khusus seperti halnya anak awas. IV.  Kosa kata anak tunanetra cenderung merupakan kata-kata yang definitif. Kehilangan penglihatan yang bertahap memberikan kesempatan pada diri seseorang untuk menyesuaikan dirinya dengan keadaan sehingga dapat menerima dirinya secara wajar.  Anak tunanetra mendapatkan angka yang hampir sama dengan anak awas. Karakteristik Anak Tunanetra dalam Aspek pribadi dan Sosial  Ketunanetraan tidak secara langsung menyebabkan timbulnya masalah kepribadian.

seperti menggosok-gosok mata dan menepuk-nepuk tangan. adalah curiga terhadap orang lain. c. mudah tersinggung. serta sering melakukan perilaku stereotif.  Anak tunanetra pada umumnya menunjukkan kepekaan yang lebih baik pada indera pendengaran dan perabaan dibandingkan dengan anak awas. Definisi Tunarungu merupakan istilah yang digunakan untuk menunjukkan keadaan kehilangan pendengaran yang dalami oleh seseorang. Hal itu dapat dilihat dari kondisi matanya yang berbeda dengan mata orang awas dan sikap tubuhnya yang kurang ajeg serta agak kaku. Secara umum tunarungu dikatagorikan kurang dengar dan tuli. akan mudah ditentukan bahwa orang tersebut mengalami tunanetra. Karakteristik Anak Tunanetra dalam Aspek Fisik/Indera dan Motorik/Perilaku  Dilihat secara fisik. sebagaimana yang diungkapkan Hallahan dan Kauffman (1991: 26) bahwa Tunarungu adalah suatu istilah umum yang menunjukkan kesulitan mendengar yang meliputi keseluruhan kesulitan mendengar . gerakan anak tunanetra terlihat agak kaku dan kurang fleksibel. TUNARUNGU I.  Dalam aspek motorik/perilaku. Beberapa karakteristik sebagai akibat langsung maupun tidak langsung dari ketunanetraannya. dan ketergantungan pada orang lain.

banyak bergantung pada penglihatan daripada pendengaran untuk proses menerima informasi. dan yang bersangkutan dianggap tuli 2. sehingga menghambat bunyibunyian yang akan masuk ke dalam telinga disebut telinga konduktif . Yaitu : a. digolongkan ke dalam tuli dan kurang mendengar. Berdasarkan tingkat kerusakan/kehilangan kemampuan mendengar percakapan/bicara. Klasifikasi Tunarungu Tunarungu dibagi menjadi dua kelompok. Ketunarunguan berdasarkan tempat terjadinya kerusakan. Ringan 41-55 db yaitu mengerti bahasa percakapan c. II.dari yang ringan sampai yang berat. Kerusakan pada bagian telinga luar dan tengah. Sangat ringan 27-40 db yaitu mempunyai kesulitan mendengar bunyi-bunyi yang jauh b. yaitu : 1. Menurut Andrea Dwijosumarto dalam seminar ketunarunguan di Bandung (1988:8) dalam Permanarian Somad dan Tati H (1996:27) menyatakan bahwa “Tunarungu dapat diartikan sebagai suatu keadaan kehilangan pendengaran yang mengakibatkan seseorang yidak dapat menangkap rangsangan terutama melalui pendengaran”. Berat 71-90 db yaitu hanya bisa mendengar bunyi dari jarak yang sangat dekat e. Sedang 56-70 db yaitu hanya bisa mendengar suara dari jarak dekat d. Ekstrim 91 db ke atas tuli yaitu mungkin sadar akan adanya bunyi atau suara atau getaran. dapat dibedakan sebagai berikut: a.

Intelegensi anak tunarungu bukan berasal dari hambatan intelektualnya yang rendah melainkan secara umum karena intelegensinya tidak mendapat kesempatan untuk berkembang. keterbatasan informasi. tetapi secara fungsional perkembangan kognitif anak tunarungu dipengaruhi oleh tingkat kemampuan berbahasanya. menarik kesimpulan. Cruickshank (Effendi. Dampak tehadap kemampuan kognitif Somatri. Perkembangan kognitif anak tunarungu sangat dipengaruhi oleh perkembangan bahasa. Aspek intelensi yang terhambat perkembangannya yaitu yang bersifat verbal misalnya merumuskan pengrtian menghubungkan. dan meramalkan kejadian. Pemberian bimbingan yang teratur terutama dalam kecakapan berbahasa akan membantu perkembangan intelegensi anak tunarungu. S (2005:97) menyatakan bahwa pada umumnya anak tunarungu secar potensial sama dengan anak normal. dan kurangnya daya abstraksi anak. Akibat ketunarunguannya menghambat prose pencapaian pengetahuan yang lebih luas. III. 2005: 79) mengemukakan bahwa „anak-anak tunarungu sering memperlihatkan ketelambatan dalam belajar dan kadang-kadang . M. Dampak Ketunarunguan 1. Dengan demikian perkembangan intelegensi secara fungsional terhambat. Keruskan telinga bagian dalam dan hubungan saraf otak yang menyebabkan tuli sensoris. sehingga hambatan bahasa akan menghambat perkembangan intelegensi anak tunarungu.b.

pukul 21. Rangsangan mental serta dorongan dari lingkungan sekitar dapat memberikan kesempatan bagi anak tunarungu untuk mengembangkan potensinya. diunggah pada 15 Sept 2012. pukul 22. Penerimaan verbal tidak cukup untuk menerima umpan balik dari orang dewasa.10 http://repository. Tidak mampu mendengar contoh bahasa orang dewasa Sumber : Kagan Havemann. 2009:17). c.50 http://repository. melainkan juga tergantung kepada potensi kecerdasan yang dimilkinya.net/penyebab-ketunarunguan/17.pdf. b. diunggah pada 16 Sept 2012. penyebab kesulitan erbahasa dan berbicara diantaranya: a.pdf. hal 357 http://www. diunggah pada 15 Sept 2012. Menurut Halahan dan Kauffman (Susilowati. Penerrimaan auditori tidak cukup sebagai umpan balik ketika ia mengluarkan suara. Kondisi ini tidak hanya disebabkan oleh derajat gangguan pendengaran yang dialami oleh anak.edu/operator/upload/s_plb_0607165_chapter2.html.upi. pukul 12.upi.tampak terbelakang‟.infodewasa. 1972.48 .edu/operator/upload/s_plb_034388_chapter2.

You're Reading a Free Preview

Mengunduh
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->