Anda di halaman 1dari 29

PENYAKIT KATUP JANTUNG

DEFINISI
Penyakit katub jantung adalah penyakit yang sering di dapat dan sering kali memerlukan interfensi di tandai dengan mobilitas atau penutupan abnormal dari katub jantung yang menyebabkan terjadi obstruksi atau regurgitasi aliran darah melaluli katub.

STENOSIS AORTA

EPIDEMIOLOGI
20% pada pasien berusia 65-75 tahun, 35% pada pasien yang berusia 75-85 tahun, 48% pada pasien > 85 tahun. Pada orang yang lebih muda, penyebab yang paling sering adalah kelainan bawaan.

STENOSIS AORTA
Penyempitan pada lubang katup aorta, yang menyebabkan meningkatnya tahanan terhadap aliran darah dari ventrikel kiri ke aorta.

Menghalangi aliran darah dari ventrikel kiri ke aorta Resistensi terhadap ejeksi ventrikel meningkat Beban tekanan ventrikel kiri meningkat Hipertrofi ventrikel kiri agar dapat menghasilkan tekanan yang lebih tinggi untuk mempertahankan perfusi perifer.

Trias gejala khas stenosis aorta : o Angina o Sinkop o Kegagalan ventrikel kiri

Kegagalan ventrikel kiri: indikasi dekompensasi jantung. Angina: ketidakseimbangan antara penyediaan dan kebutuhan oksigen miokardium. Sinkop: akibat aritmia atau kegagalan meningkatkan curah jantung saat beraktivitas untuk mempertahankan perfusi otak.

DIAGNOSA
Diagnosis ditegakkan berdasarkan: Anamnesis pemeriksaan fisik Foto rontgen Elektrokardiogram Ekokardiografi Kateterisasi jantung

Pemeriksaan fisik :
Auskultasi:

Diamondshaped murmur sistolik, regurgitasi aorta melemah, paradoxical splitting dari BJ2 Pada pasien muda, bunyi ejeksi (klik) terdengar keras di apeks, pasien yang lebih tua bising sistolik terdengar keras di apeks, biasanya menyebar ke leher dan lateral.

Foto rontgen :
Pelebaran

aorta pasca stenosis, klasifikasi katup aorta terlihat pada posisi lateral dan pembesaran ringan LA.

Elektrokardiogram :
Terdapat

tanda hipertrofi LV dan gambaran kelainan LA.

Ekokardiografi :
Dapat

mendeteksi penebalan dan klasifikasi, mobilitas daun katup aorta yang menurun, drajat hipertrofi LV.

Kateterisasi jantung :
Untuk

menegaskan adanya stenosis katup aorta, mengukur berat ringannya dan menyingkirkan/mengenali penyakit jantung lainnya. Drajat stenosis biasanya disertai perbedaan tekanan sistolik aorta-ventrikel kiri melebihi 50mmHg.

TERAPI
Hindari aktivitas fisik berat pada pasien stenosis aorta berat <0,5 cm/m walau asimptomatik. Pemberian nitrat pada angina. Diuretik dan digitalis bila ada tanda gagal jantung. Operasi bila area katup <1cm atau <0,6 cm/m permukaan tubuh, disfungsi LV, dilatasi pasca stenotik aorta.

INSUFISIENSI AORTA

DEFINISI

Ketidakmampuan katub aorta menutup sempurna sehingga menyebabkan darah sebagian kembali ke ventrikel kiri (LV)

GEJALA
Gagal jantung Dispneu waktu aktivitas Ortopneu Dispneu paroksismal nokturna Edema paru Kelelahan

PEMERIKSAAN FISIK
Pada insufisiensi aorta kronis ringan dan akut, jantung bisa berukuran normal Pada insufisiensi aorta sedang dan berat, jantung tampak membesar, impuls apeks bergeser ke infero-lateral, dan bersifat hiperdinamik. Terdapat Bunyi Jantung I dan Bunyi Ejeksi Sistolik

Terdapat bising sistolik aorta di sela iga 2 kiri, bising sistolik aorta di apeks, bising Austin Flint (diastolic-rumble) di apeks, bising sistolik trikuspid dan bising diastolik insufisiensi aorta. Karakteristik bising diastolik insufisiensi aorta adalah bunyi bernada tinggi.

FOTO RONTGEN DADA


Terlihat ventrikel kiri membesar, atrium kiri membesar, dilatasi aorta. Bentuk dan ukuran jantung tidak berubah pada iinsufisiensi akut tetapi terlihat edema paru.

EKG
Terlihat gambaran hipertrofi ventrikel kiri, amplitudo QRS meningkat, ST-T berbentuk tipe diastolic-overload, artinya vektor ratarata menunjukkan ST yang besar dan gelombang T paralel dengan vektor rata-rata kompleks QRS. Gambaran tegangan ventrikel kiri juga ada jika vektor ST-T rata-rata menunjukkan ke arah yang berlawanan dengan vektor QRS. Interval P-R memanjang.

KATETERISASI JANTUNG
Penting dilakukan untuk menilai derajat insufisiensi aorta pada penderita yang insufisiensinya dinilai sedang sampai berat, menentukan fungsi ventrikel kiri, dan mencari kelainan jantung lainnya seperti kelainan katup mitral atau penyakit arteri koroner. Pengukuran ini lebih berguna pada penderita dengan regurgitasi oleh karena ejeksi sistolik mulai pada tingkat lebih rendah dari tekanan ventrikel kiri yang normal. Nilai ini bisa mengavaukan kelebihan beban volumenya.

PEMERIKSAAN RADIONUKLID

Ventrikulogram Tc 99 m saat istirahat dan kerja dapat dilakukan untuk menghitung jumlah aliran insufisienssi dan menetukan fraksi ejeksi. Dengan fungsi jantung yang normal fraksi ejeksi juga normal, dan meningkat dengan kerja. Penurunan fraksi ejeksi saat kerja menunjukkan kontraktilitas miokard yang buruk, yang dapat timbul walaupun penderita belum menunjukkan gejala.

Tes ini biasa digunakan dalam mengikuti pernderita untuk menetukan saat paling optimum untuk penggantian katup aorta. Skintigrafi 201 TI dapat mengidentifikasi defek perfusi pada miokard yang menunjukkan adanya penyakit arteri koroner.

TERAPI
Harus diberikan terapi profilaksis untuk endokarditis bakterialis. Gagal jantung diobati dengan digitalis, diuretik, serta vasodilator seperti hidralasin, penghambat ACE atau nitrat, untuk menurunkan beban akhir. Adapula dengan indikasi operasi dan tindakan bedah.

INDIKASI OPERASI
Dianjurkan untuk operasi pada penderita insufisiensi kronik berat, penderita tanpa gejala tetapi dengan disfungsi ventrikel kiri yang jelas saat istirahat pada pemeriksaan ventrikulografi Tc 99 m, EKG dan angiografi, serta pada penderita dengan ejeksi fraksi tidak meningkat saat kerja. Dianjurkan untuk operasi pada penderita insufisiensi akut yang biasa timbul akibat endokarditis bakterialis, diseksi aorta, atau ruptur katup miksomatosa untuk mencegah kematian akibat edema paru.

TINDAKAN BEDAH

Dilakukan dengan membuat katup buatan. Pilihan untuk katup buatan ditentukan berdasarkan umur, kebutuhan, indikasikontra untuk koagulan, serta lamanya umut katup. Resiko operasi kurang lebih 2% pada penderita insufisiensi kronik sedang dengan arteri koroner normal. Sedangkan resiko insufisiensi berat denga gagal jantun, pada penderita penyakit arteri, bervariasi antara 4-10%. Dapat juga lebih besar, tergantung keadaan klinis penderita tersebut.

Hasil akhir tergantung pada fungsi ventrikel kiri saat operasi, tetapi juga tergantung dari etiologi penyakit. Penderita harus dianjurkan untuk mendapat antibiotik profilaksis untuk endokarditis setelah operasi. Penderita denga katup buatan mekanis harus mendapat terapi antikoagulan jangka panjang. Pasien harus dipantau secara berkala untuk mendeteksi kemunduran dari fungsi katup.

PROGNOSIS
70% penderita dengan insufisiensi aorta kronis mampu bertahan 5 tahun, sedang 50% mampu bertahan 10 tahun setelah diagnosis ditegakkan. Penderita dengan insufisiensi aorta yang jelas mampu hidup secara normal, tetapi mudah terkena endokarditis infektif. Jika timbul gagal jantung, bisa bertahan 2 tahun, dan setelah timbul angina biasanya bertahan 5 tahun.

Penderita dengan fraksi ejeksi prabedah 45% dan indeks jantung lebih besar mampu bertahan hidup lebih lama setelah operasi daripada penderita dengan fraksi ejeksi jurang dari 45%. Penderita dengan insufisiensi aorta akut dan edema paru, prognosisnya buruk, biasanya harus dilakukan operasi.

DISUSUN OLEH :

Ayu Ardilla Andromeda Meida Prestihani Endang Rahayu Fuji Lestari Rahma Rida Intan Asmarita Rahim Yanuar Ivan Kurniawan Adni Miftah Mokh. Saiful Gondo Kusumo Agus Siswanto