LAPORAN PENDAHULUAN ASUHAN KEPERAWATAN ANAK DENGAN PNEUMONIA PENGERTIAN Pneumonia adalah penyakit inflamasi pada paru yang

dicirikan dengan adanya konsolidasi akibat eksudat yang masuk dalam area alveoli. (Axton & Fugate, 1993). Pneumonia adalah keradangan dari parenkim paru di mana asinus terisi dengan cairan radang dengan atau tanpa disertai infiltrasi dari sel radang ke dalam dinding alveoli dan rongga intestinum (Amin & Al sagaff, 1989). Pneumonia adalah Suatu radang paru-paru yang ditandai oleh adanya konsolidasi exudat yang mengisi alveoli dan bronchiolus ( Axton ). PENYEBAB 1. 2. 3. Virus Influensa Virus Synsitical respiratorik Adenovirus Rhinovirus Rubeola Varisella Micoplasma (pada anak yang relatif besar) Pneumococcus Streptococcus Staphilococcus

Infeksi Bakteri Pneumokokus, streptrokokkus, stafilokokus, H.Influenzae, klebsiella, basilus tuberkulosa. Infeksi Virus Pneumonitis interstitial dan bronkiolitis, pneumonia sel raksasa, influenzae. Infeksi Lain Pneumonia Pneumocystis Carinii, demam , Pneumonia Mycoplasma, Treponema Pallidum, Nokardiosis, Aktinomikosis, Klamidya.

4. 5.

Infeksi Mikosis Aspergillosis, koksidiodomikosis, histoplasmosis, blastomikosis, mukomikosis. Aspirasi Kandungan-kandungan amniotik (anoksia janin) bahan makanan, benda-benda asing, seng stearat, debu, hidrokarbon, zat lipoid.

6.

Sindrom Loffler

7.

Pneumonia Hipostatis (Nelson, 1998). Klasifikasi Pneumonia Berdasarkan Anatomi 1) 2) 3) Pneumonia lobaris Pneumonia lobularis (Bronchopneumonia) Pneumonia interstitial (Bronchiolitis).(Ngastiyah, 1998).

TANDA DAN GEJALA  Sesak Nafas  Batuk nonproduktif  Ingus (nasal discharge)  Suara napas lemah  Retraksi intercosta  Penggunaan otot bantu nafas.  Frekuensi napas : umur 1 - 5 tahun 40 x/mnt a/ lebih umur 2 bln-1 tahun 50 x/mnt a/ lebih umur < 2 bulan 60 x/mnt.  Demam  Ronchii  Cyanosis  Leukositosis  Thorax photo menunjukkan infiltrasi melebar.  Mual sampai muntah, kadang-kadang perut kembung

2

Leukositosis ke Alveoli Trombus Permukaan pleura tertutup lapisan tebal eksudat. Compliance menurun. sel goblet neumokokus Alveoli Stapilokokus Toksin. leukosit. Coagulase Eksudat masuk Kuman patogen mencapai bronkioli terminalis Cairan edema + leukosit ke alveol Sel darah merah. Trombus Vena Pulmonalis Nekrosisses. pneumokokus mengisi alvioli Konsilidasi Paru Leukosit + Fibrin Mengalami konsolidasi Kapasitas Vital. Hemoragik Pneumatocele. .PATOFISIOLOGI NORMAL (Sistem Pertahanan) Terganggu Organisme → sal nafas bag bawah Virus Merusak sel epitel bersilia.

Berat ) harus segera diberi antibiotika  Pemilihan jenis antibiotika didasarkan atas umur. 2 x / hari . Kombinasi ini juga diberikan pada anak-anak > 3 bulan dengan malnutrisi berat atau Px immuno – compromized 3. ANTIBIOTIKA ( LAB / UPF IKA. Anak-anak > 5 tahun yang non toksit biasanya disebabkan oleh Steptokokus pneumonia  PP Im atau  Fenoksimetilpenisilin 25. Umur 3 bulan – 5 tahun.Terapi / Pengobatan. 4 x / sehari Atau Kombinasi : Eritromisin 50 mg / kg kloramfenikol ( dosis sda ) Bila ada alergi terhadap penisilin 2.000 –50. Umur < 3 bulan. 1 – 2 x / hari dan Kloramfenikol 50 – 100 mg / kg / 24 jam IV / oral. Pada umumnya tidak dapat diketahui kuman penyebabnya. maka secara praktis dipakai Kombinasi: PP 50. mungkin virus tidak perlu antibiotika  Pada Px yang dirawat inap ( peny. 1994 : 234 )  Pada penyakit yang ringan. 4 x / hari atau  Eritromisin ( dosis sda ) atau Kotrimoksazol 6 / 30 mg / kg /24 jam oral. 2 – 3 x / hari Atau Kombinasi : Kloksasilin ( dosis sda ) dan Gentamisin ( dosis sda ). biasanya disebabkan oleh Streptokokus pneumonia.000 KI / Kg / 24 jam. ku Px. hemofilus influenza atau stafilokokus.000 KI / kg / 24 jam oral. bila toksis mungkin disebabkan oleh streptokokus pneumonia. dugaan kuman Penyebab 1.000 – 100. Stafilokokus Kombinasi : PP ( dosis sda ) dan Gentamisin 5 – 7 mg / kg / 24 jam IM / IV. 4 x / hari Atau kombinasi : Ampisilin 50 – 100 mg / kg / 24 jam IM / IV. IM. 4 x / hari dan Kloksasilin 50 mg / kg / 24 jam IM / IV.

nafsu makan menurun. kemudian mendadak timbul panas tinggi. distensi addomen dan kaku kuduk. influenza sering terjadi dalam rentang waktu 3-14 hari sebelum diketahui adanya penyakit Pneumonia. RIWAYAT KESEHATAN KELUARGA Tempat tinggal: Lingkungan dengan sanitasi buruk beresiko lebih besar NUTRISI / CAIRAN : Nafsu makan / minum menurun. RIWAYAT KEPERAWATAN SEBELUMNYA:   Anak sering menderita penyakit saluran pernapasan atas.  Penyakit paru. Kesadaran kadang sudah menurun apabila anak masuk dengan disertai riwayat kejang demam (seizure). PENGKAJIAN IDENTITAS :  Anak-anak cenderung mengalami infeksi virus dibanding dewasa. cyanosis atau batuk-batuk disertai dengan demam tinggi. jantung serta kelainan organ vital bawaan dapat memperberat klinis klien. . muntah. kembung.  Anak biasanya dibawa ke rumah sakit setelah sesak nafas. sesak. Timbul batuk. RIWAYAT KEPERAWATAN SEKARANG :  Didahului oleh infeksi saluran pernapasan atas selama beberapa hari.KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN 1. turgor jelek. kulit kering. sakit kepala / dada ( anak besar ) kadang-kadang pada anak kecil dan bayi dapat timbul kejang. Predileksi penyakit saluran pernafasan lain seperti ISPA. PEMERIKSAAN FISIK : < 3 tahun terbanyak bayi < 2 bl. mual.  Mycoplasma terjadi pada anak yang relatif besar  Sering terjadi pada bayi & anak  Banyak  Kematian KELUHAN UTAMA :  Sesak napas.

letargi 4. Sistem Cardiovaskuler Subyektif : sakit kepala Obyektif menurun 3. Dan nyeri dada . nyeri otot/normal.Batuk : Non produktif Sampai produktif. 6. retraksi paru dan penggunaan otot aksesoris pernafasan : Denyut nadi meningkat.Suara redup pada paru yang sakit AUSKULTASI : Rankhi halus → Rankhi basah. batuk (produktif/nonproduktif).Fremitus raba meningkat disisi yang sakit -Hati kemungkin membesar . refleks menurun/normal. kadang muntah Obyektif : konsistensi feses normal/diare. Sistem digestif Subyektif : mual.INSPEKSI : . 5. kejang Obyektif : GCS menurun. 1. Laju pernafasan meningkat.Adanya PCH .Sianosis sirkumoral PALPASI : PERKUSI : . penggunaan otot bantu pernafasan. Sistem Pulmonal Subyektif : sesak nafas. Sistem Musculoskeletal Subyektif : lemah. ronchii pada lapang paru. cepat lelah Obyektif : tonus otot menurun. dyspnea . sputum banyak. cengeng Obyektif : Pernafasan cuping hidung. terdengar stridor. pernafasan diafragma dan perut meningkat. 2. Tachicardia.Distensi abdomen .Adanya sesak napas. hiperventilasi. penurunan kesadaran. Sistem genitourinaria Subyektif : Obyektif : produksi urine menurun/normal. dada tertekan. kualitas darah . pembuluh darah vasokontriksi. Sistem Neurosensori Subyektif : gelisah.

Intoleransi aktivitas berhubungan dengan distres pernafasan. nyeri dada.7. Perubahan nutrisi : kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan anoreksia. PERUMUSAN DIAGNOSA KEPERAWATAN. leukositosis Tujuan :Anak akan menunjukkan pola nafas yang efektif Kreteria : • • • RR dalam batas normal. sesak nafas. turgor menurun (akibat dehidrasi sekunder). ronchii. suhu dalam batas normal (36. respiratory distress. suhu kulit meningkat. Ketidak efektifan jalan nafas berhubungan dengan ipenumpukkan sekret pada jalan napas . kadar karbon darah meningkat/normal : Natrium/kalsium menurun/normal. 7.Defisit volume cairan berhubungan dengan Respiratory distress. peningkatan konsumsi kalori sekunder terhadap infeksi. suara nafas bersih dan sama pada kedua sisi. Retraksi dan diaporesis. latergi. Hipotermi berhubungan dengan invasi kuman ke pusat pengatur panas (Hypotalamus) Kecemasan : anak berhubungan dengan hospitalisasi. penurunan intake. vomiting. RENCANA KEPERAWATAN : 1. cyanosis. 1. Tidak ditemukan : batuk. demam. retraksi. kemerahan PEMERIKSAAN PENUNJANG Studi Laboratorik : Hb : menurun/normal Analisa Gas Darah Elektrolit : acidosis respiratorik. Karakteristik : batuk (baik produktif maupun non produktif) haluaran nasal. 6. Perubahan rasa nyaman berhubungan dengan sakit kepala. Sianosis.5 – 37. haluaran hidung. 4. Ketidak efektifan pola nafas berhubungan dengan infeksi paru-paru. banyak keringat . suara nafas terbatas. 3. 2. demam. penurunan kadar oksigen darah.2OC). cyanosis. 5. Sistem Integumen Subyektif : Obyektif : kulit pucat. diaporesis. . Tachipnea. Jumlah sel darah putih normal. penurunan intake cairan.

Rasional : Evaluasi dan reassessment terhadap tindakan yang akan/telah diberikan. Rasional : Evaluasi terhadap keefektifan sirkulasi oksigen. Karakteristik : Hilangnya nafsu makan/minum. muntah.• • 1. demam. Lakukan pengecekan hitung SDM dan photo thoraks. Observasi : RR. Peningkatan IWL akibat pernafasan cepat dan demam. mencegah obstruksi. suara nafas. baik IV maupun oral  Tidak adanya lethargi. Defisit volume cairan berhubungan dengan Respiratory distress. 5. Lakukan suction secara bertahap. Saturasi oksigen dan tanda-tanda keefektifan jalan napas. Rontgen dada bersih Saturasi oksigen 85 % . Kriteria :  Intake cairan adequat. turgor kulit buruk. Rasional : Pemberantasan kuman sebagai faktor causa gangguan dan mencegah infeksi yg lebih parah guna mempercepat proses penyembuhan paru. Lakukan fioterapi dada sesuai jadwal. Memonitoring perkembangan keadaan jalan napas guna pedoman tindakan selanjutnya. letargi. Rasional : Membantu pembersihan jalan nafas Catat hasil pulse oximeter bila terpasang. 7. Melatih otot – otot pernapasan. diare). Rasional : Mengeluarkan sekresi jalan nafas. diare  Suhu tubuh normal. suhu. penurunan output urine. 3. diare. mukosa membran lembab  Turgor kulit kembali cepat . muntah. Tujuan : Anak akan menunjukkan volume cairan yang adekuat. evaluasi kondisi jaringan paru 6.100 %.. tiap 2 – 4 jam Rasional : Evaluasi berkala keberhasilan terapi/tindakan tim kesehatan 2. Intervensi : 2. penurunan intake cairan. membrana mukosa kering. 4. Berikan oksigen yang dilembabkan dan kaji keefektifan terapi Rasional: Meningkatkan suplai oksigen jaringan paru Berikan antibiotik dan antipiretik sesuai advis dan kaji keefektifan dan efek samping (ruam.

2. Berikan makanan sedikit demi sewdikit tetapi sering. 3.020). Intervensi : 1. Perubahan nutrisi : kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan respiratory distress. tanda devisit cairan dan kondisi IV line. Rasional : Dengan makan yg sedikt-sedikit tapi sering maka kebutuhan akan nutrisinya bisa tercukupi. Intervensi 1. . 5. 3. Rasional : Evaluasi obyektif sederhana devisit volume cairan Lakukan Perawatan mulut tiap 4 jam. berat diapers untuk output. Ciptakan situasi / area yang nyaman Rasional : Mengurangi rasa takut klien. 4. Hipotermi berhubungan dengan invasi kuman ke pusat pengatur panas (Hipotalamus) Tujuan : Selama berada di RS. peningkatan konsumsi kalori sekunder terhadap infeksi. 2. anoreksia. 4.E tentang masalah tersebut. meningkatkan nafsu makan/minum Beri cairan sesuai advis Rasional : Untuk memenuhi kebutuhan cairan Klien. Kaji tentang pengetahuan dan partisipasi keluarga dalam : Monitoring intake dan output. Urine output normal. Rasional : Meyakinkan terpenuhinya kebutuhan cairan Catat BJ Urine tiap 4 jam atau bila perlu. Kaji dan monitoring terus tentang output dan intake nutrisi Rasional : Untuk mengetahui perkembangan intake dan output cairan sehingga dapat menentukan keputusan untuk tindakan selanjutnya. Rasional : Evaluasi ketat kebutuhan intake dan output Kaji dan catat suhu setiap 4 jam. Catat intake dan output. 6. klien bisa bermain dengan tenang.008 – 1. Berat badan Normal. Rasional : Meningkatkan bersihan sal cerna. Intervensi : 1.). Tujuan : Selama dalam perawatan klien tidak kekurangan kebutuhan nutrisi dengan kriteria : Anoreksia ( -). Mengenali tanda dan gejala kekurangan cairan sekaligus berikan H. Vomiting ( . anak tidak ketahutan dan anak kooperatif.. Bj urine normal (1. vomiting. Rasional : Melaksanakan fungsi education Perawat terhadap keluarga klien agar dapat membantu dalam pemeliharaan kesehatan anaknya sendiri. Klien akan merasa nyaman dan tidak cemas dengan kriteria : Klien tidak rewel.

2. Rasional : Memenuhi kebutuhan bermain anak. . sekaligus menggairahkan anak. Rasional : Menciptakan hubungan yang baik denga anak. 3. Berikan cerita-cerita yang lucu dan menarik anak. Berikan mainan yang sesuai.

(2000). Pedoman Untuk Perencanaan Dan Pendokumentasian Perawatan. Ilmu Penyakit Dalam. EGC. (1997). Ngastiyah. Perawatan Anak Sakit. Jakarta. EGC. Suparman. Rencana Asuhan Keperawatan. (1990). Jakarta . Jakarta.DAFTAR PUSTAKA Doengoes Marilynn E. EGC. Edisi 3.

Feses tidak disertai lendir/darah. Kejang tonik disertai dengan keluarnya ludah dari mulut klien. selama l. Suk : 38 tahun : D III : Guru (PNS) : Islam : Pamekasan II. Klien sudah dibawa ke Dokter tapi tidak sembuh. I.1 Riwayat Keperawatan Sekarang Klien datang ke rumah sakit dengan diantar keluarga setelah sebelumnya mengalami mencret selama 2 hari (mulai 1 Juli 2002) dengan jumlah feses + ½ gelas tiap kali mencret dan frekuensi 4 – 5 kali tiap hari. Klien tidak mengalami cyanosis dan tidak mampu menangis setelah kejang. Kejang yang dialami klien terjadi tangal 3 Juli 2002 pagi hari (pk. 09. Kejang tidak terjadi lagi hingga klien masuk dirumah sakit. Encephalitis : Tn.k 2 menit.LAPORAN KASUS I. (GCS : M 2 V 1 E 2) 2. RIWAYAT KEPERAWATAN 2. : Perempuan : 4 bulan : Islam : Pamekasan Nama orang tua Usia Pendidikan Pekerjaan Agama Alamat Data Medik Tanggal masuk Jam Masuk Cara masuk Diagnosa Medik : 3 Juli 2002 : 23. Saat ini klien dibawa ke RS karena kejang dan tidak sadarkan diri. PENGKAJIAN IDENTITAS KLIEN Nama Jenis kelamin Usia Agama Alamat : An. Demam terjadi sejak 3 hari sebelum demam dan naik turun.00 WIB) saat demam. tetapi kesadaran klien tetap menurun.35 WIB : lewat IRD : Pneumonia & Susp.2 Riwayat Keperawatan Sebelumnya Tumbuh Kembang Klien telah bisa tengkurap . Kejang hilang dengan sendirinya dan hanya terjadi satu kali.

 Sistem Pulmonal Subyektif Obyektif :: Pernafasan cuping hidung. OBSERVASI DAN PEMERIKSAAN FISIK (PENGKAJIAN BODY SYSTEM).Kilen tidak pernah menggalami kejang sebelumnya. ronchii pada lapang paru basal kanan dan kiri.b 1 kali sehari (?). sputum banyak keluar dari mulut. :: GCS menurun (V 2 M 1 E 2).  Sistem Neurosensori Subyektif a.k 3-4 kali sehari. reflek iris positif.a. 2. warna kuning muda volume tidak diketahui  Sistem digestif Subyektif Obyektif :: b. Jumlah urine banyak. Babinski 1 (-) Babinski 2 (+/?) refleks patella dalam batas normal.  Sistem Cardiovaskuler Subyektif Obyektif :: Denyut nadi 124 X/menit. Kekuatan otot 3/3/3/3 . Obyektif refleks pupil positif isokhor. konsistensi feses normal  Sistem Musculoskeletal Subyektif Obyektif :: tonus otot menurun.3 Riwayat Kesehatan Keluarga III. terdengar stridor. TD tidak terkaji.a. RR 36 X/menit (dengan bantuan oksigen 6 l/m) pola nafas eupnea. penggunaan otot bantu pernafasan. Pernah batuk pilek usia 2 bulan. refleks palmar (+)  Sistem genitourinaria Subyektif Obyektif :: b. klien tidak pernah mengalami batuk pilek akhir-akhir ini.

23.8 % : 20.0 mEq /l) (136 – 144 mEq/l) ( ( 0.8OC.3 -.7 (-3. BB 6 kg. 26 : 165 mg/dl : : 3.1 mmHg ( 25 – 45 mmHg) : 335.50 WIB Hb Trombosit Leukosit PCV Glukosa Elektrolit Kalium Natrium : 8. kemerahan pada kulit bokong dan punggung.1 mg%) : 564 X 109/l (150 – 300 X 109/l ) : 29.3 – 11.2 mmol/l : .8 – 5.3 mg% (11.+1.Cefotaxim .Dilantin .retraksi paru dan penggunaan otot aksesoris pernafasan  Sistem Integumen Subyektif Obyektif :: kulit pucat.3 X 109/l ) : 0.4 mmHg (80 – 104 mmHg) : 4.45 ) : 32.7 X 109/l (4.2) (< 4.38-0.42 < 200 ) ) Analisa Gas Darah pH pCO2 pO2 HCO3 O2 saturasi CO2 saturasi BE : 7.Dexamethason 3 X 500 mg 3 X 500 mg 3 X 52 mg 3 X 1 mg . DIAGNOSTIC TEST Hasil Laboratorik Tanggal 3 Juli 2001. LD 43 Cm. suhu tubuh 38.85 mEq/l : 113 mEq/l ( 3.5.Cloxacillin . popok basah IV.35 – 7.2 mmol/l : 99. 396 (7.4 – 15. LK 45 cm.25 mmol/l) Terapi Pengobatan : Oksigen T-Piece 40 % D5 ½ S 500 cc/24 jam Sonde D5 3 X 25 cc ASI/PASI 5 X 25 cc .

Valium 2 mg (bila perlu) ..

V. ketidakberdayaan Pengaruh (depresi) SSP Penururnan kesadaran Thermoregulasi DS : DO : GCS (M2 V1 E 2) Tonus otot 3/3/3/3 Keselamatan . Data DS : DO : Na 133 mEq/l Riwayat diare Pengeluaran Elektrolit berlebih intravekal : Natium. ANALISA DAN SINTESA DATA. Kalium Kadar Natrium rendah Invasi kuman penyakit Ronchii lapang basal paru Per tahanan lokal : Produksi sputum berlebih oleh sel goblet Cairan sputum menumpuk pada bronkus terminalis & bronkeolus Bersihan Jalan Nafas Keseimbangan cairan dan elektrolit Etiologi Diare Masalah DS : DO : Sputum pada mulut DS :DO : Suhu tubuh 38.8 OC Sumbatan nafas Invasi kuman Pertahanan tubuh nonspesifik : Pengeluaran pirogen Peningkatan sirkulasi perifer Peningkatan Suhu tubuh Kondisi sakit.

Resiko Cidera .

Resiko tinggi injuri berhubungan dengan penurunan kesadaran.Riwayat Diare (data sekunder) 3.Natrium 133 mEq/l .Terdapat secret/sputum pada mulut. Tonus otot 3/3/3/3 .II. kelemahan fisik DS DO :: GCS 5 (M2 V1 E2). Gangguan keseimbangan cairan dan elektrolit berhubungan dengan Hiponatremia sekunder terhadap diare DS DO :: . Hiperthermia berhubungan dengan proses penyakit DS DO :: -Suhu tubuh 38. Bersihan Jalan nafas tidak efektif berhubungan dengan penumpukan sekret pada jalan nafas DS DO :: . Ronchii lapang basal paru kanan kiri 2.8 OC 4. DIAGNOSA KEPERAWATAN 1.

terutama Pernafasan merupakan karakteristik pernafasan utama yang terpengaruh oleh adanya sumbatan jalan nafas Kaji bersihan jalan nafas : sputum. stridor. Pemantauan kepatenan jalan nafas mulut. dengan pengawasan efek samping suction Evaluasi hasil kegiatan tiap 3 jam atau Memasatikan tindakan/prosedur yang bila perlu dilakukan telah mengurangi masalah pada klien mekanisme postural drainage. ronchii penting untuk menentukan tindakan yang perlu diambil Atur posisi klien : kepala hiperekstensi Meminimalkan resiko sumbatan jalan nafas oleh lidah dan sputum Atur posisi klien : Trendelenburk Merupakan secret paru Lakukan fibrasi paru dan postural Rangsangan fisik dapat meningkatkan drainage mobilitas secret lendir dan merangsang suction pengeluaran secret lebih banyak Lakukan penghisapan lendir tiap 3 jam Eliminasi atau bila perlu dengan sebaiknya dilakukan dalam jangka waktu kurang dari 10 menit. memfasilitasi pengeluaran .III. PERENCANAAN Bersihan Jalan nafas tidak efektif berhubungan dengan penumpukan sekret pada jalan nafas Hasil yang diharapkan : Jalan nafas bersih Rencana Tindakan Rasional Kaji tanda-tanda vital.

penurunan kesadaran. Rasional Gejala hiponatremia.Gangguan keseimbangan cairan dan elektrolit berhubungan dengan Hiponatremia sekunder terhadap diare Hasil yang diharapkan : Kadar Natrium kembali normal Tidak terdapat tanda-tanda hiponatremia : kejang. koreksi dengan menghitung defisit Natrium (berdaraskan hasil laboratorium) Lakukan pemeriksaan elektrolit : Na Mengevaluasi hasil seluruh tindakan minimal dua hari sekali kelemahan Rencana Tindakan Kaji adanya tanda/gejala hiponatremia . terutama kejang sangat berbahaya bagi kondisi anak dan dapat memperberat kondisi serta menimbulkan cidera Kaji Intake dan output harian Memastikan kebutuhan cairan harian tercukupi Berikan ekstra cairan mengandung Meningkatkan kadar Natrium dalam Natrium (kolaborasi dengan dokter) darah.

Atur suhu incubator Inkubator mampu mempengaruhi suhu lingkungan bayi.Suhu tubuh normal (36-37OC) Rencana Tindakan Kaji saat timbulnya demam Rasional Mengidentifikasi pola demam Kaji tanda-tanda vital tiap 3 jam atau Acuan untuk mengetahui keadaan lebih sering Berikan kebutuhan cairan ekstra umum klien Peningkatan mengakibatkan suhu penguapan tubuh tubuh meningkat sehingga perlu diimbangi dengan asupan cairan yang banyak Berikan kompres dingin Konduksi suhu membantu menurunkan suhu tubuh Kenakan pakaian minimal Pakaian yang tipis akan membantu mengurangi penguapan tubuh Berikan terapi cairan intravena RL ½ Pemberian caiaran sangat penting bagi Saline dan pemberian antipiretik klien dengan suhu tinggi.Hiperthermia berhubungan dengan proses penyakit Hasil yang diharapkan : . Pemberian caiaran merupakan wewenang dokter sehingga perawat perlu berkolaborasi dalam hal ini. penting dalam proses konduksi dan evaporasi .

6.50 07. 14. stridor(+). stridor(+). ronchii (+) minimal pada lapang basal paru Melakukan penghisapan lendir .00 11.00 11.30 Mengkaji tanda-tanda vital : S : Tanggal 4 Juli 2001.45 07.00 14.P : 38 X/m sputum (+). dilanjutkan kain Mengatur Melakukan posisi fibrasi klien paru : dan Trendelenburk postural drainage Melakukan penghisapan lendir Mengkaji bersihan jalan nafas : sputum (+). diganjal dengan P : Rencana tetap.00 WIB 07.50 08.00 38.00 08. ronchii (+) pada lapang basal paru Melakukan fibrasi paru dan postural drainage Melakukan penghisapan lendir Mengkaji bersihan jalan nafas : sputum (-). stridor(+). IMPLEMENTASI DAN EVALUASI Tanggal 4 Juli 2001 Bersihan Jalan nafas tidak efektif berhubungan dengan penumpukan sekret pada jalan nafas Jam Implementasi Evaluasi 07. ronchii (+) pada lapang basal paru S:Stridor minimal (+) Ronchii grade I pada palang paru Mengkaji bersihan jalan nafas : O : lendir pada mulut berkurang Mengatur posisi klien : kepala A : Masalah belum teratasi hiperekstensi.IV.10 14.05 11.

kaji tanda klinis hiponatremia .15 Implementasi Mengkaji adanya tanda/gejala S : hiponatremia Mengkaji Intake dan output harian Memberikan ekstra mengandung Natrium (kolaborasi dengan dokter) : NS 60 cc 10.00 12.10 Mengkaji tanda kejang Mengkaji tanda kejang Evaluasi O : tanda klinis hiponatreima (-) Intake total 660 cc.10 09.k 500 cc cairan A : Masalah teratasi sebagian P : Evaluasi elektrolit.Gangguan keseimbangan cairan dan elektrolit berhubungan dengan Hiponatremia sekunder terhadap diare Jam 09.00 09. Output l.

00 09. 38.Hiperthermia berhubungan dengan proses penyakit Jam Implementasi 07.30 09.6 mesin inkubator.30 Kaji tanda-tanda vital : S : 38.8OC Mengkaji tanda vital : S : 37.25 12.k 2 jam yang lalu 07. membuka Evaluasi O : Suhu tubuh 37.00 13.00 09. mematikan P : jendela sirkulasi inkubator pemberian antipiretik : Pamol 60 mg Mengkaji tanda vital : S .00 10.25 Mengkaji saat timbulnya demam S : : l.4OC A : Masalaha teratasi Membuka selimut.5OC .2OC Mengkaji tanda vital : S : 37.

50 08.30 Mengkaji tanda-tanda vital : S : Tanggal 5 Juli 2001. 14.00 08. ronchii (+) minimal pada lapang basal paru 11.00 Mengatur Melakukan posisi fibrasi klien paru : dan Trendelenburk postural drainage Melakukan penghisapan lendir Mengkaji bersihan jalan nafas : sputum (-). diganjal dengan kain 07.00 11.3. stridor(-).Tanggal 5 Juni 2001 Bersihan Jalan nafas tidak efektif berhubungan dengan penumpukan sekret pada jalan nafas Jam Implementasi Evaluasi 07.45 sputum (-). stridor(+). stridor(-).00 Melakukan penghisapan lendir S:Stridor (-) Ronchii grade I pada palang paru A : Masalah belum teratasi Mengkaji bersihan jalan nafas : O : lendir pada mulut berkurang Mengatur posisi klien : kepala P : Rencana tetap. ronchii (+) minimal pada lapang basal paru 07.00 WIB 37.50 hiperekstensi. ronchii (+) minimal pada lapang basal paru 14.10 14.05 11. dilanjutkan .00 Melakukan fibrasi paru dan postural drainage Melakukan penghisapan lendir Mengkaji bersihan jalan nafas : sputum (-).P : 38 X/m 07.

Gangguan keseimbangan cairan dan elektrolit berhubungan dengan Hiponatremia sekunder terhadap diare Jam 09. Ronchii Grade I. tanda kejang (-) Anak dipindah ke Ruang UPI Anak Lt. II Evaluasi O : Na 138 mEq/l P:- Mengkaji Intake dan output A : Masalah teratasi .15 Implementasi Mengkaji adanya tanda/gejala S : hiponatremia harian Mengkaji hasil laboratorium : Na 138 mEq/l Kondisi anak stabil. Produksi sputum berkurang.00 09.10 09.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful